Anda di halaman 1dari 22

COMBUSTIO

Luka bakar adalah


trauma yang
disebabkan oleh
termis, elektris,
khemis dan radiasi
yang mengenai kulit,
mukosa, dan jaringan
yang lebih dalam
Luka bakar suhu tinggi
(thermal burn)
Benda panas: padat, cair,
udara/uap
Api
Sengatan matahari/ sinar
panas
Luka bakar bahan kimia
(chemical burn), misalnya
asam kuat dan basa kuat.
Luka bakar sengatan listrik
(electrical burn), misalnya
aliran listrik tegangan tinggi.
Luka bakar radiasi (radiasi
injury)

DEFINISI ETIOLOGI
Fase Luka Bakar
fase awal atau fase syok
ancaman gangguan airway
(jalan nafas), breathing
(mekanisme bernafas), dan
circulation (sirkulasi)
obstruksi saluran
pernafasan akibat cedera
inhalasi dalam 48-72 jam
pasca trauma
gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit akibat
cedera termal yang
berdampak sistemik.

kerusakan atau kehilangan
jaringan akibat kontak
dengan sumber panas.
Luka yang terjadi
menyebabkan :
a) Proses inflamasi dan
infeksi
b) Problem penutupan luka
dengan titik perhatian pada
luka yang tidak berepitel
luas atau pada struktur
atau organ fungsional
c) Keadaan
hipermetabolisme

Fase Akut
Fase Subakut
Fase lanjut akan
berlangsung hingga
terjadinya maturasi
parut akibat luka dan
pemulihan fungsional.
Problem yang muncul
pada fase ini adalah
penyakit berupa
sikatrik yang
hipertrofik, keloid,
gangguan pigmentasi,
deformitas dan
kontraktur.

Luas luka bakar
Derajat (kedalaman)
luka bakar
Lokalisasi
Penyebab

Fase Lanjut
Diagnosis
Kepala dan leher : 9%
Lengan masing-masing 9% : 18%
Badan depan 18% : 36%
Tungkai masing-masing 18% : 36%
Genetalia perineum : 1%
Total : 100 %

Luas Luka Bakar (rule of nine
atau rule of Wallace)
Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus
dipertimbangkan beberapa faktor antara lain:

Persentasi area (luasnya) luka bakar pada
permukaan tubuh
Kedalaman luka bakar
Anatomi/lokasi luka bakar
Umur penderita
Riwayat pengobatan yang lalu
Trauma yang menyertai atau bersamaan

Derajat Luka Bakar
Luka bakar derajat I
Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis
(surperfisial), kulit hiperemik berupa eritema,
tidak dijumpai bullae, terasa nyeri karena
ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.
Penyembuhan terjadi secara spontan tanpa
pengobatan khusus.

Luka Bakar Derajat I
Luka Bakar Derajat II
Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian
dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses
eksudasi. Terdapat bullae, nyeri karena ujung-
ujung saraf sensorik teriritasi.
Kerusakan mengenai
bagian epidermis dan
lapisan atas dari
corium/dermis. Organ
organ kulit seperti
folikel rambut, kelenjar
sebacea masih
banyak. Semua ini
merupakan benih-
benih epitel.
Penyembuhan terjadi
secara spontan dalam
waktu 10-14 hari tanpa
terbentuk sikatrik.

Kerusakan mengenai
hampir seluruh bagian
dermis dan sisa sisa
jaringan epitel tinggal
sedikit. Organ-organ
kulit seperti folikel
rambut, kelenjar
keringat, kelenjar
sebacea tinggal
sedikit. Penyembuhan
terjadi lebih lama dan
disertai parut hipertrofi.
Biasanya
penyembuhan terjadi
dalam waktu lebih dari
satu bulan.



Derajat II
dangkal/superficial (IIA)

Derajat II dalam/deep
(IIB)

Luka Bakar Derajat II
Luka Bakar Derajat III
Kerusakan meliputi seluruh tebal kulit dan lapisan
yang lebih dalam sampai mencapai jaringan
subkutan, otot dan tulang.
tidak ada lagi sisa elemen epitel.
Tidak dijumpai bullae.
kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan lebih
pucat sampai berwarna hitam kering.
Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan
dermis yang dikenal sebagai eskar.
Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi
karena ujung-ujung sensorik rusak.
Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi
epitelisasi spontan.

