Anda di halaman 1dari 13

Makalah Dasar Manajemen Sumberdaya Perairan

MANAJEMEN PERAIRAN PADA


KOLAM BUDIDAYA

Oleh:

Antasari Malau
130302046
Manajemen Sumberdaya Perairan

























MATA KULIAH MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA
PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kolam merupakan lahan yang dibuat untuk menampung air dalam jumlah
tertentu sehingga dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan dan atau hewan air
lainnya. Berdasarkan pengertian teknis menurut Susanto (1992), kolam
merupakan suatu perairan buatan yang luasnya terbatas dan sengaja dibuat
manusia agar mudah dikelola dalam hal pengaturan air, jenis hewan budidaya dan
target produksinya. Kolam selain sebagai media hidup ikan juga harus dapat
berfugsi sebagai sumber makanan alami bagi ikan, artinya kolam harus berpotensi
untuk dapat menumbuhkan makanan alami.
1. Fungsi dan manfaat kolam
Adapun fungsi ekologis kolam adalah sebagai berikut:
a) Habitat hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan air
b) Sumber plasma nutfah
Adapun manfaat ekonomis kolam adalah sebagai berikut:
a) Menghasilkan berbagai sumber daya alam bernilai ekonomis
b) Meningkatkan perekonomian masyarakat
c) Sarana pariwisata/rekreasi
2. Proses pembuatan kolam
Kolam merupakan lahan basah buatan yang dapat dikelola dan diatur
langsung oleh manusia untuk kebutuhan budidaya ikan. Berdasarkan proses
pembentukannya, kolam dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu kolam yang
sengaja dibangun dan kolam yang tidak sengaja dibangun.
3. Tipe-tipe kolam
Tipe Kolam berdasarkan sumber air:
a. Kolam tadah hujan,
b. Kolam mata air
c. Kolam berperairan setengah teknis,
d. Kolam berperairan teknis.
Tipe kolam berdasarkan kegunaannya:
a. Kolam pemeliharaan induk,
b. Kolam pemijahan / perkawinan,
c. Kolam penetaan telur
d. Kolam pendederan
e. Kolam pembesaran
f. Kolam penumbuhan makanan alami
g. Kolam pengendapan
h. Kolam penampungan hasil.
Tipe kolam berdasarkan aliran air:
a. Kolam air tergenang (stagnant water ponds)
b. Kolam air air mengalir / kolam air deras (running water pond)

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis wadah kolam,
2. Untuk mengetahui syarat wadah kolam yang baik untuk budidaya
3. Mengetahui kondisi tanah yang baik membuat kolam
4. Mengetahui kontruksi kolam





















