Anda di halaman 1dari 183
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1
Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal 1

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

1

2 Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal
2 Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal
2 Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal
2 Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal
2 Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

2

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

KATA PENGANTAR

Perencanaan program dan kegiatan pembangunan perkebunan pada periode 2015- 2019 sesuai arahan umum RPJMN 2015-2019 difokuskan pada pencapaian daya saing kompetitif perekonomian yang berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas, oleh karena itu kebijakan program dan kegiatan Direktorat Jenderal Perkebunan kedepan harus juga diarahkan dalam hal pemanfaatan SDA yang efektif dan efisien dengan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditi perkebunan serta diiringi oleh peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM perkebunan.

oleh peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM perkebunan. Kaitan dengan hal tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan

Kaitan dengan hal tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan menekankan bahwa pola perencanaan pembangunan perkebunan berdasarkan prinsip sinergi antara pola top down policy dan bottom up planning. Dengan pola ini sangat diharapkan bahwa kegiatan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan tujuan nasional, potensi, kebutuhan dan kesiapan daerah sebagai pelaksananya. Pada kenyataannya, pola bottom up planning yang selama ini di adopsi memiliki banyak kelemahan terutama dalam hal proses pengajuan kegiatan dari daerah (SKPD Provinsi dan Kabupaten/Kota) yang dilakukan melalui mekanisme manual proposal.

Pada dasarnya, manual proposal yang selama ini diterapkan memiliki beberapa kelemahan diantaranya bersifat keproyekan, hanya berisi daftar keinginan (shopping list), tidak efisien karena menghabiskan banyak kertas, mudah rusak karena penyimpanan, kurang tersedianya data dan informasi tentang potensi keunggulan daerah dan terbatasnya peran pemerintah Pusat dalam menganalisis kelayakan kegiatan yang diusulkan. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, mekanisme pengajuan usulan kegiatan dilaksanakan dalam kerangka pelaksanaan reformasi birokrasi

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

i

yaitu mewajibkan K/L membangun dan mengembangkan sistem elektronik pemerintah (e-goverment) dengan rencana aksi antara lain pelaksanaan e-office, e-planning, e-budgetting, e-procurement, e-performance dan e-audit. Implementasi pelaksanaan e-planning dalam rangka mengefektifkan dan mengefisienkan pengajuan usulan kegiatan dari daerah adalah dalam bentuk e-proposal (elektronik proposal).

Direktorat Jenderal Perkebunan merasa memiliki kepentingan dan kewajiban di dalam membangun dan mengembangkan sistem aplikasi e-proposal tersebut karena pada hakikatnya eksistensi dan kesuksesan pelaksanaan kegiatan pembangunan perkebunan tidak terjadi dengan sendirinya atau tidak ditentukan secara general oleh Pusat, namun lahir dari dinamika proses berbagai aspek pelaksanaan kegiatan di daerah. Untuk menjembatani pemerintah Pusat dan Daerah dalam hal perencanaan kegiatan pembangunan perkebunan maka di susunlah Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan melalui e-Proposal. Pedoman ini berfungsi sebagai salah satu alat/instrumen untuk kelancaran penyusunan kegiatan pembangunan perkebunan. Pedoman ini berupaya mendorong para pengusul kegiatan di daerah untuk memanfaatkan sebanyak mungkin potensi lokal masing-masing daerah dalam ruang lingkup pengembangan kawasan/cluster berbasis komoditas perkebunan. Selain itu, pedoman ini memberikan masukan kepada daerah untuk membangun keunggulan kompetitif berdasar pada keunggulan komparatif dari produk unggulan daerah serta berkontribusi dalam mempercepat pembangunan perkebunan dalam meningkatkan daya saing komoditi perkebunan dan meningkatkan kesejahteraan petani/ pekebun.

Buku pedoman ini disusun dan diterbitkan untuk memberikan panduan kepada SKPD Provinsi dan Kabupaten/Kota yang menangani fungsi perkebunan dalam mengajukan rencana kegiatan pembangunan perkebunan untuk mendapatkan pendanaan APBN. Dengan terbitnya Buku Pedoman ini diharapkan SKPD Provinsi dan Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan

ii

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

dapat menyusun dan mengajukan proposal yang sejalan dengan ketentuan dan kebijakan Direktorat Jenderal Perkebunan serta sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan perkebunan di daerah sehingga akan tercapai peningkatan kualitas dan sinergitas perencanaan di tingkat Pusat dan Daerah serta diharapkan dapat mencapai tujuan kegiatan dengan lebih baik. Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat untuk memberikan masukan dan berpartisipasi aktif dalam penyusunan pedoman perencanaan pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal. Kami juga sangat mengharapkan saran perbaikan yang bersifat membangun untuk penyempurnaan buku pedoman ini dimasa mendatang.

Jakarta,

Maret 2014

Direktur Jenderal,

ini dimasa mendatang. Jakarta, Maret 2014 Direktur Jenderal, Ir. Gamal Nasir, MS Nip. 19560728 198603 1

Ir. Gamal Nasir, MS Nip. 19560728 198603 1 001

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

iii

iv

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

DAFTAR ISI

 

Halaman

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

iv

DAFTAR

TABEL

vii

DAFTAR GAMBAR

viii

DAFTAR LAMPIRAN

ix

I. PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Maksud dan Tujuan

4

1.3. Sasaran dan Ruang Lingkup

5

1.4. Pengertian

6

II. PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN PERKEBUNAN

10

2.1. Komoditas Unggulan Nasional Perkebunan

10

2.2. Pengembangan Kawasan Berbasis Komoditi Perkebunan

14

2.3. Program Direktorat Jenderal Perkebunan

19

2.4. Kegiatan Direktorat Jenderal Perkebunan

21

2.5. Jenis Kegiatan dan Sub Kegiatan Direktorat Jenderal Perkebunan

22

III. MEKANISME PENGAJUAN USULAN KEGIATAN MELALUI e-PROPOSAL

36

3.1. Prosedur dan Jadwal Pengusulan Kegiatan

36

3.2. Persyaratan Pengusul Kegiatan melalui e-Proposal

42

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

v

3.3.

Gambaran Umum Sistem Aplikasi e-proposal

45

3.4.

Ketentuan Umum Pengajuan Usulan Kegiatan Melalui e-proposal

48

3.4.1. Muatan e-proposal tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota

53

3.4.2. Alur Pengajuan Usulan Kegiatan Melalui e-proposal tingkat Provinsi dan Kabupaten/ Kota

73

3.5.

Bagan Proses Pengajuan Usulan Kegiatan Melalui e-proposal

84

3.5.1. Bagan Proses Pengajuan e-proposal sebagai Admin SKPD Provinsi

84

3.5.2. Bagan Proses Pengajuan e-proposal sebagai Admin SKPD Kabupaten/Kota

98

IV. PENILAIAN KELAYAKAN USULAN KEGIATAN MELALUI e-PROPOSAL

121

4.1.

Proses Penilaian e-proposal tingkat Provinsi

121

4.1.1. Kriteria Penilaian e-proposal tingkat Provinsi

125

4.1.2. Bobot Penilaian e-proposal tingkat Provinsi

127

4.1.3. Bagan Penilaian e-proposal tingkat Provinsi

131

4.2.

Proses Penilaian e-proposal tingkat Pusat

136

V. PENGORGANISASIAN e-PROPOSAL DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

151

VI. PENUTUP

153

LAMPIRAN

155

vi

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Tahapan Pengusulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

39

2. Standarisasi Skor Penilaian dari Masing-Masing Indikator Kriteria Penilaian Proposal

128

3. Matriks Standarisasi Penilaian Usulan Kegiatan Oleh Direktorat Jenderal Perkebunan

147

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

vii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Skematik Proses Perencanaan Berbasis Sistem Aplikasi e-proposal

42

2. Alur Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-proposal dari SKPD Provinsi

78

3. Alur Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-proposal dari SKPD Kabupaten/Kota

83

4. Mekanisme Verifikasi Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-proposal

122

viii

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Form Database Spesifik Kecamatan Perkebunan

155

2. Form Database Spesifik Kabupaten/Kota Sub Sektor Perkebunan

158

3. Form Database Umum Wilayah Provinsi

165

4. Informasi terkait Narasi e-proposal…

169

5. Data Pendukung Uploading E-Proposal

170

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

ix

x

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Reformasi perencanaan dan penganggaran kegiatan pembangunan perkebunan mencakup 3 (tiga) faktor utama yaitu tepat, akuntabel dan transparan. Tepat maksudnya, setiap kegiatan yang dilakukan memiliki kinerja yang terukur dan runut mulai dari indikator, program dan kegiatan yang dilakukan serta tepat dalam pembagian urusan pemerintah antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Kegiatan juga harus dilakukan realistis berdasarkan ketersediaan anggaran, potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Akuntabel ditentukan berdasarkan kejelasan dari sasaran yang akan dicapai dan penanggungjawabnya sedangkan transparan maksudnya kegiatan dapat diikuti dan dicermati oleh masyarakat. Perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja, berjangka menengah serta penganggaran terpadu merupakan perwujudan dari prinsip-prinsip pengelolaan keuangan publik yaitu kerangka kebijakan fiskal, alokasi pada prioritas dan efisiensi dalam pelaksanaan. Reformasi perencanaan dan penganggaran merupakan titik tolak mencapai good governance dalam rangka reformasi birokrasi.

Mengacu pada Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2010-2014, salah satu strategi khusus untuk mencapai sasaran pembangunan perkebunan melalui reformasi perencanaan dan penganggaran adalah strategi peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan. Strategi ini merupakan upaya untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan baik melalui penerapan teknologi budidaya yang baik (Good Agricultural Practices/GAP) maupun yang ditetapkan dari strategi pengembangan komoditas perkebunan melalui upaya-upaya memprioritaskan pengembangan komoditas unggulan nasional yang meliputi Karet, Kelapa, Kelapa Sawit, Kopi, Kakao, Teh, Jambu Mete, Cengkeh, Lada, Jarak Pagar, Tebu, Tembakau, Kapas, Nilam

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

1

dan Kemiri Sunan serta mendorong Pemerintah Daerah untuk memfasilitasi pengembangan komoditas spesifik dan potensial di wilayahnya. Kedepan untuk tahun 2015-2019, strategi Direktorat Jenderal Perkebunan diharapkan masih mengakomodir aspek peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan walaupun prioritas komoditinya akan mengalami perubahan dengan melihat kinerja pembangunan perkebunan selama periode 2010-2014 tetapi berdasarkan keragaan besarnya potensi dari komoditi sagu dan pala maka kedua komoditi tersebut akan menjadi prioritas pengembangan Direktorat Jenderal Perkebunan sebagai komoditi spesifik daerah.

Berdasarkan pengalaman pelaksanaan pembangunan perkebunan pada tahun-tahun sebelumnya, perencanaan pembangunan perkebunan yang diakomodir melalui proposal kegiatan masih banyak yang belum mengacu pada Rencana Strategis dan masih berupa daftar kebutuhan (shopping list) sehingga memerlukan pembenahan pada tingkat pendalaman maupun responsibilitas terhadap lingkungan strategis baik secara internal maupun eksternal. Hal ini penting diketahui agar produk perencanaan dapat akomodatif terhadap kebutuhan daerah dan aspirasi masyarakat. Selain itu, selama ini proposal kegiatan dari daerah dalam bentuk hardcopy/manual proposal, format dan isi beragam menjadikan seleksi pengajuan kegiatan tidak optimal, pengiriman yang tidak terjadwal, pemberkasan proposal menumpuk di pusat, isi proposal belum mencerminkan kebutuhan, sulit dianalisis, proposal belum dinilai secara kuantitatif dan transparan, persepsi bahwa proposal dijadikan alat untuk mendapat anggaran dan belum menjadi acuan dalam penyusunan anggaran secara kualitatif. Untuk mengatasi hal tersebut, perencanaan pembangunan perkebunan kedepan diperlukan suatu “sistem” untuk meningkatkan kualitas perencanaan, efisiensi dan efektivitas manajemen perencanaan. Amanat 9 langkah Reformasi Birokrasi salah satunya adalah mewajibkan K/L termasuk Kementerian Pertanian untuk membangun sistem elektronik pemerintah (e-government) yang mencakup e-office, e-procurement, e-planning, e-budgetting, e-performance dan e-audit. Tindak lanjut dari e-planning adalah di dalamnya memuat data dan informasi

2

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

terkait e-proposal, Musrenbang, Renja, RKA-KL, pedoman umum dan lain-lain. Pengembangan e-proposal inilah yang nantinya sebagai unjung tombak pelaksanaan kegiatan pembangunan perkebunan berdasarkan mekanisme bottom up planning.

Melalui sistem e-proposal, mekanisme pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan diharapkan mampu mengedepankan potensi kawasan dan kemampuan masyarakatnya. Hal ini dapat di implementasikan melalui pelaksanaan kegiatan pembangunan perkebunan dengan penetapan lokasi kawasan berbasis komoditas perkebunan sesuai amanat Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 50 tahun 2012 tentang pedoman pengembangan kawasan pertanian. Substansi penting dalam Permentan tersebut adalah perlunya setiap K/L terkait untuk mendukung pengembangan kawasan pertanian sesuai tupoksinya. Berkaitan dengan hal tersebut bahwa Direktorat Jenderal Perkebunan mempunyai semangat dan tujuan yang sama dalam mengembangkan kawasan pertanian kedepan khususnya pengembangan kawasan berbasis komoditi perkebunan sesuai potensi daerah. Dengan penerapan kawasan tersebut diharapkan pelaksanaan kegiatan pembangunan perkebunan akan berjalan efektif, efisien, terfokus, terpadu dan berkelanjutan serta daerah sebagai ujung tombak pelaksanaan pembangunan perkebunan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam meningkatkan daya saing komoditi perkebunan di pasar nasional dan internasional.

Penyusunan pedoman perencanaan pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal merupakan rencana penting didalam mengajukan usulan kegiatan yang bersumber dari dana APBN Direktorat Jenderal Perkebunan karena memiliki 3 alasan yaitu (1) pedoman ini merupakan representasi dari potensi, kemampuan dan kesiapan daerah terhadap rencana program dan kegiatan perkebunan yang akan dijalankan, (2) pedoman ini merupakan representasi dari asumsi daerah terhadap prospek peningkatan dan pengembangan pembangunan perkebunan, dan (3) pedoman ini merupakan tolok ukur dan panduan bagi daerah untuk melaksanakan kegiatan pembangunan

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

3

perkebunan. Dengan pertimbangan tersebut maka “Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal” diterbitkan sebagai satu kelengkapan materi dalam mengajukan rencana usulan kegiatan pembangunan perkebunan serta sebagai kelengkapan panduan bagi Pusat dan Daerah dalam rangka mendampingi dan mengarahkan kegiatan pembangunan perkebunan di daerah.

Pedoman perencanaan pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal pada dasarnya merupakan sarana/alat acuan dalam pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah baik Pusat maupun Daerah. Dengan terbitnya Buku Pedoman ini diharapkan SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan dapat menyusun dan mengajukan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui mekanisme aplikasi e-proposal yang sejalan dengan ketentuan dan kebijakan Direktorat Jenderal Perkebunan. Harapan lain adalah SKPD pengusul dapat mengajukan usulan kegiatan yang menjadi prioritas nasional serta sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan perkebunan di daerah sehingga akan tercapai peningkatan kualitas dan sinergitas perencanaan di tingkat Pusat dan Daerah untuk mencapai tujuan kegiatan pembangunan perkebunan dengan lebih baik. Secara teknis diharapkan dengan adanya e-proposal, pengusulan kegiatan akan lebih cepat, efektif dan efisien dalam pelayanannya dengan menekankan asas keterbukaan serta mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan pekebun.

1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud diterbitkannya pedoman perencanaan pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal adalah untuk mendorong, memfasilitasi, memberikan kesempatan dan pemahaman bagi SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan agar secara konsisten dan berkelanjutan mampu mengusulkan kegiatan pembangunan perkebunan sesuai potensi, kebutuhan, kemampuan dan kesiapan di Daerah.

4

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

 

Tujuan

diterbitkannya pedoman

perencanaan

pengajuan

usulan

kegiatan

pembangunan

perkebunan

melalui

e-proposal

adalah :

1. Memberikan acuan pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui sistem aplikasi e-proposal bagi SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan dalam menjalankan fungsi perencanaan kegiatan pembangunan perkebunan.

2. Meningkatkan kualitas perencanaan kegiatan pembangunan perkebunan di Pusat dan Daerah.

3. Meningkatkan koordinasi, keterpaduan dan sinergisme perencanaan kegiatan pembangunan perkebunan antara pemerintah Pusat dan pemerintah Daerah.

4. Meningkatkan efisiensi, efektivitas, tertib dan transparan serta tanggung jawab dalam penyusunan rencana kegiatan pembangunan perkebunan sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi kinerja pelaksanaan pembangunan perkebunan.

5. Memperkuat koordinasi perencanaan “satu pintu” di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.

6. Meningkatnya mutu penyajian proposal kegiatan pembangunan perkebunan sebagai sasaran utama dari penyusunan rencana program dan kegiatan pembangunan perkebunan.

7. Membangun dan mengembangkan database perencanaan terutama terkait potensi daerah dan pengembangan kawasan berbasis komoditi perkebunan.

1.3. Sasaran dan Ruang Lingkup

Sasaran diterbitkannya pedoman perencanaan pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal adalah :

1. Terwujudnya penyusunan proposal rencana kegiatan pembangunan perkebunan melalui mekanisme situs web/website yang mengacu pada program dan kegiatan

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

5

Direktorat Jenderal Perkebunan sebagai implementasi kebijakan dan strategi pembangunan perkebunan.

2. Terjabarkannya program pembangunan perkebunan di daerah ke dalam kegiatan-kegiatan operasional berdasarkan anggaran kinerja pembangunan perkebunan yang diusulkan daerah melalui mekanisme situs web/website.

3. Terlaksananya koordinasi dan keterpaduan dalam penyusunan rencana dan kegiatan pembangunan perkebunan baik antar pusat dan daerah maupun antar sub sektor.

4. Terlaksananya pengajuan usulan kegiatan melalui sistem e- proposal oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan sesuai dengan arah dan kebijakan Direktorat Jenderal Perkebunan.

Ruang lingkup pedoman perencanaan pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal antara lain meliputi program dan kegiatan pembangunan perkebunan, mekanisme pengajuan usulan kegiatan melalui e-proposal, penilaian kelayakan usulan kegiatan melalui e-proposal dan pengorganisasian e-proposal Direktorat Jenderal Perkebunan.

1.4.

Pengertian

Beberapa pengertian dari istilah-istilah yang terdapat pada pedoman perencanaan pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal yaitu :

1. E-planning adalah situs web (laman) yang dikembangkan Kementerian Pertanian dalam rangka mewujudkan amanat Reformasi Birokrasi. E-planning Kementerian Pertanian memuat berbagai informasi peraturan perundang-undangan terkait perencanaan dan penganggaran, pedoman, juklak/juknis, musrenbangtan, Renja dan RKAKL Kementerian Pertanian, perencanaan kawasan, aplikasi e-Proposal dan lainnya.

