Anda di halaman 1dari 34

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seperti telah diketahui dari sediaan obat yang beredar dan digunakan,tablet
merupakan sediaan obat yang lebih disukai oleh para dokter maupunpasien, dibandingkan
dengan bentuk sediaan lain. Hal ini disebabkan karenadisamping mudah cara pembuatan dan
penggunaannya, dosisnya lebihterjamin, relatif stabil dalam penyimpanan karena tidak
mudah teroksidasioleh udara, transportasi dan distribusinya tidak sulit sehingga mudah
sampaikepada pemakai. Secara ekonomis, sediaan ini relatif lebih murah
harganya,memberikan dosis yang tepat dari segi kimianya, bentuknya kompak danmudah
transportasinya, memberikan kestabilan pada unsur-unsur aktifnya.
Parasetamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik ditimbulkan oleh
gugus aminobenzen. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal dengan nama parasetamol, dan
tersedia sebagai obat bebas. Efek analgetik parasetamol dapat menghilangkan atau
mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol menghilangkan nyeri, baik secara
sentral maupun secara perifer. Secara sentral parasetamol bekerja pada hipotalamus
sedangkan secara perifer, menghambat pembentukan prostaglandin di tempat inflamasi,
mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit terhadap rangsang mekanik atau kimiawi. Efek
antipiretik dapat menurunkan suhu demam. Efek samping terjadi reaksi hipersensitivitas dan
pada penggunaan kronis dapat terjadi kerusakan hati (Wilmana, 1995).

1.2 Rumusan masalah

1. Bagaimana menyusun preformulasi dalam tablet paracetamol ?
2. Bagaimana menentukan metode pembuatan tablet yang tepat dengan melihat sifat sifat
paracetamol ?
3. Bagaimana melakukan evaluasi (QC) terhadap tablet paracetamol yang telah jadi?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui praformulasi tablet
2 Mampu menentukan metode yang cocok untuk pembuatan tablet
3 Mampu melakukan evaluasi (QC) terhadap tablet
4 Memenuhi tugas Teknologi Farmasi dari Ibu Krisna, S.Farm. Apt., selaku dosen
Teknologi Farmasi
4.1 Manfaat
Meningkatkan pengetahuan tentang pengetahuan pembuatan tablet bagi penulis dan pembaca

BAB II
2.1 Definisi tablet
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat
dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Tablet dapat berbeda dalam
ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancur, dan dalam aspek lainnya tergantung
pada cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya. Kebanyakan tablet digunakan pada
pemberian obat secara oral atau melalui mulut (Ansel, 1989).
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung
pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau
lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai
zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok
(menurut Farmakope Indonesia Edisi III)

