Anda di halaman 1dari 8

1

Api Sejarah dan Spirit Pelurusan Sejarah Indonesia


Moeflich Hasbullah
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Presentasi pada Diskusi Buku Api Sejarah-2 karya Ahmad Mansur Suryanegara
di Selasar Campus Center Barat ITB, 11 Ramadhan 1432/11 Agustus 2011
Sebagai warisan dari konflik-konflik politik
yang berlangsung sejak zaman kolonial,
Islam Indonesia adalah sebuah entitas umat
yang selalu berhadapan dengan kekuatan
negara. Negara kolonial mempertahankan
kekuasaan koloninya dengan berusaha
meminimalisir pengaruh kekuatan Islam,
sementara Islam sendiri menjadi
pembangkang birokrasi dan inspirasi untuk
melakukan perlawanan. Tradisi ini berlanjut
hingga zaman Orde Baru yaitu saat pemerintahan Soeharto menempatkan diri
sebagai negara yang memusuhi Islam. Perseteruan ini berimbas pada sejarah.
Negara ingin menuliskan sejarah Indonesia berdasarkan versinya sendiri
dengan perasaan sama dengan kaum kolonial: meminimalisir peranan Islam
dan lebih menonjolkan peranannya sendirinya (Jawanisme abangan). Kalangan
Islam menuntut sejarah ditulis apa adanya (history as it is) sesuai fakta yang
ditemukam.
Ketika sejarah bangsa ditulis dengan tidak diamini umat Islam, polemik
sejarah pun terjadi. Muncullah istilah sejarawan istana sebagai sebutan pada
sejarawan yang menulis untuk kepentingan penguasa. Dalam banyak episode,
sejarah Islam Indonesia tidak ditulis penuh rekayasa, mengalami distorsi dan
pembelokkan. Sejak tahun 1960-an, sudah muncul gugatan-gugatan terhadap
sejarah Indonesia dari beberapa kalangan, yang paling kuat muncul dari
kalangan Muslim. Beberapa episode sejarah Islam yang dipersoalkan itu
misalnya sejarah masuknya Islam ke Indonesia,[1] peranan etnis Cina dalam
Islamisasi,[2] gerakan awal kebangkitan nasional,[3] peranan Islam (ulama)
dalam kemerdekaan, kolonialisasi (Eropa-sentris) dalam penulisan sejarah,[4]
deislamisasi dan hinduisasi kebudayaan Indonesia.[5]
2
Terhadap fakta adanya kolonalisasi, deislamisasi sekaligus hinduisasi
itu, hanya satu dua sejarawan yang sengaja menulis buku untuk meluruskan
sejarah. Peneliti LIPI, Asvi Warman Adam, menulis Pelurusan Sejarah
Indonesia (2007) yang fokusnya pada sejarah Orde Baru. Buku Api Sejarah (1-
2, 2009) karya Ahmad Mansur Suryanegara adalah rekaman jejak atau
akumulasi seorang sejarawan yang sudah lama menaruh perhatian pada usaha
pelurusan sejarah Indonesia. Larisnya buku itu menunjukkan bahwa
kegeregetan sejarahnya sejalan dengan perasaan dan memori kolektif
masyarakat Indonesia terutama di lapisan menengah ke bawah.
Menimbang Api Sejarah
Buku ini menonjol pada informasi sejarah dan misi gugatannya.
Informasi sejarah dan argumentasi yang diuraikannya terbilang meyakinkan.
Aspek utama penunjang keberhasilan ini adalah penguasaan materi sejarah. Ini
tidak aneh karena Ahmad Mansur Suryanegara (AMS) adalah sejarawan senior
yang sudah lama meniti karirnya di blantika sejarah sebagai dosen dan penulis
sejarah sejak tahun 1970-an. Beberapa buku dan ratusan artikel telah
ditulisnya. AMS pun pernah berpolemik dengan sejarawan dan Menteri P & K
zaman Orde Baru, Nugroho Notosusanto tentang awal gerakan kebangkitan
nasional yang konon hampir mengancam keselamatan jiwanya. Membaca buku
ini, pembaca umum (bukan kalangan sejarawan) akan ditaklukan oleh-oleh
kekayaan informasi sejarah yang diuraikannya dan kaitan-kaitan antar
peristiwa yang dihubungkannya, terlepas dari kebenarannya. AMS pun bukan
sejarawan tematis yang menguasai sejarah hanya dalam tema-tema tertentu
sesuai fokus penelitiannya. AMS berusaha menjadi sejarawan global yang
menulis peristiwa dalam konteks yang luas dan mengaitkan semua keterkaitan
peristiwa yang diketahuinya.
