Anda di halaman 1dari 19

Umboro Lasminto II - 1

MODUL 2
DATA METEOROLOGI


Tujuan Instruksional Khusus modul ini adalah mahasiswa dapat menentukan
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hujan dan penguapan, mengetahui data-data
meteorology yang sangat penting untuk analisa hidrologi dari suatu daerah aliran.

2.1. Cuaca dan Iklim
Data meteorologi sangat penting didalam analisa hidrologi pada suatu daerah
aliran, karena data meteorologi erat kaitannya dengan karakteristik daerah aliran.
Persoalan meteorologi sebenarnya adalah studi mengenai kondisi cuaca dan iklim dari
suatu daerah. Kondisi meteorologi yang ada pada suatu daerah aliran dilihat pada
waktu sesaat (specific time) disebut cuaca. Rata-rata dari cuaca ini dilihat sepanjang
tahun akan didapat suatu kondisi meteorology yang disebut iklim.
Data yang termasuk data meteorologi sebenarnya adalah data yang diperoleh
dari hasil pengukuran-pengukuran temperatur (suhu) udara dan tanah, kelembaban
udara, kecepatan angin, tekanan udara, energi dan lama penyinaran matahari,
penguapan dan hujan. Pengukuran data ini dilakukan di Stasiun Meteorologi.

2.2.Temperatur (Suhu)
2.2.1. Temperatur udara
Temperatur udara adalah salah satu variabel yang mempengaruhi hujan,
evaporasi dan transpirasi. Temperatur diukur dengan termometer yang diletakkan di
Umboro Lasminto II - 2
suatu tempat yang dilindungi terhadap sinar langsung dari matahari, angin dan hujan
yang disebut Sangkar Meteorologi.
Besarnya temperatur merupakan fungsi dari tinggi tempat atau variasi elevasi. Data
temperatur udara dinyatakan dalam derajat celcius ( C ), derajat Fahrenheit ( F )
atau derajat absolute.
Temperatur harian diperoleh dari koleksi data temperatur jam-jaman yang
waktu dan tempatnya ditetapkan dan dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
T
av
=

=
24
1 i
24
ti
(2.1)
dimana :
t
av
=temperatur rata-rata harian ( C )
t
i
=temperatur jam-jaman ( C )
Biasanya temperatur udara juga diukur dengan dua termometer, yaitu
termometer maksimum yang akan mencatat suhu paling maksimum yang terjadi
dalam suatu hari dan termometer minimum yang akan mencatat temperatur yang
paling minimum yang terjadi dalam suatu hari. Dari data dua pengukuran termometer
tersebut diperoleh temperatur rata-rata hariannya yaitu harga rata-rata dari temperatur
maksimum dan temperatur minimum.
t
av
=
2
t t
min max
+
(2.2)
dimana :
t
max
=temperatur harian maksimum (C )
t
min
=temperatur harian minimum (C )
Didalam kondisi atmosfer normal, untuk setiap kenaikan elevasi maka
temperatur udara akan mengalami penurunan rata-rata sebesar 0,7 C pada setiap
kenaikan elevasi 100 m.
Umboro Lasminto II - 3

2.2.2. Temperatur tanah
Temperatur tanah diukur dengan termometer tanah yaitu termometer yang
dimasukkan ke dalam tanah lewat sebuah tabung dimana sebagian tabung terbuka.
Temperatur tanah diukur sesuai dengan kedalaman yang dikehendaki misalnya
kedalaman 0,1 m ; 0,3 m ; 0,5 m dan 1,0 m dari permukaan tanah. J enis temperature
tanah yang lain adalah temperature dengan tabung air raksanya saja yang masuk
kedalam tanah dan bacaan skalanya berada di atas permukaan tanah.
Pencatatan temperatur tanah dalam suatu hari dilakukan tiga kali pada jam
07.00; jam 12.00 dan jam 17.00. Temperatur rata-rata hariannya adalah harga rata-
rata dari data 3 kali pencatatan tersebut.

