Anda di halaman 1dari 13

Universitas Andalas

Program Studi Agribisnis


1
STRATEGI PEMASARAN UNTUK MENINGKATKAN VOLUME
PENJUALAN PADA USAHA KOPI BUBUK RANTAU PUTERA
Ikhlash (0810221043)
Pembimbing : Ir. Yusri Usman, M.S dan Widya Fitriana, S.P. M.Si
Abstrak
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Juli 2012, bertujuan untuk
mendeskripsikan faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi penjualan kopi bubuk
Rantau Putera dan merumuskan strategi pemasaran yang akan diterapkan oleh usaha kopi bubuk
Rantau Putera untuk meningkatkan volume penjualannya.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Data yang dikumpulkan adalah data
primer dan sekunder. Sampel pedagang pengecer terdiri dari 3 orang di Kabupaten Padang
Pariaman dan 1 orang di Kota Padang Panjang. Pengambilan sampel untuk konsumen akhir
dilakukan secara Accidental Sampling yang terpilih sebanyak 15 orang di Kabupaten Padang
Pariaman dan 15 orang di Kota Padang Panjang. Sampel pesaing diambil yang memasarkan kopi
bubuk pada wilayah pemasaran yang sama dengan usaha kopi bubuk Rantau Putera sehingga
terpilihlah 2 pesaing, yaitu usaha kopi bubuk Mak Aciak dan usaha kopi bubuk Jempol. Faktor-
faktor yang mempengaruhi penjualan kopi bubuk Rantau Putera terdiri dari faktor internal, yaitu
1) produk menggunakan bahan baku yang berkualitas, 2) tersedia kemasan sachet yang praktis,
3) kemasan sudah dilengkapi label halal dalam tulisan Arab, 4) adanya pemberian bonus untuk
pembelian dalam jumlah tertentu, 5) promosi melalui media masih dilakukan pada waktu-waktu
tertentu saja, 6) usaha belum memiliki tenaga khusus bagian pemasaran, 7) peralatan produksi
yang sering rusak, dan 8) kadar logam pada produk yang cukup tinggi. Faktor eksternal yang
mempengaruhi, yaitu 1) masih terdapat lokasi distribusi yang dapat dimasuki, 2) bahan baku
yang selalu tersedia, 3) adanya peningkatan penjualan pada saat libur dan lebaran, 4) harga
produk salah satu pesaing lebih murah, 5) kemasan salah satu pesaing lebih menarik, dan 6)
salah satu pesaing sudah memiliki tenaga khusus bagian pemasaran.
Strategi yang bisa diterima oleh usaha kopi bubuk Rantau Putera, yaitu memperluas
daerah distribusi untuk daerah-daerah pemasaran yang belum dimasuki, mengganti peralatan
penyangraian dengan alat yang terbuat dari stainless steel, mengganti media promosi dengan
menggunakan pamflet dan brosur atau memasang iklan di koran, mengikuti pameran dan bazar
baik di Kota Padang Panjang maupun di luar Kota Padang Panjang, dan memperbaiki kemasan
menjadi lebih menarik dan memenuhi standar untuk dijual di swalayan dan minimarket.
Kata Kunci : Kopi Bubuk Rantau Putera, Penjualan, dan Strategi Pemasaran
Pendahuluan
Agroindustri adalah industri yang berbahan
baku utama dari produk pertanian dimana lebih
menekankan pada food processing management
dalam suatu perusahaan produk olahan yang
bahan baku utamanya adalah produk pertanian
atau dapat diartikan sebagai suatu tahapan
pembangunan sebagai kelanjutan dari
pembangunan pertanian, tetapi sebelum tahapan
pembangunan tersebut mencapai tahapan
pembangunan industri (Soekartawi, 2010).
Industri kecil merupakan bagian integral
dunia usaha yang mempunyai kedudukan,
potensi dan peranan yang sangat penting dalam
mewujudkan tujuan pembangunan nasional.
Program pembangunan Industri di Sumatera
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
2
Barat telah diarahkan untuk mendorong
pertumbuhan agroindustri berskala usaha kecil
dan menengah dengan mengoptimalkan sumber
daya yang tersedia di daerah sampai kepedesaan
sehingga dapat menyerap tenaga kerja setempat
atau berdampak positif terhadap pembangunan
program industri padat modal dan padat karya
(Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera
Barat, 2010).
Menurut Kotler dan Amstrong (2001),
pemasaran merupakan suatu proses sosial yang
di dalamnya individu atau kelompok
mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan
inginkan dengan menciptakan, menawarkan
secara bebas mempertukarkan produk yang
bernilai kepada pihak lain. Sedangkan strategi
menurut Gitosudarmo (2001), merupakan
pedoman arah kebijakan yang sesuai dengan
kondisi kekuatan dan kelemahan usaha. Lebih
realistik lagi strategi suatu usaha adalah rencana
kegiatan untuk mencapai tujuan dengan
memperhatikan keterbatasan faktor-faktor
produksinya, perubahan lingkungan, dan
persaingan.
Ada beberapa perkembangan situasi yang
mungkin akan memacu suatu perusahaan
melakukan strategi pemasaran yang baru, yaitu :
1) penurunan penjualan, 2) pertumbuhan yang
lamban, 3) pola beli yang berubah-ubah, 4)
peningkatan persaingan, dan 5) meningkatknya
pengeluaran untuk pemasaran (Kotler, 1994).
Menurut Kotler dan Amstrong (2001), dalam
implementasinya perusahaan menggunakan
serangkaian alat dalam bidang pemasaran yang
digunakan dalam pengambilan keputusan yang
dikenal dengan bauran pemasaran. Bauran
pemasaran sangat penting dan dapat digunakan
dalam menganalisis kasus-kasus pemasaran
praktis guna mencapai tujuan pemasaran di pasar
sasaran.
Kopi merupakan salah satu hasil
perkebunan yang memegang peranan penting
dalam pembangunan agroindustri. Khusus di
Sumatera Barat produksi kopi pada tahun 2009
mencapai 37.991 ton dan pada tahun 2010
mencapai 37.621,2 ton (Antara, 2011). Semakin
banyaknya industri pengolahan kopi yang berdiri
di Sumatera Barat khususnya Kota Padang
Panjang, membuat masing-masing industri
memiliki cara tersendiri untuk dapat bersaing
dengan industri lainnya. Semakin kuatnya
persaingan tersebut, di pasar ditemukan beberapa
pilihan merek untuk satu jenis produk kopi
bubuk. Sehingga konsumen memiliki banyak
alternatif untuk membeli produk yang
diinginkannya.
Usaha kopi bubuk Rantau Putera
merupakan salah satu UKM (Usaha Kecil
Menengah) yang memiliki tenaga kerja sebanyak
4 orang (tiga orang laki-laki dan satu orang
perempuan), mengolah bahan baku hasil
pertanian berupa biji kopi menjadi kopi bubuk,
yang berada di Kota Padang Panjang. penjualan
yang dicapai oleh UKM kopi Rantau Putera
sekitar 400 kg kopi bubuk/bulan. Untuk
pemasaran kopi bubuk menurut pemilik usaha,
kopi bubuk Rantau Putera memasarkan sekitar
50 % produknya di Kota Padang Panjang dan 50
% di Kabupaten Padang Pariaman.
