Anda di halaman 1dari 3

Pidato Bung Karno di Kongres Amerika Serikat 17 Mei 1956

... We have our feet on the road to democracy, and we have made a good start. But we will not
deceive ourselves with the false illusion that we have traversed the full extent of the road to
democracy, if indeed any end there be.

The secret ballot, the free press, the freedom of belief, the votings in parliaments - these are all
merely expressions of democracy. Freedom of expression has a guardian in a certain measure of
prosperity, the achievement of freedom from want.

For us then, democratic principles are not simply an aim. The expression of desire inherent in
human nature, they are also a means of providing our people with reasonable standard of living.
The freedom of expression and the freedom of wants are indivisible, two interdependent souls in
our body.

As with all other freedoms, freedom of expression is no absolute, its indiscriminate and
unrestrained exercise could hamper harmonious growth of other freedoms, could hamper the
harmonious growth from want, and thus sow the seed for the destruction of the fundamentals of
human freedom itself...

... To the famished man democracy can never be more than a slogan. What can a vote mean to a
woman worn out by toll, whose children fret and all with the fever of malaria? Democracy is not
merely government by the people, democracy is also government for the people ..."











PIDATO BUNG KARNO
PADA HARI PROKLAMASI KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA
TANGGAL 17 AGUSTUS 1945
SAUDARA-SAUDARA SEKALIAN!
Saya telah minta saudara-saudara hadir disini untuk menyaksikan satu peristiwa maha-penting
dalam sejarah kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjoang, untuk kemerdekaan tanah air kita
bahkan telah beratus-ratus tahun!
Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi
jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.
Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-
hentinya.
Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada
hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya kepada kekuatan sendiri.
Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air
kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri
akan dapat berdiri dengan kuatnya.
Maka kami, tadi malah telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat
Indonesia dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah
datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara!






Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami:
PROKLAMASI
KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKN KEMERDEKAAN
INDONESIA.
HAL-HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN,
DISELENGGARAKAN DENGAN CARA SEKSAMA DAN DALAM TEMPO SESINGKAT-
SINGKATNYA.
JAKARTA, 17 AGUSTUS 1945
ATAS NAMA BANGSA INDONESIA
SUKARNO HATTA
Demikianlah saudara-saudara!
Kita sekarang telah merdeka!
Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita!
Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia
merdeka kekal dan abadi. Insyaallah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!