Gambar 2.1. Termometer digital dengan pengukur temperatur kompos
Umboro Lasminto II - 4
Untuk semua data temperatur harian, temperatur udara dan temperatur tanah dalam
satu bulan dapat dicatat temperatur rata-rata bulannya sebagai data bulanan. J uga
temperatur rata-rata maksimum dan rata-rata minimum yang terjadi dalam satu bulan
dicatat sebagai data temperatur maksimum bulanan dan minimum bulanan.

2.3. Kelembaban ( Humidity )
Udara sangat mudah menyerap air dalam bentuk uap air, tergantung dari
temperatur udara dan airnya. Bila temperatur udara makin besar maka makin banyak
air yang menguap dan mengisi udara. Hal ini akan berlangsung terus sampai terjadi
suatu keseimbangan dimana udara jenuh air dan penyerapan air tidak banyak.
Tekanan pada molekul uap air dalam kondisi ini diketahui sebagai Tekanan Uap
Jenuh (Saturation Vapour Presure) (e
s
) pada suatu temperatur tertentu.

Gambar 2.2. Pengukuran Temperatur dan relative humidity
Besarnya tekanan uap air dinyatakan dalam Bar (1 bar =10
5
N/m
2
; 1 mmbar =10
2
N/m
2
) atau dalam tinggi kolom air raksa (mmHg).
Harga e
s
(mmHg) untuk berbagai macam temperatur (C ) seperti pada tabel 3.1 harga
ini juga diplotkan dalam suatu grafik hubungan antara e
s
dan C dalam Gambar 2.3.
Umboro Lasminto II - 5

Gambar 2.3. Tekanan uap air di udara
Tabel 2.1. Tekanan uap air e
s
(mmHg) sebagai fungsi temperatur t (
o
C)




Umboro Lasminto II - 6
Tabel 2.2. Tabel Psychrometer (Kelembaban)

Perhatikan Gambar 2.3 apa yang dapat terjadi pada massa udara di atmosfer titik P
yang mempunyai temperatur t dan tekanan uap air e
a
(Tekanan Uap Aktual)?
Selama titik P terletak dibawah grafik tekanan uap jenuh, jelas bahwa massa udara
masih akan menyerap uap air lebih banyak lagi dan ini dapat dilakukan walaupun
temperatur tetap konstan. Sehingga untuk P bergerak vertikal mengikuti garis L
sampai memotong grafik tekanan uap jenuh maka tekanan uap air titik P yang
sekarang menjadi e
s
. Kenaikan (e
s
- e
a
) diketahui sebagai Saturation Deficit.
Kemungkinan lain, bila tidak terjadi perubahan tekanan pada kelembaban
udara, sedang udara temperaturnya semakin rendah maka titik P akan bergerak
horizontal kearah kiri sampai memotong grafik tekanan uap jenuh, mengikuti garis 2.
Pada temperatur baru ini t
d
(dew point), titik embun, titik P akan jenuh. Udara dingin
dibawah temperatur ini akan mengkondensir uap air.
Umboro Lasminto II - 7
Bila air dibiarkan menguap secara bebas ke dalam massa udara, maka kedua
kejadian diatas kemungkinan dapat terjadi secara bersamaan. Hal ini disebabkan
karena penguapan membutuhkan panas yang ada diudara, dimana panas ini disebut
sebagai Latent Heat of Evaporation (h
r
) yang diberikan dalam bentuk persamaan :
h
r
=606,5 0,695 t (cal/g) (2.3)
dimana :
t =temperatur (C)
sehingga kelembaban udara dan tekanan uap air naik, maka temperatur udara turun,
titik P akan bergerak secara diagonal mengikuti garis 3 sampai memotong grafik
tekanan uap jenuh dititik yang mempunyai tekanan e
w
dan temperatur t
w
. Temperatur
ini disebut sebagai Wet Bulb Temperature yang merupakan temperatur dimana udara
dapat didinginkan oleh penguapan air yang masuk kedalamnya.
Temperatur yang demikian diperoleh dengan pengukuran memakai Wet Bulb
Thermometer (termometer bola basah).
Melihat kenyataan bahwa kelembaban udara sangat tergantung dari temperatur yang
selalu tidak tetap, maka kelembaban udara yang mutlak sebenarnya jarang dijumpai,
yang ada adalah kelembaban nisbi atau kelembaban relatif. Kelembaban relatif atau
dapat juga disebut sebagai Kelembaban (h) adalah perbandingan tekanan uap air (e
a
)
dengan tekanan uap air jenuh (e
s
) pada volume dan temperatur yang sama dan dapat
ditulis dalam persamaan yang dinyatakan dalam persen sebagai berikut :
h = 100%
e
e
s
a
(2.4)
dimana :
h =kelembaban udara (%)
e
a
=tekanan uap air pada temperatur tC (mmHg)
Umboro Lasminto II - 8
e
s
=tekanan uap jenuh pada temperatur tC (mmHg)
Pengukuran kelembaban udara dapat dilakukan dengan memakai alat yang
disebut Psycometer, yang terdiri dari dua termometer yang serupa, dipasang dengan
tabung (bola-bola) air raksanya terpisah pada jarak yang berjauhan. Bola termometer
yang satu dibungkus dengan kain tipis dan dibasahi dengan air bersih (pada bola
basah), sedang yang lain tetap kering (pada bola kering). Penguapan air dari bola
basah memerlukan panas yang sebagian diantaranya diambil dari bola itu, jadi
menurunkan temperatur bola basah. Besarnya penurunan temperatur bola basah
tergantung dari keadaan uap air diudara. Kalau temperatur termometer bola basah dan
temperatur termometer bola kering diketahui, maka kelembaban relatif (h) dapat
ditentukan dari tabel psychrometer (Tabel 2.2).