Usaha ini dipimpin oleh Bapak Yusirwan
sejak tahun 1995, dimana dalam menjalankan
usahanya, usaha ini mengalami penurunan
penjualan sejak tahun 2007 sebesar 10,9 %
hingga tahun 2009 mencapai 26,6 %. Sedangkan
pada tahun 2010 kembali terjadi peningkatan
penjualan sebesar 19,32 %, namun pada tahun
2011 penjualannya kembali menurun sebesar
10,66 %.
Pada awalnya usaha kopi bubuk Rantau
Putera memasarkan kopi bubuknya ke tiga
daerah, yaitu Kota Padang Panjang, Kabupaten
Padang Pariaman, dan Kota Solok. Namun sejak
tahun 2006 pihak usaha tidak lagi memasarkan
produknya di Kota Solok, karena keuntungan
yang diperoleh usaha tidak dapat menutupi biaya
produksi, sehingga pihak usaha mengambil
keputusan untuk menghentikan distribusi kopi
bubuk ke Kota Solok.
Saat ini usaha kopi bubuk Rantau Putera
mengalami kesulitan dalam peralatan produksi,
seperti alat penggilingan yang sering rusak,
sehingga pihak usaha harus menggiling kopi ke
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
3
tempat lain. Alat penyangraian yang masih
terbuat dari bahan plat yang mengakibatkan
pihak usaha gagal mendapatkan SNI (Standar
Nasional Indonesia) dan kompor minyak pompa
yang selama ini digunakan untuk menyangrai
membutuhkan waktu yang lebih lama dalam
menyangrai serta biaya untuk bahan bakar
(minyak tanah) yang dikeluarkan juga besar.
harga jual kopi bubuk Rantau Putera sejak tahun
2008 belum pernah mengalami kenaikan, yaitu
sebesar Rp.48.000,00/kg.
Pihak usaha harus memiliki strategi
tersendiri dalam menghadapi hal tersebut untuk
mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam
menjalankan usahanya. Selain itu, untuk menarik
minat pelanggan pihak pemilik usaha kopi bubuk
Rantau Putera juga harus memperhatikan bauran
pemasaran yang terdiri dari harga, produk,
distribusi, dan promosi untuk meningkatkan
volume penjualan produknya. Pesaing
merupakan ancaman dari lingkungan eksternal
yang juga mempengaruhi usaha dalam menarik
minat pelanggan. Untuk itu, perlu ditetapkan
strategi pemasaran yang tepat untuk usaha kopi
bubuk Rantau Putera.
Konsep Pemasaran, Penjualan, dan Bauran
Pemasaran
Menurut Assauri (2002), konsep pemasaran
merupakan falsafah manajemen dalam bidang
pemasaran yang berorientasi pada kebutuhan dan
keinginan konsumen dengan didukung oleh
kegiatan pemasaran terpadu yang diarahkan
untuk memberikan kepuasan konsumen sebagai
kunci keberhasilan organisasi dalam usahanya
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Penjualan menurut Tjiptono (2007), adalah
kegiatan dimana titik beratnya hanya pada
produk saja tanpa ada analisis pasar, artinya
hanya memikirkan bagaimana produk dapat
terjual habis dan mendapatkan keuntungan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
penjualan antara lain : kualitas barang, selera
konsumen, servis terhadap pelanggan, dan
persaingan menetapkan harga jual. Sedangkan
kegiatan penjualan juga dipengaruhi oleh
beberapa hal, yaitu : kondisi dan kemampuan
penjual, kondisi pasar, modal, dan kondisi
organisai perusahaan (Swastha dan Soekotjo,
1999).
Menurut Kotler dan Amstrong (2001),
bauran pemasaran adalah perangkat pemasaran
taktis yang dapat dikendalikan, yang dipadukan
oleh perusahaan untuk menghasilkan respon
yang diinginkan dalam pasar sasaran. Bauran
pemasaran terdiri dari segala sesuatu yang dapat
dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi
permintaan produknya. Variabel bauran
pemasaran yang dapat digolongkan menjadi
empat kelompok dikenal sebagai 4P yang terdiri
atas :
1. Produk : segala sesuatu yang dapat
ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan
perhatian, dibeli, dipergunakan atau
dikonsumsi dan yang dapat memuaskan
keinginan atau kebutuhan.
2. Harga : sejumlah nilai yang ditukarkan oleh
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau
menggunakan produk atau jasa yang nilainya
ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui
tawar menawar atau ditetapkan oleh penjual
untuk satu harga yang sama terhadap semua
pembeli.
3. Distribusi : perangkat organisasi yang saling
tergantung dalam menyediakan suatu produk
atau jasa untuk digunakan atau dikonsumsi
oleh konsumen atau pengguna bisnis.
4. Promosi : usaha dari perusahaan untuk
mempengaruhi orang-orang agar mau
membeli produk mereka.
Konsep Strategi Pemasaran
Strategi adalah alat untuk mencapai tujuan
jangka panjang. strategi bisnis dapat mencakup
ekaspansi geografis, divirsifikasi, akuisisi,
pengembangan produk, penetrasi pasar,
pengulangan bisnis, divestasi, likuidasi, dan joint
venture (David, 2009). Sedangkan strategi
pemasaran menurut Kotler dan Amstrong (2001),
adalah pengambilan keputusan-keputusan
tentang biaya pemasaran, bauran pemasaran,
alokasi pemasaran dalam hubungan dengan
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
4
keadaan lingkungan yang diharapkan dan kondisi
persaingan.
Menurut Tjiptono (2007), strategi
pemasaran terdiri atas lima elemen yang saling
terkait, yaitu pemilihan pasar, perencanaan
produk, petetapan harga, sistem distribusi, dan
komunikasi pemasaran (promosi). Kemampuan
strategi pemasaran suatu perusahaan untuk
menanggapi setiap perubahan kondisi pasar dan
faktor biaya tergantung pada analisis terhadap
faktor-faktor lingkungan yang meliputi teknologi
dan gaya hidup, faktor pasar, dan permintaan
musiman serta faktor persaingan meliputi strategi
dan struktur biaya.
Konsep IFE (Internal Factor Evaluation), EFE
(Eksternal Factor Evaluation), dan Analisis
SWOT
IFE adalah alat formulasi strategi yang
meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan
kelemahan dalam area fungsional bisnis dan juga
memberikan dasar untuk mengidentifikasi dan
mengevaluasi hubungan area-area tersebut. Hasil
identifikasi faktor-faktor kekuatan dan
kelemahan, diberikan bobot yang berkisar dari
0,0 (tidak penting) hingga 1,0 (sangat penting).
Jumlah seluruh bobot harus sama dengan 1,0.
Kemudian berikan peringkat untuk masing-
masing faktor untuk mengidentifikasikan
apakah faktor tersebut menunjukkan kelemahan
utama (peringkat = 1), kelemahan minor
(peringkat = 2), kekuatan minor (peringkat = 3),
dan kekuatan utama (peringkat = 4). Kalikan
masing-masing faktor dengan peringkatnya
untuk menentukan nilai tertimbang suatu
organisasi (David, 2009).
