Anda di halaman 1dari 8

Oseana, Volume XXVI. Nomor 1.

2001 : 17 - 24 ISSN 0216 - 1877


TINGKAH LAKU REPRODUKSI PADA IKAN

Oleh

Fahmi
1)

ABSTRACT
REPRODUCTION BEHAVIOR OF FISH. Fish have developed variety of
ways to reproduce successfully in the various habitats they occupy. Generally, there
are No kinds of fertilization of fish. internal and external fertilizations. Fish also
have many different ways in courtship and mating, pawning time, and protecting
the eggs and the young. Many kinds d male fish often develop bright color and
are usually more active in courtship than the female during the breeding season.
Other males offish stake out an certain area d their own at breeding time and
guard the eggs hutch.
Salah satu segi terpenting pada
makhluk hidup adalah kemampuannya
berkembangbiak (reproduksi). Reproduksi
pada makhluk hidup merupakan suatu proses
alamdalamusaha mempertahankan keturunan
dan keberadaan jenisnya di alam. Ada dua
cara berbeda pada makhluk hidup dalam
membentuk keturunan, yaitu reproduksi secara
seksual dan secara aseksual. Reproduksi
seksual terjadi karena bertemunya gamet
jantan (sperma) dengan gamet betina (sel
telur) dalam suatu proses pembuahan
(fertilisasi), sedangkan pada reproduksi
aseksual, keturunan yang terbentuk tanpa
melalui proses pembuahan (KIMBALL 1994).
Ikan merupakan salah satu makhluk
hidup yang secara umum bereproduksi secara
seksual. Dalam proses reproduksinya, ikan
mempunyai tingkah laku dan tata cara yang
berbeda-beda, mulai dari tingkah laku
meminang dan kawin, memijah, sampai
penjagaan terhadap telur dan anak-anaknya.
Pada tulisan ini, diuraikan secara singkat
mengenai tingkah laku reproduksi ikan
tersebut.
Pola Reproduksi pada lkan
Pada mayoritas ikan, jantan dan betina
merupakan individu yang terpisah, untuk
kemudian mereka harus bertemu atau bersama-
sama pada masa kawin (reproduksi).
Reproduksi seksual pada ikan dibedakan
menjadi dua macam, yaitu reproduksi secara
internal dan reproduksi secara eksternal. Pada
reproduksi seksual secara internal, sperma
individu jantan membuahi sel telur di dalam
tubuh individu betina. Sedangkan pada
reproduksi secara eksternal. sperma dilepaskan
1)
Balitbang Biologl Laut - Puslitbang Oseanologi LIPI, J akarta
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XXVI no. 1, 2001
ke perairan bersamaan atau setelah betina
melepaskan atau menempatkan telur-telurnya
(PATENT 1976).
Pembuahan Internal
Pembuahan internal (di dalam tubuh)
relatif jarang terjadi pada ikan. Beberapa
modifikasi pada tubuh ikan jantan diperlukan
untuk mentransfer sperma ke dalam organ
reproduksi betina. Semua ikan bertulang rawan
(Chondroichthyes). yaitu bangsa ikan cucut
dan pari, mempunyai pola reproduksi dengan
pembuahan internal. Sirip perut pada ikan
jantan telah dimodifkasi menjadi lebih lancip
dan bercelah, yang disebut dengan clasper,
dan digunakan untuk menyalurkan sperma
selama kopulasi (pembuahan). Sedangkan
pada ikan-ikan bertulang sejati yang melakukan
pembuahan secara internal, ikan jantan
memodifikasi sirip anal menjadi lebih panjang
dan lancip, atau pada ujung saluran tempat
sperma dilepaskan bentuknya membesar dan
berubah (PATENT 1976).
