Anda di halaman 1dari 21

LBM 5

STEP 1
-
STEP 2
1. Mengapa didapatkan mata merahdan berair, kabur +, nyeri +?
2. Mengapa ada mix inj, udem kornea +, erosi kornea +?
3. Mengapa dilakukan irigasi dg aquabidest, antibiotic dan bebat
mata?
4. Sebutkan dan jelaskan macam2 trauma mata berdasar jenis dan
penyebab !beserta ciri khas masing2!
5. Kandungan apa pd cairan pembersih sampai timbul keluhan?
6. DD
7. Apa saja Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari trauma pada
mata?
8. Apa saja Pemeriksaan fisik dan penunjang yang dilakukan!
9. Apa penatalaksanaan?
10. Bagaimana Patogenesis kerusakan bola mata akibat trauma!
11. Bagaimana Reaksi kimia yang terjadi akibat trauma?


STEP 3
1. Mengapa didapatkan mata merahdan berair, kabur +, nyeri +?
Cairan pembersih yang basa lebih bahaya.
Yang basa lebih destruktif bias menembus kornea sampai retina.
Bahan kimia sbg benda asing. Masuk akan timbul reaksi
inflamasi yang akan menyababkan vasodilatasi a. konjungtiva dan
a. siliaris anterior.
Berair mekanisme pertahanan untuk mengeluarkan benda
asing.
Kabur keruh sudah sampai media refrakta
Nyeri sampai kornea banyak persarafan. Jika epitel rusak
sakit.
Trauma akibat bahan kimia asam dan basa.
Asam ion hydrogen merusak permukaan okuler
Anion koagulasi protein , Zat asam terhalang
mencegah penetrasi mencegah penetrasi zat lebih dalam.
Ada reaksi buffer untuk menyeimbangkan.asam kerusakannya
terlokalisir. Disebut necrose koagulan.
Asam ada gambaran ground glass.
Ph 5-3masih bs terlindungi
Ph dibawah 2,5 tdk terkompensasi denaturasi protein gagal
koagulasi.

Trauma basa hidrofilik dan lipofilik . mampu menembus
membrane sel yang mampu menembus kornea , COA dan retina.
Bisa menghancurkan jar kolagen yang ada di kornea smp stroma
keratitis dan ulkus kornea.
Disebut necrose coalesan.
Kornea dan konjungtiva epitelnya nonkeratin.
Kornea dilindungi tear film mata berair.
Reaksi saponifikasi dari asam lemak. Yang akan membuat cairan
mudah berdifusi masuk ke stroma.

2. Mengapa ada mix inj, udem kornea +, erosi kornea +?
Bahan kimia sbg benda asing. Masuk akan timbul reaksi
inflamasi yang akan menyababkan vasodilatasi a. konjungtiva dan
a. siliaris anterior.
Edem kornea disfungsi endotel kornea.
Perlipatan membrane decemet dan penebalan stroma akibat
penumpukan cairan di stroma yang disebabkan inflamasi.

3. Mengapa dilakukan irigasi dg aquabidest, antibiotic dan bebat
mata?
Aquabidest untuk membilas bias dengan Nacl fisiologis,
aquabidest.
Antibiotic untuk mencegah infeksi sekunder.
Bebat mata biar tidak silau, mengurangi nyeri.


4. Sebutkan dan jelaskan macam2 trauma mata berdasar jenis dan
penyebab !beserta ciri khas masing2!
o
Sebutkan Bahan bahan disekitar beserta pHnya!

5. DD

6. Apa saja Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari trauma pada
mata?
Trauma tumpul = edem palpebra, hifema
Palpebra edem.
Konjungtiva perdarahan konjungtiva
COA hifema. Ada berapa derajat? Sampai tahap mana
yag bs menyebabkan kebutaan, apa komplikasi ?
Lensa luksasi anterior glaukoma sudut tertutup, miopi,
katarak.
Posterior hipermetropi.
Kornea erosi kornea, ulkus kornea
Kimia kojungtiva simblefaron, ankiloblefaron.