EFE adalah alat untuk merangkum dan
mengevaluasi peluang dan ancaman, seperti
faktor informasi teknologi, persaingan, sosial,
budaya, demografi dan pemerintah. Faktor-faktor
tersebut kemudian diberikan bobot berkisar dari
0,0 (tidak penting) hingga 1,0 (sangat penting)
dengan jumlah bobot keseluruhan 1,0. Kemudian
berikan peringkat untuk masing-masing faktor
dimana peringkat 1 = respon jelek, peringkat 2 =
respon perusahaan rata-rata, peringkat 3 = respon
perusahaan di atas rata-rata, dan peringkat 4 =
respon perusahaan superior. Kalikan masing-
masing faktor dengan peringkatnya untuk
menentukan nilai tertimbang (David, 2009).
Matriks SWOT adalah alat untuk
mencocokkan yang penting yang membantu
manajer mengembangkan emapat strategi, yaitu
SO (strengths opportunities), WO (weaknesses
opportunities), WT (weaknesses threats), dan
ST (strengths threats). Data yang diperoleh
baik data lingkungan internal maupun eksternal
dianalisis yang dikelompokkan ke dalam
kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses),
peluang (opportunities), dan ancaman (threats).
Kemudian data tersebut dimasukkan ke dalam
matriks SWOT. Dari perpaduan antara kekuatan
dan kelemahan (S T), kelemahan dan peluang
(W O), kekuatan dan ancaman (S T), dan
kelemahan dan ancaman (W T) (David, 2009).
Profil Umum Usaha Kopi Bubuk Rantau
Putera
Usaha kopi bubuk Rantau Putera berada di
Jalan Soekarno Hatta No. 111 A Kota Padang
Panjang yang dipimpin oleh Bapak Yusirwan
sejak tahun 1995. Usaha ini merupakan usaha
turun-temurun yang pertama kali berdiri pada
tahun 1969. Usaha ini sudah terdaftar pada
Departemen Kesehatan RI dengan PIRT. No.
21013741039. Pada tahun 2010 telah
mendapatkan sertifikat halal dari MUI (Majelis
Ulama Indonesia) Sumatera Barat dengan No.
62.13/MUI-SBR:/103. Selain itu usaha kopi
bubuk Rantau Putera telah mendapatkan HAKI
(Hak Atas Kekayaan Intelektual) untuk merek
dagang Mai H. Rantau, pada saat pendaftaran
merek Rantau Putera tidak bisa didaftarkan
karena sudah ada usaha lain yang mendaftarkan
merek tersebut terlebih dahulu. Pada tahun 2012
usaha kopi bubuk Rantau Putera telah
mengajukan Standar Nasional Indonesia (SNI)
untuk produknya, tetapi gagal mendapatkan SNI
karena kandungan logam pada kopi bubuk
Rantau Putera mencapai 0,6 mg/kg, batas
maksimal kandungan logam untuk mendapatkan
SNI adalah 0,5 mg/kg. untuk itu usaha kopi
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
5
bubuk Rantau Putera sebaiknya mengganti alat
penyangraian yang terbuat dari stainless steel
dari yang sebelumnya terbuat dari plat.
Usaha kopi bubuk Rantau Putera memiliki
tenaga kerja sebanyak empat orang, yaitu satu
orang pimpinan, dua orang tenaga kerja bagian
produksi, dan satu orang sopir bagian pemasaran.
Tiga orang tenaga kerja pada usaha kopi bubuk
Rantau Putera merupakan Tenaga Kerja Dalam
Keluarga (TKDK) dan satu orang Tenaga Kerja
Luar Keluarga (TKLK). Upah yang diterima oleh
tenaga kerja bagian pemasaran adalah
Rp.100.000,00/minggu dan upah sopir bagian
pemasaran sebesar Rp.50.000,00/1 x pemasaran.
Usaha kopi bubuk Rantau Putera
memperoleh bahan baku dari distributor pasar
Kota Padang Panjang. bahan baku yang
digunakan adalah kopi Robusta dengan harga
Rp.24.000,00/kg dengan total pembelian
tergantung jumlah setoran yang diberikan oleh
usaha kopi bubuk Rantau Putera kepada
distributor. Bahan baku langsung diantar oleh
distributor ke tempat proses produksi kopi bubuk
Rantau Putera. Dalam setiap bulannya rata-rata
pembelian bahan baku kopi bubuk Rantau Putera
sekitar 240 kg.
Proses produksi kopi bubuk Rantau Putera
melalui beberapa tahapan, seperti penyangraian.
Pendinginan dan pembersihan, penggilingan, dan
pengemasan. Untuk penyangraian membutuhkan
waktu sekitar 1,5 jam untuk satu kali
penyangraian dengan jumlah bahan baku
sebanyak 20 kg. Pendinginan memakan waktu
selama kurang lebih 2 jam yang kemudian
dibersihkan, karena masih terdapat batu-batu
kecil dan kulit ari. Proses penggilingan memakan
waktu kurang lebih 15 menit untuk menggiling
14 kg kopi yang sudah disangrai. Setelah
penggilingan barulah dihasilkan kopi bubuk
dengan rendemen 70 %, yang berarti dalam satu
kali penyangraian menghasilkan 14 kg kopi
bubuk. Tahap akhir dari proses produksi adalah
proses pengemasan kopi bubuk dengan berbagai
ukuran, yaitu kemasan rentengan, ons, 1 ons,
kg, dan kg. Proses pengemasan sebagian
dilakukan di Kios dan sebagian lagi dilakukan di
rumah pemilik usaha kopi bubuk Rantau Putera.
Proses pengemasan memakan waktu kurang
lebih dua hari
Usaha kopi bubuk Rantau Putera telah
menggunakan beberapa peralatan dalam proses
produksi, seperti alat penyangraian yang terbuat
dari drum, kompor minyak pompa, mesin
penggiling, peralatan sablon, dan mesin press
plastic. Dalam satu bulan usaha kopi bubuk
Rantau Putera memperoleh omzet sekitar 8 9
juta per bulan. Untuk kapasitas produksi 14 kg
kopi bubuk dibutuhkan biaya sebesar
Rp.547.600,00, dengan total penerimaan
Rp.672.000,00 dan keuntungan yang diperoleh
adalah Rp.124.400,00.
Faktor Internal dari Aspek Bauran
Pemasaran (Marketing Mix) Usaha Kopi
Bubuk Rantau Putera
a. Produk
Berdasarkan penggolongan produk
menurut tujuan pemakaiannya maka kopi bubuk
Rantau Putera masuk ke dalam produk
konsumsi. Usaha kopi bubuk Rantau Putera
menggunakan merek dagang Mai H. Rantau.