2.2 Metode Pembuatan
1. Granulasi basah
Granulasi basah adalah cara pembuatan tablet dengan mencampurkan zat aktif dan
eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dengan
jumlah yang tepat sehingga diperoleh masa lembab yang dapat digranulasi.
a. Keuntungan :
1. Memperoleh aliran yang lebih baik
2. Meningkatkan kompresibilitas
3. Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
4. Mencegah pemisahan komponen selama proses
5. Meningkatkan distribusi keseragaman kandungan
b. Kerugian :
1. Tahap pengerjaan lebih lama
2. Banyak tahapan validasi yang harus dilakukan
3. Biaya cukup tinggi
4. Zat aktif tidak tahan lembab dan panas tidak dapat dikerjakan dengan metode ini.
c. Cara pembuatan :
Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat, zat pengisi dan zat penghancur sampai
homogen, lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat, bila perlu ditambah bahan pewarna.
Setelah itu diayak menjadi granul, dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 40 -
50 C (tidak lebih dari 60 C ). Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan
ukuran yang diperlukan dan ditambahkan bahan pelicin / lubrikan dan dicetak menjadi tablet
dengan mesin tablet. Cara granulasi basah menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat
disimpan lama dibanding cara granulasi kering.
2. Granulasi kering
Granulasi kering adalah proses pembuatan tablrt dengan cara mencampurkan zat
aktif dan bahan dalam keadaan kering, untuk kemudian dikempa, lalu dihancurkan menjadi
partikel yang lebih besar, lalu dikempa kembali untuk mendapatkan tablet yang memenuhi
persyaratan. Prinsipnya membuat granul yang baik dengan cara mekanis, tanpa pengikat dan
pelarut.
Metode ini boleh digunakan apabila :
1. Zat aktif memiliki sifat aliran yang buruk (tidak amorf)
2. Zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab
3. Kandungan zat aktif dalam tablet tinggi
a. Keuntungan :
1. Peralatan lebih sedikit dibanding granulasi basah
2. Cocok digunakan pada zat aktif tidak tahan panas dan lembab
3. Tahap pengerjaan tidak terlalu lama
4. Biaya lebih efisien dibanding granulasi basah
5. Mempercepat waktu hancur obat dalam tubuh karena tidak menggunakan pengikat
b. Kerugian :
1. Memerlukan mesin tablet khusus untuk slug
2. Tidak dapat mendistribusikan zat warna dengan seragam
3. Peroses banyak menghasilkan debu sehingga rentan terhadap kontaminasi silang
4. menghasilkan tablet yang kurang tahan lama dibanding dengan cara granulasi basah.
Misalnya antibiotik, acetosal
c. Cara pembuatan :
Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat, zat pengisi dan zat penghancur, bila
perlu ditambahkan zat pengikat, zat pelicin menjadi massa serbuk yang homogen, lalu
dikempa cetak pada tekanan tinggi, sehingga menjadi tablet besar (slugging) yang tidak
berbentuk baik, kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran
partikel yang diinginkan. Akhirnya dikempa cetak lagi sesuai ukuran tablet yang diinginkan.
3. Cetak langsung
Cetak langsung adalah proses pembuatan tablet dengan cara pengempaan zat aktif
dan bahan tambahan secara langsung tanpa perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini
digunakan apabila sifat alirannya baik, dosis kecil, rentang dosis terapi zat tidak sempit, zat
aktif tidak tahan pemanasan dan lembab. Beberapa zat seperti NaCl, NaBr, dan KCl dapat
langsung dikempa tetapi sebagian besar zat tidak dapat langsung dikempa, umumnya pengisi
yang digunakan avicel.
a. Keuntungan :
1. Lebih ekonomis
2. Lebih singkat prosesnya
3. Dapat diterapkan pada zat aktif yang tidak tahan panas dan lembab
4. Waktu hancur dan disolusi lebih baik karena tidak pakai pengikat
b. Kerugian :
1. Kurang seragamnya kandungan zat aktif karena kerapatan bulk antar zat aktif dan
pengisi berbeda
2. Zat aktif dengan dosis besar tidak mudah untuk dikempa langsung
3. Sulit memilih eksipien karena harus memiliki sifat mudah mengalir, memiliki
kompresibilitas, kohesifitas, dan adhesifitas yang baik
Bahan pengisi untuk cetak langsung yang paling banyak digunakan adalah selulosa
mikrokristal, laktosa anhidrat,laktosa semprot-kering, sukrosa yang dapat dikempa dan
beberapa pati termodifikasi. Misalnya tablet hexamin, tablet NaCl, tablet KmnO4.
2.3 Definisi Paracetamol
Parasetamol (asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik dengan cara kerja
menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP). Parasetamol
digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam bentuk sediaan tunggal sebagai
analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat lain dalam sediaan obat flu, melalui
resep dokter atau yang dijual bebas. (Lusiana Darsono 2002). Parasetamol adalah
paraaminofenol yang merupakan metabolit fenasetin dan telah digunakan sejak tahun 1893
(Wilmana, 1995). Parasetamol (asetaminofen) mempunyai daya kerja analgetik, antipiretik,
tidak mempunyai daya kerja anti radang dan tidak menyebabkan iritasi serta peradangan
lambung (Sartono,1993). Hal ini disebabkan Parasetamol bekerja pada tempat yang tidak
terdapat peroksid sedangkan pada tempat inflamasi terdapat lekosit yang melepaskan
peroksid sehingga efek anti inflamasinya tidak bermakna. Parasetamol berguna untuk nyeri
ringan sampai sedang, seperti nyeri kepala, mialgia, nyeri paska melahirkan dan keadaan lain
(Katzung, 2011). Parasetamol, mempunyai daya kerja analgetik dan antipiretik sama dengan
asetosal, meskipun secara kimia tidak berkaitan. Tidak seperti Asetosal, Parasetamol tidak
mempunyai daya kerja antiradang, dan tidak menimbulkan iritasi dan pendarahan lambung.
Sebagai obat antipiretika, dapat digunakan baik Asetosal, Salsilamid maupun Parasetamol.
Diantara ketiga obat tersebut, Parasetamol mempunyai efek samping yang paling ringan dan
aman untuk anak-anak. Untuk anak-anak di bawah umur dua tahun sebaiknya digunakan
Parasetamol, kecuali ada pertimbangan khusus lainnya dari dokter. Dari penelitian pada anak-
anak dapat diketahui bahawa kombinasi Asetosal dengan Parasetamol bekerja lebih efektif
terhadap demam daripada jika diberikan sendiri-sendiri. (Sartono 1996)
2.4 Tinjauan Farmakologi
2.4.1 Indikasi
Paracetamol umunya digunakan sebagai analgesik dan antipiretik.Umumnya di
anggap sebagai anti nyeri yang paling aman untuk swamedikasi (pengobatan mandiri).
Sebagai analgesik, paracetamol bekerja dengan meningkatkan ambang rangsang rasa
sakit. Sebagai antipierik, paracetamol bekerja langsung pada pusat pengatur panas di
hipotalamus (Tjay dkk,2008)
2.4.2 Farmakokinetik
Paracetamol di absorpsi melalui GIT dengan konsentrasi puncak plasma mencapai
sekitar 10-60 menit dengan rute per oral. Pada penggunaan per oral parasetamol diserap
dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30
menit sampai 60 menit setelah pemberian. Parasetamol dimetabolisme dalam hati dan
diekskresi melalui urine sebagai glukoronide dan sulfat konjugasi. Kurang dari 5% diekskresi
sebagai parasetamol. Eliminasi terjadi kira-kira 1-4 jam. Ikatan protein plasma dapat diabaikan
pada konsentrasi normal tetapi dapat meningkat dengan peningkatan konsentrasi (Reynolds, 1989).

2.4.3 Farmakodinamik
Efek analgesik paracetamol serupa dengan salisilat yaitumenghilangkan atau mengurangi
nyeri ringan sampai sedang. Paracetamol menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang di
duga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Efek antiinflamasinya sangat rendah, oleh karena
itu paracetamol tidak di gunakan sebagai anti reumatik. Paracetamol merupakan penghambat
biosintesis prostagladin yang lemah. Efek iritasi erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat
pada obat ini, demikian juga gangguan pernafasan dan keseimbangan asa, basa (Farmakologi
dan Terapi Edisi 5, Hal:238)
2.4.5 Efek Samping
Efek samping jarang terjadi lewat dosis sedang seperti mual, muntah, nyeri perut,
menggigil. Dosis lebih berkepanjangan dapat mengakibatkan neutropenia, leukopenia,
trombositopenia, pensilopenia, agranulositosis, reaksi hipersensitivitas, udem laring, lesi mukosa,
eritemia atau ruam, udem angioneurotik dan demam. Reaksi hipersensitivitas meliputi gejala
urtikaria, disponoea, dan hipotensi, hal ini dapat terjadi setelah penggunaan parasetamol baik
pada dewasa maupun anak-anak. Juga dilaporkan terdapat angioedema (Sweetman, 2002).
2.4.6 Interaksi obat
Obat Efek analgetis parasetamol diperkuat oleh kodein dan kafein. Pada dosis tinggi
dapat memperkuat efek antikoagulansia tetapi pada dosis biasa tidak interaktif . Masa paruh
kloramfenikol dapat sangat diperpanjang. Kombinasi dengan obat AIDS zidovudin
meningkatkan resiko akan neutropenia (Tjay dkk., 2008). Pemberian bersama-sama diflusinal
mengakibatkan kenaikan konsentrasi plasma. Resin penukar anion : kolesteramin menurunkan
absorbsi parasetamol. Penggunaan antikoagulan dan parasetamol dalam jangka waktu yang lama
mungkin meningkatkan konsentrasi warfarin. Metoclopramide dan domperidon metoclopramis
mempercepat absorbsi parasetamol (meningkatkan efek) (Anonim c, 2005).
2.4.7 Dosis
Pemakaian


















