Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH KASUS III

makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Sistem Digestive











disusun oleh:
Kelompok Tutorial 2

Destia Khairunnisa 220110120002
Ghina Nur Jannah 220110120008
Kiki Rusdian 220110120014
Kharismanisa Nurul 220110120020
Viska Ayu Nirani 220110120026
Astri Chahya Pertiwi 220110120033
Diah Lutfiana Dewi 220110120039
Nurmawanty 220110120045
Ridillah Vani J 220110120051
Suci Nofita Sari 220110120057
Rika Riyanti Teresa 220110120064
Intan Sulamtiani Pratiwi 220110120070
Aisyah Lestari Prihandani 220110120076


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNVERSITAS PADJADJARAN
2014
LABIOPALATOSCHIZIS 2

KASUS

Bayi Mungil Berbibir Unik
Seorang bayi laki laki lahir 2 jam yang lalu di rumah sakit dengan kondisi terdapat celah
pada bibir dan langit langit mulut, tampak sulit menyusu. RR 46x/menit, nadi 120x/menit,
suhu 37,80
0
C, lingkar perut 45 cm, BBL 2500 gram. Hasil pemeriksaan laboratorium:
leukosit 11.000 mg/dL, Eritrosit 3500 mg/dL, Trombosit 270.000 mg/dL, Hb 16 gr/dL, Ht 30,
Kalium 4,8 mEq, Natrium 138 mEq. Dokter merencanakan tindakan bedah korektif setelah
BB mencukupi. Ibu tampak sedih melihat kondisi anaknya, bingung bagaiman cara menyusui
anaknya dan berkata tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah anak dibawa pulang ke
rumah. Ibu berusaha menutup nutupi wajah anaknya dari orang lain. Ibu berkat malu akan
kondisi naknya, berkata apa salahku sampai anakku begini?

LABIOPALATOSCHIZIS 3

LABIOPALATOSCHIZIS

I. KONSEP
1. Pengertian
Labio palatochizis berasal dari tiga kata yaitu labio (bibir), palato (langit -
langit) dan schizis (celah). Labioschizis adalah celah pada bibir sedangkan
palatoschizis adalah celah pada palatum atau langit-langit terjadi karena kelainan
kongenital yang pada masa embriologi semester pertama. Labio palatoschizis atau
sumbing langitan adalah cacat bawaan berupa celah pada bibir atas. Gusi, rahang, dan
langit-langit (Fitri Purwanto 2011).
Labio palatoschizis merupakan suatu kelainan kongenital abnomaly yang
berupa adanya kelainan bentuk pada wajah. Palatokschizis adalah adanya celah pada
garis tengah palato yang disebabkan oleh oleh kegagalan penyatuan susunan palato
pada masa kehamilan 7-12 minggu. Bibir sumbing adalah malformasi yang
disebabkan oleh gagalnya propsuesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu
selama perkembangan embriotik. (Wong, Donna L. 2007).

2. Insidensi
Angka kejadian kelainan Bibir sumbing di Jawa Timur cukup tinggi sekitar 4-
7 per 1000 kelahiran, insiden bibir sumbing ini merata di seluruh kabupaten di Jawa
Timur sedangkan di Indonesia ada sedikit perbedaan.
Insidensi palatoskisis lebih sering terjadi pada wanita. Laporan tentang
palatoskisis menurut hasil yang terakhir menunjukkan bahwa predileksi pada wanita
lebih besar dengan perbandingan 2:1 pada palatoskisis durum dan mole komplit, rasio
pria:wanita untuk palatoskisis mole atau hanya ulvula adalah 1:1. Insidensi celah
uvula sekitar 1 per 80 orang kulit putih. Frekuensi celah ulvula diantara berbagai
kelompok orang Indian Amerika cukup tinggi, berkisar 1 per 9 sampai 1 per 14 orang.
Pada orang kulit hitam terhitung jarang (1 per 300 kelahiran). Risiko terjadinya
labioskisis dengan atau tanpa palatoskisis, jika kedua orang tua normal, adalah 3
sampai 4 persen. Sedangkan untuk palatoskisis sekitar 2 persen.




LABIOPALATOSCHIZIS 4

3. Etiologi
Penyebab kasus kelainan ini disebabkan dua faktor, yaitu: faktor herediter (genetik)
atdan faktor eksternal atau lingkungan.
1. Faktor Herediter (genetik)
Faktor ini biasanya diturunkan secara genetik dari riwayat keluarga yang
mengalami mutasi genetik. Menurut salah satu literatur, Schroder mengatakan
bahwa 75% dari faktor keturunan yang menimbulkan celah bibir adalah resesif dan
hanya 25% bersifat dominan. Dengan demikin misalnya dari seorang ibu
menghasilkan 4 orang anak, 1 anak kemungkinan mengalami kasus kelainan bibir
sumbing. Dapat terjadi karena adanya mutasi gen ataupun kelainan khromosom.
Pada setiap sel yang normal mempunyai 46 khromosom yang terdiri dari 22 pasang
khromosom non sex (khromosom 1 22) dan 1 pasang khromosom sex
(khromosom X dan Y) yang menentukan jenis kelamin. Pada penderita bibir
sumbing terjadi trisomi 13 atau sindroma patau dimana ada 3 untai khromosom 13
pada setiap sel penderita, sehingga jumlah total khromosom pada setiap selnya
adalah 47. jika terjadi hal seperti ini selain menyebabkan bibir sumbing akan
menyebabkan ganggguan berat pada perkembangan otak, jantung dan giinjal.
Namun kelainan ini sangat jarang terjadi dengan frekueunsi 1 dari 8000 10000
bayi yang lahir.
2. Faktor Eksternal / Lingkungan :
a. Usia Kehamilan
Untuk faktor ini, bisa dilebih disudutkan lagi lebih ke aspek, faktor-faktor
yang mempengaruhi seorang ibu pada masa kehamilan. Usia kehamilan yang
rentan saat pertumbuhan embriologis adalah trimester pertama (lebih tepatnya
6 minggu pertama sampai 8 minggu). Karena pada saat ini proses
pembentukan jaringan dan organ-organ dari calon bayi.
b. Obat-obatan.
faktor obat-obatan yang bisa bersifat teratogen semasa kehamilan misalnya
Asetosal, Aspirin sebagai obat analgetik, Rifampisin, Fenasetin, Sulfonamid,
Aminoglikosid, Indometasin, Asam Flufetamat, Ibuprofen, Penisilamin,
Antihistamin dapat menyebabkan celah langit- langit. Antineoplastik,
Kortikosteroid. Oleh karena itu penggunaan obat-obatan tersebut harus dalam
pengawasan yang ketat dari dokter kandungan yang berhak memberikan resep
tertentu.
LABIOPALATOSCHIZIS 5

c. Nutrisi
kekurangan zat seperti vitamin B6 dan B kompleks, asam folat)
d. Penyakit infeksi Sifilis, virus rubella
e. Radiasi
f. Stres emosional
g. Trauma (trimester pertama).