7. Apa saja Pemeriksaan fisik dan penunjang yang dilakukan!

- Visus
- Fokal iluminasi
- Keratoskop plasido, defek pada kornea?
- Tes fluoresen.
- Tonometer
- pH bola mata.
- Pemeriksaan gerak bola mata

8. Bagaimana Patogenesis kerusakan bola mata akibat trauma!

9. Bagaimana Reaksi kimia yang terjadi akibat trauma?

10. Bagaimana penatalaksanaannya?

Trauma kimia irigasi untuk menetralisir, salep antibiotik, bebat
mata, vit C
Jika ada Perforasi antibiotik topikal, bebat mata pastikan tdk ad
Benda sing, jika ada dikeluarkan.
Luka tembus antibiotik sistemik, IV, anti tetanus profilaksis,
analgetik, tdk boleh diberi salep.
LENSA pakai kacamata, bila ada penyulit spt glaukoma dilakukan
pembedahan.
Hifema berbaring dg bantal tinggi 30-45 derajat.
Dilakukan parasintesis untuk mengeluarkan darah.
Iridoplegi (mata sll midriasis) diberi miotikum atau pakai kacamata
hitam.

STEP 4

STEP 7
1. Mengapa didapatkan mata merahdan berair, kabur +, nyeri +?

The severity of the injury relates directly to the duration, the type of the
chemical, and the deviation of the corrosive substance from the
physiological pH.
Acid Burns
Acidic chemicals are categorized by having a low pH and readily
dissociate into hydrogen ions and anions within the anterior surface. They
are less common than alkali burns and are usually less damaging. The
hydrogen ions produced by chemical dissociation cause a change in pH
within the ocular plane itself. The anions produced from dissociation
cause the denaturation, precipitation, and coagulation of proteins
(coagulation necrosis), which causes clouding of the once transparent
ocular surfaces. It is of note that the protein coagulation makes acid
injury less damaging than alkali injury, often limiting the burn to the
anterior of the eye. There is indeed damage due to the coagulation
process, but it is protective in that it prevents further penetration of the
insulting ocular offender.
Hydrofluoric acid is a notable exception of the typical chemical course of
acidic substance and ocular damage. The fluoride ion is able to penetrate
deeply despite the protein coagulation that may have occurred. It,
therefore, causes more invasive damage than most acidic compounds,
comparable to damage caused by an alkali substance. Still, higher
concentrations of any acid or failure of rapid intervention with any acid
has the potential for more invasive damage than is typically expected for
an acidic compound.

Alkali Burns
Alkali chemicals are categorized by having a high pH and readily
dissociate into hydroxyl ions and cations within the anterior surface. They
are the more popular form of ocular caustic agent and tend to be more
damaging. The resulting hydroxyl ions cause saponification, which
combines with fatty acids and proteins, notably causing liquefactive
necrosis, as opposed to the coagulative necrosis of acids. The cation
dissociated from the offending agent is also active in interaction with
collagen and glycosaminoglycans of the stroma, causing a fogging of the
stroma. The extensive breakdown of tissue within the cornea is
significantly detrimental, because it facilitates deeper penetration of the
chemical and infiltration of the anterior segment.
Penetration of the chemical into the anterior segment, along with collagen
hydration, malignant fibril changes, and trabecular changes may cause a
rapid (seconds to minutes) and significant change in intraocular pressure
(IOP) second to a rapid rise in aqueous humor. This may result in iritis,
glaucoma, and decreased visual acuity, with increased morbidity.



Chemical Ocular Burns: A Case Review
Adeola Kosoko, BA, M3 Qui Vu, BS, M3 Omofolasade Kosoko-Lasaki, MD, MSPH,
MBA

American Journal of linical edicine Summer 2009 Volume Six, umber Three
2. Mengapa ada mix inj, udem kornea +, erosi kornea +?