Kriteria berat ringannya luka bakar menurut
American Burn Association
Luka Bakar Ringan
Luka bakar derajat II
<15 %
Luka bakar derajat II
< 10 % pada anak
anak
Luka bakar derajat III
< 2 %
Luka bakar sedang
Luka bakar derajat II
15-25 % pada orang
dewasa
Luka bakar derajat II
10 20% pada anak
anak
Luka bakar derajat III <
10 %
Luka Bakar Berat
-Luka bakar derajat II
25 % atau lebih pada
orang dewasa
- Luka bakar derajat II
20 % atau lebih pada
anak anak.
- Luka bakar derajat III
10 % atau lebih
-Luka bakar mengenai
tangan, wajah, telinga,
mata, kaki dan
genitalia/perineum.
- Luka bakar dengan
cedera inhalasi, listrik,
disertai trauma lain
Penatalaksanaan
Terapi fase akut
Hentikan dan hindarkan kontak langsung dengan
penyebab luka bakar.
Menilai keadaan umum penderita: adanya
sumbatan jalan nafas, nadi, tekanan darah dan
kesadaran (ABC)
Bila terjadi obstruksi jalan nafas: Bebaskan jalan
nafas
Bila terjadi shock: segera infuse (grojog) tanpa
memperhitungkan luas luka bakar dan kebutuhan
cairan (RL).
Bila tidak shok: segera diinfus sesuai dengan
perhitungan kebutuhan cairan.

Perawatan luka
Luka dicuci dan dibersihkan dengan air steril dan
antiseptic
Obat- obat topical yang digunakan untuk terapi
luka bakar seperti: silver sulfadiazine, contoh
Silvaden, Burnazine, Dermazine, dll.
Kulit yang terkelupas dibuang, bulae (2-3 cm)
dibiarkan
Bula utuh dengan cairan > 5 cc dihisap, < 5 cc
dibiarkan
Pemberian antibiotic boardspectrum bersifat
profilaksis.
analgetik
Berikan ATS untuk menghindari terjadinya tetanus
Pasang catheter folley untuk memantau produksi
urine pasien

Terapi fase pasca akut

Perawatan luka
Eschar escharectom (Eschar : jaringan kulit yang
nekrose, kuman yang mati, serum, darah kering)
Gangguan AVN distal karena tegang (compartment
syndrome) escharotomi atau fasciotomi
Kultur dan sensitivity test antibiotika Antibiotika
diberikan sesuai hasilnya
Dimandikan tiap hari atau 2 hari sekali
Kalau perlu pemberian Human Albumin
menilai beberapa hal seperti kesadaran, suhu tubuh,
dan sirkulasi perifer. Jika didapatkan penurunan
kesadaran, febris dan sirkulasi yang jelek, hal ini
menandakan adanya sepsis.
Diet dan cairan


Resustasi Cairan
BAXTER formula
Hari Pertama
Dewasa : Ringer Laktat 4 cc x berat badan x % luas luka
bakar per 24 jam
Anak : Ringer Laktat: Dextran = 17 : 3
2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan faali.
Kebutuhan faali :
< 1 Tahun : berat badan x 100 cc
1 3 Tahun : berat badan x 75 cc
3 5 Tahun : berat badan x 50 cc
jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama.
diberikan 16 jam berikutnya.
Hari kedua
Dewasa : hari I
Anak : diberi sesuai kebutuhan faali


Menurut Evans - Cairan yang dibutuhkan :
1. RL / NaCl = luas combustio % X BB/ Kg
X 1 cc
2. Plasma = luas combustio % X BB / Kg X
1 cc
3. Pengganti yang hilang karena penguapan
D5 2000 cc
Hari I 8 jam X
16 jam X
Hari II hari I
Hari ke III hari ke I

Gagal ginjal akut
Gagal respirasi akut
Syok sirkulasi
Sepsis

Ad Vitam : dubia ad
bonam
Ad Fungtionam :
dubia ad bonam
Ad Sanationam :
dubia ad bonam
Komplikasi Prognosis