Anda di halaman 1dari 122

Fasilitasi yang Efektif

Buku Pegangan Fasilitator















Local Governance Support Program
Training and Publications

April 2008


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
ii
Fasilitasi yang Efektif-Buku Pegangan Fasilitator
Buku lain pada Seri Teknologi pelatihan ini :
1. Fasilitator yang Efektif-Panduan Pelatih
2. Metode-metode Dasar Fasilitasi-Panduan Fasilitator
3. Lokakarya Mendesain Kegiatan yang Interaktif-Buku Pegangan Peserta
4. Permainan Kreatif untuk Mendukung Kegiatan/Pelatihan Partisipatif-Referensi
Fasilitator
5. Menyiapkan Kegiatan/Pelatihan Partisipatif untuk Mendukung Tata Kelola
Pemerintahan yang Baik-Referensi Fasilitator
6. Pelatihan Fasilitator yang Efektif-Panduan Fasilitator

Tentang LGSP
Local Governance Support Program merupakan program bantuan teknis yang mendukung
tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance) di Indonesia pada dua sisi, yaitu
pemerintah daerah dan masyarakat. Dukungan kepada pemerintah daerah dimaksudkan agar
pemerintah meningkat kompetensinya dalam melaksanakan tugas-tugas pokok
kepemerintahan di bidang perencanaan dan penganggaran yang terintegrasi, dan meningkat
kemampuannya dalam memberikan pelayanan yang lebih baik, serta mengelola sumber daya.
Dukungan kepada DPRD dan organisasi masyarakat adalah untuk memperkuat kapasitas
mereka agar dapat melakukan peran-peran perwakilan, pengawasan, dan partisipasi masyarakat
dalam proses pengambilan keputusan.

LGSP bekerja di 60 lebih kabupaten dan kota di Indonesia, di sembilan propinsi: Nanggroe
Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Sulawesi Selatan dan Papua Barat.

Buku ini terwujud berkat bantuan yang diberikan oleh United States Agency for International
Development (USAID) berdasarkan nomor kontrak No. 497-M-00-05-00017-00 dengan RTI
International, melalui pelaksanaan Local Governance Support Program (LGSP) di Indonesia.
Pendapat yang tertuang di dalam laporan ini tidaklah mencerminkan pendapat dari USAID

Program LGSP dilaksanakan atas kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS),
Departemen Dalam Negeri, Departemen Keuangan, pemerintah daerah dan organisasi masyarakat dalam wilayah
propinsi target LGSP. Program LGSP didanai oleh United States Agency for International Development
(USAID) dan dilaksanakan oleh RTI Internasional berkolaborasi dengan International City/County Management
Association (ICMA), Democracy International (DI), Computer Assisted Development Incorporated (CADI) dan
the Indonesia Media Law and Policy Centre (IMLPC). Pelaksanaan Program dimulai pada Tanggal 1 Maret, 2005
dan berakhir Tanggal 30 September, 2009.



Informasi lebih lanjut tentang LGSP hubungi:
Telephone: +62 (21) 515 1755 Fax:: +62 (21) 515 1752
Bursa Efek Jakarta, Gedung 1, lantai 29 Email: lgsp@lgsp.or.id
Jl. Jend. Sudirman, kav. 52-53 Website: www.lgsp.or.id
Jakarta 12190

Dicetak di Indonesia.
Publikasi ini didanai oleh the United States Agency for International Development (USAID). Sebagian atau
seluruh isi buku ini, termasuk ilustrasinya, boleh diperbanyak, direproduksi, atau diubah dengan syarat
disebarkan secara gratis.


Buku Pegangan Fasilitator
iii
Fasilitasi yang Efektif
Abstraksi


Buku ini disusun sebagai buku pegangan bagi para fasilitator yang ingin menjadi fasilitator
yang efektif dan partisipatif. Materi yang diuraikan dalam buku ini merupakan pengembangan
dari metode Teknologi Partisipasi dan beberapa metode lain yang menggunakan dasar
partisipasi dan interaksi. Hasil pengembangan berbagai metode itu, ditambah dengan hasil uji
coba dan pengalaman di beberapa daerah yang menjadi mitra LGSP serta hasil studi literatur,
telah memperkaya buku ini.

Secara garis besar, urutan isi buku ini adalah sebagai berikut:
Potret diri, potret kelompok
Pengetahuan dasar bagi fasilitator (teori belajar, gaya belajar, membedakan pendekatan
pedagogi dangan andragogi, mengelola kreatifitas, mengusik sistem sosial).
Peran dan sikap fasilitator.
Keterampilan dasar fasilitator (termasuk keterampilan memandu disksusi).
Metode membangun konsensus (lokakarya)
Mengelola dinamika kelompok.
Metode membuat perencanaan.
Beberapa tips untuk fasilitator .

Fasilitasi merupakan ilmu yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Karenanya buku ini
disiapkan dengan pemikiran memberi peluang bagi Anda memakainya untuk mengembangkan
diri dan metode-metode fasilitasi Anda.


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
iv
Abstract


This book is prepared as a guide for facilitators who wish to be an effective and participative
facilitator. The content is based on the basic facilitation methods of the Technology of
Participation and other facilitation methods that use participation and interaction as the basis.
These methods, combined with field experience in facilitating some LGSP regional partners
and also literature study, has enriched the overall content of the book.

In general, the book covers the following topics:

Benchmarking, self portrait, group/collective capacity).
Basic knowledge for a facilitator (learning theory, learning styles, pedagogical and
andragogical models, managing creativity, stimulating social systems).
Roles of a facilitator.
Basic skills of a facilitator (levels of facilitation, including facilitating discussion.
Workshop method (how to build a consensus)
Managing group dynamics.
Action planning method (how to develop a short term plan)
Useful tips for a facilitator.

Facilitation is a dynamic skill and will continuously evolve over time. This book is prepared as
one of the references that provides room for the readers to make advance development in
both training facilitation and their methods.




Buku Pegangan Fasilitator
v
Fasilitasi yang Efektif
Daftar Isi


Abstraksi .................

Abstract ..............

Daftar Isi .................

Kata Pengantar ......................................

iii

iv

v

vi
Sesi I. Potret diri ............................................................................................

Sesi II Pengetahuan dasar bagi fasilitator (teori belajar, gaya belajar, membedakan
pendekatan pedagogi dangan andragogi, mengelola kreatifitas, mengusik
sistem sosial) ...........................................................................................

Sesi III. Peran dan sikap fasilitator ............................................

Sesi IV. Keterampilan dasar fasilitator...............................................................

Sesi V. Metode Lokakarya (Membangun Konsensus) .....................................................

Sesi VI. Mengelola dinamika kelompok .....................................................................

Sesi VII. Metode Perencanaan (Rencana Aksi Bersama) ..................................................

Sesi VIII Menggugah Sistem Sosial .......................................................................................

Sesi IX Tip Bagi Fasilitator ...................................................................................................

1



17

38

55

62

69

76

92

100



Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
vi
Pengantar


Local Governance Support Program USAID/Indonesia merupakan program bantuan dari United
States Agency for International Development (USAID) kepada pemerintah Indonesia yang secara
langsung mendukung perluasan tata pemerintahan yang partisipatif, efektif dan akuntabel.
Program ini merupakan serangkaian kegiatan bantuan yang terintegrasi yang dirancang untuk
memperkuat kedua pihak dalam tatanan pemerintahan yang baik. Pertama, LGSP mendukung
pemerintah daerah untuk menjadi lebih demokratis, lebih cakap dalam melaksanakan tugas-tugas
utama kepemerintahan, serta lebih baik dalam menyediakan pelayanan dan pengelolaan sumber
daya. Kedua, LGSP juga dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas DPRD dan organisasi
masyarakat dalam menjalankan peran resmi mereka sebagai wakil rakyat dan pengawas, dan
partisipasi warga dalam proses pengambilan keputusan.

Salah satu bentuk peningkatan kapasitas yang telah dikembangkan LGSP, khususnya yang berkaitan
dengan pendekatan dan pembelajaran yang partisipatif, adalah pelatihan fasilitasi yang efektif.
Pelatihan ini telah diberikan kepada lebih dari 600 fasilitator dan pelatih di daerah kerja LGSP, dan
telah mulai menampakkan hasil. Berbagai bentuk interaksi yang efektif antara pemerintah dan
masyarakat mulai berkembang, berbagai forum multi pihak bertumbuhan menghasilkan masukan-
masukan bagi pembangunan daerah yang sangat diperhitungkan oleh pembuat keputusan. Inisiatif-
inisiatif inovatif ini digerakkan dan difasilitasi oleh mitra-mitra LGSP yang telah sempat
mendapatkan pelatihan fasilitasi ini.

Beranjak dari pengalaman itu, LGSP melihat perlunya materi-materi pelatihan fasilitator ini
dibukukan, supaya dapat dimanfaatkan kelak oleh lebih banyak khalayak, tidak terbatas hanya pada
teman-teman yang menjadi mitra LGSP atau yang berada di wilayah kerja LGSP saja, sehingga
proses-proses yang partisipatif ini dapat menyebar lebih luas lagi. Kami berharap buku ini dapat
berguna dan membantu Anda dalam pekerjaan Anda memfasilitasi proses-proses perencanaan dan
pengawasan pembangunan secara partisipatif dan lebih efektif, dalam rangka mendukung tata
pemerintahan yang baik dan terdesentralisasi di Indonesia.



Jakarta, April 2008

Judith Edstrom Yoenarsih Nazar
Chief of Party Training & Publications Advisor
USAID-LGSP USAID-LGSP






Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
1
Buatlah dirimu
berguna bagi
orang lain,
jangan membuat
hidup sulit bagi
siapapun

(Pangeran Charles,
bangsawan Inggris)
Bab 1:
Pot r et Di r i


Apak ah pot r et di r i ?

Potret diri adalah upaya melihat ke dalam diri sendiri,
melakukan perenungan, dan merefleksikan pengalaman dan
pemahaman kita tentang suatu bidang (dalam hal ini, bidang
fasilitasi).

Mengapa per l u pot r et di r i ?

Refleksi fasilitasi menjadi menu pertama dalam pelatihan
bagi fasilitator, karena tiga alasan :
Pertama, LGSP percaya penyegaran dan penyempurnaan
metode-metode fasilitasi merupakan suatu keharusan, agar seorang
fasilitator terhindar dari rutinitas dan situasi yang monoton.
Dengan melakukan refleksi terhadap kemampuan fasilitasi diri
sendiri, kita akan selalu mawas diri, dan semakin menghargai
potensi yang kita miliki. Melalui proses berbagi pengalaman selama
pelatihan, peserta kita diharapkan akan mendapatkan inspirasi
untuk memperkaya dan melakukan terobosan baru dalam dunia
fasilitasi yang kita geluti.
Kedua, Anda adalah orang yang mungkin saja sudah
berpengalaman dalam dunia fasilitasi, entah sebagai fasilitator,
ataupun pihak yang difasilitasi Pengetahuan dan pengalaman Anda
itu menjadi masukan yang sangat berharga dan menjadi bahan
dasar utama dalam proses mempersiapkan diri Anda menjadi
fasilitator yang efektif.
Ketiga, seorang fasilitator pasti memiliki karakter dan
keunikan yang berbeda satu sama lain. Ada yang sudah menyadari,
tapi belum mengetahui cara menjadikan karakter sebagai aset yang
hebat. Nah, pemotretan diri ini akan membantu Anda mengetahui
bagaimana mereka sesungguhnya sebagai fasilitator, apa keunggulan
Anda, dan bagaimana Anda dapat bermanfaat bagi orang banyak.


Ada dua bentuk potret diri, yakni potret individu, dan
potret kelompok.




Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
2

Pot r et I ndi vi du

Dalam potret individu, ada empat hal yang menjadi objek :
Pertama, jati diri atau kepribadian kita.
Kedua, pengalaman kita mengelola dan/atau
memfasilitasi kegiatan-kegiatan
partisipatif selama ini.
Ketiga, kompetensi dan keterampilan kita
memfasilitasi.
Keempat, gaya belajar kita sebagai peserta
pelatihan.



Bagai mana mel ak uk annya?

Memot r et k ompet ensi dan k et er ampi l an f asi l i t asi
Dalam sebuah pelatihan fasilitator, untuk memotret
kompetensi dan keterampilan memfasili-tasi, beberapa cara dapat
digunakan, diantaranya :
Pertama, melakukan pemotretan secara pasif, yakni
dengan mengisi semacam kuesioner yang berisi penilaian
kemampuan diri di bidang fasilitas. Dengan cara ini yang diperoleh
adalah pandangan sendiri terhadap kemampuan diri sendiri.
Di halaman berikut terdapat beberapa contoh pertanyaan
untuk memotret kompetensi dan ketrampilan fasilitasi seseorang
secara pasif yang dimaksud dalam cara pemotretan pertama ini
Kedua, memotret secara aktif, yaitu dengan mempraktek-kan
fasilitasi langsung dalam sebuah proses singkat, dan meminta
peserta lainnya untuk mengomentari. Dengan cara ini, potret yang
dihasilkan adalah gambaran dari sudut padang sesama peserta, yang
merasakan langsung bagaimana temannya memfasilitasi mereka.
Bila nanti Anda akan melatih fasilitator-fasilitator baru, cara kedua
ini sangat dianjurkan.
Kemungkinan ketiga adalah merekam proses fasilitasi
dalam video dan menganalisanya bersama para peserta. Dengan
cara ini, pandangan kedua pihak, fasilitator dan peserta, terhadap
kemampuan fasilitasi si fasilitator dapat diperoleh sekaligus. Jika
perekaman gambar dan suara dilakukan dengan benar, video dapat
menjadi alat yang ampuh untuk memperlihatkan dengan jujur
bagaimana sikap dan keterampilan seseorang ketika memfasilitasi.





Tak peduli
siapa yang kau
puji tetapi hati-
hatilah
terhadap siapa
yang kau
salahkan

(Edmund Gosse)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
3

KOMPETENSI FASILITATOR

Bagaimana Anda menilai kompetensi diri Anda sebagai fasilitator? Berikanlah
penilaian dengan angka yang paling mencerminkan Anda di kolom paling kanan.

1 = Itu sama sekali bukan saya 2 = Kadang-kadang saya seperti itu
3 = Sering saya begitu 4 = Itu saya banget

Kompetensi dasar
1. Memahami peran fasilitator.
2. Tahu bagaimana memulai, menjalankan, dan mengakhiri proses
fasilitasi.

3. Memfasilitasi karena tugas.
4. Menunjukkan jalan keluar sewaktu-waktu kelompok kehilangan
arah.

5. Menerapkan prinsip belajar yang kontekstual dalam proses
fasilitasi.

6. Menciptakan suasana yang menyenangkan untuk merangsang
kreatifitas peserta.

Komunikasi interpersonal
7. Menyimak dengan baik, sehingga mampu menggambarkan
persoalan secara menyeluruh, dari pendapat-pendapat yang
beragam.

8. Mahir menggunakan metode bertanya dalam memandu diskusi
untuk menggali pendapat peserta.

9. Sudah biasa memandu kelompok sampai pada konsensus.
10. Tahu cara membantu kelompok membuat rencana kerja.
11. Cepat membaca situasi dan berimprovisasi, menyesuaikan diri
dengan perkembangan proses.

Mengelola dinamika kelompok
12. Memberikan perhatian lebih kepada peserta yang sangat aktif.
13. Mampu mengatasi situasi bila ada peserta membuat kacau jalannya
proses.

14. Tahu kapan saatnya dan bagaimana caranya mengakhiri
perdebatan dalam kelompok.

15. Dapat mengenali kapan proses diskusi mulai melenceng, dan tahu
bagaimana mengembalikannya ke arah semula.

O Mendesain proses
16. Berpengalaman merancang proses partisipatif.
17. Mampu meyakinkan orang lain pada prinsip partisipasi.
18. Mampu melakukan presentasi di depan sekelompok petinggi.

Sangat penting
memadukan
kekuatan dan
kelemahan
dalam satu
ikatan jaringan
yang utuh.

(Mark Granovetter,
jurnalis)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
4

Memot r et j at i di r i
Untuk memotret jati diri atau kepribadian, juga terdapat
banyak cara, seperti dengan wawancara, simulasi langsung,
rekaman simulasi, dan berbagai bentuk tes tertulis. Yang paling
banyak digunakan orang adalah cara terakhir. Ini metode yang
kebanyakan dikembangkan oleh para psikolog. Tes kepribadian
tertulis ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang menggali berbagai
aspek dan dimensi kepribadian seseorang.
Dewasa ini banyak instrumen untuk mengetahui tipe
kepribadian ini yang dapat ditemukan di berbagai website di
internet, seperti www.personaldna.com, www.sac.its.ac.id,
www.humanmetrics.com, www.personalitypathways.com dan
banyak lagi lainnya. Salah satu yang sering digunakan adalah yang
dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers dan Katharina Cook Briggs
pada 1943, dan dikenal dengan nama Myers and Brigg Type
Indicator (MBTI). Pada dasarnya ada 4 dimensi kepribadian yang
diteropong oleh MBTI, yaitu, pertama, keterbukaan (apakah
seseorang itu tipe ekstrovert/E atau introvert/I; kedua, cara pikir
(apakah ia berpikir dengan logika/thinking/T) atau dengan
perasaan/feeling/F); ketiga, cara pandang (apakah ia
mengandalkan indera/Sensorik/S) atau iNtuisi/N); dan keempat,
cara mengambil keputusan (apakah ia orang yang lebih
mengikuti proses/perceiving/P) atau lebih cenderung cepat
menjatuhkan keputusan/judging/J). Kombinasi dari keempat aspek
itu akan membentuk kepribadian yang unik.













Berikut ini contoh instrumen MBTI untuk merekam
keempat aspek itu.






Kepercayaan
mutlak dibutuhkan
kelompok
agarlebih
bersemangat dan
emosional dalam
mencapai
produktivitas
tertinggi

(Vanessa Druskat,
fasilitator)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
5

TES KEPRIBADIAN MBTI

Bacalah pernyataan-pernyataan di bawah ini, dan berilah angka sesuai dengan
ketentuan berikut ini : 0 = bukan kepribadian saya.
1 = sedikit mirip dengan saya
2 = tepat dengan kepribadian saya.
Jumlahkan nilai Anda dan isikan di samping kotak total.

EKSTROVERT (E)
1
Saya mendapat energi dari berinteraksi dan berbicara dengan
orang lain.

2
Saya cukup mudah didekati dan banyak orang menganggap saya
ramah, terbuka dan semangat.

3
Saya merasa nyaman berkenalan dan bercakap dengan orang-
orang yang baru saya kenal.

4 Saya senang menjadi pusat perhatian.

5
Saya cukup cerewet dan lebih suka komunikasi lisan daripada
tulisan.

6 Saya mudah mencari topik untuk dibicarakan dengan siapa saja.

7 Teman dan kerabat saya banyak.

8
Saya merasa kesepian dan gelisah jika harus sendiri untuk waktu
yang lama.

9
Saya harus menjaga diri untuk memberikan waktu kepada orang
lain untuk bicara.

10
Saya menemukan ide dan mencarai solusi lewat bicara. Saya
cenderung berpikir sambil berbicara.

Total


INTROVERT
1
Saya canggung dalam situasi dimana saya tidak mengenal banyak
orang, tetapi saya senang berbicara berdua dengan orang yang saya
anggap cocok.

2 Saya senang menyendiri.

3
Saya cenderung mempunyai beberapa sahabat dekat daripada
banyak kenalan dan menghabiskan waktu dengan mereka.

4 Saya lebih suka didatangi daripada mendatangi orang lain.

5 Orang lain sering menganggap saya malu atau sombong

6 Saya perlu waktu untuk berpikir sebelum bicara.

7
Saya capek kalau harus menghabiskan waktu dengan orang lain.
Berbicara di telepon terlalu lama pun membuat saya lelah.

8 Saya lebih senang bekerja sendiri.

9
Saya sangat pemilih dalam membangun pertemanan dengan orang
lain.

10 Saya tidak suka menjadi pusat perhatian.

Total

Nikmati hidup
Anda sendiri
tanpa
membandingkan
-nya dengan
orang lain

(Marquis de
condorcet)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
6

SENSORIK

1
Saya cenderung bertindak praktis, realistik dan berdasarkan hal-hal
nyata.

2 Saya lebih tertarik pada fakta-fakta dan angka-angka daripada teori.

3
Saya lebih suka pekerjaan yang praktis dan menghasilkan sesuatu
yang terukur.

4 Saya cenderung bicara, mendengar dan menafsirkan apa adanya

5
Saya seoran pengamat yang baik. Saya memperhatikan lingkungan
sekitar dan sering mengingat hal-hal rinci.

6 Saya senang melakukan hasta kerya seperti benda-benda kerajinan.

7
Saya suka menggunakan dan mengembangkan ketrampilan yang
sudah saya miliki.

8
Saya memiliki kapasitas menikmati sesuatu kapan saja dan dimana
saja.

9 Saya percaya pengalaman membuktikan apa yang nyata dan pasti

10
Saya cenderung berfikir tentang apa yang sudah di depan mata
dibandingkan berandai-andai tentang hal-hal yang belum pasti.

Total



INTUITIF

1
Saya sulit pada satu hal saja karena saya kerap berandai-andai
tentang banyak gagasan pada wakatu yang sama.

2
Saya cenderung menggunakan metafora, analogi atau perumpamaan
ketika menjelaskan sesuatu.

3
Saya mengandalkan inspirasi dan imajinasi ketika mengumpulkan
informasi.

4
Saya cenderung berfikir tentang masa depan dan senang melakukan
hal-hal baru. Saya tidak suka sesuatu hal yang bersifat rutin dan
berulang-ulang.

5
Saya cenderung mencari kemungkinan baru dan fokus pada apa
yang mungkin dapat dilakukan.

6
Saya mencari apa yang menjadi latar belakang sesuatu hal dan
berfikir hal-hal besar. Saya tidak suka pada hal-hal yang sifatnya
rinci.

7 Saya cenderung memperhatikan dampak atau pengaruh suatu hal.

8
Saya sering mencari makna tersembunyi dari sesuatu dan
membayangkan apa yang sebetulnya tidak dinyatakan dengan
terbuka.

9 Saya tidak banyak memperhatikan apa yang terjadi di sekeliling saya.

10
Saya menikmati hal-hal abstrak dan teori-teori, dan terkadang
beranggapan bahwa kehidupan sehari-hari itu membosankan

Total

Anda
merasa tidak
didengar?
Bisa jadi itu
karena
kredibilitas
Anda cacat.

(Jay Conger)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
7


PEMIKIR (THINKING)

1
Saya menilai penting kemampuan berfikir dan mengambil
keputusan amat jelas serta masuk akal

2
Saya senang berdebat dan mempertahankan pandangan dan
kebutuhan orang lain.

3
Saya sering dituduh tidak peka pada perasaan dan kebutuhan
orang lain.

4
Orang kadang menilai saya tidak peduli dengan orang lain dan
terlalu pemikir.

5 Saya terlalu blak-blak dan terbuka.

6
Saya cenderung tertarik apa yang dipikirkan orang daripada
perasaannya

7 Saya tidak suka menunjukkan perasaan saya sesungguhnya.

8
Saya kadang mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip
umum keadilan dan masuk akal dibandingkan dengan kepedulian
pada kondisi yang dialami seseorang.

9
Menurut saya lebih penting berterus terang dibandingkan dengan
basa-basi

10 Saya tidak segan-segan mengkritik atau mengoreksi orang.

Total



PERASA (FEELING)

1.
Saya menilai penting kemampuan saya berempati dan merasakan
apa yang dirasakan orang amat kuat.

2. Saya senang berbicara tentang perasaan dan hubungan pribadi.

3.
Dalam mengambil keputusan, saya memikirkan perasaan orang
lain.

4.
Saya merasa lebih penting bersopan santun atau berbasa basi
dibandingkan dengan bicara terus terang.

5. Menghargai apa yang dilakukan orang amat penting bagi saya.

6. Saya mencari sesuatu yang baik dari seseorang dan sesuatu.

7. Orang menilai saya orang yang hangat dan pengertian

8.
Saya amat sulit berbicara terus terang tentang apa yang saya
inginkan atau butuhkan.

9.
Jika saya tidak setuju dengan pandangan orang, saya sulit
mengatakannya

10.
Saya tidak suka kritik karena akan saya ambil sebagai masalah bagi
saya pribadi. Orang menyebut saya sebagai orang yang sensitif
(selalu menggunakan perasaan).

Total




Koordinasi
didapat dari
latihan terus
menerus.

(Ivan Steiner)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
8


KEPRIBADIAN PEMBUAT KEPUTUSAN (JUDGING)

1. Saya tidak suka sesuatu yang tidak pasti.

2.
Saya tidak bisa berkonsentrasi penuh jika lingkungan saya tidak
teratur atau gaduh.

3.
Saya memeriksa semua yang akan saya lakukan dan merasa
senang bila semua yang harus saya lakukan sudah disiapkan
dengan baik.

4.
Saya punya jalan sendiri dalam melakukan sesuatu. Saya tidak
suka bila orang lain mengatur jadwal saya, khususnya pada saat-
saat akhir.

5.
Saya harus punya tempat untuk semua barang saya, dan
ditempatkan di satu tempat.

6.
Sebelum melaksanakan kegiatan, saya selalu memastikan apakah
semua hal sudah benar-benar disiapkan.

7.
Tepat waktu amat penting bagi saya, dan saya tidak bisa paham
kenapa orang tidak menganggap penting untuk tepat waktu.

8.
Saya senang bisa tahu jadwal sebelum kegiatan berlangsung. Bila
tidak ada perencanaan, saya merasa tidak nyaman.

9.
Saya tidak suka pekerjaan yang tidak terselesaikan dan selalu
ingin menyelesaikan pekerjaan sebelum memulai pekerjaan baru.

10.
Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya dulu sebelum bisa
santai dan bersenang-senang.

Total


KEPRIBADIAN PENGAMAT (PERCEIVING)

1.
Saya cenderung menganggap semua hal itu mudah, bisa
disesuaikan dan tidak kaku. Bila sesuatu berubah di saat-saat
akhir, saya tinggal menyesuaikan saja.

2.
Bukannya saya tidak fokus, melainkan karena saya punya jalan
sendiri untuk bergerak dari kegiatan satu ke kegiatan lain.

3.
Saya senang memulai kegiatan baru. Saya senang memulai kegiatan
baru sebelum kegiatan yang lainnya berakhir.

4.
Tepat waktu tidak terlalu penting bagi saya. Jadwal hanya menjadi
wawasan bagi saya, kapan suatu kegiatan mulai dan berakhir.

5.
Saya jarang mendaftar pekerjaan yang akan saya lakukan. Kalaupun
mandaftar kegiatan yang akan saya lakukan saya tidak perlu
memeriksanya.

6.
Saya sering menunggu sampai waktu tenggat, baru fokus pada
menyelesaikan tugas.

7.
Cara saya mengatur ruangan boleh jadi membuat orang kacau
balau.

8.
Saya tidak perlu menyelesaikan semua tugas sebelum bisa
menikmati liburan atau santai.

9.
Saya biasanya menunda keputusan, dan terlebih dahulu
mengumpulkan informasi dan baru bila benar-benar dibuthkan
saya mengambil keputusan.

10.
Saya menikmati spontanitas. Saya menikmati hal-hal yang
mengejutkan.

Total

Pastikan Anda
mengukur dan
memberi
penghargaan pada
perilaku-perilaku
yang tepat.

(Steven Kerr)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
9


Periksalah sekarang setiap halaman, dan tandai tipe kepribadian
mana yang jumlah nilainya lebih tinggi. Umpamanya, untuk aspek
keterbukaan, ekstrovert atau introvert (E atau I). Untuk aspek cara
pikir, lebih tinggi thinking atau feeling (T atau F). Begitu seterusnya,
untuk keempat aspek tersebut. Lalu gabungkan keempat huruf
yang nilainya lebih tinggi pada setiap aspek itu. Akan ada 16
kemungkinan kombinasi, seperti di bawah ini. David West Keirsey
menggabungkan 2 aspek dari sudut temperamen (dicetak dengan
warna biru), dan membuat 4 kategori besar : NF - idealis; NT
rasional, SJ - penolong; dan SP - seniman; .
Yang manakah Anda?

Idealis Rasionalis Pelindung Artistik
ENFJ
Bijak
Guru
ENTJ
Pemimpin
Pengatur lapangan
ESTJ
Pendorong
Pemimpin
ESTP
Pengelana
Pendukung
ENFP
Melihat kedepan
Juara
ENTP
Pembaharu
Penemu
ESFJ
Suka menolong
Pemberi
ESFP
Jenaka
Penghibur
INFJ
Penuh rahasia
Penasihat
INTJ
Pemikir bebas
Cerdas
ISTJ
Andalan
Pemeriksa
ISTP
Praktis
Pengrajin
INFP
Pemimpi
Penyembuh
INTP
Aneh
Arsitek
ISFJ
Pemupuk
Pelindung
ISFP
Berseni
Penggubah

Bila kebetulan jumlah nilai Anda untuk salah satu atau beberapa
aspek sama, tuliskan keduanya (E dan I, atau P dan J). Lalu pasangkan
masing-masing dengan tiga yang lainnya. Berarti Anda mempunyai
dua atau lebih tipe kepribadian.

Memot r et pengal aman f asi l i t asi
Pengalaman mengelola atau memfasilitasi kelompok dapat
dipotret dengan meminta peserta pelatihan Anda saling berbagi
dan menceritakan pengalaman masing-masing, dan
menyimpulkannya bersama. Proses ini adalah bagian dari metode
PRA (Participatory Reflection and Action), yang pada awalnya dikenal
sebagai metode Participatory Rural Appraisal. Pada mulanya proses
ini dimaksud-kan untuk memberi peluang kepada masyarakat di
pedesaan untuk mengevaluasi keadaan mereka sendiri,
Jangan
memcoba untuk
menguasai
terlalu banyak
hal

(Willian McKinley)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
10
menganalisisnya, membuat perencanaan, melaksanakan rencananya
sendiri, dan melakukan monitoring dan evaluasi sendiri. Dalam
perkembangannya, mereka yang biasa melakukan proses ini
menemukan bahwa metode seperti ini sebetulnya memberi
peluang bagi pesertanya untuk saling belajar dari sesama, sehingga
prosesnyapun diberi nama Participatory Learning and Action (PLA).
Pada dasarnya, untuk memotret pengalaman memfasilitasi
ini, Anda menggabungkan dua potret pertama (kompetensi sebagai
fasilitator dan tipe kepribadian) dengan apa yang terjadi di lapangan
ketika Anda memfasilitasi. Karena sifatnya berbagi pengalaman,
maka bentuk potretnya adalah kumpulan dari berbagai pelajaran
berharga yang Anda dan teman-teman Anda peroleh selama ini
dalam memfasilitasi. Mozaik pengalaman ini dapat Anda bangun
dengan menanyakan berbagai aspek dari pengalaman memfasilitasi.
Beberapa contoh pertanyaan dapat Anda lihat di bawah ini.