4. Manifestasi Klinis
Pada Labio skisis:
- Distrosi pada hidung
- Tampak sebagian atau keduanya
- Adanya celah pada bibir
Pada Palato skisis:
- Tampak ada celah pada tekak (uvula), palato lunak, dan keras dan atau
foramen incisive
- Adanya rongga pada hidung
- Teraba ada celah atau terbukanya langit langit saat diperiksa dengan jari
- Kesukaran dalam menghisap atau makan









LABIOPALATOSCHIZIS 6

5. Patofisiologi



LABIOPALATOSCHIZIS 7

6. Klasifikasi
Klasifikasi menurut struktur struktur yang terkena menjadi :
a. Palatum primer : meliputi bibir, dasar hidung, alveolus dan palatum durum
dibelahan foramen incivisium.
b. Palatum sekunder : meliputi palatum durum dan molle posterior terhadap
foramen.
Suatu belahan dapat mengenai salah satu atau keduanya, palatum primer
dan palatum sekunder dan dapat unilateral atau bilateral.
Kadang kadang terlihat suatu belahan submukosa, dalam kasus ini
mukosanya utuh dengan belahan mengenai tulang dan jaringan otot palatum.
Klasifikasi menurut organ yang terlibat :
1. Celah bibir (labioskizis)
2. Celah di gusi (gnatoskizis)
3. Celah dilangit (Palatoskizis)
4. Celah dapat terjadi lebih dari satu organ misalnya terjadi di bibir dan langit
langit (labiopalatoskizis).
Klasifikasi menurut lengkap/ tidaknya celah yang terbentuk :
Tingkat kelainan bibir sumbing bervariasi, mulai dari yang ringan hingga
yang berat, beberapa jenis bibir sumbing yang diketahui adalah :
1. Unilateral iincomplete : Jika celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir
dan tidak memanjang ke hidung
2. Unilateral complete : Jika celah sumbing yang terjadi hanya disalah satu sisi
bibir dan memanjang hingga ke hidung
3. Bilateral complete : Jika celah sumbing terjadi dikedua sisi bibir dan
memanjang hingga ke hidung.








LABIOPALATOSCHIZIS 8

(A) Celah bibir unilateral tidak komplit, (B) Celah bibir unilateral (C) Celah bibir bilateral
dengan celah langit-langit dan tulang alveolar, (D) Celah langit-langit. (Stoll et al. BMC
Medical genetics. 2004, 154.)

7. Komplikasi
Jika penderita labiopalatoschisis tidak segera ditangani (operasi), maka
penderita beresiko mengalami komplikasi. Berikut komplikasi jika penderita tidak
segera dioperasi :
a. Masalah dental
Anak yang lahir dengan celah bibir mungkin mempunyai masalah tertentu yang
berhubungan dengan kehilangan gigi, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi
pada area dari celah bibir yang terbentuk.
b. Masalah asupan makanan
Adanya celah bibir memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan
payudara ibu atau dot. Sehingga jika tidak segera ditangani akan terjadi masalah
asupan makanan. Tekanan lembut pada pipi bayi dengan labioschisis mungkin
dapat meningkatkan kemampuan hisapan oral. Keadaan tambahan yang
ditemukan adalah refleks hisap dan refleks menelan pada bayi dengan celah bibir
tidak sebaik bayi normal, dan akibatnya bayi menghisap lebih banyak udara pada
saat menyusu. Cara memegang bayi dengan posisi tegak lurus dan menepuk-
nepuk punggung bayi secara berkala dapat membantu proses menyusui bayi. Bayi
yang hanya menderita labioschisis atau dengan celah kecil pada palatum biasanya
dapat menyusui, namun pada bayi dengan labiopalatochisis biasanya
membutuhkan penggunaan dot khusus. Dot khusus (cairan dalam dot ini dapat
keluar dengan tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi dengan labio-
palatoschisis dan bayi dengan masalah pemberian makan atau asupan makanan
tertentu, bentuknya panjang dan pada ujung dot lubangnya lebih besar dari dot
biasa.
c. Gangguan berbicara
Pada bayi dengan labio-palatoschisis biasanya memiliki abnormalitas pada
perkembangan otot-otot yang mengurus palatum mole. Sehingga menimbulkan
suara hidung. Saat palatum mole tidak dapat menutup ruang/ rongga nasal pada
saat bicara, maka didapatkan suara dengan kualitas nada yang lebih tinggi
(hypernasal quality of 6 speech). Meskipun telah dilakukan reparasi palatum,
LABIOPALATOSCHIZIS 9

kemampuan otot-otot tersebut diatas untuk menutup ruang atau rongga nasal pada
saat bicara mungkin tidak dapat kembali sepenuhnya normal. Penderita celah
palatum memiliki kesulitan bicara, sebagian karena palatum lunak cenderung
pendek dan kurang dapat bergerak sehingga selama berbicara udara keluar dari
hidung. Anak mungkin mempunyai kesulitan untuk menproduksi suara atau kata
"p, b, d, t, h, k, g, s, sh, dan ch", dan terapi bicara (speech therapy) biasanya
sangat membantu.
d. Infeksi telinga
Anak dengan labio-palatoschisis lebih mudah untuk menderita infeksi telinga
karena terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot yang mengontrol
pembukaan dan penutupan tuba eustachius. Tuba eustachius adalah saluran
penghubung antara rongga mulut dan telinga.
e. Otitis Media
Otitis media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media adalah
komplikasi umum dari suatu celah langit-langit mulut dan hadir di hampir semua
anak-anak dengan unrepaired clefts.
f. Obstruksi jalan napas
Obstruksi jalan napas dapat hadir pada anak-anak dengan sumbing langit-langit,
terutama mereka yang memiliki rahang hypoplasia (yaitu, sebuah Pierre Robin
urutan). Obstruksi jalan napas bagian atas hasil dari posisi posterior lidah, yang
rentan terhadap prolaps ke dalam faring dengan inspirasi. Obstruksi nasal dapat
juga hasil dari lidah menonjol ke rongga hidung.

8. Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes pendengaran, bicara dan evaluasi.
2. Laboratorium untuk persiapan operasi; Hb, Ht, leuko, BT, CT.
3. Evaluasi ortodental dan prostontal dari mulai posisi gigi dan perubahan struktur
dari orkumaxilaris.
4. Konsultasi bedah plastik, ahli anak, ahli THT, ortodentisist, spech therapi.
5. MRI untuk evaluasi abnormal
6. Foto rontgen
7. Pemeriksaan fisik
LABIOPALATOSCHIZIS 10

8. USG sebagai persiapan mental bagi calon orang tua. Sehingga setelah bayi lahir,
orang tua sudah siap dengan keadaan anak dan penanganan khusus yang
diperlukan dalam perawatan bayi.

9. Penatalaksanaan
Biasanya anak dengan cleft lip and palate akan dirawat oleh tim dokter khusus
yang mencakup dokter gigi spesialis bedah mulut, dokter spesialis bedah plastik, ahli
terapi bicara, audiologist (ahli pendengaran), dokter spesialis anak, dokter gigi
spesialis gigi anak, dokter gigi spesialis orthodonsi, psikolog, dan ahli genetik.
Ada tiga tahap penanganan bibir sumbing yaitu tahap sebelum operasi, tahap
sewaktu operasi dan tahap setelah operasi.
1. Pada tahap sebelum operasi
Yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi menerima tindakan operasi,
asupan gizi yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang dicapai dan
usia yang memadai. Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat
badan lebih dari 10 pounds atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr % dan usia
lebih dari 10 minggu , jika bayi belum mencapai rule of ten ada beberapa nasehat
yang harus diberikan pada orang tua agar kelainan dan komplikasi yang terjadi
tidak bertambah parah. Misalnya memberi minum harus dengan dot khusus dimana
ketika dot dibalik susu dapat memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal
artinya tidak terlalu besar sehingga membuat bayi tersedak atau terlalu kecil
sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup, jika dot dengan besar lubang
khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi minum dengan bantuan sendok secara
perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak untuk menghindari masuknya
susu melewati langit-langit yang terbelah. Selain itu celah pada bibir harus
direkatkan dengan menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga agar
celah pada bibir menjadi tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh kembang yang
menyebabkan menonjolnya gusi kearah depan (protrusio pre maksila) akibat
dorongan lidah pada prolabium , karena jika hal ini terjadi tindakan koreksi pada
saat operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika hasil akhir yang didapat tidak
sempurna. Plester non alergenik tadi harus tetap direkatkan sampai waktu operasi
tiba.


LABIOPALATOSCHIZIS 11

2. Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi
Pada saat ini yang diperhatikan adalah soal kesiapan tubuh si bayi menerima
perlakuan operasi, hal ini hanya bisa diputuskan oleh seorang ahli bedah Usia
optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3 bulan Usia ini
dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan sehingga
jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir sudah
terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap
menjadi kurang sempurna. Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal
pada usia 18 20 bulan mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum
anak masuk sekolah. Operasi yang dilakukan sesudah usia 2 tahun harus diikuti
dengan tindakan speech teraphy karena jika tidak, setelah operasi suara sengau
pada saat bicara tetap terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang
salah, sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang
salah. Bila gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi
labiognatopalatoschizis, koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia 8 9
tahun bekerja sama dengan dokter gigi ahli ortodonsi.
3. Tahap selanjutnya adalah tahap setelah operasi
Penatalaksanaanya tergantung dari tiap-tiap jenis operasi yang dilakukan,
biasanya dokter bedah yang menangani akan memberikan instruksi pada orang tua
pasien misalnya setelah operasi bibir sumbing luka bekas operasi dibiarkan terbuka
dan tetap menggunakan sendok atau dot khusus untuk memberikan minum bayi.
Banyaknya penderita bibir sumbing yang datang ketika usia sudah
melebihi batas usia optimal untuk operasi membuat operasi hanya untuk
keperluan kosmetika saja sedangkan secara fisiologis tidak tercapai, fungsi
bicara tetap terganggu seperti sengau dan lafalisasi beberapa huruf tetap tidak
sempurna, tindakan speech teraphy pun tidak banyak bermanfaat.

Untuk menangani komplikasi sebelum dilakukan labiopalatoplasti, antara lain :
1. Refleks menghisap bayi yang kurang baik karena pembentukan mulut yang tidak
sempurna dapat ditangani dengan penggunaan botol susu. Bila bayi menelan lebih
banyak udara selama menyusu atau susu mudah masuk hidung dan telinga dalam,
dapat ditangani dengan cara bayi didudukan secara tegak selama dan setelah
menyusu. Sendawakan bayi setelah menyusu dengan menepuk-nepuk punggung
bayi.
LABIOPALATOSCHIZIS 12

2. Gangguan pendengaran dapat dikonsulkan ke ahli audiologi.
3. Gangguan bicara dapat ditangani dengan terapi bicara dan tes pendengaran secara
berkala.
4. Dokter gigi spesialis anak dan orthodontis dapat memberikan perawatan yang
berkaitan dengan perawatan gigi-geligi anak dan melakukan tindakan-tindakan
pencegahan agar tidak timbul kelainan-kelainan lain pada rongga mulut.

