Anda di halaman 1dari 4

Hipertensi

Manifestasi Klinis:
Peninggian tekanan darah
Asimptomatis
Sakit kepala, pusing, rasa berat ditengkuk
Palpitasi, nokturia, epistaksis
Mudah lelah, lekas marah, sulit tidur
Gejala lain akibat komplokasi organ target seperti ginjal, mata, otak dan
jantung.
Faktor resiko
Merokok
Mikroalbuminemia (GFR <60ml/menit)
Obesitas (BMI > 30)
Umur (pria >55 tahun, wanita >65 tahun)
Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovakular dini
Dislipidemia
DM
Pengobatan
Pengobatan hipertensi biasanya bertujuan untuk mengurangi morilitas dan mortalitas
kardiovaskular. Penurunan tekanan sistolik harus menjadi perhatian utama, karena
pada umumnya tekanan diastolik akan terkontrol bersamaan dengan terkontrolnya
tekanan sistolik. Target tekanan darah bila tanpa penyerta adalah <140/90 mmHg,
sedangan pada pasien dengan DM atau kelainan sinjal, tekanan darah harus
diturunkan dibawah 130/80 mmHg.
Berikut ini adalah jenis-jenis obat anti hipertensi:
1. Diuretik
Diuretik berkerja meningkatkan eskrei natrium, air dan klorida sehingga
menurunkan volume darah dan cairan ekstra selulerr. Akibatnya terjadi
penuurunan surah jantung dan tekanan darah. Selain mekanime tersebut,
beberapa diuretik juga menurunkan resistensi periffer sehingga menambah
efek hipotensinya. Efek ini dii duga akibat penurunan natrium diruang
intertisial dan didalam sel otot polos pembuluh darah yang selajutnya
menghambat induksi kalsium. Hal ini terlihat jelas pada diuretik tertentu
seperti golongan tiazid yang mulai menunjukan efek hipotensi pada dosis
kecil sebelum timbulnya diuresi yang nyata.
Interaksi.
Efek hipokalemia dan hipomagnesia akibat tiazid dan diuretik kuat
mempermudah terjadinya aritmia oleh digitalis. Pemberian kortikostroid,
agonis -2 dan amfoterisin B memperkuat efek hipokalemia diuuretik.
Penggunaan ddiuretik bersamaan dengan kuinidin dan obat lain yang dapat
menyebabkan aritmia ventrikel polomorfik akan meningkatkan resiko efek
samping ini. Semua diuretik mengurangi klirens litium sehingga meningkatkan
resiko toksisitas litium. AINS mengurangi efek antihipertensi diuretik karena
menghambat sintesis prostaglandin di ginjal. AINS, penghambat ACE dan -
blocker dapat meningkatkan resiko hiperkalemia bila diberikan bersama
diuretik hemat kalium.
2. Penghambat adrenergik
Penghambat adrenoreseptor beta (-bloker)
Mekanisme anthipertensi. Bagian mekanisme penurunan tekanan darah
akibat pemberian -bloker dapat dikaitkan dengan hambatan reseptor 1,
antara lain: (1) penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilita miokard
sehingga menurunkan curah jantung; (2) hambatan sektresi renin sel-sel
jukstaglomerular ginjal dengan akibat penurunan produksi angiotensin II; (3)
efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatiss, perubahan pada
sensivitas baroreseptor, perubahan aktivitas neuron adrenergik perifer dan
peningkatan biosintesis prostasiklin.
Efek samping. -bloker dapat menyebabkan bradikardia, blokade AV,
hambatan nodus SA dan menurunkan kekuatan kontraksi miokard.
Penghambat adrenoreseptor alfa (-bloker)
Mekanisme anti hipertensi. Hambatan reseptor 1 menyebabkan vasodilatasi
di arteriol dan venula sehingga menurunkan resistensi perifer. Di samping itu,
venodilatasi menyebabkan aliran balik vena berkurang yang selanjutnya
menurunkan curah jantung. Venodilatasi ini dapat menyebabkan hipertensi
ortostatik tterutama pada pemberian dosis awal (fenomena dosis pertama),
menyebabkan rfleks takikardi dan peningkatan aktivitas renin plasma. Pada
pemakainan jangka panjang refleks kompensasi ini akan hilang, sedangkan
efek antihipertensi tetapbertahan.
Efek samping. Hipertesi ortostatik sering terjadi pada pemberian dosis awal
atau pada peningkatan dosis (fenomena dosis pertama), erutama dengan
obat yang kerjanya singkat seperti prazosin. Pasien dengan deplesi cairan
(dehidrasi, puasa) dan usia lanjut akan lebih mudah mengalami fenomena
dosis pertama. Gejala berupa pusing sampai sinkop. Efek samping lainnya
antara lain sakit kepala, palpitasi, edema primer, hidung tersumbat, mual dan
lain-lain.























Daftar Pustaka

1. Avaible from: https://www.medicinesia.com/obatantihipertensi.htm
2. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran-Universitas
Indonesia. Farmakologi dan Terapi. Ed.5. FKUI: Jakarta 2009.
3. Mirzanie Hanifah, Slamet Agung Waluyo, Leksana, Sari Kartika Dewi,
Widasari Dewiyani Indah. Buku Saku Internoid. 2005