Anda di halaman 1dari 9

2014

MK : Pengelolaan dan Pemetaan


Daerah Penangkapan Ikan

Nora Akbarsyah / C451130061

[PEMETAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN TUNA MATA
BESAR (BIG EYE TUNA) DI PERAIRAN SELATAN JAWA]
Dosen Pengampu : Dr Mustaruddin, Teknologi Perikanan Laut, FPIK, IPB
Pemetaan Daerah Penangkapan Ikan Tuna Mata Besar (Big Eye
Tuna) di Perairan Selatan Jawa
1

Nora Akbarsyah
2

Ikan Tuna Mata Besar, merupakan salah satu ikan yang mempunyai
nilai ekonomis yang tinggi. Usaha penangkapan ikan Tuna merupakan tulang
punggung industri atau perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan dan
ekspor Tuna. Maka dari itu, industri tuna sangat di pengaruhi oleh ketersediaan
atau kelimpahan sumberdaya di perairan. Penyebaran ikan Tuna yang melimpah
di perairan Indonesia terdapat di Samudera Hindia (Nattasya, 2013).
Menurut Faizah (2010), kelimpahan ikan Tuna Mata Besar di Samudera
Hindia pada tahun 1980 hingga awal 1990-an mengalami peningkatan mulai dari
40.000 ton sampai dengan 100.000 ton. Puncak hasil tangkapan Tuna Mata Besar
yang paling tinggi adalah pada tahun 1997 sampai tahun 1999, yaitu sekitar
140.000 sampai dengan 150.000 ton. Produksi ikan tersebut menurun hingga
96.200 121.700 ton pada tahun 2003 sampai tahun 2007.
Hasil tangkapan ikan Tuna Mata Biru yang di daratkan di pelabuhan
Benoa pada tahun 2011 hanya sebesar 6.326,78 ton, sedangkan tahun sebelumnya
adalah sebesar 7.964,20 ton. Dengan memperhatikan kelimpahan sumberdaya
yang semakin sedikit ada di alam, maka jarak lokasi penangkapan ikan Tuna Mata
Besar pun semakin jauh dan tidak menentu. Begitupun dengan waktu yang
dibutuhkan untuk mendapatkan ikan hasil tangkapan yang semakin kesini
semakin lama karena tidak ada nya kepastian keberadaan ikan di tempat
penangkapan (fishing ground). Hal ini akan membuat masalah dalam dunia
industri Tuna, baik pada nelayan atau pengusaha penangkapan, pengolahan serta
ekspor ikan Tuna Mata Besar.

1
Tugas terstruktur MK : Pengelolaan dan Pemetaan Daerah Penangkapan Ikan
2
Mahasiswa Teknologi Perikanan Laut, FPIK, IPB
Untuk menghadapi kesulitan dalam mencari ikan tangkapan, maka para
ahli membuat suatu terobosan baru dalam dunia penangkapan. Melalui beberapa
pendekatan fenomena alam dan indikator indikator yang didasarkan dari hasil
hasil penelitian tentang habitat dan lingkungan yang biasanya di tempati oleh ikan
tertentu maka di buatlah peta daerah penangkapan ikan. Hal ini untuk
memudahkan para pengusaha penangkapan dalam memperoleh hasil tangkapan
sehingga dapat mengefisienkan waktu dan biaya yang harus dikeluarkan untuk
satu kali trip penangkapan.
Peta Daerah Penangkapan
Peta daerah penangkapan di buat sedemikian rupa untuk memprediksi
keberadaan ikan dengan memperhatikan faktor faktor yang terkait dengan
habitat dan tingkah laku ikan yang dijadikan target tangkapan. Adanya peta
daerah penangkapan ini mempermudah para pengusaha penangkapan ikan untuk
memperoleh ikan target. Para penangkap ikan juga dapat mengefisienkan biaya
yang harus di keluarkan dan waktu yang harus dihabiskan dalam satu kali
penangkapan.
Dewasa ini, dalam pembuatan peta daerah penangkapan hal hal yang
perlu di perhatikan adalah parameter parameter perairan yang biasanya
menjadi habitat ikan. Untuk ikan Tuna Mata Besar biasanya tertangkap pada
kisaran suhu air antara 13
0
C sampai 29
0
C (Faizah, 2010), kemudian menurut
Bahtiar et al., ( 2013) kisaran suhu nya adalah 8,4
0
C sampai 15,5
0
C. Kedalaman
sekitar 194 470 m, dan pada pukul 13.00 18.00.
Penelitian dari Bahtiar et al. (2013) menunjukkan bahwa Tuna Mata
Besar di biasanya tertangkap di perairan selatan pulau jawa (Gambar 1).

