Anda di halaman 1dari 16

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rectal di atas 38
0
C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.
1,2
Nilai ambang kejang antara suhu (38,8 - 41,4)
0
C. Biasanya terjadi pada anak
berusia 6 bulan sampai dengan 5 tahun). Anak yang pernah mengalami kejang
tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang
demam. Kejang disertai demam pada bayi berusia kurang dari 1 bulan tidak
termasuk dalam kejang demam. Bila anak berusia kurang dari 6 bulan atau lebih
dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, perlu dipikirkan kemungkinan
lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.
2,3


B. Epidemiologi
Pendapat para ahli tentang usia penderita saat terjadi bangkitan kejang
demam tidak sama. Pendapat para ahli terbanyak kejang demam terjadi pada
waktu anak berusia antara 3 bulan sampai dengan 5 tahun. Menurut The American
Academy of Pediatrics (AAP) usia termuda bangkitan kejang demam 6 bulan.
4,5
Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf tersering pada anak. Berkisar
2%-5% anak di bawah 5 tahun pernah mengalami bangkitan kejang demam. Lebih
dari 90% penderita kejang demam terjadi pada anak berusia di bawah 5 tahun.
Terbanyak bangkitan kejang demam terjadi pada anak berusia antara usia 6 bulan
sampai dengan 22 bulan.
2,6
Insiden bangkitan kejang demam tertinggi terjadi pada
usia 18 bulan.
3
Di berbagai negara insiden dan prevalensi kejang demam berbeda. Di
Amerika Serikat dan Eropa prevalensi kejang demam berkisar 2-5%. Di Asia
prevalensi kejang demam meningkat dua kali lipat bila dibandingkan di Eropa dan
di Amerika. Di Jepang kejadian kejang demam berkisar 8,3% - 9,9% 33 Bahkan
di Kepulauan Mariana (Guam), telah dilaporkan insidensi kejang demam yang
lebih besar, rnencapai 14%. Prognosis kejang demam baik, kejang demam bersifat
benigna. Angka kernatian hanya 0,64 % - 0,75 %. Sebagian besar penderita

kejang demam sembuh sempurna, sebagian kecil berkembang menjadi epilepsi
sebanyak 2-7%. Empat persen penderita kejang demam secara bermakna
mengalami gangguan tingkah laku dan penurunan tingkat intelegensi.
2,4,6

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kejang demam lebih sering
terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan dengan perbandingan
sekitar 1,4 : 1 dan 1,2 : 1.
2,6
Kejang demam umumnya dijumpai pada masa bayi
dan anak. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kurangnya tingkat kematangan
dalam bidang anatomi, fisiologi, dan biokimiawi otak. Usia saat kejang demam
pertama sebanyak 83.6% adalah pada kisaran usia 1 bulan sampai 2 tahun.
Adapun penyebab demam pada kejang demam yang paling sering adalah infeksi
saluran napas atas (ISPA) terutama faringitis dan tonsilitis yaitu sekitar 54%.
2


C. Klasifikasi
1. Kejang Demam Sederhana
Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan
umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau
klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam.
7-8

Kejang demam sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam.
7

Suhu tinggi merupakan keharusan pada kejang demam sederhana, kejang
timbul bukan oleh infeksi sendiri, akan tetapi oleh kenaikan suhu yang tinggi
akibat infeksi di tempat lain, misalnya pada radang telinga tengah yang akut,
dan sebagainya. Bila dalam riwayat penderita pada umur-umur sebelumnya
terdapat periode-periode dimana anak menderita suhu yang sangat tinggi akan
tetapi tidak mengalami kejang; maka pada kejang yang terjadi kemudian harus
berhati-hati, mungkin kejang yang ini ada penyebabnya.
9


2. Kejang Demam Kompleks
Kejang dengan salah satu ciri berikut:
Kejang lama, lebih dari 15 menit
Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial

Berulang atau lebih dari satu kali dalam 24 jam
7-8
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau
kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak
sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam. Kejang fokal adalah
kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului kejang parsial.
Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, diantara 2
bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% diantara anak
yang mengalami kejang demam.
7


