Anda di halaman 1dari 48

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Garam merupakan salah satu kebutuhan pelengkap dari
kebutuhan pangan dan merupakan suber elektrolit bagi tubuh
manusia. Walaupun Indonesia termasuk negara maritim,
namun usaha meningkatkan produksi garam belum diminati,
termasuk dalam usaha meningkatkan kualitasnya. Di lain
pihak untuk kebutuhan garam dengan kualitas baik
(kandungan kalsium dan magnesium kurang) banyak diimpor
dari luar negeri, terutama dalam hal ini garam beryodium
serta garam industri.
Kebutuhan garam nasional dari tahun ke tahun semakin
meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan
perkembangan industri di Indonesia sebagaimana yang
disajikan oleh Direktorat Industri Kimia An Organik,
Deperindag dan APROGAKOB pada pertemuan Forum
Peluang Pasar Garam Indonesia tanggal 31 Oktober 2000
yaitu tahun 1997 sebesar 1.650.000 ton, tahun 1998 sebesar
1.825.000 ton, tahun 1999 sebesar 1.935.000 ton dan tahun
2000 sebesar 2.100.000 ton. Untuk tahun 2000 kebutuhan
garam nasional diproyeksikan berkisar 855.000 950.000 ton
untuk kebutuhan konsumsi dan 1.150.000 1.345.000 ton
2

untuk kebutuhan industry. Sehingga total kebutuhan garam
sebanyak 2.100.000 2.200.000 ton sedangkan perkiraan
proyeksi produksi garam hanya sekitar 300.000 900.000
ton. Ini berarti bahwa untuk memenuhi kebutuhan garam
nasional untuk periode tahun 2000 paling sedikit harus
mengimpor garam sebanyak 1.200.000 ton.
Indonesia walaupun Negara kepulauan, pusat
pembuatan garam terkonsentrasi di Jawa dan Madura. Di
Jawa seluas 10.231 ha (Jawa Barat 1.159 ha, Jawa Tengah
2.168 ha, Jawa Timur 6.904 ha) dan Madura 15.347 ha
(Sumenep 10.067 ha, Pamekasan 3.075 ha, Sampang 1.046
ha). Luas areal yang dikelola oleh PT. Garam seluas 5.116 ha
yang seluruhnya berada di Pulau Madura (Sumenep 3.163 ha,
Pamekasan 907 ha, dan Sampang 1.4046 ha) dengan produksi
60 ton/ha/tahun (sumber PT Garam Persero, 2000). Lokasi
pembuatan garam lainnya yaitu di NTB seluas 1.155 ha,
Sulawesi Selatan 2.040 ha, Sumatera dan lain-lain 1.885 ha,
sehingga luas areal penggaraman seluruhnya sebesar 30.658
ha dimana 25.542 ha dikelola secara tradisional oleh rakyat.
Kualitas garam yang dikelola secara tradisional pada
umumnya harus diolah kembali untuk dijadikan garam
konsumsi maupun untuk garam industri.
3

Melihat luasnya areal penggaraman yang dikelola oleh
rakyat, sedang produksi dan hasilnya belum sesuai yang
diharapkan untuk dijadikan garam konsumsi maupun untuk
garam industri, maka melalui brosur Pembuatan Garam
Bermutu diharapkan produksi dan kualitas garam rakyat
dapat ditingkatkan disamping untuk memperoleh lahan dan
metode baru agar kebutuhan garam nasional terpenuhi atau
melebihi sehingga Indonesia bukan menjadi pengimpor
garam tetapi merupakan pengekspor garam berkualitas.
Oleh karena itu, untuk membuat garam dengan
beberapa kategori baik sekali, baik dan sedang. Kategori ini
didasarkan pada kandungan NaCl yang dikandung oleh garam.
Dikatakan berkisar baik sekali jika mengandung kadar NaCl
>95%, baik kadar NaCl 90 95%, dan sedang kadar NaCl
anatara 80 90% tetapi yang diutamakan adalah yang
kandungan garamnya di atas 95%. Garam industri dengan
kadar NaCl >95% sampai saat ini seluruhnya masih diimpor
atau sekitar 1.200.000 ton.
Sistem penggaraman rakyat sampai saat ini
menggunakan kristalisasi total sehingga produktifitasnya dan
kualitasnya masih kurang atau pada umumnya kadar NaClnya
kurang dari 90% dan banyak mengandung pengotor padahal
luas lahan penggaraman rakyat 25.542 ha atau sekitar 83,31%
4

dari luas areal penggaraman nasional. Jika 50% dari luas areal
penggaraman ini ditingkatkan produkstifitasnya menjadi 80
ton/ha/tahun, maka dapat diproduksi garam sebanyak
1.500.000 ton sehingga total produksi garam nasional
menjadi 1.800.000 ton. Dengan demikian kebutuhan impor
garam industri dapat dikurangi dari 1.200.000 ton menjadi
hanya sekitar 300.000 ton.

1.2 Tujuan
Tujuan penyusunan brosur Pembuatan Garam Bermutu
adalah:
1. Membantu petambak garam untuk menghasilkan garam
NaCl yang bermutu tinggi dengan kadar lebih dari 95%.
2. Memberdayakan lahan kering kawasan pesisir yang
memiliki curah hujan rendah untuk dijadikan sebagai
lahan pembuatan garam.







