Anda di halaman 1dari 6

PERSYARATAN ALAT EVALUASI YANG

BAIK
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Evaluasi merupakan suatu proses perencanaan, memperoleh, dan menyediakan informasi
yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif keputusan . setiap kegiatan evaluasi atau
penilaian merupakan suatu proses yang sengaja dirancang untuk memperoleh informasi atau
data; berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan . data yang
dikumpulkan sudah barang tentu sesuai dan mendukung tujuan evaluasi yang direncanakan.
Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran. Norman E. Gronlund (1976) merumuskan
pengertian evaluasi sebagai berikut: evaluation ... a systematic process of determining the
extent to which instructional objectives are achieved by puplis. (Evaluasi adalah suatu
proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana
tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa). (dalam Purwanto, Ngalim : 1987:3)
Dengan kata-kata yang berbeda, tetapi mengandung pengetian yang hampi sama, Wrightstone
dan kawan-kawan (1956:16) mengemukankan rumusan evaluasi pendidikan sebagai berikut:
Educational evaluation is the estimation of the growth and progress of pupils toward
objectives or values in the curriculum. (evaluasi pendidikan ialah penafsiran terhadap
pertumbuhan dan kemajuan siswa kea rah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan
di dalam kurikulum).
Dalam mengevalusi, harus mempunyai syarat-syarat dan tujuan yang harus di jadikan acuan
agar tidak terjadi kesalahan. Evaluasi harus terperinci dan dapat dipertanggungjawabkan
dalam pelaksanaannya. Dalam evaluasi semestinya harus memenuhi syarat-syarat yang
dijadikan acuan agar tepat sasaran.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan dalam penulisan makalah ini adalah
Bagaimanakah syarat-syarat alat evaluai yang baik?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan syarat-syarat alat
evaluasi yang baik.

BAB II
SYARAT-SYARAT EVALUASI YANG BAIK

A. Pergertian Evaluasi
Ada beberapa pengertian evaluasi. Wand dan Brown (1957) mendevenisikan evaluasi
sebagai ... refer to act or process to determining the value of something evaluasi mengacu
kepada suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu yang dievaluasi. (Sanjaya, Wina: 2008:
335)
Sejalan dengan pendapat tersebut Guba dan Lincoln mendevenisikan evaluasi itu
merupakan suatu proses memberikan pertimbangan (evaluand). Pendapat Hamih Hasan
(dalam Sanjaya, Wina: 2008: 335) Sesuatu yang dipertimbangkan itu bisa orang, benda,
kegiatan, keadaan atau sesuatu kesatuan tertentu.
Dari konsep tersebut di atas, ada dua hal yang menjadi karakteristik evaluasi. Pertama,
evaluasi merupakan suatu proses. Artinya daam suatu pelaksanaan evaluasi mestinya terdiri
dari macam tindakan yang harus dilakukan. Dengan demiakian evaluasi bukanlah hasil atau
produk, akan tetapi rangkaian kegiatan. Kegiatan dilakukan untuk memberikan makna atau
nilai sesuatu yang di evaluasi.
Kedua, evaluasi berhubungan dengan pemberian nilai atau arti. Artinya, berdasarkan
hasil pertimbangan evaluasi apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak. Dengan kata lain
evaluasi adapat menunjukkan kualitas yang dinilai.

B. Fungsi Evaluasi
Evaluasi merupakan proses yang sangat penting dalam kegiatan pendidikan formal. Ada
beberapa fungsi evaluasi, yakni:
a. Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpang balik bagi siswa. Melalui evaluasi,
siswa akan mendapatkan informasi tentang aktivitas pembelajaran yang dilakukan. Dari hasil
evaluasi siswa akan dapat menentukan harus bagaimana proses pembelajaran yang perlu
dilakukan.
b. Evaluasi merupakan alat yang penting untuk mengetahui bagaimana ketercapaian siswa
dalam menguasai tujuan yang telah ditentukan. Siswa akan tahu bagaian mana yang perlu di
pelajarai lagi dan bagian mana yang tidak perlu.
c. Evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan progran kurikulum.
Informasi ini sangat dibutuhkan baik untuk guru maupun untuk para pengembang kurikulum
khususnya untuk perbaikan program selanjutnya.
d. Informasi dari hasil evaluasi dapat digunakan oleh siswa secara individual dalam
mengambil keputusan, khususnya untuk menentukan masa depan sehubungan dengan bidang
pekerjaan serta pengembangan karir.
e. Evaluasi berguna untuk para pengembang kurikulum khususnya dalam menentukan
kejelasan tujuan khusus yang ingin dicapai. Misalnya apakah tujuan itu mesti dikurangi atau
ditambah.
f. Evaluasi berfungsi sebagai umpang balik untuk semua pihak yang tua, untuk guru dan
pengembang kurikulum, untuk perguruan tinggi, pemakai lulusan, untuk orang yang
mengambil kebijakan pendidikan termasuk juga untuk masyarakat. Melalui evaluasi dapat
dijadikan bahan informasi tentang efektivitas program sekolah. (Sanjaya, Wina: 2008: 339)

