Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN

Pengaruh sistemik akibat kehilangan darah berkaitan langsung dengan
volume darah yang keluar dari pembuluh darah. Ketika sebagian besar volume
darah dalam sirkulasi hilang, seperti pada trauma masif, penderita dapat sangat
cepat meninggal karena perdarahan. Penderita dapat mengalami perdarahan tanpa
ada petunjuk perdarahan eksternal sama sekali. Ini terjadi jika darah yang keluar
dari pembuluh terkumpul dalam rongga tubuh yang besar seperti rongga pleura
atau rongga peritoneum. Jenis perdarahan internal yang mematikan ini sering
sekali terjadi pada cidera yang berat, yang menyebabkan ylang iga patah dan
mengoyak paru atau jika trauma abdomen mengakibatkan rupture limpa atau hati.
Volume perdarahan juga dapat memberikan pengaruh yang berkaitan dengan laju
terjadinya kehilangan darah. Kehilangan volume darah yang lebih besar dapat
ditoleransi lebih baik jika terjadi sedikit demi sedikit daripada terjadi secara cepat
dalam jumlah yang besar.
1

Syok bukanlah suatu diagnosis. Syok merupakan kegagalan sirkulasi tepi
menyeluruh yang mengakibatkan hipoksia jaringan. Kematian akibat syok terjadi
bila kejadian ini menyebabkan gangguan nutrisi dan metabolisme sel.
2
Syok bersifat progresif dan terus memburuk. Lingkaran setan dari
kemunduran yang progresif akan mengakibatkan syok jika tidak ditangani secara
agresif selagi dini. Terapi syok bertujuan memperbaiki gangguan fisiologis dan
menghilangkan faktor penyebab. Respon terhadap terapi awal, digabung dengan
penemuan saat melakukan primary survey dan secondary survey, biasanya
memberikan cukup informasi untuk menentukan penyebab syoknya. Perdarahan
merupakan penyebab syok yang paling sering ditemukan pada penderita trauma.
2,3

2

BAB II
SYOK HEMORAGIK

2.1. Definisi
Syok hemoragik adalah suatu sindrom yang terjadi akibat gangguan
hemodinamik dan metabolik ditandai dengan kegagalan sistem sirkulasi
untuk mempertahankan perfusi yang adekuat ke organ-organ vital tubuh
yang biasanya terjadi akibat perdarahan yang masif.
4,5

2.2. Etiologi
Beberapa penyebab tersering pada syok hemoragik:
6
Terapi antitrombosis
Koagulopati
Perdarahan saluran pencernaan
o Varises esofagus
o Ulkus peptikum dan duodenum
o Ca gaster dan esofagus
Obstetrik/ginekologi
o Plasenta previa
o Abruptio plasenta
o Ruptur kehamilan ektopik
o Ruptur kista ovarium
Paru
o Emboli pulmonal
o Ca paru
o Penyakit paru yang berkavitas: TB, aspergillosis
Ruptur aneurisma
Perdarahan retroperitoneal
Trauma
o Laserasi
o Luka tembus pada abdomen dan toraks
3

o Ruptur pembuluh darah besar
Perdarahan akan menurunkan tekanan pengisian sirkulasi dan sebagai
akibatnya akan menurunkan aliran balik vena. Sebagai hasilnya, curah
jantung menurun di bawah normal dan timbul syok.

2.3. Klasifikasi
Sistem klasifikasi syok hemoragik berdasarkan dari American College of
Surgeon Committee on Trauma dibagi menjadi 4 kelas. Sistem ini berguna
untuk memastikan tanda-tanda dini syok hemoragik.
3

Tabel 2.1. Perkiraan Kehilangan Cairan dan Darah Berdasarkan Presentasi
Penderita Semula
Parameter Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV
Kehilangan
darah (ml)
<750 750 - 700 700 1100 >1100
Kehilangan
darah (%)
<7% 7% 30% 30% - 40% >40%
Nadi
(x/menit)
<100 >100 >50 >30
Tekanan
darah
Normal Menurun Menurun Menurun
Frekuensi
pernapasan
(x/menit)
3 11 11 30 30 40 >35
Produksi urin
(ml/jam)
>30 11 30 5 7 Tidak berarti
Gejala pada
saraf pusat /
status mental
Normal Cemas Cemas,
bingung
Bingung, lesu
Penggantian Kristaloid Kristaloid Kristaloid Kristaloid
4

