Anda di halaman 1dari 25

Kabupaten Pangkep merupakan kabupaten yang memiliki kawasan pesisir yang lebih luas

dibandingkan daratannya dengan perbandingan 1 berbanding 17. Total luas daratan, pegunungan
dan pulau-pulau tanpa lingkup perairannya adalah 1.112 km
2
. Sementara luas lautnya adalah
17.100 km
2
. Wilayah pesisir dan laut kabupaten Pangkep dicirikan dengan produktivitas
ekosistem yang tinggi sehingga dapat mendukung kegiatan perekonomian. Potensi sumberdaya
pesisir dan laut tersebut diharapkan dapat membawa manfaat dan membantu ketahanan pangan
masyarakat setempat. Sebagaimana Dahuri (2008) menyebutkan bahwa sektor kelautan dan
perikanan pada masa mendatang akan menjadi penggerak utama (prime mover) ekonomi karena
besarnya potensi yang dimiliki.
Permasalahan yang ditemui berkaitan denganpengelolaan perikanan di wilayah pesisir
kabupaten Pangkep mencakup aspek teknis, kapital, sumberdaya manusia (SDM) dan
manajemen. Hal tersebut antara lain tercermin dari belum dikuasainya teknologi, masih
kurangnya modal, rendahnya SDM, indikasi tangkap lebih pada wilayah tepi serta pasca panen
yang kurang baik.
Oleh karena itu, pada paper ini kami akan menganilisis potensi sumberdaya perikanan di
kabupten Pangkep dan selanjutnya merumuskan rekomendasi strategi dan rencana pengelolaan
perikanan di Wilayah kabupaten Pangkep.
II. Analisis Pengelolaan Perikanan Kabupaten Pangkep

STRENGTH (S) / KEKUATAN
1. Luas wilayah laut dan pesisir yang cukup besar
Kabupaten Pangkep memiliki luas perairan laut sekitar 17.100 km
2
dengan panjang garis pantai
sekitar 250 km. Perbandingan luas perairan Pangkep dan luas daratannya adalah 1 : 7 dengan
luas daratannya sekitar 1.112 km
2
.
2. Potensi dan keragaman SD Perikanan
Perairan laut kabupaten Pangkep merupakan ekosistem dengan keragaman hayati yang sangat
tinggi khususnya ekosistim karang dengan luas tutupan karang sebesar 36.000 km
2
(2011). selain
itu, kabupaten Pangkep juga memiliki potensi budidaya rumput laut yang cukup besar yaitu
sekitar 7.174 ton/thn dan potensi perikanan tangkap sebesar 10.040,7 ton/tahun (2010). Potensi
berbagai jenis ikan karang dan megabentos yang memiliki nilai ekonomis penting juga menjadi
salah satu daya tarik perairan kabupaten Pangkep. Jenis megabentos yang terdapat di perairan
Pangkep diantaranya adalah acanthaster planci (bintang bulu seribu), Diadema sitosum (bulu
babi), pencil sea urchin, large and small holothurians, lola, kima, serta beberapa jenis
Gastropoda dan Mushroom coral. Sedangkan jenis ikan yang ada di kabupaten Pangkep
dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu ikan target, ikan indikator dan ikan major. Ikan-ikan
target adalah ikan yang memiliki nilai ekonomis penting dan bisa ditangkap untuk dikonsumsi
diantaranya adalah ikan dari family Serranidae (ikan kerapu), Luchanidae (ikan kakap) dan
Caesionidae (ikan ekor kuning). Ikan indikator adalah jenis ikan karang yang khas mendiami
daeah terumbu karang dan menjadi indicator kesuburan ekosistem daerah tersebut seperti ikan
dari suku Chaetodontidae (ikan kepe-kepe). Ikan major merupakan jenis ikan berukuran kecil,
umumnya 5 25 cm, dengan kharakteristik pewarnaan yang beragam sehingga dikenal sebagai
ikan hias diantaranya adalah suku Apogonidae (ikan serinding), Labridae (ikan sapu-sapu) dan
Blenniidae (ikan peniru).
3. Adanya kawasan lindung dan konservasi
Dalam suatu ekosistem, masing-masing spesies memiliki peranannya masing-masing dalam
suatu jaringan makanan. Sehingga satu jenis spesies yang terganggu maka akan mengganggu
keseluruhan jaringan makanan. Oleh sebab itu maka keanekaragaman hayati harus terus
dipertahankan untuk dapat menjaga kelestarian keseluruhan spesies dalam jaringan makanan
tersebut. Penetapan kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep dengan dasar
hukum SK Bupati Pangkep No. 108 tahun 2009 merupakan langkah awal upaya konservasi
keanekaragaman hayati.
4. Adanya kelembagaan formal yang mendukung
Salah satu upaya untuk menyusun suatu pengelolaan perikanan yang baik adalah dengan
menjalin hubungan kerjasama dengan beberapa lembaga atau instansi. Kementrian Kelautan dan
Perikanan (KKP) Kabupaten Pangkep melalui berbagai program pengelolaan dan konservasinya
diharapkan bisa membantu proses pengelolaan perikanan secara berkesinambungan.
5. Adanya beberapa pulau yang berbatasan langsung dengan kota-kota besar
Berdasarkan letak geografisnya, kabupaten Pangkep memiliki beberapa pulau yang berbatasan
langsung dengan kota-kota besar di luar Sulawesi Selatan seperti Kalimantan Selatan, Jawa
Timur, NTB, Madura dan Bali. Letak geografis yang demikian menjadi salah satu modal atau
sarana untuk mempermudah proses pemasaran hasil-hasil perikanan dari kabupaten Pangkep ke
kota-kota besar tersebut.


