Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH DISKUSI KELOMPOK KECIL

Blok 19 : Kegawatdaruratan Medis


Modul 1 : Kegawatdaruratan THT









Di susun oleh :
KELOMPOK 3


Cristian Rizki Pirade
Desy Nur Fatma Sari
Gea Ananta
Gina Magda Riana
Haris Jauhari
Putri Khumairatullaon
Rifa Fahdianata
Sri Wahyuni
Stefani S. Angel





UNIVERSITAS MULAWARMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
2011/2012


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
hidayah-Nyalah makalah Modul 1 Blok 19 dengan judul skenario Mimisan..... ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun dari berbagai sumber ilmiah sebagai
hasil dari diskusi kelompok kecil (DKK) kami. Makalah ini secara menyeluruh membahas
mengenai kegawatdaruratan THT.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
terselesaikannya makalah ini, antara lain :
1. dr. Nurul Hasanah, M.Kes selaku tutor yang telah membimbing kami dalam
melaksanakan diskusi kelompok kecil (DKK).
2. Teman-teman kelompok III yang telah mencurahkan pikiran dan tenaganya sehingga
diskusi kelompok kecil (DKK) 1 dan 2 dapat berjalan dengan baik dan dapat
menyelesaikan makalah hasil diskusi kelompok kecil (DKK) kelompok I.
3. Teman-teman mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman angkatan
2008 dan pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Akhirnya, seperti pepatah mengatakan tiada gading yang tak retak, tentunya
makalah ini sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran serta kritik yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi tercapainya kesempurnaan dari isi makalah hasil
diskusi kelompok kecil (DKK) ini.

Samarinda, 11 September 2011
Penyusun,



Kelompok III






DAFTAR ISI

Kata Pengantar .. i

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang .. ii
Manfaat .. ii

BAB II ISI
Step 1 .. 1
Step 2 .. 1
Step 3 .. 3
Step 4 .. 4
Step 5 .. 4
Step 6 .. 6
Step 7 .. 6

BAB III PENUTUP
Kesimpulan .. iii

Daftar Pustaka ... v




BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Mimisan atau dalam bahasa kedokterannya disebut Epistaksis merupakan gejala yang
sangat sering dijumpai pada anak anak, walau demikian banyak orang tua yang ketakutan dan
bingung bila anaknya kedapatan sedang mimisan. Mimisan sendiri bukan merupakan suatu
penyakit tetapi merupakan gejala dari suatu penyakit, itu artinya mimisan bisa terjadi karena
bermacam sebab dari yang ringan sampai yang berat.
Mimisan merupakan gejala keluarnya darah dari hidung yang dapat terjadi akibat
sebab kelainan lokal pada rongga hidung ataupun karena kelainan yang terjadi di tempat lain
dari tubuh. Kelainan lokal dapat berupa trauma misalnya mengorek hidung, terjatuh,
terpukul, benda asing di hidung, dan iritasi gas yang merangsang.
Mimisan seringkali bukan merupakan gangguan yang membahayakan, apalagi di
kalangan anak usia TK-SD. Pasalnya pembuluh darah hidung anak usia ini masih tipis dan
peka. Oleh karena itu kita sebagai orangtua tidak perlu panik menghadapinya. Namun jangan
salah, mimisan yang terjadi pada bayi (sampai berusia 2 tahun) perlu lebih diwaspadai karena
dikhawatirkan terjadi hal-hal yang lebih serius. Mimisan bisa merupakan pertanda adanya
penyakit berat.

MANFAAT MODUL
Pada modul 1 blok 10 ini kami diminta untuk mempelajari tentang kegawatdaruratan
THT, yaitu epistaksis sesuai dengan skenario. Sehingga setelah menjadi dokter kelak dapat
menegakkan diagnosa pasti penyebab epistaksis dan melakukan penatalaksanaan yang
meliputi pengobatan dan pencegahannya





Step 1
1. Mimisan : Keluarnya darah dari hidung, terjadi secar akut, disebabkan baik
oleh faktor lokal maupun sistemik.
2. GCS : Skala untuk menilai tingkat kesadaran, terdiri dari E (eye), V
(verbal), dan M (motorik).
3. Komposmentis : Kesadarn penuh
4. Rhinoskopi anterior : Pemeriksaan rongga hidung, dilihat dri depan, menggunakan
speculum hidung.
5. CT : Waktu yang diperlukan darah untuk membeku. Pemeriksaan ini
untuk menilai fakto-faktor intrinsic pembekuan darah. Normalnya 5-15 menit.
6. BT : Waktu yang dibutuhkan mulai dari perdarahan sampai berhenti.
Normalnya 1-6 menit
7. Anemis : Tampak pucat, karena kekurangan Hb. Hb normal laki-laki=
>13 g/dl, perempuan= >12 g/dl.