BAB II
PEMBAHASAN


1. Jenis Wadah Kolam
Jenis-jenis kolam yang akan digunakan sangat tergantung kepada sistem
budidaya yang akan diterapkan. Ada tiga sistem budidaya ikan air yang biasa
dilakukan yaitu :
a. Tradisional/ekstensif, kolam yang digunakan adalah kolam tanah yaitu kolam
yang keseluruhan bagian kolamnya terbuat dari tanah
b. Semi intensif, kolam yang digunakan adalah kolam yang bagian
kolamnya(dinding pematang) terbuat dari tembok sedangkan dasar kolamnya
terbuat dari tanah
c. Intensif, kolam yang digunakan adalah kolam yang keseluruhan bagian kolam
terdiri dari tembok
Jenis-jenis kolam berdasarkan sumber air yang digunakan adalah kolam
air mengalir/running water dengan sumber air berasal dari sungai atau saluran
irigasi dimana pada kolam tersebut selalu terjadi aliran air yang debitnya cukup
besar (50 l/detik) dan kolam air tenang/ stagnant water dengan sumber air yang
digunakan untuk kegiatan budidaya adalah sungai, saluran irigasi, mata air, hujan
dan lain-lain tetapi aliran air yang masuk ke dalam kolam sangat sedikit debit
airnya (0,5 5 l/detik) dan hanya berfungsi menggantikan air yang meresap dan
menguap.
Jenis-jenis kolam yang dibutuhkan untuk membudidayakan ikan
berdasarkan proses budidaya dan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi
beberapa kolam antara lain adalah kolam pemijahan, kolam penetasan, kolam
pemeliharaan/ pembesaran, kolam pemberokan induk. Kolam pemijahan adalah
kolam yang sengaja dibuat sebagai tempat perkawinan induk-induk ikan
budidaya. Ukuran kolam pemijahan ikan bergantung kepada ukuran besar usaha,
yaitu jumlah induk ikan yang akan dipijahkan dalam setiap kali pemijahan.
Bentuk kolam pemijahan biasanya empat persegi panjang dan lebar kolam
pemijahan misalnya untuk kolam pemijahan ikan mas sebaiknya tidak terlalu
berbeda dengan panjang kakaban.Sebagai patokan untuk 1 kg induk ikan mas
membutuhkan ukuran kolam pemijahan 3 x 1,5 m dengan kedalaman air 0,75
1,00 m.
Kolam pemijahan sebaiknya dibuat dengan sistem pengairan yang baik
yaitu mudah dikeringkan dan pada lokasi yang mempunyai air yang mengalir
serta bersih. Selain itu kolam pemijahan harus tidak bocor dan bersih dari kotoran
atau rumputrumput liar. Telur ikan sebaiknya dasar kolam penetasan terbuat dari
semen atau tanah yang keras agar tidak ada lumpur yang dapat mengotori telur
ikan sehingga telur menjadi buruk atau rusak. Ukuran kolam penetasan
disesuaikan juga dengan skala usaha. Biasanya untuk memudahkan perawatan dan
pemeliharaan larva, ukurannya adalah 3 x 2 m atau 4 x 3 m.
Kolam pemeliharaan benih adalah kolam yang digunakan untuk
memelihara benih ikan sampai ukuran siap jual (dapat berupa benih atau ukuran
konsumsi). Kolam pemeliharaan biasanya dapat dibedakan menjadi kolam
pendederan dan kolam pembesaran ikan. Pada kolam semi intensif atau tradisional
sebaiknya tanah dasar kolam adalah tanah yang subur jika dipupuk dapat tumbuh
pakan alami yang sangat dibutuhkan oleh benih ikan.
Kolam pemberokan adalah kolam yang digunakan untuk menyimpan
induk-induk ikan yang akan dipijahkan atau ikan yang akan dijual/angkut ke
tempat jauh.
Berdasarkan aliran air yang masuk, kolam dibedakan menjadi 2 macam,
yaitu:
1. Kolam air tergenang (stagnant water pond)
Kolam air tergenang biasanya ditandai dengan luasnya yang relatif besar.
Meskipun dikatakan kolam air tergenang, bukan berarti tidak ada aliran air sama
sekali. Aliran air biasanya dimaksudkan untuk mengganti kebocoran dan
penguapan. Jadi aliran air ini tidak begitu berpengaruh pada kehidupan jasad renik
di kolam tersebut.
2. Kolam air mengalir (running water pond)
Berbeda dengan jenis yang pertama, kolam air mengalir (ruining water
pond) biasanya berukuran kecil. Aliran air yang deras menyebabkan kolam miskin
jasad hidup. Dengan aliran air yang deras diharapkan air kolam kaya oksigen.
Dasar kolam biasanya gersang.
2. Kolam Menurut Sumber Airnya
Bila ditinjau dari sumber airnya, ada 4 jenis kolam, yaitu kolam tadah
hujan, kolam mata air, kolam berpengairan setengah teknis, dan kolam
berpengairan teknis.
1. Kolam tadah hujan
Kolam tadah hujan yaitu kolam yang sumber airnya hanya diperoleh dari
air hujan. Contohnya adalah kolam galian pasir dan kolam bekas galian batu bata.
Karakteristik dari kolam ini adalah tidak ada pintu pemasukan dan pengeluaran air
sehingga sirkulasi air tidak ada dan mengalami banjir pada saat hujan besar dan
kekeringan pada saat musim kemarau panjang terutama bagi kolam yang dangkal
serta pematang kolam sangat lebar atau tidak ada sama sekali.
2. Kolam mata air
Sumber air kolam ini adalah mata air. Mata air ini biasanya berada di
dekat kolam, tetapi terkadang menjadi satu dengan kolam. Jenis kolam ini