BAB III
3.1 Tinjauan Bahan Aktif
Isi:
- Nama obat jadi - Nomor Batch
- Bobot netto - Tanggal Kadaluarsa
- Komposisi obat - Nomor Registrasi
- Nama pabrik - Cara Penyimpanan
- Indikasi - bentuk sediaan
- Kontra indikasi - logo golongan obat
- Dosis - Peringatan
- Aturan pakai

Kemasan Sekunder : kotak kardus dengan tulisan nama obat jadi, bobot netto,
bentuk sediaan, komposisi obat, dosis, nama pabrik, indikasi,
kontra indikasi, efek samping, aturan pakai, no. Registrasi,
no. Batch, tanggal kadaluarsa, cara penyimpanan, logo
golongan obat.
Rancangan Brosur :
Isi:
- Komposisi - logo golongan obat
- Dosis - netto
- Nama obat jadi - cara kerja obat
- Farmakologi - bentuk sediaan
- Indikasi - aturan pakai
- Kontraindikasi - interaksi obat
- efek samping - penyimpanan
- peringatan dan perhatian - kemasan
- no. Registrasi - no. batch
- nama pabrik

3.2 Tinjauan Bahan Tambahan
3.2.1 Bahan Pengisi
Pengisi adalah zat yang ditambahkan untuk menyesuaikan bobot dan ukuran tablet jika
dosis zat aktif tidak cukup untuk membuat massa tablet, memperbaiki daya kohesi
sehingga tablet dapat dikempa dengan baik, serta mengatasi masalah kelembaban yang
mempengaruhi kestabilan zat aktif. Jumlah bahan pengisi yang dibutuhkan bervariasi,
berkisar 5-80 % dai bobot tablet (tergantung jumlah zat aktif dan bobot tablet yang
diinginkan). Bila bahan aktif berdosis kecil, sifat tablet (campuran massa yang akan
ditablet) secara keseluruhan ditentukan oleh sifat bahan pengisi.
Massa yang dibutuhkan dalam tablet adalah 0,1-0,8 g, sehingga memungkinkan untuk
dicetak. Pada obat yang berdosis cukup tinggi bahan pengisi tidak diperlukan. Bhan
pengisi juga ditambahkan untuk memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa
langsung atau untuk memicu aliran. Yang umum digunakan adalah pati dan laktosa
(Voight, 1995 : 202)
1. Avicel (HPE 5th hal 132-135
Sinonim : Mikrokristalin Selulosa
Rumus Kimia : (C6H10O5)n dimana n 220
Pemerian : Serbuk kristalin; putih; tidak berbau; tidak berasa; tersusun atas partikel-
partikel berpori; higroskopis
Fungsi : Pengisi tablet (konsentrasi 20-90% b/b); penghancur tablet (konsentrasi 5-
15% b/b); adsorben (20-90%). Dapat digunakan untuk metode kempa
langsung maupun granulasi basah.
Kelarutan : Sukar larut dalam larutan NaOH 5% b/v; praktis tidak larut dalam air, asam
encer dan sebagian besar pelarut organik
Stabilitas : Avicel stabil, meskipun higroskopis. Harus disimpan dalam wadah tertutup
baik pada tempat sejuk dan kering.
Inkompatibilitas : Agen pengoksidasi kuat
Tabel Macam-macam bahan pengisi tablet
Tidak larut Larut
Kalsium sulfat Laktosa
Kalsium fosfat Sukrosa
Kalsium karbonat Dektrosa
Amilum Mannitol

Modifikasi amilum Sorbitol
Mikrokritalin selulosa
4. Bahan pengisi yang dapat digunakan untuk kempa langsung disebut filler-binders.
Filler-binders adalah bahan pengisi yang sekaligus memiliki kemampuan
meningkatkan daya alir dan kompaktibilitas massa tablet. Filler-binders digunakan
dalam kempa langsung.

