Anda di halaman 1dari 22

UJI DUO TRI O

Oleh :

Nama : Pika Apriyance
NRP : 113020094
No. Meja : 4 (Empat)
Kelompok : E
Tanggal Praktikum : 18 Maret 2014
Asisten : Nur Laila Shaumi














JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2014
I PENDAHULUAN
Bab ini membahas mengenai : (1) Latar belakang, (2) Tujuan percobaan,
(3) Prinsip Percobaan, (4) Aplikasi dalam Bidang Pangan.
1.1. Latar Belakang
Proses penginderaan mempunyai hubungan rangsangan dan kesan. Proses
penginderaan terjadi karena adanya rangsangan yang sesuai dengan reseptor alat
indera. Jadi rangsangan adalah suatu penyebab yang menggertak proses
penginderaan dan menyebabkan tanggapan dan kesan atau kesadaran
(Soekarto, 1985).
Penilaian dengan indera yang juga disebut penilaian organoleptik
atau penilaian sensorik merupakan suatu cara penilaian yang paling primitif.
Penilaian sensorik pada manusia adalah pada mulanya sebagai kegiatan seni (art)
dan tetap berkembang sebagai seni sampai merasuki dunia industri
(Soekarto, 1985).
Pengujian pembedaan digunakan untuk menetapkan apakah ada perbedaan
sifat sensorik atau organoleptik antara dua contoh. Meskipun dalam pengujian
dapat saja sejumlah contoh disajikan bersama tetapi untuk melaksanakan
perbedaan selalu ada dua contoh yang dapat dipertentangkan. Dalam hal ini
panelis diminta mengingat kembali sifat itu dan mengecamkan betul-betul
sebelum melakukan penginderaan (Soekarto, 1985).
Tipe pengujian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan sifat dua
sampel atau mendeteksi perbadaan sifat dan tingkat perbedaannya yang hanya
sedikit, misalnya untuk mendeksi perbedaan sifat-sifat hasil yang diperoleh
dari dua kondisi yang sedikit berbeda. Pengujian organoleptik mempunyai
bermacam-macam cara-cara pengujian itu dapat dibedakan dalam beberapa
kelompok, cara pengujian yang paling populer adalah kelompok pengujian
perbedaan diferensi, dan kelompok pengujian pemilihan test diference. Pengujian
perbedaan digunakan untuk menetapkan adalah ada perbadaan sifat sensorik,atau
organoleptik anatara dua contoh meskipun demikian dalam pengujian dapat saja
sejumlah contoh disajikan bersama, tetapi untuk melaksakan perbedaan selalu dua
contoh yang dipertentangkan (Soekarto, 1985).
Pengujian duo-trio ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan
dua buah sampel atau mendeteksi. Perbedaan sifat yang tingkat perbedaannya
hanya sedikit, misalnya untuk mendeteksi perbedaan sifat-sifat hasil
yang diperoleh dari dua kondisi yang sedikit berbeda. Uji duo trio merupakan
salah satu uji pembeda. Uji pembeda biasanya digunakan untuk mengetahui
ada atau tidaknya perbedaan antara sampel yang disajikan. Pada duo-trio
digunakan pembanding (Kartika, 1987).
Contoh pembanding dalam pengujian duo-trio merupakan hal yang sangat
penting dalam pegujian, terutama dalam pengujian pemilihan dan scalar. Jika
contoh pembanding diberikan, yang perlu diperhatikan bahwa yang terutama
dijadikan faktor pembanding adalah satu atau lebih sifat sensorik dari bahan
pembanding itu. Sifat kain yang tidak dijadikan faktor pembanding harus sama
dengan contoh Hal tersebut dilakukan agar semua panelis tahu sensorik apa
yang diujikan dan tidak terjadi kekeliruan atau salah paham antara pengelola
pengujian dengan panelis (Soekarto, 1985).
1.2. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan Uji Duo Trio adalah untuk menguji kemampuan
fisio-psikologis panelis khususnya kemampuan membedakan (descrimination)
dan dapat digunakan untuk memilih atau menyeleksi panelis.
1.3. Prinsip Percobaan
Prinsip percobaan Uji Duo Trio adalah berdasarkan sensitivitas dari penelis
dalam membedakan antara 2 sampel yang tingkat perbedaanya kecil.
1.4. Aplikasi dalam Bidang Pangan
Uji Duo Trio didalam industri pangan dapat digunakan salah satunya
adalah untuk reformulasi suatu produk baru. Sehingga dapat diketahui ada atau
tidaknya perbedaan antara produk lama dan baru, dan digunakan untuk menilai
pengaruh macam-macam perlakuan modifikasi atau bahan dalam pengolahan
pangan bagi industri atau untuk mengetahui adanya perbedaan atau persamaan
antara dua produk dari komoditi yang sama.