WEAKNESSES (W) / KELEMAHAN
1. Sarana dan prasarana yang kurang memadai dan mendukung
Sarana dan prasarana merupakan salah satu pendukung dalam pengelolaan suatu wilayah.
Kabupaten Pangkep dengan wilayah yang didominasi oleh perairan dengan berbagai pulau-pulau
yang tersebar luas seharusnya mampu menyediakan berbagai sarana dan prasarana berupa sarana
transportasi khususnya transportasi laut, komunikasi, serta fasilitas umum lainnya seperti sarana
air bersih dan WC yang memadai. Namun kenyataannya, sampai saat ini, masih sering dijumpai
daerah ataupun pulau-pulau dalam kawasan kabupaten Pangkep yang memiliki alat transportasi
laut yang kurang memadai baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Sarana komunikasi yang
bisa menjadi sarana penghubung antar daerah juga menjadi salah satu kendala karena kurangnya
jaringan/signal yang mampu menjangkau daerah-daerah kepulauan. Sarana umum berupa sarana
air bersih dan WC merupakan salah satu sarana yang seharusnya dimiliki oleh setiap kepala
rumah tangga, namun pada kenyataannya sarana umum tersebut masih sangat jarang dijumpai
dibeberapa daerah kepulauan di kabupaten Pangkep.
Sarana dan prasarana pendidikan juga jarang ditemui sehingga memicu rendahnya tingkat
pendidikan masyarakat kepulauan. Demikian pula dengan sarana kesehatan. Medan yang jauh
dan berat dengan ketiadaan sarana dan fasilitas, menjadikan kawasan kepulauan merupakan
alternatif terakhir bagi profesi kesehatan. Puskesmas atau posko kesehatan yang jumlahnya
sangat jarang di kawasan kepulauan lebih sering tutup daripada menerima pasien.
2. Rendahnya kualitas SDM
Rendahnya kualits SDM disebabkan karena ketiadaan sarana dan prasarana pendidikan yang
menunjang. Selain itu, materi yang diajarkan juga sangat minim dan tidak memungkinkan untuk
dibandingkan dengan sekolah diperkotaan. Sekolah masih dianggap identik dengan cukup tahu
membaca, menulis dan menghitung sederhana, pendidikan bukan merupakan atribut penting bagi
mereka. Pemahaman yang demikian berimplikasi pada sikap mereka terhadap pengelolaan
sumberdaya alam yang biasanya tidak memperhitungkan efek jangka panjang.
3. Rendahnya pengawasan dan penegakan hukum
Kurangnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap oknum-oknum yang melakukan
pelanggaran menjadikan pihak-pihak tertentu merasa bebas mengeksploitasi sumberdaya alam
yang ada baik secara terang-terangan, sembunyi-sembunyi ataupun kompromi dengan pihak-
pihak tertentu.
4. Degradasi lingkungan SDI
Bertambahnya jumlah nelayan yang tidak terkontrol yang dibarengi dengan meningkatnya
jumlah alat tangkap yang digunakan khususnya diperairan pesisir pantai telah mendorong
tingginya tekanan penangkapan dan kompetisi antar nelayan. Kondisi ini juga semakin
diperparah dengan maraknya aksi illegal fishing yang dilakukan oleh beberapa pihak. Kerusakan
akibat praktek pemanfaatan yang tidak terencana dan ramah lingkungan ini memicu berbagai
persoalan dan efek domino. Misalnya jumlah ikan yang semakin berkurang, hasil tangkapan
yang semakin berkurang pula sehingga nelayan harus menangkap ikan ke fishing ground yang
lebih jauh. Selanjutnya, akibat ketiadaan sarana yang memadai sehingga mereka melakukan
berbagai jalan pintas yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan pada saat itu. Mereka
mengorbankan rasionalitas mereka untuk pemanfaatan berkelanjutan. Padahal kerusakan
lingkungan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pemulihan.
5. Rendahnya pemasaran dan akses pasar
Hasil-hasil perikanan yang diperoleh membutuhkan suatu prasarana berupa pasar ataupun
perusahaan yang dapat membantu proses pemasaran atau penyalurannya ke konsumen. Hasil-
hasil perikanan yang dipasarkan tidak hanya dalam bentuk segar tetapi juga dalam bentuk
olahan. Hasil-hasil perikanan dalam bentuk olahan umumnya masih menemui kesulitan dalam
hal pemasarannya. Hal ini menyebabkan masyarakat enggan untuk memulai usaha dalam bidang
tersebut.
6. Penetapan APBD yang masih menggunakan model Elit-Massa
Sejak bergulirnya otonomi daerah sebagai jawaban atas ketimpangan dalam menengahi
kebijakan dari pusat, maka pemerintah provinsi sampai kabupaten mulai berusaha membagi
secara adil pelayanan terhadap kepentingan publik. Namun hal ini menemukan sedikit
ketimpangan dengan penetapan APBD Pangkep tahun 2011 dimana terjadi pengalokasian dana
yang tidak berimbang antara belanja pegawai (birokrasi) sebesar 60% dan kepentingan alokasi
publik yang hanya menyisakan 40% dari total anggaran Rp. 665 M. Hal ini mengindikasikan
bahwa terjadi perumusan kebijakan publik yang tidak mempertimbangkan skala prioritas
masyarakat secara luas.
7. Meningkatnya inflasi
Meningkatnya inflasi ikan segar ternyata berakibat pada harga ikan segar dimasyarakat. Secara
logis hal ini pasti akan berdampak positif, karena secara otomatis adanya kenaikan harga ikan
segar pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan akan mengalami peningkatan, dengan demikian
kesejahteraan pun akan meningkat. Akan tetapi secara nyata dilapangan, kenaikan harga ikan
segar tersebut ternyata berdapak negative terhadap kesejaheraan nelayan dan pembudidaya ikan.
Hal tersebu disebabkan karena terus meningkatnya kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi
perikanan yang semakin tinggi, baik untuk para nelayan maupun para pembudidaya ikan.


OPPORTUNITIES (O) / PELUANG
1. Adanya program kegiatan perikanan pusat
Rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) tahun 2005-2025 yang menargetkan Indonesia
menjadi Negara maritime yang maju, mandiri dan kuat sesuai dengan visi rencana strategis
pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014, yaitu Indonesia sebagai penghasil
produk kelautan dan perikanan terbesar tahun 2015. Misinya menyejahterakan masyarakat
kelautan dan perikanan.
Luas wilayah lautan Indonesia khususnya Kabupaten Pangkep adalah modal mewujudkan
industrialisasi perikanan. Industrialisasi perikanan yang pesat merangsang perikanan tangkap dan
perikanan budidaya untuk menyediakan bahan baku di hulu, industri pengolahan di tengah, serta
pemasaran dihilir. Sektor jasa pun akan ikut berkembang, misalnya dengan pendirian koperasi
perikanan. Kegiatannya bisa membuka peluang kerja, menambah pendapatan dan permintaan
masyarakat, memacu konsumsi ikan, serta mempercepat peningkatan dan perluasan ekspor
produk perikanan.
2. Berkembangnya paradigma nasional maupun internasional tentang konservasi
Adanya program pemerintah yang menargetkan Indonesia sebagai Negara maritime yang maju,
kuat dan mandiri berimplikasi pada pola fikir masyarakat yang beralih dari daratan ke maritime
yang berkonsep pembangunan berkelanjutan untuk meningkatkan produksi kelautan dan
perikanan. Hal ini berarti bahwa berbagai upaya pelestraian lingkungan yang tetap
memperhatikan keseimbangan alam harus dilakukan. Selain bersifat nasional, pengelolaan
konservasi laut juga telah menjadi perbincangan internasional yang dikenal dengan asas atau
gagasan Arvid Pardo yang disampaikan pada Sidang Majelis Umum PBB tahun 1967. Gagasan
tersebut mengandung suatu kesadaran yang kuat akan perlunya suatu perlindungan terhadap
lingkungan laut secara global disebabkan oleh tekanan-tekanan dari pertambahan penduduk,
kemajuan teknologi dan ketergantungan yang bertambah daripada umat manusia pada laut
sebagai sumber kekayaan alam. Pemahaman tersebut terus berkembang hingga saat ini sehingga
dicetuskanlah kebijakan pengelolaan Kawasan Konservasi Laut (KKL) untuk mewujudkan
upaya-upaya konservasi dan perlindungan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan
Nasional yang lestari dan berkelanjutan
3. Adanya peningkatan pendidikan masyarakat
Bagi suatu bangsa yang ingin maju, pendidikan harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan
karena pendidikan baik secara formal maupun informal akan mencetak sumberdaya manusia
yang berkualitas baik dari segi spiritual, intelegensi dan skill. Oleh karena itu, pemerintah
berupaya meningkatkan pembinaan pendidikan masyarakat melalui berbagai program yang
teintegrasi dengan program keaksaraan usaha mandiri, pengembangan budaya baca masyarakat
dan pemberdayaan perempuan. Selain, itu berbagai penyediaan beasiswa bagi masyarakat yang
kurang mampu maupun yang berprestasi semakin membuka peluang bagi masyarakat untuk terus
bersekolah dan belajar.
4. Adanya perkembangan teknologi di bidang perikanan
Perkembangan teknologi dalam bidang kelautan dan perikanan sudah sangat pesat sehingga
diharapkan dapat membantu dalam proses pengelolaan kelautan dan perikanan. Technologi yang
umumnya sering digunakan adalah GPS untuk navigasi, SIG untuk eksplorasi kelautan,
instrumentasi kelautan, akustik kelautan, digital computer dll. Selain itu, kemajuan teknologi
yang pesat jga menjadi modal untuk memudahkan masyarakat dalam mengelolah SDA yang ada.