cairan (hukum
3:1)
dan darah dan darah

Gambar 2.1 Perubahan konsumsi O
2




2.4. Patofisiologi
Perdarahan akut menyebabkan penurunan curah jantung dan tekanan
nadi. Perubahan ini dikenali oleh baroreseptor pada arkus aorta dan atrium.
Dengan berkurangnya volume darah yang beredar, terjadi peningkatan
rangsang simpatis. Reaksi ini menimbulkan peningkatan frekuensi nadi,
5

vasokonstriksi, dan penurunan distribusi aliran darah pada organ-organ
nonvital, seperti kulit, saluran pencernaan, dan ginjal.
7

Pada perdaharan, terjadi respon-respon hormonal. Corticotropin-
releasing hormone terstimulasi secara langsung. Hal ini menyebabkan
pelepasan glukokortikoid dan beta-endorphin. Kelenjar pituitari posterior
akan melepas vasopressin, menyebabkan retensi air pada tubulus distal.
Renin dilepaskan oleh kompleks juxtamedularis sebagai respon dari
penurunan MAP (Mean Arerial Pressure), sehingga meningkatkan
aldosteron dan berujung resoprsi natrium dan air. Hiperglikemia sering
didapatkan pada perdarahan akut karena glukagon dan growth hormone
meningkat pada gluconeogenesis dan glikogenosis. Peredaran katekolamin
menghambat pelepasan dan aktivitas insulin secara relative sehingga terjadi
peningkatan kadar gula darah.
7
Semakin memburuknya hipovolemia dan hipoksia jaringan, terjadi
peningkatan ventilasi sebagai usaha kompensasi dan dapat menjadi asidosis
metabolik dari karbon dioksida yang diproduksi.
6

Secara keseluruhan bagian tubuh yang lain juga akan melakukan
perubahan spesifik mengikuti kondisi tersebut. Terjadi proses autoregulasi
yang luar biasa di otak dimana pasokan aliran darah akan dipertahankan
secara konstan melalui MAP. Ginjal juga mentoleransi penuruunan aliran
darah sampai 90% dalam waktu yang cepat dan pasokan aliran darah pada
saluran cerna akan turun karena mekanisme vasokonstriksi dari splanknik.
Pada kondisi tubuh seperti ini pemberian resusitasi awal dan tepat waktu
bisa mencegah kerusakan organ tubuh tertentu akibat kompensasinya dalam
pertahanan tubuh.

2.5. Gejala klinis
Gejala klinis tunggal jarang ditemukan saat diagnosis syok ditegakkan.
Pasien bisa mengeluh lelah, kelemahan umum, atau nyeri punggung
belakang (gejala pecahnya aneurisma aorta abdominal). Penting diperoleh
data rinci tentang tipe, jumlah, dan lama perdarahan, karena pengambilan
6

keputusan untuk tes diagnostik dan tatalaksana selanjutnya tergantung
jumlah darah yang hilang dan lamanya perdarahan.
Untuk perdarahan pada saluran cerna sangatlah penting dicari asal darah
dari rectum atau dari mulut. Karena cukup sulit menduga jumlah darah yang
hilang dari saluran cerna bagian bawah. Semua darah segar yang keluar dari
rectum harus diduga adanya perdarahan hebat sampai dibuktikan sebaliknya.
Syok umumnya memberi gejala klinis seperti turunnya tanda vital tubuh:
hipotensi, takikardi, penurunan urin output, dan penurunan kesadaran.
Kumpulan gejala tersebut merupakan mekanisme kompensasi tubuh. Gejala
umum lainnya yang bisa timbul adalah kulit kering, pucat, dan dengan
diaphoresis. Pasien menjadi bingung, agitasi, dan tidak sadar. Pada fase awal
nadi cepat dan dalam dibandingkan denyutnya, tekanan darah sistolik bisa
saja masih dalam batas normal karena kompensasi. Konjungtiva pucat,
seperti yang terdapat pada anemia kronik.
Lakukan inspeksi pada hidung dan faring untuk melihat kemungkinan
adanya darah. Auskultasi dan perkusi dada juga dilakukan untuk
mengevaluasi apakah terdapat gejala hemotoraks, suara nafas akan turun,
serta suara perkusi redup di area dekat perdarahan.
7
Periksa abdomen dari
tanda perdarahan intra-abdominal. Periksa panggul apakah ada ekimosis
yang mengarah ke perdarahan retroperitoneal. Lakukan pemeriksaan rectum
untuk mengetahui asal darah yang keluar dari rectum.
Pasien dengan riwayat perdarahan vagina dilakukan pemeriksaan pelvis
lengkap dan lakukan tes kehamilan untuk menyingkirkan kemungkinan
kehamilan ektopik.
7