biasanya lebih terjamin kontinuitas, airnya dibandingkan dengan kolam tadah
hujan. Namun, kualitas air biasanya kurang baik karena miskin unsur hara dan pH
nya rendah. Kolam mata air biasanya banyak ditemukan di daerah pegunungan
seperti di Ngrajeg, Muntilan (Jawa Tengah), Sukabumi, Cianjur, Bogor (Jawa
Barat).
Kolam mata air terancam keberadaannya karena industri air minum
kemasan dan industri air minum isi ulang yang terus berkembang. Kepentingan
ekonomi menjadikan air dari mata air tersebut menjadi air minum kemasan yang
memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Penulis pernah melakukan survey ke
sebuah lahan dekat mata air yang ternyata kemudian penulis ketahui bahwa calon
investor bukan hendak membangun kolam ikan melainkan mengincar sumber
airnya untuk dibuat sebagai bahan baku air minum kemasan.
3. Kolam berpengairan setengah teknis
Kolam berpengairan setengah teknis yaitu kolam yang mendapatkan
pengairan dari saluran irigasi setengah teknis. Maksud dari setengah teknis adalah
sebagian besar saluran airnya masih merupakan tanah biasa dan hanya sedikit
yang ditembok. Pengaturan air tentu saja lebih teratur dibandingkan kedua jenis
kolam sebelumnya. Ketika musim hujan kolam ini tidak terkena banjir karena
pemasukan dan pengeluaran airnya bisa diatur dan pematangnya pun cukup kuat
dan lebar. Namun apabila musim kemarau panjang, kolam ini kemungkinan masih
akan mengalami kekurangan air, karena sebagian besar airnya dimanfaatkan untuk
tanah pertanian sehingga kolam ini tidak mendapat suplai air.
4. Kolam berpengairan teknis
Kolam berpengairan teknis adalah kolam yang mendapatkan air yang
cukup sepanjang tahun dari saluran irigasi tersier. Saluran pembagi air yang
menuju komplek perkolaman sebagian besar atau seluruhnya sudah ditembok
sehingga pengaturan airnya lebih mudah. Bentuk kolamnya pun biasanya telah
memenuhi kriteria teknik. Kolam yang tersebut dapat ditemukan pada instansi
pemerintah yang bergerak di bidang Penelitian dan Pengembangan Budidaya lkan,
misalnya Balai Benih Ikan baik lokal maupun central, Balai Budidaya Air Tawar,
Lembaga Penelitian Perikanan Darat, Sekolah Usaha Perikanan Menengah
Jurusan Budidaya Air Tawar, dan lain sebagainya. Kolam berpengairan teknis ada
juga yang dimiliki oleh masyarakat umum, namun biasanya tidak begitu luas dan
merupakan kolam air deras (Running Water Pond). Kolam air deras banyak
ditemukan di daerah Jawa Barat seperti : Bogor, Bandung, Sukabumi, Cianjur,
sedangkan seluruh ikan yang dipelihara adalah ikan mas (Cyprinus carpio).
Karena selama ini hanya ikan mas yang memberikan respon positif terhadap
pemberian makanan tambahan. Artinya, semakin berkualitas makanan yang
diberikan dalam kuantitas yang cukup dan secara kontinyu, akan memberikan
pertumbuhan badan yang sebanding. Itulah yang menyebabkan Ikan mas menjadi
komoditi yang paling dominan pada pemeliharaan ikan jaring terapung di peraian
umum yang diberikan makanan tambahan. Sedangkan ikan nila (Tilapia nilotica)
menempati jaring kedua, yang dipelihara hanya dengan memanfaatkan sisa
makanan lkan mas dan lumut yang tumbuh di jaring.
3. Syarat Kolam Ikan yang Baik untuk Budidaya
Suatu kolam ikan yang baik untuk budidaya harus mempunyai unsur
sebagai berikut:
1. Luas tiap petak kolam berkisar antara 100-1000 m
2. Kedalam air antara 50-150 cm
3. Pemasukan air langsung dari sumber yang belum terpolusi dan harus ada
cadangan pintu pemasukan air
4. Pengeluaran air harus langsung ke saluran pembuangan
5. Tekstur tanah yang baik untuk dijadikan pematang adalah yang tidak porous
dan tidak mudah longsor
6. Lebar pematang antara 1-2 m
7. Air yang masuk ke dalam kolam harus jernih atau sudah melewati bak
pengendapan.
Berdasarkan kriteria di atas, dapat disimpulkan bahwa suatu kolam yang
baik harus mempunyai konstruksi sebagai berikut: ada saluran pemasukan dan
pengeluaran, ada pintu pemasukan dan pengeluaran air, pematang yang kokoh
dengan lebar antara 1-2 m, dan kedalaman kolam maupun air harus cukup yaitu
50-150 cm.
4. Kondisi Tanah yang Baik untuk Membuat Kolam Ikan
Keadaan jenis tanah penting diperhatikan karena akan berpengaruh
terhadap kemiringan serta besar kecilnya pematang. Pemeliharaan ikan dikolam
sangat terpengaruh pada pematang untuk menahan volume air. Ketinggian
air kolam baru dapat dipertahankan ketika tanah dasar dan pematang dapat
menahan air dan tidak porous. Tanah liat berpasir atau lempung liat cukup
berpasir biasanya memiliki plastisitas dan tidak porous.
Ciri tanah dengan plastisitas tinggi biasanya tidak mudah terputus ketika
dibentuk memanjang seperti pencil, tetapi mudah pecah bila dibentuk lempengan
