Anda di halaman 1dari 13

PERCOBAAN II

A. Judul : Halogen
B. Tujuan : Membandingkan sifat dan reaksi unsur halogen
C. Dasar Teori
Unsur-unsur halogen VIIA, yaitu fluor, klor, brom dan iod, tidak terdapat
bebas di alam, tetapi bersenyawa dengan unsur lain karena reaktif. Unsur halogen
disebut halogen (Yunani; halogen = garam), karena umumnya ditemukan dalam
bentuk garam anorganik. Hal dalam bentuk bebas selalu berupa diatomik, karena
tiap atom memerlukan 1 elektron untuk membentuk ikatan kovalen.
(5)

Unsur-unsur halogen mempunyai konfigurasi elektron ns
2
np
5
dan
merupakan unsur-unsur yang paling elektronegatif, oleh karena itu selalu
mempunyai bilangan oksidasi (-1), kecuali fluor yang selalu univalen, unsur-unsur
ini dapat juga mempunyai bilangan oksidasi (+1), (+III), (+V) dan (+VII).
Bilangan oksidasi (+IV) dan (+VI) merupakan anomali, terdapat dalam oksida
ClO
2
, Cl
2
O
6
, dan BrO
3
.
(1)
Kecenderungan kuat dari atom F dan Cl untuk menarik
elektron mengakibatkan bentuk yang sering ditemukan di alam adalah bentuk ion
F
-
dan Cl
-
, serta kesulitan dalam pembuatan unsur murni dari bentuk ionnya
Dalam senyawa halogen terdapat sebagai unsur negatif : fluorida (F
-
),
klorida (Cl
-
), bromida (Br
-
) dan iodida (I
-
). Unsur astatin (At) tidak terdapat di
alam. Unsur ini sangat tidak stabil, bersifat radioaktif dan dibuat secara sintesis.
Isotop yang paling stabil adalah
201
At dengan waktu paro 8,3 tahun. Unsur yang
paling banyak adalah fluor dan klor. Senyawa klor yang paling umum adalah
NaCl terdapat di alam dalam garam karang. Dibandingkan dengan fluor dan klor,
hanya sedikit terdapat brom dan iod. Air laut mengandung bromsekitar 70 bagian
persejuta dalam berat.
Iod masih jarang terdapat di alam dibandingkan dengan brom. Adapun
sumber utama iod adalah NaIO
3
yang terdapat di Chili dan dikenal sebagai garam
Chili.



Sifat Fisis Halogen
1. Struktur Halogan
Dalam bentuk unsur, halogen (X) terdapat di alam sebagai molekul diatomik
(X
2
). Kestabilan molekul X
2
berkurang dari F
2
ke I
2
sesuai dengan
pertambahan jari-jari atom, sehingga energi ikatan dari F
2
ke I
2
mengalami
disosiasi menjadi atom-atomnya:
X
2
(g) 2X
-
(g
2. Wujud Halogen
Pada suhu kamar F dan Cl berwujud gas, Br berwujud cair yang mudah
menguap, I
2
berupa zat padat yang mudah menyublim.
Dimana dalam kondisi SATP, F berupa gas tidak berwarna, klorin berupa
gas hijau pucat, bromin berupa cairan minyak coklat dan iodine berupa
padatan hitam metalik.
3. Warna dan Bau
F berwarna kuning muda, Cl berwarna hijau muda, Br berwarna merah tua, I
berwarna padat hitam sedangkan uap I berwarna ungu. Semua halogen
berbau merangsang dan menusuk.
4. Kelarutan
Kelarutan halogen dalam air berkurang dari F ke I. fluorin tidak hanya lart
dalam air, tetapi segera bereaksi membentuk HF dan O
2
, sehingga dalam
larutan tidak ada lagi molekul F
2
. Iodine sukar larut dalam air, tetapi mudah
larut dalam larutan iodida (I
-
) dan poliiodida (I
3-
). Halogen lebih mudah
larut dalam pelarut non polar seperti CCl
4
dan CHCl
3
.
5. Titik Cair dan Titik Didih
Titik cair dan titik didih halogen meningkat dari F ke I. Hal ini karena
molekul halogen bersifat non polar, sehingga mempunyai gaya tarik
menarik antar molekul yang berupa gaya disperse yang bertambah besar
sesuai dengan bertambahnya massa molekul.