Pada pembuahan secara internal ini,
kebanyakan telur-telur yang telah dibuahi di
dalam tubuh ikan betina tetap berada di dalam
tubuh induknya hingga menetas. Telur-telur
tersebut mempunyai kuning telur yang cukup
banyak sebagai cadangan makanan bagi
embrio yang sedang berkembang. Banyak
ikan yang bereproduksi secara internal,
membiarkan anak-anaknya yang telah menetas
tetap berada di dalam tubuh induknya untuk
berkembang hingga menjadi cukup besar dan
kuat untuk dilahirkan. Dalam beberapa kasus,
organ reproduksi pada ikan betina dimodifikasi
agar dapat memberikan zat-zat makanan pada
embrio yang berkembang di dalam tubuh
induk. sementara tubuh embrio tersebut telah
diadaptasikan untuk menerima dan
menggunakannya.
Contoh ikan bertulang sejati yang
melakukan pembuahan secara internal dan
melahirkan anaknya adalah ikan Coelacanth,
atau yang dikenal sebagai ikan fosil hidup.
Jenis ikan Coelacanth betina pernah ditemukan
dengan lima ekor embrio yang sedang
berkembang di dalam ovariumnya. Tiap-tiap
anak ikan tersebut memiliki kantung kuning
telur di bawah tubuhnya yang berfungsi
sebagai sumber makanan (Gambar 1). J enis
ikan lain yang melakukan pembuahan internal
adalah ikan-ikan pada marga Lutjanus. Ikan-
ikan ini bereprodoksi di perairan dangkal.
Pembuahan terjadi dengan amat cepat, dimana
ikan jantan menyalurkan sperma dan masuk
ke dalam tubuh betina dengan cara
membengkokkan tubuhnya sambil digetarkan.
Seekor ikan betina besar mampu membawa
sekitar 20 ekor anak ikan di dalam tubuhnya.
Anak-anak ikan tersebut berkembang dengan
menyerap makanan dari cairan dalamovarium.
dan mereka telah dapat mencari makan di
perairan hanya dalamwaktu satu menit setelah
dilahirkan (PATENT 1976).

Gambar 1 Ikan Coelacanth muda dengan
kantung kuning telur di bawah
tubuhnya (PATENT 1976).
Pembuahan secara Eksternal
Kebanyakan ikan laut, melakukan
pembuahan secara eksternal. yaitu individu
jantan dan betinanya sama-sama melepaskan
sperma dan sel telurnya di perairan. Telur-
telur yang dilepaskan ke perairan, ada yang
mengapung di permukaan dan ada pula yang
tenggelam di dasar perairan. Banyak jenis
ikan dasar dan ikan-ikan yang hidup di lautan
terbuka melepaskan telur dengan cara
mengapungkannya di permukaan perairan.
Telur-telur yang dilepaskan dengan cara
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XXVI no. 1, 2001
seperti ini cenderung berukuran kecil sehingga
mudah untuk mengapung dan dikeluarkan
dari dalam tubuh induknya dalam jumlah
yang cukup banyak, untuk kemudian
mengapung bersama-sama dengan plankton-
plankton yang berukuran kecil. Sebagai contoh
adalah ikan Makarel Atlantik, ikan ini
melepaskan sekitar 500.000 telur dalam satu
tahun di permukaan perairan. Sejak ikan
betina berusia 4 tahun, mereka mengeluarkan
sekitar 2 juta telur sepanjang hidupnya.
Contoh lain adalah pada kelompok ikan
Acanthuridae, mereka biasa memijah dalam
kelompok-kelompok kecil dan berenang lebih
ke arah permukaan. Telur-telurnya dibiarkan
mengapung di permukaan untuk kemudian
menetas dan menjadi larva yang berbentuk
transparan dan hidup secara planktonik
(PATENT 1976). Menurut WEBBER &
THURMAN (1991), telur-telur ikan laut
umumnya berukuran kecil (diameter sekitar 1
mm), dan mempunyai fekunditas yang tinggi
(mencapai 1 juta telur tiap betina). Ketika
menetas, berkembang sebagai larva planktonik
yang berbentuk transparan. Kebanyakan larva
ikan ini mengkonsumsi larva kopepoda (sta-
dia nauplius) sebagai makananya.
