Anda di halaman 1dari 2

Pedoman Penilaian Kasus-kasus Pelanggaran Etika Kedokteran

Etik lebih mengandalkan itikad baik dan keadaan moral para pelakunya dan untuk
mengukur hal ini tidaklah mudah. Karena itu, timbul kesulitan dalam menilai pelanggaran
etik, selama pelanggaran itu tidak merupakan kasus-kasus pelanggaran hukum. Dalam
menilai kasus pelanggaran etika kedokteran, MKEK berpedoman pada:
1. Pancasila
2. Prinsip-prinsip dasar moral umumnya
3. Ciri dan hakikat pekerjaan profesi
4. LSDI
5. Tradisi luhur kedokteran
6. KODEKI
7. Hukum kesehatan terkait
8. Hak dan kewajiban dokter
9. Hak dan kewajiban pasien
10. Pendapat rata-rata masyarakat kedokteran
11. Pendapat pakar-pakar dan praktisi kedokteran yang senior

Bentuk-bentuk Sanksi
Sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran etika kedokteran berhantung pada berat
ringannya pelanggaran etik tersebut. Yang terbaik tentulah upaya pencegahan pelanggaran
etik, yaitu dengan cara terus menerus memberiksn penyuluhan kepada anggota IDI, tentang
etika kedokteran dan hukum kesehatan. Namun, jika terjadi pelanggaran, sanksi yang
diberikan hendaknya bersifat mendidik sehingga pelanggaran yang sama tidak terjadi lagi di
masa depan dan sanksi tersebut menjadi pelajaran bagi dokter lain. Bentuk sanksi
pelanggaran etik dapat berupa:
1. Teguran atau tuntunan secara lisan atau tulisan
2. Penundaan kenaikan gaji atau pangkat
3. Penurunan gaji atau pangkat setingkat lebih rendah
4. Dicabut izin praktik dokter untuk sementara atau selama-lamanya
5. Pada kasus-kasus pelanggaran etikolegal diberikan hukuman sesuai peraturan
kepegawaian yang berlaku dan diproses ke pengadilan.
Jusuf Hanifah, M. 2008. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, Edisi 4. Jakarta:
EGC.