Step 2
1. Apakah jumlah darah menjadi parameter keparahan?
2. Penyebab mimisan? Apa pengaruh riwayat hipertensi?
3. Mengapa pada anamnesis ditanyakan telinga berdenging dan diplopia? Apa
hubungannya?
4. Patofisiologi mimisan?
5. Interpretasi hasil pemeriksaan?
6. Diagnosis banding?
7. Penanganan mimisan?
8. Indikasi rujukan?
9. Komplikasi yang mungkin terjadi jika tidak segera diatasi?
10. Pencegahan agar tidak berulang?





Step 3

1. Ya. Semakin banyak darah yang dikeluarkan, maka resiko terjadinya komplikasi akan
semakin besar. Penatalaksanaannya pun akan berbeda, antara perdarahan kecil dan
perdaraha besar.
2. Mimisan dapat disebabkan oleh faktor lokat maupun sistemik. Faktor lokal, misalnya:
trauma, infeksi, neoplasma, kelainan congenital, perforasi dan deviasi septum, pengaruh
lingkungan (udara terlalu kering). Faktor sistemik, misalnya: penyakit
kardiovaskular,infeksi sitemik (DHF, influenza, morbili, demam tifoid, dll), gangguan
endokrin (wanita hamil, menarche, dan menopause).
3. Pada mimisan yang disebabkan oleh neoplasama seperti karsinoma nasofaring dan
angiofibroma, gejala yang ditimbulkan sering berupa keluhan pada mata dan telinga,
karena sel ganas tersebut menyebar atau mendestruksi jaringan sekitarnya, termasuk
tulang dan saraf terdekat.
4. Pada orang tua, tunika intima bisa mengalami degenerasi, dari otot polos menjadi jaringan
ikat, hal ini menyebabkan pembuluh darah kehilangan elastisitasnya, sehingga sulit untuk
berkonstriksi, akibatnya hemostatik terganggu. Pada anak-anak, pembuluh darah
cenbderung belum kuat, sehingga dengan trauma ringan saja dapat menyebabkan
epistaksis.
5. TD meningkat (hipertensi grade 2), Hb turun, BTCT tidak normal.
6. Epistaksis akibat hipertensi, karsinoma nasofaring, angiofibroma.
7. Yang pertama kali kita lakukan jika ada pasien datang dengan epistaksis adalah
memposisikan pasien duduk denagn kepala tegak. Kemudian minta pasien untuk
menekan ala nasinya selama kurang lebih 10 menit. Jika perdarahan masih belum
berhenti, yang kita lakukan adalah memasukan kapas yang telah diberi epinefrin dan
lidokain ke dalam hidung pasien, agar terjadi vasokonstriksi pembuluh darah dan
mengurangi nyeri saat pemeriksaan. Lakukan pemeriksaan rinoskopi anterior, temukan
sumber perdarahan, kemudian lakukan kauterisasi dengan nitrat argenti 20-30% atau
TCA 10%. Jika perdarahan masih belum berhenti juga, lakukan pemasangan tampon
(Tampon anterior untuk epistaksis anterior, tampon bellocq untuk epistaksis posterior).
Segera rujuk jika berum ada perbaikan. Jangan lupa pantau selalu vital signs!!!
8. Jika pasien epistaksis menunjukan gejala komplikasi.
9. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain: syok, septal hematom, sinusitis, deformitas
hidung, aspirasi darah ke saluran nafas bawah.
10. Jauhi faktor resiko!!!


Step 4
























Step 5
1. Mengetahui dan mampu menjelaskan definisi, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, tanda
dan gejala, penatalaksanaan, komplikasi, serta pencegahan epistaksis
2. Mengetahui dan mampu menjelaska diagnosis banding dari gejala epistaksis, yaitu
karsinoma nasofaring dan angiofibroma

Step 6
Lokal

Sistemik
Epistaksis
Anterior Posterior
Ananmnesis dan pemeriksaan fisik
Diagnosis banding
Karsinoma nasofaring
Epistaksis et causa
hipertensi
Angiofibroma
Pemeriksaan penunjang
Penatalaksanaan

Pada step ini mahasiswa menggunakan waktu luangnya untuk melakukan belajar
mandiri, guna memperdalam materi belajar yang telah ditentukan pada DKK pertama untuk
didiskusikan lagi pada DKK kedua dipertemuan selanjutnya.

Step 7
EPISTAKSIS

Definisi
Epistaksis adalah keluarnya darah dari hidung; merupakan suatu tanda atau
keluhan bukan penyakit. Perdarahan dari hidung dapat merupakan gejala yang sangat
menjengkelkan dan mengganggu, dan dapat pula mengancam nyawa. Faktor etiologi
harus dicari dan dikoreksi untuk mengobati epistaksis secara efektif.

