Anda di halaman 1dari 24

GRIGNARD REAGENT

PENGERTIAN PEREAKSI GRIGNARD



Reaksi Grignard adalah reaksi kimia organologam di mana alkil - atau Aril-magnesium halides (reagen
Grignard) menambah gugus karbonil Aldehida atau keton. Reaksi ini adalah alat penting untuk
pembentukan ikatan antar karbon. Reaksi Halida organik dengan magnesium bukan reaksi Grignard,
tetapi menyediakan peraksi Grignard. Pereaksi Grignard memiliki rumus umum RMgX dimana X
adalah sebuah halogen, dan R adalah sebuah gugus alkil atau aril (berdasarkan pada sebuah cincin
benzen). Pereaksi Grignard sederhana bisa berupa CH3CH2MgBr.

Sebuah contoh dari reaksi grignard

An example of a Grignard reaction



Reaksi dan pereaksi Grignard ditemukan oleh dan diberi nama sesuai dengan penemunya yaitu
kimiawan Perancis Franois Auguste Victor Grignard (Universitas Nancy, Perancis), yang dianugerahi
Nobel Kimia tahun 1912 ini bekerja Grignard reagen mirip dengan menghasilkan reagen karena
keduanya nukleofil kuat yang dapat membentuk ikatan antar karbon yang baru.
MEKANISME REAKSI

Reagen Grignard berfungsi sebagai nukleofil, menyerang atom karbon elektrofilik yang hadir dalam
ikatan polar gugus karbonil. Penambahan pereaksi Grignard untuk karbonil biasanya hasil melalui
keadaan transisi enam-beranggota cincin.
Mekanisme dari reaksi Grignard:

The mechanism of the Grignard reaction.




Namun, dengan pereaksi Grignard terhalang, reaksi dapat melanjutkan dengan transfer elektron
tunggal. Jalur serupa diasumsikan untuk reaksi lain dari reagen Grignard, misalnya, dalam
pembentukan ikatan antara karbon-fosfor, timah-karbon, karbon-silikon, boron-karbon dan karbon-
heteroatom.
PEMBUATAN PEREAKSI GRIGNARD

Pereaksi Grignard dibuat dengan menambahkan halogenalkana ke dalam sedikit magnesium pada
sebuah labu kimia yang mengandung etoksietana (umumnya disebut dietil eter atau hanya "eter").
Labu kimia dihubungkan dengan sebuah kondensor refluks, dan campuran dipanaskan di atas
penangas air selama 20 hingga 30 menit.