2. E-proposal adalah aplikasi untuk pengusulan dan penilaian proposal berbasis situs web (online) yang dikembangkan Kementerian Pertanian guna memudahkan mengelola data dan

6

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

informasi

transparan.

proposal

secara

efektif,

efisien,

akuntabel

dan

3. Satuan Kerja pada Instansi Pemerintah (Satker) adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu di bidang masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program.

4. Program/Outcome adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai tujuan dan sasaran kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran.

5. Kegiatan/Output adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya (manusia, material, dana, teknologi) sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa.

6. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun.

7. Rencana Strategis (Renstra) K/L adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program- program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu lima tahun.

8. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) adalah dokumen perencanaan yang merupakan pedoman tugas bagi pelaksanaan tugas kementerian dan merupakan penjabaran dari RKP dan rencana strategis kementerian yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

7

9. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat, yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember tahun berkenaan.

10. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) atau dokumen lain yang dipersamakan dengan DIPA adalah suatu dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja serta disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan kegiatan.

11. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tak terpisahkan dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun.

12. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau kepada Instansi Vertikal di wilayah tertentu.

13. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan.

14. Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah.

15. Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan.

16. DAK adalah alokasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara kepada provinsi/kabupaten/kota tertentu dengan

8

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

tujuan

untuk

mendanai

kegiatan

khusus

yang

merupakan

urusan

Pemerintahan

Daerah

dan

sesuai

dengan

prioritas

nasional.

17. DAK Bidang Pertanian adalah alokasi dari APBN kepada Provinsi/Kabupaten/Kota tertentu untuk mendanai kegiatan infrastruktur/ prasarana dasar bidang pertanian yang menjadi urusan Pemerintah Daerah dan sesuai dengan Prioritas Nasional.

18. SIKP adalah Sistem Informasi Perencanaan Kawasan Pertanian merupakan laman yang berisi informasi mengenai kawasan pertanian. SIKP memuat data existing kawasan yang memanfaatkan database yang dihimpun dari aplikasi e- proposal sampai pada level kecamatan.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

9

BAB II

PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN PERKEBUNAN

2.1. Komoditas Unggulan Nasional Perkebunan

Kondisi topografi di indonesia mempunyai strata topografi yang paling lengkap mulai dari dataran tinggi, menengah dan dataran tinggi. Di setiap daerah pada umumnya mempunyai komoditas unggulan yang mempunyai cita rasa khusus di bandingkan dengan komoditas serupa didaerah lainnya sehingga jika komoditas tersebut dikembangkan secara optimal akan mempunyai tingkat produksi dan nilai jual yang cukup tinggi bagi kesejahteraan petani. Dengan begitu strategi pembangunan pertanian ke depan dalam rangka mendukung revitalisasi pertanian ditekankan, diintensifkan dan difokuskan kepada kualitas komoditas unggulan tersebut baik pada penerapan teknologi produksi, teknologi pascapanen, efisiensi biaya produksi sampai dengan pemasaran. Pemberdayaan petani di pedesaan perlu juga dilakukan dengan fokus optimalisasi komoditas unggulan daerah bertujuan terwujudnya sektor pertanian nasional yang tangguh dan mampu bersaing dalam era pasar bebas.

Berkaitan dengan hal tersebut, perencanaan pembangunan perkebunan dengan pendekatan komoditas unggulan menekankan motor penggerak pembangunan suatu daerah pada komoditas- komoditas yang dinilai bisa menjadi unggulan baik di tingkat domestik maupun internasional. Penentuan komoditas unggulan merupakan langkah awal menuju pembangunan perkebunan yang berpijak pada konsep efisiensi untuk meraih keunggulan komparatif dan kompetitif dalam menghadapi globalisasi perdagangan. Ada beberapa kriteria mengenai penentuan komoditas unggulan nasional perkebunan, diantaranya :

1. Komoditas unggulan perkebunan harus mampu menjadi penggerak utama pembangunan perekonomian yaitu dapat

10

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

memberikan kontribusi yang signifikan baik pada peningkatan produksi, pendapatan maupun pengeluaran.

2. Komoditas unggulan perkebunan mempunyai keterkaitan ke depan dan ke belakang yang kuat baik sesama komoditas unggulan maupun komoditas-komoditas lainnya lingkup pertanian.

3. Komoditas unggulan perkebunan mampu bersaing dengan produk sejenis dari wilayah lain di pasar nasional maupun internasional baik dalam harga produk, biaya produksi, kualitas pelayanan maupun aspek-aspek lainnya.

4. Komoditas unggulan perkebunan di suatu daerah memiliki keterkaitan dengan daerah lain baik dalam hal pasar maupun pasokan bahan baku.

5. Komoditas unggulan perkebunan mampu menyerap tenaga kerja berkualitas secara optimal sesuai dengan skala produksinya.

6. Komoditas unggulan perkebunan bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, mulai dari fase kelahiran, inisiasi, pertumbuhan, puncak hingga penurunan.

7. Komoditas unggulan perkebunan tidak rentan terhadap gejolak eksternal dan internal.

8. Pengembangan komoditas unggulan perkebunan berorientasi pada kelestarian sumber daya alam dan lingkungan.

Selanjutnya untuk menjadikan suatu daerah dapat dijadikan sentra produksi komoditas unggulan baik dalam konstelasi Kabupaten/Kota, Provinsi, Nasional maupun Regional terdapat beberapa prasyarat diantaranya :

1)

Adanya

jaminan

atau

kepastian

pasar

dan

pemasaran

komoditas.

 

2)

Adanya sistem penjaminan mutu dari produksi komoditas yang dihasilkan, baik segar maupun olahan.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

11

3)

Ketepatan dalam pemilihan komoditas unggulan dan wilayah pengembangannya.

4)

Potensi sumber daya wilayah berupa lahan, agroklimat, tenaga kerja, sarana maupun prasarana sosial dan ekonomi serta kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat.

5)

Tingkat ketersediaan dan aplikasi IPTEKS yang mendukung pengembangan agribisnis dan agroindustri.

6) Skala ekonomi usaha tani/koperasi yang secara teknis, ekonomis dan lingkungan bersifat efisien serta mampu menjamin kontinuitas produksi, distribusi dan pemasaran komoditas.

7) Peran aktif petani/pengusaha kecil dan tingkat kemampuan untuk mengakses seluruh potensi sumberdaya (sumber daya alam, sumber daya manusia, teknologi, distribusi dan pemasaran, modal dan kelembagaan).

8) Orientasi untuk menciptakan usaha yang memiliki tingkat pemanfaatan sumberdaya secara optimal dengan tingkat keuntungan yang optimal pula dan lestari atau berkelanjutan.

9) Kelembagaan agribisnis spesifik komoditas dan lokasi yang kokoh dalam pengembangan teknologi, permodalan, pemasaran, penyuluhan, pelayanan dan peningkatan mutu serta penanganan lingkungan.

adil,

10) Kemitraan

yang

saling

membutuhkan,

tergantung,

menguntungkan dan meningkatkan daya saing.

11) Faktor pendukung untuk kemudahan dalam pelayanan teknologi, perizinan investasi, perpajakan, permodalan, sarana produksi, distribusi, insentif dan peningkatan mutu produk.

yang

12) Political

ditunjukkan dalam bentuk operasionalisasi seluruh gerakan pembangunan agribisnis yang didukung oleh seluruh sektor terkait dalam kondisi clean government dan good governance.

13) Koordinasi dan sinkronisasi yang harmonis antar instansi terkait dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program

will

dari

pemerintah

pusat

dan

daerah

12

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

pembangunan

agribisnis

komoditas

unggulan

secara

keseluruhan.

Komoditas unggulan perkebunan dapat juga ditinjau dari sisi penawaran dan permintaan. Dari sisi penawaran komoditas unggulan perkebunan dicirikan oleh superioritas dalam pertumbuhannya pada kondisi biofisik, teknologi dan kondisi sosial ekonomi petani di suatu wilayah. Sementara dari sisi permintaan, komoditas unggulan perkebunan dicirikan oleh kuatnya permintaan di pasar baik pasar domestik maupun internasional. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa komoditas unggulan perkebunan merupakan komoditas yang memiliki nilai strategis berdasarkan pertimbangan fisik (kondisi tanah dan iklim) maupun sosial ekonomi dan kelembagaan (penguasaan teknologi, kemampuan sumber daya manusia, infrastruktur dan kondisi sosial budaya) untuk dikembangkan di suatu wilayah dan di lahan perkebunan.

Berkaitan dengan aspek komoditas, komoditi perkebunan terdiri atas 127 jenis tanaman, berupa tanaman tahunan dan tanaman semusim dengan areal sebaran mulai dataran rendah sampai dataran tinggi, hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian nomor 511/Kpts/PD.310/9/2006 tentang jenis komoditi tanaman binaan Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura serta Keputusan Menteri Pertanian nomor 3399/Kpts/PD.310/ 10/2009 tentang perubahan lampiran I dari Keputusan Menteri Pertanian nomor 511/Kpts/PD.310/9/2006. Dari 127 komoditas binaan Direktorat Jenderal Perkebunan, prioritas penanganan untuk difasilitasi dan dikembangkan sesuai dengan arah dan kebijakan Direktorat Jenderal Perkebunan dalam Renstra Ditjen. Perkebunan periode 2010-2014 adalah difokuskan pada 15 komoditas strategis yang menjadi unggulan nasional yaitu Karet, Kelapa Sawit, Kelapa, Kakao, Kopi, Lada, Jambu Mete, Teh, Cengkeh, Jarak Pagar, Kemiri Sunan, Tebu, Kapas, Tembakau dan Nilam sedangkan Pemerintah Daerah didorong untuk memfasilitasi dan melakukan pembinaan komoditas spesifik dan potensial di wilayahnya masing-masing. Mengingat besarnya potensi daerah

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

13

untuk pengembangan komoditi Pala dan Sagu terutama di wilayah Indonesia Timur seperti Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara maka Direktorat Jenderal Perkebunan akan menjadikan kedua komoditi tersebut sebagai prioritas/fokus kebijakan pengembangan komoditi perkebunan untuk di fasilitasi kegiatan dan pendanaannya kedepan.

Untuk itu, dalam rangka pengembangan komoditas unggulan nasional perkebunan, Kementerian Pertanian secara intensif telah melakukan berbagai langkah strategis dengan mengidentifikasi dan mengembangkan potensi komoditas unggulan tersebut di berbagai daerah di Indonesia. Langkah strategis tersebut dapat diketahui dengan terbitnya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 50/Permentan/OT.140/8/ 2012 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian.

2.2.

Pengembangan

Perkebunan

Kawasan

Berbasis

Komoditi

Arahan dan kebijakan dari Permentan nomor 50 tahun 2012 terkait pengembangan komoditas pertanian dalam ruang lingkup kawasan antara lain :

1. Menteri Pertanian memfasilitasi kawasan pertanian bagi pengembangan 40 komoditas unggulan nasional di Kabupaten/Kota dengan mengembangkan potensi yang ada, melanjutkan dari kondisi saat ini, pengutuhan kegiatan, menyediakan sarana dan prasarana, kemudahan perijinan, pemanfaatan lahan, penyediaan data dan informasi, promosi, penganggaran, membangun keterpaduan secara multi-years sehingga menjadi satu kesatuan sistem pertanian industrial (Pasal 3 ayat 1).

2. Gubernur dan Bupati/Walikota mensinergikan kegiatan untuk mendukung pengembangan kawasan pertanian melalui dana APBD maupun sumber pembiayaan lainnya (Pasal 3 ayat 2).

3. Provinsi dan Kabupaten/Kota yang tidak termasuk dalam lokasi kawasan komoditas unggulan nasional dapat

14

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

mengalokasikan APBD dalam rangka mendukung pencapaian swasembada pangan (Pasal 3 ayat 3).

4. Kawasan pertanian dibedakan menjadi kawasan pertanian nasional, kawasan pertanian Provinsi dan kawasan pertanian Kabupaten/Kota (Pasal 4 ayat 1).

5. Kawasan pertanian nasional ditetapkan oleh Menteri, kawasan pertanian Provinsi ditetapkan oleh Gubernur, dan kawasan pertanian Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota (Pasal 4 ayat 2).

6. Pengembangan kawasan pertanian harus memperhatikan rencana tata ruang wilayah, menjamin kelestarian sumberdaya alam, fungsi lingkungan, keselamatan masyarakat dan selaras dengan Rencana Strategis Pembangunan Daerah (Pasal 5).

7. Dalam kawasan pertanian dapat dikembangkan komoditas lain dengan pola polikultur, tumpangsari, rotasi tanam, pola tanam dan/atau pola integrasi antar komoditas (Pasal 6).

8. Kementerian Pertanian melakukan kegiatan yang fokus dan terpadu untuk mendukung kawasan pertanian pada lokasi Kabupaten/Kota dimaksud sesuai dengan hasil identifikasi potensi dan kebutuhan pembangunan (Pasal 7).

9. Kementerian Pertanian mendorong Kementerian/ Lembaga (K/L) terkait untuk mendukung pengembangan kawasan pertanian sesuai dengan tupoksinya (Pasal 8).

10. Kementerian Pertanian bersama dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota mendorong minat investor (BUMN, BUMD, PMA, PMDN, koperasi dan lainnya) untuk mengembangkan kawasan pertanian (Pasal 9).

11. Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang antara lain meliputi aspek perbenihan, penyuluhan, penelitian, infrastruktur serta pengendalian organisme pengganggu tanaman dan penyakit hewan serta perkarantinaan harus tersedia di setiap wilayah NKRI (Pasal 10).

Pokok-pokok penting dari Permentan tersebut, salah satunya adalah mendorong setiap K/L terkait untuk mendukung

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

15

pengembangan kawasan pertanian sesuai tupoksinya (Pasal 8) dan Direktorat Jenderal Perkebunan memiliki semangat dan tujuan yang sama seperti yang diamanatkan di Permentan tersebut dalam mengembangkan kawasan pertanian yaitu melalui pengembangan kawasan berbasis komoditi perkebunan. Pengembangan kawasan berbasis komoditi perkebunan adalah salah satu pendekatan yang dilaksanakan dalam rangka menjaga kualitas pemanfaatan ruang untuk sub sektor perkebunan dengan cara mengoptimalkan sinergitas intra dan/atau antar wilayah yang memiliki kemiripan agro-ekosistem sehingga utuh secara ekonomis dan teknis.

Pengembangan kawasan berbasis komoditi perkebunan pada era otonomi daerah menjadi tanggung jawab sepenuhnya pemerintah daerah, yang dalam hal ini adalah di tingkat Kabupaten/Kota sebagai daerah otonom, dengan demikian daerah sebagai ujung tombak pembangunan nasional dituntut untuk dapat bersaing dalam meningkatkan daya saing wilayahnya agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, dengan mengacu pada tolok ukur kemajuan pembangunan wilayah yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pendapatan per kapita yang merata dan tingkat pengangguran yang rendah. Pemerintah pusat dalam hal ini hanya berfungsi sebagai pemangku kebijakan dan regulasi dalam mendukung pengembangan kawasan berbasis komoditi perkebunan, selain itu memiliki kewenangan dalam pengawasan dan evaluasi kegiatan pembangunan perkebunan berbasis kawasan yang dilaksanakan di daerah.

Secara garis besar, kriteria umum pengembangan kawasan berbasis komoditi perkebunan adalah :

1. Kawasan eksisting atau kawasan berpotensi dari masing- masing jenis budidaya tanaman perkebunan.

2. Jenis pengusahaannya : rakyat atau besar.

dengan skala terintegrasi dengan unit

3. Pengusahaan

pengolahannya.

4. Mitra dengan usaha perkebunan rakyat berkelanjutan.

5. Memiliki keterkaitan dengan pengolahan dan pemasaran hasil.

16

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

6.

Dapat ditingkatkan produksi dan produktivitasnya.

7. Pengembangan pengolahan skala wilayah.

8. Pengembangan

kebersamaan

ekonomi

pemberdayaan.

9. Arah

pengembangan

berkelanjutan.

menuju

prinsip

petani

melalui

pembangunan

10. Sejalan dengan Renstra Kementerian Pertanian dan Renstra Direktorat Jenderal Perkebunan.

11. Dukungan dari Pemerintah Daerah dan swadaya masyarakat.

Dalam pengembangan kawasan perkebunan, suatu daerah dapat dikatakan berhasil apabila memiliki beberapa kriteria keberhasilan pengembangan kawasan perkebunan yaitu :

1. Memiliki

menggerakkan

kegiatan

ekonomi

yang

dapat

pertumbuhan daerah.

2. Mempunyai sektor ekonomi unggulan yang mampu mendorong kegiatan ekonomi sektor lain dalam kawasan itu sendiri maupun di kawasan sekitarnya.

3. Memiliki keterkaitan kedepan (memiliki daerah pemasaran produk-produk yang dihasilkan) maupun ke belakang (mendapat suplai kebutuhan komponen produksinya dari daerah belakang) dengan beberapa daerah pendukung.

4. Memiliki kemampuan untuk memelihara sumber daya alam sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan mampu menciptakan kesejahteraan ekonomi secara adil dan merata bagi seluruh masyarakat.

Untuk mewujudkan pengembangan kawasan perkebunan yang berhasil maka diperlukan strategi yang optimal. Strategi pengembangan kawasan berbasis komoditi perkebunan adalah menempatkan komoditas perkebunan sebagai komoditas unggulan nasional melalui pengembangan industri perkebunan yang menghasilkan produk hulu hingga hilir serta pengembangan produk samping secara industrial. Strategi pengembangan kawasan

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

17

ini perlu didukung oleh kebijakan yang lebih operasional menyangkut aspek-aspek yang menjadi kriteria pengembangan kawasan diantaranya 1) kesesuaian sumber daya alam (agro- ekologi); 2) ketersediaan sarana dan prasarana penunjang (dukungan infrastruktur); 3) potensi dukungan layanan pengembangan (service); 4) kontribusi terhadap ekonomi wilayah (kontribusi ekonomi); 5) dukungan stakeholder (support); 6) penerimaan masyarakat (sosial budaya) dan 7) potensi keberlanjutan pengembangan kawasan (kelestarian). Dari ketujuh kriteria pengembangan kawasan tersebut akan menjadi dasar dalam penetapan kawasan berbasis komodiri perkebunan berdasarkan peringkat Kabupaten/Kota yang dihitung dengan menggunakan metode AHP (Analisis Hierarkhi Proses).

Rekomendasi teknis pengembangan kawasan yang menjadi arah dan kebijakan Direktorat Jenderal Perkebunan kedepan adalah memfasilitasi pengembangan komoditi unggulan perkebunan sesuai peringkat kawasan per Kabupaten/Kota melalui intervensi program/kegiatan dan penetapan regulasi yang akan menjadi dasar pengalokasian anggaran berjalan secara terpadu, terintegrasi dan berkelanjutan. Bagi pemerintah daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) melalui SKPD yang membidangi perkebunan diharapkan dapat mendukung penetapan peringkat kawasan berbasis komoditi perkebunan, salah satunya adalah dengan cara menetapkan CP/CL melalui kelompok tani penerima manfaat yang berkinerja baik dan lokasi pengembangan dengan potensi yang baik pula serta dengan menyusun rencana strategis daerah terkait pengembangan kawasan berbasis komoditi perkebunan. Hal lain bagi SKPD Provinsi sesuai amanat Permentan nomor 50 tahun 2012 adalah segera membuat Masterplan pengembangan kawasan pertanian/perkebunan dan SKPD Kabupaten/Kota menjabarkan masterplan tersebut kedalam rencana aksi untuk setiap tahun perencanaan.