5. Tingginya potensi pasar nasional dan internasional
Adanya Industrialisasi perikanan yang dicanangkan pada Renstra kelautan dan perikanan tahun
2010-2014 serta keikutsertaan Indonesia dalam mempromosikan potensi produk perikanan
melalui ajang Pameran Seafood International European Seafood Exposition (ESE) merupakan
langkah strategis yang ditujukan untuk membantu pelaku usaha khususnya dalam bidang
perikanan untuk memasarkan, memperkenalkan dan mengembangkan produk di pasar
Internasional, khususnya di Uni Eropa

THREATS (T) / ANCAMAN
1. Illegal fishing dan unreported fishing
Kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan (Men-Kep) Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang
mengurangi hari operasi Kapal pengawas Perikanan dari 180 hari menjadi 100 hari telah memicu
maraknya praktek pencurian ikan di perairan Indonesia. Data kementrian Kelautan dan Perikanan
(2010) menunjukkan bahwa tren kapal perikanan asing yang masuk secara illegal ke perairan
indonesia sejak Januari sampai Juni 2010 cenderung mengalami peningkatan. Mereka telah
memanfaatkan kelengahan pemerintah Indonesia dalam mengawasi perairannya. Hal ini dapat
dilihat dari jumlah kapal ikan asing yang tertangkap, sampai akhir juni 2010 tercatat dari 116
kapal ikan illegl yang tertangkapkapal engawas perikanan, 112 diantaranya merupakan kapal
ikan asing, dengan kerugian Negara yang dapat diselamatkan mencapai Rp. 277,03 M. Data
KKP (2010) menunjukkan bahwa sepanjang periode Januari-Juni 2010 kapal ikan asing yang
melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia di domonasi oleh negara Malaysia, Vietnam,
Thailand, RRC dan Philipina.
Di Indonesia, bukan hanya illegal fishing yang menjadi ancaman perikanannya tetapi praktek
perikanan yang tidak dilaporkan juga selalu menjadi masalah besar yang belum tuntas
terselesaikan. Data FAO (2009) menunjukkan bahwa produksi ikan tuna nasional dalam kurung
waktu 1989-2006 mengalami pertumbuhan sebesar 4,74% per tahun. Sementara itu produksi
ikan tuna nasional yang berasal dar impor dalam kurung waktu 1989-2007 mengalami
pertumbuhan sebesar 1.799% pertahun. Jadi jumlah total produksi tuna nasional pada tahun 2006
sebesar 575.087,85 ton (sudah termasuk impor). Data FAO (2009) juga menunjukkan bahwa
total produksi ikan tuna nasional yang tidak diserap oleh pasar ekspor tersebut dalam kurung
waktu 1989-2007 rata-rata mencapai 91,43% per tahun. Namun hal yang mengherankan terjadi
dilapangan karena banyak perusahaan pengalengan tuna nasional yang kekurangan bahan baku
padahal setiap tahunnya bahan baku ikan tuna nasioanl sangat melimpah. Ternyata berdasarkan
informasi dari aparat keamanan, penyebab salah satu penyebab dari masalah tersebut adalah
maraknya modus pemindahan hasil tangkapan ke kapal lain ditengah laut sehingga mereka tidak
melaporkan seluruh hasil tangkapan mereka ke pihak berwenang.
2. Pencemaran minyak dilaut
Masalah pencemaran minyak di laut kerap kali terjadi di perairan Indonesia karena letak
geografis Indonesia yang merupaan jalur pelayarn internasional dan Indonesia merupakan salah
satu Negara pengekspor minyak mentah. Perairan Indonesia yang dilewati kpal bermuatan
minyak misalnya adalah Selat Malaka, Laut Cina Selatan, perairan selatan pula Sumatera, Selat
Lombok dan Selat Makassar. Diperkirakan per hari sebanyak 7 juta barel minyak mentah (27%
dari sejumlah wilayah yang ditransportasikan di dunia) melewati selat Malaka, 14% menuju
singapura dan sisanya melewati Laut Cina Selatan Menuju Jepang dan Korea Selatan, dan
sebanyak 0,3 juta barel per hari (1%) melalui perairan selatan pulau Sumatera, dan 5-6 kapal
tanker raksasa bermuatan 250.000 ton melewati Selat Lombok dan Makassar. Kasus-kasus
tumpahan minyak tersebut member dampak yang signifikan bagi perairan laut khususnya biota
laut dan ekosistem pesisir lainnya, seperti terumbu karang, padang lamun dan hutan mangrove.
3. Adanya fenomena Pemanasan Global
Fenomena pemanasan global terhadap bumi tidak dapat terhindarkan lagi. Pemansan global telah
mebawa dampak terhadap meningkatnya angka emisi gas secara global, peningkatan temperatur
dan juga terjadinya peningkatan permukaan air laut. Berdasarkan data-data dari IPCC
(Intergovermental Panel on Climate Change), kenaikan permukaan air laut global rata-rata
sebesar 1,8 mm per tahun anttara periode 1961 2003. Sehingga diperkirakan dalam 100 tahun
terakhir akan terjadi peningkatan air laut setinggi 10 25 cm. Menurut Departemen Kelautan
dan Perikanan (2009), daerah pesisir dan pulau-pulau kecil yang akan tenggelam 100 tahun lagi
dari sekarang meliputi daerah seluas 475.905 hektar atau rata-rata kehilangan lahan/pulau
sebesar 4,76 hektar per tahun. Perubahan iklim yang memacu terjadinya pemanasan global
(global warming) memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup biota laut.
Kerusakan karang yang tinggi akibat peningkatan suhu air lauut akan berimplikasi ke kehidupan
organisme air yang hidup berinteraksi dengan terumbu karang, termasuk ikan yang merupakan
komoditas ekonomis bagi manusia.