5

II. GAMBARAN UMUM GARAM

2.1 Garam
Garam atau lebih dikenal dengan nama garam meja,
termasuk dalam kelas mineral halide atau dikenal dengan
nama halite, dengan komposisi kimia Natrium Klorida (NaCl)
terdiri atas 39,3% Natrium (Na) dan 60,7% klorin (Cl).
Beberapa sifat garam adalah bisa berbentuk Kristal atau
bubuk putih dengan system isomeric berbentuk kubus, bobot
molekul 58,45 g/mol, larut dalam air (35,6 g/100 g pada 0
o
C
dan 39,2 g/100 g pada 100
o
C). Dapat larut dalam alkohol,
tetapi tidak larut dalam asam klorida pekat, mencair pada
suhu 801
o
C, dan menguap pada suhu diatas titik didihnya
(1413
o
). Hardress 2,5 skala MHO, bobot jenis 2,165 g/cm
3
,
tidak berbau, tidak mudah terbakar dan toksisitas rendah,
serta mempunyai sifat higroskopik sehingga mampu
menyerap air dari atmosfir pada kelembaban 75% (Chemical
Index, 1993).
Garam alami selalu mengandung traces magnesium
klorida, magnesium sulfat, magnesium bromide, dan senyawa
runut lainnya, sehingga warna garam selain merupakan Kristal
transparan juga bisa berwarna kuning, merah, biru atau ungu.
6

Garam banyak dimanfaatkan dalam berbagai macam
industri dan diestimasikan sekitar 14.000 produk
menggunakan garam sebagai bahan tambahan (The Salt
Manufacturers Association, United Kingdom). Berdasarkan
pemanfaatannya garam dikelompokan atas dua kelompok
yaitu garam konsumsi dengan garam industri. Garam
konsumsi berdasarkan SNI kandungan NaClnya minimal 95%,
sulfat, Magnesium dan Kalsium maksimum 2% dan kotoran
lainnya (lumpur dan pasir) maksimum 1% atas dasar persen
berat kering (dry basis), serta kadar air maksimal 7%.
Untuk garam industri membutuhkan kualitas yang lebih
baik misalnya pada industri perminyakan, tekstil dan
penyamakan kulit (NaCl >97,5%; sulfat <0,5%; kalsium <0.2%;
magnesium <0,3%; kadar air 3-5%), industry chlor alkali plant
(Nacl >98,5%, sulfat <0,2%, kalsium <0,1% magnesium
<0,06%) dan industry Pharmaceutical salt (NaCl >99,5%,
impuritis mendekati 0) ( PT. Garam persero, 2000).
Teknologi pembuatan garam yang umum dilakukan
adalah dengan metode penguapan air laut dengan tenaga
surya; metode panguapan air laut/brine/air garam dengan
bahan bakar, elektrodialisis (ion exchange membrane); dan
metode penambangan garam dari batuan garam (rock salt).
7

Garam rakyat tradisional pada umumnya dibuat dengan
cara menimba air laut, kemudian dimasukkan ke dalam
ladang penguapan sehingga langsung dihasilkan Kristal garam.
Faktor penentu dalam pembuatan garam adalah kualitas
air laut sebagai bahan baku, tanah sebagai factor peralatan
utama dan iklim sebagai faktor sumber tenaga (energi).

2.2 Komposisi air Laut
Komposisi air laut pada salinitas 35 dapat dilihat pada
Tabel 1 atau pada bobot jenis rata-rata 1,0258 kg/liter yaitu
dengan kepekatan antara 3-3,5
o
Be dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 1. Komposisi Air Laut pada Salinitas 35
No Ion Gram per kg air laut
1 Cl
-
19,354
2 Na
+
10,77
3 K
+
0,399
4 Mg
2+
1,290
5 Ca
2+
0,4121
6 SO
4
2+
2,712
7 Br
-
0,0673
8 F
-
0,0013
9 B 0,0045
10 Sr
2+
0,0079
8

11 IO
3
-
, I
-
6,0 X 10
-5
Sumber: Riley and Skirrow, 1975

Tabel 2. Komposisi air Laut pada Bobot Jenis 1,0258 kg/liter
No Senyawa Gram per liter air laut
1 Fe
2
O
3
0,003
2 CaCO
3
0,1172
3 CaSO
4
.2H
2
O 1,7488
4 NaCl 29,6959
5 MgSO
4
2,4787
6 MgCl
2
3,3172
7 NaBr 0,5524
8 KCl 0,5339
Total 38,44471
Sumber: Riley and Skirrow (1975) dan PN Garam

Air laut dengan kadar rata-rata seperti diatas mempunyai
sifat-sifat/kelakuan kristalisasi berdasarkan perbedaan
kepekatan seperti yang tercantum pada Tabel 3.




9

Tabel 3. Tingkat Kepekatan dan Senyawa yang Terendapkan
dari air Laut
Tingkat Kepekatan (
o
Be) Giliran
Mengkristal/Mengendap
3,00 16,00
17,00 27,00
26,25 35,00
27,00 35,00
28,50 35,00
Lumpur/Pasir/Fe
2
O
3
/CaCO
3
Gips (Kalsium Sulfat)
Natrium Klorida
Garam Magnesium
Natrium Bromida

