Anda di halaman 1dari 268

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekolah merupakan salah satu organisasi pendidikan yang dapat dikatakan
sebagai wadah untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Keberhasilan tujuan
pendidikan di sekolah tergantung pada sumber daya manusia yang ada di sekolah
tersebut yaitu kepala sekolah, guru, siswa, pegawai tata usaha dan tenaga
kependidikan lainnya, selain itu harus didukung pula oleh sarana prasarana yang
memadai. Untuk membentuk manusia yang sesuai dengan tujuan pembangunan
nasional, yang pada hakekatnya bertujuan meningkatkan kualitas manusia dan
seluruh masyarakat Indonesia yang maju, modern, berdasarkan Pancasila maka
dibutuhkan tenaga pendidik yang berkualitas.
Guru merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan untuk
terselenggarakannya proses pendidikan. Keberadaan guru merupakan pelaku utama
sebagai fasilitator penyelenggara proses belajar siswa. Oleh karena itu kehadiran dan
profesionalismenya sangat berpengaruh dalam mewujudkan program pendidikan
nasional. Guru harus memiliki kualitas yang cukup memadai, karena guru
merupakan salah satu kompenen mikro sistem pendidikan yang sangat strategis dan
banyak mengambil peran dalam proses pendidikan di sekolah.menurut Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2003
1
, Tentan Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan
bahwa :

1
Depdiknas, 2003, Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003, tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Pasal 39
1
2

1. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan,
pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses
pendidikan pada satuan pendidikan.
2. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat, terutama bagi pendidik di perguruan tinggi.


Guru memiliki peran yang penting, merupakan posisi strategis dan
bertanggung jawab dalam pendidikan nasional. Guru memiliki tugas sebagai
pendidik, pengajar dan pelatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan
nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Melatih berarti mengembangkan keterampilan kepada
siswa. Sedangkan dalam proses pembelajaran guru merupakan pemegang peran
utama, karena secara teknis dapat menterjemahkan proses perbaikan sistem
pendidikan dalam suatu kegiatan di kelas.
Guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-
tugas yang ditandai dengan keahlian pada penguasaan materi maupun metode. Selain
itu juga ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh
pengabdiannya. Guru yang profesional hendaknya mampu memikul dan
melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua,
masyarakat bangsa dan negara.
Guru yang profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, sosial,
intelektual moral dan spiritual. Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang
mampu memahami dirinya, mengelolah dirinya. Tanggung jawab sosial
diwujudkan melalui kompetensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian
yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan
3

interaktif yang efektif. Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui
penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan untuk menunjang tugas-tugasnya. Tanggung jawab spiritual dan
moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai mahluk beragama yang
perilakuknya senantiasa tidak menyimpang dari norma-norma agama dan
moral.
Lebih lanjut Udin Syaefudin Saud
2
, Guru profesional ciri-ciri sebagai
berikut :
1. Mempunyai kometmen pada pada proses belajar siswa.
2. Menguasai secara mendalam materi pelajaran dan cara mengajarkanya.
3. Mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari
pengalamannya.
4. Merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya
yang memungkinkan mereka untuk selalu meningkatkan profesionalisme-
nya.

Dalam upaya memajukan dan mengembangkan jabatan guru sebagai jabatan
profesional yang dituntut untuk berkinerja seoptimal mungkin berdasarkan
kompetensi dan profesionalisme bidangnya, kepala sekolah sangat berperan
didalamnya, dengan memberikan kesempatan dan peluang serta mengarahkan dan
membimbing yang maksimal dan berkesinambungan, terhadap guru sebagai stafnya,
maka kinerja guru yang optimal dapat terwujud.
Kinerja guru merupakan konsep yang sangat penting untuk diperhatikan
oleh kepala sekolah, karena dengan kinerja yang tinggi dapat mendorong kinerja
individu dan kelompok yang akan meningkatkan efektifitas organisasi. Setiap
individu mempunyai kinerja yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai-nilai yang
berlaku pada dirinya.

2
Udin Syaefudin Saud, 2009, Pengembangan Profesi Guru, Bandung : Alfabeta, hal. 97
4

Hasil pengamatan di lapangan, pada SMP Negeri Kecamatan Putussibau
Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu, diketahui :
a. Masih ada guru yang belum membuat perangkat pembelajaran (silabus dan
RPP), proses pembelajaran belum menggunakan RPP, kurang maksimal
dalam proses pembelajaran, kurang menggunakan alat peraga dan media
pembelajaran, metode mengajar tidak bervariasi, tidak tertib melakukan
evaluasi.
b. Kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya belum melaksanakan
pengawasan secara intensif kepada guru, disebabkan kurang kompetensi
supervisi dan kurang menguasai fungsi supervisi yang harus
dilaksanakannya. Pada hal agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan
baik diperlukan adanya supervisi dari atasan yang dilakukan oleh pengawas
dan kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi di organisasi pendidikan
formal tersebut atau di lingkungan dimana kepala sekolah tersebut di
tugaskan.
Pentingnya supervisi dilakukan karena kenyataan seseorang tidak selamanya
akan bekerja dengan baik jika tidak adanya pengontrolan atau pemantau
dalam pelaksana pekerjaan tersebut. Untuk itu pengawas dan kepala sekolah
perlu melaksanakan supervisi dalam pelaksanaan proses pembelajaran di
sekolah, sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Made Pidarta
3

Jarang ada manusia yang berbakti sungguh-sungguh terhadap tugasnya.
Karena itulah dibutuhkan kontrol/supervisi agar pelaksanaan tidak
menyimpang secara berarti dengan rencana yang telah ditentukan.

3
Made Pidarta, 1977, Landasan Kependidikan, Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia,
Jakarta : Rineka Cipta, hal. 15.
5

c. Program supervisi pengawas, dari hasil wawancara di lapangan dengan
kepala sekolah diperoleh keterangan bahwa masih ada pengawas yang
belum meyusun program tahunan maupun pogram semester dengan baik.
Program supervisi berisikan kegiatan supervisi manajerial dan supervisi
akademik, yang akan dijalankan untuk memperbaiki kinerja kepala sekolah
dan guru. Setiap pengawas sekolah menyusun program pengawasan, yang
terdiri atas program tahunan untuk seluruh sekolah binaan dan program
semester untuk masing-masing sekolah.
d. Teknik dan metode kepengawasan, dari hasil wawancara di lapangan
terhadap kepala-kepala sekolah diperoleh keterangan bahwa masih ada
pengawas yang belum menggunakan teknik dan metode kepengawasan
dengan baik terhadap kepala sekolah dan guru, sehingga dapat
mempengaruhi kerja guru. Supervisi sebagai upaya membantu guru dalam
memperbaiki proses pembelajaran, maka pembinaan guru melalui supervisi
dilaksanakan berdasarkan teknik dan metode kepengawasan yang tepat.
e. Guru SMP N Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara
Kabupaten Kapuas Hulu belum dapat menunjukan model pembelajaran
yang kontekstual sehingga pembelajaran yang dilaksanakan sangat
membosankan, tidak ada variasi, tidak kreativitas, sehingga siswa cenderung
pasif dan hasil yang diharapkan belum maksimal. Proses pembelajaran yang
dilakukan oleh guru di kelas masih belum efektif, terlihat dalam proses
pembelajaran, guru tidak menggunakan alat peraga dan media
pembelajaran, kadang kala tidak memberikan evaluasi setelah selesai
6

kompetensi dasar dan kurang tepat menggunakan waktu, dan kurang
memberi kesempatan atau mengajak peserta didik untuk tanya jawab.
f. Standar Kompetensi Pengawas. Di daerah Kabupaten Kapuas Hulu
merupakan daerah yang relatif luas dengan kondisi sekolah yang tersebar di
23 kecamatan. Dengan jumlah pengawas yang masih sedikit sampai saat ini
masih ada pengawas belum memenuhi syarat kompetensi pengawas.
g. Rendahnya Kompetensi Kepala Sekolah. Dari data yang diperoleh pada
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kapuas Hulu masih
sedikit kepala sekolah yang sering mengikuti pelatihan-pelatihan.
h. Diklat Manajemen Kepala Sekolah. Dari penelitian pendahuluan
menunjukkan baru sedikit kepala sekolah mengikuti diklat manajemen
kepala sekolah.
i. Kualifikasi Kepala Sekolah. Dari 9 sekolah yang menjadi objek penelitian,
tingkat kualifikasi kepala sekolah masih rendah. Terlihat 5 orang kepala
sekolah masih berpendidikan D III, 3 kepala sekolah berpendidikan S1 dan
1 orang kepala sekolah berpendidikan S2 sehingga masih banyak yang
belum memenuhi standar minimal pendidikan bagi kepala sekolah yang
sekurang-kurangnya berpedidikan S1.
j. Kompetensi Guru. Dari data yang kami peroleh menunjukkan bahwa
banyak guru-guru yang belum memenuhi standar kompetensi terlihat dari 65
guru yang ada baru 21 guru yang memenuhi standar kompetensi yaitu
berpendidikan S1. Sedangkan yang lainnya masih berpendidikan diploma.
7

k. Diklat Guru. Dari penelitian pendahuluan menunjukkan baru sedikit guru-
guru yang mengikuti pendidikan dan latihan guru sesuai bidang studinya
masing-masing.
l. Sarana dan Prasarana Sekolah. Dari 9 sekolah yang menjadi tempat
penelitan, kondisinya berbeda-beda tingkat kepemilikan sarana prasarana.
Terlihat 1 sekolah sudah memiliki sarana prasarana yang lengkap baik
laboratorium IPA, laboratorium Komputer, laboratorium Bahasa dan
perpustakaan. Ada 2 sekolah baru memiliki laboratorium IPA dan
perpustakaan. Sedangkan yang lainnya belum memiliki laboratorium
maupun perpustakaan.