Sedangkan Rantau Putera adalah merek yang
didaftarkan oleh pemilik usaha di Dinas
Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kota
Padang Panjang. Kemasan kopi bubuk Rantau
Putera terdiri dari beberapa ukuran, yang
menggunakan plastik bening. Pada kemasan
sudah sudah terdapat berbagai informasi tentang
kopi bubuk Rantau Putera. Kopi bubuk Rantau
Putera telah terdaftar di Dinas Kesehatan RI dan
memiliki sertifikat halal dari MUI (Majelis
Ulama Indonesia) Sumatera Barat, sehingga kopi
bubuk Rantau Putera aman untuk dikonsumsi.
b. Harga
Harga jual kopi bubuk Rantau Putera untuk
ukuran 1 kg adalah Rp.48.000,00 sedangkan
harga 1 kg pada pedagang pengecer adalah
Rp.50.000,00. Untuk melihat harga jual kopi
bubuk Rantau Putera dari berbagai ukuran dapat
dilihat pada Tabel 1 berikut :
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
6
Tabel 1. Harga Jual Kopi Bubuk Rantau Putera
Dalam Berbagai Ukuran
Ukuran
Pelanggan
Pengecer Konsumen
Rentengan Rp.8.000,00 Rp.9.000,00
ons Rp.2.500,00 Rp.3.000,00
1 ons Rp.5.000,00 Rp.5.500,00
kg Rp.12.000,00 Rp.13.000,00
kg Rp.24.000,00 Rp.25.000,00
c. Distribusi
Usaha kopi bubuk Rantau Putera
menggunakan distribusi intensif dengan
menggunakan pedagang pengecer agar lebih
mudah menjangkau konsumen. Usaha kopi
bubuk Rantau Putera dalam menjalankan
usahanya menggunakan dua saluran distribusi,
yaitu :
1. Produsen konsumen akhir (distribusi
langsung)
2. Produsen pedagang pengecer
konsumen akhir (distribusi tidak langsung)
d. Promosi
Pada tahun 2006, 2007, dan 2008 usaha
kopi bubuk Rantau Putera pernah mengikuti
pameran makanan khas dari Sumatera Barat
yang diadakan di Penang Malaysia yang
merupakan kerja sama dengan pemerintah daerah
Sumatera Barat. Selain itu usaha kopi bubuk
Rantau Putera juga melakukan promosi melalui
radio, yaitu pada saat tiga hari sebelum dan tiga
hari setelah lebaran Idul Fitri. Namun promosi
melalui radio tersebut dinilai kurang efektif
karena rata-rata konsumen tidak mengetahui
kalau usaha kopi bubuk Rantau Putera
melakukan promosi melalui radio.
Analisis Siklus Hidup Produk
Salah satu konsep yang penting untuk
membantu perusahaan menilai suatu perubahan
yang terjadi baik pada lingkungan internal dan
eksternal adalah konsep daur hidup produk. Daur
hidup produk memiliki dua variabel, yaitu
perkembangan volume penjualan dan waktu.
0
10000
2005 2010 2015
V
o
l
u
m
e

P
e
n
j
u
a
l
a
n
Tahun
Volume Penjualan Kopi Bubuk
Volume
Penjualan
Gambar 1. Siklus Daur Hidup Produk Kopi Bubuk Rantau
Putera
Dari hasil analisis siklus hidup produk,
diketahui bahwa usaha kopi bubuk Rantau Putera
berada pada tahap kedewasaan menjelang
penurunan. Strategi yang harus dilakukan pada
tahap ini menurut Angipora (2002), yaitu : 1)
melakukan modifikasi produk, 2) melakukan
pemotongan harga, 3) memperluas daerah
pemasaran, dan 4) melakukan promosi secara
intensif. Setelah dilakukan diskusi partisipatif
dengan pimpinan kopi bubuk Rantau Putera
disepakati tiga strategi saja, yaitu : 1) melakukan
modifikasi produk, 2) melakukan pemotongan
harga melalui pemberian bonus, dan 3)
memperluas daerah pemasaran.
Faktor Eksternal Pemasaran Usaha Kopi
Bubuk Rantau Putera
1. Pelanggan
Pedagang pengecer adalah pedagang yang
membeli produk kopi bubuk Ranta Putera untuk
dijual dan dipasarkan lagi kepada konsumen
akhir. Berdasarkan keterangan pedagang
pengecer kemasan pesaing di Kabupaten Padang
Pariaman, yaitu kopi bubuk Mak Aciak lebih
menarik, tetapi untuk kelengkapan informasi,
kopi bubuk Rantau Putera memiliki informasi
produk yang lebih lengkap dibandingkan
pesaingnya. Harga kopi bubuk Rantau Putera
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
pesaingnya kopi bubuk Mak Aciak. Harga jual 1
kg kopi bubuk Rantau Putera adalah
Rp.48.000,00 sedangkan harga jual kopi bubuk
Mak Aciak Rp.25.000,00. Dibandingkan
pesaingnya di Kota Padang Panjang, yaitu kopi
bubuk Jempol, harga jualnya sama sebesar
Rp.48.000,00. Kopi bubuk Rantau Putera
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
7
melakukan distribusi langsung (produsen
konsumen akhir) dan tidak langsung (produsen
pedagang pengecer konsumen akhir).
Begitu juga dengan kopi bubuk Jempol juga
menggunakan dua saluran distribusi. Sedangkan
kopi bubuk Mak Aciak hanya menggunakan satu
saluran distribusi, yaitu distribusi tidak langsung
(produsen pedagang pengecer konsumen
akhir). Dari keterangan pedagang pengecer, 100
% pedagang pengecer tidak mengetahui bahwa
kopi bubuk Rantau Putera sudah melakukan
promosi melalui radio.
Dari keterangan konsumen akhir, rasa kopi
bubuk Rantau Putera lebih enak dibandingkan
pesaingnya kopi bubuk Mak Aciak dan Jempol.
Sedangkan dari segi kemasan menurut konsumen
akhir di Kabupaten Padang Pariaman, kemasan
kopi bubuk Mak Aciak Lebih menarik dan
menurut konsumen akhir di Kota Padang
Panjang, kemasannya hampir sama. Dari
kelengkapan informasi kemasan, kopi bubuk
Rantau Putera memiliki informasi yang lebih
lengkap dibandingkan kopi bubuk Mak Aciak
dan Jempol. Harga jual kopi bubuk Rantau
Putera sama dengan kopi bubuk Jempol pada
konsumen akhir sedangkan kopi bubuk Mak
Aciak harga jualnya jauh lebih rendah, yaitu
untuk ukuran kemasan 1 ons sebesar
Rp.3.000,00 sedangkan kopi bubuk Rantau
Putera dan Jempol adalah Rp.5.500,00.
Konsumen akhir mendapatkan kopi bubuk
Rantau Putera dengan membeli langsung ke kios
atau melalui pedagang pengecer yang tersebar
pada berbagai tempat. Dari keterangan
konsumen akhir, tidak mengetahui bahwa kopi
bubuk Rantau Putera telah melakukan promosi
melalui radio. Pada tabel 2 dan 3 dapat dilihat
informasi dari konsumen akhir tentang konsumsi
kopi bubuk Rantau Putera :
Dari Tabel 2 dapat dilihat, bahwa 100 %
konsumen akhir telah mengkonsumsi kopi bubuk
Rantau Putera lebih dari setahun. Mengkonsumsi
kopi bubuk Rantau Putera karena rasanya yang
enak dan telah lama berlangganan. Dari
frekuensi pembelian sebagian besar konsumen
akhir rutin membeli kopi bubuk Rantau Putera
dan sebagian besar konsumen akhir akan
berpindah mengkonsumsi kopi bubuk lain jika
ada perubahan mutu dan kualitas.
Tabel 2. Informasi dari Konsumen Akhir
Tentang Konsumsi Kopi Bubuk
Rantau Putera di Kabupaten Padang
Pariaman
No. Informasi Jawaban Persentase
1. Lama Mengkonsumsi a. > 1 Tahun
b. < 1 Tahun
100%
-
2. Alasan Mengkonsumsi a. Rasa Yang
Enak
b. Telah Lama
Berlangganan
86,67%
66,67%
3. Frekuensi Pembelian a. Rutin
b. Tidak rutin
86,67%
13,33%
4. Kemungkinan
Berpindah ke Merek
Lain
a. Perubahan
Mutu dan
Kualitas
b. Tidak tersedia
c. Kenaikan
harga
86,66%
20,00%
46,67%
Keterangan : Jawaban No. 2 dan No. 4 totalnya tidak 100% dikarenakan
konsumen dapat memilih jawaban lebih dari satu sehingga
persentasenya lebih dari 100%.
