Anda di halaman 1dari 5

ALIRAN KAS DALAM PERUSAHAAN

Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya selalu membutuhkan uang tunai atau kas.
Kas diperlukan baik untuk membiayai operasi perusahaan sehari-hari seperti pembelian bahan
baku, pembayaran upah, pembayaran hutang, atau pembayaran-pembayaran tunai lainnya, serta
dibutuhkan untuk investasi pada aktiva tetap. Pengeluaran kas ada yang bersifat terus menerus
(continue), seperti untuk pengeluaran rutin dan ada pula yang bersifat berkala (intermitten),
seperti untuk pembayaran dividen, pembayaran pajak, pembelian aktiva tetap. Pengeluaran kas
untuk pembayaran-pembayaran tersebut sering disebut sebagai aliran kas keluar (cash outflow).
Sedangkan penerimaan-penerimaan kas disebut sebagai aliran kas masuk (cash inflow). Aliran kas
masuk diperoleh dari beberapa sumber antara lain dari hasi penjualan tunai, penerimaan piutang,
dan penerimaan-penerimaan lainnya.
Kas bagi perusahaan dapat diumpamakan seperti darah dalam tubuh manusia. Setiap
bagian yang ada dalam perusahaan membutuhkan aliran kas. Bagian produksi membutuhkan kas
untuk membeli bahan baku, bahan penolong, membayar upah buruh, gaji mandor. Mambayar
biaya pemeliharaan, membeli perlengkapan pabrik, dan pengeluaran tunai lainnya. Tanpa ada kas
maka kegiatan produksi akan terganggu yang akan mengakibatkan terganggunya bagian terkait
lainnya. Bagian pemasaran membutuhkan kas untuk membayar biaya iklan, membayar komisi,
membayar biaya angkut, dan pengeluaran tunai lainnya. Tanpa adanya kas yang memadai, bagian
pemasaran tidak bisa berbuat banyak untuk menjual produk yang dihasilkan.

MOTIF MEMILIKI KAS
Sebagaimana diungkapkan teori ekonomi dari John Maynard Keynes dengan teori
Liquidity preference-nya, masyarakat cenderung untuk menguasai uang dalam bentuk tunai
dengan tiga motif, yaitu:
1. Motif transaksi (transaction motive)
dimaksudkan untuk pembayaran biaya-biaya rutin, seperti pembelian bahan baku,
pembayaran upah, pembayaran hutang maupun biaya-biaya tidak rutin, seperti untuk
pembayaran dividen, pembayaran pajak, pembelian aktiva tetap
2. Motif berjaga-jaga (precautionary motive)
dimaksudkan untuk mengantisipasi adanya kebutuhan yang bersifat mendadak. Motif
berjaga-jaga pada perusahaan dapat dilihat dari saldo kas minimum yang ditetapkan.
Semakin akurat penganggaran kas (cash budget) semakin kecil saldo kas minimum
perusahaan, karena penerimaan dan pengeluaran dapat diprediksi dengan tepat sehingga
kebutuhan kas yang bersifat mendadak dapat diminimalisasi.
3. Motif spekulasi (speculatif motive)
dimaksudkan karena adanya keinginan memperoleh keuntungan yang besar dari sebuah
kesempatan investasi, biasanya investasi yang bersifat liquid.

ANGGARAN KAS
Agar kas dapat disediakan dengan baik dan ada pada saat dibutuhkan, perlu perencanaan kas
yang berisi proyeksi penerimaan dan pengeluaran kas. Proyeksi posisi kas yang berupa
penerimaan dan pengeluaran kas pada saat tertentu di masa yang akan datang disebut sebagai
anggaran kas (cash budget).
Anggaran kas ini sangat penting bagi perusahaan untuk menjaga likuiditas perusahaan.
Dengan menyusun anggaran kas, dapat diprediksi kapan perusahaan mengalami defisit dan kapan
perusahaan mengalami surplus kas. Pada periode yang mengalami defisit kas dapat disiapkan
sumber dananya beberapa hari sebelumnya, dan apabila surplus dapat direncanakan untuk
diinvestasikan pada instrumen investasi sesuai likuiditasnya.
Anggaran kas biasanya disusun untuk periode bulanan, dan pada dasarnya dapat dibedakan
ke dalam dua bagian yaitu:


1




1. Estimasi penerimaan kas, yaitu proyeksi penerimaan pada periode tertentu baik berasal dari
penerimaan penjualan tunai, penerimaan piutang, penerimaan bunga, hasil penjualan aktiva
tetap, maupun penerimaan-penerimaan lainnya.
2. Estimasi pengeluaran kas, yaitu proyeksi pengeluaran yang akan dilakukan perusahaan
seperti pembelian bahan baku, pembayaran upah dan gaji, pengeluaran tunai untuk biaya
pemasaran, biaya administrasi, pembayaran bonus, pembayaran hutang, pembayaran pajak,
dan pembayaran-pembayaran lainnya yang bersifat tunai.
Setelah mengadakan estimasi pada masing-masing periode, langkah selanjutnya adalah
membandingkan hasil estimasi penerimaan kas dengan hasil estimasi pengeluaran kas.
Penerimaan kas > pengeluaran kas surplus
Penerimaan kas < pengeluaran kas defisit
Setelah diketahui surplus dan defisit untuk masing-masing periode, kemudian cari kebutuhan dana
untuk menutup kondisi defisit tersebut dengan mempertimbangkan saldo kas minimum den
tingkat bunga sumber dana yang digunakan.
Contoh: PT Yudha akan menyusun anggaran kas untuk enam bulan pertama tahun X. Data
estimasi yang telah dikumpulkan adalah sebagai berikut:
Estimasi penerimaan:
1. Penerimaan dari penjualan tunai setiap bulannya, adalah:
Januari Rp 240.000.000,- April Rp 400.000.000,-
Februari Rp 250.000.000,- Mei Rp 400.000.000,-
Maret Rp 310.000.000,- Juni Rp 450.000.000,-
2. Penerimaan dari pengumpulan piutang setiap bulannya, adalah:
Januari Rp 230.000.000,- April Rp 350.000.000,-
Februari Rp 250.000.000,- Mei Rp 330.000.000,-
Maret Rp 320.000.000,- Juni Rp 335.000.000,-
3. Penerimaan-penerimaan lainnya, adalah:
Januari Rp 120.000.000,- April Rp 90.000.000,-
Februari Rp 130.000.000,- Mei Rp 70.000.000,-
Maret Rp 110.000.000,- Juni Rp 65.000.000,-

Estimasi pengeluaran:
1. Pembelian bahan baku secara tunai setiap bulannya, adalah:
Januari Rp 240.000.000,- April Rp 225.000.000,-
Februari Rp 260.000.000,- Mei Rp 300.000.000,-
Maret Rp 250.000.000,- Juni Rp 300.000.000,-
2. Pembayaran gaji per bulan:
Januari Rp 120.000.000,- April Rp 125.000.000,-
Februari Rp 120.000.000,- Mei Rp 125.000.000,-
Maret Rp 120.000.000,- Juni Rp 150.000.000,-
3. Pembayaran biaya pemasaran:
Januari Rp 100.000.000,- April Rp 150.000.000,-
Februari Rp 150.000.000,- Mei Rp 125.000.000,-
Maret Rp 100.000.000,- Juni Rp 115.000.000,-
4. Pembayaran untuk biaya administrasi dan umum:
Januari Rp 160.000.000,- April Rp 200.000.000,-
Februari Rp 170.000.000,- Mei Rp 200.000.000,-
Maret Rp 200.000.000,- Juni Rp 210.000.000,-
5. Pembayaran pajak perusahaan pada bulan maret sebesar Rp 50.000.000,-

Susunlah anggaran kas untuk enam bulan pertama tahun tersebut.



2





ANGGARAN KAS (Transaksi Operasional)
dalam ribuan rupiah

JAN FEB MAR APR MEI JUN
Estimasi Penerimaan:
Penjualan Tunai 240.000 250.000 310.000 400.000 400.000 450.000
Penerimaan Piutang 230.000 250.000 320.000 350.000 330.000 335.000
Penerimaan lainnya 120.000 130.000 110.000 90.000 70.000 65.000
Jumlah Penerimaan 590.000 630.000 740.000 840.000 800.000 850.000

Estimasi Pengeluaran:
Pembelian Bahan Baku 240.000 260.000 250.000 225.000 300.000 300.000
Gaji 120.000 120.000 120.000 125.000 125.000 150.000
Biaya Pemasaran 100.000 150.000 100.000 150.000 125.000 115.000
Biaya Adm. & Umum 160.000 170.000 200.000 200.000 200.000 210.000
Pembayaran Pajak - - 50.000 - - -
Jumlah Pengeluaran 620.000 700.000 720.000 700.000 750.000 775.000