2.3. Program Direktorat Jenderal Perkebunan

Pembangunan perkebunan saat ini dan dimasa yang akan datang menghadapi tantangan yang cukup berat. Selain tuntutan pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,

18

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

juga mampu memecahkan masalah kemiskinan dan pengangguran. Keberhasilan pembangunan perkebunan di era yang penuh persaingan ini adalah bagaimana kita dapat ”mensinergikan” seluruh potensi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan.

Berdasarkan hasil restrukturisasi program dan kegiatan sesuai surat edaran bersama Menteri Keuangan nomor SE- 1848/MK/2009 dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas nomor 0142/M.PPN/06/2009 tanggal 19 Juni 2009, setiap unit Eselon I mempunyai satu program yang mencerminkan nama Eselon I yang bersangkutan dan setiap unit Eselon II hanya mempunyai dan tanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan. Dengan demikian indikator kinerja unit Eselon I adalah outcome dan indikator kinerja unit Eselon II adalah output.

Sesuai hasil analisa terhadap potensi, permasalahan, peluang dan tantangan pembangunan perkebunan ditetapkan bahwa program pembangunan perkebunan tahun 2010-2014 yang menjadi tanggung jawab Direktorat Jenderal Perkebunan adalah:

Peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan”. Program ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan melalui rehabilitasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi yang didukung oleh peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman semusim, tanaman tahunan dan tanaman rempah penyegar yang didukung oleh penanganan pascapanen dan pembinaan usaha serta dukungan pelaksanaan perlindungan perkebunan. Untuk program pembangunan perkebunan tahun 2015-2019, Direktorat Jenderal Perkebunan masih dalam tahap menggali potensi dan kemampuan institusi terhadap pengembangan komoditi perkebunan kedepan dan disesuaikan dengan arah kebijakan RPJMN 2015-2019 serta melalui evaluasi terhadap kinerja pembangunan perkebunan selama periode 2010-2014.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

19

Arahan umum RPJMN 2015-2019 adalah pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas yang di implementasikan melalui 5 kebijakan teknis yaitu 1) peningkatan produksi pangan pokok; 2) stabilitas harga; 3) perbaikan kualitas gizi masyarakat; 4) pemberdayaan dan perlindungan petani/ nelayan/ pembudidaya ikan dan 5) peningkatan daya saing, nilai tambah komoditi pertanian dan perikanan. Berdasarkan hal tersebut maka secara garis besar Kementerian Pertanian memfokuskan pengembangan komoditas pertanian menjadi beberapa komoditi unggulan diantaranya :

1. Komoditi yang menjadi Prioritas Swasembada Pangan (padi, jagung, kedelai, tebu, daging sapi, cabai, bawang merah).

2. Komoditi yang menjadi Bahan Makanan Pokok Nasional (Beras, Jagung, Kedelai, Gula/Tebu, Daging Unggas, Daging Sapi-Kerbau).

3. Komoditi yang menjadi Bahan Makanan Pokok Lokal (Sagu, Jagung, Ubi kayu, Ubi jalar).

4. Komoditi yang menjadi Produk Pertanian Pengendali Inflasi (Cabai, Bawang Merah, Bawang Putih, CPO/Minyak Goreng).

5. Komoditi yang menjadi Bahan Baku Industri (CPO, Karet, Kakao, Kopi, Kelapa, Jambu Mete, Lada, Teh, Cengkeh, Pala, Kapas, Susu, Ubi kayu).

6. Komoditi yang menjadi Bahan Baku Industri lainnya (Nilam/Minyak Atsiri, Sorgum, Gandum, Tanaman Obat).

7. Komoditi yang menjadi Produk Industri Pertanian Prospektif (Aneka Tepung, Jamu, Sagu).

8. Komoditi yang menjadi Produk Energi Pertanian Prospektif (Biodiesel, Bioetanol, Biogas).

9. Komoditi yang menjadi Produk Pertanian Berorientasi Ekspor Prospektif (Nanas, Manggis, Salak, Mangga, Kambing dan Domba, Babi, Florikultura).

20

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

2.4.

Kegiatan Direktorat Jenderal Perkebunan

Sebagai penjabaran dari program, masing-masing unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan mempunyai satu kegiatan. Dengan demikian di lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan terdapat 9 kegiatan pembangunan perkebunan sesuai Peraturan Menteri Pertanian nomor 61/Permentan/T.140/10/ 2010 tanggal 14 Oktober 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian yaitu:

(1)

Peningkatan

Produksi,

Produktivitas

dan

Mutu

Tanaman

Semusim dengan

fokus

pengembangan

pada

4

komoditas

strategis yaitu Tebu, Kapas, Tembakau dan Nilam.

(2) Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Rempah dan Penyegar dengan fokus pengembangan pada 6 komoditas strategis yaitu Kakao, Kopi, Lada, Teh, Cengkeh dan Pala.

(3) Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Tahunan dengan fokus pengembangan pada 7 komoditas strategis yaitu Karet, Kelapa Sawit, Kelapa, Jambu Mete, Jarak Pagar, Kemiri Sunan dan Sagu.

(4) Dukungan Penanganan Pascapanen dan Pembinaan Usaha dengan fokus pengembangan pada kegiatan penanganan pascapanen (tanaman semusim, tanaman rempah penyegar dan tanaman tahunan), antisipasi dampak perubahan iklim, bimbingan usaha dan perkebunan berkelanjutan serta penanganan gangguan usaha dan konflik perkebunan.;

(5) Dukungan Perlindungan Perkebunan dengan fokus pengembangan pada kegiatan penurunan luas areal perkebunan yang terserang OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan).

(6) Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya dengan fokus pengembangan pada kegiatan pelayanan dan pembinaan yang berkualitas di bidang perencanaan, keuangan, umum dan evaluasi serta pelaporan.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

21

(7) Dukungan Pengujian, Pengawasan Mutu Benih dan Penerapan Teknologi Proteksi Tanaman Perkebunan BBP 2 TP Medan, Surabaya dan Ambon dengan fokus pengembangan pada kegiatan pelayanan sertifikasi benih (jumlah bibit yang disertifikasi) dan peningkatan jumlah teknologi terapan perlindungan perkebunan. Sedangkan untuk bidang Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak (BPTP Pontianak) difokuskan pada kegiatan pengembangan teknologi proteksi perkebunan.

2.5.

Jenis

Jenderal Perkebunan

Kegiatan

dan

Sub

Kegiatan

Direktorat

Berikut ini dapat dijelaskan mengenai jenis kegiatan dan sub kegiatan Direktorat Jenderal Perkebunan pada proses pengajuan usulan e-proposal baik pada kegiatan tugas pembantuan Kabupaten/Kota (SKPD Kabupaten/Kota), tugas pembantuan Provinsi (SKPD Provinsi) maupun kegiatan dekonsentrasi (Pusat, SKPD Provinsi dan UPT).

A. Kegiatan Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Rempah Penyegar

Pada kegiatan peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman rempah dan penyegar untuk e-proposal perencanaan kegiatan tahun 2015 difokuskan pada komoditi Kakao, Kopi, Teh, Lada, Cengkeh dan Pala. Daftar jenis kegiatan dan sub kegiatan pada pengembangan tanaman rempah dan penyegar antara lain :

1. Kegiatan pengembangan komoditi Kakao, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Rehabilitasi tanaman kakao (Hektar)

b. Intensifikasi tanaman kakao (Hektar)

c. Perluasan tanaman kakao (Hektar)

d. Peremajaan tanaman kakao (Hektar)

e. Integrasi tanaman kakao-ternak (kelompok tani/KT)

f. Pemberdayaan pekebun tanaman kakao (orang)

g. Pembangunan kebun sumber bahan tanam kakao (Hektar)

22

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

h. Penilaian, pemurnian, penetapan kebun sumber bahan tanam kakao (kegiatan)

i. Pemeliharaan kebun sumber bahan tanam kakao (Hektar)

j. Revitalisasi perkebunan kakao (bulan)

k. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman rempah dan penyegar (bulan)

2. Kegiatan pengembangan komoditi Kopi, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Rehabilitasi tanaman kopi (Hektar)

b. Intensifikasi tanaman kopi (Hektar)

c. Perluasan tanaman kopi (Hektar)

d. Peremajaan tanaman kopi (Hektar)

e. Integrasi tanaman kopi-ternak (kelompok tani/KT)

f. Pemberdayaan pekebun tanaman kopi (orang)

g. Pembangunan kebun sumber bahan tanam kopi (Hektar)

h. Penilaian, pemurnian, penetapan kebun sumber bahan tanam kopi (kegiatan)

i. Pemeliharaan kebun sumber bahan tanam kopi (Hektar)

j. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman rempah dan penyegar (bulan)

3. Kegiatan pengembangan komoditi Teh, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Rehabilitasi tanaman teh (Hektar)

b. Intensifikasi tanaman teh (Hektar)

c. Integrasi tanaman teh-ternak (kelompok tani/KT)

d. Pemberdayaan pekebun tanaman teh (orang)

e. Pembangunan kebun sumber bahan tanam teh (Hektar)

f. Penilaian, pemurnian, penetapan kebun sumber bahan tanam teh (kegiatan)

g. Pemeliharaan kebun sumber bahan tanam teh (Hektar)

h. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman rempah dan penyegar (bulan)

4. Kegiatan pengembangan komoditi Lada, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Rehabilitasi tanaman lada (Hektar)

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

23

b. Intensifikasi tanaman lada (Hektar)

c. Perluasan tanaman lada (Hektar)

d. Pemberdayaan pekebun tanaman lada (orang)

e. Pembangunan kebun sumber bahan tanam lada (Hektar)

f. Penilaian, pemurnian, penetapan kebun sumber bahan tanam lada (kegiatan)

g. Pemeliharaan kebun sumber bahan tanam lada (Hektar)

h. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman rempah dan penyegar (bulan)

sub

kegiatan sebagai berikut :

a. Rehabilitasi tanaman cengkeh (Hektar)

b. Intensifikasi tanaman cengkeh (Hektar)

c. Perluasan tanaman cengkeh (Hektar)

d. Pemberdayaan pekebun tanaman cengkeh (orang)

5. Kegiatan

pengembangan

komoditi

Cengkeh,

dengan

e. Pembangunan kebun sumber bahan tanam cengkeh (Hektar)

f. Penilaian, pemurnian, penetapan kebun sumber bahan tanam cengkeh (kegiatan)

g. Pemeliharaan kebun sumber bahan tanam cengkeh (Hektar)

h. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman rempah dan penyegar (bulan)

6. Kegiatan pengembangan komoditi Pala, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Rehabilitasi tanaman pala (Hektar)

b. Intensifikasi tanaman pala (Hektar)

c. Perluasan tanaman pala (Hektar)

d. Pemberdayaan pekebun tanaman pala (orang)

e. Pembangunan kebun sumber bahan tanam pala (Hektar)

f. Penilaian, pemurnian, penetapan kebun sumber bahan tanam pala (kegiatan)

g. Pemeliharaan kebun sumber bahan tanam pala (Hektar)

h. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman rempah dan penyegar (bulan)

24

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

7.

Kegiatan koordinasi kegiatan pengembangan tanaman rempah dan penyegar (Pusat/dekonsentrasi), dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a.

Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman rempah dan penyegar (12 bulan)

B. Kegiatan Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Semusim

Pada kegiatan peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman semusim untuk e-proposal perencanaan kegiatan tahun 2015 difokuskan pada komoditi Tebu, Kapas, Nilam dan Tembakau. Daftar jenis kegiatan dan sub kegiatan pada pengembangan tanaman semusim antara lain :

1. Kegiatan pengembangan komoditi Tebu, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Perluasan tebu rakyat (Hektar)

b. Bongkar ratoon (Hektar)

c. Rawat ratoon (Hektar)

d. Pembangunan kebun benih datar (Hektar)

e. Demplot pengembangan tebu (Hektar)

f. Operasional tenaga pendamping (TKP dan PLP-TKP) (orang)

g. Pemberdayaan pekebun dan penguatan kelembagaan tebu (orang)

h. Bantuan peralatan (unit)

i. Penataan varietas (paket)

j. Sensus database tebu sistem online (paket)

k. Integrasi tanaman tebu-ternak (kelompok tani/KT)

l. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman semusim (bulan)

2. Kegiatan pengembangan komoditi Kapas, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Penanaman kapas (Hektar)

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

25

b. Pemberdayaan pekebun dan penguatan kelembagaan kapas (orang)

c. Operasional tenaga pendamping (TKP dan PLP-TKP) (orang)

d. Pembangunan kebun induk penanaman kapas (Hektar)

e. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman semusim (bulan)

3.

Kegiatan pengembangan komoditi Nilam, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Penanaman nilam (Hektar)

b. Pemberdayaan pekebun dan penguatan kelembagaan nilam (orang)

c. Pembangunan kebun penangkar benih nilam (Hektar)

d. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman semusim (bulan)

4.

Kegiatan pengembangan komoditi Tembakau, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Penanaman tembakau (Hektar)

b. Pemberdayaan pekebun dan penguatan kelembagaan tembakau (orang)

c. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman semusim (bulan)

5.

Kegiatan koordinasi kegiatan pengembangan tanaman semusim (Pusat/dekonsentrasi), dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a.

Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman semusim (12 bulan)

C.

Kegiatan Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Tahunan

Pada kegiatan peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman tahunan untuk e-proposal perencanaan kegiatan tahun 2015 difokuskan pada komoditi Kelapa Sawit, Karet, Kelapa, Jambu Mete, Kemiri Sunan, Jarak Pagar dan Sagu. Daftar jenis

26

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

kegiatan dan sub kegiatan pada pengembangan tanaman tahunan antara lain:

1. Kegiatan pengembangan komoditi Kelapa Sawit, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Peremajaan tanaman kelapa sawit (Hektar)

b. Perluasan tanaman kelapa sawit (Hektar)

c. Intensifikasi tanaman kelapa sawit (Hektar)

d. Demplot peremajaan kelapa sawit (Hektar)

e. Pemberdayaan pekebun dan penguatan kelembagaan kelapa sawit (orang)

f. Pembangunan kebun sumber bahan tanam kelapa sawit (Hektar)

g. Pemeliharaan kebun sumber bahan tanam kelapa sawit (Hektar)

h. Penilaian, pemurnian dan penetapan kebun sumber bahan tanam kelapa sawit (kegiatan)

i. Integrasi tanaman kelapa sawit-ternak (kelompok tani/KT)

j. Revitalisasi perkebunan kelapa sawit (bulan)

k. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman tahunan (bulan)

2. Kegiatan pengembangan komoditi Karet, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Peremajaan tanaman karet (Hektar)

b. Perluasan tanaman karet di wilayah perbatasan, bencana alam dan pasca konflik (Hektar)

c. Pemberdayaan pekebun tanaman karet (orang)

d. Pembangunan kebun sumber bahan tanam karet (Hektar)

e. Pemeliharaan kebun sumber bahan tanam karet (Hektar)

f. Penilaian, pemurnian dan penetapan kebun sumber bahan tanam karet (kegiatan)

g. Revitalisasi perkebunan karet (bulan)

h. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman tahunan (bulan)

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

27

3. Kegiatan

sub

kegiatan sebagai berikut :

a. Peremajaan tanaman kelapa (Hektar)

b. Perluasan tanaman kelapa (Hektar)

c. Rehabilitasi tanaman kelapa (Hektar)

d. Demplot peremajaan tanaman kelapa (Hektar)

e. Pemberdayaan pekebun tanaman kelapa (orang)

f. Pembangunan kebun sumber bahan tanam kelapa (Hektar)

g. Pemeliharaan kebun sumber bahan tanam kelapa (Hektar)

h. Penilaian, pemurnian dan penetapan kebun sumber bahan tanam kelapa (kegiatan)

i. Integrasi tanaman kelapa-ternak (kelompok tani/KT)

pengembangan

komoditi

Kelapa,

dengan

j. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman tahunan (bulan)

4. Kegiatan pengembangan komoditi Jambu Mete, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Peremajaan tanaman jambu mete (Hektar)

b. Perluasan tanaman jambu mete (Hektar)

c. Rehabilitasi tanaman jambu mete (Hektar)

d. Intensifikasi tanaman jambu mete (Hektar)

e. Pemberdayaan pekebun tanaman jambu mete (orang)

f. Pembangunan kebun sumber bahan tanam jambu mete (Hektar)

g. Pemeliharaan kebun sumber bahan tanam jambu mete (Hektar)

h. Penilaian, pemurnian dan penetapan kebun sumber bahan tanam jambu mete (kegiatan)

i. Demplot tanaman jambu mete (Hektar)

j. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman tahunan (bulan)

5. Kegiatan pengembangan komoditi Kemiri Sunan, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Perluasan tanaman kemiri sunan (Hektar)

b. Pemberdayaan pekebun tanaman kemiri sunan (Orang)

28

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

c.

Koordinasi

kegiatan

pengembangan

tanaman

tahunan

(bulan)

6.

Kegiatan pengembangan komoditi Jarak Pagar, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Perluasan tanaman jarak pagar (Hektar)

b. Pengadaan kompor tanaman jarak pagar (unit)

c. Pemberdayaan pekebun tanaman jarak pagar (orang)

d. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman tahunan (bulan)

7.

Kegiatan pengembangan komoditi Sagu, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Perluasan tanaman sagu (Hektar)

b. Penataan tanaman sagu (Hektar)

c. Pemberdayaan pekebun tanaman sagu (orang)

d. Penilaian, pemurnian dan penetapan kebun sumber bahan tanam sagu (kegiatan)

e. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman tahunan (bulan)

8.

Kegiatan koordinasi kegiatan pengembangan tanaman tahunan (Pusat/dekonsentrasi), dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a.

Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman tahunan (12 bulan)

D.