4. Meningkatnya persaingan produk hasil perikanan
Memasuki era globalisasi, tentu menuntut suatu Negara agar mampu bersaing dalam kancah
perdagangan internasional termasuk dalam perdagangan produk hasil perikanan. Indonesia
sebagai salah satu Negara pengekspor hasil perikanan diharapkan mampu meningkatkan mutu
hasil produksinya agar dapat bersaing dengan Negara-negara lainnya seperti Vietnam dan
Thailand. Diantara kedua Negara tersebut, daya saing produk perikanan Indonesia masih jauh
dibawah produk perikanan kedua Negara tersebut. Sehingga walaupun Indonesia termasuk
sebagai Negara kelima penghasil produksi perikanan dunia, namun demikian nilai ekspor
perikanan Indonesia maksimal berada pada peringkat kesepuluh dunia. Dengan demikianuntuk
meningkatkan kinerja ekonomi perikanan jangan hanya bertumpu pada pendekatan peningkatan
produksi tetapi perlu diikuti dengan pembangunan industri pengolahan perikanan nasional yang
saat ini masih terpuruk.
5. Belum adanya alternatif pakan ikan selain impor tepung ikan
Ketersediaan pakan bagi perikanan budidaya di Indonesia masih mengandalkan mekanisme
impor. Menurut ketua Bidang Akuakultur Asosiasi Produsen Pakan Indonesia Denny Indrajaya,
kapasitas produksi tepung ikan di Indonesia hanya sekitar 45.000 ton atau hanya sekitar 30% dari
total kebutuhan setiap tahun. Indonesia masih sangat mengandalkan tepung ikan impor dari
Thailand dan Vietnam.
III. STRATEGI KEBIJAKAN BERDASARKAN ANALISIS SWOT
Strategi kebijakan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan perikanan kabupaten Pangkep
berdasarkan analisis SWOT dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir Kabupaten Pangkep
STRENGTH WEAKNESSES
OPPORUNITIES
S O O - W
SO1.Mengelola sumberdaya kelautan dan
perikanan sebagai objek
pariwisata

SO2.Melakukan pengelolaan berbasis
pendekatan ekosistem


SO3.Memperkuat kelembagaan dan
sumberdaya manusia secara
terintegrasi

SO4.Memperluas alur pasar domestik dan
internasional
OW1.Penyediaan sarana dan prasarana
yang lebih produktif dn ramah
lingkungan
OW2.Mengelola sumberdaya kelautan
dan perikanan berbasis teknologi
ramah lingkungan
OW3.Peningkatan pengawasan dan
penegakan hukum dengan
pendekatan solidaritas regional
OW4.Pengembangan jaminan pendidikan
dan kesehatan gratis bagi nelayan
yang melakukan konservasi
ekosistem peisir dan laut secara
mandiri
OW5.Pemberdayaan masyarakat dengan
pendekatan berbasis subyek
THREATH
S T W - T
ST1. Peningkatan pengawasan melalui
penambahan spot pengawasan,
penambahan hari operasi serta
jumlah aparat keamanan dan kapal
pengawas yang bekerjasama dengan
masyarakat setempat dan pengawas
pusat.
ST2. Pengembangan duel economic untuk
WT1.Peningkatan pengawasan terhadap
wilayah perairan
WT2.Pengembangan dan peningkatan
diversifikasi dan mutu produk hasil
perikanan
WT3.Penyelenggaran penyuluhan terkait
pengelolaan lingkungan secara
berkelanjutan yang pelaksanaannya
menghadapi perubahan iklim
ST3. Menerapkan pajak progresif bagi
pihak-pihak yang melakukan
pencemaran lingkungan
ST4. Meningkatkan produktivitas berbasis
pengetahuan dan teknologi ramah
lingkungan
dikontrol oleh peraturan desa
setempat
WT4. Pengembangan perikanan umum
yang bersifat organik
STRENGTHS OPPORTUNITIES (S O)
SO1. Mengelola sumberdaya kelautan sebagai objek wisata bahari
- Luas wilayah perairan yang cukup besar dan terdiri atas beberapa pulau dengan potensi
sumberdaya kelautan dan perikanan yang tinggi merupakan suatu modal bagi masyarakat dan
pemerintah kabupaten Pangkep untuk menggerakkan wisata bahari kepulauan dan pesisirnya
yang memosisikan rakyat sebagai pelaku utamanya. Sehingga setidaknya diharapkan akan
mampu menggerakkan ekonomi rakyat disektor kelautan dan perikanan. Pengelolaan objek
wisata bahari dengan memperhatikan prinsip-prinsip ekologi juga diharapkan menjadi langkah
yang tepat untuk mencegah terjadinya degradasi lingkungan yang lebih ekstrim.
SO2. Melakukan pengelolaan berbasis pendekatan ekosistem
- Indikator kunci pengelolaan berbasis pendekatan ekosistem adalah membangun keberlanjutan
keseimbangan ekologis dan sosio-ekonomi. Artinya, dalam suatu pengelolaan kelautan dan
perikanan harus memperhatikan keberagaman sumberdaya alam serta berbagai proses interaksi
yang terjadi didalamnya.
SO3. Memperkuat kelembagaan dan sumberdaya manusia secara terintegrasi
- Kelembagaan tradisional/lokal dan kearifan lokal menjadi instrument kelembagaan untuk
mewujudkan pengembangan wilayah pesisir. Pemerintah harus bermitra dengan organisasi
gerakan masyarakat dan memfasilitasi organisasi rakyat untuk menjaga kelestarian sumberdaya,
ekosistem dan lingkungan pesisir.
SO4. Memperluas alur pasar domestik dan internasional
- Produksi hasil perikanan yang tinggi dengan kualitas atau mutu produk yang tinggi dan
didukung oleh teknologi tepat guna yang ramah lingkungan diharapkan dapat menjadi salah satu
modal bagi masyarakat untuk memperluas alur pemasaran produk mereka baik ditingkat nasional
maupun internasional. Produk perikanan yang berkualitas diharapkan mampu bersaing dengan
produk dari Negara-negara lain yang telah terlebih dahulu menguasai pasar internasional.