Tabel 1. Sifat fisik halogen
Sifat fisik F Cl Br I At
Jari-jari atom (ppm)
Jari-jari kovalen
Energi ionisasi (Kj/mol)
Keelektronegatifan
Afinitas elektron (Kj/mol)
Kerapatan (Kg/m
3
)
Titik leleh (C)
Titik didih (C)
133
71
1680
4
-328
1696
-220
-180
180
99
1250
3
-349
3214
-10
-35
195
114
1140
2,8
-325
3110
7,2
59
215
133
1008
2,5
-295
49630
114
184
-
145
912
2,2
-270
-
-
337

Sifat Kimia (Reaksi-reaksi) Halogen
1. Reaksi dengan logam
Halogen bereaksi dengan sebagian besar logam, menghasilkan klorida
logam dengan bilangan oksidasi tertinggi.
Misal : 2Fe + 3Cl
2
2FeCl
3

2. Reaksi dengan hidrogen
Semua halogen bereaksi dengan hidrogen membentuk hidrogen halida (HX).
H
2
+ Y
2
HX (X = Halogen)
Fluorin dan klorin bereaksi dengan hebat disertai ledakan tetapi iodin dan
bromin bereaksi lambat.
3. Reaksi dengan non logam dan metaloid tertentu
Misal : Si + X
2
SiX
4

Reaksi dengan posforus, arsen dan antimony menghaslikan trihalida jika
halogennya terbatas atau pentahalida jika halogennya berlebih.
4. Reaksi dengan air
Fluorin akan bereaksi hebat dengan air membentuk HI dan membebaskan
oksigen.
F
2
+ H
2
O 2HF +
1
/
2
O
2

Iodin sukar larut dalam air, sedangkan halogen selain iodin dan fluorin akan
mengalami reaksi disproporsionasi dalam air menurut reaksi kesetimbangan.
X
2
+ H
2
O HX + HXO
5. Reaksi denga hidrokarbon
Reaksi ini merupakan reaksi substituent dimana halogen akan menggantikan
atom hidrogen pada hidrokarbon. Fluorin bereaksi sangat hebat, tetapi iodin
tidak bereaksi.
Reaksi:
C
x
H
y
+ H
2
C
x
H
y-1
X + HX
6. Reaksi dengan basa
Klorin, bromin dan iodin mengalami reaksi disproporsionasi dalam basa.
Misal: jika klorin dialirkan kedalam larutan NaOH pada suhu kamar, maka
akan bereaksi membentuk NaCl dan NaClO.
Cl
2
(g) + 2NaOH (aq) NaCl (aq) + NaClO (aq) + H
2
O (l)
Apabila larutan NaOh tersebut dipanaskan maka akan dihasilkan NaCl dan
NaClO
3
.
7. Reaksi antar halogen
Halogen dengan halogen bereaksi membentuk senyawa antar halogen.
X
2
+ nY
2
2XYn
dimana Y = halogen yang lebih elektronegatif
n = bilangan ganjil 1,3,5 atau 7
Bilangan Oksidasi Halogen
Semua halogen membentuk senyawa dengan bilangan oksidasi -1.
Halogen dengan bilangan iksidasi +1, +3, +5 dan +7 terdapat dalam asam
oksihalogen dan senyawa antarhalogen. Kekuatan asam oksihalogen bertambah
dengan bertambahnya bilangan oksidasi halogen.
Daya Oksidasi Halogen
Daya oksidasi halogen meningkat dengan berkurangnya nomor atom.
Oleh karena itu, halogen bagian atas dapat mengoksidasi halida dibagian
bawahnya tetapi tidak sebaliknya. Sehingga halogen bagian atas dapat
mengusir atau mendesak halogen yang bagian bawah dari senyawanya.
Misalnya :
Cl
2
(g) + 2NaBr (aq) 2 NaCl (aq) + Br
2
(aq)
Br
2
(g) + 2NaCl (aq) (tidak bereaksi)
Pembuatan Halogen
Di dalam laboratorium unsur halogen dibuat dengan cara mengoksidasi
senyawa halida. Gas fluor (F
2
) jarang dibuat karena tidak ada oksidator yang
mampu mengoksida dengan fluoride. Selain itu, gas fluor bersifat racun.
Unsur-unsur klorin, bromin dan iodin dihasilkan dari oksidasi terhadap
senyawa halida dengan MnO
2
atan KMnO
4
.
Reaksinya:
2X
-
+ MnO
2
+ 4H
+
X
2
+ Mn
2+
+ 2H
2
O
10X
-
+ 2MnO
4
-
+ 4H
+
X
2
+ Mn
2+
+ 8H
2
O
Kegunaan Unsur dan Senyawa Halogen
Adapun kegunaan unsur dan senyawa halogen antara lain adalah
sebagai berikut:
1. Fluorin, digunakan untuk membuat senyawa CFC dengan nama Freon yaitu
cairan pendingin pada AC dan kulkas.
2. Garam fluoride ditambahkan pada pasta gigi atau air minum untuk
mencegah kerusakan gigi.
3. Klorin digunakan untuk klorinasi hidrokarbon untuk bahan baku industri
plastik, karet sintetik, pembuatan CCl
4
dan C
2
H
5
Cl untuk bahan TEL.
4. NaCl sebagai garam dapur.
5. Natrium bromida digunakan sebagai obat penenang syaraf.
6. Iodin digunakan sbagai bahan obat-obatan dan juga digunakan untuk
membuat AgI yang digunakan dengan AgBr dalam film fotografi.