BAB III
PENATALAKSANAAN SYOK HEMORAGIK

Prinsip pengelolaan dasar syok hemoragik ialah menghentikan perdarahan dan
menggantikan kehilangan volume darah.
3.1. Pemeriksaan jasmani
Hal penting yang harus diperiksa adalah tanda-tanda vital, produksi urin,
dan tingkat kesadaran. Pemeriksaan pasien yang lebih rinci akan menyusul
bila keadaan penderita memungkinkan.
Airway dan Breathing
Prioritas pertama adalah menjamin airway yang paten dengan
cukupnya pertukaran ventilasi dan oksigenasi. Diberikan tambahan
oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen lebih dari 95%.
Circulation kontrol perdarahan
Termasuk dalam prioritas adalah mengendalikan perdarahan yang
jelas terlihat, memperoleh akses intravena yang cukup, dan menilai
perfusi jaringan. Perdarahan dari luka di permukaan tubuh (eksternal)
biasanya dapat dikendalikan dengan tekanan langsung pada tempat
perdarahan.
Disability pemeriksaan neurologi
Dilakukan pemeriksaan neurologi singkat untuk menentukan tingkat
kesadaran, pergerakan mata dan respon pupil, fungsi motoric dan
sensorik. Informasi ini bermanfaat dalam menilai perfusi otak, mengikuti
perkembangan kelainan neurologi dan meramalkan pemulihan.
Exposure pemeriksaan lengkap
Setelah mengurus prioritas untuk menyelamatkan jiwanya, penderita
harus ditelanjangi dan diperiksa dari ubun-ubun sampai ke jari kaki
sebagai bagian dari mencari cedera. Pemakaian penghangat cairan,
maupun cara-cara penghangatan internal maupun eksternal sangat
bermanfaat dalam mencegah hipotermia.
Dilatasi lambung dekompresi
8

Dilatasi lambung sering terjadi pada penderita trauma, khususnya
pada anak-anak dan dapat mengakibatkan hipotensi atau disritmia
jantung yang tak dapat diterangkan, biasanya berupa bradikardia dari
stimulasi nervus vagus yang berlebihan. Distensi lambung menyebabkan
terapi syok menjadi sulit. Pada pasien tidak sadar, distensi lambung
membesarkan risiko aspirasi isi lambung dan dapat menjadi suatu
komplikasi yang bisa menjadi fatal. Dekompresi lambung dilakukan
dengan memasukkan NGT.
Pemasangan kateter urin
Kateterisasi kandung kencing memudahkan penilaian urin akan
adanya hematuria dan evaluasi dari perfusi ginjal dengan memantau
produksi urin. Darah pada uretra atau prostat dengan letak tinggi, mudah
bergerak, atau tidak tersentuh pada laki-laki merupakan kontraindikasi
mutlak bagi pemasangan kateter uretra sebelum ada konfirmasi
radiografis tentang uretra yang utuh.
3

Pengobatan dengan posisi kepala di bawah. Dengan menempatkan
penderita dengan kepala 5 inci lebih rendah daripada kaki akan sangat
membantu dalam meningkatkan alir balik vena dan dengan demikian
menaikkan curah jantung. Posisi kepala di bawah ini adalah tindakan
pertama dalam pengobatan berbagai macam syok.
2



3.2. Akses pembuluh darah
Harus segera didapat akses ke sistem pembuluh darah. Ini paling baik
dilakukan dengan memasukkan dua kateter intravena ukuran besar sebelum
dipertimbangkan jalur vena sentral.
Tempat yang terbaik untuk jalur intravena bagi orang dewasa adalah
lengan bawah atau pembuluh darah lengan bawah. Kalau keadaan tidak
memungkinkan penggunaan pembuluh darah perifer, maka digunakan akses
pembuluh sentral (vena-vena femoralis, jugularis, atau subklavia dengan
kateter besar) dengan menggunakan teknik seldinger atau melakukan vena
9

seksi pada vena safena di kaki. Pada anak di bawah 6 tahun, teknik
penempatan jarum intra oseus harus dicoba sebelum menggunakan jalur
vena sentral.
Foto toraks harus diambil setelah pemasangan CVP pada vena subklavia
atau vena jugularis interna untuk mengetahui posisinya dan penilaian
kemungkinan terjadinya pneumotoraks atau hematotoraks.
3