Tabel 3. Informasi dari Konsumen Akhir
Tentang Konsumsi Kopi Bubuk
Rantau Putera di Kota Padang
Panjang
No. Informasi Jawaban Persentase
1. Lama Mengkonsumsi a. > 1 Tahun
b. < 1 Tahun
100%
-
2. Alasan Mengkonsumsi a. Rasa Yang
Enak
b. Telah Lama
Berlangganan
93,33%
80%
3. Frekuensi Pembelian a. Rutin
b. Tidak rutin
93,33%
6,67%
4. Kemungkinan
Berpindah ke Merek
Lain
a. Perubahan
Mutu dan
Kualitas
b. Tidak tersedia
c. Kenaikan
harga
100%
6,67%
33,34%
Keterangan : Jawaban No. 2 dan No. 4 totalnya tidak 100% dikarenakan
konsumen dapat memilih jawaban lebih dari satu sehingga
persentasenya lebih dari 100%.
Dari Tabel 3 dapat dilihat, bahwa 100 %
konsumen akhir telah mengkonsumsi kopi bubuk
Rantau Putera lebih dari setahun. Mengkonsumsi
kopi bubuk Rantau Putera karena rasanya yang
enak dan telah lama berlangganan. Dari
frekuensi pembelian sebagian besar konsumen
akhir rutin membeli kopi bubuk Rantau Putera
dan sebagian besar konsumen akhir akan
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
8
berpindah mengkonsumsi kopi bubuk lain jika
ada perubahan mutu dan kualitas.
2. Pesaing
Pesaing adalah industri yang memproduksi
dan memasarkan produk kopi bubuk pada daerah
pemasaran dan pedagang pengecer yang sama
dengan kopi bubuk Rantau Putera. Pesaing kopi
bubuk Rantau Putera di Kabupaten Padang
Pariaman adalah kopi bubuk Mak Aciak dan di
Kota Padang Panjang adalah kopi bubuk Jempol.
Kopi bubuk Mak Aciak menjual kopi bubuk
dengan dua ukuran kemasan saja, yaitu 1 ons dan
230 gram. Sedangkan kopi bubuk Jempol sama
dengan kopi bubuk Rantau Putera, yaitu ons, 1
ons, kg, dan kg. tetapi kopi bubuk Rantau
Putera memproduksi kemasan rentengan,
sementara kopi bubuk Jempol tidak
memproduksi kemasan rentengan. Untuk harga
dengan ukuran kemasan yang sama, yaitu
kemasan ukuran 1 ons kopi bubuk Mak Aciak
menjual seharga Rp.2.500,00 pada pedagang
pengecer dan Rp.3.000,00 pada konsumen akhir.
Sedangkan kopi bubuk Rantau Putera dan
Jempol menjual kopi bubuk ukuran 1 ons
seharga Rp.5.000,00 pada pedagang pengecer
dan Rp.5.500,00 pada konsumen akhir.
Untuk kegiatan promosi kopi bubuk
Jempol sama sekali belum melakukan promosi
melalui media. Sedangkan kopi bubuk Mak
Aciak sudah melakukan promosi melalui radio,
tetapi hanya di tempat asalannya saja, yaitu Kota
Bukit Tinggi. Kedua pesaing tersebut juga belum
pernah mengikuti pameran-pameran atau bazar
yang diadakan oleh pemerintah.
3. Kebijakan Pemerintah
Adanya kebijakan pemerintah dalam
pengembangan perindustrian yang difokuskan
kepada pengembangan usaha kecil dan
menengah yang tertuang dalam RPJM (Rencana
Pembangunan Jangka menengah) Dinas
Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kota
Padang Panjang melalui program penciptaan
iklim usaha kecil menengah yang kondusif
melalui kegiatan sosialisasi kebijakan tentang
usaha kecil menengah, perencanaan koordinasi
dan pengembangan UKM, dan fasilitasi
pengembangan usaha mikro kecil dan menengah.
Identifikasi dan Analisis Faktor Strategi
Lingkungan Internal dan Eksternal
Pemasaran Kopi Bubuk Rantau Putera
1. Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan
Berdasarkan analisis lingkungan internal
perusahaan, maka diperoleh faktor strategi
internal yang berupa kekuatan dan kelemahan
perusahaan. Ringkasan faktor strategi lingkungan
internal pemasaran kopi bubuk Rantau Putera
dapat dilihat pada Matriks Internal Factor
Evaluation (IFE) pada Tabel 4 berikut ini :
Tabel 4. Matriks Internal Factor Evaluation
(IFE)
No. Faktor Strategi Internal
Kekuatan
1. Produk menggunakan bahan baku yang berkualitas.
2. Tersedia kemasan sachet yang praktis.
3. Kemasan sudah dilengkapi label halal dalam tulisan
Arab.
4. Telah terdaftar di Dinas Koperasi Perindustrian dan
Perdagangan Kota Padang Panjang.
5. Sudah mendapatkan HAKI (Hak Atas Kekayaan
Intelektual) untuk merek dagang.
6. Diantar langsung ke pedagang pengecer.
7. Sebagian besar pelanggan adalah pelanggan yang setia.
8. Merupakan usaha kopi bubuk dengan volume terbesar
di Kota Padang Panjang.
9. Adanya pemberian bonus untuk pembelian dalam
jumlah tertentu.
Kelemahan
1. Sistem pembukuan dan pengelolaan keuangan masih
kurang rapi.
2. Promosi melalui media masih pada waktu-waktu
tertentu saja.
3. Belum memiliki tenaga khusus bagian pemasaran serta
bagian keuangan dan administrasi tenaga kerja.
4. Peralatan yang digunakan dalam proses produksi masih
kurang memadai.
5. Proses produksi berada pada tempat yang terpisah.
6. Kadar logam pada produk yang cukup tinggi.
7. Sistem pembayaran secara tunai.
2. Identifikasi Peluang dan Ancaman
Berdasarkan analisis lingkungan eksternal
perusahaan, maka diperoleh faktor strategi
eksternal yang berupa peluang dan ancaman
perusahaan. Ringkasan faktor strategi lingkungan
eksternal pemasaran kopi bubuk Rantau Putera
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
9
dapat dilihat pada Matriks Eksternal Factor
Evaluation (EFE) pada Tabel 5 berikut ini :
Tabel 5. Matriks Eksternal Factor Evaluation
(EFE)
No. Faktor Strategi Eksternal
Peluang
1. Memiliki hubungan baik dengan pelanggan.
2. Masih ada lokasi distribusi yang dapat dimasuki.
3. Pedagang pengecer berada di tempat yang strategis.
4. Adanya media dan alat promosi untuk
memperkenalkan produk kepada konsumen akhir.
5. Banyak terdapat perusahaan jasa cetak sablon yang
dapat digunakan untuk memperbaiki kemasan.
6. Bahan baku yang selalu tersedia.
7. Adanya kebijakan dari pemerintah yang tertuang dalam
RPJM, bantuan pada UKM, dan program
pengembangan UKM.
8. Adanya peningkatan pada saat libur dan lebaran.
Ancaman
1. Harga produk salah satu pesaing lebih murah.
2. Salah satu pesaing sudah menggunakan peralatan yang
cukup memadai.
