Anda di halaman 1dari 9

dr.

Novi Agustina
Portofolio Kasus ke-II

SUBJEKTIF
(Anamnesa dilakukan secara Alloanamnesa terhadap ibu pasien pada hari Minggu, 13 April
2014, pukul 13.00 WITA)
Pasien An.M, usia 4 tahun (No. RM: 09.35.58) datang ke IGD RSUD Tanah Bumbu
pada hari Minggu, 13 April 2014 dengan keluhan kejang sejak 2 jam SMRS. Sebelum timbul
kejang, pasien sedang bermain didalam rumah sambil menonton televisi. Pasien tiba-tiba
kejang, mata pasien melotot, kejang seluruh tubuh, kelojotan. Kejang dialami pasien
sebanyak 2 kali, selama 5 menit setiap kali kejang. Setelah serangan pasien tertidur.
Satu hari SMRS pasien mengalami demam, demam dirasakan terus terusan sepanjang
hari, sampai saat serangan kejang pasien masih demam tinggi 40
0
C (diukur dengan
termometer di rumah). Saat demam, pasien diberi minum obat parasetamol sirup dan di
kompres, namum demam tidak turun sampai akhirnya pasien mengalami kejang. Tiga hari
SMRS pasien menderita batuk dan pilek, batuk berdahak warna putih sulit keluar dan pilek
dengan ingus warna putih encer.
Keluhan penurunan kesadaran/ pingsan dan riwayat trauma sebelum kejang disangkal.
Keluhan nyeri telinga, keluar cairan dari telinga, mencret, muntah-muntah disangkal ibu
pasien. Pasien makan dan minum seperti biasa. Tidak ada keluhan BAK atau BAB.
Ibu pasien mengatakan saat usia pasien 2 tahun, pasien pernah mengalami kejang saat
demam seperti yang pasien alami sekarang, namun kejang hanya 1 kali, kejang seluruh tubuh,
selama 3 menit, saat itu pasien juga dibawa ke RS dan di rawat inap selama 5 hari. Didalam
keluarga pasien, kakak pasien dan tante pasien juga memiliki riwayat kejang saat usia anak.
Riwayat imunisasi pasien lengkap sesuai usia. Riwayat perkembangan dan
pertumbuhan pasien juga sesuai dengan anak seusianya, pasien sudah bersekolah di taman
kanak-kanak dan dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

OBJEKTIF
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Berat badan : 13 kg
Denyut nadi : 100 x/ menit
Suhu : 40
0
C
Pernafasan : 26 x/menit
Mata : CA -/-; SI -/-; Pupil isokor; RCL +/+; RCTL +/+
Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping -/-, sekret -/-.
Telinga : Normotia, simetris kanan-kiri, serumen -/-, nyeri tekan -/-
Mulut : Bibir tidak kering, sianosis (-)
Tenggorokan : sulit dinilai
Leher : pembesaran KGB dan kelenjar tiroid (-), kaku kuduk (-)
Thoraks : Cor : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo : SN Vesikuler, rhonchi -/-, whezzing -/-
Abdomen : datar, supel, BU (+) normal, heper/ lien tidak teraba membesar
Ekstremitas : akral hangat + + , edema - -
+ + - -
refleks fisiologis: sulit dinilai
refleks patologis: babinski (-)

Hasil Laboratorium Darah:
10 April 2014, pukul 22.00 WITA
- Hemoglobin : 11,9 gr/dL
- Leukosit : 12800/mm
3

- Eritrosit : 3,5 juta/mm
3

- Trombosit : 206.000/ mm
3

- Hematokrit : 30%

ASSESMENT
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan, maka pada pasien
ini dapat ditegakan diagnosis kejang demam kompleks, dimana pada anamnesis, didapatkan
usia anak 4 tahun, keluhan utama kejang yang disertai demam tinggi 40
0
C, kejang pada
seluruh tubuh selama 5 menit dan kejang berulang dalam waktu 24 jam (2 kali kejang selama
24 jam), terdapat riwayat kejang demam sebelumnya saat usia 2 tahun, terdapat riwayat
keluarga dengan kejang demam dan tidak didapatkan adanya trauma sebelum kejang.