Etiologi
Perdarahan hidung diawali oleh pecahnya pembuluh darah di dalam selaput
mukosa hidung. Delapan puluh persen perdarahan berasal dari pembuluh darah
Pleksus Kiesselbach (area Little). Pleksus Kiesselbach terletak di septum nasi bagian
anterior, di belakang persambungan mukokutaneus tempat pembuluh darah yang kaya
anastomosis. Epistaksis sering kali timbul spontan tanpa dapat ditelusuri
penyebabnya. Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab-sebab lokal dan umum atau
kelainan sistemik. Secara Umum penyebab epistaksis dibagi dua yaitu :
1) Lokal
a) Trauma
Epistaksis yang berhubungan dengan tauma biasanya mengeluarkan sekret
dengan kuat, bersin, mengorek hidung, trauma seperti terpukul, jatuh dan
sebagainya. Selain itu iritasi oleh gas yang merangsang dan trauma pada
pembedahan dapat juga menyebabkan epistaksis.

b) Infeksi
Infeksi hidung dan sinus paranasal, rinitis, sinusitis serta granuloma spesifik,
seperti lupus, sifilis dan lepra dapat menyebabkan epistaksis.
c) Neoplasma

Epistaksis yang berhubungan dengan neoplasma biasanya sedikit dan
intermiten, kadang-kadang ditandai dengan mukus yang bernoda darah,
Hemongioma, karsinoma, serta angiofibroma dapat menyebabkan epistaksis
berat.
d) Kelainan kongenital
Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis ialah perdarahan
telangiektasis heriditer (hereditary hemorrhagic telangiectasia/Osler's
disease).
e) Sebab-sebab lain termasuk benda asing dan perforasi septum.
Perforasi septum nasi atau abnormalitas septum dapat menjadi predisposisi
perdarahan hidung. Bagian anterior septum nasi, bila mengalami deviasi atau
perforasi, akan terpapar aliran udara pernafasan yang cenderung
mengeringkan sekresi hidung. Pembentukan krusta yang keras dan usaha
melepaskan dengan jari menimbulkan trauma digital. Pengeluaran krusta
berulang menyebabkan erosi membrana mukosa septum dan kemudian
perdarahan.
f) Pengaruh lingkungan
Misalnya tinggal di daerah yang sangat tinggi, tekanan udara rendah atau
lingkungan udaranya sangat kering.

2) Sistemik
a) Kelainan darah
Misalnya trombositopenia, hemofilia dan leukemia.
b) Penyakit kardiovaskuler, hipertensi dan kelainan pembuluh darah, seperti
pada aterosklerosis, nefritis kronik, sirosis hepatis, sifilis, diabetes melitus
dapat menyebabkan epistaksis. Epistaksis akibat hipertensi biasanya hebat,
sering kambuh dan prognosisnya tidak baik.
c) Infeksi sistemik akut
Demam berdarah, demam typhoid, influenza, morbili, demam tifoid.
d) Gangguan endokrin

Pada wanita hamil, menarche dan menopause sering terjadi epistaksis,
kadang-kadang beberapa wanita mengalami perdarahan persisten dari hidung
menyertai fase menstruasi.

Patofisiologi
Terdapat dua sumber perdarahan yaitu bagian anterior dan posterior. Pada epistaksis
anterior, perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach (yang paling sering terjadi dan biasanya
pada anak-anak) yang merupakan anastomosis cabang arteri ethmoidalis anterior, arteri
sfenopalatina, arteri palatine ascendens dan arteri labialis superior.
Pada epistaksis posterior, perdarahan berasal dari arteri sfenopalatina dan arteri
ethmoidalis posterior. Epistaksis posterior sering terjadi pada pasien usia lanjut yang
menderita hipertensi, arteriosclerosis, atau penyakit kardiovaskuler. Perdarahan biasanya
hebat dan jarang berhenti spontan.
Perdarahan yang hebat dapat menimbulkan syok dan anemia, akibatnya dapat timbul
iskemia serebri, insufisiensi koroner dan infark miokard, sehingga dapat menimbulkan
kematian. Oleh karena itu pemberian infuse dan tranfusi darah harus cepat dilakukan.

Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik
Pasien sering menyatakan bahwa perdarahan berasal dari bagian depan dan belakang
hidung. Perhatian ditujukan pada bagian hidung tempat awal terjadinya perdarahan atau pada
bagian hidung yang terbanyak mengeluarkan darah.
Pada anamnesis harus ditanyakan secara spesifik mengenai beratnya perdarahan,
frekuensi, lamanya perdarahan, dan riwayat perdarahan hidung sebelumnya. Perlu ditanyakan
juga mengenai kelainan pada kepala dan leher yang berkaitan dengan gejala-gejala yang
terjadi pada hidung. Bila perlu, ditanyakan juga megenai kondisi kesehatan pasien secara
umum yang berkaitan dengan perdarahan misalnya riwayat darah tinggi, arteriosclerosis,
koagulopati, riwayat perdarahan yang memanjang setelah dilakukan operasi kecil, riwayat
penggunaan obat-obatan seperti koumarin, NSAID, aspirin, warfarin, heparin, ticlodipin,
serta kebiasaan merokok dan minum-minuman keras.
Pada pemeriksaan fisik, epistaksis seringkali sulit dibedakan dengan hemoptysis atau
hematemesis untuk pemeriksaan yang adekuat pasien harus ditempatkan dalam posisi dan
ketinggian yang memudahkan pemeriksa bekerja.. Harus cukup sesuai untuk mengobservasi
atau mengeksplorasi sisi dalam hidung. Dengan spekulum hidung dibuka dan dengan alat

