Anda di halaman 1dari 14

KELOMPOK 17, PATOLOGI MENYUSUI

2014
RANGKUMAN MATERI
LAKTASI DAN
PATOLOGI MENYUSUI
[Type the document subtitle]
Claudia tuanakkota, Eka darmayanti widodo,Inggriht senny
bondang, Mareike elisabeth murib, Oktaviana M.iriani, Umma
suweni.
I N G G R I H T S E N N Y B O N D A N G

I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 2
LAKTASI
Perkembangan Payudara
Perkembangan payudara distimulasi oleh estrogen yang berasal dari siklus
seksual wanita bulanan, estrogen merangsang pertumbuhan kelenjar mammaria
payudara ditambah dengan deposit lemak untuk memberi massa payudara. Selain
itu, pertumbuhan yang jauh lebih besar terjadi selama keadaan kadar estrogen
yang tinggi pada kehamilan, dan kemudian hanya jaringan kelenjar saja yang
berkembang sempurna untuk pembentukan air susu.
Pertumbuhan Sistem Duktus-Peranan Estrogen
Selama kehamilan, sejumlah besar Estrogen disekresikan oleh plasenta
sehingga sistem duktus payudara tumbuh dan bercabang. Secara bersamaan,
stroma payudara juga bertambah besar dan sejumlah besar lemak terdapat
didalam stroma.
Sedikitnya terdapat 4 hormon lain yang juga penting untuk pertumbuhan
sistem duktus: hormon pertumbuhan, prolaktin, glukokortikoid adrenal, dan
insulin. Masing-masing hormon ini diketahui memainkan paling sedikit beberapa
peranan dalam metabolisme protein, yang menjelaskan fungsi hormon-hormon
tersebut dalam perkembangan kelenjar payudara.
Perkembangan Sistem Lobulus dan Alveolus-Peranan Progesteron
Perkembangan akhir payudara menjadi organ yang menyekresi air susu
juga memerlukan progesteron. Sekali sistem duktus telah berkembang,
Progesteron (bekerja secara sinergis dengan Estrogen, juga dengan semua
hormon-hormon lain yang baru saja disebutkan diatas) menyebabkan
pertumbuhan lobulus payudara, dengan pertunasan alveolus (sel-sel alveolus

I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 3
berproliferasi), dan perkembangan sifat-sifat sekresi dari sel-sel alveoli.
Perubahan-perubahan ini analog dengan efek sekresi progesteron pada
endometrium uterus selama pertengahan akhir siklus seksual wanita.
Permulaan Laktasi-Fungsi Prolaktin
Estrogen dan progesteron selain berperan dalam perkembangan fisik
kelenjar payudara selama kehamilan juga memiliki pengaruh khusus yaitu untuk
mencegah sekresi sesungguhnya dari air susu. Sebaliknya, hormon prolaktin
mempunyai efek yang berlawanan pada sekresi air susu yaitu meningkatkan
sekresi air susu. Prolaktin disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior ibu, dan
konsentrasinya dalam darah ibu meningkat secara tetap dari minggu kelima
kehamilan sampai kelahiran bayi, di mana pada saat ini meningkat 10 sampai 20
kali dari kadar normal saat tidak hamil.
Selain itu, plasenta menyekresi sejumlah besar human chorionic
somatomammotropin, yang mugkin mempunyai sifat laktogenik, jadi menyokong
prolaktin dari hipofisis ibu selama kehamilan. Walaupun begitu, karena efek
supresi dari estrogen dan progesteron, hanya beberapa mililiter cairan saja yang
disekresikan setiap hari sampai bayi dilahirkan. Cairan yang disekresi selama
beberapa hari terakhir sebelum dan beberapa hari pertama setelah kelahiran
disebut Kolostrum.
Setelah kelahiran bayi, kadar basal sekresi prolaktin kembali ke kadar
sewaktu tidak hamil. Akan tetapi, setiap kali ibu menyusui bayinya, sinyal saraf
dari puting susu ke hipotalamus akan menyebabkan lonjakan sekresi prolaktin
sebesar 10 sampai 20 kali lipat yang berlangsung kira-kira 1 jam. Prolaktin ini
bekerja pada payudara ibu untuk mempertahankan kelenjar mammaria agar
menyekresikan air susu ke dalam alveoli untuk periode laktasi berikutnya. Bila
lonjakan prolaktin ini tidak ada atau dihambat akrena kerusakan hipotalamus