dan dipijat dengan jari. Tanah dengan plastisitas tinggi juga ditandai dengan tidak
terlalu menciut apabila kering dan tidak terlalu lengket apabila basah. Tanah
sawah memiliki plastisitas yang rendah dimana biasanya ditandai retak-retak
apabila kering (biasa disebut selo) dan lengket apabila basah.
Jenis tanah yang baik untuk membuat kolam ikan adalah
1. Tanah liat atau lempung yang sedikit berpasir (sandy loom), tanah liat ini
berkadar liat 35-55% biasanya bersifat hidup dan mudah dibentuk. Untuk
mengetahuinya yaitu dengan cara menggenggam tanah tersebut (cara ini
mungkin cara yang paling efektif). Tanah ini apabila dibentuk tidak mudah
pecah dan tidak melekat ditangan apabila dibentuk sesuatu.
2. Tanah lempung liat berpasir, terapan atau beranjang dengan kadar liat sekitar
20-35%. Kedua tanah ini sangat kuat untuk menahan air, sehingga cocok
untuk pembuatan kolam budidaya ikan.
3. Tanah lempung berpasir yang berfraksi kasar dengan kadar liat hanya sekitar
30%. Jenis tanah ini awalnya memang sangat sulit untuk menahan air. Namun
lama-kelamaan dengan pengolahan tanah yang baik dan terus menerus,
ditambah adanya sedimen atau endapan tanah yang terbawa air sungai maka
akan timbul daya tahan akan air. Kolam di daerah pegunungan biasanya
tergolong jenis ini, mengandung banyak pasir tetapi cukup layak dibuat
pematang.
Tanah dengan kandungan pasir yang banyak (lebih dari 70%) terutama
yang berbatu tidak cocok untuk dibuat kolam karena tidak bisa menahan air dan
sulit dibentuk. Jenis tanah yang demikian masih memungkinkan apabila
keseluruhannya dibeton atau ditrembok.
5. Konstruksi kolam
Konstruksi kolam yang akan digunakan untuk budidaya ikan sangat
dipengaruhi oleh pemilihan lokasi yang tepat. Untuk membuat kolam maka tanah
yang akan dijadikan kolam harus mampu menyimpan air atau kedap air sehingga
kolam yang akan di buat tidak bocor.Bentuk kolam yang akan digunakan untuk
membudidayakan ikan ada beberapa macam antara lain adalah kolam berbentuk
segi empat/empat persegipanjang, berbentuk bujur sangkar, berbentuk lingkaran
atau berbentuk segitiga. Dari berbagai bentuk kolam ini yang harus diperhatikan
adalah tentang persyaratan teknis konstruksi kolam. Persyaratan teknis konstruksi
suatu kolam yang akan digunakan untuk membudidayakan ikan sebaiknya
mempunyai :
a. Pematang Kolam
Langkah-langkah pembuatan pematang sebagai berikut.
1. Tanah yang akan dipergunakan untuk lokasi perkolaman haruslah dibersihkan
dari rumput, batuan dan segala macam kotoran organik maupun anorganik.
2. Pemasangan propil yaitu rangka bambu untuk mempermudah pembuatan
bentuk pematang yang dikehendaki.
3. Tanah bagian atas setebal 15-20 cm yang biasanya merupakan lapisan humus
digali dan dikumpulkan di suatu tempat. Ini dimaksudkan agar lapisan tanah
yang subur dapat dipergunakan sebagai dasar kolam nantinya. Lagipula apabila
tanah digali biasanya lapisan tanah yang subur ini justru akan menyebabkan
kebocoran kolam apabila ikut tertimbun sebagai pernatang.
4. Supaya lebih memberikan jaminan kekuatan kolam, alangkah baiknya di tanah
yang akan dijadikan pematang dibuat galian dengan kedalaman 50 cm dan
lebar 50 cm sebagai poros atau sumbu pematang.
5. Kemudian ditimbun tanah baru dari hasil penggalian tanah yang akan dijadikan
kolam. Agar tanah tidak longsor maka bagian atas pernatang sebaiknya
ditanarni rumput.
Pematang kolam dibuat untuk menahan massa air didalam kolam agar
tidak keluar dari dalam kolam. Oleh karena itu jenis tanah yang akan digunakan
untuk membuat pematang kolam harus kompak dan kedap air serta tidak mudah
bocor. Jenis tanah yang baik untuk pematang kolam adalah tanah liat atau liat
berpasir. Kedua jenis tanah ini dapat diidentifikasi dengan memperhatikan tanah
yang ciricirinya antara lain memiliki sifat lengket, tidak poros, tidak mudah pecah
dan mampu menahan air. Ukuran pematang disesuaikan dengan ukuran kolam.
Tinggi pematang ditentukan oleh kedalaman air kolam, sebaiknya dasar pematang
kolamini ditanam sedalam 20 cm dari permukaan dasar kolam.
Bentuk pematang yang biasa dibuat dalam kolam budidaya ikan ada dua
bentuk yaitu berbentuk trapesium sama kaki dan bentuk trapesium tidak sama
kaki. Bentuk pematang trapesium sama kaki artinya perbandingan antara
kemiringan pematang sedangkan bentuk pematang trapesium tidak sama kaki
artinya perbandingan antara kemiringan untuk pematang bentuk trapesium sama
kaki pada kedalaman kolam 1 meter, jika kolam tersebut dibuat dengan pematang
trapesium tidak sama kaki maka lebar pematang pada bagian atas adalah 1 meter
maka lebar pematang pada bagian bawahnya adalah 4 meter pada kedalaman
kolam 1 meter.