http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/makegrignard.gif

Segala sesuatunya akan mengering sempurna karena pereaksi Grignard bereaksi dengan air (lihat
berikut). Setiap reaksi yang menggunakan pereaksi Grignard dilakukan dengan campuran yang
dihasilkan dari reaksi di atas. Digunakan campuran sebab pereaksi Grignard tidak bisa dipisahkan.
Bentuk pereaksi Grignard melalui reaksi Halida alkil atau Aril dengan magnesium logam. Reaksi
dilakukan dengan menambahkan Halida organik ke suspensi dari magnesium dalam pelarut etherial,
dimana yang menyediakan ligan diperlukan untuk menstabilkan organomagnesium senyawa. Bukti
empiris menunjukkan bahwa reaksi terjadi pada permukaan logam. Reaksi hasil melalui transfer
elektron tunggal: dalam reaksi pembentukan Grignard, radikal dapat dikonversi ke karbanions
melalui transfer elektron kedua.
RX + Mg RX + Mg+
RX R + X
R + Mg+ RMg+
RMg+ + X- RMgX
Batasan pereaksi Grignard adalah bahwa mereka tidak siap bereaksi dengan alkil halida melalui
mekanisme SN2. Di sisi lain, mereka siap berpartisipasi dalam reaksi transmetalation:
RMgX + ArX ArR + MgX2
Untuk tujuan ini, tersedia secara komersial pereaksi Grignard sangat berguna karena rute ini
menghindari masalah dengan inisiasi.
Dalam pembuatan pereaksi Grignard harus diperhatikan beberapa hal :
1.Kondisi Reaksi
Dalam reaksi melibatkan pereaksi Grignard, sangat penting untuk mengecualikan air dan udara, yang
dengan cepat memusnahkan pereaksi dengan protonolysis atau oksidasi. Karena kebanyakan reaksi
Grignard dilakukan di anhidrat dietil eter atau tetrahidrofuran, reaksi samping dengan air dibatasi
oleh selimut pelindung yang disediakan oleh uap pelarut. Skala kecil atau kuantitatif persiapan harus
dilakukan di bawah nitrogen atau argon atmosfer, menggunakan teknik udara bebas. Meskipun
reagen yang masih perlu kering, USG dapat memungkinkan Grignard reagen untuk membentuk
dalam pelarut basah dengan mengaktifkan magnesium sedemikian rupa sehingga itu mengkonsumsi
air.
2.Magnesium
Ciri khas reaksi Grignard melibatkan penggunaan pita magnesium. Semua magnesium dilapisi
dengan lapisan pemasifan magnesium oksida, yang menghambat reaksi dengan Halida organik.
Magnesium khusus diaktifkan, seperti Rieke magnesium, circumvents masalah ini. Lapisan oksida
juga dapat broken menggunakan USG, atau menambahkan beberapa tetes yodium atau 1,2-
diiodoethane.
3.Pelarut
Biasanya reagen Grignard ditulis sebagai RMgX, tetapi kenyataannya pusat magnesium(II)
tetrahedral ketika larut dalam pelarut dasar Lewis, seperti yang ditunjukkan di sini untuk bis adisi
methylmagnesium klorida dan THF.
Kebanyakan reaksi Grignard dilakukan dalam pelarut halus, terutama dietil eter dan THF. Dengan
dioksan diether chelating, reagen Grignard beberapa mengalami reaksi redistribusi memberikan
senyawa diorganomagnesium (R = organik grup, X = Halida):
2 RMgX + dioxane dalam keseimbangan dengan R2Mg + MgX2(dioxane)
Reaksi ini adalah yang dikenal sebagai kesetimbangan schlenk.
4.Pengujian Pereaksi Grignard
Karena pereaksi Grignard sangat sensitif terhadap kelembaban dan oksigen, banyak metode telah
dikembangkan untuk menguji kualitas dari batch. Tes khas melibatkan titrations dengan reagen
protic weighable, anhidrat, misalnya mentol hadapan warna-indikator. Interaksi pereaksi Grignard
dengan phenanthroline atau 2,2-bipyridine menyebabkan perubahan warna.
Proses Inisiasi
Banyak metode telah dikembangkan untuk memulai reaksi Grignard lamban. Metode ini
melemahkan lapisan pemasifan MgO, sehingga mengekspos sangat reaktif magnesium untuk Halida
organik. Metode mekanis meliputi menghancurkan potongan Mg di situ, aduk cepat dan sonication
dari suspensi. Yodium, metil iodida dan 1,2-dibromoethane yang umum mengaktifkan agen.
Penggunaan 1,2-dibromoethane sangat menguntungkan karena tindakan dapat dipantau dengan
pengamatan dari gelembung etilen. Selain itu, produk samping tidak berbahaya:
Mg + BrC2H4Br C2H4 + MgBr2
The amount of Mg consumed by these activating agents is usually insignificant. A small amount of
mercuric chloride will amalgamate the surface of the metal, allowing it to react.
Jumlah Mg yang dikonsumsi oleh agen ini mengaktifkan biasanya tidak signifikan. Sejumlah kecil
mercuric chloride akan menggabungkan permukaan logam, memungkinkan untuk bereaksi.
Produksi Industri
Reagen Grignard diproduksi di industri untuk digunakan di situ, atau dijual. Sebagai dengan pada
skala bangku, masalah utama adalah bahwa inisiasi; sebagian dari kumpulan sebelumnya reagen
Grignard sering digunakan sebagai inisiator. Reaksi Grignard eksotermik, dan exothermicity ini harus
dipertimbangkan ketika reaksi adalah skala-up dari laboratorium untuk produksi tanaman. Reagen
Grignard banyak methylmagnesium bromida, methylmagnesium klorida, phenylmagnesium bromida
dan allylmagnesium bromida tersedia secara komersial sebagai tetrahidrofuran atau dietil eter
solusi.
Sebuah contoh dari reaksi Grignard adalah langkah kunci dalam produksi industri Tamoxifen (saat ini
digunakan untuk pengobatan kanker payudara reseptor estrogen perempuan)

Tamoxifen production
REAKSI-REAKSI DARI PEREAKSI GRIGNARD

Reaksi pereaksi Grignard dengan air
Pereaksi Grignard bereaksi dengan air menghasilkan alkana. Inilah sebabnya mengapa segala
sesuatunya harus menjadi kering selama pembuatan seperti dijelaskan di atas.
Sebagai contoh:

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/grignardh2o.gif
Produk organik yang dihasilkan pada reaksi di atas, Mg(OH)Br, disebut sebagai sebuah "bromida
basa". Anda bisa menganggap produk ini sebagai produk transisi antara magnesium bromida dan
magnesium hidroksida.
Reaksi pereaksi Grignard dengan karbon dioksida
Pereaksi Grignard bereaksi dengan karbon dioksida dalam dua tahapan. Pada tahapan pertama,
pereaksi Grignard diadisi ke karbon dioksida. Karbon doksida kering digelembungkan melalui sebuah
larutan pereaksi Grignard dalam etoksietana, yang dibuat seperti dijelaskan di atas.
Sebagai contoh:

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/padding.gifhttp://www.chem-is-
try.org/wp-content/migrated_images/sifat/grignardco2a.gif
Produk yang terbentuk ini selanjutnya dihidrolisis (direaksikan dengan air) dengan bantuan asam
encer. Biasanya, anda bisa menambahkan asam sulfat encer atau asam hidroklorat encer ke dalam
larutan yang dihasilkan oleh reaksi dengan CO2. Jika ditambahkan satu atom karbon lagi, maka akan
terbentuk asam karboksilat bukan pereaksi Grignard.

Persamaan reaksinya bisa dituliskan sebagai berikut:
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/grignardco2b.gif
Hampir semua sumber menyebutkan pembentukan sebuah halida basa seperti Mg(OH)Br sebagai
produk lain dari reaksi ini. Anggapan ini tidak tepat karena senyawa-senyawa ini bereaksi dengan
asam-asam encer. Hasil dari reaksi ini adalah campuran antara ion-ion magnesium terhidrasi biasa,
ion-ion halida dan ion-ion sulfat atau klorida tergantung pada asam encer apa yang ditambahkan.
Reaksi pereaksi Grignard dengan senyawa-senyawa karbonil
Reaksi antara berbagai macam senyawa karbonil dengan pereaksi Grignard bisa terlihat sedikit
rumit, walaupun pada kenyataannya semua senyawa karbonil bereaksi dengan cara yang sama
yang berbeda hanyalah gugus-gugus yang terikat pada ikatan rangkap C=O.

Reactions of Grignard reagents with carbonyls
Apa yang terjadi pada reaksi ini jauh lebih mudah dipahami dengan mencermati persamaan
umumnya (menggunakan gugus "R" bukan gugus tertentu) setelah anda memahami dengan gugus
R barulah bisa diganti dengan gugus yang sesungguhnya jika diperlukan.
Reaksi-reaksi yang terjadi pada dasarnya sama untuk reaksi dengan karbon dioksida yang
membedakan hanya sifat-sifat produk organiknya.
Pada tahap pertama, pereaksi Grignard diadisi ke ikatan rangkap C=O:

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/padding.gifhttp://www.chem-is-
try.org/wp-content/migrated_images/sifat/grigcarbgena.gif
Asam encer selanjutnya ditambahkan untuk menghidrolisisnya. (Pada persamaan berikut digunakan
persamaan umum dengan tidak mempertimbangkan fakta bahwa Mg(OH)Br akan bereaksi lebih
lanjut dengan asam yang ditambahkan.)

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/grigcarbgenb.gif
Alkohol terbentuk. Salah satu kegunaan penting dari pereaksi Grignard adalah kemampuannya untuk
membuat alkohol-alkohol kompleks dengan mudah. Jenis alkohol yang dihasilkan tergantung pada
senyawa karbonil yang digunakan dengan kata lain, gugus R dan R yang dimiliki.
Reaksi antara pereaksi Grignard dengan metanal
Pada metanal, kedua gugus R adalah hidrogen. Metanal merupakan aldehid paling sederhana yang
bisa terbentuk.

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/methanal.gif
Dengan mengasumsikan bahwa anda memulai dengan CH3CH2MgBr dan menggunakan persamaan
reaksi umum di atas, maka alkohol yang diperoleh akan selalu dalam bentuk berikut:

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/genalcohol.gif
Karena kedua gugus R adalah atom hidrogen, maka produk akhirnya akan menjadi:

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/makeprimoh.gif
Sebuah alkohol primer terbentuk. Sebuah alkohol primer hanya memiliki satu gugus alkil terikat
pada atom karbon yang mengikat gugus -OH. Jika anda menggunakan pereaksi Grignard yang
berbeda, maka akan terbentuk alkohol primer yang berbeda pula.
Reaksi antara pereaksi Grignard dengan aldehid-aldehid lain
Aldehid setelah metanal adalah etanal. Salah satu dari gugus R nya adalah hidrogen dan yang lainnya
adalah CH3.

