Anda di halaman 1dari 67

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS DENGAN TEKNIK PENGELUARAN ASI

TERHADAP Ny. S UMUR 34 TAHUN P2A0 4 HARI POST PARTUM NORMAL DI BPS
DESI ANDRIANI Amd.Keb BANDAR LAMPUNG TAHUN 2013

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut data WHO pada Tahun 2012, sebanyak 585.000 Perempuan meninggal saat
Hamil atau persalinan. Sebanyak 99% kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran
terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang
merupakan tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup jika
dibandingkan dengan rasio kematian ibu di 9 negara maju dan 51 negara persemakmuran.
Masalah kesehatan pada ibu pasca persalinan menimbulkan dampak yang dapat meluas
keberbagai aspek kehidupan dan menjadi salah satu parameter kemajuan bangsa dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang menyangkut dengan angka
kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Menurut WHO 81% AKI akibat
komplikasi selama hamil dan bersalin, dan 25% selama masa post partum.
Millenium Development Goals adalah hasil kesepakatan 189 negara termasuk
Indonesia yang mulai dijalankan pada September 2000.Adapun program pemerintah dalam
rangka percepatan penurunan AKI guna mencapai target MDGs tahun 2015, telah dirumuskan
skenario percepatan penurunan AKI yaitu, Target MDG 5 akan tercapai apabila 50% kematian
ibu per provinsi dapat dicegah/dikurangi, pelayanan Antenatal dilakukan 4 kali selama
kehamilan, satu kali kunjungan pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua dan dua
kali pada trimester ketiga, kunjungan antenatal pertama (K1) harus dilakukan pada trimester
pertama, guna mendorong peningkatan cakupan kunjungan antenatal, persalinan harus ditolong
tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, ketersediaan pelayanan kegawatdaruratan Ibu hamil,
bersalin dan nifas di fasilitas pelayanan dasar dan rujukan, bidan desa harus tinggal di desa
(dalam satu desa minimal terdapat satu bidan yang tinggal di desa), guna memberikan kontribusi
positif untuk pertolongan persalinan serta pencegahan dan penanganan komplikasi maternal,
pelayanan KB harus ditingkatkan guna mengurangi faktor risiko 4 terlalu, pemberdayaan
keluarga dan masyarakat dalam kesehatan reproduksi responsif gender harus ditingkatkan untuk
meningkatkan health care seeking behaviour.
Departemen kesehatan menargetkan angka kematian ibu pada 2010 sekitar 226 orang dan
pada tahun 2015 menjadi 102 orang pertahun. Berdasabersasarkan survei terakhir tahun 2007
AKI di Indonesia sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Faktor langsung penyebab tingginya
AKI adalah perdarahan (45%), terutama perdarahan post partum. Selain itu adalah keracunan
kehamilan (24%), infeksi (11%), dan partus lama/macet (7%). Komplikasi obstetrik umumnya
terjadi pada waktu persalinan, yang waktunya pendek yaitu sekitar 8 jam.
AKI yang tinggi menunjukkan rawannya derajat kesehatan ibu. Jumlah kasus kematian
ibu yang dilaporkan di Provinsi Lampung sampai dengan bulan Desember tahun 2012 sebanyak
178 kasus. terjadi peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun 2011 yaitu 152 kasus.
Penyumbang kematian terbanyak adalah Kota Bandar Lampung dengan kasus terbanyak adalah
eklampsia dan perdarahan, rata-rata penyebab kematian ibu adalah perdarahan (23%), eklampsi
33%, infeksi 2%, dan kematian karena adanya penyakit-penyakit lain 42%, (Dinkes Lampung,
2012).

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan teknik pengeluaran ASI terhadap Ny. S
4 hari post partum di BPS Desi Andriani Amd.Keb?.


C. Tujuan penulisan
1. Tujuan Umum
Penulis mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan teknik pengeluaran
ASI terhadap Ny. S umur 34 tahun P2A0 4 hari post partum normal di BPS Desi
Andriani Amd.Keb sesuai dengan standar yang berlaku dengan menggunakan pendekatan
manajemen varney.

2. Tujuan Khusus
1. Diharapkan penulis dapat melakukan pengkajian pada ibu nifas dengan teknik pengeluaran
ASI khususnya pada Ny. S umur 34 tahun P2A0 4 hari post partum normal di BPS Desi
Andriani Amd.Keb.
2. Diharapkan penulis dapat menentukan interpretasi data pada ibu nifas dengan teknik
pengeluaran ASI khususnya pada Ny. S umur 34 tahun P2A0 4 hari post partum
normal di BPS Desi Andriani Amd.Keb.
3. Diharapkan penulis dapat menentukan diagnose potensial pada ibu nifas dengan teknik
pengeluaran ASI khususnya pada Ny. S umur 34 tahun P2A0 4 hari Post
Partum normal di BPS Desi Andriani Amd.Keb.
4. Diharapkan penulis dapat melakukan tindakan segera atau kolaborasi pada ibu nifasdengan
teknik pengeluaran ASI khususnya pada Ny. S umur 34 tahun P2A0 4 haripost
partum normal di BPS Desi Andriani Amd.Keb.
5. Diharapkan penulis dapat merencanakan tindakan pada ibu nifas dengan teknik
pengeluaran ASI khususnya pada Ny. S umur 34 tahun P2A0 4 hari Post
Partumnormal di BPS Desi Andriani Amd.Keb.
6. Diharapkan penulis dapat melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan teknik
pengeluaran ASI khususnya pada Ny. S umur 34 tahun P2A0 4 hari Post
Partum normal di BPS Desi Andriani Amd.Keb.
7. Diharapkan penulis dapat melakukan evaluasi terhadap rencana asuhan kebidananpada
ibu nifas dengan teknik pengeluaran ASI khususnya pada Ny. S umur 34 tahun P2A0 4 hari Post
Partum normal di BPS Desi Andriani Amd.Keb.
D. Ruang lingkup
1. Sasaran
Objek yang diambil dalam Karya Tulis Ilmiah ini ialah satu orang ibu nifas dengan teknik
pengeluaran ASI yaitu Ny. S umur 34 tahun P2A0 4 Hari Post Partum normal di BPS Desi
Andriani Amd.Keb Bandar Lampung pada tanggal 17 Mei 2013.
2. Tempat
Dalam Karya Tulis Ilmiah ini penulis mengambil kasus di BPS Desi Andriani Amd.Keb.
3. Waktu
Pelaksanaan asuahan kebidanan dalam Karya Tulis Ilmiah dilaksanakan dari tanggal 17 Juni
2013 sampai dengan tanggal 27 Juni 2013.


E. Manfaat Penelitian
1. Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi sumber bacaan bagi mahasiswi Akademi Kebidanan
Adila Bandar Lampung dalam menerapkan ilmu dan sebagai acuan penelitian berikutnya
2. Bagi lahan praktek
Sebagai masukkan dan bahan informasi untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan
kasus ASI sedikit pada ibu nifas di BPS Desi Andriani Amd.KebTahun 2013

3. Pasien
Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya Ny. S tentang perawatan kebidanan
pada masa nifas

4. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang perawatan masa
nifas, dan sebagai bahan perbandingan antara teori yang
dieroleh dibangku kuliahdengan di lahan praktek.

F. Metode penulisan
1. Metodologi Penulisan
Metode yang digunakan penulis dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode penelitian survey
deskriptif yang dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian yang dilakukan untuk
mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi dan untuk menggambarkan
atau memotret masalah kesehatan serta yang terkait dengan kesehatan sekelompok penduduk
atau orang yang tinggal dalam komunitas tertentu.
2. Teknik memperoleh data
a. Data primer
1) Wawancara
Salah satu metode yang digunakan penulis untuk mendapatkan data adalah dengan
wawancara,dimana penulis mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari seseorang
sasaran penelitian (responden), dan bercakap dengan berhadapan muka dengan orang tersebut.
Jadi data diperoleh langsung dari responden melalui suatu pertemuan atau percakapan.
Wawancara dalam penelitian adalah menggunakan metode wawancara auto anamnesis yaitu
anamnesis yang dilakukan kepada pasien langsung. Jadi data yang diperoleh adalah data primer
karena langsung dari sumbernya.

2) Pengkajian fisik
Penulis melakukan pemeriksaan fisik secara sistematis pada klien mulai dari kepala sampai kaki
dengan tehnik inspeksi,palpasi,auskultasi,dan perkusi.

b. Data sekunder
1) Studi pustaka
Penulis mencari, mengumpulkan, dan mempelajari referensi yang relevan berdasarkan kasus
yang dibahas yaitu Asuhan pada nifas normal dari beberapa buku dan informasi dari internet.

2) Study Dokumentasi
Study dilakukan dengan mempelajari status kesehatan klien bersumber dari catatan bidan,
maupun sumber lain yang menunjang seperti hasil pemeriksaan diagnostik.

BAB II
PEMBAHASAN

A. TINJAUAN TEORI MEDIS
1. NIFAS
a. Pengertian
Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat alat
kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas berlansung selama kira-
kira 6 minggu (Sulistyawati,2009;hal 1)

Masa nifas adalah masa segera setelah kelahiran sampai 6 minggu. Selama masa ini, saluran
reproduktif anatominya kembali ke keadaan tidak hamil yang normal (Rukiyah, at all, 2011; hal
2).

b. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Asuhan yang diberikan kepada ibu nifas bertujuan untuk:
1) Meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis bagi ibu dan bayi.
Dengan diberikan asuhan, ibu akan mendapatkan fasilitas dan dukungan dalam upayanya
untuk menyusuaikan peran barunya sebagai ibu(pada kasus ibu dengan kelahiran anak pertama)
dan pendampingan keluaga dalam membuat bentuk dan pola baru dengan anak kelahiran
berikutnya. Jika ibu dapat melewati masa ini dengan baik maka kesejahteraan fisik dan
psikologis ibupun akan meningkat.
2) Pencegahan, diagnose dini, dan pengobatan komplikasi pada ibu.
Dengan diberikannya asuhan pada ibu nifas, kemungkinan munculnya permasalahan dan
komplikasi akan lebih cepat terdeteksi sehingga penangananpun dapat lebih maksimal.
3) Merujuk ibu ke asuhan tenaga ahli jika perlu.
Meskipun ibu dan keluarga mengetahui ada permasalahan kesehatan pada ibu nifas yang
memerlukan rujukan, namun tidak semua keputusan yang diambil tepat, misalnya mereka lebih
memilih untuk tidak datang ke fasilitas pelayanan kesehatan karena pertimbangan tertentu. Jika
bidan senantiasa mendampingi pasien dan keluarga maka keputusan tepat dapat diambil sesuai
dengan kondisi pasien sehingga kejadian mortalitas dapat dicegah.
4) Mendukung dan memperkuat keyakinan ibu serta memungkinkan ibu untuk mampu
melaksanakan perannya dalam situasi keluarga dan budaya yang khusus.
Pada saat memberikan asuhan nifas, keterampilan seseorang bidan sangat dituntut dalam
memberikan pendidikan kesehatan terhadap ibu dan keluarga. Keterampilan yang harus dikuasai
oleh bidan, antara lain berupa materi pendidikan yang sesuai dengan kondisi pasien, teknik
penyampaian, media yang digunakan, dan pendekatan psikologis yang efektif sesuai dengan
budaya setempat. Hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena banyak pihak yang
beranggapan bahwa jika bayi telah lahir dengan selamat, serta secara fisik ibu dan bayi tidak ada
masalah maka tidak perlu lagi dilakuakn pendampingan bagi ibu. Padahal bagi para ibu(terutama
ibu baru), beradaptasi dengan peran barunya sangatlah berat dan membutuhkan suatu kondisi
mental yang maksimal.
5) Imunisasi ibu terhadap tetanus.
Dengan pemberian asuhan maksimal pada ibu nifas, kejadian tetanus dapat dihindari,
meskipun untuk saat ini angka kejadian tetanus sudah banyak mengalami penurunan.
6) Mendorong pelaksanaan metode yang sehat tentang pemberian makan anak, serta
peningkatan pengembangan hubungan yang baik antara ibu dan anak.
Saatbidan memberikan asuhan pada masa nifas, materi dan pemantauan yang diberikaan tidak
hanya sebatas pada lingkup permasalah ibu, tapi bersifat menyeluruh terhadap ibu dan anak.
Kesempatan untuk berkonsultasi tentang kesehatan, termasuk kesehatan anak dan keluarga akan
sangat terbuka. Bidan akan mengkaji pengetahuan ibu dan keluarga mengenai upaya mereka
dalam rangka peningkatan kesehatan keluarga. Upaya pengembangan pola hubungan psikologis
yang baik antara ibu, anak, dan keluarga jugadapat ditingkatkan melalui pelaksanaan asuhan ini.
(Sulistyawati,2009;hal 2-3)


c. Tahapan Masa Nifas
Masa nifas dibagi menjadi 3 tahap, yaitu puerperium dini, puerpurium intermadial,dan remote
puerperium. Dengan penjelasan sebagai berikut:
1) Puerperium dini
Pueperium dini merupakan masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu tetap diperbolehkan
berdiri dan berjalan- jalan. Dalam agam islam, dianggap bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2) Puerperium intermedial
Puerperium intermedial merupakan masa kepulihan menyeluruh alat- alat genetalia, yang
lamanya sekitar 6-8 minggu.
3) Remote puerperium
Remote puerperium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna,
terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat
sempurna dapat berlansung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
(Sulistyawati,2009;hal 5)






d. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Table 2.1 Program Masa Nifas
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6-8 jam
setelah
persalinan
1. Pencegah perdarahan masa nifas
karena atonia uteri.
2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain
prdarahan;rujuk jika perdarahan berlanjut.
3. Memberikan konseling pada ibu atau salah
satu anggota keluarga mengenai bagaimana cara
mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
uteri.
4. Pemberian ASI awal
5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi
baru lahir.
6. Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara
mencegahhypotermi
7. Jika petugas kesehatan menolong
persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi
baru lahir selama 2 jam pertama setelah klahiran
atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil.
2 6 hari setelah
persalinan
1. Memastikan involusi uterus berjalan
normal:uterus berkontraksi, funus
dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan
abnormal, tidak ada bau.
2. Menilai adanya tanda-tanda demam,infeks,
atau perdarahan abnormal.
3. Memastikan ibu mendapatkan cukup
makanan, cairan, dan istirahat.
4. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak mmperlihatkan tanda tanda penyulit.
5. Memberikan konseling pada ibu mengenai
asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap
hangat, dan merawat bayi sehari-hari.
3 2 minggu
setelah
prsalinan
Sama seperti diatas
4 6 minggu
setelah
persalinan
1. Menanyakan pada ibu tentang kesulitan-
kesulitan yang ia atau bayinya alami.
2. Memberikan konseling Kb secara dini
(Sulistyawati,2009;hal 6)
e. Perubahan Fisiologis Masa Nifas
1) Perubahan sisitem reproduksi
a) Uterus
(1) Pengerutan rahim (involusi)
Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada kondisi sebelum hamil.
Dengan involusi uterus ini, lapisan luar dari desidua yang mengelilingi situs plasenta akan
menjadi neurotic(layu/ mati). Perubahan ini dapat diketahui dengan melakukan
pemeriksaan palpasi untuk meraba TFU-nya.
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut :
(a) Autolysis
Autolysis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot uteri. Enzim
proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga 10 kali
panjangnya dari semula dan lima kali lebar dari semula selama kehamilan. Sitoplasma sel yang
berlebihan akan tercerna sendiri sehingga tertinggal jaringan fibro elastis dalam jumlah renik
sebagai bukti kehamilan.
(b) Atrofi jaringan
Jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen dalam jumlah besar, kemudian mengalami
atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai pelepasan plasenta.
Selain perubahan atrofi pada otot otot uterus, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan
terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi menjadi endometrium yang
baru.
(c) Efek oksitosin (kontraksi)
Hormon oksitosin yang terlepas dari kelenjar hipofisis memperkuatdan mengatur kontraksi
uterus, mengompresipembuluh darah dan membantu proses hemostatis. Kontraksi dan retraksi
otot uterus akan mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini akan membantu mengurangi
suplai darah keuterus. Proses ini akan membantu mengurangi bekas luka tempat implantasi
plasenta serta mengurangi pendarahan. Luka bekas perlekatan plasenta memerlukan waktu 8
minggu untuk sembuh total.(Sulistyawati,2009;hal 71-75)

Tabel 2.2 ProsesInvolusi Uterus
Involusi Tinggi Fundus
Uteri
Berat Uterus
(gr)
Keadaan Serviks
Bayi lahir Setinggi pusat 1000
Uri lahir 2 jari dibawah
pusat
750 Lembek
Satu minggu Pertengahan pusat
dan simpisis
500 Beberapa hari
setelah postpartum
dapat dilalui 2 jari.
Akhir minggu
pertama dapat
dimasuki 1 jari.
Dua minggu Tak teraba diatas
simpisis
350
Enam minggu Bertambah kecil 50-60
Delapan minggu Sebesar normal 30

(Dewi dan Sunarsih, 2011; hal 57)
Menurut Ambarwati (2009; hal 77) involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan memeriksa
fundus uteri dengan cara:
(a) Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm dibawah pusat, 12 jam kemudian
kembali 1 cm diatas pusat dan menurun kira- kira 1 cm setiap hari.
(b) Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundua uteri 1 cm dibawah pusat. Pada hari ketiga
sampai hari keempat tinggi fundus uteri 2 cm dibawah pusat. Pada hari kelima sampai hari
ketujuh tinggi fundus uteri pertengahan antara pusat dan simpisis. Pada hari kesepuluh tinggi
fundus uteri tidak teraba.
b) Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nfas. Lochea mengandung darah dan sisa
jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus. Lochea mempunyai reaksi basa/ alkalis yang
dapat membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina
normal. Lochea berbau amis atau anyir dengan volume yang berbeda- beda pada setiap wanita.
Lochea yang berbau dan tidak sedap menandakan adanya infeksi. Lochea mempunyai perubahan
warna dan volume karena adanya proses involusi. (Sulistyawati,2009;hal 76).
Berikut Ini Adalah beberapa jenis lokia yang terdapat pada wanita pada masa nifas yaitu :
(a) Lokia rubra (cruenta)
Lokia ini keluar pada hari pertama sampai hari keempat masa post partum. Cairan yang keluar
berwarna merah karena terisi darah segar, jaringan sisa-sia plasenta, dinding rahim, lemak
bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium.
(b) Lokia sanguilenta
Berwarna merah kecokelatan dan berlendir, serta berlansung, dari hari keempat dan hari ketujuh
post partum.
(c) Lokia serosa
Lokia ini berwarna kuning kecoklatan karena mngandung serum, leukosit, dan robekan atau
laserasi plasenta. Keluar pada hari ketujuh sampai hari ke-14 pascapersalinan.
(d) Lokia alba
Lokia ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lender serviks, dan serabut
jaringan yang mati. Lokia alba ini dapat berlansung selama 2-6 minggu post partum.
(e) Lokia Purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah dan berbau busuk.
Lochiostatis,lochea yang tidak lancar keluarnya(Sulistyawati, 2009;hal 76)
c) Perubahan di serviks dan Segmen Bawah Uterus
Setelah kelahiran, miometrium segmen bawah uterus yang sangat menipis berkontraksi dan
bertraksi tetapi tidak sekuat korpus uteri. Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek,
kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi,
sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri
berbentuk cincin (Rukiyah. at.all, 2011; h. 60).
d) Vulva danvagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan, serta peregangan yang sangat besar selama proses
melahirkan bayi. Dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap
dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva dan vagina kembali keadaan tidak hamil dan
rugae dalam vagina.
e) Perenium
Segera setelah melahirkan, perenium menjadi kendur karena sebelumnya terenggang oleh
tekanan bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari kelima, perineum sudah mendapatkan
kembali sebagian tonus-nya, sekalipun tetap kendur daripada keadaan sebelum hamil
(Sulistyawati,2009;hal 78-79).
Perineum adalah daerah antara vulva dan anus. Biasanya setelah melahirkan, perineum menjadi
agak bengkak atau edema dan mungkin ada luka jahitan bekas robekan atau episiotomi, yaitu
sayatan untuk memperluas pengeluaran bayi (Anik Maryuyani:h.15 ).
Penyembuhan luka perineum adalah mulai membaiknya luka perineum dengan terbentuknya
jaringan baru yang menutupi luka perineum dalam jangka waktu 6-7 hari post partum. Kriteria
penilaian luka yang pertama dikatakan baik, jika luka kering,perineum menutup dan tidak ada
tanda infeksi (merah, bengkak, panas, nyeri, fungsioleosa). Kedua, dikatan sedang, jika luka
basah, perineum menutup, tidak ada tanda-tanda infeksi (merah, bengkak, panas,
nyeri,fungsioleosa). Ketiga dikatakan buruk, jika luka basah, perineum menutup/membuka dan
ada tanda-tanda infeksi merah,bengkak, panas, nyeri, fungsioleosa (http://digilib.unimus.ac.id).
2) Perubahan Sistem Pencernaan
Biasanya, ibu akan mengalami konstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan karena pada
waktu persalinan, alat pencernaan mengalami tekanan yang menyebabkan kolon menjadi kosong,
pengeluaran cairan berlebih pada waktu persalinan, kurangnya asupan cairan dan makanan, serta
kurangnya aktifitas tubuh.
Supaya buang air besar kembali normal, dapat diatasi diet tinggi serat, peningkatan asupan cairan,
dan ambulasi awal. Bila ini tidak berhasil, dalam 2-3 hari dapat diberikan obat laksansia.
Selain konstipasi, ibu juga mengalami anoreksia akibat penurunan dari sekresi kelenjar
pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi, serta penurunan kebutuhan kalori yang
menyebabkan kurang nafsu makan.
3) Perubahan Sistem Perkemihan
Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit untuk buang air kecil dalam 24
jam pertama. Kemungkinan penyebab dari keadaan ini adalah terdapatspasme
sfinkter dan edema leher kandung kemih sesudah bagian ini mengalami kompresi (tekanan)
antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan berlansung.

Urine dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam 12-36 jam /postpartum. Kadar hormon estrogen
yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan tersebut disebut
dieresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam 6 minggu.(Sulistyawati,2009;hal
78-79)
4) Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir,
secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh
kebelakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamen rotundum menjadi kendor. Stabilisasi secara
sempurna terjadi pada


5) Perubahan Sistem Endokrin
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin, terutama pada
hormon-hormon yang berperan dalam proses tersebut.
(a) Oksitosin
Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang. Selama tahap ketiga persalinan,
hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga
mencegah pendarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin. Hal
tersebut membantu uterus kembali ke bentuk normal.
(b) Prolaktin
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar pituitary bagian belakang
untuk mengeluarkan prolaktin, hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk
merangsang produksi susu.
(c) Estrogen dan Progesteron
Selama hamil volume darah normal meningkat walaupun mekanismenya secara penuh belum
dimengertii. Diperkirakan bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar hormon antidiuretik
yang meningkatkan volume darah. Di samping itu, progesteron memengaruhi otot halus yang
mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini sangat memengaruhi
saluran kem h, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva, serta vagina.
(Saleha, 2009; h. 60).
6) Perubahan Tanda-Tanda Vital
(a) Suhu badan
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2derajat Celsius. sesudah partus dapat naik kurang
dari 0,5 derajat Celsius dari keadaan normal, namun tidak akan melebihi 8 derajat Celsius.
Sesudah dua jam pertama melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu ibu
lebih dari 38 derajat Celsius, mungkin terjadi infeksi pada klien.
(b) Nadi dan pernafasan
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/menit setelah partus, dan suhu tubuh tidak panas
mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada vitium kordis pada penderita. Pada masa nifas
umumnya denyut nadi labil dibandingkan dengan suhu tubuh, sedangkan pernafasan akan sedikit
meningkat setelah partus kemudian kembali seperti keadaan semula.
(c) Tekanan darah
Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum akan menghilang dengan
sendirinya apabila tidak terdapat penyakit penyakit lain yang menyertai dalam bulan tanpa
pengobatan.(Saleha, 2009; hal. 61).
7) Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar estrogen, volume darah kembali
kepada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin kembali normal pada
hari ke-5.Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan yang sangat besar selama masa nifas,
namun kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada normal. Plasma darah tidak begitu
mengandung cairan dengan demikian daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus
dicegah dengan penanganan yang cermat dan penekanan pada ambulasi dini.
8) PerubahanSistemHematologi
Pada ibu masa nifas 72 jam pertama biasanya akan kehilangan volume plasma daripada sel darah,
penurunan plasma ditambah peningkatan sel darah pada waktu kehamilan diasosikan
denganpeningkatan hematoktir dan haemoglobin pada hari ketiga sampai tujuh hari setelah
persalinan. (Rukiyah. at.all, 2011;h. 71)
9) Perubahan Payudara
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami. Proses menyusui
mempunyai dua mekanisme fisiologi, yaitu produksi susudan sekresi susu atau let down.
Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk
menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika hormon yang dihasilkan
plasenta lalu mengeluarkan hormon prolaktin. Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek
prolaktin pada payudara mulai bisa dirasakan. Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi
darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan sakit. Sel-sel acini yang menghasilkan ASI
juga mulai berfungsi. Ketika bayi menghisap putting, refleks saraf meransang untuk mengsekresi
hormon oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let down(mengalirkan), sehingga menyebabkan
ejeksi ASI melalui sinus aktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada putting. Ketika ASI
dialirkan karena isapan bayi atau dengan dipompa sel-sel acini terangsang untuk menghasilkan
ASI lebih banyak. Refleks ini dapat berlanjut sampai waktu yang cukup lama. (Saleha, 2009;hal
58)

