Anda di halaman 1dari 47

APLIKASI EVIDENCE-BASED

MEDICINE (EBM) BAGI


FARMASIS


Evidence Based Medicine ???
Conscientious, explicit and judicious use of
current best evidence in making decisions
about the care of individual patients
(Secara sadar, jelas, dan bijak menggunakan
bukti terbaik yang ada dalam mengambil
keputusan dalam pengobatan masing-masing
pasien)
Evidence Based Medicine
. Integrating individual clinical expertise with
the best available external clinical evidence
from systematic search

( menggabungkan keahlian klinis individu
dengan bukti klinis eksternal terbaik yg
tersedia dari pencarian sistematis)
Apakah evidence-based medicine
Decision-making framework that facilitates
complex decisions
Involves research and other form of evidence
Use in clinical decisions:
- choice of treatment, test, prognosis
penyakit, risk mgmnt, etc
EBM merupakan suatu sistem atau cara untuk
menyaring semua data dan informasi di bidang
kesehatan

Contoh:
Seorang pasien baru datang menanyakan

saya baca di majalah kesehatan kalau pasien
dengan hipertensi harus minum aspirin .

Apakah dokter atau apoteker setuju ??
Contoh :
Seorang ibu datang ke apotik menanyakan
kpd farmasis tentang penggunaan garlic
untuk menurunkan kolesterol ..

Selang kemudian seorang dokter juga
menanyakan mengenai hal yang sama
CLINICAL EXPERTISE
BEST RESEARCH
EVIDENCE
EVIDENCE BASED
DRUG THERAPY
PATIENT VALUES

EVIDENCE BASED DRUG THERAPY
Clinical expertise:
(Keahlian Klinis)
Diantaranya:
Kondisi pasien seperti apa
Keparahan kondisi pasien
Seberapa urgent terapi diperlukan
Apakah evidence yg ada dpt
diterapkan pd pasien ybs
Kondisi lain yg berkaitan
Level of risk (keuntungan vs
kerugian)
Mis.
Pasien dengan CHF:
- Kapan beta-blocker digunakan
- Kapan spironolakton digunakan
Patient Values
Apakah pasien akan menerima terapi
atau tidak
Faktor budaya (kultur)
Apakah sanggup: biaya
Kemampuan kognitif
Stage in life and sense of well being

Mengapa EBM penting ?
Evidence cart on rounds :
of 71 information searches to answer clinical
question :

37 (52%) confirmed management decision
18 (25%) lead to a new therapy or new diagnostic
test
16 (23%) corrected a previous plan

Sackett D, 1998
hierarchy of major study designs
systematic review of RCTs
RCT
cohort
case control
interventional
observational
validity
2001 Bazian Ltd
slide 7.1
Keterbatasan EBM
Tidak cukup data utk menjawab
pertanyaan klinis tertentu
Tidak mudah aplikasi hasil
penelitian ke populasi umum
Diperlukan akses yg cepat ke
literatur (resources)
Keterbatasan waktu dalam praktek
klinis


Langkah-langkah dalam
Memproses EBM

Langkah2 dalam memproses EBM
Pasien 1. Pilih masalah klinis / pertanyaan
muncul saat mengobati ps
Pertanyaan 2. Ciptakan well built clinical question
Sumber 3. Pilih sumber info dan lakukan
pencarian
Evaluasi 4. Appraise evidence for its validity
and applicability(Menilai bukti
validitas dan penerapan)
Pasien 5. Kembali ke pasien- gabungkan evi-
dence dg keahlian klinis, pilihan ps
Self-
evaluation
6. Evaluate your performance w/this pt
Contoh:
Pasien dg Nephrotic syndrome:
penggunaan corticosteroid, protein di urin
masih (+)
Apakah corticosteroid diperlukan pada
pengobatan demam berdarah ?
Tipe Pertanyaan
Diagnosis
Terapi
Prognosis
Harm/etiologi
Type of
question
Suggested best type of study
Therapy RCT>cohort>case
control>case series
Diagnosis Prospective,blind comparison
to a gold standard
Prognosis Cohort study>case
control>case series
Prevention RCT>cohort study>case
control
Cost Economic analysis

Built a Focus Clinical Question
Mis: Haruskah clopidogrel diresepkan utk
pria 65 th dg unstable angina ?

Patient/problem : patient w/ unstable angina
Intervention : clopidogrel in addition to
aspirin
Comparison : aspirin alone
Outcome : prevent death or coronary
event
Built a Focus Clinical Question
Mis: Is sildenafil safe in this patients with
type-2 diabetes ?

