Anda di halaman 1dari 27

SOAL I

EVAPOTRANSPIRASI

1.1 Latar Belakang
Hidrologi merupakan suatu ilmu yang menjelaskan tentang kehadiran dan
gerakan air dialam kita. Ini meliputi berbagai bentuk air yang menyangkut
perubahan-perubahannya antara keadaan cair, padat dan gas dalam atmosfir,
diatas dan dibawah permukaan tanah. Didalamnya tercakup pula air laut yang
merupakan sumber dan penyimpanan air yang mengaktipkan penghidupan
diplanet bumi ini.
Pada dasarnya hidrologi bukan merupakan ilmu yang sepenuhnya eksak,
tetapi merupakan ilmu yang memerlukan interpretasi. Syarat-syarat yang
diperlukan adalah data-data hasil pengamatan dalam semua aspek presipitasi,
limpasan (runoff), debit sungai, infiltrasi, perkolasi, evaporasi, evapotranspirasi
dan lain-lain. Dengan data-data tersebut dan ditunjang oleh pengalaman-
pengalaman dalam banyak ilmu yang berkaitan dengan hidrologi, maka seorang
ahli hidrologi dapat memberikan penyelesaian dalam persoalan yang menyangkut
keperluan dan penggunaan air.
Evaporasi merupakan factor penting dalam studi tentang pengembangan
sumber-sumber daya air. Dengan kata lain, evaporasi adalah proses penguapan air
bebas. Evaporasi sangat mempengaruhi besarnya debit sungai, besarnya kapasitas
waduk, besarnya kapasitas pompa untuk irigasi, penggunaan konsumtif
(comsumptive use) untuk tanaman dan lain-lain. Sedangkan transpirasi adalah
proses dimana kebutuhan air tanaman selain dipengaruhi oleh keadaan iklim juga
sangat tergantung pada factor tanaman. Dengan kata lain transpirasi adalah proses
penguapan yang dipengaruhi oleh fisiologi tumbuhan.
Proses transpirasi berjalan terus hampir sepanjang hari dibawah pengaruh
sinar matahari. Pada malam hari pori-pori daun (yang terletak dibagian bawah
daun) yang disebut stomata tanaman, menutup, yang menyebabkan proses
transpirasi dengan drastis. Tetapi tidak demikian halnya dengan evaporasi. Proses
evaporasi dapat berjalan terus selama ada input panas, oleh karenanya bagian
terbesar jumlah evaporasi diperoleh pada siang hari. Faktor lain yang penting


adalah adanya air yang cukup banyak. Jika jumlah air selalu tersedia secara
berlebihan dari yang dibutuhkan oleh tanaman selama proses transpirasi ini maka
jumlah jumlah air yang ditranspirasikan akan lebih besar dibanding dengan
apabila tersedianya air dibawah kebutuhan.
Oleh karenanya perlu diadakan pembedaan antara evaporasi potensial
dengan evaporasi sebenarnya. Pada umumnya cara-cara yang dipakai untuk
menafsir besarnya evapotranspirasi didasarkan atas anggapan bahwa air tersedia
secara berlebihan, sehingga yang didapat adalah harga evaporasi potensial.
Beberapa rumus yang bisa dipakai untuk menentukan besarnya laju
evaporasi adalah rumus Blaney-Criddle, rumus Radiasi dan rumus Penman.
Rumus Penman mendapat rekomendasi dari Badan Pangan dan Pertanian PBB.
Perbandingan ketiga rumus ini dapat memperkirakan kebutuan air irigasi pada
suatu lahan. Upaya tersebut dilakukan agar dapat memperkecil kebutuhan air
irigasi dengan mengubah jenis tanamannya, sehingga berpengaruh terhadap nilai
evapotranspirasinya.

1.2 Identifikasi Masalah
Didalam siklus hidrologi terdapat gerakan air laut ke udara, kemudian
jatuh ke permukaan bumi lagi sebagai hujan atau bentuk presipitasi dan akhirnya
mengalir lagi ke laut. Evapotranspirasi yaitu proses yang ada di dalam perputaran
siklus hidrologi itu sendiri dimana terjadi ketika evaporasi dan transpirasi terjadi
secara bersamaan. Perhitungan nilai evaporasi potensial dapat dihitung
menggunakan pendekatan-pendekatan seperti dengan metode Blaney-Criddle,
Radiasi, dan Penman sehingga nilai evapotranspirasi yang dibutuhkan dapat
dihitung dengan ketiga metode tersebut.