2. Bendungan Asi
a. Pengertian
Bendungan Air Susu adalah terjadinya pembengkakan pada payudara karena peningkatan aliran
vena dan limfe sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu
badan.Bendungan ASI dapat terjadi karena adanya penyempitan duktus laktiferus pada payudara
ibu dan dapat terjadi pula bila ibu memiliki kelainan putting susu( misalnya putting susu datar,
terbenam dan cekung).
Sesudah bayi dan plasenta lahir, kadar estrogen dan progestron turun dalam 2-3 hari. Dengan ini
faktor dari hipotalamus yang menghalangi keluarnya prolaktin waktu hamil, dan sangat
dipengaruhi oleh estrogen, tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolaktin oleh hypopisis.
Hormon ini menyebabkan alveolus- alveolus kelenjar mamma terisi dengan air susu, tetapi untuk
mangeluarkannya dibutuhkan reflex yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitelial yang
mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut. Pada permulaan nifas apabila
bayi belum mampu menyusun dengan baik, atau kemudian apabila terjadi kelenjar-kelenjar tidak
dikosongkan dengan sempurna, terjadi pembendungan air susu.(Rukiyah dan Yulianti,2010;hal
345)
b. Faktor-faktor penyebab Bendungan ASI
1) Pengosongan mamae yang tidak sempurna (dalam masa laktasi, terjadi peningkatan
produksi ASI pada ibu yang produksi ASI-nya berlebihan, apabila bayi sudah kenyang dan
selesai menyusu, dan payudara tidak dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI didalam
payudara. Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat menimbulkan bendungan ASI).
2) Faktor hisap bayi yang tidak aktif(pada masa laktasi, bila ibu tidak menyusukan bayinya
sesering mungkin atau jika bayi tidak aktif menghisap, maka akan menimbulkan bendungan
ASI).
3) Faktor menyusui bayi yang tidak benar( teknik yang salah dalam menyusui dapat
mengakibatkan puting susu menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu.
Akibatnya ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI).
4) Puting susu terbenam( putting susu terbenam akan menyulitkan bayi dalam menyusu.
Karena bayi tidak dapat menghisap putting dan areola, bayi tidak mau menyusu dan akibatnya
terjadi bendungan ASI).
5) Putting susu terlalu panjang(putting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada saat
bayi menyusu karena bayi tidak dapat menghisap areola dan meransang sinus laktiferus untuk
megeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan bendungan ASI).(Rukiyah dan
Yulianti,2010;hal 346)
c. Tanda dan gejala bendungan ASI
Tanda dan gejala bendungan ASI antara lain dengan ditandainya dengan pembengkakan
payudara bilateral dan secara palpasi secara keras, kadang terasa nyeri serta seringkali disertai
peningkatan suhu badan ibu, tetapi tidak terdapat tanda- tanda kemerahan dan demam
(Prawiroharjo, 2010;hal 652).
Gejala yang biasa terjadi pada bendungan ASI antara lain payudara penuh terasa panas, berat dan
keras, terlihat mengkilat meski tidak kemerahan.ASI biasanya mengalir tidak lancar, namun ada
pula payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri, puting susu teregang
menjadi rata. ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI.
Ibu kadang-kadang menjadi demam, tapi biasanya akan hilang dalam 24 jam.
(http://andrianinuralfadilah.blogspot.com ).
d. Penanganan bendungan ASI
1) Penanganan yang dilakukan yang paling peting adalah dengan mencegah terjadinya payudara
bengkak, susukan bayi segera setelah lahir, susukan bayi tanpa jadwal, keluarkan sedikit ASI
sebelum menyusui agar paudara lebih lembek, keluarkan ASI dengan tangan atau pompa bila
produksi melebihi kebutuhan ASI.
2) Laksanakan perawatan payudara setelah mlahirkan, untuk mengurangi rasa sakit pada
payudara berikan kompres dingin dan hangat dengan handuk secara bergantian kiri dan kanan,
untuk memudahkan bayi menghisap atau menangkap putting susu berikan kompres sebelum
menyusui, untuk mengurangi bendungan di vena dan pembuluh getah bening dalam payudara
lakukan pengerutan yang dimulai dari putting kearah korpus mamae, ibu harus rileks, pijat leher
dan punggung belakang.
Perawatan payudara, payudara merupakan sumber yang akan menjadi makanan utama bagi anak.
Karena itu jauh sebelumnya harus memakai BH yang sesuai dengan pembesaran payudara yang
sifatnya menyokong payudara dari bawah suspension bukan menekan dari depan.
Alat-alat yang diperlukan untuk perawatan payudara adalah kapas dalam kom kecil, 2 buah
waskom yang berisi air hangat dan air dingin, baby oil, waslap 2 buah, handuk besar 2 buah,
sarung tangan 1 buah, bengkok 1 buah, dan baju ganti set.
Cara kerja dalam perawatan payudara adalah :
a) Bantu ibu untuk membuka pakaian bagian atas dan dalam secara sopan.
b) Berikan kompres kapas yang berisikan baby oil pada putting susu selama dua menit.
c) Bersihkan putting susu pada kotoran.
d) Kemudian oleskan baby oil pada kedua tangan pemeriksa.
e) Letakkan tangan pada awal pemijatan dengan penutup payudara dibagian pinggir.
f) Pegang payudara kanan dengan tangan kanan kemudian dengan 3 jari tangan kiri lakukan
gerakan memutar/ spiral dari pangkal kedepan menuju areola, lakukan sebanyak 30 kali pada
payudara kanan dan kiri.
g) Lakukan gerakan yang sama dengan nomer 6 tetapi dengan menggunakan 4 jari.
h) Dengan menggunakan telapak tangan lakukan gerakan memutar dari dalam keluar atau
dari luar kedalam sebanyak 30 kali.
i) Sanggah payudara dengan tangan kanan kemudian dengan tangan kiri dengan 4 jari
dirapatkan dengan menggerakan jari kelingking menekan dengan kuat kedepan menujuh areola
pada payudara kanan dan kiri.
j) Sanggah payudara kanan dengan kanan kemudian tangan kiri menggenggam dengan
menggunakan buku-buku jari menekan dengan kuat kedepan menuju areola, lakukan 30 kali
masing- masing pada payudara kanan dan kiri.
k) Lakukan pemijitan pada putting payudara kearah luar dengan menggunakan ibu jari
dengan telunjuk tangan kiri dan kanan (diamond).
l) Dengan menggunakan telapak tangan kanan dan kiri dengan jari-jari dirapatkan lekukan
gerakan memijat payudara secara berlawanan arah.
m) Kompres payudara kanan dan kiri dengan kompres hangat dan kompres dingin secara
bergantian sebanyak 5 langkah diakhiri dengan kompres hangat (kompres hangat selama 2 menit,
kompres air dingin selama 1 menit).
n) Lakukan prasat gerakan Hoffman dan penggunakan pompa putting pada putting pendek
dan terbenam.
o) Keringkan payudara dengan handuk.
p) Bantu ibu mengenakan pakaian dan bereskan alat- alat.
q) Cuci tangan.
Lakukan teknik menyusui, dengan langkah- langkah sebagai berikut:
a) Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada putting susu dan
areola disekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban
putting susu.
b) Bayi diletakan menghadap perut ibu/ payudara
c) Ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik menggunakan kursi yang
rendah (kaki tidak menggantung) dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi.
d) Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada
lengkung siku ibu (kepala tidak boleh mengenadah) dan bokong bayi ditahan dengan telapak
tangan ibu.
e) Satu tangan bayi diletakan dibelakang badan ibu, dan yang satu didepan.
f) Perut bayi menempel perut ibu, kepala bayi menghadap payudara (tidak hanya
membelokkan kepala bayi).
g) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
Catatan : ibu menetap bayi dengan kasih saying
h) Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari lain menopang dibawah, jangan menekan
putting susu atau areola saja.
i) Bayi diberi ransangan untuk membuka mulut (rooting reflek) dengan cara:
(1) Menyentuh pipi dengan putting susu
(2) Menyentuh sisi mulut bayi
j) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu
dengan putting susu serta areola dimasukan kemulut bayi:
(1) Usahakan sebagaian areola dapat masukan kedalam mulut bayi sehingga putting susu ibu
berada dibawah langit- langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat penampung
ASI yang terletak dibawah areola.
(2) Setelah bayi mulai menghisap payudara tak perlu dipegang atau disanggah lagi.
k) Untuk mengetahui bayi telah menyusui dengan teknik yang benar dan tepat. Dapat dilihat :
(1) Bayi tampak tenang
(2) Badan bayi menempel dengan perut ibu
(3) Mulut bayi membuka dengan lebar
(4) Sebagain areola masuk kedalam mulut bayi
(5) Bayi Nampak menghisap kuat dengan irama perlahan
(6) Putting susu ibu tidak terasa nyeri
(7) Telinga dan lengan sejajar terletak pada garis lurus
(8) Kepala tidak menengadah
l) Melepaskan isapan bayi
Setelah menyusui pada satu payudara sampai kosong, sebaiknya ganti payudara yang lain. Cara
melepaskan isapan bayi :
(1) Jari kelingking ibu dimasukan kemulut bayi melalui sudut mulut.
(2) Dagu bayi ditekan kebawah
Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada putting susu dan
areola sekitar. Biarkan kering dengan sendirinya.
(Daftar tilik, AKBID ADILA)
m) Bagi ibu menyusui, dan bayi tidak menetek, bantulah memerah air susu dengan tangan dan
pompa, jika ibu menyusui dan bayi mampu menetek, bantu ibu meneteki lebih sering pada kedua
payudara tiap kali meneteki, berikan penyuluhan cara meneteki yang baik. Mengurangi sebelum
menetek: berikan kompres hangat pada dada sebelum meneteki atau mandi air hangat, pijat
punggung dan leher, memeras susu secara manual sebelum meneteki dan basahi putting susu
agar bayi mudah menetek. Mengurangi nyeri setelah meneteki: gunakan bebet atau kutang,
kompres dingin pada dada untuk mengurangi bengkak, terapi paresetamol 500 mg per oral.
3) Bagi ibu tidak menyusui, berikan bebet atau kutang ketat, kompres dingin pada dada untuk
mengurangi bengkak dan nyeri, hindari pijat dan kompres hangat, berikan paresetamol 500 mg
per oral, evaluasi 3 hari. (Rukiyah dan Yulianti,2010;hal 347-348)

e. Dampak bendungan ASI
Statis pada pembuluh limfe akan mengakibatkan tekanan intraduktal yang akan mempengaruhi
berbagai segmen pada payudara, sehingga tekanan seluruh payudara meningkat, akibatnya
payudara sering terasa penuh, tegang, dan nyeri (WHO), walaupun tidak disertai dengan demam.
Terlihat kalang payudara lebih lebar sehingga sukar dihisap oleh bayi. Bendungan ASI yang
tidak disusukan secara adekuat akhinyabisa terjadi mastitis.(http://yuniochyrosiati.blogspot.com )
a. PROSES LAKTASI DAN MENYUSUI
1. Anatomi payudara
a) Struktur makroskopis payudara :
1) Cauda axsilaris
Adalah jaringan payudara yang meluas ke arah aksila.
2) Areola
Adalah daerah lingkaran yang terdiri atas kulit yang longgar dan mengalami hiperpigmentasi.
3) Papilla mamae
Lubang-lubang kecil yang merupakan muara dari duktus laktiferus.
b) Struktur mikroskopis payudara :
1) Alveoli
Unit terkecil yang memproduksi susu.
2) Duktus laktiferus
Adalah saluran sentral yang muara dari beberapa tubulus laktiferus.
3) Ampulla
adalah bagian dari tubulus laktiferus yang melebar, merupakan tempat menyimpan air susu.

4) Tubulus laktiferus
Meluas dari ampula sampai muara pappila mamae.(Vivian, 2011:h.6)

2. Produksi air susu
a) Fisiologi Laktasi
Proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI dinamakan laktasi. Bayimenghisap payudara,
hormon yang bernama oksitosin membuat ASI mengalir dalam alveoli, melalui saluran susu
(ductus lactiferus) melalui reservoir susu yang berlokasi dibelakang areola, lalu kedalam mulut
bayi. Pengaruh hormonal bekerja mulai dari bulan ketiga kehamilan, dimana tubuh wanita
memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudaraASI Eksklusif
adalah pemberian ASI saja, termasuk kolostrum tanpa tambahan apapun sejak dari lahir dengan
kata lain pemberian susu formula, air matang, air gula dan madu untuk bayi baru lahir tidak
dibenarkan.
Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi karena mengandung kebutuhan
energy dan zat yang dibutuhkan selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. Namun, adakalanya
seorang ibu mengalami masalah dalam pemberian ASI. Kendala yang utama adlah karena
produksi ASI tidak lancar. (Saleha, 2009:11)
Laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian, yaitu produksi ASI (prolaktin)
dan pengeluaran ASI (oksitosin).


1) Produksi ASI (Prolaktin)
Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19minggu, dan berakhir ketikamulai
menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon esterogen dan progesteron yangmembantu
maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI. Proses produksi
ASI/refleks prolaktin

Gamabar 3. Produksi ASI











2) Refleks Prolaktin



Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, tetapi jumlah
kolostrum terbatas dikarenakan aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron
yangmasih tinggi. Pasca persalinan, yaitu saat lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus
luteum maka estrogen dan progesteron juga berkurang. Hisapan bayi akan merangsang puting
susu dan kalang payudara, karena ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor
mekanik. Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus dan
akan menekan pengeluaran faktor penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya
merangsang pengeluaran faktor pemacu sekresi prolaktin. Faktor pemacu sekresi prolaktin akan
merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli
yang berfungsi untuk membuat air susu.

Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal bulan setelah melahirkan
sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada
isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung. Pada ibu nifas yang tidak menyusui,
kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2 3. Sedangkan pada ibu menyusui
prolaktin akan meningkat dalam keadaan seperti: stress atau pengaruh psikis, anastesi, operasi
dan rangsangan puting susu. (Saleha, 2009:11)
3) Pengeluaran ASI (Oksitosin)
Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan menghasilkan rangsangan
saraf yang terdapat pada glandula pituitaria posterior, sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini
menyebabkan sel-sel miopitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk
dalam pembuluh ampula. Pengeluaran oksitosin selain dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh
reseptor yang terletak pada duktus.Bila duktus melebar, maka secara reflektoris oksitosin
dikeluarkan olehhipofisis.(saleha,2009:h.11)
3. Manfaat pemberian ASI
a) Bagi bayi
1) Komposisi sesuai kebutuhan
2) Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan
3) ASI mengandung zat pelindung
4) Perkembangan psikomotorik lebih cepat
5) Menunjang perkembangan kognitif
6) Menunjang perkembangan penglihatan
7) Memperkuat ikatan batin ibu dan anak
8) Dasar untuk perkembangan emosi yang hangatDasar untukperkembangan kepribadian dan
percaya diri.
b) Bagi ibu
1) Mencegah perdarahan pascapersalinan dan mempercepat kembalinya rahim kebentuk
semula
2) Mencegah anemia defisiensi besi
3) Mempercepat ibu kembalim ke berat badan sebelum hamil
4) Menunda kesuburan
5) Menimbulkan perasaan dibutuhkan
6) Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium


c) Manfaat bagi keluarga
1) Mudah dalam proses pemberiannya
2) Mengurangi biaya rumah tangga
3) Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehinggadapat menghematbiaya untuk berobat.
d) Manfaat bagi Negara
1) Penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat obatan.
2) Penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula danperlengkapan menyusui.
3) Mengurangi populasi.
4) Mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas (Saleha. 2009:32-33)

4. Dukungan bidan dalam pemberian ASI
Peranan awal bidan dalam mendukung pemberian ASI adalah :
a) Meyakinkan bahwa bayi memperoleh makanan yang mencukupi dari payudara ibu.
b) Membantu ibu sedemikian rupa sehingga ia mampu menyusui bayinya sendiri.
Bidan dapat memberikan dukungan dalam pemberian ASI, dengan :
a) Membiarkan bayi bersama ibunya segera sesudah lahir selama beberapa jam pertama.
b) Mengajarkan cara perawatan payudara yang sehat pada ibu untuk mencegah masalah
umum yang timbul.
c) Membantu ibu pada waktu pertama kali pemberian asi
d) Menempatkan bayi didekat ibu pada kamar yang sama
e) Memberikan asi pada bayi sesering mungkin
f) Memberikan kolostrum dan asi saja
g) Menghindari susu botol dan dot empeng
(yanti, 2011:h.12)

5. Manfaat pemberian ASI
Manfaat asi untuk bayi adalah sebagai berikut :
1) Nutrien
kedua dalam tahun pertama, dan 1/3 nutrisi atau lebih dalam tahun kedua.
2) ASI mengandung zat protektif
Dengan adanya zat pprotektif dalamm ASI sehingga bayi jarang mengalami sakit. Zat protektif
tersebut antara lain :
3) laktobasilus bifidus dalam asi sesuai kebutuhan bayi
(a) Asi memberikan seluruh kebutuhan nutrisi dan energi selama 1 bulan pertama, separuh
atau lebih nutrisi selama 6 bulan
Membantu memberikan keasaman pada pencernaan sehingga menghambat pertumbuhan
mikroorganisme.
(b) Laktoferin
Mengikat zat besi sehingga membantu menghambat pertumbuhan kuman.
(c) Lisozim
(d) Komplemen c3 dan c4.
(e) Imunoglobulin (Igc, IgM, IgA, IgD, dan IgE) melindungi tubuh dari infeksi.
4) Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan bagi bayi dan ibu.
5) Menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan bayi menjadi baik.
6) Mengurangi kejadian dentis.(Yanti, 2011:h.17)
6. Stadium ASI
ASI dibedakan dalam 3 stadium yaitu :
a) Kolostrum
Cairan pertama yang diperoleh bayi pada ibunya adalah kolostrum. ASI mulai ada kira-kira pada
hari ke 3 atau hari ke 4. kolostrum merupakan cairan dengan viskositas kental, lengket dan
berwarna kekuningan.volume klolostrum antara 150-300 ml/ 24 jam. Kolostrum juga pencahar
yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan
mempersiapkan saluran pencernaan makanan bagi makanan yang akan datang.

b) ASI transisi/ peralihan
Asi yang kluar setelah kolostrum sa,pai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke 4 sampai hari
ke 10.

c) ASI matur
ASI matur disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya. ASI matur tampak berwarna putih.
( Saleha, 2009:h.20)



Tabel 2. Perbedaan kandungan kolostrum dan ASI matur.
Komposisi Kolostrum
(hari 1-5)
ASI Matur
Energi (kcal/dl) 58.0 70.0
Lemak (g/dl)
Asam lemak Tak jenuh
Rantai panjang (%/total
lemak)
2.9


-
42


14
Protein (g/dl)
Kasein (g/dl)
-Lactalbunin (g/dl)
Whey
Lactoferin (g/dl)
IgA (g/dl)
2.3
0.5
-

0.5
0.5
0.9
0.4
0.3

0.2
0.2
Lactosa (g/dl) 5.3 7.3
Vit A (RE) ( g/dl) 151 75
Kalsium (mg/dl)
Natrium (mg/dl)
Zat Besi (mg/dl)
28
48
-
30
15
0.0847


7. Tanda bayi cukup ASI
Bayi 0-6 bulan, dapat dinilai kecukupan ASI bila bila mencapai keadaan bayi sebagai berikut :
a) Bayi minum ASI tiap 2-3 jam atau dalam 24 jam minimal mendapatkan 8 kali pada 2-3
minggu pertama.
b) Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering dan warna lebih muda pada hari
kelima setelah lahir.
c) Bayi BAK paling tidak 6-8 kali/hari
d) Payudara terasa lebih lembek, yang menandakan ASI telah habis
e) Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit kenyang.
f) BB dan TB sesuai grafik pertumbuhan
g) Peekembangan motorik baik
h) Bayi menyusu dengan kuat, kemudian melemah dan tidur pulas .(Vivian, 2011:h.24)

8. ASI eksklusif
ASI esklusif (menurut WHO) adalah pemberian ASI saja pada bayi selama 6 bulan tanpa
tambahan cairan ataupun makanan apapun. ASI dapat diberikan sampai bayi berumur 6 bulan.
Bila memungkinkan ASI diberikan sampai 6 bulan dengan menerapkan hal-hal berikut :
a) IMD selama 1 jam setelah kelahiran bayi.
b) ASI esklusif diberikan pada bayi hanya ASI saja tanpa tamabahn makanan atau
minuman.
c) ASI diberikan secara on-demand atau sesuai kebutuhan bayi.
d) ASI tidak diberikan melalui botol, cangkir, dan dot.(Vivian, 2011:h.25)

Alasan ASI harus dibrikan selama 6 bulan, yaitu:
a) komposisi ASI cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi apabila diberikan tepat.
b) bayi saat umur 6 bulan sistem pencernaannya mtur, pori-pori tertutup saat bayi berumur 6
bulan.(Yeyeh,2011:h.27)

Cara memberikan ASI pada bayi yang telah didinginkan adalah sebagai berikut:
a) Panaskan ASI dengan cara membiarkan botol dialiri air panas yang bukan mendidih
yang keluar keran atau merendem botol di dalam baskom atau mangkok yang berisi air panasatau
bukan mendidih.
b) Jangan sekali-kali memanaskan botol dengan cara mendidihkannya dengan panci,
menggunakan microwave atau alat lain, kecuali yang memang didesain untuk memanaskan ASI.
c) Ibu tentunya mengetahui berapa banyak ASI yang diminum oleh bayinya jadi
sesuaikan jumlah ASI yang dipanaskan.(Vivian, 2011:h.28)

Tabel 3. Penyimpanan ASI
ASI Suhu ruangan Lemari Es/kulkas Freezer
ASI yang baru
saja diperah
(ASI segar)
ASI matang :

24 jam dalam
suhu 15C

10 jam, dalam
suhu 19-22C

4-6 jam dalam
suhu
3-6 hari dengan
suhu 0-4C

Jangan disimpan
dibagian pintu, tapi
simpan dibagian
paling belakang
lemari Es/kulkas-
paling dingin dan
tidak terlalu
terpengaruh
perubahan suhu
3-4 bulan
dengan freezer 2
pintu


6-12 bulan
dalam freezer
khusu yang
sangat dingin
(<18C)
ASIP beku-
dicairkan
dengan lemaru
Es/kulkas tapi
belum
dihangatkan
Tidak lebih dari
4 jam (yaitu
jadwal minum
ASIP
berikutnya)
Simpan dilemari
Ee/kulkas sampai
dengan 24 jam
Jangan
dimasukkan
kembali dalam
freezer
ASIP yang
sudah dicairkan
dengan air
hangat
Untuj diminum
sekaligus
Dapat disimpan
selama 4 jam atau
sampai jadwal
minum ASIP
berikutnya
Jangan
dimasukkan
kembali dalam
freezer
ASIP yang
sudah mulai
diminum oleh
Sisa yang tidak
dihabiskan
harus dibuang
Dibuang Dibuang
bayi dari botol
yang sama

9. Perawatan payudara
Perawatan payudara dilakukan semasa hamil dan setelah melahirkan. Pada ibu hamil perlu
dilakukan perawatan payudara pada usia kehamilan 3 bulan dan 6 bulan. Dan tidak dianjurkan
pada ibu hamil melakukan perawatan pada 6 bulan keatas, karena dapat mengakibatkan kontraksi.
Pada saat hamil, terjadi pembengkakandari payudara akibat pengaruh hormonal termasuk juga
pembengkakandari puting susu, selain itu daerah puting warnanya akan gelap. Dengan adanya
pembengkakan tersebut, payudara mudah menjadi luka sehingga perlu dilakukan juga perawatan
payudara.
Perawatan payudara adalah suatu tindakan untuk merawat terutama pada masa nifas (masa
menyusui) untuk memperlancarkan pengeluaran ASI (Siti Saleha, 2009).
a) Tujuan Perawatan Payudara Masa Nifas
Tujuan perawatan payudara setelah melahirkan antara lain adalah:
1) Memelihara kebersihan payudara agar terhindar dari infeksi.
2) Mencegah terjadinya bendungan ASI/pembengkakan payudara.
3) Meningkatkan produksi ASI dengan merangsang kelenjar-kelenjar air susu melalui
pemijatan.
4) Melenturkan dan menguatkan puting.
5) Untuk mengetahui secara dini kelainan puting dan melakukan usaha untuk mengatasinya.
6) Persiapkan psikis ibu menyusui (Saryono & Pramitasari, 2009)
Pelaksanaan perawatan payudara pasca persalinan dimulai sedini mungkin yaitu 1-2 hari sesudah
bayi dilahirkan. Hal itu dilakukan 2 kali sehari yaitu pada waktu mandi pagi dan mandi sore.

b) Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan
1) Lakukan perawatan payudara secara taratur.
2) Pelihara kebersihan sehari-hari.
3) Pemasukan gizi harus lebih baik dan lebih banyak untuk mencukupi produksi ASI.
4) Ibu harus percaya diri akan kemampuan menyusui bayinya.
5) Ibu harus merasa nyaman dan santai.
6) Hindari dari rasa cemas dan strees.

c) Langkah-langkah perawatan payudara
1) Persiapan alat : minyak kelapa/baby oil secukupnya, handuk, kapas, sampiran, kom berisi
air hangat dan kom yang berisi air dingin.
2) Persiapan lingkungan : pasang sampiran atau tempat tertutup.
3) Persiapan ibu : ibu melepaskan pakaian atas dan BH, letakan handuk dengan posisi
melintang dibawah payudara, ibu duduk tegak di kursi.

Langkah-langkah perawatan payudara
1) Mencuci tangan di air bersih dan mengalir.
2) Kompres payudara dengan menggunakan kapas yang diberi baby oil selama 2-3 menit
kemudian bersihkan.
3) Licinkan kedua telapak tangan dengan minyak atau baby oil.
4) Tempatkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara.
5) Dengan menggunakan telapak tangan, payudara diurut dari bagian tengah melingkar
selanjutnya menuju kearah bawah lalu keatas dan diangkat kemudian berlahan-lahan dilepaskan,
diangkat selama 5 menit sebanyak 20-30 kali.
6) Telapak tangan kiri menyangga payudara kiri dan jari-jari tangan kanan dirapatkan,
kemudian sisi kelingking tangan mengurut payudara kiri dan pangkal payudara kearah puting
susu sebanyak 20-30 kali, demikian juga lakukan pada payudara sebelah kanan sebanyak 20-30
kali.
7) Telapak tangan kiri menyokong payudara kiri dan tangan kanan dikepal, dengan
menggunakan buku-buku jari mengurut payudara kiri dari pangkal kearah puting sebanyak 20-30
kali dan kemudian juga payudara sebelah kanan sebanyak 20-30 kali.
8) Merangsang buah dada dengan kompres air hangat lalu dengan dingin berganti-ganti 5
kali untuk setiap buah dada.
9) Payudara dibersihkan dan dikeringkan dengan menggunakan handuk bersih.
10) Memakai BH yang dapat menopang payudara.
11) Mencuci tangan.
(Ai Yeyeh 2011 dan Siti Saleha 2009)

Gambar 6. Perawatan payudara

10. Cara menyusui yang benar
a) posisi dan perlekatan menyusui
hal terpenting dalam posisi menyusui adalah ibu merasa nyaman dan rileks. Cara menyusui yang
tergolong bisa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri, atau berbaring.





Gambar 7. Posisi menyusui sambil duduk yang benar.


Gamabr 8. Posisi menyusui sambil berdiri yang benar.
Gambar 9. Posisi menyusui setengah duduk yang benar
b) Cara menyusui yang benar
Langkah-langkah menyususi yang benar, yaitu :
1) Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar puting,
duduk dan berbaring dengan santai.
2) Ibu harus mencari posisi yang nyaman dan rileks.
3) Lengan ibu menopang kepala, leher, dan seluruh badan bayi, muka bayi menghadap
kekepala bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi didepan puting susu ibu. Bayi
seharusnya berbaring miring dengan seluruh tubuhnya menghadap ke ibu. Kepala harus sejajar
dengan tubuhnya, tidak melengkung kebelakang, telinga, bahu, dan panggul bayi berada dalam
satu garis lurus.
4) Ibu mendekatkan bayi ketubuhnya dan mengamati bayi yang siap menyusu : membuka
mulut, bergerak mencari, dan menoleh. Bayi harus berada dekat dengan payudara ibu. Ibu tidak
harus mencondongkan badan dan bayi tidak mereganggkan lehernya untuk mencapai puting
susu ibu.
5) Ibu menyentuhkan puting susu kemulut bayi dan tunggu mulut bayi terbukalebar
kemudian mengarahkan mulut bayi ke puting susu ibu hingga bibir bayi dapat menangkap puting
susu ibu. Ibu memegang payudara dengan satu tangan dengan cara 4 jri dibawah payudara dan
ibu jari di atas payudara (membentuk huruf C).
6) Pastikan sebagaian arerola masuk ke dalam mulut bayi. Dagu rapat kepayudara ibu dan
hidunngnya menyentuh bagian atas payudara. Bibir bawah bayi melengkung keluar.
Gambar 10. Perlekatan yang benar

Gambar 11. Perlekatan yang salah

7) Jika bayi sudah selesai menyusui, ibu mengeluarkan puting dari mulut bayi dengan cara
memasukan jari kelingking ibu di antara mulut dan payudara.

