Anda di halaman 1dari 3

http://www.ecoton.or.id/tulisanlengkap.php?

id=1832,
09 June 2007 02:32:58
Penegak Hukum Takluk Di Kaki Pencemar

PT Alu Aksara Pratama
limbah cair (PTAAP) dan dampaknya terhadap Kali Kwangean.
Hasil investigasi menunjukkan bahwa buangan cair PT AAP mengandung padatan terlarut (TDS/Total Dissolved
Solid) yang cukup tinggi mencapai 976 ppm (part per milliom/satu milliliter dalam seribu liter) padahal TDS air
sungai yang umum ada di kawasan Mojokerto seperti air Kali Mlirip, Kanal Mangetan, Kali Brantas jumlah TDS
yang diukur tak lebih dari 340 ppm. Tingginya TDS ini menunjukkan bahwa limbah cair PT AAP mengandung
bahan-bahan organik dan bahan-bahan terlarut yang cukup tinggi sehingga menimbulkan sedimentasi dan
meningkatkan kekeruhan sungai, dampak lain yang kini dirasakan oleh sebagaian Warga Pening ini adalah
sepanjang aliran sungai Kwangean kini menimbulkan bau busuk, terlebih pada saat malam hari pukul 22.00 WIB
atau saat subuh menjelang pagi, fakta ini diungkapkan oleh Kastari (60tahun) Warga Desa Perning yang
rumahnya berdekatan dengan jembatan Pening. Bau busuk yang berasal dari limbah pabrik tepung (PT AAP)
setiap hari mengganggu kami warga yang tinggal disepanjang alur Kali Kwangean hingga Kali Brantas, terlebih
pada saat malam hari disaat pabrik membuang limbah yang berwarna hitam dan putih pekat, Ujar Kastari yang
setiap hari berprofesi sebagai tukang patri yang manngkal di Kawasan jembatan Perning. Kastari menambahkan
bahwa pembuangan limbah PT AAP telah membuatnya kehilangan mata pencahariannya yang dulu sebagai
tukang jaring ikan. Sebelum adanya pabrik tepung ini setiap hari saya bisa menjaring 2-3 kg ikan di Kali
Kwangean, tetapi sejak adanya limbah semuanya jadi punah, Ungkap Kastari.
Punahnya ikan-ikan disepanjang Kali Kwangean ini adalah dampak dari buangan limbah PT AAP, hal ini
disebabkan limbah cair PT AAP menyebabkan air sungai menjadi Septik miskin oksigen. Dari pemantauan
ecoton selama bulan Mei 2007 kandungan Oksigen disepanjang Kali Kwangean tidak lebih dari 1 mg/L bahkan
saat-saat tertentu kandungan Oksigen di Air adalah 0 alias tidak ada Oksigen diair, padahal kandungan Oksigen
di air dibutuhkan biota air seperti ikan untuk bernafas. Sebelum Outlet pembuangan PT AAP kandungan DO
diukur oleh tim ecoton dan menunjukkan bahwa kandungan Oksigen mencapai 6-7 mg/L, lokasi pengukuran DO
dilakukan di Desa Kepuh dan Reco yang dilewati sungai Kwangean.
Dari hasil pengukuran DO diatas menunjukkan bahwa terjadi penurunan DO dari sebelum outlet pembuangan
yang mencapai 6-7mg/L turun menjadi hingga 0,4 mg/L. Penurunan DO ini disebabkan PT AAP tidak memiliki
unit Instalasi pengolah air limbah (IPAL) yang berjalan dengan standar yang ditentukan sehingga air limbah yang
dibuang masih banyak mengandung bahan-bahan organik yang berdampak pada penurunan oksigen di
air.Selain membuat turunnya DO limbah PT AAP juga menimbulkan bau busuk dan berwarna abu-abu.
Andreas Agus KN
Direktur Research and Environmental Monitoring ecoton,

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah - ECOTON
Jl. Raya Bambe 115 Driyorejo - Gresik 61177 - Email: ecoton@ecoton.or.id



http://www.pn-raha.go.id/index.php?page=detail.html&id=199

Patroli Air Temukan Indikasi Pencemaran PT AAP
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita
Kamis, 17 Juni 2010
05:51http://www.surabayakita.com/index.php?option=com_content&view=article&id=485:patroli-
air-temukan-indikasi-pencemaran-pt-aap&catid=25:peristiwa&Itemid=28
Tim patroli air gabungan yang diterjunkan dari Kabupaten Mojokerto menuju Surabaya
mengindikasikan PT Alu Aksara Pratama (AAP) yang memproduksi tepung, kembali melakukan
pencemaran lingkungan.
Tim gabungan dari Badan Lingkungan Hidup Jawa Timur, Perum Jasa Tirta I, Polda Jatim, Dinas PU
Pengairan Jatim, dan LSM melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi di Desa Perning,
Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto menemukan beberapa indikasi pencemaran dari pembungan
limbah cair hingga menimbulkan bau menyengat.