REFLEKSI PENGALAMAN
1. Peserta :
a. Siapa saja peserta pertemuan yang pernah Anda dan teman-teman
fasilitasi?
b. Apakah mereka kelompok yang homogen, atau heterogen?
2. Metode :
a. Bila kelompok yang Anda fasilitasi heterogen, atau multipihak,
bagaimana cara Anda membuat mereka sampai pada kesepakatan
bersama? Metode apa saja yang Anda gunakan?
b. Bagaimana Anda membuat kelompok yang dianggap awam atau ada
pada posisi di bawah bersuara dan terlibat penuh, serta berinteraksi
dengan kelompok elit atau penggede?
c. Seberapa sering Anda melakukan triangulasi (meminta pendapat dari
beberapa orang berbeda tentang suatu hal).
d. Seberapa sering pula Anda memberikan pendapat sendiri atau saran,
ketika diskusi sampai pada titik buntu? Dan seberapa sering Anda
menyerahkan tongkat kekuasaan kepada peserta, meminta mereka
sendiri yang mencari jalan keluarnya?
3. Media/alat bantu :
a. Apa alat peraga yang sering Anda gunakan untuk mempermudah
peserta melihat gambaran besar topik yang didiskusikan?
b. Mengapa Anda banyak menggunakannya?
c. Pertanyaan-pertanyaan apa saja yang sering Anda lontarkan ketika
menggali gagasan dari peserta?
d. Apakah pertanyaan-pertanyaan itu Anda tulis, atau hanya diucapkan
saja?
4. Dinamika suasana :
a. Apa saja yang Anda lakukan untuk menghidupkan suasana yang dingin
atau lesu?
b. Bagaimana Anda membangunkan perhatian peserta di setiap awal bab,
untuk memperkenalkan topik yang akan dibahas pada bab itu?
5. Kejutan :
a. Apa saja hal-hal baru yang pernah Anda lakukan, yang merupakan
kejutan yang menyenangkan bagi peserta?
b. Apa pula hal-hal baru yang pernah dilakukan atau dihasilkan oleh
peserta ketika Anda memfasilitasi?

Jangan
pernah
mengambil
kenikmatan
dari
kesengsaraan
orang lain

(Publilius Syrus)



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
11
Ini hanyalah beberapa contoh pertanyaan. Silahkan
kembangkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan hal-hal yang
muncul dari pengalaman nyata Anda selama ini. Selamat memotret.

Memot r et gaya bel aj ar
Pemotretan terhadap gaya belajar peserta juga penting
Anda lakukan, agar Anda dapat memahami bagaimana gaya belajar
mereka, sehingga Anda dapat menyesuaikannya dengan cara Anda
melaksanakan pelatihan Anda nanti. Untuk mengetahui apa gaya
belajar peserta Anda dan memahami perbedaan gaya belajar
mereka, mintalah mereka melengkapi kuesioner di bawah ini, lalu
hitung dan pelajari hasilnya bersama mereka.
Ingat, tidak ada gaya belajar yang benar atau lebih baik dari
yang lain. Intinya adalah bahwa setiap orang belajar dengan gaya
berbeda. Berbagai macam gaya belajar akan terlihat dalam bab-bab
pelatihan. Agar pelatihan berjalan efektif, sebaiknya rancangan
pelatihan mampu mengakomodasi beragam gaya yang berbeda.
Sayangnya, pelatih seringkali cenderung hanya menggunakan gaya
belajar yang mereka sukai. Sah-sah saja jika pelatih hanya
menggunakan gaya yang nyaman baginya, namun seorang pelatih
yang efektif akan mampu mengadaptasi gaya belajar mereka untuk
memenuhi kebutuhan semua peserta.

Kuesioner: Profil Gaya Belajar

Petunjuk: Dalam setiap nomer di bawah ini, berikan ranking
terhadap pernyataan a sampai d dengan nilai 4 bagi
pernyataan yang paling menggambarkan Anda, 3 bagi
pernyataan yang cukup menggambarkan Anda, 2 bagi yang
sedikit dan 1 bagi yang kurang menggambarkan Anda.

1. Dalam menyelesaikan suatu persoalan, saya cenderung:
a. mengambil pendekatan step-by-step
b. segera bertindak
c. mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain
d. memastikan saya memiliki semua bukti
2. Sebagai peserta belajar, saya lebih suka:
a. mendengarkan pelajaran
b. bekerja dalam kelompok kecil
c. membaca artikel dan studi kasus
d. berpartisipasi dalam bermain peran
3. Jika pelatih mengajukan pertanyaan yang bisa saya jawab, saya akan:
a. memberikan kesempatan orang lain menjawab dulu
b. langsung memberikan jawaban
c. mempertimbangkan apakah jawaban saya akan disukai
d. memikirkan baik-baik jawaban saya sebelum menjawab
4. Dalam sebuah diskusi kelompok, saya akan:
a. mendorong peserta lain memberikan pendapat
b. mempertanyakan pendapat peserta lain
c. siap memberikan pendapatan saya
Betapa
seringnya kata-
kata yang salah
penggunaannya
menimbulkan
pikiran sesat

(Herbert Spencer)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
12
d. mendengarkan pendapat peserta lain sebelum
berpendapat
5. Saya dapat belajar dengan baik dari kegiatan dimana saya:
a. dapat berinteraksi dengan peserta lain
b. dapat tetap tidak terlibat
c. berperan sebagai pemimpin
d. dapat bersantai
6. Pada waktu belajar, saya mendengarkan untuk mengetahui:
a. cara-cara paktis
b. pokok-pokok yang logis
c. ide utama
d. kisah-kisah menarik dan anekdot
7. Saya terkesan dengan kemampuan pelatih dalam hal:
a. pengetahuan dan keahlian
b. kepribadian dan gaya
c. penggunaan metode dan kegiatan
d. pengorganisasian dan pengendalian
8. Saya lebih suka jika informasi diberikan dengan cara berikut:
a. model semacam bagan alur
b. poin-poin penting
c. penjelasan rinci
d. dilengkapi contoh-contoh
9. Saya bisa belajar dengan baik jika saya
a. melihat hubungan antara ide, kegiatan dan keadaan
b. berinteraksi dengan orang lain
c. memperoleh tip-tip praktis
d. mengamati peragaan atau video
10. Sebelum mengikuti program pelatihan, saya bertanya pada diri
sendiri, Apakah saya akan?
a. memperoleh tip-tip praktis untuk membantu pekerjaan
saya
b. menerima banyak informasi
c. harus berpartisipasi
d. belajar hal-hal baru
11. Setelah mengikuti bab pelatihan, saya:
a. cenderung memikirkan apa yang telah saya pelajari
b. tak sabar untuk segera mempraktekkan yang telah
dipelajari
c. merefleksikan pengalaman belajar tersebut secara
keseluruhan
d. menceritakan pengalaman tersebut pada orang lain
12. Metode pelatihan yang tidak saya sukai adalah
a. berpartisipasi dalam kelompok kecil
b. mendengarkan ceramah
c. membaca dan menganalisa studi kasus
d. berpartisipasi dalam bermain peran









Salah satu cara
yang paling baik
untuk mengajak
orang lain adalah
dengan telinga
Anda, dengan cara
mendengarkan
mereka

(Dean Rusk)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
13
Lembar Penilaian
Petunjuk: catat jawaban Anda sesuai nomor berikut, lalu jumlahkan
nilai total per kolom

Si Perasa Si Pengamat Si Pemikir Si Pekerja

1c_____ 1a_____ 1d_____ 1b_____
2b_____ 2a_____ 2c_____ 2d_____
3c_____ 3a_____ 3d_____ 3b_____
4a_____ 4d_____ 4b_____ 4c_____
5a_____ 5b_____ 5d_____ 5c_____
6d_____ 6c_____ 6b_____ 6a_____
7b_____ 7d_____ 7a_____ 7c_____
8d_____ 8a_____ 8c_____ 8b_____
9b_____ 9d_____ 9a_____ 9c_____
10d____ 10c____ 10b____ 10a____
11d____ 11c____ 11a____ 11b____
12c____ 12a____ 12d____ 12b____

Total _______ _______ _______ _______



Interpretasi Nilai

Si Perasa. Adalah orang yang sangat people-oriented. Golongan
ini sangat ekspresif dan fokus pada perasaan dan emosi. Menyukai
cara belajar yang melibatkan perasaan dan cenderung pada
pengalaman belajar yang mendalami sikap dan emosi manusia.
Golongan ini menyukai lingkungan belajar yang terbuka dan tidak
terstruktur. Mereka suka bekerja dalam kelompok dan kegiatan
berbagi pendapatan dan pengalaman.

Si Pengamat. Adalah mereka yang suka mengamati dan
mendengarkan. Mereka cenderung hati-hati, pendiam dan berpikir
terlebih dahulu sebelum bertindak atau berpartisipasi dalam kelas.
Jika mereka menolak memberikan pendapat atau menjawab
pertanyaan, mereka akan langsung mengatakannya. Mereka
menyukai pengalaman belajar yang memungkinkan mereka
menggali beragam ide dan pendapat, dan mereka cenderung bisa
belajar dengan baik jika tahu sendiri.

Si Pemikir. Golongan ini mengandalkan logika dan pertimbangan
yang sehat. Mereka suka berbagi ide dan konsep. Menyukai
kegiatan yang membutuhkan analisa dan evaluasi. Selalu
mempertanyakan alasan dari kegiatan yang dilakukan dan
pernyataan yang menurut mereka terlalu umum atau tidak
Bilamana
Anda minum
air, ingatlah
sumbernya

(Pepatah China)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
14
bermutu. Mereka cenderung bekerja sendiri dan mempertanyakan
hubungan permainan peran dan simulasi.

Si Pekerja. Golongan ini senang terlibat secara aktif dalam proses
belajar. Mereka akan bertanggungjawab dalam kegiatan kelompok
dan cenderung mendominasi diskusi. Mereka suka mempraktekkan
apa yang mereka pelajar, terutama tertarik dengan bagaimana
mereka dapat mengaplikasikan yang mereka pelajari dalam
keseharian mereka. Mereka suka dengan informasi yang berikan
secara jelas dan ringkas, dan sangat tidak suka dengan diskusi yang
bertele-tele.

Pot r et Kel ompok

Selain memotret peserta sebagai individu, adakalanya
penyelenggara pelatihan juga ingin mempunyai gambaran bagaimana
kapasitas peserta pelatihannya secara kolektif. Seni memfasilitasi
sesungguhnya bermula dari kepercayaan bahwa peserta
sesungguhnya tahu lebih banyak dari yang mereka pikir mereka
ketahui. Fungsi seorang pelatih yang fasilitatif adalah menyentuh
pengetahuan mereka yang tersembunyi itu melalui pertanyaan-
pertanyaan yang menggali, meminta kejelasan, atau menggiring,
yang dapat membantu mereka menata kembali pikiran-pikiran dan
informasi yang mereka miliki, menangkap esensi suatu pengetahuan
baru, dan mengemasnya. Pengalaman belajar yang didesain dengan
cermat akan dapat membuat peserta merasakan nikmatnya
menemukan hal-hal baru secara kolektif ini.

Sudah umum diketahui bahwa peserta, pembelajar, meng-
inginkan jawaban segera, diberitahu bagaimana caranya, agar
mereka bisa langsung menerapkannya. Itu hal yang lumrah. Semua
kita memang ingin jawaban yang gampang dan segera. Namun
fasilitasi yang efektif seyogyanya membimbing peserta
mengeksplorasi sendiri pengetahuan dan pengalaman mereka.
Dengan demikian, secara perlahan mereka membangun model
mental yang siap menghadapi dan memecahkan masalah di masa
depan. Meskipun jalan keluar yang cepat kadang-kadang berguna,
mendorong peserta didik untuk menemukan jalan keluar sendiri
dalam memecahkan masalah akan memperkuat kemampuan
mereka untuk mengenali dan memahami pilihan keputusan yang
mereka buat, dan memperkuat rasa percaya diri mereka, perasaan
bahwa mereka dapat melakukan apa yang Anda ajarkan.
Memotret kapasitas kolektif dapat dilakukan dengan 3
langkah sederhana :
1. Mempelajari skenario yang mengandung pertanyaan, persoalan,
atau tantangan yang disiapkan penyelenggara pelatihan
Peluang-peluang
untuk membantu
orang lain dibatasi
oleh kemauan kita
untuk melayani

(Hermine Hartley)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
15

2. Berbagi pengalaman dengan sesame peserta.
3. menunjukkan atau memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang
akan memperkaya pengertian atau pemikiran mereka.

Contohnya?

1. Memberi skenario: Berikan kasus yang menantang yang terkait
dengan topik pelatihan. Buat skenario yang ceritanya dekat
dengan keseharian mereka. Umpamanya, untuk bidang fasilitasi,
cerita tentang proses pertemuan multi stakeholder. Untuk
bidang bisnis, umpamanya suasana di sebah rapat direksi.
Jelaskan siapa tokohnya, dialog dan interaksi yang terjadi untuk
menambahkan efek dramatisnya. Contoh skenarionya :













2. Berbagi pengalaman sebelumnya: Setelah setiap orang
mendapat kesempatan mempelajari skenario, tanyakan apakah
mereka pernah mengalami hal seperti itu sebelum ini, dan apa
yang mereka lakukan. Umpamanya:
Siapa di antara teman-teman yang pernah melihat orang lain
mengalami hal seperti itu?
Apakah teman-teman sendiri malah pernah mengalaminya?
Apakah sikap seperti itu lumrah? Biasa ditemukan?
Dalam kondisi seperti apa keadaan seperti itu sering
terjadi?
Kalau dari pengalaman teman-teman sendiri, apa yang
biasanya teman-teman lakukan untuk memulai lokakarya?
3. Tunjukkan perbedaan-perbedaan: Begitu setiap orang
memahami situasi di skenario dan berbagi pengalaman tentang
apa yang mereka biasanya lakukan pada situasi yang sama,
lanjutkan bertanya untuk mempertajam pemahaman. Metode
diskusi menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat
ORIK (objektif, reflektif, interpretatif, dan keputusan) akan
sangat sesuai digunakan di sini. Berikan pertanyaan-pertanyaan
yang akan memperjelas pemikiran-pemikiran peserta, bahkan
Seorang fasilitator sudah berdiri di depan ruang pertemuan, siap
untuk memulai sebuah lokakarya. Peserta sudah duduk di meja
mereka, sibuk bicara sendiri. Sang fasilitator memulai acara dengan
Selamat pagi, Bapak/Ibu!. Beberapa peserta menjawab, tapi yang
lainnya tidak peduli. Selamat pagi, Bapak/Ibu sekalian!, si
fasilitator mengulangi, dan menekankan kata sekalian. Yang
masih ngobrol tetap saja ngobrol, beberapa hanya melirik sejenak
ke arahnya. Fasilitator lalu meminta peserta membuka buku
panduan lokakarya, halaman 15. Beberapa mematuhi perintahnya,
sementara yang lain masih terus ngobrol. Apa menurut Anda yang
harus ia lakukan?

Sebagai
fasilitator, Anda
harus pasti dapat
membangun
kesatuan tim,
bukan kompromi
tim.

(Irving Janis)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
16
mungkin mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru.
Dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan tambahan, Anda
mendukung, menantang, dan memperkuat apa yang mereka
sudah ketahui atau lakukan. Contoh pertanyaan yang dimaksud
antara lain :
Untuk tingkat objektif :
o Apa kejadiannya? Dimana terjadinya?
o Siapa saja yang menjadi peserta ketika itu?
o Apa yang Anda harapkan sebagai hasil lokakarya Anda?
o Di saat memulai lokakarya, pesan apa yang ingin Anda
sampaikan yang berkaitan dengan pembelajaran dan
partisipasi?
Untuk tingkat reflektif :
o Apa kejadian yang paling memalukan yang pernah Anda
lihat dialami fasilitator lain yang mirip dengan kasus di
skenario itu?
o Apa contoh peristiwa yang paling mengesalkan yang
pernah Anda alami sendiri ketika memulai suatu proses?
Untuk tingkat interpretatif :
o Bagaimana pengalaman dan hal-hal yang pernah
dilakukan peserta pertemuan yang Anda fasilitasi, dapat
mendukung tujuan Anda tersebut?
o Menurut Anda, apa yang mestinya dilakukan seorang
fasilitator untuk menarik minat peserta pada menit-
menit pertama acara lokakarya?

Nah, bagaimana Anda menginginkan pelatihan Anda dimulai,
dan bagaimana Anda akan memotret diri Anda untuk mencapai
hasil yang Anda inginkan?


Sahabat saya
adalah yang
membicarakan
kebaikan saya di
belakang punggung
saya

(Thomas Fuller)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
17
Bab 2:
Penget ahuan Dasar
Bagi Fasi l i t at or




Seorang fasilitator mempunyai tugas utama membantu
sebuah kelompok meningkatkan efektifitasnya dengan cara me-
nyempurnakan proses dan struktur pertemuan pada kelompok itu.
Proses artinya bagaimana kelompok itu bekerja bersama. Termasuk
di dalamnya bagaimana masing-masing anggotanya berinteraksi satu
sama lain, bagaimana mereka mengidentifikasi dan memecahkan
persoalan, bagaimana mereka membuat keputusan-keputusan, dan
bagaimana mereka menangani konflik. Struktur maksudnya
bagaimana proses interaksi anggota kelompok itu berlangsung.
Untuk melaksanakan semua itu, seorang fasilitator perlu memiliki
pengetahuan dasar mengenai beberapa hal yang berkaitan erat
dengan proses dan struktur dalam kelompok. Anggota kelompok
berinteraksi dan saling belajar, maka fasilitator perlu tahu tentang
teori belajar, tentang berbagai gaya belajar. Seorang fasilitator juga
perlu tahu kiat agar kelompok yang difasilitasinya terus mengikuti
proses kelompok dengan bergairah, maka iapun perlu tahu tentang
bagaimana mengelola kreatifitas.

Teor i Bel aj ar Bagi Fasi l i t at or

Hingga saat ini, pernahkah kita coba mengenali organ sangat
penting bagi yang selama ini membantu kita bekerja? Sebuah organ
yang dapat mengkoordinasikan segala tindak tanduk kita? Kita
semua tahu, organ tersebut adalah otak, namun sayangnya tidak
banyak yang mencoba membuka misterinya. Digunakan, tetapi
luput dari perawatan dan usaha pengembangan.
Bab ini akan berusaha mengupas hal tersebut untuk
membuat seseorang menjadi lebih optimal dalam sebuah proses
pembelajaran.






BRAIN BASED
LEARNING
Jangan pernah
percaya bahwa
segelintir orang
yang peduli
tidak dapat
mengubah dunia.
Karena,
sesungguhnya ,
merekalah yang
telah
melakukannya

(Margaret Mead)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
18

Dalam
sejarah
hidup, saya
tidak pernah
menemukan
sesuatu
melalui proses
berpikir
rasional

(Albert Einstein)




Ot ak Dan Pembel aj ar an ===

Otak telah berkembang seiring dengan perkembangan
peradaban dan evolusi manusia. Dan strukturnya yang berlapis
dengan jelas menunjukkan hal tersebut. Mulai dari bagian terdalam
dan paling tua yakni bagian reptilia dan bergerak keluar melalui
sistem lymbic menuju neokoteks, di mana perilaku rasional berada.
Otak kita sendiri berkembang dan berubah dari waktu ke
waktu, dengan sel-sel saraf yang mati dan terbentuk kembali,
sistem jaringan yang dihancurkan dan dibangun kembali. Otak
memilih dan memperkuat atau memperlemah jaringan-jaringan
tertentu untuk membangun stuktur syaraf yang kompleks yang
menentukan cara berpkir kita. Kemudian kita membentuk kembali
model neural ini melalui pengalaman, pendidikan dan pelatihan.
Anak yang baru lahir memiliki kapasitas yang fundamental,
namun belum sempurna untuk memahami berbagi sinyal, yang
mungkin dihasilkan dari instruksi genetis. Pengalaman berikutnya
bekerja pada dasar genetik ini. Tugas mendesak pertama anak-anak
adalah mengembangkan dengan cepat kapasitasnya dalam
memahami berbagai sinyal membingungkan dari lingkungannya.
Dalam dua tahun pertama hidupnya, sebagian besar anak tampak
mengembangkan kemampuan ini.
Proses yang terlibat adalah memahami darimana datangnya
stimulus dan kemudian mengategorikan sinyal tersebut kedalam
beberapa kasus khusus dari pola-pola yang lebih umum. Campuran
bayangan dan warna dikenali sebagai bola, wajah di dekat bayi
dikenali sebagai ibu. Anak-anak mampu membentuk model yang
holistik tanpa terhambat dalam detilnya. Kategorisasi adalah
kuncinya. Pengalaman-pengalaman ini juga dipertahankan dalam
bentuk memori pola-pola kompleks yang tersebar di seluruh otak


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
19
dan tidak bersifat representasional, melainkan dibangkitkan oleh
pola-pola lain dan oleh stimuli eksternal.
Dengan semakin kayanya dunia internal dalam benak anak,
maka dunia eksternal perlahan berkurang. Model-model yang
dikembangkan otak menggantikan sinyal input dari sumber-sumber
eksternal. Saat menghadapi pengalaman baru, otak mengaktifkan
suatu aktifitas syaraf yang kompleks atau model mental yang
paling menyerupai. Kita bisa merasakan kehadiran model-model
tersebut ketika kita mengungkapkan penyesalan atas kebiasaan
yang ada kalanya membentuk kehidupan kita sebagai orang dewasa.
Dengan kata lain, berkembangnya model mental adalah
garis batas antara masa kanak-kanak dan kedewasaan. Kita terus
tumbuh dengan dunia yang kita kenal, yang dapat dipandang sebagai
ilusi yang bersahabat. Bersahabat karena ia membantu kita untuk
berkembang secara efisien, sekalipun hal itu merupakan ilusi.
Kita dapat memahami model mental kita dengan melihat
darimana model-model tersebut berasal. Ada perdebatan panjang
mengenai pengaruh alam (nature) versus pengaruh perkembangan
(nurture) dalam pembentukan cara berpikir kita. Sekarang ini
tampak semakin kuat bahwa alam, dalam bentuk genetik,
memainkan peran penting dalam menentukan siapa kita. Banyak
kemampuan dasar otak, seperti bahasa, tampak ditentukan sejak
kelahiran berdasarkan sifat genetik yang kita warisi.
Jelas bahwa kita dilahirkan dengan perangkat keras dan
jaringan fisik yang mempengaruhi cara kita melihat dunia. Genetik
tampaknya memberikan basis fundamental mengenai siapa kita dan
apa yang dapat kita lakukan, dan kemudian pengalaman memainkan
peranan besar dalam membentuk kemampuan ini, memperkuat dan
memperlemah sebagian yang lainnya. Sejumlah faktor
pengembangan (nurture) membentuk ulang model mental kita,
termasuk pendidikan, pelatihan, pengaruh orang lain, penghargaan
dan insentif dan pengalaman pribadi.


I si Ot ak Kanan (dan Ki r i ) ===

Otak kita luar biasa. Di dalam otak terdapat 100 milyar sel,
masing-masing berhubungan dan berkomunikasi dengan 10.000 sel-
sel lainnya. Mereka bersama membentuk jaringan kompleks
beberapa quadrillion (1.000.000.000.000.000) penghubung yang
menuntun cara kita bicara, makan, bernafas, dan bergerak.
James Watson, yang meraih Hadiah Nobel karena
membantu penemuan DNA, menggambarkan otak manusia sebagai
benda paling kompleks yang kita temukan dialam semesta ini.
Meski otak begitu kompleks, bentuk luarnya sederhana dan
simetris. Banyak ilmuwan sejak lama telah mengikuti Garis Syaraf
Perubahan
yang paling
bermakna dalam
hidup adalah
perubahan
sikap. Sikap
yang benar akan
menghasilkan
tindakan yang
benar.

(WilliamJ.
Johnston)
NATURE

NURTURE


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
20
Mason Dixon membagi otak dalam dua wilayah. Dan
perkembangan berikutnya menegaskan bahwa dua wilayah otak itu
terpisah namun tak sama.



Bagian kiri menurut teori, bagian yang penting, bagian yang
membuat kita sebagai manusia. Otak kanan bagian pelengkap
merupakan sisa-sisa perkembangan awal manusia. Wilayah kiri
isinya rasional, analitis dan logis. Intinya semua yang kita pandang
layak dalam otak. Wilayah kanan sifatnya diam, tidak logis dan
instingtif suatu jejak yang ditinggalkan alam untuk mengingatkan
bahwa manusia sudah berkembang.
Dahulu kala pada zaman Hippocrates, para dokter mayakini
bahwa otak kiri karena ukurannya yang sama, dianggap tempat
kediaman hati dan merupakan bagian yang esensial. Dan pada tahun
1800-an, ilmuwan mulai mengumpulkan bukti-bukti mendukung
pandangan tersebut. Tahun 1860-an, ahli syaraf Perancis. Paul
Broca menemukan bahwa bagian otak kiri mengendalikan
kemampuan berbahasa.
Sepeuluh tahun kemudian, Carl Wernicke, seorah ahli
syaraf dari Jerman menemukan hal yang serupa, yakni kemampuan
untuk memahami bahasa. Penemuan tersebut mendukung lahirnya
silogisme yang sesuai dan meyakinkan. Bahasalah yang
membedakan manusia dari binatang. Bahasa menghuni otak kiri.
Oleh karena itu otak kiri-lah yang membuat kita sebagai manusia.
Hingga tahun 1950, Roger W. Sperry mengubah pandangan
kita tentang otak dan diri sendiri. Sperry mempelajari seorang
pasien yang menderita serangan epileptik sehingga corpus collosum-
nya harus diambil, yakni suatu bundel berisi 300 juta serabut syaraf
yang menghubungkan kedua wilayah otak.
N NE EO OC CO OR RT TE EX X
L LY YM MB BI IC C
S SY YS ST TE EM M




R RE EP PT TI IL LI IA AN N
B BR RA AI IN N


pengambilan
keputusan,
kreativitas,
menilai, dan
merencanakan

sosial, mendengar,
merasakan,
bahasa, memori,
perhatian, dan
emosi

naluri, repetisi,
survival/ bertahan
hidup

OTAK KANAN
OTAK KIRI
Orang-orang
yang tak bisa
mengubah
pikirannya tak
akan
mengubah
apapun.

(George Bernard
Shaw)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
21
Dalam serangkaian eksperimen tersebut, Speery
menemukan bahwa pandangan selama ini tidak benar adanya.
Memang otak kita terpisah dua bagian, namun, wilayah otak minor
atau subordinat yang selama ini kita anggap buta huruf dan cacat
mental, dan dianggap bahkan tak sadar oleh beberapa tokoh,
ternyata bagian tersebut superior dalam menjalankan tugas mental
tertentu.
Dengan kata lain, otak kanan bukannya kurang penting
dibanding otak kiri, melainkan hanya berbeda. Terlihat ada dua
cara berpikir, terletak dalam tatanan yang terpisah di wilayah kiri
dan kanan otak. Otak kiri berpikir runtun, sangat hebat dalam
menganalisa dan menata kata. Otak kanan berpikir holistik, cepat
mengenali pola-pola, dan mampu menafsirkan ekspresi non verbal
dan emosi. Manusia sesungguhnya mempunyai dua jenis berpikir.
Riset ini menghasilkan hadiah nobel bagi Sperry di bidang
kedokteran.
Pemahaman tentang hal ini sangat penting bagi seorang
fasilitator, karena fasilitator tidak hanya akan mengolah
pengetahuan dan analisis, tetapi harus sekaligus menguasai pilihan
kata, bahasa non verbal dan emosi. Pengetahuan ini akan sangat
berguna dalam dunia. kefasilitasian.

Buk an Seper t i
Tombol On and Of f ===

Kedua wilayah otak tidak bekerja seperti tombol on dan
off, yang satu segera mati bila yang lain dinyalakan. Kedua belahan
memainkan peran hampir dalam segala hal yang kita lakukan. Kita
bisa mengatakan bahwa wilayah otak tertentu lebih aktif dibanding
yang lain jika melakukan fungsi tertentu, namun, kita tidak bisa
mengatakan bahwa fungsi tersebut terikat pada wilayah tertentu.
Namun, para ahli bersepakat bahwa kedua wilayah otak
pendekatannya berbeda dalam dalam menuntun tindakan,
pemahaman dan respon kita terhadap sebuah kejadian. Dan
perbedaan tersebut pada akhirnya, menentukan sikap kita dalam
menjalani kehidupan pribadi dan profesional kita.
Setelah lebih dari tiga dekade penelitian wilayah otak, pada
akhirnya penemuan-penemuan tersebut dapat dirangkum kedalam
empat perbedaan kunci.

Ot ak k i r i mengont r ol si si k anan t ubuh; ot ak
k anan mengont r ol si si k i r i t ubuh
Hal ini dapat dengan jelas kita lihat pada kejadian stroke.
Stroke yang menyerang bagian otak kanan seseorang, maka akan
menyebabkan seseorang sulit menggerakkan bagian tubuh sisi kiri,
TOMBOL
ON AND OFF
Otak bukanlah
yang terutama,
tapi apa yang
memandunya
karakter, hati,
kualitas
kebaikan, dan
ide ide


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
22

demikian pula stroke otak kiri akan menyebabkan kelumpuhan
bagian tubuh sisi kanan.
Karena umumnya 90% populasi bersifat tangan kanan,
maka itu berarti 90% populasi, otak kiri mereka yang mengontrol
bagian penting seperti menulis. makan dan menggerakkan mouse
komputer. Keadaan kontralateral terjadi tidak hanya jika kita
menuliskan nama atau menyepak bola, tetapi juga jika
menggerakkan mata atau kepala.