1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang telah dibahas sebelumnya maka
dapat ditulis rumusan masalah sebagai berikut:
1. Berapa hasil evaporasi bila dihitung dengan rumus Blaney-Criddle,
Radiasi, dan Penman?
2. Berapa hasil evaportranspirasi bila dihitung menggunakan rumus Blaney-
Criddle, Radiasi, dan Penman?
3. Bagaimana perbandingan antara ketiga rumus tersebut?

1.4 Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dalam bab evapotranspirasi ini yaitu pembahasan
tentang perhitungan nilai evaporasi potensial dan evapotranspirasi menggunakan
rumus Blaney-Criddle, Radiasi dan Penman serta bagaimana hasil perbandingan
antara ketiga rumus tersebut.

1.5 Tujuan
1 Untuk mengetahui hasil perhitungan evaporasi potensial dengan rumus
Blaney-Criddle, Radiasi, dan Penman.
2 Untuk mengetahui hasil perhitungan evapotranspirasi dengan rumus
Blaney-Criddle, Radiasi, dan Penman.
3 Untuk mengetahui perbandingan dari ketiga rumus yang digunakan.

1.6 Manfaat
Dalam pembahasan ini diharapkan agar kita dapat mengetahui bagaimana
cara menghitung nilai evaporasi potensial dan evapotranspirasi dengan
menggunakan rumus Blaney-Criddle, Radiasi dan Penman serta dapat
membandingkan hasil antara ketiga rumus tersebut.







1.7 Pembahasan
1.7.1. Evaporasi Potensial
Besarnya faktor meteorologi yang mempengaruhi besarnya evaporasi
poensial secara langsung adalah sebagai berikut:

Radiasi Matahari
Evaporasi merupakan konversi air ke dalam uap air. Proses ini berjalan
terus hampir tanpa berhenti di siang hari dan kerap kali juga di malam hari.
Perubahan dari keadaan cair menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas
laten untuk evaporasi. Proses tersebut akan sangat aktif jika ada penyinaran
matahari langsung.
Angin
Jika air menguap ke atmosfir maka lapisan batas antara permukaan tanah
dan udara menjadi jenuh oleh uap air sehingga proses penguapan berhenti. Agar
proses tersebut dapat berjalan terus, lapisan jenuh harus diganti dengan udara
kering. Pergantian itu hanya mungkin kalau ada angin, yang akan menggeser
komponen uap air. Jadi kecepatan angin memegang peranan penting dalam proses
evaporasi.
Kelembaban Relatif (Relative Humiditas)
Jika kelembaban relatif naik, maka kemampuan udara untuk menyerap air
akan berkurang sehingga laju evaporasinya menurun. Penggantian lapisan udara
pada batas tanah dan udara dengan udara yang sama kelembaban relatifnya tidak
akan menolong dalam memperbesar laju evaporasinya.
Suhu (Temperature)
Energi sangat dibutuhkan agar evaporasi berjalan terus. Jika suhu udara
dan tanah cukup tinggi, proses evaporasi berjalan lebih cepat dibandingkan
dengan jika suhu udara dan tanah rendah karena adanya energi panas yang
tersedia. Karena kemampuan udara untuk menyerap uap air akan naik jika
suhunya naik, maka suhu udara mempunyai efek ganda terhadap besarnya
evaporasi, sedangkan suhu tanah dan air hanya mempunyai efek tunggal.


Metode yang dapat dipakai dalam penghitungan besarnya evaporasi
potensial adalah sebagai berikut:
1. Metode Blaney-Criddle
Metode ini menghasilkan rumus evapotranspirasi untuk sembarang
tanaman sebagai fungsi suhu, jumlah jam siang hari dan koefisien tanaman
empiris. Rumus ini berlaku untuk daerah yang luas dengan iklim kering dan
sedang yang sesuai dengan kondisi yang mirip dengan bagian barat Amerika
Serikat. Radiasi matahari netto dapat di ukur dengan radiometer. Dalam
pemakaian rumus ini dibutuhkan suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin
dan waktu relatif sinar matahari terang. Data tersebut merupakan data-data
meteorologi biasa
Langkah-langkah pengerjaan dalam metode ini dapat digunakan prosedur
perhitungan berikut:
1. Cari letak lintang daerah yang ditinjau dan cari nilai P
2. Cari data suhu bulanan (t)
3. Hitung Eto*
4. Sesuai dengan bulan cari angka koreksi (c)
5. Hitung Eto
6. Rumus Metode Blaney-Criddle:
ET
0
= c x ET
0
*
ET
0
* = P x (0,457 t + 8,13)
7. Keterangan:
ET
0
= Evaporasi Potensial (mm/hari)
c = Angka koreksi (berdasarkan keadaan iklim)
ET
0
* = Evaporasi Potensial sebelum dikoreksi (mm/hari)
P = Prosentase rata-rata jam siang malam