pengisap dibersihkan semua kotoran dalam hidung baik cairan, sekret maupun darah yang
sudah membeku; sesudah dibersihkan semua lapangan dalam hidung diobservasi untuk
mencari tempat dan faktor-faktor penyebab perdarahan. Setelah hidung dibersihkan,
dimasukkan kapas yang dibasahi dengan larutan anestesi lokal yaitu larutan pantokain 2%
atau larutan lidokain 2% yang ditetesi larutan adre-nalin 1/1000 ke dalam hidung untuk
menghilangkan rasa sakit dan membuat vasokontriksi pembuluh darah sehingga perdarahan
dapat berhenti untuk sementara. Sesudah 10-15 menit kapas dalam hidung dikeluarkan dan
dilakukan evaluasi.
Pasien yang mengalami perdarahan berulang atau sekret berdarah dari hidung yang
bersifat kronik memerlukan fokus diagnostik yang berbeda dengan pasien dengan perdarahan
hidung aktif yang prioritas utamanya adalah menghentikan perdarahan.
Pemeriksaan yang diperlukan berupa:
a) Rinoskopi anterior
Pemeriksaan harus dilakukan dengan cara teratur dari anterior ke posterior. Vestibulum,
mukosa hidung dan septum nasi, dinding lateral hidung dan konkhainferior harus diperiksa
dengan cermat.
b) Rinoskopi posterior
Pemeriksaan nasofaring dengan rinoskopi posterior penting pada pasien dengan epistaksis
berulang dan sekret hidung.

Penatalaksanaan
Aliran darah akan berhenti setelah darah berhasil dibekukan dalam proses pembekuan
darah. Sebuah opini medis mengatakan bahwa ketika pendarahan terjadi, lebih baik jika
posisi kepala dimiringkan ke depan (posisi duduk)untuk mengalirkan darah dan
mencegahnya masuk ke kerongkongan dan lambung.
Pertolongan pertama jika terjadi mimisan adalah dengan memencet hidung bagian
depan selama tiga menit. Selama pemencetan sebaiknya bernafas melalui mulut.
Perdarahan ringan biasanya akan berhenti dengan cara ini. Lakukan hal yang sama jika
terjadi perdarahan berulang, jika tidak berhenti sebaiknya kunjungi dokter untuk bantuan.
Untuk pendarahan hidung yang kronis yang disebabkan keringnya mukosa hidung,
biasanya dicegah dengan menyemprotkan salin pada hidung hingga tiga kali sehari.
Jika disebabkan tekanan, dapat digunakan kompres es untuk mengecilkan pembuluh
darah (vasokonstriksi). Jika masih tidak berhasil, dapat digunakan tampon hidung. Tampon
hidung dapat menghentikan pendarahan dan media ini dipasang 1-3 hari.

Tujuan pengobatan epistaksis adalah:
- Menghentikan perdarahan.
- Mencegah komplikasi
- Mencegah berulangnya epistaksis

Hal-hal yang penting adalah :
1. Riwayat perdarahan sebelumnya.
2. Lokasi perdarahan.
3. Apakah darah terutama mengalir ke tenggorokan (ke posterior) atau keluar
dari hidung depan (anterior) bila pasien duduk tegak.
4. Lamanya perdarahan dan frekuensinya
5. Riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga
6. Hipertensi
7. Diabetes melitus
8. Penyakit hati
9. Gangguan koagulasi
10. Trauma hidung yang belum lama
11. Obat-obatan, misalnya aspirin, fenil butazon

Pengobatan disesuaikan dengan keadaan penderita, apakah dalam keadaan akut
atau tidak.
1. Perbaiki keadaan umum penderita, penderita diperiksa dalam posisi duduk kecuali
bila penderita sangat lemah atau keadaaan syok.
2. Menghentikan perdarahan
a. Pada anak yang sering mengalami epistaksis ringan, perdarahan dapat
dihentikan dengan cara duduk dengan kepala ditegakkan, kemudian cuping
hidung ditekan ke arah septum selama beberapa menit.
b. Tentukan sumber perdarahan dengan memasang tampon anterior yang telah
dibasahi dengan adrenalin dan pantokain/lidokain, serta bantuan alat penghisap
untuk membersihkan bekuan darah.

c. Pada epistaksis anterior, jika sumber perdarahan dapat dilihat dengan jelas,
dilakukan kaustik dengan larutan nitras argenti 20%-30%, asam trikloroasetat
10% atau dengan elektrokauter. Sebelum kaustik diberikan analgesia topikal
terlebih dahulu.
3. Bila dengan kaustik perdarahan anterior masih terus berlangsung, diperlukan
pemasangan tampon anterior dengan kapas atau kain kasa yang diberi vaselin yang
dicampur betadin atau zat antibiotika. Dapat juga dipakai tampon rol yang dibuat
dari kasa sehingga menyerupai pita dengan lebar kurang cm, diletakkan
berlapis-lapis mulai dari dasar sampai ke puncak rongga hidung. Tampon yang
dipasang harus menekan tempat asal perdarahan dan dapat dipertahankan selama
1-2 hari.
4. Perdarahan posterior diatasi dengan pemasangan tampon posterior atau tampon
Bellocq, dibuat dari kasa dengan ukuran lebih kurang 3x2x2 cm dan mempunyai 3
buah benang, 2 buah pada satu sisi dan sebuah lagi pada sisi yang lainnya. Tampon
harus menutup koana (nares posterior)