Ot ak k i r i ber si f at r ent et an, ot ak k anan si mul t an
Otak kiri khusunya, ahli dalam serentetan kejadian-kejadian
dimana unsur-unsurnya muncul satu sesudah yang lain dan
mengontrol rentetan kelakuan. Rentetan fungsi yang dikerjakan
otak kiri antara lain aktivitas verbal, seperti berbicara, memahami
pembicaraan orang lain, membaca dan menulis.
Sebaliknya otak kanan tidak berjalan dalam rentetan tertata
A-B-C-D-E. Talenta uniknya adalah kemampuan untuk menafsirkan
sesuatu secara simultan. Sisi kanan otak kita ini ahli dalam melihat
banyak hal sekaligus: dalam melihat semua bagian dari suatu benda
geometris dan menangkap bentuknya, atau dalam melihat semua
unsur-unsur suatu situasi, dan memahami maksudnya. Hal ini
membuat otak kanan secara khusus berguna dalam menafsirkan
wajah-wajah. Dan hal itu memberi manusia keuntungan komparatif
melebihi komputer.


Spesi al i sasi ot ak k i r i dal am t ek s; ot ak k anan
dal am k ont ek s
Kebanyakan bahasa berasal dari otak kiri (ini benar untuk
95% orang tangan kanan dan 70% untuk tangan kiri. Sisanya, 8%
populasi pembedaan kerja bahasa jauh lebih kompleks. Namun
otak kanan tidak meletakkan tanggungjawab sepenuhnya kepada
otak kiri. Melainkan, kedua sisi melakukan fungsi yang saling
melengkapi.
Untuk menyederhanakannya, otak kiri menangani apa yang
dikatakan; sedangkan otak kanan fokus pada bagaimana sesuatu
itu dikatakan bahasa non verbal, petunjuk emosional yang
disampaikan melalui tatapan, ekspresi wajah dan intonasi.
Tetapi perbedaan antara otak kiri dan otak kanan lebih
kompleks dibanding perbedaan antara kata verbal dan non verbal,
petunjuk emosional yang disampaikan. Perbedaan teks/konteks,
yang berasal dari Robert Ornstein, diterapkan semakin luas.
Misalnya, bahasa-bahasa tertentu sangat tergantung pada konteks.


Jika hatiku
mampu
berpikir,
dapatkah
otakku
merasakan
sesuatu?

(Van Morrison)

RENTETAN
SIMULTAN
TEKS
KONTEKS


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
23

Ot ak k i r i menganal i sa det i l , ot ak k anan membuat
si nt esa gambar an menyel ur uh
Secara umum otak kiri terlibat dalam menganalisa
informasi, sebaliknya otak kanan spesialisasinya adalah sintesis,
khususnya ahli dalam menyatukan unsur-unsur terpisah sehingga
sesuatu dapat dipahami secara keseluruhan.
Analisa dan sintesa tersebut merupakan dua cara mendasar
untuk memahami informasi. Kita bisa memilah keseluruhan dalam
komponen-komponen. Atau kita juga dapat menyatukan
komponen-komponen tersebut dalam suatu kesatuan yang utuh.
Keduanya merupakan hal dasar pemikiran manusia. Namun
keduanya merupakan kerja bagian otak yang berbeda. Otak kiri
menangkap detil. Tetapi hanya otak kanan yang bisa menangkap
gambar secara keseluruhan.


Pembel aj ar an Kont ek st ual ===

Setelah era pembelajaran berbasis kemampuan otak,
selanjutnya berkembang pula apa yang disebut sebagai
pembelajaran berbasis kontekstual. Pembelajaran ini dilandasi oleh
filosofi bahwa seorang pembelajar akan mau dan mampu menyerap
materi pelajaran jika mereka dapat menangkap makna dari
pembelajaran tersebut.



Pada hakekatnya pembelajaran konstektual dapat diringkas
menjadi tiga kata, yaitu makna, bermakna dan dibermaknakan. Pada
pembelajaran konstektual, beberapa strategi yang dapat ditempuh
antara lain adalah: pertama, pembelajaran berbasis problem; kedua,
menggunakan konteks yang beragam; ketiga, mempertimbangkan
MENGALAMI
REFLEKSI
KESI MPULAN
EKSPERI MEN
BARU
Menc ar i penj el asan dar i
k enyat aan
Pengal aman nyat a
DETIL

SINTESA

PEMBELAJARAN
KONTEKSTUAL
Satu
percakapan
dengan orang
bijak lebih baik
daripada 10
tahun belajar.

(Peribahasa China)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
24
kebhinekaan peserta belajar; keempat, memberdayakan peserta
untuk belajar mandiri; kelima, belajar melalui kolaborasi; keenam,
menggunakan penialian autentik; dan ketujuh, mengejar standar
unggul untuk peningkatan daya saing.








Pendek at an dan Gaya Bel aj ar

Pedagogi

Kita telah mengenal model pembelajaran pedagogi yang
mendominasi dunia pendidikan dan pelatihan selama berabad-abad.
Karena hal tersebut telah menjadi standar, orang biasanya
menggunakan pendekatan tersebut jika mereka diminta untuk
mengajar atau melatih orang lain. Model pedagogi berpegang pada
beberapa asumsi berikut ini :
Pengajar/guru bertanggungjawab atas proses pembelajaran,
termasuk apa dan bagaimana peserta/siswa belajar. Peran
peserta/siswa menjadi pasif.
Karena peserta/siswa kurang memiliki pengalaman, dan
pengajar/guru dianggap ahli - sang guru - dan menjadi
tanggungjawab pengajar untuk memberikan ilmunya kepada
peserta/siswa. Hal ini berarti membanjiri peserta dengan
Proses
Belajar
Habit
(Kebiasaan
Perubahan
(setelah dewasa & habit,
Bersama proses
Change
DNA
Cara Baru dalam
Bertindak,
PEMBELAJARAN
KONTEKSTUAL
Sesungguhnya,
kamu belajar setiap
hari. Jika, kamu mau
memperhatikannya.

(Roy LeBlond)



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
25

informasi melalu cara-cara tradisional seperti ceramah,
buku pelajaran, panduan, dan video yang digunakan oleh
para ahli untuk membagi pengetahuan dan pengalaman
mereka.
Kita termotivasi untuk belajar karena hal tersebut harus
jika ingin lulus tes, naik ke tingkat yang lebih tinggi, atau
memperoleh ijasah.
Belajar adalah pemberian informasi secara terpusat. Guru
mengulas materi sehingga para peserta/siswa dapat
menyerap informasi yang diberikan dalam urutan logis
tertentu.
Motivasi belajar lebih banyak datang dari luar. Tekanan dari
pihak-pihak yang lebih berkuasa dan ketakutan akan akibat
negatif menjadi pendorong bagi pelajar. Pada intinya, guru
Entah dalam
percakapan
berdua atau
dalam kelompok-
jika Anda
menguasai
seluruh
pembicaraan,
Anda
membosankan
bagi orang lain!

(Helen Gurley Brown)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
26
mengendalikan pembelajaran melalui pemberian
penghargaan dan penerapan disiplin.
Hingga saat ini, model pembelajaran pedagogi ini masih banyak
digunakan orang, dan tidak hanya di dunia pendidikan formal
(sekolah, kuliah), tetapi juga dalam pendidikan non formal dan
pelatihan-pelatihan.

Andr agogi

Pelatihan biasanya dikaitkan dengan pendidikan bagi orang
dewasa, dan untuk melaksanakannya orang menerapkan model
pembelajaran bagi orang dewasa (andragogi). Model ini memper-
cayai bahwa orang dewasa mempunyai berbagai kebiasaan dalam
belajar. Oleh karena itu seorang pelatih perlu memperhatikan
beberapa hal yang berkaitan dengan kebiasaan orang dewasa
belajar ini :
Gaya Belajar. Orang belajar dengan cara atau gaya yang
berbeda. Ada yang lebih suka mendengarkan, ada yang lebih
suka menggunakan gambar, dengan mengikuti instruksi, dan
sebagian orang membutuhkan peragaan. Gaya belajar
berkaitan dengan pendekatan seseorang dalam belajar dan
cara orang tersebut bereaksi terhadap apa yang
dipelajarinya. Ada beberapa acuan yang bisa digunakan
untuk menilai gaya belajar sesorang. David Kolb dalam
bukunya Learning Style Inventory (1981) menggunakan
proses penilaian diri (self-assessment) untuk meningkatkan
kesadaran bahwa orang memiliki cara belajar yang berbeda
sehingga kepekaan untuk merancang dan melaksanakan
pelatihan yang sesuai bagi semua gaya belajar sangatlah
penting.

Orang belajar
sedikit dari
kesuksesan tapi
belajar banyak
dari kegagalan.

(Pepatah Arab)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
27


Memahami gaya belajar peserta Anda. Ada berbagai sudut
pandang yang digunakan orang untuk mengenali cara belajar
seseorang. Di bagian awal buku ini (Potret Diri) telah
dibahas salah satu sudut pandang, yang melihat adanya 4
golongan besar tipe pembelajar (perasa, pengamat, pemikir,
pekerja). Keempat kategori itu sebetulnya tergambarkan
juga dalam bentuk lain pada tes kepribadian MBTI (perasa =
Feeling. pengamat = Perceiving, pemikir = Thinking, dan
pekerja = Judging). Sudut pandang lain adalah dari kaca
mata Howard Gardner, yang dalam bukunya Frames of Mind
(1993) menyebutkan ada 8 cara orang mengetahui.
Menurut Gardner, setiap orang memiliki kedelapan
kecerdasan itu dan dapat memanfaatkannya dengan
produktif. Hanya saja, pada setiap orang ada kecerdasan
tertentu yang lebih menonjol. Pandangan ini populer
dengan sebutan multiple intelligences. Kedelapan kecerdasan
Semua yang ada
di dunia adalah
laboratorium
untuk menggali
pikiran.

(Martin H. Fischer)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
28
yang ia maksudkan adalah kecerdasan visual-ruang, verbal-
linguistik, interpersonal, musikal-irama, naturalis, fisik-
kinestetik, intrapersonal, dan logika-matematis.

Memahami cara penerimaan. Selain memahami gaya belajar,
seorang pelatih yang efektif harus mampu memahami
beragam cara penerimaan yang berbeda. Menurut M. B.
James dan M. W. Galbraith (1985), peserta belajar juga
mempunya preferensi dalam hal cara menerima dan
mencerna informasi:

Visual Video; slide; grafik; foto; peragaan; metode
dan media yang menciptakan kesempatan
bagi peserta untuk merasakan pengalaman
belajar menggunakan mata
Cetak Teks; latihan menggunakan kertas dan pensil
kata yang tertulis.
Pendengaran Ceramah; rekaman audio; metode-metode
yang memungkinkan peserta untuk sekedar
mendengarkan dan menerima informasi
melalui telinga
Interaktif Diskusi kelompok; bab tanya-jawab; cara-
cara yang membuat peserta berkesempatan
bicara dan terlibat dalam pertukaran ide,
pendapat, dan reaksi dengan peserta lain.
Taktil Praktek langsung; penyusunan model;
metode-metode yang mengharuskan peserta
menyentuh benda (obyek) atau
menyusunnya
Kinestetik Bermain peran; permainan dan kegiatan fisik;
cara-cara yang memerlukan keterampilan
psikomotor dan bergerak dari satu tempat
ke tempat lain.



Hubungan gaya bel aj ar , met ode, dan
hasi l bel aj ar

Lebih duapuluh empat abad yang lalu, Confusius mengata-
kan :
Apa yang saya dengar, saya lupa.
Apa yang saya lihat, saya ingat.
Apa yang saya kerjakan, saya pahami.

Pilihan suatu
topik yang
memuat analisis
dan mendukung
antusiasme
penting bagi
percakapan yang
menyenangkan.

(Agnes Repplier)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
29
Ketiga pernyataan itu menggambarkan dengan sangat jelas
betapa pembelajaran yang aktif sangat dibutuhkan. Mel Silberman
dalam bukunya Active Training (1998) mengembangkan
pernyataan Confusius itu menjadi 5 prinsip pembelajaran aktif :

Ketika saya dengar, saya lupa.
Ketika saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit.
Ketika saya dengar, lihat, tanya atau bahas dengan orang
lain,saya mulai mengerti.
Ketika saya dengar, lihat, bahas, dan lakukan, saya mendapat
pengetahuan dan keterampilan.
Ketika saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai.

Kelima prinsip itu dikembangkan dan diyakini oleh
Silberman, setelah banyak orang yang mempopulerkan pembelajar-
an aktif menemukan bahwa berbagai cara pengajaran dapat mem-
pengaruhi tingkat daya ingat (retensi) :

Kuliah/mengajar 5%
Membaca 10%
Audiovisual 20%
Demonstrasi/peragaan 30%
Diskusi 50%
Praktek/mengerjakan 75%
Mengajar orang lain 90%

Temuan ini sejalan dengan temuan Albert Mehrabian pada
tahun 1967, bahwa hanya 7% dari suatu pesan yang dapat diterima
dengan baik bila disampaikan dengan kata-kata, 38% oleh cara
menyampaikannya dan 55% oleh raut muka dan bahasa tubuh.

Mengapa kebanyakan orang dewasa cenderung lupa apa
yang mereka dengar? Karena perbandingan antara jumlah kata-kata
yang diucapkan seorang pelatih tidak seimbang dengan jumlah kata-
kata yang mampu ditangkap peserta. Kebanyakan pelatih meng-
ucapkan antara 200 sampai 300 kata per menit, sementara
pesertanya, bila berkonsentrasi penuh, hanya mampu menangkap
50 sampai 100 kata permenit, atau setengah dari kata-kata yang
diucapkan pelatih. Itu karena mereka memikirkan banyak hal ketika
sedang mendengarkan si pelatih.

Bilamana kita
tidak
memperoleh apa
yang kita cintai,
kita harus
mencintai apa
yang telah kita
peroleh

(Pepatah Prancis)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
30

Jadi sungguh sulit untuk mengikuti pelatih yang senang
ngoceh. Bahkan meskipun materinya menarik, sulit untuk berkon-
sentrasi untuk rentang waktu yang lama. Sebuah hasil studi menun-
jukkan bahwa mahasiswa di ruang kuliah tidak memperhatikan
sebanyak 40% dari jam kuliah(Pollio, 1984). Lebih jauh lagi, meski-
pun mahasiswa dapat mengingat 70% dari apa yang ia dengar pada
10 menit pertama, mereka hanya dapat mengingat 20% dari yang
10 menit terakhir (McKeachie, 1986). David dan Roger Johnson
bersama Karl Smith mengemukakan beberapa masalah yang dapat
ditemui bila metode kuliah digunakan tanpa jeda (Johnson,
Johnson, and Smith, 1991):

Perhatian khalayak menurun dari menit ke menit.
Metode kuliah saja hanya cocok untuk pembelajar yang
punya gaya belajar mendengar (auditory learner).
Metode kuliah cenderung hanya membantu mempelajari
informasi faktual saja dengan tingkat pembelajaran yang
rendah.
Metode ini mengasumsikan bahwa semua peserta
membutuhkan informasi yang sama pada waktu yang
sama.
Orang cenderung tidak menyukainya.
Jangan sekali-
kali membuka
pintu bagi
kejahatan yang
kecil, karena
kejahatan lain
yang lebih besar
tanpa kecuali
menyelinap
masuk

(Baltasar Grasian)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
31


Nah, bila kita kaitkan filosofi Confusius dengan pandangan
Howard Gardner (8 kecerdasan) dan M.B. James dan M.W.
Galbraith (6 cara menerima dan mencerna informasi), serta
temuan David dan Roger Johnson dengan Karl Smith tentang
metode kuliah, dapat disimpulkan bahwa semakin bervariasi cara
(metode) dan sarana (media) yang kita gunakan dalam proses
pembelajaran, akan semakin banyak aspek kecerdasan yang dapat
kita sentuh, dan akan semakin gencarlah terjadi rangsangan di
dalam otak yang akan membuat orang menjadi lebih kreatif. Bila
Anda ingin menjadi pelatih yang fasilitatif, yang membantu peserta
menjadi kreatif, pertanyaan-pertanyaan berikut perlu Anda jawab :

1. Peserta pelatihan yang memiliki kecerdasan visual-ruang
berpikir dengan gambar dan visual. Bagaimana saya dapat
merangsang indera lihat mereka? Bagaimana saya akan
memanfaatkan warna, lukisan, alat peraga, dan imajinasi untuk
merangsang ide-ide mereka?
2. Peserta dengan kecerdasan verbal-linguistik berpikir dengan
kata-kata. Bagaimana saya dapat menggunakan bahasa, tulisan
maupun lisan, untuk merangsang pikiran mereka? Bagaimana
saya dapat memanfaatkan cerita, diskusi, debat, dan percakapan
untuk membantu mereka memahami suatu informasi?
3. Peserta dengan kecerdasan interpersonal berpikir dengan cara
berkomunikasi dengan orang lain. Bagaimana saya akan
mengikat mereka dalam interaksi dan komunikasi inter-
personal untuk menyampaikan sesuatu? Bagaimana saya akan
menggunakan simulasi kelompok, berbagi pandangan, dan kerja
sama diantara sesama peserta untuk memperkuat proses
belajar mereka?
4. Peserta dengan tipe musikal-irama berpikir dalam suara, irama,
dan nada-nada. Bagaimana saya bisa menyertakan nada, irama,
dan berbagai bunyi untuk menyampaikan informasi penting?
5. Peserta bertipe naturalis punya kekuatan dalam mengenal
bentuk dan pola yang ada di alam. Bagaimana saya bisa
menggunakan berbagai produk, benda, dan proses alam untuk
memperkaya pengalaman belajar mereka?
6. Peserta dengan kecerdasan fisik-kinestetik berpikir melalui
gerak dan sensasi fisik. Bagaimana saya dapat memanfaatkan
gerakan fisik untuk memudahkan mereka mengingat sesuatu?
Bagaimana simulasi dan latihan langsung dapat membantu
memudahkan proses belajar mereka?
7. Peserta bertipe intrapersonal berpikir melalui perasaan dan
intuisi. Bagaimana saya dapat menyentuh aspek emosi dan
refleksi diri mereka untuk membantu pikiran-pikiran mereka
yang tersimpan dalam muncul ke permukaan?
Anak-anak perlu
dididik, tapi
mereka juga
harus
dibiarkan
mendidik diri
sendiri.

(Abb Dimnet,
Art of Thinking, 1928)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
32
8. Tipe logis-matematis berpikir secara konseptual, dan punya
kelebihan dalam melihat hubungan-hubungan serta mengenali
pola. Bagaimana saya bisa menggabungkan pendekatan yang
induktif dan deduktif, dan pengenalan terhadap pola-pola yang
abstrak? Bagiaman pula saya dapat menyertakan angka-angka,
penghitungan, logika, dan berpikir kritis, untuk membantu
mereka belajar?

Akhirnya, bagaimana Anda menghadapi kenyataan ini
sebagai seorang pelatih? Dan bagaimana Anda akan membantu
calon fasilitator yang Anda latih untuk tidak menggurui? Kita bahas
di bagian selanjutnya.

Manaj emen Kr eat i f i t as

Sebagai seorang fasilitator sudah pasti Anda bekerja
bersama sekumpulan orang dengan latar belakang berbeda-beda.
Ada kalanya Anda memfasilitasi tema yang sama untuk kelompok
berbeda atau sebaliknya, tema berbeda untuk kelompok yang
sama. Membuat sebuah proses fasilitasi berhasil dalam artian
mencapai apa yang ingin dicapai oleh kelompok tentulah tak sulit
bagi seorang fasilitator berpengalaman seperti Anda. Namun,
sebagai seorang agen perubahan, Anda pasti menyadari bahwa
keberhasilan fasilitasi tidak sekedar dari tercapainya tujuan fasilitasi
tersebut. Yang paling penting adalah bagaimana para peserta
fasilitasi mendapat insight dari proses tersebut dan pencerahan
tersebut bersifat menetap. Lantas bagaimana caranya menjadi
seorang fasilitator yang seperti itu? Kuncinya adalah kreatifitas dan
inovasi. Hal berikutnya yang penting Anda ketahui adalah
bagaimana mengelola pengetahuan yang Anda dapat dari
pengalaman itu.






Agar mudah
berbicara dengan
orang, Anda harus
benar-benar yakin
bahwa Anda atau
mereka adalah orang
yang menarik. Dan
bahkan meyakini hal ini
saja tidaklah mudah.

(Mignon McLaughlin)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
33
Apa bedanya k r eat i f i t as dengan i novasi ?

Kreatifitas adalah proses melahirkan ide atau gagasan.
Proses ini merupakan perpaduan dari motivasi, waktu, usaha dan
pengetahuan. Sementara Inovasi seringkali diartikan sebagai ide
yang aplikatif dan tindakan yang mendatangkan hasil. Kreatifitas
adalah produk berpikir divergen, sedangkan inovasi adalah hasil
dari berpikir konvergen. Atau sederhananya, kretifitas untuk
menciptakan sesuatu yang baru, sedangkan inovasi menciptakan hal
yang berbeda dari yang sebelumnya atau sudah ada.
Kreatifitas saja, dalam artian penciptaan ide-ide baru,
tidaklah mencukupi. Yang kita butuhkan adalah inovasi yaitu
bagaimana caranya menerjemahkan sebuah ide (entah itu ide lama
atau baru) ke dalam sebuah tindakan. Inovasi lahir dari gabungan
pengetahuan yang sudah ada dan pengembangan pengetahuan yang
baru.

Kreatifitas
adalah keberanian
untuk melepaskan
diri dari
kepastian

(Erich Fromm)



Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
34
Bel enggu Kr eat i f i t as & I novasi

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kreatifitas adalah
sesuatu yang inheren, yang ada di diri setiap manusia. Bahkan
kebutuhan untuk berkreasi (need to create) adalah daya hidup yang
mendorong umat manusia bertahan di dunia ini. Bila demikian,
mengapa tak banyak hal kreatif yang terjadi? Mengapa saya tidak
sekreatif itu? Jawabannya, selama kita masih memiliki belenggu yang
mengikat pola pikir kita, selama itu pula kita tak akan bisa menjadi
kreatif, apalagi inovatif.

Bel enggu 1. Par adi gma
Paradigma terdiri dari ekstraksi teori, prinsip, dan nilai-nilai
yang kita miliki yang sudah terinternalisasi sedemikian rupa
sehingga ada kalanya kita tidak menyadari bahwa kita memilikinya.
Paradigma inilah yang merupakan infrastruktur yang menentukan
pola pikir dan cara kita memandang dunia. Di sisi lain, Paradigma
berfungsi sebagai sistem kekebalan yang memusnahkan pikiran
atau ide yang dapat mengganggu sistem nilai kita.
Yang menjadi masalah adalah bila paradigma kita terlalu kaku
sehingga ia akan memusnahkan semua ide-ide yang baru dan
berbeda.

Bel enggu 2. Absol ut dan t ak t er gant i k an
Model Berpikir adalah alat yang kita gunakan untuk
membuat prediksi, menjadi acuan kita bertindak dan memahami
dunia. Satu model cocok untuk menyelesaikan satu masalah,
sementara model lain menjawab hal yang berbeda. Kita seringkali
terjebak bahwa masalah A hanya bisa dijawab dengan B. Sementara
B sama sekali tidak bisa digunakan untuk menyelesaikan C. Padahal,
di dunia yang selalu berubah ini, bisa jadi B bukan solusi yang paling
tepat untuk A. Atau bahkan B bisa digunakan untuk menyelesaikan
A dan C sekaligus. Tidak ada satu hal pun yang absolut dan tak
tergantikan. Kita selalu bisa menemukan solusi yang lebih tepat,
lebih efektif untuk satu hal. Kita pun akan bisa menjawab lebih
banyak pertanyaan jika kita mau membebaskan diri dari belenggu
bahwa hanya ada satu jawaban yang pasti untuk satu masalah.

Bel enggu 3. Tak ut
Perasaan takut adalah hal yang paling sering membelenggu
kreatifitas. Perasaan takut salah dan takut gagal membuat kita
seringkali memilih untuk menggunakan cara-cara aman yang sudah
pernah kita lakukan dan berhasil. Cobalah berpikir seperti kanak-
kanak. Dunia ini adalah sebuah permainan. Sesautu yang
mengasyikan dan tidak perlu takut karenanya.
Kini, Anda sudah mengenali belenggu-belenggu yang
Visimu akan
menjadi jelas
bila kau mau
melihat ke
dalam hatimu.
Siapa yang
melihat keluar
akan bermimpi.
Mereka yang
melihat ke
dalam
terbangkitkan.

(Carl Jung)



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
35

membatasi daya kreatifitas Anda. Dengan mengenal belenggu-
belenggu tersebut, diharapkan Anda dapat lebih mudah
mengatasinya dan membebaskan kreatifitas Anda. Satu hal yang
harus Anda ingat, semakin sering Anda menggunakan kreatifitas
Anda, semakin tajam pula ide-ide yang akan muncul.




Mengel ol a Penget ahuan

Pengetahuan yang kita miliki bukalah sesuatu yang ajeg dan
kaku. Setiap kali kita berpikir, kita akan mendapatkan satu
pengetahuan baru. Bila pengetahuan ini kita aplikasikan ke dunia
nyata, maka kita akan mendapat pengetahuan yang lebih tajam atau
justru sesuatu yang baru sama sekali. Pengetahuan selalu
beradaptasi, bertransformasi dan terus menerus berubah. Misalnya,
kita tahu bahwa bunga adalah cikal bakal buah, dan buah itu bisa
dimakan. Dengan pikiran kreatif kita bertanya bisakah bunga
dimakan? Dari pengalaman memakan bunga kita mendapat
pengetahuan baru: ada bunga yang enak dimakan, ada pula yang
tidak. Pengalaman selanjutnya mempertajam pengetahuan kita:
Pengetahuan
adalah
sekumpulan
fakta,
kebijaksanaan
adalah cara
untuk
menyederhana-
kannya.

(Martin Fischer)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
36

GET
APPLY
LEARN
INNOVATE
SHARE
LINGKARAN
PENGETAHUA
GALIS

GET
APPLY
LEARN
INNOVATE
SHARE

bunga yang enak dimakan antara lain bunga pisang, bunga turi dll.
Pengetahuan yang Anda miliki hanya akan menjadi sesuatu
yang berarti bila Anda mampu memberikan konteks. Pemberian
konteks yang berbeda,lagi-lagi dengan memanfaatkan kreatifitas dan
inovasi, akan menyajikan pemahaman yang berbeda pula dari
pengetahuan tersebut. Misalnya, pengetahuan akan bunga-bunga
yang enak dimakan akan membawa kita ke pilihan lain dari sayur
untuk teman makan nasi. Pemahaman terhadap pengetahuan pada
akhirnya akan mewujudkan wisdom (kebijaksanaan). Ketika itulah
Anda akan menjadi seseorang yang berbeda dari orang-orang
lainnya karena Anda mampu menarik esensi dari sebuah
pengetahuan dan menerjemahkannya menjadi satu pengetahuan
baru.
Perubahan baru akan terjadi jika kita memanfaatkan
pengetahuan yang kita punya. Atau dengan kata lain mengelola
pengetahuan.















Selain kreatifitas dan inovasi, cara lain untuk mengelola
pengetahuan kita adalah dengan mengkomunikasikannya kepada
pihak lain. Membagikan pengetahuan yang kita miliki ke orang lain
akan membuat kita menemukan sesuatu yang baru dari
pengetahuan itu. Dialog yang terjadi antara pemberi dan penerima
pengetahuan akan memperkaya pengetahuan awal kita.

Karena pengetahuan kita terus menerus berubah, maka
pengelolaan pengetahuan bersifat nurturing. Organik dan bukan
mekanistis. Artinya, semakin sering kita membuka diri, beradaptasi
dengan perubahan dan memberi makna baru dari pengetahuan kita,
maka lingkar pengetahuan kitapun akan semakin besar.


Saya selalu
siap untuk
belajar, pun
begitu saya
tidak terlalu
suka diajari.

(Winston
Churchill)



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
37


Peluang akan
menggandakan
diri jika diraih.
Akan mati jika
diabaikan. Hidup
adalah sebuah
garis peluang
panjang.

(John Wicker)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
38
Bab 3:
Per an Dan Si k ap
Fasi l i t at or



Dunia fasilitasi menjadi kian mengemuka belakangan ini
seiring dengan berkembangnya era otonomi daerah. Proses
pembangunan dengan semangat partisipasi melatarbelakangi
semakin berkembangnya proses-proses yang melibatkan
masyarakat di dalamnya. Dalam kerangka tersebut peran fasilitator
menjadi salah satu hal yang cukup mengemuka. Dan karenanya
fasilitator kemudian menjadi sebuah profesi pilihan yang cukup
menjanjikan masa depan bagi sebagian orang.


Kita hidup dalam
sebuah samudra
kata-kata, tetapi
seperti seekor ikan
di dalam air, kita
sering kali tidak
menyadarinya

(Stuart Chase)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
39
Pember dayaan Masyar ak at dan
Mi t os Pembangunan

Dalam ranah pemberdayaan masyarakat, Chambers (dalam
Nasution, 1998) menyatakan bahwa terdapat dua pola budaya dari
luar sistem masyarakat (community system) yang akan melahirkan
bias atau persepsi yang salah terhadap sistem dan komponen-
komponen sistem masyarakat yang diharapkan menjadi intended
beneficiaries dari program pengembangan masyarakat (community
development programs). Kedua pola budaya tersebut adalah: (1)
pola budaya negatif ilmuwan yang melakukan kajian-kajian kritis
yang sepertinya tidak terbatasi oleh waktu; dan (2) pola budaya
positif para agen pembangunan (baik pemerintah maupun non-
pemerintah) yang umumnya terbatasi oleh waktu dan harapan
terhadap hasil nyata yang cepat kelihatan.