D. Etiologi
Peranan infeksi pada sebagian terbesar kejang demam adalah tidak spesifik
dan timbulnya serangan terutama didasarkan atas reaksi demam yang terjadi. Ada
beberapa faktor yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang demam,
misalnya:
a. Demam itu sendiri
b. Efek produk toksik daripada mikroorganisme (kuman dan virus) terhadap
otak
c. Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi
d. Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit
e. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan yang tidak
diketahui atau ensefalopati toksik sepintas
f. Gabungan semua faktor tersebut di atas
Infeksi viral paling sering ditemukan pada kejang demam. Hal ini mungkin
disebabkan karena infeksi viral memang lebih sering menyerang pada anak, dan
mungkin bukan merupakan sesuatu hal yang khusus. Demam yang disebabkan
oleh imunisasi juga dapat memprovokasi kejang demam. Anak yang mengalami
kejang setelah imunisasi selalu terjadi waktu anak sedang demam. Kejang setelah
imunisasi terutama didapatkan setelah imunisasi pertusis (DPT) dan morbili
(campak).
10

Millichap, di Amerika Serikat mendapatkan bahwa pada 144 episode
kejang demam pada 110 anak, penyebab demamnya adalah tonsilitis atau

faringitis akut 54%, otitis media akut 17%, morbili 7%, bronkitis atau pneumonia
akut 6%, gastroenteritis 3%, varisela 2%, roseola infantum 1,5%, mumps
(gondongan) 1,5%, rubela 0,5%, herpangina 0,5% dan tidak diketahui 7%.
10


E. Faktor Risiko
Kejang pertama terbanyak terjadi antara usia 17-23 bulan, dimana anak
laki-laki lebih sering mengalami kejang demam. Bila kejang demam sederhana
yang pertama terjadi pada usia kurang dari 12 bulan, maka resiko kejang demam
kedua 50%. Dan bila kejang demam sederhana pertama terjadi pada usia 12 bulan/
lebih, maka resiko kejang demam kedua menjadi 30%. Setelah kejang demam
pertama, 2-4% anak akan berkembang menjadi epilepsi dan ini 4 kali resikonya
dibanding dengan populasi umum.
3
Lennox dkk berpendapat bahwa 41,2% anggota keluarga penderita
mempunyai riwayat kejang sedangkan pada anak normal hanya 3%.
5
Tsubol dkk
mendapatkan bahwa insidens Kejang demam pada orang tua penderita kejang
demam adalah 17% dan pada saudara kandung 22%, sedangkan Annegers dkk
berpendapat bahwa risiko saudara kandung menderita kejang demam adalah 2-3
kali lipat lebih besar dari populasi umum.
2,12

Sebuah penelitian dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang tentang faktor
risiko bangkitan kejang demam pada anak pada Januari 2008- Maret 2009.
Hasilnya adalah faktor tinggi demam, usia kurang dari dua tahun, dan riwayat
kejang dalam keluarga merupakan faktor risiko terjadinya bangkitan kejang
demam pada anak. Anak dengan demam lebih besar dari 39
0
C memiliki risiko 10
kali lebih besar untuk menderita bangkitan kejang demam dibanding dengan anak
yang demam kurang 39
0
C. Anak usia kurang dari dua tahun mempunyai risiko 8,9
kali lebih besar dibanding anak yang lebih dari dua tahun. Selain itu, anak dengan
riwayat kejang dalam keluarga terdekat ( first degree relative ) mempunyai risiko
untuk menderita bangkitan kejang demam 4,5 kali lebih besar dibanding yang
tidak.
12




F. Patofisiologi
Kejang merupakan manifestasi klinik akibat terjadinya pelepasan muatan
listrik yang berlebihan di sel neuron otak karena gangguan fungsi pada neuron
tersebut baik berupa fisiologi, biokimiawi, maupun anatomi.Sel syaraf, seperti
juga sel hidup umumnya, mempunyai potensial membran.Potensial membran
yaitu selisih potensial antara intrasel dan ekstrasel.Potensial intrasel lebih negatif
dibandingkan ekstrasel. Dalam keadaan istirahat potensial membran berkisar
antara 30-100 mV, selisih potensial membran ini akan tetap sama selama sel tidak
mendapatkan rangsangan.
13