Pada jenis ikan yang lain, mereka
cenderung untuk menenggelamkan telurnya
(meletakkan di dasar perairan). Biasanya ikan-
ikan yang hidup di perairan dangkal melakukan
cara tersebut, mereka meletakkan telur-telurnya
di dasar perairan, ataupun di dalam sarang
yang mereka buat. Pada jenis-jenis ikan yang
melakukan hal ini, ukuran telurnya cenderung
lebih besar dan jumlah telurnya lebih sedikit
daripada telur-telur yang mengapung. Telur-
telur ini mengandung lebih banyak kuning
telur untuk makanan embrio di dasar perairan.
Ikan-ikan yang kemudian menetas, tetap
berada di dasar perairan yang dangkal dimana
terdapat banyak makanan (PATENT 1976).
Metode dengan mengapungkan telur-
telur cenderung lebih riskan dengan tingkat
keberhasilan untuk menetas dan berkembang
hingga dewasa yang amat kecil karena
banyaknya faktor-faktor pembatas. Faktor-
faktor pembatas itu antara lain adalah banyak
telur yang disebarkan tidak sempat dibuahi,
beberapa telur rusak disebabkan oleh bakteri
dan jamur, atau termakan oleh organisme-
organisme pemakan plankton. Telur-telur lain
mungkin hanyut ke perairan yang terlalu
hangat ataupun terlalu dingin di luar kisaran
normal bagi telur tersebut untuk berkembang.
Hal yang sama juga dapat terjadi pada ikan-
ikan yang masih muda, mereka harus bertahan
hidup dari bahaya pemangsa yang banyak
terdapat di laut. Pada ikan Makarel Atlantik,
tingkat kematian ikan-ikan muda amatlah
tinggi, hanya sekitar satu persejuta yang
dapat tetap hidup hingga bereproduksi
(PATENT 1976).
Tingkah Laku Meminang dan Kawin pada
Ikan
Ikan mempunyai cara yang berbeda-
beda dalam tingkah laku meminang (court-
ship) dan tingkah laku kawinnya (Mating).
Dalam tingkah laku tersebut, ikan jantan dan
betina dewasa sama-sama melepaskan sperma
dan telur melalui bermacam cara agar terjadi
pembuahan dengan tingkat keberhasilan yang
tinggi. Selain dapat memberikan ketepatan
waktu dalam pelepasan sperma dan telur agar
pembuahan dapat berhasil baik, tingkah laku
meminang juga dapat menjamin dua individu
yang berpasangan tersebut berasal dari jenis
yang sama. Individu jantan dari setiap jenis
ikan mempunyai tanda-tanda atau sinyal
tersendiri yang hanya dimengerti oleh betina
dari jenisnya. Begitu pula ikan betina
mempunyai sinyal-sinyal khusus yang hanya
dimengerti oleh individu jantannya (PATENT
1976).
Di alam sangat jarang terjadi
perkawinan antara dua jenis ikan yang berbeda
(Crossbreed). Andaipun terjadi, embrio yang
dihasilkan biasanya tidak berkembang dengan
baik. Walaupun dapat tumbuh hingga dewasa,
19
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XXVI no. 1, 2001
individu tersebut biasanya menjadi individu
yang steril (mandul) dan tidak dapat
berproduksi. Apabila seekor individu ikan
berbuat kesalahan dengan melakukan
perkawinan dengan individu dari jenis lain,
maka telur atau spermanya hanya akan
terbuang percuma. Oleh karena itu, jenis-jenis
ikan yang hidup bersama di dalam lingkup
area yang sama, mempunyai tingkah laku
meminang dan tingkah laku kawin yang
berbeda-beda, sehingga mereka hanya dapat
melakukan perkawinan dengan pasangan dari
jenis yang sama (PATENT 1976).