Tabel 1.1 Hubungan P dan Letak Lintang (LL)
(Untuk Indonesia : 5
0
s/d 10
0
LS)
Sumber: Montarcih L,2009

Tabel 1.2 Angka Koreksi (c) menurut Blaney Criddle
BULAN Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
( c ) 0.80 0.80 0.75 0.70 0.70 0.70 0.70 0.75 0.80 0.80 0.80 0.80
Sumber: Montarcih L, 2009










LINTANG Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
5,0 Utara 0.27 0.27 0.27 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.27 0.27 0.27
2,5 Utara 0.27 0.27 0.27 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.27 0.27 0.27
0 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27
2,5 Selatan 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28
5 Selatan 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28
7,5 Selatan 0.29 0.28 0.28 0.28 0.27 0.27 0.27 0.27 0.28 0.28 0.28 0.29
10 Selatan 0.29 0.28 0.28 0.27 0.26 0.26 0.26 0.27 0.27 0.28 0.28 0.29


2.MetodeRadiasi
Untuk metode ini, data-data yang diperlukan adalah data letak lintang
(LL), suhu udara (t), kecerahan matahari (

)
Prosedur perhitungan yang dapat digunakan sebagai berikut:
1.Cari suhu rata-rata bulanan dan nilai w
2.Cari letak lintang dan nilai R
3.Cari nilai kecerahan matahari (

)
4.Hitung Rs dengan rumus;Rs = (0,25 + 0,54 .

) R
5.Cari angka koreksi (c)
6.Rumus Metode Radiasi:
ET
0
= c . w . Rs
ET
0
* = w . Rs
7.Keterangan:
ET
0
= Evaporasi Potensial (mm/hari)
c = Angka koreksi (berdasarkan keadaan iklim)
ET
0
* = Evaporasi Potensial sebelum dikoreksi (mm/hari)
w = Faktor pengaruh suhu dan elevasi ketinggian daerah
Rs = Radiasi gelombang pendek yang diterima bumi (mm/hari)
= (0.25 + 0.54 (n/N)) R
R = Radiasi gelombang pendek batas luar atmosfer
(

) = Kecerahan matahari (%)











Tabel 1.3 Hubungan t dan w
(Untuk Indonesia, EL. 0-500 m)
Suhu (t
0
) w Suhu (t
0
) w
24.0 0.735 27.2 0.767
24.2 0.737 27.4 0.769
24.4 0.739 27.6 0.771
24.6 0.741 27.8 0.773
24.8 0.743 28.0 0.775
25.0 0.745 28.2 0.777
25.2 0.747 28.4 0.779
25.4 0.749 28.6 0.781
25.6 0.751 28.8 0.783
25.8 0.753 29.0 0.785
26.0 0.755 29.2 0.787
26.2 0.757 29.4 0.789
26.4 0.759 29.6 0.791
26.6 0.761 29.8 0.793
26.8 0.763 30.0 0.795
27.0 0.765 30.2 0.797
Sumber: Montarcih L, 2009












Tabel 1.4 Harga R Untuk Indonesia
(Untuk Indonesia : 5
0
s/d 10
0
LS)
Bulan
LU
0
LS
5 4 2 2 4 6 8 10
Jan 13.0 14.3 14.7 15.0 15.3 15.5 15.8 16.1 16.1
Feb 14.0 15.0 15.3 15.5 15.7 15.8 16.0 16.1 16.0
Mar 15.0 15.5 15.6 15.7 15.7 15.6 15.6 15.1 15.3
Apr 15.1 15.5 15.3 15.3 15.1 14.9 14.7 14.1 14.0
Mei 15.3 14.9 14.6 14.4 14.1 13.8 13.4 13.1 12.6
Jun 15.0 14.4 14.2 13.9 13.9 13.2 12.8 12.4 12.6
Jul 15.1 14.6 14.3 14.1 14.1 13.4 13.1 12.7 11.8
Ags 15.3 15.1 14.9 14.8 14.8 14.3 14.0 13.7 12.2
Sep 15.1 15.3 15.3 15.3 15.3 15.1 15.0 14.9 13.1
Okt 15.7 15.1 15.3 15.4 15.4 15.6 15.7 15.8 14.6
Nov 14.8 14.5 14.8 15.1 15.1 15.5 15.8 16.0 15.6
Des 14.6 14.1 14.4 14.8 14.8 15.4 15.7 16.0 16.0
Sumber: Montarcih L, 2010