Gamabr 11. Melepaskan puting dari mulut bayi

8) Menyendawakan mulut bayi dengan menyandarkan bayi di pundak atau menelungkupkan
bayi melintang kemudian menepuk-nepuk punggung bayi.


B. TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN
1. Pengertian
Manajemen asuhan kebidanan atau sering disebut manajemen asuhan kebidanan adalah suatu
metode berfikir dan bertindak secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar
menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan.

Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebgai metode
untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan-temuan,
keterampilan, dalam rangkaian tahap-tahap yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang
berfokus terhadap klien.

Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep yang dikembangkan oleh Helen Varney
dalam buku Varneys Midwifery, edisi ketiga tahun 1997, menggambarkan proses manajemen
asuhan kebidanan yang terdiri dari tujuh langkah yang berturut secara sistematis dan siklik
(Soepardan Suryani, 2008; h. 96).

Varney menjelaskan bahwa proses pemecahan masalah yang ditemukan oleh perawat dan
bidan pada tahun 1970-an. Proses ini memperkenalkan sebuah metode pengorganisasian
pemikiran dan tindakan dengan urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi klien maupun
bagi tenaga kesehatan. Proses manajemen kebidanan ini terdiri dari tujuh langkah yang berurutan,
dan setiap langkah disempurnakan secara berkala. Proses dimulai dari pengumpulan data dasar
dan berakhir dengan evaluasi. Ke-tujuh langkah tersebut membentuk suau kerangka lengkap
yang dapat diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan tetapi setiap langkah dapat diuraikan lagi
menjadi langkah-langkah yang lebih detail dan ini bisa berubah sesuai dengan kebutuhan klien
(Saminem, 2010; h. 39).
2. Langkah dalam manajemen kebidanan menurut Varney
I. Pengumpulan data dasar (Pengkajian)
Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua
sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara:
1) Anamnesa
Anamnesa dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sebagai berikut:
a) Auto anamnesa
Adalah anamnesa yang dilakukan kepada pasien langsung. Jadi data yang diperoleh adalah data
primer, karena langsung dari sumbernya.
b) Allo anamnesa
Adalah anamnesa yang dilakukan pada keluarga pasien untuk memperoleh data pasien. Ini
dilakukan pada keadaan darurat, ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan data
yang akurat (Sulistyawati, 2009;hal 156).
Anamnesa dilakukan untuk mendapatkan data anamnesa terdiri dari beberapa kelompok penting
sebagai berikut:
c) Identitas pasien
(1) Nama pasien dikaji agar tidak keliru dalam memberikan penanganan.
(2) Umur pasien dikaji untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat
reproduksi belum matang, mental dan psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih dari 35 tahun
rentan sekali untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas.
(3) Agama pasien dikaji untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau
mengarahkan pasien dalam berdoa.
(4) Suku pasien dikaji untuk mengetahui adat dan kebiasaan sehari- hari.
(5) Pendidikan pasien dikaji karena berpengarauh terhadap tindakan kebidanan dan untuk
mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling
sesuai dengan pendidikan.
(6) Pekerjaan pasien dikaji untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial ekonominya, karena
ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut.
(7) Alamat pasien untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan.
d) Keluhan utama dikaji untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan masa
nifas, misalnya pasien merasa mulas, sakit pada jalan lahir karena adanya jahitan pada perineum.
e) Riwayat kesehatan
(1) Sekarang
Data-data ini di perlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang di derita pada
saat ini yang ada hubungannya dengan masa nifas dan bayinya.
(2) Yang Lalu
Data yang di perlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, kronis
seperti: Jantung, DM, Hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini.
(3) Keluarga
Data ini di perlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga
terhadap gangguan kesehatan pasien dan bayinya, yaitu bila ada penyakit keluarga yang
menyertainya. (Ambarwati, 2009 h.133)

f) Riwayat obstetric
(1) Riwayat haid
Mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya. (Sulistyawati,2010)
(a) Menarche
Usia pertama kali mengalami menstruasi. Untuk wanita Indonesia pada usia sekitar 12 sampai 16
tahun. (Sulistyawati,2010)
(b) Siklus
Jarak antara menstruasi yang di alami dengan menstruasi berikutnya dalam hitungan hari,
biasanya sekitar 23 sampai 32 hari. (Sulistyawati,2010)
(c) Volume
Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstrusi yang di keluarkan. (Sulistyawati,2010)
(d) Keluhan
Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang di rasakan ketika mengalami menstruasi misalnya
sakit yang sangat, pening sampai pingsan,atau jumlah darah yang banyak. (Sulistyawati,2010)
g) Pola kebutuhan Sehari-hari
(1) Nutrisi
Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup,gizi seimbang terutama kebutuhan protein dan
karbohidrat.
(2) Eliminasi
Miksi di anggap normal bila dapat BAK spontan tiap 3 sampai 4 jam post partum. (Vivian dan
Sunarsih,2011 h.73)

(3) Istirahat
Ibu disarankan untuk beristirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan dan
menyarankan ibu untuk kembali ke kegiatan kegiatan yang tidak berat.(Vivian dan
Sunarsih,2011 h.76)
(4) Personal Hygine
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan tubuh terutama pada daerah
genetalia, karena pada masa nifas masih mengeluarkan lokia.
(5) Aktivitas
Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari- hari. Pada pola ini perlu di kaji pengaruh aktivitas
terhadap kesehatannya. Mobilisasi dini dapat mempercepat proses pengembalian alat- alat
reproduksi. (Ambarwati,2009 h.137)
2) Data Objektif
Data ini di kumpukan guna melengkapi data untuk menegakkan diagnosis. Bidan melakukan
pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi,palpasi,auskultasi,perkusidan
pemeriksaan penunjang yang di lakukan secara berurutan. (Sulityawati,2010)
a) Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan yang dilakukan kepada pasien sebagai berikut:
1) Keadaan umum
Data ini dapat dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan, hasil pengamatan yang di
laporkan kriterianya baik atau lemah.
2) Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien,kita dapat melakukan pengkajian derajat
kesadaran pasien dari keadaan compos mentis sampai dengan koma. (Sulistyawati, 2010 h.226)
3) Tinggi badan
Salah satu ukuran pertumbuhan seseorang.
4) Berat badan
Massa tubuh di ukur dengan pengukuran massa atau timbangan.

5) Tanda-tanda vital
(a) Tekanan darah
Pada beberapa kasus di temukan keadaan hipertensi post partum, tetapi keadaan ini akan
menghilang dengan sendirinya apabila tidak ada penyakit-penyakit lain yang menyertainya
dalam 2 bulan pengobatan.


(b) Nadi
Berkisar antara 60 sampai 80x/menit denyut nadi di atas 100x/menit pada masa nifas adalah
mengindikasikan adanya suatu infeksi, hal ini salah satunya bisa di akibatkan oleh proses
persalinan sulit atau karena kehilangan darah yang berlebih.
(c) Suhu
Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama pada masa nifas pada umumnya di
sebabkan oleh dehidrasi,yang disebabkan oleh keluarnya cairan pada waktu melahirkan,selain itu
bisa juga di sebabkan karena istirahat dan tidur yang di perpanjang selama awal persalinan.
(d) Pernafasan
Pernafasan harus berada dalam rentang yang normal,yaitu sekitar 20 sampai 30
x/menit(Ambarwati,2009 h.138- 139).
b) Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi :
pemeriksaan khusus ( terdiri dari inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi) dan pemeriksaan
penunjang yaitu laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya ( Soepardan Suryani,
2008; h. 97-98).



c) Pemeriksaan fisik
Kepala : Bentuk simetris atau tidak, keadaan rambut, kebersihan kepala, terdapat rasa
nyeriatau tidak
Muka: Terdapat oedema atau tidak,kebersihan mukadan nyeri tekan atau tidak
Mata : Konjungtiva, pupil, sklera, dan kebersihan mata
Telinga: Bentuk, kebersihan telinga dan nyeri tekanpada telinga
Hidung: Kebersihan hidung, dan terdapat pembesaranpolip atau tidak
Mulut: Bibir, gusi dan gigi, bau mulut, lidah
Leher : Bentuk kulit, pembesaran kelenjar
Dada : Bentuk dada, suara jantung, suara paru-paru,bentuk payudara, benjolan,
nyeritekan
Perut: Bekas operasi, nyeri tekan, nyeri tekan, nyeriketuk, bising usus ekstermitas, TFU
segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1
cm diatas pusat menurun kira-kira 1 cm setiap hari. Pada hari kedua setelah persalinan tinggi
fundus uteri 1 cm dibawah pusat. Pada hari ke 3-4 tinggi fundus uteri 2 cm dibawah pusat. Pada
hari ke 5 sampai 7 tinggi fundus uteri setengah pusat simpisis. Pada hari ke 10 tinggi fundus uteri
tidak teraba.( Ambarwati,2009;hal 131)
Punggung: Nyeri tekan, nyeri ketuk
Genetalia: Kebersihan, pengeluaran, danbau.
(Priharjo Robert, 2007; h. 50-154)
Ekstermitas : Varices, oedema dan reflek patella (Ambarwati, 2009;hal 141).
d) Data penunjang
Data ini didapatkan dari riwayat persalinan sekarang, data ini dikaji karena untuk mengetahui
apakah ibu selama proses persalinan mengalami komplikasi atau tidak. Karena 24 jam pertama
renta terjadinya angka kematian ibu yang diakibatkan dari atonia uteri.


II. Interpretasi data dasar
Pada langkah kedua dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan
interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian
diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan masalah dan diagnosa yang spesifik. Baik rumusan
diagnosis maupun rumusan masalah keduanya harus ditangani, meskipun masalah tidak bisa
dikatakan sebagai diagnosis tetapi harus mendapatkan penanganan. (Suryani, 2008 h. 99)



1) Diagnosa Kebidanan
Diagnosis dapat di tegakkan berkaitan dengan para,abortus,anak hidup,umur ibu,dan keadaan
nifas. (Ambarwati,2009 h.141).
Paritas adalah riwayat reproduksi seorang wanita yang berkaitan dengan primigravida (hamil
yang pertama kali), dibedakan dengan multigravida (hamil yang kedua atau lebih).
(Sulistyawati,2009;h.191).
2) Masalah
Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien. (Ambarwati,2009;h.141).
Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap
diagnosisnya.
(Sulistyawati,2009;h.192).
Hal-hal yang berkaitan dengan pengamatan klien yang ditemukan dari hasil pengkajian atau yang
menyertai diagnosis (Hani Ummi et all,2010;h.99).
3) Mengidentifikasi kebutuhan
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya.
Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap
diagnosinya (Sulistyawati,2009;h.192)



III. Identifikasi diagnose atau masalah potensial
Pada langkah ketiga ini mengidentifikasikan masalah potensial berdasarkan diagnosa atau
masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan
dilakukan pencegahan (Soepardan Suryani, 2008; h. 99).

IV. Tindakan segera
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan. Identifikasi dan
menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau
ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien.(Ambarwati
dan Wulandari, 2009;hal 143)

V. Merencanakan asuhan
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyuluh ditentukan oleh langkah sebelumnya.
Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen kebidanan terhadap diagnosa atau masalah yang
telah didentifikasikan atau di antisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tida lengkap
dilengkapi (Soepardan Suryani, 2008; h. 99)
Perencanaan asuhan kebidanan yang dapat dilakukan dalam 6 hari post partum adalah
1. Memastikan involusi uterus berjalan normal seperti uterus berkontraksi, funus
dibawah umbilicus
2. Tidak ada perdarahan abnormal dan tidakberbau.
3. Menilai adanya tanda-tanda demam,infeks, atau perdarahan abnormal.
4. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat.
5. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak mmperlihatkan tanda tanda penyulit.
6. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap
hangat, dan merawat bayi sehari-hari. (Sulistyawati, 2009; hal 6)

VI. Pelaksanaan
Langkah ini merupakn pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada klien dan keluarga.
Mengarahkan dan melaksanakn rencana asuhan secara efesien dan aman.

VII. Evaluasi
Dalam langkah ini dilakukan evaluasi keefektivan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi
pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar terpenuhi sesuai dngan kebutuhan
sebagimana telah diidentifikasi dalam masalah dan diagnosa.
Manajemen kebidanan merupakan suatu kontinu maka perlu mengulang kembali dari awal setiap
asuhan yang tidak efektif melalui proses manajemen untuk mengidentifikasi mengapa proses
manajemen tidak efektif serta malakukan penyesuaian pada rencana asuhan berikutnya (Hidayat
Asri dan Mufdillah, 2009; h. 79)

C. LANDASAN HUKUM KEWENANGAN BIDAN
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010
tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan, kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:
1. Kewenangan normal:
a. Pelayanan kesehatan ibu
b. Pelayanan kesehatan anak
c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana
2. Kewenangan dalam menjalankan program Pemerintah
3. Kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter.

Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan. Kewenangan ini
meliputi:
1. Pelayanan kesehatan ibu
a. Ruang lingkup:
1) Pelayanan ibu nifas normal
Table 2. 1 Program Masa Nifas
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6-8 jam
setelah
persalinan
1. Pencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain
prdarahan;rujuk jika perdarahan berlanjut.
3. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota
keluarga mengenai bagaimana cara mencegahperdarahan
masa nifas karena atonia uteri.
4. Pemberian ASI awal
5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
6. Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara
mencegah hypotermi
7. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus
tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir selama 2 jam
pertama setelah klahiran atau sampai ibu dan bayinya
dalam keadaan stabil.
2 6 hari
setelah
persalinan
1. Memastikan involusi uterus berjalan normal:uterus
berkontraksi, funus dibawahumbilicus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau.
2. Menilai adanya tanda-tanda demam,infeks, atau
perdarahan abnormal.
3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan,
dan istirahat.
4. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak
mmperlihatkan tanda tanda penyulit.
5. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan
pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan
merawat bayi sehari-hari.
3 2 minggu
setelah
prsalinan
Sama seperti diatas
4 6 minggu
setelah
1. Menanyakan pada ibu tentang kesulitan-kesulitan
yang ia atau bayinya alami.
persalinan 2. Memberikan konseling Kb secara dini
(Sulistyawati,2009;hal 6)
b. Kewenangan:
1) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
c. Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air susu ibu (ASI)
eksklusif
Selain itu, khusus di daerah (kecamatan atau kelurahan/desa) yang belum ada dokter, bidan juga
diberikan kewenangan sementara untuk memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan
normal, dengan syarat telah ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Kewenangan bidan untuk memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal tersebut
berakhir dan tidak berlaku lagi jika di daerah tersebut sudah terdapat tenaga dokter.
(http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/171)


BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS DENGAN TEKNIK PENGELUARAN
ASITERHADAP Ny. S UMUR 34 TAHUN P2A0 4 HARI POST PARTUM NORMAL
DI BPS DESI ANDRIANI Amd.Keb
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2013

I. Pengkajian
Tanggal : 17 Juni 2013
Jam : 10.00 WIB
Nama mahasiswa :Nofi Indra Lestari
NIM :AB/A/Y/2009.594

A. Data Subjektif
1. Identitas Pasien
Istri Suami
Nama : Ny. S Tn. D
Umur : 34 Tahun 41 Tahun
Agama : Islam Islam
Suku Bangsa : Jaseng Sunda
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : IRT Swasta
Alamat :Gg.Beringin NO 22 Gg.Beringin NO 2
Pahoman Pahoman


1. Alasan Datang :Tidak dilakukan pengkajian
Keluhan utama :Ibu mengatakan ASInya keluar sedikit
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat penyulit yang pernah / sedang diderita
1) Jantung : Tidak ada
2) Hipertensi : Tidak ada
3) Diabetes : Tidak ada
4) Asma : Tidak ada
5) Hepar : Tidak ada
6) Anemia berat : Tidak ada
7) PMS dan HIV/ AIDS : Tidak ada
b. Prilaku kesehatan
1) Penggunaa alkohol : Tidak ada
2) Pengkonsumsi jamu : Tidak ada
3) Merokok : Tidak ada
c. Riwayat kesehatan keluarga
1) Hipertensi : Tidak ada
2) Diabetes : Tidak ada
3) Asma : Tidak ada
4) Jantung : Tidak ada

d. Riwayat obstetri
1) Riwayat menstruasi
a) Menarch :Usia 13 tahun
b) Siklus : 28 hari
c) Teratur/tidak :Teratur
d) Lamanya : 7 hari
e) Dismenorea : Ada
f) Sifat darah :Cair disertai sedikit gumpalan berwarna
merah kehitaman
g) Banyaknya : 3 kali ganti pembalut/ hari
h) Keputihan : Tidak ada
2) Riwayat kehamilan sekarang
3) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
No Tahun Tempat
persalinan
Umur
Kehamilan
Jenis
persalinan
Penolong Penyulit Keadaan Ket
Nifas Anak
1



2
2006



2013
BPS



BPS
39 minggu
5 hari


40 minggu
2 hari
Normal



Normal
Bidan



Bidan
Tidak
ada


Tidak
ada
Baik



Baik
BB:
4500
gr
PB :
49
cm
BB:
4500
gr
PB :
49
cm


4) Riwayat persalinan sekarang
Jenis persalinan :Spontan
Tanggal :13 Juni 2013
Jam :05.00 wib
Jenis Kelamin :Laki- laki
Panjang Badan :49 cm
Berat Badan :4500 gr
Keadaan Bayi :Baik
5) Riwayat KB
Ibu sebelumnya menggunakan alat kontrasepsi KB suntik 3 bulan
6) Pola kebutuhan sehari-hari
a) Diet / makanan
(1) Selama hamil
Ibu mengatakan sehari-hari makan dengan menu nasi, sayur mayur, lauk berupa ; tahu, tempe,
ikan, telur, daging, buah-buahan dan sehari ibu makan 2-3 kali dengan porsi sedang.
(2) Saat nifas
Ibu mengatakan setelah bersalin makan dengan menu nasi, sayur mayur, lauk berupa ; tahu,
tempe, buah-buahan dan sehari ibu makan 2-3 kali dengan porsi sedang. Ibu tidak
mengkonsumsi lauk berupa makanan laut ataupun telur, karena menurut ibu bisa mengakibatkan
luka jahitan yang tidak kering dan gatal pada luka jahitan.
b) Pola eliminasi
(1) Selama hamil
BAK : 6-7 kali sehari dengan warna jernih dan bau khas urin
BAB : 1 kali sehari, konsistensi lunak, warna
kecoklatan
(2) Selama nifas
BAK : 3 jam post partum sudah 1 kali BAK dengan
warna jernih dan bau khas urin
BAB : 3 hari post partum sudah 1 kali BAB
konsistensi lunak, warna kecoklatan
c) Aktifitas sehari hari
(1) Pola istirahat dan tidur
a. Selama hamil: Ibu mengatakan tidur pada
malam hari 5-6 dan pada siang hari 1-2
jam.

b. Saat nifas : Ibu mengatakan tidur pada malam hari 4-
5 jam dan pada siang hari 1 jam.
(2) Pekerjaan
a. Serlama hamil : Ibu mengatakan sebagai ibu Rumah
yang mengerjakan pekarjaan rumah
seperti menyapu, mengepel,memcuci
dan memasak
b. Saat nifas : Ibu mengatakan sebagai ibu Rumah
Tangga tetapi pekerjaan yang ringan
saja seperti mencuci piring.
(3) Personal hygiene
a. Selama hamil
Mandi : Ibu mengatakan mandi 2 kali
sehari dengan menggosok gigi dan
mengganti celana dalam setelah
mandi dan jika lembab atau basah.
b. Saat nifas
c. Mandi : Ibu mengatakan mandi saat 2 kali
sehari dengan menggosok gigi dan
mengganti celana dalam setelah
mandi dan jika lembab atau basah
(1) Riwayat psikososial
(1) Kehamilan saat ini direncanakan : Ya
(2) Status perkawinan : Syah
(3) Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan dan nifas : Ibu mengatakan tidak makan
makanan seperti telur dan ikan.
(2) Riwayat spiritual
(1) Selama hamil :Ibu menjalankanibadahsesuai
kepercayaanagamanya yaitu Islam
(2) Selama nifas: Ibu belum menjalankan ibadah

B. Data objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Keadaan emosional : Stabil
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital :Tekanan darah : 110/70 mmHg
Pernapasan : 24 x/menit
Nadi : 78 x/menit
Suhu : 36,5 C
2. Pemeriksaan Fisik (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi)
a) Kepala
Warna Rambut : Hitam
Ketombe : Tidak Ada
Benjolan : Tidak Ada
Nyeri Tekan : Tidak Ada
b) Wajah
Hiperpigmentasi : Tidak Ada
Pucat :Tidak Ada
Edema :Tidak Ada
c) Mata
Simetris : Ya, Kiri Dan Kanan
Kelopak Mata : Tidak Ada Oedema
Konjungtifa : Merah Muda
Sklera :Putih
d) Hidung
Simetris :Ya, Kiri Dan Kanan
Polip :Tidak Ada
Kebersihan :Bersih, Tidak Ada Sekret
e) Mulut
Warna Bibir : Merah Muda
Pecah-Pecah :Tidak
Sariawan :Tidak Ada
Gusi Berdarah :Tidak Ada
Gigi :Tidak Ada Caries
f) Telinga
Simetris : Ya, Kiri Dan Kanan
Gangguan Pendengaran : Tidak Ada
g) Leher
Bendungan Vena Jugularis : Tidak Ada
Pembesaran Kelenjar Tyroid :Tidak Ada
Pembesaran Kelanjar Limfe :Tidak Ada
h) Dada
Retraksi Dinding Dada : Tidak Ada
Bunyi Mengi Dan Ronchi : Tidak Ada
i) Payudara
Simetris :Ya, kiri dan kanan
Pembesaran : tidak terdapat pembengkakan
Puting Susu : Menonjol
Hiperpigmentasi : Ada disekitar areola mamae
Benjolan :Tidak Ada
Konsistensi : Lembek
Pengeluaran :ASI
j) Punggung Dan Pinggang
Simetris :Ya
Nyeri Ketuk :Tidak Ada
Oedema :Tidak Ada
k) Abdomen
Pembesaran :Normal
Konsistensi : Keras
Kandung Kemih :Kosong
Uterus : Pertengahan pusat dan simpisis
l) Anogenital
Vulva :Utuh
Perineum : Terdapat luka jahitan
Pengeluaran Pervaginam : Lochea sanguelenta
Anus :Tidak terdapat hemoroid
Laserasi : Terdapat luka jahitan
3. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan Laboratorium
HB :Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Protein Urine :Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Glukosa Urina :Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Golongan Darah :Tidak Dilakukan Pemeriksaan
4. Data Penunjang
a) Riwayat Persalinan Sekarang
Tempat Melahirkan : BPS
Penolong :Bidan
Jenis Persalinan :Normal Pervaginam
Lama Persalinan :Kala I :13 Jam
Kala II :1 Jama 50 Menit
Kala III :10 Menit
Kala IV :2 Jam
Lamanya :17 Jam
Plasenta : Lahir Spontan
Vulva :Terdapat luka jahitan
b) Bayi
Lahir Tanggal/Pukul :13 Juni 2013, Pukul 05.00 Wib
Berat Badan :4500 gram
Panjang Badan :50 Cm
Jenis Kelamin :Laki-Laki
Cacat Bawaan :Tidak Ada
Masa Gestasi : 40 Minggu

BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah penulis melakukan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. S umur 34 tahun
P2Ao 4hari post partum dengan ASI sedikit, ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan
tinjauan kasus sebagai berikut :
I. Pengkajian
Pada pengkajian dilakukan untuk mengumpulkan data dasar tentang keadaan pasien. Pada kasus
ini penulis melakukan pengkajian pada ibu nifas Data Subjektif yaitu : Ny. S umur 34 tahun
P2A04 hari post partum dengan ASI sadikit yaitu :
Data Sujektif
a. Umur
1. Tinjauan teori
Dikaji untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum
matang, mental dan psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali
untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas.(Ambarwati2009;hal 133)
2. Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pengkajian, Ny. S saat ibu berusia 34 tahun.
3. Pembahasan
92

Terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinajuan kasus yaitu saat ini ibu berusia 34 tahun,
dan dan ibu mengalami suatu masalah dalam masa nifasnya yaitu ASI keluar sedikit, yang
seharusnya ibu tidak mengalami kesulitan pada masa nifasnya, seperti
menurut Ambarwati(2009;hal 133)usia yang rentan terjadi resiko yaitu pada usia kurang dari 20
tahun dan usia lebih dari 35 tahun.
b. Pendidikan
1. Tinjauan teori
Dikaji karena berpengarauh terhadap tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana
tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikan
(Ambarwati, 2009;hal 133)
2. Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pengkajian, Ny. S pendidikan terakhirnya yaitu SMA
3. Pembahasan
Terdapat kesenjangan antara teori dan kasus dimana pada kasus Ny. Sberpendidikan terakhir
SMA yang seharusnya ibu lebih memiliki pengalaman tentang masa nifasnya, seperti teknik
menyusui.
c. Keluhan utama
1. Menurut tinjauan teori
Menurut teori keluhan utama dikaji untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan
dengan masa nifas (Ambarwati, 2009; h.132).
Menurut Prawiroharjo (2010;hal 652) Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang
berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat pada glandula pituitaria posterior,
sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan sel-sel miopitel di sekitar alveoli akan
berkontraksi dan mendorong ASI masuk dalam pembuluh ampula. Pengeluaran oksitosin selain
dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh reseptor yang terletak pada duktus.Bila duktus melebar,
maka secara reflektoris oksitosin dikeluarkan olehhipofisis.(saleha,2009:h.11)

2. Menurut tinjauan kasus
Ny. S mengatakan ASInya keluar sedikit
3. Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tunjauan teori dan tinjauan kasus keluhan yang dialami NY.S
merupakan masalah pada masa nifas yaitu ASI sedikit.
d. Pola kebutuhan sehari-hari
1. Nutrisi
a) Tinjauan teori
Pada masa nifas nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan nutrisi
yang baik dapat mempercepat proses penyembuhan ibu dan sangat memengaruhi susunan air
susu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein, dan banyak
mengandung cairan.
Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut :
1) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang
cukup.
2) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.
3) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi seitidaknya selam 40 hari pasca
persalinan.
4) Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya
melalui ASI. ( Siti Saleha, 2009:h 71 )
b) Tinjauan kasus
NY.S tidak mengkonsumsi telur dan ikan karena menurut kepercayaan keluarga, jika
mengkonsumsi ikan ataupun telur setelah melahirkan luka jahitan tidak cepat kering dan akan
terasa gatal pada luka jahitan.

c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dimana ibu tidak
mengkonsumsi makanan seperti ikan dan telur dikarenakan menurut kepercayaan keluarga jika
mengkonsumsi ikan dan telur, luka jahitan akan terasa gatal dan lama untuk kering. Dan ibu
diberikan asam mefenamat, dan amoxicillin yang berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri pada
luka dan mencegah infeksi karena ibu terdapat luka jahitan.