Penyidik Sat 4 Tipiter Polda Jatim, Kompol Agung Darmono saat sidak di AAP, Selasa (15/6/2010) sore
menjelaskan, pabrik tepung ini pernah terjerat kasus pencemaran pada 2006.

Saat itu, AAP terbukti limbahnya melebihi baku mutu dan telah mendapatkan sanksi pidana. Namun,
kini rupanya AAP belum jera dan terus melakukan pencemaran yang banyak dikeluhkan oleh warga.

Untuk itu, tim patroli sidak ke lokasi untuk memastikan pencemaran dengan mengambil sampel limbah
yang dibuang. Sampel limbah diambil dari empat titik, yakni outlet Instalasi Pembuangan Air Limbah
(IPAL), inlet IPAL, up stream, dan down stream sungai. Keempat titik diambil sampel airnya yang rata-
rata berwarna putih keruh untuk diujikan di laboratorium.

Pengambilan sampel tersebut tak hanya dilakukan penyidik Polda Jatim, tapi untuk lebih memastikan
dan menguatkan data hasil laboratorium, sampel juga diambil oleh lab dari PJT I. Dengan hasil
penelitian dari dua lab ini diharapkan bisa menjadi parameter kadar pencemaran dari kandungan
limbah yang dibuang ke sungai.

Pada Tahun 2006, limbah pabrik tepung ini melebihi baku mutu, yakni untuk kandungan Total
Suspended Solid (TSS), Bio Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan
mengandung logam berat. Jika dari hasil lab yang terbaru ini terbukti tetap melebihi baku mutu, maka
sanksi pidananya akan lebih berat, katanya.

Koordinator Tim Patroli Air, Imam Rochani mengatakan, pencemaran AAP ini telah dilakukan selama
bertahun-tahun. Bahkan, yang paling dikeluhkan oleh warga di sekitar industri adalah pencemaran bau
yang bisa menyebabkan kepala pusing.

Bau memang sangat menyengat, bahkan tim patroli yang hanya sidak sekitar dua jam saja sudah
banyak yang mengeluh pusing, apalagi warga sekitar pabrik yang sudah bertahun-tahun menghirup
bau limbah. Berarti pencemaran ini sudah bisa dikatakan cukup parah, ujarnya.

Persoalan limbah AAP ini sebelumnya tidak terlalu dirisaukan oleh warga. Namun pada 2009, menurut
salah satu petugas IPAL dari AAP,Eko Ponco, kondisi kolam IPAL mengalami overload, sehingga perlu
diperluas. Selain itu, terdapat beberapa bak IPAL yang mengalami longsor, sehingga diperlukan
penambahan area IPAL. Penambahan area IPAL pun dilakukan di sekitar area pertanian yang berjarak
sekitar 100 meter dari pemukiman warga. Akibat perluasan dengan jumlah limbah yang semakin
banyak tersebut menyebabkan bau menyengat yang banyak dikeluhkan warga.

Salah Satu Warga RT 23 RW 2, Sunarwidi menjelaskan, prinsipnya warga hingga kini tetap menolak
aktivitas AAP, terutama untuk pembangunan IPAL di dekat area pemukiman warga.

Kami dari warga RT 23 dan RT 8 telah sepakat melakukan penolakan dan tidak mengizinkan AAP
beroperasi karena bau limbahnya sangat menyengat. Ini banyak dikeluhkan anak-anak di desa kami.
Yang namanya anak-anak kan gak pernah bohong, katanya.

Aksi protes pun juga kerap dilakukan oleh warga. Sunarwidi menuturkan, demo besar-besaran pernah
satu kali dilakukan warga pada 3 Februari lalu. Selain itu, warga juga melakukan protes dan demo di
Kantor Kepala Desa Perning, tapi tidak ada tanggapan.

Aksi warga dengan tidur di balai desa telah dilakukan lebih dari 10 kali, tapi tidak ada tanggapan. Kami
sangat kecewa. Untuk itu, dengan datangnya tim patroli air gabungan warga berharap agar AAP dapat
segera ditindak tegas, sehingga pencemaran lingkunga tak lagi terjadi di Desa Perning, tuturnya (red)