Temperatur bola kering (t
d
) : 24C
Contoh 2.1.
Temperatur bola basah (t
w
) : 20C
Selisih : 4C
Hitung tekanan uap air pada temperatur 24
O
C

Penyelesaian :
Dari tabel 2.2 diperoleh besarnya kelembaban relatif (h) =64%.
Pada temperatur bola kering 24C dari Tabel 2.1 diperoleh besarnya tekanan uap
jenuh :
(e
s
) =22,27 mmHg
maka tekanan uap air pada temperatur 24
O
C adalah :
Umboro Lasminto II - 9
h = 100%
e
e
s
a

(e
a
) =22,27 mmHg x 64 % =14,25 mmHg






Gambar 2.5. Psychrometer



Gambar 2.4. Sangkar meteorologi Gambar 2.6. Termometer Tanah

Besarnya kelembaban relatif dapat juga dihitung dengan data temperatur titik embun
(dew point). Data temperatur titik embun ini cukup mudah diperoleh di lapangan. Bila
temperatur udara dan temperatur titik embun diketahui maka perkiraan besarnya
kelembaban relatif dapat diperoleh dengan memakai persamaan :
8
d
t 0,9 112
t 0,1 112
h

+
+
=
dimana :
h =kelembaban relatif (%)
t =temperatur udara (C)
t
d
=temperatur titik embun (C)

Umboro Lasminto II - 10
2.4.Angin
Arah angin adalah arah dari mana angin bertiup yang dapat ditunjukkan dengan
lingkaran arah angin. Kecepatan angin diukur dengan Anemometer yang diletakkan
pada ketinggian 2 meter dari permukaan tanah setempat. Terdapat banyak tipe
Anemometer, diantaranya tipe Robinson, tipe Thies dan tipe Cassela.
Data yang diperoleh langsung dari anemometer ini adalah bacaan angka pada
spidometer setiap hari, misalnya pada pagi hari jam 07.00 waktu setempat.







Gambar 2.7. Anemometer Gambar 2.8. Direction Sensor







Gambar 2.9. Winspeed Sensor Gambar 2.10. Self Recording Wind Speed


Umboro Lasminto II - 11
Data bacaan Anemometer sebagai berikut :
Contoh 2.2.
Bacaan pada tanggal 2 maret 1985 =141298
Bacaan pada tanggal 1 maret 1985 =141173
Selisih bacaan = 125
Hitung kecepatan angin pada tanggal 1 maret 1985 ?.