3. Mengapa dilakukan irigasi dg aquabidest, antibiotic dan bebat
mata?

Patients suffering from a chemical injury often present to the
emergency. Once history of chemical exposure is obtained chemical
should be identified if possible, but this should but delay treatment.
Immediate treatment should include copious irrigation prior to
ophthalmic evaluation irrigation with isotonic saline or lactate ringer
solution should be performed and sometimes irrigating volumes up to
20 L or more is required to change pH to physiological levels (pH
testing should be done)

Ocular chemical injuries and their management
Parul Singh, Manoj Tyagi, Yogesh Kumar, K. K. Gupta, and P. D. Sharma
Oman J Ophthalmol. 2013 May-Aug; 6(2): 8386.
4. Sebutkan dan jelaskan macam2 trauma mata berdasar jenis dan
penyebab !beserta ciri khas masing2!
1) Tra Trauma mekanik
a) Trauma tumpul
Palpebra hematom
i. Penyebab
Trauma akibat pukulan tinju, atau benda-benda keras lainnya
Konjungtiva
Edema konjungtiva
Jaringan konjungtiva yang bersifat selaput lendir dapat menjadi kemotik
pada setiap kelainannya, demikian pula akibat trauma tumpul. Bila kelopak
terpajan ke duania luar dan konjungtiva secara langsung kena angin tanpa
mengedip, maka keadaan ini telah dapat mengakibatkan edema pada
konjungtiva.
Hematom subkonjungtiva
Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang
terdapat pada atau di bawah konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri
episklera. Pecahnya pembuluh darah ini dapat akibat batuk rejan,trauma
tumpul basis kranii, atau pada keadaan pembuluh darah yang rentan dan
mudah pecah. Pembuluh darah akan rentan dan mudah pecah pada usia
lanjut, hipertensi, areriosklerosis, konjungtiva meradang (konjungtivitis),
anemia, dan obat-oabatan tertentu.
Kornea
Edema kornea
Trauma tumpul yang keras atau cepat mengenai mata dapat
mengakibatkan edema kornea ataupun malahan ruptur daripada membran
Descement. Edema kornea yang berat dapat mengakibatkan serbukan sel
radang dan neurovaskularisaso masuk ke dalam jaringan stroma kornea.
Edema korne akan memberikan keluhan penglihatan kabur dan
terlihatnya pelangi sekitar bola lampu atau sumber cahaya yang dilihat.kornea
akan terlihat keruh, dengan uji plasido yang positif.

Erosi kornea
Erosi kornea merupakan keadaan terkelupasnya epitel kornea yang dapat
diakibatkan oleh gesekan keras pada epitel kornea. Hal yang dapat
mengakibtkan erosi kornea adalah lensa kontak, sinar ultra violet, debu, dan
asap.
Akibatnya kornea yang mempunyai banyak serabut saraf sensibel terkena,
maka pasien akan merasa sakit sekali, dengan blefarospasme, lakrimasi,
fotofobia, dan penglihatan akan terganggu oleh media kornea yang keruh.
Pada kornea akan terlihat suatu defek epitel kornea yang bila di beri
pewarnaan fluoresein akan berwarna hijau. Hati-hati bila memakai obat
topikal untuk menghilangkan rasa sakit pada pemeriksaan karena dapat
menambah kerusakan epitel. Pada erosi kornea yang perlu diperhatikan
adalah adanya infeksi yang timbul kemudian akibat barier epitel hilang.
Uvea
Iridoplegia
Pada trauma tumpul dapat terjadi kelumpuhan otot sfingter pupil
sehingga pupil menjadi lebar atau midriasis. Pupil ini tidak bereaksi terhadap
sinar.
Pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi, silau akibat
gangguan pengaturan masuknya sinar pada pupil, akan terlihat anisokoria
pada pupil.
Iridoplegia ini akan berlangsung beberap hari sampai beberapa minggu.
Kadang-kadang tidak menjadi normal lagi.
Pada pasien dengan iridoplegia sebaiknya diberi istirahat untuk mencegah
terjadinya kelelehan sfingter disertai dengan pemberian.

Iridodialisis
Trauma tumpul dapat mengakibatkan robekan pada pangkal iris sehingga
bentuk pupil menjadi berubah menjadi lonjong. Biasanya iridodialisis terjadi
bersama-sama dengan terbentuknya hifema. Pasien akan melihat ganda
dengan satu matanya. Bila keluhan demikian maka pada pasien sebainya
dilakukan pembedahan dengan melakukan resposisi iris yang terlepas.