b. Dasar Kolam Dan Saluran
Dasar kolam untuk budidaya ikan ini dibuat miring ke arah pembuangan
air, kemiringan dasar kolam berkisar antara 1-2% yang artinya dalam setiap
seratus meter panjang dasar kolam ada perbedaan tinggi sepanjang 1-2 meter.
Cara pengukuran yang mudah untuk mengetahui kemiringan dasar kolam adalah
dengan menggunakan selang air yang kecil. Pada masing-masing ujung pintu
pemasukan dan pintu pengeluaran air ditempatkan sebatang kayu atau bambu
yang sudah diberi ukuran, yang paling bagus meteran, kemudian selang kecil yang
telah berisi air direntangkan dan ditempatkan pada bambu, kayu atau meteran.
Perbedaan tinggi air pada ujungujung selang itu menunjukkan perbedaan tinggi
tanah/ kemiringan dasar kolam. Saluran didalam kolam budidaya ada dua macam
yaitu saluran keliling atau caren dan saluran tengah atau kemalir. Saluran didalam
kolam ini dibuat miring ke arah pintu pengeluaran air. Hal ini untuk memudahkan
di dalam pengeringan kolam dan pemanenan ikan.
c. Pintu Air
Kolam yang baik harus memiliki pintu pemasukan air dan pintu
pengeluaran air secara terpisah. Letak pintu pemasukkan dan pengeluaran air
sebaiknya berada di tengah-tengah sisi kolam terpendek agar air dalam kolam
dapat berganti seluruhnya.
Pada kolam tanah pintu pemasukan dan pengeluaran air dibuat dari
bambu atau pipa paralon. Bentuk pintu pemasukan diletakkan sejajar dengan
permukaan tanggul sedangkan pintu pengeluaran dapat dibuat dua model yaitu
pertama sama dengan pintu pemasukkan dengan ketinggian sesuai dengan tinggi
air kolam dan kedua dibuat dengan model huruf L.
Pada kolam beton pintu pemasukan dan pengeluaran air menggunakan
sistem monik. Pada pintu air sistem monik ini ada celah penyekatnya dan dapat
dibuat lebih dari satu. Celah penyekat ini berfungsi untuk menempatkan papan-
papan kayu yang disusun bertumpuk. Papanpapan kayu ini dapat dibuka dan
diatur yang pengaturannya disesuaikan dengan kebutuhan. Pada pintu air ini
papan penyekatnya dapat diganti dengan saringan.
Persyaratan konstruksi teknik dalam membuat bak yang akan digunakan
untuk budidaya ikan secara prinsip hampir sama dengan kolam dimana harus
mempunyai pintu pemasukan dan pengeluaran air tetapi dasar bak pada umumnya
adalah rata. Konstruksi pintu dan pemasukan air pada bak dapat dibuat dengan
model pembuatan instalasi air untuk pemasukan air dan pengeluaran airnya
menggunakan pipa paralon (PVC) dengan bentuk huruf L.

