Dari kenyataan tersebut di atas diasumsikan bahwa guru SMP N Kecamatan
Putussibau Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu belum memiliki
kinerja yang baik, dan dapat dikatakan bahwa penyebabnya adalah karena kelemahan
dalam kepemimpinan kepala sekolah dalam melaksankan peran dan fungsinya
sebagai pemimpin. Kepala sekolah kurang dapat mengarahkan guru-guru dan kurang
sekali memberikan pembinaan terhadap kinerja guru. Guru sebagai pendidik dan
pengajar tidak dapat dilepas begitu saja, tetapi guru masih harus banyak diberi
pembinaan, pengarahan dan motivasi serta pengawasan. Agar guru mau memperbaiki
diri dan mau untuk belajar lebih baik lagi sehingga dapat meningkatkan keterampilan
guna mendukung kompetensinya. Selain itu kepemimpinan kepala sekolah harus
ditingkatkan guna memperbaiki guru, terutama sumber daya manusia agar lebih
berkualitas. Karena pada hakekatnya guru adalah manusia yang lemah dan tidak
8

lepas dari berbagai kealfaan dan kehilafan, karena itu perlu adanya yang mengingat
melalui supervisi pengawas dan supervisi kepala sekolah.
Selanjutnya faktor lain yang berpengaruh seperti sarana prasarana tidak
memadai, alat peraga dan media pembelajaran masih kurang, buku pelajaran masih
kurang, perpustakaan sebagai penunjang dalam belajar masih kurang memadai, disisi
lain guru belum seluruhnya mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan-
pelatihan serta komite sekolah belum berfungsi maksimal sebagai kontrol, ini semua
disebabkan kepemimpinan kepala sekolah yang belum berjalan dengan baik.
Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk meneliti supervisi pengawas
dan kualitas kepemimpinan kepala sekolah hubungannya dengan kinerja guru pada
SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten
Kapuas Hulu.

B. Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah-
masalah sebagai berikut :
1. Program supervisi pengawas, penelitian pendahuluan menyimpulkan bahwa
dari 7 pengawas yang ada, 5 pengawas sudah melaksanakan program
supervisi, 2 pengawas belum melaksankan programsupervisi.
2. Teknik dan metode kepengawasan, penelitian pendahuluan meyimpulkan
bahwa 7 pengawas yang ada, 4 pengawas sudah melaksanakan teknik dan
metode dengan baik, 3 pengawas belum melaksanakan teknik dan metode
dengan baik.
9

3. Kompetensi pengawas belum memenuhi standar, dari 7 pengawas yang ada
5 pengawas sudah kompeten, 2 pengawas belum sertifikasi.
4. Kompetensi kepala sekolah masih rendah, dari 9 kepala sekolah yang ada 6
kepala sekolah sudah disertifikasi, sedangkan 3 kepala sekolah belum
disertifikasi.
5. Kualifikasi pendidikan kepala sekolah masih rendah, dari 9 kepala sekolah
yang ada, 1 kepala sekolah sudah S2, 3 kepala sekolah S1, 5 kepala sekolah
masih D III.
6. Pelatihan manajemen kepala sekolah, penelitian pendahuluan
menyimpulkan, dari 9 kepala sekolah yang ada, 4 kepala sekolah sudah
mengikuti pelatihan, 5 kepala sekolah belum mengikuti pelatihan.
7. Kompetensi guru belum memenuhi standar, dari 65 guru yang ada, 21 guru
sudah kompeten, 44 guru belum disertifikasi.
8. Kurangnya pelatihan pembelajaran bagi guru-guru, dari 65 guru yang ada,
baru 24 guru yang mengikuti pelatihan, 41 guru belum dilatih.
9. Fasilitas belajar masih kurang, dari 9 sekolah yang ada, baru 1 sekolah
memiliki laboraturium IPA, dan 3 sekolah memiliki laboraturium komputer,
sedangkan yang lainnya belum memiliki.
10. Belum semua guru melakukan perencanaan sebelum proses pembelajaran
berlangsung.
11. Aktivitas yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran belum optimal.

C. Pembahasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah sebagaimana disebutkan di atas,
keterbatasan saran prasarana, maka penelitian ini dibatasi hanya pada supervisi
10

pengawas dan kualitas kepemimpinan kepala sekolah hubungannya dengan kinerja
guru pada SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah, maka masalah-
masalah yang dicari pemecahannya melalui penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut :
1. Sejauhmana hubungan supervisi pengawas dengan kinerja guru pada SMP
Negeri Kecamtan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten
Kapuas Hulu.
2. Sejauhmana hubungan kualitas kepemimpinan kepala sekolah dengan
kinerja guru pada SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu.
3. Sejauhmana hubungan supervisi pengawas dan kualitas kepemimpinan
kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerja guru pada SMP Negeri
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas
Hulu.

E. Kegunaan Hasil Penelitian
Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Bagi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kapuas Hulu,
sebagai pengambil kebijakan, penelitian ini merupakan sumber masukan
positif dalam mendorong terwujudnya manajemen pendidikan yang baik
disekolah.
11

2. Bagi kepala sekolah penelitian ini menjadi masukan dalam upaya
meningkatkan kualitas kepemimpinan dan kinerja guru
3. Bagi guru, dapat dipergunakan sebagai landasan untuk menentukan
langkah-langkah dan usaha dalam rangka meningkatkan kinerja sehingga
mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam
dunia pendidikan
4. Bagi peneliti, dapat bermanfaat sebagai penelitian dasar untuk penelitian
lanjutan yang berhubungan dengan kepemimpinan, supervisi dan kinerja
guru.
5. Bagi pembaca, dapat menambah khasanah ilmu pendidikan.


12

BAB II
DESKRIPSI TEORI, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Deskripsi Teori
1. Kinerja Guru
1.1. Pengertian Kinerja
Menurut pendapat Wirawan
4
Kinerja adalah keluaran yang
dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau
suatu profesi dalam waktu tertentu.
Menurut Mangkunegara
5
Kinerja (prestasi kerja) adalah hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggang jawab yang
diberikan kepadanya.
Menurut Suharsaputra
6
Kinerja mempunyai pengertian akan
adanya suatu tindakan atau kegiatan yang ditampilkan oleh seseorang dalam
melaksanakan aktivitas tertentu. Kinerja seseorang akan tampak pada
situasi dan kondisi kerja sehari-hari. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh
seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya menggambarkan bagaimana ia
berusaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

4
Wirawan, 2009, Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia Teori, Aplikasi dan Penelitian,
Jakarta : Salemba Empat, hal. 5.
5
A. A. Anawar Prabu Mangku Negara, 2009, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan,
Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, hal. 67.
6
Uhar Suharsaputra, 2010, Administrasi Pendidikan, Bandung : Refika Aditama, hal. 145.
12
13

Menurut Wibowo
7
Pengertian performance sering diartikan
sebagai kinerja, hasil kerja atau prestasi kerja.
Sedangkan menurut Murray Ainsworth et.el
Basically, it (performance) means an outcome-a result. It is the end point of
people, resources and certain environment being brought together, with
intention of producing certain things, whether tangible product or less
tangible service. To the extent that this interaction result in an out come of
the desired level and quality, at agreed cost levels, perpormance will be
judged as satisfaktory, good, or excellent. To the extent that the outcome is
disappointing, for whatever reason, performance will be judged as poor or
deficient.
8


Menurut Fattah Pengertian kinerja merupakan prestasi kerja atau
penampilan kerja (performance) diartikan sebagai ungkapan kemampuan
yang didasari oleh pengetahuan, sikap, ketrampilan dan motivasi dalam
menghasilkan sesuatu.
9

Menurut Nawawi
10
Mengemukakan kinerja merupakan gabungan
dari tiga faktor yang terdiri dari :
a. Pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan pekerjaan yang
menjadi tanggung jawab dalam bekerja. Faktor ini mencakup jenis dan
jenjang pendidikan serta pelatihan yang pernah diikuti di bidangnya.
b. Pengalaman, yang tidak sekadar berarti jumlah waktu atau lamanya
dalam bekerja, tetapi berkenaan juga dengan substansi yang dikerjakan
yang jika dilaksanakan dalam waktu yang cukup lama akan
meningkatkan kemampuan dalam mengerjakan sesuatu bidang tertentu.
c. Kepribadian, berupa kondisi di dalam diri seseorang dalam menghadapi
bidang kerjanya, seperti, minat, bakat, kemampuan kerja
sama/keterbukaan, ketekunan, kejujuran, motivasi kerja, dan sikap
terhadap pekerjaan.