Hifema
Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma
tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Bila pasien
duduk hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan, dan
hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan
Penglihatan pasien akan sangat menurun. Kadang-kadang terlihat
iridoplegia dan iridodialisis. Pasien akan mengeluh sakit disertai dengan
epifora dan blefarospasme.
Pasien dengan hifema harus tinggal dan dirawat di rumah sakit. Pasien
tidur dengan kepala miring 60 derajat, diberi koagulansia, dan mata ditutup.
Pada anak-anak yang gelisah dapat diberikan obat penenang. Bila terjadi
penyulit glaukoma diberi asetazolamida.
Biasanya hifema akan hilang sempurna. Kadang-kadang sesudah hifema
hilang atau 7 hari setelah trauma dapat terjadi perdarahan atau hifema baru
yang disebut hifema sekunder yang pengaruhnya akan lebih hebat karena
perdarahan lebih sukar hilang.
Parasentesis atau mengelaurkan darah dari bilik mata depan dilakukan
pada pasien dengan hifema bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea,
glaukoma sekunder, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila setelah 5
hari tidak terlihat tanda-tanda gifema akan berkurang.
Glaukoma sekunder dapat terjadi akibat kontusi badan siliar berakibat
suatu reses sudut bilik mata sehingga terjadi gangguan pengaliran cairan
mata.
Zat besi di dalam bola mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila
didiamkan akan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan.

Iridosiklitis
Pada trauma tumpul dapat terjadi reaksi jaringan uvea sehingga
menimbulkan iridosiklitis atau radang uvea anterior. Pada mata akan terlihat
mata merah, suar di dalam bilik mata depan, dan pupil mengecil. Tajam
penglihatan menurun. Pada uveitis anterior diberikan tetes midriatik dan
steroid topikal. Bila terlihat radang berat maka dapat diberikan steroid
sistemik.

Lensa
Dislokasi lensa
Trauma tumpul lensa dapat mengakibatkan dislokasi lensa akibat
putusnya zonula zinn. Gangguan kedudukan lensa ini dapat dalam bentuk ;
a) Subluksasi lensa dan luksasi lensa
Terjadi akibat zonula zinn putus sebagian sehingga lensa berpindah
tempat.
Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang. Subluksasi
lensa akan memberikan gambaran pada iris berupa iridodonesis. Akibat
pegangan lensa pada zonula tidak ada maka lensa yang elastis akan menjadi
cembung, dan mata akan menjadi lebih miopia. Lensa yang menjadi sangat
cembung mendorong iris ke depan sehingga sudut bilik mata tertutup. Bila
sudut bilik mata menjadi sempit pada mata ini mudah terjadi glaukoma
sekunder.
Subluksasi lensa dapat juga terjadi spontan akibat pasien menderita
kelainan pada zonula zinn yang rapuh (sindrom Marphan).
b) Luksasi lensa anterior
Bila seluruh zonula zinn di sekitar ekuator putus akibat trauma maka lensa
dapat masuk ke dalam bilik mata depan. Akibat lensa terletak di dalam bilik
mata depan ini maka akan terjadi gangguan pengaliran keluar cairan bilik
mata sehingga akan timbul glaukoma kongestif akut dengan gejala-gejalnya.
Pasien akan mengeluh penglihatan menurut mendadak, disertai rasa sakit
yang sangat, muntah, mata merah dengan blefarospasme. Terdapat injeksi
siliar yang berat, edema kornea, lensa di dalam bilik mata depan. Iris
terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar. Tekanan bola mata sangat
tinggi. Pasien secepatnya dikirim pada dokter mata untuk dikeluarkan
lensanya dengan terlihat dahulu diberikan asetazolamida untuk menurunkan
tekanan bola mata.
c) Luksasi lensa posterior
Pada keadaan putusnya zonulla zinn di seluruh lingkaran ekuator lensa
sehingga lensa jatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di datarn bawah
polus posterior fundus okuli. Mata ini akan menunjukkan gejala mata tanpa
lensa atau afakia. Pasien akan melihat normal dengan lensa + 12.0 dioptri
untuk jauh, bilik mata depan dalam dan iris tremulans. Pasien akan mengeluh
adanya skotoma pada lapang pandangannya akibat lensa mengganggu
kampus pasien.