3.2.2 Pengikat tablet
Pengikat atau perekat berfungsi memberi daya adhesi pada massa serbuk pada
granulasi dan kempa langsung serta untuk menambah daya kohesi yang telah ada pada bahan
pengisi. Bahan pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk kering dan bentuk larutan (lebih
efektif). Beberapa senyawa yang dapat digunakan sebagai pengikat atau perekat antara lain :
polimer alam, contohnya amilum, gom (akasia, tragakan), sorbitol, glukosa, gelatin dan
natrium alginat; polimer sintetik, contohnya derivat selulosa seperti metil selulosa, karboksil
metil selulosa (CMC), etil selulosa (Ethocel) poli metakrilat, polivinil pirolidon (PVP). Salah
satu bahan pengikat yang sering digunakan adalah jenis pati dengan konsentrasi 5%-20%.
(Voight, 1995 : 174). Pada granulasi basah, bahan pengikat biasanya ditambahkan dalam
bentuk larutan (dibuat solution, muchilago atau suspensi), namun dapat juga ditambahkan
dalam bentuk kering, setelah dicampur dengan massa yang akan digranul baru ditambahkan
pelarut.
1. Starch 1500 (HPE 5th hal 731-733)
Sinonim : Pregelatinized Starch
Rumus Kimia : (C9H10O5)n, n = 300-1000
Pemerian : Serbuk agak kasar sampai halus; serbuk berwarna putih sampai agak
putih; tidak berbau; memiliki rasa lemah yang khas; higroskopis
Fungsi : Pengisi tablet (5-75%); pengikat tablet (untuk kempa langsung 5-20%
atau untuk granulasi basah 5-10%) ; penghancur tablet (5-10%)
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam pelarut organik; sedikit larut atau larut dalam
air dingin, tergantung derajat pregelatinisasi
Stabilitas : Stabil tapi higroskopis. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik pada
tempat sejuk dan kering.
Inkompatibilitas : -
2. Gelatin (HPE 5th hal 295-298)
Pemerian : Lembaran dan granul tembus cahaya atau serbuk; seperti kaca; rapuh;
warna gading muda sampai kuning pucat ; tidak berbau; tidak berasa
Fungsi : Pengikat tablet; bahan pelapis (coating agent)
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam aseton, kloroform, etanol 95%, eter dan
metanol; Larut dalam gliserin, asam dan basa, meskipun asam dan basa
kuat dapat menyebabkan pengendapan. Dalam air, gelatin
mengembang dan melunak. Larut dalam air panas membentuk gel
setelah didinginkan mencapai suhu 35-40
o
C. Pada suhu > 40 o
C

berbentuk sol. system gel-sol ini bersifat heat reversible.
Stabilitas : Gelatin kering stabil di udara. Larutan gelatin sabil untuk waktu lama
jika disimpan pada kondisi sejuk dan steril. Pada suhu diatas 50
o
C,
larutan gelatin mengalami depolimerisasi dan dapat terjadi penurunan
kekuatan gel. Harus disimpan dalam wadah kedap udara pada tempat
kering dan sejuk.
Inkompabilitas : Bereaksi dengan asam dan basa, aldehid dan gula aldehid, polimer anionik
dan kationik, elektrolit, ion logam, plasticizer, pengawet dan surfaktan.
Mengendap dengan adanya alkohol, kloroform, eter, garam merkuri
dan asam tanat


3.2.3 Glidant
1. Talk (HPE, 5
th
,767)
Pemakaian : Digunakan di dalam formulasi tablet sebagai glidan dengan konsentrasi
1-10%.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam dilute acids and alkalis, pelarut organik dan air
pH : 6,5 -10 untuk dispersi 20% b/v
Stabilitas dan Penyimpanan : Stabil, dapat disterilkan dengan pemanasan pada suhu 160C
tidak lebih dari sejam, juga dapat disterilkan dengan otilen oksida atau
penyinaran gamma.
OTT : Senyawa ammonium kuatener
2. Starch (HPE, 5
th
,725)
Pemakaian : 5-10 %, merupakan glidan yang paling umum digunakan. Pemakaiannya
disesuaikan dengan jenis starch, tekanan pengempaan, dan kandungan
air massa cetak
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol dingin (95%) dan dalam air dingin
pH : 5,5-6,5 pada 25C (2% w/v aqueous dispersion of corn starch)
Stabilitas dan Penyimpanan : Penyimpanan di tempat yang sejuk, kering, dan dalam
wadah kedap udara.
OTT : -
Keamanan : Starch merupakan senyawa makanan yang dapat dimakan yang dikenal
secara luas keamanannya.
Perhatian khusus : Simpan dalam tempat yang bersih, kering, dan ruang berventilasi baik.
Sebelum digunakan, harus dikeringkan pada suhu 80-90 C untuk
menghilangkan air yang terabsorpsi.

