Anda di halaman 1dari 6

Isaac Newton :

Apakah inersia itu? inersia adalah suatu keadaan ketika mataku bertemu dengan tatapanmu
sehingga aku hanya bisa terus berada dalam keadaan itu.

Albert Einstein :
Satu jam tanpamu bagaikan satu tahun, tapi satu tahun bersamamu bagaikan hanya satu jam, itulah
relativitas.

Galileo:
inilah yang kupikirkan saat membuat teleskop terbaikku: dapatkah aku meneropong isi hatimu
dengan ini kelak?

Stephen Hawking:
Meski kau adalah lubang hitam raksasa dengan horizon tak berhingga, niscaya aku tetap rela
terhisap dan melebur di dalamnya

James Clerk Maxwell:
Setelah kupahami sifat-sifat radiasi elektromagnetik, hanya tersisa satu misteri bagiku ; bagaimana
caraku memahami sifat-sifat radiasi cintamu?

Charles Augustine de Coulomb:
Jika gaya tarik antara dua partikel berbeda muatan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak di
antara keduanya, maka kuperkirakan gaya tarik antara kita berbanding terbalik dengan tak kurang
dari pangkat delapan jarak antara keduanya

Erwin Schrodinger:
Jika mereka berkata memahami keadaan kuantum suatu partikel saja terlalu sulit, bagaimana
denganku yang mencoba memahami keadaan kuantum cintamu?

Werner Heisenberg:
Sesungguhnya tak ada satu pun pengukuran di dunia ini yang memberikan memberikan hasil yang
benar-benar pasti dan mutlak kecuali satu yakni pengukuran cintaku padamu

Robert Boyle:
Perbedaan gas ideal dan cinta ideal adalah ;
Dalam gas ideal, perkalian antara tekanan gas dan volume gas akan selalu konstan, sementara dalam
cinta ideal, perkalian antara tekanan rindu dan volume rasa sayang akan selalu meningkat tak
berhingga.

John Dalton:
Aku kini telah menyimpulkan bahwa cintaku padamu adalah sebuah atom, karena aku tak pernah
bisa membaginya, sekeras apa pun aku mencoba.

George Simon Ohm:
Saat aku bertatap mata denganmu pagi tadi, tubuhku serasa dialiri arus yang begitu tinggi. Pada
malam harinya aku pun berpikir keras; mungkinkah itu karena hambatan di tubuhku terlalu kecil?.

Michael Faraday:
Hasil eksperimenku yang menyatakan bahwa medan magnet dapat berubah menjadi arus listrik tak
begitu mengejutkanku, namun saat aku melihat hasil dari pengalamanku yang menyatakan bahwa
medan cinta dapat berubah menjadi apapun, aku benar-benar terkejut.

Andreas Celcius:
Sepintar apapun diriku, aku tak akan pernah sanggup menciptakan termometer yang dapat
mengukur panas cintaku padamu.

Thomas Young:
Interferensi konstruktif paling sempurna yang pernah kulihat di dunia ini hanyalah interferensi
cintaku dan cintamu.

archimedes:
Jika tubuhku berada di dalam suatu cairan, maka tubuhku akan mengalami gaya ke atas menjauhi
dasar cairan itu, namun seandainya hatimu yang menjadi cairan itu, aku yakin tubuhku akan
mendapat gaya dengan arah sebaliknya.

Lucu dan Inspiratif - Einstein ilmuwan mabuk cinta
Siapa tidak kenal nama Albert Einstein, seorang Ilmuwan besar super jenius keturunan Yahudi yang
dikenal sebagai bapak moyang Bom Atom yang mengerikan itu,

Berikut kisah cerita lucu tentang Einstein ilmuwan mabuk cinta.

