Anda di halaman 1dari 3

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Belajar matematika pada dasarnya adalah belajar sesuatu yang objek
kejadiannya abstrak dan belajar berdasarkan pola pikir logis serta objektif,
serta berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur, dan hubungan-hubungan
yang diatur menurut aturan yang logis (Hudojo, 2001). Para siswa harus belajar
matematika dengan pemahaman secara aktif untuk membangun pengetahuan
baru dari pengalaman dan pengetahuan sebelumnya. Belajar matematika tidak
hanya memerlukan ketrampilan menghitung tetapi juga memerlukan
kecakapan untuk berpikir dan beralasan secara matematis untuk
menyelesaiakan soal-soal baru dan mempelajari ide-ide baru yang akan
dihadapi siswa di masa yang akan datang. Siswa dapat belajar matematika
dengan pemahaman (NCTM dalam Walle, 2006).
Menurut Philbin, et.al dalam Tanta (2010), siswa dalam belajar memiliki
berbagai macam cara yang dikenal sebagai gaya belajar yang dipengaruhi oleh
pengalaman, jenis kelamin, etnis, dan secara khusus melekat pada individu.
Pada proses kegiatan pembelajaran di kelas semua siswa baik siswa laki-laki
maupun siswa perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk
memperoleh informasi tentang materi dari guru. Berkaitan dengan
pembelajaran matematika di sekolah yang melibatkan siswa laki-laki dan
perempuan, banyak pendapat yang mengatakan bahwa perempuan tidak
cukup berhasil mempelajari matematika dibanding dengan siswa laki-laki.
Pendapat tersebut disimpulkan oleh S. A. Branata dalam Asmaningtyas (2012)
yang mengatakan bahwa perempuan pada umumnya lebih baik dalam ingatan
dan laki-laki lebih baik dalam berpikir logis.
Slameto dalam Asmaningtyas (2012) mengemukakan bahwa dalam
merespon suatu mata pelajaran bagi setiap siswa akan berbeda-beda baik
siswa laki-laki maupun perempuan, karena hal tersebut merupakan proses
yang terjadi dalam diri siswa. Senada dengan hal tersebut, OCornor dalam
Tanta (2010) melaporkan bahwa laki-laki dan perempuan pada saat
pertumbuhan mengalami perbedaan dalam pencapaian pada beberapa mata
pelajaran, khususnya pelajaran matematika.
Setiap siswa dalam memahami dan menyerap pelajaran memiliki gaya
belajar yang berbeda-beda. Faktor guru juga berperan penting dalam proses
pembelajaran, dimana guru harus mengetahui gaya belajar masing-masing
siswanya untuk dapat tercapainya proses belajar pembelajaran (Aminah, E.
2011). Menurut Nasution, S (2010) gaya belajar adalah cara yang konsisten
yang dilakukan murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara
mengingat, berpikir, dan memecahkan soal. Gaya belajar ini berkaitan dengan
pribadi seseorang yang tentu dipengaruhi oleh pendidikan dan riwayat

2


perkembangannya, dimana tidak semua orang mengikuti cara yang sama, dan
masing-masing menunjukkan perbedaan.
DePorter & Henarchi (2004) menjelaskan bahwa gaya belajar adalah
kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian mengatur serta
mengolah informasi, gaya belajar merupakan faktor penting dalam
meningkatkan hasil belajar. Apabila gaya belajar siswa diketahui maka guru
bisa menentukan strategi mengajar yang sesuai dengan gaya belajar yang
dimiliki siswa. Gaya belajar terbagi tiga yaitu gaya belajar visual melalui apa
yang mereka lihat, gaya belajar auditori melalui apa yang mereka dengar, gaya
belajar kinestetik melalui gerak dan sentuhan. Tetapi dalam kenyataannya,
setiap orang memiliki ketiga gaya belajar tersebut namun kebanyakan orang
memiliki satu gaya yang lebih menonjol.
Menurut Timbal dan Hamil dalam Konak, S (2011) menjelaskan bahwa
laki-laki dan perempuan mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Terdapat
penelitian yang mengatakan bahwa perempuan mudah menerima materi yang
abstrak daripada laki-laki. Berbeda dengan penelitian sebelumnya bahwa
perempuan lebih menyukai pengalaman yang nyata, sedangkan laki-laki lebih
suka pada materi yang abstrak.
Menurut penelitian Wahhab, A (2012) menyebutkan bahwa terdapat
perbedaan gaya belajar antara siswa laki-laki dan perempuan. Siswa laki-laki
lebih cenderung memiliki gaya belajar visual, sedangkan siswa perempuan
memiliki gaya belajar auditori. Bertolak belakang dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Milgram (2000), yang menunjukkan bahwa perbedaan gaya
belajar tidak didasari oleh jenis kelamin atau gender. Siswa perempuan dapat
belajar dengan kelompok, dan siswa laki-laki lebih senang belajar dengan
bermain. Gaya belajar yang dimiliki pada siswa laki-laki dan perempuan dalam
penelitian ini adalah gaya belajar kinestetik, dimana siswa laki-laki dan
perempuan sama-sama dapat belajar melalui tindakan dan praktek langsung.
Berdasarkan uraian diatas, maka akan dilakukan penelitian dengan judul
Perbedaan Gaya Belajar Antara Siswa Laki-laki dan Perempuan dalam
Belajar Matematika pada Siswa Kelas VIII SMP Kristen Satya Wacana
Salatiga.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Apakah terdapat perbedaan gaya belajar matematika antara siswa laki-laki
dan perempuan kelas VIII SMP Kristen Satya Wacana Salatiga?
2. Gaya belajar mana yang cenderung dimiliki oleh siswa laki-laki kelas VIII
SMP Kristen Satya Wacana Salatiga?
3. Gaya belajar mana yang cenderung dimiliki oleh siswa perempuan kelas VIII
SMP Kristen Satya Wacana Salatiga?

3


C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan
dari penelitian ini:
1. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan gaya belajar matematika
antara siswa laki-laki dan perempuan kelas VIII SMP Kristen Satya Wacana
Salatiga
2. Untuk mengetahui gaya belajar mana yang cenderung dimiliki oleh siswa
laki-laki kelas VIII SMP Kristen Satya Wacana Salatiga
3. Untuk mengetahui gaya belajar mana yang cenderung dimiliki oleh siswa
perempuan kelas VIII SMP Kristen Satya Wacana Salatiga

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penilitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Secara umum penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi
perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dan masyarakat luas pada
umumnya serta dapat menambah wawasan dan memperluas pengetahuan
mengenai perbedaan gaya belajar siswa laki-laki dan siswa perempuan
dalam belajar matematika.
2. Manfaat Praktis
a. Menambah wawasan bagi guru bidang studi matematika untuk lebih
mengetahui dan memahami tentang gaya belajar yang dimiliki oleh
masing-masing siswa, baik siswa laki-laki maupun siswa perempuan,
sehingga proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan gaya belajar
peserta didik.
b. Memberikan gambaran bagi siswa tentang gaya belajar yang dimiliki
masing-masing siswa, dan setelah mengetahui gaya belajar yang
dimiliki maka siswa termotivasi untuk menggunakan gaya belajar
dalam pembelajaran.
c. Menyarankan bagi peneliti selanjutnya untuk dapat melanjutkan
penelitian ini dengan membandingkan gaya belajar antara siswa laki-
laki dan perempuan pada bidang mata pelajaran yang lain.