SURPLUS (DEFISIT) (30.000) (70.000) 20.000 140.000 50.000 75.000

Dari transaksi operasi tersebut diketahui bahwa pada dua bulan (Januari dan Februari)
perusahaan mengalami kondisi ilikuid yang ditandai dengan defisit sebesar Rp 30.000.000,- dan
Rp 70.000.000,- Sedangkan pada empat bulan berikutnya perusahaan mengalamo kondisi likuid
atau surplus. Sehubungan dengan adanya kondisi defisit tersebut maka jauh-jauh hari perusahaan
merencanakan pinjaman untuk menutup kondisi defisit pada bulan Januari dan Februari tersebut.
Untuk itu perusahaan akan mengadakan transaksi finansial untuk menutup defisit tersebut yaitu
merencanakan mencari sumber dana dan menjadwalkan kembali pembayaran pinjaman dan
bunganya.
Misalkan dari contoh tersebut di atas ada tambahan data yang berkaitan dengan rencana
pinjaman sebagai berikut:
1. Saldo kas minimum yang harus dipertahankan adalah sebesar Rp 10.000.000,-
2. Saldo kas awal tahun diperkirakan sebesar Rp 15.000.000,-
3. Pinjaman dari salah satu ban yang diterima pada awal bulan dan pembayaran bunganya pada
ahir bulan. Bunga ditetapkan 2% per bulan, pinjaman dibulatkan ke puluhan ribu ke atas,
bunga dibulatkan ke puluhan ribu penuh ke atas.
Berdasarkan tambahan data tersebut, dapat ditentukan besarnya kredit yang akan diminta
untuk bulan Januari dan Februari. Defisit bulan Januari sebesar Rp 30.000.000,- sedangkan saldo
minimum kas Rp 10.000.000,- sehingga jumlah kas yang harus tersedia Rp 40.000.000,- Pada
awal tahun sudah ada saldo kas sebesar Rp 15.000.000,- sehingga masih perlu dana tambahan
sebesar Rp 25.000.000,- bersih. Bunga 2% atas pinjaman dari bank harus dibayar pada akhir
bulan, sehingga nilai pinjaman adalah sebesar X dengan perhitungan sebagai berikut:
X = Defisit + Saldo Kas Minimum - Saldo Kas Awal + Bunga
X = 30.000.000 + 10.000.000 - 15.000.000 + ( X x 2% )
X = 25.000.000 + ( 0,02X )
X - 0,02X = 25.000.000
0,98X = 25.000.000
X = 25.000.000 / 0,98
X = 25.510.204
X = 25.520.000 (dibulatkan ke puluhan ribu penuh ke atas)

bunga (I) yang dibayar pada akhir bulan Januari adalah sebesar:
I = 25.520.000 x 2%
= 510.400
= 520.000 (dibulatkan ke puluhan ribu penuh ke atas)
3







ANGGARAN KAS (Transaksi Finansial)
dalam ribuan rupiah

JAN FEB MAR APR MEI JUN
Saldo kas awal bulan 15.000 10.000 10.000 48.050 146.900 139.420
Terima pinjaman awal bulan 25.520 71.960 - - - -
Pembayaran pinjaman - - - (40.000) (57.480) -
Kas tersedia 40.520 81.960 10.000 8.050 89.420 139.420
Surplus (Defisit) (30.000) (70.000) 40.000 140.000 50.000 75.000
Pembayaran bunga (520) (1.960) (1.950) (1.150)
Saldo kas akhir bulan 10.000 10.000 48.050 146.900 139.420 214.420

Hutang kumulatif 25.520 97.480 97.480 57.480 - -

X = Defisit + Saldo Kas Minimum - Saldo Kas Awal + Bunga
X = 70.000.000 + 10.000.000 - 10.000.000 + ( 0,02X ) + ( 0,02 x 25.520.000 )
X = 70.000.000 + ( 0,02X ) + 520.000
X = 70.520.000 + ( 0,02X )
X - 0,02X = 70.520.000
0,98X = 70.520.000
X = 70.520.000 / 0,98
X = 71.959.183
X = 71.960.000 (dibulatkan ke puluhan ribu penuh ke atas)
bunga (I) atas pinjaman pada bulan Februari adalah sebesar:
I = 71.960.000 x 2%
= 1.439.800
= 1.440.000 (dibulatkan ke puluhan ribu penuh ke atas)
total bunga (I) atas pinjaman pada bulan Januari dan Februari adalah sebesar:
I = 520.000 + 1.440.000
= 1.960.000
bunga (I) atas pinjaman pada bulan Maret adalah sebesar:
I = 97.480.000 x 2%
= 1.949.600
= 1.950.000 (dibulatkan ke puluhan ribu penuh ke atas)
bunga (I) atas pinjaman pada bulan April adalah sebesar:
I = 57.480.000 x 2%
= 1.149.600
= 1.150.000 (dibulatkan ke puluhan ribu penuh ke atas)