Tabel 1.5 Angka Koreksi ( c ) Menurut Rumus Radiasi
Sumber: Montarcih L, 2010

3.Metode Penman
Rumus ini memberikan hasil yang baik bagi besarnya penguapan
(evaporation) air bebas E
0
jika di tempat itu tidak ada pengamatan dengan panci
penguapan (evaporation pan) atau tidak ada studi neraca air (water balance
study). Hasil perhitungan dengan rumus ini lebih dapat dipercaya dibandingkan
dengan dua buah rumus di atas dimana tidak memasukkan faktor-faktor energi.
Meskipun rumus Penman menghasilkan evaporasi dari permukaan air bebas,
BULAN Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
( c ) 0.80 0.80 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.80 0.80 0.80 0.80


bukanlah tidak mungkin untuk digunakan menghitung evapotranspirasi potensial.
Kalaupun akan dipakai untuk menghitung evapotranspirasi potensial dapat
ditempuh dengan memasukkan faktor pengalih f.
Prosedur perhitungan dalam Rumus Penman adalah sebagai berikut:
1. Cari data suhu rerata bulanan dan nilai , w, f(t) dari tabel
2. Cari data RH
3. Hitung d
4. Hitung nilai f(d) dengan rumus
5. Berdasarkan letak lintang cari nilai R
6. Cari data kecerahan matahari (

)
7. Cari nilai Rs
8. Cari nilai f(

)
9. Cari data kecepatan angin (U)
10. Cari f(U)
11. Cari Rn.I dengan rumus;
12. Cari nilai angka koreksi c
13. Cari ETo*
14. Cari ETo
15. Rumus Metode Penman:
ET
0
= c x ET
0
*
ET
0
* = w x (0,75 x Rs Rn1) + (1-w) f(u) ( - d)
16. Keterangan:
ET
0
= Evaporasi Potensial (mm/hari)
c = Angka koreksi (berdasarkan keadaan iklim)
ET
0
* = Evaporasi Potensial sebelum dikoreksi (mm/hari)
w = Faktor pengaruh suhu dan elevasi ketinggian daerah
Rs = Radiasi gelombang pendek yang diterima bumi (mm/hari)
= (0.25 + 0.54 (n/N)) R
R = Radiasi gelombang pendek batas luar atmosfer
n/N = Kecerahan matahari (%)



Rn = Radiasi bersih gelombang panjang (mm/hari)
= f(t) . f(d) . f(n/N)
f(t) = Fungsi suhu
f(d) = Fungsi tekanan uap
= 0.34 0.44 . ((d)
0.5
)
d = Tekanan uap sebenarnya (mbar)
= d* . RH
f(n/N) = Fungsi kecerahan matahari
= 0.1 + 0.9 . (n/N)
f(u) = Fungsi kecepatan angin pada ketinggian 2.00 m
= 0.27 . ( 1 + 0.864 u )
RH = Kelembaban relatif (%)






















Tabel 1.6 Hubungan t Dengan , w, f(t)
t

(mbar)
w f (t) t

(mbar)
w f (t)
24 29.85 0.735 15.4 26.3 34.22 0.758 15.960
24.1 30.03 0.736 15.425 26.4 34.42 0.759 15.98
24.2 30.21 0.737 15.45 26.5 34.63 0.76 16.000
24.3 30.39 0.738 15.475 26.6 34.83 0.761 16.02
24.4 30.57 0.739 15.5 26.7 35.04 0.762 16.040
24.5 30.76 0.74 15.525 26.8 35.25 0.763 16.06
24.6 30.94 0.741 15.55 26.9 35.46 0.764 16.080
24.7 31.13 0.742 15.575 27 35.66 0.765 16.1
24.8 31.31 0.743 15.6 27.1 35.88 0.766 16.120
24.9 31.50 0.744 15.625 27.2 36.09 0.767 16.14
25 31.69 0.745 15.65 27.3 36.30 0.768 16.160
25.1 31.88 0.746 15.675 27.4 36.50 0.769 16.18
25.2 32.06 0.747 15.7 27.5 36.72 0.77 16.200
25.3 32.26 0.748 15.725 27.6 36.94 0.771 16.22
25.4 32.45 0.749 15.75 27.7 37.16 0.772 16.240
25.5 32.64 0.75 15.775 27.8 37.37 0.773 16.26
25.6 32.83 0.751 15.8 27.9 37.59 0.774 16.280
25.7 33.03 0.752 15.825 28 37.81 0.775 16.3
25.8 33.22 0.753 15.85 28.1 38.03 0.776 16.320
25.9 33.42 0.754 15.875 28.2 38.25 0.777 16.34
26 33.62 0.755 15.9 28.3 38.48 0.778 16.360
26.1 33.82 0.756 15.920 28.4 38.70 0.779 16.38
26.2 34.02 0.757 15.94 28.5 38.92 0.78 16.400
Sumber: Montarcih L, 2010