Apabila pada proses pembuatan garam yang dilakukan
hanya berdasarkan cara yang umum dilakukan pada proses
penggaraman rakyat yaitu cara evaporasi total, produk garam
yang dihasilkan kadar NaCl nya kurang dari 80%.
Data-data di atas menunjukkan bahwa ada senyawa yang
tidak terlalu diingini tetapi jumlahnya cukup besar yaitu ion
kalsium, magnesium, dan sulfat. Ion besi juga terdapat dalam
air laut dengan kadar yang relative rendah.
Berdasarkan perbedaan kemampuan pengendapannya,
maka pelu dilihat kelarutan masing-masing ion tersebut di
dalam air. NaCl mempunyai kelarutan pada suhu 30
o
C
(dihitung) sebesar 36,7 g/ 100 g air laut. Dari data kelarutan
10

ion-ion dan dengan menambahkan perlakuan tertentu,
magnesium dan kalsiumnya terendapkan.
Tabel 4. Kelarutan Masing-masing Ion di dalam Air
Berdasarkan Kemampuan Pengendapannya
No Substance Ks
1 CaCO
3
4,8 x 10
-9
2 CaC
2
O
4
4,0 x 10
-9
3 Ca (OH)
2
5,5 x 10
-6
4 CaSO
4
1,2 x 10
-6
5 MgCO
3
1,0 x 10
-5
6 MgC
2
O
4
1,0 x 10
-9
7 MgF
2
6,5 x 10
-9
8 KIO
3
5,0 x 10
-2

Jika dikaitkan dengan kadar NaCl sebagai komponen
utama garam yang diinginkan maka jika tidak dilakukan
pengolahan, NaCl yang dihasilkan dari air laut standar adalah
sebesar 27,393 g/kg air laut yang salinitasnya 35, atau
dengan kata lain NaCl yang dihasilkan kadarnya hanya
78,266% (tanpa memperhitungkan kadar airnya), berarti tidak
memenuhi kategori yang diinginkan yaitu kualitas I dan
kualitas II.
11

Kualitas garam dapat diklasifikasikan berdasarkan
kandungan NaCl dan kandungan airnya. Berdasarkan hal
tersebut di atas, maka dapat dibedakan 3 (tiga) kualitas
garam, yang dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kualitas Garam Berdasarkan Kandungan NaCl
Kualitas I NaCl > 98% Kandungan Air
Maksimum 4%
Kualitas II 94.4% < NaCl < 98% Kandungan air
Maksimum 5%
Kualitas III NaCl < 94% Kandungan air
> 5%

Untuk menghasilkan garam dengan mutu baik, maka
senyawa-senyawa kalsium dan magnesium serta sulfat harus
terlebih dahulu diendapkan. Pada garam rakyat yang
memanfaatkan model penguapan total, kadar garam tertinggi
yang dapat dihasilkan relative jarang mencapai 90%, sehingga
dibutuhkan perlakuan-perlakuan khusus agar dihasilkan
garam dengan kualitas tinggi.
Dengan mengurangi secara keseluruhan kandungan
kalsium, magnesium dan sulfat, kandungan garam NaCl pada
garam dapat ditingkatkan menjadi 98,49% (kadar air tidak
diperhitungkan), dan bila 75% dari kadar kalsium, magnesium
12

dan sulfat dikurangi maka kandungan NaCl pada garam yang
dihasilkan sebesar 95,06%. Tahapan-tahapan pengendapan
senyawa dalam air laut dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Tahap-tahap Pengendapan Senyawa dalam Air Laut
Senyawa yang Terendah Tingkat
Kepekatan (
o
Be)
% NaCl
Terendapkan
Lumpur/Pasir/Fe
2
O
3
CaCO
3
Gips (Kalsium Sulfat)
Natrium Klorida (NaCl)

Garam Magnesium
Natrium Bromida (NaBr)
7,1
7,1 16,75
16,75 30,20
26,25 28,5
28,5 35,0
mulai 26,25
mulai 28,5
-
-
-
72
28
-
-

Hal ini sangat diperlukan karena bila mampu
menghasilkan garam yang bermutu tinggi dengan kadar NaCl
lebih dari 95%, Indonesia dapat mengantisipasi untuk tidak
perlu lagi mengimpor garam berkualitas atau malah
sebaiknya Indonesia dapat merencanakan usaha nasional
sebagai pengekspor garam bermutu terkemuka di dunia.



13

2.3 Model Pembuatan Garam Bermutu
Model yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan
mutu garam rakyat adalah dengan model pengendapan
kalsium, magnesium dan sulfat yang terkandung dalam air
laut sebelum garam NaCl-nya dikritalisasikan.
Ada dua model yang dapat dikembangkan yaitu
mengendapkan kalsium dan magnesium sebagai karbonat
dan oksalat, sedang dalam bentuk garam sulfat dilaksanakan
dengan model kristalisasi bertingkat. Selain itu, lumpur yang
merupakan pengotor utama dari garam rakyat perlu pula
diendapkan, sehingga dapat diperoleh garam rakyat dengan
kemurnian tinggi.
1. Pengendapan dengan Model Karbonat
Dengan memperhatikan kelarutan kalsium dan
magnesium dalam bentuk karbonatnya (CaCo
3
: 4,0 x 10
-9
,
MgCO
3
: 1,0 x 10
-5
), diharapkan senyawa kalsium dengan
magnesium sudah terendapkan terlebih dahulu pada
kepekatan larutan garam sekitar 18-25
o
Be. Kalsium sulfat
(kelarutan 1,2 x 10
-6
) juga sudah ikut terendapkan, sehingga
pada proses kristalisasi garam pada kepekatan di atas 25
o
Be,
kandungan kalsium dan magnesium dalam garam yang
dihasilkan sudah menurun.
14

Pembentukan kalsium karbonat dan magnesium
karbonat diharapkan dari kandungan CO
2
yang ada di air laut
atau sengaja diperlukan agar kandungan CO
2
di air laut yang
digunakan sebaagi bahan baku pembuatan garam meningkat.
Sebagai sumber CO
2
dapat

digunakan natrium karbonat
(Na
2
CO
3
) atau natrium bikarbonat (NaHCO
3
) atau dengan
menggunakan sumber CO
2
alami (dari ikan dan zooplankton).

