Anda di halaman 1dari 50

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi
yang berkembang sangat cepat memberikan tantangan tersendiri bagi kita
untuk ikut andil didalamnya. Perwujudan pengembangan IPTEK khususnya
di Indonesia dapat dilakukan dengan menciptakan suatu kerjasama yang
baik antara dunia pendidikan dengan instansi pemerintah atau swasta yang
berkaitan untuk menghasilkan sarjana yang berkualitas memiliki
pemahaman dan keterampilan dibidang IPTEK dan penerapannya.
Kerjasama ini dapat dapat dilaksanakan dengan pertukaran informasi antar
masing-masing pihak yang ditekankan pada korelasi antara ilmu di
perguruan tinggi dan di dunia industri.
Mengingat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara agraris
yang pertaniaanya memiliki peran sangat penting dalam perekonomian maka
industri penunjang yang penting adalah industri pupuk. Pupuk menjadi
kebutuhan penunjang krusial di bidang pertanian. Pupuk memegang peranan
penting bagi pertumbuhan tanaman, agar tanaman yang dipelihara dapat
menghasilkan produk pertanian sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena
itu ketersediaan pupuk bagi petani menjadi salah satu perhatian pemerintah.
Sektor pertanian menjadi perhatian utama pemerintah dalam rangka
meningkatkan produksi pertanian guna mendukung tercapainya program
swasembada pangan misalnya beras.
Berbagai aplikasi pupuk yang dilakukan di lapangan menunjukkan
bahwa pemberian lebih dari satu unsur dengan perbandingan yang tepat
akan menimbulkan efek dan hasil produksi yang lebih baik dari pada
pemberian satu unsur dengan jumlah yang banyak. Salah satu jenis pupuk
yang biasa digunakan adalah ZA. Pupuk ZA (Zwalvezur Ammonia atau
Ammonium Sulfat) merupakan jenis pupuk nitrogen yang dapat membantu
tanaman dalam memenuhi kebutuhan nitrogen. Pupuk ini dapat
2

menghasilkan ion NH
4
-
dan juga mengandung sulfur yang sangat dibutuhkan
tanaman.
PT. Petrokimia Gresik adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara
dalam lingkungan Kementrian BUMN yang bergerak dibidang produksi
pupuk dan bahan-bahan kimia. Perusahaan ini merupakan pabrik pupuk
terlengkap diantara pabrik lainnya. Jenis pupuk yang diproduksi antara lain
pupuk Zwavelzur Amonia (ZA), Super Phospat (SP), NPK dan Urea. PT.
Petrokimia Gresik selalu melakukan kontrol kualitas yang ketat pada tiap
produknya, agar dapat mendapatkan pupuk dengan kualitas yang tinggi.
Kontrol tersebut salah satunya dilakukan melalui analisa pada bahan dan
produk ZA. Keseluruhan analisa yang dilakukan akan menentukan apakah
proses produksi ZA tersebut berrjalan dengan baik dan sesuai dengan
standar yang ditentukan sehingga apabila terdapat suatu kesalahan dalam
proses produksi dapat segera ditangani dengan cepat dan tepat. Kontrol
pupuk ZA di Laboratorium Pabrik I PT. Petrokimia Gresik meliputi analisa
kadar air dalam pupuk ZA I dan ZA III, persentase butiran pada pupuk ZA I
dan ZA III, kadar asam bebas dalam pupuk ZA I dan ZA III dan uji larutan
ZA pada larutan induk (mother liquor). Analisa kadar air dilakukan untuk
mengetahui sisa kadar air sebelum memasuki dryer, apabila kadar air
melebihi batas SNI menyebabkan penggumpalan. Analisa kadar free acid
dilakukan untuk mengetahui sisa kadar asam dari H
2
SO
4
yang dapat
menyebabkan tanaman layu dan mati. Analisa persentase butiran dilakukan
karena apabila kurang dari standar SNI yang ditetapkan menyebabkan pupuk
yang disebar mudah terbawa angin sehingga pemupukan tidak merata dan
pada pupuk yang terdapat di dalam kantong produk dapat lolos. Analisa
kadar Fe pada laurutan induk agar besi-besi dari pipa tidak mengkarat dan
menyebabkan tanaman layu.
Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka saya selaku mahasiswa
Jurusan Kimia FMIPA UNS memilih PT.PETROKIMIA GRESIK sebagai
tempat Kuliah Magang Mahasiswa (KMM).

3

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam laporan KMM ini adalah bagaimana
menganalisa secara kuantitatif dan kualitatif pada pupuk ZA I/III yang akan
dipasarkan dengan dibandingkan nilai standarnya pada SNI 02-1760-2005.

1.3 Tujuan KMM
Adapun tujuan dari kuliah magang mahasiswa yang dilakukan di
PT.PETROKIMIA Gresik adalah mahasiswa dapat mengetahui jenis analisa
yang dilakukan pada ZA I/III dan kesesuian hasil analisa dengan batasan
operasional dan standar SNI 02-1760-2005 yang ditentukan.

1.4 Manfaat KMM
Manfaat yang akan didapatkan dari rangkaian kerja praktek ini
dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Bagi Perguruan Tinggi
Sebagai tambahan referansi khususnya mengenai perkembangan industry
di Indonesia maupun proses dan teknologi yang mutakhir yang dapat
digunakan oleh pihak-pihak yang memerlukan di Perguruan Tinggi.
2. Bagi Perusahaan
Hasil analisa dan temuan-temuan yang terjadi selama kuliah magang
mahasiswa dapat menjadi bahan masukan bagi perusahaan untuk
menentukan kebijakan perusahaan.
3. Bagi mahasiswa
Mahasiswa mendapatkan pelajaran baru terkait pengalaman-pengalaman
yang belum didapatkan didunia perkuliahan.






4

BAB II
LANDASAN TEORI

Tinjauan Umum Perusahaan
2.1 Sejarah PT. Petrokimia Gresik
Seiring perkembangan jaman yang terus berkembang dengan
pesatnya, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu proyek
Petrokimia Surabaya telah berubah nama menjadi PT.Petrokimia Gresik.
Bernaung dibawah Holding Company, PT. Petrokimia Gresik bergerak
dalam bidang produksi pupuk,bahan-bahan kimia dan produksi jasa lainnya.
Nama Petrokimia itu sendiri berasal dari kata Petroleum Chemical dan
kemudian disingkat menjadi Petrochemical yang merupakan bahan-bahan
kimia yang terbuat dari minyak bumi dan gas.
Sebagai pabrik pupuk kedua yang dibangun setelah PT.Pusri
Palembang, Pemerintah telah merancang keberadaannya sejak tahun 1965
melalui Biro Perancangan Negara (BPN). Pada mulanya, pabrik pupuk yang
hendak dibangun di Jawa Timur ini disebut Projek Petrokimia Soerabaja
yang dibentuk berdasarkan ketetapan MPRS No. II tahun 1960 yang
dicantumkan sebagai proyek prioritas dalam Pola Pembangunan Nasional
Semesta Berencana Tahap I (1961-1969). Pembangunan proyek ini
berdasarkan instruksi presiden dengan Surat Keputusan Presiden No. 225
tahun 1963.
Gresik dipilih sebagai lokasi pabrik pupuk berdasarkan hasil studi
kelayakan pada tahun 1962 oleh Badan Persiapan Proyek-proyek Industri
(BP3I) yang dikoordinir Departemen Perindustrian Dasar dan
Pertambangan. Pada saat itu, Gresik dinilai ideal dengan pertimbangan
sebagai berikut :
a. Cukup tersedia lahan yang kurang produktif
b. Cukup tersedianya sumber air dan aliran Sungai Brantas dan Sungai
Bengawan Solo.
5

c. Berdekatan dengan daerah konsumen pupuk terbesar, yaitu perkebunan
dan petani tebu.
d. Dekat dengan pelabuhan sehingga memudahkan untuk mengangkut
peralatan pabrik selama masa konstruksi, pengadaan bahan baku,
maupun pendistribusian hasil produksi melalui angkutan laut.
e. Dekat dengan Surabaya yang memiliki kelengkapan yang memadai,
antara lain tersedianya tenaga-tenaga terampil.
Kontrak pembangunan proyek yang menggunakan fasilitas kredit
dari pemerintah Italia ini berlaku mulai Desember 1964 dan sebagai
pelaksanaanya Condsidit SpA yaitu kontraktor dari Italia. Pembangunan
fisiknya dimulai pada awal tahun 1966 dengan berbagai hambatan yang
dialami terutama masalah kesulitan pembiayaan sehingga menyebabkan
pembangunan proyek tertunda. Pembangunan proyek dimulai kembali pada
Maret 1970, pabrik yang memproduksi pupuk ZA dengan kapastas 150.000
ton/tahun dan produksi pupuk Urea dengan kapasitas 61.700 ton/tahun ini
kemudian diresmikan penggunaannya pada tanggal 10 Juli 1972 oleh
Presiden Republik Indonesia yang kemudian diabadikan sebagai hari jadi
PT.Petrokimia Gresik. Dalam perjalanannya sebagai perusahaan BUMN,
status PT.Petrokimia Gresik mengalami beberapa kali perubahan antara lain:
a. Perusahaan Umum (Perum) PP No. 55/1971
b. Persero PP No. 35/1974 jo PP No. 14/1975
c. Anggota Holding PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) PP No. 28/1997
d. Anggota Holding PT Pupuk Indonesia (Persero) SK Kementerian
Hukum & HAM Republik Indonesia, nomor : AHU-17695.AH.01.02
Tahun 2012
PT.Petrokimia Gresik saat ini menempati lahan komplek seluas 450
Ha berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Area tanah yang ditempati
berada di 3 kecamatan yang meliputi 10 desa, yaitu :
a. Kecamatan Gresik, meliputi : Ngipik, Karangturi, Sukorame,
Tlogopojok.
b. Kecamatan Kebomas, meliputi : Kebomas, Tlogopatut, Randu Agung.
6

c. Kecamatan Manyar, meliputi : Rumo Meduran, Tepen, Pojok Pesisir.
Dalam rangka memenangkan persaingan usaha pada era globalisasi,
PT.Petrokimia Gresik melakukan langkah-langkah penyempurnaan yang
dilakukan secara berkesinambungan baik untuk internal maupun eksternal
yang mengarah pada pengembangan usaha dan tuntutan pasar. Salah satu
langkah konkrit yang dilakukan adalah mendapatkan sertifikat ISO 9002 dan
ISO 14001 dan berhasilnya pengembangan pupuk majemuk Phonska.