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/ethanal.gif
Untuk memudahkan, anggap kembali gugus-gugus ini sebagai gugus R dan R pada persamaan
umum. Alkohol yang terbentuk adalah:

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/genalcohol.gif
Jika gugur R dan R diganti masing-masing dengan hidrogen dan CH3 (sebagaimana semestinya)
maka produk tersebut akan menjadi:

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/makesecoh.gif
Sebuah alkohol sekunder memliki dua gugus alkil (bisa sama atau berbeda) terikat pada atom karbon
yang mengikat gugus -OH.
Anda bisa merubah sifat dari alkohol sekunder ini dengan salah satu cara berikut:
Mengubah sifat-sifat pereaksi Grignard yang mana akan mengubah gugus CH3CH2 menjadi
beberapa gugus alkil yang lain;
mengubah sifat-sifat aldehid yang mana akan mengubah gugus CH3 menjadi beberapa gugus alkil
lainnya.
Reaksi antara pereaksi Grignard dengan keton
Keton memiliki dua gugus alkil yang terikat pada ikatan rangkap C=O. Keton yang paling sederhana
adalah propanon.

propanone.jpeg
Kali ini, jika gugus R diganti pada rumus umum untuk alkohol yang terbentuk, maka akan dihasilkan
alkohol tersier.

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/maketertoh.gif
Alkohol tersier memiliki tiga gugus alkil yang terikat pada atom karbon yang mengikat gugus -OH.
Ketiga gugus alkil tersebut bisa sama atau berbeda.
Anda bisa mengatur perubahan pada produk dengan cara
mengubah sifat-sifat pereaksi Grignard yang mana akan merubah gugus CH3CH2 menjadi
beberapa gugus alkil yang lain;
mengubah sifat-sifat keton yang mana akan mengubah gugus-gugus CH3 menjadi gugus-gugus alkil
lain sesuai dengan gugus pada keton yang digunakan.
Reaksi pereaksi Grignard dengan air
Pereaksi Grignard bereaksi dengan air menghasilkan alkana. Inilah sebabnya mengapa segala
sesuatunya harus menjadi kering selama pembuatan seperti dijelaskan di atas.
Sebagai contoh:

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/sifat/padding.gif http://www.chem-is-
try.org/wp-content/migrated_images/sifat/grignardh2o.gif
Produk organik yang dihasilkan pada reaksi di atas, Mg(OH)Br, disebut sebagai sebuah "bromida
basa". Anda bisa menganggap produk ini sebagai produk transisi antara magnesium bromida dan
magnesium hidroksida.






Sintesis Pembuatan Alkohol
Posted by Wilda Prima Puspita on Februari 14, 2013
ALKOHOL adalah kelompok senyawa yang mengandung satu atau lebih gugus fungsi hidroksil (-OH)
pada suatu senyawa alkana. Alkohol dapat dikenali dengan rumus umumnya R-OH. Alkohol
merupakan salah satu zat yang penting dalam kimia organik karena dapat diubah dari dan ke banyak
tipe senyawa lainnya. Reaksi dengan alkohol akan menghasilkan 2 macam senyawa. Reaksi bisa
menghasilkan senyawa yang mengandung ikatan R-O atau dapat juga menghasilkan senyawa
mengandung ikatan O-H. Sintesis Pembuatan Alkohol Ada 2 reaksi yang dapat dipakai untuk
mensintesis alkohol dari gugus karbonil : a. Reaksi Adisi Grignard b. Reaksi Reduksi Reaksi Adisi
Grignard adalah


R : metil, alkilprimer, sekunder, tersier, sikloalkil, alkenil, aril
Reaktivitashalida: I > Br > Cl> F
Reaksi Pembentukan Reagen Grignard

SintesisAlkoholdenganReagen Grignard
Tahap 1.

Umumnya ditulis :

Tahap 2 :

Contoh :

1.Sintesis alkohol dari aldehid dan keton (pereaksi Grignard)
a.Formaldehid + grignard
Tahap 1