OPPORTUNITIES WEAKNESSES (O W)
OW1. Penyediaan sarana dan prasarana yang lebih produktif dan ramah lingkungan
- Ketersediaan sarana dan prasarana merupakan salah satu aspek yang dapat menunjang
berjalannya suatu pengelolaan perikanan dan kelautan. Sarana dan prasarana yang produktif dan
ramah lingkungan merupakan suatu solusi unrtuk mencegah terjadinya proses perikanan yang
hanya mementingkan aspek ekonomis tanpa mempertimbangkan aspek ekologis. Apabila sarana
dan prasarana yang produktif dan ramah lingkungan telah tersedia, maka keberlangsungan
ekosistem pesisir diharapkan dapat terjaga.
OW2. Mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan berbasis teknologi ramah lingkungan
- Sumberdaya kelautan dan perikanan harus dikelola dengan tepat agar kelangsungan berbagai
ekosistem didalamnya dapat tetap terjaga. Pengelolaan berbasis teknologi ramah lingkungan
diharapakan dapat mencegah terjadinya kerusakan lingkungan yang saat ini banyak terjadi
karena proses pemanfaatan yang tidak bertanggung jawab.
OW3. Peningkatan pengawasan dan penegakan hukum dengan pendekatan solidaritas regional
- Peningkatan pengawasan dan penegakan hukum dengan pendekatan solidaritas regional
merupakan konsep yang memadukan kerjasama antar sektor, antar intuisi Negara dan antar
Negara. Kerjasama antar Negara terutama untuk mengatasi problem di perbatasan yang
mengancam perairan Indonesia. Selain itu, diterapkan pula kerjasama antar daerah untuk
mengoptimalkan pengawasan pelayaran antar daerah atau antar pulau. Keterlibatan masyarakat
lokal dalam pengawasan perairan juga lebih dioptimalkan mengingat mereka mempunyai rasa
memiliki yang lebih kuat dan lebih besar terhadap wilayah perairannya sehingga dapat
membantu pemerintah dalam pengawasannya.
OW4. Pengembangan jaminan pendidikan dan kesehatan gratis bagi nelayan yang melakukan
konservasi ekosistem pesisir dan laut secara mandiri
- Masyarakat pesisir ataupun kepulauan umumnya masih identik dengan rendahnya taraf
pendidikan serta kurangnya sarana dan prasarana kesehatan. Oleh karena itu, dengan banyaknya
program peningkatan pendidikan di Indonesia, pengembangan jaminan pendidikan dan kesehatan
gratis bagi masyarakat nelayan khususnya bagi yang melakukan konservasi ekosistem pesisir dan
laut secara mandiri. Kebijakan seperti ini diharapkan mampu memberikan keuntungan terhadap
masyarakat dan lingkungan. Karena dengan adanya program yang demikian, masyarakat secara
otomatis akan berlomba-lomba untuk melakukan konservasi terhadap lingkungannya yang
otomatis dengan konservasi tersebut, mereka dapat terhindar dari degradasi lingkungan yang saat
ini banyak mengancam wilayah pesisir dan kepulauan.
OW5. Pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan berbasis subyek
- Selama ini pemberdayaan masyrakat umumnya yang menjadi sasarannya adalah nelayan atau
pembudidaya ikan. Ini artinya pendekatan pemberdayaannya lebih melihat komoditas karena
nelayan diasumsikan pasti menangkap ikan. Pembudidaya ikan juga diasumsikan sebagai
pembudidaya ikan baik pembudidaya keramba jaring apung maupun rumput laut. Padahal di
pulau kecil atau dipesisir juga ada pedagang, buruh kasar, nelayan buruh, pelayan rumah makan
dan jasa penyelaman (pariwisata bahari) hingga pelaut. Oleh karena itu, pemberdayaan
masyarakat dengan pendekatan berbasis subyek diharapkan bisa melihat kondisi masyarakat
pesisir atau kepulauan secara lebih spesifik.

STRENGTHS WEAKNESSES (S T)
ST1. Peningkatan pengawasan melalui penambahan spot pengawasan, penambahan jumlah operasi serta
jumlah aparat keamanan dan kapal pengawas yang bekerjasama dengan masyarakat setempat dan
pengawas pusat
- Praktik illegal fishing merupakan masalah klasik yang tidak pernah habis menghantui wilayah
perairan Indonesia. Oleh karena diperlukan suatu peningkatan pengawasan dengan menambah
spot-spot pengawasan khususnya diwilayah perbatasan serta diwilayah perairan yang dideteksi
memiliki kandungan sumberdaya alam yang tinggi. Hal ini tentu harus diikuti dengan
penambahan jumlah aparat serta kapal pengawas yang dibekali dengan teknologi yang canggih.
Karena selama ini yang membuat aparat kadang sulit membekuk pelaku kejahatan adalah karena
minimnya alat yang mereka gunakan jika dibandingkan dengan peralatan yang digunakan oleh
pelaku. Selain itu, dengan membangun kerjasama dengan masyarakat lokal yang tentunya lebih
mengetahui situasi diwilayahnya diharapkan dapat membantu pemerintah dalam proses
pengawasannya.
ST2. Pengembangan duel economic untuk menghadapi perubahan iklim
- Duel economic (ekonomi ganda) yang dimaksud adalah kelautan/perikanan bekerjasama
dengan pertanian atau kehutanan untuk menghadapi perubahan iklim. Model adaptasi semacam
ini sebagai bentuk adaptasi ekonomi yang juga mempertimbangkan kearifan lokal. Kerjasama ini
misalnya diwujudkan melalui kerjasama penanaman mangrove disekitar pantai untuk mencegah
terjadinya abrasi.
ST3. Menerapkan pajak progresif bagi pihak-pihak yang melakukan pencemaran lingkungan
- Degradasi lingkungan yang diakibatkan oleh tumpahan minyak, bahan beracun, sampah serta
penyedotan air tanah wilayah pesisir. Pemerintah harus menerapkan pajak progresif lingkungan
pada orang, kelompok orang dan badan usahayang aktifitasnya berpotensi memusnahkan
ekosistem pesisir hingga mengancam kehidupan flora dan fauna endemiknya.
ST4. Meningkatkan produktivitas berbasis pengetahuan dan teknologi ramah lingkungan
- Program pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara maritime yang kuat maju
dan mandiri tentu tidak lepas dari program peningkatan produktivitas. Namun satu hal yang
harus ditanamkan adalah peningkatan produktifitas tersebut harus didasari dengan pengetahuan
dan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya kerusakan lingkungan dalam proses pemanfaatan sumberdaya alam.