Subluksasi lensa
Luksasi lensa
Katarak traumatic
Trauma tumpul dapat mengakibatkan katarak pungtata, selain daripada
dapat mengakibatkan katarak, yang biasanya berjalan lambat, dan proses
degenerasinya dapat berjalan lanjut. Proses degenerasi lanjut ini dapat
mengakibatkan pencairan korteks lensa dan bocor melalui kapsul lensa. Bahan
lensa di luar kapsul sebagai benda asing menimbulkan reaksi di dalam bilik
mata depan sehingga menimbulkan reaksi uveitis yang disebut sebagai uveitis
fakotoksik dan glaukoma fakolitik.
Bila katark telah menimbulkan reaksi fakolitik maka pasien akan mengeluh
mata sakit disertai dengan gejala uveitis lainnya sehingga lensa perlu
dikeluarkan dengan segera.

Retina dan koroid
Edema retina dan koroid
Trauma tumpul pada retina dapat mengakibatkan edema retina. Edema
retina akan memberiakn warna retina yang lebih abu-abu akibat sukarnya
melihat jaringan uvea melalui retina yang sembab. Berbeda dengan oklusi
arteri retina sentral dimana terdapat edema retinakecuali daerah makula,
sehingga pada keadaan iniakan terlihat cherry red spot yang berwarna
merah. Edema retina akibat trauma tumpuljuga mengakibatkanedema makula
sehingga tidak terdapat cherry red spot.
Pada trauma tumpul yang paling ditakutkan adalah terjadi edema
makula atau edema berlin. Pada keadaan ini akan terjadi edema yang luas
sehingga seluruh polus posterior fundus okuli berwarna abu-abu.
Umumnya penglihatan akan normal kembali setelah beberapa waktu,
akan tetapi dapat juga penglihatan berkurang akibat tertimbunnya daerah
makula oleh sel pigmenepitel.

Ablasi retina
Trauma diduga merupakan pencetus untuk terlepasnya retina dari koroid
pada penderita ablasi retina. Biasanya pasien telah mempunyai bakat untuk
terjadinya ablasi retina ini seperti retina tipis akibat retinitis sanata, miopia,
dan proses degenerasi retina lainnya. Bila terjadinya ablasi retina setelah
suatu trauma tidak diketahui dengan jelas karena waktu terjadinya tidak
selalu sama.
Pada pasien ekan terdapat keluhan seperti adanya selaput yang seperti
tabir menganggu lapang pandangannya. Bila terkena atau tertutup daerah
makula maka tajam penglihatan akan menurun. Pada pemeriksaan funduskopi
akan terlihat retina yang berwarna abu-abu dengan pembuluh darah yang
terlihat terangkat dan berkelok-kelok. Kadang-kadang terlihat pembuluh
darah seperti yang terputus-putus.

Rupture koroid
Pada trauma keras dapat terjadi perdarahan subretina yang dapat
merupakan akibat daripada ruptur koroid. Ruptur ini biasanya terletak di
polus posterior bola mata dan melingkar konsentris di sekitar papil saraf optik.
Bila ruptur koroid ini terletak atau mengenai daerah makula lutea maka tajam
penglihatan akan turun dengan sangat.
Ruptur ini bila tertutup oleh perdarahan subretina agak sukar dilihat akan
tetapi bila darah tersebut telah diabsorbsi maka akan terlihat bagian yang
ruptur berwarna putih karena sklera dapat dilihat langsung tanpa tertutup
koroid.

Saraf optic
Avulse papilsaraf optic
Pada trauma tumpul dapat terjadi saraf optik terlepas dari pangkalnya di
dalam bola mata yang disebut sebagai avulsi papil saraf optik. Keadaan ini
akan mengakibatkan turunnya tajam penglihatan yang berta dan sering
berakhir dengan kebutaan. Penderita perlu dirujuk untuk dinilai kelainan
fungsi retina dan saraf optiknya.
(Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Prof.dr.H. Sidarta Ilyas. SpM)

Sebutkan Bahan bahan disekitar beserta pHnya!