II BAHAN, ALAT, DAN METODE PERCOBAAN
Bab ini membahas mengenai : (1) Bahan - Bahan yang Digunakan,
(2) Alat-Alat yang digunakan, dan (3) Metode Percobaan.
2.1. Bahan Bahan yang Digunakan
Bahan - bahan yang digunakan dalam Uji Duo Trio adalah minuman isotonic
Pocari sweat dan Aquarius.
2.2. Alat Alat yang Digunakan
Alat-alat percobaan yang digunakan dalam penentuan Uji Duo Trio
adalah adalah gelas kecil (sloki), nampan, lap, dan sendok plastik.
2.3. Metode Percobaan
2.3.1. Deskripsi Percobaan
Pertama-tama disajikan satu contoh teh hijau yang dijadikan contoh baku
(R). Diamati warna, aroma, dan kejernihannya. Kemudian disediakan dua contoh
teh hijau dengan kode 253 dan 136. Lalu membandingkan diantara kedua contoh
yang terakhir diberikan baik warna, aroma, dan kejernihannya. Kemudian
memilih salah satu contoh yang berbeda dengan contoh baku dengan memberikan
notasi (1) untuk contoh yang berbeda dan (0) untuk contoh yang tidak berbeda.
Hasil pengujian ditulis di lembar pengamatan.
2.3.2. Analisis Perhitungan
Berdasarkan tabel Two Sample Test dengan jumlah panelis 21
didapatkan 5% dan 10% jumlah minimum yang benar dengan ketentuan :
1. Jika tanggapan yang benar minimum yang benar pada taraf
5 % dan 1 %., maka tiap- tiap perlakuan dinyatakan Tidak Berbeda Nyata.
2. Jika tanggapan yang benar minimal yang benar pada taraf
5 % dan 1 %, maka tiap-tiap perlakuan dinyatakan Sangat Berbeda Nyata.
3. Jika tanggapan yang benar minimal yang benar pada taraf 5 % tapi
minimal yang benar pada taraf 1 %, maka tiap-tiap perlakuan dinyatakan
Berbeda Nyata.










































IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan membahas mengenai : Hasil Percobaan dan pembahasan.
3.1. Hasil Percobaan dan Pembahasan
Tabel 1. Hasil Percobaan Uji Duo Trio
Panelis
Tanggapan Benar
Warna Rasa Aroma
Jumlah Panelis 11 13 13
(Sumber : Pika Apriyance, Meja 4, Kelompok E, 2014)
3.2 Pembahasan
Berdasarkan tabel hasil pengamatan didapat tanggapan yang benar
untuk warna, rasa dan aroma adalah 11, 13 dan 13, sedangkan berdasarkah hasil
tabel two sample test diperoleh minimum tanggapan yang benar pada taraf 5
% adalah 13 dan pada taraf 1% adalah 15. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
sampel 253 (Pocari sweat) dalam hal warna tidak berbeda nyata dengan sampel R
(Aquarius) sedangkan dalam hal rasa dan aroma sampel 253 berbeda nyata dengan
sampel R.
Uji duo trio adalah uji pembedaan dengan membandingkan 2 sampel dengan
sampel standar. Bedanya dengan triangle adalah pada uji ini terdapat sampel yang
dijadikan sebagai standar sedangkan pada triangle tidak ada.
Dalam pelaksanaan uji, panelis diminta untuk memilih satu di antara 2 contoh
tcrakhir yang sama dengan contoh baku atau pembanding, karena contoh yang
dinilai ada dua maka peluang secara acak adalah/2 atau 50%. Sampel disajikan
bersama tetapi untuk melaksanakan pembedaan selalu ada dua sampel yang dapat
dipertimbangkan. Uji-uji ini dipergunakan untuk menilai pengaruh macam-macam
perlakuan modifikasi proses atau bahan dalam pengolahan pangan bagi industri,
atau untuk mengetahui adanya perbedaan atau persamaan atara dua produk dari
komoditi yang sama. yang terakhir ini terutama dari segi konsumen (Soekarto,
1985).
Uji ini seperti halnya pada uji segitiga, tiap-tiap anggota panel disajikan 3
contoh, 2 contoh dan bahan yang sama dan contoh ketiga dan bahan yang lain.
Bedanya ialah bahwa salah satu dan 2 contoh yang sama itu dicicip atau dikenali
dulu dan dianggap sebagai contoh baku, Uji ini seperti halnya pada uji segitiga
atau uji triangle, tiap-tiap anggota panel disajikan tiga contoh, dua contoh dari
bahan yang sama dan contoh ketiga dari bahan yang lain. Bedanya ialah bahwa
salah satu dari dua contoh yang sama itu dicicip atau dikenali dulu dan dianggap
sebagai contoh baku, sedangkan kedua contoh lainnya kemudian. Dalam
penyuguhannya ketiga contoh itu dapat diberikan bersamaan. Atau contoh
bakunya diberikan lebih dulu baru kemudian kedua contoh yang lain disuguhkan
(Soekarto, 1985).
Dengan perbedaan uji diatas bisa diperkirakan bahwa pengujian uji duo trio
lebih mudah dibanding uji triangle. Karena dalam hal ini perbandingan hasil atau
peluang yang diperoleh dari uji duo trio adalah 1:2 atau 50% sedangkan uji
triangle hanya 1:3 atau 33%. Dan jika kita lihat dalam tabel two simple test atau
triangle test dengan jumlah panelis yang sama diperoleh bahwa jumlah panelis
dengan peluang terbanyak berada pada tabel two simple test dibandingkan dengan
hasil jumlah panelis pada tabel triangle test.
Uji duo trio digunakan untuk mendeteksi perbedaan yang kecil. Dalam
pengujian ini tiap-tiap anggota panelis disajikan tiga contoh, dua contoh dari
bahan yang sama dan contoh yang ketiga dari bahan yang lain. Bedanya ialah
bahwa salah satu dari dua contoh yang sama itu dicicipi atau dikenali dulu dan
dianggap sebagai contoh baku, sedangkan kedua contoh lainnya disajikan
kemudian. dalam penyuguhannya ketiga contoh itu dapat diberikan bersamaan.
Atau contoh bakunya diberikan terlebih dahulu baru kemudian kedua contoh yang
lain disuguhkan.
Kelemahan dari uji duo trio ini adalah uji ini hanya dapat digunakan untuk
untuk mendeteksi perbedaan yang kecil dan tidak terarah sedangkan kelebihannya
adalah menggunakan larutan standar sebelum pengujian akan membuat panelis
mengingat-ingat sifat-sifat sampel dengan serius.
Penyebab dari perbedaan yang tidak signifikan pada sampel merk futami 17
dan nu green tea karena komposisi gula atau glukosa yang tidak jauh berbeda, hal
ini dapat dibuktikan pada saat pan0elis menguji coba ada sedikit perbedaan rasa
manis pada kedua sampel.
Berdasarkan hasil pengamatan bilik 4 pengujian duo trio sulit dilakukan
disebabkan oleh kepekaan yang kurang dan panelis sudah agak lupa terhadap
sampel standar. Uji duo trio agak sulit karena panelis harus mengingat-ingat
atribut sampel standar (warna, aroma dan rasaun) untuk dilakukan pengujian.
Pengujian pembedaan digunakan untuk menetapkan apakah ada perbedaan
sifat sensorik atau organoleptik antara dua contoh. Meskipun dalam pengujian
dapat saja sejumlah contoh disajikan bersama tetapi untuk melaksanakan
pembedaan selalu ada dua contoh yang dapat dipertentangkan (Soekarto, 1985).
Uji-uji ini digunakan untuk menilai pengaruh macam-macam perlakuan
modifikasi proses atau bahan dalam pengolahan pangan bagi industri atau untuk
mengetahui adanya perbedaan atau persamaan antara dua produk dari kondisi
