Anda di halaman 1dari 15

1

A. Pendahuluan
Perkawinan merupakan institusi yang melegalkan hubungan biologis antara
seorang laki-laki dengan seorang wanita. Perkawinan dilembagakan untuk
memberikan kebahagiaan kepada pasangan suami isteri. Sumber kebahagiaan itu
ternyata tidak semata-mata diperoleh dari materi, namun ada sumber
kebahagiaan lain yang selalu didambakan pasangan suami isteri, yaitu anak.
Keberadaan anak dalam sebuah rumah tangga menjadi idaman sehingga
tanpa kehadirannya akan menyebabkan kehidupan rumah tangga terasa kurang.
Perasaan kurang karena belum memiliki anak mungkin tidak dapat diganti
dengan harta yang berlimpah sekalipun.
Pasangan suami isteri yang belum memperoleh anak bahkan gagal
memiliki anak itu disebabkan oleh berbagai faktor. Bisa jadi isteri yang lemah
kandungannya atau mandul. Bisa juga disebabkan suami yang mandul
(spermanya tidak mampu membuahi ovum isterinya). Jadi, idealnya proses
pembuahan antara spermatozoa suami dengan ovum isterinya terjadi secara
alamiah melalui hubungan seksual (biologis). Namun karena adanya kendala-
kendala reproduksi tersebut, maka pembuahan gagal terjadi.
Kondisi tersebut akan menjadi problematika yang sulit dipecahkan jika
kehamilan hanya mengandalkan proses pembuahan secara alamiah. Atas dasar
itu maka teknologi kedokteran telah berhasil menemukan solusi dalam
mengangani problema kegagalan memperoleh anak melalui pembuahan secara
alamiah. Melalui teknologi kedokteran seorang wanita (isteri) dapat hamil
melalui proses bayi tabung atau inseminasi buatan.
Keberaadaan teknologi bayi tabung pada satu sisi memberikan
kemaslahatan kepada suami isteri yang sulit mendapatkan anak melalui proses
reproduksi alamiah, namun di sisi lain muncul masalah baru, yaitu bagaimana
legalitas hukum dari bayi tabung itu? Hal ini penting dipertimbangkan karena
anak yang lahir akan memiliki hak dan kewajiban hukum secara perdata dengan
orang yang melahirkannya. Di samping itu bagaimana kalau kandungan isteri
ternyata lemah, tidak bisa menerima transfer embrio yang terjadi melalui proses
2

bayi tabung, apakah bisa digunakan rahim rental (rahim sewaan)? Lalu
bagaimana pula hubungan anak dengan ibu yang mengandungnya melalui rahim
sewaan itu? Beberapa permasalahan tersebut akan dibahas dalam tulisan ini.

B. Pengertian Bayi Tabung
Bayi tabung atau inseminasi buatan merupakan terjemahan dari artificial
insemination. Artificial berarti buatan atau tiruan, sedangkan insemination
berasal dari bahasa Latin, inseminatus yang berarti pemasukan atau
penyampaian. Menurut makna kamus, artificial insemination berarti
pembuahan buatan.1 Inseminasi buatan dalam bahasa Arab disebut talqin al-
inai seperti tercantum dalam kitab al-Fatawa karya Mahmud Syaltut.2
Secara terminologis, inseminasi buatan adalah suatu upaya pembuahan
rahim (uterus) hewan atau manusia untuk mendapatkan keturunan tanpa melalui
proses kopulasi alamiah. Inseminasi buatan pada hewan dilakukan dengan cara
mengambil sperma (spermatozoa) pejantan dan diinjeksikan ke dalam rahim
hewan betina sejenis. Inseminasi buatan pada manusia dilakukan dengan cara
mengambil sperma laki-laki dan diinjeksikan ke dalam vagina atau rahim wanita,
baik wanita itu isteri pemilik sperma maupun bukan.3
Dengan demikian yang dimaksud dengan inseminasi buatan pada manusia
adalah pembuahan (penghamilan) buatan yang dilakukan terhadap seorang
wanita tanpa melalui cara alamiah, melainkan dengan cara memasukkan sperma
laki-laki ke dalam vagina atau rahim wanita tersebut melalui bantuan dokter.
Dengan kata lain, inseminasi buatan pada manusia adalah proses
pembuahan (penghamilan) buatan di luar rahim wanita dan atau tanpa melalui
hubungan biologis yang alamiah. Sedangkan yang dimaksud dengan bayi tabung
(tets tube baby), adalah bayi yang diperoleh (dilahirkan) melalui proses

1 M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah al-Haditsah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum
Islam (Cet. IV; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 70.
2 Mahmud Syaltut, Al-Fatawa (Cet. III; Kairo: Dar al-Qalam, [t.th.]), hlm. 325.
3 Abdul Azis Dahlan, et al. (ed.), Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3 (Cet. VI; Jakarta: PT
Ichtiar Baru van Hoeve, 2003), hlm. 727.
3

pembuahan yang dilakukan di luar rahim sehingga terjadinya embrio (zygota)
tidak secara alamiah, melainkan dengan bantuan teknologi kedokteran.4 Hal ini
terjadi baik pada hewan maupun pada manusia. Berikut ini akan dibahas tentang
bayi tabung pada manusia.

C. Proses Reproduksi Bayi Tabung
Realitas menunjukkan bahwa tidak semua pasangan suami isteri
memperoleh anak melalui proses reproduksi alamiah, padahal mereka sangat
mendambakannya. Dalam rangka mendapatkan keturunan bagi suami isteri yang
sulit mendapatkan keturunan melalui cara alamiah, para ahli medis menawarkan
cara lain, yaitu bayi tabung atau inseminasi buatan.
Menurut penulis Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 3 bahwa inseminasi
buatan pada manusia agak berbeda dengan bayi tabung. Inseminasi buatan pada
manusia dilakukan sama dengan cara inseminasi buatan pada hewan, yaitu
dengan mengambil sperma laki-laki, kemudian diinjeksikan ke dalam vagina atau
rahim wanita. Upaya ini dilakukan karena beberapa sebab, di antaranya karena
terjadinya penyumbatan saluran telur sehingga sperma sulit mencapai dan
menyatu dengan sel telur (ovum). Sedangkan bayi tabung diproses dengan cara
mengambil sperma laki-laki dan ovum wanita, kemudian mempertemukan
sperma dengan ovum dan memprosesnya dalam tabung (di luar rahim). Setelah
terjadi pembuahan (embiro), lalu embrio itu dimasukkan ke dalam rahim wanita
kembali.5 Namun kebanyakan pakar memandang bayi tabung sama dengan
inseminasi buatan.
Dengan demikian proses pembuahan- dengan metode bayi tabung antara
sel sperma suami dengan sel telur isteri, merupakan upaya medis untuk
memungkinkan bertemunya sel sperma dengan sel telur (ovum) isteri. Dalam
proses bayi tabung tersebut, sel sperma akan membuahi sel telur bukan pada
tempatnya yang alami (rahim), tetapi pembuahan terjadi di dalam tabung. Setelah

4 M. Ali Hasan, Op.Cit., hlm. 70.
5 Abdul Azis Dahlan, et al. (ed.), Op.Cit., hlm. 728-729.
4

sel telur dibuahi oleh sel sperma, lalu embrio yang terbentuk ditransfer ke dalam
rahim isteri dengan metode tertentu sehingga terjadi kehamilan secara alami di
dalam rahim.
Pada dasarnya pembuahan yang alam terjadi dalam rahim melalui cara
yang alami pula (hubungan seksual). Tetapi jika pembuahan yang alami itu sulit
terjadi, misalnya karena rusak atau tertutupnya saluran kandung telur (tuba
falopi) yang membawa sel telur ke rahim, serta tidak dapat diatasi dengan cara
membuka (mengobati)nya. Atau karena sel sperma suami lemah atau tidak dapat
menjangkau rahim isteri untuk bertemu dengan sel telur serta tidak dapat diatasi
dengan memperkuat sel sperma tersebut, atau mengupayakan sampainya sel
sperma ke rahim isteri agar bertemu dengan sel telur. Kesulitan tersebut dapat
diatasi dengan cara medis agar pembuahan antara sel sperma dengan sel telur
dapat terjadi di luar rahim.
Sperma tersebut diperiksa terlebih dahulu apakah mengandung benih yang
memenuhi persyaratan medis/tidak. Begitu juga dengan sel telur, dokter berusaha
menentukan dengan tepat saat ovulasi (bebasnya sel telur dari kandung telur)
dan memeriksa apakah ada sel telur yang masak/tidak pada saat ovulasi itu. Bila
ada sel telur yang benar-benar masak, maka sel telur itu dihisap dengan sejenis
jarum suntik melalui sayatan pada perut. Sel telur lalu diletakkan dalam suatu
tabung kimia dan agar sel telur tetap dalam keadaan hidup, sel telur itu disimpan
di laboratorium yang diberi suhu menyamai panas badan seorang wanita.6 Jadi,
proses bayi tabung membutuhkan kecermatan dan kehati-hatian dari segi medis.
Dari segi teknik, bayi tabung terbagi atas dua macam, yaitu:
1. Fertilazation in Vitro (FIV), yaitu dengan cara mengambil sperma suami
dan ovum isteri, kemudian diproses dalam vitro (tabung) dan setelah terjadi
pembuahan lalu ditransfer ke dalam rahim isteri sendiri. Ovum diambil dari
kandung telut isteri (dihisap dengan sejenis jarum suntik melalui sayatan pada
perut) tepat pada saat ovulasi (bebasnya sel telur dari kandung telur).

6 M. Ali Hasan, Op.Cit., hlm. 71.
5

Sperma diambil dari ejakuasi seorang suami setelah diketahui bahwa
sperma tersebut memenuhi syarat medis. Sel telur dan sperma itu kemudian
dimasukkan ke dalam tabung yang telah diberi suhu menyamai panas badan
seorang wanita. Kedua sel kelamin itu bercampur sehingga terjadilah fertilisasi
(pembuahan) yang menghasilkan zygota yang kemudian berkembang menjadi
morulla (embrio) dan selanjutnya ditransfer (dimasukkan) ke dalam rahim isteri.
Sehingga akhirnya isteri hamil.
2. Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT), dengan cara mengambil sel sperma
suami lalu disuntikkan ke dalam vagina atau uterus isterinya. Atau dengan cara
mengambil sel sperma dan ovum isteri. Setelah dicampur terjadilah pembuahan,
maka segera ditanam di saluran telur (tuba felopi).7
Teknik kedua ini lebih alamiah daripada teknik pertama, sebab sperma
hanya bisa membuahi ovum di tuba felopi setelah terjadi ejakuasi (pancaran
mani/sperma) melalui hubungan seksual. Dalam hal ini hasil fertilisasi
(pembuahan) antara sperma dan ovum di luar rahim langsung dimasukkan ke
dalam saluran telur isteri yang memang merupakan tempat alami sperma
membuahi ovum setelah terjadinya ejakuasi dalam hubungan seksual.

D. Aspek Hukum Bayi Tabung
Persoalan bayi tabung atau inseminasi buatan pada manusia merupakan
persoalan baru yang muncul di zaman modern, sehingga menjadi maslah fiqh
kontemporer yang pembahasannya tidak dijumpai dalam buku-buku fiqh klasik.
Karena itu pembahasan bayi tabung/inseminasi buatan pada manusia di kalangan
para ahli fiqh kontemporer lebih banyak mengacu kepada pertimbangan
kemaslahatan umat manusia, khususnya kemaslahatan suami isteri.
Di samping itu harus dikaji secara multidisipliner karena persoalan ini
hanya bisa dipahami secara komprehensif jika dikaji berdasarkan ilmu
kedokteran, biologi- khususnya genetika, dan embriologi- serta sosiologi.

7 Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah (Cet. X; Jakarta: PT Toko Gunung Agung, 1997), hlm.
20.
6

Aspek hukum penggunaan bayi tabung didasarkan kepada sumber sperma
dan ovum, serta rahim. Dalam hal ini hukum bayi tabung ada 3 macam, yaitu:
1. Bayi tabung yang dilakukan dengan sel sperma dan ovum suami isteri
sendiri serta tidak ditransfer ke dalam rahim wanita lain- walau isterinya sendiri
selain pemilik ovum (bagi suami yang berpoligami) baik dengan teknik FIV
maupun GIFT, hukumnya adalah mubah, asalkan kondisi suami isteri itu benar-
benar membutuhkan bayi tabung (inseminasi buatan) untuk memperoleh anak,
lantaran dengan cara pembuahan alami, suami isteri itu sulit memperoleh anak.8
Padahal anak merupakan suatu kebutuhan dan dambaan setiap keluarga. Di
samping itu salah satu tujuan dari perkawinan adalah untuk memperoleh anak
dan keturunan yang sah serta bersih nasabnya atau anak saleh. Apalagi anak
saleh merupakan investasi tak ternilai harganya bagi kedua orang tua sehingga
pengorbanan mereka dibalas dengan balasan pahala yang bersifat kontinyuitas
meski keduanya telah meninggal dunia. Karena itu bayi tabung merupakan suatu
hajat (kebutuhan yang sangat penting) bagi suami isteri yang gagal memperoleh
anak secara almi. Dalam hal ini kaidah fiqh menentukan bahwa:

Hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) diperlakukan seperti dalam
keadaan terpaksa (emergency) padahal keadaan darurat/terpaksa membolehkan
melakukan hal-hal yang terlarang.8
2. Bayi tabung yang dilakukan dengan menggunakan sperma dan atau
ovum dari donor, haram hukumnya karena hukumnya sama dengan zina,
sehingga anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung tersebut tidak sah dan
nasabnya hanya dihubungkan dengan ibu (yang melahirkan)nya. Termasuk juga
haram sistem bayi tabung yang menggunakan sperma mantan suami yang telah
meninggal dunia, sebab antara keduanya tidak terikat perkawinan lagi sejak
suami meninggal dunia.



8 Ibid, hlm. 21-22.
7

3. Haram hukumnya bayi tabung yang diperoleh dengan sperma dan
ovum dari suami isteri yang terikat perkawinan yang sah tetapi embrio yang
terjadi dalam proses bayi tabung ditransfer ke dalam rahim wanita lain atau buka
ibu genetik (bukan isteri atau isteri lain bagi suami yang berpoligami), haram
hukumnya. Jelasnya, bahwa bayi tabung yang menggunakan rahim rental,
adalah haram hukumnya. Ini berarti bahwa kondisi darurat tidak mentolerir
perbuatan zina atau yang bernuansa zina. Zina tetap haram walau darurat
sekalipun.
Keharaman penggunaan sperma, atau ovum donor atau rahim rental
tersebut dapat terjadi pada salah satu kemungkinan berikut ini:
a. Bayi tabung yang menggunakan sperma suami, untuk membuahi ovum
wanita lain (donor) kemudian embrionya yang terjadi dalam proses bayi
tabung ditransfer ke dalam rahim istri sendiri. Keharamannya terjadi, karena
dalam bayi tabung model itu suami telah berzina dengan wanita yang bukan
istrinya melalui jarum suntik. Istri juga telah melakukan hubungan sejenis
(lesbian) karena embrio yang ditanam dan dikembangkan dalam rahimnya
bukan hasil pembuahan sperma suami dengan ovumnya sendiri namun itu
pembuahan sperma suaminya dengan ovum wanita lain. Sperma suami +
ovum donor -- embrio ke rahim istri= haram, bukan anak sah.
b. Bayi tabung yang menggunakan sperma laki-laki lain (donor), untuk
membuahi ovum istri kemudian embrio yang terjadi dalam proses bayi
tabung ditransfer ke dalam rahim istri sendiri. Keharamannya terjadi, karena
dalam bayi tabung model itu istri telah berzina dengan laki-laki yang bukan
suaminya melalui jarum suntik. Sperma donor+ovum istri --- rahim istri =
haram, bukan anak sah.
c. Bayi tabung yang menggunakan sperma suami, untuk membuahi ovum istri
kemudian embrionya yang terjadi dalam proses bayi tabung ditransfer ke
dalam rahim wanita lain (rahim rental). Keharamannya terjadi, karena dalam
bayi tabung model itu suami telah berzina dengan wanita yang disewa
rahimnya (bukan istrinya) melalui jarum suntik. Istri juga telah melakukan
8

hubungan sejenis (lesbian) karena ovum yang telah dibuahi sperma
suaminya ditanam dan dikembangkan ke dalam rahim wanita lain. Sperma
suami + ovum istri ---- rahim rental = rahim, bukan anak sah.
d. Bayi tabung yang menggunakan sperma suami, untuk membuahi ovum
wanita lain (donor) kemudian embrionya yang terjadi dalam proses bayi
tabung ditransfer ke dalam rahim wanita lain (rahim rental). Keharamannya
terjadi, karena dalam bayi tabung model itu suami telah berzina dengan dua
orang wanita yakni pemilik ovum donor dan wanita yang disewa rahimnya
(bukan istrinya) melalui jarum suntik. Kedua wanita (pemilik ovum donor)
dan wanita pemilik rahim rental) itu juga telah melakukan hubungan sejenis
(lesbian) melalui jarum suntik. Sperma suami + ovum donor ---- rahim
rental = haram, bukan anak sah.
e. Bayi tabung yang menggunakan sperma laki-laki lain (donor), untuk
membuahi ovum istri kemudian embrio yang terjadi dalam proses bayi
tabung ditransfer ke dalam rahim wanita lain (rahim rental). Keharamannya
terjadi, karena dalam bayi tabung model itu istri telah berzina dengan laki-
laki yang bukan suaminya, dan istri juga telah melakukan hubungan sejenis
(lesbian) dengan pemilik wanita ovum melalui jarum suntik. Sperma donor +
ovum istri --- rahim rental = haram, bukan anak.
f. Bayi tabung yang menggunakan sperma laki-laki lain (donor), untuk
membuahi ovum wanita lain (donor) kemudian embrio yang terjadi dalam
proses bayi tabung ditransfer ke dalam rahim wanita lain (rahim rental).
Keharamannya terjadi, karena dalam bayi tabung model itu laki-laki pemilik
sperma donor telah berzina dengan wanita pemilik ovum donor sekaligus
dengan wanita pemilik rahim rental. Demikian juga wanita pemilik ovum
donor telah melakukan hubungan sejenis (lesbian) dengan pemilik wanita
pemilik rahim rental melalui jarum suntik. Sperma donor + ovum donor ----
rahim rental = haram, bukan anak sah.
g. Dalam kaitan ini Yusuf Qardawi mengemukakan bahwa keharaman bayi
tabung dengan menggunakan sperma yang berasal dari laki-laki lain baik
9

diketahui maupun tidak, atau sel telur yang berasal dari wanita lain, karena
akan menimbulkan problem tentang siapa sebenarnya ibu dari bayi tersebut,
apakah si pemilik sel telur yang membawa karakteristik keturunan, ataukah
wanita yang menderita dan menanggung rasa sakit karena hamil dan
melahirkannya? Begitu pula jika wanita yang mengandungnya adalah isteri
lain dari suaminya sendiri, haram karena dengan cara ini tidak diketahui
siapa sebenarnya dari kedua isteri itu yang menjadi ibu dari bayi yang akan
dilahirkan nanti. Juga kepada siapa nasab (keturunan) sang bayi disandarkan,
apakah kepada pemilik sel telur atau si pemilik rahim?
Dalam kasus ini para ahli fiqh berbeda pendapat. Pendapat pertama (yang
dipilih Yusuf Qardawi), bahwa ibu bayi itu adalah si pemilik sel telur. Sedangkan
pendapat kedua, bahwa ibunya adalah wanita yang mengandung dan
melahirkannya.11 Pendapat ini sejalan dengan zahir QS.al-Mujadilah: 2


...Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka...9
Sedangkan pendapat pertama di atas selaras dengan genetika, bahwa anak
akan mewarisi karakter (sifat-sifat) dari wanita pemilik sel telur dan laki-laki
pemilik sel sperma. Karena dalam sel telur dan sperma itu terdapat kromosom
dan di dalam kromosom itulah terdapat gen. Gen inilah yang memberikan sifat
menurun (hereditas) kepada anak. Namun janin tidak memperoleh kontak batin
dengan ibu genetiknya karena berada dan berkembang dalam rahim rental.
Sehingga dalam perkembangan kehidupan anak dikuatirkan akan menimbulkan
problem bagi anak, terutama dari sisi karakter anak.
Menurut M. Syuhudi Ismail, sewa rahim sebagai salah satu bentuk
rekayasa genetika adalah haram hukumnya. Alasannya, pada zaman jahiliah
telah dikenal empat jenis perkawinan dan hanya satu yang sesuai dengan



9 Departemen Agama R.I, Al-Quran dan Terjemahnya (Jakarta: CV Indah Press, 2002),
hlm. 908.
10

perkawinan menurut Islam. Jenis perkawinan lain adalah perkawinan bibit
unggul, poliandri sampai 9 orang suami, dan perkawinan massal (sejumlah laki-
laki mengawini sejumlah wanita). Perkawinan bibit unggul memiliki persamaan
dengan perkawinan bibit unggul yang terjadi pada zaman modern ini melalui jasa
bank sperma. Perbedaannya, perkawinan bibit unggul pada zaman jahilah
berjalan secara alamiah sedangkan sekarang ini berjalan secara ilmiah.
Di samping itu, praktek sewa rahim bertentangan dengan tujuan
perkawinan. Karena salah satu tujuan perkawinan adalah untuk mendapatkan
keturunan dengan jalan halal dan terhindar dari perbuatan yang dilarang agama,
sedangkan dalam sewa rahim akan melahirkan banyak masalah bagi anak yang
lahir, pemilik bibit, pemilik rahim dan sebagainya.10 Baik tidaknya karakter anak
ikut dipengaruhi oleh proses reproduksi yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Menurut Umar Shihab, keharaman sewa rahim disebabkan oleh (1) akan
menambah masalah lain yang akan muncul, seperti definisi anak yang akan
berbeda dengan anak yang lahir dari bibit dan rahim yang sama; dan siapakah ibu
yang sebenarnya, apakah ibu genetisnya atau ibu yang mengandungnya; (2)
dapat diqiyaskan dengan jual beli yang diharamkan, jual beli yang mengandung
najis (darah).11
Sewa rahim dapat disamakan dengan jual beli dari segi syarat dan
rukunnya. Salah satu syaratnya adalah barangnya harus halal. Barang najis
dilarang untuk diperjualbelikan dan salah satu barang najis yang diperjualbelikan
adalah darah. Memang sperma dan ovum tidak termasuk najis, namun antara
keduanya kelak berubah menjadi segumpal darah yang melekat pada dinding
rahim yang berarti kelak menjadi najis. Dalam hal ini juga terdapat hubungan
timbal balik, sebab pemilik rahim (ibu penghamil) dibayar sesuai dengan
perjanjian dengan pemilik ovum (ibu genetis), yang berarti hukum keduanya
adalah sama. Selain itu, praktek sewa menyewa rahim tidak dapat digolongkan
dalam keadaan darurat, melainkan termasuk kebutuhan (hajat). Maksudnya, sewa

10 Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi Refleksi Pemikiran
Pembaruan Prof.Dr. Muhammad Syuhudi Ismail (Cet. I; Jakarta: Renaisan, 2005), hlm. 247-248.
11 Ibid., hlm. 248.
11

rahim tidak dapat dibenarkan. Jika seseorang ingin punya anak maka harus
berusaha sedemikian rupa dengan cara yang dibenarkan agama.
Karena seseorang yang tidak punya anak, tak akan terancam salah satu
dari lima kebutuhan pokoknya. Tidak punya anak memang identik dengan
terputusnya nasab, namun jika nasab tersambung dengan cara yang mengarah
kepada zina justru mengancam eksistensi nasab itu sendiri.
Alasan-alasan haramnya bayi tabung dengan menggunakan sperma dan
atau ovum dari donor atau ditransfer ke dalam rahim wanita lain, adalah:
a. Firman Allah dalam QS. Al-Isra: 70


Sesungguhnya Kami telah memuliakan manusia...
Dalam hal ini bayi tabung dengan menggunakan sperma dan atau ovum
dari donor itu pada hakekatnya merendahkan harkat manusia sejajar dengan
hewan yang diinseminasi, padahal Tuhan sendiri berkenan memuliakan manusia.
b. Hadis Nabi saw:
(
)
Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir
menyiramkan air (sperma)nya ke dalam tanaman (vagina isteri) orang lain.
(HR Abu Daud dari Ruwaifa bin Sabit)12
Hadis ini tidak saja mengandung arti penyiraman sperma ke dalam vagina
seorang wanita melalui hubungan seksual, melainkan juga mengandung
pengertian memasukkan sperma donor melalui proses bayi tabung, yaitu
percampuran sperma dan ovum di luar rahim, yang tidak diikat perkawinan yang
sah.
Padahal hubungan biologis antara suami isteri, di samping untuk
menikmati karunia Allah dalam menyalurkan nafsu seksual, terutama
dimaksudkan untuk mendapatkan keturunan yang halal dan diredai Allah. Karena
itu sperma seorang suami hanya boleh ditumpahkan di tempat yang telah

12 Abu Daud,Sunan Abud Daud, Jilid I (Bayrut: Dar al-Fikr, 1990), hlm. 478.
12

dihalalkan Allah, yaitu isteri sendiri. Dengan demikian bayi tabung dengan cara
mencampurkan sperma dan ovum donor dari orang lain identik dengan prostitusi
terselubung yang dilarang syariat Islam.
c. Kaidah fiqh:
Menolak kerusakan harus didahulukan daripada menarik kemaslahatan.13
Dalam hal ini maslahah bayi tabung dengan menggunakan donor adalah
membantu pasangan suami isteri dalam mendapatkan anak, yang secara alamiah
kesulitan memperoleh anak, karena adanya hambatan alami menghalangi
bertemunya sel sperma dengan sel telur (misalnya saluran telurnya terlalu sempit
atau ejakulasi (pancaran sperma)nya terlalu lemah.
Namun demikian mafsadah (bahaya) bayi tabung dengan donor jauh lebih
besar dari manfaatnya, antara lain:
a. Percampuran nasab, padahal Islam sangat memelihara kesucian, kehormatan
dan kemurnian nasab, karena ada kaitannya dengan kemahraman (siapa yang
halal dan siapa yang haram dikawini) serta kewarisan;
b. Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam;
c. Statusnya sama dengan zina, karena percampuran sperma dan ovum tanpa
perkawinan yang sah;
d. Anak yang dilahirkan bisa menjadi sumber konflik dalam rumah tangga,
terutama bayi tabung dengan bantuan donor akan berbeda sifat-sifat fisik,
dan karakter/mental dengan ibu bapaknya;
e. Anak yang dilahirkan melalui bayi tabung yang percampuran nasabnya
terselubung dan dirahasiakan donornya, lebih jelek daripada anak adopsi
yang umumnya diketahui asal/nasabnya;
f. Bayi tabaung dengan menggunakan rahim rental (sewaan) akan lahir tanpa
proses kasih sayang yang alami (tidak terjalin hubungan keibuan antara anak

13 Imam Musbikin, Qawaid al-Fiqhiyah (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001),
hlm. 74.
13

dengan ibunya secara alami). Sehingga akan menimbulkan masalah di
kemudian hari.14

E. Kesimpulan
a. Bayi tabung halal hukumnya jika dilakukan terhadap pasangan suami isteri,
yaitu sel sperma dan ovum dari suami isteri sendiri dan embrionya ditransfer
ke dalam rahim isteri (pemilik ovum) sendiri.
b. Bayi tabung haram hukumnya jika menggunakan:
1. Sel sperma donor, dengan ovum istri sendiri dan embrionya ditransfer ke
rahim istri sendiri.
2. Sel sperma suami, dengan ovum donor dan embrionya ditransfer ke rahim
istri sendiri.
3. Sel sperma donor, dengan ovum donor dan embrionya ditransfer ke rahim
istri sendiri.
4. Sel sperma suami dengan ovum istri pertama dan embrionya ditransfer ke
rahim istri kedua.
5. Sel sperma suami dengan ovum istri dan embrionya ditransfer ke rahim
rental.
6. Sel sperma donor, dengan ovum istri dan embrionya ditrasfer ke rahim
rental.
7. Sel sperma suami dengan ovum donor dan embrionya ditransfer ke rahim
rental.
8. Sel sperma donor dengan ovum dan embrionya ditransfer ke rahim rental.
9. Sel sperma mantan suami yang disimpan di bank sperma dengan ovum
mantan istri yang dilakukan setelah suami meninggal atau bercerai hidup dan
embrionya ditransfer ke rahim mantan istri sendiri.
3. Bayi tabung dengan menggunakan bantuan donor lebih banyak
mudarat/kerugiannya daripada maslahat/manfaatnya.

14 Masjfuk Zuhdi, Op.Cit., hlm. 25-26
14

4. Melakukan inseminasi buatan terhadap hewan adalah halal jika
dilakukan terhadap hewan yang halal dimakan, sebaliknya menjadi haram jika
dilakukan terhadap hewan yang haram dimakan.

15

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Arifuddin. Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi Refleksi Pemikiran
Pembaruan Prof. Dr. Muhammad Syuhudi Ismail. Cet. I; Jakarta:
Renaisan, 2005.
al-Tirmizi. al-Jamial-Sahih, Juz III. Bayrut: Dar al-Fikr, [t.th.].
Dahlan, Abdul Azis, et al. (ed.). Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3. Cet. VI;
Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2003.
Departemen Agama R.I, Al-Quran dan Terjemahnya (Jakarta: CV Indah Press,
2002.
Hasan, M. Ali. Masail Fiqhiyah al-Haditsah Pada Masalah-Masalah
Kontemporer Hukum Islam. Cet. IV; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2000.
Mugniyah, Muhammad Jawad. Al-Fiqh Ala Mazahib al-Khamsah.
Diterjemahkan oleh Masykur AB, dkk dengan judul Fiqih Lima Mazhab.
Cet. XII; Jakarta: Lentera, 2005.
Musbikin, Imam. Qawaid al-Fiqhiyah. Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2001.
Qardawi, Yusuf. Hady al-Islam Fatawi Muasirah. Diterjemahkan oleh Abdul
Hayyie al-Kattami, dkk. Fatwa-Fatwa Kontemporer, Jilid 3. Cet. I; Jakarta:
Gema Insani Press, 2002.
Syaltut, Mahmud. Al-Fatawa. Cet. III; Kairo: Dar al-Qalam, [t.th.].
Zuhdi, Masjfuk. Masail Fiqhiyah. Cet. X; Jakarta: PT Toko Gunung Agung,
1997.