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kolam merupakan lahan yang dibuat untuk menampung air dalam jumlah
tertentu sehingga dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan dan atau hewan air
lainnya. Berdasarkan pengertian teknis (Susanto, 1992), kolam merupakan suatu
perairan buatan yang luasnya terbatas dan sengaja dibuat manusia agar mudah
dikelola dalam hal pengaturan air, jenis hewan budidaya dan target produksinya.
Kolam selain sebagai media hidup ikan juga harus dapat berfugsi sebagai sumber
makanan alami bagi ikan, artinya kolam harus berpotensi untuk dapat
menumbuhkan makanan alami.
Jenis-jenis kolam yang akan digunakan sangat tergantung kepada sistem
budidaya yang akan diterapkan. Ada tiga sistem budidaya ikan air yang biasa
dilakukan yaitu :
1. Tradisional/ekstensif, kolam yang digunakan adalah kolam tanah yaitu kolam
yang keseluruhan bagian kolamnya terbuat dari tanah.
2. Semi intensif, kolam yang digunakan adalah kolam yang bagian
kolamnya(dinding pematang) terbuat dari tembok sedangkan dasar kolamnya
terbuat dari tanah.
3. Intensif, kolam yang digunakan adalah kolam yang keseluruhan bagian kolam
terdiri dari tembok.

DAFTAR PUSTAKA

Puspita, Lani. 2005. Lahan Basah Buatan di Indonesia. Wetlands International-
Indonesia Programme, Bogor.
Arsyad, Sitanala. 2006. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Bogor.