3. Kemasan salah satu pesaing lebih menarik.
4. Masih sedikitnya jumlah pedagang pengecer di Kota
Padang Panjang.
5. Salah satu pesaing sudah memiliki tenaga kerja khusus
bagian pemasaran.
6. Banyaknya kopi sachet yang beredar di pasaran.
Perumusan Strategi Pemasaran Kopi Bubuk
Rantau Putera
1. Tujuan Strategi Pemasaran Kopi Bubuk
Rantau Putera
Berdasarkan informasi dari pimpinan usaha
kopi bubuk Rantau Putera, salah satu misi usaha
kopi bubuk Rantau Putera adalah melanjutkan
dan mempertahankan usaha yang sudah turun-
temurun dan nantinya dapat diteruskan ke
generasi selanjutnya. Tujuan jangka pendek
perusahaan akan memperluas daerah pemasaran
melalui peluang yang sudah ada, dan tujuan
jangka panjang usaha kopi bubuk Rantau Putera
adalah ingin menguasai pasar kopi bubuk di
Sumatera Barat serta tetap menjadi usaha kopi
bubuk yang terbesar dan dikenal sebagai salah
satu kopi bubuk yang tertua di Kota Padang
Panjang. Tujuan strategis pemasaran kopi bubuk
Rantau Putera yang dirumuskan melalui
kesepakatan dengan pimpinan usaha kopi bubuk
Rantau Putera.
2. Analisis Matriks IFE, EFE dan SWOT
a. Analisis Matriks Internal Factor
Evaluation (IFE)
Analisis matriks IFE merupakan hasil
identifikasi faktor-faktor internal pemasaran kopi
bubuk berupa kekuatan dan kelemahan yang
berpengaruh dalam pemasaran kopi bubuk
Rantau Putera. Penentuan bobot yang diberikan
oleh pakar (Kepala Bagian Pemasaran Dinas
Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kota
Padang Panjang) dan penentuan peringkat
berdasarkan respon usaha kopi bubuk Rantau
Putera terhadap faktor-faktor strategi yang ada.
Matriks IFE dapat dilihat pada Tabel 6 berikut
ini.
Tabel 6. Matriks Internal Factor Evaluation
Pemasaran Kopi Bubuk Rantau
Putera
No. Faktor Strategi Internal Bobot Peringkat Nilai
Kekuatan
1. Menggunakan bahan baku yang
berkualitas.
0,073 4 0,292
2. Tersedia kemasan sachet yang
praktis.
0,073 4 0,292
3. Dilengkapi label halal dalam tulisan
Arab.
0,073 4 0,292
4. Terdaftar di Dinas Koperasi
Perindustrian dan Perdagangan Kota
Padang Panjang.
0,049 3 0,147
5. Sudah Mendapatkan HAKI (Hak
Atas Kekayaan Intelektual).
0,049 3 0,147
6. Diantar langsung ke pedagang
pengecer.
0,073 3 0,219
7. Sebagian besar pelanggan adalah
pelanggan yang setia.
0,073 4 0,292
8. Merupakan usaha kopi bubuk dengan
volume terbesar di Kota Padang
Panjang
0,025 3 0,050
9. Adanya pemberian bonus untuk
pembelian dalam jumlah tertentu.
0,073 4 0,292
Kelemahan
1. Sistem pembukuan dan pengelolaan
keuangan masih kurang rapi.
0,049 2 0,098
2. Promosi melalui media masih pada
waktu-waktu tertentu saja.
0,073 1 0,073
3. Belum memiliki tenaga khusus
bagian pemasaran dan administrasi
tenaga kerja
0,073 1 0,073
4. Peralatan yang digunakan dalam
proses produksi masih kurang
memadai.
0,073 1 0,073
5. Proses produksi berada pada tempat
yang terpisah.
0,049 2 0,098
6. Kadar logam pada produk yang
cukup tinggi.
0,073 1 0,073
7. Sistem pembayaran secara tunai. 0,049 2 0,098
Total 1 2,609
Dari Tabel 6 didapatkan total nilai matriks
IFE sebesar 2,609 yang menunjukkan posisi
internal pemasaran kopi bubuk Rantau Putera
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
10
berada pada posisi yang kuat dalam mengatasi
kelemahan dan menggunakan kekuatan yang ada
untuk mengatasi kelemahan pemasaran kopi
bubuk Rantau Putera.
b. Analisis Matriks Eksternal Factor
Evaluation (EFE)
Matriks EFE merupakan hasil identifikasi
faktor-faktor eksternal pemasaran kopi bubuk
Rantau Putera berupa peluang dan ancaman.
Penentuan bobot dilakukan dengan penyajian
faktor strategis yang didapatkan dari penilaian
yang diberikan oleh pakar (Kepala Bagian
Pemasaran Dinas Koperasi Perindustrian dan
Perdagangan Kota Padang Panjang) dan
penentuan peringkat berdasarkan respon usaha
kopi bubuk Rantau Putera terhadap faktor-faktor
strategi yang ada. Matriks EFE dapat dilihat pada
Tabel 7 berikut ini.
Tabel 7. Matriks Eksternal Factor Evaluation
(EFE) Pemasaran Kopi Bubuk Rantau
Putera
No. Faktor Strategi Eksternal Bobot Peringkat Nilai
Peluang
1. Memiliki hubungan baik dengan
pelanggan.
0,053 3 0,159
2. Masih ada lokasi disribusi yang dapat
dimasuki.
0,079 4 0,316
3. Pedagang pengecer berada pada tempat
yang strategis.
0,079 3 0,237
4. Adanya media dan alat promosi untuk
memperkenalkan produk kepada
konsumen akhir.
0,079 3 0,237
5. Banyak terdapat perusahaan jasa cetak
sablon yang dapat digunakan untuk
memperbaiki kemasan.
0,079 2 0,158
6. Bahan baku yang selalu tersedia. 0,079 4 0,316
7. Adanya kebijakan dari Pemerintah Kota
Padang Panjang yang tertuang dalam
RPJM, bantuan pada UKM, dan program
pengembangan UKM.
0,079 4 0,316
8. Adanya peningkatan penjualan pada saat
libur dan lebaran.
0,079 4 0,316
Ancaman
1. Harga produk salah satu pesaing lebih
murah.
0,079 1 0,079
2. Salah satu pesaing menggunakan
peralatan yang cukup memadai.
0,053 2 0,106
3. Kemasan salah satu pesaing lebih
menarik.
0,079 1 0,079
4. Masih sedikitnya jumlah pedagang
pengecer di Kota Padang Panjang.
0,079 2 0,158
5. Salah satu pesaing sudah memiliki
tenaga khusus bagian pemasaran.
0,052 1 0,052
6. Banyaknya kopi sachet yang beredar di
pasaran.
0,052 2 0,104
Total 1 2,633
Dari Tabel 7 didapatkan total nilai matriks
EFE sebesar 2,633 yang menunjukkan posisi
eksternal pemasaran kopi bubuk Rantau Putera
memberikan respon yang kuat terhadap peluang-
peluang dan ancaman yang dihadapi sehingga
dapat memanfaatkan peluang yang ada dan
meminimalkan pengaruh negatif dari ancaman
eksternal.
c. Analisis Matriks SWOT
Berdasarkan hasil analisis matriks IFE dan
EFE yang kemudian dilanjutkan dengan analisis
matriks SWOT, maka dirumuskan sejumlah
strategi pemasaran kopi bubuk Rantau Putera
pada matriks SWOT di Tabel 8 berikut ini.