WEAKNESSES THREATHS (W T)
WT1. Peningkatan pengawasan terhadap wilayah perairan
- Posisi perairan Indonesia yang berada dijalur pelayaran internasional maupun domestik
menjadikan wilayah perairan sangat rawan terhadap berbagai tindakan kejahatan. Oleh karena itu
pengawasan harus semakin diperketat untuk mencegah terjadinya kerugian yang lebih besar yang
disebabkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

WT2. Pengembangan dan peningkatan diversifikasi dan mutu produk hasil perikanan
- Sebagai Negara maritim yang ikut berpartisipasi sebagai penyuplai produksi hasil perikanan
baik secara domestic maupun internasional, masyarakat Indonesia tentu dihadapkan pada
tingginya persaingan produk dengan Negara-negara lainnya seperti Cina, Jepang dan Thailand.
Oleh karena itu, difersifikasi dan perbaikan mutu produk hasil perikanan sangat diharapkan agar
produk tersebut mampu bertahan dan diminati oleh masyarakat dunia.
WT4. Penyelenggaran penyuluhan terkait pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan yang
pelaksanaannya dikontrol oleh peraturan desa setempat
- Fenomena global warming yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem adalah suatu hal
yang tidak dapat terhindarkan. Oleh karena itu diperlukan suatu langkah yang tepat untuk
mengatasinya. Dengan melakukan penyuluhan terkait pengelolaan lingkungan secara
berkelanjutan yang pelaksanaannya dikontrol oleh peraturan desa setempat diharapkan dapat
menyadarkan masyarakat bahwa pengelolaan lingkungan bukan hanya persoalan pemerintah
pusat atau daerah tetapi merupakan persoalan kita bersama. Sebagai masyarakat lokal, tentunya
mereka lebih mengerti tentang kondisi daerahnya.
WT5. Pengembangan perikanan umum (danau, kolam dan sungai) yang bersifat organik
- Suatu pendekatan pengelolaan perikanan berkelanjutan yang berbasiskan sumberdaya
perikanan lokal (termasuk ikan endemic dan non-endemik), kelembagaan/kearifan lokal, tetap
mempertahankan siklus alamiah ekosistem perairan umum dan biosfir dari hulu hingga hilir
tanpa memasukan input luar yang merusaknya. Perikanan organic ini akan mengurangi
ketergantungan dari pakan buatan. Positifnya, produk perikanan organic amat menyehatkan
karena menghindari dampak bahan kimia yang bersumber dari pakan buatan yang tak habis
diabsorbsi dalam tubuh ikan. Selain itu, hal ini juga akan memandirikan petani tambak karena
akan meningkatkan kapasitas mereka untuk membuat pakan sendiri dari bahan baku dari
lingkungan sekitarnya dengan teknologi tepat guna dengan skala rumah tangga.
IV. PENYUSUNAN PROGRAM STRATEGIS
Dalam rangka menyusun program stragis yang prioritas diantara program-program yang
lain makan digunakan metode saaty.
- Program strategis pengelolaan perikanan kabupaten pangkep
a Mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan sebagai objek pariwisata
b Melakukan pengelolaan berbasis pendekatan ekosistem
c Memperkuat kelembagaan dan sumberdaya manusia secara terintegrasi
d Memperluas alur pasar domestik dan internasional
e Penyediaan sarana dan prasarana yang lebih produktif dan ramah lingkungan
f Mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan berbasis teknologi ramah
lingkungan
g Peningkatan pengawasan dan penegakan hukum dengan pendekatan solidaritas
regional
h Pengembangan jaminan pendidikan dan kesehatan gratis bagi nelayan yang
melakukan konservasi ekosistem peisir dan laut secara mandiri
i Pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan berbasis subyek
j Peningkatan pengawasan melalui penambahan spot pengawasan, penambahan
hari operasi serta jumlah aparat keamanan dan kapal pengawas yang
bekerjasama dengan masyarakat setempat dan pengawas pusat
k Pengembangan duel economic untuk menghadapi perubahan iklim
l Menerapkan pajak progresif bagi pihak-pihak yang melakukan pencemaran
lingkungan
m Meningkatkan produktivitas berbasis pengetahuan dan teknologi ramah
lingkungan
n Peningkatan pengawasan terhadap wilayah perairan
o Pengembangan dan peningkatan diversifikasi dan mutu produk hasil perikanan
p Penyelenggaran penyuluhan terkait pengelolaan lingkungan secara
berkelanjutan yang pelaksanaannya dikontrol oleh peraturan desa setempat
q Pengembangan perikanan umum yang bersifat organic



Tabel Saaty

Langkah penentuan prioritas :
1. Menetukan matriks perbandingan berpasangan

a B c d E f g H i j K l M n o p Q
a 1,00 0,13 0,17 0,20 0,20 0,13 0,14 0,25 0,13 0,33 0,11 0,33 0,20 0,33 0,17 0,14 0,20
b 8,00 1,00 4,00 7,00 5,00 5,00 4,00 4,00 0,13 5,00 0,13 4,00 5,00 4,00 0,20 0,20 0,17
c 6,00 0,25 1,00 0,33 4,00 0,33 0,20 4,00 0,50 4,00 0,13 0,50 0,50 3,00 0,50 2,00 2,00
d 5,00 0,14 3,00 1,00 0,50 0,33 0,50 0,33 0,33 0,50 7,00 0,50 0,50 0,50 4,00 3,00 2,00
e 5,00 0,20 0,25 2,00 1,00 0,50 0,50 2,00 0,50 2,00 0,33 2,00 0,50 2,00 0,50 0,50 2,00
f 8,00 0,20 3,00 3,00 2,00 1,00 2,00 2,00 0,50 0,50 0,25 0,50 0,50 2,00 0,33 0,50 2,00
g 7,00 0,25 5,00 2,00 2,00 0,50 1,00 0,50 0,50 2,00 0,20 2,00 0,50 2,00 0,33 0,50 2,00
h 4,00 8,00 0,25 3,00 0,50 0,50 2,00 1,00 0,50 0,50 0,33 0,50 2,00 2,00 0,50 3,00 3,00
i 8,00 0,20 8,00 3,00 2,00 2,00 2,00 2,00 1,00 2,00 0,33 0,50 0,33 0,50 0,33 0,50 2,00
j 3,00 7,69 0,25 2,00 0,50 2,00 0,50 2,00 0,50 1,00 0,33 2,00 0,33 2,00 0,33 0,50 2,00
k 9,00 0,25 8,00 0,14 3,00 4,00 5,00 3,00 3,00 3,00 1,00 2,00 3,00 4,00 2,00 3,00 3,00
l 3,00 0,20 2,00 2,00 0,50 2,00 0,50 2,00 2,00 0,50 0,50 1,00 0,50 2,00 0,25 0,33 2,00
m 5,00 0,25 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 0,50 3,00 3,00 0,33 2,00 1,00 3,00 3,00 0,50 2,00
n 3,00 5,00 0,33 2,00 0,50 0,50 0,50 0,50 2,00 0,50 0,25 0,50 0,33 1,00 0,33 2,00 2,00
o 6,00 5,00 2,00 0,25 2,00 3,00 3,00 2,00 3,00 3,00 0,50 4,00 0,33 3,00 1,00 3,00 4,00
p 7,00 6,00 0,50 0,33 2,00 2,00 2,00 0,33 2,00 2,00 0,33 3,00 2,00 0,50 0,33 1,00 2,00
q 5,00 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,33 0,50 0,50 0,33 0,50 0,50 0,50 0,25 0,50 1,00
93,00 35,26 40,25 30,76 28,20 26,29 26,34 26,75 20,08 30,33 12,40 25,83 18,03 32,33 14,37 21,18 33,37
2. Menormalkan data yaitu dengan membagi nilai dari setiap elemen di dalam matriks yang
berpasangan dengan nilai total dari setiap kolom dan menghitung nilai eigen vaktor.