yang sama. Yang terakhir ini terutama dari segi ekonomi (Soekarto, 1985).
Macam-macam uji pembedaan adalah uji pasangan, uji segitiga, uji duo trio,
uji pembandingan jamak, uji rangsangan-tunggal, uji pasangan jamak dan uji
tunggal atau monadik (Soekarto, 1985).
Warna merupakan nama umum untuk semua penginderaan yang berasal
dari aktivitas retina mata. Jika cahaya mencapai retina, mekanisme syaraf mata
menanggapi, salah satunya memberi sinyal warna (DeMan 1997).
Rasa manis juga ditimbulkan oleh senyawa organik alifatik
yang mengandung gugus OH seperti alkohol beberapa asam amino, aldehid,
dan gliserol. Sumber rasa manis yang terutama adlaah gula atau sukrosa
dan monosakarida atau disakarida yang mempunyai jarak ikatan hydrogen 3-5 A.
Pemanis buatan seperti sakarin, siklamat dan dulsin, dalam konsentrasi
yang tinggi cenderung memberikan fter taster (pahit nimbrah, dan rasa lain)
(DeMan 1997).
Aroma makanan atau minuman banyak menentukan kelezatan bahan
makanan atau minuman tersebut. Dalam hal ini aroma lebih banyak sangkut-
pautnya dengan alat panca indera penghidung. Keterangan mengenai jenis aroma
yang keluar dari makanan dapat diperoleh melalui epitel olfaktori, yaitu suatu
bagian atap dinding rongga hidung di atas tulang turbinate. Manusia mampu
mendeteksi dan membedakan sekitar enam belas juta jenis aroma (bau). Meskipun
demikian indera pembau manusia masih dianggap lemah dibandingkan dengan
indera pembau hewan. Tidak seperti indera pengecap, indera pembau tidak
tergantung pada penglihatan, pendengaran, ataupun sentuhan. Bau-bauan baru
dapat dikenali bila berbentuk uap, dan molekul-molekul komponen bau tersebut
harus sempat menyentuh silia sel olfaktori, dan diteruskan ke otak dalam bentuk
impuls listrik oleh ujung-ujung syaraf olfaktori (Winarno, 1997).
Pengujian aroma atau bau relatif sangat singkat sehingga panelis harus
melakukannya dengan seksama. Memang untuk panelis yang belum beradaptasi
membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenal namun perlu diingat
bahwa pengujian yang terus berulang dapat mempengaruhi juga kepada
psikologis, misalnya rasa bosan yang dialami panelis. Pengujian bau relatif
singkat karena salah satu syarat dalam pengujian bau itu harus bersifat volatil atau
mudah menguap. Sehingga pada saat pengujian ini, panelis bisa melakukannya
dengan cermat (Soekarto, 1985).
Cara untuk penetralan aroma yaitu saat pengujian tidak terlalu dekat jarak
indera penciuman dengan sampel, sampel yang diuji tidak terlalu menyengat,
diistirahatkan sampai aroma pada indera penciuman netral. Cara penetralan warna
yaitu warna yang terdapat dalam sampel tidak terlalu mencolok
dan penerangantidak terlalu tajam diruangan. Probability level yang digunakan
yaitu 0,5 % dan 0,1 % hal ini disebabkan karena itu sudah tetapan factor
ketelitian.
Kekeliruan yang mungkin terjadi diantaranya adalah hallo effect. Hal ini
disebabkan panelis dalam waktu yang sama menilai akan beberpa karakteristik
dari suatu bahan, misalnya dari segi warna, rasa, baud an aroma. Hal ini dapat
menjadikan kekeliruan karena pengujian yang dilakukan secara bersama-sama
dalam rasa, warna, bau dan aroma akan berbeda jika dinilai satu aspek saja,
misalnya masalah warna atau aroma saja (Kartika, 1987).
Disamping itu bias saja pada saat pengujian, kekeliruan psikologis
yang terjadi adalah stimulus error. Hal ini dikarenakan pada pengujian pertama
seharusnya panelis melakukan akan rasanya, tetapi panelis terpengaruhi pada sifat
yang lainnya seperti bentuk, ukuran, dan warna serta aroma sehingga rekaman
tentang kesan yang didapatkannya tentang bagaimana rasanya itu berubah karena
panelis melihat aspek lainnya (Kartika,1987).
Faktor lain yang berpengaruh adalah sensitivitas physiologis, Untuk menjaga
sensitivitas panelis berada pada suatu tingkatan yang diharapkan, perlu dilakukan
pencegahan terhadap faktor-faktor yang dapat mencampuri fungsi indera
teruatama perasa dan pembauan (Kartika, 1987).
Pengujian terburu-terburu mungkin dialami oleh sebagian panelis sehingga
panelis kurang begitu mengenali sifat indrawi dari sampel tersebut sehingga pada
saat pembanding tersebut diambil dan diberikan dua sampel yang lainnya, panelis
merasa kedua sampel tersebut memilki karakteristik yang sama atau dengan kata
lain, panelis mengalami kesulitan dalam mengklasifikasikan sampel yang mana
yang sesuai dengan pembanding.
Sampel yang digunakan uji duo trio ini adalah minuman isotonic pocari sweat
dan aquarius , minuman isotonik adalah larutan yang memiliki kandungan garam
mineral sama dengan sel tubuh dan darah. Dengan demikian, larutan itu memiliki
tekanan yang sama dengan dinding pembuluh darah. Jadi cairan isotonic adalah
cairan yang memiliki tekanan osmosis yang sama dengan cairan yang berada
dalam sel manusia.

