Anda di halaman 1dari 1

1

BAB 1. PENDAHULUAN

Polycystyc Ovary Syndrome (PCOS) merupakan salah satu dari kelainan
endokrin pada wanita pre menopouse dengan prevalensi 4-12 %. Berdasarkan
Center for Disease Control and Prevention, PCOS merupakan salah satu
penyebab utama infertilitas pada wanita (Nabag et al, 2014). PCOS merupakan
kelainan kompleks yang ditandai dengan kenaikan level androgen, siklus
menstruasi ireguler dan atau adanya kista kecil pada satu atau kedua ovarium
(Ndefo et al ,2013) . Infertilitas karena PCOS dikaitkan dengan adanya oligo
ataupun anovulasi, disfungsi sekresi gonadotropin, disfungsi faktor pertumbuhan
ovarium serta kelainan proses binding protein, hiperandrogen dan resistensi
insulin (Kaur dan Saha, 2013). Aktivitas androgen yang tinggi menyebabkan efek
dermatologi pada penderita PCOS diantaranya hirsutism, aloplesia, acne,
dermatitis seborhoik serta onikolisis (Rojas et al, 2014).
Interaksi antara faktor genetik serta lingkungan diduga memainkan peran
penting dalam terjadinya PCOS. PCOS dalam suatu keluarga diduga berkaitan
dengan adanya sifat gen autosomal dominan yang diturunkan. Faktor lingkungan
yang mempengaruhi PCOS melibatkan obesitas serta toksin oleh agen infeksius
(Ndefo et al ,2013).
Penegakan diagnosis dan penatalaksanaan dini pada PCOS sangat
dianjurkan. Hal ini berkaitan dengan risiko yang timbul dikemudian hari seperti
infertilitas, diabetes, hipertensi, kelainan kardiovaskuler, dan hyperestrogen
related cancers (Dhagat et al, 2013).
Terapi untuk PCOS sebaiknya dimulai segera setelah diagnosis ditegakkan
dengan pilihan terapi hormonal, farmakologi, non farmakologi (penurunan berat
badan pada pasien dengan obesitas, modifikasi gaya hidup dengan diet dan
olahraga) serta pembedahan (Kaur dan Saha, 2013). Walaupun jenis terapi di atas
efektif pada PCOS namun tetap masih bisa menimbulkan efek samping pada
pasien (Johansson dan Victorin, 2013).