Kegiatan Dukungan Pascapanen dan Pembinaan Usaha

Kegiatan dukungan pascapanen dan pembinaan usaha untuk e-proposal perencanaan kegiatan tahun 2015 difokuskan untuk mendukung semua komoditi unggulan perkebunan. Daftar jenis kegiatan dan sub kegiatan pada dukungan penanganan pascapanen dan pembinaan usaha antara lain:

1. Kegiatan penanganan pascapanen tanaman rempah penyegar, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

29

a. Penanganan pascapanen tanaman kakao (kelompok tani/KT)

b. Penanganan pascapanen tanaman kopi (kelompok tani/KT)

c. Penanganan pascapanen tanaman teh (kelompok tani/KT)

d. Penanganan pascapanen tanaman lada (kelompok tani/KT)

e. Penanganan pascapanen tanaman cengkeh (kelompok tani/KT)

f. Penanganan pascapanen tanaman pala (kelompok tani/KT)

2. Kegiatan penanganan pascapanen tanaman semusim, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Penanganan pascapanen tanaman tebu (kelompok tani/KT)

b. Penanganan pascapanen tanaman kapas (kelompok tani/KT)

c. Penanganan pascapanen tanaman nilam (kelompok tani/KT)

d. Penanganan pascapanen tanaman tembakau (kelompok tani/KT)

3. Kegiatan penanganan pascapanen tanaman tahunan, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Penanganan pascapanen tanaman kelapa sawit (kelompok tani/KT)

b. Penanganan pascapanen tanaman karet (kelompok tani/KT)

c. Penanganan pascapanen tanaman kelapa (kelompok tani/KT)

d. Penanganan pascapanen tanaman jambu mete (kelompok tani/KT)

e. Penanganan pascapanen tanaman kemiri sunan (kelompok tani/KT)

f. Penanganan pascapanen tanaman jarak pagar (kelompok tani/KT)

g. Penanganan pascapanen tanaman sagu (kelompok tani/KT)

4. Kegiatan dukungan penanganan pascapanen dan pembinaan usaha perkebunan, dengan sub kegiatan sebagai berikut (khusus untuk usulan kegiatan di TP Provinsi) :

30

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

a. Inventarisasi dan identifikasi serta penanganan kasus gangguan usaha perkebunan (Kabupaten)

b. Inventarisasi dan identifikasi serta penanganan kasus konflik usaha perkebunan (Kabupaten)

c. Pertemuan koordinasi penanganan gangguan usaha dan konflik perkebunan (Kabupaten)

d. Pemantauan, pengawasan dan penyelesaian masalah PIR TRANS/KKPA (Kabupaten)

e. Pemantauan, pengawasan dan penyelesaian masalah PIRBUN (Kabupaten)

f. Pembinaan usaha perkebunan berkelanjutan (Kabupaten)

g. Penilaian usaha perkebunan (Kabupaten)

h. Penerapan standar perkebunan besar berkelanjutan (Kabupaten)

i. Penerapan standar perkebunan berkelanjutan pola plasma dan swadaya (Kabupaten)

j. Koordinasi kegiatan penanganan pascapanen dan pembinaan usaha di pusat/dekonsentrasi (bulan)

E. Kegiatan Dukungan Perlindungan Perkebunan

Kegiatan dukungan perlindungan perkebunan untuk e- proposal perencanaan kegiatan tahun 2015 difokuskan untuk mendukung semua komoditi unggulan perkebunan. Daftar jenis kegiatan dan sub kegiatan pada dukungan perlindungan perkebunan antara lain:

1. Kegiatan penanganan organisme pengganggu tanaman (OPT) tanaman rempah dan penyegar, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Pengendalian OPT tanaman kakao (Hektar)

b. Pengendalian OPT tanaman kopi (Hektar)

c. Pengendalian OPT tanaman teh (Hektar)

d. Pengendalian OPT tanaman lada (Hektar)

e. Pengendalian OPT tanaman cengkeh (Hektar)

f. Pengendalian OPT tanaman pala (Hektar)

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

31

2.

Kegiatan penanganan organisme pengganggu tanaman (OPT) tanaman semusim, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Pengendalian OPT tanaman tebu (Hektar)

b. Pengendalian OPT tanaman kapas (Hektar)

c. Pengendalian OPT tanaman nilam (Hektar)

d. Pengendalian OPT tanaman tembakau (Hektar)

3. Kegiatan penanganan organisme pengganggu tanaman (OPT) tanaman tahunan, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Pengendalian OPT tanaman kelapa sawit (Hektar)

b. Pengendalian OPT tanaman karet (Hektar)

c. Pengendalian OPT tanaman kelapa (Hektar)

d. Pengendalian OPT tanaman jambu mete (Hektar)

e. Pengendalian OPT tanaman kemiri sunan (Hektar)

f. Pengendalian OPT tanaman jarak pagar (Hektar)

g. Pengendalian OPT tanaman sagu (Hektar)

sub

kegiatan sebagai berikut :

a. Operasional laboratorium lapangan/LL (Unit)-termasuk kegiatan dekonsentrasi yang hanya di usulkan oleh SKPD Provinsi

b. Operasional laboratorium utama pengendalian hayati/LUPH (Unit)-termasuk kegiatan dekonsentrasi yang hanya diusulkan oleh SKPD Provinsi

c. Operasional sub laboratorium hayati (Unit)-termasuk kegiatan dekonsentrasi yang hanya diusulkan oleh SKPD Provinsi

d. Sekolah lapang pengendalian hama terpadu/SLPHT tanaman perkebunan (kelompok tani/KT)-dapat diusulkan oleh SKPD Kabupaten/Kota

e. Antisipasi dampak perubahan iklim (Kegiatan)-termasuk kegiatan TP Provinsi yang hanya diusulkan oleh SKPD Provinsi

f. Koordinasi kegiatan perlindungan perkebunan di pusat/ dekonsentrasi (bulan)

4. Kegiatan

dukungan

perlindungan

perkebunan,

dengan

32

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

F.

Kegiatan

Lainnya (Pusat)

Dukungan

Manajemen

dan

Dukungan

Teknis

Kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya (pusat) untuk e-proposal perencanaan kegiatan tahun 2015 merupakan kegiatan dukungan secara administratif Ditjen. Perkebunan yang termasuk kedalam kegiatan dekonsentrasi. Daftar jenis kegiatan dan sub kegiatan pada dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya antara lain:

1. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman rempah dan penyegar (pusat), dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Koordinasi, pembinaan dan monev pengembangan tanaman rempah dan penyegar (dokumen)

b. Layanan perkantoran rempah dan penyegar (dokumen)

2. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman semusim (pusat), dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Koordinasi, pembinaan dan monev pengembangan tanaman semusim (dokumen)

b. Layanan perkantoran semusim (dokumen)

3. Koordinasi kegiatan pengembangan tanaman tahunan (pusat), dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Koordinasi, pembinaan dan monev pengembangan tanaman tahunan (dokumen)

b. Layanan perkantoran tahunan (dokumen)

4. Koordinasi kegiatan dukungan pascapanen dan pembinaan usaha (pusat), dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Koordinasi, pembinaan dan monev kegiatan dukungan pascapanen dan pembinaan usaha (dokumen)

b. Layanan perkantoran pascapanen dan pembinaan usaha (dokumen)

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

33

5.

Koordinasi kegiatan dukungan perlindungan perkebunan (pusat), dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Koordinasi, pembinaan dan monev kegiatan dukungan perlindungan perkebunan (dokumen)

b. Layanan perkantoran perlindungan perkebunan (dokumen)

6.

Koordinasi kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya Ditjen. Perkebunan (pusat/sekretariat), dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Dokumen perencanaan (dokumen)

b. Dokumen keuangan dan perlengkapan (dokumen)

c. Dokumen kepegawaian, hukum dan humas (dokumen)

d. Dokumen evaluasi dan pelaporan (dokumen)

e. Layanan perkantoran sekretariat (dokumen)

7.

Kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya (dekonsentrasi) hanya di khususkan bagi SKPD Provinsi, dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Administrasi kegiatan dana dekonsentrasi/DK (bulan)

b. Administrasi kegiatan dana tugas pembantuan/TP (bulan)

c. Perencanaan (bulan)

d. Pengelolaan keuangan dan aset (bulan)

e. Data informasi dan statistik (bulan)

f. Insentif mantri statistik perkebunan (bulan)

g. Monitoring dan evaluasi (bulan)

h. Insentif pengawas benih tanaman (bulan)

i. Operasional PPNS (bulan)

j. Dukungan kegiatan manajemen dan teknis lainnya (bulan)

G.

Kegiatan Dukungan Pengujian, Pengawasan Mutu Benih dan Penerapan Teknologi Proteksi Tanaman Perkebunan

Kegiatan dukungan Pengujian, Pengawasan Mutu Benih dan Penerapan Teknologi Proteksi Tanaman Perkebunan untuk e- proposal perencanaan kegiatan tahun 2015 merupakan kegiatan dukungan secara administratif dari UPT pusat lingkup Ditjen. Perkebunan yang termasuk kedalam kegiatan dekonsentrasi yang meliputi bidang sertifikasi benih dan teknologi penerapan proteksi

34

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

tanaman perkebunan. Daftar jenis kegiatan dan sub kegiatan pada dukungan Pengujian, Pengawasan Mutu Benih dan Penerapan Teknologi Proteksi Tanaman Perkebunan antara lain:

1. Dukungan Pengujian, Pengawasan Mutu Benih dan Penerapan Teknologi Proteksi Tanaman Perkebunan (UPT pusat), dengan sub kegiatan sebagai berikut :

a. Layanan perkantoran UPT (dokumen)

b. Perangkat pengolah data dan komunikasi (unit)

c. Peralatan dan fasilitas perkantoran (unit)

d. Gedung dan bangunan (unit)

e. Operasional laboratorium (bulan)

f. Pembangunan kebun contoh, demplot, uji koleksi, dll (Hektar)

g. Pengawasan peredaran benih (dokumen)

h. Rakitan teknologi spesifikasi proteksi tanaman perkebunan (paket)

i. Pemanfaatan agensia hayati (jenis)

j. Sertifikasi dan pengujian mutu benih (batang)

k. Administrasi keuangan dan kepegawaian (bulan)

l. Penyusunan rencana kegiatan (laporan)

m. Peningkatan kapabilitas pegawai/petugas (orang)

n. Monitoring dan evaluasi (laporan)

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

35

BAB III

MEKANISME PENGAJUAN USULAN KEGIATAN MELALUI E-PROPOSAL

3.1. Prosedur dan Jadwal Pengusulan Kegiatan

Berikut ini adalah prosedur pengusulan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal dari daerah (need assessment) yang terlebih dahulu melalui mekanisme MUSRENBANG sebagai berikut :

1. Rancangan usulan kegiatan pembangunan perkebunan dimulai dari penjaringan aspirasi di lapangan (need assessment). Di tingkat lapangan, petani melalui kelompok tani di kecamatan/desa melakukan perencanaan partisipatif dalam rangka menyusun rencana program dan anggaran kinerja pembangunan perkebunan. Usulan dari kelompok tani tersebut memuat kebutuhan petani dalam pengembangan kegiatan pembangunan perkebunan dan merupakan aspirasi terpadu yang didasari oleh kondisi nyata di lapangan sesuai potensi daerah.

2. Rumusan rancangan kebutuhan kegiatan dan anggaran dari kelompok tani didaerah yang dihasilkan dari mekanisme need assessment akan dibahas pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan tingkat Desa, Kelurahan hingga tingkat Kecamatan sebelum diusulkan ke SKPD Kabupaten/Kota. Hasil Musrenbang tersebut selanjutnya di usulkan ke SKPD yang membidangi perkebunan di Kabupaten/Kota agar dibahas pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Perkebunan tingkat Kabupaten/Kota.

3. Pelaksanaan Musrenbangbun tingkat Kabupaten/Kota dilaksanakan dengan menjaring beberapa usulan kegiatan kelompok tani/pekebun dari tingkat Kecamatan. Hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan Perkebunan tingkat Kabupaten/Kota diusulkan oleh SKPD yang membidangi perkebunan di Kabupaten/Kota dengan meng-input melalui

36

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

sistem aplikasi e-proposal. Hasil input beberapa usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal selanjutnya di sampaikan kepada SKPD yang membidangi perkebunan di tingkat Provinsi.

4. Pemerintah Provinsi melalui SKPD yang membidangi perkebunan melakukan kompilasi semua usulan kegiatan SKPD Kabupaten/Kota yang disampaikan melalui e-proposal setelah melalui mekanisme Musrenbangbun tingkat Kabupaten/Kota. Hasil kompilasi tersebut dilakukan penilaian untuk menentukan apakah usulan kegiatan tersebut layak untuk diterima dengan penilaian yang baik atau tidak. Usulan kegiatan yang dinilai layak akan dibahas kembali melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Perkebunan tingkat Provinsi. Hasil keputusan usulan kegiatan melalui e-proposal dari Musrenbangbun tingkat Provinsi selanjutnya akan menentukan pengajuan atau tidaknya kepada Direktorat Jenderal Perkebunan dengan mempertimbangkan kebijakan pimpinan daerah.

5. Selanjutnya, Direktorat Jenderal Perkebunan melakukan penilaian terhadap semua usulan kegiatan melalui e-proposal dari SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota setelah dilakukan verifikasi penilaian tingkat provinsi. Usulan kegiatan dengan penilaian yang baik dan dinyatakan layak maka akan di rekapitulasi/di rangkum sebagai bahan pembahasan lanjutan melalui Musrenbangtan/nas yang akan menentukan pengalokasian anggaran sesuai keputusan/kebijakan pimpinan.

Menyesuaikan dengan jadwal agenda penyusunan RKP (Rencana Kerja Pemerintah), RKA-KL (Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga), DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) untuk Kementerian Pertanian, maka jadwal pemrosesan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal adalah sebagai berikut:

1. Bulan Januari-Februari yaitu sosialisasi sistem aplikasi e- proposal dan penyebarluasan Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan melalui

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

37

e-proposal. Pada bulan ini juga direncanakan kegiatan penyerahan POK (Petunjuk Operasional Kegiatan) dan sosialisasi pedoman pelaksanaan/teknis kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan.

2. Bulan Februari-Maret yaitu usulan kegiatan yang dibahas pada forum Musrenbangbun tingkat Kabupaten/Kota telah mendapat persetujuan dari pimpinan daerah (Bupati/Walikota) melalui SKPD yang membidangi Perkebunan lingkup Kabupaten/Kota untuk segera di-input melalui sistem aplikasi e-proposal. Selanjutnya disampaikan kepada SKPD Provinsi yang membidangi perkebunan untuk dilakukan proses verifikasi melalui penilaian kelayakan yang hasilnya akan dibahas dalam forum Musrenbangbun (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Perkebunan) tingkat Provinsi hingga pada akhirnya dapat diajukan/ disampaikan ke Direktorat Jenderal Perkebunan.

3. Bulan Maret yaitu rekapitulasi usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal dari SKPD Provinsi yang sudah dilakukan penilaian kelayakannya dan dilakukan pembahasan pada forum Musrenbangbun tingkat Provinsi, harus sudah diterima di Direktorat Jenderal Perkebunan. Dokumen ini selanjutnya akan dievaluasi dan dijadikan bahan pembahasan untuk penetapan alokasi kegiatan dan anggaran pembangunan perkebunan untuk disampaikan kepada Direktur Jenderal Perkebunan sebagai bahan MUSRENBANG tingkat nasional di Bappenas dan MUSRENBANGTAN yang akan dilaksanakan pada bulan April.

4. Bulan April-Mei yaitu Kegiatan Musrenbangtan dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian setiap tahunnya pada awal atau pertengahan bulan April dengan memperhatian waktu, tema dan agenda Musrenbangnas yang diselenggarakan oleh Bappenas pada akhir bulan April setiap tahunnya. Sebelum Musrenbangnas didahului pelaksanaan pra musrenbangnas. Pada awal bulan Mei tindaklanjut Musrenbangnas adalah pelaksanaan pasca Musrenbangnas hingga penyempurnaan/

38

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

finalisasi Rencana Kerja Pemerintah (RKP) menjadi Rancangan Akhir RKP dengan diterbitkannya Perpres penetapan RKP.

5. Batas waktu penyampaian usulan kegiatan melalui e-proposal bagi SKPD Kabupaten/Kota diharapkan dapat diajukan ke SKPD Provinsi paling lambat tanggal 30 Maret setiap tahunnya. Sedangkan SKPD Provinsi melakukan proses penilaian dan mengajukan ke Pusat paling lambat tanggal 31 Maret setiap tahunnya. Namun batas waktu tersebut dapat diperpanjang sampai dengan Oktober setiap tahunnya untuk mengakomodir usulan-usulan yang berkembang pada proses perencanaan (sifatnya non regular).

6. Dokumen lembar pengesahan usulan kegiatan pembangunan perkebunan disampaikan kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan melalui fax atau pos surat.

Berikut ini adalah Tabel yang menunjukkan tahapan pengusulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui mekanisme e-proposal.

Tabel 1. Tahapan pengusulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal

Bulan Uraian Kegiatan Jan Feb Mar Apr Mei Jun-Nov
Bulan
Uraian Kegiatan
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun-Nov

Identifikasi kegiatan (need assessment) dari kelompok tani (KT) yang akan diusulkan di tingkat Kabupaten/Kota (sekaligus penetapan CP/CL)

di tingkat Kabupaten/Kota (sekaligus penetapan CP/CL) Sosialisasi aplikasi e- proposal dan penyampaian pedoman

Sosialisasi aplikasi e- proposal dan penyampaian pedoman perencanaan pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal oleh petugas pusat (Biro Perencanaan dan Ditjenbun)

oleh petugas pusat (Biro Perencanaan dan Ditjenbun) Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

39

Lanjutan Tabel 1 :

Bulan Uraian Kegiatan Jan Feb Mar Apr Mei Jun-Nov
Bulan
Uraian Kegiatan
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun-Nov

Usulan kegiatan dibahas pada forum Musrenbangbun tingkat Kabupaten/Kota dan telah mendapat persetujuan dari pimpinan daerah (Bupati/Walikota) melalui SKPD yang membidangi Perkebunan lingkup Kabupaten/Kota

SKPD yang membidangi Perkebunan lingkup Kabupaten/Kota Input usulan kegiatan melalui sistem aplikasi e- proposal

Input usulan kegiatan melalui sistem aplikasi e- proposal oleh SKPD yang membidangi Perkebunan Kabupaten/Kota (hasil Musrenbangbun Kab/Kota) sekaligus penyampaian ke SKPD yang membidangi perkebunan Provinsi

Semua usulan kegiatan SKPD Kabupaten/Kota akan di nilai kelayakannya/ di verifikasi yang selanjutnya dibahas melalui mekanisme Musrenbangbun tingkat Provinsi untuk menentukan usulan kegiatan yang dapat di ajukan ke Pusat

Penyampaian e-proposal oleh SKPD yang membidangi Perkebunan Provinsi ke Pusat/ Direktorat Jenderal Perkebunan

40

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

Lanjutan Tabel 1 :

Bulan Uraian Kegiatan Jan Feb Mar Apr Mei Jun-Nov
Bulan
Uraian Kegiatan
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun-Nov

E-proposal harus diterima oleh Ditjen. Perkebunan untuk selanjutnya di lakukan tela’ah melalui proses penilaian sebagai bahan pembahasan pada forum Musrenbangtan/nas

Pelaksanaan Musrenbangtan/nas (Proses Validasi Usulan Kegiatan) yang akan disetujui melalui mekanisme penganggaran

Usulan kegiatan melalui E- Proposal yang telah disetujui anggarannya akan di proses dalam RENJA & RKAKL Ditjen. Perkebunan

akan di proses dalam RENJA & RKAKL Ditjen. Perkebunan Sistem aplikasi e-proposal merupakan proses perencanaan yang

Sistem aplikasi e-proposal merupakan proses perencanaan yang berbasis situs web dalam mengajukan usulan kegiatan pembangunan perkebunan di tahun berikutnya. Untuk lebih memahami proses perencanaan yang berbasis situs web maka dapat dijelaskan pada Gambar 1 yang menunjukkan skematik proses perencanaan berbasis sistem aplikasi e-proposal.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

41

Gambar 1. Skematik Proses Perencanaan berbasis Sistem Aplikasi e- proposal 3.2. Persyaratan Pengusul Kegiatan Melalui

Gambar 1. Skematik Proses Perencanaan berbasis Sistem Aplikasi e- proposal

3.2. Persyaratan Pengusul Kegiatan Melalui e-Proposal

pembangunan

perkebunan melalui sistem aplikasi e-proposal antara lain :

1. Yang mengajukan usulan kegiatan pembangunan perkebunan adalah SKPD Kabupaten/Kota dan SKPD Provinsi. Pengusulan kegiatan oleh SKPD Kabupaten/Kota di dapat dari hasil mekanisme need assessment yang dilaksanakan oleh kelompok tani (KT) melalui proses CP/CL yaitu dengan mengidentifikasi calon petani, calon lokasi pengembangan, kebutuhan kegiatan dan anggaran, kemampuan petani dan potensi daerah.