Biasanya individu jantan berperan aktif
dalam tahap pinangan daripada individu
betina. J antan harus dapat meyakinkan
individu betina untuk dapat berpasangan
dengannya, agar betina tersebut dapat bekerja
sama hingga proses pembuahan dapat
berhasil. Pada ikan-ikan karang, ikan jantan
pada umumnya mempunyai warna yang
mencolok dan lebih cerah daripada ikan
betina. Selain untuk menarik perhatian ikan
betina, warna yang cerah pada ikan-ikan
jantan juga dapat memberikan kesempatan
pada ikan jantan tersebut untuk mengenali
betinanya, karena umumnya ikan-ikan betina
memiliki warna yang kusam dan corak tubuh
yang kurang menarik (PATENT 1976). Ikan
jantan juga biasanya bergerak atraktif dan
lincah seperti menari di sekitar ikan betina
untuk dapat menarik perhatiannya. Menurut
ALLEN (1979), umumnya ikan-ikan jantan dari
suku Pomacanthidae memiliki tingkah laku
meminang dengan cara berenang ke arah
permukaan lalu turun kembali sambil
melakukan gerakan-gerakan tertentu untuk
menarik perhatian ikan betinanya.
Selama musim kawin, ikan-ikan jantan
tersebut biasanya merubah dirinya dengan
warna-warna yang lebih terang seperti merah,
hijau atau biru (PATENT 1976). Tingkah laku
merubah warna (Breeding dress) ini dapat
memberikan pesan-pesan tertentu, antara lain
adalah memberi tanda pada betina bahwa
jantan tersebut telah siap untuk kawin. Hal ini
menandakan pula pada ikan jantan lain bahwa
ikan jantan tersebut telah siap untuk
mempertahankan wilayahnya, karena
umumnya ikan-ikan jantan tersebut mulai
membuat sarang pada musim kawin.
Biasanya ikan-ikan yang bergerak
lincah mempunyai warna tubuh yang cerah.
Sedangkan ikan-ikan yang cenderung diam,
ataupun yang berbentuk menakutkan,
mempunyai warna yang cenderung pucat.
Selain warna, pada jenis ikan lain
yang siap kawin mempunyai tanda-tanda
khusus, seperti bagian perut yang
membengkak pada ikan betina karena penuh
berisi telur, yang juga dapat menarik minat
ikan jantan. Jantan dan betina kadang juga
mempunyai bentuk sirip yang berbeda. Selain
itu, tingkah laku ikan juga dapat membedakan
jenis kelamin dan tingkat kedewasaannya.
Ikan betina yang siap kawin mempunyai
tingkah laku yang berbeda dengan ikan
jantan ataupun ikan betina yang belum
dewasa. Sebagai contoh adalah tingkah laku
menggerak-gerakan sirip yang dapat
menunjukkan selera ikan tersebut. Pada ikan-
ikan yang bergerak lincah, ketika musim
kawin cenderung untuk membentangkan
sirip mereka lebar-lebar, sebagai cara untuk
berkomunikasi dengan yang lainnya (PATENT
1976).
Tingkah laku meminang dan penjagaan
wilayah secara detail berbeda-beda dari tiap
jenis ikan teleostei. Tetapi secara umum
mempunyai cara yang sama, yaitu umumnya
ikan jantan menentukan wilayah tertentu
sebagai sarang dan daerah kekuasaannya
selama masa reproduksi. Fungsi sarang
tersebut antara lain adalah mempermudah
ikan betinanya menemukan pasangannya
dengan mendatangi daerah kekuasan ikan
jantan tersebut. Daerah kekuasaan ikan
merupakan tempat perlindungan yang aman
bagi betina untuk meletakkan telur-telurnya
dan juga untuk membesarkan anak-anaknya
20
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XXVI no. 1, 2001
(PATENT 1976).Di daerah kekuasaan tersebut,
ikan jantan cenderung mempertahankan
wilayahnya dari ikan jantan lain ataupun jenis
ikan yang lain. Apabila ada ikan jantan lain
yang berenang mendekat, maka ikan tersebut
akan menyerangnya. Ada yang menggunakan
cara dengan menghampiri ikan yang
mendatangi dengan mulut yang terbuka lebar-
lebar atau sambil membentangkan sirip-siripnya
dengan tujuan untuk menakut-nakuti
lawannya. Biasanya ikan pendatang akan
segera pergi, tetapi apabila tidak, maka akan
terjadi perkelahian baik dengan menggunakan
mulut, tamparan sirip-siripnya, ataupun
dengan menggunakan ekornya. Umumnya
ikan jantan yang menjaga sarangnya selalu
menang dalam perkelahian, sehingga proses
perkawinan dapat berlangsung tanpa ada
gangguan.