Penyelesaian :
J adi untuk tanggal 1 maret 1985 bacaan dari spidometer sebesar 125.
Untuk anemometer tipe thies pembacaannya dikalikan 100, yaitu dalam satuan
meter dan kemudian dijadikan kilometer.
Dari bacaan di atas : 125 x 100 m =12,5 km/hari
Untuk anemometer tipe cassela pembacaannya adalah langsung dari hasil
pengurangan, ditulis dengan 1 (satu) angka dibelakang koma, yaitu :
14129,8 14117,3 =12,5 km/hari.
J adi kecepatan angin pada tanggal 1 maret 1985 adalah 12,5 km/hari.
Dikarenakan pengaruh gesekan pada permukaan tanah atau permukaan air dimana
angin bertiup, maka penting sekali untuk menentukan spesifik dari beberapa
pengamatan kecepatan angin dilihat dari ketinggian diatas permukaan tanah.
Persamaan empiris untuk kecepatan angin rata-rata pada suatu titik dari permukaan
tanah setempat sampai ketinggian 610 m (2000 ft) dapat ditulis sebagai berikut :

7
1
0
0
Z
Z
U U

= (2.6)
dimana :
U
0
=kecepatan angin pada anemometer dengan tinggi Z
0

Umboro Lasminto II - 12
U =kecepatan angin pada tempat yang lebih tinggi Z
Dapat pula digunakan persamaan empiris :

=
Z
U U
log
6 , 6 log
1 2
(2.7)
dimana :
U
2
=kecepatan angin pada ketinggian 2 m dari atas tanah (mile/hari)
U
1
=pengukuran kecepatan angin (mile/hari) pada ketinggian Z feet

2.5.Tekanan Udara
Besarnya tekanan udara dari suatu tempat sangat penting karena tekanan udara
besar sekali pengaruhnya terhadap angin dan penguapan air permukaan. Satuan
tekanan udara dinyatakan dalam bar, dimana 1 bar =10
5
N/m
2
atau 1 mm bar =10
2

n/m
2
. Tekanan udara dapat pula dinyatakan dalam tinggi kolom air raksa, dimana
tekanan 1 atmosfer =760 mmHg =1,013 bar. Alat pengukur tekanan udara disebut
Barometer.
Tekanan udara akan berkurang menurut ketinggian suatui tempat. Hubungan
antara tekanan udara dan ketinggian/elevasi diperoleh dari persamaan Laplace sebagai
berikut :
( ) t k
Z
P
P
+
=
1 18400
log
0

dimana :
P =tekanan udara pada elevasi Z (m) dalam mmHg.
P
0
=tekanan udara pada elevasi mula (mmHg).
k =koefisien pengembangan udara =0,00367
t =temperatur rata-rata sampai Z (m) dalam C
Atau dapat dilihat dalam Tabel 2.3 dibawah ini.
Umboro Lasminto II - 13
Tabel 2.3. Variasi Tekanan, Temperatur dan Elevasi
Elevasi rata-rata terhadap
muka air laut (m)
Tekanan Temperatur
udara (
o
C) mmHg Milibar Cm H
2
O
0 760.00 1013.25 1033.20 15.0
500 716.02 954.61 973.4 11.8
1000 674.13 848.76 916.5 8.5
1500 634.25 845.60 862.3 5.3
2000 596.31 795.01 810.7 2.0
2500 560.23 746.92 761.6 -1.2
3000 525.95 701.21 715.0 -4.5
3500 493.39 657.80 670.8 -7.7
4000 462.49 616.60 828.8 -11.0
4500 433.18 577.52 588.9 -14.2
5000 405.40 540.48 551.1 -17.5

2.6. Penyinaran Matahari (Sun Shine)
Lamanya penyinaran matahari (sun shine) dapat diukur dengan alat yang
dinamakan Campbell Stokes Recorder atau Sun Shine Recorder dan dipasang pada
tiang pasangan batu bata setinggi 1,2 meter dari permukaan tanah.