Tahap 2

b. Aseton dengan Grignard
Tahap 1

Tahap 2

2. Sintesis alkohol dari ester

a. Dengan pereaksi grignard

tahap 1


tahap 2

tahap 3


Reaksi Reduksi
Alkohol bisa disintesis dari aldehid, keton dan ester
Pereduksi :
Logam : Pt, Pd, Ni or Ru
Agen Preduksi : LiAlH4, NaBH4












alkohol
Minggu, 11 Oktober 2009
alkohol
Oksidasi Alkohol
Kata Kunci: aldehid, alkohol, alkohol primer, alkohol sekunder,alkohol
tersier, keton, oksidasi, oksidasi alkohol, pereaksi Schiff, zat warna
Fuchsin
Ditulis oleh Jim Clark pada 28-10-2007
Halaman ini menjelaskan tentang oksidasi alkohol menggunakan
larutan natrium atau kalium dikromat(VI) yang besifat asam. Reaksi ini digunakan
untuk membuat aldehid, keton dan asam karboksilat, dan sebagai sebuah cara untuk
membedakan antara alkohol primer, sekunder dan tersier.
Oksidasi jenis-jenis alkohol (primer, sekunder dan tersier)
Agen pengoksidasi yang digunakan pada reaksi-reaksi ini biasanya adalah sebuah
larutan natrium atau kalium dikromat(V)) yang diasamkan dengan asam sulfat
encer. Jika oksidasi terjadi, larutan orange yang mengandung ion-ion dikromat(VI)
direduksi menjadi sebuah larutan hijau yang mengandung ion-ion kromium(III).
Persamaan setengah-reaksi untuk reaksi ini adalah

Alkohol primer
Alkohol primer bisa dioksidasi baik menjadi aldehid maupun asam karboksilat
tergantung pada kondisi-kondisi reaksi. Untuk pembentukan asam karboksisat,
alkohol pertama-tama dioksidasi menjadi sebuah aldehid yang selanjutnya dioksidasi
lebih lanjut menjadi asam.
Oksidasi parsial menjadi aldehid
Oksidasi alkohol akan menghasilkan aldehid jika digunakan alkohol yang berlebihan,
dan aldehid bisa dipisahkan melalui distilasi sesaat setelah terbentuk.
Alkohol yang berlebih berarti bahwa tidak ada agen pengoksidasi yang cukup untuk
melakukan tahap oksidasi kedua. Pemisahan aldehid sesegera mungkin setelah
terbentuk berarti bahwa tidak tinggal menunggu untuk dioksidasi kembali.
Jika digunakan etanol sebagai sebuah alkohol primer sederhana, maka akan
dihasilkan aldehid etanal, CH
3
CHO.
Persamaan lengkap untuk reaksi ini agak rumit, dan kita perlu memahami tentang
persamaan setengah-reaksi untuk menyelesaikannya.

Dalam kimia organik, versi-versi sederhana dari reaksi ini sering digunakan dengan
berfokus pada apa yang terjadi terhadap zat-zat organik yang terbentuk. Untuk
melakukan ini, oksigen dari sebuah agen pengoksidasi dinyatakan sebagai [O].
Penulisan ini dapat menghasilkan persamaan reaksi yang lebih sederhana:

Penulisan ini juga dapat membantu dalam mengingat apa yang terjadi selama reaksi
berlangsung. Kita bisa membuat sebuah struktur sederhana yang menunjukkan
hubungan antara alkohol primer dengan aldehid yang terbentuk.

Oksidasi sempurna menjadi asam karboksilat
Untuk melangsungkan oksidasi sempurna, kita perlu menggunakan agen
pengoksidasi yang berlebih dan memastikan agar aldehid yang terbentuk pada saat
produk setengah-jalan tetap berada dalam campuran.
Alkohol dipanaskan dibawah refluks dengan agen pengoksidasi berlebih. Jika reaksi
telah selesai, asam karboksilat bisa dipisahkan dengan distilasi.
Persamaan reaksi sempurna untuk oksidasi etanol menjadi asam etanoat adalah
sebagai berikut:

Persamaan reaksi yang lebih sederhana biasa dituliskan sebagai berikut:

Atau, kita bisa menuliskan persamaan terpisah untuk dua tahapan reaksi, yakni
pembentukan etanal dan selanjutnya oksidasinya.

Reaksi yang terjadi pada tahap kedua adalah:

Alkohol sekunder
Alkohol sekunder dioksidasi menjadi keton. Sebagai contoh, jika alkohol sekunder,
propan-2-ol, dipanaskan dengan larutan natrium atau kalium dikromat(VI) yang
diasamkan dengan asam sulfat encer, maka akan terbentuk propanon.
Perubahan-perubahan pada kondisi reaksi tidak akan dapat merubah produk yang
terbentuk.
Dengan menggunakan persamaan reaksi yang sederhana, yang menunjukkan
hubungan antara struktur, dapat dituliskan sebagai berikut:

Jika anda melihat kembali tahap kedua reaksi alkohol primer, anda akan melihat
bahwa ada sebuah atom oksigen yang "disisipkan" antara atom karbon dan
atom hidrogen dalam gugus aldehid untuk menghasilkan asam karboksilat. Untuk
alkohol sekunder, tidak ada atom hidrogen semacam ini, sehingga reaksi
berlangsung lebih cepat.
Alkohol tersier
Alkohol-alkohol tersier tidak dapat dioksidasi oleh natrium atau kalium dikromat(VI).
Bahkan tidak ada reaksi yang terjadi.
Jika anda memperhatikan apa yang terjadi dengan alkohol primer dan sekunder,
anda akan melibat bahwa agen pengoksidasi melepaskan hidrogen dari gugus -OH,
dan sebuah atom hidrogen dari atom karbon terikat pada gugus -OH. Alkohol tersier
tidak memiliki sebuah atom hidrogen yang terikat pada atom karbon tersebut.
Anda perlu melepaskan kedua atom hidrogen khusus tersebut untuk membentuk
ikatan rangkap C=O.

Penggunaan reaksi-reaksi oksidasi alkohol sebagai sebuah reaksi uji
untuk jenis-jenis alkohol (primer, sekunder dan tersier).
Melakukan reaksi uji
Pertama-tama anda harus memastikan bahwa larutan yang akan anda uji benar-
benar adalah alkohol dengan cara menguji keberadaan gugus -OH di dalam larutan.
Anda juga perlu menentukan bahwa cairan tersebut adalah cairan netral, bebas dari
air sehingga bereaksi dengan fosfor(V) klorida menghasilkan asap-asap hidrogen
klorida yang mengandung air.
Selanjutnya anda akan menambahkan beberapa tetes alkohol ke dalam sebuah
tabung uji yang mengandung larutan kalium dikromat(VI) yang telah diasamkan
dengan asam sulfat encer. Tabung tersebut akan dipanaskan di sebuah penangas air
panas.
Hasil untuk masing-masing jenis alkohol
Alkohol tersier
Untuk alkohol primer atau sekunder, warna orange larutan akan berubah menjadi
hijau. Sedangkan untuk alkohol tersier tidak ada perubahan warna.
Setelah pemanasan:

Membedakan alkohol primer dan alkohol sekunder
Anda memerlukan cukup aldehid (melalui oksidasi alkohol primer) atau keton
(melalui oksidasi alkohol sekunder) untuk bisa membedakan antara alkohol primer
dan alkohol sekunder. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh aldehid
sedangkan keton tidak dapat melakukannya. Antara lain reaksi dengan pereaksi
Tollens, laruan Fehling dan larutan Benedict, dan lain-lain yang akan dibahas di
halaman lain.
Menurut pengalaman, uji-uji ini sedikit sulit dilakukan dan hasilnya tidak selamanya
jelas seperti yang disebutkan dalam literatur. Sebuah uji yang jauh lebih sederhana
namun cukup terpercaya adalah dengan menggunakan pereaksi Schiff
Pereaksi Schiff merupakan sebuah zat warna Fuchsin yang berubah warna jika sulfur
oksida dilewatkan kedalamnya. Jika terdapat sedikit aldehid, warnanya akan berubah
mejadi merah keungu-unguan yang terang.
Akan tetapi, pereaksi ini harus digunakan dalam keadaan dingin, karena keton bisa
bereaksi dengan pereaksi ini sangat lambat menghasilkan warna yang sama. Jika
dipanaskan, maka reaksi dengan keton akan lebih cepat, sehingga berpotensi
memberikan hasil yang membingungkan.
Sambil anda memanaskan campuran reaksi dalam penangas air panas, anda bisa
melewatkan uap yang dihasilkan melalui beberapa pereaksi Schiff.