Kejang Demam
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal > 38
o
C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Menurut consensus
statment on febrile seizures kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi dan anak
biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun berhubungan dengan demam tetapi tidak
terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu.
1
Definisi kejang demam menurut
International League Against Epilepsy (ILAE) adalah kejang yang terjadi setelah usia 1 bulan
yang berkaitan dengan demam yang bukan disebabkan oleh infeksi susunan saraf pusat, tanpa
riwayat kejang sebelumnya pada masa neonatus dan tidak memenuhi kriteria tipe kejang akut
lainnya misalnya karena keseimbangan elektrolit akut.
2,3

Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun. Bila anak
berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului dengan
demam pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi susunan saraf pusat atau epilepsi yang
kebetulan terjadi bersama demam.
1,4

Anak yang pernah kejang tanpa demam kemudian mengalami kejang demam kembali
dan bayi yang berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk dalam definisi kejang demam.
Derajat tingginya demam yang dianggap cukup untuk diagnosis kejang demam ialah 38
o
C
atau lebih, tetapi suhu sebenarnya saat kejang berlangsung sering tidak diketahui.
1,4

Kejang demam kompleks ialah kejang demam yang lebih lama dari 15 menit, fokal atau
multipel (lebih daripada 1 kali kejang per episode demam) sedangkan kejang demam
sederhana ialah kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan umumnya
akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik tanpa gerakan fokal,
kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejadian kejang demam sederhana yaitu 80% di
antara seluruh kejang demam.
1,4

Jika kejang yang disertai demam terjadi selama lebih dari 30 menit baik satu kali atau
multipel tanpa kesadaran penuh diantara kejang maka diklasifikasikan sebagai status
epileptikus yang diprovokasi demam. Kejadian ini berkisar 5 % dari keseluruhan kejang yang
disertai demam.
3

Kejang demam diturunkan secara autosomal dominan sederhana. Banyak pasien kejang
demam yang orangtua atau saudara kandunnya menderita penyakit yang sama. Faktor
prenatal dan perinatal dapat berperan dalam kejang demam.
1
Perbedaan kejang demam sederhana (KDS) dan kompleks (KDK) dapat dilihat pada
tabel berikut:
6





Tabel 1. Perbedaan kejang demam sederhana dan kompleks


Etiologi
Faktor yang penting pada kejang demam ialah demam, umur, genetik, prenatal dan
perinatal. Demam sering disebabkan infeksi saluran pernapasan atas, otitis media,
pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu
yang paling tinggi, terkadang kejang terjadi pada demam yang tidak begitu tinggi. Bila hal ini
terjadi maka anak tersebut memiliki resiko tinggi untuk berulangnya kejang.
1

Patofisiologi
Sel neuron dikelilingi oleh suatu membran. Dalam keadaan normal membran sel neuron
dapat dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium
dan ion lain, kecuali ion clorida. Akibatnya konsentrasi natrium menurun sedangkan di luar
sel neuron terjadi keadaan sebaliknya.
Dengan perbedaan jenis konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan
potensial yang disebut potensial membran dan ini dapat dirubah dengan adanya :
a. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler
b. Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik
dari sekitarnya
c. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.
Pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran
dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui
membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini
demikian besarnya sehingga meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya
sehingga terjadi kejang.
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda, tergantung dari tinggi rendahnya
ambang kejang tersebut. Pada anak dengan ambang kejang rendah, kejang dapat terjadi pada
suhu 38 C, sedang pada ambang kejang tinggi baru terjadi pada suhu 40 C atau lebih.

Komplikasi
Pada penderita kejang demam yang mengalami kejang lama biasanya terjadi
hemiparesis. Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi. Mula mula
kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu timbul spastisitas.
Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak
sehingga terjadi epilepsy.Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan
kejang demam :
a. Pneumonia aspirasi
b. Asfiksia
c. Retardasi mental

Tatalaksana
Pada tatalaksana kejang demam ada 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu
1
:
1. Pengobatan fase akut
2. Mencari dan mengobati penyebab
3. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam
Pada waktu pasien datang dalam keadaan kejang maka hal yang harus dilakukan ialah
membuka pakaian yang ketat dan posisi pasien dimiringkan apabila muntah untuk mencegah
aspirasi. Jalan napas harus bebas agar oksigenasi terjamin. Pengisapan lendir dilakukan
secara teratur, diberikan terapi oksigen dan jika perlu dilakukan intubasi.
1