Untuk memasang tampon Bellocq:
- Dimasukkan kateter karet melalui nares anterior sampai tampak di orofaring dan
kemudian ditarik ke luar melalui mulut.
- Ujung kateter kemudian diikat pada dua buah benang yang terdapat pada satu sisi
tampon Bellocq dan kemudian kateter ditarik keluar hidung.
- Benang yang telah keluar melalui hidung kemudian ditarik, sedang jari telunjuk
tangan yang lain membantu mendorong tampon ini ke arah nasofaring.
- Jika masih terjadi perdarahan dapat dibantu dengan pemasangan tampon anterior,
kemudian diikat pada sebuah kain kasa yang diletakkan di tempat lubang hidung
sehingga tampon posterior terfiksasi.
- Sehelai benang lagi pada sisi lain tampon Bellocq dikeluarkan melalui mulut (tidak
boleh terlalu kencang ditarik) dan diletakkan pada pipi. Benang ini berguna untuk
menarik tampon keluar melalui mulut setelah 2-3 hari. Setiap pasien dengan tampon
Bellocq harus dirawat.


5. Sebagai pengganti tampon Bellocq dapat dipakai kateter Foley dengan balon. Balon
diletakkan di nasofaring dan dikembangkan dengan air. Teknik sama dengan
pemasangan tampon Bellocq.
6. Di samping pemasangan tampon, dapat juga diberi obat-obat hemostatik. Akan
tetapi ada yang berpendapat obat-obat ini sedikit sekali manfaatnya.
7. Ligasi arteri dilakukan pada epistaksis berat dan berulang yang tidak dapat diatasi
dengan pemasangan tampon posterior. Untuk itu pasien harus dirujuk ke rumah
sakit.

Pemeriksaan Penunjang
Jika perdarahan sedikit dan tidak berulang, tidak perlu dilakukan pemeriksaan
penunjang. Jika perdarahan berulang atau hebat lakukan pemeriksaan lainnya untuk
memperkuat diagnosis epistaksis.
Pemeriksaan darah tepi lengkap.
Fungsi hemostatis
EKG
Tes fungsi hati dan ginjal
Pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal, dan nasofaring.
CT scan dan MRI dapat diindikasikan untuk menentukan adanya rinosinusitis, benda asing
dan
neoplasma.

Diagnosis Banding
Sebagian besar pasien epistaksis mempunyai tempat perdarahan yang terletak anterior
dalam cavitas nasalis akibat kejadian traumatik ringan, misalnya perdarahan bisa akibat
memasukkan objek (lazim suatu jari tangan). Keadaan kering, terutama musim dingin, akibat
sistem pemanasan dan kurangnya kelembaban, maka membrana hidung menjadi kering dan
retak yang menyebabkan permukaannya berdarah. Area ini tepat mengelilingi perforasi
septum atau deviasi septum bisa menjadi kering karena aliran udara hidung abnormal dan
bisa timbul perdarahan. Pada kelompok usia pediatri, benda asing dan alergi menjadi sebab
lazim epistaksis. Beberapa anak bisa berdarah akibat ruptura pembuluh darah septum yang
membesar yang muncul dari lantai hidung. Perdarahan juga dapat terjadi pada trauma

pembuluh darah disekitar basis cranii yang kemudian masuk ke hidung melalui sinus
sphenoid atau tuba eustachius.

Komplikasi dan Prognosis
Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat langsung dari epistaksis sendiri atau sebagai
akibat usaha penanggulangan epistaksis.
Syok dan Anemia. Sebagai akibat perdarahan yang hebat dapat terjadi syok dan anemia.
Turunnya tekanan darah mendadak dapat menimbulkan iskemia serebri, insufisiensi koroner
dan infark miokard, sehingga dapat menyebabkan kematian. Dalam hal ini pemberian infusi
atau transfusi darah harus dilakukan secepatnya.

Infeksi. Pemasangan tampon dapat menyebabkan sinusitis, otitis media dan bahkan
septikemia. Oleh karena itu antibiotik haruslah selalu diberikan pada setiap pemasangan
tampon hidung, dan setelah 2-3 hari tampon harus dicabut, meskipun akan dipasang tampon
baru, bila masih ada perdarahan.

Perdarahan lokasi lain. Selain itu dapat juga terjadi hemotimpanum, sebagai akibat
mengalirnya darah melalui tuba Eustachius, dan air mata yang berdarah (bloody tears),
sebagai akbat mengalirnya darah secara retrograde melalui duktus nasolakrimalis.