3.3.4 Disintegran
Fungsinya untuk memudahkan pecahnya atau hancurnya tablet ketika kontak dengan
cairan pencernaan. Bahan ini dapat menarik air ke dalam tablet, mengembang, dan
menyebabkan tablet pecah menjadi bagian-bagian. Bahan ini sangat menentukan kelarutan
obat selanjutnya sehingga dapat tercapai bioavailabilitas yang diharapkan. (Lachman, 1994 :
702). Bahan penghancur meliputi tepung jagung dan kentang, turunan amilum seperti amylum
glikoat, senyawa selulosa, dan bahan-bahan lain yang memperbesar atau mengembang
dengan adanya lembab dan mempunyai efek memecahkan atau menghancurkan tablet setelah
masuk ke dalam saluran pencernaan. Amilum digunakan dengan konsentrasi 5% umumnya
cocok untuk membantu penghancuran. (Ansel, 1989 : 263)
1. Starch 1500 (HPE 5th hal 731-733)
Sinonim : Pregelatinized Starch
Rumus Kimia : (C9H10O5)n, n = 300-1000
Pemerian : Serbuk agak kasar sampai halus; serbuk berwarna putih sampai agak
putih; tidak berbau; memiliki rasa lemah yang khas; higroskopis
Fungsi : Pengisi tablet (5-75%); pengikat tablet (untuk kempa langsung 5-20%
atau untuk granulasi basah 5-10%) ; penghancur tablet (5-10%)
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam pelarut organik; sedikit larut atau larut dalam
air dingin, tergantung derajat pregelatinisasi
Stabilitas : Stabil tapi higroskopis. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik pada
tempat sejuk dan kering.
Inkompatibilitas : -
Sodium starch glycolate (primogel, explotab) (HPE, 5
th
,701)
Merupakan serbuk dengan aliran yang baik yang digunakan sebagai penghancur
pada pembuatan tablet dengan metode kempa langsung atau granulasi basah. Meskipun
keefektifan kebanyakan penghancur dipengaruhi oleh eksipien hidrofobik seperti lubrikan,
tetapi tidak berlaku untuk keefektifan primogel. Meningkatnya tekanan kompresi tablet juga
tidak mempengaruhi waktu hancur.
(HOE h.581)
Pemerian : serbuk yang memiliki laju alir baik, putih sampai agak putih, tidah
berbau dan tidak berasa.
Pemakaian : Konsentrasi yang biasa digunakan di dalam formulasi tablet adalah
antara 2-8% dengan konsentrasi optimum 4%., walaupun dalam banyak
kasus, 2% sudah cukup.
Kelarutan : Larut sebagian di dalam etanol (95%), praktis tidak larut air.
pH : 3-5 atau 5,5-7,5 untuk larutan dispersi 3,3%
Stabilitas dan Penyimpanan : Stabil, disimpan di wadah yang tertutup baik terhindar
cahaya
OTT : asam askorbat
2. Metil selulosa (HPE, 5
th
,462)
Merupakan polimer selulosa rantai panjang yang rata-rata memiliki dua gugus
hidroksi pada setiap unit heksosa yang termetilasi. Variasi bahan di pasaran berbeda dalam
tingkat substitusi dan panjang rantai selulosanya. Metilselulosa dengan viskositas besar biasa
digunakan dalam formulasi tablet sebagai penghancur.
Pemakaian : Sebagai disintegran digunakan 2-10%
Kelarutan : Larut dalam air dingin tetapi tidak larut dalam air panas. Tidak larut
dalam eter, alkohol, kloroform, dan larutan jenuh garam. Larut dalam
asam asetat glasial dan dalam campuran alkohol dan kloroform dengan
perbandingan sama.
pH : 5,5-8 untuk suspensi 1% b/v.
Stabilitas dan Penyimpanan : Serbuk metilselulosa stabil walaupun sedikit higroskopis.
Disimpan di tempat kering dengan wadah trtutup baik.
OTT : aminakrine hidroklorida, kolesterol, merkuri klorida, merkuri klorida,
fenol, resorsinol, asam tanat, dan perak nitrat. (OTT ditunjukkan oleh
kekeruhan dan hilangnya viskositas).
3. CMC-Na (HPE, 5
th
,120)
Kelarutan : praktis tidak larut di dalam aseton, etanol, eter, dan toluene. Mudah
terdispersi di dalam air membentuk larutan koloid.
pKa : 4,3, larutan 1% dalam air mempunyai pH 6-8,5. Stabil pada rentang pH
5-10. viskositas musilago CMC Na menurun drastis pada pH di bawah 5
atau pH di atas 10.
Stabilitas dan Penyimpanan : Pada kondisi kelembaban tinggi, CMC-Na dapat menyerap
sejumlah air. Pada sediaan tablet hal tersebut berkaitan dengan
penurunan kekerasan tablet dan peningkatan waktu hancur.
OTT : Larutan asam kuat, garam besi terlarut dan logam lain seperti aluminium,
raksa, dan seng, juga dengan xantan gum. Pengendapan dapat terjadi
pada pH di bawah 2 dan ketika dicampurkan dengan etanol (95%).
4. Avicel (HPE, 5
th
,134)
Avicel yang digunakan merupakan avicel yang tidak terdispersi di dalam air, dapat
digunakan sebagai pengikat, pengisi, penghancur, dan pelincir pada sediaan tablet.
Avicel jika dikombinasi dengan starch lebih efektif daya disintegrasinya
Kekurangan avicel adalah kecenderungannya untuk membentuk muatan listrik dan
meningkatkan kandungan lembab, terkadang menyebabkan pemisahan pada saat
granulasi. Hal ini dapat diatasi dengan mengeringkan avicel untuk menghilangkan
lembab.
Pada saat digranulasi basah, dikeringkan, kemudian dikompres, tablet yang terbentuk
tidak hancur secepat saat tidak terbasahi.(Lachman Tablet, 175)
Pemakaian : Sebagai penghancur tablet digunakan 5-15%
Kelarutan : Tidak larut dalam air, pelarut asam dan pelarut organik lainnya, agak
sukar larut dalam NaOH (1:20).
pH stabilitas : 5,5 7
Stabilitas dan Penyimpanan : stabil, higroskopis, simpan dalam wadah tertutup rapat.
OTT : senyawa oksidator kuat, zat sensitif lembab (c/ aspirin, penisilin,
vitamin), kecuali avicel dikeringkan sampai kandungan lembabnya
kurang dari 1 % dan diperlakukan di ruangan kelembaban rendah. HCl,
HgCl, AgNO3, fenol, asam tanat.

3.3.5 Lubrikan
Lubrikan Murni
Lubrikam murni adalah zat yang digunakan untuk mengurangi gesekan antara
granul dengan dinding cetakan selama pengempaan dan pengeluaran tablet.
Lubrikan dapat bekerja dengan dua mekanisme, yaitu fluid lubrication dan
boundary lubrication. Fluid lubrication bekerja dengan memisahkan kedua
permukaan granul dan dinding. Sedangkan boundary lubrication bekerja karena
adanya penempelan dari bagian molekular yang mempunyai rantai karbon panjang.
Berdasarkan kelarutannya dalam air, lubrikan dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
- Lubrikan larut air
Lubrikan ini umumnya hanya digunakan jika tablet harus sangat larut air
(misalnya tablet effervesen) dan tergantung dari karakter disolusi yang
diinginkan. Beberapa contoh senyawa yang dapat digolongkan sebagai
lubrikan larut air antara lain : natrium benzoat, natrium asetat, natrium klorida,
natrium oleat, natrium lauril sulfat, magnesium lauril sulfat, asam borat,
Karbowax 4000, Karbowax 6000, polietilenglikol.
- Lubrikan tidak larut air
Lubrikan ini lebih efektif daripada yang larut air dan digunakan pada
konsentrasi yang lebih rrendah. Beberapa contoh senyawa yang dapat
digolongkan sebagai lubrikan tidak larut air antara lain : magnesium stearat,
kalsium stearat, natrium stearat, asam stearat, talk.
Pertimbangan pemilihan lubrikan tergantung pada cara pemakaian, tipe tablet,
sifat disintegrasi dan disolusi yang diinginkan, sifat fisika-kimia serbuk atau granul
dan biaya.
Water Soluble Lubricant Water Insoluble Lubricant
Jenis Kadar (%) Jenis Kadar (%)
Asam borat 1 Logam (Mg, Ca, Na)
stearat
-2
Sodium klorida 5 Asam stearat -2
DL-leusin 1-5 Sterotex -2
Carbowax 4000/6000 1-5 Talk 1-5
Sodium oleat 5 Waxes 1-5
Sodium benzoat 5 Stearowet 1-5
Sodium asetat 5 Gliseril behapate
(Compritol888);
dapat pula sebagai
pengikat;
dikombinasi dengan
Mg-stearat untuk
mengurangi
resiko sticking dan
caping.