2.2 Visi, Misi dan Budaya Perusahaan
2.2.1 Visi Perusahaan
Visi dari PT.Petrokimia Gresik yaitu bertekad untuk menjadi
produsen pupuk dan produk kimia lainnya yang berdaya saing tinggi dan
produknya paling diminati konsumen.
2.2.2 Misi Perusahaan
Misi dari PT.Petrokimia Gresik adalah sebagai berikut :
a. Mendukung penyediaan pupuk nasional untuk tercapainya program
swasembada pangan.
b. Meningkatkan hasil usaha untuk menunjang kelancaran kegiatan
operasional dan pengembangan usaha.
c. Mengembangkan potensi usaha untuk pemenuhan industri kimia
nasional dan berperan aktif dalam community development.
2.2.3 Budaya Perusahaan
Budaya dari PT.Petrokimia Gresik adalah sebagai berikut :
a. Mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja serta pelestarian
lingkungan hidup dalam setiap kegiatan operasional.
b. Memanfaatkan profesionalisme untuk peningkatan kepuasan pelanggan.
c. Meningkatkan inovasi untuk memenangkan bisnis
d. Mengutamakan integritas di atas segala hal.
e. Berupaya membangun semangat kelompok yang sinergistik.


7

2.3 Perluasan Perusahaan
a. Perluasan Pertama (29-08-1979)
Pabrik pupuk TSP I oleh Spie Batignoless dilengkapi dengan :
1) Prasarana perusahaan
2) Penjernihan air Gunung Sari serta Booster Pump
b. Perluasan Kedua (30-07-1983)
Pabrik pupuk TSP I oleh Spie Batignoless dilengkapi degan :
1) Prasarana pelabuhan
2) Pusat penjernihan air di Babat
c. Perluasan Ketiga (10-01-1984)
Pabrik Asam Fosfat dan produk sampingan yang meliputi :
1) Pabrik asam sulfat
2) Pabrik asam fosfat
3) Pabrik cement retarder
4) Pabrik aluminium fluoride
5) Pabrik ammonium sulfat
6) Pabrik unit utilitas
d. Perluasan Keempat (02-05-1986)
Pabrik pupuk ZA III ditangani oleh tenaga PT.Petrokimia Gresik dimulai
dari studi kelayakan hingga pengoperasian pada tanggal 2 Mei 1986.
e. Perluasan Kelima
Pabrik Ammonia-Urea baru dibangun dengan teknologi yang hemat
energy, dari M.W.Kellog (USA) untuk pabrik ammonia dan Tokyo
Engineering Corp., Jepang untuk pabrik Urea. Pekerjaan konstruksi
ditangani oleh PT.Inti Karya Persada Teknik Jakarta dimulai tahun 1991
dan baru dapat dioperasikan secara normal mulai 29 April 1994 dari
target Agustus 1993.
f. Perluasan Keenam
Pabrik pupuk majemuk NPK dengan nama Phonska dibangun dengan
teknologi proses pabrik oleh INCRO Spanyol. Kontruksi ditangani oleh
PT.Rekayasa Industri. Pembangunan dimulai awal tahun 1999 dan
8

dimulai beroperasi pada bulan Agustus tahun 2000 dengan kapasitas
300.000 ton/tahun
g. Perluasan Ketujuh
Target operasi pabrik pupuk NPK Blending pada bulan Oktober 2003.
Selain itu, RFO PF I menghasilkan produk PHONSKA pada tahun 2004
kemudian terjadi perluasan proses pembangunan proyek pupuk jenis
terbaru yaitu ZK yang beroperasi pada Maret 2005, NPK Granulasi, dan
Petroganik yang beroperasi bulan Desember 2005. Petroganik tersebut
berada dibawah naungan Kebun Percobaan yang mampu menghasilkan
produksi sebesar 3.000 ton/tahun.
h. Perluasan Kedelapan
Saat ini berlangsung proses pembangunan proyek pabrik NPK Granulasi
II, III, dan IV, ROP Granul I dan II, RFO PF II dan konversi batubara
untuk utilitas dalam tahun 2006-2010. Proyek pengembangan yang
sudah dilaksanakan adalah pembangunan pabrik NPK Granulasi II, III,
dan IV dengan total kapasiitas produksi sebesar 300.000 ton/tahun.
ketiga pabrik tersebut memproduksi NPK Kebomas dengan formulasi
15-15-15 dan dapat diatur sesuai dengan permintaan konsumen. Pabrik
ROP Granulai I dan II untuk memproduksi pupuk Superphos dengan
total kapasitas 1.000.000 ton/tahun. Proyak RFO PF II juga dibangun
untuk memprooduksi pupuk NPK Phonska dengan kapasitas 480.000
ton/tahun. Sedangkan konversi batubara kemungkinan besar akan mulai
dioperasikan pada bulan Agustus 2010.
i. Perluasan Kesembilan
Pada tahun 2010-2013, PT.Petrokimia Gresik membangun tangki
amoniak dengan kapasitas 10.000 ton. Pabrik DAP telah ditambah lagi
satu unit dengan kapasitas produksi 120.000 ton/tahun. Pabrik pupuk ZK
II juga telah dibangun untuk memenuhi kebutuhan pupuk disektor
hortikultura dengan kapasitas produksi 20.000 ton/tahun. PT.Petrokimia
Gresik juga melakukan joint venture dengan Jordane Phospate Mining
Co (JPMC) untuk membangun pabrik Phosporic Acid (PA JVC) dengan
9

kapasitas sebesar 200.000 ton/tahun. Selain itu telah dibangun pabrik
amoniak II dengan kapasitas produksi 660.000 ton/tahun dan Urea II
dengan kapasitas produksi 570.000 ton/tahun. Pada akhir pengembangan
akan dibangun satu unit pabrik pupuk ZA IV dengan kapasitas 250.000
ton/tahun. Jadi, sampai saat ini PT.Petrokimia Gresik telah memilki 3
unit produksi, yaitu :
a. Unit Produksi I (Pabrik Pupuk nitrogen)
Terdiri dari 2 pabrik ZA dan 1 Pabrik Urea
b. Unit Produksi II (Pabrik Pupuk Fosfat)
Terdiri dari 4 pabrik pupuk NPK Phonska, 4 pabrik pupuk NPK
Kebomas, 1 pabrik pupuk ZK dan 1 pabrik pupuk SP 36
c. Unit Produksi III (Pabrik Asam Fosfat)
Terdiri dari 4 pabrik.

2.4 Logo Perusahaan
Logo PT.Petrokimia Gresik dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1. Logo PT.Petrokimia Gresik

PT.Petrokimia Gresik memiliki logo kerbau berwarna keemasan
yang dibawahnya terdapat daun bersudut lima dan bertuliskan Pabrik Pupuk
Terlengkap. Sedangkan arti dari logo tersebut dapat dijabarkan sebagai
berikut:


10

a. Kerbau dengan warna kuning emas
1) Dalam bahasa daerah (Jawa) adalah Kebomas, sebagai penghargaan
kepada daerah di mana PT Petrokimia Gresik berdomisili, yaitu di
wilayah kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. PT Petrokimia
Gresik saat ini mempunyai areal seluas 450 hektar yang terletak di
kecamatan Gresik, Manyar dan Kebomas.
2) Warna emas sebagai lambang keagungan
3) Kerbau merupakan sahabat petani, yang dipergunakan oleh petani
untuk mengolah sawah
b. Kelopak daun berwarna hijau dan berujung lima
1) Daun berujung lima melambangkan kelima silapancasila.
2) Warna hijau sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.
c. Huruf PG
1) Melambangkan singkatan dari Petrokimia Gresik
2) Warna putih melambangkan kesucian.
Jadi keseluruhan dari logo tersebut mempunyai arti dengan hati yang
bersih berdasarkan kelima sila pancasila, PT.Petrokimia Gresik berusaha
mencapai masyarakat yang adil dan makmur untuk menuju keagungan
bangsa.

2.5 Anak Perusahaan dan Perusahaan Patungan
Beberapa anak perusahaan dan perusahaan patungan yang
bekerjasama dengan PT.Petrokimia Gresik adalah sebagai berikut:
1. PT.PETROKIMIA KAYAKU (1977)
Saham : PT.Petrokimia Gresik sebesar 60 %.
Produk : Peptisida Cair, Herbisida,Fungisida (1.800ton/thn).
2. PT.PETROSIDA GRESIK (1985)
Saham : PT.Petrokimia Gresik sebesar 99,90%.
Produk : BPMC, Diazinon, MIPC, Carbofuran, carboryl.
3. PT.PETRONIKA (1985)
Saham : PT.Petrokimia Gresik sebesar 20 %.
11

Produk : Dioctyl Phthalate (DOP)
4. PT.PETROWIDADA (1990)
Saham : PT.Petrokimia Gresik sebesar 1,47 %.
Produk :Phthalic Anhydride, Malaic Anhydride.
5. PT.PETROCENTRAL (1990)
Saham : PT.Petrokimia Gresik sebesar 9,80 %.
Produk : Sodium Tripoly Phosphate (STTP).
6. PT. KAWASAN INDUSTRI GRESIK (1992)
Saham : PT.Petrokimia Gresik sebesar 35 %.
Produk : Pengelolaan kawasan industry Gresik dan pengoperasian
Export Processing Zone (EPZ).
7. PT.PUSPETINDO (1992)
Saham : PT.Petrokimia Gresik sebesar 32,21 %.
Produk : Pressure Vessels, Tower, Heat Exchanger, Konstruksi
berat.