Lanjutan Tabel 1.6
t

(mbar)
w f (t)
28.6 39.14 0.781 16.42
28.7 39.38 0.782 16.440
28.8 39.61 0.783 16.46
28.9 39.84 0.784 16.480
29 40.06 0.785 16.5
29.1 40.29 0.786 16.520
29.2 40.51 0.787 16.54
29.3 40.74 0.788 16.560
29.4 40.96 0.789 16.58
29.5 41.19 0.79 16.600
29.6 41.41 0.791 16.62
29.7 41.64 0.792 16.640
29.8 41.86 0.793 16.66
29.9 42.09 0.794 16.680
30 42.31 0.795 16.7
30.1 42.54 0.796 16.720
30.2 42.76 0.797 16.74
30.3 42.99 0.798 16.760
30.4 43.21 0.799 16.78
30.5 43.44 0.8 16.800
30.6 43.66 0.801 16.82
30.7 43.89 0.802 16.840
30.8 44.11 0.803 16.86
Sumber: Montarcih L, 2010















Tabel 1.7 Harga R Untuk Indonesia
(Untuk Indonesia : 5
0
s/d 10
0
LS)
Bulan
LU
0
LS
5 4 2 2 4 6 8 10
Jan 13.0 14.3 14.7 15.0 15.3 15.5 15.8 16.1 16.1
Feb 14.0 15.0 15.3 15.5 15.7 15.8 16.0 16.1 16.0
Mar 15.0 15.5 15.6 15.7 15.7 15.6 15.6 15.1 15.3
Apr 15.1 15.5 15.3 15.3 15.1 14.9 14.7 14.1 14.0
Mei 15.3 14.9 14.6 14.4 14.1 13.8 13.4 13.1 12.6
Jun 15.0 14.4 14.2 13.9 13.9 13.2 12.8 12.4 12.6
Jul 15.1 14.6 14.3 14.1 14.1 13.4 13.1 12.7 11.8
Ags 15.3 15.1 14.9 14.8 14.8 14.3 14.0 13.7 12.2
Sep 15.1 15.3 15.3 15.3 15.3 15.1 15.0 14.9 13.1
Okt 15.7 15.1 15.3 15.4 15.4 15.6 15.7 15.8 14.6
Nov 14.8 14.5 14.8 15.1 15.1 15.5 15.8 16.0 15.6
Des 14.6 14.1 14.4 14.8 14.8 15.4 15.7 16.0 16.0
Sumber: Montarcih L, 2010


Tabel 1.8 Angka Koreksi ( c ) Menurut Rumus Penman
BULAN Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
( c ) 1.10 1.10 1.10 0.90 0.90 0.90 0.90 1.00 1.10 1.10 1.10 1.10
Sumber: Montarcih L, 2010









Evaporasi potensial dapat dihitung menggunakan tiga metode. Adapun
metode yang dipergunakan dalam perhitungan evaporasi potensial ini adalah:
1.Metode Blaney-Criddle
2.Metode Radiasi
3.Metode Penman

Tabel berikut adalah tabel data perhitungan evaporasi yang nantinya akan
menjadi data penunjang perhitungan dalam ketiga metode tersebut.

Tabel 1.9 Analisis Data

Lanjutan Tabel 1.9
RH min n u
% jam/hari m/dt
92.5 11.5 5.5














LetakLintang
Suhu rata-rata bulanan
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
0 LS 27 27 25 29.5 26.5 27.5 28.5 29 28.5 30.5 30.5 27.5


1.Metode Blaney-Criddle
Tabel 1.10 Metode Blaney-Criddle

Contoh Perhitungan Metode Blaney Criddle :
a.Bulan Januari
LL = 0
0
LS
LL = 0
0
LS (dari Tabel BC) : P = 0.27
t = 27
0
C
ET
0
* = P . (0.457 t + 8.13)
= 0.27 . (0.457 . 27+ 8.13)
= 5.526 mm/hari
Januari (dari Tabel BC) : c = 0.80
ET
0
= c . ET
0
*
= 0.80 .5.526
= 4.421 mm/hari

No. Bulan
Letak
Lintang
P
t ET
0
*
(mm/hari)
c
ET
0
(mm/hari) (C)
1 Januari 0 LS 0.27 27 5.526 0.80 4.421
2 Februari 0 LS 0.27 27 5.526 0.80 4.421
3 Maret 0 LS 0.27 25 5.279 0.75 3.959
4 April 0 LS 0.27 29.5 5.835 0.70 4.084
5 Mei 0 LS 0.27 26.5 5.464 0.70 3.825
6 Juni 0 LS 0.27 27.5 5.588 0.70 3.911
7 Juli 0 LS 0.27 28.5 5.711 0.70 3.998
8 Agustus 0 LS 0.27 29 5.773 0.75 4.330
9 September 0 LS 0.27 28.5 5.711 0.80 4.569
10 Oktober 0 LS 0.27 30.5 5.958 0.80 4.766
11 November 0 LS 0.27 30.5 5.958 0.80 4.766
12 Desember 0 LS 0.27 27.5 5.588 0.80 4.470