Gambar 2.11. Sunshine Recorder Gambar 2.12. Kertas Grafik Sunshine Recorder
Umboro Lasminto II - 14

Alat ini terdiri dari bola gelas yang masif dengan diameter 4 inchi yang dipasang
konsentris dalam suatu bidang cekung berbentuk bola, dengan diameter sedemikian
sehingga sinar matahari difokuskan dengan tajam pada kartu yang dipasang pada
suatu saluran didalam bidang cekung tersebut.
Sinar matahari yang difokuskan akan membakar kartu (grafik) dan membuat suatu
bekas jejak, ada tiga buah saluran yang saling bertindihan didalam bidang cekung
berbentuk bola tersebut, dimana kartu dipasang sesuai dengan musim yang berbeda-
beda dalam setahun.
Pengaturan alat sangat penting sehubungan dengan musim yang berbeda-beda
itu agar diperoleh data yang benar. Pengaturan alat meliputi pengaturan (penyetelan)
letak terhadap garis lintang bumi dan bidang meridian, sebelumnya alat harus
diletakkan mendatar. Pemasangan kartu dilakukan setiap hari, walaupun tidak ada
penyinaran matahari. Banyaknya terang penyinaran matahari tercatat dalam kartu
dinyatakan dalam persepuluhan jam tanpa memakai tanda koma.

Data diperoleh sebagai berikut dari pengukuran sebagai berikut :
Contoh 2.3.
Terbaca 6/10 jam, antara 09.00 dan jam 10.00 pagi, maka angka 6 dituliskan
pada jam 09.00 10.00 pagi untuk hari itu.
Pengolahan data penyinaran matahari selama satu hari adalah sebagai berikut :
(data tanggal 11 maret 1985)



Umboro Lasminto II - 15
J am : 06.00 07.00 = 0 12.00 13.00 =10
07.00 08.00 = 3 13.00 14.00 =10
08.00 09.00 = 7 14.00 15.00 = 8
09.00 10.00 = 8 15.00 16.00 =10
10.00 11.00 =10 16.00 17.00 =10
11.00 12.00 = 7 17.00 18.00 = 2
Hitung lama penyinaran matahari

Penyelesaian :
Hasil pembacaan pembakaran dalam satu hari dijumlahkan kemudian dibagi 10. jadi
pembacaan pembakaran tanggal 14 maret 1985 adalah 0 +3 +7 +8 +10 +7 +10 +
10 +8 +10 +10 +2 =85 dan ditulis dalam data : 85/10 =8,5 jam.
J adi lama penyinaran matahari adalah 8.5 jam.

Dari data diatas terlihat bahwa tanggal 11 maret 1985 lama penyinaran
matahari adalah (n) =8,5 jam. Padahal kalau dilihat waktu terbit dan terbenam
matahari, waktu penyinaran yang mungkin dapat terjadi (N) lebih dari 8,5 jam.
Lamanya waktu penyinaran yang mungkin dapat terjadi selama satu hari tergantung
dari letak suatu tempat terhadap equator dan waktu (bulan).
Misal data penyinaran tanggal 11 maret 1985 diatas terjadi di J akarta, maka untuk
bulan maret tanggal 1 s/d 15 matahari terbenam jam 18.12 dan terbit jam 05.59; jadi
lamanya penyinaran yang mungkin dapat terjadi (N): 18.12 05.59 =12.13
Lama penyinaran relatif sun shine

N
n
adalah perbandingan jumlah jam penyinaran
dengan jumlah jam penyinaran yang mungkin terjadi. Data inilah yang biasanya
dipublikasikan dan dinyatakan dalam persen.
Umboro Lasminto II - 16
Untuk contoh diatas : % 5 , 69 % 100
13 , 12
5 , 8
= =
N
n

J adi dapat dilihat bila
N
n
=100 % maka tidak ada awan dilangit yang menutupi sinar
matahari atau hari cerah, sebaliknya bila
N
n
=0 % maka sepanjang hari langit ditutupi
awan tebal, tidak ada penyinaran matahari yang sampai dipermukaan bumi.