2.6 Unit Produksi PT. Petrokimia Gresik
PT. Petrokimia Gresik memiliki tiga zona pabrik yang
memproduksi bahan baku, pupuk dan produk samping (by Product).
Disamping pabrik dilingkungan Gresik Jawa Timur, PT Petrokimia Gresik
memiliki pabrik kecil yang tersebar dibeberapa wilayah di Indonesia yang
memproduksi pupuk organik dan pupuk kandang dalam kemasan yaitu
produk Bio Fertilizer dan Petroganik. Hasil produksi PT. Petrokimia Gresik
dapat dilihat pada Gambar 1.2.







12











Gambar 1.2. Produksi PT.Petrokimia Gresik

1. Unit Produksi Pabrik I
Terdiri dari 3 pabrik pupuk ZA (kapasitas 650.000 ton/tahun), yakni :
a. Pabrik ZA I (1972)
Kapasitas Produksi : 200.000 ton/tahun
b. Pabrik ZA III (1986)
Kapasitas Produksi : 200.000 ton/tahun
c. Pabrik Urea (1994)
Kapasitas Produksi : 460.000 ton/tahun
Selain produk utama diatas juga menghasilkan produk samping untuk
dijual, yaitu :
a. Amonia : 445.000 ton/tahun
b. CO
2
Cair : 23.200 ton/tahun
c. Nitrogen Cair : 8.000 ton/tahun
d. O
2
Cair : 7.500 ton/tahun
2. Unit Produksi Pabrik II
Terdiri dari 3 pabrik pupuk fosfat, yaitu :
a. Pabrik Pupuk Fosfat I (1979)
Pupuk TSP / SP 36 500.000 ton/tahun
Atau variasi produksi sebagai berikut
13

Pupuk TSP/SP 18 1.000.000 ton/tahun
Pupuk DAP 80.000 ton/tahun
Pupuk NPK 80.000 ton/tahun
b. Pabrik Pupuk Fosfat II (1983)
Kapasitas produksi 500.000 ton/tahun
c. Pabrik Pupuk Fosfat III (20 Agustus 2000)
Kapasitas produksi 300.000 ton/tahun
3. Unit Produksi Pabrik III
Unit ini beroperasi sejak tahun 1984 yang terdiri dari 5 pabrik, yaitu :
a. Asam Fosfat 100% 171.450 ton/tahun
b. Asam Sulfat 50.000 ton/tahun
c. Cement Retarder 440.000 ton/tahun
d. Alumunium Florida 12.600 ton/tahun
e. Pabrik ZA II (1984) 250.000 ton/tahun

2.7 Unit Sarana dan Prasarana
PT. Petrokimia Gresik memiliki sarana dan prasarana yang baik
untuk mengembangkan dan mendukung kelancaran pengadaan bahan baku,
proses produksi, dan distribusi pemasaran. Sarana dan prasarana yang
dimaksud meliputi :
1. Dermaga dan Fasilitasnya
Dermaga bongkar-muat barang memiliki panjang 625 m dan lebar 36 m,
berbentuk seperti huruf T. Dermaga ini mampu disandari 3 buah kapal
sekaligus dengan bobot 40.000-60.000 ton pada sisi laut dan 3 buah
kapal berbobot dibawah 10.000 ton pada sisi darat. Total kapasitas
bongkar-muat tersebut bisa mencapai 5.000.000 ton/tahun.
Dermaga ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas bongkar-muat,
seperti :
a. Continuous Ship Unloader (CSU), untuk membongkar bahan curah
dengan kapasitas 1.000 ton/jam.
14

b. Alat Muat Terpadu (Multiple Loading Crane) yang dapat memuat
hasil produksi ke kapal dalam bentuk curah dengan kapasitas 120
ton/jam atau dengan bentuk kemasan kantong 50 kg berkapasitas
muat 2.000 kantong/jam.
c. Dua unit Cangaroo Crane, alat bongkar curah dengan kapasitas 720
ton/jam.
d. Conveyor yang terbagi dalam 3 unit dengan panjang keseluruhan
mencapai 22 km. Ketiga unit conveyor tersebut meliputi satu unit
untuk pemuatan produk kantong kemasan dengan kapasitas 120
ton/jam dan dua unit untuk pembongkaran bahan baku curah dengan
kapasitas 1.000 ton/jam.
e. Fasilitas pompa dan pipa untuk penyaluran bahan baku cair dengan
kapasitas masing-masing 60 ton/jam ammonia dan 90 ton/jam untuk
asam sulfat.
2. Unit Pembangkit Tenaga Listrik.
Perusahaan ini memiliki 2 unit pembangkit tenaga listrik sendiri
yang membutuhkan sumber bahan bakar dan kapasitas daya yang
berbeda. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik
dalam menunjang kegiatan produksi maupun aktivitas lainnya di
lingkungan kawasan industrynya. Pembangkit tenaga listrik itu adalah :
a. Gas turbine Generator (GTG) dengan hasil daya 33 MW, terdapat di
unit produksi pupuk nitrogen.
b. Steam Turbine Generator (STG) dengan daya 20 MW yang terdapat
pada unit produk asam fosfat.
Selain itu perusahaan ini juga mendapatkan tambahan pasokan
listrik dari PLN sebesar 15 MW untuk digunakan pada pabrik pupuk SP-
36 dan fasilitas lainnya.
3. Unit Pengelolaan Air Bersih
Sarana air bersih yang dimiliki PT.Petrokimia Gresik yang
berlokasi di Gunungsari Surabaya (Air Sungai Brantas) merupakan unit
penjernihan air yang pertama. Air itu dialirkan dengan pipa berdiameter
15

14 inchi sepanjang 22 km ke Gresik. Kemampuan penjernihan airnya
adalah 720 m
3
/jam. Dan unit yang kedua berasal dari Babat Lamongan
(Air Sungai Bengawan Solo). Air ini disalurkan dengan pipa berdiameter
28 inchi dan panjang 60 km. Saat ini kapasitas penjernihannya adalah
2.500 m
3
/jam.
4. Sarana Jalan Kereta Api
Sarana ini berupa jalan kereta api yang menghubungkan dengan
jalan utama Perumka. Digunakan untuk pengangkutan pupuk dari
gudang PT.Petrokimia Gresik ke stasiun terdekat konsumen.
5. Unit Pengolahan Limbah
Pengolahan limbah cair (Effluence Treathment) di
PT.Petrokimia Gresik berada di unit produksi III, dengan kapasitas total
240 m
3
/jam. Juga terdapat pengolahan limbah untuk debu dan gas.

2.8 Bidang Usaha dan Produk
Terdapat beberapa bidang usaha dan produk dari
PT.PETROKIMIA GRESIK. Seecara umum bidang usaha ini dibedakan
menjadi 2, yaitu bidang usaha barang dan jasa. Secara jelas dapat
diterangkan sebagai berikut.
2.8.1 Bidang Usaha Barang / Produk Fisik :
a. Pabrik 1, terdiri dari produk amoniak, ZAI/ZAIII, urea, CO
2
cair,
O
2
, dan N
2
cair.
b. Pabrik 2, terdiri dari SP-36, Phonska/NPK/RFO, NPK kebomas
(blending, mixture, compound), TSP, DAP, ZK, HCL, Petroganik.
c. Pabrik 3, terdiri dari produk H
2
SO
4
, H
2
PO
4
, CR, AIF
3
, ZA II.
d. Petroganik dan Petrobio.
2.8.2 Bidang Jasa :
Ada beberapa bidang jasa, yaitu jasa pelatihan (balai diklat), jasa
transportasi (bagian transport), kontruksi bangunan (bagian cangun),
jasa maintenance, dll.

16

2.8.3 K3PG (Koperasi Karyawan Keluarga Besar Petrokimia Gresik)
Didirikan pada 13 Agustus 1983. Hingga Nopember 2003 memiliki
anggota 5.872 orang. Bidang usahanya adalah sebagai berikut.
a. Unit toko swalayan, tokobahan bangunan dan alat listrik, toko
elektronik dan apotek.
b. Unit Simpan Pinjam (USP), Jasa Service AC, Jasa Bengkel Motor,
Wartel, Warnet dan Kantin.
c. Unit Stasiun Pompa Bensin Umum (SPBU).
d. Unit pabrik air minum K3PG.

2.9 Struktur Organisasi
Secara struktur PT.PETROKIMIA Gresik terdiri dari dewan
komisaris, direksi, dan karyawan. Untuk lebih jelasnya maka akan
disediakan diagram struktur organisasi seperti yang terdapat di lampiran.
Sedangkan untuk struktur organisasi dapat dilihat sebagai berikut :
a. Direktur Utama :Ir.HidayatNyakman ,MSiE,ME.
b. Direktur Produksi : Ir. Mulyono Prawirom ,MBA
c. Manager Proses dan Pengolahan Energi : Ir.Anis Ernani,M.T.
d. Kabag Laboratorium Pabrik I : Khairuddin

2.10 Yayasan PT.Petrokimia Gresik
Perusahaan ini memiliki yayasan yang mempunyai misi untuk
meningkatkan kesejahteraan karyawan dan pensiunan PT.Petrokmia
Gresik.Beberapa program yang dilakukan dengan membangun sarana
perumahan bagi karyawan, pemeliharaan kesehatan bagi karyawan setelah
pension, pemberian bantuan sosial serta menyelenggarakan pelatihan bagi
karyawan yang memasuki masa pension dan beasiswa bagi pelajar yang
berprestasi.
Usaha-usaha yang dimiliki yayasan adalah :
a. PT.Gresik Cipta Sejahtera (GCS)
Didirikan : 3 April 1972
17

Bidang Usaha : Distributor, Pemasok Suku Cadang, Bahan Baku
Industri Kimia, Angkutan Bahan Kimia, dan
Pembinaan Usaha Kecil.
b. PT.Aneka Jasa Ghradika (AJG)
Didirikan : 10 November 1971
Bidang Usaha : Jasa Borongan (pekerjaan), Cleaning Service, dan
House Keeping
c. PT.Graha Sarana Gresik (GSG)
Didirikan : 13 Mei 1993
Bidang Usaha : Persewaan perkantoran, dan Jasa travel
d. PT.Petrokopindo Cipta Selaras (PCS)
Didirikan : 13 Mei 1993
Bidang Usaha : Perbengkelan, jasa angkutan dan perdagangan
umum