Dalam dunia sains, selain berkutat dengan
penelitian yang super ribet dan melelahkan serta memakan banyak biaya, para saintis juga mengisi
waktu dan ketekunan mereka dengan jeda. Jeda itu mereka sebut humor, joke atau mob atau
orang Manggarai Flores bilang 'tombo bop'. Salah satu yang paling terkenal (dari sedikit yang pernah
saya dengar) adalah tentang humor tentang Om Kumis Putih Einstein.

Khabarnya, sesaat setelah menemukan rumus E=MC2, Einstein (E) bersantai dengan seorang
Pramuria cantik sebut saja namanya Marry Christie (MC) di sebuah Cafe (Einstein hidup pada tahun
belum ada Cafe, sehingga jelas ini pencemaran nama baik dan saya mungkin akan kena pasal dari
Undang-undang informasi transaksi elektronik, ya kami sanggup!!!). Einstein sudah dalam keadaan
setengah mabok ketika tiba-tiba ngobrol soal pernikahan.

Dia sebenarnya jatuh cinta pada pandangan pertama tetapi situasi 'sadar' membuatnya tidak berani
bicara, sehingga butuh beberapa teguk sopi (arak Manggarai Flores) Beberapa tahun kemudian,
situasi yang dialami Einstein saya saksikan lagi pada seorang teman saya. Beberapa tahunnya lagi,
saya sadar bahwa ini sebenarnya adalah situasi yang dialami oleh banyak pria di luar sana (untuk
tidak menyebut diri sendiri)

Berikut percakapan mereka:

E: (Tanpa tedeng aling-aling) Kau mau menikah denganku?
MC: (Heran tapi tetap menjawab, maklum pelanggan) Beri saya alasan yang kuat mengapa saya
harus menikah dengan kau!

E: (Semakin mabok semakin PD) Karena saya pintar dan kau cantik
MC: Maksud Lo... (ini pramuria sepertinya pernah kerja di Jakarta :-))

E: Maksud gue... (Enstein terbawa suasana hehehe) kalo kita menikah, kita pasti punya anak yang
cantik seperti ibunya dan pintar seperti bapaknya...

MC: Aduuu... kau PD sekali tah (ni pramuria orang Jakarta ato Manggarai e, koq pake dialek
Manggarai?)

E: Knapa e... (Einstein benar-benar terbawa suasana, sekarang dia pake logat Manggarai yang super
kental)

MC: Iya ka, kau PD skali kita pu anak bisa jadi begitu. Kalo sebaliknya bagaimana? (ni Pramuria su
mulai tertarik dengan Enstein, buktinya dia bilang KITA PU ANAK). Tiba-tiba anaknya bodoh seperti
saya dan jelek seperti kau, kan parah... Kau pikir-pikir lagi dulu e.

E: (termenung... pengaruh alkohol semakin parah... tidur di bar dalam keadaan seratus persen lega
karena su ungkap) Zzzzzz..

MC: (memandang Einstein penuh perhatian)... hhhh.... Tapi bisa jadi kau benar e, apa pun
resikonya saya sanggup.

You see, sang pramuria sama sekali tidak peduli dengan singkatnya waktu PDKT sang maestro. Dia
hanya percaya bahwa saat hatinya bicara, waktu tak lagi jadi ukuran. Pengunjung Cafe yang lain
mungkin bilang, "Kalian kan belum lama saling kenal!" tetapi pramuria cantik itu yakin, mereka
(Marry Christie dengan Enstein) ada bertaut hati di garis yang sama.

Sayang memang karena beberapa bagian dari memori saya corrupt dan tidak bisa mengingat apakah
kisah 'ungkap dalam keadaan mabok' ini berujung pada pernikahan. Kisah ini adalah satu dari sekian
banyak bacaan 'tak sesuai umur' yang saya baca ketika masih sekolah dasar. Dan semakin saya
berusaha mengingat, endingnya semakin tak jelas dan saya takut menceritakannya lagi. Bukankah
sesuatu yang tidak jelas tetapi terus diceritakan kembali malah akan mengaburkan posisi cerita;
fakta atau sudah bercampur imajinasi?
Tetapi sebenarnya beberapa hal yang saya tangkap dari cerita (yang saya ceritakan lagi) tadi
adalah:

Pertama; situasi bagaimana kau jatuh cinta adalah sesuatu yang sulit terbahasakan. Beberapa
orang akan bertanya-tanya tentang bagaimana kau jatuh cinta dan berharap akan mendapat
jawaban rasional, tetapi yang bisa kau buat adalah mengulang-ulang jawaban yang sama; saya
jatuh cinta, itu saja.