Gambar 1. Daerah sebaran ikan Tuna Mata Besar (Bahtiar et al, 2013)
Peta DPI akan semakin akurat apabila data tentang ikan target tangkapan
semakin lengkap. Penelitian sebelumnya tentang kebiasaan makan dari ikan Tuna
Mata Besar adalah pukul 13.00 sampai 18.00 (Grafik 1) bisa dijadikan acuan
dalam waktu penangkapan.

Grafik 1. Waktu makan tuna mata besar (Bahtiar et al, 2013)
Adapun selain memakai data data suhu dan tingkah laku ikan, pendugaan
daerah penangkapan ikan juga bisa di peroleh dari data data tempat
penangkapan ikan terdahulu (kebiasaan tempat penangkapan). Menurut Riswanto
(2012) konsentrasi Tuna Mata Besar di Samudera Hindia ada pada koordinat 13
0

LS dan di sepanjang jalur 30
0
LS. Dibawah ini adalah pemetaan komposisi hasil
tangkapan Ikan Tuna Mata Besar di Samudera Hindia.

Gambar2. komposisi hasil tangkapan Ikan Tuna Mata Besar di Samudera
Hindia (Sugama, 2008)
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (2001) mengungkapkan bahwa
penyebaran ikan Tuna Mata Besar bersifat epipelagis dan meso pelagis pada
perairan oseanik, sebaran pada perairan tropis dan sub tropis. Ikan ini biasanya
terkonsentrasi pada lapisan termoklin atau terdapat pada lapisan air dari
permukaan sampai dengan kedalaman 250 m.
Faktor faktor seperti kedalaman perairan, suhu, kebiasaan waktu
makan inilah yang dapat digunakan sebagai parameter dalam pembuatan peta
daerah penangkapan ikan. Adapun peta daerah penangkapan ikan yang telah
berkembang adalah PELIKAN TUNA (Peta Lokasi Penangkapan Ikan Tuna Mata
Besar) . PELIKAN TUNA di kembangkan oleh tim peneliti dari BPOL yang
bertugas untuk melakukan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya laut, dengan
memanfaatkan teknologi penginderan jauh serta data dinamika laut. Peta ini
dibuat secara semi otomatis. Informasi spasial yang diberikan tidak hanya berupa
titik koordinat saja tetapi dilengkapi dengan estimasi jumlah stok yang tersedia di
tempat tersebut dalam bentuk hook rate (Nattasya, 2013). Pelikan Tuna untuk
prediksi 4 hari kedepan disajikan di lampiran. Peta peta tersebut dapat di akses
dan di download pada website dari balai penelitian dan observasi laut (
http://bpol.litbang.kkp.go.id/pelikan-tuna) . Peta ini merupakan hasil
penggabungan dari beberapa parameter oseanografi seperti SPL (Suhu Pemukaan
Laut), Klorofil-a, Angin, data kedalaman perairan, dsb.

Daftar Pustaka
Bahtiar, A., Abram, B., Dian, N. 2013. Taktik Penangkapan Tuna Mata Besar
(Thunnus obesus) di Samudera Hindia Berdasarkan Data Hook
Timer dan Mini Logger. Jurnal. Lit. Perikan. Ind. Vol. 19 No. 1 Maret
2013 : 47-53.
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. 2010. Rencana Strategis Direktorat
Jenderal Perikanan Tangkap. Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Jakarta (ID)
Faizah, R. 2010. Biologi Reproduksi Ikan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)
di Perairan Samedera Hindia. [Tesis]. Bogor (ID). Institut Pertanian
Bogor.
Nattasya, G. 2013. Pelikan Tuna, Jabarkan Lokasi Penangkapan Tuna di
Selatan Samudera Hindia
.http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2013/01/03/ pelikan-tuna-
jabarkan-lokasi-penangkapan-tuna-di-selatan-samudera-hindia-
516123.html. Di Unduh 2014 Juni 11; Bogor, Indonesia.
Peta daerah Penangkapan. 2014. http://bpol.litbang.kkp.go.id/pelikan-tuna . Di
Unduh 2014 Juni 12; Bogor, Indonesia.
Riswanto, S. 2012. Status Perikanan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus,
Lowe 1839) di PErairan Samudera Hindia, Selatan Pelabuhan Ratu,
Sukabumi. [Tesis]. Depok (ID). Universitas Indonesia.
Sugama, K. 2008. Perikanan Tuna, Penangkapan, dan Budidaya. Direktorat
Jenderal Perikanan Tangkap. Kementerian Kelautan Perikanan. Jakarta
(ID).
Lampiran 1. Pelikan Tuna

Gambar 3. Pelikan untuk tanggal 11 Juni 2014

Gambar 4. Pelikan untuk tanggal 12 Juni 2014

Gambar 5. Pelikan untuk tanggal 13 Juni 2014

Gambar 6. Pelikan untuk tanggal 14 Juni 2014

Gambar 7. Pelikan untuk tanggal 15 Juni 2014