Pola budaya yang pertama umumnya cenderung melihat
persoalan kemasyarakatan sebagai permasalahan yang njlimet
(rumit) dan seringkali terjebak pada keadaan tidak mampu
memberikan saran secara konkret bagi pembangunan masyarakat.
Sedangkan pola budaya kedua, lebih memandang persoalan
masyarakat sebagai fenomena lingkungan sekitar yang mudah
diatasi secara teknis semata. Sehingga pendekatan yang dilakukan
adalah seringkali pendekatan proyek pembangunan dan bantuan
sosial-materi belaka.

Kedua pola pendekatan budaya ini tidak selalu berhasil
melahirkan pola pendekatan yang terpadu diantara keduanya.
Masing-masing pola budaya tersebut cuma menunjukkan sisi
persepsional mereka saja terhadap masyarakat, bukan didasarkan
pada realitas yang terjadi pada masyarakat. Kenjlimetan pola budaya
yang pertama dan ketergesaan pola kedua seringkali tidak dapat
menjawab persoalan dinamika masyarakat. Kedua pola budaya ini
kemudian melahirkan bias dalam pembangunan.

Zaltman dan Duncan (dalam Nasution, 1998) menyebut
kedua bias tersebut sebagai bias rasional (rasionalistic bias) dan bias
teknokrasi (technocratic bias). Rasionalistic bias adalah bias yang
terjadi karena para ilmuwan merasa bahwa tugas yang mereka
emban hanya sebatas memberikan informasi tentang perubahan-
perubahan yang perlu dilakukan oleh masyarakat. Para ilmuwan ini
yakin bahwa secara otomatis masyarakat akan melakukan
informasinya karena sangat logis. Bias ini mencerminkan kenaifan
pandangan sebagian ilmuwan dan agen pembangunan tentang
sistem kepercayaan dan sistem nilai masyarakat tentang perubahan.
Sedangkan technocratic bias adalah bias yang lahir sebagai akibat
Siapapun
yang berhenti
belajar
berarti tua,
entah ia
berusia 20
atau 80
tahun.

(Henry Ford)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
40
keyakinan sebagian ilmuwan dan agen pembangunan bahwa anggota
masyarakat pasti dapat mengimplementasikan berbagai gagasan
perubahan yang didesain oleh ilmuwan atau agen pembangunan.

Bias ini seringkali menjadi suatu persimpangan jalan antara
persepsi ilmuwan atau agen pembangunan yang meyakini
masyarakat yang harus mengikuti rekomendasinya sebagai suatu hal
yang logis dengan persepsi masyarakat tentang perubahan dimasa
depan. Karenanya, seringkali pada akhirnya ditempuh jalan pintas
untuk mengatasi persimpangan yang terjadi. Jalan pintas yang
diambil tersebut pada umumnya didasarkan pada mitos-mitos
tentang pemberdayaan masyarakat dengan pondasi berbagai bias-
bias di atas. Jelas bahwa mitos bukanlah realitas yang terjadi dalam
masyarakat Karenanya hampir bisa dipastikan pembangunan
masyarakat yang dilakukan akan menemui kegagalan dalam
memberdayakan masyarakat itu sendiri karena tidak dibangun di
atas realitas.

Dengan dasar filosofi semacam ini, maka jelas sekali bahwa
konsep community based development sangat menekankan pada
peran serta masyarakat, baik pada tataran perencanaan
pembangunan sampai dengan tahap implementasinya. Hanya
dengan mendudukkan masyarakat sebagai subyek pembangunan
maka akan terciptalah apa yang disebut sebagai development for
society (pembangunan untuk masyarakat) dan bukannya society for
development (masyarakat untuk pembangunan) seperti yang selama
ini pembangunan kita rasakan.

Atas dasar pijak hal tersebut, maka kemudian menyeruaklah
peran fasilitator sebagai sebuah tantangan yang dibutuhkan untuk
mempertemukan berbagai perbedaan pandang secara damai. Peran
fasilitator menjadi penting manakala semakin banyak orang yang
membutuhkan mengambil keputusan secara berkelompok atau
secara bersama-sama harus merencanakan, membuat inovasi,
implementasi dan berbagi tanggung jawab. Fasilitatorlah yang
memiliki tanggungjawab untuk mengerahkan energi yang luar biasa
tersebut untuk membuat sesuatu yang tidak mungkin mereka
putuskan sendirian.
Taburlah pikiran,
petiklah perbuatan,
taburlah perbuatan,
petiklan kebiasaan,
taburlah kebiasaan,
petiklah watak,
taburlah watak,
petiklah keuntungan

(Anonim)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
41

Apa i t u Fasi l i t at or ?

Fasilitasi adalah membuat lebih mudah atau tidak terlalu
sulit.

Fasilitator adalah orang yang membuat kerja kelompok
menjadi lebih mudah karena kemampuannya dalam
menstrukturkan dan memandu partisipasi anggota-anggota
kelompok. Pada umumnya fasilitator bekerja dalam sebuah
pertemuan atau diskusi. Akan tetapi seorang fasilitator juga dapat
bekerja di luar pertemuan. Tetapi pada prinsipnya seorang
fasilitator harus mengambil peran netral (dengan banyak bertanya
dan banyak mendengarkan) ketika membantu sebuah kelompok
atau pertemuan.
Seorang
fasilitator tidak
hanya
membutuhkan
seperangkat
metode dan
teknik, tetapi
pemahaman
tentang bagaimana
dan mengapa dia
melakukan itu.

(Roger Schwarz)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
42

Fasilitator juga seringkali disebut sebagai pemudah cara,
dimana seorang fasilitator berperan membantu proses kelompok
melalui suatu proses pembelejaran dan komunikasi yang berkesan
untuk mencapai konsensus kelompok.

Carl Rogers (1983) dalam bukunya Freedom to Learn,
menjelaskan bahwa perkataan fasilitasi diambil dari bahasa Latin
facilis. Arti dari kata ini adalah untuk mempermudah. Sedangkan
Trevor Bently (1994) menyebutkan fasilitasi sebagai menawarkan
atau menyediakan peluang pembelajaran. Dengan demikian,
seorang fasilitator diharapkan dapat memberikan dorongan
semangat kepada kelompok. Dalam hal ini, peserta diskusi
diharapkan dapat mengaplikasikan fakta, mengutarakan pendapat
sendiri dan memanfaatkan ide secara bebas serta tidak diarahkan
oleh orang atau kelompok lain.

Secara umum, beberapa kata kunci yang bisa dikaitkan
dengan dunia fasilitator adalah:
1. Untuk memudahkan
2. Untuk bebas dari kesusahan dan halangan
3. Untuk mengurangkan tugas yang susah
4. Untuk menyenangkan
5. Untuk menggalakkan
6. Membantu supaya terdepan
7. Pemudah cara

Fasilitasi adalah pertemuan sekelompok orang yang
menghadirkan fasilitator sebagai perancang dan pengelola proses
kelompok agar kelompok dapat mencapai tujuannya. Sebuah
fasilitasi juga bisa berarti sebuah pertemuan antara dua orang
fasilitator dan satu orang lain yang menerima bantuan dan panduan
dalam prosesnya.

Kelompok adalah kumpulan individu-individu yang karena
alasan-alasan tertentu memutusakan untuk bersama. Waktu hidup
kelompok ada yang pendek ada pula yang panjang dan bentuknya
ada yang sesuai dengan rencana awal tapi ada juga yang terbentuk
dalam perjalanan proses.

Tim (team) adalah sejenis kelompok yang anggota dan
pimpinannya sangat dekat dalam bekerja sama menncapai hasil
kesepakatan yang menguntungkan. Kata tim berimplikasi pada
kemandirian dan sinergi; tim juga bisa dibayangkan seperti
kelompok yang berfungsi dengan sangat baik. Dalam situasi
pencapaian tujuan dan tugas sebagai sebuah kelompok, sebuah tim
Manusia tidak
dirancang untuk
memahami logika;
mereka dirancang
secara ideal untuk
memahami cerita.

(Roger C. Schank,
ilmuwan kognitif)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
43
dapat berubah menjadi satu unit kohesif dan mampu memperbaiki
keahlian anggota timnya.

Dalam memfasilitasi kelompok, fasilitator bisa bertindak
sebagai pemimpin ataupun narasumber dimana diperlukan.
Fasilitator akan melakukan pekerjaannya dengan melebur
beraktivitas bersama kelompoknya. Dengan keahliannya, seorang
fasilitator akan menuntun, mengajak, memimpin dan membantu
kelompokdengan sepenuh hati, sedemikian sehingga setiap anggota
kelompok merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut.
Kelompok akan merasa terbantu dengan kehadiran fasilitator dan
mudah untuk bekerjasama.

Fasilitasi yang baik merupakan suatu keadaan dimana
fasilitator dapat membantu kelompok menjadi lebih efektif dan
efisien dalam mencapai konsensus. Kelompok yang dibantu
fasilitator harus mampu berinteraksi dengan aktif, berkesan dan
mampu membuat keputusan secara bijaksana.

Fasilitator akan menggerakkan anggota kelompok untuk
dapat saling menerima pendapat satu dengan yang lain, termasuk
dirinya sendiri, kecuali dalam mengambil sebuah keputusan
kelompok. Fasilitator tidak menggunakan kekuasaannya dalam
mengambil keputusan kelompok. Fasilitator juga tidak campur
tangan saat kelompok berproses untuk mengambil keputusan atau
menyelesaikan masalah. Dengan begini sebenarnya fasilitator
membantu kelompok agar menjadi lebih efektif dan efisien.

Fasilitator harus menjaga untuk tidak campur tangan dalam
proses pengambilan keputusan kelompok. Campur tangan disini
bermakna memasuki kedalam suatu sistem interaksi yang sedang
dijalankan dengan tujuan membantu sistem itu (Argyris, 1970,
Overcoming Oragnizational Defense: Facilitating Organizational
Learning).

Keahlian fasilitasi dewasa ini telah menjadi alat komunikasi
yang sangat penting, terutama bagi kelompok-kelompok atau tim
yang memerlukan untuk membuat sebuah keputusan atau
kesepakatan bersama serta memerlukan setiap masukan, dukungan,
kreatiftas dan kolaborasi.

Jangan sekali-
kali duduk di
tempat orang
yang dapat
berkata
kepadamu,
berdiri

(Pepatah Arab)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
44

Fasi l i t asi adal ah I l mu Sek al i gus Seni

Seorang fasilitator bekerja dengan mengaplikasikan satu set
keahlian spesifik dan metode, teknologi kelompok, digabung
dengan perhatian cermat dan sensitifitas pada orang lain. Dengan
cara itu, maka seorang fasilitator akan membawa kelompok pada
penampilan terbaiknya.

Keahlian fasilitator meramu teknologi kelompok dengan
gaya pribadinya, diselingi dengan kreatifitas dan energi, maka akan
menciptakan sebuah seni fasilitasi. Dengan semacam ini, maka
kelompok yang difasilitasi akan dapat beroperasi dengan fleksibilitas
dan kreatifitas maksimum dalam batasan yang realistik.

Kunci sukses
adalah mengambil
risiko memikirkan
ide-ide non-
konvensional.
Konvensi adalah
musuh kemajuan

(Trevor Baylis,
penemu)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
45

Ti ngk at an Fasi l i t asi

Ada tiga tahapan perkembangan fasilitator secara umum.
Dan semakin tinggi tingkatannya, akan semakin rumit tugas yang
diembannya. Biasanya dipisahkan dengan 1) Fasilitator Pertemuan,
2) Fasilitator Kelompok/Tim, dan 3) Fasilitator Organisasi.

Pada tingkatan dasar, atau fasilitator pertemuan, peran
fasilitator lebih banyak berguna untuk mengarahkan sebuah diskusi
atau pertemuan. Pada tahapan selanjutnya, fasilitator pada tingkat
kelompok/tim diperlukan untuk bekerja dengan tim yang sudah
berjalan, tim-tim mandiri, dan tim proyek lintas fungsi. Sedangkan
pada tingkatan berikutnya, yaitu fasilitator organisasi, memiliki
keahlian yang tinggi, berpengalaman dalam memfasilitasi berbagai
pertemuan, mengerti secara benar topik-topik yang menjadi
bahasan dan kultur yang dihadapi oleh sebuah organisasi. Fasilitator
pada tingkatan ini seringkali menghasilkan gagasan-gagasan besar
perubahan kelompok.
















Tim memerlukan fasilitator untuk pertemuan-pertemuan
mereka, sama pentingnya dengan pengajaran dan pelatihan
kerjasama tim. Memfasilitasi sebuah kelompok membutuhkan
pengetahuan bagaimana sebuah tim membangun diri dari waktu ke
waktu dan kemampuan untuk mengejar dan mendemonstrasikan
pada tim proses dan metode kelompok. Dibanyak kelompok atau
organisasi, pemimpin tim biasanya juga berperan sebagai fasilitator
tim pada saat yang bersamaan.

Peran fasilitator tidak hanya dibutuhkan dalam kelompok
masyarakat ataupun dalam pertemuan yang melibatkan banyak
orang dengan latar belakang yang berbeda. Bahkan bagi sebuah

L La an nt t a ai i 3 3


L La an nt t a ai i 2 2


L La an nt t a ai i 1 1


L La an nt t a ai i D Da as s a ar r

Ketrampilan merancang proses:
- Merancang struktur dan alur pertemuan.
Ketrampilan mengelola dinamika
kelompok:
- Mendorong dialog multiarah.
Ketrampilan komunikasi interpersonal:
- Menyimak, bertanya, menggali,
merangkum.
Sikap dasar fasilitator:
- Mengolah kecerdasan emosional.
- Minat, empati, percaya pada kelompok, positif.
Sepanjang hidup,
saya tidak pernah
secuil pun belajar
dari mereka yang
setuju pada saya.

(Dudley Fied Malone)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
46
perusahaan dan organisasi, yang harus mendengarkan masukan-
masukan klien, supplier dan pihak-pihak lain yang terkait dengan
pekerjaan atau bisnis mereka. Dan itu artinya, akan dibutuhkan
banyak pertemuan-pertemuan, tatap muka, kerjasama tim dengan
orang-orang yang beragam serta dari berbagai tingkatan
manajemen. Dalam kelompok dengan beragam anggota semacam
ini, maka peran fasilitator akan sangat dibutuhkan. Yakni, seseorang
yang bisa mengelola pertemuan, mengantarkan diskusi, dan
memindahkan orang dari diskusi ke konsensus.

Siapapun yang memimpin pertemuan hendaklah orang yang
netral, tidak merasa terancam oleh berbagai macam opini dan
perbedaan pendapat para anggota pertemuan.


Fasi l i t asi dan Kepemi mpi nan

Sebuah fasilitasi yang efektif akan membuat kerja kelompok
menjadi lebih mudah. Seorang fasilitator tidak hanya membantu
untuk mendiskusikan sebuah isu, tetapi juga harus memandu
kelompok untuk merancang dan mencapai hasil-hasil yang belum
teridentifikasi sebelumnya. Anggota kelompok hendaknya
didiorong untuk sampai mereka merasa terlibat dan berguna dalam
sebuah pertemuan, bukannya merasa membuang-buang waktu
hanya untuk sebuah pertemuan.

Salah satu ciri fasilitasi yang efektif adalah bisa dilihat pada
keterlibatan anggota secara aktif dan adanya perasaan memiliki
dan berguna, metode-metode fasilitasi dapat digunakan secara
tepat, dan hasil-hasil terukur yang dapat dicapai dan berkontribusi
pada kemajuan kelompok.

Fasilitator harus berhati-hati agar tidak mudah menyalahkan
peserta pertemuan akan kegagalan-kegagalan hasil sebuah
pertemuan, ataupun juga mudah mencela hasil-hasil yang dicapai
dalam sebuah pertemuan. Bagaimanapun juga, tanggungjawab
terpenting yang diemban seorang fasilitator adalah menghormati
kebebasan berpendapat dalam kelompok, seraya mengingatkan
keuntungan dan kerugian yang akan mereka raih dari hasil
keputusan yang diambil. Perlu untuk selalu mengingat bahwa
tanggung jawab fasilitator adalah mengantarkan kelompok untuk
mencapai tujuannya dengan menggunakan metode yang berkualitas.
Fasilitator memimpin kelompok dengan memberikan kelompok
alat dan metode untuk menolong anggota kelompok belajar
produktif secara bersama-sama. Seorang fasilitator, bagaimanapun
juga bukanlah orang yang akan menentukan visi dan kehendak
Kepemimpinan
adalah hal
membuat orang
melihat Anda dan
memperoleh
keyakinan,
bagaimana Anda
bereaksi, jika Anda
tekendali, maka
mereka terkendali

(TomLaudry)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
47
kelompok. Karena sebenarnya hal tersebut adalah peran seorang
pemimpin. Dalam bekerja, seorang fasilitator bekerja netral
terhadap visi dan misi yang dipegang kelompok.

Fasilitator haruslah selalu mengingatkan peserta agar
mereka tidak mengangapnya sebagai seorang pemimpin-
mengajarkan pada kelompok untuk tidak bergantung padanya.
Fasilitator harus melepaskan kehendak mempengaruhi keputusan
dan keinginan untuk dilihat sebagai sang ahli.

Hal ini karena anggota kelompok dalam sebuah proses
tersebut sedang meningkatkan keterampilan mereka dalam
mengambil keputusan dan memecahkan masalah dalam kelompok.
Para fasilitator memang mempengaruhi kesuksesan kelompok,
tetapi tidak pada substansi pekerjaan kelompok, mereka hanya
terlibat dalam panduan proses, keterampilan kelompok dan
struktur. Fasilitator memang mengambil resiko, seperti juga
seorang pemimpin, tetapi hanya di arena proses kelompok terjadi.

Pemimpin yang dapat berperan sebagai fasilitator meramu
perannya sebagai pemimpin visioner dan pengatur dengan
peimimpin yang mendengarkan dan memberdayakan. Sebagai
pemimpin yang fasilitatif, dia akan selalu melibatkan pengikutnya
semaksimal mungkin dalam pembentukan visi dan misi, serta
membangun sebauh tim yang kohesif. Dari sisi ini, fasilitasi tidak
bisa dipisahkan dari pendekatan kepemimpinan.

Kemampuan Pemi mpi n Fasi l i t at i f

Fasi l i t asi Suasana
Fasilitasi menciptakan ruang dan waktu bagi tumbuhnya
mutual trust. Alasan terhadap hal ini bukan hanya karena
tumbuhnya kepercayaan merupakan hal yang indah, tetapi,
kepercayaan memberikan tingkat kenyamanan social yang
diperlukan anggota kelompok untuk saling berinteraksi. Kreatif
dalam menangani resiko dan suasana yang pas membantu
masyarakat untuk menemukan kebijaksanaan dalam mengambil
resiko.

Fasi l i t asi Di agnosi s
Pada tingkatan kelompok, pemimpin, fasilitator atau
manajer seringkali bertanya, Apa yang menjadi tantangan, peluang
atau masalah yang dihadapi kelompok kita? Apa yang harus kita
lakukan? Tentu saja cara menjawab berbagai pertanyaan ini adalah
bergantung pada model, metode dan pengalaman tiap anggota
kelompok. Untuk memahami situasi kelompok, biasanya pemimpin
Orang yang
menabur
keramah-
tamahan, menuai
pertemanan, dan
orang yang
menanamkan
kebaikan,
mengumpulkan
cinta.

(Needles and
Friends)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
48
fasilitatif memulai dengan model yang menggambarkan bagaimana
kelompok itu bekerja. Dengan begitu sang pemimpin akan
mengetahui darimana dia mulai bekerja dan dimana bagian yang
bisa dilakukan terhadapnya.

Fasi l i t asi Resol usi
Resolusi adalah suatu kombinasi janji akan sebuah situasi,
solusi yang dicapai oleh kelompok, dan komitmen untuk
permasalahan tersebut dibawa ke penyelesaian. Resolusi suatu
kelompok adalah juga pengambilan keputusan yang berkelanjutan,
implementasi, dan diskusi mendalam dengan seluruh anggota
kelompok. Fleksibilitas adalah tanda interaksi yang efektif.

Ni l ai -ni l ai Dasar Par t i si pasi

Secara umum ada 4 nilai yang perlu diperhatikan fasilitator:

Par t i si pasi Penuh
Kadang-kadang ada sebagian orang yang tidak mengatakan
apa yang mereka pikirkan sesungguhnya. Seringkali terjadi proses
editing sebelum seseorang mengungkapkan pendapatnya. Fasilitator
harus berhati-hati terhadap hal-hal seperti ini, dan seorang
fasilitator harus dapat membantu orang yang mengalaminya agar
dia dapat mengungkapkan hal yang dipikirkannya secara terbuka
dan menjaga pendapatnya agar tidak mendapatkan serangan
pendapat yang prematur dari peserta diskusi yang lain.

Kesepahaman Mut ual
Kelompok tidak akan dapat mencapai pemikiran yang
terbaik bila tidak ada saling mengerti antara satu dengan yang lain.
Seorang fasilitator harus membantu kelompok untuk menyadari
produktivitas tim dibangun atas dasar kesepahaman yang saling
menguntungkan.


Tanggung jawab bersama
Solusi inklusif Partisipasi penuh
Saling memahami
1
2
3
4
Perkataan yang
lembut
menghasilkan
pertemanan.

(Kebijaksanaan
Sirakh)



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
49
Sol usi I nk l usi f
Banyak orang yang terjebak dengan cara berpikir
konvensional, dimana dalam memecahkan masalah dan
memecahkan konflik cenderung masih memilih salah satu atau dua
usulan dari peserta. Fasilitator berpengalaman harus tahu
bagaimana mengelola kelompok agar menemukan ide-ide yang
inovatif. Fasilitator harus memahami mekanisme membangun
kesepakatan yang berkelanjutan. Ketika kelompok menemukan ide-
ide baru yang inovatif tersebut, maka kadang mereka akan memiliki
harapan yang lebih baik akan efektifitas kelompok.

Ber bagi Tanggungj aw ab
Banyak hal yang menjadi penyebab kegagalan pertemuan yang
melibatkan banyak pihak. Salah satunya, peserta mendominasi
pertemuan. Seorang fasilitator memiliki kesempatan dan
bertanggungjawab mengajari anggota kelompok cara mendesain
dan mengelola sharing yang efektif, pemecahan masalah dan proses
pengambilan keputusan. Ingatkan kerugian jika memiliki agenda
yang buruk dan ketidakjelasan tujuan pertemuan.


Per an Fasi l i t at or

Fasilitasi berasal dari kata facile yang berarti mudah. To facile
berarti membuat sesuatu menjadi lebih mudah. Peran fasilitator,
membuat kelompok sukses mencapai tujuan dengan cara-cara
mudah dan proses kelompok yang efektif. Fasilitator akan
menganjurkan anggota kelompok menggunakan metode yang paling
efektif dalam menyelesaikan tugas, dengan tetap memberi waktu
kepada ide-ide atau alternatif lain. Fasilitator menempatkan dirinya
sebagai seorang pemandu, pembantu dan katalisator untuk
membantu kelompok menyelesaikan pekerjaannya.

Estetika
penting, tapi
hal-hal
aktraktif
bekerja lebih
baik.

(Don Norman,
penulis dan
professor
engenering)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
50


Fasilitator adalah manajer proses kelompok. Fasilitator berperan
dalam mengelola proses dan bersikap netral terhadap isi diskusi.
Proses bagaimana anggota kelompok berkerja bersama, bagaimana
anggota berinteraksi satu sama lain, bagaimana keputusan dibuat
dan bagaimana seluruh anggota hadir.

Perlu dicatat bahwa proses dan isi selalu hadir setiap waktu dalam
kerja-kerja kelompok. Fasilitator harus memandu dan mengelola
proses supaya kelompok dapat memfokuskan energi dan kreatifitas
mereka pada isi atau materi pembicaraan. Untuk memandu proses,
fasilitator akan menggunakan berbagai metode.
Secara umum, ada beberapa peran yang bisa diemban oleh
fasilitator, yaitu:

Substantively Neutral. Netral disini bukan berarti tidak memiliki
opini dalam proses diskusi kelompok. Jelas hal tersebut tidak
humanis dan realistis. Hal ini berarti bahwa saat memfasilitasi
diskusi, maka seorang fasilitator harus menyisihkan terlebih dahulu
opini pribadinya sehingga anggota diskusi kelompok tidak hanya
mengiyakan opini kita. Konsekuensi-nya, fasilitator tidak bisa
mempengaruhi keputusan kelompok. Fasilitator dapat membantu
kelompok dengan cara memberikan energi melalui panduan
pertanyaan efektif dan percakapan yang produktif.

Third Party. Fasilitator perlu menjadi pihak ketiga agar bisa tetap
netral dalam memandu sebuah proses diskusi. Bila kita juga anggota
kelompok atau sang pemimpin, biasanya kita pun akan diminta
untuk memberikan pendapat. Padahal sesungguhnya, saat kita
diminta untuk memfasilitasi, maka kita harus menjadi pihak yang
tidak berkepentingan terhadap keputusan kelompok yang diambil.










Member i t ahu


B
e
r
t
a
n
y
a

PENGAMAT
NARASUMBER
MODERATOR FASI LI TATOR
Jika ada orang
berbicara,
dengarkanlah
selengkapnya.
Kebanyakan orang
tidak pernah
mendengarkan

(Ernest Hemmingway)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
51
Process Expert. Seorang fasilitator memang content-neutral tetapi
ia juga ahli proses dan advokasi. Sebagai seorang ahli proses,
fasilitator haruslah memahami kebiasaan, proses dan struktur
untuk memberikan kontribusi terhadap penyelesaian masalah dan
pembuatan keputusan berkualitas, dan tentu saja, fasilitator harus
tahu kontribusi masing-masing bagian untuk membuat sebuah
proses yang efektif.


Tanggung J aw ab Fasi l i t at or

Fasilitator yang efektif memiliki tanggungjawab:
- Selalu netral atas isi atau materi pertemuan;
- Merancang partisipasi;
- Memastikan keseimbangan partisipasi;
- Mendorong dialog diantara peserta;
- Menyediakan struktur dan proses untuk kerja kelompk;
- Mendorong perbedaan pandangan ke arah yang positif;
- Mendengarkan secara aktif dan mendorong peserta yang lain
untuk melakukan hal yang sama;
- Mencatat, mengorganisir, dan meringkas masukan dari anggota;
- Mendorong kelompok untuk mengevaluasi sendiri perkembangan
dan kemajuan kerja;
- Melindungi anggota kelompok dan idenya dari serangan atau
pengabaian perhatian;
- Meyakinkan bahwa kelompok itu kumpulan pengetahuan,
pengalaman dan kreatifitas. Gunakan metode dan teknik fasilitasi
untuk menggali sumberdaya ini.


Menc i pt ak an Per ubahan Di mana Saj a

Fasilitator dan pemimpin dituntut untuk memiliki cita rasa
kemanusiaan dan spirit dalam organisasi. Dengan proses partisipatif
yang dirancangnya, seorang fasilitator mampu mendorong
kelompok untuk aktif berkreasi dan berinovasi. Peran ini tidak
hanya terbatas pada ruangan pelatihan saja. Melainkan juga dapat
dimainkan dalam kehidupan sehari-hari.

Fasi l i t at or sebagai Medi at or
Masyarakat seringkali tidak membedakan istilah fasilitator dan
mediator. Namun bila dirunut dari asal katanya, terlihat sekali
perbedaannya. Mediate berasal dari bahasa latin yang berarti to
come between, sedangkan Facilitate juga berasal dari bahasa Latin
yang berarti to make easy. Dalam konteks ini, tentu saja pemudah
cara berarti menjadikan kelompok menjadi lebih efektif. Namun,
Percayalah pada
intuisi Anda, sama
seperti saat Anda
sedang
memancing.

(Paul Simon,
penyanyi
dan pencipta lagu)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
52
adakalanya, fasilitator juga dperlukan sebagai mediator. Baik itu
pada saat awal proses fasilitasi, saat memfasilitasi, maupun pada
saat terjadi konflik.

Fasi l i t at or sebagai Eval uat or
Dalam sebuah proses fasilitasi, seorang fasilitator dituntut untuk
membangun keterbukaan dan kelancaran berkomunikasi dengan
anggota kelompok. Adakalanya fasilitator juga diminta untuk
memberikan evaluasi terhadap kelompok yang difasilitasinya. Yang
penting menjadi catatan adalah, sebaiknya fasilitator tidak membuat
sebuah keputusan ataupun kesepakatan dengan pihak lain, tetapi
tanpa melalui keterbukaan dengan kelompok yang difasilitasinya.
Hal ini penting bagi kepercayaan kelompok terhadap fasilitator.

Fasi l i t at or sebagai Cont ent Ex per t
Fasilitator dapat dimungkinkan menjadi seorang content expert atau
information resource, bila memang dibutuhkan oleh kelompok.
Adakalanya kelompok membutuhkan lebih banyak informasi dan
pengetahuan baru. Atau memerlukan seseorang untuk meluruskan
arah diskusi. Dalam hal ini, dikenal istilah socratic facilitation, dimana
fasilitator dapat berganti baju menjadi narasumber, dengan syarat
meminta ijin terlebih dahulu pada kelompok yang difasilitasinya.

Jika dengan kreatifitas dan inovasi kelompok dapat dibangun oleh
fasilitasi, maka dengan sendirinya fasilitator mampu menciptakan
berbagai perubahan dengan menggunakan alat, metode, teknik dan
keterampilan yang dikuasainya. Kemampuan ini sangat penting dan
bermanfaat ketika fasilitator berada dalam situasi seperti di
Indonesia sekarang ini. Fasilitasi dapat membantu perorangan atau
kelompok untuk merencanakan sesuatu dan memecahkan masalah.

Maka, dapat dibayangkan seandainya, kemampuan fasilitasi akan
semakin banyak tersebar, maka, anda akan dapat bayangkan betapa
banyak ide dan inovasi baru yang akan keluar pada berbagai
pertemuan. Akan semakin banyak terobosan terhadap berbagai
macam kebuntuan ide. Hal ini tentu saja akan mendorong
terjadinya berbagai perubahan sosial, karena sesungguhnya,
fasilitator juga adalah agen perubahan (lebih lanjut mengenai hal ini,
lihat bab ekstra: Menggugah Sistem Sosial di halaman )

Si k ap Dasar Fasi l i t at or

Sikap seseorang menjadi kombinasi dari nilai yang dianut,
keyakinan, opini, pendidikan dan pengalaman masa lalu yang
membentuknya. Sikap ditunjukkan dengan beragam cara, antara
Jangan sekali-kali
lupa bahwa hanya
ikan mati yang
berenang
mengikuti arus.