2.Metode Radiasi
Tabel 1.11 Metode Radiasi
No. Bulan
Letak
Lintang
t
n/N w
R

Rs
(mm/hr)
ET
0
*
(mm/hr)
c
ET
0
(mm/hr)
(C) mm/Hr
1 Januari 0 LS 27 0.958 0.765 15.0 11.512 8.807 0.80 7.045
2 Februari 0 LS 27 0.958 0.765 15.5 11.896 9.100 0.80 7.280
3 Maret 0 LS 25 0.958 0.745 15.7 12.049 8.977 0.75 6.732
4 April 0 LS 29.5 0.958 0.790 15.3 11.742 9.276 0.75 6.957
5 Mei 0 LS 26.5 0.958 0.760 14.4 11.052 8.399 0.75 6.299
6 Juni 0 LS 27.5 0.958 0.770 13.9 10.668 8.214 0.75 6.160
7 Juli 0 LS 28.5 0.958 0.780 14.1 10.821 8.441 0.75 6.330
8 Agustus 0 LS 29 0.958 0.785 14.8 11.359 8.916 0.80 7.133
9 September 0 LS 28.5 0.958 0.780 15.3 11.742 9.159 0.80 7.327
10 Oktober 0 LS 30.5 0.958 0.800 15.4 11.819 9.455 0.80 7.564
11 November 0 LS 30.5 0.958 0.800 15.1 11.589 9.271 0.80 7.417
12 Desember 0 LS 27.5 0.958 0.770 14.8 11.359 8.746 0.80 6.997

Contoh Perhitungan Metode Radiasi:
1. Bulan Januari
t = 27
0
C
t = 27
0
C (dari Tabel R) : w = 0,765
LL = 0
0
LS
LL = 0
0
LS (dari Tabel R) : R = 15.0
(n/N) = 0.958








Rs = (0.25+ 0.54 (n/N)) R
= (0.25 + 0.54 . 0,958) 15.0

= 11,512 mm/hari
Januari (dari Tabel R) : c = 0.80
E
T0
* = w . Rs
= 0.765. 11,512
= 8,807 mm/hari
E
T0
= c . E
T0
*
= 0.80. 8,807
= 7,045 mm/hari

3.Metode Penman
Tabel 1.12 Metode Penman
No. Bulan
Letak
Lintang
t

(mbar)
w f(t) RH
d
(mbar)
f(d)
R

(C) mm/Hr
1 Januari 0 LS 27 35.66 0.765 16.1 0.925 32.986 0.087 14.50
2 Februari 0 LS 27 35.66 0.765 16.1 0.925 32.986 0.087 15.15
3 Maret 0 LS 25 31.69 0.745 15.65 0.925 29.313 0.101 15.55
4 April 0 LS 29.5 41.19 0.790 16.6 0.925 38.101 0.068 15.40
5 Mei 0 LS 26.5 34.63 0.760 16 0.925 32.033 0.091 14.75
6 Juni 0 LS 27.5 36.72 0.770 16.2 0.925 33.966 0.083 14.30
7 Juli 0 LS 28.5 38.92 0.780 16.4 0.925 36.001 0.076 14.45
8 Agustus 0 LS 29 40.06 0.785 16.5 0.925 37.056 0.072 15.00
9 September 0 LS 28.5 38.92 0.780 16.4 0.925 36.001 0.076 15.30
10 Oktober 0 LS 30.5 43.44 0.800 16.8 0.925 40.182 0.061 15.20
11 November 0 LS 30.5 43.44 0.800 16.8 0.925 40.182 0.061 14.65
12 Desember 0 LS 27.5 36.72 0.770 16.2 0.925 33.966 0.083 14.25





Lanjutan Tabel 1.12
n/N
Rs
(mm/hr)
f(n/N)
u
(m/dt)
f(u)
Rn1
(mm/hr)
ET
0
*
(mm/hr)
c
ET
0
(mm/hr)
0.958 11.128 0.962 5.5 1.553 1.352 6.097 1.10 6.706
0.958 11.627 0.962 5.5 1.553 1.352 6.383 1.10 7.021
0.958 11.934 0.962 5.5 1.553 1.533 6.227 1.00 6.227
0.958 11.819 0.962 5.5 1.553 1.093 6.935 0.90 6.242
0.958 11.320 0.962 5.5 1.553 1.401 6.123 0.90 5.511
0.958 10.975 0.962 5.5 1.553 1.303 6.092 0.90 5.483
0.958 11.090 0.962 5.5 1.553 1.199 6.330 0.90 5.697
0.958 11.512 0.962 5.5 1.553 1.146 6.665 1.00 6.665
0.958 11.742 0.962 5.5 1.553 1.199 6.711 1.10 7.382
0.958 11.666 0.962 5.5 1.553 0.987 7.018 1.10 7.720
0.958 11.243 0.962 5.5 1.553 0.987 6.765 1.10 7.442
0.958 10.936 0.962 5.5 1.553 1.303 6.070 1.10 6.677