2.7. Radiasi Matahari
Data panas sinar matahari suatu tempat dapat diperoleh dengan meletakkan
alat Solar Radiation Recorder yang dipasang setinggi 1,2 meter diatas permukaan
tanah. Data yang diperoleh dapat berupa data harian atau data mingguan tergantung
kertas pencatat (grafik) yang dipasang. Pemasangan kertas pencatat dilakukan pada
malam hari (jam 20.00).
Data radiasi diperoleh dengan menghitung luas bagian kertas grafik yang
dibatasi kurva pencatatan dengan sumbu waktu dikalikan 1,5 koefisian alat yang
dipasang satuan radiasi dalam Cal/cm
2
/hari.









Umboro Lasminto II - 17
Pengolahan data hasil pencatatan radiasi matahari tanggal 20 desember 1976 dari
stasiun Klimatologi Kota Bakti Aceh dengan nomor pesawat 746, dengan koefisien K
=0,390, data luas kurva pencatatan diperoleh sebagai berikut :
Contoh 2.4.
Antara jam : 07.00 08.00 jumlah kotak 3
08.00 09.00 jumlah kotak 20
09.00 10.00 jumlah kotak 48
10.00 11.00 jumlah kotak 64
11.00 12.00 jumlah kotak 76
12.00 13.00 jumlah kotak 84
13.00 14.00 jumlah kotak 80
14.00 15.00 jumlah kotak 74
15.00 16.00 jumlah kotak 66
16.00 17.00 jumlah kotak 50
17.00 18.00 jumlah kotak 22
18.00 19.00 jumlah kotak 6 +
total = 593
Hitung besarnya radiasi matahari.

Besarnya radiasi =593 x 1,5 x 0,39 =346,9 Cal/cm
2
/hr, jadi untuk data tanggal 20
desember 1976 besarnya radiasi di Kota Bakti Aceh adalah 346,9 Cal/cm
2
/hari.
Penyelesaian :



Umboro Lasminto II - 18
2.8. Latihan
1. Bila temperatur bola kering (t
d
) =30 C dan temperatur bola basah (t
w
) =24C
maka hitung tekanan uap air pada temperatur 24
O
C
2. Data diperoleh sebagai berikut dari pengukuran sebagai berikut :
Terbaca 6/10 jam, antara 09.00 dan jam 10.00 pagi, maka angka 6 dituliskan pada
jam 09.00 10.00 pagi untuk hari itu. Pengolahan data penyinaran matahari selama
satu hari adalah sebagai berikut :
J am : 06.00 07.00 = 0 12.00 13.00 =9
07.00 08.00 = 4 13.00 14.00 =9
08.00 09.00 = 6 14.00 15.00 = 9
09.00 10.00 = 9 15.00 16.00 =8
10.00 11.00 =7 16.00 17.00 =8
11.00 12.00 = 8 17.00 18.00 = 3
Hitung lama penyinaran matahari.
3. Data bacaan Anemometer sebagai berikut :
Bacaan pada tanggal 2 April 2005 =111378
Bacaan pada tanggal 1 April 2005 =111232
Hitung kecepatan angin pada tanggal 1 April 2005.






Umboro Lasminto II - 19
4. Pengolahan data hasil pencatatan radiasi matahari tanggal 20 desember 1976 dari
suatu stasiun Klimatologi dengan koefisien K =0,40, data luas kurva pencatatan
diperoleh sebagai berikut :
antara jam : 07.00 08.00 jumlah kotak 5
08.00 09.00 jumlah kotak 21
09.00 10.00 jumlah kotak 40
10.00 11.00 jumlah kotak 54
11.00 12.00 jumlah kotak 66
12.00 13.00 jumlah kotak 64
13.00 14.00 jumlah kotak 78
14.00 15.00 jumlah kotak 76
15.00 16.00 jumlah kotak 60
16.00 17.00 jumlah kotak 51
17.00 18.00 jumlah kotak 20
18.00 19.00 jumlah kotak 8
Hitung besarnya radiasi matahari.