I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 4
atau hipofisis, atau bila laktasi dilakukan terus menerus payudara akan
kehilangan kemampuannya untuk memproduksi Air susu dalam waktu 1 minggu
atau lebih. Akan tetapi produksi air susu dapat berlangsung terus selama
beberapa tahun bila anak terus mengisap, walaupun kecepatan pembentukan air
susu normalnya berkurang sangat banyak setelah 7 sampai 9 bulan.
Pengaturan Sekresi Prolaktin oeh Hipothalamus
Hipotalamus memegang peranan penting dalam mengatur sekresi prolaktin,
seperti peran hipotalamus pada hampir semua hormon hormon hipofisis anterior
lainnya. Akan tetapi, pengaturan ini berbeda pada satu aspek: Hipotalamus
terutama merangsang pembentukan semua hormon yang lain, tetapi terutama
menghambat pembentukan prolaktin. Akibatnya kerusakan pada hipotalamus atau
penghambat pada sistem portal hipotalamus-hipofisis sering akan meningkatkan
pembentukan prolaktin tetapi menekan sekresi hormon-hormon hipofisis lainnya.
Oleh karena itu , diyakini bahwa sekresi prolaktin oleh hipofisis anterior
diatur secara keseluruhan oleh sebuah faktor penghambat yang dibentuk didalam
hipotalamus dan ditranspor kehipofisis anterior melalui sistem portal
hipotalamus-hipofisis. Faktor ini disebut hormon penghambat prolaktin. Hampir
dapat dipastikan bahwa hormon ini sama dengan Dopamin Ketekolamin, yang
diketahui disekresi oleh saraf arkuatus dari hipotalamus dan dapat menurukan
sekresi prolaktin sebanyak 10 kali lipat.
Supresi siklus seksual Ovarium Wanita Selama Penyapihan Beberapa Bulan
Setelah Kelahiran
Pada sebagian besar ibu yang menyusui, siklus ovarium (dan ovulasi) tidak
kembali seperti semula sampai beberapa minggu setelah laktasi bayi dihentikan.
Keadaan ini kelihatannya adalah karena sinyal-sinyal saraf yang sama dari
payudara ke hipotalamus menyebabkan sekresi prolaktin selama pengisapan (baik

I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 5
karena sinyal-sinyal saraf sendiri atau karena efek peningkatan prolaktin)
menghambat sekresi hormon-hormon pelepasan Gonadotropin oleh hipotalamus.
Hal ini selanjutnya menekan pembentukan hormon-hormon gonadotropik
hipofisis-hormon lutein, dan hormon perangsang folikel. Namun setelah beberapa
bulan menyusui, pada beberapa ibu, khususnya pada ibu yang menyusui bayinya
hanya sementara waktu, hipofisis mulai lagi menyekresikan hormon-hormon
gonadotropik secukupnya untuk mengembalikan siklus seksual bulanan, walauoun
masa menyusui dilanjutkan.
Proses Ejeksi (atau Let-Down) dalam Sekresi Air Susu Fungsi Prolaktin
Air susu secara kontinu disekresikan ke dalam alveoli payudara, tetapi air
susu tidak dapat mengalir dengan mudah dari alveoli ke dalam sistem duktus dan,
oleh karena itu, tidak menetes secara kontinu dari puting susu. Sebaliknya air
susu harus diejeksikan dari alveoli ke dalam duktus sebelum bayi dapat
memperolehnya. Proses ini disebabkan oleh gabungan reflek neurogenik dan
hormonal yang melibatkan hormon hipofisis posterior, oksitosin, sebagai berikut.
Ketika bayi mengisap, bayi sebenarnya tidak menerima susu untuk
setengah menit pertama kemudian. Impuls sensorik pertama harus
ditransmisikan melalui saraf somatik dari puting susu ke medula spinalis ibu dan
kemudian kehipotalamus ibu, yang menyebabkan sinyal saraf yang membantu
sekresi oksitosin pada saat yang bersamaan ketika hipotalamus menyekresikan
prolaktin. Oksitosin kemudian dibawah dalam darah ke kelenjar payudara, tempat
oksitosin menyebabkan sel-sel mioepitel (yang mengelilingi dinding luar alveoli)
berkontraksi, dengan demikian mengalirkan air susudari alveoli ke dalam duktus
pada tekanan +10 sampai 20 mmHg. Kemudian isapan bayi menjadi efektif dalam
mengalirkan airsusu. Jadi , dalam waktu 30 detik sampai 1 menit setelah bayi