3.3. Terapi awal cairan
Untuk mengetahui jumlah volume darah seseorang, biasanya digunakan
patokan berat badan. Volume darah rata-rata pada orang dewasa kira-kira
7% dari berat badan. Bila penderita gemuk maka volume darahnya
diperkirakan berdasarkan berat badan ideal. Volume darah anak-anak
dihitung 8% - 9% dari berat badan (80-90 ml/kg).
8
Lebih dahulu dihitung EBV (Estimated Blood Volume) penderita.
Kehilangan sampai 10% EBV dapat ditolerir dengan baik. Kehilangan 10% -
30% EBV memerlukan cairan lebih banyak dan lebih cepat. Kehilangan
lebih dari 30% - 50% EBV masih dapat ditunjang untuk sementara dengan
cairan sampai darah transfusi tersedia. Total volume cairan yang dibutuhkan
pada kehilangan lebih dari 10% EBV berkisar antara 2-4 x volume yang
hilang.
9

Larutan elektrolit isotonik digunakan untuk resusitasi awal. Jenis cairan
ini mengisi intravaskular dalam waktu singkat dan juga menstabilkan
volume vaskular dengan cara menggantikan kehilangan cairan ke dalam
ruang interstitial dan intraseluler. Larutan ringer laktat adalah cairan pilihan
pertama. NaCl fisiologis adalah pilihan kedua karena berpotensi
menyebabkan terjadinya asidosis hiperkhloremik. Kemungkinan ini
bertambah besar jika fungsi ginjal kurang baik.
Pada saat awal, cairan hangat diberikan dengan tetesan cepat sebagai
bolus. Dosis awal adalah 1-2 liter pada dewasa dan 11 ml/kg pada anak,
diberikan dalam 30-60 menit pertama. Jumlah cairan yang diperlukan untuk
resusitasi sukar diramalkan pada awal evaluasi penderita. Perhitungan kasar
10

untuk jumlah total volulme kristaloid yang secara akut diperlukan adalah
mengganti setiap millimeter darah yang hilang dengan 3 ml cairan kristaloid,
sehingga memungkinkan restitusi volume plasma yang hilang ke dalam
ruang interstitial dan intraseluler. Ini dikenal sebagai hukum 3 untuk 1 (3
for 1 rule). Namun lebih penting untuk menilai respon penderia kepada
resusitasi cairan dan bukti perfusi dan oksigenasi end-organ yang memadai,
misalnya keluar urin, tingkat kesadaran dan perfusi perifer.
2,3

Table 2.2 Respon terhadap pemberian cairan awal
Respon cepat Respon sementara Tanpa respon
Tanda vital Kembali ke
normal
Perbaikan
sementara,
tekanan darah dan
nadi kembali turun
Tetap abnormal
Dugaan
kehilangan darah
Minimal (10% -
11%)
Sedang, masih ada
(11% - 40%)
Berat (>40%)
Kebutuhan
kristaloid
Sedikit Banyak Banyak
Kebutuhan darah Sedikit Sedang-banyak Segera
Persiapan darah Tipe spesifik dan
crossmatch
Tipe spesifik Emergensi
Operasi Mungkin Sangat mungkin Hampir pasti
Kehadiran dini
ahli bedah
Perlu Perlu Perlu

Jumlah produksi urin merupakan indicator yang cukup sensitive untuk
perfusi ginjal. Produksi urin yang normal pada umumnya menandakan aliran
darah ginjal yang cukup, bila tidak dimodifikasi dengan pemberian obat
diuretik. Sebab itu, keluaran urin merupakan salah satu pemantau utama
resusitasi dan respon penderita.
11

Penggantian volume yang memadai seharusnya menghasilkan keluaran
urin sekitar 0,5 ml/kg/jam pada orang dewasa, 1 ml/kg/jam pada anakm dan
2 ml/kg/jam pada bayi (di bawah umur 1 tahun). Bila kurang atau makin
turunnya produksi urin dengan berat jenis yang naik, maka ini menandakan
resusitasi yang tidak cukup. Keadaan ini menuntut ditambah penggantian
volume dan usaha diagnostik.
3