C. Syarat- syarat Evaluasi yang Baik
Sebuah instrumen evaluasi hasil belajar hendaknya memenuhi syarat sebelum di gunakan
untuk mengevaluasi atau mengadakan penilaian agar terhindar dari kesalahan dan hasil yang
tidak valid (tidak sesuai kenyataan sebenarnya). Alat evaluasi yang kurang baik dapat
mengakibatkan hasil penilaian menjadi bias atau tidak sesuainya hasil penilaian dengan
kenyataan yang sebenarnya, seperti contoh anak yang pintar dinilai tidak mampu atau
sebaliknya.
Jika terjadi demikian perlu ditanyakan apakah persyaratan instrumen yang digunakan
menilai sudah sesuai dengan kaidah-kaidah penyusunan instrumen.
Instrumen Evaluasi yang baik memiliki ciri-ciri dan harus memenuhi beberapa kaidah antara
lain:
* Validitas
* Reliabilitas
* Objectivitas
* Pratikabilitas
* Ekomonis
* Taraf Kesukaran
* Daya Pembeda
Validitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa Validitas diartikan sebagai sifat benar,
menurut bukti yang ada, logika berfikir, atau kekuatan hokum. Menurut Diknas bahwa
validitas adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur sasaran ukurnya. Sedangkan
menurut Wiki pedia Indonesia diterjemahkan , kesahihan, kebenaran yang diperkuat oleh
bukti atau data. Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana
ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.
Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur
yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus
memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Dengan demikian kata valid
sering diartikan dengan tepat, benar, sahih, absah, sehingga kata valid dapat diartikan
ketepatan, kebenaran, kesahihan, atau keabsahan. Menurut Anas Sujiono apabila kata valid
dikaitkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur maka tes dikatakan valid adalah apabila tes
tersebut dengan secara tepat, secara benar, secara sahih, atau secara absah dapat mengukur
apa yang seharusnya diukur, dengan kata lain tes dapat dikatakan telah memiliki Validitas
apabila tes tersebut dengan secara tepat, benar, sahih atau absah telah dapat mengungkap atau
mengukur apa yang seharus diungkap atau diukur lewat tes tersebut. Suatu skala atau
instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen
tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan
maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah
akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
Dalam kaitannya dengan tes dan penilaian, Retno mengemukakan tiga pokok pengertian
yang bisa digunakan sebagai berikut :
a. Validitas berkenaan dengan hasil dari sutu alat tes atau alat evaluasi, dan tidak menyangkut
alat itu sendiri. Tes intelegensi sebagai alat untuk melakukan tes kecerdasan hasilnya valid ,
tapi kalau digunakan untuk melakukan tes hasil belajar tidak valid.
b. Validitas adalah persoalan yang menyangkut tingkat (derajat), sehingga istilah yang
digunakan adalah derajat validitas suatu tes maka suatu tes ada yangh disebut validitasnya
tinggi, sedang dan rendah.
c. Validitas selalu dibatasi pada pengkususannya dalam penggunaan dan tidak pernah dalam
arti kualitas yang umum. Suatu tes berhitung mungkin tinggi validitasnya untuk mengukur
keterampilan menjumlah angka, tetapi rendah validitasnya untuk mengukur berfikir
matematis dan sedang validitasnya untuk meramal keberhasilan siswa dalam pelajaran
matematik yang akan datang.
Validitas adalah kesahihan pengukuran atau penilaian dalam penelitian. Dalam analisis
isi, validitas dilakukan dengan berbagai cara atau metode sebagai berikut.
1. Pengukuran produktivitas (productivity), yaitu derajat di mana suatu studi menunjukkan
indikator yang tepat yang berhubungan dengan variabel.
2. Predictive validity, yaitu derajat kemampuan pengukuran dengan peristiwa yang akan
datang.
3. Construct validity, yaitu derajat kesesuaian teori dan konsep yang dipakai dengan alat
pengukuran yang dipakai dalam penelitian tersebut.

Macam-macam Validitas
Menurut Suharsimi ada dua jenis validitas yaitu validitas logis dan validitas empiris.
Sementara Retno validitas itu terbagi menjadi lima tipe yaitu validitas tampang (face
validity), validitas logis (logical validity), validitas vaktor (factorikal validity), Validitas isi
(conten validity), dan validitas empiris (empirical validity). Sedangkan menurut Anas ternik
pengujian validitas hasil belajar secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu pengujian validitas
tes secara rasional dan pengujian validitas tes secara empirik.
Pada dasarnya para ahli pendidikan melihat pengujian validitas tes itu dapat dilihat dari:
1. Pengujian validitas tes secara rasional.
Istilah lain dari istilah validitas rasional adalah validitas logika, validitas ideal atau
validitas dassollen. Istilah validitas logika (logical validity) mengandung kata logis berasal
dari kata logika yang berarti penalaran. Dengan makna demikian bahwa validitas logis untuk
sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran, kondisi
valid tersebut dipandang terpenuhi karena instrumen bersangkutan sudah dirancang secara
baik mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Dengan demikian validitas logis ini dikatakan
benar apabila tes yang dilakukan sesuai denga ketentuan, peraturan dan teori yang ada,
sehingga suatu tes itu dapat dikatakan valid dapat dilihat setelah instrumen soal tes tersebut
telah selesai dibuat.

2. Pengujian Validitas Tes secara Empiris
Istilah Validitas empiris memuat kata empiris yang artinya pengalaman
sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari
pengalaman. Yang dimaksud dengan validitas empiris adalah ketepatan mengukur yang
didasarkan pada hasil analisis yang bersifat empirik. Sedangkan menurut Ebel bahwa
Empirical Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan
suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang
ingin diramalkan oleh pengukuran.