a b C d E f g h i j k l m n o p Q
a 0,01075 0,00355 0,00414 0,00650 0,00709 0,00475 0,00542 0,00935 0,00622 0,01099 0,00896 0,01290 0,01109 0,01031 0,01160 0,00675 0,00599
b 0,08602 0,02836 0,09938 0,22757 0,17730 0,19017 0,15184 0,14953 0,00622 0,16484 0,01048 0,15484 0,27726 0,12371 0,01392 0,00944 0,00500
c 0,06452 0,00709 0,02484 0,01084 0,14184 0,01268 0,00759 0,14953 0,02490 0,13187 0,01008 0,01935 0,02773 0,09278 0,03480 0,09445 0,05994
d 0,05376 0,00405 0,07453 0,03251 0,01773 0,01268 0,01898 0,01246 0,01660 0,01648 0,56454 0,01935 0,02773 0,01546 0,27842 0,14167 0,05994
e 0,05376 0,00567 0,00621 0,06502 0,03546 0,01902 0,01898 0,07477 0,02490 0,06593 0,02688 0,07742 0,02773 0,06186 0,03480 0,02361 0,05994
f 0,08602 0,00567 0,07453 0,09753 0,07092 0,03803 0,07592 0,07477 0,02490 0,01648 0,02016 0,01935 0,02773 0,06186 0,02320 0,02361 0,05994
g 0,07527 0,00709 0,12422 0,06502 0,07092 0,01902 0,03796 0,01869 0,02490 0,06593 0,01613 0,07742 0,02773 0,06186 0,02320 0,02361 0,05994
h 0,04301 0,22688 0,00621 0,09753 0,01773 0,01902 0,07592 0,03738 0,02490 0,01648 0,02688 0,01935 0,11091 0,06186 0,03480 0,14167 0,08991
i 0,08602 0,00567 0,19876 0,09753 0,07092 0,07607 0,07592 0,07477 0,04979 0,06593 0,02688 0,01935 0,01848 0,01546 0,02320 0,02361 0,05994
j 0,03226 0,21816 0,00621 0,06502 0,01773 0,07607 0,01898 0,07477 0,02490 0,03297 0,02688 0,07742 0,01848 0,06186 0,02320 0,02361 0,05994
k 0,09677 0,00709 0,19876 0,00464 0,10638 0,15214 0,18980 0,11215 0,14938 0,09890 0,08065 0,07742 0,16636 0,12371 0,13921 0,14167 0,08991
l 0,03226 0,00567 0,04969 0,06502 0,01773 0,07607 0,01898 0,07477 0,09959 0,01648 0,04032 0,03871 0,02773 0,06186 0,01740 0,01574 0,05994
m 0,05376 0,00709 0,04969 0,06502 0,07092 0,07607 0,07592 0,01869 0,14938 0,09890 0,02688 0,07742 0,05545 0,09278 0,20882 0,02361 0,05994
n 0,03226 0,14180 0,00828 0,06502 0,01773 0,01902 0,01898 0,01869 0,09959 0,01648 0,02016 0,01935 0,01848 0,03093 0,02320 0,09445 0,05994
o 0,06452 0,14180 0,04969 0,00813 0,07092 0,11410 0,11388 0,07477 0,14938 0,09890 0,04032 0,15484 0,01848 0,09278 0,06961 0,14167 0,11988
p 0,07527 0,17016 0,01242 0,01084 0,07092 0,07607 0,07592 0,01246 0,09959 0,06593 0,02688 0,11613 0,11091 0,01546 0,02320 0,04722 0,05994
q 0,05376 0,01418 0,01242 0,01626 0,01773 0,01902 0,01898 0,01246 0,02490 0,01648 0,02688 0,01935 0,02773 0,01546 0,01740 0,02361 0,02997

3. Menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka pengambilan data (preferensi) perlu diulangi
Jumlah VE Jumlah x VE
93,00 0,01 0,746046724
35,26 0,11 3,890870523
40,25 0,05 2,166003379
30,76 0,08 2,473261505
28,20 0,04 1,131253776
26,29 0,05 1,238238412
26,34 0,05 1,237974717
26,75 0,06 1,652915555
20,08 0,06 1,167583625
30,33 0,05 1,531751752
12,40 0,11 1,411311844
25,83 0,04 1,091009058
18,03 0,07 1,283924848
32,33 0,04 1,339681399
14,37 0,09 1,287655453
21,18 0,06 1,332022001
33,37 0,02 0,719545187
max 25,70104976


CI = 0,543816

CR = 0,031989
Keterangan ; jika CR lebih kecil atau sama 0,1 maka skor cukup konsisten.