I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 6
mengisap payudara, air susu mulai mengalir. Proses ini disebut ejeksi air susu
atau pengaliran (let-down) air susu.
Pengisapan pada satu kelenjar payudara tidak hanya menyebabkan aliran
susu pada kelenjar payudara yang lain. Yang cukup menarik ialah bahwa dengan
membelai bayioleh ibu atau mendengar bayi menangis memberi cukup sinyal
kehipotalamus ibu untuk menyebabkan pengaliran air susu.
Penghambatan Ejeksi Air Susu
Masalah khusus dalam menyusui bayi datang dari kenyataan bahwa banyak
faktor psikogenik atau bahkan perangsangan sistem saraf simpatis umum
diseluruh tubuh ibu dapat menghambat sekresi oksitosin dan akibatnya menekan
ejeksi air susu. Karena alasan ini, masa puerpurium ibu tidak boleh tergannggu
jika ibu berhasil menyusui bayinya.
Kontaindikasi Menyusui
Menyusui dikontraindikasikan pada wanita hamil, dengan kondisi-kondisi
sebagai berikut :
1. Wanita yang menggunakan narkoba atau tidak mengontrol konsumsi
alkoholnya.
2. Mempunyai bayi dengan galaktosemia.
3. Terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV).
4. Menderita TBC aktif yang tidak diobati.
5. Menjalani pengobatan kanker payudara.




I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 7
Obat-obatan yang Disekresikan ke Dalam ASI






I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 8
PATOLOGI MENYUSUI
Masalah menyusui yang sering terjadi antara lain :
1. Payudara Bengkak (engorgement)
2. Kelainan Puting
3. Nyeri Puting (sore nipple) dan Puting Lecet (cracked nipple)
4. Sumbatan saluran susu (obtructive duct)
5. Radang Payudara (mastitis), dan
6. Abses Payudara.
1.Payudara Bengkak
Payudara terasa lebih penuh, tegang dan nyeri. Pembengkakan terjadi pada
hari ke-3 dan ke-4 pascasalin akibat bendungan vena dan pembuluh getah bening.
Bendungan vena dan pembuluh getah bening terjadi akibat payudara yang terisi
penuh dengan ASI. Kesemuanya ini merupakan tanda bahwa ASI mulai banyak
disekresi, tetapi pengalirannya belum lancar.
Bila ibu tidak mau menyusui karena merasa nyeri, pembengkakan akan
terus berlanjut. ASI yang disekresi akan terus menumpuk, sehingga payudara
bertambah tegang, gelanggang susu menonjol dan puting mendatar. Bayi menjadi
sulit menyusu.
Pada saat ini payudara tampak lebih merah mengkilat. Ibu mengalami
demam dan nyeri berat payudara.
Pencegahan
a) Ibu hendaknya menyusui dini, sesegera mungkin (selama 30 menit) setelah
bayi dilahirkan.
b) Bayi disusui tanpa dijadwal (atas permintaan).

I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 9
c) ASI dikeluarkan dengan tangan atau pompa bila produksinya melebihi
kebutuhan bayi.
d) Payudara pasca salin senantiasa dirawat.