2. Pengendapan dengan Model Oksalat
Dengan memperhatikan kelarutan kalsium dan
magnesium dalam bentuk oksalatnya (CaC
2
O
4
: 4,8 x 10
-9
,
MgC
2
O
4
: 1,0 x 10
-8
), diharapkan senyawa kalsium dan
magnesium sudah terendapkan terlebih dahulu pada
kepekatan larutan garam sekitar 18 23
o
Be, kalsium sulfat
(kelarutan 1,2 x 10
-6
) juga sudah ikaut terendapkan, sehingga
pada proses kristalisasi garam pada kepekatan di atas 25
o
Be,
senyawa kalsium dan magnesium oksalat sudah terendapkan.
Walaupun demikian model yang dianjurkan adalah
menggunakan Natrium Karbonat, karena bahannya mudah
didapat dan harganya murah.



15

III. METODE PEMBUATAN GARAM

3.1 Penyiapan Lokasi Penggaraman
Proses pembuatan garam yang sederhana adalah
menguapkan air laut sehingga mineral-mineral yang ada
didalamnya mengendap. Hanya saja mineral-mineral yang
kurang diinginkan sedapat mungkin hanya sedikit yang
dikandung oleh garam yang diproduksi.
Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara
bertingkat, sehingga dengan gaya gravitasi air dapat mengalir
ke hilir kapan saja dikehendaki. Dalam buku ini diberikan dua
model peningkatan mutu garam, yaitu mengendapkan Cad an
Mg dengan menggunakan Natrium Karbonat atau Natrium
Oksalat yang dikombinasikan dengan cara pengendapan
bertingkat.
Kalsium dan magnesium sebagai unsur yang cukup
banyak dikandung dalam air laut selain NaCl perlu diendapkan
agar kadar NaCl yang diperoleh meningkat. Kalsium dan
Magnesium dapat terendapkan dalam bentuk garam sulfat,
karbonat dan oksalat. Dalam proses pengendapan atau
kritalisasi garam karbonat dan oksalat mengendap dahulu,
menyusul garam sulfat, terakhir bentuk garam kloridanya.
16

Prinsip dasar dari proses pembuatan garam yang
dilakukan adalah menghasilkan garam yang berkualitas lebih
baik. Untuk itu, diperlukan studi lapangan yang menunjang
kualitas garam antara lain kondisi lahan yang digunakan,
kemiringan, uji laboratorium, termasuk kondisi iklim dan
sebagainya, sehingga dihasilkan garam sesuai kualitas yang
diharapkan.
Data yang diperlukan yaitu:
- Evaporasi/penguapan (tinggi)
- Kecepatan dan arah angin (>5 m/detik)
- Suhu udara (>32
o
C)
- Penyinaran matahari (100%)
- Kelembaban Udara (<50% H)
- Curah hujan (rendah) dan hari hujan (kurang)
- Pasang surut

3.2 Alat dan Bahan
A. Alat
Alat-alat yang diperlukan antara lain:
- Meteran
- Pompa
- Pipa paralon, stop kran dan selang karet
- Cangkul, linggis, skop, penggaruk, dsb
17

B. Bahan
Bahan-bahan yang diperlukan antara lain:
- Air laut yang bebas dari polusi (dipompa)
- Natrium karbonat (teknis)
- Natrium Oksalat (tenis)

C. Lokasi Penggaraman
Tanah untuk penggaraman dipilih harus memenuhi kriteria
yang berkaitan dengan ketinggian dari permukaan laut,
topografi tanah, sifat fisis tanah, kehidupan
(hewan/tumbuhan) dan gangguan bencana alam.
a. Letak terhadap permukaan air laut:
- Untuk mempermudah suplai air laut
- Untuk mempermudah pembuangan
b. Topografi:
- Dikehendaaki tanah yang landau atau kemiringan
kecil
- Untuk mengatur tata aliran air dan meminimalisasi
biaya konstruksi
c. Sifat fisis tanah:
Dikehendaki sifat-sifat:
- Permeabilitas rendah
- Tanah tidak mudah retak
18

Pasir : Permeabilitas tinggi
Tanah liat : Permeabilitas rendah
Retak pada kelembaban rendah
Untuk peminihan Tanah liat untuk
penekanan resapan air
(kebocoran)
Untuk meja-meja Campuran pasir dan
tanah liat guna kualitas
dan kuantitas hasil
produksi
Pengujian laborat tanah, yang diperlukan:
- Grain size (ukuran)
- Perlakuan pada pengerasan (proctor test) Bila
diperlukan daya dukung untuk lokasi gudang dan
pondasi pompa.

d. Gangguan kehidupan
- Tanaman pengganggu
- Binatang tanah

e. Gangguan bencana alam
Daerah banjir/gempa/gelombang pasang.