(Malcolm
Muggeridge)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
53
lain lewat pendapat, kata-kata, nada suara, bahasa tubuh, raut muka
dan perilaku dalam kelompok.

Ada beberapa sikap dasar yang harus dimiliki oleh seorang
fasilitator. Mengapa sikap dasar ini penting? Karena, setiap
fasilitator pastilah menghadapi berbagai kelompok dengan latar
belakang yang beragam. Karenanya, setiap fasilitator haruslah
memiliki beberapa sikap dasar berikut.

Mi nat
Cobalah Anda merenung sejenak, bagaimana bila Anda dengan
sangat antusias bercerita kepada orang lain, sedangkan ternyata
orang tersebut tidak terlalu mempedulikan? Kecil sekali
kemungkinannya anda ingin untuk bertemu dengan dia lagi.

Orang lain akan lebih merasa nyaman dan percaya diri bercerita
dan berpendapat, bila anda juga memberikan perhatian yang sesuai.
Mereka akan merasa diperhatikan bila anda juga memberikan
kepedulian yang sesuai, seperti misalnya kehidupan mereka, jadi
janganlah hanya memberikan perhatian terbatas kepada aspek-
aspek yang hanya berkaitan dengan anda.

Empat i
Sebagai fasilitator, Anda haruslah mampu menempatkan diri dalam
situasi yang dihadapi orang lain guna memahami perspektif yang
mereka miliki terhadap isu-isu tertentu.

Empati menjadi sangat penting ketika kita bekerja dengan
komunitas untuk bisa mengerti keragaman kondisi, situasi dan
kepentingan mereka. Hal ini terkadang sulit untuk dilakukan,
karena kita harus bebas dari persepsi orang lain dan harus bekerja
keras untuk menempatkan diri kita dalam posisi tertentu.

Tantangan terbesar dalam hal ini, bila anda memfasilitasi sebuah
kelompok, maka anda harus bisa berempati kepada banyak orang
secara bersama-sama. Tetapi bila anda bisa mengembangkan sikap
ini, maka ganjarannya adalah orang akan lebih percaya kepada Anda
dan karenanya mereka juga akan responsif. Yang sulit adalah
bersikap empati dengan menjaga kenetralan.


Ber pi k i r Posi t i f
Hal ini berarti bahwa apapun pendapat, pandangan, perilaku, jender
ataupun latar belakang seseorang, Anda harus selalu menghormati
keunikan setiap individu dan menghargai potensi yang dimilikinya.
Anda harus menerima orang lain apa adanya ketika Anda
Masing-masing
orang harus
mengayuh
dengan dayung
yang
dimilikinya

(Pepatah Inggris)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
54
memfasilitasi. Bila dapat menghargai perbedaan-perbedaan ini,
maka Anda akan mampu memfasilitasi mereka.

Per c aya pada Kel ompok
Hal ini berarti sebagai fasilitator Anda harus mempercayai potensi
kelompok yang Anda fasilitasi untuk mempunyai kemampuan dalam
menemukan jalan atau solusi atas permasalahannya sendiri. Hal ini
berarti bahwa, apapun komposisi kelompok itu, Anda selalu
percaya bahwa jawaban atas permasalahan adalah ada pada
kelompok itu sendiri. Sebagai fasilitator anda tinggal mendorong
proses bagi kelompok tersebut untuk menemukan
permasalahannya sendiri.

Tentu keempat sikap tersebut hanyalah sebagian dari berbagai
sikap yang harus dimiliki oleh seorang fasilitator. Tetap, bila anda
bisa menguasai keempat sikap dasar yang esensial tersebut, anda
sudah memiliki sikap dasar untuk memfasilitasi sebuah kelompok.
Jika sikap anda tidak mendukung, maka anda sendiri pasti juga akan
mengahadapi kesulitan.






Berpikirlah seperti
orang bijak, tetapi
berkomunikasilah
dengan bahasa
rakyat

(WilliamButler Yeats)



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
55
Bab 4:
Ket er ampi l an Dasar
Fasi l i t at or


Dalam banyak hal seringkali seorang fasilitator masih memaksakan
pandangannya terhadap kelompok yang difasilitasinya. Hal ini
seringkali terjadi karena fasilitator merasa lebih banyak memiliki
pengalaman daripada kelompok yang difasilitasinya dikarenakan
pengalaman memfasilitasinya di masa lampau dengan berbagai
permasalahan serupa.

Fasilitator hendaknya menyadari bahwa seringkali kelompok yang
difasilitasi terdiri dari orang-orang yang jauh berpengalaman. Pada
saat seperti ini cara pandang kita sebaiknya dikesampingkan. Lebih
penting bagi fasilitator untuk mengeksplorasi ide-ide mereka dan
tetap netral dalam memandu proses kelompok untuk menemukan
solusi bersama.



Sebagai fasilitator hendaknya kita menyadari bahwa tugas yang kita
emban lebih banyak mengekplorasi dengan melontarkan berbagai
pertanyaan-pertanyaan menganalisis untuk menemukenali
permasalahan kelompok yang sebenarnya, ketimbang memberikan
banyak pandangan-pandangan pribadi yang dimiliki.
Sahabat kita
menunjukkan apa
yang dapat kita
lakukan, musuh
kita
mengajarkan apa
yang harus kita
lakukan.

(Goethe)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
56
Seni Ber t anya: ORI K

Fasilitator tidak boleh memberikan jawaban kita sendiri terhadap
masalah sebuah kelompok. Lalu bagaimana kita bisa membantu
mereka? Sebagai titik awal kita bisa menggunakan beberapa
pertanyaan untuk merinci lebih jauh masalah yang sedang dibahas
dan secara perlahan mendorong kelompok untuk menganalisis
masalah tersebut.

Kombinasi pertanyaan-pertanyaan secara sekuensi seperti yang
digambarkan dalam metode ORIK (Objektif, Reflektif, Interaktif,
Keputusan) bisa membantu kita. Paling penting, pastikan ketika kita
bertanya tidak memasukkan gagasan-gagasan kita sendiri seperti,
Menurut saya, menggunakan X adalah cara terbaik, bagaimana
menurut Anda?.














Seni Menggal i Lebi h Dal am (Pr obi ng)

Teknik ini salah satu keterampilan yang wajib dimiliki oleh seorang
fasilitator. Teknik ini digunakan untuk menggali lebih dalam lagi dan
menjaga agar orang-orang yang berdiskusi untuk tetap berbicara.
Di samping itu, teknik probing ini sangat diperlukan untuk
menghindarkan diskusi dari kemacetan.

Teknik ini akan menunjukkan perbedaan positif di antara kegiatan
fasilitasi pada tingkat kualitas dan kedalaman. Sepeti misalnya pada
saat kelompok terjebak pada kemacetan atau diskusi yang semakin
melebar maka teknik probing ini dapat digunakan untuk
memindahkan diskusi kepada hal-hal yang lebih detil dan spesifik.



METODE DISKUSI/ORIK

Obyektif
panca indera, nyata

Reflektif
perasaan, emosi

Interpretatif
pikiran, analisis

Keputusan
tindak lanjut

Kita bukan
manusia di jalur
spiritual, tapi
mahluk spiritual di
jalur manusia.

(DR. Lauren Arteress,
rohaniwan dan pelopor
labyrinth)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
57
Beberapa cara probing untuk membantu kelompok antara lain:
Mencari akar masalah;
Mencerahkan anggota kelompok yang lain;
Mengeksplorasi perhatian atau gagasan;
Mendorong anggota kelompok untuk mengekplorasi gagasan
lebih mendalam dan menolong proses berpikir mereka sendiri;
Membuka kelompok agar lebih jujur membagi informasi dan
perhatian;
Menaikkan tingkat kepercayaan dalam kelompok;
Membongkar fakta-fakta kunci yang belum keluar;
Meningkatkan kreatifitas dan berpikir positif.

Komunikasi non verbal juga dapat dilakukan untuk melakukan
probing, yaitu antara lain dengan menganggukkan kepala, menjaga
kontak mata langsung, dan tetap berdiam diri untuk beberapa saat.
Cara-cara ini digunakan untuk menggali lebih dalam lagi pendapat
peserta.

Teknik verbal juga dilakukan untuk hal yang sama, misalnya dapat
menggunakan kalimat sederhana, O ya? atau Hmm, tetapi
juga bisa saja pertanyaan atau permintaan langsung, seperti
Kenapa begitu?, Bisa diberikan contoh?.

Namun Anda harus menggunakan probing ini secara selektif sebagai
pembuka jalan saja. Karena bila terlalu banyak melakukan probing
yang tidak tepat justru akan menimbulkan beberapa hal yang
seharusnya dihindari. Antara lain adalah anggota kelompok merasa
diinterograsi, anggota kelompok lain merasa menjadi kurang
terperhatikan karena terlalu banyak probing pada salah satu orang,
kehilangan netralitas (terutama bila memiliki agenda tersembunyi),
dan probing dapat membuat berputar-putar pada satu tempat saja,
tidak bisa kemana-mana.

Seni Membuat I k ht i sar (Par af r ase)

Ini teknik mengulang pendapat dengan menggunakan bahasa Anda
sendiri. Parafrase sangat berguna untuk memeriksa pemahaman
seseorang. Ketika fasilitator mengulang kalimat-kalimat si
pembicara, peserta yang lain juga akan saling memeriksa
pemahaman mereka atas pendapat peserta yang mengajukan
pendapat. Jika Anda salah menangkap pesan yang dimaksud, maka
Anda dapat langsung melakukan perbaikan terhadap
kesalahpahaman tersebut. Contoh kalimat parafrase tersebut
adalah, Baik, Supri. Kalau tidak salah, Anda tadi mengatakan.

Sejuta lilin
dapat
dinyalakan dari
satu api.

(Josep OConor)



Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
58
Anda dapat menggunakan teknik ini untuk menaikkan kesepahaman
dalam kelompok, tetapi jangan sampai menggunakan teknik ini
untuk memasukkan opini Anda sendiri. Juga, hindari kesan bahwa
Anda berusaha untuk memperbaiki atau menambahkan apa yang
telah dikatakan oleh peserta diskusi.

Dalam bahasa yang sederhana, parafrase digunakan sebagai
penghormatan terhadap orang yang berpendapat, dan sebagai
fasilitator Anda mendengar langsung dan menghargai apa yang
diungkapkan peserta tersebut.

Parafrase paling tepat digunakan untuk membantu kalimat-kalimat
peserta yang tidak jelas, terlalu abstrak, konsep tidak terang, atau
mempunyai terlalu banyak ide. Dalam beberapa kasus, seni
membuat ikhstisar ini tidak perlu dilakukan terutama jika Anda
sudah mencatat input anggota di flipchart atau white board. Hindari
memparafrase setiap input orang. Teknik terbaik yang bisa
dilakukan adalah mendengar secara aktif dan merekam kata-kata
kunci dari pembicara.

Beberapa hal yang perlu dipegang sebagai dasar melakukan
parafrase antara lain: parafrase hanya untuk memeriksa
pamahaman; jangan menggunakan parafrase untuk memperbaiki
kalimat-kalimat pembicara; hindari menambah atau mengubah apa
yang dikatakan pembicara; jika meungkin gunakan kata-kata si
pembicara setepat mungkin; dan parafrase digunakan ketika anda
pikir ada anggota kelompok yang tidak mendengar apa yang
dikatakan si pembicara.


Seni Mengai t k an Per nyat aan
dan Koment ar

Teknik ini seringkali disebut dengan teknik referencing back, yaitu
teknik untuk mengkait-kaitkan pernyataan peserta dengan
pernyataan peserta yang lain sebelum-sebelumnya. Ketika peserta
pertemuan mengemukakan sebuah pendapat yang mirip dengan
komentar yang telah dikatakan sebelum-sebelumnya, Anda bisa
mengatakan, Ini mungkin masih berkaitan dengan pernyataan yang
dikatakan Andri tadi. Andri bagaimana pendapat Anda?.

Referencing back mendorong anggota untuk mengetahui dan
membangun di atas salah satu ide yang lain. Teknik ini juga
mendorong partisipan untuk mendengarkan satu sama lain. Di
samping itu, teknik ini dapat digunakan untuk tidak setuju dan
menunjuk perbedaan yang ada di antara pendapat-pendapat
Nilai seseorang
dari pertanyaan
yang diajukannya,
bukan dari
jawabannya.

(Voltaire)



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
59
peserta. Teknik ini juga mendorong peserta untuk saling
mendengarkan satu dengan yang lain. Karena kadangkala peserta
mengulang pembicaraan yang telah ada karena mereka tidak
mendengar pendapat yang telah muncul sebelumnya atau ingin
mengungkapkan ide tersebut dengan cara yang lain.

Dengan mengungkapkan apa yang telah diungkapkan peserta
sebelumnya, maka sebenarnya forum pertemuan telah didorong
untuk lebih teliti dan menyimak apa-apa pendapat yang telah
muncul sebelumnya. Para peserta didorong untuk mendengar lebih
teliti dan mengkait-kaitkan komentar-komentar mereka dengan
peserta yang lain.

Keuntungan lain yang dapat anda peroleh dari menerapkan
referencing back adalah dapat dikatakan bahwa ini menunjukkan
perhatian Anda kepada setipa komentar yang muncul dari peserta.
Di samping itu tentu saja hal ini membuktikan bahwa Anda
mendengarkan dan menyimak secara aktif setiap pendapat yang
muncul. Karena kadangkala, banyak fasilitator atau peserta yang
mengabaikan komentar orang lain dan menganggapnya sebagai
sebuah komentar yang tidak pernah diungkapkan.

Teknik referencing back adalah juga teknik yang bagus untuk
menyeimbangkan partisipasi, karena sebagai fasilitator Anda dapat
memilih pendapat dari peserta yang sangat pendiam atau seseorang
yang berada dalam posisi yang tidak berkuasa dalam organisasi. Hal
ini adalah sebagai cara anda untuk memberi respek dan
penghargaan karena telah membagi gagasan.

Seni Mengamat i (Obser vi ng)

Teknik observasi atau pengamatan adalah kemampuan untuk
mengamati apa yang sedang terjadi tanpa menghakimi tanda-tanda
non verbal seseorang dan kelompok secara obyektif. Hal ini terjadi
karena seringkali orang lebih mudah mengembalikan kata-kata
dibandingkan dengan perilaku kita. Sebagai fasilitator, pengamatan
memberikan peluang bagi anda untuk mengetahui apa yang
dipikirkan orang lain tidak hanya dari apa yang dikatakan, tetapi
juga dari perilakunya. Karena sebenarnya perilaku non verbal dapat
mengungkapkan sesuatu pesan secara cukup kuat.

Anda bisa mengecek berbagai pendapat bukan hanya pada apa yang
dikatakan melainkan juga pada bahasa non verbalnya karena
seringkali pendapat juga dipengaruhi oleh bagaimana cara pendapat
tersebut diungkapkan. Misalnya untuk tataran individu, Anda dapat
mengecek pada intonasi suara, gaya komunikasi, ekspresi muka,
kontak mata, gerakan tubuh, dan postur tubuh.
Hanya ada satu
cara menjadi
pembicara yang
baik, belajarlah
mendengarkan

(Christopher Morley)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
60

Sedangkan pada tingkatan kelompok Anda dapat mengecek
beberapa hal berikut: siapa mengatakan apa? Siapa melakukan apa?
Siapa melihat siapa ketika mengatakan sesuatu? Siapa menghindari
terjadinya kontak mata? Siapa duduk di dekat siapa? Bagaimana
tingkat energi kelompok? Bagaimana tingkat minat kelompok?

Pengamatan yang baik akan membantu Anda untuk mendapatkan
gambaran tentang perasaan dan sikap para peserta serta memantau
dinamika, proses-proses dan partisipasi kelompok. Karena itu
sangat penting bagi seorang fasilitator untuk mengembangkan
keterampilan mengamati jenis-jenis komunikasi non-verbal.
Sebaiknya Anda melakukannya dalam waktu yang singkat tanpa
diketahui oleh peserta-peserta yang lain.

Seni Menyi mak

Banyak fasilitator melewatkan substansi komunikasi dua arah,
yang sejatinya sangat penting dalam meningkatkan kesepahaman
antara berbagai pihak. Keterampilan menyimak adalah
keterampilan kunci seorang fasilitator. Hal ini sangat penting bagi
seorang fasilitator karena cara Anda menyimak akan mempunyai
arti yang sangat penting bagi orang yang berbicara dan membantu
meningkatkan kualitas komunikasi antara Anda dan orang itu.

Di samping itu, fasilitator juga bertanggungjawab untuk
meningkatkan kualitas komunikasi dalam kelompok dan membantu
anggota kelompok untuk saling menyimak dengan lebih baik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyimak antara lain:
Tunjukkan empati dan minat. Artinya, Anda sedang menyimak.
Gunakan bahasa tubuh anda sebagai pesan bahwa Anda sedang
memperhatikan dan mencoba memahami apa yang mereka
pikirkan. Perhatikan kata-katanya yang utama, jangan banyak
bicara untuk menjelaskan opini Anda sendiri, biarkan mereka
bebas menyampaikan gagasan yang ada di pikiran. Berikan
dukungan secara penuh dengan memberikan fokus perhatian
kepada orang tersebut dengan cara menganggukkan kepala
ataupun dengan kata-kata dukungan. Jangan menyela!
Menyimaklah dengan aktif. Menyimak bukan berarti anda harus
pasif. Melainkan anda harus aktif untuk menangkap seluruh
pesan yang ingin disampaikan oleh peserta yang berpendapat.
Misalnya dengan memperhatikan bentuk tubuh, raut muka dan
pilihan bahasa yang digunakan. Gunakan teknik parafrase untuk
memastikan bahwa anda paham.
Seorang
sahabat ialah
yang mengetuk
sebelum masuk,
bukannya
sesudah pergi.

(Irene Keeping)



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
61
Menyimak dengan baik lebih sulit dari dugaan kita. Hal ini terjadi
karena banyak hal yang ternyata menyebabkan kita menjadi
sulit untuk menyimak. Misalnya, karena proses kita berpikir
lebih cepat daripada orang berbicara, maka kadang-kadang pada
saat seseorang belum selesai berbicara mereka telah
menggunakan kemampuannya untuk berpikir hal yang lain. Atau
misalnya, mendadak emosi dan terbakar amarahnya saat
mendengar orang lain berpendapat, mendengar dengan
melamun, menyimak dengan telinga terbuka tetapi pikiran
tertutup, menganggap isu-isu yang diungkapkan terlalu berat
sehingga bias dan menyimak dengan serta merta menggoyang
keyakinan orang lain.









Waktu yang
lewat dan kata
yang terucap,
tak dapat
ditarik kembali.

(Thomas Fuller)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
62
Bab 5:
Met ode
Lok ak ar ya


Pernahkah Anda bersama dengan sebuah kelompok dimana tidak
ada kegiatan apapun karena agaknya hanya ada sedikit energi dan
kurangnya ide-ide yang kreatif? Atau sebaliknya, dimana kelompok
tersebut memiliki energi yang tak terbatas dan banyak ide-ide
kreatif tapi tidak termanfaatkan dengan baik kedalam keputusan
yang disetujui oleh semua anggota kelompok? Kita juga pernah
melihat sebuah situasi dimana terjadi diskusi yang tidak terarah
untuk mendapatkan keputusan-keputusan praktis yang telah dibuat,
atau diskusi yang berlangsung dengan keterbatasan pemikiran
kelompok yang terintegrasi dan strategis.

Dalam situasi-situasi di atas, yang kurang adalah metode yang
tepat untuk membangun partisipasi setiap peserta dalam kelompok
tersebut untuk mencapai tujuan, metode yang memungkinkan
kelompok untuk menyaring ide-ide mana yang merupakan tujuan
dari konsensus praktis.

METODE LOKAKARYA memberi kita proses yang:
Memungkinkan semua anggota kelompok untuk ikut serta dan
berpartisipasi
Membangkitkan kreativitas dan energi dalam waktu yang
SINGKAT
Menyaring pemikiran terintegrasi bersama
Membangun konsensus kelompok dengan praktis
Menfasilitasi formulasi penyelesaian yang inovatif dan kreatif
terhadap masalah dan isu.
Menanamkan kepada kelompok rasa ikut memiliki dan tanggung
jawab yang kuat

Fasilitator
tidak perlu
memahami
desainer lebih
baik, mereka
perlu menjadi
desainer.

(Roger Martin,
dekan Rotman
School of
Management)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
63

METODE LOKAKARYA: berjalan menyerupai cara kita mengatur
tugas-tugas yang harus kita selesaikan pada satu hari kerja.
Sebagaimana orang kebanyakan, pada saat kita sampai kekantor,
kita bertanya pada diri kita sendiri apa yang harus kita selesaiakan
hari ini. Yang pertama-tama kita lakukan saat kita sampai ke kantor
adalah membuat daftar apa yang harus kita kerjakan biasanya
daftar acak berisi tugas-tugas ringan dan atau berat.

Langkah selanjutnya adalah memilah-milah daftar ini dan
mengelompokkan tugas-tugas yang mirip siapa yang harus
ditelepon, rapat-rapat dan konsultasi-konsultasi yang harus
dihadiri, memo-memo dan surat-surat yang harus dibuat dan
laporan-laporan proyek yang harus diselesaikan. Setelah daftar
tugas awal telah dikelompokkan, kemudian kita evaluasi mana
yang harus diprioritaskan pada hari itu. Dengan prioritas yang telah
dibuat untuk hari itu, maka akan menjadi lebih mudah bagi kita
untuk memiliki hari yang sangat produktif.

Selanjutnya jika ada tugas lain yang harus dikerjakan, pastikan
bahwa tugas-tugas prioritas tidak akan dikalahkan dan malah
Adalah tidak
benar bahwa apa
yang berguna itu
indah, ia adalah
keindahan yang
berguna.
Keindahan dapat
meningkatkan cara
hidup dan berpikir
orang-orang.

(Anna Castelli Ferrieri,
desainer furniture)



Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
64
mengerjakan tugas yang berada dalam kelompok kurang prioritas
pada daftar tugas hari itu.

Proses pengorganisasian tugas sehari-hari dapat juga diterapkan
pada proses berpikir kelompok. Kelompok mungkin akan memulai
dengan mendefinisikan apa yang perlu dilakukan. Ide dan saran
dapat diperoleh dari anggota kelompok, yang dapat mereka atur
dan prioritaskan, secara langsung sebagai respon terhadap apapun
yang telah mereka tentukan. METODE LOKAKARYA-lah yang
akan membantu proses ini terlaksana.

METODE LOKAKARYA adalah sebuah proses dengan lima
langkah yang mengajak kelompok menuju pendalaman
diskusi/wawasan kelompok dan mencapai konsensus dengan cara
yang tepat.

Langkah pertama dalah KONTEKS, dimana parameter diskusi
kelompok ditentukan. Biasanya dalam bentuk pertanyaan kunci
yang berusaha dijawab oleh kelompok. Kemudian diikuti oleh
SUMBANG SARAN, dimana data dan ide dikumpulkan melalui
tiga tingkatan pertama secara individu, kemudian dalam
kelompok kecil dan akhirnya pleno. Setelah ide-ide dicurahkan,
pada tahap ketiga kelompok diminta untuk MENGELOMPOKKAN
ide-ide tersebut.

Setelah ide-ide yang mirip dikelompokkan, dilakukan pemberian
JUDUL pada setiap kelompok, yang secara langsung merespon
pertanyaan kunci yang coba dijawab. Dan akhirnya, setelah
konsensus tercapai, workshop ditutup dengan bab REFLEKSI
singkat dimana implikasi hal-hal yang sudah menjadi konsensus di-
review dan ditetapkan.

Karena proses workshop membawa kelompok dari pencarian ide
secara individu ke wawasan konsensus yang lebih luas atas sebuah
pertanyaan kunci, METODE LOKAKARYA lebih sesuai untuk
situasi yang memerlukan penyelesaian yang kreatif terhadap suatu
keadaan, isu, atau masalah, atau hal-hal lain yang membutuhkan
keputusan yang didasari oleh pemahaman mendalam dan
perencanan yang inovatif.

Proses METODE LOKAKARYA memanfaatkan energi kreatif
individu dari setiap anggota kelompok dan secara produktif
menyalurkannya ke satu fokus yang lebih umum. Interaksi yang
dinamis tersebut bisa terjadi berkat adanya prosedur tahap demi
tahap METODE LOKAKARYA, sehingga para anggota kelompok
bisa merasakan pengalaman yang memotivasi, memuaskan dan
bahkan berdayaguna.
Tindakan
adalah buah
pengetahuan.

(Thomas Fuller)



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
65

Gambar an Met ode Lok ak ar ya

Langk ah 1 - Kont ek s
Tetapkan KONTEKS, perkenalkan pertanyaan kunci, bangun
kontrak kebersamaan dengan anggota kelompok
Tetapkan tujuan.
Kemukakan dan jelaskan pertanyaan workshop.
Uraikan gambaran proses dan waktu.
Rangsang partisipasi.

Langk ah 2 Sumbang Sar an
Membangkitan IDE-IDE individu, dalam kelompok kecil, dan pleno
Mintalah semua anggota untuk membuat daftar ide pada selembar
kertas.
Buat kelompok-kelompok diskusi kecil dimana para anggota
berbagi dan mendiskusikan ide-ide individu. Mintalah setiap
kelompok untuk memilih 5-7 ide yang paling penting, dan tuliskan
pada kartu ide.
Kumpulkan kartu-kartu ide dari semua kelompok dan tempelkan
di dinding.
Pastikan bahwa semua anggota kelompok jelas dengan ide-ide yang
disampaikan oleh kelompok-kelompok kecil.

Langk ah 3 - Pengel ompok k an
Membentuk HUBUNGAN BARU, mengelompokkan ide-ide yang
sama/mirip
Mintalah peserta untuk membentuk 4-6 kelompok ide-ide yang
sama atau berhubungan secara intuitif.
Segera beri nama pada setiap kelompok ide yang terdiri dari 1-2
kata.
Susun kelompok ide, pastikan bahwa semua kartu ide yang
ditempel di dinding diatur dengan baik.

Tahapan 4 - J udul
Tajamkan PENDAPAT KOLEKTIF. Menegaskan KONSENSUS
KELOMPOK
Diskusikan setiap kelompok ide dengan semua peserta. Apa
pendapat mereka? Bagaimana pemahaman mereka?
Beri setiap kelompok ide sebuah judul yang terdiri dari 3-5 kata
yang secara langsung menjawab pertanyaan kunci
Jika tahu cara
menyimak yang
baik, Anda akan
mendapat
keuntungan
meskipun dari
mereka yang
berbicara
buruk.

(Plutarch)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
66


Tahapan 5 - Ref l ek si
Konfirmasikan KEPUTUSAN KELOMPOK
Diskusikan pentingnya hasil dari proses kelompok.
Bantu kelompok menyusun rencana menjalankan konsensus
mereka
Secara singkat diskusikan langkah selanjutnya



Sej ar ah

Metode lokakarya ini pertamakali ditemukan oleh Walt
Disney, produser film-film animasi terkenal. Di dunia perfilman
dikenal istilah storyboard yakni gambaran suatu adegan yang
digambarkan pada kartu-kartu dan dilengkapi dengan text dialog
atau narasi. Awalnya bermula ketika Disney menyusun gambar-
gambar animasi yang begitu banyak dari para seniman. Dia
menempelkannya di dinding, mengelompokkan yang saling berhu-
bungan, sehingga terlihat pekerjaan-pekerjaan mana yang sudah
selesai dan mana yang belum tuntas. Pekerjaan memilah dan

Menurut
saya, desainer
adalah
alkemis masa
depan.

(Richard
Kashelek,
presiden Art
Center College of


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
67
menyusun itu oleh Disney dinamakan storyboarding.
Belakangan, Institute of Cultural Affairs di Amerika meng-
gunakannya sebagai salah satu metode dalam teknologi partisipasi,
dan menamakannya workshop metodh. Di Indonesia dua proyek
USAID (CSSP dan LGSP) menyebarkan metode-metode dalam
teknologi partisipasi ini, yang salah satunya adalah metode
workshop, dan menamakannya metode lokakarya. Metode
storyboard atau lokakarya ini menjadi populer di antara para penulis
film, para editor, dan sutradara, dan kini tidak terbatas pada dunia
seniman saja. Metode ini telah digunakan untuk membangun misi,
mengembangkan cerita-cerita sukses (best practices), dan
merencanakan suatu perubahan.
Metode storyboard atau lokakarya adalah salah satu teknik
yang paling baik untuk memecahkan suatu masalah yang kompleks,
dan merupakan suatu metode sumbang saran yang terstruktur,
praktis dan efisien untuk merumuskan solusi yang kelihatannya
pelik. Tidak ada teknik perencanaan lain yang menyajikan
fleksibilitas seperti ini. Cara ini sangat ideal untuk berbagi ide-ide
dan konsep-konsep, kemudian melemparkannya kepada publik
untuk menjadi sebuah pembahasan, dan menjadi suatu kekuatan
perumusan pemecahan masalah secara bersama. Metode ini juga
menawarkan format yang fleksibel dan mudah dimodifikasi.
Kekuatan dari metode storyboard adalah bahwa ia
mendorong partisipasi penuh, dan menempatkan keseluruhan
susunan/urutan proyek, kebijakan atau visi perusahaan, pandangan
atau rencana kerja yang jelas pada setiap orang. Rob Abernathy
dan Mark Reardon mengalami bahwa bab sumbang saran yang
tidak menggunakan metode storyboard, dengan 14 partisipan, dan
dalam tempo 60 menit, menghasilkan kira-kira 40-45
jawaban/respon peserta. Pada ukuran dan waktu yang sama,
dengan menggunakan metode storyboard ternyata dapat
menghasilkan 150-300 jawaban/ respons peserta. Pengalaman
kedua ahli ini pada bab sumbang saran tersebut adalah, bahwa
sepertiga dari jumlah peserta menghasilkan 80% respons, sepertiga
memberikan respons 20% saja, dan sisanya sebagai pengamat.

