Anda di halaman 1dari 32

KATARAK SENILIS

Oleh :
Handre Putra
Yoely Ardiansyah

DEFINISI
Katarak adalah istilah kedokteran untuk setiap keadaan
kekeruhan pada lensa mata yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan lensa) ,denaturasi protein
lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya.

Katarak Senilis adalah semua kekeruhan lensa yang
terdapat pada usia lanjut, yaitu diatas 50 tahun.
EPIDEMIOLOGI
Katarak senilis : 90 persen dari seluruh kasus katarak.
Katarak senilis masih menjadi penyebab kebutaan utama di
seluruh dunia. Setidaknya ada 5-10 juta kebutaan akibat
katarak ini setiap tahunnya.
Di Indonesia, prevalensi kebutaan berkisar 1,2% dari jumlah
penduduk di Indonesia. Dari angka tersebut, 0,70% nya
disebabkan oleh katarak.
FAKTOR RISIKO
usia lanjut
diabetes
Hipertensi, dengan peningkatan sistole > 20 mmHg
obesiti (IMB > 27)
life style : perokok pasif dan aktif
penggunaan kortikosteroid yang lama
riwayat keluarga
pajanan sinar UV B yang cukup lama

ETIOLOGI
1. Sebab-sebab biologik : usia tua, genetik
2. Sebab-sebab imunologik
badan manusia mempunyai kemampuan membentuk antibodi
spesifik terhadap protein lensa
3. Sebab-sebab fungsional : intoksikasi ergot, tetani,
aparathyroidism
akomodasi yang sangat kuat efek buruk terhadap serabut
lensa memudahkan kekeruhan
4. Gangguan lokal pada lensa : gangguan nutrisi, gangguan
permeabilitas kapsul, efek radiasi cahaya matahari
5. Gangguan metabolisme umum : defisiensi vitamin, gangguan
endokrin

GANGGUAN KEJERNIHAN LENSA
Kekeruhan karena sembab
Penimbunan air diantara susunan serabut-serabut lensa atau
absorbsi intraseluler yang biasanya ditentukan oleh tekanan
osmosis.
Kekeruhan karena penggumpalan (koagulasi)
Perubahan kimiawi dari kandungan protein lensa sehingga
menjadi tidak larut di dalam air.
BERDASARKAN LOKASINYA, TERDAPAT 3 JENIS:
a. Katarak Nuklear
Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan
menjadi sklerotik. Inti lensa pada mulanya menjadi putih
kekuning-kuningan kemudian coklat dan kemudian
menjadi kehitam-hitaman . Keadaan ini disebut katarak
BRUNESEN atau NIGRA.
b. Katarak Kortikal
Terjadi penyerapan air sehingga lensa menjadi cembung
dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi
lensa . Dapat menyebabkan silau terutama bila menyetir
pada malam hari.
c. Katarak Kupuliform
Mulai dapat terlihat pada stadium dini katarak kortikal
atau nuklear.Kekeruhan terletak dilapis korteks posterior
dan dapat memberikan gambaran piring.


STADIUM
Katarak Insipiens
Katarak imatur
Katarak matur
Katarak hipermatur (Morgagni)
KATARAK INSIPIEN
Pada stadium ini akan terlihat hal-hal berikut:

kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks
anterior dan posterior ( katarak kortikal ).
Vakuol mulai terlihat di dalam korteks.
Katarak sub kapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior
subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan dan
korteks berisi jaringan degenerative(benda morgagni)pada katarak
insipient.
Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks
refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini
kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.

KATARAK IMATUR
Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang
lebih tebal tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa
sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada
lensa.

Pada stadium ini terjadi hidrasi kortek yang mengakibatkan
lensa menjadi bertambah cembung, mata akan menjadi
mioptik.

Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris
kedepan sehingga bilik mata depan akan lebih sempit.
KATARAK MATUR
Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi
pengeluaran air bersama-sama hasil desintegrasi melalui
kapsul.