19

D. Proses Pembuatan Garam
Ada bermacam-macam cara pembuatan garam yang telah
dikenal manusia, tetapi dalam brosur ini hanya akan diuraikan
secara singkat cara pembuatan garam yang proses
penguapannya menggunakan tenaga matahari (solar
evaporation), mengingat cara ini dinilai masih tepat untuk
diterapkan perkembangan teknologi dan ekonomi di
Indonesia pada waktu sekarang.
Pada dasarnya pembuatan garam dari air laut terdiri dari
langkah-langkah proses pemekatan (dengan menguapkan
airnya) dan pemisahan garamnya (dengan kristalisasi).
Bila Seluruh zat yang terkandung diendapkan/dikristalkan
akan terdiri dari campuran bermacam-macam zat yang
terkandung, tidak hanya Natrium klorida yang terbentuk
tetapi juga beberapa zat yang tidak diinginkan ikut terbawa
(impurities). Proses kristalisasi yang demikian disebut
kristalisasi total.
20


Gambar 1. Bagan Proses Pembuatan Garam Evaporasi Kadar
NaCl Tinggi
Bila terjadi kristalisasi komponen garam tersebut diatur
pada tempat-tempat yang berlainan secara berturut-turut
maka dapatlah diusahakan terposahnya komponen garam
yang relative lebih murni. Proses kristalisasi demikian disebut
kristalisasi bertingkat.
Untuk mendapatkan hasil garam Natrium Klorida yang
kemurniannya tinggi harus ditempuh cara kristalisasi
bertingkat, yang menurut kelakuan air laut, tempat kristalisasi
21

garam (disebut meja garam) harus mengkristalisasikan air
pekat dari 25
o
Be sehingga menjadi 29
o
Be, sehingga
pengotoran oleh gips dan garam-garam magnesium dalam
garam yang dihasilkan dapat dihindari/dikurangi.

1. Konstruksi Penggaraman
Ada dua macam konstruksi penggaraman yang dipakai di
Indonesia:
- Konstruksi Tangga
Yaitu konstruksi yang terancang khusus dan teratur
dimana suatu petak penggaraman merupakan suatu unit
penggaraman yang komplit, terdiri dari peminihan-
peminihan dan meja-meja garam dengan konstruksi
tangga, sehingga alirean air berjalan secara alamiah
(gravitasi).

- Konstruksi Komplek Meja (tafel complex)
Yaitu konstruksi penggaraman dimana suatu kompleks
(kelompok-kelompok) penggaraman yang luas yang
letaknya tidak teratur (alamiah) dijadikan suatu
kelompok peminihan secara kolektif, yang kemudian air
pekat (air tua) yang dihasilkan dialirkan ke suatu meja
untuk kristalisasi.
22


2. Faktor-faktor Teknis yang Mempengaruhi Produksi
Garam
a. Air Laut
Mutu air laut (terutama dari segi kadar garamnya
termasuk kontaminasi dengan air sungai), sangat
mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk pemekatan
(penguapan).

b. Keadaan Cuaca
- Panjang kemarau berpengaruh langsung kepada
kesempatan yang diberikan kepada kita untuk
membuat garam dengan pertolongan sinar matahari.
- Curah hujan (intensitas) dan pola hujan distribusinya
dalam setahun rata-rata merupakan indikator yang
berkaitan erat dengan panjang kemarau yang
kesemuanya mempengaruhi daya penguapan air laut.
- Kecepatan angin, kelembaban udara dan suhu air
udara sangat mempengaruhi kecepatan penguapan
air, dimana makin besar penguapan maka makin
besar jumlah Kristal garam yang mengendap.


23

c. Tanah
- Sifat porositas tanah mempengaruhi kecepatan
perembesan (kebocoran) air laut kedalam tanah yang
di peminihan ataupun di meja.
- Bila kecepatan perembesan ini lebih besar daripada
kecepatan penguapannya, apalagi bila terjadi hujan
selama pembuatan garam, maka tidak akan
dihasilkan garam.
- Jenis tanah mempengaruhi pula warna dan
ketidakmurnian (impurity) yang terbawa oleh garam
yang dihasilkan.

d. Pengaruh air
- Pengarturan aliran dan tebal air dari peminihan satu
keberikutnya dalam kaitannya dengan faktor-faktor
arah kecepatan angina dan kelembaban udara
merupakan gabungan penguapan air (koefisien
pemindahan massa).
- Kadar/kepekatan air tua yang masuk ke meja
kristalisasi akan mempengaruhi mutu hasil.
- Pada kristalisasi garam konsentrasi air garam harus
antara 25 29
o
Be. Bila konsentrasi air tua belum
mencapai 25
o
Be maka gips (Kalsium Sulfat) akan
24

banyak mengendap, bila konsentrasi air tua lebih dari
29
o
Be Magnesium akan banyak mengendap.
e. Cara Pungutan Garam
Segi ini meliputi jadwal pungutan, umur kristalisasi garam dan
jadwal pengejaan tanah meja (pengerasan dan pengeringan).
Demikian pula kemungkinan dibuatkan alas meja dari Kristal
garam yang dikeraskan, makin keras alas meja makin baik.
Pungutan garam ada 2 sistem:
- Sistem Portugis
Pungutan garam di atas lantai garam, yang terbuat dari
Kristal garam yang dibuat sebelumnya selama 30 hari,
berikut tiap 10 hari dipungut.
- Sistem Maduris
Pungutan garam yang dilakukan di atas lantai tanah,
selama antara 10 15 hari garam diambil di atas dasar
tanah.

f. Air Bittern
Air bittern adalah sisa kristalisasi yang sudah banyak
mengandung garam-garam magnesium (pahit).
Air ini sebaiknya dibuang untuk mengurangi kadar Mg
dalam hasil garam, meskipun masih dapat menghasilkan
25

Kristal NaCl. Sebaiknya kristalisasi garam dimeja terjadi
antara 25 29
o
Be, sisa bittern 29
o
Be dibuang.