Gmbar 1. Pocari Sweat
Minuman Pocari Sweat mengandung elektrolit atau ion - ion. Ion - ion
tersebut antara lain :
1. Kation : Na+, K+, Ca2+, Mg3+
2. Anion : Cl-, Sitrat, Laktat.
Dari semua ion di atas, yang paling banyak kandungannya adalah Na+
sebesar mEq/L. Sedangkan komposisi keseluruhan yaitu : Air, Gula, Asam sitrat,
Natrium sitrat, Natrium klorida, Kalium klorida, Kalsium laktat, Magnesium
karbonat, Perisa sitrus

Gambar 2, Aquarius
Aquarius mengandung mineral-mineral penting untuk mengganti cairan
tubuh yang hilang terbawa keringat setelah tubuh beraktivitas. Berdasarkan
kandungan nutrisinya, Aquarius sebagai minuman isotonik mengandung garam-
garam mineral seperti natrium dan kalium. Juga zat gizi lain (karbohidrat, gula,
dan energi) yang penting dibutuhkan oleh orang-orang yang telah kehilangan
sebagian besar air dan mineral (elektrolit) setelah berkeringat akibat aktivitas fisik
berat. (Anonim, 2013).
















IV KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini membahas mengenai : (1) Kesimpulan dan (2) Saran.
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan tabel hasil pengamatan didapat tanggapan yang benar
untuk warna, rasa dan aroma adalah 11, 13 dan 13, sedangkan berdasarkah hasil
tabel two sample test diperoleh minimum tanggapan yang benar pada taraf 5
% adalah 13 dan pada taraf 1% adalah 15. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
sampel 253 (Pocari sweat) dalam hal warna tidak berbeda nyata dengan sampel R
(Aquarius) sedangkan dalam hal rasa dan aroma sampel 253 berbeda nyata dengan
sampel R.
4.2. Saran
Saran untuk praktikum ini adalah dalam melakukan percobaan ini sebaiknya
panelis lebih konsentrasi dan tidak terpengaruh dengan lingkungan yang bisa
mempengaruhi nilai rangsangan terhadap sampel yang diuji.






DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2013). Pocari Sweat. http://rajinmedia.blogspot.com/2013/03/apa-saja-
komposisi-minuman-pocari-sweat.html . Akses : 24 Maret 2014.
Anonim. (2014). Minuman Aquarius. http://radarlampung.co.id/read/metro-
bisnis/59367-aquarius-minuman-isotonik-terbaru-coca-cola- . Akses : 24
Maret 2014.
deMan, J. M. (1997). Kimia Makanan. Edisi Kedua.Institut Teknologi Bandung,
Bandung.
Kartika, B., Pudji ,H., S. Wahyu, (1987). Pedoman Uji Inderawi Bahan
Pangan. Universitas Gajah Mada,Yogyakarta.
Soekarto, T. Soewarno, (1985). Penilaian Organoleptik untuk Industri Pangan
dan Hasil Pertanian. Penerbit Bhratara Karya Aksara, Jakarta.
Winarno, F. G.. (1997). Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.













LAMPIRAN









LAMPIRAN DISKUSI MODUL
1. Jelaskan manfaat penggunaan pengujian Duo-Trio ini dalam Industri Pangan
(minimal 4 manfaat) !
2. Mengapa peluang panelis akan memberikan tanggapan dengan tepat hanya
50% ?

Jawab :
1. Manfaat penggunaan pengujian DUO-TRIO :
- Untuk reformulasi suatu produk baru. Sehingga dapat diketahui ada atau
tidaknya perbedaan antara produk lama dan baru.
- Dapat melatih sensitifitas inderawi sebagai panelis dan tentunya panelis
dapat mengetahui dan mendeteksi perbedaan sifat dari sampel yang ada.
- Untuk seleksi panelis. Calon panelis yang dapat mendeteksi perbedaan
dengan benar lebih dari 60% seluruh penyajian dapat diambil sebagai
panelis.
- Untuk menguji sampel bahan yang dijadikan standar bagi pelaku usaha.
2. Karena sampel yang digunakan hanya 2, sedangkan 1 sampel lainnya menjadi
sampel baku. Jadi kemungkinan panelis tanggapan dengan tepat hanya 50%.












FORMULIR UJI DUO TRIO
Nama Panelis : Pika Apriyance
Tanggal Pengujian : 18 Maret 2014
Nama Bahan : Minuman Isotonik
Instruksi : Pilih salah satu contoh yang berbeda dengan contoh baku
dengan memberikan notasi (1) untuk contoh yang berbeda
dan (0) untuk contoh yang tidak berbeda.

Tabel Hasil Pengamatan Uji Duo Trio
Kode
sampel
Nilai atribut mutu
Warna Rasa Aroma
253 1 1 1
136 0 0 0

Komentar : Sulit untuk membedakan sampel ini, karena sampel standar disediakan
terlebih dahulu.














TABEL HASIL PERCOBAAN DUO TRIO KELOMPOK E
Panelis
Kriteria Penilaian
Warna Rasa Aroma
253 136 253 136 253 136
1 1 0 0 1 0 0
2 0 0 1 0 1 0
3 1 0 1 0 1 0
4 1 0 1 0 1 0
5 1 0 1 0 1 0
6 0 1 1 0 0 0
7 0 1 0 1 0 1
8 1 0 1 0 1 0
9 0 0 1 0 1 0
10 1 1 1 0 1 0
11 1 0 0 1 1 1
12 1 1 1 1 1 1
13 0 0 1 0 1 0
14 1 0 1 0 1 0
15 1 0 1 0 1 0
16 1 1 1 0 1 0
17 0 1 0 1 0 1
11 5 13 5 13 4
(Sumber: Pika Apriyance, Meja 4, Kelompok E, 2014)

Berdasarkan Tabel Duo Trio
5 % jumlah minimum yang benar =16
1 % jumlah minimum yang benar = 17

Ketentuan :
1. Jika tanggapan yang benar minimum yang benar pada taraf
5 % dan 1 %., maka tiap- tiap perlakuan dinyatakan Tidak Berbeda Nyata.
2. Jika tanggapan yang benar minimal yang benar pada taraf
5 % dan 1 %, maka tiap-tiap perlakuan dinyatakan Sangat Berbeda Nyata.
3. Jika tanggapan yang benar minimal yang benar pada taraf 5 % tapi
minimal yang benar pada taraf 1 %, maka tiap-tiap perlakuan dinyatakan
Berbeda Nyata.

Kesimpulan :
Berdasarkan tabel hasil pengamatan didapat tanggapan yang benar untuk
earna, rasa, aroma dan kekentalan adalah 11, 11, 11 dan 7, sedangkan berdasarkah
hasil tabel two sample test diperoleh minimum tanggapan yang benar pada
taraf 5 % adalah 16 dan pada taraf 1% adalah 17. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa sampel teh hijau dengan kode 385 (Futami 17) tidak berbeda nyata dalam
hal warna, rasa, aroma, dan kekentalan dengan sampel 234 dan R (Nu green tea).























LAMPIRAN KUIS DAN JAWABAN