Sebagai tahap akhir dalampenyusunan anggaran kas adalah membuat budget kas final yaitu
menggabungkan antara transaksi operasional dengan transaksi finansial











4





ANGGARAN KAS PT YUDHA
dalam ribuan rupiah


Saldo kas awal bulan
Estimasi Penerimaan:
Penjualan Tunai
Penerimaan Piutang
Penerimaan kredit
Penerimaan lainnya
Jumlah Penerimaan

Jumlah Kas Total

Estimasi Pengeluaran:
Pembelian Bahan Baku
Gaji
Biaya Pemasaran
Biaya Adm. & Umum
Pembayaran Pajak
Pembayaran Bunga
Pembayaran Hutang
Jumlah Pengeluaran

Saldo kas akhir bulan

JAN FEB MAR APR MEI JUN
15.000 10.000 10.000 28.050 126.900 119.430


240.000 250.000 310.000 400.000 400.000 450.000
230.000 250.000 320.000 350.000 330.000 335.000
25.520 71.960 - - - -
120.000 130.000 110.000 90.000 70.000 65.000
615.520 701.960 740.000 840.000 800.000 850.000

630.520 711.960 750.000 868.050 926.900 969.430



240.000 260.000 250.000 225.000 300.000 300.000
120.000 120.000 120.000 125.000 125.000 150.000
100.000 150.000 100.000 150.000 125.000 115.000
160.000 170.000 200.000 200.000 200.000 210.000
- - 50.000 - - -
520 1.960 1.950 1.150 - -
- - - 40.000 57.470 -
620.520 701.960 721.950 741.150 807.470 775.000

10.000 10.000 28.050 126.900 119.430 194.430


MODEL MANAJEMEN KAS
Ada dua model manajemen kas yang dikembangkan oleh William J. Baumol (Model
Baumol), Merton H. Miller dan Daniel Orr (Model Miller & Orr). Model-model ini selalu mengaitkan
antara kas dan surat berharga, yakni dengan mengadakan trade-off antara tingkat bunga yang
hilang karena menyimpan uang dengan biaya transaksi. Apabila perusahaan mempunyai kas
terlalu banyak harus segera dibelikan surat berharga dan tentu harus mengeluarkan biaya untuk
transaksi. Sedangkan bila saldo kas mendekati nol harus segera menjual surat berharganya
menjadi kas, sehingga akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bunga (opportunity cost).
1. Model Baumol
Model manajemen kas yang diajukan oleh Baumol ini sering disebut dengan Model
Persediaan. Baumol mengakui ada kesamaan antara manajemen persediaan dengan mana-
jemen kas bila dilihat dari aspe keuangan. Dalam manajemen persediaan ada biaya pesan
yang dibayarkan setiap melakukan pemesanan dan biaya simpan untuk menyimpan barang
yang sudah dibeli. Dalam manajemen kas biaya pesan berupa biaya komisi pedagang efek
yang dikeluarkan untuk merubah sekuritas menjadi uang kas, dan biaya simpan berupa hasil
dari bunga yang hilang karena perusahaan menyimpan uang tunai dalam jumlah besar. Oleh
karena itu perlu ditentukan berapa surat berharga yang harus dijadikan uang tunai pada saat
saldo kas mendekati nol.

2. Model Miller & Orr
Model manajemen kas ini pada dasarnya menentukan batas atas dan batas bawah saldo
kas, serta menentukan saldo kas optimal yang perlu dimiliki oleh perusahaan. Apabila saldo
kas semakin menurun mendekati batas bawah maka perusahaan harus segera mengubah
sekuritasnya menjadi kas, sebaliknya bila saldo kas semakin besar mendekati batas atas maka
perusahaan harus segera mengubah kasnya menjadi sekuritas.


5

Anda mungkin juga menyukai