2. Kelompok tani/gapoktan sebagai penerima manfaat harus terdaftar di Bakorluh/Bapeluh setempat dengan menunjukkan/menyampaikan nomor register penetapan kelompok tani/gapoktan atau nomor SK pengukuhan kelompok tani/gapoktan.

Beberapa

persyaratan

pengusul

kegiatan

42

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

3.

Mengajukan usulan kegiatan menggunakan user name dan password yang sudah diberikan untuk log in kedalam aplikasi e-proposal.

4. Mengusulkan kegiatan yang bersumber pada dana tugas pembantuan (TP Kabupaten) bagi SKPD Kabupaten/Kota dan kegiatan yang bersumber pada dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan (TP Provinsi) bagi SKPD Provinsi.

5. Mempersiapkan data dan informasi secara lengkap terkait pengisian database umum, database spesifik Kabupaten/Kota dan database spesifik Kecamatan serta data informasi lain terkait pengusulan kegiatan/anggaran, informasi profil SKPD, dukungan APBD, narasi e-proposal dan penerima manfaat. Pengisian data statistik berasal dari BPS atau sumber resmi lain berdasarkan angka tetap.

6. Mengajukan usulan kegiatan dalam mendukung pengembangan kawasan berbasis komoditas perkebunan yaitu sesuai dengan penetapan peringkat Kabupaten/Kota untuk masing-masing komoditi unggulan perkebunan.

7. Memperhatikan komoditi unggulan yang menjadi prioritas/fokus program pengembangan komoditi di Kementerian Pertanian dan Ditjen. Perkebunan antara lain komoditi yang mendukung ketahanan pangan, pengembangan ekspor/substitusi impor, bioindustry/ bioenergy dan komoditi prioritas lainnya.

8. Mengusulkan maksimal 3 (tiga) komoditi unggulan perkebunan di daerahnya per sub sektor untuk setiap SKPD Kabupaten/Kota.

9. SKPD Kabupaten/Kota sebagai pengusul kegiatan harus berkinerja baik dalam pelaksanaan kegiatan ditahun-tahun sebelumnya dengan menunjukkan beberapa data/informasi yang mendukung keberhasilan kegiatan pembangunan perkebunan di tahun sebelumnya seperti capaian fisik dan serapan anggaran (untuk satker mandiri).

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

43

10. Adanya alokasi anggaran APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota dalam mendukung kegiatan yang diusulkan karena hal ini menunjukkan keseriusan SKPD pengusul kegiatan dalam mengembangkan komoditi unggulan didaerahnya dan juga menentukan penilaian e-proposal.

11. Mempersiapkan dokumen pendukung terkait penerima manfaat kegiatan untuk di upload kedalam aplikasi e-proposal seperti RAB kegiatan, peta kawasan, kinerja pembangunan perkebunan sebelumnya, potensi pengembangan, Perda RTRW, nomor registrasi keputusan penetapan kelompok tani/nomor SK pengukuhan dll.

12. Nomenklatur SKPD menyertakan nama “perkebunan” akan menjadi prioritas pengalokasian kegiatan dan anggaran Ditjen.

Perkebunan.

13. Memperhatikan beberapa kegiatan yang dibatasi oleh pendanaan APBN antara lain :

a. Penyelenggaraan rapat, rapat dinas, seminar, pertemuan, lokakarya, peresmian kantor/proyek dan sejenisnya dibatasi pada hal-hal yang sangat penting dan dilakukan sesederhana mungkin.

b. Pemasangan telepon baru kecuali untuk satker (satuan kerja) yang belum ada.

c. Pembangunan gedung baru yang sifatnya tidak langsung menunjang untuk pelaksanaan tupoksi/tugas pokok dan fungsi (antara lain mess, wisma, rumah dinas/rumah jabatan dan gedung pertemuan) kecuali untuk gedung yang bersifat pelayanan umum dan gedung/bangunan khusus (laboratorium dan gudang) dan hanya dapat dialokasikan melalui kegiatan DAK bidang pertanian.

d. Pengadaan kendaraan bermotor, kecuali 1) kendaraan fungsional (seperti ambulance untuk rumah sakit, kendaraan roda 2 untuk petugas lapangan; 2) pengadaan kendaraan bermotor untuk satker baru yang sudah ada ketetapan Kemeneg-PAN dan RB (Kementerian Negara

44

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

14.

Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) dilakukan secara bertahap sesuai dana yang tersedia; 3) penggantian kendaraan operasional yang benar-benar rusak berat sehingga secara teknis tidak dapat dimanfaatkan lagi; 4) penggantian kendaraan yang rusak berat yang secara ekonomis memerlukan biaya pemeliharaan yang besar untuk selanjutnya harus dihapuskan dari daftar inventaris dan tidak diperbolehkan dialokasikan biaya pemeliharaannya (didukung oleh berita acara penghapusan); 5) kendaraan roda 4 dan atau roda 6 untuk keperluan antar jemput pegawai dapat dialokasikan secara sangat selektif. Kesemuanya pengadaan kendaraan bermotor tersebut hanya dapat dipenuhi dalam pengalokasian kegiatan DAK bidang pertanian.

oleh

pendanaan APBN antara lain :

a. Perayaan atau peringatan hari besar, hari raya dan hari ulang tahun Kementerian/Lembaga.

b. Pemberian ucapan selamat, hadiah/tanda mata, karangan bunga dan sebagainya untuk berbagai peristiwa.

c. Pesta untuk berbagai peristiwa dan pekan olah raga pada Kementerian/Lembaga kecuali Kementerian Negara/Lembaga yang mengemban fungsi-fungsi tersebut.

d. Pengeluaran lain untuk kegiatan dan keperluan sejenis dengan tersebut diatas.

Memperhatikan

beberapa

kegiatan

yang

dilarang

e. Kegiatan yang memerlukan dasar hukum berupa PP/Perpres namun pada saat penelaahan RKA-KL belum ditetapkan dengan PP/Perpres.

3.3. Gambaran Umum Sistem Aplikasi e-proposal

Perencanaan pembangunan merupakan suatu proses penyiapan seperangkat keputusan untuk dilaksanakan pada waktu yang akan datang dan diarahkan pada sasaran tertentu. Unsur

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

45

perencanaan pembangunan diantaranya berhubungan dengan masa depan, mendesain seperangkat kegiatan dan alokasi sumberdaya secara sistematis serta dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Arsyad, Lincoln, 1999 dan Kunarjo, 1992, dalam Munir (2002) bahwa perencanaan di kelompokkan menjadi beberapa macam diantaranya :

dan

1. Jangka

waktu

(panjang/25tahun,

menengah/5

tahun

pendek/tahunan).

2. Sifat perencanaan (Komando dan Rangsangan).

3. Alokasi sumber daya (Keuangan dan Fisik).

4. Tingkat keluwesan (Indikatif dan Imperatif).

5. Sistem ekonomi (Kapitalis, Sosialis dan Campuran).

6. Arus informasi (top-down, bottom-up, kombinasi).

7. Dimensi pendekatan (Ma, Se, Re dan Mi).

Berkaitan dengan penjelasan tersebut bahwa penerapan dan pengembangan sistem aplikasi e-proposal ini merupakan bagian dari mekanisme perencanaan pembangunan. E-proposal adalah aplikasi yang dibangun untuk mendukung sistem bottom up planning yang efektif dan efisien di Kementerian Pertanian. Dengan adanya e-proposal akan mampu menjelaskan kebutuhan anggaran yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang ditargetkan, lengkap dengan daya dukung yang akurat dan legalitas dari SKPD terkait. Sistem e-proposal memiliki beberapa tujuan diantaranya:

1)

Menjaring sebanyak mungkin usulan-usulan dari daerah yang potensial untuk dikembangkan dari pekebun/kelompok tani.

2)

Mempercepat

pengiriman

data proposal dari seluruh

Kabupaten/Kota dan Provinsi.

3)

Memperkuat peran SKPD Provinsi sebagai koordinator mekanisme perencanaan satu pintu.

4)

Mempercepat proses penilaian proposal oleh tim pusat.

46

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

5) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengalokasian anggaran pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi di seluruh Indonesia.

6)

Mendukung upaya hemat barang persediaan/paperless.

7)

Pengelolaan database potensi pengembangan daerah yang lebih baik dari aspek perencanaan dan aspek teknis pengembangan kawasan.

8)

Mendukung percepatan birokrasi dimana usulan-usulan dari daerah akan diproses di pusat dengan transparan dan akuntabel.

9)

Meminimalisisr/mengurangi potensi intervensi dari pihak lain terkait pengalokasian kegiatan dan anggaran.

Untuk dapat mengakses aplikasi e-proposal dalam rangka pengisian usulan kegiatan pembangunan perkebunan maka ada beberapa perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan perangkat pengelola (brainware) yang dibutuhkan antara lain :

A. Perangkat Keras (hardware)

Perangkat keras yang digunakan adalah komputer/laptop/notebook dengan sistem operasi windows XP atau lebih tinggi (vista, 7, 8, dll), Minimal processor pentium III/yang setara atau yang lebih tinggi, memori atau RAM 512 MB atau yang lebih tinggi serta sambungan/koneksi internet (bisa menggunakan modem GSM/CDMA, speedy, wifi/hotspot, dll).

B. Perangkat Lunak (software)

Perangkat lunak yang digunakan antara lain browser internet (disarankan menggunakan mozilla firefox atau google chrome) dan menggunakan adobe acrobat reader untuk membaca file tipe .pdf.

Server aplikasi e-proposal Kementerian Pertanian dijalankan oleh PUSDATIN (Pusat Data dan Informasi, kementerian Pertanian) yang berwenang sebagai pusat data dan informasi e- proposal. Software (perangkat lunak) aplikasi e-proposal adalah 1) perangkat lunak yang terprogram di desktop SKPD

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

47

Kabupaten/Kota untuk menginput data terkait pengajuan proposal, 2) perangkat lunak di SKPD Provinsi, dan 3) perangkat lunak di server pusat data E-Form. Fungsinya adalah sebagai program untuk menginput proposal elektronik ke server pusat data E-Form dan juga software di SKPD Provinsi dan UPT – Pusat.

C. Perangkat Pengelola (brainware)

Brainware disini dimaksudkan pengelola terhadap aplikasi e-proposal lingkup Kementerian Pertanian. Pengelola sistem aplikasi e-proposal terdiri atas :

1. Biro Perencanaan, Sekretariat Jenderal.

a. Admin (Bagian Kebijakan Program dan Wilayah, Biro Perencanaan). b. Tim Penilai (Sekretaris Ditjen/Badan Eselon I dan Kapala Bagian Perencanaan tiap Eselon-1 lingkup Kementerian Pertanian).

2. Petugas

SKPD

penginput

data

(operator)

ditunjuk

oleh

Kabupaten/Kota.

3. Petugas operator SKPD Provinsi.

3.4.

Ketentuan

Melalui e-proposal

Umum

Pengajuan

Usulan

Kegiatan

Beberapa ketentuan umum dalam pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal sebagai berikut :

1) Pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan dapat diakses melalui alamat situs web app1.pertanian.go.id/ eproposal2015_beta2/ atau www.pertanian.go.id/ eplanning lalu memilih kolom proposal kemudian mengklik eproposal.

2)

Usulan kegiatan yang diajukan berdasarkan hasil kesepakatan pada forum Musrenbangbun Kabupaten/Kota dan Musrenbangbun Provinsi.

48

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

Menu kegiatan yang akan di usulkan SKPD Pengusul terbagi ke dalam kegiatan hulu, onfarm, hilir dan penunjang. Kegiatan tidak lagi dipisahkan secara langsung menunjuk nama Eselon I, namun sistem yang akan mengkelompokan sub-sub menu kegiatan di Eselon I ke dalam menu kegiatan besar.

4) Penggunaan user name dan password bersifat rahasia dan identik yang artinya hanya dapat dikelola oleh penanggungjawab kegiatan yaitu Kepala SKPD atau Sekretaris SKPD/Kepala Bidang/sub bidang Perencanaan dan diketahui oleh operator e-proposal di tiap SKPD saja serta dapat di rubah sewaktu-waktu untuk updating safety.

5) Pengisian database spesifik level Kecamatan dalam mendukung pengembangan komoditas perkebunan dan memperkuat sistem perencanaan akan digunakan sebagai basis data SIKP (Sistem Informasi Kawasan Pertanian) dengan memanfaatkan data tabular dan di overlay diatas data spasial. Informasi ini akan disajikan secara lebih lengkap, terperinci dan utuh pada situs web SIKP yang juga merupakan bagian dari e-Planning yaitu dapat diakses melalui :

3)

http://www.pertanian.go.id/sikp

6)

Pada database spesifik kecamatan selain mengisi database sub sektor perkebunan, juga harus mengisi database sub sektor PSP dan sub sektor PPHP termasuk mengenai isian database UPH (Unit Pengolahan Hasil).

7)

Pengisian data terkait database spesifik kecamatan, database spesifik level Kabupaten/Kota, database umum level Provinsi, informasi terkait narasi e-proposal dan data pendukung yang akan di upload pada sistem aplikasi e-proposal akan dilengkapi dengan form sebagaimana dapat disajikan pada LAMPIRAN pedoman ini dengan tujuan untuk mempermudah SKPD Pengusul dalam mempersiapkan data dan informasi terkait pengisian database tersebut.

8) Narasi e-proposal berisi tujuan, masalah, potensi kawasan, prospek pengembangan, strategi, kegiatan prioritas, indikator kinerja dan analisis resiko.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

49

9) Penerima manfaat adalah sasaran petani/calon petani/ kelompok tani yang akan dialokasikan pendanaan APBN untuk kegiatan pengembangan komoditi perkebunan di daerahnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :

termasuk koordinat

a. Mengisi

penerima

manfaat

pelaksanaan kegiatan.

b. Daftar kelompok tani yang ada dalam aplikasi e-proposal sudah di verifikasi oleh BPPSDMP melalui Bakorluh/Bapeluh setempat, untuk itu kelompok tani perkebunan yang belum terdaftar/kelompok tani baru/kelompok tani yang berdiri sendiri harus meng- entry kelompok tani dengan mengakses bidang yang ditangani “penyuluhan” pada bagian profil SKPD.

c. Untuk sasaran penerima manfaat yang berasal dari UPT pusat/SKPD Provinsi atau unit instansi/SKPD/balai dibawah eselon I yang bukan kelompok tani maka mengentry pada bagian penerima manfaat bukan kelompok.

d. Penyeleksian kelompok tani oleh SKPD Kabupaten/Kota melalui mekanisme CP/CL sudah harus dicermati pada pengisian penerima manfaat ini.

e. Pola penentuan CP/CL dibangun Kementerian Pertanian secara bertahap mengarah kepada pola tertutup, dimana setiap SKPD Kabupaten/Kota pengusul diharuskan menseleksi CP/CL di setiap kegiatan mengacu pada usulan calon penerima manfaat yang ada/terdaftar di dalam database e-proposal penerima manfaat yang bertujuan agar perencanaan kegiatan dapat lebih tepat sasaran dan dapat dipantau serta dievaluasi dengan lebih baik.

f. Peran SKPD Kabupaten/Kota yang membidangi penyuluhan sangat penting untuk mengidentifikasi kelompok tani dan gabungan kelompok tani yang ada di wilayah kerjanya masing-masing melalui koordinasi dengan para penyuluh.

50

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

10) SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi harus memverifikasi atau menilai kelayakan atas usulan kegiatan melalui e-proposal dari SKPD yang membidangi perkebunan di Kabupaten/Kota sebelum diajukan ke pusat dengan memperhatikan beberapa indikator kriteria teknis.

11) Catatan verifikasi yang disampaikan oleh Tim verifikasi Provinsi akan sangat berguna bagi Tim Pusat untuk menjadi pertimbangan dalam melakukan penilaian, begitu juga dengan catatan yang disampaikan oleh Tim Penilai Pusat akan sangat berguna bagi daerah untuk mengetahui kekurangan/perbaikan usulan kegiatan atau tidak layaknya sebuah usulan kegiatan selain bermanfaat dalam melakukan penelaahan bahan Musrenbangtan/ pembahasan dengan pimpinan. Catatan ini dapat berupa : data kelompok tani sasaran yang diusulkan belum diisi, narasi proposal belum lengkap, database dari kabupaten/kota belum lengkap, tidak mengisi dukungan APBD, justifikasi kenapa usulan kegiatan tidak layak diajukan ke pusat, justifikasi mengenai usulan kegiatan dikembalikan ke Kabupaten/Kota untuk di revisi dan lainnya.

12) Kelengkapan pengisian data dan informasi terkait pengajuan usulan kegiatan melalui e-proposal akan sangat mempengaruhi penilaian kelayakan selain melihat dari pertimbangan indikator kriteria teknis lainnya. Bobot indikator yang tertinggi adalah jika usulan kegiatan pembangunan perkebunan berada di lokasi kawasan yang sesuai dengan penetapan peringkat Kabupaten/Kota dari masing-masing komoditi unggulan perkebunan (100 besar).

13) Penilaian terhadap usulan kegiatan juga dilakukan oleh Pusat/Ditjen. Perkebunan melalui beberapa kriteria penilaian dengan sistem pembobotan. Mekanisme penilaian ini akan menentukan analisis keputusan untuk menyetujui atau tidak usulan kegiatan tersebut dibahas pada forum Musrenbangtan/nas yang selanjutnya diputuskan pengalokasiaan anggarannya oleh pimpinan.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

51

14) Pemantauan hasil penilaian Tim Pusat harus dilakukan secara berkala oleh SKPD pengusul, selain itu SKPD pengusul wajib menyampaikan lembar pengesahan usulan kegiatan kepada Ditjen. Perkebunan sebagai kelengkapan administrasi.

15) Mekanisme pengusulan kegiatan dari UPT Pusat dan Satker Pusat pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan pengusulan kegiatan dari SKPD Provinsi dan Kabupaten/Kota, hanya saja kegiatan yang diusulkan dikhususkan pada kegiatan dekonsentrasi yaitu kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya Ditjen. Perkebunan (Pusat) dan kegiatan dukungan pengujian, pengawasan mutu benih dan penerapan teknologi proteksi tanaman perkebunan.

16) Mekanisme pengusulan kegiatan DAK bidang pertanian adalah dengan mengisi data teknis DAK tiap sub sektor bagi pengusul kegiatan (SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota).

17) SKPD Kabupaten/Kota paling lambat tanggal 30 Maret setiap tahunnya sudah harus menyampaikan usulan kegiatan melalui e-proposal kepada SKPD Provinsi, sedangkan SKPD Provinsi melakukan proses verifikasi penilaian dan mengajukan ke Pusat paling lambat tanggal 31 Maret setiap tahunnya.

18) Ketentuan-ketentuan umum lainnya seperti adanya Kecamatan dan Kabupaten/Kota yang di mekarkan/di merger hendaknya disampaikan kepada Pusat (Biro Perencanaan dan Ditjen. Perkebunan) agar dapat membuat user name dan password serta menyesuaikan database dalam e-proposal.