Perawatan :
1. Menyusui
2. Menggunakan alat khusus
3. posisi mendekati duduk dengan aliran yang langsung menuju bagian sisi atau
belakang lidah bayi
4. tepuk tepuk punggung bayi berkali kali karena cenderung uuntuk menelan
banyak udara
5. periksa bagian bawah hidung dengan teratur, kadang kadang luka terbentuk pada
bagian bawah pemisah lobang hidung
6. Suatu kondisi yang sangat sakit dapat membuat bayi menolak menyusu. Jika hal ini
terjadi arahkan dot ke bagian sisi mulut uuntuk memberikan kesempatan pada kulit
yang elmbut tersebut untuk sembuh
7. Setelah siap menyusu, perlahan lahan bersihkan daerah sumbing dengan alat
berujung kapas yang dicelupkan dalam hydrogen peroksida setengah kuat atau air.
Pengobatan :
1. Dilakukan bedah elektif yang melibatkakn bebrapa disiplin ilmu untuk penanganan
selanjutnya. Bayi akan memperoleh operasi untuk memperbaiki kalainan tetapi
waktunya yang tepat untuk operasi tersebut bervariasi.
2. Tindakan pertama dikerjakan untuk menutup celah bibir berdasarkan kriteria rule
of ten yaitu umur >10 mg, BB > 10 ton, Hb > 10 gr/dl, leukosit > 10.000 ui
3. Tindakan operasi selanjutnya adalah menutup langitan / palatoplasti dikerjakan
sediini mungkin (15 24 bln) sebelum anak mampu bicara lengkap sehiongga
pusat bicara otak belum membentuk cara bicara. Pada umur 8 9 thn dilaksanakan
tindakan operasi penambahan tulang pada celah alveolus/maksila uuntuk
memungkinkan ahli ortodensi mengatur pertumbuhan gigi dikanan dan kiri celah
supaya normal.
LABIOPALATOSCHIZIS 13

4. Operasi terakhir pada usia 15 17 tahu n dikerjakan setelah pertumbuhan tulang
tulang muka mendeteksi selesai.
5. Operasi mungkin tidak dapat dilakukan jika anak memiliki kerusakan yang lebar.
Dalam hal ini suatu kontur seperti balon bicara ditempel pada bagian belakang gigi
geligi menutupi nasofaring dan membantu anak bicara yang lebih baik.
6. Anak tersebut juga membutuhkan teraphi bicara karena langit langit sangat
penting untuk pembentukan bicara dan perubahan struktur.

Prinsip perawatan secara umum :
Agar Operasi Bibir Sumbing berhasil baik perlu kerjasama yang sangat erat
antara dokter operator dan keluarga pasien. Selain kerjasama tersebut perlu juga
diperhatikan tahapan Operasi. Tahapan operasi dalam menangani bibir sumbing
yaitu:
No Tahap Usia Penatalaksanaan
1
Tahap1 Cheilonasoraphy
Lahir bantuan pernafasan dan pemasangan NGT
(naso Gastric Tube) bila perlu untuk
membantu masuknya makanan kedalam
lambung.
1 minggu pembuatan feeding plate untuk membantu
menutup langit-langit dan mengarahkan
pertumbuhan, pemberian dot khusus.
3 Bulan labioplasty; tindakan operasi untuk bibir,
alanasi (untuk hidung) dan evaluasi telingga.
sesuai rule over ten (umur >10 mg, BB > 10
pon, Hb > 10 gr/dl, leukosit > 10.000 ui)
2
Tahap 2 Palatoplasty
18 bulan 20
bulan
palathoplasty atau tindakan operasi langit-
langit bila terdapat sumbing pada langit-
langit.
3
Tahap 3
Pharyngoplasty
Speech therapy
2 4 tahun dipertimbangkan repalatorapy atau
pharingoplasty.
4
Tahap 4 Orthodonsia
6 7 tahun evaluasi gigi dan rahang, evaluasi
pendengaran.
5 Tahap 5 Alveolar Bone 11 tahun alveolar bone graft augmentation (cangkok
LABIOPALATOSCHIZIS 14

Graft tulang pada pinggir alveolar untuk
memberikan jalan bagi gigi caninus),
perawatan otthodontis.
6
Tahap 6
12-13 tahun final touch; perbaikan-perbaikan bila
diperlukan.
7 Tahap 7 17-18 tahun orthognatik surgery bila perlu.

10. Pencegahan
1. Menghindari merokok
Ibu yang merokok mungkin merupakan faktor risiko lingkungan terbaik
yang telah dipelajari untuk terjadinya celah orofacial. Ibu yang menggunakan
tembakau selama kehamilan secara konsisten terkait dengan peningkatan resiko
terjadinya celah-celah orofacial. Mengingat frekuensi kebiasaan kalangan
perempuan di Amerika Serikat, merokok dapat menjelaskan sebanyak 20% dari
celah orofacial yang terjadi pada populasi negara itu.
Lebih dari satu miliar orang merokok di seluruh dunia dan hampir tiga
perempatnya tinggal di negara berkembang, sering kali dengan adanya dukungan
publik dan politik tingkat yang relatif rendah untuk upaya pengendalian
tembakau. (Aghi et al.,2002). Banyak laporan telah mendokumentasikan bahwa
tingkat prevalensi merokok pada kalangan perempuan berusia 15-25 tahun terus
meningkat secara global pada dekade terakhir (Windsor, 2002). Diperkirakan
bahwa pada tahun 1995, 12-14 juta perempuan di seluruh dunia merokok selama
kehamilan mereka dan, ketika merokok secara pasif juga dicatat, 50 juta
perempuan hamil, dari total 130 juta terpapar asap tembakau selama kehamilan
mereka (Windsor, 2002).
2. Menghindari alkohol
Peminum alkohol berat selama kehamilan diketahui dapat mempengaruhi
tumbuh kembang embrio, dan langit-langit mulut sumbing telah dijelaskan
memiliki hubungan dengan terjadinya defek sebanyak 10% kasus pada sindrom
alkohol fetal (fetal alcohol syndrome). Pada tinjauan yang dipresentasikan di
Utah Amerika Serikat pada acara pertemuan konsensus WHO (bulan Mei 2001),
diketahui bahwa interpretasi hubungan antara alkohol dan celah orofasial
dirumitkan oleh biasa yang terjadi di masyarakat. Dalam banyak penelitian
LABIOPALATOSCHIZIS 15