Gangguan Mukosa. Laserasi palatum mole dan sudut bibir terjadi pada pemasangan tampon
posterior, disebabkan oleh benang yang keluar melalui mulut terlalu ketat dilakatkan di pipi.

Prognosis
Pada pasien dengan epistaksis anterior maka prognosis akan baik, karena biasanya
perdarahan akan berhenti dengan sendirinya. Pada epistaksis posterior bila ditangani dengan
tepat sebelum terjadinya syok hipovolemik, maka prognosis pasien juga akan baik.








ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA

Definisi
Angiofibroma nasofaring belia adalah sebuah tumor jinak nasofaring yang cenderung
menimbulkan perdarahan yang sulit dihentikan dan terjadi pada laki-laki prepubertas dan
remaja.
Angiofibroma nasofaring belia merupakan neoplasma vaskuler yang terjadi hanya ada
laki-laki, biasanya selama masa prepubertas dan remaja
Umumnya terdapat pada rentang usia 7 s/d 21 tahun dengan insidens terbanyak antara
usia 14-18 tahun dan jarang pada usia diatas 25 tahun.
Tumor ini merupakan tumor jinak nasofaring terbanyak dan 0,05% dari seluruh tumor
kepala dan leher

Etiologi
Etiologi tumor ini masih belum jelas, berbagai jenis teori banyak diajukan.
Diantaranya teori jaringan asal dan faktor ketidak-seimbangan hormonal.
Secara histopatologi tumor ini termasuk jinak tetapi secara klinis ganas karena
bersifat ekspansif dan mempunyai kemampuan mendestruksi tulang. Tumor yang kaya
pembuluh darah ini memperoleh aliran darah dari arteri faringealis asenden atau arteri
maksilaris interna. Angiofibroma kaya dengan jaringan fibrosa yang timbul dari atap
nasofaring atau bagian dalam dari fossa pterigoid. Setelah mengisi nasofaring, tumor ini
meluas ke dalam sinus paranasal, rahang atas, pipi dan orbita serta dapat meluas ke intra
kranial setelah mengerosi dasar tengkorak .

Tanda dan Gejala
Gejala klinik terdiri dari hidung tersumbat (80-90%); merupakan gejala yang paling
sering, diikuti epistaksis (45-60%); kebanyakan unilateral dan rekuren, nyeri kepala (25%);
khususnya bila sudah meluas ke sinus paranasal, pembengkakan wajah (10-18%) dan gejala
lain seperti anosmia, rhinolalia, deafness, pembengkakan palatum serta deformitas pipi.
Tumor ini sangat sulit untuk di palpasi, palpasi harus sangat hati-hati karena sentuhan jari
pada permukaan tumor dapat menimbulkan perdarahan yang ekstensif.



Penegakan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang seperti x-
foto polos, CT scan, angiografi atau MRI. Dijumpai tanda Holman-Miller pada pemeriksaan
x-foto polos berupa lengkungan ke depan dari dinding posterior sinus maksila4. Biopsi tidak
dianjurkan mengingat resiko perdarahan yang masif dan karena teknik pemeriksaan
radiologi yang modern sekarang ini dapat menegakkan diagnosis dengan tingkat ketepatan
yang tinggi.
Tumor ini dapat didiagnosis banding dengan polip koana, adenoid hipertrofi, dan lain-lain.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tumor ini adalah dengan pembedahan; dimana 6-24% rekuren,
stereotactic radioterapi; digunakan jika ada perluasan ke intrakranial atau pada kasus-kasus
yang rekuren.
Penatalaksanaan tumor ini adalah dengan pembedahan yang sering didahului oleh
embolisasi intra-arterial 24-48 jam preoperatif yang berguna untuk mengurangi perdarahan
selama operasi2,4,5. Material yang digunakan untuk embolisasi ini terdiri dari mikropartikel
reabsorpsi seperti Gelfoam, Polyvinyl alcohol atau mikropartikel nonabsorpsi seperti Ivalon
dan Terbal. Penggunaan embolisasi ini tergantung pada ahli bedah masing-masing.

Komplikasi
Komplikasi yang timbul dapat berupa perdarahan yang berlebihan dan transformasi maligna.

Stadium Angiofibroma
Untuk menentukan perluasan tumor, dibuat sistem staging. Ada 2 sistem yang paling sering
digunakan yaitu Sessions dan Fisch.
Klasifikasi menurut Sessions sebagai erikut :
1. Stage IA : Tumor terbatas pada nares posterior dan/atau nasofaring
2. Stage IB : Tumor melibatkan nares posterior dan/atau nasofaring dengan perluasan ke
satu sinus paranasal.
3. Stage IIA : Perluasan lateral minimal ke dalam fossa pterygomaksila.
4. Stage IIB : Mengisi seluruh fossa pterygomaksila dengan atau tanpa erosi ke
tulang orbita.
5. Stage IIIA : Mengerosi dasar tengkorak; perluasan intrakranial yang minimal.