D. Alat dan Bahan
A. Alat yang digunakan
NO Nama Alat Fungsi
1
Tabung reaksi


Tabung reaksi dapat diisi media padat
maupun cair, sebagai wadah untuk
mereaksikan suatu larutan.
2
Penjepit tabung reaksi


Digunakan untuk menjepit tabung
reaksi pada saat pemanasan
3
Gelas kimia


Gelas kimia adalah sebuah wadah
penampung yang digunakan untuk
mengaduk, mencampur dan
memanaskan cairan yang biasanya
digukan dalam laboratorium
6
Pipet


Pipet tetes (Pasteur Pippete) Fungsiny
a sama dengan pipet ukur, namun
volume yang dipindahkan tidak
diketahui.
8
Pembakar bunsen


Pembakar Bunsen (Bunsen burner)
berfungsi untuk memanaskan larutan

10
Rak tabung reaksi


Untuk meletakkan tabung reaksi
11
spatula





Untuk mengambil sampel berwujud
padat

B. Bahan yang digunakan
Nama Bahan Sifat Fisik Sifat Kimia
HCl
- Massa atom: 36,45 gr/mol
- Massa jenis: 3,21
gr/cm3.
- Titik leleh : -101 C
- Energi ionisasi: 1250
kj/mol
- Kalor jenis : 0,115 kal/gr
C
- Pada suhu kamar, HCl
berbentuk gas yang tak
berwarna
- Berbau tajam.
- HCl akan berasap tebal di
udara lembab.
- Gasnya berwarna kuning
kehijauan dan berbau
merangsang.
- Dapat larut dalam alkali
hidroksida, kloroform, dan
eter.
- Merupakan oksidator
kuat.
- Berafinitas besar sekali
terhadap unsur-unsur
lainnya, sehingga dapat
- Racun bagi pernapasan
KMNO
4 - Berat molekul : 197,12
gr/mol.
- Titik didih : 32,35 C.
- Titik beku : 2,83 C.
- Bentuk : Kristal berwarna
ungu-kehitaman
- Densitas : 2,7 kg/L pada
- Larut dalam metanol.
KMnO
4
+ CH
3
OH
CH
3
MnO
4
+ KOH
- Mudah terurai oleh sinar.
4KMnO
4
+ H
2
O 4
MnO
2
+ 3O
2
+ 4KOH
- Dalam suasana netral dan
20C basa akan tereduksi
menjadi MnO
2
.
4KMnO
4
+ H
2
O 4
MnO
2
+ 3O
2
+ 4KOH
- Kelarutan dalam basa
alkali berkurang jika
volume logam alkali
berlebih.
- Merupakan zat
pengoksidasi yang kuat.
- Bereaksi dengan materi
yang tereduksi dan mudah
terbakar menimbulkan
bahaya api dan ledakan
MNO
2 - Keadaan fisik dan
penampilan: Padatan
Bau: berbau.
Berat Molekul: 86,94 g /
mol
Warna: Hitam
kecoklatan-Black
Melting Point: 535 C
(995 F)
Spesifik Gravity: 5,026
(Air = 1)
- Bersifat sebagai oksidator
- Bereaksi dengan HCl