3. Tahapan Proses Pembuatan Garam
a. Pengeringan lahan
- Pengeringan lahan pemenihan dilaksanakan pada
awal bulan April
- Pengeringan lahan kristalisasi

b. Pengolahan Air Peminian/Waduk
- Pemasukan air laut ke Peminian
- Pemasukan air laut ke lahan kristalisasi
- Pengaturan air di Peminian
- Pengeluaran Brine ke meja Kristal dan setelah habis
dikeringkan selama seminggu
- Pengeluaran Brine ke meja Kristal dan setelah habis
dikeringkan, untuk pengeluaran Brine selanjutnya
dari peminian tertua melalui Brine Tank
- Pengembalian air tua ke waduk. Apabila air
peminihan cukup untuk memenuhi meja Kristal,
selebihnya dipompa kembali ke waduk


26

c. Pengolahan Air dan Tambak
- Pekerjaan Kesap Guluk (K/G) dan Pengeringan:
Pertama K/G dilakukan setelah air meja 4-6
o
Be;
Kedua K/G dilakukan setelah air meja 18-22
o
Be dan
meja diatasnya dilakukan K/G dengan perlakuan
sama.
- Lepas air tua dilakukan pada saiang hari dengan
konsentrasi air garam 24-25
o
Be dan ketebalan air 3-5
cm.

d. Proses Kristalisasi
- Pemeliharaan meja bergaram
- Aflak (peralatan permukaan dasar garam)

e. Proses Pungutan
- Umur Kristal garam 10 hari secara rutin
- Pengisian garam dilakukan hati-hati dengan ketebalan
air meja cukup atau 3-5 cm
- Angkutan garam dari meja ke timbunan membentuk
profil (ditiriskan), kemudian diangkut ke gudang atau
sipa untuk proses pencucian


27

f. Proses Pencucian
- Pencucian bertujuan untuk meningkatkan kandungan
NaCl dan mengurangi unsur Mg, Ca, SO4 dan kotoran
lainnya
- Air pencuci semakin bersih dari kotoran akan
menghasilkan garam cucian lebih baik atau bersih.
Persyaratan air pencuci:
Air garam (Brine) dengan kepekatan 20-24
o
Be
Kandungan Mg 10 g/liter










Gambar 2. Proses Pembuatan Garam



28











Gambar 3. Bagan Alir Proses Pembuatan Garam












29

IV. PENCUCIAN GARAM

4.1 Pengertian
Pencucian garam adalah suatu cara menghilangkan/
mengurangi komponen - komponen yang tidak diinginkan
dengan melalui pengkontakkan antara benda padat dengan
cairan.










Gambar 4. Alat Pencucian Garam

Keterangan Gambar:
I,II,III : Bak sirkulasi air pencuci terbuat dari beton
1,2,3 : Bak penampung yang beisi garam yang
bercampur air, pencuci air terbuat
30

dari beton
A : Alat penghapus garam (crusher)
B1,B2,B3 : Talang pencucian garam terbuat dari kayu
yang bagian dalam dilapisi plat aluminium
dengan posisi kemiringan 15 30
0
C
C : Pipa pencucian garam terbuat dari pipa
paralon
D : Pompa sirkulasi air pencuci
E : Saluran pembuangan air pencuci garam
menuju ke bak sirkulasi air pencuci

Prosedur Pencucian Garam
a. Garam dan air dimasukkan ke dalam alat penghalus
garam (Crusher) untuk dihaluskan (A).
b. Garam yang telah dihaluskan setelah keluar dari crusher
masuk ke dalam talang pencuci pertama (B1) sambil
disemprotkan air pencucian.
c. Garam bersama air pencuci meluncur masuk ke dalam
bak penampungan garam (1).
d. Garam yang telah dicuci dari bak penampung garam (1)
dimasukkan ke dalam talang pencuci kedua (B2) dengan
sekop terbuat dari monel.
31

e. Garam yang telah masuk ke dalam talang pencuci kedua
(B2) sambil disemprotkan air pencuci, meluncur masuk
ke dalam bak penampungan garam (2).
f. Garam yang telah dicuci dari bak penampung garam (2)
dimasukkan ke dalam talang pencuci ketiga (B3) sekop
terbuat dari monel.
g. Garam yang telah masuk ke dalam pencuci talang ketiga
(B3) sambil disemprotkan air pencuci, meluncur masuk
ke dalam bak penampung garam (3).
h. Garam yang telah dicuci dari bak penampung garam (3)
dipindahkan ke dalam bak penampung pengeringan
bahan.
i. Sedangkan air dari pencuci garam dari masing-masing
bak penampung garam mengalir masuk ke dalam saluran
pembuangan air pencuci (E) yang menuju ke dalam bak
sirkulasi air pencuci (I) terus mengalir ke bak sirkulasi (II)
hingga mengalir ke bak sirkulasi (III).
j. Air pencuci garam dari bak sirkulasi (III) dialirkan dengan
pompa sirkulasi pencuci (D) ke pipa air pembagi (B1, B2,
B3) demikian seterusnya.

4.2 Proses Pencucian Awal
Peralatan yang digunakan antara lain:
32

1. Mixing Pump
2. Crusher
Pada proses pencucian awal, dari Hopper bahan baku
dicampur dengan larutan garam jenuh masuk ke dalam
Mixing Pump, atau Wet Cyclone, dimana sebelumnya bias
menggunakan Crusher (Grinder) untuk memperoleh butiran
yang seragam.
Garam yang berupa Slurry masuk ke dalam Mixing Pump
untuk dicuci awal dan dikirimkan ke pencucian kedua.