Informasi sejarah ulama dan santri sebagai sumbangan utama buku ini
terasa kuat sebagai kelebihan buku ini. Ruh utama Api Sejarah adalah pada
misi penyadaran sejarah (historical consciousness) pada masyarakat. Provokasi
anak judul pada jilid menguatkan pengaruh buku ini. Terlepas dari kekurangan
di sana-sini dan ketaksetujuan atas premis-premis serta kesimpulan-
kesimpulan AMS, harus diakui, Api Sejarah telah menggugat pengetahuan yang
sudah mapan dipegang oleh masyarakat luas tentang beberapa aspek dalam
sejarah Indonesia yang selama ini menjadi pandangan penguasa dan
dipropagandakan kepada masyarakat. Walaupun dukungan sumber-sumber
primer atas pernyataan-pernyataan tertentu kurang memuaskan, gugatan-
gugatan dalam buku ini mendorong pembaca untuk merenung dan
memikirkan kembali atau mengkonstruksi ulang kesimpulan-kesimpulan
3
pengetahuan sejarah yang selama ini menjadi pengetahuan masyarakat seperti
tentang masuknya Islam ke Indonesia abad ke-13, Budi Utomo sebagai
gerakan awal kebangkitan nasional, hari pendidikan, inspirasi perjuangan
Kartini, peranan ulama yang kurang dihargai, para pahlawan yang tidak
diekspos identitas keislamannya dan sebagainya.
Beberapa kritik yang perlu diberikan mungkin adalah istilah ulama
sebagai inti pelaku sejarah dalam buku ini tidak dijelaskan. Siapa yang
dimaksudkan sebagai ulama dan santri tidak dirumuskan sebelumnya.
Ulama dan santri diasosiasikan begitu saja kepada semua kalangan Islam yaitu
tokoh-tokoh dan para pelaku sejarah. Ini bisa jadi mendistorsi pengertian
ulama. Api Sejarah juga banyak diwarnai bahasa kesimpulan mendahului
penjelasan fakta. Kesan menggiring pembaca oleh kesimpulan tampak sangat
kuat ketimbang menggiring dengan data dan fakta. Mungkin karena fakta
sudah sangat banyak terkumpul dalam pengetahuan dan imajinasi AMS setelah
berpuluh-puluh tahun menggeluti sejarah, membuat fakta-fakta yang banyak
itu tidak terekam dan tertuliskan semuanya. Tetapi sebagai buku ilmiah, ini
tetap sebuah kelemahan. Argumen sejarah yang baik adalah fakta dan data
yang kuat walaupun tanpa harus disimpulkan. Kesimpulan biarlah dikonstruk
oleh pembaca sendiri. Biarlah fakta berbicara sendiri tentang benar salah.
Biarlah pelurusan sejarah dikerjakan oleh fakta-fakta yang berbicara sendiri
secara kuat dan meyakinkan, bukan oleh kesimpulan yang diambil dari fakta-
fakta yang kurang detail.
Pada pernyataan-pernyataan pelurusan sejarah Indonesia yang menjadi
ruh buku ini, yang mungkin agak mengagetkan pembaca, buku ini kurang
ketat dan detail pada pengutipan sumber. Tentu saja, pernyataan-pernyataan
sejarah harus selalu menyandarkan pada fakta dari sumber yang meyakinkan
berupa dokumen. Yang terasa mengurangi bobot buku ini juga adalah
pemuatan ilustrasi. Banyak foto-foto orang yang tidak nyambung dan tidak
memiliki kaitan sama sekali dengan materi sejarah yang sedang dibahasnya
dalam halaman-halaman tertentu. Mungkin maksudnya kenangan dan
penghargaan pribadi pada orang-orang dekat AMS. Tapi terasa kurang
proporsional. Sebaiknya, foto-foto itu dimuat terpisah dalam lampiran di akhir
buku misalnya rubrik khusus kenangan sahabat, sehingga tidak menganggu
persambungan ilustrasi dengan pembahasan materi.
Mengapa Api Sejarah Best Seller?
Predikat best-seller umumnya bukan pada buku-buku non-fiksi yang
serius dan berat dibaca oleh masyarakat melainkan buku-buku fiksi, ringan
dan populer yang memenuhi selera masyarakat atau dibutuhkan karena
menyangkut kepentingan kehidupan praktis sehari-hari. Mungkin pertama kali
4
dalam sejarah Indonesia ada buku sejarah ilmiah laku keras di masyarakat. Api
Sejarah jilid 1 laris manis dengan penjualan 10.000 eksemplar pada cetakan
pertama yang baru 6 bulan. Kemudian mendapat respon hangat dari media
dan dicari-cari masyarakat. Book Fair Award 2010/1431 H pun menggelarinya
sebagai peraih Islamic Book Fair Award 2010/1431 H. Penulis melihat, paling
tidak enam aspek penyebabnya.