Bila telah jelas ada perbaikan hemodinamik (tekanan sistolik 100, nadi
100, perfusi hangat, urin 0,5 ml/kg/jam), infus harus dilambatkan dan
biasanya transfuse tidak diperlukan. Bahaya infus yang cepat adalah oedem
paru, terutama pasien geriatri. Perhatian harus ditunjukkan agar jangan
sampai terjadi kelebihan cairan. Namun jika hemodinamik memburuk,
teruskan cairan (2-4x estimated blood loss), jika membaik tetapi Hb < 8 gr,
Ht < 25%, beri transfusi darah dan koloid. Bila hemodinamik tetap buruk,
segera diberikan transfusi.
9


3.4. Transfusi darah
Indikasi transfusi darah antara lain:
- Perdarahan akut sampai Hb <8 gr/dL atau Ht <30% pada orang tua,
kelainan paru, kelainan jantung, Hb <10 gr/dL.
- Bedah mayor kehilangan darah >11% volume darah.
10

Pemberian darah tergantung respon penderita terhadap cairan. Tujuan
utama transfuse darah adalah memperbaiki oxygen-carrying capacity.
Perbaikan volume dapat dicapai dengan pemberian larutan kristaloid, yang
sekaligus akan memperbaiki volume interstitial dan intraseluler.
Darah yang baik digunakan adalah yang sepenuhnya crossmatched.
Namun proses crossmatching lengkap memerlukan sekitar 1 jam.
Pengobatan mencakup transfusi darah lengkap, apabila darah lengkap tidak
tersedia, plasma biasanya dapat menggantikan darah lengkap. Plasma tidak
dapat memulihkan hematokrit normal, tetapi manusia biasanya dapat
bertahan pada penurunan hematokrit sampai kira-kira sepertiga normal
sebelum menimbulkan akibat serius jika curah jantung mencukupi. Karena
12

itu pada keadaan akut cukup beralasan untuk menggunakan plasma dalam
menggantikan darah lengkap guna mengobati syok hemoragik.
Kadang-kadang plasma juga tidak tersedia. Dalam hal ini, berbagai
pengganti plasma sudah dikembangkan, yang sama melaksanakan fungsi
hemodinamika hampir tepat dengan sasaran. Salah satunya adalah larutan
dekstran. Syarat utama suatu pengganti plasma yang benar-benar efektif
adalah yang tetap tinggal di sistem sirkulasi yaitu tidak tersaring melalui
pori-pori kapiler ke dalam ruang jaringan. Selain itu larutan tidak boleh
toksik dan mengandung bahan yang mempunyai ukuran molekul cukup
besar untuk mendesak tekanan osmotik koloid.
Sejauh ini bahan yang paling memuaskan untuk tujuan tersebut adalah
dekstran, suatu polimer posakarida glukosa yang besar. Dekstran dengan
besar molekul yang sesuai tidak dapat melewati pori kapiler dank arena itu
dapat menggantikan protein plasma sebagai bahan osmotik koloid.
3


3.5. Evaluasi resusitasi cairan dan perfusi organ
a. Umum
Tanda dan gejala perfusi yang tidak memadai, yang digunakan untuk
diagnosis syok, dapat juga digunakan untuk menentukan respon
penderita. Pulihnya tekanan darah ke normal, tekanan nadi, dan denyut
nadi merupakan tanda positif yang menandakan perfusi sedang kembali
ke normal. Walaupun begitu, pengamatan tersebut tidak memberi
informasi tentang perfusi organ. Perbaikan pada sistem saraf pusat dan
peredarah darah kulit adalah bukti penting mengenai peningkatan
perfusi, tetapi kuantitas sukar ditentukan.
8

b. Khusus
- Capillary refill time <2 detik
- MAP 65-70 mmHg
- Saturasi O2 >95%
- Urine output ?0,5 ml/kg/jam (dewasa); >1 ml/kg/jam (anak)
- Syok indeks = HR/SBP (normal 0,5-0,7)
13