Awasi keadaan vital seperti kesadaran, suhu, tekanan darah, pernapasan dan fungsi
jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air hangat dan pemberian
antipiretik. Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko
terjadinya kejang demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat
diberikan ketika anak demam (> 38,5
o
C). Dosis parasetamol yang digunakan ialah 10-15
mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis ibuprofen 5-10
mg/kgBB/kali diberikan 3-4 kali sehari.
4

Obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan
secara intravena atau intrarektal. Kadar diazepam tertinggi dalam darah akan tercapai dalam
waktu 1-3 menit apabila diazepam diberikan secara intravena dan dalam waktu 5 menit
apabila diberikan secara intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB, diberikan
perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit dengan dosis
maksimal 20 mg. Dapat diberikan diazepam rektal dengan dosis: 5 mg pada anak dengan
berat badan < 10 kg; 10 mg untuk berat badan anak > 10 kg.
Gambar 1. Tatalaksana kejang demam


Pencegahan berulangnya kejang demam perlu dilakukan karena sering berulang dan
menyebabkan kerusakan otak yang menetap. Ada 2 cara profilaksis yaitu proflaksis
intermiten pada waktu demam dan profilaksis terus-menerus dengan antikonvulsan setiap
hari.
1

Untuk profilaksis intermiten, antikonvulsan hanya diberikan pada waktu pasien demam.
Obat yang diberikan harus cepat diabsorpsi dan cepat masuk ke jaringan otak. Diazepam
intermiten memberikan hasil lebih baik karena penyerapannya lebih cepat. Dapat digunakan
diazepam intrarektal tiap 8 jam pada kenaikan suhu mencapai 38,5
o
C atau lebih. Diazepam
dapat pula diberikan secara oral dengan dosis 0,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis pada
waktu pasien demam. Efek samping diazepam ialah ataksia, mengantuk dan hipotonia.
1

Untuk profilaksis terus-menerus dilakukan dengan pemberian fenobarbital 4-
5mg/kgBB/hari dengan kadar obat dalam darah sebesar 16g/ml menunjukkan hasil yang
bermakna untuk mencegah berulangnya kejang demam. Efek samping fenobarbital berupa
kelainan watak yaitu iritabel, hiperaktif, pemarah dan agresif ditemukan pada 30-50% pasien.
Efek samping dapat dikurangi dengan menurunkan dosis fenobarbital.
Obat lain yang dapat digunakan yaitu asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari.
Fenitoin dan carbamazepin tidak efektif untuk pencegahan kejang demam. Antikonvulsan
profilaksis terus-menerus diberikan selama 1-2 tahun setelah kejang terakhir kemudian
dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.
1
Adapun indikasi profilaksis terus-menerus
yaitu sebagai berikut
1
:
- Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau perkembangan
- Ada riwayat kejang tanpa demam pada orangtua atau saudara kandung
- Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau diikuti kelainan neurologis sementara
dan menetap
- Kejang demam terjadi pada bayi berumur < 12 bulan atau terjadi kejang multipel dalam
satu episode demam.

TATALAKSANA YANG DIBERIKAN PADA PASIEN:
Non Medikamentosa Medikamentosa
1. Tirah baring, rawat pasien di
bangsal anak
2. Edukasi kepada orang tua
pasien mengenai penyakit
anaknya
1. IVFD RL 13 tpm makro (75cc/kgBB/24 jam)
2. Paracetamol infus 4x100 mg (10-15 mg/kgBB)
3. Diazepam inj 1x 6,25mg atau 1,25 ml (jika kejang)
(Dosis: 0,3-0,5 mg/kgBB)
4. Fenobarbital PO 2x20 mg (Dosis: 4-5mg/kgBB/hari)
5. Ambroxol syr 3 x 1 cth






Sumber: Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di
Kabupaten. Jakarta: WHO Indonesia. 2008. pg: 16
DAFTAR PUSTAKA

1. Baumann RJ. Febrile Seizures. 2012. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/1176205-overview. Accessed on: Mei 2014
2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter anak Indonesia.
Jilid 1. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 2010. pg. 151-2.
3. Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di
Kabupaten. Jakarta: WHO Indonesia. 2008. pg: 16.
4. Pusponegoro HD, Widodo DP, Ismael S. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam,
Unit Kerja Koordinasi Neurologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI. 2006; p.15-9.
5. Wolf P, Shinnar S. Febrile Seizures in Current Management in Child Neurology. 3
rd

edition. Canada: BC Decker Inc. 2005; p. 78-9.