4. Menentukan prioritas alternatif terbaik dari total rangking

a b c d E F G h i j k l m n o p q Hasil kali Akar VP
a 1,00 0,13 0,17 0,20 0,20 0,13 0,14 0,25 0,13 0,33 0,11 0,33 0,20 0,33 0,17 0,14 0,20
1,82257E-12 1,0721E-13
9,48632E-
19
b 8,00 1,00 4,00 7,00 5,00 5,00 4,00 4,00 0,13 5,00 0,13 4,00 5,00 4,00 0,20 0,20 0,17 3882,666667 228,3921569 0,00202089
c 6,00 0,25 1,00 0,33 4,00 0,33 0,20 4,00 0,50 4,00 0,13 0,50 0,50 3,00 0,50 2,00 2,00
0,2 0,011764706
1,04098E-
07
d 5,00 0,14 3,00 1,00 0,50 0,33 0,50 0,33 0,33 0,50 7,00 0,50 0,50 0,50 4,00 3,00 2,00
0,208333333 0,012254902
1,08435E-
07
e 5,00 0,20 0,25 2,00 1,00 0,50 0,50 2,00 0,50 2,00 0,33 2,00 0,50 2,00 0,50 0,50 2,00
0,083333333 0,004901961
4,33742E-
08
f 8,00 0,20 3,00 3,00 2,00 1,00 2,00 2,00 0,50 0,50 0,25 0,50 0,50 2,00 0,33 0,50 2,00
1,2 0,070588235
6,24588E-
07
g 7,00 0,25 5,00 2,00 2,00 0,50 1,00 0,50 0,50 2,00 0,20 2,00 0,50 2,00 0,33 0,50 2,00
1,166666667 0,068627451
6,07239E-
07
h 4,00 8,00 0,25 3,00 0,50 0,50 2,00 1,00 0,50 0,50 0,33 0,50 2,00 2,00 0,50 3,00 3,00
9 0,529411765
4,68441E-
06
i 8,00 0,20 8,00 3,00 2,00 2,00 2,00 2,00 1,00 2,00 0,33 0,50 0,33 0,50 0,33 0,50 2,00
11,37777778 0,669281046
5,92202E-
06
j 3,00 7,69 0,25 2,00 0,50 2,00 0,50 2,00 0,50 1,00 0,33 2,00 0,33 2,00 0,33 0,50 2,00
0,854700855 0,050276521
4,44864E-
07
k 9,00 0,25 8,00 0,14 3,00 4,00 5,00 3,00 3,00 3,00 1,00 2,00 3,00 4,00 2,00 3,00 3,00 1799588,571 105858,1513 0,93666842
l 3,00 0,20 2,00 2,00 0,50 2,00 0,50 2,00 2,00 0,50 0,50 1,00 0,50 2,00 0,25 0,33 2,00
0,2 0,011764706
1,04098E-
07
m 5,00 0,25 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 0,50 3,00 3,00 0,33 2,00 1,00 3,00 3,00 0,50 2,00 1080 63,52941176 0,00056213
n 3,00 5,00 0,33 2,00 0,50 0,50 0,50 0,50 2,00 0,50 0,25 0,50 0,33 1,00 0,33 2,00 2,00
0,034722222 0,002042484
1,80726E-
08
o 6,00 5,00 2,00 0,25 2,00 3,00 3,00 2,00 3,00 3,00 0,50 4,00 0,33 3,00 1,00 3,00 4,00 116640 6861,176471 0,06070999
p 7,00 6,00 0,50 0,33 2,00 2,00 2,00 0,33 2,00 2,00 0,33 3,00 2,00 0,50 0,33 1,00 2,00
49,77777778 2,928104575
2,59089E-
05
q 5,00 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,33 0,50 0,50 0,33 0,50 0,50 0,50 0,25 0,50 1,00 3,39084E-05 1,99461E-06 1,7649E-11
93,00 35,26 40,25 30,76 28,20 26,29 26,34 26,75 20,08 30,33 12,40 25,83 18,03 32,33 14,37 21,18 33,37

Ket : Prioritas Pertama => k. Pengembangan duel economic untuk menghadapi
perubahan iklim
Prioritas Kedua => o. Pengembangan dan peningkatan diversifikasi dan mutu
produk hasil perikanan
Prioritas Ketiga => b. Melakukan pengelolaan berbasis pendekatan ekosistem
Prioritas Keempat => m. Meningkatkan produktivitas berbasis
pengetahuan dan teknologi ramah lingkungan
Prioritas Kelima => p. Penyelenggaran penyuluhan terkait pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan yang
pelaksanaannya dikontrol oleh peraturan desa setempat
PROGRAM-PROGRAM STRATEGIS
Pengembangan duel economic untuk menghadapi perubahan iklim
1. Membuat panduan mengenai pengelolaan perikanan berbasis duel economic
2. Melakukan perekrutan staf atau tim ahli yang berkompeten dalam pengelolaan perikanan
berbasis duel economic
3. Melakukan sosialisasi dan penyuluhan seputar duel economic untuk menghadapi perubahan
iklim kepada masyarakat
4. Meningkatkan peran serta masarakat dalam pengelolaan perikanan
5. Membuat suatu kelompok masyarakat pengelola lingkungan perikanan yang didalamnya
terdiri dari orang-orang dengan latar belakang yang berbeda

Pengembangan dan peningkatan diversifikasi dan mutu produk hasil perikanan
1. Penyuluhan pengolahan hasil perikanan dan tantangannya dalam perdagangan produk hasil
perikanan secara internasional
2. Penyuluhan seputar penerapan HCCP dalam setiap
3. Pameran produk pengolahan hasil perikanan
4. Pembentukan kelompok usaha produktif pengolahan hasil perikanan
5. Menjalin kerjasama dengan beberapa perusahan ataupun LSM yang dapat membantu
menyalurkan berbagai produk yang dihasilkan oleh masyarakat

Melakukan pengelolaan berbasis pendekatan ekosistem
1. Pembuatan peta laut atau pantai setiap pulau yang menunjukkan batas-batas yang menjadi
kewenangan Pemerintah daerah, sehingga dapat menjadi acuan bagi penyusunan tata ruang
laut daerah dan penentuan konservasi
2. Pelatihan aparat yang ada dibidang pengelolaan wilayah pesisir. Pelatihan bagi aparatur
dilakukan secara non-formal, informal maupun formal. Secara non-formal dibuat on the job
training, secara in-formal aparat dapat belajar dari tenaga ahli daerah dan secara formal
dikembangkan kursus perencanaan pengelolaan pesisir terpadu
3. Mengintegrasikan program dari berbagai sektor pembangunan daerah, Swasta dan
Masyarakat.
4. Menetapkan peraturan daerah ataupun berbagai kebijakan yang dapat dijadikan landasan
hukum dalam pengelolaan wilayah konservasi.
5. Membuat kesepakatan dengan pemerintah daerah untuk memberikan dana yang permanen
untuk tujuan operasional pengelolaan perikanan kabupaten pangkep
6. Pembentukan kelompok masyarakat peduli lingkungan yang mampu melakukan pengelolaan
berbasis masyarakat disekitar tempat tinggal mereka.
7. Menetapkan flora dan fauna yang diprioritaskan untuk dilindungi dengan cara membangun
sistem database keanekaragaman hayati laut.
8. Penelitian terkoordinasi dan terpadu untuk menyediakan data dan informasi seputar kawasan
konservasi

Meningkatkan produktifitats berbasis pengetahuan dan teknologi ramah lingkungan
1. Pengembangan dan pengenalan sistem pengetahuan dan teknologi ramah lingkungan
2. Sosialisasi dan penyuluhan mengenai sistem pengelolaan dan pengolahan hasil perikanan
yang berdaya saing
3. Pembinaan kelompok usaha produksi hasil perikanan yang berorientasi pada pemenuhan
pasar
4. Pengadaan sarana dan prasarana perikanan yang ramah lingkungan
5. Pengadaan pelatihan manajemen pengelolaan lingkungan dan pengolahan hasil perikanan

Pengelenggara penyuluhan terkait pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan yang
pelaksanaannya dikontrol oleh peraturan desa setempat
1. Membuat panduan mengenai pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan
2. Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan laut dan pesisir
3. Memberikan kewenangan kepada pemerintah setempat untuk membuat aturan terkait
pengelolaan lingkungan namun tidak mengabaikan kewenangan pemerintah daerah
4. Menetapkan alat tangkap yang boleh maupun tidak boleh digunakan
5. Meningkatkan dan mengintensifkan kegiatan penyuluhan ligkungan bagi masyarakat pulau
Diposkan oleh Nasriani Syam di 11.41
Kirimkan Ini lewat EmailB