Kinerja mempunyai makna lebih luas, bukan hanya menyatakan
sebagai hasil kerja, tetapi bagaimana proses kerja berlangsung atau cara

7
Wibowo, 2010, Manajemen Kinerja, Jakarta : Raja Grafindo Persada, hal 2.
8
http : www. Com/Browse/Bookdetail/24595/Managing Performance Managing People, html
9
http : www. Com/Ekonomi Pembiayaan Pendidikan-p-8859, html.

10
Hadari Nawawi, 2006, Evaluasi dan Manajemen Kinerja di Lingkungan Perusahaan dan
Industri,Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, hal. 64-65.
14

bekerja. Di dalamnya terdapat tiga unsur penting yang terdiri dari : 1) unsur
kemampuan, 2) unsur usaha dan 3) unsur kesempatan, yang bermuara pada
hasil kerja yang dicapai. Dengan demikian berarti seseorang yang memiliki
kemampuan yang tinggi dibidang kerjanya hanya akan sukses apabila
memiliki kesediaan melakukan usaha yang terarah pada tujuan organisasi
atau perusahaan. Selanjutnya kemampuan dan usaha tidak akan cukup
apabila tidak ada kesempatan untuk sukses, baik yang diciptakan sendiri
maupun yang diperoleh dari pihak lain, khususnya dari pihak atasan atau
pimpinan.
Menurut Sedarmayanti Kinerja menunjuk pada ciri-ciri atau
indikator sebagai berikut : Kinerja dalam suatu organisasi dapat dikatakan
meningkat jika memenuhi indikator-indikator antara lain : kualitas hasil
kerja, ketepatan waktu, inisiatif, kecakapan dan komunikasi yang baik.
11

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan kinerja
merupakan kemampuan kerja atau prestasi kerja yang diperlihatkan oleh
seseorang guru untuk memperoleh hasil kerja yang optimal sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Guru sebagai tenaga pendidik merupakan pemimpin pendidikan,
sangat menentukan dalam proses pembelajaran, dan peran kepemimpinan
tersebut akan tercermin dari bagaimana guru melaksanakan peran tugasnya.
Hal ini berarti bahwa kinerja guru merupakan faktor yang amat menentukan
bagi mutu pembelajaran yang akan berimplikasi pada kualitas output
pendidikan setelah menyelesaikan sekolah.


11
http : //www. Com/Browse/bookdetail/65349, Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Manajemen
Perkantoran, html.
15

Kinerja guru pada dasarnya merupakan kinerja atau unjuk kerja
yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
Kualitas kinerja guru akan sangat menentukan kualitas hasil pendidikan,
karena guru merupakan pihak yang paling banyak bersentuhan langsung
dengan siswa dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikan sekolah.
Kinerja guru menurut Sudirman yang dikutif AKSI dapat dinilai dari aspek
kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru, yang dikenal
dengan istilah kompetensi guru, yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Menguasai bahan atau materi pembelajaran, yang pada dasarnya berupa
bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah dan bahan
pengayaan/penunjang bidang studi.
2. Mengelola program belajar mengajar, dengan cara merumuskan tujuan
instruksional/pembelajaran, menggunakan proses instruksional dengan
tepat, melaksanakan program belajar mengajar, mengenal kemampuan
anak didik serta merencanakan dan melaksanakan program remidial
3. Mengelola kelas, dengan menciptakan suasana kondusif bagi
berlangsungnya proses belajar mengajar
4. Menggunakan media/sumber, dengan mampu mengenal, memilih dan
menggunakan mendukung pembelajaran, berupa alat bantu,
perpustakaan, teknologi komputer, atau laboraturium secara baik sesuai
dengan kebutuhan.
5. Menguasai landasan kependidikan, sebagai landasan berpijak dan
bertindak edukatif disetiap situasi dalam usaha mengelola interaksi
belajar mengajar.
6. Mengelola interaksi belajar mengajar, merupakan kemampuan yang
harus dimiliki oleh guru dalam upaya transformasi pengetahuan dan
internalisasi nilai kepada peserta didik. Keterampilan guru, metode
mengajar, sarana dan alat atau teknologi pendukung merupakan
komponen penting bagi keberhasilan pengelolaan
7. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran merupakan
kemampuan untuk memenuhi potensi siswa, menganalisis, dan
menggunakan data hasil belajar siswa sebagai umpan balik bagi setiap
siswa
8. Mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan di sekolah
merupakan pemahaman mengenai fungsi dan peranan program ini
untuk kepentingan proses belajar mengajar
16

9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah merupakan
kemampuan untuk melakukan kegiatan administatif seperti pencatatan
dan pelaporan hasil belajar siswa.
10. Memahami prinsip-prinsip dan menapsirkan hasil penelitian guru
keperluan pengajaran, merupakan kemampuan untuk memahami hal-hal
yang berkaitan dengan penalaran untuk menumbuhkan penalaran siswa
dan mengembangkan proses belajar mengajar.
12


Kinerja guru merupakan prestasi atau pencapaian hasil kerja yang
dicapai guru berdasarkan standar dan ukuran penilaian yang ditetapkan.
Standar dan alat ukur tersebut merupakan indikator untuk menentukan
apakah seorang guru berkinerja tinggi atau rendah. Berdasarkan sifat dan
jenis pekerjaannya, standar tersebut berfungsi pula sebagai alat ukur
pertanggungjawaban.
Menurut Dharma
13
Manajemen kinerja adalah suatu cara untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik bagi organisasi, kelompok dan individu
dengan memahami dan mengelola kinerja sesuai dengan target yang telah
direncanakan, standar dan persyaratan kompetensi yang telah ditentukan.
Dengan demikian manajemen kinerja adalah sebuah proses untuk
menetapkan apa yang harus dicapai, dan pendekatannya untuk mengelola
dan pengembangan manusia melalui suatu cara yang dapat meningkatkan
kemungkinan bahwa sasaran akan dapat tercapai dalam suatu jangka waktu
tertentu baik pendek maupun panjang.
Selanjutnya menurut Sianipar Manajemen kinerja adalah proses
pemahaman apa yang harus dicapai dengan menyatukan tujuan organisasi

12
AKSI, 2006, Peran Strategis Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan,
Sumedang : Alqaprint Jatinangor, hal. 75.
13
Surya Dharma, 2009, Manajemen Kinerja, Falsafah Teori dan Penerapannya, Yogyakarta
: Pustaka Pelajar, hal. 25.
17

dengan tujuan individu dan bagaimana cara mengatur aktivitas dan sumber
daya yang tepat agar tujuan atau kinerja yang dinginkan dapat tercapai.
14

Manajemen kinerja guru dapat ditingkatkan paling tidak melalui
aktivitas utama, ini menurut pendapat Hadiwaratama :
1. Setiap guru harus mendapat proporsi waktu yang memadai dalam
perencanaan pengajaran
2. Persiapan guru dalam mengajar harus terkontrol agar benar-benar
memiliki kesiapan untuk tampil di kelas
3. Kepala sekolah harus melakukan supervisi secara teratur untuk
memahami apa yang terjadi dan memberikan pembinaan yang
dipandang perlu untuk meningkatkan kemampuan guru mengajar di
kelas.
4. Kepala sekolah harus selalu meningkatkan pengawasan untuk
mendorong guru-guru agar terbiasa bekerja dalam disiplin tinggi, hadir
di sekolah dan di kelas tepat waktu serta terbiasa melakukan kegiatan
yang inovatif untuk mengembangkan mutu proses belajar mengajar di
kelas.
5. Kepala sekolah tidak segan-segan untuk memberikan hukuman bagi
guru yang kurang disiplin atau melalaikan tugasnya serta
memotivasinya agar berbuat lebih baik.
15


Kinerja guru adalah prilaku atau respon yang memberikan hasil
yang mengacu kepada apa yang mereka kerjakan ketika menghadapi suatu
tugas yang dibebankan kepadanya. Kinerja guru menyangkut semua
kegiatan atau tingkah laku yang dialami guru pada dasarnya lebih berfokus
pada prilaku guru dalam pekerjaannya, demikian pula perihal efektivitas
guru adalah sejauhmana kinerja tersebut dapat memberikan pengaruh
kepada siswa. Karena secara spesifik tujuan kinerja juga mengharuskan para
guru membuat keputusan dimana tujuan mengajar dinyatakan dengan jelas
dalam bentuk tingkah laku yang kemudian ditransfer kepada siswa.