Tabel 8. Matriks SWOT
Lingkungan Internal
Lingkungan Eksternal
Strengths (S)
Faktor-Faktor Kekuatan
1. Menggunakan bahan
baku yang berkualitas.
2. Tersedia kemasan sachet
yang praktis.
3. Kemasan sudah
dilengkapi label halal
dalam tulisan Arab.
4. Sebagian besar
pelanggan adalah
pelanggan yang setia.
5. Adanya pemberian bonus
untuk pembelian dalam
jumlah tertentu.
Weaknesses (W)
Faktor-Faktor
Kelemahan
1. Promosi melalui
media masih
dilakukan pada
waktu-waktu tertentu
saja.
2. Belum memiliki
tenaga khusus bagian
pemasaran dan
administrasi tenaga
kerja.
3. Peralatan yang
digunakan dalam
proses produksi
masih kurang
memadai.
4. Kadar logam pada
produk yang cukup
tinggi.
Opportunities (O)
Faktor-Faktor Peluang
1. Masih ada lokasi
distribusi yang dapat
dimasuki.
2. Bahan baku yang
selalu tersedia.
3. Adanya kebijakan
dari Pemerintah Kota
Padang Panjang yang
tertuang dalam RPJM,
bantuan pada UKM,
dan program
pengembangan UKM.
4. Adanya peningkatan
penjualan pada saat
libur dan lebaran.
1. Memperluas daerah
distribusi untuk
daerah-daerah
pemasaran yang belum
dimasuki, seperti
beberapa daerah di
Kabupaten Padang
Pariaman serta Jakarta
dan Bandung (S1, S2,
S3, S5, O1, O2).
2. Melakukan penetrasi
pasar (S1, S2, S3, S4,
O2, O3).
1. mengganti peralatan
penyangraian dengan
alat yang terbuat dari
stainless steel (W3,
W4, O3).
2. Mengganti media
promosi dengan
menggunakan
pamflet dan brosur
atau memasang iklan
di Koran (W1, O1,
O4).
3. Mengikuti pameran
dan bazar baik di
Kota Padang Panjang
maupun di luar Kota
Padang Panjang (W1,
O1, O3)
Threats (T)
Faktor-Faktor
Ancaman
1. Harga produk salah
satu pesaing lebih
murah.
2. Kemasan salah satu
pesaing lebih
menarik.
3. Salah satu pesaing
sudah memiliki
tenaga khusus bagian
pemasaran.
Memperbaiki kemasan
menjadi lebih menarik
dan memenuhi standar
untuk dijual di swalayan
dan minimarket (S2, S3,
S5, T2).
1. Merekrut tenaga
khusus bagian
pemasaran (W2, T3).
2. Melakukan promosi
melalui media di
Kabupaten Padang
Pariaman, karena
pesaing belum
melakukan promosi
di Kabupaten Padang
Pariaman (W1, T1,
T2).
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
11
d. Merumuskan Strategi Pemasaran Usaha
Kopi Bubuk Rantau Putera
Berdasarkan hasil dari analisis matriks IFE
dan EFE yang kemudian dilanjutkan dengan
analisis SWOT, maka dirumuskan sejumlah
strategi pemasaran kopi bubuk Rantau Putera.
Perumusan strategi dengan memfokuskan pada
strategi yang direkomendasikan dari hasil
matriks SWOT diperoleh 8 strategi pemasaran
kopi bubuk Rantau Putera, yaitu :
1) Strategi SO (Strengths Opportunities)
Strategi SO mengoptimalkan kekuatan
internal untuk memanfaatkan peluang eksternal.
Strategi SO yang dapat dilakukan usaha kopi
bubuk Rantau Putera adalah :
a) Memperluas daerah distribusi untuk
daerah-daerah pemasaran yang belum
dimasuki, seperti beberapa daerah di
Kabupaten Padang Pariaman serta Jakarta
dan Bandung.
b) Melakukan penetrasi pasar.
2) Strategi WO (weaknesses Opportunities)
Strategi ini memperbaiki atau mengatasi
kelemahan internal perusahaan untuk
memanfaatkan peluang eksternal. Strategi WO
yang dapat diterapkan oleh usaha kopi bubuk
Rantau Putera adalah :
a) Mengganti peralatan penyangraian
dengan alat yang terbuat dari bahan
stailess steel.
b) Mengganti media promosi dengan
menggunakan pamflet dan brosur atau
memasang iklan di Koran.
c) Mengikuti pameran dan bazar baik di
Kota Padang Panjang maupun di luar
Kota Padang Panjang.
3) Strategi ST (Strengths Threats)
Strategi ini menggunakan kekuatan
perusahaan untuk menghindari atau mengurangi
pengaruh dari ancaman eksternal. Strategi ST
yang dapat diterapkan oleh usaha kopi bubuk
Rantau Putera adalah memperbaiki kemasan
menjadi lebih menarik dan memenuhi standar
untuk dijual di swalayan dan minimarket.
4) Strategi WT (Weaknesses Threats)
Strategi ini bertujuan untuk mengurangi
atau meminimalkan kelemahan internal untuk
menghindari ancaman eksternal. Strategi WT
yang dapat diterapkan oleh usaha kopi bubuk
Rantau Putera adalah :
a) Merekrut tenaga khusus bagian
pemasaran.
b) Melakukan promosi melalui media di
Kabupaten Padang Pariaman karena
pesaing belum melakukan promosi di
kabupaten Padang Pariaman.
e. Diskusi Partisipatif
Diskusi partisipatif dilakukan setelah
dihasilkannya rumusan strategi awal dari analisis
SWOT. Diskusi partisipatif dilakukan dengan
cara mendiskusikan strategi yang telah
dihasilkan dengan pimpinan usaha kopi bubuk
Rantau Putera. Adapun hasil dari diskusi
mengenai rumusan strategi pemasaran yang akan
diterapkan oleh usaha kopi bubuk Rantau Putera
adalah sebagai berikut :
1) Strategi Produk
a) Mengganti peralatan penyangraian
dengan alat yang terbuat dari stainless
steel.
b) Memperbaiki kemasan agar menjadi
lebih menarik dan memenuhi standar
untuk dijual di swalayan dan minimarket.
2) Strategi Distribusi
Memperluas daerah distribusi untuk
daerah-daerah pemasaran yang belum dimasuki,
seperti beberapa daerah di Kabupaten Padang
pariaman serta Jakarta dan Bandung.
3) Strategi Promosi
a) Mengganti media promosi dengan
menggunakan pamflet dan brosur atau
memasang iklan di Koran.
b) Mengikuti pameran dan bazar baik di
Kota Padang Panjang Maupun di luar
Kota Padang Panjang.
Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian
yang telah dilakukan, maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
12
1. Berdasarkan hasil analisis lingkungan
internal dan eksternal usaha kopi bubuk
Rantau Putera, maka perusahaan memiliki
kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman
sebagai berikut :
Faktor-faktor strategi internal yang
menjadi kekuatan bagi perusahaan, yaitu : 1)
produk menggunakan bahan baku yang
berkualitas, 2) tersedia kemasan sachet yang
praktis, 3) kemasan sudah dilengkapi label
halal, 4) sebagian besar adalah pelanggan
yang setia, dan 5) adanya pemberian bonus
untuk pembelian dalam jumlah tertentu.