Ikan-ikan yang hidup di daerah
terumbu karang, biasanya memiliki wilayah
tertentu untuk bereproduksi dan
berkembangbiak. Ada yang memiliki sarang
atau daerah kekuasaan yang bersifat
sementara selama masa kawin dan ada pula
yang jenis-jenis ikan yang memang hidupnya
menetap. Sebagai contoh adalah ikan-ikan
Anemon (Amphiprion spp.) dan ikan Sersan
mayor (Abudefduf sp.). Ikan Anemon atau
ikan Giru merupakan ikan yang hidup
bersimbiosis dengan anemon. Mereka
menggunakan anemon sebagi tempat untuk
menetap dan berkembang biak. Satu anemon
kadang-kadang dijadikan sebagai tempat
tinggal bagi hanya sepasang ikan anemon.
Pada ikan Sersan mayor, selama
musim kawin mereka bergerak keluar batas
terumbu karang. Di sana mereka berenang
sepanjang tepian terumbu dengan arah yang
sama. Ikan-ikan jantan bertugas mencari gua
atau celah-celah karang, untuk kemudian
memisahkan diri dari gerombolannya. Apabila
ikan jantan telah menemukan tempat yang
sesuai untuk dijadikan sarangnya, mereka
akan menetap hingga musim kawin selesai.
Secara berangsur-angsur, beberapa ikan jantan
akan berkoloni di dalam gua karang kemudian
membuat sarang masing-masing. Mereka
bekerja menggali dan membersihkan
sarangnya untuk kemudian berdiammenunggu
rombongan ikan dari jenisnya lewat. Ketika
gerombolan ikan Sersan mayor melintasi
sarangnya, ikan-ikan jantan tersebut bergerak
atraktif untuk menarik perhatian betina.
Beberapa betina kemudian mengikuti si jantan
ke sarangnya, untuk kemudian meletakkan
telur-telurnya di sana. Setelah melepaskan
telur-telurnya, ikan betina akan pergi
meninggalkan sarang, sedangkan ikan jantan,
setelah membuahi telur-telur tersebut, tetap
berada di sarang untuk menjaga telur-telur
hingga menetas (Gambar 2). Ikan jantan akan
pergi meninggalkan sarangnya setelah telur-
telur menetas dan membiarkan larva-larva
ikan untuk bertahan hidup sendiri (PATENT
1976).
Meskipun tingkah laku secara visual
merupakan hal yang paling penting dalam
proses pinangan, beberapa jenis ikan juga
mempunyai tingkah laku lain yang khas,
seperti mengeluarkan bunyi-bunyian tertentu.
Bunyi yang dikeluarkan oleh ikan jantan
biasanya merupakan tanda peringatan bagi
jantan lain yang memasuki wilayahnya,
ataupun untuk menarik perhatian ikan betina.
Masa Memijah
Proses memijah pada ikan berbeda-
beda antar kelompok ikan. Umumnya ikan-
ikan betina meletakkan telur-telurnya di dasar
perairan untuk kemudian dibuahi oleh ikan
jantan sementara ikan betina menungguinya.
Pada jenis ikan lain, ada yang memijah
dengan cara berenang berdekatan secara
bersama-sama, dan ada pula yang memodifikasi
sirip ekornya (pada ikan jantan) untuk
dilingkarkan pada tubuh betina, untuk
kemudian keduanya secara bersama-sama
melepaskan sperma dan telur (PATENT 1976).