Sodium lauril sulfat 1-5
Mg-lauril sulfat 1-2
Sodium
benzoat+sodiumasetat
1-5
(Lachman Tablets, 113-114)

1. Asam Stearat (HPE, 5
th
,731)
Pemakaian : Digunakan di dalam formulasi sediaan tablet sebagai lubrikan pada
konsentrasi 1-3%
Kelarutan : sangat larut dalam benzen, karbon tetraklorida, kloroform dan eter, larut
dalam etanol, heksana, dan propilenglikol, dan praktis tidak larut air.
Stabilitas dan Penyimpanan : Stabil, simpan di wadah yang kering dan tertutup rapat
OTT : Logam hidroksida dan senyawa oksidator. Asam stearat dilaporkan
dapat menyebabkan pitting pada tablet salut film.


Sebagai bahan pelincir yang sangat menonjol adalah talk karena dapat
sekaligus memenuhi ketiga fungsi yaitu sebagai pelincir, anti lengket dan pelicin.
Pada umumnya talk ditambahkan sebanyak 2% ke dalam granulat siap pakai.
(Voight, 1995 : 205).

3.3.6 Anti Adherant
Antiadheren adalah zat yang digunakan untuk mencegah menempelnya
massa tablet pada punch dan untuk mengurangi penempelan pada dinding cetakan.
Bahan ini sangat diperlukan untuk zat-zat yang mudah menempel, seperti vitamin
E. Talk, magnesium stearat dan amilum jagung merupakan material yang memiliki
sifat antiadheren yang sangat baik.
Tabel Antiadheren yang biasa digunakan
Jenis Antiadheren Konsentrasi (%b/b)
Talk 1-5
Magnesium stearat < 1
Amilum jagung 3-10
Colloidal silica 0,1-0,5
DL-Leucine 3-10
Natrium lauril sulfat < 1

1. Cab-O-Sil (HPE, 5
th
,188)
Pemakaian : Sebagai antiadheren dipakai dengan konsentrasi 0,1-0,5 %
Kelarutan : praktis tidak larut dalam pelarut organik, air, dan asam kecuali asam
hidroflorat, larut dalam larutan alkali hidroksida panas. Membentuk
dispersi koloid dengan air.
pH : 3,5-4,4 (4% w/v aqueous dispersion)
Stabilitas dan Penyimpanan : Higroskopis. Penyimpanan di tempat yang sejuk dan kering
OTT : Dietilstilbestrol
2. Sodium Lauril Sulfat (HPE, 5
th
,687)
Pemakaian : Sebagai antiadheren tablet konsentrasi yang digunakan <1%
Kelarutan : Larut dalam air, (giving an opalescent solution), praktis tidak larut
kloroform dan eter.
pH : 7-9,5 dalam larutan 1% b/v
Stabilitas dan Penyimpanan : Stabil dalam kondisi normal. Larutan dengan pH di bawah
2,5 dapat memicu hidrolisis menghasilkan lauril alkohol
dan sodium bisulfat. Simpan di wadah yang kering dan
tertutup baik.
OTT : Surfaktan kationik
3. Talk (HPE, 5
th
,767)
Pemakaian : Digunakan di dalam formulasi tablet sebagai antiadheren dengan
konsentrasi 1-10%.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam dilute acids and alkalis, pelarut organik dan air
pH : 6,5 -10 untuk dispersi 20% b/v
Stabilitas dan Penyimpanan : Stabil, dapat disterilkan dengan pemanasan pada suhu 160C
tidak lebih dari sejam, juga dapat disterilkan dengan otilen
oksida atau penyinaran gamma.
OTT : Senyawa ammonium kuatener
4. Starch (HPE, 5
th
,725)
Pemakaian : 3-10 %, merupakan antiadheren yang paling umum digunakan.
Pemakaiannya disesuaikan dengan jenis starch, tekanan pengempaan,
dan kandungan air massa cetak
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol dingin (95%) dan dalam air dingin
pH : 5,5-6,5 pada 25C (2% w/v aqueous dispersion of corn starch)
Stabilitas dan Penyimpanan : Penyimpanan di tempat yang sejuk, kering, dan dalam
wadah kedap udara.
OTT : -
Perhatian khusus : Simpan dalam tempat yang bersih, kering, dan ruang berventilasi baik.
Sebelum digunakan, harus dikeringkan pada suhu 80-90 C untuk
menghilangkan air yang terabsorpsi.