14
Ibid

15
Ibid
18

Pada konteks lain, mana kala kinerja itu dipandang dari sudut
pendidikan atau berbasis pendidikan lebih merupakan perluasan dari suatu
tujuan perilaku, pendidikan yang didasarkan kinerja sangat tepat diterapkan
untuk mata pelajaran dimana perilaku-perilaku yang tepat tersebut
dideskripsikan atau dinilai melalui tes kinerja maupun observasi melalui
prilaku.
Kinerja merupakan gambaran tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan atau program dalam mewujudkan sasaran tujuan, misi dan visi
organisasi. Oleh karena itu, bila ingin mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya, maka perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kinerja tersebut. Faktor yang mempengaruhi pencapaian
kinerja adalah faktor kemampuan atau ability dan faktor motivasi atau
motivation. Hal ini sesuai dengan pendapat Keith Davis yang dikutif
Mangkunegara yang merumuskan bahwa :
Human Performance = Ability +Motivation
Motivation = Attitude +Situation
Ability = Knowledge +Skill
1. Faktor kemampuan
Secara psikologis kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan
potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge+skill). Artinya
pegawai yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110-120) dengan
pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam
mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai
kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu, pegawai perlu ditempatkan
pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man in the
right place, the right man on the right job).
2. Faktor motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam
menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang
menggerakan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan
organisasi (tujuan kerja). Sikap mental merupakan kondisi mental yang
mendorong diri pegawai untuk berusaha mencapai prestasi kerja secara
19

maksimal. Sikap mental seorang pegawai harus sikap mental yang siap
secara psikofisik (siap secara mental, fisik, tujuan dan situasi). Artinya,
seorang pegawai harus siap mental, mampu secara fisik, memahami
tujuan utama dan target kerja yang akan dicapai, mampu
memanfaatkan, dan menciptakan situasi kerja.
16


Berdasarkan pendapat di atas, bahwa faktor kemampuan dasar
mempengaruhi kinerja karena dengan kemampuan yang tinggi maka kinerja
pegawai akan tercapai. Sebaliknya, bila kemampuan pegawai rendah atau
tidak sesuai dengan keahliannya maka kinerjapun tidak akan tercapai.
Begitu juga dengan faktor motivasi yang merupakan kondisi yang
menggerakkan diri pegawai untuk berusaha mencapai prestasi kerja secara
maksimal.

1.2. Tujuan Penilain Kinerja
Suharsimi Arikunto
17
Menegaskan bahwa nilai adalah mengambil
suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik atau buruk. Dengan
demikian penilaian ini merupakan suatu upaya untuk menentukan status,
posisi atau kedudukan dari suatu obyek berdasarkan pada kreteria tertentu.
Upaya membandingkan keadaan obyek dengan kriteria yang ditentukan
disebut penilaian.
Dalam suatu organisasi penilaian kinerja sering disebut sebagai
penilaian prestasi kerja. Penilaian prestasi kerja paling sedikit memiliki dua
kepentingan yakni, kepentingan guru, penilaian ini berperan sebagai umpan
balik tentang berbagai hal seperti kemampuan, kelebihan, kekurangan dan


16
Mangkunegaraop, cit, hal. 68.

17
Suharsimi Arikunto, 1992, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, hal. 3.
20

potensinya yang ada pada gilirannya bermanfaat untuk menentukan tujuan,
jalur, rencana dan pengembangan karirnya. Sedangkan bagi organisasi
menurut Siagian
18
Hasil penelitian ini memiliki arti yang sangat penting
terutama dalam pengambilan keputusan tentang berbagai hal, seperti
identifikasi kebutuhan, program pendidikan dan pelatihan, promosi, sistem
imbalan dan berbagai aspek lain yang dianggap penting bagi organisasi.
Amstrong
19
Menegaskan bahwa :
Penilaian prestasi kerja mempunyai tiga tujuan yakni : 1) membantu
memperbaiki prestasi dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan serta
melakukan hal-hal yang akan mengembangkan kekuatan dan mengatasi
kelemahan, 2) mengenal karyawan yang berpotensi untuk menerima
tanggung jawab yang lebih besar, sekarang atau dimasa yang akan datang
dan memberikan bimbingan mengenai apa yang harus dilakukan untuk
memastikan bahwa potensi ini akan berkembang, 3) membantu dan
memutuskan kenaikan gaji yang seimbang antara tingkat prestasi dan
tingkat gaji.

Dengan demikian penilaian kinerja memiliki arti penting yakni
untuk memperbaiki, meningkatkan dan mengembangkan kualitas input,
proses dan out put suatu lembaga atau organisasi.
Berdasarkan pandangan para pakar di atas dapat dirumuskan bahwa
pada dasarnya kinerja guru adalah mempuyai pengertian akan adanya suatu
tindakan atau kegiatan yang ditampilkan oleh seseorang dalam
melaksanakan aktivitas tertentu, meliputi 4 dimensi : a) dimensi
perencanaan yang terdiri dari 2 indikator, yaitu : 1) penyusunan program, 2)
penyusunan perangkat pembelajaran, b) dimensi melaksanakan
pembelajaran, terdiri dari 1 indikator, yaitu 1) melaksanakan proses


18
Siagian, 2002, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : Bumi Aksara, hal. 223-224.

19
Amstrong, 1994, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Terjemahan Sofyan Cikmat &
Haryanto), Jakarta : Gramedia, hal. 172.
21

pembelajaran, c) dimensi menilai hasil pembelajaran, terdiri dari 3
indikator , yaitu : 1) melaksanakan penilaian hasil belajar, 2) menganalisis
hasil belajar 3) melakukan remedial dan pengayaan, d) dimensi kegiatan
tambahan, yaitu terdiri dari terdiri dari 2 indikator, yaitu : 1) melatih dan
membimbing siswa, 2) bimbingan siswa dalam pengembangan diri.

2. Supervisi Pengawas
2.1. Pengertian Supervisi
Kegiatan supervisi merupakan salah satu tugas dari pengawas
kepada pihak sekolah yang menjadi binaannya dalam rangka mewujudkan
kondisi kerja guru-guru dan pegawai sekolah yang baik dalam
mengembangkan prilaku anggota organisasi sekolah yang bersangkutan.
Menurut pendapat Purwanto
20
Supervisi adalah suatu aktivitas
pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai
sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Fungsi
supervisi dalam pendidikan bukan hanya sekedar kontrol melihat apakah
segala kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana atau program
yang telah digariskan tetapi lebih dari itu, supervisi dalam pendidikan
mengandung pengertian yang luas. Kegiatan supervisi mencakup penentuan
kondisi-kondisi atau syarat-syarat personil maupu material yang diperlukan
untuk terciptanya situasi belajar mengajar yang efektif.


20
M. Ngalim Purwanto, 2005, Adminstrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung : PT Remaja
Rosdakarya, hal. 76.
22

Menurut pendapat Muslim
21
Supervisi adalah sebagai salah satu
model pembinaan staf atau guru-guru. Pada dasarnya para guru dan mereka
yang terlibat dalam berbagai aktivitas kesupervisian lebih mengenal istilah
inspeksi, sebagaimana pernah dan cukup lama dipraktekkan di lingkungan
persekolahan. Antara konsep inspeksi dan supervisi sebenarnya terdapat
pertentangan yang cukup tajam dalam prinsip dan tindakannya. Inspeksi
lebih menekankan kepada kekuasaan dan bersifat otoriter serta selalu
mencari kesalahan-kesalahan guru yang diawasi. Sedangkan supervisi
mengandung pengertian yang lebih demokratis menekankan kepada
persahabatan yang dilandasi oleh pemberian layanan dan bekerja sama lebih
baik antara sesama guru-guru.
Konsep inspeksi tidak bisa disamakan dengan konsep supervisi,
dalam arti konsep inspeksi tidak dapat menjadi alternatif atas konsep
supervisi. Mereka datang dari kawasan manajemen yang berbeda. Dalam
proses manajemen, supervisi berada dalam kawasan directing dan
inspeksi berada dalam kawasan controlling. Oleh karena itu supervisi
cenderung kepada usaha pelayanan dan pemberian bantuan dalam rangka
memajukan dan meningkatkan proses dan hasil belajar mengajar.
Sedangkan inspeksi cenderung kepada usaha atau kegiatan menyelidiki dan
memeriksa penyimpangan-penyimpangan serta kekeliruan yang dibuat oleh
guru-guru dan kepala sekolah dalam rangka melaksanakan program
pengajaran di sekolah.


21
Sri Banun Muslim, 2009, Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas, Profesionalisme Guru,
Bandung : Alfabeta, hal. 36.

23

Dalam prakteknya antara supervisi dan inspeksi mempunyai
pertalian sejarah yang kental. Munculnya supervisi sebagai reaksi atas
praktek inspeksi yang banyak mendapat kecaman dari para staf yang
mendapat perlakuan yang tidak fair. Karena dampak negatif lebih banyak,
maka inspeksi ini makin lama makin ditinggalkan, bersamaan dengan itu
pula lahirlah supervisi yang lebih demokratis sebagi gugatan terhadap
inspeksi.
Seperti yang dikatakan oleh Kimball Wiles yang dikutif Muslim,
Supervision is assistance in the development of a better teaching situation,
goal, material, techiques, method, teacher, student, and environment.
22

Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan
situasi belajar mengajar. Situasi belajar mengajar inilah yang seharusnya
diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervisi. Dengan
demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh aspek dari
penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Istilah supervisi di dunia pendidikan sudah cukup lama dikenal dan
dibahas oleh pakar pendidikan. Siahan
23
, Supervisi adalah segala usaha
petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas
pendidikan lainnya untuk memperbaiki pengajaran, pengembangan
pertumbuhan guru-guru, menyelesaikan dan merevisi tujuan pendidikan,
bahan-bahan pengajaran, metode mengajar dan penilaian pengajaran.


22
Ibid

23
Amirudin Siahan, 2006,Manajemen Pengawas Pendidikan, Jakarta : Quantum Teaching, hal.
14.
24

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi adalah
pemberian bantuan kepada guru-guru, dan staf untuk memperbaiki proses
pembelajaran dengan menggunakan bahan-bahan pengajaran, metode
mengajar dan penilaian hasil belajar.
Menurut Rifai
24
Bahwa supervisi merupakan pengawasan yang
lebih profesional dibandingkan dengan pengawasan umum karena
perkembangan kemajuan pendidikan yang membutuhkannya, yaitu
pengawasan akademik yang mendasarkan kepada kemampuan ilmiah.
Pendekatannya bukan lagi pengawasan manajemen biasa yang bersifat in
human, melainkan menuntut kemampuan profesional yang demokratis dan
humanistic oleh para pengawas dalam melaksanakannya karena kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi, diperlukan pengawasan yang profesional,
yang menuntut kemampuan profesional dari para pengawasnya, dan bukan
hanya wewenang administratif saja. Dengan berkembangnya teori-teori
pendekatan administrasi yang lebih memperhatikan cara-cara pendekatan
manusiawi yang sosial, maka pengawasan berkembang menjadi lebih
humanistic dan demokratis, menjadi supervisi yang kita permasalahkan
sekarang.
Supervisi adalah pengawasan profesional dalam bidang akademik,
dijalankan berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan tentang bidang kerjanya,
memahami tentang pembelajaran lebih mendalam dari sekedar pengawas
biasa. Pengawas profesional menuntut kemampuan ilmu pengetahuan yang


24
Rifai, 1982, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung : Yanmars, hal. 20.
25

mendalam serta kesanggupan untuk melihat sebuah peristiwa pembelajaran
yang tajam. Ia memahami pembelajaran berdasarkan kontektual fenomena
akademik. Sebuah kejadian dipelajari diteliti hubungan dan keterkaitan,
keguanaannya, apa, mengapa dan bagaimana. Kemampuan mengawasi
sangat tajam dalam memahami setiap peristiwa akademik, oleh karena itu
pengawas pendidikan tidak dapat dilakukan oleh sembarang pengawas
apalagi orang yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu. Pengawas pendidikan
harus dijalankan oleh orang yang sesuai keahliannya. Itulah sebabnya istilah
pengawasan dalam pendidikan disebut supervisi, sebab harus mengawasi
dengan cermat dan mendalam peristiwa pembelajaran yang berupa kegiatan
akademik yang sifatnya ilmiah bersumber dari teori yang digunakan dalam
sebuah praktek.
Misi utama supervisi pendidikan adalah memberikan pelayanan
kepada guru untuk mengembangkan mutu pembelajaran, memfasilitasi guru
agar dapat mengajar dengan efektif. Melakukan kerja sama dengan guru
atau anggota staf lainnya untuk meningkatkan mutu pembelajaran,
mengembangkan kurikulum serta meningkatkan pertumbuhan
profesionalisasi semua anggota.
Selanjutnya menurut Suhardan
25
Supervisi adalah aktivitas
akademik yaitu suatu kegiatan pengawasan yang dijalankan oleh orang yang
memiliki pengetahuan lebih tinggi dan lebih dalam dengan tingkat kepekaan
yang tajam dalam memahami objek pekerjaannya dengan hati yang jernih.


25
Dadang Suhardan, 2010, Supervisi Profesional (Layanan dalam Meningkatkan Mutu
Pengajaran di Era Otonomi Daerah), Bandung : Alfabeta, hal 35.
26

Supervisi merupakan kegiatan akademik yang harus dijalankan oleh mereka
yang mempunyai pemahaman mendalam tentang kegiatan yang
disupervisinya. Kegiatan supervisi harus dijalankan oleh orang yang dapat
melihat berdasarkan kenyataan yang ada dan kemudian di bawa kepada
kegiatan yang seharusnya, yaitu kegiatan yang semestinya harus dicapai.
Orang yang menjalankannya dituntut keharusan memiliki pengetahuan yang
mendalam bagaimana sesungguhnya pekerjaan itu dijalankan.
Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun
2007
26
Tentang Standar Pengawas Sekolah Menengah Pertama/Madrasah
Tsanawiyah (SMP/MTS) dan Pengawas Sekolah Menengah Atas/Madrasah
Aliyah (SMA/MA) dan Rumpun Mata Pelajaran. Untuk dimensi kompetensi
supervisi akademik dinyatakan bahwa pengawas harus memiliki kompetensi
sebagai berikut :
1. Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan
kecenderungan perkembangan tiap mata pelajaran dan rumpun mata
pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis.
2. Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik dan
kecenderungan perkembangan proses pembelajaran/ bimbingan tiap
mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah
menengah yang sejenis.
3. Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran dalam
rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis
berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan
prinsip-prinsip pengembangan KTSP.
4. Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan
strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat
mengembangkan berbagai potensi siswa melalui mata-mata pelajaran
dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang
sejenis.


26
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 12 Tahun 2007 Tentang Standar Pengawas
Sekolah Menengah Pertama/Madrasah (SMP/MTS) dan Pengawas Sekolah Menengah Atas
(SMA/MA).
27

5. Membimbing guru dalam menyusun rencana persiapan pembelajaran
(RPP)untuk tiap mata pelajaran dan rumpun mata pelajaran yang
relevan di sekolah menengah yang sejenis
6. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboraturium dan atau di lapangan)
untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di
sekolah menengah yang sejenis
7. Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan
menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan
tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di
sekolah menengah yang sejenis.
8. Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknolohi informasi dalam
pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dan rumpun mata
pelajaran yang relevan.

Kompetensi supervisi akademik adalah kemampuan pengawas
sekolah dalam melaksankan pengawasan akademik, yakni menilai dan
membina guru dalam rangka mempertinggi kualitas proses pembelajaran
yang dilaksanakannya, agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa.
Kompetensi supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam
meningkatkan mutu proses pembelajaran. Oleh sebab itu sasaran supervisi
akademik adalah guru dalam proses pembelajarn, penyusunan silabus dan
RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media
dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil
pembelajaran serta penilaian tindakan kelas.
Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru
mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi
mencapai tujuan pembelajaran. Didalam pelaksanaannya, supervisi
akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan
kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Seorang guru dalam
melaksanakan tugas proses pembelajarannya dalam penilaian pengawasan
28

dapat ditunjukkan penilaian unjuk kerja merupakan bagian integral dari
serangkaian kegiatan supervisi akademik.
Selanjutnya supervisi menurut Nawawi
27
adalah Kegiatan
pengawasan yang dilakukan oleh seorang pejabat terhadap bawahannya
untuk melakukan tugas-tugas dan kewajibannya dengan baik sesuai
pertelaan tugas yang digariskan. Pengertiannya lebih menekankan pada
pengawasan murni dalam arti control kegiatan dari seorang atasan terhadap
bawahannya, agar melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya.
Pengertiannya tidak memberi tekanan pada memberikan bantuan dan
bimbingan bagaimana memperbaiki mutu pekerjaan, melainkan pada
pelaksanaan tugas sesuai pertelaah tugas yang telah digariskan.
Sergiovani dan Starrt
28
mengemukakan Supervision is a proses
designed to help teacher and supervisor leam more about their practice; to
better able to use their knowledge and skill to better serve parents and
school; and to make the school a more efektive learning
community.Artinya, supervisi merupakan suatu proses yang dirancang
secara khusus untuk membantu para kepala sekolah dan guru dalam
mempelajari tugas sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan
pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih
baik pada orang tua peserta didik dan sekolah, serta berupaya menjadikan
sekolah sebagai masyarakat yang lebih baik.