21
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XXVI no. 1, 2001

Gambar 2. Tingkah laku meminang dan kawin pada ikan Sersan Mayor (Abudefduf sp.)
22
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XXVI no. 1, 2001
Banyak jenis ikan terutama yang hidup
di daerah tropis, bereproduksi sepanjang
tahun. Tetapi, kebanyakan jenis ikan
mempunyai waktu memijahnya sendiri-sendiri.
Ada yang biasa memijah pada bulan purnama,
dan ada pula yang memijah ketika terjadi air
pasang (PATENT 1976). Menurut ALLEN
(1976), masa memijah pada ikan karang tropis,
Centropyge interruptus adalah berkisar pada
bulan Mei dan Oktober, dengan suhu dan
sinar matahari sebagai faktor pembatasnya.
Ikan tersebut tidak akan memijah pada suhu
dibawah 22C. Sedangkan menurut MOYER
& NAKAZONO dalam (ALLEN 1979),
kebanyakan ikan-ikan dari suku Pomacanthidae
memijah pada saat 10 menit sebelumsampai 5
menit sesudah terbenamnya matahari.
Faktor lingkungan lain yang
mempengaruhi terjadinya pemijahan adalah
musim. Pada daerah subtropis, pemijahan
biasa terjadi pada musim semi dan awal
musim panas, ketika itu makanan berlimpah
dan tersedia waktu yang cukup bagi larva
ikan untuk tumbuh lebih kuat sebelum datang
musimdingin (PATENT 1976).
Penjagaan Induk
Ikan sebagai salah satu hewan perairan
mempunyai cara yang sangat beragam dan
kadang kala melakukan hal-hal yang unik
dalam melindungi telur-telurnya. Beberapa
ikan yang hidup di perairan dangkal,
menghasilkan telur yang lebih sedikit, tetapi
mereka cenderung melindungi telur-telur
mereka dari bahaya ataupun perubahan suhu.
Beberapa telur ada yang diletakkan pada
batuan ataupun tumbuhan air. Hal ini membuat
telur-telur tersebut tahan terhadap hempasan
arus, tapi mempermudah bagi pemangsa untuk
menemukan telur-telur tersebut. Penjagaan
induk terhadap telur-telur tersebut itulah yang
dapat mencegah mereka menjadi santapan
hewan lain.
Menurut KIMBALL (1994), sangat
sedikit hewan akuatik yang memelihara telur-
telurnya setelah dibuahi. Beberapa ikan karang
ada yang menjaga telur-telurnya hingga
menetas, dan tetap melindungi anaknya yang
masih muda hingga mereka mampu hidup
mandiri di perairan. Pada beberapa jenis ikan
Angelfish, kedua induk baik induk betina
maupun jantan menjaga telur dan anak-
anaknya yang masih muda. Sedangkan pada
ikan-ikan gobi (suku Gobiidae), hanya ikan
jantan yang menjaga sarangnya yang berisi
telur dari pemangsa (PATENT 1976).
Ikan pari duri jantan membuat sarang
dan menjaga serta memberi udara pada telur
yang diletakkan di dalamnya. Secara khas
jenis ini menghasilkan telur dalam jumlah
yang tidak begitu banyak (KIMBALL 1994).
beberapa jenis ikan sembilang betina
bertingkah seperti mengerami telur-telurnya,
mereka menutupi telur-telur tersebut dengan
perutnya hingga menetas. Sedangkan cara
berbeda dilakukan ikan salmon yang
bermigrasi ke perairan tawar (sungai) dengan
arus yang kencang, dimana terdapat sedikit
pemangsa yang hidup disana, untuk kemudian
menguburkan telur-telurnya di dasar pasir
sebagai tindakan penjagaan (PATENT 1976).