3.6. Jenis cairan intravena
Ada 4 pilihan pokok yang selama bertahun-tahun menjadi perbantahan
sengit, yaitu:
a. Transfusi darah
Ini adalah pilihan pokok apabila terdapat donor yang cocok.
Hemodilusi dengan cairan tidak bertujuan meniadakan transfusi, tetapi
mempertahankan hemodinamik dan perfusi yang baik sementara darah
donor tetap perlu ditransfusikan dalam memberikan koreksi deficit
cairan ekstraseluler (ECF). Bila darah golongan yang sesuai tidak
tersedia, dapat digunakan universal donor yaitu golongan O dengan titer
anti A rendah (Rh negatif) atau packed red cell-O.
9

b. Plasma Expander
Cairan koloid ini mempunyai nilai onkotik yang tinggi (dextran,
gelatin, HES) sehingga mempunyai volume effect lebih baik dan tinggal
elbih lama di intravaskular. Namun deficit ECF tidak dapat dikoreksi
oleh pasma expander. Dari segi harga juga jauh lebih mahal
dibandingkan dengan Ringer Laktat. Reaksi anafilaktik dapat terjadi
pada pemberian dextran atau gelatin.
9

c. Albumin
Albumin 5% ataupun Plasma Protein Fraction adalah alternatif yang
baik dari segi volume effect. Tetapi harganya sangat mahal dibandingkan
dengan Ringer Laktat untuk mendapatkan volume effect yang sama.
9

d. Ringer Laktat atau NaCl 0,9%
Cairan ini mirip komposisinya dengan ECF. Meskipun pemberian
infus diikuti perembesan, namun akhirnya tercapai keseimbangan juga
setelah cairan interstitial penuh. Cairan lain seperti dextrose dan NaCl
0,45% tidak dapat digunakan.
Cairan kristaloid adalah larutan air dengan elektrolit dan atau
dextrose, tidak mengandung molekul besar. Kristaloid dalam waktu
singkat sebagian besar akan keluar dari intravaskular, sehingga volume
14

yang diberikan harus lebih banyak (2,5-4 kali) dari volume darah yang
hilang. Kristaloid mempunyai waktu paruh intravaskular 11-30 menit.
Ekspansi cairan dari ruang intravaskular ke interstitial berlangsung
selama 30-60 menit sesudah infus dan akan keluar dalam 24-48 jam
sebagai urin. Secara umum kristaloid digunakan untuk meningkatkan
volume ekstrasel dengan atau tanpa peningkatan volume intrasel.
11

Cairan kristaloid cukup baik untuk terapi syok hipovolemik.
Keuntungannya yaitu mudah tersedia, murah, mudah dipakai, tidak
menyebabkan reaksi alergi, dan sedikit efek samping. Kelebihan cairan
kristaloid pada pemberian dapat berlanjut dengan edema seluruh tubuh
sehingga pemakaian berlebih perlu dicegah.
Larutan NaCl isotonis dianjurkan untuk penanganan awal syok
hipovolemik dengan hiponatremia, hipokhloremia, atau alkalosis
metabolik. Larutan RL adalah larutan isotonis yang paling mirip dengan
cairan eksraseluler. RL dapat diberikan dengan aman dalam jumlah
besasr kepada pasien dengan kondisi seperti hipovolemia dengan
asidosis metabolik, kombusio, dan sindrom syok. NaCl 0,45% dalam
larutan Dextrose 5% digunakan sebagai cairan sementara untuk
mengganti kehilangan cairan insensible.
9

Ringer asetat memiliki profil serupa dengan Ringer Laktat. Tempat
metabolism laktat terutama adalah hati dan sebagian kecil pada ginjal,
sedangkan asetat dimetabolisme pada hamper seluruh jaringan tubuh
dengan otot sebagai tempat terpenting. Penggunaan Ringer Asetat
sebagai cairan resusitasi patut diberikan pada pasien dengan gangguan
fugsi hati berat seperti sirosis hepatis dan asidosis laktat. Adanya laktat
dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena
dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat.
7