Kedua; dalam kisah kau jatuh cinta, takaran waktu (sama seperti rasio) juga akhirnya tidak lagi
berjalan wajar. Sehari = 24 jam = 1440 menit tidak lagi bisa dipakai untuk mengukur. Yang lama
bagi orang lain (yang tidak sedang jatuh cinta), bisa jadi justru menjadi sangat cepat untuk kita.
Ngobrol selama dua jam akan terasa seperti baru bicara dua menit. Deskripsi ini mungkin terdengar
seperti kuno, tapi seperti Corrine Bailey Rae bilang 'U don't know what Love Can Do til it Happens
to You'

Ketiga; kau sungguh tak bisa memilih kepada siapa harus jatuh cinta. Seorang peneliti dan orang
pintar sekelas Einstein jatuh cinta pada pramuria (PS: Di jaman kuno pramuria masuk dalam strata
sangat rendah dan berada pada deretan 'pemuas nafsu'; beberapa sinetron kita juga mengekalkan
pandangan ini... dan saya heran hehehe), juga adalah hal yang bagi banyak orang tidak masuk akal.
Jika anda juga berpendapat demikian, liat kembali film-film romantic drama yang pernah kalian
tonton dan lihat berapa banyak 'situasi' tidak masuk akal juga terjadi di sana.

Keempat; melamar dan dilamar (untuk menikah) adalah situasi unpredictable sesungguhnya. Bisa
jadi kau (pria) sudah mempunyai skenario bagaimana melamar kekasihmu dan kau (wanita) juga
sudah mempunyai cita-cita terpendam tentang bagaimana nantinya kau ingin dilamar, tetapi sorry
to say.... sepertinya akan sulit terwujud. Penggambaran pria melamar dan wanita dilamar hanya
karena soal 'budaya' kita yang mengaturnya demikian padahal saya sendiri tidak setuju ;-)

Kelima; bagaimana kalian (ingin) melamar atau dilamar? Pertanyaan ini juga terbuka untuk yang
sudah menikah hehehehe. Beberapa mungkin nyamannya seperti Einstein (setengah mabok dan
berani), dan beberapa mungkin seperti Marry Christie (terheran-heran tetapi setuju)

PUISI MATRIKATIS (pujangga matematika)
Posted by Kanjeng AnGga Panseria Label: Puisi
dari sudut terkecil itu
terdapat suatu variabel tak tentu
irisan itu ada dalam hatiku
telah ku logaritmakan namun tak tertemu
variabel apakah dirimu

jangan anggap aku sebagai cos 90
jangan pula jadikanku sin 0
ku tak terbiasa dengan bilangan biner itu
ku akui ku takut kehilangan variabel itu
jangan kau jadikan ku himpunan kosong
Jika kau perlu menjadikanku program linier
Jadikanku sebagai laba maximum

persamaan kuadarat tak dapat membantuku
kucoba tuk integralkan itu
namun justru kau anggap diriku hanya limit

tak adakah probabilitas pun untuk mendapatkanmu
ataukah tlah ada persamaan kuadrat lain di hatimu
jika ada deretan yang masih tersisa
maukah kau diferensialkanku kedalam hatimu
memang kaulah variabel yang slalu kutunggu-tunggu


Read more: http://kanjengpanseria.blogspot.com/2011/09/puisi-matrikatis-
pujangga-matematika.html#ixzz2ytkHE4tp