tentang merokok, alkohol diketemukan juga sebagai pendamping, namun tidak
ada hasil yang benar-benar disebabkan murni karena alkohol.
3. Nutrisi
Nutrisi yang adekuat dari ibu hamil saat konsepsi dan trimester I kehamilan sangat
penting bagi tumbuh kembang bibir, palatum dan struktur kraniofasial yang
normal dari fetus.
a. Asam Folat
Peran asupan folat pada ibu dalam kaitannya dengan celah orofasial sulit untuk
ditentukan dalam studi kasus-kontrol manusia karena folat dari sumber
makanan memiliki bioavaibilitas yang luas dan suplemen asam folat biasanya
diambil dengan vitamin, mineral dan elemen-elemen lainnya yang juga
mungkin memiliki efek protektif terhadap terjadinya celah orofasial. Folat
merupakan bentuk poliglutamat alami dan asam folat ialah bentuk
monoglutamat sintetis. Pemberian asam folat pada ibu hamil sangat penting
pada setiap tahap kehamilan sejak konsepsi sampai persalinan. Asam folat
memiliki dua peran dalam menentukan hasil kehamilan. Satu, ialah dalam
proses maturasi janin jangka panjang untuk mencegah anemia pada kehamilan
lanjut. Kedua, ialah dalam mencegah defek kongenital selama tumbuh
kembang embrionik. Telah disarankan bahwa suplemen asam folat pada ibu
hamil memiliki peran dalam mencegah celah orofasial yang non sindromik
seperti bibir dan/atau langit-langit sumbing.
b. Vitamin B-6
Vitamin B-6 diketahui dapat melindungi terhadap induksi terjadinya celah
orofasial secara laboratorium pada binatang oleh sifat teratogennya demikian
juga kortikosteroid, kelebihan vitamin A, dan siklofosfamid. Deoksipiridin,
atau antagonis vitamin B-6, diketahui menginduksi celah orofasial dan
defisiensi vitamin B-6 sendiri cukup untuk membuktikan terjadinya langit-
langit mulut sumbing dan defek lahir lainnya pada binatang percoban. Namun
penelitian pada manusia masih kurang untuk membuktikan peran vitamin B-6
dalam terjadinya celah.
c. Vitamin A
Asupan vitamn A yang kurang atau berlebih dikaitkan dengan peningkatan
resiko terjadinya celah orofasial dan kelainan kraniofasial lainnya. Hale adalah
LABIOPALATOSCHIZIS 16

peneliti pertama yang menemukan bahwa defisiensi vitamin A pada ibu
menyebabkan defek pada mata, celah orofasial, dan defek kelahiran lainya
pada babi. Penelitian klinis manusia menyatakan bahwa paparan fetus
terhadap retinoid dan diet tinggi vitamin A juga dapat menghasilkan kelainan
kraniofasial yang gawat. Pada penelitian prospektif lebih dari 22.000 kelahiran
pada wanita di Amerika Serikat, kelainan kraniofasial dan malformasi lainnya
umum terjadi pada wanita yang mengkonsumsi lebih dari 10.000 IU vitamin A
pada masa perikonsepsional.
4. Modifikasi Pekerjaan
Dari data-data yang ada dan penelitian skala besar menyerankan bahwa ada
hubungan antara celah orofasial dengan pekerjaan ibu hamil (pegawai kesehatan,
industri reparasi, pegawai agrikulutur). Teratogenesis karena trichloroethylene dan
tetrachloroethylene pada air yang diketahui berhubungan dengan pekerjaan bertani
mengindikasikan adanya peran dari pestisida, hal ini diketahui dari beberapa
penelitian, namun tidak semua. Maka sebaiknya pada wanita hamil lebih baik
mengurangi jenis pekerjaan yang terkait. Pekerjaan ayah dalam industri cetak,
seperti pabrik cat, operator motor, pemadam kebakaran atau bertani telah
diketahui meningkatkan resiko terjadinya celah orofasial.
5. Suplemen Nutrisi
Beberapa usaha telah dilakukan untuk merangsang percobaan pada manusia untuk
mengevaluasi suplementasi vitamin pada ibu selama kehamilan yang
dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan. Hal ini dimotivasi oleh hasil baik
yang dilakukan pada percobaan pada binatang. Usaha pertama dilakukan tahun
1958 di Amerika Serikat namun penelitiannya kecil, metodenya sedikit dan tidak
ada analisis statistik yang dilaporkan. Penelitian lainnya dalam usaha memberikan
suplemen multivitamin dalam mencegah celah orofasial dilakukan di Eropa dan
penelitinya mengklaim bahwa hasil pemberian suplemen nutrisi adalah efektif,
namun penelitian tersebut memiliki data yang tidak mencukupi untuk
mengevaluasi hasilnya.Salah satu tantangan terbesar dalam penelitian pencegahan
terjadinya celah orofasial adalah mengikutsertakan banyak wanita dengan resiko
tinggi pada masa produktifnya.


