Anda di halaman 1dari 8

ARTIKEL EKOLOGI MAKROALGA Gracilaria sp

ARTIKEL EKOLOGI MAKROALGA Gracilaria sp Oleh : Hendri lahagu 26020113140118 PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JURUSAN ILMU

Oleh :

Hendri lahagu

26020113140118

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

2014

EKOLOGI MAKROALGA Gracilaria Sp Oleh hendri lahagu

ABSTRAK Gracilaria sp termasuk tumbuhan alga merah (Rhodophyceae) karena berwarna merah sampai ungu, kadang-kadang juga lembayung atau pirang kemerah-merahan. Gracilaria sp disebut makroalga karena merupakan tumbuhan tidak berpembuluh yang tumbuh melekat pada substrat di dasaran laut. Tumbuhan tersebut tidak memiliki akar, batang, daun, bunga, buah dan biji sejati. Pertumbuhan gracilaria sp umumnya akan lebih baik di tempat dangkal dari pada di tempat dalam. Substrat tempat melekatnya dapat berupa batu pasir, lumpur dan lain-lain. Suhu merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Suhu optimum untuk pertumbuhan adalah antara 20 -28 0 C, tumbuh pada kisaran salinitas garam yang tinggi dan tahan pada kadar garam 50 permil. Dalam keadaan basah dapat bertahan hidup diatas permukaan air selama satu hari. Selain suhu dan salinitas, gracilaria sp juga memiliki syarat ekologis lainnya yang berupa cahaya, derajad keasaman (pH), tingkat kecerahan, serta gerakan air yang meliputi : arus, pasang surut dan gelombang.

PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dan luas laut sekitar 3,1 juta km 2 (dahuri,2004). Salah satu kekayaan Indonesia yaitu rumput laut. Rumput laut atau sea weeds sangat populer dalam dunia perdagangan. Dalam dunia ilmu pengetahuan rumput laut dikenal sebagai Algae. Rumput laut memang telah lama dikenal dan dimanfaatkan, tetapi publikasinya baru dimulai pada abad ke-17 oleh Jepang dan Cina. Pemanfaatan rumput laut di Indonesia tidak jelas diketahui kapan pertama mulai dimanfaatkan, tetapi pada tahun 1292, rumput laut telah dimanfaatkan sebagai sayuran ketika masa pendudukan Portugis dan sebelum PD II Indonesia telah mengekspor rumput laut ke Amerika, Denmark dan Prancis. Rumput laut yang diekspor adalah dari jenis Gracilaria sp. Namun, hingga kini rumput laut yang banyak diminta adalah jenis Eucheuma sp., Gracilaria sp., dan Gelidium sp . Sebagaimana daratan, lautan juga didominasi oleh gunung, lereng, lembah, dataran dan pegunungan. Lautan di bumi merupakan satu kesatuan dan saling berhubungan. Walaupun demikian, suhu, salinitas dan kedalamannya berbeda-beda sehingga menjadi faktor pembatas bagi penyebaran Gracilaria sp di lautan. Sebagai akibat perbedaan suhu dan salinitas, air laut terbagi menjadi massa air permukaan dan massa air dalam. Massa air

permukaan selalu bergerak akibat kekuatan angin yang bertiup melintasi permukaan air. Gerakan yang terjadi menimbulkan ombak dan arus. Air laut adalah air murni yang di dalamnya terlarut berbagai zat padat dan gas. Dalam 1000 gram air laut terdapat kurang lebih 35 gram senyawa garam terlarut. Zat terlarut meliputi garam-garam anorganik, senyawa organik yang berasal dari organisme hidup dan gas terlarut

PEMBAHASAN Klasifikasi Gracilaria sp Gracilaria sp. merupakan tumbuhan makroalga yang kebanyaan hidup dilaut dangkal. Gracilaria sp memiliki ciri umum empunyai bentuk thallus silindris atau gepeng dengan percabangan mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit dan rimbun, di atas percabangan umumnya bentuk thalli (kerangka tubuh tanaman) agak mengecil, permukaannya halus atau berbintil-bintil, diameter thallus berkisar antara 0,5 2 mm. Panjang dapat mencapai 30 cm atau lebih dan Glacilaria tumbuh di rataan terumbu karang dengan air jernih dan arus cukup dengan salinitas ideal berkisar 20-28 per mil (Anggadiredja et al. 2006)

ideal berkisar 20-28 per mil (Anggadiredja et al. 2006) Gambar 1. Gracilaia sp Menurut Anggadiredja,.dkk (2006)

Gambar 1. Gracilaia sp

Menurut Anggadiredja,.dkk (2006) klasifikasi Gracilaria adalah sebagai berikut :

Divisio : Rhodophyta Kelas : Rhodophyceae Bangsa : Gigartinales

Suku

: Gracilariaceae

Marga :Gracilaria Jenis : Gracilaria sp

Menurut Aslan (1993) Gracilaria sp memiliki ciri sebagai berikut:

Thalli berbentuk silindris / gepeng dengan percabangan, mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit dan rimbun. Diatas percabangan umumnya bentuk thalli agak mengecil. Perbedaan bentuk, struktur dan asal usul pembentukan organ reproduksi sangat penting dalam perbedaan tiap spesies Warna thalli beragam, mulai dari warna hijau-cokelat, merah, pirang, merah-cokelat, dan sebagainya. Substansi thalli menyerupai gel atau lunak seperti tulang rawan.