Didalam stadium ini lensa akan berukuran normal. Iris tidak
terdorong ke depan dan bilik mata depan akan mempunyai
kedalaman normal kembali.

Kadang pada stadium ini terlihat lensa berwarna sangat
putih akibat perkapuran menyeluruh karena deposit kalsium
( Ca ). Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif.
KATARAK HIPERMATUR
Katarak yang terjadi akibatkorteks yang mencair
sehingga masa lensa ini dapat keluar melalui kapsul.

Akibat pencairan korteks ini maka nukleus
"tenggelam" kearah bawah (jam 6)(katarak morgagni).
Lensa akan mengeriput.

Akibat masa lensa yang keluar kedalam bilik mata
depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis
fakotoksik atau galukoma fakolitik.
MANIFESTASI KLINIS
kekaburan pandangan
penglihatan bertambah menurun
warna kelihatan samar dan kabur
pengurangan penglihatan malam
masalah pada cahaya yang terang dan cahaya matahari
pupil mata seakan-akan bertambah putih

DIAGNOSIS
Anamnesa:
Penurunan ketajaman penglihatan secara progresif (gejala utama katarak)
Mata tidak merasa sakit, gatal atau merah
Gambaran umum gejala katarak yang lain,seperti:

1. Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film
2. Perubahan daya lihat warna
3. Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat
menyilaukan mata
4. Lampu dan matahari sangat mengganggu
5. Sering meminta ganti resep kaca mata
6. Lihat ganda
7. Baik melihat dekat pada pasien rabun dekat ( hipermetropia)

DIAGNOSIS
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan visus
Slit lamp
tonometri
ophtalmoscopy direct atau indirect
PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
Sampai saat ini belum ditemukan obat-obatan
untuk mengobati katarak. Tapi pada katarak yang
terletak pada nukleus dapat diberikan tetes mata
untuk melebarkan pupil.
Surgery
Indikasi operasi :
Indikasi sosial: jika pasien mengeluh adanya
gangguan penglihatan dalam melakukan
rutinitas pekerjaan
Indikasi medis: bila ada komplikasi seperti
glaukoma
Indikasi optik: jika dari hasil pemeriksaan
visus dengan hitung jari dari jarak 3 m
didapatkan hasil visus 3/60
Metode :
EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsuler)
Fakoemulsifikasi

EKEK (EKSTRAKSI KATARAK EKSTRA KAPSULAR)
Dengan teknik ini diperlukan sayatan kornea cukup
panjang (10-11 mm), agar dapat mengeluarkan inti lensa
secara utuh, kemudian sisa lensa dilakukan aspirasi.
Lensa mata yang telah diambil, digantikan dengan lensa
tanam permanen. Diakhiri dengan menutup luka dengan
beberapa jahitan.
FAKOEMULSIFIKASI
Merupakan teknologi terkini, hanya dengan melakukan sayatan
(3mm) pada kornea. Getaran ultrasonic pada alat
fakoemulsifikasi dipergunakan untuk mengambil lensa yang
mengalami katarak, lalu kemudian diganti dengan lensa tanam
permanen yang dapat dilipat.
Luka hasil sayatan pada kornea kadang tidak memerlukan
penjahitan, sehingga pemulihan penglihatan segera dapat
dirasakan. Teknik fakoemulsifikasi memakan waktu 20 - 30 menit
dan hanya memerlukan pembiusan topical/tetes mata selama
operasi.
LENSA INTRAOKULAR (LIO)
Setelah lensa yang mengalami katarak dikeluarkan, biasanya
digantikan dengan lensa buatan atau Lensa Intraokular. Lensa ini
tidak memerlukan perawatan ekstra dan bersifat permanen.
Cahaya akan difokuskan lebih jelas dengan LIO ke retina,
sehingga meningkatkan penglihatan pasien.
Beberapa pasien tidak dapat diberikan LIO karena beberapa
sebab. Seperti adanya penyakit mata lain atau permasalahan
selama operasi. Pada pasien ini dapat disarankan pemberian a
soft contact lens atau kaca mata.
PROGNOSIS
Keberhasilan bedah katarak secara umum dapat
mencapai 95%.

