Anda di halaman 1dari 103

BAB 1.

PENDAHULUAN
1.1 Urtikaria dan angioedema
1.1.1 Sejarah
Sejarah urtikaria dan angioedema, dijelaskan secara rinci oleh Juhlin (2000).
1
Deskripsi
paling awal dari penyakit yang sekarang dikenal sebagai urtikaria ditemukan dalam The
Yellow Emperors Inner Classic!" #uang Di nei Jing" ditulis antara 1000$ 200 %&" dan
dinamai Feng Yin Zheng. #ipokrates yang hidup '(0 ) *++ %&" menamai urtikaria knidosis"
berasal dari kata latin knido yang berarti nettle (lebah). ,linius (*2 ) +- .D) mengenalkan
istilah uredo yang berarti burning. /ama yang sama digunakan pula oleh &arl 0on 1inne
untuk red, evanescent itching eruption!. Dalam abad ke$10" .li ibnu .l$.bba menamai
penyakit tersebut essera" berasal dari bahasa ,arsi yang berarti elevation. /ama tersebut
selama beberapa ratus tahun digunakan di .rab dan 2ropa. 3edler dalam bukunya Grosses
vollstandige niversalle!ikon!" 1+*' ) 1+'0 mengganti nama uredo menjadi urticatio. 4ata
urtikaria pertama kali diperkenalkan oleh 5illiam &ullen pada 1+(- dalam bukunya
"#nopsia $osalogiae %ethodica!. Selanjutnya istilah urtikaria digunakan hingga saat ini.
1.1.2 2pidemiologi
4isaran 167 $ 267 populasi pernah mengalami paling sedikit 1 kali episode urtikaria
dalam hidupnya" dan diperkirakan 267 dari populasi tersebut adalah 84.
2
9nsiden
84 dalam populasi diperkirakan sebesar 0.17 $ *7"
*
dan pre0alen 84 sebesar 0.(7
dilaporkan oleh :aig et al. (200()
'
pada penelitian epidemiologi di Spanyol. ,enelitian
selama ini menunjukkan *0 ) 607 84 adalah 8;" dan sisanya sebesar 607 didiagnosis
sebagai 849.
1
Data 8nit <awat Jalan ,oliklinik 9444 <S8, =# ,alembang" tahun 2001 $ 2006"
menunjukkan peningkatan berbagai tipe urtikaria" yaitu sebanyak -( orang pada tahun 2001"
11* orang pada tahun 2002" 1(2 orang pada tahun 200*" *'- orang pada tahun 200'" dan *('
orang pada tahun 2006. Data tersebut tidak menjelaskan secara rinci berapa besar kasus
urtikaria akut dan urtikaria kronik.
6

1.1.3 De>inisi
8rtikaria ialah kelompok penyakit yang ditandai oleh pembengkakan (edema) sementara
kulit" mulut" dan genitalia akibat keluarnya plasma dari pembuluh darah kecil ke dalam
jaringan ikat sekitarnya. ,embengkakan dermis super>isial disebut wheal? weal? urtika. 8rtika
biasanya gatal dan bagian tengah awalnya pucat karena edema intens" selanjutnya menjadi
plakat super>isial berwarna merah jambu yang dalam beberapa jam (sampai 2' jam) akan
mengalami resolusi tanpa meninggalkan bekas. @ampak ruam kemerahan di sekitar urtika
akibat re>lek akson. ,embengkakan dermis lebih dalam" jaringan subkutan dan submukosa
dinamai angioedema. .ngioedema umumnya lebih terasa sakit daripada gatal" dan bertahan
lebih lama dibandingkan urtika. 8rtika dan angioedema sering timbul bersamaan (:rattan"
Sabroe" :rea0es 2002).
(

1.1.4 4lasi>ikasi.
4lasi>ikasi klinis urtikaria pada @abel 1. membedakan ' kelompok besar urtikaria"
ordinar# urticaria" urtikaria >isik" urtikaria kontak" dan urtikaria 0askulitis. 3uberbier"
=aurer (2006)
+
menggunakan istilah spontaneous urticaria untuk ordinar# urticaria.
2
Tabel 1.1 Klai!ikai klini "rtikaria dengan#tan$a angioedema.
A
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
&rdinar' "rti(aria
8rtikaria akut (berlangsung kurang dari ( minggu)
8rtikaria kronik (tiap hari? minimal 2 hari?minggu berlangsung ( minggu atau lebih)
8rtikaria episodik? intermiten
Urtikaria !iik (timbul akibat stimulus >isik)
8rtikaria akuagenik
8rtikaria kolinergik
8rtikaria dingin
8rtikaria dela#ed pressure
Dermogra>isme
8rtikaria localiBed heat
8rtikaria solaris
.ngioedema 0ibratory
Urtikaria kontak (diinduksi oleh kontak bahan kimia?biologis pada kulit)
Urtikaria )ak"liti (terdapat 0askulitis pada pemeriksaan biopsi kulit).
CCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCC
Sumber: GRATTAN C, POWELL S, AND HUMPHREYS F. Management an
!agn"#t!$ gu!e%!ne# &"r urt!$ar!a an ang!"'"eema. (r!t ) Dermat"% *++,- ,..: /+0'
/,..
:ambar 1.1 skema klasi>ikasi urtikaria berdasarkan etiologi.
*
Tabel 1.2 4lasi>ikasi etiologis urtikaria dan angioedema.
A
CCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCC
*dio$atik
*m"nologik
.utoimun (otoantibodi terhadap DcE<9 atau 9g2 pada urtikaria otoimun)
9g2$dependent (reaksi hipersensiti0itas tipe 9)
4omplek imun (urtikaria 0askulitis" serum sickness)
Complement&dependent (de>isiensi inhibitor &1 esterase)
Non+im"nologik
'irect mast cell releasing agents (opiat" media kontras)
.spirin" nonsteroidal anti&in(lammatories (metabolisme as. .rakidonat) dan
pseudoalergen dalam diet
.ngiotensin$con0erting enByme inhibitors (peningkatan bradikinin)
CCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCC
SumberF :rattan" ,owell" #umphreys (2001)" dalam %rit J Dermatol 1''F+0A$+1'
1.1., ,ato>isiologi
,elepasan histamin akibat degranulasi mastosit oleh berbagai stimulus menyebabkan
timbul weal dan angioedema. =ediator proin>lamasi" sitokin (di antaranya tumor necrosis
(actor ? @/D) dan protease dilepas mastosit pada saat degranulasi. #istamin adalah mediator
pre(ormed terpenting" sedangkan mediator newl# s#nthesi)ed" lekotriens (1@&'" D' dan 2*)"
prostaglandin D2" dan platelet&activating (actor (,.D) berperan pada proses peradangan
susulan. <eakti0itas imunologis sel endotel terhadap @/D meningkatkan respon radang
dengan meng up&regulate molekul adesi 0askuler. Sel baso>il yang bermigrasi ke dalam lesi
akan memperpanjang durasi lesi urtika.
,ada 8;" pelepasan histamin terjadi akibat ikatan otoantibodi >ungsional (9g:) pada
rantai G reseptor 9g2 bera>initas tinggi atau terhadap molekul 9g2 pada permukaan mastosit
kulit dan sel baso>il.
-"10

'
1.1.- :ambaran klinis urtikaria
1.1.-.1 8rtikaria Disik
8rtikaria >isik adalah urtikaria di mana weal timbul pada kulit yang mendapat stimulus
>isik.
11$1*
8rtikaria >isik dapat terjadi bersamaan dengan urtikaria kronik (84)" terutama
dermogra>isme dan dela#ed pressure urticaria"
1'
sehingga perlu dilakukan tes manual untuk
menentukan apakah urtikaria >isik tersebut merupakan penyebab dominan terjadinya urtikaria
(@abel *.).
Tabel 1.3 :ambaran klinis dan prosedur diagnostik urtikaria >isik
T!1e Urt!2ar!a Rentang u#!a
1a#!en 3ta4un5
Gambaran 2%!n!#
utama
Ang!"eema Te# D!agn"#t!2
Derm"gra&!#me
#!mt"mat!2
*+ 6 7+ Weal linear,gata%,
!2e%!%!ng! flare mera4
mua 1aa %"2a#!
garu2an.
3'5 Light stroking 2u%!t
men8ebab2an 9ea% an
gata%.
Urt!2ar!a !ng!n ,+ 6 .+ swelling 1u$at atau
mera4, gata%, 1aa
%"2a#! 2"nta2 engan
bena atau $a!ran
!ng!n.
3:5 (atu e# 1aa 2u%!t
#e%ama ,+ men!t
men!mbu%2an weal
a%am 7 men!t #ete%a4
batu e# !ang2at.
Urt!2ar!a
te2anan
*+ 6 7+ swelling be#ar,
mera4, gata% atau
#a2!t 1aa %"2a#!
te2anan, berta4an H
*. ;am.
3'5 (eban engan berat
tertentu 1aa 1"#!#!
me%!ntang 2u%!t 1a4a
men!mbu%2an swelling
mera4 1er#!#ten #ete%a4
1er!"e %aten , #am1a!
. ;am.
Urt!2ar!a #"%ar *+ 6 7+ swelling 1u$at atau
mera4, gata%, 1aa
%"2a#! 1a;anan
u%tra<!"%et atau visible
light.
3:5 =ra!a#! engan *.7 2W
solar simulator 3*>+ 6
?>+ nm5 #e%ama @+ '
,*+ et!2 men!mbu%2an
9ea% a%am @+ men!t.
Urt!2ar!a
2"%!nerg!2
,+ ' 7+ weal gata%, 1u$at atau
mera4 mua,
m"n"m"r&, 1aa
baan, %e4er, tung2a!.
3:5 O%a4raga atau a!r
4angat mem!$u urt!2a.
SumberF :rea0es (1--6) dalam J 2ngl J =ed **2F1+(+$+2.
@es manual untuk dermogra>isme dapat dilakukan dengan alat standar
(dermographometer). .lat diset pada tekanan 26 g?mm
2
" digarukkan pada punggung" dan
weal and (lare akan timbul setelah 10 menit. @es untuk urtikaria dela#ed pressure
menggunakan batang besi berdiameter 16 mm dan berat 2.6 dan *.6 kg. %eban diletakkan
6
pada paha selama 20 menit" dalam ' ) ( jam setelah beban diangkat akan timbul palpable
swelling.
16

1.1.-.2 8rtikaria 0askulitis
=or>ologi weal pada urtikaria 0askulitis sering menyerupai weal pada 84" dan petunjuk
klinis yang dapat membantu di antaranya adalah lama lesi indi0idual yang bertahan I 2' jam
(@abel '.). 4on>irmasi diagnosis dengan biopsi kulit perlu dilakukan" selain untuk
menentukan ada?tidaknya penyebab sistemik (lupus eritematosus sistemik" penyakit jaringan
ikat lain)" serta pengobatan yang sesuai dengan penyebab.
1(

Tabel 1.4 @emuan yang mengarah ke urtikaria 0askulitis.
1+

.ambaran 'ang mengara/ ke "rtikaria )a("liti
Klinik
Durasi weals * 2' jam, lebih sakit daripada gatal
+esidual purpura, bruising, atau perubahan pigmentasi
4eluhan sistemik menonjol (demam" ne>ritis" artralgia)
<espon terhadap antihistamin sangat kurang
Laboratorik
1aju endap darah meninggi dan konsentrasi acute phase
proteins meningkat
Hito$atologik
,embengkakan dan kerusakan sel endotel 0enular
9n0asi lekosit ke dalam endotel 0enular
2kstra0asasi eritrosit
,eucoc#toclasia (neutrophil nuclear dust)
Deposit >ibrin
SumberF :rea0es" Sabroe (1--A) dalam %rit =ed J *1(F11'+$6'.
1.1.-.3 8rtikaria kronik
8rtika timbul tiap hari atau minimal 2 J dalam seminggu dan berlangsung I ( minggu.
8rtikaria kronik terutama mengenai orang dewasa dan 2 kali lebih banyak pada wanita
daripada pria.
(
2tiologi 84 di antaranya proses otoimunitas (urtikaria otoimun? 8;)" pseudoallergic"
in>ection$related" dan sisanya tidak dapat di identi>ikasi sehingga dinamai urtikaria kronik
idiopatik (849).
:ambaran klinis 849 dan 8; umumnya tidak berbeda. 8rtikaria kronik dapat
menyebabkan penurunan pada kualitas hidup pasien" mempengaruhi hubungan seksual" dan
interaksi sosial. 4eluhan gatal cenderung lebih parah pada malam hari dan mengganggu
tidur. Sebagian pasien 849 disertai penyakit tiroid otoimun (#ashimotoKs th#roiditis and
Graves disease)" dengan peningkatan insidens otoantibodi terhadap th#roglobulin and
microsomal&derived antigen" terutama pada wanita. 9n>eksi -elicobacter p#lori berperan
tidak langsung dalam etiologi 849 dengan menurunkan immune tolerance dan menginduksi
pembentukan otoantibodi. 9n>estasi parasit intestinal jarang sebagai penyebab 84. @idak
terdapat hubungan pasti antara in>eksi gigi" kandidiasis gastrointestinal" dan keganasan
dengan 84. .lergi makanan lebih banyak menyebabkan urtikaria akut" sedangkan Bat aditi>
dalam makanan lebih banyak pada 84.
1.1.0 :ambaran histologis
:ambaran histopatologis 849 dan 8; adalah in>iltrat peri0askuler non&necroti)ing sel
lim>osit @ &D
'
L" berupa campuran sel @h1 dan @h2" sel baso>il" monosit" sel ,=/" dan sel
eosino>il.
1A
9n>iltrat campuran tersebut sama dengan allergic late$phase response. 9n>iltrat
campuran terutama khas pada tipe urtikaria re>rakter seperti urtikaria otoimun.
1.2 Urtikaria &toim"n.
Sejak 20 tahun terakhir" penyebab kasus 849 yang sebelumnya tidak diketahui" ternyata
sebagian merupakan urtikaria yang disebabkan oleh proses otoimunitas.
1-
@erdapat >aktor
dalam serum yang dapat menimbulkan reaksi weal and (lare apabila serum otolog
+
disuntikkan intradermal.
20
Daktor dalam serum yang pertama ditemukan adalah otoantobodi
(9g:) anti$9g2 yang dapat melepaskan histamin dari sel baso>il orang normal dan reaksi weal
and (lare pada penderita sendiri.
21
Selanjutnya ditemukan metode pemeriksaan -istamine
release assa# untuk menilai histamine releasing activit# (>ungsionalitas) anti$9g2" serta
pemeriksaan .SS@.
22
,enelitian berikut" menemukan >aktor dalam serum yang kedua yaitu
otoantibodi (9g:) anti$DcE<9G >ungsional.
2*

2ksistensi? adanya 8; dipertegas dengan adanya anti$DcE<9G (26$*07) dan anti$9g2 ( 6$
107) melalui pemeriksaan imunoblot.
2'
/iimi et al. (1--()
26
membuktikan anti$DcE<9G dapat
mengakti>kan mastosit kulit dan melepaskan histamin" dan @ong et al. (1--+)
2(
mengenalkan
pula pemeriksaan #<. dengan teknik en)#me immunoassa# selain pemeriksaan
immunoblotting. ;toantibodi anti$DcE<9G pada urtikaria otoimun terutama adalah subtipe
9g:1 dan 9g:* yang dapat mengakti>kan komplemen (Diebiger et al. 1--A).
2+
,enelitian
berikutnya membuktikan bahwa degranulasi mastosit oleh otoantibodi pada 8; memerlukan
ikatan otoantibodi dengan DcE<9G dan akti0asi rangkaian komplemen jalur klasik.
2A"2-
4omponen komplemen yang berperan dalam meningkatkan akti0asi adalah &6a yang
berinteraksi dengan reseptor &6a (&DAA) pada mastosit kulit.
2+
9nteraksi otoantibodi anti$
DcE<9 atau anti$9g2 dengan DcE<9 atau 9g2 pada permukaan mastosit dan sel baso>il"
dengan?tanpa interaksi &6a dengan &DAA" tidak menyebabkan sel tersebut mengalami lisis
akibat proses sitotoksis" karena tidak ada data yang menunjang sitotoksisitas mastosit oleh
&6b(+Apoly &-$terminal compleJ"
2A
selain itu" mastosit memiliki kemampuan proli>erati>"
*0
dan kadar mediator yang dilepaskan mastosit tidak cukup tinggi untuk mencapai e>ek toksis
terhadap mastositM sedangkan sel baso>il terhindar dari proses sitotoksisitas karena pengaruh
interleukin$* (91$*) dan leukotrien$D' (1@D').
*1
A
,ada beberapa kasus 849" terdapat anti$DcE<9 yang tidak dapat memicu pelepasan
histamin dari mastosit dan sel baso>il (anti$DcE<9 non$>ungsional). .nti$DcE<9 tersebut
kemungkinan bersi>at bi . speci(ic" yaitu akan berikatan silang dengan high a((init# DcE<9
(regulator positi>) dan low a((init# DcN<99% (regulator negati>) pada permukaan sel" sehingga
menyebabkan ko$agregasi DcE<9 dan DcN<99%. 4oagregasi tersebut mengakibatkan inhibisi
pelepasan histamin dari mastosit dan sel baso>il.
*2"**
Selain itu" terdapat 9<p(0 (&D*00a)
yang merupakan molekul inhibitor >ungsional yang terdapat pula pada permukaan mastosit.
9katan silang molekul 9<p(0 dengan komplek imun akan menghambat degranulasi mastosit
melalui 9g2.
/0

Selain otoantibodi yang telah dijelaskan di atas" masih terdapat histamine releasing
(actors lain dalam serum pasien 849 yang memiliki histamine releasing activit# atau
>ungsional" yaitu non$9g: mast cell$speci(ic histamine releasing (actor.
*6
Daktor tersebut
hanya dapat memicu mastosit degranulasi melepaskan histamin" dan tidak dapat memicu sel
baso>il. Serum pasien yang mengandung >aktor tersebut" akan menyebabkan pemeriksaan in
vivo .SS@ positi>" sedangkan pemeriksaan in vitro #<. negati> karena asai tersebut
menggunakan sel baso>il donor sehat.
*6"*(
,ada pasien 849 non$otoimun" degranulasi
mastosit dan kelainan urtika diduga karena terdapat gangguan pada p21 <as signalling
pathwa# dalam sel mononuklear"
*+
atau >aktor lain dalam serum yang belum dapat di
identi>ikasi.
*A

-
:ambar 1.2 ,re0alen histamine releasing and non&releasing (actors pasien 849.
SumberF Sabroe" :rea0es (200().
*A
&hronic 9diopathic urticaria with >unctional
autoantibodiesF 12 years on. %rit J dermatol." 16'" pp. A1*$A1-
@erdapat penurunan jumlah sel baso>il darah pada pasien 849" yang dibuktikan dengan
pengecatan metachromatic granule dan (low c#tometric double staining.
*-"'0
,enurunan sel
baso>il darah dibuktikan lebih lanjut dengan metode pengecatan toluidine blue menggunakan
bilik hitung improved $eubauer.
'1"'2
.bnormalitas dalam jumlah" struktur atau >ungsi sel
baso>il atau mastosit pada pasien dengan urtikaria kronik mungkin tidak bergantung pada
keberadaan anti$DcE<9. ,enelitian 1uOuin" 4aplan" Derrer (2006)
'*
mendapatkan sel baso>il
pasien urtikaria kronik otoimun dan non$otoimun bersi>at hipo$responsi> terhadap stimulasi
anti$9g2 dan &6a" tetapi menariknya justru hiper$responsi> terhadap stimulus sera yang
berasal dari pasien urtikaria kronik lain dan bahkan dari serum orang normal. ,enelitian di
atas menunjukkan bahwa sel baso>il pasien urtikaria kronik secara >ungsional berperilaku
10
abnormal" yaitu hipo$responsi> terhadap beberapa stimulus tetapi hiper$responsi> terhadap
sesuatu yang terdapat dalam serum pasien dan orang normal. #al tersebut menunjukkan
adanya perubahan basophil Fc1+I signaling pada pasien urtikaria kronik" yang ditandai
dengan peningkatan Src homolog# 2 (S#2) domain inositol 6$phosphatase (S#9,$1) dan
S#9,$2 yang ber>ungsi sebagai negative regulator bagi sinyal yang melewati DcE<9" atau
de>isiensi Syk kinase yang ber>ungsi sebagai positive regulator dari pen$sinyalan melalui
DcE<9.
,enelitian lain" mendapatkan peningkatan le0el marka akti0asi sel baso>il (&D(*" &D(-
and &D20*) pada pasien urtikaria kronik" dibandingkan dengan penderita alergi. Deteksi
marka akti0asi sel baso>il tersebut dapat digunakan sebagai sarana diagnostik urtikaria
otoimun" selain pemeriksaan .SS@ dan #<.. ,enelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk
mengetahui abnormalitas humoral (otoantibodi >ungsional) atau selular (>ungsi dan jumlah
sel baso>il) atau keduanya yang menyebabkan urtikaria.
*(

#istamin" sebagai mediator penting pada urtikaria telah lama diketahui. Degranulasi
mastosit yang diikuti dengan pelepasan histamin berperan sentral bagi timbulnya urtika dan
angioedema.
''"'6
,ada 849" mastosit lebih mudah melepaskan mediator" terbukti dari
kecenderungan timbulnya urtika oleh suntikan intradermal kodein" dan peningkatan
pelepasan histamin akibat stimulus nonimunologik (senyawa 'A?A0). ,enyebab
meningkatnya releasabilit# (pelepasan mediator dari mastosit dan sel baso>il akibat berbagai
stimulus) pada 849 belum jelas.
'($'A
,enurunan releasabilitas sel baso>il pada 849 dapat
terjadi akibat stimulus yang berlangsung lama sehingga terjadi keadaan desensitisasi.
'-
4asus 849 dengan otoantibodi >ungsional memiliki asosiasi kuat dengan #1.$D<' dan
#1.$DPA. #al tersebut menunjang konsep urtikaria otoimun.
60"61
9n>eksi #elicobacter pylori
11
memicu pembentukan anti$DcE<9 non&histamine releasing autoantibodies" dan penyebaran
epitop #. pylori akan menghasilkan anti$DcE<9 histamine releasing autoantibodies.
*2
Daktor
polimor>isme #1. dapat berpengaruh pula pada kejadian 8; untuk tiap daerah atau etnis
tertentu.
1.2.1 %ukti yang menunjang 849 yang memiliki otoantibodi anti$DcE<9G >ungsional adalah
penyakit otoimun.
.. %ukti tidak langsung (indirect2supporting evidence)F
1. reproduksi lesi urtikaria pada pemeriksaan in 0i0o .SS@.
62
2. le0el otoantibodi anti$DcE<9G >ungsional dalam plasma proporsional dengan
akti0itas penyakit
*. ,embuangan otoantibodi dengan plasma>eresis menyebabkan remisi penyakit.
'. autoantigen telah dilokalisasi pada DcE<9G.
*A
%. %ukti langsung (direct evidence)F
1. belum ada reproduksi penyakit pada hewan percobaan.
1.2.2 Etio$atogenei "rtikaria otoim"n.
%eberapa teori etiopatogenesis 8." di antaranya.
1. @erdapat ketidak$seimbangan antara Dce<9a occupanc# (diikat ligand alaminyaF 9g2
Dce<9a bebas dan yang terikat oleh 9g2) dan antibodi alami (anti$Dce<9a bebas dan terikat)
sehingga anti$Dce<9a menjadi patogenik" konsep? hipotesis yang dikenal sebagaiF
QConditional 3utoimmunit#.
6*
;toantibodi terhadap reseptor 9g2 bera>initas tinggi
merupakan salah satu dari otoantibodi alami? >isiologis yang dapat dijumpai dalam serum
orang normal dan sediaan intra0enous immunoglobulin (9R9:). @emuan peneliti terakhir
menunjukkan bahwa otoantibodi yang bereaksi dengan subunit$G dari reseptor 9g2
12
bera>initas tinggi (disingkatF DcE<9a) pada urtikaria otoimun tidak berbeda dengan
otoantibodi alami yang didapati pada subyek normal. ,ada keadaan normal" otoantibodi
alami tersebut ber>ungsi dalam mekanisme pertahanan awal terhadap pathogen" terdapat
sepanjang hidup" dan umumnya tidak menimbulkan penyakit otoimun. ;toantibodi tersebut
dapat berubah menjadi patogenik bila terjadi ketidak$seimbangan antara jumlah molekul
DcE<9G" DcE<9a occupanc# (seberapa banyak DcE<9a yang terikat oleh ligand alaminya 9g2
dan DcE<9G yang tidak terikat) dan anti$DcS<9a alami bebas dan terikat. :angguan pada
receptor.ligand e4uilibrium tersebut bertanggung jawab dalam terjadinya mani>estasi
urtikaria otoimun.
2. 9nteraksi >aktor genetik dan in>eksi #elicobacter pylori. @ubuh membentuk antibodi
terhadap lipoprotein20 (lpp20) yang mirip dengan komponen tubuh. .kibatnya tubuh
membentuk otoantibodi terhadap komponen tubuh yang menyerupai lpp20 (molecular
mimicr#).
6'
,eneliti lain" menunjukkan bahwa >aktor etiologik #elicobacter pylori berperan
tidak langsung pada urtikaria otoimun. Stimulasi imunologik oleh in>eksi kronik
#elicobacter pylori" melalui pengaruh mediator yang dilepaskan (91$A" ,.D" dan leukotrien
%'" &')" menyebabkan peningkatan sensiti0itas pembuluh darah kulit" dan peneliti lainnya
menyatakan tidak ada kaitan antara 849 dan #elicobacter pylori.
66
*. 4eterkaitan 8; dengan penyakit tiroiditis otoimun.
6("6+
'. @erdapat de>ek intrisik sel baso>il dan mastosit (jumlah sel" struktur" dan >ungsi).
,enelitian menunjukkan adanya peningkatan protein S#9, 1 dan S#9, 2 (ber>ungsi sebagai
negative regulator o( signaling pathwa# through DcE<9) atau penurunan Syk kinase
(ber>ungsi sebagai positive regulator o( signaling pathwa# through DcE<9).
*(

1*
1.2.3 Diagnosis 8;
1.2.3.1 -istamine +elease 3ssa# (#<.)
,emeriksaan in vitro histamine release assa# (#<.) pada 84 sampai saat ini masih
merupakan gold standard untuk mendeteksi otoantibodi >ungsional di dalam serum pasien
84"
6A"6-
karena pemeriksaan in vitro lainnya" seperti imunoblot" dan (low c#tometr# tidak
dapat membedakan apakah otoantibodi tersebut >ungsional atau tidak. ,emeriksaan #<.
sulit distandardisasi karena memerlukan sel baso>il segar donor sehat" dan memerlukan
waktu lama untuk memperoleh hasil.
(

%eberapa metode asai pelepasan histamin yang pernah digunakan di antaranya adalah
metode automated (luorometric assa#" radioen)#matic assa#" radioimmuno assa#"
(luorescent assa#" dan competitive direct&219S..
(0
,ada penelitian ini" peneliti memakai
metode competitive direct 219S. dengan kit 219S. dari /eogenKs &orporation" 8S..
(1
,emeriksaan #<. umumnya menggunakan sel baso>il orang sehat sebagai pilihan utama
yang akan diinkubasi dengan serum pasien. ,rosedur pemisahan baso>il mengikuti metode
isolasi lekosit (suspensi terdiri atas campuran sel darah putih) dan bukan metode pemurnian
sel baso>il (hanya terdiri atas sel baso>il).
(2$('
,uri>ikasi sel baso>il diperlukan pada penelitian
>ungsional sel baso>il (sel lain mensekresi mediator yang sama" atau sel lain memproduksi
91$* yang mempengaruhi akti0itas sel baso>il)" dan pada penelitian intracellular signaling
events sel baso>il.
*1
,emeriksaan tidak menggunakan mastosit kulit karena sel tersebut ber
lokasi dalam jaringan sehingga sukar mengisolasinya.
(0
Selain itu" pelepasan histamin dari sel
baso>il akibat stimulasi anti$DcE<9G dan?atau anti$9g2 >ungsional tidak berbeda dari yang
dilepaskan mastosit pada pemeriksaan #<..
26"(6
1'
1.2.3.1.1 ,rinsip asai /eogenKs -istamine 219S. test kit.
4it 219S. merupakan 219S. kompetiti> langsung dalam >ormat sumuran mikro
(microwell) yang memungkinkan pemeriksa mendapatkan konsentrasi histamin secara tepat
dalam nanogram per mililiter. @ipe 219S. ini sering digunakan mendeteksi small anal#te
antigen yang hanya terdiri atas epitop tunggal.
Sumuran mikro kit 219S. telah dilapisi (pre&coated) dengan antibodi monoklonal spesi>k
terhadap histamin yang merupakan analit ber epitop tunggal.
Sampel uji dan? atau larutan standar ((ree anal#te) ditambahkan pertama kali ke lempengan
mikro berlapis antibodi. Selanjutnya" ditambahkan konjugat enBim (anal#te yang diikatkan
dengan enBim pendeteksi) dan campuran diinkubasi pada suhu ruangan selama '6 menit di atas
micro shaker. Selama inkubasi" histamin bebas dalam sampel atau standar" berkompetisi
dengan konjugat enBim untuk mengikat bagian D(ab) antibodi monoklonal pada lempengan.
1empengan kemudian dicuci" membuang semua material yang tak terikat (bebas). 4onjugat
enBim yang terikat dideteksi dengan penambahan substrat yang sesuai dengan enBim dalam
konjugat. <eaksi antara enBim dan substrat akan menghasilkan warna" umumnya optimal pada
*0 menit. ,embacaan dilakukan dengan micro219S. reader yang diset pada panjang
gelombang yang sesuai.
9ntensitas warna yang dihasilkan berbanding terbalik secara proporsional dengan kadar
histamin dalam sampel atau standar (terjadi akibat kompetisi antara anal#te bebas dalam
sampel uji dan konjugat enBim untuk mengikat antibodi pada lempengan mikro)" yang berarti
makin tinggi kadar histamin" makin kecil sinyal warna yang dihasilkan.
#asil tes kuantitati> diperoleh dengan mengukur dan membandingkan pembacaan absorben
pada sumuran sampel dengan kur0a baku (menggunakan model log&logit curve (itting).
16
Sampel uji yang digunakan untuk pemeriksaan 219S. terlebih dahulu harus diproses agar
cocok? dapat digunakan dalam pemeriksaan menggunakan kit 219S..
@erdapat beberapa tahapan pemeriksaan #<." yaitu pemisahan serum pasien" pemisahan
serum donor sehat" pemisahan lekosit donor sehat" inkubasi serum dalam suspensi lekosit
sampai diperoleh supernatan mengandung histamin yang siap diperiksa dengan 219S."
pemeriksaan 219S." pembuatan kur0a baku dan persamaan linear" dan penghitungan kadar
dan persentase pelepasan histamin.
1.2.3.1.2 ,emisahan serum pasien urtikaria dan serum donor sehat.
,roses pemisahan serum untuk tes 219S." sama seperti proses pemisahan serum untuk
pemeriksaan .SS@. Darah 0ena dari (ossa antecubiti ditampung dalam gelas steril tanpa
clotting accelerator (Racutainer) didiamkan dalam posisi tegak pada suhu ruangan selama *0
menit. Selanjutnya serum diperoleh dengan sentri>ugasi pada 2600 rpm selama *0 menit.
Serum untuk pemeriksaan #<. disimpan pada ) 20
0
&" sebelum digunakan.
1.2.3.1.3 ,emisahan lekosit donor sehat" inkubasi" dan penghitungan pelepasan histamin.
@erdapat berbagai 0ariasi pemisahan lekosit" inkubasi dan penghitungan pelepasan
histamin yang dipakai peneliti sebelumnya" sebagaimana ditampilkan pada rangkuman
berikut.
.rattan et al. 112203.
'0
1ekosit yang dipersiapkan dicuci 2 J dalam bu>er asai tanpa
kalsium dan magnesium (10 m= #2,2S" 1*+ m= /a&l" 2.+ m= 4&l" 0.' m=
/a#
2
,;
'
" 0.0*7 #S. dan 6 m= glucose" p# +.'). Suspensi lekosit selanjutnya
diresuspensi dalam bu>er asai mengandung 2 m= kalsium dan 1 m= magnesium"
dihangatkan pada *+
0
& selama 6 menitM dan 60 T1 ali4uots ditambahkan ke dalam
tabung polipropilen (in duplo) yang mengandung serum sehingga 0olume >inal 100
1(
T1. Setelah inkubasi pada *+
0
& selama '0 menit" reaksi diakhiri dengan pendinginan
di atas es dan penambahan A00 T1 bu>er dingin tanpa #S.. ,elet sel diperoleh
dengan sentri>ugasi pada 600 g selama 6 menit pada '
0
& dan supernatan dibuang.
,elet sel kemudian diresuspensi dalam bu>er asai" dan 100 T1 o> * = asam perklorat
ditambahkan ke pelet sel dan sampel supernatan sampai konsentrasi akhir 0.* =.
Tong et al. 112203.
2(
1eukosit diperoleh melalui deJtran sedimentation (0.(7
deJtran" 0.(7 glucose" 0.02 mol?1 ethylenediaminetetraacetic acid). 1apisan yang
mengandung sel baso>il dicuci 2 J dengan /$2$hydroJyethylpiperaBine$/$2$
ethanesul>onic acid)bu((ered saline dan 0.*7 human serum albumin (#%S$#S.)"
dan sel selanjutnya diresuspensi dalam #%S$#S. yang mengandung 2 mmol?1
=g&l
2
dan 2 mmol?1 &a&l
2
. 1imapuluh mikroliter serum atau bu>er diinkubasi dalam
60 Ul suspensi lekosit (2 V 10
6
cells?ml) selama '0 menit pada *+W &. Setelah
inkubasi" supernatan dipisahkan dengan sentri>ugasi pada +00 g selama 6 menit pada
'W &" dan ditentukan pelepasan histamin yang terjadi. Dua ali4uots sel dididihkan
untuk menentukan kandungan histamin total sel baso>il.
4abroe et al. 112223.
'1
Darah heparin sebanyak *0 m1 dari pasien urtikaria kronik
dan kontrol sehat dicampur dengan 10 m1 17 methyl cellulose dalam 0.-7 salin"
diamkan selama *0 menit sampai terbentuk sedimen. 1ekosit diperoleh dari
supernatan dengan sentri>ugasi" dicuci 2 J dalam bu>er asai tanpa kalsium dan
magnesium" dan dilanjutkan dengan resuspensi dalam bu>er asai mengandung 2
mmol?1 &a
LL
dan 1 mmol?1 =g
LL
. Sel ditambahkan ke dalam tabung (in duplo)
mengandung serum dan kontrol 0.-7 salin sampai 0olume menjadi 0.1 m1"
diinkubasi selama '0 menit pada *+W &" dan reaksi selanjutnya dihentikan dengan
1+
pendinginan di atas es" penambahan 0.A m1 bu>er asai dingin" dan pemisahan sel
dengan sentri>ugasi pada 600 g selama 6 menit. #istamin dalam supernatan dan
residual histamine dalam pelet sel diukur" setelah dilakukan presipitasi protein dengan
asam perklorat.
Kik"(/i, Ka$lan 125523.
2-
1imabelas mililiter whole blood dicampur dengan 1.6 m1
0.2 mol?1 107 2D@. dan dengan *.0 m1 *7 deJtran $ *7 glucose $ 0.16 mol?1
/a&l. &ampuran didiamkan -0 menit sampai terbentuk sedimen" supernatan dibuang"
dan cel ditampung ke dalam tabung konikal" untuk dicuci * J dengan #%SS$#S.
(#%SS" ' m=?1 #2,2S" dan 0.*7 #S.). Sel selanjutnya diresuspensi dalam #%SS$
#S. mengandung 2 m=?1 &a&l
2
dan 1 m=?1 =g&l
2
" dan konsentrasi lekosit
disesuaikan kembali ke konsentrasi asal darah. @ujuhpuluhlima mikroliter serum" dan
bu>er diinkubasi dengan +6 U1 suspensi lekosit selama '0 menit pada *+W&. Setelah
inkubasi" supernatan dipisahkan dengan sentri>ugasi pada *000 rpm selama 6 menit
pada 'W&" dan dilakukan pemeriksaan pelepasan histamin. Dua ali4uots sel
dididihkan untuk penentuan histamin total.
6la)ea" et al. 1122-3.
6-
,elet kaya lekosit (mengandung sel baso>il) diperoleh setelah
sedimentasi whole blood dengan Dekstran (7. Setelah pencucian" sel diresuspensi
dalam 60 U1 bu>er dingin mengandung &a. dan =g. pada konsentrasi >inal 2 J 10
(
sel?m1" dan ditambahkan ke dalam 100 m1 ,%S" atau dipanaskan" dilanjutkan dengan
inkubasi selama 20 menit pada *+ W&. <eaksi dihentikan dengan pendinginan.
Supernatan bebas sel diperiksa kadar histaminnya. #asil dinyatakan dalam
persentase pelepasan histamin (7#<) yang dihitung menggunakan >ormulaF
7#< X
( ) 100 3 5
T

1A
. X serum&induced #<
% X bu((er induced #<
@ X histamin total sel baso>il.
.ar(ia et al. 1122-3.
(*
,emisahan lekosit menggunakan metode DeJtran
sedimentation. 1ima ml ali4uot berasal dari whole blood dicampur dengan 1.6 ml (7
larutan dekstran dalam salin. Setelah sedimentasi selama *0 menit pada *+
0
&"
supernatan kaya lekosit dikumpulkan" dicuci" dan disentri>us pada 600 J g" selama 10
menit. 2ritrosit yang masih terdapat dalam sedimen dilisiskan dengan 1 ml larutan
0.A7 /#'&l. Setelah pencucian dan sentri>ugasi" sel diresuspensi dalam 1 m1 ,%S.
4an Diego 1255-3.
((
1) 1imabelas m1 darah 0ena dicampur 0.( m1 167 dekstran
dan 0.( m1 0.26 = 2D@. dalam 0.-7 salin pada suhu kamar. 2) @abung pada sudut
*0
0
diamkan 10 ) *0 menit dan dilanjutkan pada posisi tegak selama 16 ) *0 menit"
pada suhu kamar. *) ,indahkan supernatan (kaya lekosit) dalam tabung sentri>us lain"
') sentri>us pada *00 g selama 6 ) 10 menit pada suhu kamar. 6) %uang supernatan"
dan ,elet sel diresuspensi dalam 1 ml bu>er ,%S bebas protein. () @ambahkan 1' ml
l#sing solution dalam 1 ml suspensi sel" inkubasi selama * ) 6 menit pada suhu
ruangan untuk melisiskan eritrositM atau tambahkan - m1 #
2
0 selama 10 detik"
dilanjutkan dengan penambahan 10J,%S. +) Sentri>us pada *00 g selama 6 menit
pada suhu ruangan. A) %uang supernatan" dan pelet sel diresuspensi dengan 6 m1 ,%S
dingin. -) Sentri>us pada *00 g selama 6 menit pada 2W $ AW&. 10) %uang supernatan"
dan pelet diresuspensi dalam 1 m1 ,%S mengandung protein (5ovine "erum 3lbumin"
%S.) suspensi lekosit. Er#throc#te l#sing solution (tanpa preser0ati>)F "tock
"olutionF /#
'
&l A-.- gM 4#&;
*
10.0 gM tetrasodium 2D@. *+0.0 mgM larutkan
1-
dalam 1 liter #
2
;. Sesuaikan p# menjadi +.* dan simpan dalam tabung tertutup pada
'W&. 6orking "olutionF @ambahkan 6 m1 ,#sing "tock "olution pada '6 m1 #
2
;"
campur" dan simpan pada suhu ruangan paling lama 1 minggu.
Adelaide 125553.
(+
1) Dua tabung" masing$masing berisi ' ) ( m1 whole 2D@.
blood disentri>us pada *000 rpm selama 6 menit pada 10
0
&. 2) %uang semua plasma
dari ke$2 tabung" sehingga tinggal sel. *) @ambahkan 0.-7 salin ke dalam masing$
masing tabung" sehingga 0olume tiap tabung menjadi A m1. ') @ambahkan 2$* m1
dekstran?salin (%=F 160.000 ) 200.000)" campur dengan repeated inversion. 6)
Diamkan pada suhu ruangan *0 $ '6 menit sampai eritrosit terpisah. () ,indahkan
supernatan ke dalam 2 tabung lain. +) Sentri>us tabung pada *"000 rpm selama 2
menit pada 10
0
&. %uang supernatan. A) @ambahkan ' m1 0.27 salin dan campur
menggunakan pipet ,asteur" selama 1 menit. -) @ambahkan *.2 m1 1.A7 salin ke
tiap tabung" sentri>us 1 J lagi pada *"000 rpm selama 2 menit. %uang supernatan. 10)
8langi langkah A dan -" 1 J agar memperoleh pelet sel bebas eritrosit.
Biomedi(al 7amil' 125503.
(A
Dekstran (%= Y260"000) digunakan mengisolasi
trombosit" lekosit dan lim>osit dengan sentri>ugasi.
Long et al. 112283.
(-
Setelah penambahan 2 m1 (7 dekstran (%= +(.000) dalam
,%S" selanjutnya diinkubasi pada *+W& selama 16 $ *0 menit agar terbentuk sedimen.
Supernatan yang diperoleh dipindahkan ke tabung lain" kemudian ditambah larutan
bu>er ,uckZs saline

tanpa &a
2L
sehingga 0olume

menjadi 16 m1. Suspensi lekosit
disentri>us pada '00 $ '60

V g selama 16 menit" dan supernatan dibuang. ,elet sel
diresuspensi dalam 6 ml sterile distilled #
2
; dan digetarkan untuk melisiskan
eritrosit yang masih ada" selanjutnya tambahkan larutan bu>er ,uckZs saline sampai
20
0olume menjadi 16 m1. Setelah sentri>ugasi pada '00 $ '60

V g selama 16 menit"
supernatan dibuang dan pelet sel diresuspensi menjadi 2 m1.
Kern, Li(/tentein 1120-3.
'-
1imapuluh mililiter darah 0ena ditambahkan ke dalam
campuran dekstran" 2D@." dan glucose. Diamkan selama -0 menit pada suhu
ruangan agar terbentuk sedimen sel. Supernatan mengandung plasma" trombosit"
lekosit diaspirasi" dilanjutkan dengan sentri>ugasi untuk mengendapkan lekosit
(trombosit tetap dalam larutan). ,elet sel yang diperoleh dicuci 2 J dalam @ris$saline
bu((er (/a&l" 120 m=M 4&9" 6 m=M @ris" 26 m=" p# +.'" disuplemen dengan 0.**7
human albumin) (@ris$.)" kemudian diresuspensi dalam bu>er yang sama dan
penambahan kalsium 0.( m= dan magnesium 1.0 m= (@ris$.&=) sehingga
diperoleh konsentrasi sel 10
+
sel?m1. 3li4uots suspensi sel diinkubasi dalam serum
dan?atau bu>er selama (0 menit pada *+
0
&" agar terjadi pelepasan histamin"
dilanjutkan dengan sentri>ugasi. ,elepasan histamin ke dalam supernatan diperiksa
untuk penentuan stimulated dan spontaneous histamine release. Suspensi lekosit yang
lain ditambah asam perklorat (melisiskan sel baso>il) untuk penentuan histamine total.
Ho et al. 112283.
('
1ima mililiter 2D@.$anticoagulated blood dicampur dengan
1.6 ml (7 larutan dekstran" diinkubasi

pada *+W& selama *0 meni agar terjadi
agregasi dan sedimentasi eritrosit. Supernatan selanjutnya dicampur dengan 10 ml
,%S" dan disentri>us pada 200 V g selama 10 menit pada suhu ruangan. ,elet sel
diresuspensi dalam 1 m1 0.A7 /#
'
&l selama 6 menit untuk melisiskan eritrosit.
&uci sel 1 J dalam ,%S kemudian disentri>us pada 200 V g selama 10 menit. ,elet
lekosit terakhir diresuspensi dalam 1 m1 *7 bovine serum albumin (%S.)$,%S" dan
konsentrasi sel dijadikan 2 9 15
,
sel?m1.
21
:edi et al. 125553.
+0
Duaratus U1 whole blood (diencerkan 1F+ dalam bu>er #<)
diinkubasi dengan 100 U1 sera (diencerkan 1F2" 1F6" dan 1F10) selama *0 menit pada
*+W&. #istamin total diperoleh dengan melisiskan sel dengan metode repeated
(ree)ing and thawing. Setelah inkubasi" supernatan dipisah dengan sentri>ugasi pada
-00 g selama 6 menit pada 'W&. ,elepasan histamin (dalam persen) dihitung
menggunakan >ormulaF (["timulated #< ) "pontaneous #<\ V 100) ] Total #<.
L";"in, Ka$lan, 7errer 1255,3.
'*
Sepuluh mililiter whole blood ditampung dalam
tabung berlapis 2D@." kemudian dicampur dengan 2 m1 larutan *7 dekstran $ *7
glucose $ 0.16= salin" diamkan selama -0 menit. %uang supernatan" dan sel dicuci
dengan #%SS$#S. p# +.' (/a&l" 4&l" #2,2S 10m=" #S." :lucose" /a#
2
,;
'
"
double distilled water). Sel diresuspensi dalam #%SS$#S. mengandung 2 m=
&a&l
2
dan 1m= =g&l
2
. Jumlah sel baso>il disesuaikan menjadi 1 J 10
'
?m1. Suspensi
sel diinkubasi dalam serum dan? atau bu>er selama *0 menit pada *+
0
&" dilanjutkan
dengan sentri>ugasi pada 1000 g selama 10 menit pada '
0
&" dan periksa pelepasan
histamin. Dua ali4uots sel dididihkan untuk penentuan histamin total. ,enghitungan
pelepasan histamin (mean ^ SD) menggunakan >ormulaF
( )
100
( )
"ample 5asal
Total 5asal

. #istamin
spontan kurang dari 67 histamin total. /ilai 7#< sebesar 2 SD dari mean dianggap
positi>.
<ing et al. 125523.
+1
1imabelas mililiter whole blood dicampur dengan 1.6 m1 0.2
mol?1 107 2D@. dan dengan *.0 m1 larutan *7 deJtran $ *7 glucose $ 0.16mol?1
/a&l. Diamkan selama -0 menit" supernatan dibuang" dan sel dicuci * J dengan
#ankZs balanced salt solution)human serum albumin (#%S$#S.)" ' m=?1 #2,2S"
dan 0.*7 #S.. Sel diresuspensi dalam #%S$#S. mengandung 2 m=?1 &a&l
2
dan 1
22
m=?1 =g&l
2
. 4onsentrasi lekosit kemudian dikembalikan ke konsentrasi asli dalam
darah.
1.2.3.1.4 ,enghitungan.
1. ,enghitungan persentase ikatan maksimal (7%?%0) tiap histamin bakuF
(absorben histamin kadar tertentu ? absorben histamin kadar 0) J 100.
&ontohF
;D histamin baku (0 ng?ml) X 2.1A( X %0 7%0?%0 X (2.1A(?2.1A() J 100 X 100
;D histamin baku (2.6 ng?ml) X 1.'-A X 7% 7%1?%0 X (1.'-A?2.1A() J 100 X (-
2. @rans>ormasikan nilai 7%?%0 ke dalam >ungsi logit" menggunakan >ormulaF
1ogit X ln(7%?%0?(100 $ 7%?%0)).
&ontohF untuk 7%?%0 X (- logit X ln((-?*1) X 0.A00
*. %uat kur0a baku (dengan memplot nilai logit pada sumbu y" terhadap log dari
konsentrasi baku pada sumbu J)" dan persamaan linear.
'. 4ur0a baku digunakan menghitung konsentrasi tiap sampel" dengan membandingkan
nilai logit tiap sampel terhadap konsentrasi histamin baku yang sesuai.
1.2.3.2 3utologous "erum "kin Test (.SS@).
@es kulit in vivo menggunakan serum otolog" diperkenalkan pertama kali oleh :rattan et
al.1--1.
22
@es tersebut selanjutnya dikenal sebagai autologous serum skin test (.SS@).
'1
Seperti halnya pemeriksaan in vitro #<." hasil pemeriksaan .SS@ (L) menunjukkan adanya
akti0itas pelepas histamin di dalam tubuh pasien 84. 3utologous serum skin test telah
terbukti sebagai tes saring yang berharga untuk 8;.
'1

Sampai saat ini" .SS@ dianggap hanya sebagai tes saring diagnosis 8; karena dapat
terjadi reaksi (alse positive? negative" sehingga apabila terjadi .SS@ positi> sedangkan #<.
2*
negati>" maka .SS@ dianggap (alse positive.
+2"+*
Di lain pihak" peneliti lain berpendapat
bahwa #<. memberi hasil lebih ber0ariasi dan lebih rendah sensiti0itasnya dibandingkan
.SS@ dalam mendeteksi pasien yang memiliki histamine releasing (actor di dalam
darahnya .
+'
,eneliti lain beranggapan bahwa bila terjadi .SS@ (L) dan #<. ($)" maka hal
tersebut justru menunjukkan kelebihan .SS@ dalam mendeteksi non$9g mast cell&speci(ik
serum histamine releasing (actor yang hanya dapat memicu mastosit melepas histamin.
*(
<eaksi (alse positive .SS@ dapat terjadi karena terbentuk bradikinin (dihasilkan waktu
darah dibekukan)" atau penguraian &6a oleh protease? elastase yang dihasilkan oleh lekosit
polimor>onuklear selama pemrosesan serum" tanpa diawali complement cascade"
2-
non&
antibod# mast cell speci(ic histamine releasing (actor"
+6
terdapat natural autoantibod#"
+(
atau
terdapat antibodi hetero>il (>aktor rematoid" anti&mouse antibod#" otoantibodi pada pasien
dengan penyakit otoimun" dan pasien yang mendapat terapi biologics" mendapat intra0enous
immunoglobulin?9R9:" dan 0aksinasi pasi>.
++
Sebaliknya" reaksi (alse negative dapat terjadi
karena degradasi otoantibodi dalam serum" atau karena .SS@ dilakukan pada kulit yang baru
sembuh dari urtika.
,asien dermogra>isme tidak memiliki otoantibodi >ungsional" tetapi manipulasi kulit
dengan tujuan mengetahui ketebalan kulit sebelum tes dan suntikan itu sendiri" keduanya
dapat menyebabkan respon weal and (lare" apapun jenis substansi yang disuntikkan. <espon
yang terjadi dapat disalah artikan sebagai true positive apabila respon oleh salin tidak
diperhitungkan. Sebaliknya" .SS@ yang true positive dapat dianggap negati> karena adanya
dermogra>isme.
'1
Demikian pula" 0ariasi dalam hal kedalaman dan 0olume substansi yang
disuntikkan" dapat pula menyebabkan kesalahan penilaian hasil .SS@.
2'
Sampai saat ini dalam kepustakaan belum ada metode dan interpretasi hasil pemeriksaan
.SS@ yang standar" sehingga sensiti0itas dan spesi>isitas yang dihasilkan berbagai peneliti
sangat ber0ariasi.
1.2.3.2.1 %eberapa 0ariasi teknik pemeriksaan in vivo .SS@ di antaranya.
1. .rattan, et al. 1220.
'0
1imapuluh T1 serum otolog segar dan larutan salin steril
disuntikkan secara intradermal pada kulit lengan bawah volar berjarak minimal 2 cm"
setelah bebas antihistamin selama 'A jam. @es dianggap positi> apabila diameter weal
serum H 2 mm dari diameter larutan salin pada pembacaan *0 menit. ,enelitian ini
melibatkan 26 pasien 849.
2. 4abroe, .rattan, 7ran(i et al. 1222.
'1
,eneliti menjelaskan prosedur .SS@ mulai
dengan pengambilan darah 0ena" tes intradermal" >ormula pengukuran parameter" dan
kriteria tes positi>.
Darah 0ena yang diperoleh" ditampung dalam tabung gelas tanpa clotting
accelerator" didiamkan pada suhu ruangan selama *0 menit sampai terbentuk
bekuan. ,emisahan serum dilakukan dengan sentri>ugasi pada 600 g selama 16
menit. Serum yang diperoleh" dibagi dalam 2 aliOuots untuk pemeriksaan .SS@ dan
#<..
Serum otolog segar" histamin (10 Tg?m1)" dan larutan salin (0.-7) steril (masing$
masing 60 T1) secara terpisah (* ) 6 cm) disuntikkan pada bagian volar lengan
bawah (bebas lesi minimal 2' jam terahir). <espon weal and (lare dibaca dan diukur
pada *0 menit (bila perlu pada (0 menit).
26
Dormula pengukuran diameter weal" luas (lare" warna weal" dan 0olume weal. 1uas
(lareF
2
1 2
'
d d

+


M 0olume weal dikalkulasikan berdasarkan luas (lare J separuh
perubahan tebal kulit" menggunakan low&tension spring&loaded thickness gauge
(=itutoyo" Japan)M warna weal diberi skor 0 bila warna weal akibat serum adalah
sama dengan warna weal akibat larutan salin (skin coloured2 pink)" skor 1 bila weal
akibat serum berwarna pink dan weal akibat larutan salin sama seperti kulit normal"
dan skor 2 bila weal akibat serum berwarna merah atau sama dengan respon akibat
histamin). ,engukuran diameter weal dan luas (lare akibat serum ditentukan setelah
dikurangi diameter weal dan luas (lare akibat larutan salin dari tiap pasien.
@es dianggap positi> apabila weal akibat serum berwarna merah dan diameternya H
1.6 mm lebih besar daripada diameter weal akibat larutan salin pada pembacaan *0
menit. Dengan kriteria tersebut" diperoleh sensiti0itas sebesar (6 ) +17 dan
spesi>itas sebesar +A ) A17. ,enelitian yang dilakukan oleh Sabroe" merupakan
penelitian yang dilakukan oleh 2 peneliti (Sabroe dan :rattan) menggunakan sampel
yang berbeda (SabroeF (A pasien 849" dan :rattanF A+ pasien 849) tetapi
menggunakan kriteria positi0itas .SS@ yang sama. ,enelitian menggunakan desain
potong lintang. ,eneliti menyarankan memeriksa Sn dan Sp semua parameter
(diameter weal akibat serum" diameter weal akibat salin" perubahan warna weal
akibat serum dibandingkan dengan perubahan warna weal akibat histamin dan? atau
salin" luas (lare akibat serum" 0olume weal akibat serum" dan 0olume weal akibat
salin) secara sendiri$sendiri pada pembacaan *0 menit. ,arameter yang menghasilkan
Sn dan Sp terbaik dipilih untuk selanjutnya dikombinasikan. 4ombinasi parameter
2(
yang menghasilkan Sn dan Sp terbaik dipakai sebagai kriteria positi0itas .SS@.
,emilihan waktu pembacaan *0 menit" mencerminkan waktu timbulnya respon weal
dan (lare akibat pelepasan awal histamin dari mastosit" dan bukan akibat mediator
in>lamasi lain yang dilepaskan mastosit atau sel sel baso>il yang datang kemudian.
,eneliti tidak memilih kombinasi parameter perbedaan diameter weal akibat serum$
diameter weal akibat salin dan parameter luas (lare" karena parameter luas (lare
menghasilkan nilai (alse positive yang cukup besar pada orang normal.
*. 7agiolo et al. 125553.
+6
Serum diperoleh dari darah 0ena yang telah didiamkan selama
*0 menit pada suhu kamar" dilanjutkan dengan sentri>ugasi pada *60 g selama 16
menit. ,rosedur .SS@ dilakukan dengan menyuntikkan 60 T1 serum otolog segar
atau serum yang heat&decomplemented2 sepharose&protein G&adsorbed" larutan
histamine 17 (sebagai kontrol positi>)" dan 60 T1 larutan salin? larutan salin yang
dinkubasi dengan sepharose&protein G secara intradermal pada bagian volar lengan
bawah. ,embacaan dilakukan pada *0 menit. Diameter weal diukur berdasarkan
diameter terbesar (D
1
) dan diameter tegak lurus terhadap diameter terbesar (D
2
)" yaituF
(D
1
L D
2
)?2. %ean diameter weal and (lare akibat serum H 6 mm dianggap positi>.
,enelitian dilakukan terhadap 16 pasien 849.
'. Aero et al. 2554.
+'
,eneliti menyuntikkan 0.06 ml serum otolog segar steril" dan
0.06 ml larutan salin steril sebagai kontrol negati>" secara intradermal. %ean diameter
weal akibat serum I 26 mm pada pembacaan 20 menit dianggap positi>" dengan
syarat tidak terjadi reaksi weal and (lare pada suntikan larutan salin (karena apabila
positi>" terjadi akibat dermogra>isme). ,ada anak" mean diameter I 16 mm dianggap
positi>. ,enelitian merupakan laporan kasus pada seorang anak usia ( tahun dengan
2+
riwayat urikaria dan angioedema berulang ( .sero et al." 200*)" dan *A pasien
urtikaria akut akibat alergi obat.
6. .or'a(/kina, Nena/e)a, Bor=o)a. 2554.
+A
,eneliti menentukan positi0itas .SS@
berdasarkan parameter diameter weal pada pembacaan *0 menit. <eaksi .SS@
dianggap positi> bila selisih diameter weal akibat serum dan salin pada *0 menit H 2
mm" dan timbul (lare pada lokasi suntikan serum. ,eneliti mendapatkan sensiti0itas
sebesar -07 dan spesi>isitas sebesar 'A.-7. ,enelitian melibatkan +0 pasien 84.
(. Tede(/i et al. 255-.
+-
,eneliti melakukan pemeriksaan .SS@ dengan cara
menyuntikkan 0.06 ml serum otolog segar dan 0.06 m1 larutan salin (0.-7
weight2volume /a&l) sebagai kontrol negati> secara intradermal" dan larutan histamin
10 Tg?ml sebagai kontrol positi> dengan tes tusuk (skin prick test). ,embacaan
dilakukan pada *0 menit. Sampel penelitian adalah '6 pasien 84" dan kriteria
positi0itas .SS@ mengikuti metode Sabroe et al." 1---.
+. Altman, 2553.
A0
,eneliti menyuntikkan 60 T1 serum otolog" larutan salin 0.-7
sebagai kontrol negati>" dan histamin (10 Tg?ml) sebagai kontrol positi>. @es dianggap
positi> apabila diameter weal akibat serum adalah H dari separuh diameter weal akibat
histamin pada pembacaan *0 menit.
A. .rattan et al. 2555.
62
1ima puluh mikroliter ali4uots serum otolog" larutan salin dan
histamin (10 Ug?m1 histamine base dalam larutan salin) disuntikkan secara
intradermal pada lengan bawah bebas urtika. @es .SS@ positi> apabila timbul weal
berwarna pink dengan diameter H 1.6 mm dari weal akibat larutan salin pada
pembacaan *0 menit.
2A
-. Plat=er, .rattan, Po"len, 4ko). 255,.
A1
,rosedur pemisahan serum mengikuti
metode Sabroe et al." 1---. 1imapuluh 60 T1 serum otolog dan 60 U1 larutan salin
steril disuntikkan secara intradermal pada bagian volar lengan bawah bebas lesi
urtika minimal 2' jam" masing$masing berjarak H * cm. @es dianggap positi> apabila
respon akibat serum berwarna pink dan diameternya H 1.6 mm dari diameter weal
akibat larutan salin" pada pembacaan *0 menit. Sampel penelitian adalah 2A pasien
84.
10. Br"netti et al. 2554.
A2
,rosedur .SS@ dilakukan saat urtikaria sedang akti>.
1imapuluh mikroliter serum otolog" histamin (10 Ug?m1 dalam salinM sebagai kontrol
positi>) dan 0.-7 larutan salin (sebagai kontrol negati>) secara terpisah (6 cm)
disuntikkan ke dalam dermis lengan bawah bagian volar (bebas dari spontaneous
weal). Dua diameter orthogonal weal diukur *0 menit setelah penyuntikan. 4riteria
positi0itas .SS@ mengikuti metode Sabroe et al. (1---). .pabila kontrol positi> tidak
timbul" maka prosedur .SS@ harus diulang dalam 2' jam. Sensiti0itas dan
spesi>isitas yang diperoleh adalah +A7 dan A67" dan positive predictive value (,,R)
serta negative predictive value (/,R) masing$masing +'7 dan AA7. Sampel
penelitian yang dilibatkan adalah 62 anak (rerata usiaF +.A tahun).
11. &>Donnell et al. 1228? &>Donnell et al. 1222.
60"A*
,eneliti menjelaskan proses
pemisahan serum dari darah 0ena dengan mendiamkan darah selama 20 menit pada
suhu ruangan" selanjutnya disentri>us pada 1060 g selama 16 menit. .ntihistamin
sudah dihentikan minimal 'A jam sebelum prosedur .SS@. ,rosedur .SS@ dilakukan
sebagai berikut. 1imapuluh T1 serum otolog tanpa pengenceran" larutan salin steril
(kontrol negati>)" dan histamin (10Tg?ml dalam larutan salin" sebagai kontrol positi>)
2-
disuntikkan ( masing$ masing berjarak H 6 cm) secara intradermal pada bagian volar
lengan bawah. Dua diameter orthogonal dari weal yang timbul segera diukur (pada 0
menit) dan *0 menit setelah suntikan. <eaksi .SS@ positi> apabila timbul weal and
(lare response akibat serum dengan mean weal diameter H 2 mm dari diameter papel
akibat larutan salin.
12. 4abroe, .rea)e 1255-3.
*A
1ima puluh mikroliter (0.06 m1) serum yang diperoleh
dari pasien sewaktu penyakit sedang akti>" disuntikkan intradermal pada permukaan
>leksor lengan bawah bebas lesi. 1arutan salin 0.-7 (kontrol negati>) dan histamin
10 Ug?m1 (kontrol positi>) disuntikkan intradermal dengan jarak antar suntikan 6 cm.
<espon positi>" pada pembacaan *0 menit" adalah weal berwarna merah" dengan
diameter minimal 1.6 mm lebih besar daripada diameter weal akibat salin.
Sensiti0itas dan spesi>isitas yang diperoleh adalah kisaran A07" dengan menggunakan
pemeriksaan in 0itro #<. sebagai baku emas.
1*. To"bi et al. 2554.
A'
Seratus mikro liter (0.1 ml) serum otolog steril disuntikkan
intradermal7 1arutan salin sebagai kontrol negati> dan histamin (1 mg?m1) sebagai
kontrol positi>. <espon yang timbul dibaca pada *0 menit sampai (0 menit.
4riteria .SS@ positi> sebagai berikut.
0 F diameter weal and (lare serum X kontrol negati>M
L1 F diameter weal serum 1.6 mm lebih besar dari kontrol negati>" dan
diameter (lare serum X 16 mmM
L2 F diameter weal serum *)6 mm lebih besar dari kontrol negati>" dan
diameter (lare serum I16 mmM
*0
L* F diameter weal serum ()10 mm lebih besar dari kontrol negati>. ,enelitian adalah
studi kohort yang melibatkan 1*- pasien 84.
1'. Hide et al. 1223.
A6
1imapuluh mikroliter serum otolog dan phosphate bu((er saline
(,%S) disuntikkan intradermal pada lengan bawah volar. Rolume weal serum (mm
*
)
dan weal ,%S dibaca pada (0 menit <espon positi> bila selisih 0olume serum dan
,%S I - mm
*
. Jumlah sampel yang digunakan adalah 2A pasien 849.
16. .rattan 6li)e 1@A13 (li)e.grattanBnn"/.n/."k, pada diskusi pakar 8; melalui
media elektronik pada 2' Desember 200' mengemukakanC I measure the weal
diameter at both sites a(ter /8 min and subtract the saline result 9non&in(lammator#
oedema (rom the in:ection (luid; (rom the serum result 9which ma# contain
in(lammator# oedema due to vasopermeabilit# in addition to the in:ection (luid;7 The
autologous serum skin test response is regarded as positive i( the serum weal
diameter e!ceeds the saline weal diameter b# at least <7= mm7
1.2.4 ,enatalaksanaan urtikaria otoimun.
,asien 8; awalnya diobati seperti halnya pasien 849 tanpa otoantibodi" yaitu
menggunakan antihistamin #
1
non$sedati> dengan dosis sesuai dengan anjuran pabrik. 5aktu
pemberian antihistamin masing$masing pasien bersi>at indi0idualistik" artinya pemberian
diberikan pada saat gejala mencapai maksimal. 4adangkala perlu ditambahkan antihistamin
#
1
sedati>" bila gatal maksimum waktu malam. @erapi >armakologis harus disertai dengan
terapi non$>armakologis yaitu mengindari >aktor pencetus dan pemicu" dan nasehat kebiasaan
hidup (li(e st#le)" meliputi menghindari kelelahan berlebih" pakaian ketat" kebiasaan minum
alkohol" menghindari obat anti$radang non$steroid dan aspirin" kodein dan mor>in" dan
inhibitor angiotensin converting en)#me (.&2) bila terdapat angioedema. ,engobatan di atas
*1
seringkali mengalami kegagalan" sehingga perlu diberikan antihistamin non$sedati> dengan
dosis di atas dosis yang disarankan pabrik. ;bat yang disarankan adalah >ekso>enadin 1(0
mg?hari pada pagi hari" dan bila diperlukan" dapat ditambah antihistamin #
1
sedati> malam
hari. @idak jarang" pasien yang telah terkontrol baik dengan pengobatan di atas" mengalami
kekambuhan akibat (paling sering) >aktor pribadi" pekerjaan" atau >aktor ekonomi" atau akibat
>aktor pencetus?pemicu yang dijelaskan di atas. 4ekambuhan tersebut" terbaik dikontrol
dengan pemberian steroid oral jangka pendek" yaitu prednisolon *0 mg?hari selama 6 hari"
selanjutnya diturunkan dalam 6 ) ( hari. 8mumnya pengobatan tersebut e>ekti>" dan pasien
dapat melanjutkan antihistamin secara reguler.
Sebagian pasien tidak responsi> dengan pengobatan di atas. ,asien dengan gangguan
kualitas hidup parah dan pengobatan konser0ati> gagal" dipertimbangkan untuk diobati
dengan pemberian imunomodulator. Siklosporin oral merupakan imunomodulator pertama
yang dianjurkan. Dosis 2.6 ) 6 mg?kg?hari meredakan keluhan gatal dalam beberapa hari" dan
e>ekti> menekan pembentukan urtika. ,emberian siklosporin dilanjutkan sampai * ) ' bulan
bersamaan dengan pemberian antihistamin. ,ada penghentian siklosporin" *07 pasien tetap
dalam keadaan remisi" *07 pasien kambuh tetapi dapat diatasi dengan antihistamin dosis
kon0ensional" dan sisanya terjadi kekambuhan yang memerlukan pemberian ulang
siklosporin. Siklosporin diberikan pada pasien yang tidak mengalami gangguan ginjal"
hipertensi" dan kelainan lipid serum. ;bat tidak cocok untuk pasien dengan riwayat
keganasan atau pre&cancer. Sebagai pengganti siklosporin" imunomodulator lain yang
disarankan berturut$turut adalah pemberian imunoglobulin intra0ena dengan dosis 0.'
g?kg?hari selama 6 hari" plasma>eresis" dan metotreksat.
1.3 UDi diagnotik
*2
4onsep dasar uji diagnostik ialah untuk mengetahui kehandalan suatu tes baru terhadap
baku emas dalam mendiagnosis penyakit. @es diagnostik" seperti halnya studi obser0asional"
terdiri dari 0ariabel prediktor (instrumen tes yang diuji)" skala dikotom ( L?$)" kategorik (L1"
L2" L*"L')" atau kontinyu (mg?dl)M dan 0ariabel outcome" berskala dikotomF ada?tidaknya
penyakit yang ditentukan baku emas (selalu L pada orang yang sakit" dan negati> pada yang
sehat).
8ji diagnostik dengan 0ariabel prediktor berskala dikotom? binomial" dilakukan
menggunakan @abel 2 J 2" sedangkan uji diagnostik dengan 0ariabel prediktor berskala
kategotik dan? atau kontinu dilakukan dengan menggunakan bantuan kur0a <;& (+eceiver
>perating Characteristic) untuk menentukan nilai cut&o(( (nilai batas antara sakit dan tidak
sakit). 4ur0a <;& memperlihatkan hubungan antara sensiti0itas (diplot pada sumbu _) dan
1$spesi>isitas (diplot pada sumbu `)" dan dikerjakan dengan program S,SS 1* atau =ed&alc.
Tabel 1., @abel 2 J 2 untuk uji diagnostik dengan 0ariabel prediktor berskala
dikotom.

T e
Bak" ema
,enyakit
E + @otal
E
True positive
(TP)
a
False positive
(7P)
Type * error,
P+value
b
a L b
EPF
X
( )
T?
T? F? +
+
c
False
negative
(7N)
Type ** error
d
True negative
(TN)
c L d +PF
X
( )
T$
T$ F$ +
a L c b L d aLbLcLd
4n
X
( )
T?
T? F$ +
4$
X
( )
T$
T$ F? +
3ccurac#F
( )
( )
T? T$
T? T$ F? F$
+
+ + +
L1< X
(1 )
"n
"p
$1< X
(1 ) "n
"p

**
4eteranganF
True positive (@,)F sel di mana hasil baku emas dan tes adalah positi>
True negative (@/)F sel di mana hasil baku emas dan tes adalah negati>
False negative (D/)F sel di mana hasil baku emas positi> dan tes negati> F t#pe 99 error
False positive (D,)F sel di mana hasil baku emas negati> dan tes positi>F t#pe 9 error
?ositive ?redictive @alue (L,R)F seberapa besar orang dengan tes positi> akan
mendapat penyakit
$egative predictive @alue ($,R)F seberapa besar orang dengan tes negati> tidak akan
mendapat penyakit
3ccurac#F berapa besar proporsi semua hasil tes yang memberikan hasil yang tepat.
?ositive ,ikelihood ratio (L1<)F seberapa besar kemungkinan suatu tes L lebih
banyak ditemukan pada orang sakit dibandingkan pada orang sehat.
1.4 Permaala/an
,emeriksaan #<." sampai saat ini merupakan baku emas diagnosis 8;" karena asai
tersebut merupakan satu$satunya asai in vitro yang dapat mengidenti>ikasi sekaligus
>ungsionalitas dari anti$DcE<9G dan anti$9g2 yang terdapat dalam serum pasien 849.
4eunggulan pemeriksaan #<. tersebut tidak dimiliki oleh pemeriksaan (low c#tometr#" dan
immunoblotting. 4edua pemeriksaan tersebut hanya dapat mengidenti>ikasi jenis anti$DcE<9G
atau anti$9g2 (sensiti0itas asai tinggi)" tetapi tidak mampu untuk membedakan apakah
otoantibodi tersebut >ungsional atau tidak (spesi>isitasnya rendah? mengecewakan)"
2+
sehingga asai tersebut tidak dapat dipakai untuk diagnosis 8;.
2-"(6
4elemahan pemeriksaan
#<." selain sulit distandardisasi" asai tersebut tidak praktis? sulit dilakukan karena
memerlukan waktu yang lama untuk memperoleh hasil" dan biaya yang lumayan besar"
(
serta
sel baso>il segar dari darah donor sehat setiap kali asai dilaksanakan.
'1

1., Pendekatan Peme(a/an Aaala/
*'
%erdasarkan hal tersebut di atas" sangat diperlukan sarana diagnostik alternati> 8; yang
mudah" cepat dan praktis" cukup akurat" dan sekaligus murah terutama untuk negara
berkembang seperti 9ndonesia.
,emeriksaan in vivo .SS@" seperti halnya pemeriksaan in vitro #<." bertujuan
mendeteksi adanya otoantibodi >ungsional dalam serum pasien 849. 8ji kulit ini merupakan
uji klinis predikti> yang dapat dipercaya dan merupakan uji klinis in vivo terbaik saat ini
untuk mendeteksi akti0itas pelepas histamin yang terdapat dalam serum otolog terhadap
mastosit kulit.
'1

4euntungan utama dari tes kulit ini yaitu derajat kepraktisannya yang tinggi" sehingga
dapat dilaksanakan di samping tempat tidur penderita" dan dengan biaya yang relati> murah
sehingga amat tepat untuk dipakai di negara sedang berkembang seperti 9ndonesia.
4elemahan pemeriksaan .SS@" adalah belum ada metode? teknik yang baku"
A(
masing$
masing peneliti menggunakan teknik yang berbeda dalam menilai positi0itas .SS@. Sebagai
akibatnya" penelitian yang dilakukan selama ini" menghasilkan sensiti0itas dan spesi>isitas
.SS@ ber0ariasi antara peneliti yang satu dan peneliti yang lain.
+2"+'
Sebagai contoh"
:oryachkina" /enashe0a" %orBo0a. 200'"
+A
menggunakan kriteria positi0itas .SS@
berdasarkan perbedaan diameter weal oleh serum dan edema oleh /a&l (salin) H 2 mm pada
pembacaan *0 menit" memperoleh sensiti0itas (Sn) yang tinggi (-07) dan spesi>isitas (Sp)
yang rendah ('A.-7)M sebaliknya Sabroe":rattan" Drancis et al. 1---"
'1
dengan menggunakan
kombinasi * parameter yaitu parameter perbedaan diameter weal oleh serum dan edema oleh
salin (H 1.6 mm) dan kesamaan warna weal oleh serum dan oleh histamin (merah) pada
pembacaan *0 menit" menghasilkan Sn (67" dan Sp A17. ,eneliti lain menentukan kriteria
positi0itas .SS@ berdasarkan perbedaan 0olume weal dari serum dan 0olume weal dari salin
*6
(I - mm*) pada pembacaan (0 menit"
A6
dan .ltman" 200*"
A0
menilai .SS@ positi> bila
diameter weal akibat serum H a diameter weal akibat histamin pada pembacaan *0 menit.
,ermasalahan tersebut di atas mendorong peneliti untuk mengembangkan suatu sarana
diagnostik .SS@ yang baru" yang merupakan modi>ikasi dari .SS@ lama. ,engalaman di
klinik dengan menggunakan .SS@ yang baru ini memberi kesan bahwa sarana diagnostik ini
memberikan hasil yang lebih baik dari pada .SS@ lama dari peneliti sebelumnya.
#asil penelitian pendahuluan yang kemudian dilakukan peneliti dengan menggunakan
sarana diagnostik .SS@ yang diberi nama .SS@ baru terhadap *' pasien 849 yang dipilih
secara purposi>" menunjukkan bahwa sarana diagnostik yang baru ini lebih baik daripada
beberapa teknik .SS@ yang sudah ada.
1.- Per"m"an Aaala/
%erdasarkan permasalahan tersebut di atas" maka perumusan masalah penelitian ini
adalah sebagai berikut.
1.(.1 Seberapa besar keandalan .SS@ baru tersebut
1.(.2 %agaimana hubungan antara derajat keparahan klinis 849 dan .SS@ baru b
1.0 T"D"an Penelitian
1.+.1 @ujuan umum
=engembangkan .SS@ baru sebagai sarana diagnostik yang andal dan praktis
untuk menunjang diagnosis 8;" dan mencari hubungan antara derajat keparahan klinis 849
dan .SS@ baru.
1.+.2 @ujuan khusus
=enentukan nilai diagnostik .SS@ baru" dan menganalisis hubungan antara nilai DJ
.SS@ baru dan keparahan klinis 849.
*(
1.8 Aan!aat Penelitian
1.A.1 @eoritis
8ntuk pengembangan 9lmu ,engetahuan dan @eknologi 4edokteran (9,@24D;4)"
terutama dalam pemeriksaan penunjang urtikaria otoimun" yang belum pernah dikerjakan di
9ndonesia.
1.A.2 ,raktis
1.A.2.1 =endapatkan sarana diagnostik yang andal" praktis" dan murah untuk diagnosis 8;"
khususnya di 9ndonesia sebagai negara sedang berkembang yang keadaan
ekonominya belum memadai.
1.A.2.2 =emberikan keuntungan bagi pasien 8;" baik dari segi ekonomi (menghemat
waktu" biaya pemeriksaan" dan jenis pengobatan)" maupun segi pengobatan
yang lebih terarah.
*+
BAB 2.
KE@AN.KA K&N4EPTUAL PENEL*T*AN
2.1 Kerangka Pikir
.ambar 2.1 Skema kerangka pikir.
4eterangan.
*A
4lpk
:ory
4lpk
,latBe
4lpk
Sabro
weal er"m
G 2 mm weal
alin, H flare
ekitar weal
er"m 35
men.
Weal er"m G
1., mm weal
alin, H weal
er"m pink,
$d 35 men.
Weal er"m G
1., mm weal
alin H weal
er"m red $d
35 men.
4nC I
4$C I
4nC I
4$C I
4nC I
4$C I
A
4
4
T
B
A
@
U
6eal serum
pada 0 dan
*0 men H
1.6 mm weal
salin pada 0 c
*0 men" warna
weal serum
merah pada *0
menit
4nC I
4$C I
4nC I
4$C I
@oub
Dagi
oo
Weal er"m
G , mm $d
35 men
Weal er"m
G 1., mm
weal alin, H
flare $oiti!
4nC I
4$C I
4nC I
4$C I
.ltm
er"m J K
/itamin
4nC I
4$C I
Nilai DL.
6ara
$erika
H@A
Peneliti
Aeneliti
$arameter
'g bel"m
diteliti
d weal
serum c
d weal
salin pd 0
men.E
parameter
yg terbaik
akan
dicari
?ditentukan
4otak dengan garis hitam terputus$putus" diteliti pada penelitian pendahuluan.
4otak dengan garis tebal berwarna biru" diteliti pada penelitian utama.
2.2 PenDelaan Kerangka Pikir
%erdasarkan kepustakaan" terdapat berbagai 0ariasi pemeriksaan .SS@. ,emeriksaan
.SS@ tersebut dapat dibagi dalam beberapa kelompok" berdasarkan parameter yang
digunakan dan kriteria untuk menilai hasil .SS@.
1. 4elompok .sero et al. 200'"
+'
dan Dagiolo et al. 2000.
+6
4elompok ini membuat
kriteria .SS@ positi> berdasarkan hanya pada 1 parameter" yaitu diameter weal akibat
serum pada *0 menit (DagioloF H 6 mm dan .seroF H 16 mm).
2. 4elompok :oryachkina" mewakili pemeriksaan .SS@ :rattan et al. 1--+"
'0
Donnell
et al.1-A-"
60
:oryachkina et al. 200'"
+A
dan Donnell et al. 1-AA.
A*
4elompok ini
menilai hasil .SS@ positi>" berdasarkan perbedaan diameter weal akibat serum$weal
akibat salin pada pembacaan *0 menit sebesar H 2 mm" dan terdapat (lare di
sekeliling weal akibat serum.
*. 4elompok @oubi et al. 200'.
A'
4elompok ini hanya diwakili oleh @oubi. #asil .SS@
dinyatakan dalam 0" L1" L2" L*. .SS@ L1 apabila perbedaan diameter weal akibat
serum$weal akibat salin pada *0 menit H 1.6mm" dan diameter (lare aibat serum X 16
mm.
'. 4elompok :rattan et al. 2000
62
dan ,latBer et al. 2006.
A1
4riteria .SS@ positi> apabila
terdapat perbedaan diameter weal akibat serum$weal akibat salin pada pembacaan *0
menit sebesar H 1.6 mm" dan weal akibat serum berwarna merah muda.
6. 4elompok Sabroe" :rea0es (200()"
*A
Sabroe et al.1---"
'1
@edeschi et al. 200("
+-
dan
%runetti et al. 200'.
A2
4elompok ini menilai .SS@ positi> apabila perbedaan diameter
*-
weal akibat serum$weal akibat salin pada *0 menit H 1.6 mm" dan weal akibat serum
berwarna merah.
(. .ltman" 200*
A0
menyuntikkan 60 T1 serum otolog" larutan salin 0.-7 sebagai
kontrol negati>" dan histamin (10 Tg?ml) sebagai kontrol positi>. @es dianggap positi>
apabila diameter weal akibat serum adalah H a diameter weal akibat histamin pada
pembacaan *0 menit.
+. #ide et al. 1--*.
A6
,eneliti menentukan kriteria .SS@ positi> berdasarkan selisih
0olume akibat serum dan 0olume akibat ,%S I - mm
*
.
,ada penelitian pendahuluan" dilakukan pemeriksaan .SS@ berdasarkan kriteria peneliti
di atas (kecuali metode #ide)" untuk mendapatkan sensiti0itas (Sn) dan spesi>isitas (Sp) tiap
metode pemeriksaan" membandingkan hasil tersebut dengan Sn dan Sp yang diperoleh
peneliti sebelumnya" menentukan penelitian kelompok mana yang menghasilkan Sn dan Sp
yang lebih baik" dan mencari parameter dominan mana yang mempengaruhi
peningkatan?penurunan Sn dan Sp (parameter waktu pembacaan" parameter perbedaan
diameter weal" parameter perbedaan warna serum).
%erdasarkan penelusuran di atas" dilakukan penelitian parameter yang belum digunakan
menilai hasil .SS@" yaitu parameter diameter weal serum dan weal salin pada pembacaan 0
menit dan memilih parameter terbaik (diameter weal" warna weal) yang menghasilkan Sn dan
Sp tertinggi. 4ombinasi parameter terbaik dan parameter diameter weal pada 0 menit
diharapkan mendapatkan kombinasi parameter untuk pemeriksaan .SS@ baru yang
menghasilkan Sn DJ dan Sp DJ yang jauh lebih tinggi.
2.3 Ta/a$an Kerangka Pikir
'0
@ahapan kerangka pikir diawali dengan pemeriksaan .SS@ pasien 849 mengikuti
metode sesuai dengan yang dijelaskan masing$masing peneliti. Setiap pasien dinilai hasil
.SS@ berdasarkan kriteria yang digunakan oleh peneliti.
Selanjutnya" dilakukan penelitian terhadap parameter yang mempengaruhi hasil .SS@"
baik secara tunggal maupun kombinasi" dan menentukan parameter mana yang menghasilkan
Sn dan Sp terbaik.
@ahap berikut adalah meneliti parameter lain yang belum digunakan (parameter diameter
weal serum dan salin pada 0 menit).
,ada waktu bersamaan" dilakukan upaya mendapatkan cara melakukan pemeriksaan
#<. yang tepat dan standar. Setelah cara pemeriksaan #<. yang tepat dan standar berhasil
didapatkan" maka masing$masing cara pemeriksaan .SS@ peneliti sebelumnya dan metode
yang memakai parameter diameter 0 menit" diuji Sn dan Sp nya" sehingga mendapat
gambaran metode .SS@ baru (satu atau lebih) yang lebih tinggi nilai diagnostiknya
dibandingkan metode$metode .SS@ yang sudah ada. =etode .SS@ baru selanjutnya dipakai
dalam penelitian ini untuk diuji nilai DJ nya.
'1
2.4 Kerangka Kone$t"al Penelitian
.ambar 2.2 ,engembangan sarana diagnostik .SS@
2., PenDelaan Kerangka Kone$
=etode pemeriksaan .SS@ baru diperoleh melalui rangkuman hasil penelitian sendiri"
penelusuran kepustakaan" diskusi pakar khusus mengenai pemakaian parameter perbedaan
'2
A44T
o$eraional bar"
,arameter diameter weal
serum dan diameter weal
salin pada 5 menit
5arna weal serum
pada *0 menit
(merah)
A44T bar"C
Nilai DL I
DeraDat
ke$ara/an
kliniC
6"t+o!! I
6ara H@A
'ang dida$atkan
dan di$akai
ebagai bak" ema
,arameter diameter weal
serum dan diameter weal
salin pada *0 menit
4ombinasi *
parameter
diameter weal akibat serum dan diameter weal akibat salin. <angkuman yang diperoleh
dalam penelitian pendahuluan" mengindikasikan bahwa kombinasi parameter perbedaan
diameter weal akibat serum $ diameter weal akibat salin pada 0 dan *0 menit" dan parameter
perubahan warna weal akibat serum (merah) pada *0 menit akan menghasilkan kombinasi Sn
DJ dan Sp DJ yang lebih tinggi" yaitu +A.(7 dan -67.
,enelitian yang lebih luas" dilanjutkan untuk menentukan keandalan sarana diagnostik
.SS@ baru dan derajat keparahan klinis dengan pemeriksaan #<. sebagai baku emas" dan
menganalisis hubungan antara derajat keparahan klinis dan sarana diagnostik .SS@ baru.
'*
BAB 3.
AET&DE PENEL*T*AN
,enelitian ini merupakan penelitian obser0asional analitik laboratorik dengan desain
potong lintang" terdiri atas penelitian pendahuluan dan penelitian utama.
3.1 Penelitian $enda/"l"an.
3.1.1 Aetode $enelitian.
,enelitian pendahuluan ini merupakan penelitian obser0asional analitik laboratorik
dengan disain potong lintang. ,enelitian pendahuluan ini dilakukan untuk mengembangkan
sarana diagnostik .SS@ baru dengan sensiti0itas (Sn) dan spesi>isitas (Sp) yang lebih baik"
dan mencari upaya yang tepat dan standar agar dapat melakukan pemeriksaan #<. yang
belum pernah dilakukan di 9ndonesia dan yang sangat diperlukan untuk menguji keandalan
sarana diagnostik .SS@ baru.
,enelitian pendahuluan ini terdiri atas beberapa tahapan penelitian yang meliputi.
.. @ahapan pemeriksaan #<. yang tepat dan baku.
..1 &ara pemisahan sel baso>il dari darah donor sehat yang tepat dan baku.
..2 &ara pelepasan histamin total yang tepat dan baku.
..* &ara pembuatan kur0a baku dan persamaan linear.
%. @ahapan pengembangan uji .SS@ baru dan pengujian pendahuluannya secara klinis.
A. Ta/a$an $emerikaan H@A 'ang te$at dan bak".
A.1 6ara $emia/an el bao!il dari dara/ donor e/at 'ang te$at dan bak".
''
1. =eneliti berbagai 0ariasi cara pemisahan sel baso>il dari darah donor sehat yang
dipakai peneliti sebelumnya" a) komposisi larutan dekstran (0.(7" *7" (7" dan 167)
dan berat molekul dekstran (+(.000" 160.000" 200.000" dan 260.000)" inkubasi"
sentri>ugasi" pencucian" dan penambahan bu>er (#2,2S" bu>er @ris" ,%S" bu>er
@yrode) yang dipakai pada pemisahan awal sel lekosit dari eritrosit" b
1
) pemisahan dan
pelisisan eritrosit tidak memerlukan penambahan amonium klorida" #
2
; dengan light
vorte!ing" atau larutan salin hipotonik karena sudah cukup dengan inkubasi"
sentri>ugasi" pencucian" dan penambahan bu>er" b
2
) pemisahan dan pelisisan eritrosit
masih memerlukan penambahan amonium klorida" #
2
; dengan light vorte!ing" atau
larutan salin hipotonik.
2. =erangkum hasil penelitian di atas" dan melakukan berbagai percobaan sehingga
mendapatkan kombinasi larutan dan berat molekul dekstran" bu>er" dan bahan
melisiskan eritrosit yang sesuai" sehingga memperoleh jumlah lekosit?m1 yang cukup
untuk tahap pemeriksaan #<. selanjutnya.
A.2 6ara $ele$aan /itamin total 'ang te$at dan bak".
1. =eneliti berbagai metode inkubasi suspensi baso>il donor sehat dalam bu>er asai
untuk memperoleh supernatan yang mengandung histamin total" memakai metode
pendidihan" pemanasan pada A6
0
&" repeated thawing and (ree)ing" dan penambahan
asam perklorat.
2. =erangkum hasil penelitian di atas dan memilih metode yang menghasilkan nilai
absorben histamin total terkecil.
*. =enguji metode terbaik di atas dengan metode pemanasan pada (0
0
& dan metode
ultrasonic disintegrator memakai ice cold :acket ('
0
&) sebagai baku emas pemisahan
'6
histamin total" sehingga metode yang akan dipakai dalam penelitian" tepat dan
standar.
A.3 Pemb"atan k"r)a bak" dan $eramaan linear.
1. &ara mengkon0ersi nilai absorben dan kadar histamin baku ke dalam 7%?%0" logit"
dan log&onc.
2. &ara membuat kur0a baku dan persamaan linear memakai program 2Jcel ? :raph,ad
*. &ara menghitung kadar sti#<" spo#<" dan tot#< memakai persamaan linear
'. &ara menghitung 7#< dan cut&o(( #<.L?$.
B. Ta/a$an $engembangan A44T bar" dan $eng"Dian $enda/"l"ann'a e(ara klini.
1.a) meneliti ulang .SS@ peneliti sebelumnya (:oryachkina" Dagiolo" ,latBer"
@oubi" .ltman" dan Sabroe)M b) meneliti sensiti0itas dan spesi>isitas semua
parameter yang menentukan positi0itas .SS@" secara tunggal maupun
kombinasiM c) meneliti 0ariabel yang belum pernah dipakai sebelumnya
(diameter weal serum dan weal salin pada 0 menit).
2. <angkuman hasil .SS@ peneliti sebelumnya dan hasil .SS@ peneliti"
menghasilkan .SS@ teoritik baru.
*. =enentukan sensiti0itas dan spesi>isitas .SS@ teoritik baru.
'. =embuat kesimpulan dalam bentuk .SS@ operasional baru.
8ntuk lebih jelasnya" rancangan penelitian dibuat dalam diagram tahapan penelitian di
bawah ini ( :ambar *.1)
'(
B.1 Diagram ta/a$an $enelitian $engembangan A44T bar"
Penelitian Penda/"l"an
Aetode A44T $enelitian ebel"mn'a 4t"di
P"taka
Dik"i
Pakar
7agiolo .or'. To"bi Plat=er 4abroe Altman
.uto.b. .uto.b. .uto.b. .uto.b. .uto.b. .uto.b.
E + E + E + E + E + E +
H@A H@A H@A H@A H@A H@A
Sn c Sp Sn c Sp Sn c Sp Sn c Sp Sn c Sp Sn c Sp
.ambar 3.1 @ahapan pengembangan .SS@ baru.
3.1.2 Po$"lai dan am$el $enelitian.
,opulasi penelitian adalah pasien 849 yang berobat jalan pada Sub%agian .lergi$
9munologi" ,oliklinik 9444" <S8, =# ,alembang" dan memenuhi kriteria penerimaan dan
kriteria penolakan.
3.1.3 :akt" dan tem$at $enelitian.
3.1.3.1 5aktu penelitian
'+
<./:48=./
=enentukan Sn DJ dan Sp DJ
.SS@ baru yang tertinggi
.SS@ teoritik baru
.SS@ operasional baru
,enelitian pendahuluan" dilaksanakan dari 1 September 200( sampai *1 Desember 200(.
3.1.3.2 @empat penelitian
Sub%ag. .lergi$9munologi" ,oliklinik 9444" <S8, =#" ,alembang dan 1aboratorium
,enelitian" %agian ,atologi 4linik" D4 8nair ? <S8 Dr Sutomo" Surabaya.
3.1.4 Kriteria 4am$el
3.1.4.1 4riteria penerimaan sampel
4riteria penerimaan adalah semua pasien 849 yang berobat ke poliklinik 4ulit dan
4elamin <S=# ,alembang" usia H 1A tahun" tidak mengkonsumsi obat imunosupresi>
(siklosporin" metotreksat" aBatioprin) dalam 1 bulan terakhir" tidak mengkonsumsi
kortikosteroid dan antihistamin minimal * hari terakhir sesuai dengan waktu paruh tiap obat"
tidak hamil dan? menyusui" dan bersedia mengikuti penelitian sampai selesai dengan mengisi
surat ijin tertulis persetujuan tindak medis.
3.1.4.2 4riteria penolakan sampel
4riteria penolakan adalah pasien 849 yang didapatkan urtikaria >isik dominan" dan
pasien yang mendapat 0aksinasi.
3.1., Bear am$el
,emilihan sampel penelitian pendahuluan dilakukan secara purposi> dan besar sampel
yang diteliti adalah *' orang.
3.2 Penelitian Utama
,enelitian utama ini akan dilaksanakan untuk menentukan nilai diagnostik .SS@ baru
dengan baku emas #<." menilai Sn dan Sp 0ariabel derajat keparahan klinis dengan baku
emas #<." meneliti hubungan antara 0ariabel derajat keparahan klinis dan .SS@ baru" dan
meneliti 0ariabel data klinis.
'A
8ntuk lebih jelasnya" penelitian utama dibuat dalam tahapan penelitian di bawah ini
(:ambar *.2).
3.2.1 Ta/a$an $enelitian $eng"Dian keandalan A44T bar"
.ambar 3.2 @ahapan pengujian keandalan .SS@ baru.
3.2.2 Po$"lai dan 4am$el Penelitian.
Subyek yang diobser0asi adalah semua pasien 849 yang berobat jalan ke ,oliklinik 9lmu
4esehatan 4ulit dan 4elamin (9444)" <S8, =# ,alembang" yang memenuhi kriteria
penerimaan sampel.
3.2.3 :akt" dan Tem$at Penelitian.
3.2.3.1 :akt" $enelitian
1 Januari 200+ sampai dengan *1 .gustus 200+.
3.2.3.2 Tem$at Penelitian
'-
DeraDat Ke$ara/an
Klini
dan nilai cut-off
.SS@ baru
Nilai diagnotik
A44T bar"
dengan bak" ema
H@A
Sub%agian .lergi$9munologi" ,oliklinik 9444" <S8, =# ,alembang dan
1aboratorium ,enelitian" %agian ,atologi 4linik" D4 8nair ? <S8 Dr Sutomo" Surabaya.
3.2.4 Kriteria 4am$el
4riteria penerimaan dan penolakan sampel penelitian utama" sesuai dengan penelitian
pendahuluan.
3.2., Bear am$el
Sesuai dengan tujuan penelitian" maka besar sampel dihitung dengan rumus yang dipakai
oleh Schea>>er" =endenhall" ;tt (1--()
A+
F
p4 ' $
$p4
n
+
=
) 1 (
X +-
3.2.,.1 Teknik $engambilan am$el
Sampel sebanyak +- orang" belum tersedia pada waktu dimulainya penelitian" sehingga
pemilihan sampel penelitian dilakukan secara s#stematic sampling7
60
3.2.- Kerangka &$eraional Penelitian


untuk cut$o>> #<.L?$
dikirim bersama serum pasien


61
,oliklinik 8mum 9444
<S8, =#" ,alembang
4"bBag. Alergi+*m"nologi
*KKK @4UP AH
4eleki $enerimaan
dan $enolakan
,asien 84 yang tidak
memenuhi kriteria
penerimaan
Paien UK 'ang memen"/i
kriteria $enerimaan
PenatalakanaanC
aran,
$engobatan
A44T bar"
UK
Laboratori"m Penelitian,
Bag. Patologi Klinik, 7K
Unair# @4 Dr. 4"tomo,
4"raba'a
Cut-off deraDat
ke$ara/an
klini ringan#
berat
Nilai
diagnotik
A44T bar"
Systematic
sampling
H@A
,asienF
e datang sendiri
e rujukan dokter
umum
,asienF
e rujukan Sp44 luar
e rujukan departemen
lain
4er"m
Skor
derajat
keparahan
klinis
4am$el
$enelitian
&rang non+
"rtikaria
er"m
849
Sarana DJ
.SS@ teoritik
4arana DL
A44T o$eraional
4tandardiai
(ara
mengerDakan
H@A
Pemia/an
bao!il
Pele$aan
/itamin
total
serum
.ambar 3.3 4erangka ;perasional ,enelitian
4eteranganF garis dan kotak terputus warna merah" adalah penelitian pendahuluan.
3.2.0 PenDelaan Kerangka &$eraional
,ada penelitian ini" dilakukan pemeriksaan klinis terhadap sampel penelitian (anamnesis"
pemeriksaan >isik)" dan tes manual (ice cube test" tes beban" tes gores)" dan menentukan skor
derajat keparahan klinis masing$masing pasien. ,emeriksaan laboratoris dilakukan hanya bila
dicurigai ada urtikaria 0askulitis. Darah 0ena diperoleh saat klinis akti>" dan serum yang
dihasilkan" disiapkan untuk pemeriksaan .SS@ baru" dan #<. (sebelum dikirim" disimpan
pada ) 20
0
&). Selain itu" serum kontrol yang diperoleh dari orang non$urtikaria" disiapkan
pula untuk dikirim bersamaan dengan serum sampel untuk menentukan cut&o(( #<. L?$
(peneliti dan teknisi laboratorium tidak mengetahui serum tersebut berasal dari sampel
penelitian atau dari orang non$urtikaria). ,asien 84 yang tidak memenuhi kriteria
penerimaan selanjutnya diobati" dan sampel penelitian yang telah menjalani pemeriksaan
.SS@" selain diberi pengobatan disarankan pula untuk kontrol ulang. /ilai diagnostik hasil
.SS@ baru ditentukan menggunakan uji diagnostik" dengan hasil #<. sebagai baku emas.
8ji diagnostik dipakai pula menentukan sensiti0itas dan spesi>isitas 0ariabel derajat
keparahan klinis yang berskala kontinyu dengan hasil #<. sebagai baku emas" yang akan
menghasilkan nilai cut&o(( tertentu dari 0ariabel derajat keparahan klinis pada kombinasi Sn
dan Sp yang optimal. @ahap selanjutnya" hubungan antara .SS@ baru dan derajat keparahan
klinis dianalisis secara statistik sehingga diperoleh hasil penelitian.
62
Analii tatitik
Hail $enelitian
7olloM+"$
,ada penelitian pendahuluan dan penelitian ini" pemeriksaan in vivo .SS@ dilakukan di
Sub%agian .lergi$9munologi ,oliklinik 9444 <S8, =#" sedangkan serum non$urtikaria
dan serum sampel penelitian untuk pemeriksaan #<. yang diproses di ,alembang dikirim ke
1aboratorium ,enelitian" %ag. ,atologi 4linik" D4 8nair ? <S Dr. Sutomo" Surabaya.
BAB 4.
HA4*L PENEL*T*AN
4.1 Hail $enelitian $enda/"l"an.
#asil penelitian pendahuluan ini" teknik #<. dan .SS@ baru akan dipakai sebagai
teknik atau metode baku dari penelitian utama disertasi ini.
4.1.1 Pemerikaan H@A.
4.1.1.1 Alat dan ba/an $emerikaan EL*4A kom$etiti!.
.. 6ash bu((er A=!C *0 m1.
%. "ubstrateC 20 m1. Tetrameth#lben)idine (@=%) L -#drogen ?ero!ide (#
2
;
2
).
&. ,%S sample diluentC phosphate bu((er saline7
D. -istamine en)#me con:ugateC ( m1. -istamine horseradish pero!idase con:ugate.
2. -istamine standardC ( vials mengandung 600 U1 per vial. 4onsentrasi histamine
standard tiap 0ialF 0" 2.6" 6" 10" 20" 60 ng?m1.
D. -istamine antibod# coated plateC -( sumuran '#ne! microplate berlapis antibodi
monoklonal terhadap histamin.
.lat dan bahan tersebut di atas dapat digunakan sampai waktu kadaluwarsa bila disimpan
pada 2$Af &.
'eioni)ed water7
?recision pipettes (10 m1$1000 m1) dan disposable tips.
6*
%ultichannel pipette7
<eagensia yang diperlukan untuk persiapan pembuatan sampel.
'isposable reagent boats.
Graduated c#linders F alat untuk mengencerkan dan mencampur wash bu((er and
e!traction bu((er.
%icroplate reader dengan >ilter '60 nm ( bila larutan #&l digunakan untuk
menghentikan reaksi).
?lastic (ilm atau plate coverB penutup lempengan selama inkubasi.
1arutan 1 / #&l dan %icroplate shaker7
.ambar 4.1 4it 219S. /eogenKs Corporation
4.1.1.2 Teknik H@A 'ang di$akai dalam $enelitian.
4.1.1.2.1 Pemia/an el bao!il donor e/at.
6'
=etode pemisahan sel baso>il yang dipakai dalam penelitian ini ialah metode de!tran
sedimentation (suspensi masih mengandung campuran sel baso>il dan lekosit lain)"
dilaksanakan sebagai berikut. 2nam mililiter darah 0ena dalam tabung %D vacutainer
berlapis 42 2D@. 6.' mg ( * ml) ditambah 2 m1 larutan <
1
[dekstran *7 (berat molekul
260.000)" glukose *7" salin 0.16 = dan akuades 100 m1\ (lihat 1ampiran +). &ampuran
diinkubasi (dalam inkubator =emmert) selama '6 menit pada *+
0
& sampai darah terpisah
menjadi * lapisan" lapisan teratas berupa plasma" lapisan di tengah berupa bu((# coat
mengandung lekosit dan trombosit" dan lapisan terbawah berupa sedimen yang mengandung
eritrosit.
Supernatan yang mengandung plasma" trombosit" dan lekosit dipisahkan dari sedimen
secara hati$hati menggunakan pipet ,asteur. Supernatan disentri>us pada 2600 rpm selama 6
menit" sehingga terbentuk sedimen lekosit" sedangkan trombosit terpisah dalam supernatan.
Selanjutnya supernatan dibuang.
,elet lekosit ditambah * m1 larutan 0.A7 /#
'
&l untuk melisiskan eritrosit yang masih
tersisa. 8langi 1J penambahan /#
'
&l agar semua eritrosit mengalami lisis. Sentri>us pada
2600 rpm selama 6 menit. Supernatan dibuang.
2ndapan? pelet dicuci 2 J dengan larutan <
2
(10 m= #2,2S" 1*+ m= /a&l" 2.+ 4&l"
0.' m= /a#
2
,;
'
" 6 m= glukose" dan akuades)" serta disuplemen dengan 0.*7 human
serum albumin (#S.). Sentri>us pada 2600 rpm selama 6 menit" lalu buang supernatannya.
,elet diresuspensi dalam larutan <
2
tanpa #S." sehingga 0olume (00 U1.
#itung jumlah lekosit?m1 menggunakan mikroskop cahaya tanpa reagen. Jumlah yang
diperoleh (misalnyaF (6 sel) dimasukkan dalam >ormula #udson" #ay (1-A-)
AA
F
'
6
? 26 10
ml
lekositdalam lap
lekosit
lapangan

original dilutions
66
X
' ' 6 6
(6 1
26 10 *2" 6 10 *" 26 10 * 10
6 10
= = =
.gar diperoleh 2 J 10
6
?ml dari * J 10
6
maka perlu pengenceran 1.6 J" maka 1 ml larutan
* J 10
6
perlu ditambah 0.6 ml larutan <
2
tanpa #S..
4.1.1.2.2 *nk"bai
Setelah dilakukan penyesuaian 0olume suspensi lekosit (jumlah sel lekosit telah menjadi
2 J 10
6
?m1" suspensi dibagi dalam * tabung" masing$masing mengandung 60 Ul suspensi
lekosit donor sehat.
Tab"ng 1. 1imapuluh mikroliter suspensi lekosit diinkubasi selama '0 menit pada *+
0
&
dalam 60 Ul serum (pasien 849 atau non$urtikaria)" selanjutnya reaksi dihentikan dengan
pendinginan di atas es. Sentri>us selama 10 menit pada *600 rpm" dan supernatan yang
diperoleh diperiksa untuk menentukan stimulated#< (sti#<) pasien 849? non$urtikaria.
Tab"ng 2. 1imapuluh mikroliter suspensi lekosit ditambah 60 Ul ,%S" dipanaskan pada A6
0
& selama '0 menit. Sentri>us pada *600 rpm selama 10 menit" dan supernatan yang diperoleh
diperiksa untuk menentukan histamin total (total#<) pasien 849 dan non$urtikaria.
Tab"ng 3. 1imapuluh mikroliter suspensi lekosit diinkubasi selama '0 menit pada *+
0
&
dalam 60 Ul ,%S" dilanjutkan dengan pendinginan di atas es. Sentri>us selama 10 menit pada
*600 rpm" dan supernatan yang diperoleh diperiksa untuk menentukan spontaneous#<
(spo#<) pasien 849 dan non$urtikaria.
4.1.1.2.3 UDi EL*4A kom$etiti! lang"ng 1kit EL*4A dari Neogen3.
4.1.1.2.3.1 ,rosedur pemesanan" pengiriman" dan penyimpanan kit 219S..
6(
,rosedur pemesanan dan pengiriman dari .merika sampai 9migrasi 9ndonesia di
&engkareng dibawah tanggungjawab /eogenKs Corporation.
4it 219S. dalam bungkus asli disimpan pada 2 ) A
0
& di ,alembang sebelum
dikirim ke 1aboratorium ,enelitian" %agian ,atologi 4linik" <S Dr Sutomo Surabaya.
4it 219S. dalam bungkus asli segera dikirim ke Surabaya melalui pesawat udara
agar dapat dipakai sebelum kedaluwarsa.
4.1.1.2.3.2 ,rosedur pelaksanaan uji 219S. kompetiti>.
,rinsip dasar tesF uji 219S. kompetiti>.
4it dikeluarkan dari penyimpanan (2$A
0
&)" biarkan hangat pada suhu ruangan (1A$
*0
0
&)
Sampel supernatant (60 T1) ditambahkan ke dalam sumuran yang telah dilapisi
dengan antibodi monoklonal terhadap histamin (untuk kontrol" tambahkan 60 T1
histamin baku berbagai konsentrasi pada sumuran lain).
Selanjutnya ditambahkan 60 T1 konjugat histamin$#<," dan diinkubasi pada 1A$
*0
0
& selama '6 menit di atas microshaker7
Sebagai akibatnya akan terjadi kompetisi antara histamin dalam sampel dengan
konjugat histamin$#<, dalam mengikat antibodi monoklonal pada dinding sumuran
dari lempengan mikrotiter.
Setelah waktu inkubasi" sumuran mikrotiter dicuci dengan *00 T1 bu>er pencuci yang
telah diencerkan untuk membuang semua bahan bebas? tak terikat (pencucian
dilakukan sebanyak * kali).
4emudian ditambahkan 160 T1 substrat (@=% L #
2
;
2
) sampai terbentuk warna
(optimal setelah *0 menit). .pabila pembacaan tidak dapat dilakukan dalam waktu *0
6+
menit" tambahkan 60$100 1 larutan 1 / #&l ke dalam tiap sumuran untuk
menghentikan reaksi enBim.
Selanjutnya hasil tes dibaca dengan %icro 219S. reader yang diset pada '60 nm bila
digunakan larutan #&l" dan pada (60 nm bila pembacaan dilakukan dalam waktu *0
menit inkubasi.
#asil yang diperoleh dibandingkan dengan kur0a baku menggunakan log&logit curve
(itting model (menggunakan program :raph ,ad dan =icroso>t 2Jcel)
9ntensitas warna berbanding terbalik dengan jumlah histamin dalam sampel.
,engukuran pelepasan histamin mengikuti petunjuk /eogenKs histamine 219S. kit
(/eogenKs Corporation).
4.1.1.2.4 Pemb"atan k"r)a bak" dan $eramaan linear
1. &ara pembuatan kur0a baku dan persamaan linear dan penghitungan persentase pelepasan
histamin (7#<) sebagai berikut.
1.1 /ilai absorben histamin baku dikon0ersi ke dalam persentase ikatan maksimal (7%?%o)
dan logit" dan konsentrasi histamin baku dikon0ersi ke dalam logConcentration.
1.2 4ur0a baku dan persamaan linear dibuat berdasarkan nilai logit dan log&onc memakai
program 2Jcel.
1.3 ,enghitungan sti#<" spo#<" dan tot#< memakai persamaan linear.
1.3.1 ,ersentase pelepasan histamin (7#<) donor sehat (non$urtikaria) dan cut&o(( #<.L?$.
1.3.2 ,ersentase pelepasan histamin (7#<) pasien 849 #<. (L) dan pasien 849 #<. ($).
6A
4.1.1.2., Bagan $elakanaan $emerikaan H@A.
6-
4"$eni
bao!il
donor e/at
12 L 15
,
el#mL3
9nkubasi
sti#< tot#< spo#<
Hitamin
bak"
5 2., , 15 25 ,5
EL*4A /ilai absorben
PE@4AAAAN L*NEA@
NH@ non+
"rtikaria
1mean E 4D3
NH@
$aien UK*
NH@C
G 1mean E 24D3
KU@FA BAKU
Dara/
EDTA
donor
@abung 2 @abung *
Phosphate
Buffered
saline
Heating
18,
5
63
45 menit
supernatan supernatan
@abung 1
supernatan
7#<F
g (mean L 2 SD)
4er"m
Non+
"rtikaria UK*
ata"
1kontrol3 1am$el3

Cut-off value
(mean L 2 SD)
.ambar 4.2 %agan pelaksanaan #<.
4.1.1.2.- PenDelaan bagan $elakanaan H@A.
@ahapan pemeriksaan asai #<. diawali dengan pemisahan serum pasien 849"
serum non$urtikaria (da>tar serum 849 dan non$urtikaria ditinggal di ,alembang)" dan
pembuatan suspensi lekosit dari darah 2D@. donor sehat. Suspensi lekosit donor sehat
dibagi ke dalam * tabung" masing$masing mengandung 60 U1.
@abung 1 mengandung 60 U1 suspensi lekosit diinkubasi dengan 60 U1 serum non$
urtikaria atau serum pasien 849" dilanjutkan dengan sentri>ugasi untuk memisahkan
supernatan dari pelet lekosit. Supernatan dipersiapkan untuk menentukan nilai
absorben stimulated -istamine +elease (sti#<) sampel non$urtikaria atau sampel 849
menggunakan kit 219S..
@abung 2 mengandung 60 U1 suspensi lekosit diinkubasi dengan 60 U1 ,%S"
dilakukan pemanasan pada A6
0
& selama '0 menit" dilanjutkan dengan sentri>ugasi
untuk memisahkan supernatan dari pelet lekosit. Supernatan dipersiapkan untuk
menentukan nilai absorben total histamine release (tot#<) sampel non$urtikaria dan
sampel 849 menggunakan kit 219S..
@abung * mengandung 60 U1 suspensi lekosit diinkubasi dengan 60 U1 ,%S"
dilanjutkan dengan sentri>ugasi untuk memisahkan supernatan dari pelet lekosit.
(0
U& /on$8;
Supernatan dipersiapkan untuk menentukan nilai absorben spontaneous histamine
release (spo#<) dari sampel non$urtikaria dan sampel 849 menggunakan kit 219S..
,emeriksaan 219S." diawali dengan pemeriksaan absorben histamin standar (0
ng?m1" 2.6 ng?m1" 6 ng?ml" 10 ng?m1" 20 ng?m1" dan 60 ng?m1) (in duplo)"
selanjutnya supernatan dari tabung 1" tabung 2" dan tabung *. .bsorben histamin
standar yang diperoleh dipergunakan untuk membuat kur0a baku dan persamaan
linear. .bsorben sti#<" spo#<" dan tot#< sampel non$urtikaria dan sampel 849
dikon0ersi ke dalam ng?m1 dengan bantuan persamaan linear. Selanjutnya" kadar
(ng?m1) sti#<" spo#<" dan tot#< sampel non$urtikaria dan sampel 849 dihitung
untuk menentukan persentase pelepasan histamin (7#<) (mean ^ SD) sampel non$
urtikaria dan sampel 849" menggunakan >ormula [(sti#< ) spo#<)?tot#<\ J 100.
,ersentase pelepasan histamin (7#<) sampel 849 atau sampel non$urtikaria g (mean
L2 SD) dianggap tidak mengandung otoantibodi >ungsional" atau sampel tersebut
bukan pasien 8;. ,ersentase pelepasan histamin (7#<) sampel 849 H (mean L 2 SD)
dianggap sebagai pasien 8;.
4.1.1.3 Hail $emerikaan H@A $enelitian $enda/"l"an.
4.1.1.3.1 Perentae $ele$aan /itamin 1NH@3 donor e/at dan H@AE
%erdasarkan kur0a baku dan persamaan linear yang diperoleh" didapatkan 7#< dari 1*
kontrol sehatF (mean ^ SD) X (A.6' ^ 2.2')7. ,ersentase pelepasan histamin pasien urtikariaF
H A.6' L (2 J 2.2') X H 1*.027" dianggap memiliki otoantibodi >ungsional" atau #<.L.
(1
8 A '7>>,@B : *,/0,7
R
*
A +,>.0.
',.+++
'7++
+
7++
,.+++
,.7++
*.+++
+ * . ?
Ser!e#,
L!near 3Ser!e#,5
.ambar 4.3 4ur0a baku dan persamaan linear menggunakan program 2Jcel
,ersamaan linear yang diperoleh adalahF y X $6--.*J L 21+A.6 (<
2
X 0.-'A').
y X kadar (ng?ml) sti#<? spo#<? tot#< (yang dicari)
J X nilai absorben sti#<? spo#<? tot#< (diperoleh dari pembacaan
micro219S.reader).
4.1.1.3.2 Paien "rtikaria dengan H@A E
Tabel 4.1 Drekuensi #<.L berdasarkan jenis kelamin
#<. Seks @otal
5anita pria
/egati>
positi>
16
A
6
(
20
14
@otal 2* 11 *'
Jumlah pasien penelitian pendahuluan dengan #<.L adalah 1' pasien ('1.27).
Tabel 4.2 >rekuensi #<.L berdasarkan kelompok usia
#<.
8sia @otal
1A$2( 2($*' *'$'2 '2$60 60$6A H 6A
/egati>
,ositi>
*
2
0
1
(
'
6
'
6
2
1
1
20
1'
@otal 6 1 10 - + 2 *'
4elompok usia dengan #<. positi> terbanyak adalah kelompok *' ) '2F ' pasien
(11.+(7)" dan kelompok '2 ) 60F ' pasien (11.+(7).
(2
4.1.2 Pemerikaan A44T
@eknik .SS@ yang dihasilkan pada penelitian pendahuluan adalah teknik yang
memperhitungkan perbedaan diameter weal serum$weal salin pada 0 menit" selain perbedaan
diameter weal serum$weal salin pada *0 menit dan perubahan warna weal serum pada *0
menit. ,enambahan parameter pada 0 menit" menghasilkan Sn dan Sp yang lebih baik
daripada teknik .SS@ yang sudah ada. @eknik .SS@ tersebut diperoleh setelah melalui tahap
pemeriksaan sebagai berikut.
4.1.2.1 Ta/a$an $emerikaan $engembangan A44T bar".
4.1.2.1.1 4n dan 4$ A44T $eneliti ebel"mn'a.
Tabel 4.3 Sn dan Sp .SS@
AU6 4.E. $ 2,N 6.*. 4n 4$ EPF +PF EL@ +L@ E!i.
DL
.ltmann 0.600 0.102 1.0 0.*2' ) 0.(+( 100 0 21.6 1.0
.sero 0.600 0.102 1.0 0.*2' ) 0.(+( 100 0 21.6 1.0
Dagiolo 0.600 0.102 1.0 0.*2' ) 0.(+( 100 0 21.6 1.0
:oryach 0.+1' 0.0-* 0.0* 0.6*' ) 0.A66 -2.- 60 **.+ -(.2 1.A( 0.1' (+.(
,latBer 0.((A 0.0-+ 0.10 0.'A( ) 0.A1- +A.( 66 *2.' -0.' 1.+6 0.*- ('.+
4abroe 5.050 5.523 5.54 5.,20 O 5.8,5 01.4 05 32., 82.2 2.38 5.41 05.-
@oubi 0.626 0.626 0.A0 0.*'+ ) 0.(-A 60 66 2*.* A0.1 1.11 0.-1 62.-
Keterangan ingkatan.
.8&F area under the +eciever >perating Characteristic (<;&) curve
S.2.F standard error
pF nilai kemaknaan pada 0.06
&.9.F con(idence interval
,RF predictive value
(*
1<F likelihood ratio
2>is.DJF e>isiensi diagnostik (akurasi)
,emeriksaan .SS@ metode Sabroe menghasilkan SnF +1.'7 dan SpF +07 yang lebih
baik dari metode peneliti yang lain (.8&F 0.+0+" L,RF *-.67" $,RF A-.-7" e>isiensi DJF
+0.67)" disusul metode :ory dengan SnF -2.-7 dan SpF 607 (.8&F 0.+1'" L,RF **.+7"
$,RF -(.27" e>isiensi DJF (+.(7).
4.1.2.1.2 Pemerikaan $arameter 'ang menent"kan $oiti)ita A44T
Tabel 4.4 Sn dan Sp .SS@ berdasarkan $arameter $erbedaan diameter weal akibat
serum$weal akibat salin pada *0 menit (0.6" 1.0" 1.6" 2.0" dan 2.6 mm).

Parameter
diameter
AU6 4.E. $ 2,N 6.*. 4n 4$ EPF +PF EL@ +L@ E!i.
DL
lowe
r
upper
S*0u0.6 0.600 0.102 1.00 0.600 0.+00 100 0 21.6 1.0
S*0u1.0 0.'A- 0.102 0.-1( 0.2A- 0.(-0 -2.- 6 21.6 1.0 '1.2
S*0u1.6 0.61' 0.102 0.AA- 0.*16 0.+1* -2.- 10 22 A*.( 1.0* 0.+1 ''.1
435"2.5 5.-82 0.0-1 5.5-4 5.,11 5.8-8 22.2 4, 31.- 2,.8 1.-2 5.1- -4.0
S*0u2.6 0.('( 0.0-A 0.161 0.'66 0.A*A ('.* (6 **.6 A(.- 1.A' 0.66 ('.+
,erbedaan diameter weal akibat serum$weal akibat salin (2.0 mm) pada *0 menit
(S*0u2.0)" menghasilkan SnF -2.-7 dan SpF '67 (.8& X 0.(A-" L,RF *1.(7" $,RF
-6.A7" e>isiensi DJF ('.+7)" disusul berturut$turut S*0u2.6 dengan SnF ('.*7 dan
SpF (67 (.8& X 0.('(" L,RF **.67" $,RF A(.-7" e>isiensi DJF ('.+7)" dan S*0u1.6
dengan SnF -2.-7 dan SpF 107 (.8& X 0.61'" L,RF 227" $,RF A*.(7" e>isiensi DJF
''.17).
('
Tabel 4., Sn dan Sp .SS@ berdasarkan Makt" $emba(aan (20" *0" dan '0 menit)
perbedaan diameter weal akibat serum$weal akibat salin (1.6 mm dan 2.0 mm).
Parameter
Makt"
AU6 4.E. $ 2,N 6.*. 4n 4$ EPF +PF EL@ +L@ E!i.
DL
lower upper
435"2.5 5.-8 5.52 5.5- 5.,11 5.8-8 22.2 4, 31.- 2,.8 1.-2 5.1- -4.0
S20u2.0 0.'A 0.10 0.AA 0.2A( 0.(-( 6+.1 '0 22.+ +-.* 1.0+ 0.-6 '+
S'0u2.0 0.'1 0.10 0.'0 0.21+ 0.(12 '2.- '0 2A.1 A*.( 1.'* 0.+1 '1.1
S*0u1.6 0.61 0.10 0.AA 0.*16 0.+1* 22.2 15 22 A*.( 1.0* 0.+1 44.1
Sensiti0itas dan Sp .SS@ berdasarkan perbedaan diameter weal akibat serum$weal
akibat salin (2.0 mm) pada pembacaan *0 menit (S*0u2.0)" menghasilkan SnF -2.-7
dan SpF '67 (.8& X 0.(A-" L,RF *1.(7" $,RF -6.A7" e>isiensi DJF ('.+7)" lebih
baik daripada pembacaan pada 20 menit dan '0 menit. ,ada pembacaan 20 (S20u2.0)
Sn dan Sp yang diperoleh adalah 6+.17 dan '07 (.8&F 0.'A" L,RF 22.+7" $,RF
+-.*7" e>isiensi DJF '+7)" dan pada '0 menit (S'0u2.0) diperoleh SnF '2.-7 dan SpF
'07 (.8&F 0.'1" L,RF 2A.17" $,RF A*.(7" e>isiensi DJF '1.17).
Tabel 4.- Sn dan Sp .SS@ berdasarkan $arameter $er"ba/an Marna weal akibat
serum pada *0 menit

Parameter
Marna
AU6 4.E. $ 2,N 6.*. 4n 4$ EPF +PF EL@ +L@ E!i.
DL lowe
r
upper
rs0 0.60 0.10 1.0 0.* 0.+ 100 0 21.6 1.0
rs1 0.(+ 0.0- 0.0A 0.'- 0.A( A6.
+
60 *2.0 -2.+ 1.+1 0.2- ('.+
r2 5.04 5.52 5.51 5.,0 5.22 08.
-
05 41.8 22.3 2.-2 5.31 03.,
,arameter perubahan warna weal serum (merah) pada *0 menit (rs2) menghasilkan
SnF +A.(7 dan SpF +07 (.8& X 0.+'*" L,RF '1.A7" $,RF -2.*7" e>isiensi DJF
+*.67)" lebih baik daripada parameter rs1 yang menghasilkan SnF A6.+7 dan SpF
607 (.8& X 0.(+-" L,RF *27" $,RF -2.+7" e>isiensi DJF ('.+7).
(6
Tabel 4.0 Sn dan Sp .SS@ berdasarkan parameter perbedaan luas (lare akibat
serum$luas (lare akibat salin pada *0 menit.
,arameter
luas (lare
.8& S.27 p Sn Sp -67 &.9.
lowe
r
uppe
r
1>h1-0
1> H60
0.(*(
0.6*-
0.0--
0.101
0.1A'
0.+00
6+.17
-2.-7
+07
167
0.''2
0.*'2
0.A2-
0.+*+
,arameter perbedaan luas (lare akibat serum$luas (lare akibat salin pada *0 menit h
1-0 mm
2
" menghasilkan Sn dan Sp 6+.1 dan +07" dengan nilai .8& 0.(*(. ,ada
perbedaan luas >lare serum$salin pada *0 menit H 60 mm2" diperoleh Sn -2.-7 dan
Sp 167 (.8& X 0.6*-).
Tabel 4.8 Sn dan Sp .SS@ berdasarkan parameter perbedaan diameter weal akibat
serum$weal akibat histamin pada *0 menit.
,arameter
diameter
histamin
.8& S.2. p -67&.9. Sn Sp
lowe
r
uppe
r
Sdsh*0u1.6 0.(2- 0.0-( 0.20A 0.'*- 0.A1A A6.+7 '07
Sdsh*0u2.0 0.(1A 0.0-A 0.2'A 0.'2( 0.A0- +A.(7 '67
Sdsh*0u2.6 0.6A2 0.100 0.'21 0.*A( 0.++A +1.'7 '67
Sdsh*0u*.0 0.6A2 0.100 0.'21 0.*A( 0.++A +1.'7 '67
Sdsh*0u*.6 0.6A2 0.100 0.'21 0.*A( 0.++A +1.'7 '67
Sdsh*0u'.0 0.(0+ 0.0-- 0.2-' 0.'1* 0.A01 +1.'7 607
4d/35"4., 5.-01 5.52- 5.523 5.483 5.8-5 -4.3N 05N
,arameter perbedaan weal akibat serum$weal akibat histamin ('.6 mm) pada *0 menit
(Sdsh*0u'.6)" menghasilkan SnF ('.*7 dan SpF +07 (.8& X 0.(+1" -67 &.9.F 0.'A*
) 0.A(0)" dan parameter perbedaan diameter weal akibat serum$weal akibat histamin
(1.6 mm) pada *0 menit (Sdsh*0u1.6) menghasilkan SnF A6.+7 dan SpF '07 (.8& X
0.(2-" -67 &.9.F 0.'*- ) 0.A1A).
((
Tabel 4.2 Sn dan Sp .SS@ berdasarkan kombinai $arameter weal serum" warna
weal serum" dan luas (lare.
Kombinai
$arameter
AU6 4.E. $ 2,N 6.*. 4n 4$ EPF +PF EL@ +L@ E!i.
DL
lower upper
435"2.5r2 5.08 5.58 5.55- 5.-14 5.2,5 01.
4
8, ,-.
-
21.
-
4.0- 5.34 02.4
Sdsh*0u'.6
rs2
0.(A 0.0- 0.0(' 0.'-+ 0.AA2 '2.
-
-6 +0.
1
A6.
-
A.6+ 0.(0 +*.6
Sdsh*0u'.6
rs1
0.(+ 0.0- 0.0A( 0.'A* 0.A(+ 60 A6
Sdsg*0u2.0
>60
0.(+ 0.0- 0.0A0 0.'-( 0.A(1 A6.
+
60
Sdsg*0u1.6
>60
0.62 0.10 0.+A0 0.**0 0.+2+ A6.
+
20
4eteranganF
S*0u2.0rs2F kombinasi parameter perbedaan diameter weal akibat serum$weal akibat
salin (2.0 mm) dan warna weal akibat serum (red) pada pembacaan *0 menit.
Sdsh*0u'.6rs2F kombinasi parameter perbedaan diameter weal akibat serum$weal
akibat histamin ('.6 mm) dan parameter warna weal serum (red) pada *0 menit.
Sdsg*0u2.0>60F kombinasi parameter perbedaan diameter weal akibat serum$weal
akibat salin (2.0 mm) dan parameter perbedaan luas (lare akibat serum$luas (lare
akibat salin (60 mm2) pada pembacaan *0 menit.
4.1.2.1.3 Pemerikaan $arameter 'ang ebel"mn'a bel"m diteliti.
Tabel 4.15 Sn dan Sp .SS@ berdasarkan perbedaan parameter diameter weal akibat
serum$weal akibat salin pada 0 dan *0 menit.
(+
Parameter
& menit
AU6 4.E. $ 2,N 6.*. 4n 4$ EPF +PF EL@ +L@ E!i.
DL
lowe
r
upper
4dg535
"1.,
5.05
4
5.5
2
5.5
4
5.,2- 5.882 8,.
0
,, 34.3 23.
4
1.2 5.2
-
-0.-
Sdsg0*0
u2.0
0.(6
+
0.0
-
0.1
2
0.'(- 0.A'( +1.
'
(0 *2.A AA.
6
1.+- 0.'
A
('.+
,arameter tunggal" yaitu perbedaan diameter weal akibat serum$weal akibat salin
pada 0 dan *0 menit (1.6 mm) menghasilkan Sn dan Sp masing$masing A6.+7 dan
667 (.8<F 0.+0'" L,RF *'.*7" $,RF -*.'7" e>isiensi DJF (+.(7).
4.1.2.1.4 4arana diagnotik A44T teoritik bar"
Tabel 4.11 Sn dan Sp .SS@ berdasarkan kombinasi parameter Sdsg0*0u1.6 $ rs2
(S0*0u1.6rs2)" S*0u2.0rs2" dan S*0u1.6rs2.
A44T
teoritik bar"
AU@ 4.E. $ 4n 4$ 2,N 6.*. EPF +PF EL@ +L@ E!i.
DL
1 4535"1.,r2 5.8- 0.0
+
0.000 08.
-
2, 0.+2( 1.00- 81.1 24.- 1,.0
1
5.23 88.2
2 S*0u2.0rs2 0.+A 0.0
A
0.00( +1.
'
A6 0.(1' 0.-60 6(.( -1.( '.+( 0.*' +-.'
* S*0u1.6rs2 0.+0 0.0
-
0.0'2 +1.
'
+0 0.626 0.AA- *-.6 A-.- 2.*A 0.'1 +0.(
,emeriksaan .SS@ berdasarkan kombinasi parameter perbedaan diameter weal
akibat serum$weal akibat salin (H 1.6 mm) pada 0 dan *0 menit" dan parameter warna
weal akibat serum merah pada *0 menit (4535"1.,r2) menghasilkan SnF +A.(7 dan
SpF -67 (.8<F 0.A(A" L,RF A1.17" $,RF -'.(7" e>is. DJF AA.27)" disusul dengan
S*0u2.0rs2 (+1.'7 dan A67" .8<F 0.+A2" L,RF 6(.(7" $,RF -1.(7" e>is. DJF
+-.'7)" dan S*0u1.6rs2 (+1.' dan +07" .8& X 0.+0+" L,RF *-.67" $,RF A-.-7"
e>is. DJF +0.(7).
,enjelasan.
(A
S0*01.6rs2 adalah kombinasi parameter perbedaan diameter weal akibat serum$weal
akibat salin (1.6 mm) pada 0 dan *0 menit dan parameter warna weal akibat serum
(merah).
S*0u2.0rs2 adalah kombinasi parameter perbedaan diameter weal akibat serum$weal
akibat salin (2.0 mm) pada *0 menit dan parameter warna weal akibat serum
(merah).
S*0u1.6rs2 adalah kombinasi parameter perbedaan diameter weal akibat serum$weal
akibat salin (1.6 mm) pada *0 menit dan parameter warna weal akibat serum (merah).
4.1.2.1., 4arana diagnotik A44T o$eraional bar" 'ang ditem"kan.
Sarana diagnostik .SS@ operasional baru yang ditemukan ialah S0*0u1.6rs2" karena jauh
lebih baik daripada S*0u2.0rs2 dan S*0u1.6rs2 (nilai .8&" L,R" $,R" dan e>is. DJ lebih
baik).
4.1.2.2 Proed"r $emerikaan arana diagnotik A44T o$eraional bar".
4.1.2.2.1 Alat dan ba/an $emerikaan A44TC
o semprit dan jarum suntik disposable 1 m1" 6 m1" dan 10 m1"
o tabung gelas steril tanpa antikoagulan berukuran 10 m1 (1(J100 mm)"
o disposable pipette untuk mengambil serum ( 1 m1" dan * m1)"
o tabung plastik untuk pengiriman sampel serum ((ree)ing tube)"
o peralatan pendingin (&ool %oJ /esco) untuk pengiriman sampel serum"
o alat sentri>us (DS$1ab" 16ml J A DS&$16A@)"
o serum pasien dan serum kontrol non$urtikaria"
o larutan histamin 10 Tg?m1"
o larutan salin 0.-7 steril dan kapas alkohol"
o timer,
(-
o alat pengukur diameter reaksi" dan
o kaca pembesar.
.ambar 4.4 ,eralatan pemeriksaan .SS@.
4.1.2.2.2 Teknik A44T o$eraional bar"
@eknik ini akan dipakai pada penelitian utama disertasi ini.
,enelitian ini menggunakan teknik dan kriteria positi> dari .SS@ operasional baru.
@eknik .SS@ operasional baru memperhitungkan perbedaan diameter weal serum$
weal salin pada 0 menit" selain perbedaan diameter weal serum$weal salin pada *0
menit" dan perubahan warna weal serum pada *0 menit. ,erbedaan diameter weal
akibat serum dan weal akibat salin dihitung dengan >ormula
( *0 0) ( *0 0)
2
's 's 'g 'g + +
.
Syarat uji .SS@F bebas antihistamin * hari (doJepin 2 minggu)" imunosupresi> 1
bulan" dan pengambilan sampel dilaksanakan waktu klinis akti>.
+0
Darah pasien yang diperoleh dari vena antecubiti dimasukkan ke dalam tabung gelas
steril tanpa clotting accelerator (Racutainer" %ecton Dickinson" 8S.)" biarkan
membeku pada suhu ruangan selama *0 menit.
Selanjutnya serum dipisah?diperoleh dengan sentri>ugasi memakai sentri>us DS 1ab."
DS&$16A@ (radius rotorF +.166 cm) pada 2600 rpm selama 16 menit. Serum yang
diperoleh" ditampung dalam beberapa ali4uots" untuk pemeriksaan .SS@ dan #<..
4ecepatan rotasi per menit sebesar 2600 rpm diperoleh dengan memasukkan nilai
600 g (yang dipakai Sabroe) dan radius rotor (dari alat sentri>us yang digunakan
dalam penelitian)F +.166 cm dalam program yang telah tersedia (DJ% 1abcare
200().
A-
Serum untuk pemeriksaan #<. di Surabaya yang belum dikirim" disimpan
pada $20
0
&. Serum dikirim memakai Cool 5o! berisi dr# ice melalui udara.
Sebanyak 60 T1 serum otolog segar" 60T1 salin steril (0.-7)" dan histamin
(10Tg?m1)" disuntikkan intradermal menggunakan semprit tuberkulin yang berbeda"
dengan jarak 6 cm antar suntikan" pada bagian 0olar lengan bawah yang telah bebas
lesi urtika minimal 2' jam.
,emeriksaan .SS@ baru yang dipakai peneliti disebut positi> bila kombinasi
perbedaan diameter weal akibat serum$diameter weal akibat salin pada 0 dan *0
menit H 1.6 mm dan warna weal akibat serum sama dengan warna weal akibat
histamin pada *0 menit (merah).
+1
.ambar 4., ,emeriksaan .SS@
4.2 Hail $enelitian "tama
4.2.1 Ditrib"i "ia dan Deni kelamin
Jumlah pasien 849 pada penelitian ini ialah +- orang" terdiri dari 6* pasien wanita
((+.17) dan 2( pasien pria (*2.-7)" usia termuda 1A tahun dan tertua (- tahun.
+2
,engelompokan usia penderita ke dalam inter0al dan jumlah kelas" menggunakan >ormula
Sturges" metode eksklusi> (nilai 0ariabel usiaF pecahan" sehingga pasien yang berusia 26a
dimasukkan kelompok 26 $ *2). ,ada tabel di bawah" inter0al kelas X + dan jumlah kelas X +.
Tabel 4.12 Drekuensi usia dan jenis kelamin pasien 849 rawat jalan pada poliklinik
9444" <S8, =# tahun 200+.
8sia
pasien
Drekuensi
5anita pria
@otal ,ersentase
1A ) 26
26 ) *2
*2 ) *-
*- ) '(
'( ) 6*
6* ) (0
H (0
16 +
2 0
+ *
+ (
21 '
0 *
1 *
22
2
10
1*
26
*
'
2+.A
2.6
12.+
1(.6
*1.(
*.A
6.1
@otal 6* 2(
((+.17) (*2.-7)
+- 100
(1007)
4elompok usia terbanyak adalah kelompok '( ) 6* (26 pasienM *1.(7)" disusul
kelompok 1A ) 26 (22 pasien" 2+.A7). ,asien wanita (6* pasien" (+.17)" dua kali
lebih banyak dari pasien pria (2( pasien" *2.-7).
4.2.2 Hail $emerikaan H@A
4.2.2.1 Perentae $ele$aan /itamin 1NH@3 donor e/at dan $aien UK* dengan
otoantibodi $oiti!.
,ada penelitian ini" jumlah sampel serum non$urtikaria untuk penentuan cut&o(( #<. L?$
adalah 1* orang. ,ersamaan linear yang diperoleh adalah F y X $ ('1.'J L 1--'.'(<
2
X
0.A**1) (lihat 1ampiran 1*). %erdasarkan persamaan tersebut" didapatkan 7#< donor
sehat (mean ^ SD) sebesar F 10.A1 ^ 0.+2. ,asien urtikaria yang memiliki 7#< H (10.A1 L 2
J 0.+2) atau H 12.267" dianggap memiliki otoantibodi >ungsional" atau disebut #<. L.
+*
4.2.2.2 7rek"eni H@A.
Sampel penelitian ini berjumlah +- pasien" terdiri dari '+ pasien 84 dan *2 pasien 849.
,asien 84 yang menghasilkan #<. positi> sebanyak ( pasien ((?'+ J 1007 X 12.+7" dan
pasien 849 yang menghasilkan #<. positi> sebanyak 11 pasien (11?*2 J 1007 X *'.*7.
%erdasarkan jumlah keseluruhan pasien penelitian tahap 2 (+- pasien)" pasien yang
menghasilkan #<. positi> adalah 1+ pasien (1+?+- J 1007 X 21.67)" dan sisanya ((2
pasien) dengan #<. negati> ((2?+- J 1007 X +A.67) (lihat 1ampiran 11).
Tabel 4.13 Drekuensi #<. positi> menurut kelompok usia sampel penelitian pada
,oliklinik 9444 <S8, =# ,alembang pada tahun 200+.
8sia #<.
negati> positi> @otal
1A ) 26 1A ' (6.0(7) 22
26 ) *2 2 0 2
*2 ) *- - 1 10
*- ) '( - ' (6.0(7) 1*
'( ) 6* 21 ' (6.0(7) 26
6* ) (0 1 2 *
H (0 2 2 '
@otal (2 1+ +-
+A.67 21.67 1007
4elompok usia dengan >rekuensi #<.L terbanyak adalah kelompok 1A ) 26"
kelompok *- ) '(" dan kelompok '( ) 6*" masing$masing ' pasien (6.0(7).
+'
Tabel 4.14 Drekuensi #<. positi> menurut jenis kelamin sampel penelitian pada
,oliklinik 9444 <S8, =# ,alembang pada tahun 200+
Jenis kelamin #<.
negati> positi> @otal
5anita '' - 6*
,ria 1A A 2(
@otal (2 1+ +-
,asien wanita dengan #<. positi> sebesar -?+- J 1007 X 11.'7" dan pasien pria
dengan #<. positi> sebesar A?+- J 1007 X 10.17.
4.2.3 Hail $emerikaan A44T bar"
Tabel 4.1, Drekuensi .SS@ menurut kelompok usia sampel penelitian pada
,oliklinik 9444" <S8, =# ,alembang pada tahun 200+.
8sia .SS@ baru
negati> positi> @otal
1A ) 26 1+ 6 22
26 ) *2 2 0 2
*2 ) *- + * 10
*- ) '( 10 * 1*
'( ) 6* 21 ' 26
6* ) (0 2 1 *
H (0 2 2 '
@otal (1 1A +-
,ersentase ++.27 22.A7 1007
Jumlah pasien penelitian ini adalah +- pasien. Sebanyak 1A pasien (22.A7)
memberikan .SS@ baru positi>" dan sisanya sebanyak (1 pasien (++.27) memberikan
.SS@ baru negati>.
Tabel 4.1- Drekuensi .SS@ positi> menurut jenis kelamin sampel penelitian pada
,oliklinik 9444" <S8, =#" ,alembang pada tahun 200+
Jenis kelamin .SS@ baru
negati> positi> @otal
wanita '2 11 6*
pria 1- + 2(
+6
@otal (1 1A +-
,asein wanita (6* pasien) dengan .SS@ positi> adalah 11 pasien atau 11?+- J 1007 X
1*.-7" dan pasien pria (2( pasien) dengan .SS@ positi> adalah + pasien atau +?+- J
1007 X A.-7.
Tabel 4.10 Sensiti0itas dan Sp .SS@ baru (S0*0u1.6rs2)" S*0u1.6rs2 (cara Sabroe)"
dan S*0u2.0rs2" dengan baku emas #<., memakai program S,SS dan =ed&alc.
AU6 4.E. $ 2,N 6.*. 4n 4$ EPF +PF EL@ +L@ E!i.
DL loMer U$$er
4535"1.
,
r2
5.88 5.5
,
5.55
5
5.0-0 5.222 82.
4
23.
,
00.8 2,.
1
12.0
-
5.1
2
21.1
435"1.,
r2
5.05 5.5
0
5.55
2
5.,-- 5.8,5 05.
-
01.
5
45 82.
8
2.43 5.4
1
05.2
435"2.5
r2
5.-8 5.5
0
5.52
3
5.,35 5.833 ,8.
8
00.
4
41.- 80.
3
2.-1 5.,
3
03.4
Sensiti0itas dan spesi>isitas .SS@ baru adalah A2.'7 dan -*.67 (.8& X 0.AA0" L,RF
++.A" $,RF -6.1" L1<F 12.+(" e>is.DJF -1.1)M S*0u1.6rs2" +0.(7 dan +17 (.8& X
0.+0A" L,RF 'A.0" $,RF A-.A" L1<F 2.'*" e>is.DJF +0.-7)" dan S*0u2.0rs2" 6A.A7 dan
++.'7 (.8& X 0.('A" L,RF '1.(" $,RF A+.*" L1<F 2.(1" e>is.DJF +*.').
4eteranganF
4535"1.,r2F Sarana DJ .SS@ baru" yang memakai kombinasi parameter perbedaan
diameter weal akibat serum$weal akibat salin pada 0 dan *0 menit" dan warna weal
serum pada *0 menit.
S*0u1.6rs2 dan S*0u2.0rs2F adalah sarana DJ .SS@ teoritis baru yang ditemukan
pada penelitian pendahuluan.
.8&F area under the receiver operating characteristic (<;&) curve
+(
S.2.F standard error
&.9.F con(ident interval
SnF sensiti0itas" SpF spesi>isitas
,RF predictive value (nilai ramal).
1<F likelihood ratio
2>is.DJ (akurasi DJ)F e>isiensi diagnosis.