E. Prosedur Kerja









1 ml HCl
Menambahkan setengah sendok
MnO
2

Memanaskan campuran
Mengamati perubahan yang terjadi
Warna larutan dari campuran (HCl +
MnO
2
) berubah dari berwarna hitam
menjadi hitam kehijauan dan
terbentuk gas.








F. Hasil Pengamatan
Variabel yang diamati Hasil Pengamatan
Reaksi dengan MnO
2

- Mengukur 1 ml HCl
- Menambahkan etengah sendok
MnO
2

- Memanaskan campuran



Reaksi dengan KMnO
4

- Meneteskan HCl pada setengah
sendok KMnO
4






- Warna larutan dari campuran
(HCl + MnO
2
) berubah dari
hitam menjadi berwarna hitam
kehijauan dan terbentuk gas.

- KMnO
4
berubah warna dari
hitam keunguan menjadi hitam
kecoklatan dan terbentuk gas.

G. Pembahasan
Pada percobaan mengenai pembuatan halogen, digunakan larutan HCl
pekat, MnO
2
, dan KMnO
4
. Pada awalnya, 1 ml HCl ditambahkan dengan setengah
sendok MnO
2
. Campuran tersebut dipanaskan sampai menunjukkan adanya
perubahan. Setelah beberapa saat,warna campuran antara HCl dengan MnO
2

berubah dari hitam menjadi hitam kehijauan dan terbentuk gas. Gas tersebut
merupakan gas klor hasil dari reaksi. Persamaan reaksinya adalah:
sendok KMnO
4
Meneteskan 10 tetes HCl pekat
Mengamati perubagan yang terjadi
KMnO
4
berubah warna dari hitam
keunguan menjadi hitam kecoklatan dan
terbentuk gas.
4HCl
(l)
+ MnO
2(s)
Cl
2(g)
+ MnCl
2
+ 2H
2
O
(l)


oksidasi
reduksi

Dalam hal ini, klor mengalami peningkatan bilangan oksidasi (reaksi
oksidasi) karena telah dioksidasi oleh MnO
2
yang bertindak sebagai oksidator.
Bilangan oksidasi klor berubah dari -1 menjadi 0 sedangkan bilangan oksidasi Mn
berubah dari +4 menjadi +2.
Selanjutnya, mereaksikan KMnO
4
dengan HCl. Dimana, setengah sendok
KMnO
4
ditetesi 10 tetes HCl pekat. KMnO
4
berubah warna dari hitam menjadi
hitam kecoklatan dan membentuk gas. Dalam hal ini, Cl mengalami oksidasi
kembali karena dioksidasi oleh KMnO
4
yang merupakan oksidator kuat.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:


Reduksi
Oksidasi
Reaksi antara HCl dengan KMnO4 ini berlangsung lebih cepat daripada
HCl dengan MnO
2
dan berlangsung tanpa melalui pemanasan. Hal ini disebabkan
karena kekuatan oksidator dari MnO
4
-
lebih besar jika dibandingkan dengan
MnO
2
. Bilangan oksidasi Mn berubah dari +7 menjadi +2 sedangkan bilangan
oksidasi Cl berubah dari -1 menjadi 0.
Dari persamaan reaksi di atas diketahui bahwa ion Cl
-
pada HCl dioksidasi
menjadi gas Cl
2
, sedangkan KMnO
4
direduksi menjadi MnCl
2
. Reaksi ini
berlangsung spontan di mana nilai E
o
adalah positif yang terlihat pada persamaan
reaksi di bawah ini:
Reduksi : 2MnO
4
-
+ 16H
+
+ 10e
-
2Mn
2+
+ H
2
O E
o
=1,51 V
Oksidasi : 10Cl
-
5Cl
2
+ 10e
-
E
o
=-1,36 V