Contoh Perhitungan Metode Penman:
1. Bulan Januari
t = 27
0
C
Tabel PN :
t = 27
0
C
= 35.66 mbar
w = 0.765
f (t) = 16.1
RH = 0.925
d = . RH
= 35.66. 0.925
= 32.986 mbar
f(d) = 0.087



Tabel PN:
LL = 0
0
LS R = 14.50
n/N = 0.962
Rs = (0.25 + 0.54 (n/N)) R

= (0.25 + 0.54 .0.958) 14.50

= 11.128 mm/hari
f(n/N) = 0.1 + 0.9 (n/N)
= 0.1 + 0.9 . 0.958
= 0.962
U = 5.5 m/dt
f(u) = 0.27 . (1 + 0.864 u)
= 0.27 . (1 + 0.864 . 5.5)
= 1. 553
Rn1 = f(t) . f(d) . f(n/N)
= 16.1. 0.087. 0.962
= 1.352 mm/hari
Januari (dari Tabel PN) : c = 1.10
ET
0
* = w (0.75 Rs Rn1) + (1 w) f(U) ( d)
= 6.097mm/hari
ET
0
= c . ET
0
*
= 1.10 .6.097
= 6.706 mm/hari












Tabel 1.13 Perbandingan Metode Blaney Criddle, Radiasi, Dan
Penman
No. Bulan
ET
0
(mm/hr) c ET
0
* (mm/hr)
BC R P BC R P BC R P
1 Januari 4.421 7.045 6.706 0.80 0.80 1.10 5.526 8.807 6.097
2 Februari 4.421 7.280 7.021 0.80 0.80 1.10 5.526 9.100 6.383
3 Maret 3.959 6.732 6.227 0.75 0.75 1.00 5.279 8.977 6.227
4 April 4.084 6.957 6.242 0.70 0.75 0.90 5.835 9.276 6.935
5 Mei 3.825 6.299 5.511 0.70 0.75 0.90 5.464 8.399 6.123
6 Juni 3.911 6.160 5.483 0.70 0.75 0.90 5.588 8.214 6.092
7 Juli 3.998 6.330 5.697 0.70 0.75 0.90 5.711 8.441 6.330
8 Agustus 4.330 7.133 6.665 0.75 0.80 1.00 5.773 8.916 6.665
9 September 4.569 7.327 7.382 0.80 0.80 1.10 5.711 9.159 6.711
10 Oktober 4.766 7.564 7.720 0.80 0.80 1.10 5.958 9.455 7.018
11 November 4.766 7.417 7.442 0.80 0.80 1.10 5.958 9.271 6.765
12 Desember 4.470 6.997 6.677 0.80 0.80 1.10 5.588 8.746 6.070


















ET = Kc . ET
0



1.7.2. Evapotranspirasi
Evapotranspirasi adalah proses kehilangan air dari suatu lahan melalui
tahap evaporasi dan transpirasi. Proses evapotranspirasi sangat erat berkaitan
dengan kebutuhan air tanaman. Kebutuhan air tanaman adalah sejumlah air yang
dibutuhkan untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan. Penguapan dalam
hal ini meliputi penguapan dari permukaan air dan daun-daun tanaman.
Jumlah kadar air yang hilang dari tanah oleh evapotranspirasi bergantung
kepada:
a.Adanya persediaan air yang cukup (hujan dan lain-lain)
b.Faktor-faktor iklim seperti suhu, kelembaban dan lain-lain
c.Tipe dan cara kultivasi tumbuh-tumbuhan tersebut.
Harga evapotranspirasi bergantung kepada jenis dan umur tanaman, yang
nilainya didapatkan degan mengalikan koefisien tanaman dan harga evaporasi
potensial. Berikut ini adalah rumus evapotranspirasi tanaman:




Keterangan:
ET = Evapotranspirasi Tanaman (mm/hari)
Kc = Koefisien Tanaman (berdasarkan jenis tanaman)
ET
0
= Evaporasi Potensial (mm/hari)