4.3 Proses Pencucian Kedua
Pada proses pencucian kedua garam yang berasal dari
pencucian awal dicuci lagi dengan larutan jenuh. Pada
pencucian kedua ini alat yang bisa dipakai adalah:
1. Static Drainer
2. Wet Cyclone
Dimana garam yang berupa Slurry ditambahkan larutan
garam jenuh sambil diaduk perlahan-lahan agar kotoran yang
masih ada bias diendapkan atau garam dibilas/disemprotkan
dengan larutan garam jenuh.
Garam berbentuk slurry dipompakan ke tahapan
pemisahan atau jatuh secara statis ke alat pemisah.

33

4.4 Tahapan Pemisahan atau Separasi
Tahapan pemisahan ini adalah proses untuk memisahkan
garam dengan larutan jenuh yaitu garam yang berupa slurry
dipisahkan satu sama lain sehingga diperoleh garam yang
diinginkan.
Ada dua macam peralatan yang dapat dipakai yaitu:
1. Theckener
Di dalam Theckener ini garam diberi kesempatan untuk
mengendap sambil dibersihkan lagi dengan larutan
garam jenuh yang dimasukkan dari bawah. Larutan
garam jenuh sebagai over flow masuk dalam bak dipakai
sebagai pencucian. Garam yang mengendap dimasukkan
ke dalam Centrifuger untuk dipisahkan antara garam
dengan larutan garam jenuh.

2. Centrifuger
Centrifuger berfungsi untuk memisahkan antara garam
dengan larutan garam jenuh sehingga air yang
terkandung dalam garam menjadi sekecil mungkin.

4.5 Tahapan Proses Lanjutan
Tahapan proses lanjutan setelah diadakan pencucian dan
pemisahan garam dengan larten jenuh adalah proses yodisasi
34

dan dikemasi atau dikeringkan dan dicrusher untuk garam
halus.
Bila dilaksanakan dengan meyodisasi garam banyak
macam peralatan yng dapat dipakai sesuai kebutuhan antara
lain: Belt conveyor; Screw Conveyor dan Piring berputar.


















35

V. YODISASI GARAM

Yodisasi garam adalah memberikan atau menambahkan
larutan iodium kedalam garam dengan perbandingan
tertentu. Iodisasi dilakukan hendaknya setelah galam
mengalami proses pengeringan, hal ini dimaksudkan untuk
menghindari adanya kehilangan KIO
3
dalam kondisi basah.
Ada 2 cara pemberian larutan KIO
3
pada garam yaitu:
1. Drip feeding system
2. Spray mixing system

A. Cara Pelarutan KIO
3
dengan Air
Untuk memperoleh kadar KIO
3
dalam 30-80 ppm, maka
larutan yang digunakan dengan perbandingan 1:15 atau kata
lain 1 Kg KIO
3
dilarutkan dalam air laut atau air tawar
sebanyak 15 liter, untuk 15 ton garam.







FORMULA
Untuk mendapatkan garam beriodium dengan kualitas 40
sampai dengan 50 ppm di tingkat produsen maka
formulanya adalah sebagai berikut:
40 ppm 50 ppm 80 ppm
- Garam : 25 ton 20 ton 15 ton
- KIO
3
: 1 kg 1 kg 1 kg
- Air laut : 25 liter 20 liter 15 liter
36

B. Persyaratan bahan Penolong dan Air Pelarut
1. Persyaratan bahan penolong
Persyaratan KIO
3
:
Jenis bahan : Food greed
Kandungan : 90%
Ukuran Mesh : 100 Mesh
Logam berbahaya : Nihil (Pb, Hg, Zn, Cu, As)

2. Persyaratan Air Perlarut
Air yang digunakan sebagai pelarut KIO
3
adalah air laut bersih
atau air tawar setara dengan air minum.

C. Bahan baku
Garam yang digunakan sebagai bahan baku garam
beriodium adalah garam yang putih, bersih dan kering (kadar
air 5 7%). Apabila kedua hal tersebut diatas tidak terdapat
di dalam garam yang akan digunakan sebagai bahan baku,
maka harus dilakukan pencucian terlebih dahulu sampai putih
dan bersih.
Garam harus memenuhi persyaratan:
a. Ukuran partikel/butirannya tidak lebih besar dari 2 cm,
sebaiknya 1 sampai 1,5 cm
37

b. Kadar airnya rendah (2 - 4 %) dalam prakteknya
ditoleransi sampai 5%
c. Mempunyai sifat bebas mencurai
d. Mempunyai Bulk density (berat jenis) kira-kira sama
dengan air (1 ton tidak sama M
3
) = 1 kg/dm
D. Peralatan Yodisasi yang bias digunakan
- Belt Conveyor
- Screw Conveyor
- Belt Conveyor dan Screw
- Mesin dengan Piring berputar
- Molen









Gambar 5. Skema Rangkaian Mesin Yodisasi Garam


38

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1993. Sodium Chloride dalam Chemical Index.
Anonim. The Salt Manufacturers Association. Manchester.
United Kingdom
Aprogakop. 2000. Posisi Indonesia dan Pengaruh terhadap
Industri di Indonesia. Depatemen Kelautan dan
Perikanan.
Direktorat Industri Kimia An Organik. Deperindag. 2000.
Pertumbuhan Permintaan dan Penyediaan Garam Serta
Kebijaksanaan Penanganan Garam di Indonesia.
Departemen Kelautan dan Perikanan.
Kerry Mgruder. Halite. Guidelines for Rock Collection.
PT. Garam. 2000. Teknologi Pembuatan dan Kendala Produksi
Garam di Indonesia. Depatemen Kelautan dan
Perikanan.