2. Pola eliminasi
a. BAB
1) Tinjauan teori
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu
melahirkan alat pencernaan mendapatkan tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong,
pengeluaran cairan berlebih pada waktu persalinan, kurangnya asupan cairan dan makanan serta
kurangnya aktifitas tubuh.
Supaya BAB (Buang Air Besar) kembali normal dapat diatasi dengan diet tinggi
serat,peningkatan asupan cairan. Bila tidak berhasil dalam waktu 2-3 hari dapatdiberikan obat
laksania. (Sulistyawati, 2009; 78-79).

2) Tinjauan kasus
Berdasarkan hasil tinjauan kasus Pada Ny.S 3 hari post partum sudah 1 kali
BAB dengan warna jernih dan bau khas urin

3) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dengan tinjauan kasus. Karena ibu sudah 4 hari post partum
dan sudah BAB. Dan menurut teori konstipasi bisa terjadi pada hari kedua sampai hari ketiga
pada masa nifas.
b. BAK
1) Menurut teori
Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit untuk buang air kecil dalam 24
jam pertama. Kemungkinan penyebab dari keadaan ini adalah terdapat spasme
sfinkter dan edema leher kandung kemih sesudah bagian ini mengalami kompresi (tekanan)
antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan berlansung.Urine dalam jumlah besar
akan dihasilkan dalam 12-36 jam /postpartum. Kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air
akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan tersebut disebut dieresis. Ureter yang
berdilatasi akan kembali normal dalam 6 minggu. (Sulistyawati,2009;hal 78-79)

2) Menurut tinjauan kasus
Berdsarkan hasil tinjauan kasus pada Ny.S 3 jam post partum sudah 1 kali
BAK dengan warna jernih dan bau khas urin

3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori tidak terdapat kesenjangan karena berdasarkan hasil tinjauan kasus
pada Ny. S 4 hari post partum mengatakan sudah BAK. Hal ini sejalan dengan teori yaitu
menurut Sulistyawati (2009;hal 78-79), setelah proses persalinan berlangsungurine dalam jumlah
besar akan dihasilkan dalam 12-36 jam /postpartum.
Data objektif
1. Tanda-tanda vital
a. Suhu badan
1) Tinjauan teori
Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama pada masa nifas pada umumnya di
sebabkan oleh dehidrasi,yang disebabkan oleh keluarnya cairan pada waktu melahirkan,selain itu
bisa juga di sebabkan karena istirahat dan tidur yang di perpanjang selama awal persalinan.
2) Menurut tinjauan kasus
Pada 4 hari post partum suhu badan Ny.S 36,50C.

3) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus. Berdasarkan hasil pemeriksaan didapatkan suhu
badan Ny. S 36,50C atau normal, karenapeningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama
pada masa nifas, dan NY.S saat ini sedang dalam 4 hari post partum.


b. Nadi
1) Menurut teori :
Nadi berkisar antara 60 sampai 80 denyutan permenit setelah partus, dan dapat tejadi
bradikardi.Bila terdapat takikardia dan suhu tubuh tidak panas mungkin ada perdarahan
berlebihan atau ada vitium kordis pada penderita. Pada ibu nifas umumnya denyut nadi labil
dibandingkan dengan suhu tubuh, sedangkan pernafasan akan sedikit meningkat setelah partus
kemudian kembali keadaan semula. (Saleha, 2009; h.61).

2) Tinjauan kasus
Nadi Ny. S pada 4 hari post partum 78x/menit.

3) Pembahasan
Nadi Ny. S pada 4 hari post partum 78x/menit.Menurut Saleha Nadi berkisar antara 60 sampai
80 denyutan permenit setelah partus, dan dapat tejadi bradikardi.Bila terdapat takikardia dan
suhu tubuh tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada vitium kordis pada
penderita. Pada ibu nifas umumnya denyut nadi labil dibandingkan dengan suhu tubuh,
sedangkan pernafasan akan sedikit meningkat setelah partus kemudian kembali keadaan semula.
Sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan tinjauan kasus.
c. Tekanan darah
1) Tinjauan teori
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa
oleh jantung keseluruh anggota tubuh manusia.Tekanan darah normal manusia adalah sistolik
antara 90 sampai 120 mmHg.Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah biasanya tidak
berubah.Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh
perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum merupakan tanda terjadinya pre
eklamsia post partum. Namun, hal tersebut jarang terjadi.(http://www.lusa.web.id).

2) Tinjau kasus
Pada kasus ini tekanan darah ibu 110/70 mmHg

3) Pembahasan
Pada kasus ini tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karna tekanan darah ibu 110/70
mmHg sebagaimana teori menyatakan bahwa biasanya tekanan darah tidak berubah.


2. Pemeriksaan fisik.
a. Payudara
1) Tinjauan teori
Tanda dan gejala bendungan ASI pada payudara antara lain dengan ditandainya dengan
pembengkakan payudara bilateral dan secara palpasi secara keras, kadang terasa
nyeri(Prawiroharjo, 2010;hal 652).
2) Tinjauan kasus
Pada hasil pemeriksaan Ny. S payudaranya dalam keadaan normal, tidak ada bengkak atau
kemerahan
3) Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara teori dengan kasus yang dikaji, karena menurutPrawiroharjo
(2010;hal 652)Tanda dan gejala bendungan ASI pada payudara antara lain dengan ditandainya
dengan pembengkakan payudara bilateral dan secara palpasi secara keras, kadang terasa nyeri.
Hal ini sejalan dengan hasil pemeriksaan bahwa payudara ibu dalam keadaan normal, dan ibu
tidak sedangmengalami bendungan ASI.
b. Uterus
1) Tinjauan teori
Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundua uteri 1 cm dibawah pusat.Pada hari ketiga
sampai hari keempat tinggi fundus uteri 2 cm dibawah pusat.Pada hari kelima sampai hari
ketujuh tinggi fundus uteri pertengahan antara pusat dan simpisis. Pada hari kesepuluh tinggi
fundus uteri tidak teraba (Ambarwati, 2009; hal 77)
2) Tinjauan kasus
Berdasarkan hasil tinjauan kasus terhadap Ny. S TFU dari hasil pemeriksaan 4 hari post partum
TFU ibu berada pada pertengahan pusat dan simpisis.
3) Pembahasan
Terdapat kesenjangan antara teori dan tinjauan kasus, dimana dari tinjauan kasus di
atas didapatkan hasil TFU Ny. Setelah 4 hari post partum adalah pertengahan antara pusat dan
simpisis. Hal ini tidak sesuai dengan teori menurut Ambarwati (2009;hal 77), yaitu pada hari
ketiga sampai hari keempat tinggi fundus uteri 2 cm dibawah pusat. Pada hari kelima sampai hari
ketujuh tinggi fundus uteri pertengahan antara pusat. Hal ini dikarenakan ibu menyusui bayinya,
mobilisasi ibu yang baik dan istirahat yang cukup.





c. Anogenital
1) Perineum
a) Tinjauan teori
Perineum adalah daerah antara vulva dan anus. Biasanya setelah melahirkan, perineum
menjadi agak bengkak / edema dan mungkin ada luka jahitan bekas robekan atau episiotomi,
yaitu sayatan untuk memperluas pengeluaran bayi. ( Anik Maryuyani, 2009:h.15 )
Penyembuhan luka perineum adalah mulai membaiknya luka perineum dengan terbentuknya
jaringan baru yang menutupi luka perineum dalam jangka waktu 6 sampai 7 hari post partum.
Kriteria penilaian luka yang pertama dikatakan baik, jika luka kering,perineum menutup dan
tidak ada tanda infeksi (merah, bengkak, panas, nyeri, fungsioleosa). Kedua, dikatakan sedang,
jika luka basah, perineum menutup, tidak ada tanda-tanda infeksi (merah, bengkak, panas,
nyeri,fungsioleosa). Ketiga dikatakan buruk, jika luka basah, perineum menutup/membuka dan
ada tanda-tanda infeksi merah,bengkak, panas, nyeri, fungsioleosa (http://digilib.unimus.ac.id).
b) Tinjauan kasus
Pada pengkajian awal yaitu 4 hari post patum, pada perineum ibu agak bengkak dan masih
basah, perineum menutup dan tidak ada tanda- tanda infeksi
c) Pembahasan
Dari pembahasan diatas, tidak terdapat kesenjangan antara teori dengan hasil studi
kasus. Karena menurut teori ,penyembuhan luka perenium dalam jangka waktu 6-7 hari post
partum. Dan Ny. S masuk kedalam kategori yang dikatakan sedang, kerena luka agak
bengkak ,masih basah, perineum menutup dan tidak ada tanda- tanda infeksi. Hal ini sejalan
dengan hasil pemeriksaan ibu bahwa luka jahitan ibu masih dalam keadaan basah. Karena ibu
kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung protein hewani.
2) Pengeluaran Pervaginam
a) Menurut teori
Pada hari keempat sampai ketujuh post partum itu keluar lokia sanguilenta. Biasanya berwarna
kecokelatan dan berlendir. (Sulistyawati,2009;hal 76)
b) Tinjauan kasus :
Pada hari pertama Ny.S keluar darah pervaginam berwarna merahkecoklatan dan berlendir.
c) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antar tinjauan teori dan tinjauan kasus. Karena pada hari pertama
Ny.S keluar darah berwarna merah kecoklatan dan berlendir, sedangkan menurut
Sulistyawati (2009; hal 76) pada hari keempat dan ketujuh postpartum biasanya keluar darah
berwarna merah kecoklatan dan berlendir.Jadi tidak ada kesenjangan antar tinjauan teori dan
tinjauan kasus.

II. Interprestasi data dasar
a. Menurut teori
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi
yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.Data dasar tersebut kemudian diinterpretaskan
sehingga dapat dirumuskan masalah dan diagnosa yang spesifik. Baik rumusan diagnosis
maupun rumusan masalah keduanya harus ditangani, meskipun masalah tidak bisa dikatakan
sebagai diagnosis tetapi harus mendapatkan penanganan (Suryani, 2008;h.99).
1. Diagnosa Kebidanan
a) Tinjauan teori
Diagnosis dapat di tegakkan berkaitan dengan para,abortus,anak hidup,umur ibu,dan keadaan
nifas. (Ambarwati,2009 h.141).
Paritas adalah riwayat reproduksi seorang wanita yang berkaitan dengan primigravida (hamil
yang pertama kali),
dibedakan denganmultigravida(hamil yang kedua ataulebih)
(Sulistyawati,2009;h.191).
b) Tinjauan kasus
Diagnosa : NY.S umur 34 tahun P2A0 4 hari post partum normal
c) Pembahasan
Tidak terdapat tinjauan teori dan tinjauan kasus dimana diagnosa yang ditegakkan berkaitan
dengan para,abortus,anak hidup,umur ibu,dan keadaan nifas, dimana ibu mengatakan ini
persalinan kedua dan belum pernah keguguran, ibu melahirkan tanggal 13 Juni 2013
.
2. Masalah
a) Tinjauan teori
Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien.
(Ambarwati,2009 h.141).
Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itumengalami kenyataan terhadap
diagnosisnya.
(Sulistyawati,2009;h.192).
Hal-hal yang berkaitan dengan pengamatan klien yang ditemukan dari hasil pengkajian atau yang
menyertai diagnosis (Ummi Hani et all,2010;h.99).
b) Tinjauan kasus
Masalah yang dialami NY.S adalah ASI keluar sedikit

c) Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus dimana masalah yang
diangkat sesuai dengan hasil pengkajian.

3. Mengidentifikasi kebutuhan
a) Tinjauan teori
Yang memerlukan penanganan segera beberapa data demi menunjukan situasi emergensi dimaan
kita perlu bertindak demi keselamatan klien. (Mufdillah, 2009 h. 75-76).
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya.
Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap
diagnosinya (Sulistyawati,2009;h.192).
b) Tinjauan Kasus
Kebutuhan NY.S yaitu teknik pengeluaran ASI
c) Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus dimana kebutuhan NY.S
sesuai dengan keluhan yang dialami oleh NY.S

III. Identifikasi diagnose dan masalah potensial
1. Tinjauan teori
Pada langkah ketiga ini mengidentifikasikan masalah potensial berdasarkan diagnosa atau
masalah yang sudah diidentifikasi.Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan
dilakukan pencegahan (Soepardan Suryani, 2008; h. 99).
2. Tinjauan kasus
Pada kasus Ny.S tidak terdapat masalah potensial
3. Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus. Karena berdasarkan tinjauan kasus Ny.S masalah
yang dialami tidak mengarah ke patilogis.