Tabel 4.18 #asil uji beda proporsi antara Sn .SS@ baru dan Sn S*0u1.6rs2 (.SS@
Sabroe)" memakai program 2pi&alc.
Pro$ori 4n dan bear
am$el
P score 2,N 6.* $ O value
1one - sided3
$ O value
1two - sided3
.SS@ baru
(A2.'7" +-)
0s
S*0u1.6rs2
(+0.(7" +-)
1.6( 11.A7 0.06 0.11
4eterangan.
8ji beda proporsi antara Sn .SS@ baru dan Sn S*0u1.6rs2 (skor 3F 1.6(" p X 0.06)"
menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna.
Tabel 4.12 #asil uji beda proporsi antara Sp .SS@ baru dan Sp S*0u1.6rs2 (.SS@
Sabroe).
Pro$ori 4$ dan
bear am$el
P score 2,N 6.*. $ O value
1one sided3
$ O value
1two sided3
.SS@ baru
(-*.67" +-)
0s 3.42 22.,N 5.555 5.555
++
S*0u1.6rs2
(+17" +-)
8ji beda antara Sp .SS@ baru dan Sp .SS@ Sabroe penelitian (skor 3 X *.'-" p g
0.000)" menunjukkan ada perbedaan bermakna.
4.2.4 Hail $emerikaan data klini
4.2.4.1 Hail analii regrei logitik maDem"k data klini
Tabel 4.25 >dds ratio
Fariabel
$rediktor
B 4.E. :ald !
2
$ &dd
ratio
2,N 6.*.
"owe
r
#pper
DiamJmh8rtika $
0.'6+
0.(0- 0.6AA 0.''* 0.(2+ 0.1-0 2.0(+
1ama8rtika 0.12- 0.0'1 10.02- 0.002 1.1*A 1.060 1.2*2
:atal 1.A*- 0.-A' *.'-' 0.0(2 (.2A- 0.-16 '*.2'2
Distr8rtika 0.''* 0.*6- 1.62- 0.21( 1.66A 0.++1 *.1'(
.ngioedema $
0.*-(
0.''' 0.+-6 0.*+2 0.(+* 0.2A2 1.(0+
4eluhSistem $
0.220
0.2*' 0.AAA 0.*'( 0.A02 0.60A 1.2(A
,emicu8rtika 0.02* 0.*1* 0.00( 0.-'1 1.02' 0.66' 1.A-0
Daktor.topi 0.'*6 0.A-( 0.2*( 0.(2+ 1.6'( 0.2(+ A.-'1
4olom S.2. tidak terdapat nilai H 2. #asil analisis regresi logistik majemuk
menunjukkan 0ariabel prediktor lama urtika menghasilkan p g 0.06 (5ald C
2
X
10.02-" odds ratio 1.1*A" -67 &.9.F 1.060 ) 1.2*2)" sedangkan 0ariabel lain
menghasilkan p I 0.06. pada kolom ;dds ratio" nilai odds ratio tiap 0ariabel"
semuanya terdapat dalam rentang nilai lower dan upper dari -67 &.9.
4.2.4.2 Hail $emerikaan )ariabel deraDat ke$ara/an klini
4.2.4.2.1 4eniti)ita, $ei!iita, dan nilai cut-off )ariabel deraDat ke$ara/an klini.
+A
Rariabel derajat keparahan klinis merupakan penjumlahan + nilai 0ariabelF diameter
dan jumlah urtika" keluhan gatal" distribusi lesi urtika" angioedema" pemicu urtika" >aktor
atopi" dan keluhan sistemik. <entang skor derajat keparahan klinis adalah * $ 2'.
Tabel 4.21 Sn dan Sp 0ariabel derajat keparahan klinis (skala kontinyu) dengan baku
emas #<..
Cut
&o((
Sn Sp .8& S.2. p -67 &.9. L,R $,R L1< $1< 2>is
DJ uppe
r
lowe
r
12 +(.6 +'.2 0.+6
*
0.06
A
0.00
1
0.(20 0.AA+ ''.A -2.0 2.-( 0.*2 +'.+
Sensiti0itas dan Sp 0ariabel derajat keparahan klinis pada cut&o(( 12" ialah +(.67 dan
+'.27 (.8& X 0.+6*" p X 0.001" L,RF ''.A7" $,RF -27" e>is.DJF +'.+7).
Tabel 4.22 #asil uji beda proporsi antara Sn 0ariabel derajat keparahan klinis dan Sn
0ariabel .SS@ baru" menggunakan program 2pi&alc2000.
Pro$ori 4n dan bear
am$el
P score $+value
1one-sided3
$+value
1two-sided3
2,N 6.*.
DeraDat ke$ara/an
klini 10-.,N, 02
$aien3
)
A44T bar"
182.4N, 02 $aien3
0.+2 0.2*6 0.'+1 $+.-* to
1-.+*
@idak terdapat perbedaan kemaknaan antara Sn keparahan klinis dan Sn .SS@ baru
(B X 0.+2 (p I 0.06" -67 &.9.F $+.-* sampai 1-.+*)
Tabel 4.23 #asil uji beda proporsi antara Sp 0ariabel keparahan klinis dan Sp
0ariabel .SS@ baru" menggunakan program 2pi&alc2000.
Pro$ori 4$ dan bear P $+value $+value 2,N
+-
am$el score 1one-sided3 1two-sided3 6.*.
4$ ke$ara/an klini
104.2N, 02 $aien3
)
4$ A44T bar" 123.,N,
02 $aien3
3.58 5.551 5.552 -.2- to
31.-4
@erdapat perbedaan kemaknaan antara Sp derajat keparahan klinis dan Sp .SS@ (B X
*.0A (p g 0.06" -67 &.9.F (.-( sampai *1.(').
4.2.4.2.2 Korelai deraDat ke$ara/an klini dan arana diagnotik 4535"1.,r2.
Tabel 4.24 @es 4olmogoro0$Smirno0 (one&sample)
4535"1.,r2 DerKe$Klin
N 02 02
$ormal Parameters %ean
4.D.
5.23
5.422
11.,8
4.,03
%ost &'tereme ()solute 5.400 5.154
*ifferences Positive
$egative
5.400
+5.22,
5.154
+5.503
Kolmogoro)+4mirno) P 4.244 5.222
A'm$. 4ig. 1two-tailed3 5.555 5.3-4
8ji 4olmogoro0$Smirno0 (one sample) terhadap 0ariabel S0*0u1.6rs2 dan
Der4ep4lin" menunjukkan 0ariabel S0*0u1.6rs2 tidak terdistribusi normal (p g 0.06)"
dan 0ariabel Derkep4lin terdistribusi normal (p H 0.06).
Tabel 4.2, .nalisis korelasi Spearman
4$earman> r/o Derke$Klin 4535"1.,r2
DerKe$Klin Koe!. korelai
$ 1+-tailed3
N
1,555
.
02
,,52QQ
,555
02
4535"1.,r2 Koe!. Korelai
$ 1+-tailed3
N
,,52QQ
,555
02
1,555
.
02
A0
QQ. Korelai bermakna $ada le)el 5.51 1+-tailed3.
@erdapat korelasi positi> yang bermakna antara derajat keparahan klinis dan
S0*0u1.6rs2 (koe>isien korelasiF 0.60-" /F +-).
BAB ,.
PEABAHA4AN
,.1 Tem"an arana diagnotik A44T bar".
Sarana diagnostik .SS@ operasional baru yang ditemukan pada penelitian pendahuluan
dan dipakai pada penelitian utama ini adalah penambahan parameter perbedaan diameter
weal serum$weal salin pada 0 menit" selain parameter perbedaan diameter weal serum$weal
salin pada *0 menit dan parameter perubahan warna weal serum pada *0 menit
(S0*0u1.6rs2). ,eneliti menggunakan kriteria perbedaan diameter weal akibat serum$weal
A1
akibat salin menggunakan >ormulaF [(ds*0 L ds0) ) (dg*0 L dg0)\?2" atau disingkat Sdsg0*0.
Dormula di atas" berbeda dari >ormula perbedaan diameter yang digunakan SabroeF (ds*0 )
dg*0)?2" atau disingkat Sdsg*0.
Sensiti0itas dan Sp parameter kombinasi S0*0u1.6rs2 yang ditemukan peneliti pada
penelitian pendahuluan" menghasilkan Sn dan Sp (+A.(7 dan -67" .8& X0.A(A" L,R
A1.17" e>is.DJF AA.27)" lebih tinggi daripada hasil penelitian memakai metode Sabroe"
S*0u1.6rs2 (+1.'7 dan +07" .8& X 0.+0+" L,RF *-.67" e>is.DJF +0.(7).
,ada penelitian utama ini" sarana diagnostik .SS@ yang diteliti adalah Qsarana diagnostik
.SS@ baruK yang diperoleh pada penelitian pendahuluan" yang melibatkan 2 0ariabel" yaituF
0ariabel perbedaan diameter weal serum$weal salin pada 0 dan *0 menit (H 1.6 mm) dan
0ariabel perubahan warna weal serum pada *0 menit (merah). Rariabel tersebut berbeda dari
0ariabel yang digunakan Sabroe et al. 1---" yang tidak memperhitungkan 0ariabel weal
akibat serum dan weal akibat salin pada 0 menit.
4riteria positi0itas .SS@ menggunakan perbedaan diameter weal akibat serum$weal
akibat salin pada 0 dan *0 menit (H 1.6 mm)" dan 0ariabel warna weal akibat serum (merah)
pada *0 menit pada penelitian utama ini" menghasilkan Sn A2.'7 dan Sp -*.67 (.8& X
0.AA0" -67" L,RF ++.A7" e>is.DJF -1.17)" dan hasil .SS@ penelitian berdasarkan metode
Sabroe" menghasilkan Sn +0.(7 dan Sp +17 (.8& X 0.+0A" -67" L,RF '07" e>is.DJF
+0.-7).
,emeriksaan .SS@ baru menghasilkan Sn DJ sebesar A2.'7" menunjukkan bahwa masih
terdapat (alse negative sebesar 1+.(7. ,enyebab (alse negative tersebut dapat terjadi oleh
rendahnya binding capacit# anti$DcE<9G" molekul DcE<9G yang diikat kurang dari 107 dari
A2
total molekul DcE<9G pada membran mastosit" gangguan pada gen yang mengatur akti0itas
histamine /$meth#l trans(erase (#/=@)" dan? atau adanya gene pol#morphism.
8ji beda proporsi menggunakan program 2pi&alc2000" memperoleh hasilF tidak terdapat
perbedaan signi>ikan nilai Sn antara .SS@ baru peneliti dan metode Sabroe (3 X 1.6(" p
(one&tailed) X 0.06" p (two&tailed) X 0.11)" tetapi terdapat perbedaan signi>ikan nilai Sp .SS@
peneliti dan .SS@ metode Sabroe (B X*.'-" p (one&tailed dan two&tailed) g 0.0001). 4etidak
bermaknaan Sn tersebut disebabkan oleh kecilnya perbedaan Sn parameter S0*0u1.6 (SnF
A6.+7) pada .SS@ baru" dan Sn parameter S*0u1.6 (SnF -2.-7) pada .SS@ metode Sabroe"
dan perbedaan yang signi>ikan antara Sp .SS@ peneliti dan Sp meode Sabroe" disebabkan
oleh besarnya perbedaan Sp parameter S0*0u1.6 (667) dan Sp parameter S*0u1.6 (107).
Sensiti0itas dan spesi>isitas .SS@ yang dihasilkan peneliti menggunakan sarana
diagnostik .SS@ baru (A2.'7 dan -*.67)" lebih tinggi dari Sn dan Sp .SS@ yang dihasilkan
Sabroe et al. (1---) ((67 dan A17). ,enelitian yang dilakukan Sabroe et al. (1---)
menyertakan (A pasien 849" menggunakan desain potong lintang" sedang penelitian yang
dilakukan peneliti menggunakan +- pasien 849 dengan desain yang sama. ,erbedaan Sn dan
Sp antara metode Sabroe dan sarana diagnostik .SS@ baru" terjadi bukan karena jumlah
sampel dan desain penelitian" tetapi karena perbedaan dalam kriteria positi0itas .SS@ yang
digunakan (sarana diagnostik baru menggunakan kombinasi perbedaan diameter weal akibat
serum$weal akibat salin pada 0 dan *0 menit" sedangkan Sabroe menggunakan perbedaan
diameter weal akibat serum$weal akibat salin pada *0 menit). :rattan" dalam diskusi
interakti> melalui media elektronik mengakui adanya inkonsistensi dalam pelaksanaan"
interpretasi" dan hasil .SS@ selama ini" dan kriteria perbedaan diameter weal akibat serum
terhadap diameter weal akibat salin tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa walaupun
A*
salin sebagai kontrol negati>" tetap menghasilkan weal? edema. 2dema? weal pada suntikan
salin disebabkan oleh 0olume cairan salin yang disuntikkan" bukan akibat reaksi in>lamasi
seperti halnya reaksi akibat serum. 8lasan tersebut menunjukkan bahwa metode .SS@ baru
yang ditemukan peneliti lebih reliabel dibandingkan dengan hasil .SS@ yang dipakai peneliti
lain sebelumnya.
=etode pemeriksaan .SS@ sebelumnya" menunjukkan bahwa kombinasi Sn dan Sp
terbaik? optimal dihasilkan melalui metode Sabroe (+1.'7 dan +07" .8& I 0.+" &.9.F 0.62+
) 0.A60)" disusul metode :oryachkina (-2.-7 dan 607" .8& g 0.+" &.9.F 0.6*' ) 0.A66)" dan
metode ,latBer (+A.(7 dan 667" .8& g 0.+" &.9.F 0.'A( ) 0.A1-). #asil penelitian .SS@
mengikuti metode Sabroe di atas" berbeda dari Sn dan Sp yang dilaporkan Sabroe et al.
(1---) ((67 dan A17)" sedangkan hasil penelitian .SS@ mengikuti metode :ory" tidak
berbeda dengan yang dilaporkan :oryachkina et al. (2006) ( -07 dan 'A.-7). 4ombinasi
perbedaan diameter weal akibat serum$weal akibat salin dan perbedaan diameter (lare akibat
serum$(lare akibat salin yang digunakan :ory dan @oubi menghasilkan Sn -2.-7 dan Sp 20
) 607" sedangkan kombinasi perbedaan diameter weal akibat serum$weal akibat salin dan
perbedaan warna akibat serum (merah muda)" yang digunakan :rattan dan ,latBer
menghasilkan Sn +1.'7 dan +A.(7 dan Sp 667 dan +07. #al tersebut menunjukkan bahwa
kombinasi perbedaan diameter weal akibat serum$weal akibat salin dan warna weal akibat
serum (merah) menghasilkan penurunan kecil Sn" tetapi meningkatkan Sp secara bermakna.
4riteria positi0itas .SS@ hanya berdasarkan 1 parameter yaitu diameter weal serum" seperti
yang digunakan Dagiolo dan .sero akan menghasilkan Sn 1007 tetapi Sp 07. Demikian
pula" bila kriteria positi0itas .SS@ didasarkan pada perbedaan diameter weal akibat serum$
A'
weal akibat histamin pada *0 menit (.ltman" 200*) akan menghasilkan Sn 1007 sedangkan
Sp 07.
Sensiti0itas dan spesi>isitas perubahan warna weal akibat serum (skin coloured, merah
muda" dan merah)" menunjukkan warna merah (<s2) menghasilkan Sn dan Sn (+A.(7 dan
+07" .8& I 0.+)" disusul warna merah muda (<s1) (A6.+7 dan 607" .8& g 0.+). #asil
tersebut sesuai dengan penelitian Sabroe.
,.2 Tem"an (ara $emerikaan H@A 'ang te$at dan bak".
8paya yang dilakukan pada penelitian pendahuluan telah berhasil mendapatkan cara
melakukan pemeriksaan #<. yang tepat dan standar yang belum pernah dilakukan di
9ndonesia dan yang sangat diperlukan untuk menguji keandalan sarana diagnostik .SS@
baru.
,.2.1 @emuan cara pemisahan sel baso>il dari darah donor sehat.
&ara pemisahan sel baso>il yang didapatkan dan dipakai dalam penelitian adalah metode
de!tran sedimentation memakai larutan dekstran *7 dengan %= 260.000" dan diinkubasi
selama '6 menit pada *+
0
& untuk pemisahan awal plasma (mengandung sel darah putih dan
trombosit) dari sedimen eritrosit. Sentri>ugasi plasma pada 2600 rpm selama 6 menit" akan
mengendapkan sel darah putih (masih mengandung eritrosit) sedangkan trombosit tetap
dalam plasma. ,enambahan amonium klorida ke dalam pelet lekosit" akan melisiskan
eritrosit yang masih tersisa dalam pelet. &ara pemisahan di atas" menghasilkan suspensi
lekosit mengandung sel baso>il 2 J 10
6
sel?m1 yang sesuai untuk pemeriksan #<. memakai
kit 219S. dan suspensi lekosit tersebut bebas eritrosit sehingga menghindarkan terjadi
aglutinasi bila diinkubasi dengan serum dari orang yang berbeda golongan darah.
,.2.2 @emuan cara pemeriksaan inkubasi untuk memperoleh histamin total.
A6
&ara pelepasan histamin total yang dipakai dalam penelitian ialah metode pemanasan
pada A6
0
& selama '0 menit karena menghasilkan nilai absorben dan p# optimal terbaik
dibandingkan dengan metode yang lain (pendidihan" repeated thawing and (ree)ing" dan
penambahan asam perklorat" pemanasan pada (0
0
&)" dan sedikit lebih baik daripada metode
baku ultrasonic disintegrator memakai ice cold :acket.
,.2.3 @emuan cara pemeriksaan persentase pelepasan histamin (7#<) memakai model log&
logit curve (itting7
,enggunaan model log&logit curve (itting sangat diperlukan untuk mendapatkan 7#<
orang normal dan cut&o(( 7#< L?$" sehingga diperoleh 7#< yang dianggap mengandung
otoantibodi >ungsional (#<.L).
&ara pemeriksaan 7#< yang didapatkan pada penelitian ini meliputi beberapa tahap
berurutan" sebagai berikut.
1. =engkon0ersikan nilai absorben histamin baku ke dalam 7%?%0 " dilanjutkan
dengan mentrans>ormasikan nilai 7%?%0 ke dalam >ungsi logit.
=entrans>ormasikan kadar histamin baku ke dalam log&onc.
2. /ilai logit dan log&onc selanjutnya diproses memakai program 2Jcel untuk
membuat kur0a baku. 4ur0a baku dipakai untuk menghasilkan persamaan linear.
*. ,ersamaan linear dipakai untuk menghitung kadar sti#<" spo#<" dan tot#<
donor sehat. Selanjutnya kadar yang diperoleh dipakai untuk menghitung 7#<
(mean^SD) donor sehat. ,enghitungan 7#< pasien 849 dilakukan dengan cara
yang sama dengan penghitungan 7#< donor sehat.
'. ,ersentase pelepasan histamin sebesar H mean L 2 SD menunjukkan serum pasien
849 mengandung otoantibodi >ungsional" atau dikatakan hasil #<.F L.
A(
,.3 Tem"an cut-off deraDat ke$ara/an klini.
,enelitian ini mendapatkan nilai cut&o(( derajat keparahan klinis sebesar 12 pada Sn dan
Sp 0ariabel derajat keparahan klinis yang optimal" yaitu +(.67 dan +'.27 (.8& X 0.A0*"
L,RF ''.A7" L1<F 2.-(" e>is. DJF +'.+7).
8ji beda proporsi antara Sn 0ariabel derajat keparahan klinis dan Sn 0ariabel .SS@ baru"
menghasilkan nilai B X 0.+2" p I 0"06. 8ji beda proporsi antara Sp 0ariabel derajat keparahan
klinis dan Sp 0ariabel .SS@ baru" menghasilkan nilai B X *.0A" p g 0.06. #asil uji beda
proporsi di atas" menunjukkan Sn 0ariabel derajat keparahan klinis tidak berbeda dengan
0ariabel .SS@ baru" tetapi berbeda secara bermakna dalam Sp dengan 0ariabel .SS@ baru.
,.4 *ndikator Keber/ailan Penelitian
,.4.1 4arana diagnotik A44T bar"
Sarana diagnostik .SS@ baru menghasilkan Sn sebesar A2.'7 dan Sp sebesar -*.67.
.pabila hasil tersebut dibandingkan dengan Sn dan Sp metode Sabroe hasil penelitian ini
(+1.'7 dan +07)" maupun hasil Sabroe sendiri ((67 dan A17)" terdapat peningkatan Sn dan
Sp sarana diagnostik .SS@ yang signi>ikan" sehingga kesalahan mendeteksi pasien 8;
maupun kesalahan mendeteksi pasien yang bukan 8; akan makin kecil. Dampaknya bagi
pasien" adalah makin banyak pasien 8; dapat segera diobati" dan makin kecil kemungkinan
pemberian obat spesialistik terhadap pasien uritkaria yang bukan 8;.
Tabel ,.1 Perbedaan A44T bar" dan A44T 4abroe
Pemia/an
er"m
te Parameter 'g
dinilai
Kriteria A44T E ,utput ,utcome
,enelitian
ini
Darah vena
antecubiti dlm
tabung gelas
steril tanpa
clot7 3cceler7"
diamkan suhu
kamar *0 men.
Sentri>us 2,55
a). 60 T1
serum" 60T1
salin (0.-7)"
histamin
(10Tg?m1)"
intradermal
0olar lengan
bawah"
a). Diameter weal
salin pd 5 dan *0
men.
b). Diameter weal
serum pd 5 c *0
men.
c). 5arna weal
serum pd *0 men.
4ombinasi
beda a). c b).F
( *0 0) ( *0 0)
2
's 's 'g 'g + +
H 1.6 mm" L c). merah
Sn DJF A2.'
Sp DJF -*.6
L,R DJF
++.A
2>is.DJF -1.1
False L c
(alse $ lebih
kecil (10$
167)" daya
lacak peny.
lebih tinggi"
ditunjang
ketepatan
A+
r$m, 1, men. b). 6cm antar
suntikan"
c). proJ$
distal F salin$
ser. ) histam.
8ji beda
proporsiF
beda
bermakna
dlm
spesi>isitas
yang besar
pasien
8; untung
dr ekonomi
c resiko
terapi obat
yg tidak
tepat kecil
Sabroe et
al." 1---
Darah vena
antecubiti dlm
Racutainer
tanpa clot7
3cceler7"
diamkan suhu
kamar *0 men.
Sentri>us ,55
g- 1, men .
a). #istamin
e(ara
$ri(k? kdg.
intradermal.
b). *$6 cm
c). ser.$
histam.$ salin
a). Diameter weal
serum pd *0 men.
b). Diameter weal
salin pd *0 men.
c). idem
4ombinasiF
%eda a). c b).F
( *0 *0)
2
's 'g

