Anda di halaman 1dari 2

4.

PATOMEKANISME KEMATIAN AKIBAT GANTUNG DIRI


Penggantungan menyebabkan kematian dengan beberapa mekanisme yang bisa
berlansung bersamaan. Pada setiap kasus penggantungan beberapa kondisi di bawah akan
terjadi.
13
1. Arteri karotis tersumbat
2. Vena jugularis tersumbat
3. Memicu refleks karotis
. !raktur "ertebra ser"ikal
#. Menutupnya jalan nafas
$aripada kondisi di atas% dapat disimpulkan kematian pada korban penggantungan
yang terdiri dari empat penyebab yaitu&
1. Asfiksia
2. 'skemi otak
3. (efleks "agus
. )erusakan medulla oblongata
)ematian segera akibat dari penggantungan dapat muncul akibat dari beberapa
mekanisme. Penekanan pada ganglion saraf arteri karotis oleh tali yang melingkar pada leher
korban dapat menyebabkan carotid body reflex *refleks "agus+ sehingga memicu perlambatan
denyut jantung. Perlahan,perlahan terjadi aritmia jantung sehingga terakhir korban mati
dengan cardiac arrest. -amun mekanisme kematian ini jarang didapatkan karena untuk
menimbulkan refleks karotis% tekanan lansung yang kuat harus diberikan pada area khusus di
mana carotid body berada. .al ini sukar dipastikan. /ebagai tambahan refleks karotis juga
dapat dimunculkan biar pun tanpa penggantungan.
13%1
0ekanan pada "ena jugularis juga bisa menyebabkan kematian korban penggantungan
dengan mekanisme asfiksia. )ebanyakan kasus penggantungan bunuh diri mempunyai
mekanisme kematian seperti ini. /eperti yang diketahui% "ena jugularis membawa darah dari
otak ke jantung untuk sirkulasi. Pada penggantungan sering terjadi penekanan pada "ena
jugularis oleh tali yang menggantung korban. 0ekanan ini seolah,olah membuat jalan yang
dilewati darah untuk kembali ke jantung dari otak tersumbat. 1bstruksi total maupun parsial
secara perlahan,lahan dapat menyebabkan kongesti pada pembuluh darah otak. $arah tetap
mengalir dari jantung ke otak tetapi darah dari otak tidak bisa mengalir keluar. Akhirnya%
terjadilah penumpukan darah di pembuluh darah otak. )eadaan ini menyebabkan suplai
oksigen ke otak berkurang dan korban seterusnya tidak sadarkan diri. )emudian% terjadilah
depresi pusat nafas dan korban mati akibat asfiksia. 0ekanan yang diperlukan untuk terjadinya
mekanisme ini tidak penting tetapi durasi lamanya tekanan diberikan pada leher oleh tali yang
menggantung korban yang menyebabkan mekanisme tersebut. )etidaksadaran korban
mengambil waktu yang lama sebelum terjadinya depresi pusat nafas. /ecara keseluruhan%
mekanisme ini tidak menyakitkan sehingga disalahgunakan oleh pria untuk memuaskan nafsu
seksual mereka *autoerotic sexual asphyxia+. Pada mekanisme ini% korban akan menunjukkan
gejala sianosis. 2ajahnya membiru dan sedikit membengkak. Muncul peteki di wajah dan
mata akibat dari pecahnya kapiler darah karena tekanan yang lama. $idapatkan lidah yang
menjulur keluar pada pemeriksan luar.
3%13%1
1bstruksi arteri karotis terjadi akibat dari penekanan yang lebih besar. .al ini karena
secara anatomis% arteri karotis berada lebih dalam dari "ena jugularis. 1leh hal yang
demikian% obstruksi arteri karotis jarang ditemukan pada kasus bunuh diri dengan
penggantungan. 4iasanya korban mati karena tekanan yang lebih besar% misalnya dicekik atau
pada penjeratan. Pada pemeriksaan dalam turut ditemukan jejas pada jaringan lunak sekitar
arteri karotis akibat tekanan yang besar ini. 0ekanan ini menyebabkan aliran darah ke otak
tersumbat. )urangnya suplai darah ke otak menyebabkan korban tidak sadar diri dan depresi
pusat nafas sehingga kematian terjadi. Pada mekanisme ini% hanya ditemukan wajah yang
sianosis tetapi tidak ada peteki.
2%13%1
!raktur "ertebra ser"ikal dapat menimbulkan kematian pada penggantungan dengan
mekanisme asfiksia atau dekapitasi. )ejadian ini biasa terjadi pada hukuman gantung atau
korban penggantungan yang dilepaskan dari tempat tinggi. /ering terjadi fraktur atau cedera
pada "ertebra ser"ikal 1 dan ser"ikal 2 *aksis dan atlas+ atau lebih dikenali sebagai 5hangman
fracture6. !raktur atau dislokasi "ertebra ser"ikal akan menekan medulla oblongata sehingga
terjadi depresi pusat nafas dan korban meninggal karena henti nafas.
13
Asfiksia bisa juga terjadi akibat dari tertutupnya jalan nafas. )ondisi ini terjadi setelah
korban tidak sadar dan tidak ada usaha untuk bernafas. Akhirnya% korban mati. 7ambaran
klasik asfiksia termasuk&
1#
1. kongesti pada wajah
kulit tampak kemerahan pada wajah dan kepala akibat hambatan aliran kembali "ena ke
jantung oleh kompresi leher
2. edema pada wajah
pembengkakan jaringan akibat transudasi cairan dari "ena akibat peningkatan "ena hasil
obstruksi aliran kembali "ena ke jantung
3. sianosis pada wajah
warna biru pada kulit akibat adanya darah terdeoksigenasi dalam sistem "ena yang terkongesti
serta kadang,kadang turut melibatkan sistem arteri.
. peteki pada kulit wajah dan mata
perdarahan halus sebesar ujung jarum la8im ditemukan di wajah dan sekitar kelopak mata
selain pada konjunkti"a dan sklera akibat darah bocor dari "ena kecil yang mengalami
peningkatan tekanan. )eadaan ini diduga akibat hipoksia dinding pembuluh darah namun
belum terbukti pasti. Peteki bukan tanda diagnostik asfiksia karena dapat ditemukan pada
keadaan batuk atau bersin yang terlampau keras. .al yang terkait peteki wajah adalah peteki
"isceral yang disebut 5Tardieu spots6 yang sebelumnya dianggap tanda khas asfiksia kini
sudah terbukti bukan tanda terjadinya obstruksi pernapasan.