IV. Tindakan segera
1. Tinjauan teori
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan. Identifikasi dan
menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau
ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien.(Ambarwati
dan Wulandari, 2009;hal 143)
2. Tinjauan kasus
Tidak ada Tindakan segera Pada Ny. S


3. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus Ny. S tidak ada kesenjangan karena NY.S
tidak membutuhkan tindakan segera karena tidak terdapat masalah potensial
V. Perencanaan
a. Tinjauan teori
Perencanaan asuhan kebidanan yang dapat dilakukan dalam 6 hari post partum adalah :
1. Memastikan involusi uterus berjalan normal seperti uterus berkontraksi, funus
dibawah umbilicus
2. Tidak ada perdarahan abnormal dan tidak berbau.
3. Menilai adanya tanda-tanda demam,infeksi, atau perdarahan abnormal.
4. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat.
5. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak mmperlihatkan tanda tanda penyulit.
6. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap
hangat, dan merawat bayi sehari-hari. (Sulistyawati, 2009; hal 6)

b. Tinjauan Kasus
Pada Ny. S perencanan asuhan kebidanan yang akan diberikan yaitu dengan
1. Beritahu hasil pemeriksaan
2. Kaji penyebab ASI keluar sedikit
3. Ajarkan ibu teknik pengeluaran ASI
4. Ajarkan ibu teknik menyusui yang benar
5. Beritahu ibu mengenai kebudayaan yang dianut
6. Beritahu kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi
7. Beritahu kepada ibu cara personal hygine
8. Anjurkan kepada ibu untuk menyusui bayinya secara on demand
9. Ajarkan pada ibu tentang asuhan pada bayi
c. Pembahasan
Terdapat kesenjangan antara teori dan kasus. Pada kasus percanaan asuhan
kebidanan,Ny. S tidak sesuai dengan teori yaitu standar kunjungan masa nifas karena
perencanaan yang dibuat bukan saat pengkajian 6 hari tetapi 4 hari, dan dibuat sesuai kebutuhan
pasien.

VI. Implementasi
a. Tinjauan teori
Langkah ini merupakn pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada klien dan
keluarga. Mengarahkan dan melaksanakn rencana asuhan secara efesien dan amanyaitu :
1. Memastikan involusi uterus berjalan normal seperti uterus berkontraksi, funus
dibawah umbilicus
2. Tidak ada perdarahan abnormal dan tidak berbau.
3. Menilai adanya tanda-tanda demam,infeksi, atau perdarahan abnormal.
4. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat.
5. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak mmperlihatkan tanda tanda penyulit.
6. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap
hangat, dan merawat bayi sehari-hari. (Sulistyawati, 2009; hal 6)
b. Tinjauan kasus
Implemenyasi yang dilakukan adalah
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan saat ini bahwa ibu dalam keadaan kurang baik,
2. Mengajarkan kepada ibu teknik pengeluaran ASI yaitu dengan :
Pengeluaran ASI dengan tangan, yaitu dengan ibu duduk dengan nyaman, massase payudara
dengan kedua telapak tangan dari pangkal kearah aerola, ulangi pemijatan, ini pada sekeliling
payudara secara merata. Letakan ibu jari diatas putting dan aerola dan jari telunjuk pada bagian
bawah putting dan aerola berlawanan dengan ibu jari dan jari lain menopang payudara. Kemudia
tekan ibu jari dan telunjuk sedikit kearah dada jangan terlalu kuat agar tidak terjadi subatan
aliran susu. Kemudian tekan sampai teraba pada sinus laktiferus yaitu tempat tampungan ASI
dibawah aerola. Tekan dan kemudian lepas. Kemudian asi mengalir.
3. Mengajarkan kepada ibu teknik menyusui yang benar yaitu :
1) Ibu duduk dengan posisi kaki tidak menggantung, kemudian keluarkan ASI sedikit dan
oleskan pada areola dan putting
2) Kemudian Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi menyangga seluruh badan
bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala
3) tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu sehingga hidung bayi berhadapan dengan
putting susu ibu.
4) Dekatkan tubuh bayi ke tubuh ibu, menyentuhkan bibir bayi ke putting susu ibu dan
menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.
5) Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa, sehingga bibir bawah bayi terletak di
bawah putting susu ibu.
6) Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu,
mulut bayi terbuka lebar, dan bibir bawah bayi terbuka lebar
7) Kemudian susui bayi sampai ibu merasa payudara ibu sudah kosong, kemudian
pindahkan kepayudara yang sebelah.
8) Kemudian jika sudah selesai menyusui keluarkan ASI sedikit dan oleskan pada areola
dan putting ibu dan diamkan jangan dikeringkan. Sendawakan bayi dengan cara disandarkan di
pundak ibu kemudian tepuk secara lembut pada punggung bayi.
4. Memberitahu pada ibu bahwa budaya seperti pantangan makan makanan seperti telur
dapat mengakibatkan luka jahitan gatal merupakan hal yang salah, dimana makanan tersebut
justru banyak menngandung protein yang dapat membantu memoercepat pertumbuhan jaringan
baru pada luka jahitan, agar cepat sembuh.
5. Memeritahu pada ibu tentang kebutuhan nutrisi yaitu ibu harus mengkonsumsi makanan
yang mengandung karbohidrat yang bisa di dapatkan dari ( nasi, kentang, jagung, gandum dan
roti ), protein yang berfungsi sebagai zat pembangun yaitu agar luka jahitan ibu cepat sembuh
yang bisa didapatkan dari ( tahu, tempe, ikan, telur, dan daging ), zat besi yang berfungsi sebagai
penambah darah dan membantu memperbanyak produksi ASI yang bisa di dapatkan dari sayuran
hijau seperti ( daun katuk, daun singkong, bayam, dan kangkung ), vitamin yang bisa di dapatkan
dari buah-buahan, serta minum air putih sebanyak 3 liter atau 12 gelas dalam satu hari.
6. Memberitahu kepada ibu tentang cara personal hygine yaitu, selalu
membasuhkemaluannya setiap habis BAK/BAB dengan cara dari depan kebelakang kemudian
keringkan, serta mengganti pembalut minimal 2 kali sehari atau jika ibu merasa pembalut sudah
penuh.
7. Menganjurkan kepada ibu agar menyusui bayinya secara on demand yaitu tanpa
terjadwal
8. mengajarkan pada ibu tentang asuhan pada bayi yaitu membersihkan tali pusat bayi saat
mandi lalu keringkan tanpa dibubuhi apapun, menjaga bayi selalu dalam keadaan hangat.
c. Pembahasan
Pada kasus ini terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus. Karena
pelaksanaan yang dilakukan tidak sesuai dengan teori karena pelaksanaanyang dilakukakn bukan
saat pengkajian 6 hati tetapi 4 hari, dan dibuat sesuai kebutuhan pasien.

VII. Evaluasi
a. Tinjauan teori
Dalam langkah ini dilakukan evaluasi keefektivan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi
pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar terpenuhi sesuai dngan kebutuhan
sebagimana telah diidentifikasi dalam masalah dan diagnosa. Manajemen kebidanan merupakan
suatu kontinu maka perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif melalui
proses manajemen untuk mengidentifikasi mengapa proses manajemen tidak efektif serta
malakukan penyesuaian pada rencana asuhan berikutnya (Hidayat Asri dan Mufdillah, 2009; h.
79). Evaluasi yang dilakukan setelah 3 hari untuk melihat apakah keadaan membaik atau tidak.
(Rukiyah,2010;hal 349)
b. Tinjauan kasus
1. Ibu mengetahui tentang kondisinya saat ini dengan hasil pemeriksaan yaitu TD : 110/70
mmHg, N: 78x/menit, RR: 24x/menit, S: 36,5C
2. Bayi rewel dan diberika susu formula sehingga bayi malas menyusu ASI
3. Ibu mengerti tentang teknik pengeluaran ASI yang diajarkan
4. Ibu mengerti tentang tekniuk menyusui yang benar
5. Ibu mengerti bahwa kebudayaan yang dianut adalah salah
6. Ibu sudah mengerti tetang asupan nutria yang baik untuk ibu
7. Ibu telah mengetahui cara personal hygien.
8. Ibu bersedia untuk menyusui bayinya secara on demand
9. Ibu mengeti tentang cara perawatan bayi
c. Pembahasan
Tidak terdapat kesenajangan antara teori dan kasus, karena evaluasi yang dihasikan sesuai
dengan harapan.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penulis dapat melakukan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Dengan Teknik Pengeluaran ASI
Terhadap Ny. S Umur 34 Tahun P2A0 4 Hari Post Partum Normal di Bps Desi Andriani
Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2013.
Setelah melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas yaitu Ny.S umur 34 tahun P2A0 4 post
partum normal di BPS Desi Andriani Amd.Keb tahun
2013. Maka penulis mengambilbeberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Penulis telah melaksanakan pengkajian pada ibu nifas normal dengan teknik pengeluaran
ASI
2. Penulis dapat melakukan interprestasi data dengan menentukan diagnose
kebidanan ibunifas yaitu Ny.S umur 34 tahun P2A0 4 hari post partum normal, menentukan
masalah yaitu ASI sedikit, dan kebutuhannya yaitu teknik pengeluaran ASI yang didapat dari
data subjektif dan objektif dari hasil pengkajian
3. Pada kasus ini penulis tidak menentukan diagnose potensial karena masalah yang dialami
NY.S tidak mengarah pada kasus patologis
4.
1200
Dalam kasus ini penulis tidak melakukan antisipasi karena NY.S tidak memiliki masalah
potensial.
5. Dalam kasus ini penulis telah memberikan rencana asuhan kebidanan pada Ny.S umur 34tah
un P2A0 4 hari post partum normal sesuai kebutuhan
6. Dalam kasus ini penulis telah melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan yang
telahdirencanakan pada NY.S umur 34 tahun P2A0 4 hari post partum normal.
7. Dalam kasus ini penulis telah melaksanakan evaluasi pada kasus Ny.S dengan hasil
1) Ibu dalam keadaan baik yaitu KU baik, kesadaran compos mentis, TD:120/70mmHg, N:
78x/menit,RR: 20X/menit, T: 37,20C
2) Proses involusi berjalan dengan baik, yaitu TFU Pertengahan antara pusat dan simpis.
3) Tidak ada penyulit dalam proses menyusui, karena ASI sudah lancar dan bayi dapat
menyusu dengan baik dan benar
4) ASI sudah mulai banyak, bayi menyusu dengan baik dan ibu sudah tidak memberikan
susu formula
5) .Ibu dapat menyusui dengan baik
6) Ibu mengatakan sudah mengerti dan sudah menerapkan dalam kehidupan sehari-
harinya dan ibu sudah mengkonsumsi ikan dan telur
7) Tidak terdapat adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal, Luka
jahitan : baik, tidak berbau, Lokea : sanguelenta





B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan saran sebagai berikut :
1. Institusi
Dengan telah disusunya Karya Tulis Ilmiah ini,
menurut punulis untuk angkatan selanjutnyadisarankan masih menggunakan metode studi kasus,
karena dengan studi kasus kemampuanuntuk melakukan asuhan kebidanan dapat dilihat dengan
baik. Namun, untuk waktu padapenyusunan Karya Tulis Ilmiah ini hendaknya diperpanjang agar
dalam pemberian asuhan danbimbingan dapat lebih optimal.

2. Lahan
Penulis mengharapkan agar tenaga kesehatan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang
sudah di programkan terutama asuhan kebidanan pada ibu nifas.

3. Pasien
Pasien hendaknya lebih terbuka terhadap tenaga kesehatan dengan membuka diri dan
berpartisipasi terhadap program-program kesehatan maka tenaga kesehatan bisamemenuhi apa
yang diperlukan oleh pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati,Eny retna. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Jogjakarta: Mitra Cendikia
offset
Daftar Tilik. Akademi Kebidanan ADILA
Hani, Ummi et all. 2011. Asuhanan Kebidanan Fisiologis. Jakarta: Salemba Medika
Hidayat,Asri dan Mufdillah.2009. Asuhan Kebidanan Persalinan. Jakarta: EGC
http://yuniochyrosiati.blogspot.com/2011/11/bendungan-asi-dan-infeksi
payudara.html 10 Mei 2013/ 09.00 Wib
http://andrianinuralfadilah.blogspot.com/p/pengertian-penyebab-gejala-dan.html 10 Mei 2013/
10.00 Wib
http://stikeskusumahusada.ac.id/digilib/files/disk1/1/01-gdl-eniwulanda-43-1- eniwula-
8.pdf 15 Mei 2013/ 14.00 Wib
http://akubaiq.blogspot.com/2012/07/infeksi-payudara- pada-masa-nifas.html 16 Mei 2013/
15.oo Wib
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/136/jtptunimus- gdl-rezamegapr-6787-3-babii.pdf 22 Mei
2013/ 08.45 wib
http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/171 22 Mei 2013/ 09.00 Wib
Maryunani, Anik. 2009. Asuhan Pada Ibu dalam Masa Nifas. Jakarta: Trans Info Media
Nany,Vivian Lia Dewi dan Sunarsih Tri.2011.Asuhan Kebidanan pada ibu Nifas.Jakarta:
Salemba Medika
Profil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung
Prawirohardjo,Sarwono.2010. Ilmu Kebidanan.2008. Jakarta: PT.Bina Pustaka
Prawirohardjo,Sarwono.2011. Ilmu Kebidanan.2008. Jakarta: PT.Bina Pustaka
Priharjo, Robert. 2006. pengkajian fisik keperawatan. Jakarta : EGC.
Rukiyah, Aiyeyeh et all. 2010.Asuhan Kebidanan Patologi. Jakarta :Trans info
Rukiyah, Aiyeyeh; & Yulianti Lia. 2010. Asuhan Kebidanan Patologi. Jakarta: Trans Info Media
Saleha,Siti.2009.Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika
Saminem. 2010. Dokumentasi Kebidanan Konsep Dan Praktik. Jakarta: EGC.
Sulistyawati,Ari.2009.Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada ibu nifas.Jogjakarta: Andi Offset
Soepardan,Suryani. 2008. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai