Anda di halaman 1dari 6

ACARA III

PEMUAIAN PANJANG


A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah
katulistiwa termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan
iklim. Perubahan iklim akan menyebabkan seluruh wilayah Indonesia
mengalami kenaikan suhu udara, dengan laju yang lebih rendah
dibanding wilayah subtropis. Itu sebabnya Indonesia memiliki iklim
yang cenderung panas. Kenaikan suhu ini dapat menyebabkan zat
mengalami pemuaian. Pemuaian adalah bertambahnya ukuran suatu
benda karena pengaruh perubahan suhu. Pemuaian dapat dialami oleh
zat padat, zat, cair dan gas. Pemuaian pada zat padat ada 3 jenis yaitu
pemuaian panjang (untuk satu demensi), pemuaian luas (dua dimensi)
dan pemuaian volume (untuk tiga dimensi). Sedangkan pada zat cair
dan zat gas hanya terjadi pemuaian volume saja.
Dari kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan beberapa
contoh dari manfaat pemuaian tersebut. Misalnya botol kaca yang
memiliki tutup logam sering kali sukar untuk dibuka. Untuk
membukanya, tutup botol dipanaskan terlebih dahulu dengan api.
Ketika dipanaskan, tutup botol logam akan memuai lebih cepat
daripada botol kaca sehingga tutup akan longgar dan mudah dibuka.
Pemanfaatan sifat pemuaian dalam bidang pertanian adalah
dalam pembuatan termostat. Termostat adalah alat yang berfungsi
ganda sebagai saklar otomatis dan sebagai pengatur suhu. Beberapa
alat yang memanfaatkan keping bimetal dalam termostat, antara lain:
almari es, bel listrik, rice cooker, oven. Dengan mempelajari sifat
pemuaian lebih dalam dapat mengetahui pemanfaatan pemuaian dalam
kehidupan sehari-hari khususnya untuk memajukan pertanian.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum acara III. Pemuaian ini adalah:
a. Menjelaskan pengaruh perubahan temperatur terhadap bahan
terutama logam tembaga dan alumunium
b. Mengukur besarnya koefisien pemuaian panjang material
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara III. Pemuaian dilaksanakan pada hari Selasa,
tanggal 18 September 2013 pada pukul 15.00-18.00 WIB bertempat di
Laboratorium Pusat, Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret
Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
Efek-efek yang lazim dari perubahan-perubahan temperatur dan
perubahan keadaan bahan-bahan. Gaya-gaya di antara atom-atom adalah
menyerupai gaya-gaya yang akan dikerahkan oleh sekumpulan pegas yang
menghubungkan atom-atom tersebut. Bila temperatur dinaikkan maka
jarak rata-rata di antara atom-atom akan bertambah, yang mengakibatkan
suatu ekspansi dari seluruh benda padat tersebut. Perubahan setiap dimensi
linear dari benda padat tersebut, seperti panjangnya, lebarnya, atas
tebalnya, dinamakan ekspansi linear (Halliday, 1996).
Pemuaian linear benda padat, ketika suatu benda padat mengalami
peningkatan temperatur T, pertambahan panjangnya L hampir
sebanding dengan panjang awalnya L
0
dikalikan dengan T. Yaitu
L = . L
0
T
dimana konstanta perbandingan disebut sebagai koefisien pemuaian linear.
Nilai tergantung pada sifat zat. Untuk berbagai keperluan, kita dapat
menganggap sebagai konstanta yang sepenuhnya bebas dari T, meskipun
hal tersebut jarang benar. Dari persamaan di atas, adalah perubahan
panjang per satuan panjang awal per derajat perubahan temperatur.
Sebagai contoh, jika kuningan sepangjang 1000.000 cm menjadi 1000.019
cm ketika temperatur dinaikkan 1,0
0
C, koefisien pemuaian linear
kuningan adalah
= 1,9 x 10
-3

o
C
-1
Pemuaian luas, jika luas A
0
memuai menjadi A
0
+ A ketika mengalami
kenaikan temperatur T, yaitu
A=A
0
T
dimana adalah koefisien pemuaian luas. Untuk zat padat isotopik (yang
memuai dengan cara yang sama ke segala arah). Pemuaian volume, jika
suatu volume V
0
memuai menjadi V
0
+ V ketika mengalami kenaikan
temperatur, maka
V=V
0
T
dimana adalah koefisien pemuaian volume. Ini dapat berupa peningkatan
atau pengurangan volume (Bueche, 1999).
Pertambahan ukuran tiap bagian suatu benda untuk suatu bahan
temperatur tertentu sebanding dengan ukuran mula- mula bagian benda itu.
Jadi, jika kita naikkan temperatur suatu penggaris baja, misalnya,
pengaruhnya akan serupa dengan oembesaran fotografis. Garis- garis yang
semula berjarak pisah sama akan tetap berjarak sama, tetapi jika jarak
pisahnya lebih besar. Bila penggaris mempunyai lubang, maka lubang
akan menjadi lebih besar, seperti yang terjadi pada pembesaran fotografis.
Satuan adalah kebalikan derajat Celcius (1/0C) atau kebalikan Kelvin
(1/K). koefisien muai linier untuk padatan atau cairan biasanya tidak
banyak berubah dengan tekanan, tetapi dapat berubah dengan temperatur.
Koefisien muai linear pada suatu temperatur tertentu T didapat dengan
mengambil limit T mendekati nol: dengan banyak hal, ketelitian yang
mencukupi didapat dengan menggunakan nilai rata-rata untuk rentang
temperatur yang lebar (Tipler, 1998).
Suhu adalah suatu atribut sistem yang menentukan apakah
sistem tersebut akan berada dalam kesetimbangan termal dengan sistem-
sistem yang lain. Ini sama dengan pengertian sehari-hari kita tentang suhu,
karena ketika tubuh yang panas dan tubuh yang dingin melakukan kontak,
tubuh berubah menjadi suhu yang sama. Kebanyakan benda memuai bila
dipanaskan dan menyusut bila didinginkan. Tetapi besarnya pemuaian dan
penyusutan bervariasi, tergantung pada materialnya (Giancoli, 1997).
Untuk mendapatkan nilai koreksi, maka perlu diketahui suhu
pengukuran, koefisien muai termal dari balok ukur acuan dan yang
dikalibrasi serta panjang nominal balok ukur. Untuk suhu pengukuranbisa
dilihat selama proses pengukuran berlangsung, begitu pula panjang
nominalnya. Tetapi untuk koefisien muai termal, kadang-kadang pabrik
pembuat balok ukur tidak mencantumkan nilainya, sehingga ada kesulitan
untuk melakukan koreksi. Padahal dengan mengetahui masing-masing
koefisien muai termal, maka akan diperoleh selisihnya yang kemudian bias
digunakaan untuk menentukan nilai koreksinya. Dalam penentuan selisih
koefisien muai termal balok ukur, panjang nominal pasangan kedua balok
ukur harus sama dan paling sedikit diukur pada dua titik suhu yang
berlainan. Sebagaimana diketahui bahwa perubahan panjang nominal,
koefisien muai termal, serta perubahan suhu yang terjadi padanya. Nilai
koefisien muai termal balok ukur tergantung dari material yang digunakan
untuk membuatnya (Anwar, 2004).
Benda memuai ketika dipanaskan dan menyusut bila
didinginkan. Besar pemuaian atau pengkerutan berbeda bergantung pada
kisaran suhu tinjauan, dan jenis materi (Kane dan Sternheim, 1997).
Pemuaian itu berprosentase kecil dibanding dimensi bendanya. Namun
gaya yang diberikan terlalu besar, sehingga tidak bisa dilawan dan bisanya
hanya dihindari. Ini menyebabkan efek pemuaian benda menempati peran
penting dan selalu diperhitungkan keberadaannya (Irwan, 2004).
Koefisien linier dari sebuah objek didefinisikan sebagai
perubahan panjang suatu objek karena adanya kenaikan temperatur 1
0
C.
Efek-efek yang biasa terjadi akibat perubahan temperatur adalah
perubahan ukuran dan perubahan keadaan bahan. Perubahan dimensi linier
dari suatu objek, seperti panjang, lebar, atau tebalnya karena adanya
kenaikan temperatur 1
0
C dinamakan koefisien ekspansi termal linier atau
koefisien ekspansi linier (Astuti, 2009).
Koefisien ekspansi termal dari bahan komposit dikenal
memainkan peran kunci di daerah penerapannya. Pengaruh perilaku
ekspansi termal itu menunjukkan bahwa dari eksperimen koefisien
ekspansi termal tidak mematuhi hukum campuran. Koefisien ekspansi
termal diukur dengan menggunakan metroscope, membaca ekspansi akhir
diambil menggunakan metroscope dan perbedaan dalam ekspansi dihitung.
Untuk koefisien ekspansi termal dapat diperoleh dengan menerapkan teori
klasik elastisitas kepada perwakilan elemen volume yang sifat mekanik
sama dengan sifat rata-rata gabungan (Jagannath, 2012).
Ekspansi termal merupakan aspek fundamental dari EOS.
Berbagai parameter telah diperkenalkan untuk ekspansi termal
karakteristik di bawah tekanan tinggi. Ekspansi termal jatuh ke dalam dua
kategori umum, satu fokus pada termodinamika makroskopik dan
turunannya, yang lainnya didasarkan pada teori getaran kisi dan melihat
mikroskopis padat (Chen, 2007).


C. Alat, Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
a. Satu set peralatan muai panjang model Pasco TD-8558
b. Termometer
c. Ketel air
d. Kompor listrik
e. Mistar
f. Jangka sorong
2. Bahan
a. Air
b. Logam alumunium
c. Logam tembaga
3. Cara kerja

Gambar 3.1 Peralatan Pemuaian Panjang
a. Memasang semua peralatan dengan memastikan logam uji terjepit
dengan kuat.
b. Mengukur panjang logam mula-mula L
0
.
c. Meletakkan skala pertambahan panjang pada klem penyiku,
memastikan skala pertambahan panjang dapat berputar dengan
bebas dan menentukan titik nol pengukuran.
d. Mengisi ketel dengan air lalu menghidupkan pemanas. Menunggu
sampai terjadi uap air panas. Mengatur agar uap air panas ini dapat
mengalir dengan baik di dalam logam.
e. Mencatat temperatur batang logam secara teratur, misalkan tiap 2
menit dan membaca pertambahan panjang L. Mengisikan data
pengamatan. Mematikan pemanas jika temperatur batang logam
sudah maksimum tidak mau bertambah.
f. Mengukur perubahan panjang pada setiap penurunan temperatur.
Mengisikan data pengamatan secara berkala.
g. Membuat grafik hubungan antara pertambahan panjang L sebagai
fungsi dari perubahan temperatur T.
h. Mengukur kemiringan grafik dan menghitung koefisian muai
panjang .