3.3 Pertimbangan Pemilihan Formulasi
.
















BAB IV
FORMULASI & PEMBUATAN
4.1 Penyusunan formula
4.1.1 Formula 1











Digunakan supertab alasannya karena memberikan banyak keuntungan karena selain sebagai
pengisi pada granulasi basah dan cetak langsung dapat berfungsi sebagai sebagai self-lubrikan
dan mampu memberikan daya integrasi yang lebih tinggi sehingga memungkinkan produksi
skala besar dengan metode kempa langsung. Pemilihan super tab mampu memberikan daya
sdhesi pada massa serbuk pada tablet kempa serta menamabah daya kohesi sebagai bahan
pengisi.
Pemilihan Talcum dalam formulasi digunakan sebagai glidan. Karena talcum memiliki
ukuran pratikel yang kecil dengan luas permukaan spesifik yang besar memberi keuntungan
karekteristik sifat alir baik dari serbuk kering untuk di cetak langsung
Pemilihan asam stearat sebagai lubrikant untuk mempercepatliran bahan dlm corong ke dalam
rongga cetakan sehingga mengurangi gesekan selama pengempaan tablet. Dan berguna untuk
mencegah melekatanya massa tablet pd punch dan cetakan. Penambah lubrikant yang
berlebihan akan menurunkan kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet.
Pemilahan starch sebagai disintegran banyak digunakan di dalam formulasi sediaan
tablet oral, merupakan bahan nontoksik dan noniritasi. Merupakan disintegran yang
baik dan ditambahkan dalam campuran kering (dalam fasa dalam dan atau fasa luar
pada metoda granulasi kering atau kempa langsung, atau dalam fasa luar pada metoda
granulasi basah


No. Nama
Bahan
Fungsi % rentang
pemakaian
% yang
dibuat
Jumlah
tiap
tablet
Jumlah
1000
tablet
1. Bahan aktif 50 % 50 mg 50 g
2. Bahan Pengisi 30-80% qs(36%) 36 mg 36 g
3. - Lubrikan 1 3 % 2 % 2 mg 2 g
4. Glidant
Antiadheran
1-10%
2-10%
5% 5 mg 5 g
5. Disintegran 5-15% 7% 7 mg 7 g

4.1.2 Cara Pembuatan formula 1



4.2.1 Formula 2










No. Nama
Bahan
Fungsi % rentang
pemakaian
%
yang
dibuat
Jumlah
tiap
tablet
Jumlah
1000
tablet
1. Asam
askorbat
Bahan aktif 50 % 50 mg 50 g
2. Starch
1500
Disintegran 5-15% 8 % 8 mg 8 g
3. Mg stearat Lubrikan 0,25-5%. 2 % 2 mg 2 g
4. Talc Glidant 1-10% 5% 5 mg 5 g
5. Avicel PH
102
Pengisi 20-90% 35 % 35 mg 35 g
IPC
ALAT
Super Tab, Talcum, Starch 1500, Asam
Stearat
4.2.3 Cara Pembuat
an

4.3.1 Formula 3















No. Nama
Bahan
Fungsi % rentang
pemakaian
%
yang
dibuat
Jumlah
tiap
tablet
Jumlah
1000
tablet
1. Asam
askorbat
Bahan aktif 50 mg 50 g
2. Manitol Pengisi 10-90% 41,5
%
41,5 mg 41,5 g
3. Sodium
lauril
sulfat
- Lubrikan
- anti adherant
1-2%
< 1
2 % 2 mg 2 g
4. Talc Glidant 1-10% 6% 6 mg 6 g
5. Orange
Flavour
Flavouring agent 0,5 % 0.5mg 0.5 g
Starch 1500, Magnesium Stearat,
Talc, Avicel PH 102
4.3.2


















Manitol, Sodium Lauril Sulfat, Talc,
Orange Flavour
BAB V
RANCANGAN EVALUASI TABLET
5.1 Keseragaman Ukuran (FI III hal.6)
a. Cara Evaluasi :
Diambil 10 tablet, lalu diukur diameter dan tebalnya satu per satu
menggunakan jangka sorong, kemudian dihitung rata-ratanya. Adapun
ketelitian jangka sorong adalah 0,05 mm. Penulisan hasil tiga angka di
belakang koma dengan satuan cm (centimeter).
b. Persyaratan :
Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1

kali tebal
tablet.
c. Cara Menghitung :
diameter = lebar tablet + tebal tablet
d. Alat : jangka sorong

5.2 Keseragaman Bobot (FI III hal.7)
a. Cara Evaluasi :
Mengambil 20 tablet, ditimbang satu per satu dengan timbangan analitik.
Kemudian menghitung bobot rata-rata tiap tablet.
b. Persyaratan :
Saat ditimbang tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya
menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan
kolom A dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari
harga yang ditetapkan kolom B.
Bobot rata-rata
Penyimpangan bobot rata-rata dalam %
A B
25 mg atau kurang
26 mg 150 mg
151 mg 300 mg
Lebih dari 300 mg
15 %
10%
7,5%
5%
30%
20%
15%
10%

c. Cara Menghitung :


x 100%
d. Pengambilan Kesimpulan :

5.3 Uji Kerapuhan (FI IV hal.)
a. Cara Evaluasi :
Mengambil 20 tablet, ditimbang 20 tablet sekaligus. Masukkan ke dalam
Friabilator 20 tablet sebelah kanan dan 20 tablet sebelah kiri. Kemudian diputar
dengan kecepatan 25 rpm dalam waktu . Setelah itu tablet dikeluarkan lalu
dibersihkan dan ditimbang lagi.
b. Persyaratan :
Untuk tablet konvensional adalah kurang dari 0,5-1%
Selisihnya tidak 80%
c. Cara Menghitung :


x 100%
d. Alat : Friabilator
e.
5.4 Uji Kekerasan (FI IV hal.)
a. Cara Evaluasi :
Mengambil 20 tablet, lalu diletakkan pada tempat diantara dua baja yang
bergerak. Jalankan alat, amati angka yang tertera pada alat. Apabila tablet telah
pecah, maka angka pada alat akan berhenti. Angka yang tertera dalam satuan
Newton. Persyaratan kekerasan untuk tablet konvensional adalah 4-8 kg,
sedangkan untuk tablet hisap > 10 kg.
b. Persyaratan :
untuk tablet konvensional 4 8 kg
untuk tablet hisap > 10 kg
c. Cara Menghitung : -
d. Alat : Hardness Tester.