5. DD

6. Apa saja Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari trauma pada
mata?
Komplikasi paling serius dari trauma asam adalah jaringan parut
konjungtiva dan kornea, vaskularisasi kornea, glaukoma dan
uveitis.Biasanya trauma akibat asam akan normal kembali, sehingga
tajam penglihatan tidak banyak terganggu
Asbury T, Sanitato JJ. Trauma. In : Vaughan DG, Asbury T, Eva PR, editors. General Ophtalmology. 17th . Lange;
2007.

7. Apa saja Pemeriksaan fisik dan penunjang yang dilakukan!




Chemical Ocular Burns: A Case Review
Adeola Kosoko, BA, M3 Qui Vu, BS, M3 Omofolasade Kosoko-Lasaki, MD, MSPH,
MBA

8. Bagaimana Patogenesis kerusakan bola mata akibat trauma!

9. Bagaimana Reaksi kimia yang terjadi akibat trauma?
Bahan asam dan basa menyebabkan trauma dengan mekanisme
yang berbeda. Baik bahan asam (pH<4 alkali="alkali" dan="dan"
ph="ph">10) dapat menyebabkan terjadinya trauma kimia. Kerusakan
jaringan akibat trauma kimia ini secara primer akibat proses
denaturasi dan koagulasi protein selular, dan secara sekunder melalui
kerusakan iskemia vaskular. Bahan asam menyebabkan terjadinya
nekrosis koagulasi dengan denaturasi protein pada jaringan yang
berkontak. Hal ini disebabkan karena bahan asam cenderung berikatan
dengan protein jaringan dan menyebabkan koagulasi pada epitel
permukaaan. Timbulnya lapisan koagulasi ini nerupakan barier
terjadinya penetrasi lebih dalam dari bahan asam sehingga membatasi
kerusakan lebih lanjut. Oleh karena itu trauma asam sering terbatas
pada jaringan superfisial.
Terdapat pengecualian yaitu asam hidrofluorik yang dapat
menyebabkan nekrosis likuefaksi yang mirip pada alkali. Bahan asam
hidrofluorik ini dapat dengan cepat menembus kulit sampai ke
pembuluh darah sehingga terjadi diseminasi ion fluoride. Ion fluoride
ini kemudian mempresipitasi kalsium sehingga menyebabkan
hipokalsemi dan metastasis kalsifikasi yang dapat mengancam jiwa.
Bahan alkali dapat menyebabkan nekrosis likuefaksi yang
potensial lebih berbahaya dibandingkan bahan asam. Larutan alkali
mencairkan jaringan dengan jalan mendenaturasi protein dan
saponifikasi jaringan lemak. Larutan alkali ini dapat terus
mempenetrasi lapisan kornea bahkan lama setelah trauma terjadi.
Kerusakan jangka panjang pada konjungtiva dan kornea
meliputi defek pada epitel kornea, simblefaron serta pembentukan
jaringan sikatriks. Penetrasi yang dalam dapat menyebabkan
pemecahan dan presipitasi glikosaminoglikan dan opasitas lapisan
stroma kornea. Jika terjadi penetrasi pada bilik mata depan, dapat
terjadi kerusakan iris dan lensa. Kerusakan epitel silier dapat
menggangu sekresi asam askorbat yang diperlukan untuk produksi
kolagen dan repair kornea. Selain itu dapat terjadi hipotoni dan ptisis
bulbi.
Proses penyembuhan dapat terjadi pada epitel kornea dan
stroma melalui proses migrasi sel epitel dari stem cells pada daerah
limbus. Kolagen stroma yang rusak akan difagositosis dan dibentuk
kembali.
Rhee DJ, Pyfer MF, editors. The Wills Eye Manual: office and emergency room diagnosis and treatment of eye
disease. 3rdedition. Philadelphia: Lippincott Williams&Wilkins;1999.p.19-22.

10. Bagaimana penatalaksanaannya?

Dilakukan parasintesis untuk mengeluarkan darah.

Anda mungkin juga menyukai