Berikut ini beberapa hal yang perlu Anda perhatikan bila
menggunakan metode ini :
Tidak bias.
Ciptakan suasana yang tidak formal dan menyenangkan.
Pimpinlah diskusi untuk menyatukan energi kreatifitas
kelompok.
Lakukan feedback yang positif.
Pelihara proses agar tetap bergerak dan hidup.
Untuk
mengetahui
jalan
selanjutnya,
tanyakanlah
kepada
mereka yang
kembali

(Pepatah China)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
68

Bangunlah pertanyaan-pertanyaan yang jelas.
Beri semangat kepada kelompok untuk mengelola proses
storyboard ini.
Ciptakan rasa ingin tau.

Kita sering dihadapkan pada kejutan, mengapa sebuah
prosedur yang sederhana dapat menghasilkan satu solusi yang
efektif dari sebuah isu yang kompleks. Ada sebuah fleksibilitas
terkandung pada sebuah kesederhanaan. Hanya butuh satu bab
untuk meyakinkan peserta terhadap kekayaan metode storyboard
atau lokakarya ini. Kekuatan yang harus disatukan mampu
merangsang dan meningkatkan produktifitas peserta.











Cintailah
kebenaran,
dan
manfaatkanla
h kesalahan

(Voltaire)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
69
Bab 6:
Mengel ol a
Di nami k a Kel ompok






Perkembangan sebuah kelompok selalu berbeda antara satu
dengan yang lain. Namun ada beberapa cara yang dapat ditempuh
untuk membangun sebuah kelompok. Salah satu model yang dapat
Anda jadikan sebagai seorang fasilitator untuk mendorong
perkembangan kelompok antara lain adalah:

For mi ng ===

Tahap orang berkumpul dan membentuk sebuah kelompok.
Mungkin ada yang mengikuti pertemuan karena penugasan.
Mungkin ada beberapa peserta yang masih diliputi perasaan
keraguan dan was-was. Apakah saya akan bisa cocok dengan yang
lain? Sebagai fasilitator anda harus dapat memastikan agar mereka
merasa nyaman. Berikan perhatian secara khusus kepada peserta.
Beri waktu kepada mereka untuk saling berkenalan dan anda juga
bisa gunakan permainan atau ice breaker.







Jika cerita
menghampirimu,
rawatlah mereka.
Dan, belajarlah
melepaskannya
jika mereka perlu.
Kadang-kadang,
seseorang lebih
butuh cerita
ketimbang
makanan.

(Barry Lopez,
penulis Arctic Dreams)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
70

I nf or mi ng ===

Tahap penjelasan di mana anggota kelompok diberi
penjelasan tentang tujuan dari tugas yang akan dilakukan. Ada
interaksi antar anggota karena mereka sadar bahwa mereka
menuju pada tujuan yang sama. Sebagai fasilitator Anda dapat
mencari titik pijak yang sama, dan membentuk sendiri visi, misi
serta tujuan kelompok. Gunakan kegiatan-kegiatan pengenalan dan
agenda yang jelas.

St or mi ng ===

Pada tahapan ini adalah dimulainya membangun peran di
antara masing-masing peserta. Tahapan ini adalah sebuah fase yang
sangat penting karena sangat mungkin dalam tahapan ini akan
terjadi tarik menarik, uji coba dan bahkan terjadinya konflik.
Benturan antar pribadi sangat mungkin akan terjadi, bahkan
benturan dengan pemimpin kelompok. Sebagai fasilitator Anda
harus memberikan dukungan kepada seluruh kelompok.
Kembangkan dan gunakan teknik-teknik fasilitasi serta ingatkan
peserta akan tujuan dan norma-norma kelompok. Usahakan
terjadinya keterbukaan dan keinginan untuk mengatasi konflik.

Nor mi ng ===

Tahapan ini adalah fase stabilisasi dimana aturan, ritual, dan
prosedur ditetapkan dan diterima. Identitas peran disepakati
bersama dan tercipta suasana kebersamaan. Jalan menuju kemajuan
disetujui bersama. Sebagai fasilitator Anda harus memberikan
bantuan dalam menghaluskan proses. Jika diperlukan, perbaiki atau
sesuaikan norma dan serahkan kembali tanggung jawab kepada
kelompok.


Mour ni ng ===

Anda telah memasuki tahap akhir. Di mana dalam tahapan
ini tugas sudah selesai dikerjakan, dan tujuan utama pembentukan
kelompok sudah terpenuhi. Siklus kehidupan kelompok secara
resmi sudah berakhir. Ada rasa sedih dan anggota mulai
memikirkan tugas lain. Sebagai fasilitator anda perlu untuk
mempersiapkan peserta agar bisa menghadapi transisi dari
pembentukan kelompok menuju bubarnya kelompok. Pastikan
bahwa ada semacam ritual perpisahan, baik secara individu maupun
sebagai kelompok. Gunakan beberapa metode umpan balik akhir.
Tidak seorang
pun tidak
berguna
sepanjang ia
masih
mempunyai
sahabat

(Robert Louis
Stevanson)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
71

Tr ansf or mi ng ===

Pada tahapan ini tim menjadi dinamis dan tidak statis karena
pembentukan kelompok sudah terjadi dan mulai ada perubahan
baik di masing-masing anggota maupun pada kelompok secara
keseluruhan. Sebagai fasilitator anda dapat menunjukkan dukungan
dan rasa percaya pada kelompok. Hargai perubahan yang terjadi
dengan memberikan pujian tetapi jaga agar tidak berlebihan.





Set i ap k el ompok sel al u memi l i k i di nami k a
sendi r i ===

Fasilitator sebaiknya dapat berperan sebagai penyeimbang
(balancing) agar dinamika kelompok dapat mencapai hasil yang
diinginkan (performing). Untuk membuat dinamika kelompok
seimbang, Fasilitator perlu melakukan kombinasi berbagai teknik
fasilitasi seperti menyimak, mengamati, bertanya, probing,
menyimpulkan, mengelola perbedaan pendapat, memberikan
semangat (encouraging) dan lain-lain. Beberapa kiat yg dapat
membantu fasilitator membangun kelompok antara lain adalah
belajar memahami sebanyak mungkin karakter dan sifat-sifat
individu ketika ia menjadi anggota kelompok, membentuk
kelompok diskusi yang benar-benar kecil dan memungkinkan
semua menyumbangkan pikiran dengan aman dan jangan malu
meminta bantuan orang di luar kelompok jika memang diperlukan.
Paling penting adalah manfaatkan pendukung anda! Berikut
ini adalah ciri-ciri perilaku konstruktif dan ciri-cirinya.


Mour ni ng
Tr ansf or mi ng
For mi ng
I nf or mi ng
St or mi ng
Nor mi ng
Per f or mi ng
Cerita adalah
salah satu alat
dasar yang
ditemukan pikiran
manusia,
tujuannya untuk
memahami. Tidak
ada komunitas
yang tidak
bercerita

(Ursula Leguin)



Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
72

Perilaku Konstruktif Ciri-ciri
Inisiator Mengusulkan gagasan-gagasan baru untuk
didiskusikan serta pendekatan-pendekatan baru
untuk mengatasi masalah.
Pemberi Opini

Menyampaikan pandangan-pandangan yang
relevan dan menawarkan solusi lainnya.
Pembangun Membangun dari apa yang diusulkan orang lain
Pemberi Klarifikasi

Memberikan contoh-contoh relevan,
menawarkan alasan, mencari pengertian dan
pemahaman, melakukan klarifikasi atas masalah
Penguji

Mengangkat pertanyaan-pertanyaan untuk
menguji apakah kelompok sudah siap
mengambil keputusan
Pembuat Kesimpulan Melakukan review atas diskusi dan
menyimpulkannya
Penantang

Menantang kelompok agar berpikir kritis
tentang gagasan mereka sendiri
Pereda Ketegangan Menggunakan humor atau meminta rehat pada
saat-saat yang tepat
Pencari Kompromi Mengalah sewaktu dibutuhkan agar kelompok
dapat melangkah maju
Pencipta Keharmonisan

Membantu menciptakan suasana harmonis
Pemberi Semangat Memberi semangat pada yang lain, bersikap
ramah dan memuji
Penjaga Gawang Menjaga agar komunikasi berjalan lancar dan
mendorong partisipasi

Berikut adalah karakter peserta dan bagaimana melakukan
intervensi terhadapnya.

Karakter Intervensi
Pendiam Orang pendiam harus dihargai apapun partisipasi
mereka. Pada saat di luar ruang pertemuan, berikan
semangat. Berikan umpan balik pribadi secara tersendiri.
Berikan kesempatan memperoleh materi sebelumnya
agar bisa mempersiapkan diri. Luangkan waktu bersama.
Bersabarlah. Undang bicara dan cari tahu bagaimana
pemahamannya atas isi pertemuan. Dorong kelompok
membantu ia belajar. Bentuklah kelompok diskusi kecil.
Agresor

Cari penyebabnya dan hilangkan jika memungkinkan.
Berikan umpan balik. Ubah komposisi kelompok.
Ingatkan kelompok tentang norma belajar. Hadapi
perilakunya ketika terjadi dan perkuat perilaku lain
ketika terjadi. Bentuk kelompok alternatif non-agresif.
Diskusikan akibat perilakunya dengan seluruh anggota
kelompok.
Dominator Luangkan waktu. Berikan umpan balik. Catat tingkat
partisipasinya. Buat kelompok bagi orang-orang yang
bertipe sama. Bisa meminta ia dia beberapa saat. Undang
agar ikut bertanggung jawab atas peran peserta yang lain.
Kembangkan sikap asertif terhadap orang lain.
Metafora
adalah darah
penunjang
seluruh seni.

(Twyla Tharp)



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
73

Karakter Intervensi
Menarik Diri

Cari alasannya. Berikan peran saat memberikan tugas
kepada kelompok. Perkuat, berikan semangat, dukung
partisipasinya dan berikan tanggung jawab khusus.
Tempatkan pada kelompok yang mau memberikan
dukungan. Terima keputusannya dan bersabarlah.
Dorong terus partisipasinya.
Pelawak

Ingatkan kelompok akan manfaat dan penyalahgunaan
humor. Hadapi perilakunya. Berikan umpan balik beri
waktu agar bisa berubah. Dukung perilaku peserta yang
berbeda dengan perilaku orang ini.
Penyendiri Tunjukkan sikap menerima. Berikan umpan balik jika
sesuai. Berikan dukungan khusus. Alokasikan peran atau
tanggung jawab khusus. Dukung ciptakan kesempatan
untuk meraih penghargaan.

Ef ek t i f i t as Kel ompok

Sebagai fasilitator Anda diharapkan selalu bisa memantau proses
efektifitas kelompok, mengidentifikasi faktor-faktor dan elemen apa
yang bisa membantu proses kelompok untuk menjadi lebih efektif,
dan memastikan saat-saat dimana diperlukan untuk melakukan
intervensi. Anda bisa memulainya dengan mengidentifikasi tiga
kriteria efektifitas kelompok (Hackman dalam Schwarz, 2002):

- Performance: pelayanan yang diberikan oleh seorang fasilitator
untuk membantu kelompok memenuhi penilaian standar kinerja
yang diharapkan oleh kelompok yang menerima, menggunakan
ataupun melakukan kajian terhadap hal tersebut.
- Process: proses dan struktur yang digunakan dalam memfasilitasi
kelompokmemungkinkan untuk terjadinya kerjasama dan saling
belajar diantara anggota kelompok.
- Personal: pengalaman dalam dinamika kelompok berkontribusi
dalam perkembangan dan kecakapan menjadi anggota kelompok.

Ketiga faktor diatas memberikan kontribusi terhadap efektifitas
kelompok, baik dari segi proses, struktur maupun konteks
kelompok. Secara umum, efektifitas kelompok dapat digambarkan
dalam bentuk diagram di halaman berikut.







Perkataan yang
baik mungkin
pendek dan
mudah
diucapkan,
tetapi gaungnya
tidak pernah
berakhir



Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
74































Gambar: Model Efektifitas Kelompok (Schwarz et.al., 2005)

Fasilitator mempunyai tugas yang berat untuk meningkatkan
efektifitas kelompok. Fasilitator harus mampu masuk dalam
perkembangan dinamika kelompok, termasuk didalam perubahan
proses, struktur dan konteks kelompok. Selain itu, fasilitator juga
harus menumbuhkan tanggung jawab dan akuntabilitas dalam
proses berbagi dan berdiskusi di kelompok.

Tant angan bagi I ndi vi dual , Kel ompok dan
Or gani sasi
Tiap fasilitator pasti selalu menghadapi berbagai hal baru dan
tantangan dalam menjalankan pekerjaannya. Berbagai hal ini akan
memperkaya pengalamannya dalam dunia kefasilitasian. Menjadi
sebuah keharusan yang tak terhindarkan bagi fasilitator untuk
Efektifitas Kelompok
Kinerja:
J asa atau
produk sesuai
memenuhi
standar kinerja
yg diharapkan
Perorangan:
Pengalaman
anggota
kelompok
tumbuh dan
berkembang
Proses:
Memungkinkan
kelompok untuk
saling
bekerjasama
Konteks Kelompok:
- Visi dan Misi yang jelas
- Budaya slg membantu
- Konsisten dg tujuan dan
desain
- Informasi, termasuk
umpan balik
- Pelatihan dan konsultasi
- Sumberdaya: teknologi
dan bahan
- Lingkungan fisik
Struktur Kelompok:
- Visi dan misi yag jelas
- Budaya kelompok yang efektif
- Tujuan yang jelas
- Memotivasi tugas
- Keanggotaan yang sesuai
- Definisi yang jelas akan peran,
termasuk kepemimpinan
- Norma kelompok
- Kecukupan
waktu
Proses Kelompok:
- Penyelesaian masalah
- Pembuatan keputusan
- Manajemen konflik
- Komunikasi
- Manajemen
Fasilitator
Kelompok
Hadiah
terbesar
sebagai
manusia
adalah kita
memiliki
kekuatan
empati.

(Meryl Streep)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
75
mampu mengatasi berbagai tantangan tersebut dengan membuat
sebuah proses yang memungkinkan terjadinya interaksi kelompok.
Beberapa tantangan tersebut dapat dibedakan menjadi tantangan
individual ataupun tantangan kelompok/organisasi.
Hal ini digambarkan dalam tabel dibawah ini:

Tantangan bagi
Individu Anggota
Kelompok
Tantangan bagi
Kelompok dan
Organisasi
Tantangan bagi
Fasilitator
Mengembangkan
toleransi untuk
mengambil risiko,
menjadi peka terhadap
situasi yang dihadapi
Menginvestasikan
waktunya yang sangat
berharga bagi intervensi
dan kemajuan yang jelas.
Fasilitator menghadapi
tantangan yang sama
seperti anggota
kelompok, antara lain:
Muncul ketidak-
kompetenan saat
mempelajari hal-hal baru

Mendapatkan gambaran
yang jelas akan
komitmen, membuat
suatu pilihan yang
diberitahukan untuk
mendukung sebuah usaha
Kebutuhan akan
kesadaran yang lebih
dalam tentang potensi
diri
Berhadapan dengan
pengalaman lampau orang
lain; mengenali
pengalaman lampau
seringkali kesulitan
karena kita berpikir
bagaimana kita menerima
orang lain
Menentukan dan berbagi
memandu nilai-nilai.

Kebutuhan akan
pengetahuan yang luas
dan mengalami perubahan
keorganisasian, berpikir
sistem, dan semua aspek
keterampilan fasilitator.
Mulai dengan refleksi
personal yang mendalam.


Toleran terhadap
perbedaan yang sangat
tajam.
Penyeimbang dan
menawarkan keahlian
dengan tidak menciptakan
ketergantungan
Menghadapi emosi yang
menentang usaha
mendisain perilaku baru.
Bekerja dalam lingkungan
dengan kebijakan yang
tidak konsisten dan
memerlukan kehati-
hatian.
Menyeimbangkan
pekerjaan dengan individu
dan kelompok dalam
berbagai peran ( trainer,
coach, facilitator,
consultant)
Menerima umpan balik
dengan cukup terbuka.



Menjaga agar hasil-hasil
yang dicapai tidak gagal
dan tidak mempengaruhi
yang lain.
Mengatur
kecenderungan dari
waktu ke waktu untuk
bisa berinteraksi lebih
baik dengan anggota
kelompok.
Menjaga komitmen untuk
mengatasi hambatan dan
hasil-hasil yang kurang
jelas.
Mengenali ketika masalah-
masalah dirasakan cukup
menganggu proses
fasilitasi





Jika Anda
tidak kaya,
Anda harus
selalu tampak
berguna

(Thomas Bird
Mosher)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
76

Bab 7:
Met ode Per enc anaan
(Renc ana Ak si Ber sama)




Pernahkah Anda menghadiri pertemuan perencanaan yang
setelahnya membuat Anda bertanya-tanya siapa yang akan
melakukan semua tugas yang telah diidentifikasi dan kelompokkan?
Setelah rencana diformulasikan, sering kali terjadi ketidakjelasan
tentang siapa yang akan melakukan apa. Lebih parah lagi, mereka
yang sudah melakukan banyak tugas masih harus ditambahi
pekerjaan lain, bahkan sering terjadi setelah semuanya diucapkan
dan dilakukan, kita tidak tahu apa yang terjadi dengan rancangan
utama yang telah diformulasikan. Dalam situasi seperti ini, yang
kurang adalah metode yang tepat untuk membangun partisipasi dan
rasa memiliki dari setiap anggota kelompok dalam rencana yang
realistis dan praktis dengan maksud untuk mewujudkan tujuan yang
hendak dicapai.

METODE PERENCANAAN (Action Planning) memberi kita proses
yang :
o Memungkinkan semua anggota kelompok untu
berpartisipasi dan ikut memberikan kontribusi
o Membuat rencana kegiatan yang realistik dan dapat
dilakukan dalam waktu yang relatif SINGKAT.
o Menyaring pemikiran yang terintegrasi, dengan
menggunakan proses rasional dan intuitif.
o Membangun konsensus kelompok secara praktis
o Menanamkan rasa ikut memiliki yang kuat pada kelompok.
o Menentukan pusat tanggungjawab dari berbagai aspek
rencana.
o Memungkinkan kelompok dengan mudah mengetahui unsur
dalam mempertimbangan alokasi target dan sumber daya.
o Menerjemahkan outputnya kedalam panduan monitoring
praktis untuk progres pelaksanaannya.

METODE PERENCANAAN (Action Planning) dimulai dari
pendekatan yang sangat praktis untuk menghasilkan action plan.
Metode ini membawa kelompok untuk menjawab tiga pertanyaan
mudah:
Anda tidak akan
menemukan
makna hidup di
balik batu dan
ditulis oleh
seseorang. And
akan
menemukannya
dengan
memberikan arti
dari dalam diri
anda sendiiri.:

(DR. Robert
Firestone,
penulis dan...


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
77
Kemana kita akan pergi?,
Dimanakah kita?,
Bagaimana kita bisa sampai ke sana?.

Banyak perencanaan kegiatan dilakukan untuk langsung menjawab
pertanyaan ketiga, dengan sedikit pertimbangan pada pertanyaan
pertama dan kedua. Tanpa kejelasan bersama dalam kelompok
tentang kemana tujuan kelompok, anggota individu akan cenderung
memiliki konsepsi yang beragam tentang kemenangan dan
keberhasilan. Hal ini akan mempengaruhi cara mereka memberikan
kontribusi pada proses perencanaan, dan pasti akan mempengaruhi
bagaimana masing-masing bertindak dalam pelaksanaan aktual
rencana tersebut. Akhirnya, karena adanya konsepsi yang beragam
atas kemenanngan dan keberhasilan ini, ketika rencana telah
dilaksanakan sepenuhnya, akan masih ada rasa frustasi karena tidak
semua yang diharapkan setiap anggota kelompok terlaksana. Orang
kemudian akan beranda-andai jika ada kesempatan untuk
membahas harapan dan pandangan tentang kemenanngan dan
keberhasilan.

Di sisi lain, rencana kegiatan yang lain gagal untuk mempertimbang-
kan sepenuhnya situasi kelompok perencanaan saat ini, yaitu
kekhawatiran dan tanggung jawab berjalan, beban kerja saat ini, dan
hambatan dan keterbatasan sumber daya. Jika situasi saat ini tidak
dipertimbangkan dengan benar dalam suatu kegiatan perencanaan,
rencana akan cenderung tidak realistis orang hanya akan
terbebani pekerjaan yang secara realistis tidak bisa mereka tangani,
sumber-sumber yang ada seringkali diperkirakan terlalu tinggi dan
biasanya rencana diharapkan menghasilkan sesuatu diluar batas
yang bisa dicapai.

Dan ketika semua sudah diucapkan dan dilakukan, perasaan frustasi
mungkin akan menyebar. Lebih parah lagi, konsepsi kemenangan
yang sudah ditetapkan bisa jadi tidak terwujud. Ini semua dapat
dihindari jika ada pengertian dan pertimbangan yang tepat terhadap
keterbatasan, ketidakleluasaan, dan berbagai kemungkinan akan
situasi seperti ini.

Karena METODE PERENCANAAN (Action Planning) memper-
timbangkan ketiga pertanyaan Ke mana tujuan kita?, Di manakah
kita?, dan Bagaimana kita bisa sampai ke sana?, maka metode ini
memberikan arahan untuk menghasilkan rencana yang praktis,
realistis dan bisa diterapkan.

Bila Anda ingin
bertambah dekat
dengan mereka di
sekitar Anda,
sadari kekuatan
komunikasi yang
Anda genggam
dalam tangan
Anda.

(Alan Loy McGinnis)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
78





METODE PERENCANAAN (Action Planning) adalah sebuah proses
tujuh tahap yang membimbing kelompok dalam perjalannya menuju
pengembangan rencana yang realistic dan bisa dilakukan dalam
menyelenggarakan suatu kegiatan atau acara.

METODE PERENCANAAN (Action Planning) sangat cocok untuk
merencanakan sebuah acara atau kegiatan dalam rentang waktu
antara 3 12 bulan, dan akan sangat efektif untuk :

o Memperkuat rasa kepemilikan dalam kegiatan yang
direncanakan
o Membangkitkan komitmen individual dan kolektif terhadap
keberhasilan kegiatan
Bila Anda ingin
bertambah
dekat dengan
mereka di
sekitar Anda,
sadari kekuatan
komunikasi yang
Anda genggam
dalam tangan
Anda.

(Alan Loy
McGinnis)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
79
o Mengenali tanggungjawab dan akuntabilitas semua anggota
kelompok
o Memutuskan alokasi sumber-sumber daya untuk kegiatan
yang direncanakan.

Interaksi dinamis yang dimungkinkan oleh prosedur tahap demi
tahap dari perencanaan (Action Planning) merupakan pengalaman
yang memotifasi, memuaskan, dan bahkan berdaya guna, tidak
hanya dalam konteks menyusun rencana kegiatan, dan mungkin
yang lebih penting, dalam konteks kegiatankegiatan yang berhasil
dilaksanakan.

Gambar an Met ode Per enc anaan

Tet apk ah Tuj uan

Sebelum melakukan yang lain, tetapkan apa yang ingin dicapai
melalui diskusi yang akan dilakukan, baik dalam bentuk tujuan
RASIONAL maupun EKSPERIENSIAL.
Tujuan RASIONAL mencakup:
Apa yang perlu diketahui, dipahami atau diputuskan oleh
kelompok
Pengalaman atau isu bersama apa yang perlu
dipertimbangkan secara seksama oleh kelompok

Tujuan EKSPERIENSIAL mencakup:
- Apa yang perlu dialami oleh kelompok satu sama lain
kegembiraan?
- Apresiasi dari beragam perspektif? Perbedaan pendapat?
- Tindakan yang disepakati bersama dibalik semua
keragaman yang ada?

Perlu diingat bahwa kejelasan tujuan kegiatan akan membantu
Anda siap untuk benar-benar memfasilitasi workshop perencanaan
(action planning).


Tahap 1 Kont ek s

Pastikan adanya iklim yang terbuka dalam kelompok, sehingga
peserta dapat langsung saling melihat wajah peserta lain. Pastikan
bahwa tidak ada gangguan,bahkan sebelum bab dimulai.

Sambut peserta dan undang kontribusi mereka, tetapkan konteks:
apa yang kita lakukan adalah penting. Jelaskan apa yang diharapkan
keluar dari bab ini.
Dunia tidak
terlalu perlu
diinformasikan,
tetapi perlu
diingatkan.

(Hannah More)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
80


Yang lebih penting lagi, diskusikan proses perencanaan (action
planning).: dengan cara bagaimana peserta diharapkan
berpartisipasi, dan peran Anda dalam proses.

Terakhir, berikan pemahaman yang jelas pada setiap orang tentang
waktu yang tersedia bagi kelompok untuk menyelesaikan tugas.
Ingat bahwa pada tahap Konteks lah Anda membangun kontrak
dengan kelompok untuk mau berpartisipasi penuh dalam bab ini.
Karena itulah, sangat penting bagi Anda untuk bisa memberikan ide
yang utuh kepada kelompok bahwa bagaimana action plan akan
dihasilkan sebenarnya merupakan langkah pertama ke arah tujuan
yang ingin dicapai kelompok.

Minta kelompok untuk mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan saat ini.
Kemudian mintalah kelompok untuk mengidentifikasi
keunggulan dan hambatan potensial yang akan terjadi bila
berhasil melaksanakan rencana.
Catat semua respon yang diberikan dalam kertas flipchart

Menetapkan KONTEKS, memperkenalkan ACARA atau
KEGIATANNYA, dan membangun KONTRAK dengan anggota
kelompok ynag meliputi :
o Menetapkan kegiatan.
o Tegaskan dan jelaskan acara atau kegiatan yang akan
direncanakan.
o Uraikan proses dan perkiraan waktunya.
o Undang partisipasi peserta.

Tahap 2 Li ngk ar Keber hasi l an

Bantulah kelompok menjelaskan apa yang mereka maksud dengan
kemenangan/keberhasilan kegiatan yang sedang direncanakan.
Mulailah dengan me-review kelompok tentang kesepakatan dasar
untuk kegiatan tersebut, kemudian, mintalah para anggota untuk
membayangkan hari setelah kegiatan.

Tanyakan apa yang mereka lihat, rasakan, dengar, pikirkan. Minta
kelompok untuk membayangkan apa yang dilihat, dirasakan,
didengar dan dipikirkan oleh orang yang seharusnya mendapat
manfaat dari kegiatan tersebut.

Catat semua jawaban kelompok atas pertanyaan tersebut pada
kertas flipchart.

Upaya yang
diperlukan untuk
membuat kesan
pertama yang baik
jauh lebih kecil
dibandingkan
upaya yang
diperlukan untuk
memperbaiki
kesan yang tidak
baik

(D.A. Benton)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
81

Catat semua respon kelompok dengan cepat, saat Anda mencatat
respon tersebut, sebaiknya Anda mencatatnya semirip mungkin
dengan respon yang aktual.

Tulislah dengan kalimat yang pendek, hal ini karena lingkaran
keberhasilan merupakan kesempatan bagi kelompok untuk
mendapatkan kejelasan yang lebih baik terhadap definisi yang telah
mereka sepakati tentang keberhasilan kegiatan tersebut.

Kemukakan dimana kira-kira terdapat kesepakatan terhadap
kontribusi yang dibuat oleh seorang anggota kelompok.
Konsekuensinya, beri kesempatan pertanyaan-pertanyaan klarifikasi
untuk diajukan dan dijawab. Setelah semua respon selesai dicatat,
ada baiknya Anda mereview secara singkat pokok pokok
kontribusi.

Perlu dicatat bahwa pada akhir tahap ini, kelompok harus sangat
bersemangat dan termotivasi. Jika tidak, maka mungkin akan sulit
bagi kelompok untuk menyelesaikan kelanjutan dari bab
perencanaan (action planning)., dan mungkin nantinya akan
merasakan kesulitan yang lebih besar untuk memulai pelaksanaan
rencana yang telah dibuat.

Tanyalah kelompok tentang rincian kegiatan yang sudah
selesai. Sehari setelah kegiatan tersebut, apa yang mereka
lihat? Bagaimana perasaan mereka? Apa yang orang-orang
katakan ??
Tulislah semua respon yang diberikan pada lembar yang
tersedia.


Tahap 3 Kenyat aan Saat I ni

Mintalah kelompok untuk menuliskan dua sampai tiga hal dari apa
yang mereka anggap paling penting dari kekuatan dan kelemahan
kelompok yang harus dipertimbangkan dalam kegiatan yang sedang
direncanakan. Kemudian, mintalah mereka untuk membuat daftar
yang sama untuk tiga keunggulan/ keuntungan potensial yang paling
penting untuk dicapai dan bahaya yang perlu dinetralisasikan
sehubungan dengan kegiatan yang diajukan.

Mintalah kontribusi dari kelompok untuk empat kategori satu per
satu. Akan lebih baik jika Anda membuat kategori positif dan
negatif secara bergantian.
Kronologi yang bagus adalah: kekuatan, kelemahan,
keunggulan/keuntungan dan hambatan/bahaya.

Proses kritik
harus dimulai
dengan pujian
dan
penghargaan
yang jujur

(Dale Carnegie)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
82
Ketika pendapat/kontribusi kelompok sedang dibahas , tulislah
pada lembar yang tersedia. Tonjolkan ide-ide dan wawasan yang
sama yang sedang didiskusikan; dan berikan pertanyaan-pertanyaan
klarifikasi.





Kekuatan






Keuntungan / Peluang
Kelemahan





Ancaman










Tahap 4 Komi t men

Secara cepat ambilah poin-poin penting dari daftar Kenyataan Saat
Ini yang dibuat kelompok. kemudian, tantang kelompok tersebut
untuk mengartikulasikan komitmen bahwa kelompok sudah siap
untuk bekerja mencapai keberhasilan kegiatan yang direncanakan.
Ada baiknya Anda membawa kelompok kembali ke hasil dari
Lingkar Keberhasilan dan menanyakan apakah keberhasilan yang
tercantum sangat berarti untuk kelompok, kemudian komitmen
apa yang bersedia diberikan kelompok pada kegiatan tersebut
dalam rangka menjawab tantangan-tantangan tadi.

