Anda di halaman 1dari 4

Bab II -> Konflik Sosial -> Amiks Documents hal...

10

BAB II
KONFLIK SOSIAL



A. KONFLIK
1. PENGERTIAN KONFLIK
Secara etimologis, kata k//onflik berasal dari kata configere yang berarti saling menyerang.
Berikut definisi konflik menurut beberapa ahli :
a. Berstein (1965): konflik merupakan suatu pertentangan atau perbedaan yang tidak dapat
dicegah. Konflik ini mempunyai potensi yang memberikan pengaruh positif dan negatif
dalam interaksi manusia.
b. Robert M.Z. Lawang : konflik adalah perjuangan memperoleh status, nilai, kekuasaan, di
mana tujuan mereka yang berkonflik tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk
menundukkan saingannya.
c. Ariyono Suyono : konflik adalah proses atau keadaan di mana dua pihak berusaha
menggagalkan tercapainya tujuan masing-masing disebabkan adanya perbedaan pendapat,
nilai-nilai ataupun tuntutan dari masing-masing pihak.
d. J ames W. Vander Zanden (buku: Sociology) : konflik diartikan sebagai suatu pertentangan
mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan, status atau wilayah tempat
yang saling berhadapan, bertujuan untuk menetralkan, merugikan ataupun menyisihkan
lawan mereka.
e. Soerjono Soekanto : konflik merupakan suatu proses sosial di mana orang per orangan
atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang
pihak lawan yang disertai ancaman atau kekerasan.
f. Minnery (1985) : konflik adalah interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain
saling bergantung namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan di mana setidaknya salah satu
dari pihak-pihak tersebut menyadari perbedaan tersebut dan melakukan tindakan terhadap
tindakan tersebut.
g. Soedjono (2002:158), konflik adalah suatu bentuk interaksi sosial di mana pihak yang satu
berusaha menjatuhkan pihak yang lain atau berusaha mengenyahkan rivalnya.


2. PENYEBAB-PENYEBAB KONFLIK
a. Perbedaan Antarorang/Perbedaan Individu
Pada dasarnya setiap orang memiliki karakteristik yang berbedabeda. Perbedaan ini mampu
menimbulkan konflik sosial. Perbedaan pendirian dan perasaan setiap orang dirasa sebagai
pemicu utama dalam konflik sosial.
b. Perbedaan Kebudayaan
Kebudayaan yang melekat pada seseorang mampu memunculkan konflik manakala
kebudayaankebudayaan tersebut berbenturan dengan kebudayaan lain.
c. Bentrokan Kepentingan
Umumnya kepentingan menunjuk keinginan atau kebutuhan akan sesuatu hal. Seorang
mampu melakukan apa saja untuk mendapatkan kepentingannya guna mencapai kehidupan
yang sejahtera. Oleh karena itu, apabila terjadi benturan antara dua kepentingan yang
berbeda, dapat dipastikan munculnya konflik sosial.
d. Perubahan Sosial
Perubahan sosial yang berlangsung cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai
yang ada dalam masyarakat. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan pendirian
antargolongan dalam menyikapi perubahan yang terjadi. Situasi dan kondisi ini mampu
memunculkan konflik baru

3. AKIBAT KONFLIK
a. Bertambahnya solidaritas intern dan rasa in group suatu kelompok. Apabila terjadi
pertentangan antarkelompok, solidaritas antaranggota masing-masing kelompok akan
meningkat sekali. Solidaritas di dalam suatu kelompok yang pada situasi normal sulit
dikembangkan akan berlangsung meningkat pesat saat terjadinya konflik dengan pihak-
pihak luar.
b. Memudahkan perubahan kepribadian individu. Hal itu terjadi apabila ada konflik-konflik
antarkelompok. Individu-individu dalam tiap-tiap kelompok akan mengubah kepribadiannya
untuk mengidentifikasikan dirinya secara penuh dengan kelompoknya.
c. Goyah dan retaknya persatuan kelompok apabila terjadi konflik antargolongan dalam satu
kelompok.
Bab II -> Konflik Sosial -> Amiks Documents hal... 11

d. Menimbulkan dampak psikologis yang negatif, seperti perasaan tertekan sehingga menjadi
siksaan terhadap mentalnya, stress, kehilangan rasa percaya diri, rasa frustasi, cemas, dan
takut. Hal ini dapat terjadi pada pribadi-pribadi individu yang tidak tahan menghadapi situasi
konflik.
e. Mematikan semangat kompetisi dalam masyarakat karena pribadi yang mendapat tekanan
psikologis akibat konflik cenderung pasrah dan putus asa.
f. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia. Hal tersebut terjadi apabila konflik
telah mencapai pada tahap kekerasan, seperti perang. Bentrok antarkelompok masyarakat,
dan konflik antarsuku bangsa.
g. Munculnya akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak.


4. PENYELESAIAN KONFLIK
1. Konsiliasi (Conciliation)
Konsiliasi adalah usaha mempertemukan keinginankeinginan dari pihak-pihak yang
mengalami konflik demi tercapainya tujuan bersama. Konsiliasi akan terwujud apabila ada
peranan lembaga-lembaga tertentu dalam masyarakat.
Lembaga tersebut harus berfungsi efektif sebagai pengendali konflik. Untuk itu lembaga-
lembaga tersebut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
a. Merupakan lembaga yang bersifat otonom dengan wewenang untuk mengambil
keputusan-keputusan tanpa campur tangan lembaga lain.
b. Kedudukan lembaga-lembaga tersebut dalam masyarakat bersangkutan harus bersifat
monopolistis.
c. Lembaga-lembaga tersebut harus berperan sebagai pengikat kelompok yang konflik.
Dengan demikian kelompok-kelompok konflik merasa terikat pada lembaga tersebut.
d. Lembaga-lembaga tersebut harus bersifat demokratis yang memberi kesempatan dan
mendengarkan pendapat kedua pihak sebelum mengambil keputusan.
2. Mediasi (Mediation)
Mediasi merupakan cara pengendalian konflik dengan jalan meminta bantuan pihak
ketiga sebagai penasehat. Jadi, mediasi adalah suatu usaha kompromi yang tidak dilakukan
sendiri secara langsung. Mediasi dilakukan dengan bantuan pihak ketiga yang tidak
memihak. Pihak ketiga hanya mencoba mempertemukan dan mendamaikan pihak-pihak
yang bersengketa atas dasar itikad kompromi pihak-pihak yang terlibat konflik.
Pihak ketiga dalam mediasi sifatnya netral. Tugas utama pihak ketiga adalah untuk
mengusahakan suatu penyelesaian secara damai. Pihak ketiga hanya sebagai penasihat
dan tidak mempunyai wewenang untuk memberi keputusan-keputusan terhadap
penyelesaian konflik. Sekalipun nasihat-nasihat pihak ketiga tersebut tidak mengikat pihak-
pihak yang terlibat konflik, namun mediasi terkadang menghasilkan penyelesaian yang
cukup efektif. Hal itu karena mediasi dapat mengurangi tindakan irasional yang mungkin
timbul dalam sebuah konflik.
3. Arbitrasi (Arbitration)
Arbitrasi merupakan bentuk penyelesaian konflik yang menggunakan jasa penengah.
Arbitrasi adalah suatu usaha penyelesaian konflik yang dilakukan dengan bantuan pihak
ketiga. Seperti halnya dalam mediasi, pihak ketiga dalam arbitrasi juga dipilih oleh pihak-
pihak yang terlibat konflik. Perbedaannya, jika dalam mediasi, pihak ketiga hanya
mempertemukan pihak yang terlibat konflik. Sedangkan dalam arbitrasi, pihak ketiga
sebagai perantara yang mempertemukan kehendak kompromistis pihak yang terlibat konflik.
Sebagai penengah, mereka menyelesaikan konflik dengan membuat keputusan-keputusan
penyelesaian atas dasar ketentuan yang telah ada.
4. Paksaan (Coersion)
Paksaan merupakan salah satu bentuk penyelesaian konflik dengan cara paksaan
baik secara fisik maupun psikologis. Umumnya proses ini terjadi jika salah satu pihak berada
pada posisi yang lemah dan satu pihak di posisi yang kuat. Paksaan fisik biasa digunakan
untuk menarik diri dari pertikaian tersebut tanpa harus menurunkan harga diri.
5. Detente
Dalam hal ini detente adalah mengurangi ketegangan hubungan antara dua pihak
yang bertikai. Cara ini biasanya digunakan sebagai usaha pendekatan dalam mencapai
perdamaian. Oleh karena itu, pada proses ini belum ada penyelesaian konflik secara pasti
yang tentunya belum ada pihak yang dinyatakan kalah atau memang. Detente hanya upaya
pendekatan untuk menentukan cara tepat penyelesaian konflik.