Pertama, faktor judul buku. AMS tidak terjebak pada buku-buku ilmiah
yang judulnya pun ilmiah. Misalnya, Menggugat Sejarah Indonesia, atau
Pelurusan Sejarah Islam Indonesia. AMS memilih bahasa yang umum yang
secara psikologis enak dibaca: Api Sejarah. Ini adalah kalimat para guru besar
atau orang bijak yang berwibawa. Api Sejarah adalah bahasa Bung Karno
sebagai orang besar dan guru bangsa dalam bukunya Di Bawah Bendera
Revolusi saat mengkritik kecenderungan lemahnya umat Islam dalam
mempelajari sejarah bahwa para ulama kurang feeling-nya terhadap sejarah.
Para ulama hanya mampu membaca abunya sejarah tapi tidak dapat
menangkap api sejarah. Ketebalan buku pun cukup merangsang dan
provokasi anak judul yang sebenarnya bahasa iklan, menarik untuk masyarakat
umum yang memiliki ghirah keislaman yang kuat dan kesal pada penguasa
yang selalu memusuhi Islam. Penunjang lain, Api Sejarah sesungguhnya lebih
merupakan bahasa dakwah. Didalamnya banyak kalimat-kalimat yang berisi
penyadaran akan besarnya peranan Islam dalam sejarah Indonesia. Secara
psikologis, bahasa seperti ini lebih berpengaruh dan digemari masyarakat
ketimbang bahasa-bahasa teoritis dan deskrispi ilmiah yang sulit dimengerti.
Kedua, faktor ketokohan AMS. Api Sejarah dan provokasi anak judulnya
(Buku yang Akan Mengubah Drastis Pandangan Anda tentang Sejarah
Indonesia) ditunjang oleh ketokohan dan reputasi AMS sebagai sejarawan
senior yang penguasaan sejarahnya kuat dan sejak lama dikenal sebagai
pembela sejarah Islam yang penuh semangat serta ditunjang ciri khasnya yaitu
penampilanya yang nyentrik, semuanya bersenyawa menjadi daya tarik
tersendiri buku Api Sejarah.
Ketiga, gaya pembacaan sejarah yang khas. AMS adalah seorang
sejarawan simbolis. Ia seorang pembaca fakta simbol yang handal yang jarang
terdapat di kalangan sejarawan. Fakta sejarah di tangannya menjadi berwarna,
unik, hidup, menunjukkan sisi-sisi yang tak terbaca dari sebuah fakta dan oleh
karenanya sering mengejutkan. Model pembacaan seperti ini tidak dimiliki
sejarawan lain. Sebagai pembaca simbol, AMS sangat peka dengan fakta-fakta
historis tetapi ia menangkapnya secara simbolik. Fakta tidak dibaca apa
adanya melalui hubungan relasi logika yang rasional, melainkan hubungan
simbol-simbol. Pembacaan seperti ini tentu saja menghadirkan resiko.
5
Bacaannya menjadi sering tak dimengerti oleh kalangan sejarawan dan oleh
mereka yang berfikir rasional yang memahami sesuatu dari hubungan-
hubungan fakta secara lahir. Buku Api Sejarah tentu sangat historis dan
berbasis tradisi ilmiah. Tetapi AMS melengkapinya dan menghidupkannya
dengan bacaan simbolik kemudian menghubungkan fakta-fakta yang tak
berkaitan menjadi seperti bersambungan: warna bendera merah putih berasal
dari Rasulullah, warna Islam adalah merah bukan hijau, kusen-kusen yang
bersilang adalah simbol salib sebagai pengaruh ajaran Kristen, ide pembuatan
batik oleh parawali berasal dari Al-Quran yaitu dari huruf ba dan titik
dibawahnya, perjuangan Kartini diilhami Al-Quran dsb). Dalam tradisi sejarah
ilmiah, bacaan seperti ini walaupun nyambung tapi terdengar aneh. Tapi
tampaknya, AMS asyik dan istiqamah dengan metoda Mansuriyah-nya itu
karena mengagetkan, provokatif, mempesona dan diterima masyarakat luas. Di
tangan AMS, sejarah bukan hanya ilmu yang asing dan menjenuhkan tapi
menjadi hidup dan digemari. Inilah yang membuat tulisan-tulisan AMS selama
ini digemari masyarakat dan memuncak dalam Api Sejarah karena mengisi rasa
haus masyarakat atas bacaan sejarah yang menarik dibaca. Ditambah dengan
ghirahnya yang besar terhadap Islam. Kuatnya warna Islam pada tulisan-
tulisan AMS membuat uraian sejarahnya lebih menggairahkan ketimbang
sejarawan konvensional, walaupun menunjukkan subyektifitasnya yang juga
kuat. AMS sering dituduh melakukan islamisasi sejarah, merekayasa fakta dsb.