Jika pereaksi Schiff cepat berubah warna menjadi merah keungu-unguan,
maka dihasilkan aldeih dari sebuah alkohol primer.
Jika tidak ada perubahan warna dalam pereaksi Schiff, atau hanya sedikit
warna pink yang terbentuk dalam beberapa menit, maka tidak dihasilkan
aldehid, sehingga tidak ada alkohol primer.
Karena terjadi perubahan warna pada larutan kalium dikromat(VI) yang
bersifat asam, maka harus terdapat lakohol sekunder.
Anda harus memeriksa hasil uji sesegera mungkin setelah larutan kalium
dikromat(VI) berubah menjadi hijau jika anda membiarkannya terlalu lama, maka
pereaksi Schiff bisa berubah warna kembali (untuk alkohol sekunder).
Pengantar Alkohol
Kata Kunci: alkohol, alkohol primer, alkohol sekunder, alkohol
tersier, etanol, gaya van der Waals, gugus fungsi, ikatan hidrogen, sifat
fisik alkohol
Ditulis oleh Jim Clark pada 28-10-2007
Halaman ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan alkohol, dan apa perbedaan
antara alkohol primer, sekunder dan tersier. Disini juga dibahas dengan sedikit
mendetail tentang sifat-sifat fisik sederhana dari alkohol seperti kelarutan dan titik
didih. Penjelasan rinci tentang reaksi-reaksi kimia alkohol akan dibahas di halaman-
halaman lain.
Pengertian Alkohol
Contoh-contoh
Alkohol adalah senyawa-senyawa dimana satu atau lebih atomhidrogen dalam
sebuah alkana digantikan oleh sebuah gugus -OH. Pada pembahasan kali ini, kita
hanya akan melihat senyawa-senyawa yang mengandung satu gugus -OH.
Sebagai contoh:

Jenis-jenis alkohol
Alkohol dapat dibagi kedalam beberapa kelompok tergantung pada bagaimana posisi
gugus -OH dalam rantai atom-atom karbonnya. Masing-masing kelompok alkohol ini
juga memiliki beberapa perbedaan kimiawi.
Alkohol Primer
Pada alkohol primer(1), atom karbon yang membawa gugus -OH hanya terikat
pada satu gugus alkil.
Beberapa contoh alkohol primer antara lain:

Perhatikan bahwa tidak jadi masalah seberapa kompleks gugus alkil yang terikat.
Pada masing-masing contoh di atas, hanya ada satu ikatan antara gugus CH
2
yang
mengikat gugus -OH dengan sebuah gugus alkil.
Ada pengecualian untuk metanol, CH
3
OH, dimana metanol ini dianggap sebagai
sebuah alkohol primer meskipun tidak ada gugus alkil yang terikat pada atom
karbon yang membawa gugus -OH.
Alkohol sekunder
Pada alkohol sekunder (2), atom karbon yang mengikat gugus -OH berikatan
langsung dengan dua gugus alkil, kedua gugus alkil ini bisa sama atau berbeda.
Contoh:

Alkohol tersier
Pada alkohol tersier (3), atom karbon yang mengikat gugus -OH berikatan langsung
dengan tiga gugus alkil, yang bisa merupakan kombinasi dari alkil yang sama atau
berbeda.
Contoh:

Sifat-sifat fisik alkohol
Titik Didih
Grafik berikut ini menunjukan titik didih dari beberapa alkohol primer sederhana
yang memiliki sampai 4 atom karbon.
Yakni:

Alkohol-alkohol primer ini dibandingkan dengan alkana yang setara (metana sampai
butana) yang memiliki jumlah atom karbon yang sama.

Dari grafik di atas dapat diamati bahwa:
Titik didih sebuah alkohol selalu jauh lebih tinggi dibanding alkana yang
memiliki jumlah atom karbon sama.
Titik didih alkohol meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah atom
karbon.
Pola-pola titik didih mencerminkan pola-pola gaya tarik antar-molekul.
Ikatan hidrogen
Ikatan hidrogen terjadi antara molekul-molekul dimana sebuah atom hidrogen
terikat pada salah satu dari unsur yang sangat elektronegatif fluorin, oksigen
atau nitrogen.
Untuk alkohol, terdapat ikatan hidrogen antara atom-atom hidrogen yang sedikit
bermuatan positif dengan pasangan elektron bebas pada oksigen dalam molekul-
molekul lain.