H 1.6 mm" L c). merah
Sn DJF +0.(
Sp DJF +1.0
L,R DJF '0
2>is.DJF +0.-
FalseL c
(alse$ besar
(*07)" daya
lacak 8;
kecil"
ketepatan
kecil
pasien 8;
biaya I
besar"
resiko I
4eterangan
,erbedaan utama kriteria positi> pada .SS@ baru dari .SS@ Sabroe" adalah
pembacaan pada 0 menit.
,.4.2 Pemerikaan H@A
4eberhasilan pemeriksaan #<. merupakan nilai tambah penelitian. Selama ini
pemeriksaan tersebut belum pernah dilakukan di 9ndonesia. 4eberhasilan tersebut tidak
diperoleh dengan mudah" melainkan melalui berbagai percobaan yang lama. 4eberhasilan
melakukan pemeriksaan #<." tidak terlepas dari keberhasilan peneliti mendapatkan
supernatan yang sesuai" terutama dalam proses memperoleh tot#< melalui metode
pemanasan pada A6
0
& selama '0 menit" yang telah diuji dengan membandingkannya dengan
metode pemanasan pd (0
0
& dan metode ultrasonic disintegrator. ,emeriksaan #<.
merupakan kunci untuk mendapatkan?mengembangkan sarana diagnostik .SS@ baru.
,.4.3 Pemerikaan deraDat ke$ara/an klini dan data klini.
AA
Rariabel derajat keparahan klinis adalah 0ariabel yang merupakan penjumlahan nilai
0ariabel diameter dan jumlah urtika" gatal" distribusi urtika" angioedema" >aktor pencetus"
>aktor atopi" dan keluhan sistemik. <entang nilai 0ariabel derajat keparahan klinis adalah * )
2'. ,emeriksaan menggunakan kur0a <;& (receiver operating characteristics)" dan #<.
sebagai baku emas" diperoleh Sn dan Sp yang optimal (+(.67 dan +'.27) pada nilai cut&o((
derajat keparahan klinisF 12. 8ji beda proporsi (Sn dan Sp 0ariabel derajat keparahan klinis
dan sarana diagnostik .SS@ baru)" menunjukkan tidak terdapat perbedaan signi>ikan dalam
Sn (B X 0.+2" p I 0.06)" tetapi berbeda secara signi>ikan dalam Sp ( B X *.0A" p g 0.06).
,erbedaan kemaknaan tersebut menunjukkan bahwa perubahan nilai cut&o(( derajat
keparahan klinis (g 12 ) akan berpengaruh terhadap deteksi pasien urtikaria dengan
otoantibodi positi>" tetapi tidak dapat diandalkan dalam mendeteksi pasien dengan
otoantibodi negati>.
Sesuai dengan penelitian @anus et al. 1--(
6A
dan 4ulthanan et al. 200("
-0
penelitian ini
tidak mendapatkan adanya perbedaan klinis antara pasien urtikaria dengan? tanpa otoantibodi
>ungsional" dalam hal keluhan gatal" distribusi" >aktor pencetus" keluhan sistemik" dan >aktor
atopi.
Secara khusus" penemuan nilai cut&o(( derajat keparahan klinis (12) dan penemuan sarana
diagnostik .SS@ baru yang lebih sensiti> dan spesi>ik" akan lebih menguntungkan pasien
849 dari segi biaya yang dikeluarkan" karena tidak memerlukan pemeriksaan #<. yang
biayanya mahal. 8ntuk lebih jelasnya" lihat tabel (.2 berikut.
Tabel ,.2 .nalisis biaya untuk 120 pemeriksaan.
%iaya
Peria$an er"m Pengiriman
er"m
Harga Alat dan
reagen
Pelakanaan
$emerikaan
Bia'a total
alat, reagen,
dan teknii
laboratori"m
A-
A44T @abung plastik 10 cc"
<p. 1.000.000
@abung plastik 2 cc"
<p. 1.000.000
Semprit 1 cc" dan 10 cc
<p. 1.(60.000
,ipet plastik
<p. 2(0.000
Jangka sorong (Rernier
&aliper) Shanghai"
&hina <p. *60.000
Timer <p. 226.000
Sentri>usF DS$1ab"
16ml J A DS&$16A@
<p. '.600.000
@otalF <p. (.+(0.226
/ihil #istamin (1mg?ml)
dan bu>>er
<p. 220.000
<p.
(00.000"$?per
120
pemeriksaan
<p. (.+(0.226
<p. 220.000
<p. (00.000
<p. (.-A0.226
.tau
@$.
,8.1-2,+#$er 1
L
$emerikaan
H@A idem <p.
2.160.000
4it 219S.F 6 unit
dan pengapalan
<p. 26.000.000
%iaya pengiriman
<p. '.0*6.000
&ool boJ (/esco)
<p. '60.000
@otalF
<p. 2-.'A6.000
<p.
A00.000"$?per
120
pemeriksaan
<p. (.+(0.226
<p. 2.160.000
<p2-.'A6.000
<p. A00.000
@otal
<p.*-.1-6.226
.tau
@$.
32-.-20,+#$er
1 L
$emerikaan
,., Keterbataan Penelitian
@erdapat perbaikan dalam spesi>isitas .SS@ baru dari metode Sabroe" walaupun
sensiti0itas tidak berbeda bermakna dengan metode Sabroe. ,enelitian .SS@ hanya
dilakukan secara terbatas pada pasien yang berasal dan ber tempat tinggal di ,ropinsi
Sumatera Selatan yang berobat jalan pada ,oliklinik 9444" <S8, =# ,alembang.
4eterbatasan penelitian ini memberi peluang bagi peneliti berikut untuk melakukan
penelitian lebih luas dengan melibatkan lebih banyak sampel penelitian dari beberapa daerah
di 9ndonesia (melalui penelitian multisenter)" dan dengan mempertimbangkan perbedaan
>aktor suku dan etnis tiap tempat" untuk mencari teknik yang lebih baik sehingga sarana
-0
diagnostik .SS@ yang ditemukan lebih andal tidak hanya spesi>isitas diagnostiknya" tetapi
juga sensiti0itas diagnostiknya.
BAB -.
PENUTUP
%edasarkan hasil penelitian dan pembahasannya" dapat ditarik kesimpulan dan saran
sebagai berikut.
-.1 Keim$"lan
-1
-.1.1 ,enelitian ini telah menemukan sarana diagnostik .SS@ baru yang melibatkan *
komponen dasar" yaitu 1) parameter diameter weal akibat serum pada 0 dan *0 menit" 2)
parameter diameter weal akibat salin pada 0 dan *0 menit" dan *) perubahan warna weal
akibat serum pada *0 menit. 4ombinasi perbedaan diameter weal akibat serum$weal akibat
salin pada 0 dan *0 menit (H 1.6 mm) dan perubahan warna weal akibat serum pada *0
menit (merah)" merupakan kriteria positi0itas sarana diagnostik .SS@ baru yang
menghasilkan nilai diagnostik yang andal sebagai sarana diagnostik urtikaria otoimun"
dengan sensiti0itas dan spesi>isitas masing$masing A2.'7 dan -*.67.
-.1.2 ,enelitian ini telah menemukan pula hubungan yang bermakna antara derajat
keparahan klinis urtikaria dan sarana diagnostik .SS@ baru. Sensiti0itas dan Sp 0ariabel
derajat keparahan klinis adalah +(.67 dan +'.27 pada nilai cut&o(( derajat keparahan
klinis 12. Sensiti0itas derajat keparahan klinis tidak berbeda secara bermakna dengan
sensiti0itas sarana diagnostik .SS@" tetapi berbeda secara bermakna dalam spesi>isitas.
,erbedaan kemaknaan tersebut menunjukkan bahwa perubahan nilai cut&o(( derajat
keparahan klinis (g 12) dapat diandalkan untuk mendeteksi pasien urtikaria dengan
otoantibodi positi>" tetapi tidak dapat diandalkan untuk mendeteksi pasien dengan
otoantibodi negati>.
-.1.3 %ersamaan dengan penelitian ini" telah dapat dilakukan metode pemeriksaan #<.
yang selama ini belum dapat dilakukan oleh pusat pendidikan" khususnya bidang
dermatologi di 9ndonesia" bahkan di .sia @enggara. 5alaupun pemeriksaan #<. tidak
tidak termasuk dalam masalah dan tujuan penelitian" pemeriksaan tersebut harus dilakukan
agar tujuan penelitian ini dapat dicapai. ,enemuan sarana diagnostik .SS@ dan metode
pelaksanaan pemeriksaan #<." tidak diragukan lagi telah membantu pengembangan 9lmu
-2
,engetahuan dan teknologi kedokteran" terutama sebagai pemeriksaan penunjang urtikaria
otoimun" yang belum pernah dikerjakan di 9ndonesia (keandalan .SS@ dikon>irmasikan
dengan #<. sebagai baku emas)" dan dalam penggunaan praktis dapat membantu
menemukan kasus urtikaria otoimun yang cukup banyak diderita masyarakat di 9ndonesia.
-.2 4aran
-.2.1 ,enyebarluasan hasil temuan penelitian ke pusat pendidikan dermatologi di seluruh
9ndonesia" akan memberikan keuntungan ganda baik bagi pasien urtikaria otoimun"
maupun bagi penentu kebijakan dalam hal ini pemerintah. ,asien diuntungkan karena
diagnosis segera diketahui" sehingga menghemat biaya untuk pengobatan yang sia$sia. Di
lain pihak" pemerintah dapat mengoptimalkan e>isiensi kerja pegawai yang sebelumnya
sering tidak bekerja akibat penyakitnya.
-.2.2 ,erlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang lebih luas dengan melibatkan lebih
banyak sampel penelitian dari berbagai daerah di 9ndonesia (melalui penelitian
multisenter)" dengan mempertimbangkan perbedaan >aktor suku dan etnis tiap tempat"
untuk mencari teknik yang lebih baik sehingga sarana diagnostik .SS@ yang ditemukan
lebih andal tidak hanya spesi>isitas diagnostiknya" tetapi juga sensiti0itas diagnostiknya.
DA7TA@ PU4TAKA
1. Juhlin 1. @he #istory o> 8rticaria and .ngioedema. 2S#DR Special .nnual 1ecture"
:ene0a" ;ctober 11th" 2000.
2. :uldbakke 44" 4hachemoune .. &lassi>ication and @reatment o> 8rticariaF . %rie>
<e0iew. Dematol /urs. 2006M1+(6)F*(1$*('
*. #edges ##" ,ollart S=. =anagement o> chronic urticaria. 9denti>ying triggers and
treating symptoms. .merican .cademy o> >amily ,hysicians" 200(.
-*
'. :aig et al. 2pidemiology o> urticaria in Spain. ;riginal .rticle. J 9n0est .llergy &lin
9mmunol 200'M1'(*)F21'$220.
6. <ekam =edik <S8, =# ,alembang" Data pasien rawat jalan pada ,oliklinik
9444 <S8, =#" 2006.
(. :rattan &2#" Sabroe <." :rea0es =5. &hronic urticaria. &ontinuing =edical
2ducation. J .m .cad Dermatol. 2002M'(F('6$(6+.
+. 3uberbier @" Jensen %" &anonica 5. 2..&9?:.
2
12/?2DD guidelineF De>inition"
classi>ication and diagnosis o> urticaria. 2
nd
9nternational &onsensus =eeting on
8rticaria 2006.
A. :rattan &" ,owell S" and #umphreys D. =anagement and diagnostic guidelines >or
urticaria and angio$oedema. %rit J Dermatol 2001M 1''F +0A$+1'.
-. Sheikh J. 8rticaria. 2002. .0ailable >romF httpF??www.emedicine.com
10. Docrat =2. Skin Docus. &urr .llergy &lin 9mmunol 200(M1-F1'6$160.
11. 4ontou$Dilli 4" %orici$=aBi <" 4app .. ,hysical urticariaF classi>ication and
diagnostic guidelinesF .n 2..&9 position paper. 2uropean J .llergy &lin 9mmunol.
1--+M62F60'$61*.
12. &hang ." John .. 1ocaliBed heat urticaria. J .m .cad Dermatol. 1---M'1F*6' ) *6(.
1*. 1e0in <=" #eymann 5<.8rticaria" ,ressure. 200*. .0ailable >rom F
www.emedicine.com
1'. :rea0es =5. &hronic urticaria. &urrent concepts. / 2ngl J =ed. 1--6M**2F1+(+$+2
16. Sabroe <." Seed ,@" Drancis D=. &hronic idiopathic urticariaF &omparison o>
clinical >eatures o> patients with and without anti$Dce<9 or anti$9g2 autoantibodies.
J .m .cad Dermatol 1---M'0F''*$'60.
-'
1(. Diorentino DD. &utaneous 0asculitis. &ontinuing. =edical 2ducation. J .m .cad
Dermatol. 200*M'AF*11$*'0.
1+. :rea0es =5" Sabroe <.. .%& o> allergies. .llergy and the skin. 9. 8rticaria.
&linical <e0iew. 5%D 1--AM*1(F11'+$6'.
1A. 4aplan .,. &hronic urticariaF pathogenesis and treatment. J .llergy &lin 9mmunol
200'M11'F'(6$+'.
1-. 4aplan .,. @he 9mmunologic and %iochemical basis o> &hronic 8rticaria and
angioedema 200*. .0ailable >romF
httpF??www.worldallergy.org? congresses?0ancou0ero*?pre0iew?kaplan.shtml.
20. :rattan &2" 5allington @%" 5arin <,. . serological mediator in chronic
9diopathic urticaria F a clinical" immunological and histological e0aluation.
%r J Dermatol 1-A(M11'F6A*$6-0.
21. :ruber %1" %aeBa =1" =archese =J" .gnello R" 4aplan .,. ,re0alence and
>unctional role o> anti$9g2 autoantibodies in urticarial syndromes. J 9n0est
Dermatol 1-AAM-0F21*$21+.
22. :rattan &2" Drancis D=" #ide =" :rea0es =5. Detection o> circulating
histamine releasing autoantibodies with >unctional properties o> anti$9g2 in
chronic urticaria. &lin 2Jp .llergy 1--1M21F(-6$+0'.
2*. #ide =" Drancis D=" :rattan &. .utoantibodies against the #igh$a>>inity 9g2
receptor as a &ause o> histamine release in &hronic 8rticaria. / 2ngl J =ed.
1--*M*2AF16--$1(0'.
2'. Diebiger 2" =aurer D" #olub #. Serum 9g: autoantibodies directed against the
G$chain o> DcE<9 F =arker and pathogenic >actor >or a distinct subset o>
chronic urticaria patients b J &lin 9n0est 1--6M-(F2(0($2(12.
-6
26. /iimi /" Drancis D=" 4ermani D. Dermal mast acti0ation by auto$antibodies
against the high a>>inity 9g2 receptor in chronic urticaria. J 9n0est Dermatol.
1--(M10(F1001$100(.
2(. @ong 1J" %alakrishnan :" 4ochan J,. .ssessment o> autoimmunity in patients
with chronic urticaria. J .llergy &lin 9mmunol 1--+M--F'(1$'(6.
2+. Diebiger

E, Hammer(/mid

D" 4tingl

., and Aa"rer

D. .nti $ Dc <9
.utoantibodies in .utoimmune $ mediated Disorders. 9denti>ication o> a
Structure$Dunction <elationship. J. &lin. 9n0est. 1--A?101F2'*$261.
2A. Derrer =" /akaBawa 4" 4aplan .,. &omplement dependence o> histamine
release in chronic urticaria. J .llergy &lin 9mmunol 1---M10'F1(-$1+2.
2-. 4ikuchi _" 4aplan .,. . role o> &6a in augmenting 9g: $ dependent
histamine release >rom basophils in chronic urticaria. J .llergy &lin 9mmunol
2002M10-F11'$11A.
*0. .bbas .4" 1ichtman .#" ,illai S. &ellular and =olecular 9mmunology"
9nternational 2dition" (
th
2d." pp. ''6" 200+.
*1. Dalcone D#" #aas #" :ibbs %D. @he human basophilF a new appreciation o> its role
in immune responses. <e0iew .rticle. %lood 2000M-( (1*)F'02A$'0*A.
*2. :rea0es =5. @he role o> the 9g2 receptor in chronic autoimmune urticaria.
....9 (1st .nnual =eeting" =arch 1A$22" San .ntonio" @eJas 8S." 2006.
**. @am S5" Demissie S" @homas D" Daeron =. . bispeci>ic antibody against
human 9g2 and human DcN99 that inhibit antigen$induced histamine release by
human mast cells and basohils. .llergy 200'M6-F++2$+A0.
-(
*'. %achelet

9, %unit)

., %oretta 3, %oretta ,,

and ,evi&"cha((er F7 @he
9nhibitory <eceptor 9<p(0 ( &D*00a ) 9s 2Jpressed and Dunctional on #uman
=ast &ells. @he Journal o> 9mmunology 2006M1+6F+-A-$+--6.
*6. .sero < . &hronic idiopathic urticariaF a >amily study. .nn .llergy" .sthma
and 9mmunol 2002MA-F1-6
*(. Sheikh J. .utoantibodies to the #igh$a>>inity 9g2 <eceptor in &hronic
8rticaria F #ow 9mportant are they b &urr ;pin .llergy &lin 9mmunol
2006M6(6)F'0*$'0+
*+. &on>ino$&ohen <" .haroni D" :oldberg .. 20idence >or aberrant regulation o>
the p21 <as pathway in ,%=&s o> patients with chronic idiopathic urticaria.
J .llergy &lin 9mmunol 2002M10-F*'-$6(.
*A. Sabroe <." and :rea0es =5. &hronic idiopathic urticaria with >unctional
auto$antibodiesF 12 years on. %r J Dermatol 200(M16'FA1*$A1-.
*-. :rattan &2#" 5alpole D." Drancis D=. %asophil numbers in chronic urticaria. J
2uropean .cad Dermatol Renereol 1--6M6FS*'$*6.
'0. :rattan &2" 5alpole D" /iimi /. Dlow cytometric analysis o> basophil
numbers in &hronic urticariaF basopenia is related to serum histamine releasing
acti0ity. &lin 2Jp .llergy 1--+M2+F1'1+$1'2'
'1. Sabroe <." :rattan &2#" Drancis D=. @he autologous serum skin testF a screening
test >or autoantibodies in chronic idiopathic urticaria. %rit J Dermatol 1---M1'0F''($
'62.
'2. :rattan &2#" Dawn :" :ibbs S" Drancis D=. %lood basophil numbers in
chronic ordinary urticaria and healthy controls F diurnal 0ariation" in>luence o>
loratadine and prednisolone and relationship to disease acti0ity. &lin 2Jp .llergy
200*M**F**+$*'1.
-+
'*. 1uOuin 2" 4aplan .," Derrer =. 9ncreased responsi0eness o> basophils o>
patients with chronic urticaria to sera but hypo$responsi0eness to other stimuli. &lin
2Jp .llergy 2006M*6F'6()'(0.
''. Doutre =S. ,hysiopathology o> urticaria. 2uropean J Dermatol. 1---M-F(01$(0-.
'6. Du @oit :. &hronic urticaria. &urr .llergy &lin 9mmunol. 200* M1(F10($110.
'(. =arone :" Spadaro :" ,atella R" :eno0ese .. @he clinical rele0ance o> basophil
releasability. J .llergy &lin 9mmunol. 1--'M-'F1$12.
'+. _amaguchi =" #irai 4" ;hta 4. /onreleasing basophils con0ert to releasing
basophils by culturing with 91$*. J .llergy &lin 9mmunol 1--(M-+F12+-$A+.
'A. 3weiman %" RalenBano =" .tkins ,&. &haracteristic o> histamine ) releasing
acti0ity in the sera o> patients with chronic idiopathic urticaria. J .llergy &lin
9mmunol. 1--(M-AFA-$-A.
'-. 4ern D" 1ichtenstein 1=. De>ecti0e histamine release in chronic urticaria. J &lin
9n0est 1-+(M6+F1*(-$++.
60. ;KDonnell %D" ;K/eill &=" Drancis D=. #uman 1eukocyte antigen &lass 99
associations in chronic idiopathic urticaria. %r J Dermatol. 1---M1'0FA6*$ A6A
61. 4rishnaswamy :" _oungberg :. .cute and chronic urticaria. &hallenges and
considerations >or primary care physicians. .llergy 8pdate. ,ostgrad =ed
2001M10-(2)F10+$2*.
62. :rattan &2&linical aspects F urticaria. 9mmunology and drug therapy o> allergic
allergic skin diseases (2ditorsF %ruijn $ 4oomen &.D=" 4noll 2D )" SwitBerlandF
%irkhauser Rerlag %asel" pp. 1*+$16(" . 2000.
-A
6*. #orn =," ,achlopnik J=" Rogel =. &onditional .utoimmunity mediated by
human natural anti $ Dce<9 autoantibodies b @he D.S2% Journal 2001M16F22(A$
22+'.
6'. :haBBawi 9=" and ;bidat /.. @he role o> #elicobacter pylori in>ection in the
pathogenesis chronic urticaria. ,akistan J =ed Sci. 200'M20F101$10'.
66. .tta .=" <odrigues =3." Sousa &," Junior ==" and Sousa$.tta =1%.
.utoantibody production in chronic idiopathic urticaria is not associated with
-elicobacter p#lori in>ection. %raB J =ed %iol <es. 200'M*+F1*$1+.
6(. .i J" 1eonhardt J=" #eymann 5<. .utoimmune thyroid diseasesF 2tiology"
pathogenesis" and dermatologic mani>estations. J .m .cad Dermatol 200*M'AF('1$
6-.
6+. 1e0y _" Segal /" 5eintrob /" and Danon _1. &hronic urticaria. .ssociation
with thyroid autoimmunity. .rch Disease &hildhood. 200*MAAF61+$61-.
6A. @anus @" .tkins ,&" 3weiman =. &omparison o> serum histamine$releasing
acti0ity and &linical =ani>estations in &hronic 9diopathic 8rticaria. &lin Diag 1ab
9mmunol 1--(M*F1*6$1*+.
6-. &la0eau J" 1a0oie ." %runet &" %edard ,$=" and #ebert J. &omparison o>
histamine$releasing >actor reco0ered >rom skin and peripheral blood mononuclear
cells o> patients with chronic idiopathic urticaria. .nn .llergy .sthma 9mmunol
1--(M++F'+6$'+-.
(0. &rockard .D" 2nnis =. %asophil histamine release tests in the diagnosis o> allergy
and asthma. 2ditorial. &lin 2Jp. .llergy 2001M*1F*'6$*60.
(1. /eogen &orporation. &ompetiti0e direct 219S.. @he #istamine 219S. test kit.
200'
--
(2. =ac:lashan D" 5hite J=" #uang S4. Secretion o> 91$' >rom #uman
%asophils. @he <elationship berween 91$' m</. and ,rotein in <esting
and Stimulated %asophils. J 9mmunol 1--'M162F*00(.
(*. :arcia ." /iubo J" %eniteB =." RiOueira =" ,ereB J1. &omparison o> @wo
1eukocyte 2Jtraction =ethods >or &ytomegalo0irus .ntigenemia .ssay. J &lin
=icrobiol. 1--(M*'F1A2)1A'.
('. #o 4KN, Lo 6+<, 6/eng *KP, and 6/an T+A. <apid &ytomegalo0irus pp(6
.ntigenemia .ssay by Direct 2rythrocyte 1ysis and 9mmuno>luorescence Staining.
J &lin =icrobiol. 1--A?*(F(*A$('0.
(6. Derrer =" 4inet J," 4aplan .,. &omparati0e studies o> >unctional and binding
assays >or 9g: anti$Dc <9

( $subunit) in chronic urticaria. J .llergy &lin 9mmunol.
1--AM101F(+2$(.
((. San Diego. DeJtran sedimentation o> 2ryhthrocyte. 8ni0ersity o> &ali>ornia" 200(.
(+. .delaide. ,reparation o> leucocytes by deJtran sedimentation. Department &hemical
,athology" 2000.
(A. %iomedicals Damily. DeJtran" 200+.
(-. 1ong et al. Detection o> &ytomegalo0irus in ,lasma and &erebrospinal Dluid
Specimens >rom #uman 9mmunode>iciency Rirus$9n>ected ,atients by the
.=,19&;< &=R @est. J &lin =icrobiol 1--AM*((-)F2'*'$2'*A.
+0. 5edi %" /o0aco0ic R" 4oerner =" 4aap .. &hronic urticaria serum induces
histamine release" leukotriene production" and basophil &D(* sur>ace eJpression
i 9nhibitory e>>ects o> anti $ in>lammatory drugs. Dermatologic and
;cular diseases. J .llergy &lin 9mmunol 2000M106F662$6(0.
+1. _ing S" 4ikuchi _" =eng P. @
#
1?@
#
2 cytokines and in>lammatory cells in skin
biopsy specimens >rom patients with chronic idiopathic urticariaF &omparison with
100
the allergen$induced late$phase cutaneous reaction. J .llergy &lin 9mmunol
2002M10-F(-'$+00
+2. /ettis 2" Dambra ," DK;ranBio 1. <eacti0ity to autologous serum skin test and
clinical >eatures in chronic idiopathic urticaria. &lin 2Jp. Dermatol. 2002 M
2+F2-$*1
+*. :rea0es =5. &hronic idiopathic urticaria. &urr ;pin .llergy &lin 9mmunol 200*M
*F*(*$*(A.
+'. .sero <" 1orini =" &hong S8" 3uberbier @" and @edeschi .. .ssessment o>
histamine $ releasing acti0ity o> sera >rom patients with chronic urticaria
showing positi0e autologous skin test on human basophil and mast cells. &lin 2Jp
.llergy 200'M*'F1111$111(.
+6. Dagiolo 8" 4ricek D" <u> &" ,eserico ." .madori ." &ancian =. 2>>ects o>
complement 9nacti0ation and 9g: depletion on skin reacti0ity to autologous serum
in chronic idiopathic urticaria. J .llergy &lin 9mmunol. 2000M10(F6(+$6+2.
+(. ,achlopnik J=" #orn =," DuJ =. /atural anti$Dce<9a autoantibodies may
inter>ere with diagnostic tests >or autoimmune urticaria. J .utoimmunity
200'M22F'*$61.
++. Jones .=" #onour J5. 8nusual <esults Drom 9mmunoasssays and the <ole o> the
&linical 2ndocrinologist. &lin 2ndocrinol. 200(M('F2*'$2''.
+A. :oryachkina 1." /enashe0a /=" %orBo0a 28. @he clinical rele0ance o>
autologous serum skin test in autoimmune chronic urticaria. <ussian =edical
.cademy o> ,ostgraduate 2ducation" Department o> &linical .llergology" 200'.
+-. @edeschi ." 1orini =" Suli &" .sero <. /o e0idence o> tumor necrosis >actor$a
release in blood o> patients with chronic urticaria. .llergy 200(M(1F610$611.
101
A0. .ltmann 1&. Serum skin test de>ini0e >or chronic" autoimmune urticariaF
di>>erential DJ. @he ,aci>ic /orthwest Dermatological Society" 200*.
A1. ,latBer =#" :rattan &2#" ,oulsen 14" Sko0 ,S. Ralidation o> basophil
histamine release against the autologous serum skin test and outcome o> serum )
induced basophil histamine release studies in a large population o> chronic
urticaria patients. .llergy 2006M(0F1162$116(.
A2. %runetti 1" Dranca0illa <" =iniello R1. #igh pre0alence o> autoimmune urticaria in
children with chronic urticaria. J .llergy &lin 9mmunol 200'M11'F-22$-2+.
A*. ;KDonnell %D" %arr <=" 4obBa %lack .. 9ntra0enous immunoglobulin in
autoimmune chronic urticaria. %r J Dermatol 1--AM1*AF101$10(.
A'. @oubi 2" 4essel ." .0sho0ich /" %amberger 2" Sabo 2" /usem D" ,anaso>> J.
&linical and laboratory parameters in predicting chronic urticaria durationF a
prospecti0e study o> 1*- patients. ;riginal article. .llergy 200'M6- (A)" A(-)A+*.
A6. #ide =" Drancis D=" :rattan &. .utoantibodies against the #igh$a>>inity
9g2 receptor as a &ause o> histamine release in &hronic 8rticaria. / 2ngl J
=ed. 1--*M*2AF16--$1(0'.
A(. Di 1ella 2" .gostinelli D" %runelli 1" Stingeni 1" and 1isi ,. @he intradermal
autologous serum skin testF possible inter>ering >actors. SocietaK 9taliana di
Dermatologia .llergologica ,ro>essionale .mbientale (S9D.,.) 200'M6AF12$16.
A+. Schea>>er <1" =endenhall 5" ;tt <1. 2lementary Sur0ey Sampling" 6th. 2dition"
%elmont DuJbury ,ress" 1--(.
AA. #udson 1" #ay D&. &ell counting with haemocytometer in ,ractical 9mmunology"
*rd ed." pp. -' ) -6" ;J>ord %lackwell Scienti>ic ,ublications" 1--1.
A-. DJ% 1abcare. @he 84Ks 1eading 9ndependent &entri>uge Specialist.
<&D &alculator" 200(. .0ailable >romF www.djblabcare.co.uk
102
-0. 4ulthanan 4" Jiamton S" :or0anich @" ,inkaew S. .utologous serum skin test in
chronic idiopathic urticariaF pre0alence" correlation and clinical implication.
.sian ,ac J .llergy 9mmunol. 200(M2'(')F201$20(.
10*