AMS sering dicap ideolog dan pendakwah bukan sejawaran. Tapi, sekali lagi,
larisitas bukunya hingga best seller menunjukkan fakta itu yang lebih diterima
masyarakat.
Keemat, faktor spiritual. Ini adalah faktor berkah dari para ulama dan
parawali yang sangat dihormari AMS dan diperjuangan dalam tulisan-tulisan
sejarahnya sejak lama. Api Sejarah adalah puncak penghargaan dan
penghormatan AMS kepada para ulama atas jerih payah mereka dalam
menyebarkan Islam di Indonesia, memperjuangkan kemerdekaan dan
menegakkan NKRI. AMS pun dikenal dekat secara fisik dengan para ulama,
para kiayi dan pesantren. Berkah para ulama itu mengalir pada bukunya yang
kemudian laris menjadi best seller.
Kelima, faktor momentum. Umat Islam Indonesia sangat menyadari
adanya upaya pembelokan sejarah yang dilakukan oleh pemerintah kolonial
kemudian Orde Baru dan kelompok-kelompok yang memusuhi Islam tapi
selama itu pula tidak ada yang berusaha meluruskannya. Karenanya, umat
menunggu lama sekali kemunculan seorang pendekar atau ratu adil yang
bisa meluruskan sejarah Indonesia dan menempatkan sejarah Islam secara adil
dan proporsional. Dalam situasi inilah, Api Sejarah menemukan
6
momentumnya. Era reformasi dimana kebebasan berbicara semakin terjamin,
umat Islam seperti menemukan air segar di tengah kehausan sejarah yang
benar.
Keenam, faktor promosi yang intensif. Penerbit Salamadani
mempromosikan buku ini sangat bagus. Buku Api Sejarah terus menerus
dipromosikan dan diulas terutama melalui facebook sehingga semakin banyak
orang yang tertarik memiliki dan membacanya. Walaupun yang hadir tidak
selalu banyak, puluhan dikusi buku digelar di berbagai kota. Ketika promosi
dilakukan secara gencar dan diketahui penulisnya adalah sejarawan senior
yang selama ini dikenal konsisten dengan upaya-upaya pelurusan sejarah,
gayungpun bersambut membuat Api Sejarah laku terjual.
Penutup
Apresiasi yang besar harus diberikan kepada AMS dengan
mahakarayanya ini, paling tidak karena dua alasan.Pertama, karena ketekunan
dan kegigihannya menulis sejarah yang berbeda dengan mainstream yang
sudah sejak lama ditekuninya dengan resiko sebagian sejarawan menilai karya
sejarahnya memiliki problem metodologis. Tetapi, di sisi lain, problem ini
justru telah melahirkan madzhab Mansuriyah dalam penulisan
sejarah. Kedua, yang paling penting adalah semangat dari an old grand
man. Ini yang harus menjadi inspirasi generasi muda. Perlu diacungkan jempol
bahwa sekitar 1.300 halaman Api Sejarah ditulis saat usianya mendekati 80
tahun. Semangat yang jarang dimiliki oleh usia sebayanya. Disaat para
pensiunan umumnya menikmati usia senjakalanya dengan meminta banyak
dipijit, bercengkrama dengan cucu-cicit, mengurus tanaman hias, ikan koki
dan dengan burung-burung piaraan dalam sangkarnya yang menyiksa, AMS
terus berdedikasi menulis dan memikirkan pelurusan sejarah Islam Indonesia.
Paling tidak, Api Sejarah telah memberikan pelajaran dan PR pada sejarah
Indonesia. Mudah-mudahan dedikasinya tidak sia-sia dan Allah SWT mencatat
segala usahanya dengan tinta emas di sisi-Nya. Amin.[] Wallahu alam!
_____________________
Catatan:
[1] Hingga pertengahan era Orde Baru, anggapan yang banyak dipegang tentang awal
masuknya Islam ke Nusantara adalah abad ke-13 berasal dari India. Teori yang
merupakan pandangan Snouck Hurgronje dkk ini, seorang penasehat Pemerintah
Kolonial Belanda, diajarkan disekolah-sekolah menengah sehingga menjadi
pandangan umum yang seolah-olah benar. Pandangan abad ke-13 mengabaikan
fakta yang sangat banyak tentang perkembangan Islam di Nusantara sejak abad ke-
7/8. Tahun 1963 di Medan sudah diselenggarakanSeminar Nasional Sejarah Masuknya
7
Islam ke Indonesia yang menghadirkan para ahli yang dikoordinatori oleh Dr. A. Mukti
Ali. Seminar itu menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7/8.