Ekologi gracilaria sp Syarat-syarat ekologis untuk pertumbuhan rumput laut meliputi dua karakteristik yaitu karakteristik fisika-kimia dan karakteristik biologis. Yang termasuk karakteristik fisika-kimia adalah sebagai berikut.

1. Salinitas

Salinitas untuk pertumbuhan rumput laut berkisar antara 30 35 permil atau bisa lebih, bergantung pada jenis rumput lautnya. Misalnya Gracylaria verrucosa kebanyakan infertil pada daerah yang bersalinitas tinggi (30 35 permil). Gracilaria yang berasal dari Atlantik dan Pasifik timur dapat tumbuh pada salinitas dengan kisaran 15 38 permil, dan mengalami pertumbuhan maksimum pada salinitias optimum 25 permil, yang ditunjang kadar nitrogen dan fosfat yang rendah dan berhubungan langsung dengan pasang surut dan curah hujan (Aslan, 1993).

2. Zat Hara

Kadar nitrat dan fosfat mempengaruhi stadia reproduksi alga bila zat hara tersebut melimpah diperairan. Kadar nitrat dan fosfat di perairan akan mempengaruhi kesuburan gametofit alga cokelat.

3. Gerakan Air

Gerakan-gerakan air laut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti angin yang menghembus diatas permukaan laut. Pengadukan yang terjadi karena perbedaan suhu air dari dua lapisan, perbedaan tinggi permukaan laut, pasang surut, dan lain-lain. Gerakan air laut ini penting bagi berbagai proses dalam laut, baik itu biologik maupun non biologik. Alga yang

tumbuh diperairan yang selalu berombak dan berarus kuat akan mempunyai sifat dan karakteristik spora yang berbeda dengan alga yang berada di perairan yang tenang. Gerakan air laut dikenal sebagai arus, gelombang, gerakan masa air permukaan (upwelling) (Romimohtarto dan Juwana, 2001).

a. Arus

Arus laut merupakan pencerminan langsung dari pola angin dan gerakan bumi. Jadi

arus permukaan digerakkan oleh angin. Kecepatan arus yang dianggap cukup untuk budidaya rumput laut sekitar 20 40 cm/detik. Dengan kondisi seperti ini akan

mempermudah penggantian dan penyerapan hara yang diperlukan oleh tanaman, tetapi tidak sampai merusak tanaman (Romimohtarto dan Juwana, 2001). b. Pasang Surut Pasang surut (pasut) merupakan salah satu gejala laut yang besar pengaruhnya terhadap biota laut khususnya di wilayah pantai. Pada saat suhu terendah, kedalaman perairan tidak boleh kurang dari 2 kaki (sekitar 60 cm), sedangkan untuk pasang tertinggi kedalaman perairan tidak boleh lebih dari 7 kaki (sekitar 210 cm) (Aslan,

1993).

c. Gelombang

Gelombang sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin diatas permukaan laut dan sebagian lagi oleh tekanan tangensial pada partikel air. Angin yang bertiup dipermukaan laut menimbulkan riak gelombang. Tinggi gelombang yang cukup untuk pertumbuahan rumput laut antara 10 30 cm (Aslan,1993).

4. Suhu

Aslan (1998) menyatakan bahwa suhu air yang diperlukan oleh rumput laut untuk hidup dan tumbuh yaitu berkisar antara 20 280C, namun masih ditemukan rumput laut yang tumbuh pada suhu 310C. Produksi spora akan dipengaruhi oleh musim, misalnya produksi maksimal tetraspora dan karpospora Gracilaria umumnya terdapat dimusim panas. Perkembangan stadia reproduksi beberapa jenis alga tergantung pada kondisi suhu dan intensitas cahaya atau kombinasi diantara kedua parameter tersebut.

5. Cahaya

Rumput laut memerlukan cahaya matahari untuk proses fotosintesisnya. Karena itu, rumput laut hanya mungkin tumbuh diperairan dengan kedalaman tertentu dimana sinar matahari sampai ke dasar perairan. Mutu dan kualitas cahaya berpengaruh terhadap produksi

spora dan pertumbuhannya. Spora Gelidium dapat dirangsang oleh cahaya hijau, sedangkan cahaya biru menghambat pembentukan zoospora. Pembentukan spora dan pembalahan sel dapat dirangsang oleh cahaya merah berintensitas tinggi. Intensitas cahaya yang tinggi dapat merangsang pensporaan Prophyra, tetapi menghambat pensporaan Eucheuma. Kebutuhan cahaya pada alga merah agak rendah dibanding alga cokelat. Pensporaan Gracilaria verrucosa misalnya berkembang baik pada intensitas cahaya 400 Lux, sedangkan Ectocarpus tumbuh cepat pada intensitas cahaya antara 6500 7500 Lux (Aslan, 1993).