Mekanisme terjadinya kejang ada beberapa teori yaitu :
a. Gangguan pembentukan ATP dengan akibat kegagalan pompa Na-K, misalnya
pada hipoksemia, iskemia, dan hipoglikemia. Sedangkan pada kejang sendiri
dapat terjadi pengurangan ATP dan terjadi hipoksemia.
b. Perubahan permeabilitas sel syaraf, misalnya hipokalsemia dan
hipomagnesemia.
c. Perubahan relatif neurotransmiter yang bersifat eksitasi dibandingkan dengan
neurotransmiter inhibisi dapat menyebabkan depolarisasi yang berlebihan.
Misalnya ketidakseimbangan antara GABA atau glutamat akan menimbulkan
kejang.
Patofisiologi kejang demam secara pasti belum diketahui, diperkirakan
bahwa pada keadaan demam terjadi peningkatan reaksi kimia tubuh. Dengan
demikian reaksi-reaksi oksidasi terjadi lebih cepat dan akibatnya oksigen akan
lebih cepat habis, terjadilah keadaan hipoksia. Transport aktif yang memerlukan
ATP terganggu, sehingga Na intrasel dan K ekstrasel meningkat yang akan
menyebabkan potensial membran cenderung turun atau kepekaan sel saraf
meningkat.
13

Saat kejang demam akan timbul kenaikan konsumsi energi di otak,
jantung, otot, dan terjadi gangguan pusat pengatur suhu. Demam akan
menyebabkan kejang bertambah lama, sehingga kerusakan otak makin bertambah.
Pada kejang yang lama akan terjadi perubahan sistemik berupa hipotensi arterial,

hiperpireksia sekunder akibat aktifitas motorik dan hiperglikemia. Semua hal ini
akan mengakibatkan iskemi neuron karena kegagalan metabolisme di otak.
13

Demam dapat menimbulkan kejang melalui mekanisme sebagai berikut
a. Demam dapat menurunkan nilai ambang kejang pada sel-sel yang belum
matang/immatur.
b. Timbul dehidrasi sehingga terjadi gangguan elektrolit yang menyebabkan
gangguan permiabilitas membran sel.
c. Metabolisme basal meningkat, sehingga terjadi timbunan asam laktat dan CO2
yang akan merusak neuron. Demam meningkatkan Cerebral Blood Flow
(CBF) serta meningkatkan kebutuhan oksigen dan glukosa, sehingga
menyebabkan gangguan aliran ion-ion keluar masuk sel.
13















Gambar 1. Patofisiologi Kejang Demam.

G. Diagnosis
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan
dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh proses
infeksi di luar susunan saraf pusat. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam

pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dan dengan sifat bangkitan dapat
berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang
berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk
sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar
kembali tanpa adanya kelainan saraf.
14

Anamnesa adalah cara pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara
baik langsung pada pasien (autoanamnesis) atau kepada orang tua atau sumber
lain (aloanamnesis) misalnya wali atau pengantar. Anamnesa khususnya pada
penyakit anak dapat digali data data yang berhubungan dengan kejang demam
meliputi:
1. Identitas nama, umur, jenis kelamin, nama orang tua, alamat, umur
penndidikan dan pekerjaan orang tua, agama dan suku bangsa. Sebagaimana
disebutkan sebelumnya, epidemiologi kejang demam lebih banyak terjadi pada
anak laki-laki pada usia 6 bulan sampai dengan 5 tahun.
2. Riwayat penyakit perlu ditanyakan keluhan utama dan riwayat perjalanan
penyakit. Keluhan utama adalah keluhan atau gejala yang menyebabkan
pasien dibawa berobat. Pada riwayat perjalanan penyakit disusun cerita yang
kronologis, terinci, dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak
sebelum ada keluhan sampai anak dibawa berobat. Bila pasien mendapat
pengobatan sebelumnya, perlu ditanyakan kapan berobat, kepada siapa, obat
yang sudah diberikan, hasil dari pengobatan tersebut, dan riwayat adanya
reaksi alergi terhadap obat (Iskandar W dkk, 1991). Pada kasus kejang
demam, perlu digali informasi mengenai demam dan kejang itu sendiri. Pada
setiap keluhan demam perlu ditanyakan berapa lama demam berlangsung;
karakteristik demam apakah timbul mendadak, remitten, intermitten, kontinou,
apakah terutama saat malam hari, dsb. Hal lain yang menyertai demam juga
perlu ditanyakan misalnya menggigil, kejang, kesadaran menurun, merancau,
mengigau, mencret, muntah, sesak nafas, adanya manifestasi perdarahan, dan
sebagainya. Demam didapatkan pada penyakit infeksi dan non infeksi. Dari
anamnesa diharapkan kita bisa mengarahkan kecurigaan terhadap penyebab
demam itu sendiri. Pada anamnesa kejang perlu digali informasi mengenai