Catatlah semua respon kelompok dengan cepat pada kertas
flipchart. Awas , jangan sampai memberi peluang pada kelompok
untuk menarik kembali apapun yang telah mereka jadikan
komitmen.

Mintalah bantuan kelompok untuk merangkai respon-respon
individual menjadi sebuah pernyataan komitmen yang satu, yang
Sifat alami
manusia yang
terutama
adalah ingin
dihargai

(WilliamJames)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
83
akan mengikat kelompok satu sama lain dan pada keberhasilan
kegiatan yang direncanakan.

Jangan terlalu banyak memperhatikan pada gaya tulisan ahli
bahasa, dalam kelompoklah yang nantinya akan memperbaikinya.
Setelah Pernyataan komitmen disusun, sebaiknya mintalah
kelompok untuk menandatangani lembar daftar tersebut, yang
menandakan kontrak kelompok terhadap dirinya sendiri.

o Baca semua daftar kenyataan kini dan secara cepat
pertimbangkan implikasinya pada rencana yang sedang
disusun.
o Mantapkan komitmen kelompok untuk keberhasilan
kegiatan.
o Catatlah hal ini pada kertas flipchart
o Formulasikan sebuah paragraph atau kalimat untuk cakupan
dan hasil proyek tersebut.
o Ada baiknya jika Anda bisa membuat rangkuman ringkas
atas kontribusi kontribusi yang dibuat untuk setiap
kategori segera setelah selesai.
o Dan akan sangat membantu krelompok jika ada diskusi
singkat tentang implikasi dari daftar perencanaan kegiatan
yang diajukan.

Tingkat wacana
politis, sosial, dan
komersial kita
saat ini begitu
rendah sehingga
sudah saatnya
untuk mencoba
memperbaiki
peradaban dari
bawah ke atas.

(John Leo)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
84
Tahap 5 Wor k shop Kegi at an Kunc i

Gunakan metode workshop untuk menjawab pertanyaan berikut ini:

Kegiatan kunci apa yang perlu diselesaikan untuk mewujudkan
(berikan detail kegiatannya ) dan (berikan tanggal jadwal
kegiatan)?

Untuk tahap sumbang saran workshop, mintalah kelompok untuk
menggunakan kata kerja untuk semua ide-ide brainstorming-nya,
sehingga akan memudahkan pengelompokkannya dan pembuatan
kalender kegiatan serta daftar tugas. Selain itu, minta pada
kelompok untuk TIDAK membentuk panitia. Ini karena pada
tahap pengelompokkan tugas, setiap kelompok tugas yang
direncanakan akan dilaksanakan oleh satu tim kerja.

Pada Tahap Judul dalam workshop, mungkin Anda ingin bertanya
kepada kelompok apakah menurut mereka semua tugas yang telah
diidentifikasi sudah mencakup semua yang dibutuhkan untuk
membuat kegiatan berjalan dengan baik. Anggota kelompok
mungkin akan bertanya tentang tugas-tugas yang spesifik yang tidak
secara eksplisit tercantum dan Anda bisa bertanya pada mereka
dikelompok mana tugas yang ditanyakan tersebut sebaiknya
dicantumkam. Jika perlu buatlah kartu ide baru supaya tidak ide
tersebut hilang. Proses ini berguna untuk menjelaskan lingkup
tugas tertentu untuk setiap kelompok tugas.

Karena Workshop Kegiatan Kunci bagian dari proses yang lebih
besar, maka tidak perlu ada tahap refleksi. Sebagai gantinya,
mintalah para peserta untuk menuliskan nama-nama mereka pada
secarik kertas. Minta mereka maju ke depan mendaftarkan diri
pada tim kerja untuk kelompok tugas dimana mereka merasa bisa
memberikan kontribusi terbesar. Mintalah mereka untuk memilih
di tim kerja mana mereka harus berpartisipasi.

Ada baiknya juga memberi tahu para peserta bahwa tahap-tahap
metode perencanaan (action planning) selanjutnya akan
mengharuskan kelompok untuk berpencar kedalam tim -tim kerja
yang akan mereka masuki.

Pastikan bahwa ada paling tidak dua orang dalam setiap tim kerja.
Minta beberapa anggota kelompok sebuah tim kerja untuk secara
suka rela berpindah ke tim kerja lain yang jumlah anggotanya lebih
sedikit. Jangan membiarkan anggota kelompok mengajukan orang
lain ke kelompok tugas tertentu. Tapi mereka boleh meyakinkan
peserta lain untuk masuk ke dalam kelompok tugas tertentu.
Ingatlah bahwa semua harus dilakukan secara suka rela.
Orang yang
menabur
keramah-tamahan,
menuai
pertemanan, dan
orang yang
menanamkan
kebaikan,
mengumpulkan
cinta.

(Needles and Friends)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
85

Kalau masih ada kelompok tugas yang tidak ada anggotanya, tanya
kembali kepada kelompok untuk mempertimbangkan apakah
kelompok tugas ini penting untuk kegiatan yang direncanakan.
Biasanya ini akan berhasil karena kelompok akan menemukan cara
memilih tugas-tugas kerjanya.
o Lakukan workshop untuk mengidentifikasi semua kegiatan
kunci yang diperlukan untuk mewujudkan keberhasilan.
o Setelah kelompok tindakan teridentifikasi, anggota
kelompok memilih sendiri tim kerja untuk proses
perencanaan selanjutnya dan juga untuk implementasi
rencana.


Tahap 6 Penj adw al an dan Penugasan

Mintalah salah satu anggota dari setiap tim kerja untuk maju ke
papan dan mengambil kartu-kartu ide di kelompok tugasnya.

Instruksikan kepada tim-tim kelompok tugas untuk menggunakan
kartu-kartu ide ini dan menyusunnya secara kronologisnya, mulai
dari penyelesaian action plan sampai pada jadwal tanggal kegiatan.
Beri tahu pada tim bahwa mereka bebas untuk menggabungkan
ide-ide yang memiliki kesamaan dan untuk mencantumkan tugas-
tugas baru yang mereka rasa diperlukan untuk rencana tersebut.

Mintalah tim untuk mengidentifikasi mana diantara tugas-tugas ini
yang mereka anggap sebagai kegiatan perdana, sedang berjalan,
dan pamungkas. Anda bisa meminta mereka untuk menuliskan
kegiatan-kegiatan perdana dan pamungkas pada kertas berwarna
untuk memudahkan membedakannya.

Dorong kelompok untuk saling berkonsultasi bilamana perlu.
Setelah kelompok menyelesaikan tugas ini, mulailah menyiapkan
garis-garis kalender di papan. Secara vertikal garis-garis tersebut
menunjukkan tim kerja yang berbeda, dan secara horizontal
menunjukkan periode waktu pelaksanaan kegiatan. Disamping
nama-nama tim kerja, buatlah sebuah kolom untuk namanama
anggota dari setiap tim kerja. Kemudian tulislah nama-nama
anggota tim kerja.

Mintalah seorang wakil dari setiap kelompok untuk maju ke depan
dan menempatkan kegiatan perdana, sedang berjalan,
danpamungkas pada baris tim kerja mereka. Setelah semua tim
kerja menempatkan kalender kegiatan mereka, kemudian mintalah
setiap wakil dari tim kerja untuk mempresentasikannya.
Kita lahir untuk
memaknai, bukan
untuk kesenangan.
Kecuali, jika
kesenangan
tersebut masuk ke
wilayah pemaknaan.

(Jacob Nedleman)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
86
Kumpulkan respon terhadap laporan tersebut pada beberapa
tingkatan.

Pertama, mintalah semua kelompok melihat kegiatan-kegiatan yang
telah diatur oleh tim kerja. Tanyakan apakah semua kegiatan kunci
telah diidentifikasi dalam urutan kronologis yang benar. Lakukan
perubahan jika perlu.

Kedua, mintalah kelompok untuk melihat kalender kegiatan yang
dilaporkan dibandingkan dengan kalender kegiatan yang telah
disusun oleh masing-masing tim. Ini akan membuat diskusi menjadi
lebih menarik, karena apa yang Anda coba lakukan untuk
membantu kelompok adalah membuat kegiatan-kegiatan tim-tim
kerja terkoordinasi dengan upaya yang seminimal mungkin.

Ketika semua tim-tim kerja sudah selesai melaporkan, tanyakan
pada kelompok tentang semua jenis kegiatan umum yang perlu
dijadwalkan ke dalam kalender, misalnya (tidak terbatas pada)
rapat-rapat koordinasi para kepala tim kerja. Kartu-kartu khusus
dapat dimasukkan ke dalam kalender untuk menandai kegiatan-
kegiatan ini.
o Kelompok dipecah menjadi tim kerja
o Dengan menggunakan kartu-kartu ide yang telah dibuat di
workshop kegiatan kunci, mintalah setiap tim kerja untuk
mengatur kegiatan kunci yang telah diidentifikasi pada
urutan yang diperlukan sampai tanggal pelaksanaan kegiatan.
o Mintalah mereka mengidentifikasi kegiatan perdana, yang
sedang berjalan, dan pamungkas.
o Setelah kegiatan kunci dipilah-pilah oleh tim kerja
tempatkan pada kalender yang telah anda tempelkan di
dinding
o Mintalah satu wakil dari setiap tim kerja untuk melaporkan
kalender kegiatan yang mereka siapkan.
o Setelah semua tim kerja melapor, koordinasikan seluruh
kegiatan semua tim kerja.
o Secara pleno, mintalah kelompok untuk mengidentifikasi
kegiatan-kegiatan lain yang belum teridentifikasi oleh
kelompok termasuk pertemuan koordinatif keseluruhan.
Target dan biaya mungkin juga bisa dicantumkan dalam
kalender kegiatan.


Tahap 7 - Ref l ek si

Setelah kalender selesai, beri waktu pada kelompok untuk melihat
kembali kalender dan tanyakan pada mereka apakah dengan
rencana yang sudah ada ini, kegiatan yang dimaksud dapat
Kebaikan yang
semakin
dikomunikasikan
akan semakin
bertumbuh dengan
melimpah.

(John Milton)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
87
diwujudkan. Pada tahap ini, ada baiknya untuk secara cepat melihat
kembali indikator-indikator Lingkar Keberhasilan dan tantangan-
tantangan utama pada bagian Kenyataan Saat Ini.

Jika perlu berikan waktu kepada kelompok untuk mendiskusikan
tahapan-tahapan selanjutnya.

Lakukan percakapan ORIK/D untuk mereview hasil yang
dibuat oleh kelompok.
Buatlah judul, slogan kampanye, atau gambar visual yang
menarik yang mewakili seluruh upaya ini.
Secara singkat diskusikan tahapan-tahapan selanjutnya
untuk menutup bab action planning ini.


CONTOH PERENCANAAN (ACTI ON PLANNI NG)

TOPIK: Workshop Perencanaan (Action Planning) Damai

Tahapan 1 - Konteks

Gambaran Kegiatan:
Apa : Penyusunan rencana untuk Sektor Kehutanan Dataran
Tinggi Damai
Kapan : September 1996 sampai Agustus 1997
Dimana : Masyarakat tanah tinggi yang ditargetkan di kota-kota
pilihan di Damai
Mengapa : Perlindungan dan pemeliharaan sumber-sumber hutan
yang tersisa
Bagaimana : Melalui kolaborasi LG-NGO yang lebih fungsional
dalam pengelolaan sumberdaya hutan berbasiskan
masyarakat
Oleh Siapa : Unit pemerintah daerah, bekerjasama dengan para
pemangku kepentingan utama dalam komunitas,
misalnya; NGO dan LG
Asumsi : Tersedianya dana Rp.100.000.000 dalam APBD
Propinsi, Tersedianya dana Reboisasi dari Pemerintah
Pusat sebesar Rp. 250.000.000

Tujuan-Tujuan Rasional:
Untuk melihat tahapan-tahapan kegiatan yang diperlukan selama
setahun dalam program pengelolaan sumber daya hutan/dataran
tinggi di Damai.




Humor adalah
sesuatu yang
serius. Itu adalah
salah satu
pemberian terbaik
yang harus
dilestarikan

(James Thurber)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
88

Tujuan-tujuan Eksperiensial:
Untuk membuat Kelompok Kerja Teknis merasa bahwa mereka
adalah bagian dari Tim Lingkungan Pemenang (Winning
Environmental Team).

Tahapan 2 Lingkar Keberhasilan
o Kolaborasi lingkungan LG-NGO yang lebih kuat 80% kota
di Damai yang memiliki rencana-rencana lingkungan yang
terintegrasi
o Pengelolaan sumberdaya berdasarkan komunitas
o Pemeliharaan keanekaragaman hayati

Tahapan 3: Kenyataan Yang Ada ( saat ini )
Kekuatan
o Kepemimpinan provinsi yang aktif dan dinamis
o Transparansi para pemimpin
o Komitmen personal para pelaku utama
o Kolaborasi LG-NGO
o Staf terlatih dalam pengolahan lingkungan
Keunggulan / Peluang
o Sumber-sumber hutan Damai yang kaya dan luas
o Peningkatan koalitas pengelolaan daerah resapan air
o Peluang hidup untuk Bihotanos
o Potensi Eco-tourism
o Damai sebagai penerima penghargaanGoing Pook dalam
bidang lingkungan hidup
Kelemahan
o Kelompok masyarakat yang mengabaikan proyek-proyek
lingkungan
o Proyek-proyek yang tidak terkoordinasi
o Database yang tidak memadai
o Kurangnya pelatihan tentang lingkungan dan advokasi untuk
masyarakat
Hambatan /Ancaman
o Kesepakatan mengenai air antara Damai-Sejahtera
o Pertambangan ilegal kaingin yang tidak diketahui
o Penebangan pohon illegal yang berlanjut
o PP No..../20XX, menyatakan beberapa daerah resapan air
sebagai NIPAS

Tahapan 4: Komitmen
Untuk secara efektif mengimplementasikan rencana-rencana
lingkungan yang inovatif dan berbasiskan masyarakat dalam periode
satu tahun yang dirancang untuk menciptakan kesadaran dan
komitmen yang lebih tinggi diantara para pejabat dan staf Pemda,
NGO mitra dan masyarakat untuk melindungi dan memelihara
sumber-sumber hutan Damai yang tersisa.
Teman yang baik
selalu
memberitahu
bahwa kita itu
spesial... dan apa
alasannya.

(Patti Stemple)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
89

Tahapan 5: Fokus Pertanyaan
Apa kegiatan kunci yang perlu dilakukan kemitaraan LG-NGO di
tahun yang akan datang untuk melindungi dan memelihara
sumbersumber hutan Damai?

Hasil dari diskusi kelompok terumuskan sebagai berikut :
Inventarisasi Sumber daya terhadap Pengelolaan Sumber
Daya Pesisir Berbasis Masyarakat (PSPBM)
Rencana kerangka kerja Pengelolaan Lingkungan untuk
Damai
Inventarisasi flora dan fauna
Penilaian sumberdaya
Membuat rencana PSPBM
Mengembangkan perangkat bagi inventarisasi sumberdaya
Mengadakan Kegiatan Info, Pendidikan dan Komunikasi
Pendidikan dan pelatihan mengenai lingkungan
Merencanakan workshop pada tingkat pemerintah daerah
Dorongan informasi yang kuat, misalnya; eco-caravan
Menyiapkan poster-poster
Mengatur kampanye kelompok/kota inti
Membuat dan Menegakkan Kebijakankebijakan Ramah
Lingkungan
Membuat kebijakankebijakan/peraturan tentang lingkungan
Pemda menandatangani komitmen publik untuk melindungi
lingkungan
Mengorganisasikan kelompok-kelompok lobby untuk
reformasi lingkungan
Mendorong pemdapemda untuk menyisihkan dana
Mempromosikan Praktek-praktek Pertanian yang
berkesinambungan
Membuat hutan mini setiap kecamatan
Mempromosikan penggunaan pupuk organik
Mengembangkan modul untuk melatih para petani dalam
pertanian yang berkesinambungan
Mengadopsi pertanian tepi laut; GARAM
Memperkuat Koordinasi dan Kemitraan Multisektoral
Membentuk Dewan Sumber Daya Alam dan Lingkungan
(DSAL) pada tingkat kota
Membangun konstituensi Pertemuan-pertemuan konsultatif
yang periodik
Melembagakan badan-badan koordinasi lingkungan
Mendorong Kesepakatan Tripartit

Sahabat yang
paling baik
adalah yang
menghasilkan
sesuatu yang
paling baik
dalam diri saya

(Henry Ford)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
90
Tahapan 6 : Kalender dan Tugas Tugas

Hasil diskusi Pleno terumuskan beberapa program, diantaranya :
Mengadakan Kegiatan Informasi, Pendidikan dan
Komunikasi Inventarisasi Sumberdaya terhadap PSPBM
Membuat dan Menegakkan Kebijakan kebijakan Ramah
Lingkungan
Mempromosikan Praktek-praktek Pertanian yang
berkesinambungan
Memperkuat Koordinasi dan Kemitraan Multisektoral

Kegiatan
o Eco-caravan keliling Damai
o Mengadakan workshop perencanaan
o Menginventarisasi kebijakan dan peraturan lingkungan lahan
tinggi yang ada
o Menyusun Modul Pelatihan tentang pertanian yang
berkesinambungan
o Mengorganisasikan badan multisektoral

2008 Kuartal Pertama ( Jan-Mar )
Membuat rencana komunikasi
Mengembangkan alat untuk inventarisasi dan penilaian
Penyusunan kebijakan
Serangkaian training tentang praktek pertanian yang
berkesinambungan
Menyusun daftar kelompok lingkungan yang aktif di PSPBM

2008 Kuartal ke-2 (Apr- Jun)
o Mengembangkan materi informasi dan promosi
o Melatih sekelompok peneliti lingkungan
o Monitor pelaksanaan kebijakan
o Menyiapkan tanah pertanian, contoh; Memantapkan
pembangunan
o komitmen dengan konstituen

2008 Kuartal ke-3 ( Jul-Agus )
o Melakukan kampanye info kota
o Pembuatan data analisis dan laporan
o Advokasi untuk reformasi kebijakan lahan model setiap
kecamatan
o Workshop action planning

2008 Kuartal Ke-4 ( Sep Des )
Workshop pelatihan komunikasi
Membentuk pengumpulan data dan tim riset
Kesehatan
emosi
merupakan
pusat dari
menang bersama
orang lain.

(John C. Maxwell)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
91
Membuat daftar peraturan dan kebijakan lingkungan yang
dimiliki pemda
Mengorganisasikan kelas petani
Mengadakan konsultasi multisektoral

Keberhasilan yang dicapai
o Poster/slogan kampanye lingkungan ditempatkan per
kecamatan
o Presentasi tentang rencana PSPBM berdasarkan data
o Semua kebijakan lingkungan dipadukan dan dilembagakan
o Keberadaan tanah pertanian model
o Rencana multisektoral bagi diterapkannya manajemen hutan
ditempat

Anggota Tim
Dian, Joko, Baldi, Vera , Rudi, Indri, Manto, Yusi
Romi, Edi, Lando
Roni, Parto, Neneng
Alex, Odi

Tahapan 7: Pertanyaan-Pertanyaan Refleksi
Apa pendapat Anda tentang rencana yang telah kita buat?
Apa pendapat Anda tentang kegiatan yang perlu kita
lanjutkan ini?
Apa langkah-langkah kita selanjutnya?
Bagaimana kita akan menjalankannya?

Dalam menetapkan kegiatan:
Tegaskan dan jelaskan acara atau kegiatan yang akan
direncanakan.
Uraikan proses dan perkiraan waktunya.
Undang partisipasi peserta.










Pertanyaan
yang
sebenarnya bagi
tiap orang dalam
hidupnya
bukannya apa
yang telah
diperolehnya,
melainkan apa
yang telah
diperbuatnya

(Thomas Carlyle)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
92

Bab 8:
Menggugah Si st em
Sosi al




Kami sudah berusaha,
tapi sistem di tempat kami sulit untuk diubah.
Sudah mapan.
(seorang anggota DPRD Prov Sulawesi, 2007)

Kita pasti sering mendengar kutipan di atas. Sebagai fasilitator, kita
kerap menemui keluhan peserta pertemuan akan kemandekan atau
kebobrokan sistem dalam sebuah organisasi, yang menyebabkan
ide-ide pembaruan mentok di tengah jalan, diabaikan, atau malah
dimusuhi karena akan mengganggu sistem yang ada. Sehingga, niat
untuk melakukan sesuatu pun langsung patah karena sistem tidak
memungkinkan. Percuma saja, pasti tidak ada bedanya. Sistemnya
memang seperti itu. Dan, kata sistem pun menjadi kambing
hitam, bahwa yang disebut sistem lebih dimaknai sebagai sesuatu
yang lamban, menolak ide-ide baru, dan menghalangi perubahan.

.






Space utk ilustrasi





Anda dapat
coba memaksa
makhluk hidup
seperti mesin,
tapi mereka
tidak akan
menjadi mesin.

(Elisabet
Sahtouris)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
93
Apa i t u Si st em?

Sistem berasal dari bahasa Latin (syst ma) dan bahasa Yunani
(sust ma) berarti berdiri bersama. Suatu kesatuan yang terdiri
atas komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk
memudahkan aliran informasi, materi, atau energi. Dengan
sendirinya, sistem mengandung elemen yang saling mempengaruhi
dan dipengaruhi pada saat ia bekerja. Itu yang membuat sistem
selalu menuju meta-stabil. Ia bisa berubah cepat jika diiritasi dan
akan cenderung stagnan bila hanya sekadar diganggu.

Sistem cenderung mengalami immobilitas atau diam tak bergerak.
Kestabilan selalu dimulai dari sub-sub sistemnya. Karena setiap
elemen di dalam sistem saling bertautan, maka bila sebuah sistem
diganggu ia akan mempengaruhi elemen lainnya. Implikasinya, bila
sebuah sistem disakiti ia pasti akan berubah tapi kita tak bisa
pastikan kemana arah perubahannya, Jadi, hampir mustahil, kita
mengontrol perubahan sistem. Sistem akan selalu bergerak sampai
menuju keseimbangan barunya. Bagi fasilitator, pengetahuan
tentang sistem akan memudah ia mengetahui bagaimana membuat
perubahan yang efektif.

Sej ar ah Teor i Si st em

Teori sistem menggunakan berbagai pendekatan pengetahuan
inter-disiplin. Teori ini mempelajari sifat sistem-sistem rumit di
alam, masyarakat dan ilmu pengetahuan. Lebih spesifiknya, ini
sebuah kerangka kerja yang mana seseorang dapat menganalisis
dan mendeskripsikan kelompok obyek yang bekerja dalam sebuah
orkestra dan menghasilkan sesuatu. Kelompok obyek itu bisa
berupa satu makhluk hidup, suatu organisasi atau komunitas, atau
semacam mekanisme elektronika, atau juga artifak informasi.

Teori Sistem pertama kali diajukan pada 1940-an oleh biologis
Ludwig Von Bertalanffy dan diperbarui Ross Ashby pada era 1950-
an. Von Bertalanffy mengajukan teori ini sebagai bentuk reaksi
perlawanan atas kelanggengan paham reduksionisme dan
berutujuan menghidupkan kembali kesatuan ilmu pengatahuan. Dia
meyakinkan, sistem yang sebenarnya adalah membuka diri, dan
berinteraksi dengan, lingkungan mereka, dan mereka meningkatkan
kualitas hasil dan relasi baru melalui proses evolusi yang
berkelanjutan.

Ketimbang mereduksi sebuah entitas (misal tubuh manusia)
menjadi bagian-bagian atau elemennya (misal, sel-sel organ), Teori
Sistem fokus pada keberadaan dan relasi di antara bagian-bagian
Kita mesti
belajar melihat
dunia yang baru.

(Albert Einstein)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
94
yang menghubungkan mereka menjadi satu kesatuan.

Teori ini kemudian diterima dan berkembang di pelbagai bidang,
seperti di dunia filsafat, matematika, engineering, komputer, ekologi,
manajemen, psikoterapi manajemen, cybernetics, system dynamics,
hingga memunculkan ilmu kompleksitas yang mempelajari self
organization dan jaringan heterogen aktor-aktor yang saling
berinteraksi, serta diasosiasikan ke ruang-ruang yang tak
terbayangkan sebelumnya, seperti keseimbangan thermodinamik,
chaotic dynamics, kehidupan artifisial, kecerdasan artifisial, jaringan
syaraf, dan komputer modeling-simulasi.


Ti ga Gener asi Teor i Si st em

Teori sistem memiliki tiga generasi. Generasi Pertama dikenal
dengan The Whole and Part. Ini teori paling tua dan mempengaruhi
cara kita memandang alam dan bumi. Kini kita mengenal sistem
biologi (manusia, binatang, tumbuhan) dan ekosistem (sungai,
samudera, iklim, hutan).

Teori sistem generasi kedua bernama System and Environment. Pada
generasi kedua dikenal istilah input, proses dan output. Teori ini
banyak dipakai dalam memahami organisasi dan dunia industri.
Teori ini membantu kita mengetahui adanya konsep kompleksitas
dan ketidakpastian yang popular dalam manajemen organisasi,
globalisasi, manajemen perubahan dan manajemen sumberdaya
alam.



Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
95

Pada generasi kedua, kita mengenal adanya konsep sistem internal
dan sistem eksternal. Sistem internal adalah sistem yang bekerja di
itnternal organisasi dan sistem eksternal adalah sistem lingkungan
yang mempengaruhi sistem internal. Karena kedua sistem ini
berinteraksi terus menerus maka sistem internal mengalami apa
yang disebut masalah input dan masalah output. Ketersediaan
informasi yang melimpah menyebabkan proses di dalam sistem
internal menjadi berlebihan sehingga dibutuhkan sistem filtering dan
sistem pengambilan keputusan. Sebab itulah ada gagasan
kontingensi atau beberapa skenario menghadapi perubahan
lingkungan eksternal.

Yang menarik, teori sistem generasi ketiga yang dikenal dengan
Identity and Difference atau Identitas yang Membedakan. Teori
ini menarik karena setiap individu, organisasi atau masyarakat bisa
menentukan identitasnya sendiri. Identitas inilah yang mengilhami
corporate identity atau identitas organisasi dalam bentuk-bentuk
metafora. Anda bisa sandingkan dengan konsep bendera nasional
atau lambang negara. Identitas ini bersifat self reference -- atau apa
yang ingin Anda sampaikan kepada orang lain. Pada teori ketiga
sering mengabaikan adanya lingkungan eksternal yang menekan.
Dengan identitas itulah seseorang atau organisasi mengarungi
bahtera masa depannya.

I dent i t as
Identitas artinya bagaimana kita merekognisi atau
menghubungkan sesuatu pada hal yang sama lagi. Nenek moyang
kita misalnya, mengenal apa yang disebut dengan bintang pagi dan
bintang senja. Itu kedua bintang yang kelihatan terang di pagi hari
dan senja hari. Kedua bintang ini kemudian diberi pemaknaan yang
berbeda-beda dan dimanifestasikan dalam berbagai ruang. Misalnya,
dijadikan petunjuk arah oleh nelayan dan pelaut atau dijadikan
sebagai simbol harapan dengan berbagai dongeng menyertainya.
Tapi, kemudian hari, manifestasinya menjadi berubah ketika
ketahuan dua bintang itu tak lain berasal dari sebuah planet yang
sama (Venus). Seorang fasilitator yang memandu proses pertemuan
masyarakat bisa saja dianggap sama dengan fasilitator yang
memandu pertemuan pejabat pemerintah dan anggota DPRD.
Sama-sama fasilitator. Dan, inilah yang kerap terjadi, dalam banyak
tujuan, dua hal adalah sama jika kita tidak bisa menceritakan
bagian-bagian khusus mereka. Dan disinilah kita harus
mendefinisikan informasi sebagai suatu perbedaan yang dapat
membuat sebuah perbedaan.

Sekarang ini, kita
berhadapan
dengan sebuah
perubahan dalam
alam yang
berubah. Kita
secara konstan
menghadapi
munculnya
kenyataan-
kenyataan baru
dan transformasi
masif yang
memanggil
perubahan seluruh
sistem.

(Banathy, 1994)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
96



Per bedaan
Genggam telapak tangan Anda kuat-kuat, lantas buka menghadap
ke atas, dan letakan di atas meja agar nyaman. Dengan tangan Anda
yang lain, jatuhkan satu koin kecil ke telapak tangan Anda. Anda
akan langsung merasakan akibatnya. Jika koin itu dingin, Anda akan
merasakan kedinginan metal. Sebentar kemudian, Anda tidak akan
merasa apa-apa lagi. Sel-sel syaraf tidak akan mengganggu ulang diri
mereka sendiri. Mereka hanya akan melapor ke otak jika sesuatu
berubah. Informasi yang berbeda.

Operasi perburuan serangga oleh seekor kadal menggunakan
prinsip yang sama. Mata kadal hanya melaporkan gerakan pada
otaknya. Jika serangga yang sedang diburu tidak bergerak di atas
daun, kadal tidak dapat melihatnya. Tapi begitu serangga mulai
bergerak, whup, kadal dapat melihatnya lagi, lidahnya menjulur
cepat dan menangkap serangga itu.

Ada banyak perbedaan. Informasi yang berbeda akan membuat
tindakan yang berbeda. Anda barangkali sadar, ketika Anda
systems
thinking
didasarkan
pada
pertukaran
fundamental
dari dunia
sebagai sebuah
mesin menjadi
dunia sebagai
sebuah sistem
yang hidup.
(Fritjof Capra)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
97
menjatuhkan koin ke telapak tangan, mata Anda secara otomatis
akan mengatakan, tanpa perintah dari otak, berapa nilai koin
tersebut. Tapi, Anda barangkali tidak sadar dengan tahun
pembuatan yang tercetak di koin tersebut.