2.11 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Perusahaan dalam upaya mencegah dan mengendalikan kerugian
yang diakibatkan adanya kecelakaan, kebakaran, kerusakan, dan bahaya
lainnya yang terjadi baik pada tenaga kerja maupun perusahaan itu sendiri
perlu adanya penerapan K3.Di PT.Petrokimia Gresik sendiri penerapan K3
yang dilakukan adalah dengan beberapa dasar yang merupakan kebijakan
manajemen.Sasaran pencapaian penerapan K3 di Petrokimia Gresik adalah
untuk memenuhi UU no. 1/1970 tentang keselamatan kerja, Permen Naker
no.PER/05/MEN/1996 tentang system manajemen K3, dan untuk mencapai
nihil kecelakaan yang disertai dengan adanya produktivitas yang tinggi
sehingga pengoptimalan tujuan perusahaan juga dapat tercapai.
Konsep dasar pelaksanaan K3 adalah dengan adanya teori
penyebab terjadinya kecelakaan dan kerugian akibat kecelakaan. Penyebab
terjadinya kecelakaan kerja antara lain karena human error (88%), unsafe
condition (10%), dan factor-faktor lainnya (2%). Sedangkan kerugian yang
diakibatkannya meliputi kerugian pada aspek manusia dan aspek financial.
18

Untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan tersebut maka pihak direksi
menerapkan kebijakan-kebijakan K3 sebagai berikut :
1. Direksi berusaha untuk selalu meningkatkan perlindungan K3 bagi
setiap orang yang berada ditempat kerja serta mencegah adanya
kejadian dan kecelakaan yang dapat merugikan perusahaan.
2. Perusahaan menerapkan UU no. 1/1970 tentang K3, Permen Naker no.
05/Men/1996 tentang SMK3 serta peraturan dan norma dibidang K3.
3. Setiap pejabat dan pimpinan unit bertanggungjawab atas dipatuhinya
ketentuan K3 oleh setiap orang yang berada di unit kerjanya.
4. Setiap orang yang berada di unit kerja wajib menerapkan serta
melaksanakan ketentuan dan pedoman K3.
5. Dalam hal terjadi keadaan darurat dan/atau bencana pabrik, setiap
karyawan wajib ikut serta melakukan tindakan penanggulangan.
Organisasi K3 yang ada di PT.Petrokimia Gresik adalah terdiri dari
2 organisasi, yaitu yang bersifat structural dan non structural. Untuk
organisasi structural dikepalai oleh karo lingkungan dan K3, kemudian
eselon dibawahnya ada Kabag teknologi lingkungan, Kabag pengendalian
lingkungan, Kabag K3, Kabag PMK, dan Staf madya LK3. Sedangkan
untuk organisasi non structural terdiri dari Panitia Pembina Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (P2K3), sub P2K3, dan safety representative.

2.12 Penghargaan dan Prestasi
Penghargaan Tahun 2012
1. Predikat Emerging Industry Leader pada ajang Indonesian Quality
Award Tahun 2012
2. Penghargaan di Anugerah BUMN Award 2012 Kategori Inovasi Produk
Agrikultur
3. Penghargaan Industri Hijau karena telah menerapkan "Efisiensi sumber
daya yang meliputi bahan baku, bahan penolong, serta energi ramah
lingkungan"
19

PT Petrokimia Gresik ditetapkan sebagai Perusahaan Terpercaya dalam
Program Riset dan Pemeringkatan Corporate & Perception Index
2011 oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG).

Penghargaan Tahun 2013
1. Juara I BUMN Agroindustri Berdaya Saing Terbaik dalam ajang BUMN
Award 2013.
2. Penghargaan Industri Hijau Tahun 2013 dari Kementerian Perindustrian
Republik Indonesia.
3. Penghargaan Kategori Silver untuk Strategic Marketing dalam BUMN
Marketing Award 2013.
4. Penghargaan Kategori Bronze untuk Tactical Marketing dalam BUMN
Marketing Award 2013.

Tinjauan Pustaka
2.13 Pupuk Secara Umum
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau
tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman
sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa
bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari
suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan
dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan
membantu kelancaran proses metabolism (Nursyamsi, 2000).
Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena berisi satu
atau lebih unsur untuk menggantikan unsur yang habis terisap tanaman.
Pupuk dapat diatan sebagai bahan-bahan yang diberikan pada tanah agar
dapat menambah unsur-unsur atau zat makanan yang diperlukan tanaman,
baik secara langsung maupun tidak langsung. (Murbandono,1987).
Pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk alam dan pupuk buatan.
Pupuk alam adalah pupuk yang langsung didapat dari alam. Jumlah dan
jenis unsur hara dalam pupuk alam terdapat secara alami. Pupuk buatan
20

adalah pupuk yang dibuat dipabrik dengan jenis dan kadar unsur haranya
sengaja ditambahkan dalam pupuk tersebut dalam jumlah tertentu.
(Murbandono,1987).

2.14 Jenis Jenis Pupuk
a. Pupuk Sumber Nitrogen
Amonium Nitrat memiliki kandungan nitratnya yang membuat
pupuk ini cocok untuk daerah dingin dan daerah panas.Amonium nitrat
bersifat higroskopis sehingga tidak dapat disimpan terlalu lama.
Amonium Sulfat (NH
4
)
2
SO
4
terkandungdalampupuk yang dikenal
dengan nama pupuk ZA. Mengandung 21% nitrogen (N) dan26% sulfur
(S), berbentuk kristal dan bersifat kurang higroskopis. Urea (CO(NH
2
)
2
)
terkandung dalampupuk urea yang mengandung 46% nitrogen (N).
Bersifat sangat higroskopis.Sangat mudah larut dalam air dan bereaksi
cepat, juga mudah menguap dalam bentuk Amonia. (Hartatik, 2010)
b. Pupuk Sumber Phosphor
Superphosphat 36 (SP-36) mengandung 36% phosphor dalam
bentuk P
2
O
5
.Pupuk ini terbuat dari phosphat alam dan sulfat.Berbentuk
butiran dan berwarna abu-abu.Pupuk yang mengandung Amonium
Phosphat ini umumnya digunakan untuk merangsang pertumbuhan awal
tanaman (starter fertilizer).Bentuknya berupa butiran berwarna coklat
kekuningan.Tidak higroskopis sehingga tahan disimpan lebih lama dan
mudah larut dalam air. (Hartatik, 2010)
c. Pupuk Sumber Kalium
Kalium Khlorida (KCl) mengandung 45% K
2
O dan khlor,
beraksi agak asam dan bersifat higroskopis.Selain itu, Kalium Sulfat
(K
2
SO
4
).
d. Pupuk Sumber Unsur Hara Makro Sekunder
Kapur Dolomit berbentuk bubuk berwarna putih
kekuningan.Dikenal sebagai bahan untuk menaikkan pH tanah.Dolomit
adalah sumber Ca (30%) dan Mg (19%) yangcukup baik.Kapur Kalsit
21

berfungsi untuk meningkatkan pH tanah.Dikenal sebagai kapur pertanian
yang berbentuk bubuk.Warnanya putih dan butirannya halus.Pupuk ini
mengandung 90-99% Ca. (Hartatik, 2010).
e. Pupuk Sumber Unsur Hara Mikro
Pupuk sebagai unsur hara mikro tersedia dalam dua bentuk yaitu :
1) Bentuk garam anorganik: Bersifat mudah larut dalam air. Contoh
pupuk mikro yang berbentuk garam anorganik adalah Cu, Fe, Zn,
dan Mn yang seluruhnya bergabung dengan sulfat.
2) Bentuk organik sintesis: Bentuk organik sintesis ditandai dengan
adanya agen pengikat unsur logam yang disebut chelat. Chelat
adalah bahan kimia organik yang dapat mengikat ion logam seperti
yang dilakukan oleh koloid tanah. Unsur hara mikro yang tersedia
dalam bentuk chelat adalah Fe, Mn, Cu, dan Zn. (Hartatik, 2010)
f. Pupuk Nitrogen, Fosfor, Kalium (NPK)
Pupuk NPK (Nitrogen Phosphat Kalium) merupakan pupuk
majemuk cepat tersedia yang paling dikenal saat ini.Bentuk pupuk NPK
yang sekarang beredar dipasaran adalah pengembangan dari bentuk-
bentuk NPK lama yang kadarnya masih rendah.Kadar NPK yang banyak
beredar adalah 15-15-15, 16-16-16, dan 8-20-15. Kadar lain yang tidak
terlalu umum beredar adalah 6-12-15, 12-12-12, atau 20-20-20.Tiga tipe
pupuk NPK yang pertama sangat umum didapati.Tipe pupuk NPK
tersebut juga sangat populer karena kadarnya cukup tinggi dan memadai
untuk menunjang pertumbuhan tanaman.NPK yang beredar merupakan
pupuk impor, terutama dari Norwegia, Swedia, Jerman, Jepang, dan
Amerika Serikat. (Hartatik, 2010).