kapan kejang terjadi; apakah didahului adanya demam, berapa jarak antara
demam dengan onset kejang; apakah kejang ini baru pertama kalinya atau
sudah pernah sebelumnya (bila sudah pernah berapa kali (frekuensi per tahun),
saat anak umur berapa mulai muncul kejang pertama); apakah terjadi kejang
ulangan dalam 24 jam, berapa lama waktu sekali kejang. Tipe kejang harus
ditanyakan secara teliti apakah kejang bersifat klonik, tonik, umum, atau
fokal. Ditanyakan pula lamanya serangan kejang, interval antara dua serangan,
kesadaran pada saat kejang dan setelah kejang. Gejala lain yang menyertai
juga penting termasuk panas, muntah, adanya kelumpuhan, penurunan
kesadaran, dan apakah ada kemunduran kepandaian anak. Kepentingannya
adalh untuk mengkalsifikasikan kejang demam apakah merupakan kejang
demam sederhana atau kejang demam kompleks.
3. Perlu ditanyakan kesehatan ibu selama hamil, ada atau tidaknya penyakit,
serta upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi penyakit. Riwayat
mengkonsumsi obat-obatan tertentu, merokok, minuman keras, konsumsi
makanan ibu selama hamil.
4. Riwayat persalinan perlu ditanyakan kapan tanggal lahir pasien, tempat
kelahiran, siapa yang menolong, cara persalinan, keadaan bayi setelah lahir,
berat badan dan panjang badan bayi saat lahir, dan hari-hari pertama setelah
lahir. Perlu juga ditanyakan masa kehamilan apakah cukup bulan atau kurang
bulan atau lewat bulan. Dengan mengetahui informasi yang lengkap tentang
keadaan ibu saat hamil dan riwayat persalinan anak dapat disimpulkan
beberapa hal penting termasuk terdapatnya asfiksia, trauma lahir, infeksi
intrapartum,dsb yang mungkin berhubungan dengan riwayat penyakit
sekarang, misalnya kejang demam.
5. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Perlu digali bagaimana status
pertumbuhan anak yang dapat ditelaah dari kurva berat badan terhadap umur
dan panjang badan terhadap umur. Data ini dapat diperoleh dari KMS atau
kartu pemeriksaan kesehatan lainnya. Status perkembangan pasien perlu
ditelaah secara rinci untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan. Pada anak

balita perlu ditanyakan perkembangan motorik kasar, motorik halus, sosial-
personal, dan bahasa.
6. Riwayat Imunisasi, apakah penderita mendapat imunisasi secara lengkap,
rutin, sesuai jadwal yang diberikan.
7. Riwayat Makanan Makanan dinilai dari segi kualitas dan kuantitasnya
8. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita pada kejang demam perlu ditanyakan
apakah sebelumnya pernah mengalami kejang dengan atau tanpa demam,
apakah pernah mengalami penyakit saraf sebelumnya, hal ini penting untuk
menentukan prognosis kejang demam.
9. Riwayat Keluarga Biasanya didapatkan riwayat kejang demam pada keluarga
lainnya (ayah, ibu, atau saudara kandung), oleh sebab itu perlu ditanyakan
riwayat familial penderita.
15

Pada pemeriksaan fisik dibagi menjadi 2 yakni pemeriksaan umum dan
pemeriksaan sistematis. Penilaian keadaan umum pasien antara lain meliputi
kesan keadaan sakit pasien (tampak sakit ringan, sedang, atau berat); tanda
tanda vital pasien (kesadaran pasien, nadi, tekanan darah, pernafasan, dan suhu
tubuh); status gizi pasien; serta data antropometrik (panjang badan, berat badan,
lingkar kepala, lingkar dada).
15

Selanjutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan sistematik organ dari ujung
rambut sampai ujung kuku untuk mengarahkan ke suatu diagnosis. Pada
pemerikasaan kasus kejang demam perlu diperiksa faktor faktor yang berkaitan
dengan terjadinya kejang dan demam itu sendiri. Demam merupakan salah satu
keluhan dan gejala yang paling sering terjadi pada anak dengan penyebab bisa
infeksi maupun non infeksi, namun paling sering disebabkan oleh infeksi. Pada
pemeriksaan fisik, pasien diukur suhunya baik aksila maupun rektal. Perlu dicari
adanya sumber terjadinya demam, apakah ada kecurigaan yang mengarah pada
infeksi baik virus, bakteri maupun jamur; ada tidaknya fokus infeksi; atau adanya
proses non infeksi seperti misalnya kelainan darah yang biasanya ditandai dengan
dengan pucat, panas, atau perdarahan. Pemeriksaaan kejang sendiri lebih
diarahkan untuk membedakan apakah kejang disebabkan oleh proses ekstra atau
intrakranial. Jika kita mendapatkan pasien dalam keadaan kejang, perlu diamati

teliti apakah kejang bersifat klonik, tonik, umum, atau fokal. Amati pula
kesadaran pasien pada saat dan setelah kejang. Perlu diperiksa keadaan pupil;
adanya tanda-tanda lateralisasi; rangsangan meningeal (kaku kuduk, Kernig sign,
Brudzinski I, II); adanya paresis, paralisa; adanya spastisitas; pemeriksaan reflek
patologis dan fisiologis.
15

Pemeriksaan penunjang terdiri dari:
1. Pemeriksaan laboratorium pemeriksaan rutin tidak dianjurkan, kecuali untuk
mengevaluasi sumber infeksi/ mencari penyebab (darah tepi, elektrolit, dan
gula darah)
2. Pemeriksaan radiologi Foto X-ray kepala dan neuropencitraan CT scan atau
MRI tidak rutin dan hanya dikerjakan atas indikasi.
3. Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) Tindakan pungsi lumbal untuk
pemeriksaan CSS dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan
kemungkinan meningitis. Pada bayi kecil, klinis meningitis tidak jelas, maka
tindakan pungsi lumbal dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut yaitu
bayi < 12 bulan diharuskan, bayi antara 12-18 bulan : dianjurkan, dan bayi >
18 bulan : tidak rutin, kecuali bila ada tanda-tanda meningitis Bila yakin
bukan meningitis secara klinis tidak perlu lumbal pungsi.
4. Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) Pemeriksaan EEG tidak dapat
memprediksi berulangnya kejang atau memperkirakan kemungkinan kejadian
epilepsi pada pasien kejang demam, oleh sebab itu tidak direkomendasikan,
kecuali pada kejang demam yang tidak khas (misalnya pada kejang demam
komplikata pada anak usia > 6 tahun atau kejang demam fokal).
15


H. Penatalaksanan
Pada tatalaksana kejang demam ada 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu
1
:
1. Pengobatan fase akut
2. Mencari dan mengobati penyebab
3. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam
Pada waktu pasien datang dalam keadaan kejang maka hal yang harus
dilakukan ialah membuka pakaian yang ketat dan posisi pasien dimiringkan

apabila muntah untuk mencegah aspirasi.Jalan napas harus bebas agar oksigenasi
terjamin.Pengisapan lendir dilakukan secara teratur, diberikan terapi oksigen dan
jika perlu dilakukan intubasi.
1

Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada saat datang ke
tempat pelayanan kesehatan, kejang sudah berhenti. Apabila datang dalam
keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah
diazepam yang diberikan secara intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/kali
secara perlahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 2 menit dengan
dosis maksimal 20 mg. Obat yang praktis dan dapat diberikan kepada orang tua
atau di rumah adalah diazepam rektal dengan dosis 0,5 - 0,75 mg/kgBB/kali atau
diazepam rektal 5 mg untuk anak berat badan di bawah 10 kg dan 10 mg untuk
anak dengan berat badan diatas 10 kg. Atau diazepam rectal dengan dosis 5 mg
untuk anak di bawah 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak usia di atas 3 tahun.
Kejang yang tetap belum berhenti dengan diazepam rektal dapat diulang lagi
dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila 2 kali
dengan diazepam rektal masih kejang, dianjurkan orang tua untuk segera ke
rumah sakit. Dan disini dapat dimulai pemberian diazepam intravena dengan dosis
0,3 0,5 mg/kgBB/kali. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenithoin
secara iv dengan loading dose 10-20 mg/kgbb/kali dengan kecepatan 1
mg/kgbb/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti, selanjutnya
diberikan dosis rumatan 4-8 mg/kgbb/hari (12 jam setelah pemberian loading
dose). Bila kejang belum berhenti, maka pasien harus dirawat di ruang intensif.
Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis
kejang demamnya dan faktor resikonya apakah kejang demam sederhana atau
kejang demam kompleks.
2,16
Obat pilihan lain adalah lorazepam 0,05-0,1
mg/KgBB maksimal 4 mg IV.
16







Tabel. Pilihan Terapi Kejang Demam
16

Antipiretik pada saat kejang dianjurkan walaupun tidak ditemukan bukti
bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya kejang demam. Dosis
asetaminofen yang digunakan berkisar 10-15 mg/kgbb/kali diberikan 4 kali sehari
dan tidak boleh diberikan lebih dari 5x per hari. Dosis ibuprofen 5-10
mg/kgbb/kali diberikan 3-4x per hari. Asetaminofen dapat menyebabkan sindroma
Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan, meskipun jarang. Parasetamol 10
mg/kgbb sama efektifnya dengan ibuprofen 5 mg/kgbb dalam menurunkan suhu
tubuh. Kompres anak dengan suhu > 39 0C dengan air hangat, suhu > 38 0C
dengan air biasa. Pengobatan Penyebab ditujukan untuk penyebab demam,
antibiotik diberikan sesuai indikasi dengan penyakit penyebabnya.
14,2
Pasien dengan riwayat kejang demam yang hanya diberikan antipiretik
saja saat demam, tidak terlindung dari kekambuhan. Pada kejang demam
diperlukan pengobatan profilaksis terhadap kambuhnya kejang karena kejang
yang lama dan berulang dapat menimbulkan kerusakan otak yang permanen.
Terdapat beberapa metode profilaksis yaitu:
1. Profilaksis intermitten yaitu pemberian obat-obatan antikonvulsan hanya saat
anak demam. Pilihan agen farmakologis yang paling sering digunakan untuk
profilaksis intermitten adalah diazepam, dapat diberikan per oral maupun
rektal. Dosis yang diberikan adalah 5 mg per rektal pada pasien dengan berat
badan <10 kg atau 10 mg per rektal pada pasien dengan berat badan >10 kg
diulang dalam 12 jam, diazepam per oral dapat diberikan dengan dosis 0,5
mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Diazepam menjadi pilihan terapi karena dapat
bekerja cepat.


2. Profilaksis terus menerus (Rumatan/Maintenance) adalah pemberian obat-
obatan antikonvulsan secara terus menerus selama sekurang-kurangnya 1
tahun sejak kejang demam terakhir dan dihentikan secara bertahap selama 1-2
bulan. Pilihan agen farmakologis profilaksis terus menerus adalah fenobarbital
3-4 mg/KgBB/hari per oral atau asam valproat 15-30 mg/KgBB/hari. Efek
samping dari fenobarbital adalah perubahan perilaku, hiperaktivitas, beberapa
mengalami penurunan IQ, sedangkan asam valproat memiliki lebih sedikit
efek samping namun obat ini sangat hepatotoksik. Oleh karena efek samping
yang cukup serius tersebut maka pemberian profilaksis terus-menerus dibatasi
bagi yang perlu saja. Menurut Consensus Statement di Amerika Serikat
profilaksis terus menerus diberikan pada keadaan-keadaan berikut:

a. Adanya kelainan perkembangan neurologis (misalnya cerebral palsy,
retardasi mental, mikrosefali),

b. Kejang demam yang berlangsung lebih dari 15 menit bersifak fokal diikuti
kelainan neurologis sementara atau menetap,

c. Terdapat riwayat kejang tanpa demam yang besifat genetik dari orang tua
maupun saudara kandung.
2,11,15
Kejang demam sederhana tidak
memerlukan profilaksis terus menerus.
2