Pengobatan
a) Payudara dikompres hangat agar menjadi lebih lembek.
b) ASI dikeluarkan sedikit sebelum menyusui agar puting lebih mudah
ditangkap dan diisap oleh bayi.
c) Sisa ASI dikeluarkan sesudah bayi kenyang.
d) Payudara juga dikompres dingin untuk mengurangi rasa sakit.
e) Payudara diurut (masase) untuk mengurangi stasis divena dan pembuluh
getah bening, mulai dari puting ke arah korpus.

2. Kelainan Puting
Kelainan puting hendaknya ditemukan lebih dini, yakni pada saat
pemeriksaan kehamilan, agar segera dapat dikoreksi sebelum menyusui.
Kelainan puting yang mengganggu proses menyusui antara lain:
a) Puting susu datar.
b) Puting susu tenggelam (inverted).
Penanggulangan
Puting datar dan tenggelam dapat diperbaiki dengan perasat Hoffman,
yaitu dengan meletakkan kedua jari telunjuk atau ibu jari di daerah gelanggang
susu, lalu gelanggang susu diurut kearah berlawanan. Pada true inverted nipple,
perasat Hoffman tidak dapat memperbaiki keadaan dan tindakan operatif harus
dilakukan. Pada keadaan ini, ASI harus dikeluarkan secara manual atau dengan
pompa susu dan diberikan kepada bayi dengan sendok, gelas atau pipet.



I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 10
3. Puting Nyeri (sore nipple) dan Puting Lecet (cracked nipple).
Nyeri puting susu terjadi karena kesalahan posisi bayi saat menyusui,
yakni bayi hanya mengisap puting susu karena puting tidak masuk kedalam mulut
bayi sampai gelanggang susu bayi. Tekanan terus menerus hanya pada tempat
tertentu akan membuat puting nyeri ketika diisap, meski kulitnya masih utuh.
Sebab lain yang dapat membuat puting nyeri adalah penggunaan sabun,
cairan, krim, alkohol, dll, untuk membersihkan puting susu sehingga terjadi
iritasi. Iritasi puting juga dapat terjadi pada bayi dengan tali lidah (frenulum
linguae) yang pendek, sehingga bayi tidak dapat mengisap sampai gelanggang susu
dan lidahnya menggeser keputing.

Penanggulangan
Teknik menyusui yang benar hendaknya disampaikan kepada ibu, khususnya
mengenai letak puting dalam mulut bayi:
a) Bibir bayi menutup areola sehingga tidak tampak.
b) Puting ditempatkan diatas lidah bayi.
c) Areola ditempatkan diantara gusi atas dan bawah.
Puting yang nyeri lama-lama luka/lecet bila terus disusukan. Cara
mencegahnya antara lain:
a) Tidak membersihkan puting susu dengan sabun, alkohol, cairan, krim, atau
obat-obatan iritan lainnya.
b) Untuk melepaskan isapan bayi setelah menyusui, dagu bayi ditekan atau
hidung dipijat atau jari kelingking ibu yang bersih dimasukkan kedalam
mulut bayi.
c) Ibu dianjurkan tetap menyusui bayinya mulai dari puting yang tidak sakit,
sambil menghindari tekanan lokal pada puting dengan mengubah-ubah
posisi menyusui. Frekuensi dan lama menyusui diputing yang sakit
dikurangi.

I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 11
Apabila dengan tindakan tersebut di atas, puting tetap nyeri, sebaiknya dicari
sebab-sebab lain (misalnya Moniliasis). Puting susu lecet/luka akan memudahkan
payudara terinfeksi (Mastitis).
4. Saluran Susu Tersumbat (obstructive duct)
Sumbatan saluran susu disebabkan oleh tekanan yang terus menerus.
Tekanan dapat berasal dari pemakaian BH yang terlalu ketat, tekanan jari pada
tempat yang sama setiap kali menyusui atau kelanjutan dari payudara bengkak.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memakai BH dengan ukuran yang
memadai dan mampu menopang payudara dengan baik, pengurutan payudara yang
teratur dan teknik menyusui yang baik.
Pengobatan dilakukan dengan memberi kompres hangat payudara sebelum
menyusui, pengurutan payudara, pengeluaran sisa ASI setelah menyusui dan
kompres dingin usai menyusui untuk mengurangi nyeri.
Bila tidak ditangani dengan baik, saluran susu yang dapat menjadi mastitis
(radang payudara).
5. Radang Payudara (mastitis)
Penyebab utama terjadinya mastitis antra lain :
Produksi Asi yang tidak dikeluarkan akibat berbagai sebab antara lain
Obstruksi duktus,
Frekuensi dan lamanya pemberian Asi yang kurang,
Isapan bayi yang tidak kuat
Produksi Asi yang berlebih
Rasa sakit pada waktu menyusui