3.7. Penyulit
Penyulit akibat pemberian cairan dapat terjadi pada jantung, pada proses
metabolisme, atau pada paru.
15

a. Dekompensasi jantung
Dekompensasi ditandai oleh kenaikan PCWP (Pulmonary Capillary
Wedge Pressure). Bahaya terjadinya dekompensasi jantung sangat kecil,
kecuali pada jantung yang sudah sakit sebelumnya. Pada pemberian
koloid dapat mengalami kenaikan PCWP 50% yang potensial akan
mengalami dekompensasi jantung.
9

b. Edema paru
Akibat pengenceran darah, terjadi transient hypoalbuminemia.
Penurunan albumin ini diikuti penurunan tekanan onkotik. Batasan aman
kadar albumin terendah yang masih aman adalah 2,5 mg%. apabila
albumin perlu dinaikkan, pemberian infus albumin 11-25% dapat
diberikan dengan tetesan lambat 2 jam/100 ml. Dosis ini akan
menaikkan kadar 0,25-0,5 mg%.
9
Jika terjadi edema paru, berika furosemide 1-2 mg/kgBB. Gejala
sesak napas akan berkurang setelah urin keluar 1-2 L. Lakukan
digitalisasi atau berikan dopamine drip 5-10 g/kgBB/menit. Sebagai
terapi simptomatik berikan oksigen.
9

c. Asidosis asam laktat
Pemberian Ringer Laktat tidak dapat menambah buruk asidosis asam
laktat karena syok. Asam laktat diubah hepar menjadi bikarbonat yang
menetralisir asidosis metabolik pada syok. Perbaikan sirkulasi akibat
pemberian volume justru menurunkan laktat darah karena perbaikan
transport oksigen ke jaringan, metabolism aerobic bertambah.
d. Gangguan hemostasis
Gangguan karena pengenceran ini mungkin terjadi jika hemodilusi
sudah mencapai 1,5 x EBV. Faktor pembekuan yang terganggu adalah
trombosit, pemberian Fresh Frozen Plasma tidak berguna karena tidak
mengandung trombosit, sedangkat faktor V dan VIII dibutuhkan dalam
jumlah sedikit. Trombosit dapat diberikan sebagai fresh blood, platelet
rich plasma, atau thrombocyte concentrate dengan masa simpan kurang
16

dari 6 jam pada suhu 4
o
C. Dextran juga dapat menimbulkan gangguan
jika dosis melebihi 10 ml/kgBB.
9


17

BAB IV
KESIMPULAN

Syok hemoragik adalah suatu kondisi saat perfusi jaringan menurun dan
menyebabkan inadekuatnya hantaran oksigen dan nutrisi yang diperlukan sel.
Yang ditandai dengan penurunan volume darah, akral dingin, pucat, takikardi,
hipotensi, dan penurunan kesadaran.
Penatalaksanaan syok hemoragik meliputi pemeriksaan jasmani, akses
pembuluh darah, terapi cairan, transfusi darah, dan terapi lain.
Komplikasi yang paling umum pada syok hemoragik adalah penggantian
volume yang tidak adekuat. Terapi yang segera, tepat, dan agresif untuk
memulihkan perfusi organ akan memperkecil kejadian yang tidak dikehendaki
sedikitpun. Terdapat beberapa penyulit pula dalam pemberian cairan resusitasi,
sehingga harus berhati-hati terdapat pemberian cairan.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Price S, Wilson L. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. 6
th
ed.
Vol. 1. Jakarta: EGC; 1103.
2. Muhiman M, Thaib MR, Sunatrio S, Dahlan R. Anestesiologi. Jakarta: Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif. FKUI; 1104.
3. American College of Surgeons Committee on Trauma. Advanced Trauma Life
Supports for Doctors. United States of America; 1104.
4. Sudoyo A, Setiyohadi B, Alwi I, Setiati S, Simadibrata M. Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid I. 4
th
ed. Jakarta: 1106
5. Ganong W. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC; 1102.
6. Gutierrez G, Reines HD, Wulf-Gutierrez ME. Clinical review: Hemorrhagic
shock. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1065003/.
Published online 2
nd
April 1104. Accessed on 1
st
January 113.
7. Udeani J. Hemorrhagic shock. Available from
http://emedicine.medscape.com/article/432650-overview#a0104. Last updated 6
th

December 115. Accessed on 1
st
January 113.
8. Steven, Parks N. Advanced trauma life support (ATLS) for doctors. Jakarta:
Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI); 1104.
9. Wirjoatmodjo, Karjadi. Anestesiologi dan reanimasi modul dasar untuk
pendidikan S1 kedokteran. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional; 1100.
10. Latief, Said A. Petunjuk praktis anestesiologi. 2
nd
ed. Jakarta: Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
1102.
11. Mulyono I. jenis-jenis cairan. In: Symposium of Fluid and Nutrition Therapy
in Traumatic Patients. Jakarta: Bagian Anestesiologi FK UI/RSCM.