Bab II -> Konflik Sosial -> Amiks Documents hal... 12

B. KEKERASAN
1. PENGERTIAN
Istilah kekerasan berasal dari bahasa Latin violentia, yang berarti keganasan, kebengisan,
kedahsyatan, kegarangan, aniaya, dan perkosaan (sebagaimana dikutip Arif Rohman : 2005).
Tindak kekerasan, menunjuk pada tindakan yang dapat merugikan orang lain.
Pada dasarnya kekerasan diartikan sebagai perilaku dengan sengaja maupun tidak
sengaja (verbal maupun nonverbal) yang ditujukan untuk mencederai atau merusak orang lain,
baik berupa serangan fisik, mental, sosial, maupun ekonomi yang melanggar hak asasi manusia,
bertentangan dengan nila-inilai dan norma-norma masyarakat sehingga berdampak trauma
psikologis bagi korban.

2. MACAM-MACAM KEKERASAN
a. Berdasarkan bentuknya, kekerasan dapat digolongkan menjadi kekerasan fisik, psikologis, dan
struktural.
1) Kekerasan fisik yaitu kekerasan nyata yang dapat dilihat, dirasakan oleh tubuh. Wujud
kekerasan fisik berupa penghilangan kesehatan atau kemampuan normal tubuh, sampai
pada penghilangan nyawa seseorang. Contoh penganiayaan, pemukulan, pembunuhan, dan
lain-lain.
2) Kekerasan psikologis yaitu kekerasan yang memiliki sasaran pada rohani atau jiwa sehingga
dapat mengurangi bahkan menghilangkan kemampuan normal jiwa. Contoh kebohongan,
indoktrinasi, ancaman, dan tekanan.
3) Kekerasan struktural yaitu kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan
menggunakan sistem, hukum, ekonomi, atau tata kebiasaan yang ada di masyarakat. Oleh
karena itu, kekerasan ini sulit untuk dikenali. Kekerasan struktural yang terjadi menimbulkan
ketimpangan-ketimpangan pada sumber daya, pendidikan, pendapatan, kepandaian,
keadilan, serta wewenang untuk mengambil keputusan. Situasi ini dapat memengaruhi fisik
dan jiwa seseorang. Biasanya negaralah yang bertanggung jawab untuk mengatur
kekerasan struktural karena hanya negara yang memiliki kewenangan serta kewajiban resmi
untuk mendorong pembentukan atau perubahan struktural dalam masyarakat. Misalnya,
terjangkitnya penyakit kulit di suatu daerah akibat limbah pabrik di sekitarnya atau hilangnya
rumah oleh warga Sidoarjo karena lumpur panas Lapindo Brantas. Secara umum korban
kekerasan struktural tidak menyadarinya karena sistem yang menjadikan mereka terbiasa
dengan keadaan tersebut.
b. Berdasarkan pelakunya, kekerasan dapat digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu:
1) Kekerasan individual adalah kekerasan yang dilakukan oleh individu kepada satu atau lebih
individu. Contoh pencurian, pemukulan, penganiayaan, dan lain-lain.
2) Kekerasan kolektif adalah kekerasan yang dilakukan oleh banyak individu atau massa.
Contoh tawuran pelajar, bentrokan antardesa konflik Sampit dan Poso, dan lain-lain.