Gambar 2. Penatalaksanaan Kejang Demam.
Beberapa hal yang harus dikerjakan orang tua di rumah bila anak kembali
kejang:
1. Tetap tenang dan tidak panik.
2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher.
3. Bila tidak sadar, posisikan anak telentang dengan kepala miring. Bersihkan
muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah
tergigit jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
4. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
5. Tetap bersama pasien selama kejang.
6. Berikan diazepam rektal selama kejang. Dan jangan diberikan jika kejang
telah berhenti.
7. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.
2


I. Prognosis
Secara umum prognosis kejang demam jarang fatal namun terdapat
kemungkinan berulangnya kejang demam yang cukup tinggi yaitu sepertiga
penderita kejang demam akan mengalami kekambuhan satu kali atau lebih.
Kemungkinan kambuh akan semakin tinggi apabila kejang demam pertama terjadi
pada usia kurang dari satu tahun. Faktor resiko terjadinya kejang demam berulang
adalah: riwayat kejang demam dalam keluarga, usia kurang dari 15 bulan saat
kejang demam pertama, temperatur yang rendah saat kejang, cepatnya
kemunculan kejang saat episode demam. Bila seluruh faktor di atas ada,
kemungkinan berulang 80%.
2,17

Penderita kejang demam juga memiliki kemungkinan lebih besar untuk
menderita epilepsi dikemudian hari dibandingkan dengan populasi umum yaitu
sekitar 5% lebih besar. Terdapat tiga faktor risiko yang meningkatkan
kemungkinan epilepsi pada penderita kejang demam yaitu:
1. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung
2. Terdapat kelainan neurologis sebelum kejang demam pertama
3. Kejang demam kompleks ( kejang beelangsung lama atau fokal atau multipel
dalam 24 jam).
18














DAFTAR PUSTAKA

1. Soetomenggolo T., 1999. Buku Ajar Neurologi Anak, Jakarta: BP IDAI.
2. Lumbantobing, S.M., 2004. Kejang Demam. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas.
3. Hirz D.G., 1997. Febrile Seizures. Ped in Rev;18:5-9.
4. Shah SS, Alpern ER, Zwerling L, Reid JR, McGowan KL, Bell LM., 2002.
Low risk of bacteremia in children with febrile seizures. Arch Pediatr Adolesc
Med;156:469-72.
5. Chiu SS, Tse CY, Lau YL, Peiris M., 2001. Influenza A infection is an
important cause of febrile seizures. Pediatrics;108:1-7.
6. Baumann, R.J, Kao,A., 2012. Febrile Seizures.
(http://emedicine.medscape.com/article/1176205-overview#a0199 , 1 Agustus
2012).
7. Pusponegoro, H.D., Widodo, D.P., Ismael, S., 2006. Konsensus
Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta: Unit Kerja Koordinasi Neurologi,
Ikatan Dokter Anak Indonesia.
8. Saharso D., 2006. Kejang Demam, dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi
Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak RSU dr. Soetomo, Surabaya; 271-273.
9. Hendarto S.K., 1982. Kejang Demam. Subbagian Saraf Anak, Bagian Ilmu
Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSCM, Jakarta.
Cermin Dunia Kedokteran No.27: 6-8.
10. Lumbantebing. 2004. Kejang Demam. Jakarta: FKUI.
11. IDAI., 2005. Konsensus Penanganan Kejang Demam. Jakarta : Badan
Penerbit: IDAI.
12. Ikatan Dokter Anak Indonesia., 2010. Faktor Risiko Bangkitan Kejang
Demam pada Anak.Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak
Indonesia;Sari Pediatri: vol 12, No.3.
13. Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. 2011.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
14. Staf Pengajar IKA FKUI., 1995.Buku Ajar Kesehatan Anak. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
15. IKA FK UNAIR., 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Surabaya : Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga.
16. Guideline Protocol and Advisory Comitee., 2010. Guideline Protocols :
Febrile Seizures. (http://bcguidelines.ca/guideline_febrile.html. 1 Agustus
2012).
17. Berg AT, Shinnar S., 1996. Complex Febrile Seizures. Epilepsia. 37:126-33
18. Wong V, dkk., 2002. Clinical Guideline on Management of Febrile
Convulsion. HK JPediatr. 7:143-51.