Sedangkan faktor-faktor strategi internal
yang menjadi kelemahan kopi bubuk Rantau
Putera, yaitu : 1) promosi melalui media
masih dilakukan pada waktu-waktu tertentu
saja, 2) usaha kopi bubuk Rantau Putera
belum memiliki tenaga khusus bagian
pemasaran serta bagian keuangan dan
administrasi tenaga kerja, 3) peralatan yang
digunakan dalam proses produksi masih
kurang memadai, dan 4) kadar logam pada
produk yang cukup tinggi. Selain itu dari
hasil analisis siklus hidup produk diketahui
usaha kopi bubuk Rantau Putera berada pada
tahap kedewasaan menjelang penurunan,
strategi yang dapat dilakukan pada tahap ini
adalah : 1) melakukan modifikasi produk, 2)
melakukan pemotongan harga, 3)
memperluas daerah pemasaran, dan 4)
melakukan promosi secara intensif.
Hasil analisis lingkungan eksternal usaha
kopi bubuk Rantau Putera, maka perusahaan
memiliki peluang dan ancaman. Adapun
faktor-faktor strategi eksternal yang menjadi
peluang bagi perusahaan, yaitu : 1) Masih
ada lokasi distribusi yang dapat dimasuki, 2)
Bahan baku yang selalu tersedia, 3) Adanya
kebijakan dari Pemerintah Kota Padang
Panjang yang tertuang dalam RPJM
(Rencana Pembangunan Jangka Menengah,
dan 4) Adanya peningkatan penjualan pada
saat libur dan lebaran. Sedangkan faktor-
faktor strategi eksternal yang menjadi
ancaman bagi perusahaan, yaitu : 1) Harga
produk salah satu pesaing lebih murah, 2)
Kemasan salah satu pesaing lebih menarik,
dan 3) Salah satu pesaing sudah memiliki
tenaga khusus bagian pemasaran.
2. Berdasarkan analisis SWOT diperoleh 8
strategi dan setelah dilakukan diskusi
partisipatif dengan pimpinan usaha kopi
bubuk Rantau Putera diperoleh 5 strategi,
yaitu: 1) memperluas daerah distribusi untuk
daerah-daerah yang belum dimasuki, 2)
mengganti peralatan penyangraian dengan
alat yang terbuat dari stainless steel, 3)
mengganti media promosi dengan
menggunakan pamflet dan brosur atau
memasang iklan di koran, 4) mengikuti
pameran dan bazar baik di Kota Padang
Panjang maupun di luar Kota Padang
Panjang, dan 5) memperbaiki kemasan
menjadi lebih menarik dan memenuhi standar
untuk dijual di swalayan dan minimarket.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan, maka disarankan kepada pimpinan
usaha kopi bubuk Rantau Putera :
1. Memperluas daerah distribusi untuk
meningkatkan volume penjualan kopi bubuk
Rantau Putera serta merekrut tenaga khusus
bagian pemasaran, dengan adanya tenaga
khusus bagian pemasaran maka pemimpin
dapat fokus merancang untuk
mengembangkan pasar.
2. Merekrut tenaga kerja yang lebih ahli,
dengan adanya tenaga kerja yang lebih ahli
dapat membantu pihak usaha dalam
mengembangkan usahanya.
3. Mengganti peralatan penyangraian dari
bahan yang terbuat dari stainless teel untuk
mempermudah usaha dalam memperoleh
SNI (Standar Nasional Indonesia).
4. Mengganti media promosi karena promosi
melalui radio kurang efektif serta mengikuti
pameran dan bazar baik di Kota Padang
Panjang maupun di luar Kota Padang
Panjang.
Universitas Andalas
Program Studi Agribisnis
13
5. Memperbaiki kemasan agar lebih menarik
dan memenuhi standar.
6. Bagi pemerintah diharapkan perhatiannya
dalam pembinaan dan pengembangan SDM
(Sumber Daya Manusia) dengan mengadakan
pelatihan-pelatihan dengan frekuensi yang
lebih banyak.
Daftar Pustaka
Angipora, M.P. 2002. Dasar-Dasar Pemasaran.
Edisi Kedua. PT. Raja Grafindo
Persada. Jakarta.
Antara. 2011. Padang Gencarkan Perluasan
Tanaman Kopi. http://www.bisnis-
sumatra.com/index.php/2011/07/padan
g-gencarkan-perluasan-tanaman-kopi/.
[4 April 2012].
Assauri, Sofyan. 2002. Manajemen Pemasaran.
PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Cahyono, Bambang. 2011. Sukses Berkebun
Kopi. Pustaka Mina. Jakarta.
Chandra, G. 2002. Manajemen Strategi.
Prenhalindo. Jakarta.
David, F.R. 2009. Manajemen Strategi : Konsep-
Konsep. PT. Indeks. Jakarta.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera
Barat. 2010. Kriteria Industri dan
Perdagangan Sumatera Barat. Padang.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikultura. 2004. Laporan Tahunan.
Padang.
[Disperindag], Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Kota Padang Panjang.
2010. Rekapitulasi Data Industri.
Padang Panjang.
Gitosudarmo, Indriyo. 2001. Pengantar Bisnis.
BFE Yogyakarta. Yogyakarta.
Kotler, P. 1994. Manajemen Pemasaran:
Analisis, Perencanaan, Implementasi,
dan Pengendalian. Buku 1. PT.
Prenhalindo. Jakarta.
Kotler, Philip dan Gary Amstrong. 2001.
Prinsip-Prinsip Pemasaran. Erlangga.
Jakarta.
Najiyati, S dan Danarti. 2004. Kopi Budidaya
dan Penanganan Lepas Panen. PT.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Nazir, Moh. 2003. Metode Peneltian. Ghalian
Indonesia. Jakarta.
Prawirosentono, Suyadi. 2002. Filosofi Baru
Tentang Manajemen Terpadu Total
Quality Manajemen Abad 21. PT. Bumi
Aksara. Jakarta.
Saragih, Bungaran. 2001. Suara Dari Bogor :
Membangun Sistem Agribisnis. Yayasan
USESE. Bogor.
Siagian, P. Sondang. 2003. Manajemen Stratejik.
Bumi Aksara. Jakarta.
Simamora, B. 2001. Memenangkan Pasar
Dengan Pemasaran Yang Efektif dan
Profitable. Gramedia. Jakarta.
Siswoputranto. 1993. Kopi Internasional/ dan
Indonesia. Cetakan ke-1 Kanisius.
Yogyakarta.
Soekartawi. 2010. Pengantar Agroindustri. PT.
Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Supriyono, RA dan SU Akuntan. 1993.
Manajemen Strategi dan Kebijakan
Bisnis. BPFE. Yogyakarta.
Swastha dan Soekotjo. 1999. Pengantar Bisnis
Modern. Edisi Ketiga Liberty.
Yogyakarta.
Tjiptono, Fandy. 2007. Strategi Pemasaran.
Andi. Yogyakarta.
Umar, H. 1999. Riset Pemasaran dan Aplikasi
Dalam Pemasaran. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Wibowo. 2000. Pedoman Mengelola
Perusahaan Kecil. Swadaya. Jakarta.
Winardi, J. 2008. Enterpreneur dan
Enterpreneurship. Kencana. Jakarta.