Bedah katarak akan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pencegahannya :

Tidak merokok, karena merokok meningkatkan radikal bebas
dalam tubuh, sehingga risiko katarak akan bertambah
Pola makan yang sehat, memperbanyak konsumsi buah dan
sayur, vt. C, vit. E, dan vit. A
Lindungi mata dari sinar matahari
Mengontrol gula darah dan tekanan darah
Pemeriksaan mata teratur
ILUSTRASI KASUS
Seorang pasien laki-laki, Tn. N berumur 75 tahun masuk bangsal
mata RS M Djamil Padang dengan:

Keluhan Utama : Kedua mata kabur sejak 1 tahun yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang :
Mata kiri kabur sejak 1 tahun yang lalu, mata kabur perlahan-
lahan dan makin lama makin kabur penglihatan.
Riwayat menderita penyakit kencing manis ada sejak usia 40
tahun
Riwayat menderita penyakit darah tinggi tidak ada
Riwayat trauma pada mata tidak ada
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien tidak penah merasakan keluhan yang sama
sebelumnya.
Pasien tidak pernah menderita penyakit mata lain sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak anggota keluarga pasien yang menderita penyakit yang
sama seperti ini.

Pemeriksaan Fisik :
Status Generalisata :
Keadan Umum : sakit sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Frekuensi Nadi : 81 x/menit
Frekuensi Napas : 20x/menit
Suhu : Afebris


Kepala : tidak ada kelainan .
Leher : tidak ditemukan pembesaran KGB.
Paru
Inspeksi : simetris ki, ka (statis, dinamis)
Palpasi : fremitus kiri = kanan.
Perkusi : sonor kiri = kanan.
Auskultasi : vesikuler normal, rh -/-, wh -/-.
Jantung
Inspeksi : iktus tidak terlihat .
Palpasi : iktus teraba 2 jari medial LMCS
RIC V, kuat angkat.
Perkusi : batas jantung normal.
Auskultasi : bunyi jantung murni, irama
teratur, bising ().
Abdomen
Inspeksi : tak tampak membuncit.
Palpasi : hepar dan lien tidak teraba.
Perkusi : tympani.
Auskultasi : bising usus + normal .
Extremitas : edema -/-.
SO OD OS
Visus tanpa koreksi
Visus dengan koreksi
5/6
S -0,25 cc 5/6 (=PH)
0,5/60
(=PH)
Refleks fundus + + menurun
Silia/supersilia madarosis (-), trkikhiasis
(-)
madarosis (-), trkikhiasis
(-)
Palpebra superior
Palpebra inferior
edem (-) edem (-)

Margo palpebra Hordeolum (-), khalazion
(-)
Hordeolum (-), khalazion
(-)
Aparat lakrimalis Anel test (+) lancar Anel test (+) lancar
Konjungtiva tarsalis
Konjungtiva fornicis
Konjungtiva bulbi
Hiperemis (-), folikel (-),
papil (-)
Hiperemis (-), folikel (-),
papil (-)

Sklera putih putih
Kornea Jernih Jernih
Kamera Okuli Anterior Cukup dalam

Cukup dalam
Iris Coklat, rugae (+) Coklat, rugae (+)
Pupil Bulat, RP (+) Bulat, RP (+)
Lensa Relatif bening Keruh pada inti dan
subkapsular posterior
Korpus Vitreus bening Tidak dapat ditembus
Fundus
Papila N. Optikus
Retina
Makula
aa/vv Retina
Tidak dapat ditembus
Tekanan bulbus okuli Palpasi N Palpasi N
Gerakan bulbus okuli Bebas kesegala arah Bebas kesegala arah
Posisi bulbus okuli Ortho ortho
Diagnosis Kerja : Katarak imatur OS

Anjuran Terapi :
ECCE + IOL

TERIMA KASIH