19) Apabila terdapat kendala dalam meng-input usulan kegiatan melalui e-proposal dapat berkonsultasi melalui alamat email:

perencanaanditjenbun@gmail.com dengan menuliskan subjek email “konsultasi e-proposal”.

52

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

3.4.1. Muatan

Kota

e-proposal

tingkat Provinsi dan Kabupaten/

Berikut ini dapat dijelaskan mengenai muatan e-proposal untuk pengusul kegiatan yang berasal dari SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi dan pengusul kegiatan yang berasal dari SKPD yang membidangi perkebunan di Kabupaten/Kota.

I. Informasi profil SKPD

Pada informasi profil SKPD ini memuat :

1. Tahun perencanaan berisi tahun pengusulan usulan kegiatan melalui e-proposal yang sudah secara otomatis ditampilkan oleh aplikasi.

2. Nama SKPD berisi nama Dinas yang membidangi perkebunan di Provinsi dan nama Dinas yang membidangi perkebunan di Kabupaten/Kota.

3. Alamat berisi alamat SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi dan di Kabupaten/Kota. Di harapkan pengisian alamat secara lengkap agar mudah dalam pengiriman pos surat.

4. Kabupaten/Kota berisi nama Provinsi dan Kabupaten/Kota yang secara otomatis ditampilkan oleh aplikasi.

5. Mendukung komoditas berisi nama bidang yang ditangani sesuai tupoksi SKPD di Provinsi dan di Kabupaten/Kota.

6. Nomor Telephone dan Nomor Fax SKPD provinsi dan kabupaten/kota wajib diisi secara lengkap dan masih aktif untuk memudahkan penyampaian data, informasi dan komunikasi.

7. Alamat email SKPD yang wajib diisi secara lengkap oleh SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi dan di Kabupaten/Kota untuk memudahkan penyampaian data, informasi dan komunikasi. Alamat email tersebut harus dalam keadaan aktif. Untuk SKPD Kabupaten/Kota disertai alamat email alternatif.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

53

8.

Contact Person yang menangani perencanaan berisi nama orang yang menangani bidang perencanaan dengan nama dan gelar lengkap beserta nomor telephone/HP yang masih aktif.

9.

Nama kepala SKPD berisi nama penanggung jawab kegiatan di SKPD yang menangani perkebunan di Provinsi dan di Kabupaten/Kota dengan nama dan gelar lengkap beserta NIP.

II.

Database Umum

Pada database umum ini, SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi dan Kabupaten/Kota diharapkan mengisi atau melengkapi database umum yang berisi :

1. Letak wilayah provinsi dan kabupaten/kota secara geografis berisi letak wilayah yang di ukur berdasarkan sistem koordinat garis lintang (Lintang Utara/LU dan Lintang Selatan/LS) dan letak bujur (bujur timur/BT dan bujur barat/BB).

2. Batas wilayah berisi batas wilayah provinsi dan kabupaten/kota dari utara, selatan, barat dan timur.

3. Luas wilayah berisi luas daratan dan luas lautan dalam provinsi dan dalam kabupaten/kota menggunakan satuan km 2 .

4. Untuk SKPD provinsi : Administrasi pemerintahah Kabupaten/Kota berisi jumlah kabupaten, jumlah kecamatan, jumlah desa dan jumlah kelurahan yang ada di provinsi

tersebut.

5. Untuk SKPD kabupaten/kota : Administrasi pemerintahah Kabupaten/Kota berisi jumlah kecamatan, jumlah desa dan jumlah kelurahan yang ada di kabupaten/kota tersebut.

6. Kondisi demografi berisi :

a. Jumlah penduduk di provinsi atau di kabupaten/kota dalam satuan jiwa.

b. Luas wilayah secara keseluruhan/total di provinsi atau di kabupaten/kota dalam satuan km 2 .

c. Ratio jenis kelamin berisi persentase penduduk yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

54

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

d. Pendidikan berisi persentase penduduk yang tamat pendidikan SD, SLTP, SMU, Diploma, Sarjana, Master dan Doktor dari total penduduk di provinsi atau di kabupaten/kota.

e. Total rumah tangga berisi jumlah keluarga per KK yang berada di provinsi atau di kabupaten/kota.

f. Jumlah keluarga petani berisi jumlah keluarga per KK yang berada di provinsi atau di kabupaten/kota yang bermata pencaharian sebagai petani.

g. Jumlah angkatan kerja produktif berisi jumlah penduduk dalam satuan orang yang berada pada usia produktif yang berkisar antara 15-64 tahun atau 18-55 tahun menurut sumber yang lain.

7. Kondisi perekonomian berisi :

a. Total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi atau PDRB kabupaten/kota dalam satuan Rp. (rupiah).

b. Dukungan PDRB sektor terhadap perekonomian daerah berisi persentase kontribusi sektor-sektor perekonomian terhadap peningkatan PDRB provinsi atau PDRB kabupaten/kota seperti sektor pertanian dan kehutanan (peternakan, perikanan dan perkebunan); sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan; sektor listrik, gas dan air bersih; sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, real estate dan jasa keuangan; sektor jasa-jasa lainnya.

c. Dukungan PDRB dari sub sektor terhadap sektor pertanian berisi persentase kontribusi sub sektor perekonomian terhadap peningkatan PDRB sub sektor pertanian provinsi atau kabupaten/kota seperti sub sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan.

8. Kelembagaan berisi :

a. Kelembagaan petani berisi jumlah gapoktan, jumlah kelompok tani, jumlah KT wanita dan jumlah pemuda tani di provinsi atau kabupaten/kota.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

55

b. Kelembagaan penyuluhan berisi jumlah penyuluh PNS (laki- laki dan perempuan), jumlah penyuluh THP-TB PP (laki-laki dan perempuan), jumlah penyuluh swadaya (laki-laki dan perempuan) dan jumlah BPP di kecamatan (satuan unit).

c. Kelembagaan pembiayaan berisi jumlah dalam satuan unit dari koperasi, BPR (Bank Perkreditan Rakyat), Bank Pemerintah, Bank Swasta dan LKMA (Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis).

d. Kelembagaan pemasaran berisi jumlah unit pasar, jumlah unit supermarket, jumlah unit pasar tani, jumlah perusahaan eksportir, jumlah unit sub terminal agribisnis (STA) dan jumlah unit terminal agribisnis (TA).

e. Kelembagaan sarana berisi jumlah unit kios alsintan (alat dan mesin pertanian), jumlah unit kios saprotan (sarana produksi pertanian) dan jumlah unit penggilingan.

9.

Kondisi/sumber ketersediaan air berisi jumlah unit sumber air yang berada di provinsi atau di kabupaten/kota seperti danau, sungai, waduk, embung dan sumber air lainnya.

10.

Utilitas listrik berisi kondisi sarana prasarana ketersediaan listrik dan jangkauan sumber listrik ke daerah di provinsi atau di kabupaten/kota apakah baik, sedang atau rusak.

11.

Luas lahan pertanian berisi luas lahan pertanian tanaman pangan, lahan perkebunan dan lahan hortikultura yang berada di provinsi atau di kabupaten/kota dalam satuan hektar.

III.

Database teknis level kecamatan

Khusus untuk usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal dari SKPD yang membidangi perkebunan di Kabupaten/Kota dilengkapi dengan form isian database teknis level kecamatan sebagai database spesifik tingkat kecamatan yang akan digunakan untuk basis data sistem aplikasi SIKP (sistem informasi kawasan pertanian). Muatan database teknis level kecamatan ini memuat :

56

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

1. Database teknis level kecamatan sub sektor perkebunan memuat nama kecamatan dan komoditas unggulan perkebunan yang akan diusulkan meliputi :

a. Data per kecamatan untuk komoditi tanaman tahunan (kepala sawit, karet, kelapa, jambu mete, kemiri sunan, jarak pagar dan sagu) yang terdiri dari :

- Data luas areal (tanaman belum menghasilkan/TBM, tanaman menghasilkan/TM, tanaman rusak/TTR dan luas areal total) dalam satuan hektar untuk

pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan

2 tahun sebelumnya (t-2).

- Data produksi dalam satuan ton untuk pengembangan

kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

- Data produktivitas dalam satuan ton/ha untuk

pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan

2 tahun sebelumnya (t-2).

- Data unit pengolahan hasil perkebunan (UPH) dalam

satuan unit yang ada di lokasi pengembangan kegiatan

1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-

2).

- Data luas areal potensi pengembangan komoditi perkebunan dalam satuan hektar pada kondisi sekarang (t0), kondisi 1 tahun kedepan (t+1) dan kondisi 2 tahun kedepan (t+2).

semusim

per (tebu, nilam, kapas dan tembakau) yang terdiri dari :

- Data luas areal eksisting dalam satuan hektar untuk pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan

b. Data

kecamatan

untuk

komoditi

tanaman

2 tahun sebelumnya (t-2).

- Data produksi dalam satuan ton untuk pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

- Data produktivitas dalam satuan ton/ha untuk

pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan

2 tahun sebelumnya (t-2).

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

57

- Data unit pengolahan hasil perkebunan (UPH) dalam satuan unit yang ada di lokasi pengembangan kegiatan

1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-

2).

- Data luas areal potensi pengembangan komoditi perkebunan dalam satuan hektar pada kondisi sekarang (t0), kondisi 1 tahun kedepan (t+1) dan kondisi 2 tahun kedepan (t+2).

c. Data per kecamatan untuk komoditi tanaman rempah dan penyegar (kakao, kopi, teh, cengkeh, lada dan pala) yang terdiri dari :

- Data luas areal (tanaman belum menghasilkan/TBM, tanaman menghasilkan/TM, tanaman rusak/TTR dan

luas areal total) dalam satuan hektar untuk pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan

2 tahun sebelumnya (t-2).

- Data produksi dalam satuan ton untuk pengembangan

kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

- Data produktivitas dalam satuan ton/ha untuk

pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan

2 tahun sebelumnya (t-2).

- Data unit pengolahan hasil perkebunan (UPH) dalam satuan unit yang ada di lokasi pengembangan kegiatan

1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-

2).

- Data luas areal potensi pengembangan komoditi perkebunan dalam satuan hektar pada kondisi sekarang (t0), kondisi 1 tahun kedepan (t+1) dan kondisi 2 tahun kedepan (t+2).

2. Database teknis level kecamatan PSP-Perkebunan dalam mendukung sub sektor perkebunan, memuat data sarana prasarana perkebunan seperti :

a. Nama kecamatan yang sudah terdaftar di aplikasi.

b. data

Pengisian

jalan

produksi

dalam

satuan

km

(kilo

meter).

58

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

c.

Pengisian data jumlah unit traktor roda 4 yang dipakai (unit).

3.

Database teknis level kecamatan PPHP dalam mendukung sub sektor perkebunan, memuat data pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan seperti:

a. Nama kecamatan yang sudah terdaftar di aplikasi.

b. Pengisian data UPH (unit pengolahan hasil) yang meliputi nama sub sektor yang didukung dan jumlah unit UPH.

c. Pengisian data jumlah sentra kemasan PPHP.

d. Pengisian data jumlah pasar tani (unit).

IV.

Narasi proposal

Narasi proposal bagi SKPD provinsi dan SKPD kabupaten/kota yang membidangi perkebunan ini memuat :

1. Tujuan berisi tujuan akhir yang ingin dicapai dalam pengajuan proposal untuk pengembangan kawasan berbasis komoditas unggulan perkebunan.

2. Masalah berisi masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan kawasan berbasis komoditas unggulan pekebunan. Masalah utama diperoleh berdasarkan identifikasi lapangan dan diskusi dengan pihak terkait.

3. Potensi kawasan berisi nama komoditas unggulan yang potensial serta luas potensi pengembangan. Boleh menyebutkan lebih dari satu komoditas tetapi maksimal 3 komoditas per sub sektor dalam satu kabupaten/kota.

4. Prospek pengembangan berisi prospek pengembangan komoditi perkebunan ke depan mencakup perluasan areal, produksi, produktivitas, penyerapan tenaga kerja, pengembangan usaha industri dan pemasarannya.

5. Strategi berisi cara untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Startegi ini nantinya akan dijabarkan lebih lanjut kedalam kebijakan/regulasi, program dan kegiatan.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

59

6.

Kegiatan prioritas berisi kegiatan prioritas (maksimal 3 kegiatan) yang mampu memberikan daya pengungkit (trigger)/berdampak besar bagi pencapaian tujuan.

7.

Indikator kinerja berisi nama indikator kinerja output dan outcome yang dilengkapi dengan angka kuantitatif beserta besaran dan satuan volumenya.

8.

Analisis resiko berisi tingkat risiko pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan yang mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 mengenai Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.

V.

Usulan Kegiatan

Usulan kegiatan ini memuat :

1. Sub sektor berisi nama sub sektor yang terkait tupoksi SKPD Provinsi dan Kabupaten/Kota.

2. Komoditas berisi nama komoditas unggulan perkebunan yang akan diusulkan SKPD Provinsi dan Kabupaten/Kota yang terdiri atas 17 komoditas yaitu Kelapa sawit, karet, kelapa, kakao, tebu, kopi, teh, jambu mete, nilam, kapas, tembakau, kemiri sunan, lada, cengkeh, jarak pagar, pala dan sagu.

3. Status kegiatan berisi kegiatan yang akan diusulkan tersebut apakah kegiatan baru atau kegiatan lanjutan di tahun sebelumnya.

4. Sumber anggaran berisi pengajuan usulan kegiatan tersebut akan didanai APBN yang bersumber dari RM (rupiah murni), HLN (hibah luar negeri), PLN dan PNBP (penerimaan negara bukan pajak).

5. Pola pendanaan berisi apakah mengajukan pola pendanaan yang bersumber dari APBN murni, APBN-APBD, APBN-swasta atau APBN-APBD-Swasta.

6. Dukungan APBD Kabupaten berisi kontribusi anggaran APBD dalam mendukung pengusulan kegiatan dalam bentuk rupiah murni dan persentase dari total anggaran APBD

60

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

Kabupaten/Kota. Dukungan APBD Kabupaten ini wajib diisi jika pola pendanaan yang dipilih adalah APBN-APBD.

7.

Dukungan swasta berisi kontribusi anggaran swasta dalam mendukung pengusulan kegiatan dalam bentuk rupiah murni. Dukungan swasta ini wajib diisi jika pola pendanaan yang dipilih adalah APBN-Swasta.

8.

Kegiatan berisi usulan kegiatan yang akan diajukan dimana secara otomatis mendukung komoditas yang diusulkan. Kegiatan disini terdiri dari kegiatan hulu (terkait output kegiatan Ditjen. Perkebunan), kegiatan hilir (terkait output kegiatan Ditjen. PPHP) dan kegiatan onfarm (terkait output kegiatan Ditjen. PSP). Pada kegiatan ini memuat:

a. Sub kegiatan berisi sub output kegiatan yang akan diusulkan dari masing-masing eselon II lingkup Ditjen. Perkebunan, Ditjen. PSP atau Ditjen. PPHP.

b. Volume dan satuan berisi volume kegiatan yang akan diusulkan dalam satuan perhitungan tertentu.

c. Harga satuan dan jumlah berisi anggaran yang akan diusulkan per satuan harga dan secara otomatis akan menjumlah total anggaran yang akan diusulkan (dalam rupiah).

VI.

Penerima manfaat

Form penerima manfaat pada pengusulan kegiatan melalui e- proposal wajib di isi oleh pengusul kegiatan dari SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan karena akan menentukan tahapan pengusulan kegiatan selanjutnya untuk dapat diajukan ke provinsi bagi SKPD Kabupaten/Kota dan diajukan ke pusat bagi SKPD Provinsi.

Form penerima manfaat ini dibagi 2 yaitu penerima manfaat yang merupakan kelompok (diisi oleh SKPD Kabupaten/Kota) dan penerima manfaat yang bukan kelompok (diisi oleh SKPD Provinsi dan Kabupaten/Kota). Untuk sasaran penerima manfaat yang berasal dari UPT pusat/SKPD Provinsi atau unit instansi/SKPD/balai dibawah eselon I yang bukan kelompok tani di wajibkan meng-entry penerima manfaat pada bagian penerima

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

61

manfaat bukan kelompok. Berikut ini adalah form penerima manfaat yang merupakan kelompok dan yang bukan merupakan kelompok memuat:

1. Nama SKPD yang membidangi perkebunan.

lingkup

2. Kegiatan/output

kegiatan

masing-masing

eselon

II

Ditjen. Perkebunan.

3. Sub kegiatan/ sub output kegiatan masing-masing eselon II lingkup Ditjen. Perkebunan.

4. Komoditas yang diusulkan.

5. Usulan dana/anggaran yang diusulkan dalam rupiah.

6. Upload file pendukung 1 sampai dengan 5 berisi file pendukung usulan kegiatan seperti RAB kegiatan, peta kawasan, kinerja pembangunan perkebunan sebelumnya, potensi pengembangan, Perda RTRW, nomor registrasi keputusan penetapan kelompok tani/nomor SK pengukuhan dll. (dalam format pdf, word, excel, power point, jpeg yang dibatasi total 1 MB).

7. Daftar kelompok tani yang merupakan penerima manfaat kegiatan termasuk dalam kelompok memuat :

a. Daftar kelompok tani kegiatan di kabupaten/kota yang sudah di verifikasi oleh BPPSDMP melalui Bakorluh/Bapeluh di daerah. Daftar kelompok ini secara otomatis terdiri atas :

- Jika menampilkan data gapoktan maka akan muncul nama kecamatan, nama desa, nama Gapoktan, ketua Gapoktan dan kolom tambahkan ke penerima manfaat.

- Jika menampilkan data poktan maka akan muncul nama kecamatan, nama desa, nama Gapoktan, nama poktan, ketua poktan, SK pengukuhan, komoditas yang diusahakan dan kolom tambahkan ke penerima manfaat.

b. Daftar kelompok tani kegiatan di provinsi hanya memuat penerima manfaat kegiatan non kelompok (untuk penerima

62

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

manfaat SKPD/UPT/Balai dll) yang berisi nama penerima non kelompok dan lokasi.

c. Pada kelompok tani penerima manfaat kegiatan di kabupaten/kota akan dilengkapi dengan titik koordinat lokasi usulan kegiatan yang berisi lokasi geografis usulan kegiatan pengembangan komoditi unggulan perkebunan di tingkat kecamatan/desa. Koordinat lokasi penerima manfaat kegiatan ini memuat nama poktan, nama gapoktan, nama desa, nama kabupaten/kota dan titik koordinat lokasi dalam bentuk LU, LS, BT atau BB yang dapat diisi pada kolom tindakan.

d. Terdapat kolom tindakan untuk mengedit atau menghapus koordinat lokasi penerima manfaat kegiatan.

