Anda di halaman 1dari 19

Central Auditory Processing

Disorders (CAPD)

Akbarbudhi Antono
09-157
Pembimbing:
Dr H. R. Krisnabudhi Sp THT-KL
Kepanitraan klinik THT-KL RSUD Cibinong
Anatomi & fisiologi sistem
pendengaran


Fungsi pendengaran sentral
1. Pusat auditorik medular: berfungsi mencari sumber bunyi,
refleks pendengar mengatur otak telinga tengah jika tiba-tiba
mendengar suatu alarm.
2. Pusat midbrain, kolikus inferior dan formasio artikularis
mengatur refleks pendengar yang berkaitan dengan gerak
kepala dan mata guna mencari sumber bunyi, masuk auditorik
ke formasi retikular dan mempunyai pengaruh besar terhadap
kewaspadaan, perhatian, dan terjaganya seseorang.
3. Korikulus inferior, proyeksi bunyi lebih atas dari persepsi suara
yang dipancarkan ke nuklei genikulata medial dari talamus
karena adanya penyilangan, maka proyeksi auditorik bersifat
bilateral dengan proyeksi kontralateral yang lebih intensif.
1. Korteks auditorik. Korteks auditorik primer mempunyai lokasi
(peta tonotopik) sesuai dengan asal neuron di koklea (sesuai
dengan tinggi rendah frekuensi suara).
2. Area korteks auditorik: pada otak mampu menganalisa berbagai
intensitas suara dan memberikan arti akan stimuli pendengaran
dengan mengintegrasikan impuls yang diterima melalui asosiasi
korteks lain (visual dan somatik).
3. Korteks asosiasi auditorik: dari korteks auditorik primer,
proyeksi serabut ditujukan ke area asosiasi auditorik untuk
dilakukan analisis dan integrasi dengan data dari pusat korteks
lain. Setiap bunyi, kata, dan suara dihubungkan dengan pusat
bahasa.
Definisi APD
disfungsi proses dasar yang
menyangkut pemahaman bahasa pada
sistem neurologi auditorik sentral tanpa
ditemukannya lesi sistem auditorik
perifer

APD menyebabkan disabilitas di mana
informasi auditorik yang diproses tetganggu
sehingga juga mengganggu porses
pembelajaran.
APD terjadi bila telinga dan otak tidak
berkoordinasi sepenuhnya, sehingga terjadi
putusnya proses informasi
Siswa dengan APD dapat mendengar kata-
kata yang diucapkan, tetapi dia kesulitan atau
tidak akan paham, apa artinya.
Epidemiologi & etiologi
Prevalensi APD dilaporkan terjadi di
mana saja berkisar dari 2-3% populasi
anak-anak sampai hingga 70% pada
populasi dewasa tua
Etiologi:
APD didapat : trauma kepala, gangguan
vaskular, sklerosis multipel, alzheimer,
tumor, infeksi

APD perkembangan:
keterlambatan maturasi mielin saat
anak-anak
Riwayat otitis media berulang saat anak
genetik

Diagnosis
Gejala:
1. sulit mendengar bila lingkungan menimbulkan banyak suara
2. sulit mengikuti arahan dan perintah
3. sering kebingungan dan sering bertanya kembali
4. buruk melokalisasi suara
5. mudah dialihkan perhatiannya
6. kesulitan akademis, terutama pada materi membaca dan/atau
mengeja
7. kemampuan musik yang buruk dan sulit mengapresiasi musik
8. memiliki riwayat otitis media
Pemeriksaan
Evaluasi kemungkinan gangguan
neurologis didapat dengan EEG, CT
scan atau MRI, cairan serebrospinal
sesuai dengan tanda dan gejala klinis
Menepis kelainan pendengaran perifer
terlebih dahulu: audiometri nada murni


Mendeteksi gangguan pendengaran
retrokoklear: speech audiometry, SISI
test, tone decay test.
Melakukan tes elektrofisiologi seperti
ABR dan AMLR
Tes bertujuan melokalisasi lesi
penyebab gangguan auditorik pusat
APD perlu juga dilakukan tes psiko
akustik:
Tes pendengaran dikotik
Tes Monoaural Low Redundancy Speech
Perception
Tes lokalisasi dan lateralisasi binaural
Diagnosis APD tegak bila pemeriksaan:
Terdapat nilai 2 standard deviasi atau di
bawah rata-rata setidaknya untuk satu
telinga atau 2 pemeriksaan psiko
akustik (ASHA2005)
Persepsi bahasa dan non bahasa yang
buruk (BSA 2011)

Penatalaksanaan
Plastisitas otak: sistem saraf pusat
berkemampuan untuk dapat dirubah
baik secara psikologis dan anatomis
dengan memberi pemberian dan
pencabutan stimuli sensorik
Penggunaan strategi:
modifikasi lingkungan
Kompensasi
latihan auditorik
Terapi spesifik terhadap lesi: defisit
integrasi binaural (kemampuan dikotik
kurang), sebaiknya dilakukan dichotic
listening diference (DIID) training
Terima Kasih