LABIOPALATOSCHIZIS 17

II. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pengumpulan Data
Biodata
Nama : Bayi laki-laki
Umur : 2 jam baru lahir
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : -
Diagnosa Medis : Labiopalatoschizis
b. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
Klien dilahirkan dalam kondisi terdapat celah pada bibir dan langit-langit
mulut, dan tampak kesulitan untuk menyusu.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Bayi laki laki terlahir dengan kondisi terdapat celah pada bibir dan langit
langit mulut, tampak sulit menyusui jadi sulit untuk mendapatkan nutrisi.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
-
4. Riwayat Keluarga
Kemungkinan orang tua mempunyai karier bibir sumbing atau bisa karena
terjadi paparan radiasi pada saat kehamilan trimester I sehingga terjadi
gangguan pertumbuhan pada janin.
c. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda Tanda Vital :
- RR : 46 x/menit
- HR : 120 x/menit
- Suhu : 37,8 C
2. Kondisi Saat Lahir
- Terdapat celah pada bibir dan langit-langit mulut
- Lingkar perut : 45 cm
- BBL : 2.500 gram
d. Data Psikologis
Ketika anaknya lahir, ibu tampak sedih melihat kondisi anaknya, bingung
bagaimana cara menyusui anaknya dan berkata tidak tahu apa yang harus
LABIOPALATOSCHIZIS 18

dilakukan setelah anak dibawa pulang ke rumah. Ibu berusaha menutup nutupi
wajah anaknya dari orang lain. Ibu berkata malu akan kondisi anaknya.
e. Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan Laboratorium:
- Leukosit : 11.000 mg/dl
- Eritrosit : 3.500 mg/dl
- Trombosit : 270.000 mg/dl
- Hemoglobin : 16 gr/dl
- Hematokrit : 30
- Kalium : 4,8 mEq
- Natrium : 138 mEq
2. Analisa Data
Data Yang Menyimpang Etiologi Masalah Keperawatan
DO:
Terdapat celah pada bibir
dan langit langit mulut
DS:
Labiopalatoschizis

Sususnan mulut berbeda

Tidak ada pemisah antara mulut dan
hidung

Kemungkinan susu masuk ke saluran
nafas

Merangsang refleks gag

Bayi tersedak dan air susu keluar
melalui hidung

Resti Aspirasi
Resiko Tinggi Terjadi
Aspirasi
DO:
Terdapat celah pada bibir
dan langit langit mulut,
Tampak sulit menyusu
Labiopalatoschizis

Sususnan mulut berbeda

Nutrisi Kurang Dari
Kebutuhan Tubuh
LABIOPALATOSCHIZIS 19

BBL 2500 gram
Lingkar perut 45 cm
DS: -
Lemahnya tekanan pengisapan otot
otot region bibirnya tidak dapat
menekan dot

Sulit menyusu

Intake nutrisi (ASI) kurang

Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan
Tubuh
DO:
Ibu tampak sedih melihat
kondisi anaknya, Ibu
berusaha menutup
nutupi wajah anaknya dari
orang lain.
DS:
Ibu berkata malu akan
kondisi anaknya
Labiopalatoschizis

Sususan mulut berbeda

Wajah anak ditutup dari orang lain

Ibu tampak sedih dan berkata malu

Harga Diri Rendah
Harga Diri Rendah
DO:
Anak terlahir dengan
kondisi terdapat celah
pada bibir dan langit
langit mulut dan tampak
sulit menyusu
DS:
Ibu bingung bagaimana
cara menyusui anaknya
dan berkata tidak tahu apa
yang harus dilakukan
setelah anak dibawa
pulang ke rumah.
Labiopalatoschizis

Sususnan mulut berbeda

Lemahnya tekanan pengisapan otot
otot region bibirnya tidak dapat
menekan dot

Sulit menyusu

Ibu bingung cara menyusui anak
Ibu berkata tidak tahu apa yang harus
dilakukan setelah anak dibawa ke
rumah
Kurang Pengetahuan
LABIOPALATOSCHIZIS 20


Kurang Pengetahuan
DO:
Luka bekas operasi
DS:
Labiopalatoschizis

Tindakan bedah korektif setelah BB
mencukupi sesuai Rule Of Ten

Pasca operasi

Resiko Infeksi
Resiko Infeksi


3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Pra Operasi:
1. Resiko tinggi terjadi aspirasi berhubungan dengan ketidakmampuan
mengeluarkan sekresi sekunder dari Palatoskisis.
2. Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan
menelan/ kesukaran dalam makan sekunder akibat kecacatan dan pembedahan.
3. Harga Diri Rendah berhubungan dengan kondisi anak terlahir cacat.
4. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan teknik pemberian makan dan
perawatan di rumah.
Diagnosa Pasca Operasi:
1. Resti infeksi berhubungan dengan terpaparnya lingkungan dan prosedur invasi
yang di tandai dengan adanya luka operasi tertutup kasa.
2. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan teknik pemberian makan dan
perawatan di rumah.







LABIOPALATOSCHIZIS 21

Diagnosa Pra Operasi:
1. Resiko tinggi terjadi aspirasi berhubungan dengan ketidakmampuan mengeluarkan
sekresi sekunder dari Palatoskisis.
Tujuan: Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan tidak terjadi
aspirasi
Kriteria Hasil:
Kepatenan jalan nafas
Kepatenan saluran cerna
Intervensi Rasional
1. Atur posisi kepala dengan mengangkat
kepala waktu minum atau makan dan
gunakan dot yang panjang.
2. Gunakan palatum buatan (bila perlu)
3. Lakukan penepukan punggung setelah
pemberian makanan
4. Monitor status pernafasan selama
pemberian makan seperti prequensi
nafas, irama, serta tanda-tanda adanya
aspirasi.
1. Agar minuman atau makanan yang masuk
tidak masuk ke saluran hidungdan anak
tidak tersedak.
2. Agar memudahkan anak untuk menete ASI.
3. Agar anak tidak tersedak.

4. Memantau status pernapasan selama makan
agar terlihat kemampuan makan bayi.

2. Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan atau tidak efektif dalam meneteki ASI
berhubungan dengan ketidakmampuan menelan/ kesukaran dalam makan sekunder
akibat kecacatan dan pembedahan.
Tujuan: Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan perubahan nutrisi
dapat teratasi
Kriteria Hasil:
tidak pucat
turgor kulit membaik
kulit lembab, perut tidak kembung
bayi menunjukan penambahan berat badan yang tepat.
Intervensi Rasional
1. Bantu ibu dalam menyusui, bila ini adalah
keinginan ibu. Posisikan dan stabilkan
1. Membantu ibu dalam memberikan Asi
dan posisi puting yang stabil membentuk
LABIOPALATOSCHIZIS 22

puting susu dengan baik di dalam rongga
mulut.
2. Bantu menstimulasi refleks ejeksi Asi
secara manual / dengan pompa payudara
sebelum menyusui
3. Gunakan alat makan khusus, bila
menggunakan alat tanpa puting. (dot, spuit
asepto) letakan formula di belakang lidah
4. Melatih ibu untuk memberikan Asi yang
baik bagi bayinya
5. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga
kebersihan, apabila di pulangkan
6. kolborasi dengan ahli gizi.
kerja lidah dalam pemerasan susu.