2.15 Karakteristik Pupuk ZA
Pupuk ZA memiliki kepanjangan Zwavelzure Ammoniak yang
berasal dari bahasa Yunani atau dalam bahasa indonesia disebut ammonium
sulfat [(NH
4
)
2
SO
4
]. Pupuk ZA merupakan pupuk kimia buatan juga
merupakan salah satu pupuk nitrogen yang dapat membantu tanaman dalam
22

memenuhi unsur hara. Unsur hara tersebut berguna bagi tanaman agar lebih
hijau segar, mempercepat dan meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti
tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah anakan serta unsur nitrogen juga
berguna untuk meningkatkan kandungan protein hasil panen.
Biasanya pertanian di Indonesia pupuk ZA digunakan untuk
menyuburkan tanaman tebu dimana tanaman ini penghasil glukosa atau zat
gula terbesar. Peranan pupuk ZA ini sangat penting mengingat kebutuhan
gula untuk penduduk Indonesi abegitu besar, hampir semua masyarakat
Indonesia mengonsumsigula setiap hari. Adapun sifat-sifat fisik pupuk
nitrogen satu ini yang dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Spesifikasi Pupuk ZA
No Spesifikasi Karakteristik
1 Nitrogen % 20,8 (minimum)
2 Sulfur % 23 (minimum)
3 FA % 0,1 (maksimum)
4 Air % 1,0 (maksimum)
5 Ukuran butir 55% minimum (+30 US Mesh)
6 Warna Putih
7 Sifat Tidak higroskopis dan mudah larut dalam air
Sumber: SNI 02-1760-2005

Pupuk ZA dapat dibuat dari bahan baku yang cukup sederhana
yaitu amoniak dan asam sulfat. Bahan baku ini untuk membuat pupuk ZA I
dan III, terdapat perbedaan dalam pembuatan pupuk ZA II. Pada pupuk ZA
II digunakan amoniak dan gypsum. Dari bahan baku utama pembuatan
pupuk ZA adalah amoniak yang diperoleh dari produksi pabrik amoniak.
Amoniak sangat larut dalam air dan larut dalam alkohol. Senyawa ini dibuat
di laboratorium dengan mereaksikan garam amonium dengan basa seperti
kalsium hidroksida atau dengan melalui proses hidrolisis suatu nitrida.
Kegunaan amoniak adalah untuk membuat asam sitrat, amonium nitrat,
amonium fosfat, bahan peledak, zat warna, resin hidrogen sianida, soda ash,
23

hidrazin, amonium klorida (ZA, Urea, NPK, DAP), dll. Reaksi kimia yang
merupakan dasar pembuatan pupuk ZA adalah :
H
2
SO
4(l)
+ 2NH
3(g)
(NH
4
)
2
SO
4


2.16 Proses Produksi Pupuk ZA
Proses yang dipakai adalah Netralisasi ( De Nora ) dengan
prinsip, uap NH3 dimasukkan saturator yang sudah terisi asam sulfat dan
ditambahkan air kondensat sebagai penyerap panas hasil reaksi dengan
bantuan udara sebagai pengaduk. Adapun langkah proses pembuatan pupuk
ZA adalah :
1. Evaporasi Ammonia
Ammonia cair diubah menjadi Ammonia gas dengan LPS ( 10 kg/cm
2
,
187C 190C )
2. Reaksi Netralisasi
Reaksi : H
2
SO
4(l)
+ 2NH
3(g)
-------- (NH
4
)
2
SO
4(s)
+ Q
Alat Utama : Saturator (Fungsi : mereaksikan amoniak dengan asam
sulfat)
Temperatur reaksi dijaga pada suhu 105 106 C. Level larutan dalam
reaktor dijaga pada level 3.5 3.8 m. Level yang terlalu rendah
mengakibatkan pencampuran kurang sempurna, sedangkan level yang
terlalu tinggi mengakibatkan laurtan dan uap terbawa keluar melalui
kondensor. Larutan ammonium sulfat harus dijaga dalam keadaan asam
dengan kadar 0,2-0,4%. Untuk mempercepat reaksi serta mencegah
mengendapnya kristal didasar saturator maka dihembuskan udara.
Sebagian uap yang terbentuk diembunkan dan dikembalikan ke saturator
sebagai kondensat return untuk mengatur konsentrasi dan penyerap panas
reaksi.
3. Pemisahan Kristal
Slurry ammonium sulfat dengan perbandingan antara liquid : solid = 1 :1.
Apabila jumlah kristal melebihi dari 50% maka akan terjadi
penggumpalan pada pipa yang akan menyumbat jalan pengeluaran dan
24

cara menghindari dengan menambahkan air dari saturator. Slurry dalam
saturator dialirkan ke Centrifuge yang terdapat Screen 30 mesh untuk
memisahkan kristal dari larutannya. Kristal yang diharapkan 60%
tertahan di Screen 30 mesh. Mother liquor bersama-sama return
kondensat ditampung dalam tangki mother liquor. Untuk mengendapkan
impuritis dalam larutan ditambahkan asam phosphate 50% dalam mother
liquor selanjutnya direcycle ke saturator.
4. Pengeringan dan pendinginan produk
Kristal ZA basah dikeringkan dalam dryer sehingga kandungan H2O
maksimal 0.15 %. Untuk mencegah penggumpalan, sebelum masuk dryer
ditambahkan anti caking, kemudian dikirim ke bagian
pengantongan.(Departemen Proses Pengolahan Energi,2008)

Proses produksi pupuk ZA I dan ZA III dapat dilihat pada Gambar 2.1.











Gambar 2.1. Proses Produksi ZA I / III PT.Petrokimia Gresik

Metode Analisis Pupuk ZA
2.17 Spektofotometri UV-Vis
Spektrofotometri UV-Vis merupakan suatu metode yang
digunakan dalam teknik pengukuran interaksi materi dengan
25

energi/sinar/komponen sinar matahari pada daerah gelombang UV dan
sinar tampak (Visible). Sedangkan spektrofotometer UV-Vis merupakan
alat yang digunakan untuk mengukur transmitan atau absorban suatu
sampel sebagai fungsi panjang gelombang (Day dan Underwood, 2002).
Secara garis besar, spektrofotometer terdiri dari :
1. Sumber cahaya
Sumber cahaya yang digunakan harus memiliki pancaran radiasi yang
stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber energi cahaya yang biasa
digunakan untuk daerah tampak, UV dekat, dan IR dekat adalah lampu
pijar dengan kawat rambut terbuat dari Wolfram (tungsten). Lampu ini
mirip dengan bola lampu pijar biasa, daerah panjang gelombangnya
adalah 350-2200 nm. Lampu tabung tidak bermuatan (discas) hidrogen
(deutrium) paling banyak digunakan. Lampu ini memiliki panjang
gelombang 175-400 nm dan digunakan untuk sumber sinar UV.
2. Monokromator
Monokromator merupakan alat yang berfungsi untk menguraikan
cahaya polikromatis menjadi beberapa komponen panjang gelombang
tertentu (monokromatis) yang berbeda (Khopkar, 2003).
3. Kuvet
Kuvet merupakan alat yang digunakan sevagai tempat cuplikan yang
akan dianalisis. Beberapa syarat kuvet adalah tidak berwarna,
permukaan optisnya sejajar, tidak bereaksi dengan bahan kimia, dan
tidak rapuh
4. Detektor
Detektor berperan untuk memberikan respon terhadap cahaya pada
berbagai panjang gelombang. Detektor akan mengubah cahaya
menjadi sinyal listrik yang selanjutnya akan ditampilkan oleh penampil
data dalam bentuk jarum penunjuk atau angka digital. Detektor
spektrofotometer UV-Vis biasanya menggunakan photo tube, barrier
layer cell, dan photo multiplier tube. Arus listrik yang dihasilkan
detektor kemudian diperkuat oleh amplifier dan akhirnya diukur oleh
26

indikator biasanya berupa recorder analog atau komputer (Khopkar,
2003).
Spektrofotometer UV-Vis ini digunakan untuk menganalisis
kadar PO
4
dan Fe dalam larutan induk pupuk ZA.

2.18 Titrasi Asidi-Alkalimetri
Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang
digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana
penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang telah diketahui
konsentrasinya secara tepat. Titrasi dengan menggunakan reaksi asam basa
(penetralan) disebut titrasi asidi-alkalimetri atau titrasi asam basa. Dalam
titrasi, pengukuran volum mempunyai peranan yang sangat penting sehingga
biasa juga disebut analisis volumetrik (Khopkar, 2003).
Ada dua cara untuk menentukan titik ekivalen pada titrasi asam
basa, yaitu (Day dan Underwood, 2002) :
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi
kemudian dibuat plot antara pH dengan volum titran untuk memperoleh
kurva titrasi. Titik tengah kurva titrasi tersebut adalah titikekivalen.
2. Memakai indikator asam basa yang ditambahkan pada titran sebelum
titrasi. Indikator akan berubah warna ketika titik ekivalen terjadi. Pada
saat itulah titrasi harus dihentikan.
Umumnya titrasi memakai indikator lebih dipilih dibandingkan
menggunakan pH meter karena penggunaannya yang mudah berdasarkan
perubahan warna dan tidak membutuhkan alat (Day dan Underwood, 2002).
Ketepatan titrasi akan diperoleh jika indikator yang dipilih sesuai
dengan titrasi yang akan dilakukan. Namun hal tersebut sulit ditemukan
sehingga digunakan indikator yang perubahan warnanya sedekat mungkin
dengan titik ekivalen. Hal ini dapat mengurangi kesalahan hasil yang
diperoleh dari titrasi. Beberapa jenis titrasi asam basa antara lain adalah
titrasi asam kuat-basa kuat, asam kuat-basa lemah, asam lemah-basa kuat,
27

asam kuat-garam dari asam lemah dan basa kuat-garam dari basa lemah
(Harjadi,1990).
Metode ini digunakan pada analisis kadar free acid (FA) dalam
produk pupuk ZA. Titrasi dilakukan pada larutan produk pupuk ZA dengan
NaOH menggunakan indikator merupa metil merah (MM).

2.19 Gravimetri
Gravimetri merupakan analisis kimia kuantitatif berdasarkan proses
pemisahan dan penimbangan suatu unsur atau senyawa tertentu dalam
bentuk yang semurni mungkin (Vogel, 1994). Analisis gravimetri terdapat
tiga macam metode yaitu metode pengendapan, penguapan, dan elektrolisis
(Rivai, 1995).
Metode gravimetri digunakan pada analisis kadar air dalam produk
pupuk ZA. Penentuan kadar air ini dilakukan dengan pemanasan sampel
pada suhu sekitar 110
o
C selama kurang lebih 2 jam. Diasumsikan air yang
terkandung dalam sampel dapat menguap seluruhnya dan didapat sampel
kering tanpa kandungan air. Kadar air dalam sampel merupakan
perbandingan berat sampel sesudah dipanaskan dengan berat sampel awal.
Penentuan kadar air dengan gravimetri penguapan cukup mudah
dan murah. Namun cara ini juga memiliki beberapa kelemahan :
1. Bahan selain air yang mudah menguap akan ikut menguap
2. Dapat terjadi reaksi lain yang terbantu oleh pemanasan
3. Adanya bahan yang dapat mengikat air secara kuat sehingga sulit
menguapkan airnya
4. Selektivitas rendah
Untuk mempercepat penguapan air dan menghindari reaksi lain
akibat pemanasan maka pemamasam dapat dilakukan pada suhu rendah
dengan tekanan vakum sehingga hasil yang diperoleh lebih mencerminkan
kadar air sebenarnya (Sudarmadji, 2007).