6. Stage IIIB : Perluasan ke intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke dalam sinus
kavernosus.

Klasifikasi menurut Fisch :
1. Stage I : Tumor terbatas pada kavum nasi, nasofaring tanpa destruksi tulang.
2. Stage II :Tumor menginvasi fossa pterygomaksila, sinus paranasal dengan destruksi
tulang.
3. Stage III :Tumor menginvasi fossa infra temporal, orbita dan/atau daerah parasellar
sampai sinus kavernosus.
4. Stage IV : Tumor menginvasi sinus kavernosus, chiasma optikum dan/atau fossa
pituitary.

Faktor resiko
a. Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat
kanker payudara
b. Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu.
c. Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan
makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan ikan).
d. Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan dan
kebiasaan hidup.


Tanda dan gejala
Aktivitas
Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
Sirkulasi
Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah,
epistaksis/perdarahan hidung.
Integritas ego
Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis, perasaan tidak
berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.
Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising
usus, distensi abdomen.
Makanan/cairan
Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut
rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, kakeksia, perubahan
kelembaban/turgor kulit.
Neurosensori
Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus
Nyeri/kenyamanan
Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah leher
karena fibrosis jaringan
Pernapasan
Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok)
Keamanan
Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama / berlebihan, demam,
ruam kulit.
Interaksi sosial
Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung.






KARSINOMA FARING

Definisi
Tumor ganas pada Nasofaring. Kanker nasofaring merupakan keganasan pada leher
dan kepala yang terbanyak ditemukan di Indonesia (60 persen). Untuk mendiagnosis secara
dini sangatlah sulit, karena tumor ini baru menimbulkan gejala pada stadium-stadium akhir.
Gejala-gejala pada stadium awal penyakit ini sukar dibedakan dengan penyakit lainnya.
Dimana letak dari tumor ini tersembunyi di belakang tabir langit-langit dan terletak di dasar
tengkorak, dan sukar sekali dilihat jika bukan dengan ahlinya. Presentase untuk bertahan
hidup dalam 5 tahun juga terlihat mencolok, hal ini dilihat dari stadium I (76 %), stadium II
(50 %), stadium III (38 %) dan stadium lanjut atau IV (16,4%).

Epidemiologi
Penyakit ini banyak ditemukan pada ras cina terutama yang tinggal di daerah selatan.
Ras mongloid merupakan faktor dominan dalam munculnya kanker nasofaring, sehingga
sering timbul di Negara-negara asia bagian selatan. Penyakit ini juga ditemukan pada orang-
orang yang hidup di daerah iklim dingin, hal ini diduga karena penggunaan pengawet
nitrosamine pada makanan-makanan yang mereka simpan.

Patofisiologi
Sudah hampir dipastikan bahwa penyebab dari kanker nasofaring adalah infeksi virus
Epstein Barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan kadar antivirus Virus Epstein
Barr didapatkan cukup tinggi. Faktor lain yang mempengaruhi adalah letak geografis yang
sudah disebutkan diatas, penyakit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki walaupun
alasannya belum dapat dibuktikan hingga saat ini. Faktor lain yang mempengaruhi adalah
faktor lingkungan seperti iritasi oleh bahan kimia, asap, bumbu masakan, bahan pengawet,
masakan yang terlalu panas, air yang memiliki kadar nikel yang cukup tinggi, dan kebiasaan
seperti orang Eskimo yang mengawetkan ikannya dengan menggunakan nitrosamine.
Tentang faktor keturunan sudah banyak diteliti tetapi hingga sekarang belum dapat ditarik
kesimpulan. Satu hal lagi yang penting diketahui adalah bahwa penyakit ini seringkali
menyerang masyarakat dengan golongan sosial yang rendah, hal ini mungkin berkaitan
dengan kebiasaan dan lingkungan hidup di sekitar orang-orang tersebut



Gejala dan Tanda
Gejala klinis karsinoma nasofaring dapat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu,
Gejala nasofaring, gejala ini dapat berupa perdarahan melalui hidung yang ringan hingga
berat, atau sumbatan pada hidung
Gejala Telinga, ini merupakan gejala dini yang timbul karena asal tumor dekat sekali dengan
muara tuba eustachius, sehingga pembesaran sedikit pada tumor akan menyebabkan
tersumbatnya saluran ini dan menimbulkan gejala pada telinga seperti, telinga nyeri, telinga
berdenging, rasa tidak nyaman.
Gejala Mata, pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan gangguan pada saraf-saraf di otak
salah satunya adalah keluhan pada mata berupa pandangan ganda.
Gejala di leher, Metastasis, gejala ini dapat dilihat pada beberapa stadium akhir kanker
nasofaring berupa pembesaran atau benjolan di leher.
Untuk pemeriksaan tambahan, sejak ditemukan CT-scan sangat membantu dalam diagnosis
tumor-tumor di daerah kepala dan leher sehingga tumor primer yang terletak di belakang dan
tersembunyi dapat ditemukan. Pemeriksaan lain seperti serologi IgA anti EA dan IgA anti
VCA di Indonesia telah menunjukan kemajuan dalam medeteksi karsinoma.
Untuk diagnosis pasti Karsinoma Nasofaring ditegakan dengan melakukan biopsy nasofaring.
Biopsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung dan dari mulut. 3 bentuk tersering
dari karsinoma nasofaring adalah karsinoma sel squamosa, karsinoma tidak berkeratinisasi
dan karsinoma tidak berdiferensiasi.