VII. Database spesifik Kabupaten/Kota (sub sektor perkebunan)

Database spesifik kabupaten/kota memuat data dan informasi yang perlu di isi dan dilengkapi oleh SKPD provinsi dan kabupaten/kota yang membidangi perkebunan mengenai kondisi agroekosistem, kondisi kelembagaan, kondisi perekonomian, kondisi penanganan perlindungan perkebunan, kondisi sarana prasarana, kondisi luas areal eksisting komoditi perkebunan, kondisi luas areal potensi pengembangan komoditas perkebunan, kondisi produksi dan produktivitas komoditi perkebunan, kondisi kinerja satker dan kondisi kebijakan lainnya. Muatan data spesifik kabupaten/kota untuk sub sektor perkebunan meliputi :

1. Kondisi agro-ekosistem yang memuat :

a. Curah hujan dengan satuan mm/tahun.

b. Ketinggian tempat dengan satuan dpl (diatas permukaan laut).

c. Topografi tempat yang menunjukkan bentuk relief permukaan bumi dari suatu daerah yang terdiri dari dataran rendah (DAS, pantai, padang rumput, dll), dataran sedang (lereng, flat, plato, lembah, dll) dan dataran tinggi (perbukitan, gunung, pegunungan, dll).

d. Temparatur udara yang menunjukkan suhu rata-rata udara di daerah setempat dengan satuan °C (derajat celcius).

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

63

Dapat juga dihitung menggunakan rumus T = 26,3°C-0,61h (h= ketinggian tempat/dpl).

e. Kelembaban udara dengan satuan %.

f. Lama bulan iklim menunjukkan periode waktu atau lamanya waktu suatu daerah mengalami bulan basah atau bulan kering jika dilihat dari rerata curah hujan per bulan. Pengelompokkan lama bulan iklim pada dasarnya ada 3 tipe yaitu :

- Bulan basah adalah bulan yang curah hujannya > 100

mm dalam 1 bulan. Jumlah curah hujan melampaui penguapan.

- Bulan kering adalah bulan yang curah hujannya < 60

mm dalam 1 bulan. Penguapan banyak berasal dari

dalam tanah daripada curah hujan.

- Di antara bulan basah dan bulan kering (60-100 mm/bulan) disebut bulan lembab. Curah hujan dan penguapan relatif seimbang.

g. Ketersediaan sumber air menunjukkan ada tidaknya sumber hidrologi dalam kawasan pengembangan komoditi perkebunan yang terdiri atas :

- Hidrologi alami seperti berasal dari laut, sungai, mata air, air hujan, air terjun, danau dan sumber-sumber lain.

- Hidrologi buatan seperti waduk, dam, sumur air tanah dalam (bor dan sumur resapan), sumur air permukaan, irigasi, embung dan lain-lain.

h. Jenis tanah yang menunjukkan jenis tanah yang cocok dan sesuai untuk pengembangan komoditi perkebunan di daerah tersebut meliputi :

- Tanah Vulkanik adalah tanah hasil pelapukan abu vulkanik dari gunung berapi. Tanah vulkanik dibagi menjadi beberapa jenis yaitu : Regosol, Latosol, Andosol, Tuff, Hidromorf, Entisol.

- Tanah Organosol merupakan tanah hasil pelapukan bahan-bahan organik. Tanah jenis ini dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu : Tanah Humus, Tanah Gambut/Argosol.

64

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

- Tanah Aluvium (Alluvial) adalah tanah hasil erosi yang diendapkan di dataran rendah. Jenis tanah ini antara lain : Tanah Endapan, dan lain-lain.

- Tanah Podzol/Podzolit yang terbentuk akibat pengaruh curah hujan yang tinggi dan suhu yang rendah.

- Tanah Laterit adalah tanah hasil ‘pencucian’ karena terdapat pelarutan oleh air. Jenis tanah ini diantaranya : Tanah Padas, Tanah Ultisol dan lain-lain.

- Tanah Litosol adalah tanah hasil pelapukan batuan beku dan batuan sedimen yang baru terbentuk sehingga butirannya besar. Jenis tanah ini diantaranya :

Tanah Inceptisol dan lain-lain.

- Tanah Kapur merupakan hasil pelapukan batuan kapur (gamping). Tanah ini terbagi jadi beberapa jenis yaitu :

Renzina, Mediteran/Terrarosa, Grumusol dan lain-lain.

- Tanah Mergel yang terjadi dari campuran batuan kapur, pasir dan tanah liat. Pembentukan tanah mergel dipengaruhi oleh hujan yang tidak merata sepanjang tahun.

- Tanah Vertisol yang merupakan tanah liat tinggi yang mengembang pada waktu basah dan pecah-pecah pada waktu kering.

- Tanah Oxisol yang terdiri atas aluminium oksida.

- Tanah Pasir adalah tanah yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil.

2. Kondisi kelembagaan yang memuat :

a. Jumlah tenaga kerja di sub sektor perkebunan secara total di Kabupaten/Kota dengan satuan jiwa dan juga terdiri dari jumlah laki-laki dan perempuan.

b. Jumlah petani/pekebun perkebunan di Kabupaten/Kota per kepala keluarga (KK).

c. Jumlah penangkar benih perkebunan dalam satuan orang.

d. Jumlah kelompok tani di Kabupaten/Kota dengan satuan KT.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

65

e. Jumlah petugas perkebunan POPT (pengendali organisme penganggu tumbuhan) dan petugas PBT (pengawas benih tanaman) dalam satuan orang.

3. Kondisi perekonomian yang memuat :

a. Kontribusi PDRB sub sektor perkebunan terhadap sektor pertanian di Kabupaten/Kota dalam %.

b. Volume ekspor dari komoditi unggulan perkebunan di kabupaten/kota dalam satuan ton. Volume ekspor berdasarkan pada angka tetap tahun terakhir (Sumber BPS atau sumber resmi lainnya).

c. Jenis barang ekspor seperti untuk komoditi kelapa sawit dalam bentuk TBS, CPO atau minyak sawit lainnya.

4. Kondisi penanganan perlindungan perkebunan yang memuat :

a. Jenis OPT yang dominan menyerang komoditas unggulan perkebunan di kabupaten/kota.

b. Luas serangan OPT tersebut di kabupaten/kota selama 2 tahun sebelumnya (t-2) dan 1 tahun sebelumnya (t-1) dalam satuan hektar.

c. Luas lahan yang sudah dapat dikendalikan dari serangan OPT tersebut di kabupaten/kota selama 2 tahun sebelumnya (t-2) dan 1 tahun sebelumnya (t-1) dalam satuan hektar.

d. Lokasi pengendalian OPT di kecamatan.

e. Intensitas serangan OPT dapat dikategorikan ringan, sedang atau berat.

f. Luas kebakaran lahan dan kebun di kabupaten/kota selama 2 tahun sebelumnya (t-2) dan 1 tahun sebelumnya (t-1) dalam satuan hektar.

g. Lokasi kebakaran lahan dan kebun di kecamatan.

h. Persentase kebakaran lahan dan kebun dari total lahan/kebun pengembangan komoditi perkebunan dalam satuan %.

i. Konversi lahan perkebunan yang dapat berubah fungsi menjadi lahan permukiman, lahan tanaman pangan, lahan hortikultura, lahan peternakan/ padang pengembalaan,

66

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

lahan pertambangan, lahan perkantoran, lahan konservasi/ ruang terbuka dll.

j. Luasan konversi lahan komoditi perkebunan menjadi lahan konversi lain dalam 2 tahun terakhir dengan satuan hektar.

5. Kondisi sarana prasarana pada saat ini yang memuat :

a. Jalan produksi yang memiliki kondisi yang baik sebagai jalan produksi pengembangan komoditi perkebunan di kabupaten/kota dalam satuan km (kilo meter).

b. Adanya kebun sumber bahan tanam untuk mendukung pengembangan komoditi perkebunan di kabupaten/kota yang terdiri dari kebun entres (KE) dan kebun induk (KI) dalam satuan hektar.

c. Adanya unit pengolahan hasil untuk mendukung pengembangan komoditi perkebunan di kabupaten/kota yang terdiri dari banyaknya UPH (unit) dan kapasitas UPH (ton/hari).

6. luas

Kondisi

areal

eksisting

komoditi

perkebunan

yang

memuat :

a. Data luas areal eksisting tanaman rempah penyegar dan tanaman tahunan yang terdiri dari :

- Luas areal eksisting tanaman belum menghasilkan/TBM (hektar) untuk pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

- Luas areal eksisting tanaman menghasilkan/TM (hektar) untuk pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

- Luas areal eksisting tanaman rusak/TTR (hektar) untuk pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t- 1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

- Luas areal total (hektar) untuk pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

67

b. Data luas areal eksisting tanaman semusim dalam satuan hektar untuk pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

7. Kondisi luas areal potensi pengembangan komoditas perkebunan yang memuat data luas areal potensi pengembangan komoditi perkebunan dalam satuan hektar pada kondisi sekarang (t0), kondisi 1 tahun kedepan (t+1) dan kondisi 2 tahun kedepan (t+2).

8. Kondisi produksi dan produktivitas komoditi perkebunan yang memuat:

a. Data produksi tanaman semusim, tanaman rempah penyegar dan tanaman tahunan dalam satuan ton untuk pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

b. Data produktivitas tanaman semusim, tanaman rempah penyegar dan tanaman tahunan dalam satuan kg/ha untuk pengembangan kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

9. Kondisi kinerja satker yang memuat :

a. Total pagu dalam rupiah bagi satker mandiri (TP provinsi dan TP kabupaten/kota) dari kegiatan peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman semusim, tanaman rempah penyegar, tanaman tahunan, dukungan pascapanen dan pembinaan usaha serta dukungan perlindungan perkebunan. Data total pagu untuk kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

b. Realisasi/serapan anggaran dari total pagu dalam rupiah bagi satker mandiri (TP provinsi dan TP kabupaten/kota) dari kegiatan peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman semusim, tanaman rempah penyegar, tanaman tahunan, dukungan pascapanen dan pembinaan usaha serta dukungan perlindungan perkebunan. Data realisasi pagu untuk kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

68

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

c. Persentase capaian/realisasi fisik dalam % bagi satker mandiri (TP provinsi dan TP kabupaten/kota) dari kegiatan peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman semusim, tanaman rempah penyegar, tanaman tahunan, dukungan pascapanen dan pembinaan usaha serta dukungan perlindungan perkebunan. Data realisasi pagu untuk kegiatan 1 tahun sebelumnya (t-1) dan 2 tahun sebelumnya (t-2).

10. Kondisi kebijakan lainnya yang memuat :

a. Peraturan daerah tentang penetapan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) di kabupaten/kota yang terdiri dari nomor Perda, tanggal berlaku Perda dan Lampirkan Perda/Peraturan daerah (attach file).

b. Peraturan daerah tentang penetapan kawasan sentra pengembangan komoditi perkebunan di kabupaten/kota yang terdiri dari nomor Perda, tanggal berlaku Perda dan Lampirkan Perda/Peraturan daerah (attach file).

VIII. Pengajuan ke Pusat atau ke Provinsi

Setelah semua usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal terisi beserta data dan informasinya maka SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi wajib mengajukan usulan kegiatan tersebut ke Pusat untuk dilakukan proses penilaian kelayakan usulan kegiatan dan bagi SKPD yang membidangi perkebunan di Kabupaten/Kota wajib mengajukan usulan kegiatan tersebut ke SKPD Provinsi untuk dilakukan proses verifikasi dengan sistem penilaian. Berikut ini adalah muatan e-proposal pada form pengajuan ke pusat atau ke provinsi :

1. Form

pengajuan

usulan

kegiatan

SKPD

yang

membidangi

perkebunan dari Provinsi ke Pusat memuat :

a. Proposal kegiatan tahun anggaran.

b. Nama SKPD provinsi.

c. Alamat SKPD provinsi.

d. Sub sektor yang menjadi tupoksi SKPD.

e. Komoditas yang diusulkan.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

69

f. Dukungan APBD provinsi dalam rupiah dan persentase dari total APBD provinsi.

g. Upload lembar pengesahan.

h. Ajukan ke pusat (Ditjen. Perkebunan) yang berisi perintah ya atau tidak. Jika ya langsung terdapat kolom kirim ke pusat.

i. Setelah pengajuan usulan kegiatan melalui e-proposal di kirim ke pusat maka akan mendapatkan nomor registrasi e- proposal yang bersifat identik yang nantinya akan digunakan untuk mencetak (print) lembar pengesahan dan selanjutnya dikirim ke pusat.

2.

Form pengajuan usulan kegiatan SKPD yang membidangi perkebunan dari Kabupaten/Kota ke Provinsi memuat :

a. Proposal kegiatan tahun anggaran.

b. Nama SKPD kabupaten/kota.

c. Nama SKPD/Dinas provinsi sebagai verifikator.

d. Dukungan APBD kabupaten/kota dalam rupiah dan persentase dari total APBD kabupaten/kota.

e. Upload lembar pengesahan.

f. Ajukan ke SKPD provinsi yang berisi perintah ya atau tidak. Jika ya langsung terdapat kolom kirim ke provinsi.

g. Setelah pengajuan usulan kegiatan melalui e-proposal di kirim ke provinsi maka akan mendapatkan nomor registrasi e-proposal yang bersifat identik yang nantinya akan digunakan untuk mencetak (print) lembar pengesahan dan selanjutnya dikirim ke pusat tembusan ke SKPD provinsi.

IX.

Status

Status pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal dapat dipantau terhadap proses verifikasi penilaian kelayakan oleh SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi dan terhadap proses persetujuan kegiatan oleh tim Pusat (Ditjen. Perkebunan).

1. Status pengajuan e-proposal kegiatan Provinsi memuat proposal kegiatan tahun anggaran, nama SKPD provinsi, alamat SKPD provinsi, sub sektor berdasarkan tupoksi SKPD,

70

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

dukungan APBD provinsi, hasil penilaian pusat (persetujuan) dan catatan penilaian dari pusat terkait persetujuan kegiatan.

2.

Status pengajuan e-proposal kegiatan Kabupaten/Kota memuat :

a. Nama dinas/SKPD provinsi yang membidangi perkebunan sebagai verifikator.

b. Verifikasi penilaian e-proposal tingkat provinsi yang terdiri dari indikator kriteria, pengukuran indikator dalam satuan unit analisis masing-masing kabupaten/kota, satuan indikator dalam skala 1-9, sumber data, satuan data, nilai dan jumlah nilai. Mekanisme verifikasi e-proposal ini akan dibahas pada Bab IV tentang penilaian kelayakan usulan kegiatan melalui e-proposal.

c. Dukungan APBD kabupaten/kota dalam pengusulan kegiatan ini (dalam rupiah dan persentase dari total APBD kabupaten/kota).

d. Dukungan APBD provinsi dalam pengusulan kegiatan ini (dalam rupiah dan persentase dari total APBD provinsi).

e. Kolom penilaian provinsi.

f. Catatan dari provinsi terkait verifikasi.

g. Hasil penilaian tingkat pusat yang terdiri dari persetujuan kegiatan (disetujui atau tidak) dan catatan dari pusat terkait persetujuan kegiatan.

X.

Lembar pengesahan

Berikut ini adalah form lembar pengesahan usulan kegiatan melalui e-proposal baik SKPD provinsi maupun SKPD kabupaten/kota yang membidangi perkebunan, memuat :

1. Kop surat yang dituju yaitu Kepada Yth Sekretariat Ditjen. Perkebunan cq. Bagian Perencanaan dengan nomor Telephone dan Fax.

2. Nomor registrasi proposal.

3. Tahun perencanaan.

4. Nama SKPD.

5. Alamat SKPD.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

71

6.

Nama Provinsi.

7.

Mendukung komoditas sesuai tupoksi SKPD.

8.

Nomor telephone dan fax.

9.

Alamat email SKPD.

10.

Contact person yang menangani perencanaan beserta nomor Hp.

11.

Nama kelapa SKPD beserta NIP nya.

12.

Nama usulan kegiatan dan sub kegiatan.

13.

Usulan jumlah anggaran.

14.

Tanda tangan kepala SKPD beserta nama jelasnya.

XI.

Tindakan

Kolom tindakan pada aplikasi e-proposal ini adalah memuat penanda edit atau hapus semua data dan informasi terkait pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan. Tindakan edit atau hapus ini dapat dilakukan sebelum usulan kegiatan diajukan ke Pusat atau ke Provinsi.

XII. Tambah usulan proposal

Kolom tambah usulan proposal ini memuat usulan kegiatan lainnya yang akan diajukan ke Provinsi atau ke Pusat. Kolom ini dimulai dengan mengisi dan melengkapi form pengusulan proposal sampai pada akhirnya diajukan ke Provinsi atau Pusat.

XIII. Verifikasi SKPD Kabupaten/Kota

Untuk SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi memiliki tugas dan kewajiban untuk melakukan verifikasi atau menilai kelayakan semua usulan kegiatan pembangunan melalui e-proposal yang berasal dari SKPD Kabupaten/Kota. Verifikasi dilakukan melalui penyesuaian usulan kegiatan Kabupaten/Kota dengan indikator kinerja yang dipersyaratkan di Provinsi yang dilengkapi dengan skor nilai. Mekanisme verifikasi oleh SKPD Provinsi yang membidangi perkebunan ini akan dibahas lebih lanjut pada Bab IV tentang penilaian kelayakan usulan kegiatan melalui e-proposal.

72

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

3.4.2. Alur

Pengajuan

Usulan

Kegiatan

Melalui

e-proposal

tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota

Pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal dapat dilakukan oleh SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi seluruh Indonesia sebagai pemegang koordinasi lintas Kabupaten/Kota dan SKPD yang membidangi perkebunan di Kabupaten/Kota seluruh Indonesia sebagai pemegang koordinasi lintas Kecamatan yang didalamnya terdiri dari pekebun/kelompok tani. Berikut ini adalah alur pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal mulai dari tingkat Provinsi sampai tingkat Kabupaten/Kota.

A. Alur Pengajuan e-Proposal untuk SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi

Mekanisme pengajuan e-proposal tingkat SKPD Provinsi adalah sebagai berikut :

1)

Memulai log in ke aplikasi e-proposal dengan user name dan password yang telah diberikan.

2)

Mengisi atau mengentry data mengenai informasi/profil SKPD dan dapat merubah/memperbaharui/meng-edit bagi data yang belum lengkap.

3)

Mengisi atau melengkapi database umum/gambaran wilayah umum tingkat Provinsi.

4) Mengisi atau melengkapi narasi e-proposal yang meliputi tujuan, masalah, potensi kawasan, prospek pengembangan, strategi, kegiatan prioritas, indikator kinerja dan analisis resiko. Pengisian narasi ini dapat dilakukan dengan cara men- copy paste dari dokumen word yaitu melalui ctrl c dan ctrl v.

5)

Hanya dapat mengusulkan kegiatan yang bersumber dari dana dekonsentrasi atau kegiatan lain terkait fungsi koordinasi, pembinaan, manajemen dan dukungan teknis lainnya yang termasuk kegiatan TP provinsi.

6) Mengisi formulir usulan proposal dengan terlebih dahulu melengkapi pemilihan sub sektor, komoditas, status kegiatan,

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

73

sumber kegiatan, pola pendanaan, dukungan APBD Provinsi dan dukungan swasta.

7) Terkait fungsi koordinasi, pembinaan, manajemen dan dukungan teknis lainnya/dekonsentrasi, SKPD Provinsi yang membidangi perkebunan dapat mengajukan usulan kegiatan dengan memilih komoditi “semua komoditi”.

8)

Mengisi pilihan kegiatan yang akan diusulkan sesuai dengan pemilihan sub sektor dan komoditas pada butir 6. Pengisian kegiatan ini mencakup kegiatan hulu (kegiatan Ditjen. Perkebunan), kegiatan hilir (kegiatan Ditjen. PPHP) dan kegiatan onfarm (kegiatan Ditjen. PSP).