28

2.20 Pengayakan
Pengayakan merupakan teknik pemisahan suatu padatan yang
mempunyai ukuran berbeda menggunakan ayakan. Pengayakan
dimaksudkan untuk memisahkan padatan yang mempunyai ukuran besar dan
kecil relatif terhadap ukuran ayakan yang digunakan. Biasanya satuan
pengayakan adalah mesh. Mesh menyatakan banyaknya jumlah lubang
dalam satuan 1 inch
2
(Khopkar, 2003).
Metode pengayakan digunakan untuk mengetahui persen distribusi
butiran produk pupuk ZA terhadap ayakan mesh 30. Ukuran butiran pupuk
ini menjadi penting karena mempengaruhi kelarutan pupuk tersebut dalam
air. Ukuran minimal persen distribusi pupuk ZA ini adalah 55 persen (Biro
Proses dan Pengolahan Energi, 2008).


















29

BAB III
METODOLOGI

Mengingat besar pengaruh pupuk ZA I/III pada tanaman maka kualitas
dari pupuk tersebut harus dijaga. Untuk menjaga kualitas produk tersebut,
dilakukan kontrol pada saat proses pembuatan pupuk ZA maupun produknya.
Analisa pupuk ZA tersebut meliputi :

3.1. Analisis kadar air dalam produk pupuk ZA I/III.
Prinsip
Kadar air ditetapkan dengan berdasarkan kehilangan berat sebelum dan
sesudah pemanasan pada 100 C - 105 C.
Alat
Cawan Nikel, Oven, Neraca Analitik, Tang Krus, Exikator
Bahan
Produk ZA I dan Produk ZA III
Cara Kerja
Cawan nikel kosong ditimbang kemudian contoh dimasukkan ke dalam
cawan 2,5 gram. Kemudian dimasukkan dalam oven selama 2 jam. Contoh
didinginkan dan dimasukan dalam exikator selama 15 menit, kemudian
ditimbang kembali.

3.2. Analisis asam bebas (Free Acids) dalam kristal produk pupuk ZA I/III.
Prinsip
Cara uji ini ditentukan secara asidi alkali metri.
Alat
Neraca Analitik, Erlenmeyer, Buret
Bahan
Produk ZA I dan Produk ZA III, Aquades, NaOH 0,02N, Ind. MM 0,1%


30

Cara Kerja
Contoh produk ZA ditimbang 10 gram, Dimasukkan kedalam erlenmeyer
dan ditambahkan aquades dan dilarutkan. Ditambah indikator MM 0,1% 3
tetes dan dititrasi dengan NaOH 0,02N sampai terjadi perubahan warna dari
merah menjadi kuning.

3.3. Analisis ZA dalam larutan induk (Mother Liquor).
Prinsip
Kandungan ZA dalam larutan induk ditetapkan berdasarkan pengukuran
density dengan suhu.
Alat
Gelas Ukur 50 mL, Hydrometer, Termometer
Bahan
Larutan Induk ZA I dan Larutan ZA III
Cara Kerja
Larutan Induk dituangkan kedalam gelas ukur dan ditetapkan density dan
temperaturnya. Kadar ZA ditetapkan dengan mengunakan tabel density vs
temperatur (Lange Hand Book dan Percobaan Lab). Sedangkan kadar H
2
O
dihitung dari 100% dikurangi % ZA.

3.4. Analisis distribusi ukuran butiran produk pupuk ZA I/III.
Prinsip
Berat kristal yang tertahan diatas ayakan No.30 US Mesh.
Alat
Neraca Analitik, Ayakan US Mesh No.30,
Bahan
Produk ZA I dan ZA III
Cara Kerja
Ditimbang contoh produk ZA sebanyak 200 gram. Kemudian diayak sampai
tidak ada kristal produk yang lolos dari ayakan. Sisa contoh yang tertahan
kemudian ditimbang.
31

3.5. Analisis kadar Fe dalam larutan induk (Mother Liquor).
Prinsip
Besi total dilarutkan dengan HCl membentuk ion Ferro kemudian dengan
penambahan KMnO
4
ion Ferro dirubah menjadi ion Ferri. Ion Ferri dengan
Thiocyanat membentuk senyawa berwarna merah.Warna yang terbentuk
diukur intensitasnya dengan spektrophotometer pada panjang gelombang
520 nm.
Alat
Sepktrofotometri UV, Neraca Analitik, Hot Plate, Erlenmeyer, Pipet Ukur
10 mL
Bahan
Larutan Induk ZA I&III, HCl (1:1), KMnO
4
0,1N, KCNS 10%, Aquades
Cara Kerja
Larutan induk ditimbang 5gr diencerkan dengan aquades dan ditambahkan
HCl (1:1) 1 mL. Kemudian dipanaskan sampai setengah volume awal dan
didinginkan. KMnO
4
0,1N ditambahkan dan ditepatkan volumenya 50 mL
dengan aquades. Ditambahkan KCNS 10% 10 mL dan diukur
transmitancenya dengan Spektrofotometer UV pada 520 nm (dengan
blanko aquades).

3.6. Analisis kadar PO
4
dalam larutan induk (Mother Liquor).
Prinsip
Semua bentuk Phosphat yang ada dijadikan bentuk ortho-phosphat.Ortho-
phosphat dengan Ammonium Molybdate dalam suasana asam membentuk
phosphate-molybdate.Persenyawaan ini direduksi oleh Amino Naphtol
Sulfonic Acid (Amino) menjadi senyawa komplek yang berwarna
biru.Warna yang terbentuk diukur intensitasnya dengan spektrophotometer
pada panjang gelombang 650nm.
Alat
Sepktrofotometri UV, Neraca Analitik, Hot Plate, Erlenmeyer, Pipet Ukur
10 mL
32

Bahan
Larutan Induk ZA I&III, H
2
SO
4
37%, Ammonium Molybdate, Amino,
Aquades
Cara Kerja
Larutan induk ditimbang 2gr diencerkan dengan aquades dan ditambahkan
H
2
SO
4
37% 2,5 mL. Kemudian dipanaskan sampai setengah volume awal
dan didinginkan. Ditepatkan volumenya 50 mL dengan aquades.
Ditambahkan Ammonium Molybdate dan Ammino masing-masing 2,5 mL
lalu dikocok dan didiamkan 10 menit. Kemudian diukur transmitancenya
dengan Spektrofotometer UV pada 650 nm.





















33

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Mengingat besar pengaruh pupuk ZA I/III pada tanaman maka
kualitas dari pupuk tersebut harus dijaga. Untuk menjaga kualitas produk
tersebut, dilakukan kontrol pada produk pupuk ZA. Analisis pupuk ZA
tersebut meliputi :

4.1. Analisis kadar air dalam produk pupuk ZA I/III.
Proses pembuatan pupuk ZA I/III membutuhkan air baik sebagai
pelarut bahan baku maupun sebagai penyerap panas dalam proses
pembuatan pupuk ZA I/III. Seperti yang kita ketahui bahwa bahan baku
yang digunakan untuk pembuatan pupuk ZA mengandung air meskipun
kadarnya tidak terlalu besar. Sebelum menjadi produk ZA, kristal akan
menuju dryer untuk dikeringkan. Sebelum masuk dryer kristal ini ditambah
dengan anti caking yaitu AFFA (Asean Free Flowing Agent) 4008. Dari
penjelasan tersebut terlihat bahwa meskipun kristal telah dipisahkan dari
larutannya, kristal akan tetap mengandung air. Begitu juga saat kristal
telah melewati dryer. Tidak semua air akan menguap. Kadar air dalam
kristal dari produk sangat mempengaruhi fisik kristal. Apabila terlalu
besar konsentrasinya, kristal yang telah terbentuk akan rusak dan
menggumpal. Hal ini disebabkan kristal akan terlarut kembali Ikatan yang
telah terbentuk antara ammonium dan sulfat akan terputus dengan adanya air
yang berlebih. Kadar air pada kristal dari produk menurut SNI 02-1760-
2005 adalah maksimal sekitar 1 %. Hasil pengukuran kadar air dapat dilihat
pada Tabel 1. Sedangkan perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 1.
Tabel 4.1 Kadar air pada kristal dari produk ZA I/III
Tanggal
% Kadar Air
Batas SNI ZA I ZA III
15 Jan 2014 1.0 max 0.09 0.11
16 Jan 2014 1.0 max 0.11 0.14
34

17 Jan 2014 1.0 max 0.09 0.08
20 Jan 2014 1.0 max 0.12 0.24
21 Jan 2014 1.0 max 0.18 0.24
22 Jan 2014 1.0 max 0.09 0.10

Pengujian kadar air dalam produk dilakukan setiap hari. Prinsip
percobaan ini yaitu menetapkan kadar air berdasarkan kehilangan berat
sebelum dan sesudah pemanasan pada 100 C - 105 C. Dari Tabel 4.1
terlihat bahwa kadar air (H
2
O) pada kristal produk ZA I dan ZA III
telah memenuhi SNI 02-1760-2005. Kadar air dalam kristal dari
produknya yaitu kurang dari 1 % sehingga dapat diproduksi.