2. Karena pengisapan di perlukan untuk
menstimulasi susu yang pada awalnya
mungkin tidak ada
3. Membantu kesulitan makan bayi,
mempermudah menelan da mencegah
aspirasi
4. Mempermudah dalam pemberian Asi

5. Untuk mencegah terjadinya
mikroorganisme yang masuk
6. mendapatkan nutrisi yang seimbang

3. Harga diri rendah b.d. anomali kongenital/cacat lahir ditandai dengan ibu menutup-
nutupi wajah anaknya dari orang lain dan berkata malu dengan kondisi anaknya.
Tujuan : Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan orang tua dapat
menerima kondisi/keadaan anaknya dan tidak malu lagi.
Kriteria Hasil:
Orang tua tidak malu
Intervensi Rasional
1. Adakan diskusi atau pertemuan dengan
orang tua lain dari komunitas
penderita labiopalatoschisis
Dengan bertemu dengan komunitas yang
mengalami hal yang sama (mempunyai
anak dengan labiopalatoschisis) dapat
meningkatkan rasa percaya diri
2. Ajarkan keterampilan untuk bersikap
positif/menerima, melalui diskusi
Dapat menerima keadaan anaknya yang
berbeda dengan anak normal lain
3. Beri kesempatan untuk
mengekspresikan perasaan
Untuk mendorong koping keluarga
4. Tunjukkan sikap penerimaan terhadap
bayi dan keluarga
Karena orang tua sensitif terhadap sikap
orang lain

LABIOPALATOSCHIZIS 23

4. Kurangnya pengetahuan b.d. teknik pemberian makan dan perawatan di rumah
ditandai dengan ibu bingung cara menyusui anaknya dan berkata tidak tahu apa yang
harus dilakukan setelah anak dibawa pulang ke rumah.
Tujuan : Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan orang tua dapat
memahami dan dapat melakukan metode pemberian ASI pada bayi,
perawatan penyakit dan perawatan bayi setelah pulang ke rumah.
Kriteria Hasil:
Orang tua mengetahui tentang penyakit yang diderita anak
Orang tua mengetahui bagaimana cara perawatan anak mulai dari cara pemberian
makan, cara pembersihan mulut setelah makan.
Intervensi Rasional
1. Jelaskan prosedur operasi sebelum dan
sesudah operasi
Dengan mengetahui prosedur operasi,
orang tua akan lebih paham sehingga
mengurangi kecemasan
2. Ajarkan pada orang tua dalam
perawatan anak ; cara pemberian
makan/minum dengan alat, mencegah
infeksi, dan mencegah aspirasi, posisi
pada saat pemberian makan/minum,
lakukan penepukan punggung,
bersihkan mulut setelah makan
Orang tua bisa memahami dan bisa
melakukan perawatan sendiri pada
bayinya setelah pulang ke rumah
3. Ajarkan cara melakukan resusitasi
jantung paru
Bila terjadi resiko aspirasi atau distress
pernafasan, orang tua sudah mengetahui
cara pertolongan pertama yang harus
dilakukan
4. Ajarkan cara melakukan rangsangan
bicara
Mencegah terjadinya gangguan bicara
pada anak






LABIOPALATOSCHIZIS 24

Diagnosa Pasca Operasi:
1. Resti infeksi berhubungan dengan terpaparnya lingkungan dan prosedur invasi
yang di tandai dengan adanya luka operasi tertutup kasa.
Tujuan: Setelah melakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi.
Kriteria Hasil:
Luka terjaga kesterilan.
Tidak ada luka tambahan
Intervensi Rasional
1. Atur posisi miring ke kanan serta kepala
agak ditinggikan pada saat makan
2. Lakukan monitor tanda adanya infeksi
seperti bau, keadaan luka, keutuhan jahitan,
3. Lakukan monitor adanya pendarahan dan
edema
4. Lakukan perawatan luka pascaoperasi
dengan aseptic
5. Hindari gosok gigi kurang lebih 1-2
minggu
1. Agar memudahkan masuknya makanan
atau minuman.
2. Agar cepat terdeteksi apabila ada infeksi
dengan mengenali tanda-tanda infeksi.
3. Agar memantau adanya komplikasi atau
tidak.
4. Agar luka tetap terjaga kebersihannya
dan terhindar dari infeksi.
5. Agar tidak terjadi pendarahan atau jaitan
lukanya bisa putus.

LABIOPALATOSCHIZIS 25

DAFTAR PUSTAKA

Adam, George L. BOIES Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta: Jakarta: EGC.
Artono dan Prihartiningsih. 2008. Labioplasti Metode Barsky Dengan Pemotongan Tulang
Vomer Pada Penderita Bibir Sumbing Dua Sisi Komplit Di Bawah Anestesi Umum.
Maj Ked Gi : 15(2) : 149-152.
Carolyn, M.h. et. Al. (1990). Critical Care Nursing. Fifth edition. j.b. LIPPINCOTT
Campany. Philadelpia. Hal 752-779
Cleft Lip and Palate Association of Malaysia. 2006. Sumbing Bibir Dan Sumbing Lelangit.
http://www.infosihat.gov.my/penyakit/kanak-kanak/sumbing.pdf
Hudak & Gallo. (1997). Keperawatan kritis. Pemdekatan holistik. Volume 1. Penerbit Buku
kedokteran EGC. Jakarta
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.
Rudolph, Abraham M, Julien I.E. Hoffman, dan Colin D. Rudolph. 2006. Buku Ajar Pediatri
Rudolph Volume 2. Jakarta: EGC.
S Fitriany, SST. Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita.
Speer, Kathleen Morgan. 2007. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC
Suriadi, dan Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : Sagung Seto.
Suriadi, dan Rita Yulianni. 2006. Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 2. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawata Pediatrik, edisi 4. Jakarta : EGC.