I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 12
Asi yang tidak keluarkan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya
bakteri. Thomsen (1984) menghitung leukosit dan jumlah bakteri dari Asi yang
dikeluarkan dari penderita mastitis dan mengklasifikasi mastitis menjadi tiga
kelompok.
1. Asi yang tidak keluar, didapatkan <10
6
leukosit dan <10
3
bakteri, akan
menjadi baik hanya dengan pengeluaran Asi.
2. Inflamasi non infeksi (non-infectious mastitis), didapatkan >10
6

leukosit dan <10
3
bakteri, diterapi dengan sesering mungkin
pengeluaran Asi.
3. Infectious mastitis, didapatkan >10
6
leukosit dan >10
3
bakteri, diterapi
dengan pengeluaran Asi dan Antibiotik sistemik
Proses infeksi payudara menimbulkan pembengkakan lokal atau seluruh
payudara, merah dan nyeri. Peradangan mengenai stroma payudara yang terdiri
dari jaringan ikat, lemak, pembuluh darah dan getah bening. Biasanya terjadi
pada minggu kedua. Ibu mengalami demam umum seperti influenza.
Mastitis biasanya didahului puting lecet, payudara bengkak atau sumbatan
saluran susu. Anemia, gizi buruk, kelelahan dan stress juga merupakan faktor
predisposisi.
Penanggulangan:
a) Ibu harus tetap menusui agar payudara kosong.
b) Kompres hangat dan dingin seperti pada payudara bengkak.
c) Posisi menyusui diperbaiki, terutama bila puting lecet.
d) Istirahat cukup dan makan makanan yang bergizi.
e) Minum sekitar 2 liter perhari.
f) Antibiotik. Indikasi pemberiannya bila disertai luka pada puting, gejala
tidak membaik walaupun ASI telah dikeluarkan, gejala yang sudah berat,

I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 13
kultur dan jumlah bakteri dari ASI menunjukkan infeksi. Pemberian
antibiotik selama 10-14 hri. Beberapa penulis menganjurkan pemberian
antibiotik pada bayi dan ibunya bila dari pemeriksaan ASI didapatkan
kuman.
Dicloxacillin 500 mg oral empat kali sehari, dapat dimulai secara
empiris;Eritromisin diberikan kepada wanita yang sensitif trhadap
penisilin.
jika infeksi disebabkan oleh stafilokokus penghasil penisilinase yang
resisten, atau dicurigai terdapatnya organisme yang resisten ketika
menunggu hasil kultur, maka vancomycin atau anti mikroba anti-MRSA
lainnya harus diberikan. Walaupun respons klinis cepat terlihat, namun
terapi harus dilanjutkan selama 10-14 hari.
g) Analgesik

6. Abses Payudara
Dicurigai Abses jika penurunan demam tidak terjadi dalam 48 sampai 72
jam setelah terapi mastitis, atau teraba massa.
Berbeda dengan mastitis, pada abses payudara :
a) Infeksi mengenai jaringan parenkim dan bernanah banyak.
b) Payudara yang sakit tidak boleh disusukan, sedangkan payudara yang sehat
tetap disusukan.
c) Merupakan komplikasi dari mastitis.
d) Ditangani dengan antibiotik dan analgetik
e) Bila perlu, abses diinsisi.
Payudara yang sakit sementara tidak disusukan, ASI tetap dikeluarkan
manual atau dengan pompa agar produksi ASI tetap baik. Dalam beberapa hari
dapat disusukan kembali.

I n g g r i h t s e n n y b o n d a n g

Page 14