9)

SKPD Provinsi yang telah mengisi pilihan kegiatan maka dapat melengkapinya dengan pilihan usulan sub kegiatan, volume/satuan dan harga satuan yang secara otomatis me-link ke items jumlah rupiah murni yang diusulkan.

10) Dapat juga menambah usulan kegiatan lain seperti kegiatan hilir atau onfarm nya atau kegiatan hulu lainnya.

melengkapi database spesifik level

11) Mengisi

atau

Kabupaten/Kota.

12) Mengisi formulir penerima manfaat kegiatan non kelompok dengan meng-entry nama penerima manfaat yang berasal dari SKPD/UPT/Balai atau instansi lain yang berada dibawah eselon I lingkup Ditjen. Perkebunan. Hal ini penting karena jika tidak mengisi tahapan ini maka e-proposal yang diusulkan tidak bisa di ajukan ke pusat dan tidak bisa mendapat nomor registrasi pengusulan kegiatan.

13) Dapat melihat daftar Gapoktan dari berbagai Kabupaten/Kota yang telah diverifikasi oleh Bakorluh/Bapeluh dan daftar poktan non Gapoktan dengan meng-klik tanda “penyuluhan” di bagian “mendukung komoditas” pada form profil SKPD. Muatannya adalah :

Daftar gapoktan akan berisi nama kabupaten, nama kecamatan, nama desa, nama gapoktan, nama ketua, tanggal pengukuhan dan daftar poktan.

a.

74

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

b. Daftar poktan non gapoktan berisi nama kabupaten, nama kecamatan, nama desa, nama poktan, nomor registrasi poktan, nama ketua dan jumlah anggota poktan.

14) Pengisian formulir penerima manfaat ini terdiri dari upload file pendukung usulan kegiatan (RAB, peta potensi, gambar pengembangan, manual proposal, nomor registrasi pendaftaran kelompok tani/nomor SK pengukuhan dll) dengan format pdf, word, excel, power point, jpeg dan dibatasi size/ukuran total file yang di upload adalah 1 MB.

15) Setelah mengisi penerima manfaat non kelompok maka meng- klik kolom “tambah” maka secara otomatis nama penerima manfaat non kelompok dan lokasi nya akan tercatat dan kemudian meng-klik “selesai” maka akan muncul tanda “√” warna hijau pada bagian isi penerima manfaat yang artinya usulan kegiatan siap diajukan ke pusat.

16) Diharuskan mengajukan usulan proposal kegiatan ke Pusat. Pengajuan usulan kegiatan akan tertera pada kolom “ajukan ke pusat”.

17) Wajib

melihat

perkembangan

penilaian

dari Pusat

dengan

melihat kolom “status” secara berkala.

18) Sebagai bukti sah/otentik dan salah satu persyaratan administratif, setiap SKPD Provinsi wajib mencetak lembar pengesahan pengusulan kegiatan yang dilengkapi dengan nomer registrasi e-proposal yang kemudian ditandatangani Kelapa SKPD Provinsi dan dikirimkan ke Pusat (Ditjen. Perkebunan) melalui :

Bagian Perencanaan, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkebunan Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jalan Harsono RM No.3 Gedung C, Ragunan-Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12550 Telp : (021) 7815380-4, Fax : (021) 7815486-7815586 Situs web : http://ditjenbun.pertanian.go.id

Email

: perencanaanditjenbun@gmail.com

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

75

19) Dapat

informasi dari beberapa tahap pengusulan kegiatan seperti yang dijelaskan pada butir sebelumnya pada kolom “tindakan”.

20) Dapat mengusulkan kegiatan DAK bidang perkebunan untuk tahun perencanaan 2015 dan tahun-tahun mendatang pada kolom entry DAK dengan mekanisme pengusulan yang akan diatur kemudian.

21) Dapat melihat usulan proposal kegiatan dari masing-masing SKPD Kabupaten/Kota dengan meng-klik “proposal SKPD Kabupaten/Kota” karena fungsinya sebagai verifikator e- proposal sebelum diajukan ke pusat.

22) Proses mem-verifikasi usulan proposal kegiatan dari masing- masing SKPD Kabupaten/Kota dimulai dengan meng-klik “proposal SKPD Kabupaten/Kota” lalu memilih kolom tindakan “lihat usulan proposal”. Pada bagian proposal SKPD Kabupaten/Kota akan muncul nomor proposal, nama dinas Kabupaten, usulan anggaran, sub sektor, status verifikasi dan tindakan verifikasi “lihat usulan proposal”.

23) Pada bagian “lihat usulan proposal” yang akan di verifikasi terdapat isi proposal dari masing-masing usulan kegiatan SKPD Kabupaten/Kota yang terdiri dari nama SKPD, nomor registrasi proposal, sub sektor/komoditas, total anggaran, narasi e-proposal, kegiatan dan anggaran yang diusulkan, penerima manfaat, penilaian proposal, dukungan APBD Kabupaten/Kota, dukungan APBD Provinsi, kesimpulan verifikasi Provinsi, catatan dan tombol kirim ke pusat.

24) Wajib mengisi form/lembar verifikasi penilaian proposal untuk setiap usulan kegiatan dari SKPD Kabupaten/Kota. Penilaian proposal ini mencakup indikator kriteria, pengukuran indikator dalam satuan unit analisis masing- masing Kabupaten/Kota, satuan indikator, data, satuan data dan nilai. Proses penilaian ini akan dibahas lebih lanjut pada Bab IV.

25) Setelah pengisian lembar penilaian, setiap SKPD Provinsi dapat mengisi besarnya dukungan pembiayaan APBD Provinsi.

data atau

meng-edit

atau

menghapus

seluruh

isian,

76

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

26) Wajib mengisi kesimpulan verifikasi Provinsi apakah layak diusulkan ke pusat, tidak layak diusulkan ke pusat, belum dinilai atau kembalikan ke Kabupaten/Kota untuk direvisi. Hal ini penting untuk segera ditanggapi karena SKPD Kabupaten/Kota dapat memantau secara berkala proses verifikasi dan penilaian dari SKPD Provinsi sebelum diajukan ke pusat.

27) Mengisi catatan verifikasi yang berisi catatan-catatan berkaitan dengan pengajuan usulan kegiatan melalui e- proposal misalnya catatan: data kelompok tani sasaran yang diusulkan belum diisi, narasi proposal belum lengkap, database dari kabupaten/kota belum lengkap, justifikasi kenapa usulan kegiatan tidak layak diajukan ke pusat, justifikasi mengenai usulan kegiatan dikembalikan ke Kabupaten/Kota untuk direvisi dan lainnya. Catatan yang disampaikan oleh Tim verifikasi Provinsi ini sangat berguna bagi Tim Pusat untuk menjadi perhatian dalam melakukan penilaian e-Proposal.

28) Jika pada kesimpulan verifikasi provinsi sudah menyatakan layak untuk diusulkan kedaerah maka langkah terakhir adalah meng-klik tombol kirim ke pusat. SKPD Provinsi juga dapat mendowload form verifikasi provinsi dengan format excel.

Secara singkat dapat dijelaskan melalui Gambar 2 mengenai alur pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal untuk SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi.

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

77

Gambar 2. Alur perkebunan melalui e-proposal dari SKPD Provinsi pengajuan usulan kegiatan pembangunan B. Alur

Gambar 2.

Alur

perkebunan melalui e-proposal dari SKPD Provinsi

pengajuan

usulan

kegiatan

pembangunan

B. Alur Pengajuan e-Proposal untuk SKPD yang membidangi perkebunan di Kabupaten/Kota

Mekanisme pengajuan e-proposal tingkat SKPD Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut :

Memulai log in ke aplikasi e-proposal dengan user name dan password yang telah diberikan.

2) Mengisi atau mengentry data mengenai informasi/profile SKPD dan dapat merubah/meng-edit bagi data yang belum lengkap.

1)

3)

Mengisi atau melengkapi database umum/gambaran wilayah umum tingkat Provinsi.

4)

Mengisi atau melengkapi database spesifik teknis kecamatan perkebunan, teknis kecamatan PPHP-Bun dan teknis kecamatan PSP-Bun.

5) Wajib mengisi atau melengkapi narasi e-proposal yang meliputi tujuan, masalah, potensi kawasan, prospek

78

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

pengembangan, strategi, kegiatan prioritas, indikator kinerja dan analisis resiko. Pengisian narasi ini dapat dilakukan dengan cara men-copy paste dari dokumen word yaitu melalui ctrl c dan ctrl v.

6) Mengisi formulir usulan proposal dengan terlebih dahulu melengkapi pemilihan sub sektor, komoditas, status kegiatan, sumber kegiatan, pola pendanaan, dukungan APBD Kabupaten/Kota dan dukungan swasta.

7) Dapat mengisi pilihan kegiatan yang akan diusulkan sesuai dengan pemilihan sub sektor dan komoditas pada butir 6. Pengisian kegiatan ini mencakup kegiatan hulu (kegiatan Ditjen. Perkebunan), kegiatan hilir (kegiatan Ditjen. PPHP) dan kegiatan onfarm (kegiatan Ditjen. PSP).

8)

Setiap SKPD Kabupaten/Kota setelah mengisi pilihan kegiatan maka dapat melengkapinya dengan pilihan usulan sub kegiatan, volume/satuan dan harga satuan yang secara otomatis me-link ke items jumlah rupiah murni yang diusulkan.

9)

Dapat juga menambah usulan kegiatan lain seperti kegiatan hilir atau onfarm nya atau kegiatan hulu lainnya.

10) Wajib

mengisi

atau

Kabupaten/Kota.

melengkapi database spesifik level

11) Diwajibkan mengisi atau melengkapi formulir penerima manfaat baik penerima manfaat yang termasuk kelompok, penerima manfaat bukan kelompok atau penerima manfaat baru yang tidak terdaftar di aplikasi e-proposal sesuai dengan sasaran penerima manfaat kegiatan masing-masing karena jika tidak mengisi tahapan ini maka e-proposal yang diusulkan tidak bisa di ajukan ke provinsi dan tidak bisa mendapat nomor registrasi pengusulan kegiatan.

diperhatikan oleh SKPD

12) Hal-hal

Kabupaten/Kota dalam pengisian penerima manfaat sebagai berikut :

yang

perlu

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

79

a. Penerima manfaat yang termasuk kelompok adalah kelompok tani/gapoktan yang sudah terdaftar di Bakorluh/Bapeluh setempat di daerah.

b. Penerima manfaat bukan kelompok adalah penerima manfaat yang berasal dari UPT pusat/ SKPD Provinsi atau unit instansi/SKPD/balai dibawah eselon I yang bukan kelompok tani. Isi penerima manfaat (non kelompok) ini memuat nama penerima manfaat, lokasinya dan tindakan untuk meng-edit atau menghapus.

c. Untuk itu kelompok tani perkebunan yang baru atau yang berdiri sendiri atau yang belum terdaftar pada Bakorluh/Bapeluh maka harus meng-entry kelompok tani penerima manfaat dengan mengakses bidang yang ditangani “penyuluhan” selain bidang “perkebunan”pada bagian profile SKPD.

13) Mengisi penerima manfaat/kelompok tani/gapoktan yang tidak terdaftar dengan mengentry di aplikasi e-proposal pada kolom “entry gapoktan/poktan” dan dengan mengklik edit data maka akan memunculkan :

a. Daftar Gapoktan dalam 1 Kabupaten/Kota yang telah di verifikasi Bakorluh/Bapeluh. Daftar gapoktan ini terdiri nama kecamatan, nama desa, nama gapoktan, nomor registrasi gapoktan, nama ketua, tanggal pengukuhan, daftar poktan yang menjadi anggota gapoktan dan kolom untuk edit atau hapus data. Pada daftar poktan akan dilengkapi data mengenai nama poktan, nomor registrasi poktan, nama ketua dan jumlah anggota poktan. Pada bagian daftar poktan juga dilengkapi entry kelompok tani/poktan baru yang akan masuk kedalam gapoktan dengan mengisi :

- Nama KT dan ketua KT.

- Nomor SK pengukuhan.

- Jumlah anggota.

- Luas lahan total anggota kelompok.

80

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

- Jenis komoditas yang di usahakan.

- Nama penyuluh pembina, status penyuluh pembina, nomor Hp penyuluh dan email penyuluh.

- Nama BPP dan email BPP kecamatan.

- Bantuan yang pernah diterima 5 tahun terakhir (tahun, jenis bantuan dan nilai rupiah).

di

Bakorluh/Bapeluh.

dari :

- Nama kecamatan dan desa.

- Nama gapoktan dan ketuanya.

- Nomor SK pengukuhan dan tanggal pengukuhan.

- Alamat gapoktan.

- Jenis kegiatan gapoktan.

- Nama penyuluh pembina, status penyuluh pembina, nomor Hp penyuluh dan email penyuluh.

- Nama BPP dan email BPP kecamatan.

- Bantuan yang pernah diterima 5 tahun terakhir (tahun, jenis bantuan dan nilai rupiah).

kelompok tani/poktan yang berdiri

sendiri/non gapoktan yang tidak terdaftar di Bakorluh/ Bapeluh. Pengisian form entry poktan non gapoktan ini terdiri dari :

- Nama kecamatan dan desa.

- Nama poktan dan ketuanya.

- Nomor SK pengukuhan.

- Jumlah anggota dan luas lahan anggota kelompok.

- Jenis komoditas yang diusahakan.

- Nama penyuluh pembina, status penyuluh pembina, nomor Hp penyuluh dan email penyuluh.

- Nama BPP dan email BPP kecamatan.

Pengisian form gapoktan ini terdiri

b. Form

entry

gapoktan

yang

tidak

terdaftar

c. Form

entry

- Bantuan yang pernah diterima 5 tahun terakhir (tahun, jenis bantuan dan nilai rupiah).

14) Harus meng-upload file pendukung usulan kegiatan seperti RAB kegiatan, peta potensi, gambar pengembangan, manual proposal, noreg penetapan kelompok tani/SK pengukuhan dll)

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

81

dengan format pdf, word, excel, power point, jpeg dan dibatasi size/ukuran total file yang di upload adalah 1 MB.

15) Kelompok tani yang sudah terdaftar di aplikasi e-proposal sebagai penerima manfaat termasuk kelompok harus meng- klik “tambahkan ke penerima manfaat” untuk selanjutnya wajib mengisi koordinat lokasi kegiatan pada bagian ‘tindakan”. Koordinat ini harus tepat karena akan menentukan monitoring evaluasi di lapangan, menghindari dari daerah pengembangan yang palsu dan akan me-link ke aplikasi SIKP yang berbasis kecamatan.

16) Setelah pengisian penerima manfaat yang termasuk kelompok, maka otomatis pada isi penerima manfaat akan ditandai dengan munculnya tanda “√” berwarna hijau yang membuktikan kelompok tani sudah terisi dan usulan kegiatan tersebut siap diajukan ke Provinsi.

17) Selanjutnya diharuskan mengajukan usulan proposal kegiatan ke SKPD yang membidangi perkebunan di Provinsi untuk dilakukan verifikasi penilaian. Pengajuan usulan kegiatan akan tertera pada kolom “ajukan ke provinsi”.

18) Wajib melihat perkembangan verifikasi dan penilaian di tingkat provinsi dan pusat dengan melihat kolom “status” secara berkala.

19) Sebagai bukti sah/otentik dan sebagai persyaratan administratif, setiap SKPD Kabupaten/Kota wajib mencetak lembar pengesahan pengusulan kegiatan yang dilengkapi dengan nomer registrasi e-proposal dan ditandatangani oleh kepala SKPD Kabupaten/Kota untuk selanjutnya dikirimkan ke Pusat (Ditjen. Perkebunan) melalui :

Bagian Perencanaan, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkebunan Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jalan Harsono RM No.3 Gedung C, Ragunan-Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12550 Telp : (021) 7815380-4, Fax : (021) 7815486-7815586 Situs web : http://ditjenbun.pertanian.go.id

Email

: perencanaanditjenbun@gmail.com

82

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

data atau

informasi dari beberapa tahap pengusulan kegiatan seperti yang dijelaskan pada butir sebelumnya pada kolom “tindakan”.

21) Dapat mengusulkan kegiatan DAK bidang perkebunan untuk tahun perencanaan 2015 dan tahun-tahun mendatang pada

20) Dapat

meng-edit

atau

menghapus

seluruh

isian,

kolom entry

DAK yang akan diatur kemudian.

DAK dengan

mekanisme pengusulan

kegiatan

Secara singkat dapat dijelaskan melalui Gambar 3 mengenai alur pengajuan usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e-proposal dari SKPD Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan.

dari SKPD Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan. Gambar 3. Alur pengajuan usulan kegiatan pembangunan SKPD

Gambar 3. Alur pengajuan usulan kegiatan pembangunan

SKPD

perkebunan

Kabupaten/Kota

melalui

e-proposal

dari

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

83

3.5.

Bagan Proses Pengajuan Usulan Kegiatan Melalui e-proposal

Usulan kegiatan pembangunan perkebunan melalui e- proposal diajukan oleh pengusul kegiatan yang berasal dari SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan. Berikut ini adalah bagan proses pengajuan usulan kegiatan tersebut baik dari SKPD Provinsi maupun SKPD Kabupaten/Kota.

3.5.1. Bagan

Proses

SKPD Provinsi

Pengajuan

e-proposal

sebagai

Admin

Tahap 1. Klik alamat situs web app1.pertanian.go.id/ eproposal2015_beta2/ maka akan muncul screen seperti dibawah ini, kemudian masukkan user name dan password SKPD Provinsi dan klik login.

user name dan password SKPD Provinsi dan klik login . 84 Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan

84

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

Tahap 2. Akan muncul prakata mengenai e-proposal seperti pada gambar berikut. Lalu memulai pengusulan kegiatan dengan meng- klik “entry proposal”.

Klik “entry proposal” Bisa ubah password
Klik “entry proposal”
Bisa ubah password

Tahap 3. Mengisi atau memperbaharui mengenai informasi/profil SKPD provinsi lalu klik simpan.

Isi/perbaharui profil SKPD Klik bidang “perkebunan” untuk mengusulkan kegiatan perkebunan Klik “penyuluhan”
Isi/perbaharui profil SKPD
Klik bidang “perkebunan”
untuk mengusulkan
kegiatan perkebunan
Klik “penyuluhan” untuk
melihat daftar
Gapoktan dan poktan
non Gapoktan
Isi form ini lalu klik “Simpan Data”

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

85

Catatan dengan memilih bidang yang ditangani “penyuluhan” selain bidang “perkebunan” maka :

1. SKPD Provinsi dapat melihat daftar Gapoktan dan Poktan per Kabupaten/Kota yang telah diverifikasi oleh Bakorluh/Bapeluh.

2. SKPD Provinsi dapat juga melihat daftar kelompok tani/poktan non Gapoktan.

Tahap 4. Akan muncul “entry Gapoktan/Poktan” lalu untuk melihat Gapoktan/Poktan dengan meng-klik “edit/koreksi data”.

Akan muncul “entry Gapoktan/Poktan”
Akan muncul “entry
Gapoktan/Poktan”

86

Pedoman Perencanaan Pengajuan Usulan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Melalui e-Proposal

Tahap 5