LABIOPALATOSCHIZIS 26

Lampiran
KASUS III
Chair : Nurmawanty
Scriber I : Ridillah Vani J
Scriber II : Ghina Nur Jannah

SGD (Step I V)

STEP I
Tindakan Bedah Korektif (Diah)
Jawaban:
Pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki struktur bibir pasien agar tidak
terdapat celah. (Kiki)
Agar bisa bernapas dan makan. (Nurma)

STEP II
1. Riri: Bagaimana cara ibu menyusui dengan keadaan anak bibir sumbing?
2. Rika: Mengapa dilakukan pembedahan kotertif setelah BB anak mencukupi?
3. Astri: Apakah ada pembedahan lain setelah pembedahan kotektif?
4. Suci: Apa saja faktor yang menyebabkab BBL rendah?
5. Ghina: Apa yang menyebabkan adanya celah pada bibir bayi dan langit-langit?
6. Viska: Apa saja klasifikasi dari bibir sumbing?
7. Aisya: Apa penatalaksanaan komplementernya?
8. Nurul: Apakah ada pengganti ASI selama sebelum operasi?
9. Intan: Apa komplikasi pada pasien bibir sumbing jika tidak di operasi?
10. Destia: Apakah bibir sumbing bisa di deteksi saat dalam kandungan?
11. Kiki: Apakah nilai laboratoriumnya normal?
LABIOPALATOSCHIZIS 27

12. Ghina: Berapa BB yang cukup untuk dilakukan operasi?
13. Diah: Berapa usia yang cukup untuk dikakukan operasi?
14. Nurma: Bagaiman penkes ke ibu setelah anak dibawa pulang?
15. Destia: Bagaimana peran perawat terhadap psikologi ibunya?
16. Viska: Apa saja faktor penyebab yang mengakibatkan anak terlahir celah di bibir?
17. Aisya: Bagaiman pencegahan terhadap anak terlahir bibir sumbing?
18. Nurul: Bagaimana kelangsungan hidup bayi bila tidak dilakukan operasi?
19. Destia: Apakah bekas jahitan dari pembedahan korektif bisa hilang?
20. Suci: Berapa kali tahap jika dilakukan pembedahan korektif?
21. Destia: Bagaimana struktur gigi dari bayi yang terlahir sumbing?

STEP III
1. Suci : tergantung dari keparahan bibir. Cara menyusui:
- Menggunakan selang yang dimasukkan dari hidung sampai lambung.
- Menggunakan langit langit buatan.
2. Intan : Agar ketahanan tubuhnya mencukupi sekitar 4 5 kg.
3. LO
4. Riri : Nutrisi ibu saat mengandung kurang.
5. Diah : Faktor genetik, faktor lingkungan.
Aisya : Faktor lingkungan seperti obat-obatan, faktor virus rubella.
Riri : Konsumsi vitamin A yang berlebih atau kurang.
6. Rika : Klasifikasi berdasarkan organ:
1. Unilateral incomplete : celah di salah satu bibir, tidak sampai hidung.
2. Unitaleral complete : celah di salah satu bibir, memanjang sampai hidung.
3. Bilateral complete : celah dua pada bibir memanjang sampai ke hidung
7. Nurul : Pemberian nutrisi yang cukup sampai BB mencukupi untuk dilakukan operasi.
8. Semua : Tidak ada pengganti ASI.
9. Destia : Gangguan pendengaran, saluran infeksi pernapasan, gangguan tumbuh
kembang.
Viska : Asupan makan kurang, pembentukan gigi, gangguan bicara.
10. Nurma : Bisa di deteksi, pada minggu ke .... ? (LO)
11. Aisya : Hasil pemeriksaan Lab normal:
LABIOPALATOSCHIZIS 28

Hb, Leukosit, Na, K normal.
Eritrosit, Trombosit, Ht ? (LO)
12. Intan : BB = 4 5 kg.
13. Intan : Usia sekitar 10 minggu / 3 bulan.
14. Diah : Pemberian makan ke anak dan melatih berbicara.
15. Riri : Diberi perhatian.
16. Diah : Faktor genetik, faktor lingkungan.
Aisya : Faktor lingkungan seperti obat-obatan, faktor virus rubella.
Riri : Konsumsi vitamin A yang berlebih atau kurang.
17. Kiki : Tes pranikah, konsultasi obat-obatan, pemberian nutrisi yang cukup.
Diah : Jauhi dari asap rokok, alkohol.
Riri : Memilih pekerjaan yang sesuai.
? : Merokok dapat mengakibatkan labiopalatoschizis sekitar 11 12 %.
18. Ghina : Sulit berbicara.
Riri : Gangguan psikologi dari anak.
Nurma : Resiko aspirasi.
Kiki : Distress pernapasan.
19. Suci : jahitan tidak bisa hilang.
20. LO
21. LO

LABIOPALATOSCHIZIS 29

STEP IV
Mind Map
Faktor Resiko
(Genetik, Lingkungan, Infeksi)

Bibir sumbung Ibu tampak sedih dan
merasa malu , menutupi
wajah anaknya
Manifestasi Klinis:
- Terdapat celah pada bibir dan langit langit mulut
- Tampak sulit menyusu
- RR 46x/menit, nadi 120x/menit, suhu 37,80
0
C, lingkar perut 45 cm, BBL
2500 gram.

Pemeriksaaan Lab:
leukosit 11.000 mg/dL, Eritrosit 3500 mg/dL, Trombosit 270.000 mg/dL, Hb 16 gr/dL, Ht 30,
Kalium 4,8 mEq, Natrium 138 mEq.

Penatalaksanaan
Dokter merencanakan pembedahan korektif setelah BB mencukupi.
STEP V (LO)
1. Cara lain selain bedah korektif.
2. Deteksi dini bibir sumbing.
3. Tahapan pembedahan korektif.
4. Struktur gigi pada anak bibir sumbing.
5. Pemeriksaan Laboratorium normal.
Kurang
Pengetahuan
Penkes oleh
perawat
HDR
Nutrisi Kurang
Dari Kebutuhan
Masalah Etik
Otonomi anak: anak tidak bisa
memutuskan tindakan pembedahan
Ibu harus menyetujui