Pembelokkan ini dinilai sebagai sebuah upaya membelakangkan periode sejarah
masuknya Islam ke Indonesia.
[2] Reaksi atas ini lihat Sumanto Al-Qurtuby, Arus Cina-Islam-Jawa. Bongkar Sejarah
atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV&XVI,
Inspeal Press dan Inti, 1993.
[3] Pemerintah Orde Baru meresmikan hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20
Mei 1908, dari gerakan Boedi Oetomo. Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi
yang pertama kali menyerukan kebangkitan nasional. Padahal hingga kongresnya
tahun 1931 di Solo, organisasi yang membatasi keanggotaannya hanya pada kalangan
priayi Jawa itu menolak cita-cita persatuan Indonesia dan tetap mempertahankan
Jawanisme hingga kemudian membubarkan dirinya karena merasa sudah tidak sesuai
dengan semangat zaman. Sementara, Sarekat Islam, selain bersifat masif dan berskala
nasional dengan jumlah anggotanya mencapai jutaan di seluruh Indonesia, pada
kongres pertamanya di Bandung tanggal 17-24 Juni 1916 sudah memasyarakatkan
istilah nasional dan mempelopori tuntutan Indonesia merdeka (Suryanegara 2009:
xviii-xix). Berdasarkan fakta sejarah, kalangan Islam berharap hari kebangkitan
nasional diperingat dari kelahiran Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1906 yang
kemudian menjadi Sarekat Islam (SI) pada tahun 1911.
[4] Hingga pertengahan abad ke-20, penulisan sejarah Indonesia didominasi oleh
pendekatan Eropa-sentris dimana peran-peran kolonial Eropa lebih ditonjolkan dalam
penulisan sejarah. Namun, setelah ditemukan sumber-sumber dan kajian sejarah
penting seperti disertasi J.C. van Leur tentang perdagangan di Asia Tenggara tahun
1934, Suma Oriental karya Tome Pires dan kemudian Asian Trade and European
Influence in the Indonesian Archipelago between 1500 and 1630 karya M.A.P. Meilink-
Roelofz yang diterbitkan di Den Haag tahun 1962, kecenderungan mulai berubah.
Aspek-aspek lokal, regional dan nasional dalam melukiskan fenomena Indonesia masa
silam mulai mendapat tempat sejak saat itu. Pedagang-pedagang [Muslim] Asia
sebagai penggerak sejarah, kata Lombard (2005: 3,9), kurang sekali digambarkan
dan kurang diakui.
[5] Sejak setelah masa kemerdekaan sampai tahun 1980an, Indonesia didominasi oleh
simbol-simbol kebudayaan kelompok Hindu-abangan. Dalam periode ini simbol-
simbol kultur non-Islam dikonstruksi, disosialisikan dan diterima oleh masyarakat
Indonesia. Simbol-simbol kebudayaan nasional dikonstruksi dengan mengambil
warisan dari nilai-nilai kebudayaan Hindu. Hal ini berdasar sebuah pendapat yang
populer di kalangan abangan bahwa negara dan bangsa Indonesia bisa terbentuk
karena adanya prestasi yang dicapai oleh kerajaan Hindu Majapahit di masa lalu.
Dengan demikian, candi-candi seperti Borobudur dan Prambanan serta yang lainnya,
kendati tidak berarti jumlahnya dibandingkan dengan jumlah ratusan masjid yang
8
bersejarah, sering disebut-disebut sebagai warisan kejayaan masa lalu bangsa
Indonesia. Presiden Soekarno dan Soeharto, sebagai tokoh abangan Jawa,
mengabadikan bayangan kejayaan masa lalu ini melalui penggunaan istilah-istilah
Hindu sebagai nama dari simbol-simbol kenegaraan yang penting: Lima dasar negara
dinamai Pancasila, kesatuan dan keragamaan Indonesia diistilahkan Bhineka Tunggal
Ika, istana kepresidenan diberi nama Bina Graha, doktrin untuk pendidikan Pancasila
disebut Eka Prasetya Pancakarsa, sepuluh doktrin militer disebut Sapta Marga, patung
Ganesha masih menjadi simbol dan kebanggaan ITB padahal mayoritas dosen dan
mahasiswanya beragama Islam.[]