5.5 Uji Waktu Hancur (FI III hal.7)
a. Cara Evaluasi :
Masukkan 5 tablet ke dalam tabung keranjang, diturun-naikkan keranjang
secara teratur sebanyak 30 kali tiap menit. Tablet dinyatakan hancur jika tidak
ada bagian tablet yang tertinggal diatas kasa, kecuali fragmen yang berasal dari
zat penyalut. Jika tablet tidak memenuhi persyaratan maka diulangi
menggunakan 5 tablet dengan cakram penuntun.
b. Persyaratan :
Untuk tablet tanpa selaput dibutuhkan waktu 15 menit
Untuk tablet dengan selaput dibutuhkan waktu 30-60 menit
c. Cara Menghitung :
dengan stopwatch
d. Alat : disintegrator
5.6 Uji Keseragaman kandungan
a. Cara Evaluasi :
Mengambil 30 tablet. Dari 30 tablet tersebut, tetapkan kadar 10 tablet satu
per satu sesuai dengan cara yang tertera pada penetapan kadar dalam
monografi, kecuali dinyatakan lain
b. Persyaratan :
Tidak lebih dari 1 tablet dari 30 tablet ada di luar 85.0% atau 115.0%
Tidak ada 1 tabletpun yang di luar rentang 75.0% atau 125.0%
Simpangan Baku Relatif tidak lebih besar dari 7.8%
c. Cara Menghitung : Simpangan baku relatif =

x 100%
5.7 Uji Disolusi
Masukkan sejumlah volume media disolusi sesuai monografi, alat dipasang
dan biarkan media hingga mencapai suhu 37
O
- 0,50
O
C. Masukkan 1 tablet kedalam
alat, hilangkan gelembung udara dari permukaan sediaan, dan jalankan alat pada laju
kecepatan seperti yang tercantum pada monografi.
Dalam interval waktu yang ditetapkan, ambil cuplikan pada daerah
pertengahan antara media disolusi dan bagian atas keranjang atau dayung, tidak
kurang dari 1 cm dari dinding wadah. Lakukan penetapan kadar sesuai monografi.





PENUTUP
Kesimpulan
Pada praformulasi hingga formulasi bahan obat vitamin c ini dapat
disimpulkan bahwa proses formulasi serta Evaluasi sediaan tablet vitamin c
disimpulkan menggunakan metode kempa langsung. Pada proses granulasi serta
evaluasinya didapat hasil yang sangat baik, sehingga layak untut k dilanjutkan
penempaan sebagai tablet.
Pada proses pembuaatan setelah tablet jadi dilakukan evaluasi sediaan tablet
dengan masing masing persyaratan yg tertera.
Untuk itu perlu diadakan pengkajian ulang dimana letak permasalahan yang
menyebabkan hasil yang tidak memenuhi syarat tersebut




















LAMPIRAN

























PT. INDAH JAYA
Kediri- Indonesia
KOMPOSISI :
Tiap tablet mengandung :
Vitamin C 50 mg

ATURAN PAKAI
Dosis anak-anak :
1. 3 bulan 1 tahun : sekali 50 mg,
sehari 150 200 mg
2. 1 6 tahun : sekali 50 100 mg,
sehari 150 400 mg
3. 6 12 tahun : sekali 200 300
mg, sehari 0,6 1.2 g
Dosis Dewasa :
Sekali 500 mg, sehari 500 mg 1,5 g

Indikasi, Kontra indikasi, efek
samping, interaksi obat,
peringatan dan perhatian : Lihat
dalam brosur

PT. INDAH JAYA
Kediri - Indonesia


Indikasi, Kontra indikasi,
efek samping, interaksi obat,
peringatan dan perhatian :
Lihat dalam brosur

Simpan Di Tempat Sejuk
(15
0
25
0
C) Dan Kering
Netto : 50 Tablet
@ 50 mg

Reg. No. DBL P18722207629A1
Batch No. : LH 9474
Exp. Date : Aug 2017




Reg. No. DBL
P18722207629A1
Batch No. : LH 9474
Exp. Date : Aug 2017
PT. INDAH JAYA
Kediri - Indonesia

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Rowe, Raymond C; Sheskey, Paul J; Quinn, Marian E. 2009. Handbook of Pharmaceutical Exipient
Sixth Edition. Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association. USA.
Buhler, Volker. 1998. Generic Drug Formulation. BASF Fine Chemical.
Niazi, Safaraz K. 2004. Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations Over-
The-Counter Products volume 5. CRC Press. London, New York, Washington DC.


















MAKALAH

TABLETASI VITAMIN C









Disusun Oleh :
1. DIMAS HUSADA (30312027 )
2. EKA AYU A. ( 30312039 )
3.ERNA KUSTIYANINGSIH ( 30312040 )
4. ISYNA LATIFATUR R.( 30312042 )

PROGRAM STUDI D III FARMASI
FAKULTAS FARMASI
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI
2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmad, taufik, dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas menyusun Makalah dengan judul Tabletasi Vitamin C ini tepat pada
waktunya.
Pembuatan Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Ibu
guru mata pelajaran praktikum Teknologi Farmasi dan untuk menambah pengetahuan kami
tentang bab formulasi pembuatan tablet.
Penulisan Makalah ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak yang
telah membantu dan tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada :
1. Ibu Krisna Kharisma,S.Farm. Apt., selaku pembimbing dalam penyusunan Makalah ini.
2. Serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.
Kami menyadari bahwa sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, tentu hasil ini
tidak luput dari kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan khususnya kepada Ibu
pembimbing supaya memberikan kritik maupun saran dan bimbingan yang bersifat
membangun demi sempurnanya Makalah berikutnya.
Demikian Makalah ini kami buat, kami berharap semoga dapat memberikan manfaat
bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya tentang Tabletasi dan
Formulasi Vitamin C.



Kediri, Mei 2014



Penyusun