Penatalaksanaan
Radioterapi hingga sekarang masih merupakan terapi utama dan pengobatan
tambahan yang dapat diberikan berupa bedah diseksi leher, pemberian tetrasiklin, interferon,
kemoterapi, dan vaksin antivirus.
Perhatian terhadap efek samping dari pemberian radioterapi seperti, mulut terasa kering,
jamur pada mulut, rasa kaku di leher, sakit kepala, mual dan muntah kadang-kadang dapat
timbul. Oleh karena itu dapat dianjurkan pada penderita untuk membawa air minum dalam
aktivitas dan berusaha menjaga kebersihan pada mulut dan gigi.
Pemberian vaksin pada penduduk dengan resiko tinggi dapat dilakukan untuk mengurangi
angka kejadian penyakit ini pada daerah tersebut










BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Mimisan merupakan gejala keluarnya darah dari hidung yang dapat terjadi akibat
sebab kelainan lokal pada rongga hidung ataupun karena kelainan yang terjadi di tempat lain
dari tubuh. Kelainan lokal dapat berupa trauma misalnya mengorek hidung, terjatuh,
terpukul, benda asing di hidung, dan iritasi gas yang merangsang.
Sebab lokal yang lain adalah infeksi hidung dan organ sekitarnya, tumor baik yang
jinak maupun ganas, perubahan lingkungan yang mendadak misalnya perubahan tekanan
atmosfir yang mendadak pada penerbang dan penyelam, benda asing yang masuk ke hidung
tanpa permisi, dan penyebab yang lain yang belum diketahui dengan pasti.
Sedangkan kelainan di bagian tubuh yang lain yang bisa menyebabkan mimisan
antara lain, penyakit jantung dan pembuluh darah seperti tekanan darah tinggi dan kelainan
pembuluh darah, kelainan darah seperti turunnya kadar trombosit, gangguan pembekuan
darah, leukimia. Kelainan lain yang menyebabkan mimisan yaitu, infeksi seluruh tubuh
seperti demam berdarah, gangguan hormonal dan kelainan bawaan.
Memang penyebab mimisan seperti yang dijabarkan diatas sangat banyak dan
kompleks, baik yang merupakan penyebab yang ringan (tidak memerlukan penanganan lebih
lanjut) maupun yang merupakan penyebab yang berat alias harus mendapatkan penanganan
khusus. Maka dari itu perlu dilakukan pemeriksaan yang cermat pada pasien dengan mimisan
untuk diobati dengan cermat dan tepat.
Prinsip penanganan mimisan ada tiga yaitu menghentikan perdarahan, mencegah
komplikasi dan mencegah terulangnya mimisan. Untuk perdarahan yang ringan,
menghentikan perdarahan dapat dilakukan dengan menekan kedua cuping hidung ke tengah
selama beberapa menit. Untuk perdarahan yang hebat dan penghentian perdarahan dengan
menekan cuping hidung gagal maka pasien perlu segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan
penanganan lebih lanjut.

Komplikasi yang sering terjadi pada pasien dengan mimisan adalah syok dan anemia.
Kedua komplikasi ini terjadi akibat perdarahan yang banyak yang tidak tertanggulangi atau
terlambat mendapatkan penanganan. Komplikasi yang lain adalah turunnya tekanan darah
akibat dari kehilangan darah yang banyak.
Tidak usah khawatir, menurut para ahli 90 persen mimisan akan berhenti sendiri
dengan segera, sedangkan yang 10 persen memerlukan tindakan khusus. Asal tidak terlambat
mendapatkan penanganan maka komplikasi yang berat tidak terjadi.

















DAFTAR PUSTAKA

http://www.klikdokter.com/medisaz/read/2010/07/05/61/kanker-nasofaring diunduh
tanggal 10 September 2011.

Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001

Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke 5, Jakarta :
Balai Penerbit FK UI, 2001. 151-2.
Nuty dan Endang, Epistaksis, dalam : Efianty, Nurbaiti, editor, Buku Ajar Ilmu Kedokteran
THT, Kepala dan Leher, ed. 5, Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2002, 125-129
Peter A. Hilger, MD, Penyakit Hidung, dalam : Harjanto, Kuswidayati, editor, BOIES, Buku
Ajar Penyakit THT, EGC, Jakarta, 1997, 224-233
Mansjoer, Arif., et al (eds), Kapita Selekta Kedokteran ed.III, jilid 1, FKUI, Media
Aesculapius, Jakarta. 1999.pp; 96-99
Mark A. Graber dan Laura Beaty, Otolaringologi, dalam : Dewi, Susilawati, editor, Buku
Saku Kedokteran Keluarga University of IOWA, ed.3, EGC, Jakarta, 2006, 745-747