4.2. Analisis asam bebas (Free Acids) dalam kristal produk pupuk ZA I/III.
Larutan asam sulfat (H
2
S0
4
) merupakan bahan baku dalam
pembuatan pupuk ZA I/III. Pengertian asam bebas dalam kristal dari produk
adalah asam sulfat yang tidak bereaksi dengan gas amoniak. Prinsip dari
analisis ini adalah asidi-alkalimetri dimana larutan induk dititrasi dengan
NaOH 0,02 N. Larutan NaOH akan bereaksi dengan H
2
S0
4
yang terkandung
dalam larutan induk. Pada analisis asam bebas dalam kristal dari produk
digunakan indikator metil merah. Pada saat larutan yang mengandung kristal
dari produk ditambah dengan indikator MM, terjadi perubahan warna dari
bening menjadi merah. Setelah dititrasi dengan NaOH, larutan berubah
warna menjadi kuning. Reaksi yang terjadi :
2NaOH + H
2
S0
4
ind. Metil Merah Na
2
SO
4
+ 2H
2
O
Pada analisis ini digunakan indikator Metil merah karena titik
ekuivalennya sesuai atau berada pada trayek pH 4.4-6.2. Indikator MM
berwarna merah apabila berada pada pH kurang dari 4.4 dan berwarna
kuning pada pH lebih besar dari 6.2 berwarna orange. Digunakan indikator
metil merah karna diperkirakan asam bebas tersebut merupakan sisa dari
asam sulfat. Sehingga sisa asam yang terkandung dalam pupuk tidak terlalu
tinggi (pH rendah) karena dapat menyebabkan kelayuan dan kematian pada
35

tanaman.
Batas maksimum kadar asam bebas dalam produk ZA menurut SNI
02-1760-2005adalah sebesar 0.1%. Asam bebas pada produk harus dibatasi
karena apabila kadar asam bebasnya terlalu tinggi maka akan berpengaruh
pada tanaman maupun tanah yang dipupuk. Apabila kadar asam bebas
terlalu tinggi tanaman dapat mati dan komposisi tanah menjadi rusak. Hasil
analisis asam bebas dalam kristal dari centrifuge dan produk disajikan pada
Tabel 4.2. Sedangkan perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 2.
Tabel 4.2 Kadar asam bebas dalam kristal dari produk.
Tanggal
Kadar Asam Bebas(Free Acids) %
Batas SNI ZA I ZA III
15 Jan 2014 0.1 max 0.043 0.030
16 Jan 2014 0.1 max 0.025 0.043
17 Jan 2014 0.1 max 0.020 0.048
20 Jan 2014 0.1 max 0.069 0.119
21 Jan 2014 0.1 max 0.033 0.068
22 Jan 2014 0.1 max 0.054 0.044

Rata-rata kualitas pupuk ZA yang diproduksi bagus dan memenuhi
SNI 02-1760-2005 karena kadar asam bebas dalam kristal produk kurang
dari 0.1 %, hal tersebut berdasarkan Tabel 4.2. Namun terdapat produk ZA
III pada tanggal 20 Januari 2014 tidak memenuhi batas SNI 02-1760-2005
yaitu maksimal 0.119 %. Produk tersebut karena tidak memenuhi batas SNI
02-1760-2005 maka produk pada hari tersebut tidak dijual ke pasar
melainkan akan disisihkan dan masuk gudang untuk dijadikan bahan baku
pupuk phonska dan pupuk ZA II.

4.3. Analisis ZA dalam larutan induk (Mother Liquor).
Tujuan analisis ZA dalam larutan induk adalah untuk menentukan
konsentrasi ZA dalam larutan tersebut. Konsentrasi ZA dalam larutan induk
ditentukan dengan mengukur density dan temperatur dari larutan induk.
36

Density larutan induk ditentukan dengan hidrometer sedangkan suhunya
diukur dengan termometer. Data yang diperoleh kemudian dicocokkan
dengan tabel ammonium sulfat untuk menentukan konsentrasi ZA. Pada
analisis ini juga ditentukan ada tidaknya kristal ZA dalam larutan induk.
Konsentrasi ZA dalam larutan mother liquor harus dikontrol setiap
hari karena larutan ini merupakan hasil reaksi antara gas amoniak dan
larutan asam sulfat. Reaksi yang terjadi :
2NH
3(g)
+ H
2
SO
4(aq)
(NH
4
)
2
SO
4

Data pengujian density dan temperatur dalam larutan induk dapat
dilihat pada Tabel 4.3. Sedangkan tabel penentuan kadar ZA berdasarkan
suhu dan density dapat dilihat pada Lampiran 4.
Tabel 4.3. Temperatur, Density & Kadar ZA dan H
2
O dalam larutan induk
Tanggal
ZA I ZA III
(gr/L) T(
O
C) ZA% H
2
O %
(gr/L)
T(
O
C) ZA% H
2
O
%
15 Jan 2014 1.258 68 49 51 1.210 61 40 60
16 Jan 2014 1.260 57 49 51 1.205 55 39 61
17 Jan 2014 1.262 62 49 51 1.215 57 40 60
20 Jan 2014 1.263 54 49 51 1.235 50 44 56
21 Jan 2014 1.159 60 49 51 1.238 58 45 55
22 Jan 2014 1.250 60 47 53 1.220 59 42 58

Batas oprasional konsentrasi ZA dalam larutan induk adalah
maksimal 60 %. Apabila konsentrasinya lebih besar dari 60 %, larutan
induk akan menjadi sangat pekat, dikhawatirkan pembentukan kristal
terjadi lebih cepat dan menghambat pipa-pipa yang dilalunya, dan juga
terjadi pengendapan kristal di dalam larutan induk (saturator). Dari Tabel
4.3 terlihat bahwa konsentrasi ZA dalam larutan induk kurang dari 60 %.
Hal ini menunjukan bahwa konsentrasi ZA dalam larutan induk tidak
terlalu pekat. Larutan induk tersebut berwarna bening. Setelah diketahui
konsentrasi ZA dalam larutan induk dapat diketahui kadar air dalam larutan
37

dengan menghitung selisih 100 % dengan konsentrasi ZA yang sudah
diketahui. Jika kurang dari batas minimal (45%), maka suhu pada saturator
ditambahkan untuk menguapkan air.

4.4. Analisis distribusi ukuran butiran produk pupuk ZA I/III.
Reaksi antara gas amoniak dan larutan asam sulfat pada akhirnya
menghasilkan produk yang berbentuk kristal putih. Batas ukuran produk
yang memenuhi standar akan mempermudah petani dalam proses
pemupukan tanaman, agar pemberian pupuk dapat merata. Selain itu bila
produk tidak memenuhi batas standar maka produk pupuk yang digunakan
akan terbuang sia sia karena sifat mudah larutnya.
Pengukuran produk ZA dilakukan dengan menggunakan ayakan US
Mesh N0 30. Data distribusi ukuran butiran produk ZA I/III dapat dilihat
pada Tabel 4.4. Sedangkan perhitungan dapat dilihar pada Lampiran 3.
Tabel 4.4 Distribusi ukuran butiran produk ZA I/III.
Tanggal
% Butiran
Batas SNI ZA I ZA III
15 Jan 2014 55 min 76.3 61.4
16 Jan 2014 55 min 59.3 58.6
17 Jan 2014 55 min 57.8 74.5
20 Jan 2014 55 min 78.7 66.2
21 Jan 2014 55 min 61.6 71.6
22 Jan 2014 55 min 67.9 67.7

Ukuran kristal produk ZA I dan ZA III yang teradapat di produk
ZA sudah sesuai dengan batas SNI 02-1760-2005 yaitu melebihi batas
minimal 55%. Apabila ukuran butiran yang kurang dari batas SNI proses
pemupukannya tidak berjalan maksimal karena ukuran yang sangat kecil
mudah terbawa oleh angin, selain itu dapat lolos pada kantong produk.
Apabila produk kurang dari batas maka produk tersebut disisihkan dan
masuk gudang untuk dijadikan bahan baku pembutatan pupuk ZA II dan
38

pupuk Phonska.

4.5. Analisis kadar Fe dalam larutan induk (Mother Liquor).
Tujuan dari uji Fe dalam larutan induk adalah untuk menentukan
kadar Fe terlarut yaitu besi dalam bentuk Fe
3+
. Prinsip dari uji ini adalah
dengan reaksi redoks dan pembentukan senyawa kompleks. Bahan baku
yang digunakan untuk membuat pupuk ZA yaitu larutan asam sulfat yang
mengandung besi. Selain itu, korosi pada alat yang terdapat dalam proses
saturator juga merupakan sumber besi yang lainnya. Oleh karena itu
diperlukan kontrol terhadap besi.
Reaksi redoks yang terjadi adalah pembentukan ferro (Fe
2+
)
menjadi ferri (Fe
3+
) dengan adanya KMnO
4
. Ion ferri terbentuk karena
sebelum ditambah dengan KMnO
4
besi total direaksikan dengan larutan
HCI. Ion ferri merupakan keadaan yang paling stabil. Reaksi yang terjadi
antara besi total dengan HCl :
Fe + 2HCl Fe
2+
+ -2Cl
-
+ H
2

Untuk reaksi antara Fe dan KMnO
4
adalah :
5Fe
2+
+ MnO
4
-
+ 8H
+
5Fe
3+
+ Mn
2+
+ 4 H
2
O
Ion ferri yang telah terbentuk direaksikan dengan KMnO
4

sehingga terbentuk ion Fe
3+
. KMnO
4
merupakan senyawa pengoksidasi
kuat sehingga mampu mengoksidasi ion ferri menjadi ion ferro.
Kemudian ditambah dengan KCNS membentuk senyawa kompleks.
Reaksi yang terjadi antara ion ferro dengan KCNS adalah sebagai berikut:
Fe
3+
+ 6CNS
-
[Fe(CNS)
6
]
3-

Senyawa yang terbentuk dari reaksi antara ion besi (III) dengan
thiosianat menghasilkan senyawa kompleks berwarna. Oleh karena itu
digunakan spektrofotometer UV-Visible pada panjang gelombang 520 nm.
Hasil analisa kadar Fe dapat dilihat pada Tabel 4.5. Sedangkan perhitungan
dapat dilihat pada Lampiran 5.


39

Tabel 4.5. Kadar Fe dalam larutan induk ZA I dan ZA III
Tanggal
Kadar Fe (ppm)
ZA I ZA III
15 Jan 2014 3.3 1.8
16 Jan 2014 5.3 3.8
17 Jan 2014 2.4 2.6
20 Jan 2014 3.0 2.1
21 Jan 2014 1.5 4.1
22 Jan 2014 3.7 2.1

Kadar besi yang terdapat dalam larutan induk berdasarkan
Tabel 4.5 memenuhi standar operasional mutu yang telah ditentukan
yaitu maksimum 10 ppm. Apabila kadar besi melebihi batas standar
operasional tersebut maka akan menyebabkan larutan induk terkorosi
sehingga mengganggu proses pembentukan kristal pupuk ZA I/III.
Selain itu Fe dalam larutan induk merubah warna kristal menjadi
coklat dan kristal yang didapat menjadi halus, dan lembut. Agar dapat
mengurangi kadar Fe maka diinjeksikan posfat yang dapat mengikat
Fe dan menjadikannya endapan.