2MnO
4
-
+ 16H
+
+ 10Cl
-
2Mn
2+
+ 5Cl
2

+ H
2
O E
o
=0,15 V
Potensial elektrode standar (E
o
) halogen ditunjukkan dengan setengah reaksi:
X
2
(g) + 2e
-
2X
-
(aq)
2KMnO
4
+ 16HCl 2MnCl
2
+ 2KCl + 5Cl
2
+ 8H
2
O

Semua halogen mempunyai E
o
yang bernilai positif. Hal ini menunjukkan
bahwa unsur halogen merupakan osidator dan mempunyai kecenderungan daya
oksidasi semakin lemah dengan urutan:
F Cl Br I


Harga E
o
yang diperoleh dari reaksi HCl pekat dengan KMnO
4

menghasilkan nilai yang positif yang menandakan bahwa reaksi berlangsung
spontan. Suatu reaksi dapat dikatakan spontan atau tidak dapat dilihat dari kualitas
dan ketepatan gas Cl
2
yang terbentuk. Juga secara teoritis dilihat dari potensial
elektrode standar (E
o
).
F
2
+ 2e
-
2F
-
E
o
= +2,87 V
Cl
2
+ 2e
-
2Cl
-
E
o
= +1,36 V
Br
2
+ 2e
-
2Br
-
E
o
= +1,07 V
I
2
+ 2e
-
2I
-
E
o
= +0,54 V
Dari data di atas dapat diketahui bahwa F
2
merupakan oksidator kuat, dan
semakin ke bawah maka daya oksidasi semakin lemah dalam segolongan. Hal
inilah yang menyebabkan unsur halogen bagian atas dapat mendesak unsur
halogen di bawahnya tetapi tidak dapat sebaliknya, seperti:
F
2
+ 2Cl
-
2F
-
+ Cl
2

I
2
+ 2F
-
tidak ada reaksi
Dengan menurunnya daya oksidasi halogen berarti menunjukkan semakin
kuat daya reduksi halida, dengan kecenderungan daya reduksi:
I
-
> Br
-
> Cl
-
> F
-

Adapun sifat oksidator pada unsur-unsur halogen dipengaruhi oleh
keelektronegatifan yang semakin menurun dari F ke I sehingga flour memiliki
keelektronegatifan yang besar dibandingkan unsur halogen lain, yaitu Cl, Br, dan I.







Semakin Lemah

H. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa, Gas klor dapat dibuat
dengan mereaksikan HCl pekat dengan MnO
2
dan KMnO
4
dengan reaksi sebagai
berikut:
4HCl
(l)
+ MnO
2(s)
Cl
2(g)
+ MnCl
2
+ 2H
2
O
(l)

2KMnO
4
(aq) + 16HCl(aq) 2MnCl
2
(s) + 2KCl(aq) + 5Cl
2
(g) + 8H
2
O(aq)
Dapun kecenderungan daya reduksi unsur-unur golongan halogen yaitu:
I
-
> Br
-
> Cl
-
> F
-
























DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia. 1997. Kimia Unsur dan Radiokimia. Bandung: ITB.
Anonim. 2008. Halogen. (online). http://annisanfushie.wordpress.com.
Diakses tanggal 7 oktober 2013 pukul 16.13 WITA
Arianti, vivi. 2013. Uji Halogen. (online). http://vivi-arianti.blogspot.com/.
Diakses tanggal 7 Oktober 2013 Pukul 16.27 WITA
Mahdian dan Parham Saadi. 2008. Panduan Praktikum Kimia Anorganik.
Banjarmasin: FKIP UNLAM.
Sugiyarto, Kristian Handoyo. 2000. Kimia Anorganik. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta
Syukri. 1999. Kimia Dasar. ITB. Bandung