Apa yang kemudian membedakan sebuah informasi penting untuk
seseorang dan kemudian tidak penting untuk orang lain, bahkan
tidak penting untuk kadal? Perspektif atas informasi pun menjadi
sesuatu yang sangat penting. Perspektif yang menentukan bentuk
informasi dan pada siapa informasi itu dialamatkan sehingga bisa
membuat perbedaan. Pun begitu, perspektif ini tidak harus menjadi
paham dominan, sehingga kita sibuk merancang isi dan bentuk
informasi yang ingin kita sampaikan kepada para peserta
pertemuan, atau menjadi tujuan, mealinkan justru sebagai sebuah
cara untuk memahami perbedaan. Bahwa, kemampuan kita dalam
mengolah dan menyampaikan materi dapat membuat perbedaan
yang seringkali tak mampu kita bayangkan sebelumnya.

Syst emi c Thi nk i ng + Appr ec i at i ve I nqui r y
= Appr ec i at i ve Thi nk i ng!


Teori Sistem Generasi Ketiga sangat cocok dengan peran seorang
fasilitator yang membantu kelompok-kelompok miskin atau
birokrat menemukan mimpi yang dibayangkan. Untuk itu, seorang
fasilitator harus mampu berpikir sistemik dan membayangkan masa
depan secara apresiatif.

System Thinking penting untuk memahami elemen-elemen dan
relasi dalam sebuah sistem, meletakkan diri kita sebagai bagian dari
sebuah kesatuan, yang menyadari bahwa mampu mengubah sistem
melalui pergerakan-pergerakan yang dilakukan. Jadi, bukannya
mengeluhkan bagaimana sistem membelenggu kita, melainkan
memandang bagaimana keterkaitan satu elemen dengan elemen
lain dalam sebuah sistem. Satu gerakan perubahan di satu elemen
tentu akan ikut mempengaruhi elemen-elemen lainnya. Besar
kecilnya atau cepat lambatnya sistem menemukan titik immobilitas
baru tergantung pada kemampuan kita dalam menggugah sistem
tersebut.

Rakyat perlu
dibangkitkan untuk
menjadi bagian dari
evolusi kreatif.
Dalam prosesnya,
mereka perlu
mengenali apa yang
mereka tidak tahu
dan semua berusaha
untuk
membantunya.

(Willis Harman, 1996)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
98

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengubah cara
berpikir kita. Karena sesungguhnya, realita sosial itu ciptaaan otak
kita. Jika kita mengubah cara berpikir, maka realitas sosial pun
berubah. Seorang fasilitator akan membuat perbedaan manakala ia
sadar sedang membantu sistem untuk mengelola perubahannya
sendiri. Sebagai sistem, mereka hanya bisa diusik dan diiritasi.
Tanpa usikan berarti, mereka akan selalu berada di zona nyaman
alias comfort zone.

Nah, Appreciative Inquiry membantu kita memberikan pertanyaan-
pertanyaan positif kepada sistem untuk keluar dari belenggu
kompleksitas baik sistem eksternal maupun sistem internal.
Karena, pada pendekatan sistem generasi ketiga, kenyataan
memang harus diciptakan.

Dunia
sesungguhnya
sedang di
persimpangan
jalan. Kita
menghadapi
banyak problem
rumit yang
membutuhkan
solusi lebih dari
sekadar
sumberdaya fisik
dan perhitungan
keuangan.

(Michael Gorbachev,
pencetus gerakan
Glasnot dan
Perestroika)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
99
Mengambil pelajaran dari neuroscience, mereka menyebutkan "kata"
bisa membantu sekaligus mengganggu cara kita melihat dunia.
Semisal, Jangan berfikir kemiskinan di Indonesia". Kita otomatis
berfikir kemiskinan. Karena itu dalam model sistem generasi
ketiga, kita dipaksa banyak menggunakan metafora dalam
menjelaskan semua hal tentang kehidupan, organisasi maupun
dunia. Bila dalam Appreciative Inquiry sering disebut sebagai Poetic
Principle. Apa saja selalu ada kaitannya dan kita bisa melakukan apa
saja sesuai dengan pilihan kita.

Jadi, perkembangan dari dunia fasiilitasi termuktahir sekarang ini
adalah mendudukkan appreciative intelligence dan system theory
sebagai landasan membantu perubahan sosial yang lebih inovatif.
Dan, kita dapat menyebutnya sebagai appreciative thinking.




Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
100
Bab 9:
Ti ps Bagi Fasi l i t at or

I ngat k an, buk an sel amat k an

Dalam upaya untuk membantu atau mempermudah suatu proses
dalam kelompok, sebagai fasilitator kita terkadang cenderung
terburu-buru, atau bicara terlalu cepat. Niatnya sih baik: ingin agar
peserta kita berhasil, dan untuk itu kita siap membantu. Namun
terkadang niat baik itu menghalangi kesempatan bagi mereka untuk
berpikir. Bahkan mungkin merenggut otak mereka dari proses
belajar yang dahsyat. Jadi, apa yang seharusnya kita lakukan?
Ingatkan, bukannya selamatkan. Bertanya, bukannya menjawab.
Bagaimana caranya?

Bila anda sudah selesai menjelaskan materi pelatihan atau pelajaran
dan peserta mulai mengerjakan latihannya, mundurlah dulu sejenak.
Tahan diri untuk tidak merespon, tidak menengahi, atau tidak
tergesa-gesa mengintervensi. Beri mereka kesempatan untuk aktif
dan nyaman dengan tugasnya itu. Karena mungkin orang sudah
biasa dibantu, mungkin saja ada satu-dua yang mengacungkan
tangan minta Anda bantu. Atau mungkin salah satu kelompok
terlihat bertentangan dengan kelompok lain. Bila ini terjadi, biarkan
saja. Jangan langsung turun tangan. Katakan atau perlihatkan Anda
masih harus menyiapkan sesuatu dan akan bersama mereka
sebentar lagi, dan biarkan mereka memecahkan sendiri dulu
persoalan mereka. Pada saat itulah, ketika peserta mencoba
mengatasi sendiri masalah tersebut, sesungguhnya proses berpikir
mereka terjadi, dan menjadi baik.

Fak t or penduk ung

Bila tiba saatnya anda melaksanakan kegiatan pelatihan, ada
beberapa hal yang perlu Anda perhatikan yang kelihatannya sepele,
tetapi terbukti menjadi faktor yang menentukan keberhasilan
sebuah pelatihan. Pengalaman di banyak tempat telah membuktikan
bahwa meskipun sebuah kegiatan sudah didesain dengan baik,
pelaksanaannya sering teganggu, bahkan macet, karena salah satu
atau beberapa dari faktor-faktor penentu itu tidak begitu
mendapat perhatian. Apa saja yang perlu kita perhatikan dari setiap
faktor itu, untuk memastikan bahwa persiapan dan pelaksanaan
kegiatan kita nanti akan berjalan lancar dan sukses?

Tak ada gunanya
meratapi mestinya
bisa begini. Gantilah
air mata dengan
keringat untuk
membuatnya bisa
begitu.

(Denis Waitley)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
101
Ruangan:
Ruangan pertemuan atau pelatihan mempunyai peran yang sangat
penting untuk membuat sebuah pertemuan atau kegiatan bisa
berlangsung partisipatif. Dalam banyak kasus, seorang fasilitator
sering mendapatkan ruangan yang tidak sesuai dengan yang ia
inginkan. Bisa saja ia diberi ruangan dengan perabotan yang tak bisa
diubah susunannya, seperti ruangan teater, atau ruang rapat. Bila
lebih beruntung, mungkin ia dipinjami ruang kelas dengan perabot
yang bisa dipindah-pindahkan. Mungkin juga yang ada hanya kursi,
tanpa meja. Bahkan tanpa perabot sama sekali. Bila fasilitator itu
adalah Anda, Anda harus siap menerima keadaan yang bagaimana-
pun, dan berusaha sebaik mungkin memanfaatkannya. Beberapa
pertanyaan mendasar yang perlu Anda pertimbangkan antara lain :
Berapa besar ruangannya? Apakah cukup leluasa untuk ruang
gerak semua peserta? Idealnya Anda gunakan ruangan yang
cukup lapang dan tidak terganggu oleh tonggak atau pilar di
tengahnya.
Bagaimana denah susunan tempat duduk yang akan memberi-
kan suasana akrab dan tidak kaku? Apakah akan diperlukan
meja?
Berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa berguna bagi Anda
dalam rangka memanfaatkan ruangan yang ada :
Bila yang ada adalah ruangan dengan model teater, ceramah
adalah salah satu kemungkinan metode yang dapat Anda
gunakan. Supaya tidak monoton, dan untuk mengatasi kekaku-
an yang ditimbulkannya, Anda bisa gabungkan dengan tanya
jawab. Supaya prosesnya tetap bisa partisipatif, Anda bisa
mengakali keterbatasan gerak peserta dengan meminta mereka
duduk saling berhadapan per baris. LGSP pernah mencoba
cara ini ketika memfasilitasi sebuah lokakarya di ruang rapat
DPRD Kabupaten Pinrang.


Bila yang ada adalah ruang rapat yang meja kursinya tidak bisa
dipindah-pindahkan, Anda bisa mengurangi suasana kaku yang
ditimbulkannya dengan menyelingi ceramah dengan beberapa
bab buzz group, yaitu membentuk pasangan atau kelompok
kecil di sekeliling meja (masing-masing dua atau tiga orang) dan
meminta mereka mendiskusikan topik tertentu dengan cepat.

Jadilah bambu. Jangan
jadi pisang.
Daunnya lebar membuat
anaknya tidak kebagian
sinar matahari. Bambu
lain: rela telanjang asal
anaknya, rebung,
pakaiannya lengkap.

(Nurcholis Madjid)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
102








Susunan ruangan dengan bentuk huruf U sudah biasa kita kenal.
Susunan seperti ini memungkinkan peserta saling berhadapan,
dan memberi ruang gerak yang lebih leluasa bagi fasilitator.

























Bila jumlah peserta banyak, Anda bisa memodifikasi susunan
huruf U menjadi U dobel,








Bentuk U dobel
Kelemahan terbesar
kita adalah mudah
menyerah. Cara yang
pasti untuk berhasil
adalah mencoba
sekali lagi

(Thomas Edison)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
103

Bisa juga berbentuk tulang ikan.













Bila tersedia ruangan cukup besar dengan meja kursi yang
dapat dipindah-pindahkan, Anda bisa membuat berbagai
kemungkinan susunan, yang memungkinkan Anda menerapkan
metode diskusi dan kerja kelompok.













Bila jumlah peserta tidak terlalu banyak dan Anda punya ruangan
cukup luas, dan ingin menggunakan metode yang lebih banyak
menuntut interaksi dalam kelompok kecil, susunannya bisa dibuat
seperti terlihat di halaman berikut.











Bentuk kelas bersudut
Bentuk banquet
Bentuk tulang ikan
"Cinta tak lain dari
sumber kekuatan
tanpa bendungan
bisa mengubah,
menghancurkan atau
meniadakan,
membangun atau
menggalang.

(Pramoedya Ananta
Toer,
Bumi Manusia)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
104




















Bila tidak ada meja, kursipun bisa disusun dengan berbagai
bentuk, tergantung pada metode yang akan Anda gunakan.

























Bentuk segitiga
Hidup yang
bahagia adalah
sekumpulan
kenangan yang
menyenangkan

(Denis Waitley)
Memanfaatkan sudut meja
Contoh penataan ruangan tanpa meja - acara LGSP di


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
105

Kemungkinan lain adalah, tanpa meja, hanya kursi, digabungkan
dengan tikar atau karpet, seperti contoh di bawah ini.

























Kita juga bisa tidak memanfaatkan meja atau kursi sama sekali.
Peserta duduk di lantai, bersandar ke dinding, atau
berkelompok. Umpamanya seperti contoh-contoh di bawah ini.

LGSP sering menggunakan pendekatan ini, yang ternyata sangat
efektif untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetaraan
diantara peserta. Di bawah ini dan di halaman berikut beberapa
contoh fotonya.










Acara LGSP-HSP di Bogor. Pertemuan masyarakat pengungsi di Aceh.
Contoh penataan ruangan tanpa meja, dikombinasikan dengan
tikar/karpet - acara LGSP di Batu.
Saya berharap
orang-orang
akan mencintai
orang-orang lain
seperti mereka
mencintai saya.

(Muhammad Ali)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
106



Wak t u:
Pengelolaan waktu sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan
kegiatan yang kita desain. Keterbatasan waktu seringkali dijadikan
kambing hitam ketika sebuah pertemuan berlangsung kurang
sempurna. Supaya tidak terjadi hal seperti itu, kita sangat perlu
memperhitungkan dan mengelolanya. Kita dapat mengajukan
beberapa pertanyaan untuk memastikan bahwa pengelolaan waktu
kita berjalan efisien, seperti :
Berapa lama waktu yang tersedia dari Anda menyiapkan desain
kegiatan, sampai ke waktu penyelenggaraannya?
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan
bahan-bahan dan alat bantu yang diperlukan untuk kegiatan ini?
Apa saja bahan-bahan yang perlu disiapkan itu? Sebaiknya anda
buat daftarnya, dan dijadwalkan kapan akan menyiapkannya.
Bila waktu persiapan cukup sempit, siapa saja yang dapat anda
mintai bantuan untuk mempersiapkannya?

Kemer i ahan:
Sebuah kegiatan partisipatif seyogiyanya menghasilkan suatu atau
beberapa produk. Peserta yang menghasilkannya akan merasa
dihargai dan lebih bersemangat bila hasil karyanya itu diterima
dengan meriah. Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk
memeriahkannya. Yang biasa kita lihat adalah, bila sebuah
Kita
membantu
orang menjadi
lebih baik,
dengan begitu
kita akan
menciptakan
dunia yang
lebih baik
pula.

(Eva Burrows)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
107
kelompok selesai mempresentasikan hasil kerja kelompoknya,
peserta lain memberinya tepuk tangan. Tepuk tangan pun bisa
dibuat berbeda. Umpamanya tepuk tangan pramuka. Atau tepuk
tangan tiga kali, disambung tepuk paha tiga kali, ditutup dengan yel-
yel nama kelompok (umpamanya kelompok tiga). Sehingga tepuk
tangannya akan berbunyi : plok plok plok, duk duk duk, TIIIGA
(meneriakkannya sambil mengacungkan tangan).















Kemungkinan lain adalah bernyanyi. Bila dilakukan pada saat yang
tepat, akan terasa berbeda. Pernahkan Anda mengajak semua
peserta bernyanyi bersama? Atau meminta mereka menciptakan
lagu untuk menjelaskan ide mereka? Atau menari? Anda juga dapat
menggunakan berbagai alat bantu, seperti ketipung, gong, lonceng,
balon, dan sebagainya.

Itu tadi tentang memberi kemeriahan di dalam atau selama proses
kegiatan. Tak kalah pentingnya adalah kemeriahan di akhir kegiatan
yang Anda fasilitasi, yakni di bab pentutup. Pada kebanyakan
pelatihan, bab terakhir ini biasanya hanya diisi dengan hal-hal yang
rutin dan biasa-biasa saja, seperti mengisi lembar evaluasi, meminta
umpan balik dari peserta, lalu diakhiri pidato penutupan. Anda
dapat membuat penutupan kegiatan Anda menjadi jauh lebih
berkesan, bahkan menjadi puncak kemeriahan yang tak kan
terlupakan bagi peserta. Kuncinya, libatkan mereka. Mereka akan
antusias mempersiapkannya. Berikanlah hanya rambu-rambu, dan
biarkan mereka memikirkan dan menciptakan isinya. Umpamanya
meminta peserta bertukar cindera mata. Banyak fasilitator yang
pernah melakukan cara ini, dan hasilnya luar biasa. Ada peserta
yang menggambar wajah teman, menggubah puisi, mengguratkan
lukisan, membuat simbol, untuk menggambarkan perasaannya
terhadap teman rahasianya. Contoh lain adalah meminta peserta
mempersiapkan suatu pertunjukan untuk acara penutupan.

Fasilitator daerah HSP bergembira dalam sebuah lokakarya
yang difasilitasi LGSP.
Dengan
menyadari
potensi diri
dan
kepercayaan
diri,
seseorang
dapat
mengubah
dunia.

(Dalai Lama)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
108
Pengalaman LGSP di lapangan menunjukkan, bahwa meskipun
peserta kegiatan yang difasilitasi LGSP adalah orang dewasa,
bahkan kadang-kadang ada juga pejabat, mereka dapat larut dan
sangat menikmati aktifitas-aktifitas semacam ini, selama dilakukan
dengan tepat. Kelihatannya hal ini sangat sepele, tetapi bila dikelola
dengan baik, dapat menambah keutuhan kemeriahan acara Anda
secara keseluruhan.

Nah, apa yang akan Anda lakukan untuk membuat suasana kegiatan
Anda meriah?

Pr oduk :
Mendokumentasikan hasil atau produk dari suatu kegiatan
merupakan pekerjaan yang sering terlupakan, terutama bila
kegiatan itu adalah sebuah pelatihan. Kita biasanya berpikir, ah, ini
kan hanya sekedar latihan. Tidak perlu direkam. Tapi dalam banyak
contoh kasus, beberapa lama setelah sebuah kegiatan berakhir,
orang-orang yang terlibat ingat pernah menghasilkan sesuatu dalam
kegiatan itu, entah definisi-definisi, rumusan tujuan yang unik,
sebuah alur kerja, sebuah kesepakatan, atau hasil lainnya.
Tetapi ketika diperlukan, mereka tidak punya catatan, rekaman,
atau bentuk nyata dari produk-produk yang mereka hasilkan
tersebut. Karena itu, sangat disarankan Anda merekam atau
mendokumentasikan produk-produk yang akan dihasilkan dari
kegiatan yang Anda desain. Ada berbagai kemungkinan cara yang
dapat Anda gunakan untuk mendokumentasikannya. Bisa langsung
diketik di komputer dan ditayangkan ketika membahasnya (live
show), bisa juga dengan mencatat keseluruhan proses (proceeding),
atau direkam dalam video atau kaset audio. Mungkin Anda punya
cara pedokumentasian sendiri?

Gaya:
Gaya atau style Anda mengelola dan memfasilitasi termasuk faktor
yang dapat mempengaruhi suasana selama kegiatan itu, dan
menentukan keberhasilan kegiatan Anda nanti. Suasana yang
bagaimana yang Anda inginkan dirasakan peserta selama pelatihan?
Apakah suasana yang formal, yang resmi, atau lebih santai? LGSP
pernah mengalami, dalam suatu kegiatan, beberapa peserta datang
pada hari kedua dengan pakaian lebih santai, karena merasa baju
dinas yang mereka pakai pada hari pertama terasa tidak cocok
dengan suasana kegiatan waktu itu.

Beberapa hal yang termasuk dalam gaya ini antara lain :
Cara Anda menyapa peserta : kata saudara atau Anda akan
terkesan lebih resmi dibandingkan dengan sapaan dengan nama,
seperti Pak Ali, Bu Siti.
Cara terbaik
untuk
memprediksi
masa depan
ialah dengan
menciptakannya.


(Peter F. Drucker)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
109

Air muka : wajah yang senantiasa tersenyum akan langsung
menimbulkan kesan akrab, sedangkan air muka yang selalu
serius akan menimbulkan jarak dengan peserta.
Sikap: Berdiri terpaku di depan kelas dengan sikap tubuh selalu
tegak dan kepala mendongak akan terkesan angkuh, membuat
suasana kaku dan menimbulkan jarak dengan peserta. Sekali-
sekali berjalan mendekati peserta, atau kadang-kadang
membungkuk, menatap mata mereka ketika mendengarkannya,
akan memberi kesan lebih akrab.
Metode yang Anda gunakan: metode ceramah yang terus
menerus dalam sehari akan memberikan kesan sangat resmi
juga, disamping sangat melelahkan. Metode-metode yang
partisipatif, yang memungkinkan peserta bebas bergerak, tidak
terpaku terus di tempat duduknya, akan membuat suasana jauh
lebih hidup.
Hal-hal lain yang dapat Anda tambahkan, berdasarkan
pengalaman Anda.

Di bawah ini terdapat contoh alat bantu yang dapat Anda gunakan
untuk memeriksa faktor-faktor pendukung ini. Catatlah hal-hal
yang perlu dari setiap faktor pendukung tersebut agar tidak ada
yang terlewatkan. Mungkin saja dari pengalaman Anda, Anda
merasa ada faktor lain yang juga penting yang perlu
dipertimbangkan. Silahkan ditambahkan.












Ci r i Kegi at an Par t i si pat i f

Jika Anda ingin mengetahui apakah pelatihan Anda cukup efektif
dan partisipatif atau tidak, periksalah apakah kegiatan itu memenuhi
kriteria berikut ini :

1. Memenuhi harapan peserta.
2. Yang hadir memenuhi syarat untuk menjadi fasilitator.
3. Tujuan kegiatan dan bab-babnya jelas dan diketahui bersama.
4. Prosesnya mudah diikuti, dan dipahami peserta dengan jelas.
Fak t or l ai n
Anda tidak akan
dapat mengubah
realitas dengan
memeranginya.
Lebih baik
menciptakan
model baru untuk
menggusur yang
lama .

(R. Buckminster
Fuller)
Faktor Pendukung


Ruangan Waktu Kemeriahan Produk Gaya
Seperti apa
ruangan-nya?
Bagaimana
susunan tempat
duduk
Berapa lama waktu
yg tersedia? Apa
yang perlu
dipersiap-kan
Apa hasil/ capaian
yg perlu dirayakan?
Bagaimana
merayakannya?
Apa keputusan
2/kesepakatan 2 yg
perlu
didokumentasikan?
Gaya/suasana yg
bagaimana yg akan
menyenangkan bagi
peserta
Faktor
lainnya

Kegiatan:


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
110
5. Alokasi waktu yang cukup untuk setiap bab.
6. Metode yang digunakan sesuai dengan tingkat kesulitan teknis.
7. Anda sendiri sebagai pelatih yang fasilitatif terampil memandu
seluruh proses.
8. Perlengkapan dan materi cukup.

Adakah kriteria lain yang Anda rasa perlu dimasukkan? Silahkan
ditambahkan.


Kenal i Di r i Anda Sendi r i

Di awal pelatihan, Anda telah berusaha mengenal peserta pelatihan
Anda. Apakah Anda juga telah mengenal diri Anda sendiri?
Menguasai ilmu fasilitasi dan mengantisipasi faktor-faktor yang
menentukan keberhasilan proses fasilitasi tidak menjamin Anda
mampu melatih orang lain menjadi fasilitator yang efekif. Ada
beberapa bidang kompetensi yang harus Anda kuasai agar bisa
menjadi pelatih yang efektif, yaitu:

Yang pertama dan terpenting, para profesional yang
bergerak di bidang pelatihan harus memiliki orientasi bisnis.
Mereka harus mementingkan adanya peningkatan kinerja
dan fokus pada bisnis outcome.
Para profesional yang bergerak di bidang pelatihan harus
mampu melihat dan mengakui jika memang pelatihan
bukanlah solusi yang tepat untuk suatu masalah.
Agar berhasil di berbagai lingkungan yang berbeda, para
pelatih harus segera mampu menyesuaikan diri dalam
berkomunikasi dengan orang lain dan beradaptasi dengan
beragam golongan, budaya dan situasi.
Mereka yang bertanggungjawab untuk melatih orang lain
dalam sebuah lokakarya/pelatihan harus mengembangkan
dan menguasai beragam keterampilan melatih. Pelatih
profesional yang sejati menghabiskan seluruh hidupnya
memperbaiki hasil karyanya dan menyempurnakan
keterampilannya, mempelajari metode-metode baru, dan
terus memantau perkembangan berbagai tren, konsep, dan
aplikasi terkini yang terjadi di lapangan.

Selama bertahun-tahun, penelitian di bidang pendidikan telah
mengidentifikasi karakteristik personal dan profesional serta hal-
hal khusus yang terkait dengan pengajaran yang baik. Hal-hal
khusus tersebut dapat juga dijabarkan lebih lanjut. Anda dapat
menggunakan daftar periksa berikut untuk mengidentifikasi
karakteristik yang diperlukan dalam peran Anda sebagai seorang
Apa yang
diinginkan
rakyat
sangatlah
sederhana,
mereka ingin
mendapatkan
apa yang
telah
dijanjikan.

(Barbara
Jordan)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
111
pelatih. Cantumkan tanda cek pada bagian yang paling
menggambarkan diri Anda.

Penguasaan subyek Punya selera humor
Sungguh-sungguh Menggunakan beragam metode
Disiapkan secara baik Ramah; mudah akrab
Berorientasi pada tujuan Cerdas dan bijaksana
Tenang, berwibawa Kualitas suara yang bagus
Berpenampilan profesional Bersemangat
Mampu mengaitkan materi
pelatihan dengan situasi
peserta
Pendengar yang baik
Sabar Konsep diri yang positif
Fleksibel, spontanius Jujur dan terbuka
Bersikap positif Berorientasi pada peserta
Dapat dipercaya Menghormati peserta
Mampu berhubungan dengan
semua orang dari semua
tingkatan
Emosi yang stabil
Obyektif Mampu melakukan diagnostik
Empati dan pengertian Pembimbing dan penasehat
Artikulatif


Daftar di atas adalah alat untuk mengetahui kompetensi mana yang
telah Anda miliki. Seperti Anda lihat, ia hanyalah sebuah daftar.
Untuk bisa menjadi fasilitator yang efektif dan terus menerus
meningkatkan diri, meguasai kompetensi pada daftar itu saja
belumlah cukup. Sesungguhnya kita memulainya dengan bertanya
pada diri sendiri : Siapa sesungguhnya saya sebagai seorang
fasilitator?, dan Bagaimana tindakan saya dapat mencerminkan
sikap dan kepercayaan saya?. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu
sesungguhnya telah menyentuh inti kecerdasan emosional.

Dengan kecerdasan emosional, kita akan senantiasa sadar akan
pikiran dan perasaan kita yang terdalam selama memimpin proses
kegiatan. Dengan mendengarkan suara hati, kita akan mampu
secara terus menerus membaca suasana, dan tanggap atas tanda-
tanda verbal dan non verbal yang diperlihatkan peserta, yang
merupakan wujud dari perasaan mereka. Jika sebagai fasilitator kita
memiliki kecerdasan emosional, kita akan terhindar dari sifat tak
peduli, dan menjauhi tindakan yang mekanis dan merobot.
Mengapa? Karena kita melihat peserta kita dengan mata hati, bukan
sekedar dengan mata kepala. Semakin mampu kita mengelola
pikiran-pikiran terdalam dan perasaan kita, semakin hadir kita
untuk memfasilitasi proses suatu kegiatan.
Sukses tidak
berarti tanpa
kegagalan; sukses
berarti pencapaian
tujuan akhir;
berarti menang
perang, bukannya
menang tiap-tiap
laga

(Edwin C. Bliss)


Fasilitasi yang Efektif
Buku Pegangan Fasilitator
112
Kenal i hat i mer ek a

Begitu kita mampu mengenali bagian terdalam dari diri kita
sendiri, maka terbukalah jalan bagi kita untuk lebih mengenal
perasaan peserta. Dulu orang beranggapan bahwa agar seorang
fasilitator dapat merebut perasaan peserta, ia haruslah me-
rengkuhnya dulu secara intelektual. Kini sebaliknya, kita percaya
bahwa untuk dapat merebut perhatian peserta, kita haruslah dapat
menyentuh perasaannya, memenangkan hatinya lebih dulu.

Untuk dapat melibatkan perasaan peserta, kita perlu mengenali
lebih dulu berbagai dimensi kecerdasan emosional. Daniel
Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence mengatakan bahwa
kecerdasan emosional sesungguhnya lebih tinggi dari kecerdasan
intelektual. Ia mempunyai 5 dimensi :
Tahu diri : menyadari perasaan kita sendiri.
Kontrol diri : mengontrol perasaan kita sendiri.
Empati : melihat dan mengenali perasaan orang lain.
Keterampilan sosial : membangun hubungan dan
memfasilitasi interaksi.
Motivasi diri : mampu memotivasi diri sendiri.

Bagaimana menerapkan kelimanya ketika kita berusaha mengenal
peserta kita?

Tahu di r i :
Beri peluang pada peserta untuk merenung, memahami knflik-
konflik internal dalam dirinya, mengenali dan memilah-milah
perasaannya sendiri. Ingatkan mereka untuk memikirkan
pemikirannya sendiri. Rob Abernathy dan Mark Reardon
menyebutnya metacognition. Ajak peserta mendengarkan
pemikirannya sendiri dan belajar dari situ.

Kont r ol di r i :
Pertama, kontrollah terlebih dahulu perasaan Anda sendiri. Bagi
Anda dan peserta yang seperti Anda, ini berarti mempertajam
kemampuan mengontrol kebiasaan-kebiasaan yang impulsif,
menunda-nunda terima kasih, dan menginterupsi perasaan yang
sedang bergejolak.

Empat i :
Artinya, belajar berada dipihak orang lain, berpikir seperti mereka,
dan menjalankan peran mereka. Strategi yang akan dapat mengikat
kita antara lain menafsirkan tanda-tanda (bahasa) non verbal, serta
mengenali dan membedakan perasaan-perasaan orang lain.
Saya bukan
pembebas.
Pembebas tidak
pernah eksis.
Rakyat
membebaskan
dirinya sendiri .

(Ernesto Che
Guevara)


Buku Pegangan Fasilitator
Fasilitasi yang Efektif
113


Ket er ampi l an sosi al :
Memberi contoh kepemimpinan yang aktif dan sukses dalam
mencapai tujuan.Memperlihatkan persahabatan sejati dan
mendengarkan secara efektif. Aspek kunci pada keterampilan sosial
ini adalah kemampuan mengelola konflik kapanpun ia muncul.

Mot i vasi di r i :
Anda bersama peserta Anda dapat memulainya dengan
menyepakati tujuan-tujuan workshop yang dapat dicapai. Caranya
dengan menganalisis tugas dan memecahnya menjadi bagian-bagian
yang dapat dikerjakan (doable). Akhirnya, memfasilitasi adalah
segala yang berkaitan dengan hubungan manusia, tentang
kemampuan memimpin dan mengarahkan orang lain menuju tujuan
yang diinginkan.

Selamat melatih dengan partisipatif

Ucapkanlah
sampai jumpa
bukannya
selamat
tinggal.

(Harry Kennedy)