Atom-atom hidrogen sedikit bermuatan positif karena elektron-elektron ikatan
tertarik menjauh dari hidrogen menuju ke atom-atom oksigen yang sangat
elektronegatif.
Pada alkana, satu-satunya gaya antar-molekul yang ada adalah gaya dispersi van
der Waals. Ikatan-ikatan hidrogen jauh lebih kuat dibanding gaya-gaya tersebut
sehingga dibutuhkan lebih banyak energi untuk memisahkan molekul-molekul
alkohol dibanding untuk memisahkan molekul-molekul alkana.
Inilah sebab utama mengapa titik didih alkohol lebih tinggi dari alkana.
Pengaruh gaya van der Waals
Pengaruh terhadap titik didih alkohol:
Ikatan hidrogen bukan satu-satunya gaya antar-molekul dalam alkohol. Dalam
alkohol ditemukan juga gaya-gaya dispersi van der Waals dan interaksi dipol-dipol.
Ikatan hidrogen dan interaksi dipol-dipol hampir sama untuk semua alkohol, tapi
gaya dispersi akan meningkat apabila alkohol menjadi lebih besar.
Gaya-gaya tarik ini menjadi lebih kuat jika molekul lebih panjang dan memiliki lebih
banyak elektron. Ini meningkatkan besarnya dipol-dipol temporer yang terbentuk.
Inilah yang menjadi penyebab mengapa titik didih meningkat apabila jumlah atom
karbon dalam rantai meningkat. Diperlukan lebih banyak energi untuk
menghilangkan gaya-gaya dispersi, sehingga titik didih meningkat.
Pengaruh terhadap perbandingan antara alkana dan alkohol:
Bahkan jika tidak ada ikatan hidrogen atau interaksi dipol-dipol, titik didih alkohol
tetap lebih tinggi dibanding alkana sebanding yang memiliki jumlah atom karbon
sama.
Bandingkan antara etana dan etanol:

Etanol memiliki molekul yang lebih panjang, dan oksigen yang terdapat dalam
molekulnya memberikan 8 elektron tambahan. Struktur yang lebih panjang dan
adanya atom oksigen akan meningkatkan besarnya gaya dispersi van der Waals,
demikian juga titik didihnya.
Jika kita hendak membuat perbandingan yang cermat untuk mengamati efek ikatan
hidrogen terhadap titik didih, maka akan lebih baik jika kita membandingkan etanol
dengan propana bukan dengan etana. Propana memiliki panjang molekul yang
kurang lebih sama dengan etanol, dan jumlah elektronnya tepat sama.
Kelarutan alkohol dalam air
Alkohol-alkohol yang kecil larut sempurna dalam air. Bagaimanapun perbandingan
volume yang kita buat, campurannya akan tetap menjadi satu larutan.
Akan tetapi, kelarutan berkurang seiring dengan bertambahnya panjang rantai
hidrokarbon dalam alkohol. Apabila atom karbonnya mencapai empat atau lebih,
penurunan kelarutannya sangat jelas terlihat, dan campuran kemungkinan tidak
menyatu.
Kelarutan alkohol-alkohol kecil di dalam air
Perhatikan etanol sebagai sebuah alkohol kecil sederhana. Pada etanol murni dan air
murni yang akan dicampur, gaya tarik antar-molekul utama yang ada adalah ikatan
hidrogen.

Untuk bisa mencampur kedua larutan ini, ikatan hidrogen antara molekul-molekul air
dan ikatan hidrogen antara molekul-molekul etanol harus diputus. Pemutusan ikatan
hidrogen ini memerlukan energi.
Akan tetapi, jika molekul-molekul telah bercampur, ikatan-ikatan hidrogen yang baru
akan terbentuk antara molekul air dengan molekul etanol.

Energi yang dilepaskan pada saat ikatan-ikatan hidrogen yang baru ini terbentuk
kurang lebih dapat mengimbangi energi yang diperlukan untuk memutus ikatan-
ikatan sebelumnya.
Disamping itu, gangguan dalam sistem mengalami peningkatan, yakni entropi
meningkat. Ini merupakan faktor lain yang menentukan apakah penyatuan larutan
akan terjadi atau tidak.
Kelarutan yang lebih rendah dari molekul-molekul yang lebih besar
Bayangkan apa yang akan terjadi jika ada, katakanlah, 5 atom karbon dalam
masing-masing molekul alkohol.

Rantai-rantai hidrokarbon menekan diantara molekul-molekul air sehingga memutus
ikatan-ikatan hidrogen antara molekul-molekul air tersebut.
Ujung -OH dari molekul alkohol bisa membentuk ikatan-ikatan hidrogen baru dengan
molekul-molekul air, tetapi "ekor-ekor" hidrogen tidak membentuk ikatan-ikatan
hidrogen.
Ini berarti bahwa cukup banyak ikatan hidrogen awal yang putus tidak diganti oleh
ikatan hidrogen yang baru.
Yang menggantikan ikatan-ikatan hidrogen awal tersebut adalah gaya-gaya dispersi
van der Waals antara air dan "ekor-ekor" hidrokarbon. Gaya-gaya tarik ini jauh lebih
lemah. Itu berarti bahwa energi yang terbentuk kembali tidak cukup untuk
mengimbangi ikatan-ikatan hidrogen yang telah terputus. Walaupun terjadi
peningkatan entropi, proses pelarutan tetap kecil kemungkinannya untuk
berlangsung.

Anda mungkin juga menyukai