6. Derajat Keasaman (pH) Derajat Keasaman (pH) air yang cocok untuk pertumbuhan rumput laut yaitu antara pH

netral (7) sampai basa (9) (Aslan,1993)

7. Tingkat Kecerahan

Kondisi perairan pantai tempat tumbuh rumput laut tidak boleh keruh, karena apabila kondisi perairannya keruh maka akan dapat menghalangi proses fotosintesis dari rumput laut. Air harus jernih sehingga tidak menghalangi sinar matahari menembus air laut. Kejernihan

air kira-kira sampai batas 5 meter atau batas sinar matahari bisa menembus air laut

(Aslan,1993).

Adapun Yang termasuk aspek biologi dalam budidaya Gracilaria sp adalah sebagai berikut:

1. Perdator (Hewan Pemangsa)

Hewan laut seperti molusca dan ikan dapat mempengaruhi pensporaan alga. Hewan molusca dapat memakan spora dan menghambat pertumbuhan stadia muda alga, sedangkan hewan herbivora memakan alga sehingga merusak thalli dan akan mengurangi jumlah spora yang dihasilkan oleh alga. Faktor biologi utama yang menjadi pembatas produktivitas rumput laut yaitu faktor persaingan dan pemangsa dan hewan herbivora. Selain itu dapat juga dihambat oleh faktor morbiditas dan mortilitas rumput laut itu sendiri. Morbiditas dapat disebabkan oleh penyakit akibat dari infeksi mikroorganisme, tekanan lingkungan perairan (fisik dan kimia perairan) yang buruk, serta tumbuhnya tanaman penempel (parasit). Sementara mortalitas dapat disebabkan oleh pemangsa yaitu hewan-hewan herbivor (Aslan,

1993).

2.

Rumput Laut Alami

Adanya jenis-jenis lokal merupakan petunjuk bahwa lokasi perairan tersebut dapat dijadikan areal budidaya yang cocok untuk jenis lokal dan sekaligus dapat digunakan sebagai bahan cadangan sediaan bibit, sehingga tidak perlu mendatangkan bibit dari luar, sehingga

biaya operasional dapat ditekan (Aslan, 1993).

3. Dasar Perairan

Tipe dan sifat substratum atau dasar perairan dapat menjadi indikator tentang keadaan oseanografi setempat yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kemudahan dalam pembangunan konstruksi budidaya yang digunakan. Daerah perairan berkarang sangat terbuka bagi pengaruh ombak, sehingga tidak tepat untuk dipilih sebagai lokasi budidaya rumput laut, karena selain yang diusahakan terancam, juga konstruksi budidaya akan mudah rusak dan akan banyak ditemukan kesulitan dalam pemasangan instalasi budidaya (Hidayat dkk, 1994 dan Aslan, 1993).

KESIMPULAN Gracilaria sp. merupakan tumbuhan makroalga yang kebanyaan hidup dilaut dangkal. Gracilaria sp memiliki ciri umum empunyai bentuk thallus silindris atau gepeng dengan percabangan mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit dan rimbun, di atas percabangan umumnya bentuk thalli (kerangka tubuh tanaman) agak mengecil, permukaannya halus atau berbintil-bintil, diameter thallus berkisar antara 0,5 2 mm. Panjang dapat mencapai 30 cm atau lebih dan Glacilaria tumbuh di rataan terumbu karang dengan air jernih dan arus cukup dengan salinitas ideal berkisar 20-28 per mil. Gracilaria sp sendiri mempunyai syarat hidup disuatu perairan yang berupa suhu, salinitas, pH (derajad keasaman), zat hara, cahaya dan tingkat kecerahan. Suhu optimum gracilaria sp berkisar pada 20 -28 0 C, pH berkisar antara 7 sampai 9, batas kejernian air kira-kira sampai batas 5 meter sinar matahari dapat menembus air laut, serta mempunyai kadar nitrat dan fosfat yang cukup buat Gracilaria sp untuk tetap hidup.

Dahuri,

R. 2004.

DAFTAR PUSTAKA

Pengelolaan

Sumberdaya

Wilayah

Pesisir

dan

Lautan

Secara

Terpadu, Edisi Revisi. Pradnya Paramita. Jakarta

Anggadiredja, T. Dkk. (2006). Rumput Laut. Jakarta : Penerbit Penebar

Aslan dan Loade. 1993. Budidaya Rumput. Laut. Kanisius. Yogyakarta.

Romimohtarto,K dan Juwana,Sri.2001. Biologi Laut : Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Jakarta : Djambatan.