C. INTEGRASI SOSIAL
1. PENGERTIAN
Integrasi sosial adalah proses penyesuaian di antara unsurunsur yang saling berbeda yang
ada dalam kehidupan sosial sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang serasi fungsinya bagi
masyarakat tersebut. Individu-individu dalam masyarakat yang semula terkotak-kotak, berbeda-beda
bahkan bersaing atau bertentangan menjadi rukun, bersatu, dan selaras baik dalam hal kepentingan-
kepentingan hidup. Selain itu dalam hal pandangan mengenai berbagai masalah pokok dalam
kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat.

2. BENTUK-BENTUK INTEGRASI SOSIAL
a. Asimilasi
Asimilasi adalah proses sosial yang ditandai oleh adanya usaha mengurangi perbedaan
yang terdapat antara orang per orang atau kelompok. Proses asimilasi ditandai dengan
pengembangan sikap-sikap yang sama dengan tujuan mencapai kesatuan atau paling sedikit
mencapai integrasi dalam organisasi, pikiran, dan tindakan.
Faktor-faktor yang mendorong dan mempermudah proses asimilasi adalah sebagai berikut:
a) toleransi, keterbukaan, saling menghargai, dan menerima unsur-unsur kebudayaan;
b) kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi;
c) sikap menghargai orang asing dengan kebudayaannya;
d) sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat;
e) perkawinan campuran dari kelompok yang berbeda kebudayaan (amalgasi);
f) persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan universal.

Bab II -> Konflik Sosial -> Amiks Documents hal... 13

Faktor-faktor yang menghambat terjadinya asimilasi, antara lain:
a) kelompok terisolasi atau terasing;
b) kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi;
c) prasangka negatif terhadap pengaruh budaya baru;
d) perasaan primordial bahwa kebudayaan sendiri lebih baik dari pada kebudayaan lain;
e) perbedaan yang sangat mencolok seperti ciri-ciri ras, teknologi, dan ekonomi;
f) golongan minoritas mengalami gangguan oleh penguasaan;
g) perasaan grup yang kuat.

b. Akulturasi
Akulturasi adalah proses sosial yang timbul karena penerimaan dan pengolahan unsur-
unsur kebudayaan asing tanpa menghilangkan unsur-unsur kebudayaan asli. Akulturasi
merupakan perpaduan dua unsur kebudayaan dalam kurun waktu yang lama. Dalam akulturasi
unsur-unsur kebudayaan asing tersebut melebur ke dalam kebudayaan asli, dengan tidak
menghilangkan kepribadian kedua unsur kebudayaan tersebut. Contohnya perpaduan musik
Melayu dengan musik Spanyol menjadi/lahir musik keroncong.
Unsur-unsur yang mudah diterima dalam alkulturasi, antara lain:
a) kebudayaan material;
b) teknologi baru yang manfaatnya cepat dirasakan dan mudah dioperasikan, misalnya
kebudayaan pertanian (alat-alat, pupuk, dan benih);
c) kebudayaan yang mudah disesuaikan dengan kondisi setempat (kesenian, olahraga);
d) kebudayaan yang pengaruhnya kecil, misalnya model pakaian.

Unsur-unsur kebudayaan yang sukar di terima antara lain:
a) kebudayaan yang mendasari pola pikir masyarakat, misalnya unsur keagamaan;
b) kebudayaan yang mendasari proses sosialisasi yang sangat meluas dalam kehidupan
masyarakat, misalnya makanan pokok, sopan-santun, dan mata pencaharian.








YAKINLAH!!! jika Ananda mampu melakukan pekerjaan yang kecil
dengan baik, maka Ananda pun BISA melakukan pekerjaan yang besar
dengan baik. So, jangan pernah berkecil hati dengan tantangan besar
yang Ananda hadapi.. YAKINKAN diri Ananda bahwa Ananda mampu
menaklukan tantangan tersebut!!
Berlian merupakan batuan keras yang dibentuk, digesek, dipotong
berulang sehingga menjadi cantik... bagi Ananda hari ini yang mengalami
gesekan, tekanan, dll.. bersabarlah.. yakinlah Allah sedang membentuk
Ananda menjadi BERLIAN yang cantik...
BE GANBATE !!