Patient/problem : patient type-2 diabetes
w/ CAD (asymptomatic)
Intervention : sildenafil
Comparison : none, placebo
Outcome : risk of MI

Systematic review:
Cochrane library: www.cochrane.org
Best evidence: www.acponline.org
DARE (Database of Abstracts of Reviews
of Effectiveness):
york.ac.uk/inst/crd/darehp.htm
Medline : www.ncbi.nlm.nih.gov/PubMed

Guideline: www.guideline.gov


BAGAIMANA PENERAPAN EVIDENCE-

BASED MEDICINE BAGI FARMASIS
Pharmaceutical Care
Pharmaceutical care :
is the responsibility provision of drug
therapy for the purpose of achieving
definite outcomes that improve a
patients quality of life
(tanggung jawab memberikan terapi
obat sesuai dg yg diinginkan dengan
tujuan mencapai hasil yang pasti dalam
peningkatan kualitas hidup pasien)

Strand,L
Peran Farmasis

Bukti berdatangan terus
(information explosion) peran farmasis
harus berubah
Farmasis sbg drug therapy
expert

Paradigma EBM
Spectrum of Medicine
Termasuk:
Pencegahan penyakit
Deteksi
Diagnosis
Pengobatan
Farmasis
(pharmacotherapy)

Peran Farmasis
Menggabungkan:
Principles of EBM
Paradigm
+ Evidence-based
Pharmacotherapeutic Pharmacotherapy
decision making
process


Istilah
Evidence-based Diagnosis (doctors)
Evidence-based Nursing (nurses)
Evidence-based pharmacotherapy
(pharmacist)
(focus on pharmacotherapeutics)
Pharmaceutical Care

Review of systems
Drug Related Problem Bekerja sama
Goals of therapy dg profesi kesehatan
Evaluate alternative lainnya
Treatment plan
Monitoring plan
Evaluate outcome
Pharmaceutical Care dan
Evidence Based Medicine

Setiap proses mengambil keputusan
dalam Pharmaceutical Care
menggunakan langkah-langkah
dalam Evidence-Based Medicine
Penerapan EBP dalam Praktek
Sehari-hari
Pelayanan Informasi Obat
Managemen terapi obat: evaluasi, monitoring
Komite Farmasi dan Terapeutik (KFT)
Konseling: target pengobatan.
Contoh: ps HTN, DM, CVD know their numbers
Menseleksi obat-obat OTC yg cocok utk pasien
Berpartisipasi dalam pembuatan guideline,
Dll
Penerapan EBP
Pelayanan Informasi Obat
Identifying information needs
Search best evidence
Evaluate the evidence
Analyzes and synthesize the evidence
Formulate response
Follow-up

Mengapa EBM
Keuntungan Buat Farmasis
Memperkuat rasa percaya diri (confident)
dalam keputusan farmakoterapeutik
Komunikasi dengan dokter lebih baik dlm
proses mengambil keputusan
Fasilitasi dialog dg pasien ttg kerasionalan
terapi
Update ilmu pengetahuan secara terus
menerus
THINK BIG !
start small.
ACT NOW
TERIMAKASIH






STUDI KASUS EBM


Seorang pasien baru, Lila baru pindah
ke kota Bandung ingin tinggal dekat
anaknya. Lila berumur 67 tahun dan
punya sejarah medis gagal jantung
(congestive heart failure) yang
dideritanya setelah beberapa kali kena
serangan jantung.




Lila telah di rawat 2 kali dalam 6 bulan
terakhir karena gagal jantungnya
bertambah parah. Saat ini jantungnya
tetap dalam normal sinus rhythm.

Lila rajin minum obat (enalapril, aspirin, dan
simvastatin) dan sangat ingin agar tidak sampai
dirawat di rumah sakit lagi.

Anda berpikir sebaiknya Lila juga dapat digoksin
tetapi anda tidak yakin apakah dengan
pemberian digoksin dapat membantu supaya Lila
agar tidak di rawat lagi.



Anda memutuskan untuk menyelidiki
pertanyaan ini shg pd kunjungan Lila
berikutnya anda sudah tahu jawabannya
Built a good clinical question
Patient/
Problem
Congestive heart failure,
elderly
Intervention
digoxin
Comparison,
if any
None, placebo
Outcome
Primary: reduce need for
hospitalization
Secondary: reduce mortality

Untuk pasien ini, pertanyaan klinis:

In elderly patients with congestive heat
failure, is digoxin effective in reducing the
need for rehospitalization ?

Type of
question
Suggested best type of
study
Therapy RCT>cohort>case
control>case series
Diagnosis Prospective, blind comparison
to a gold standard
Prognosis Cohort study>case
control>case series
Prevention RCT>cohort study>case
control
Cost Economic analysis

Clinical
Question
Clinical
Scenario
MEDLINE
Strategy
Patient
Population
CHF, elderly CHF
Limit to Aged
Intervention digoxin digoxin
Comparison None or
placebo
Outcome Rate of
hospitalization
hospitalization
Type of
Question
therapy
Type of study RTC Limit to RCT as
publication type