4.6. Analisis kadar PO
4
dalam larutan induk (Mother Liquor).
Pada proses pembuatan pupuk ZA I/III ditambahkan asam
fosfat 50% untuk mengendapkan impurities dan besi. Untuk
menganalisa senyawa phospat, maka dilakukan Semua bentuk PO
4

yang ada dijadikan bentuk ortho-phosfat yang sifatnya stabil.
Asam phospat yang terbentuk direaksikan dengan ammonium
molibdat dalam suasana asam (H
2
SO
4
) sehingga akan membentuk
orthopospat (phosfat molibdat). Reaksi yang terjadi :
nH
3
PO
4
+ n(NH
4
)
2
MoO
4
nH
3
PO
4
Mo
12
O
40


Larutan kompleks ini berwarna kuning. Hasil analisa kadar
40

PO
4
dalam larutan induk dapat dilihat pada Tabel 4.6. Sedangkan
perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 6.
Tabel 4.6 Kadar PO
4
dalam larutan induk ZA I dan ZA III
Tanggal
% Kadar PO
4

ZA I ZA III
15 Jan 2014 741.6 315.6
16 Jan 2014 972.9 352.4
17 Jan 2014 717.2 207.7
20 Jan 2014 377.0 1143.0
21 Jan 2014 812.5 256.4
22 Jan 2014 523.9 638.3

Berdasarkan Tabel 4.6 terlihat bahwa kadar PO
4
dalam larutan
induk sebagian besar lebih dari 100 ppm. Asam phosfat yang ditambahkan
pada larutan induk tidak mempengaruhi produk karena pada saat di tanki
mother liquor, gas amoniak lebih cenderung untuk berekasi dengan asam
sulfat daripada asam phosfatnya. Phosfat yang terdapat dalam sistem, selain
berfungsi untuk mengendapkan impurities, juga berperan untuk mengurangi
laju korosi, mencegah pembentukan kerak, dan mengurangi kadar O
2

terlarut.











41

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan analisa mengenai pupuk ZA I/III baik itu larutan induk
maupun produk hasil produksi PT. Petrokimia Gresik terhadap batasan
operasional dan Standar Nasional Indonesia (SNI 02-1760-2005), maka
kesimpulan yang didapat adalah :
1. Analisa terhadap larutan induk meliputi Analisa kadar Fe, Analisa PO
4
,
dan Analisa kadar ZA. Hal tersebut dilakukan guna mengontrol proses
produksi supaya didapat produk yang bagus dan sesuai dengan batas
operasional. Analisa terhadap produk ZA I/III meliputi Analisa kadar air,
Analisa distribusi ukuran butiran, Analisa kadar asam bebas. Hal ini
dilakukan supaya produk yang dihasilkan sudah memenuhi Standar
Nasional Indonesia (SNI 02-1760-2005) sehingga dapat dipasarkan atau
dijual. Apabila terdapat produk Pupuk ZA I/III yang tidak sesuai standar
SNI 02-1760-2005 maka produk tersebut tidak dijual ke pasar melainkan
akan disisihkan untuk masuk gudang dan menjadi bahan baku pupuk
phonska dan pupuk ZA II.

5.2 SARAN
1. Perlunya meningkatkan penggunaan alat pelindung diri (APD) di
laboratorium pabrik I saat melakukan sampling untuk menghindari
kecelakaan kerja.
2. Perlu adanya peningkatan ketelitian pada saat analisa, seperti
mengetahui konsentrasi reagen yang digunakan dan ketelitian saat titrasi
maupun penimbangan, agar hasil analisis yang didapat valid dan
mencerminkan kondisi pupuk yang sebenarnya.
3. Adanya pengkajian ulang tentang analisa kadar air dimana hanya
dilakukan satu kali, sehingga tidak diketahui secara pasti apakah masih
42

terdapat air atau tidak. Seharusnya dilakukan pengulangan sampai berat
pupuk konstan sehingga air benar-benar hilang.






















43

DAFTAR PUSTAKA

Day, J. Y. dan Underwood, A. L., 2002, Analisis Kimia Kuantitati, Airlangga,
Jakarta.
Departemen Proses dan Laboratorium, 2008, Pengenalan Proses Produksi PT.
Petrokimia Gresik. PT. Petrokimia Gresik, Gresik.
Harjadi, W., 1993, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT. Gramedia, Jakarta.
Hartatik W., 2010, Efektivitas Pemupukan Nitrogen dan Multi Isolat
Rhizobiumile Dalam Berbagai Formula Terhadap Pertumbuhan dan
Hasil Kedelai Ditanah Masam Ultisol, Universitas Islam Negeri (UIN),
Malang.
Khopkar, S.M., 2002, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press, Jakarta.
Lange Handbook dan Percobaan Laboratorium. 2004. Handbook Percobaan.
Gresik. PT. Petrokimia Gresik.
Murbandono, L. 1987. Membuat Kompos. Jakarta : Penebar Swadaya.
Nursyamsi. 2000. Pengaruh Pupuk Anorganik terhadap Padi. Jakarta: Balai
Penelitian Padi.
Yuniar,R.A. dan Lukita,M. 2011. Analisa ZA I/III di Laboratorium Pabrik I PT.
Petrokimia Gresik.
Rivai,H. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta : UI Press.
Sudarmadji,S. 2007. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta :
Penerbit Liberty.









44

LAMPIRAN

1. Penentuan kadar air dalam produk pupuk ZA I/III




ZA I ZA III


















































45

2. Penentuan kadar asam bebas dalam produk pupuk ZA I/III




ZA I ZA III



















46

3. Penentuan distribusi ukuran produk pupuk ZA I/III




*Berat sisa merupakan pupuk yang tidak lolos dalam pengayakan

ZA I ZA III














47

4. Lampiran Tabel Korelasi Temperatur vs Densitas
% 60 61 62 63 64 65 66 67 68
30 1.1545 1.1541 1.1536 1.1531 1.1526 1.1522 1.1517 1.1512 1.1507
31 1.1601 1.1597 1.1592 1.1587 1.1582 1.1578 1.1573 1.1568 1.1563
32 1.1657 1.1652 1.1648 1.1643 1.1638 1.1634 1.1629 1.1624 1.1619
33 1.1713 1.1708 1.1704 1.1699 1.1694 1.1690 1.1685 1.1680 1.1675
34 1.1769 1.1764 1.1760 1.1755 1.1750 1.1746 1.1741 1.1736 1.1731
35 1.1825 1.1820 1.1816 1.1811 1.1806 1.1802 1.1797 1.1792 1.1787
36 1.1881 1.1876 1.1871 1.1867 1.1862 1.1857 1.1853 1.1848 1.1843
37 1.1936 1.1932 1.1927 1.1922 1.1918 1.1913 1.1908 1.1904 1.1899
38 1.1992 1.1987 1.1983 1.1978 1.1973 1.1969 1.1964 1.1960 1.1955
39 1.2048 1.2043 1.2039 1.2034 1.2029 1.2025 1.2020 1.2015 1.2011
40 1.2104 1.2099 1.2094 1.2090 1.2085 1.2080 1.2076 1.2071 1.2067
41 1.2159 1.2154 1.2150 1.2145 1.2140 1.2136 1.2131 1.2127 1.2122
42 1.2214 1.2210 1.2205 1.2200 1.2196 1.2191 1.2187 1.2182 1.2177
43 1.2269 1.2265 1.2260 1.2256 1.2251 1.2247 1.2242 1.2237 1.2233
44 1.2325 1.2320 1.2316 1.2311 1.2307 1.2302 1.2297 1.2293 1.2288
45 1.2380 1.2375 1.2371 1.2366 1.2362 1.2357 1.2353 1.2348 1.2344
46 1.2435 1.2431 1.2426 1.2422 1.2417 1.2413 1.2408 1.2404 1.2399
47 1.2491 1.2486 1.2482 1.2477 1.2473 1.2468 1.2464 1.2459 1.2455
48 1.2546 1.2541 1.2537 1.2533 1.2528 1.2524 1.2519 1.2515 1.2510
49 1.2601 1.2597 1.2592 1.2588 1.2583 1.2579 1.2575 1.2570 1.2566
50 1.2657 1.2652 1.2648 1.2643 1.2639 1.2634 1.2630 1.2626 1.2621
51 1.2712 1.2707 1.2703 1.2699 1.2694 1.2690 1.2685 1.2681 1.2677
52 1.2767 1.2763 1.2758 1.2754 1.2750 1.2745 1.2741 1.2736 1.2732
53 1.2822 1.2818 1.2814 1.2809 1.2805 1.2801 1.2796 1.2792 1.2787
54 1.2878 1.2873 1.2869 1.2865 1.2860 1.2856 1.2852 1.2847 1.2843
55 1.2933 1.2929 1.2924 1.2920 1.2916 1.2911 1.2907 1.2903 1.2898
56 1.2988 1.2984 1.2980 1.2975 1.2971 1.2967 1.2962 1.2958 1.2954
57 1.3044 1.3039 1.3035 1.3031 1.3026 1.3022 1.3018 1.3014 1.3009
58 1.3099 1.3095 1.3090 1.3086 1.3082 1.3078 1.3073 1.3069 1.3065
59 1.3154 1.3150 1.3146 1.3141 1.3137 1.3133 1.3129 1.3124 1.3120
60 1.3210 1.3205 1.3201 1.3197 1.3193 1.3188 1.3184 1.3180 1.3176








48

5. Perhitungan Analisis Kadar Besi (Fe) larutan induk
ZA I ZA III
(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)






49

6. Perhitungan Analisis Kadar Fosfat (PO
4
) larutan induk
ZA I ZA III
(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)








50

Lampiran Gambar