Ada pula yang melakukan penjagaan
terhadap telur dan anak-anaknya yang masih
muda dengan menyimpan di dalam mulutnya
(Mouth-brooders). Ikan induk, biasanya
betina, meletakkan telur-telurnya di dalam
mulut sampai saat menetas dan tetap
menjaganya. Walaupun telah menetas, ikan-
ikan kecil tersebut tetap menjadikan mulut
induknya sebagai tempat perlindungan
sampai mereka cukup kuat dan mampu
mempertahankan diri sendiri. Contoh ikan
dengan tingkah laku seperti ini terdapat pada
ikan-ikan suku Apogonidae dan beberapa
jenis ikan karang yang biasa hidup di lubang-
lubang atau gua karang. Selain sebagai tempat
perlindungan telur atau anak-anak ikan dari
musuh-musuhnya, mulut induk ikan juga
berperan sebagai wadah inkubasi yang baik
bagi telur-telur ikan. Telur-telur tersebut
23
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XXVI no. 1, 2001
mendapatkan oksigen yang cukup dari air
yang dihisap oleh induk ikan ketika ia bernafas
(PATENT 1976).
Cara lain yang dilakukan ikan dalam
melindungi telur-telurnya adalah membawa
telur-telur tersebut dengan cara ditempelkan
pada tubuh induknya. Pada beberapa jenis
ikan, ikan jantan yang membawa telur-telurnya,
sedangkan pada jenis lain, ikan betinalah
yang berperan membawa telur-telurnya
tersebut. Syngnathoides biaculeatus atau
yang lebih dikenal dengan tangkur buaya,
merupakan salah satu contoh ikan yang
mempunyai kebiasaan ini. Ketika masa berpijah
tiba, telur-telur dari betina dilepaskan dan
ditempelkan dengan suatu zat perekat pada
sisi perut ikan jantan, sehingga apabila telur-
telur yang sudah dibuahi kemudian menetas,
seolah-olah jantanlah yang melahirkan anak
(NONTJ I 1992). Contoh lain adalah pada
Kuda laut betina yang meletakkan telur-
telurnya pada kantung khusus yang terdapat
pada ikan jantan. Sedangkan pada beberapa
jenis ikan Tangkur buaya, kadang-kadang
induk betina yang memiliki kantung
menggantikan jantannya (PATENT 1976).
PATENT (1976) juga menambahkan
bahwa pada beberapa jenis ikan, ada yang
menyembunyikan telur-telurnya pada tubuh
binatang lain seperti kerang dan kepiting.
Beberapa jenis ikan meletakkan telur-telurnya
dalam organ dalam atau otot kerang, dimana
ikan jantan berperan memilih kerang yang
akan dipakai untuk meletakkan telur-telur
tersebut untuk kemudian menjaganya.
Sedangkan pada jenis ikan lain, ada yang
meletakkan telurnya dalam rongga insang
(Gill chamber) kepiting. Telur-telur tersebut
mendapatkan air segar dan perlindungan
yang sempurna dari para pemangsanya.
Tingkah laku reproduksi pada ikan
memang menarik untuk dipelajari. Terpisah
dari posisinya sebagai hewan vertebrata yang
primitif, ikan telah berkembang dalam
bereproduksi dengan berbagai macam cara di
dalam habitat yang beragam sesuai dengan
tempat tinggalnya.
DAFTARPUSTAKA
ALLEN, G.R. 1979. Butterfly and angelfishes
of the world. A Wiley Interscience
publications J ohn Wiley and Sons,
New York : 252 pp.
KIMBALL, J.W. 1994. Biologi. Penerbit
Erlangga, J akarta : 755 hal.
NONTJI, A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit
Erlangga, J akarta : 368 hal.
PATENT, D.H. 1976. Fish and how they
reproduce. Holiday House, New York
: 128 pp.
WEBBER, H.H. and H.V. THURMAN 1991.
Marine Biology. Harper Collins Pub-
lishers, New York : 424 pp.
24
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XXVI no. 1, 2001