39

Lampiran 1






















40

Lampiran 2






















41

Lampiran 3
IKLIM
Iklim Kondisi alam suatu daerah
tertentu yang mempunyai sifat
sama pada periode tertentu
Musim Kondisi alam suatu daerah
tertentu pada periode waktu
tertentu dan kondisi ini berulang
secara periodik
Cuaca Kondisi alam di suatu tempat
pada saat tertentu
Unsur-unsur Iklim/Cuaca - Radiasi matahari
- Suhu udara
- Tekanan udara
- Kecepatan angin
- Kelembaban udara
- Penguapan
- Awan dan hujan





42

Lampiran 4
PERALATAN PRODUKSI GARAM
ALAT PRODUKSI FUNGSI PERALATAN
Baume Meter Mengukur konsentrasi air
Sorkot Kesap Membersihkan kotoran dan air
meja/kesap meja
Sorkor Garam Mengais garam di meja kristal
Sorkot Besi Melonggarkan/merata Kristal garam
Laskar Kayu Meratakan dasar meja Kristal/proses
kesapan
Guluk Kayu Pengerasan awal meja kristal
Guluk Beton Pengerasan meja Kristal setelah
guluk kayu
Unit Singgutan Pemindahan air dari meja ke meja
atas
Kincir Angin Pemindahan air dengan tenaga
angin
Unit Pikulan Garam Sarana anggkutan garam dari lading
ke penjemuran
Profil Garam Mengukur tonase timbunan garam



43

Lampiran 5.
Data Studi LApangan Yang Diperlukan untuk menghasilkan
Garam Berkualitas:
1. Evaporasi
2. Kecepatan dan Arah Angin
3. Suhu Udara
4. Penyinaran Matahari
5. Kelembaban Udara
6. Penguapan
7. Curah Hujan dan Hari Hujan
8. Pasang Surut












44

Lampiran 6.
Persyaratan Lokasi Penggaraman
a. Letak terhadap permukaan air laut:
- Memudahkan supply air laut
- Memudahkan pembuangan

b. Topografi:
- Tanah landau atau kemiringan kecil
- Tata aliran air dapat diatur
- Memperkecil biaya konstruksi

c. Sifat Fisis Tanah:
- Permeabilitas rendah
- Tanah tidak mudah retak

d. Gangguan Kehidupan:
- Tanaman pengganggu
- Binatan tanah

e. Gangguan Bencana Alam:
Daerah banjir, gempa, gelombang pasang


45

Lampiran 7.
KANDUNGAN GARAM (STANDAR SNI)
Jenis Konsumsi Industri
NaCl 95% 97,5%
Magnesium 2% 0,3%
Sulfat - 0,5%
Kalsium 2% 0,2%
Kotoran 1% -
Kadar air 7% 3,5%














46

Lampiran 8.
Faktor Teknis Mempengaruhi Produksi Garam
1. Air Laut
- Kadar garam
- Tidak terkontaminasi dengan air sungai
2. Keadaan Cuaca
- Panjang kemarau
- Curah hujan dan pola hujan
- Kecepatan angina, kelembaban udara dan suhu udara
3. Tanah
- Sifat porositas tanah
- Jenis tanah
4. Pengaruh Air
- Pengaturan aliran dan tebal air
- Kadar/kepekatann air tua
- Konsentrasi air garam antara 25-29
o
Be
5. Cara Punggutan Garam
- Sistem portugis
- System maduris
6. Air bittern
Air sisa banyak mengandung garam dan magnesium


47

Lampiran 8
Tahapan Proses Pembuatan Garam
1. Pengeringan lahan:
- Pengeringan lahan pemenihan, dilakuakan pada bulan
April
- Pengeringan lahan kristalisasi
2. Pengelolaan air peminian/waduk:
- Pemasukan air laut ke Peminian
- Pemasukan air laut ke lahan kristalisasi
- Pengaturan air ke Peminian
- Pengeluaran Brine ke meja Kristal sampai kering
salama 1 minggu
- Dari pengeluaram Brine ke Peminian tertua melalui
Brine Tank
- Pengembalian air tua ke waduk
3. Pengolahan air tanah:
- Pekerjaan kesap guluk (K/G) dan pengeringan
a. K/G dialkuakan setelah air meja 4-6
o
Be
b. K/G dilakukan setelah air meja 18-22
o
Be
- Lepas air tua dilakukan siang hari dengan konsentrasi
air garam 24-25
o
Be dan tebal air 3-5 cm
4. Proses kristalisasi:
- Pemeliharaan meja bergaram
48

- Perataan permukaan dasar garam (Aflak)
5. Proses pungutan:
- Umur Kristal garam 10 secara rutin
- Pengasisan garam dilakukan dengan hati-hati, tebal
air meja 3-5 cm
- Angkutan garam dari meja ke timbunan membentuk
profil (ditiriskan) kemudian diangkut ke gudang
proses pencucian
6. Proses pencucian, bertujuan:
- Untuk meningkatkan kandungan NaCl dan
mengurangi unsur Mg, Ca, SO
4
dan kotoran lainnya
- Semakin bersih akan semakin baik
- Persyaratan air bersih: Air garam (brine) dengan
kepekatan 20-24
o
Be; dan kandungan Mg<10 g/liter