Tabel l.14 Harga Kc Tanaman Padi
No. Bulan Kc
1
Januari 1.24
2
Februari 1.09
3
Maret 0.70
4
April 0.91
5
Mei 1.14
6
Juni 1.28
7
Juli 1.19
8
Agustus 0.66
9
September 0.64
10
Oktober 0.91
11
November 1.13
12
Desember 1.25
Sumber: Hidrologi Pertanian, 2010


















Tabel l.15 Harga Evapotranspirasi Tanaman Padi

No. Bulan
ET
0
(mm
/
hari)
Kc
ET (mm/hari)
BC R P BC R P
1 Januari
4.421 7.045 6.706
1.24
5.482 8.735 8.315
2 Februari
4.421 7.28 7.021
1.09
4.818 7.935 7.652
3 Maret
3.959 6.732 6.227
0.70
2.771 4.712 4.358
4 April
4.084 6.957 6.242
0.91
3.716 6.330 5.680
5 Mei
3.825 6.299 5.511
1.14
4.360 7.180 6.282
6 Juni
3.911 6.16 5.483
1.28
5.006 7.884 7.018
7 Juli
3.998 6.33 5.697
1.19
4.757 7.532 6.779
8 Agustus
4.33 7.133 6.665
0.66
2.857 4.707 4.398
9 September
4.569 7.327 7.382
0.64
2.924 4.689 4.724
10 Oktober
4.766 7.564 7.72
0.91
4.337 6.883 7.025
11 November
4.766 7.417 7.442
1.13
5.385 8.381 8.409
12 Desember
4.47 6.997 6.677
1.25
5.587 8.746 8.346

Contoh Perhitungan:
Bulan Januari (Kc = 1.24)
Metode Blaney-Criddle
ET = Kc . ET
0

= 1,24 . 4,421
= 5,482 mm/hari
Metode Radiasi
ET = Kc . ET
0

= 1,24 .7,045
= 8.735 mm/hari
Metode Penman
ET = Kc . ET
0

= 1,24 . 6,706
= 8,315 mm/hari


1.8 Kesimpulan dan Saran
Hasil perhitungan yang telah dihitung dengan metode Blaney-Criddle,
metode Radiasi, dan metode Penman dapat disimpulkan bahwa nilai evaporasi
potensial yang diperoleh memiliki nilai yang berbeda-beda. Dapat diketahui
bahwa nilai evaporasi potensial menggunakan metode Radiasi memperoleh hasil
yang lebih besar daripada menggunakan metode Blaney Criddle. Hal ini
dipengaruhi oleh adanya faktor iklim yang diperhitungkan dalam metode Radiasi.
Faktor-faktor tersebut meliputi faktor kecerahan matahari (n/N), radiasi
gelombang pendek yang diterima bumi (Rs) dan faktor radiasi gelombang pendek
yang memenuhi batas luar atmosfer (R). Sedangkan apabila metode Radiasi ini
dibandingkan dengan metode Penman, nilai evaporasi potensialnya lebih kecil.
Hal ini disebabkan karena faktor iklim yang diperhitungan dalam metode Penman
lebih banyak dari pada metode Radiasi. Faktor faktor tersebut meliputi faktor
radiasi bersih gelombang panjang (Rn), fungsi suhu (f(t)), fungsi tekanan uap
(f(d), kelembaban relatif serta faktor kecepatan angin bulanan rerata (u). Pada
dasarnya evaporasi potensial sangat dipengaruhi dengan faktor iklim, sehingga
semakin banyak faktor iklim yang diperhitungkan dan akan semakin akurat data
yang akan diperoleh.
Selanjutnya berdasarkan hasil perhitungan evapotranspirasi tanaman padi,
harga evapotranspirasi ini menunjukan nilai yang berbeda setiap bulan dengan
metode yang digunakan. Semakin besar harga evaporasi potensial akan
menghasilkan harga evapotranspirasi tanaman yang semakin besar pula.
Dengan demikian, apabila perhitungan data tersebut tidak teliti atau tidak
betul, maka penafsiran terhadap sistemnya pun juga akan tidak betul. Oleh sebab
itu kehati-hatian dalam perhitungan dalam berbagai metode yang tepat sangat
diperlukan.








DAFTAR PUSTAKA

Soemarto, CD. 1987. Hidrologi Teknik. Usaha Nasional: Surabaya.
Harisuseno, Donny. 2014. Materi Perkuliahan PPT: Malang.
http://id.wikipedia.org/wiki/Transpirasi
Montarcih, Lily. 2009. Hidrologi Dasar. Tirta Media: Malang.
Montarcih, Lily. 2010. Hidrologi Teknik Dasar. Citra Malang: Malang.
Sri Harto Br. 1990. Hidrologi Teori Masalah Penyelesaian.