27
Hadari Nawawi, 1997, Administrasi Pendidikan, Jakarta : Gunung Agung, hal. 99.

28
Thomas Sergiovani, 1996, Education and Administration, New J ersey : Prentice Hall Inc, h,
137
29

Menurut Neagley dalam Ngalim mengemukakan bahwa supervisi
diartikan Sebagai bantuan, pengarahan, bimbingan kepala sekolah terhadap
personal.
29
Para pengawas dalam membina dan mengarahkan serta
membimbing guru dapat dilakukan melalui supervisi, mengingat supervisi
tersebut memiliki peran strategis dalam upaya meningkatkan kemampuan
profesional guru dalam kegiatan proses pembelajaran. Pengawas harus
mampu membimbing, membina dan mendorong guru dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapi guru dalam kegiatan pembelajaran, hal ini
supervisi berorientasi pada pengajaran dan usaha perbaikan.
Pendapat lain yang dikemukakan oleh Sutisna
30
dikatakan bahwa
Supervisi oleh pengawas sebagai suatu bentuk pelayanan, bantuan
profesional atau bimbingan guru-guru dan melalui pertumbuhan
kemampuan guru hendak meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran.
Pendapat lain yang dikemukakan oleh Sahertian
31
Menegaskan bahwa
supervisi adalah memberikan layanan kepada guru-guru baik secara
individual maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran.
Dari pengertian-pengertian tersebut di atas dapat ditarik tiga unsur
penting dalam rumusan pengertian supervisi sebagai berikut : 1) unsur
proses pengarahan, bantuan atau pertolongan, 2) unsur personal yang
berhubungan langsung dengan kegiatan organisasi sekolah yang diberikan


29
Ibid

30
Oteng Sutisna, 1993, Administrasi Pendidikan, Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional,
Bandung : Angkasa, hal. 271.

31
Piet A. Sahertian, 2008, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta : Rineka Cipta, hal. 19.
30

pertolongan, dan 3) proses pengelolaan pendidikan sebagai obyek yang
perlu diperbaiki.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa supervisi pengawas
adalah layanan, bantuan, untuk membimbing guru-guru memperbaiki
pengajaran dan meningkatkan mutu pendidikan.
Selain itu Hamalik
32
Mengemukakan bahwa menyangkut
pelayanan Supervisor :
Yaitu pengawas hendaklah berpandangan luas, memahami rencana dan
program yang telah digariskan, berwibawa dan memiliki kecakapan praktis
tentang kepengawasan, terutama human relation, memiliki sifat jujur, tegas
dan konsekuen, ramah dan rendah hati serta berkemauan keras, rajin bekerja
untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Selain itu pula, bahwa
pengawas sebagai supervisor juga harus memiliki keterampilan teknis
seperti : 1) menetapkan criteria untuk menyeleksi sumber-sumber
pengajaran, 2) mendayagunakan system kunjungan kelas, 3)
mendayagunakan rapat kepengawasan pengajaran, 4) merumuskan tujuan
pengajaran yang jelas, 5) mengaplikasikan hasil penelitian, 6)
mengembangkan langkah-langkah evaluasi, 7) mendemonstralisasikan
keterampilan mengajar.

Seorang supervisor apakah ia kepala sekolah, pengawas sekolah
dan pengawas sekolah rumpun mata pelajaran dalam melaksanakan
supervisi hendaknya berlandaskan pada prinsip-prinsip supervisi.
Adapun prinsip supervisi yang dikemukakan oleh Sagala
33
:
1. Ilmiah, berarti :
a) Menggunakan alat (instrument) yang dapat memberikan
informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian
terhadap proses belajar mengajar.
b) Sistematis, berarti dilaksanakan secara teratur, berencana dan
berkelanjutan.
c) Objektif, berarti data yang didapat berdasarkan hasil observasi
nyata. Kegiatan- kegiatan perbaikan atau pengembangan


32
Oemar Hamalik, 2002, Pendekatan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta :
Bumi Aksara, hal. 103.

33
Syaiful Sagala, 2009, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung
Alfabeta, hal.199.
31

berdasarkan hasil kajian kebutuhan-kebutuhan guru atau
kekurangan guru, bukan berdasarkan tafsiran pribadi.
2. Demokratis, berarti menjunjung tinggi azas musyawarah, memiliki
jiwa kekeluargaan yang kuat serta sanggup menerima pendapat
orang lain.
3. Kooperatif, berarti kerja sama seluruh staf dalam kegiatan
pengumpulan data, analisa data dan perbaikan serta pengembangan
proses belajar mengajar hendaknya dilakukan dengan cara kerja
sama seluruh staf sekolah.
4. Konstruktif dan kreatif. Membina inisiatif guru dan mendorong
guru untuk aktif menciptakan suasana dimana tiap orang merasa
aman dan bebas menggunakan potensi-potensinya. Supervisor
perlu menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip tersebut di atas.

Supervisi merupakan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan
teknis edukatif di sekolah, bukan sekedar pengawasan terhadap fisik
material. Supervisi merupakan pengawasan terhadap kegiatan akademik
yang berupa proses belajar mengajar, pengawasan terhadap guru dalam
mengajar, pengawasan terhadap murid yang belajar dan pengawasan
terhadap situasi yang menyebabkannya. Aktifitasnya dilakukan dengan
mengidentifikasi kelemahan-kelemahan pembelajaran yang diperbaiki, apa
yang menjadi penyebab dan mengapa guru tidak berhasil melaksanakan
tugasnya dengan baik. Berdasarkan hal tersebut kemudian diadakan tindak
lanjut yang berupa perbaikan dalam bentuk pembinaan. Pembinaan
merupakan sebuah pelayanan terhadap guru dalam memperbaiki kinerjanya.
Pembinaan selain pelayanan terhadap guru, juga merupakan usaha preventif
unttuk mencegah supaya guru tidak terulang kembali melakukan kesalahan
serupa yang tidak perlu, menggugah kesadarannya supaya mempertinggi
kecakapan dan keterampilan mengajarnya.
32

Dengan adanya pengawasan yang dilakukan oleh supervisor untuk
meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru-guru agar dapat
memperbaiki proses pembelajaran, meningkatkan kinerja guru dan
pendidikan pada umumnya, sehingga mutu pendidikan akan meningkat.

2.2. Program Supervisi Pengawas
Program supervisi biasanya berisikan kegiatan yang akan
dijalankan untuk memperbaiki kinerja guru dalam meningkatkan situasi
pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Di dalam program
supervisi tertuang berbagai usaha dan tindakan yang perlu dijalankan
supaya pembelajaran menjadi lebih baik, sehingga akselerasi belajar peserta
didik makin cepat dalam mengembangkan potensi dirinya, karena guru
lebih mampu mengajar.
Program supervisi harus realistik dan dapat dilaksanakan dengan
baik, sehingga benar-benar membantu mempertinggi kinerja guru. Program
supervisi yang baik menurut Sutisna
34
Mencakup keseluruhan proses
pembelajaran yang membangun lingkungan belajar mengajar yang
kondusif, di dalamnya mencakup maksud dan tujuan, pengembangan
kurikulum, metode mengajar, evaluasi, pengembangan pengalaman belajar
murid yang direncakan baik dalam intra maupun extra kurikuler.
Program supervisi berprinsip kepada proses pembinaan guru yang
menyediakan motivasi yang kaya bagi pertumbuhan kemampuan


34
Ibid.
33

profesionalnya dalam mengajar. Guru menjadi bagian integral dalam usaha
peningkatan mutu sekolah, mendapat dukungan semua pihak disertai dana
dan fasilitasnya. Bukan sebuah kegiatan suplemen atau tambahan.

2.3. Tujuan supervisi Pendidikan
Tujuan supervisi pendidikan adalah memberikan layanan dan
bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan
guru di kelas. Dengan demikian jelas bahwa tujuan supervisi adalah
memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas belajar guru
di kelas yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa.
Bukan saja memperbaiki kemampuan mengajar tapi juga untuk
mengembangkan potensi kualitas guru. Pendapat ini sesuai dengan apa yang
dikemukakan oliva yan dikutif Sahertian bahwa sasaran (domain) supervisi
pendidikan adalah : 1) Mengembangkan kurikulum yang sedang
dilaksanakan di sekolah 2) Meningkatkan proses belajar mengajar di
sekolah 3) Mengembangkan seluruh staf di sekolah.
35


2.4. Pengawas Pendidikan dan Pengawasan
Dalam proses pendidikan, pengawas atau supervisi merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi belajar dan
mutu pendidikan. Supervisi pendidikan tidak lain dari usaha memberikan
layanan kepada stakeholder pendidikan, terutama kepada guru-guru baik
secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas


35
Ibid
34

proses dan hasil pembelajaran. Substansi hakikat pengawasan yang
dimaksud menunjukan pada segenap upaya bantuan supervisor kepada
stakeholder pendidikan terutama guru yang ditujukan untuk perbaikan-
perbaikan dan pembinaan aspek pembelajaran. Bantuan yang diberikan
kepada guru berdasarkan penelitian atau pengamatan yang cermat dan
penilaian yang obyektif dalam acuan perencanaan program pembelajaran
yang dibuat.
Proses bantuan yang diorientasikan pada upaya peningkatan
kualitas proses dan hasil belajar itu penting, sehingga bantuan yang
diberikan benar-benar tepat sasaran dan mampu memperbaiki serta
mengembangkan situasai belajar.
Pengawas satuan pendidikan adalah pejabat fungsional yang
berkedudukan sebagai pelaksana teknis untuk melakukan pengawasan
pendidikan terhadap sejumlah sekolah yang ditunjuk/ditetapkan dalam
upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar/bimbingan untuk
mencapai tujuan pendidikan. Aktivitas pengawas sekolah selanjutnya adalah
menilai dan membina penyelenggaraan pendidikan pada sejumlah satuan
pendidikan dan sekolah tertentu baik negeri maupun swasta yang menjadi
tanggung jawabnya. Penilaian itu dilakukan untuk penentuan derajat
kualitas berdasarkan kriteria (tolak ukur) yang ditetapkan terhadap
penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Sedangkan kegiatan pembinaan
dilakukan dalam bentuk arahan, saran dan bimbingan.
36



36
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, No. 020/U/1998/tanggal
6 Februari 1998.
35

Kegiatan pengawasan harus difokuskan pada prilaku dan
perkembangan siswa sebagai bagian penting dari : Kurikulum/mata
pelajaran, organisasi sekolah, kualitas belajar mengajar, penilaian/evaluasi,
sistem pencatatan, kebutuhan khusus, administrasi dan manajemen,
bimbingan dan konseling, peran dan tanggung jawab orang tua dan
masyarakat.
Fokus pengawaan sekolah meliputi : standarisasi dan prestasi yang
diraih siswa, kualitas layanan siswa disekolah (efektivitas belajar mengajar,
kualitas program kegiatan dalam menuhi kebutuhan dan minat siswa), serta
kepemimpinan dan manajemen sekolah. Kepengawasan merupakan kegiatan
atau tindakan pengawasan dari seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab
dan wewenang melakukan pembinaan dan penilaian terhadap orang atau
satuan pendidikan yang dibina. Seseorang yang diberi tugas tersebut disebut
pengawas atau supervisor. Dalam bidang kependidikan dinamakan
pengawas sekolah atau pengawas satuan pendidikan. Pengawasan perlu
dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara
berkesinambungan pada sekolah yang diawasinya.
Indikator peningkatan mutu pendidikan di sekolah dilihat dari pada
setiap komponen pendidikan antara lain : Mutu lulusan, kualitas guru,
kepala sekolah, staf sekolah (tenaga adminstrasi, laboran dan teknisi, tenaga
perpustakaan), proses pembelajaran, sarana dan prasarana, pengelolaan
sekolah, implementasi kurikulum, sistem penilaian dan komponen lainnya.
Ini berarti melalui pengawasan harus terlihat dampaknya terhadap kinerja
sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan. Itulah sebabnya kehadiran
36

pengawas sekolah harus menjadi bagian integral dalam peningkatan mutu
pendidikan, agar bersama guru, kepala sekolah dan staf sekolah lainnya
berkolaborasi membina dan mengembangkan mutu pendidikan di sekolah
yang menjadi binaan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Kiprah supervisor menjadi bagian integral dalam peningkatan mutu
pendidikan di sekolah dapat divisualisasikan tanpak bahwa hakikat
pengawasan memiliki empat dimensi, menurut Majalah Forwas
37
Yaitu :
a. Support
Dimensi ini menunjukan pada hakikat kegiatan pengawasan yang
dilakukan oleh supervisor itu harus mampu mendukung (support)
kepada pihak sekolah untuk mengevaluasi diri kondisi existingnya.
Oleh karena itu supervisor bersama pihak sekolah dapat melakukan
analisis kekuatan, kelemahan dan potensi serta peluang sekolahnya
untuk mendukung peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan.
b. Trus
Dimensi ini menunjuk pada hakikat kegiatan pengawas yang dilakukan
oleh supervisor itu harus mampu membina kepercayaan (trust)
stakeholder pendidikan dengan menggambarkan profil dinamika
sekolah masa depan yang lebih baik dan menjanjikan.
c. Challenge
Dimensi ini menunjuk pada hakekat kepengawasan yang dilakukan
supervisor itu harus mampu memberikan tantangan pengembangan
sekolah kepada stakeholder pendidikan disekolah. Tantangan ini harus
dibuat serealistis mungkin agar dapat dan mampu dicapai oleh pihak
sekolah, berdasarkan pada situasi dan kondisi sekolah pada saat ini,
dengan demikian stakeholder tertantang untuk bekerjasama secara
kolaboratif dalam rangka mengembangkan mutu sekolah.
d. Networking and Collaboration
Dimensi ini menunjukan pada kakekat kegiatan pengawasan yang
dilakukan oleh supervisor itu harus mampu mengembangkan jejaring
dan berkolaborasi antar stakeholder pendidikan dalam rangka
meningkatkan produktivitas, efektivitas dan efisiensi pendidikan di
sekolah.

Fokus dari keempat dimensi hakikat pengawasan itu dirumuskan
dalam tiga aktivitas utama pengawasan berdasarkan Forwas (forum


37
Majalah Forum Pengawas, Nomor 28/XII/2008, hal. 11.
37

Kepengawasan Nomor 28/XII/2008, halaman 12) yaitu : negosiasi,
kolaborasi dan networking. Negosiasi dilakukan oleh supervisor terhadap
stakeholder pendidikan dengan focus pada substansi apa yang dapat dan
perlu dikembangkan atau ditingkatkan serta bagaimana cara
meningkatkannya. Kolaborasi merupakan inti kegiatan supervisi yang harus
selalu diadakan kegiatan bersama dengan pihak stakeholder pendidikan di
sekolah binaannya. Hal ini penting karena muara untuk terjadinya
peningkatan mutu pendidikan ada pada pihak sekolah. Networking
merupakan inti hakikat kegiatan supervisi yang prospektif untuk
dikembangkan terutama pada era globalisasi dan cybernet teknologi seperti
sekarang ini.
Jejaring kerja sama dapat dilakukan baik secara harisontal maupun
vertical. Jejaring kerjasama secara harisontal dilakukan dengan sesama
sekolah sejenis untuk saling bertukar informasi dan sharing pengalaman
pengembangan mutu sekolah, misalnya melalui MKP, MKKS, MGBS,
MGMP. Jejaring kerja sama secara vertiakal dilakukan baik dengan sekolah
pada arah dibawahnya sebagai pemasok siswa barunya, maupun dengan
sekolah pada jenjang pendidikan di atasnya sebagai lembaga yang akan
menerima para siswa lulusannya.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku saat ini pengawas sekolah atau
pengawas satuan pendidikan adalah tenaga kependidikan profesional yang
diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang
berwenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan pendidikan di
38

sekolah baik pengawasan dalam bidang akademik (teknis pendidikan)
maupun bidang manajerial (pengelolaan sekolah). Jabatan pengawas adalah
jabatan fungsional bukan jabatan struktural sehingga untuk menyandang
predikat sebagai pengawas haruslah sudah berstatus tenaga pendidik/guru
dan atau kepala sekolah/wakil kepala sekolah, setidak-tidaknya pernah
menjadi guru.
Berdasarkan rumusan di atas maka kepengawasan adalah aktifitas
profesional pengawas dalam rangka membantu sekolah binaannya melalui
penilaian dan pembinaan yang terencana dan berkesinambungan.
Pembinaan diawali dengan mengidentifikasi dan mengenali kelemahan
sekolah binaannya, menganalisis kekuatan/potensi dan prospek
pengembangan sekolah sebagai bahan untuk menyususn program
pengembangan mutu dan kinerja sekolah binaannya.
Untuk itu pengawas harus mendampingi pelaksanaan dan
pengembangan program-program inovasi sekolah. Ada tiga langkah yang
harus ditempuh pengawas dalam menyusun program kerja agar dapat
membantu sekolah mengembangkan program inovasi sekolah.
Ketiga langkah tersebut adalah :
a) Menetapkan standar/kriteria pengukuran performasi sekolah
(berdasarkan evaluasi diri sekolah).
b) Membandingkan hasil tampilan performansi itu dengan ukuran dan
kriteria/benchmerk yang telah direncanakan, guna menyusun program
pengembangan sekolah.
39

c) Melakukan tindakan pengawasan yang berupa
pembinaan/pendampingan untuk memperbaiki implementasi program
pengembangan sekolah.
Dalam melaksanakan kepengawasan, ada sejumlah prinsip yang
dapat dilaksanakan pengawas agar kegiatan kepengawasan berjalan efektif.
Prinsip-prinsip tersebut antara lain : Trust, artinya kegiatan kepengawasan
dilaksanakan dalam pola hubungan kepercayaan antara pihak sekolah
dengan pihak pengawas sekolah sehingga hasil kepengawasannya dapat
dipercaya. Realistic, artinya kegiatan pengawasan dan pembinaannya
dilaksanakan berdasarkan data eksisting sekolah. Utility, artinya proses dan
hasil pengawasan harus bermuara pada manfaat bagi sekolah untuk
mengembangkan mutu dan kinerja sekolah binaannya. Supporting,
Networking dan collaborating, artinya seluruh aktivitas pengawas pada
hakikatnta merupakan dukungan terhadap upaya sekolah menggalang
jejaring kerja sama secara kolaboratif dengan seluruh stakeholder. Testable,
artinya hasil pengawasan harus mampu menggambarkan kondisi kebenaran
objektif dan siap diuji ulang atau dikonfirmasi pihak manapun.
Prinsip-prinsip di atas digunakan pengawas dalam rangka
melaksanakan tugas pokoknya sebagai seorang pengawas/supervisor
pendidikan pada sekolah yang dibinanya. Dengan demikian kehadiran
pengawas di sekolah bukan untuk mencari kesalahan sebagai dasar untuk
memberi hukuman akan tetapi harus menjadi mitra sekolah dalam membina
dan mengembangkan mutu pendidikan di sekolah sehingga secara bertahap
40

kinerja sekolah semakin meningkat menuju tercapainya sekolah yang
efektif.
Prinsip-prinsip kepengawasan itu harus dilaksanakan dengan tetap
memperhatikan kode etik pengawas satuan pendidikan. Kode etik yang
dimaksud minimal berisi sembilan hal berikut ini :
1) Dalam melaksanakan tugasnya pengawas satuan pendidikan senantiasa
berlandaskan Iman dan Taqwa serta mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknilogi.
2) Pengawas satuan pendidikan senantiasa merasa bangga dalam
mengemban tugas sebagai pengawas.
3) Pengawas satuan pendidikan memiliki pengabdian yang tinggi dalam
menekuni tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas.
4) Pengawas satuan pendidikan bekerja dengan penuh rasa tanggungjawab
dalam melaksanakan tugas profesinya sebagai pengawas.
5) Pengawas satuan pendidikan menjaga citra dan nama baik profesi
pengawas.
6) Pengawas satuan pendidikan menjunjung tinggi disiplin dan etos kerja
dalam melaksanakan tugas profesional pengawas.
7) Pengawas satuan pendidikan mampu menampilkan keberadaan dirinya
sebagai supervisor profesional dan tokoh yang diteladani.
8) Pengawas satuan pendidikan sigap dan trampil dalam menanggapi dan
membantu pemecahan masalah-masalah yang dihadapi stakeholder
sekolah binaannya.
41

9) Pengawas satuan pendidikan memiliki rasa kesetiakawanan sosial yang
tinggi, baik terhadap stake holder sekolah binaannya maupun terhadap
koleganya.

2.5. Prinsip-Prinsip Supervisi Pengawas
Masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi
dilingkungan pendidikan adalah bagaimana cara mengubah pola pikir yang
bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif.
Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi di mana guru-guru merasa
aman dan merasa diterima sebagai subjek yang dapat berkembang sendiri.
Untuk itu supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang
objektif. Bila demikian, maka prinsip-prinsip yang dilaksanakan adalah :
a. Prinsip ilmiah
Prinsip ilmiah mengandung ciri-ciri sebagai berikut :
1) Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang
diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.
2) Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data, seperti
angket, observasi, percakapan pribadi, dan seterusnya.
3) Setiap kegiatan supervise dilaksanakan secara sistematis, berencana
dan kontinyu.
b. Prinsip Demokratis
Layanan dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan
hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru
merasa aman untuk mengembangkan tugasnya. Demokratis
mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru,
42

bukan berdasarkan atasan dan bawahan, tapi berdasarkan rasa
kesejawatan.
c. Prinsip Kerja sama
Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah Supervisi
Sharing of idea, sharing of experience, memberi support, mendorong,
menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama/
d. Prinsip konstruktif dan kreatif
Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan
potensi kreatifitas kalau supervisi mampu menciptakan suasana kerja
yang menyenangkan, bukan melalui cara-cara menakutkan.

2.6. Metode dan teknik supervisi pengawas
Usaha untuk membantu meningkatkan dan mengembangkan
potensi sumber daya guru dapat dilaksanakan dengan berbagai alat (device)
dan teknik supervisi. Umumnya alat dan teknik supervisi dapat dibedakan
dalaam dua macam alat atau teknik. Menurut John Minor Gwy yang dikutif
Sahertian teknik yang bersifat individual, yaitu Teknik yang dilaksanakan
untuk seorang guru secara individual dan teknik yang bersifat kelompok,
yaitu teknik yang dilakukan untuk melayani lebih dari satu orang.
38

Metode dan Teknik Supervisi
Tugas pengawas satuan pendidikan ketika melaksankan tugas
pengawasnya, haruslah memahami metode dan teknik supervisi akademik
agar kegiatan supervisi dapat dilaksanakan dengan baik dan hasil


38
Sahertian op, cit, hal. 52.
43

pembinaannya mencapai tujuan. Ada beberapa metode dan teknik supervisi
yang dapat dilakukan pengawas. Metode-metode tersebut dibedakan antara
yang bersifat individual dan kelompok :
a. Teknik yang bersifat individual
1) Perkunjungan kelas
Perkunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala
sekolah, pengawas datang ke kelas untuk melihat cara guru mengajar di
kelas. Tujuan perkunjungan kelas adalah untuk memperoleh data
mengenai keadaan sebenarnya selama guru mengajar. Dengan data itu
superisor dapat berbincang-bincang dengan guru tentang kesulitan yang
dihadapi guru-guru. Pada kesempatan itu guru-guru dapat
mengemukakan pengalaman-pengalaman yang berhasil dan hambatan-
hambtan yang dihadapi serta meminta bantuan, dorongan dan mengikut
sertakan.
Ada tiga macam perkunjungan kelas yaitu :
a) Perkunjungan tanpa diberitahu (unannounced visitation),
Supervisor tiba-tiba datang ke sekolah tanpa diberitahukan
lebih dahulu.
b) Perkunjungan dengan cara memberi tahu lebih dahulu
(announced visitation), biasanya supervisor telah memberikan
jadwal perkunjungan sehingga guru-guru tahu pada hari dan
jam berapa ia akan dikunjungi.
c) Perkunjngan atas undangan guru (visit open invitation),
perkunjungan seperti ini akan lebih baik. Oleh karena itu guru
44

punya usaha dan motivasi untuk mempersiapkan diri dan
membuka diri agar dia dapat memperoleh balikan dan
pengalaman baru dari hal perjumpaannya dengan supervisor.
2) Observasi kelas
Observasi kelas secara sederhana dapat diartikan melihat dan
memperhatikan secara teliti terhadap gejala yang tampak. Observasi
kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap
proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Ada dua macam
observasi kelas yaitu observasi lnagsung dan observasi tidak langsung.
Observasi langsung dengan menggunakan alat observasi, supervisor
mencatat absen yang dilihat pada saat guru sedang mengajar,
sedangkan observasi tidak langsung yaitu orang yang diobservasi
dibatasi oleh ruang kaca di mana murid-murid tidak mengetahuinya
(biasanya dilakukan dalam laboraturium untuk pengajaran mikro).
Adapun tujuan observasi adalah :
a) Untuk memperoleh data yang subyektif mungkin sehingga
bahan yang diperolah dapat digunakan untk menganalisis
kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru-guru dalam usaha
memperbaiki hal belajar mengajar.
b) Bagi guru sendiri data yang dianalisis akan dapat membantu
untuk mengubah cara-cara mengajar kearah yang lebih baik.
c) Bagi murid-murid sudah tentu akan dapat menimbulkan
pengaruh positif terhadap kemajuan belajar mereka.
45

3) Percakapan Pribadi (individual conference)
Individual conference atau percakapan pribadi antara seorang
supervisor dengan seorang guru. Dalam percakapan itu kedua-duanya
berusaha berjumpa dalam pengertian tentang mengajar yang baik. Yang
dipercayakan adalah usaha-usaha untuk memecahkan problema yang
dihadapi oleh guru. Salah satu yang penting dalam supervisi adalah
individual conference, sebab dalam individual conference seorang
supervisor dapat bekerja secara individual dengan guru dalam
memecahkan problema-problema pribadi yang berhubungan dengan
jabatan mengajar (personal and professional problem) misalnya,
pemilihan dan pemakaian alat-alat pelajaran tentang penantuan dan
penggunaan metode mengajar dan sebagainya.
Adapun tujuan individual conference atau percakapan pribadi :
a) Terutama sekali untuk memberikan kemungkinan
pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan-
kesulitan yang dihadapi.
b) Memupuk dan mengembangkan hal mengajar yang lebih baik
lagi.
c) Memperbaiki kelemahan-kelemahan dan kekurangan-
kekurangan yang sering dialami oleh guru dalam
melaksanakan tugasnya di sekolah.
d) Menghilangkan dan menghindari segala prasangka yang bukan
bukan.
46

4) Saling mengunjungi kelas (intervisation)
Saling mengunjungi kelas dapat juga digolongkan sebagai
teknik supervisi secara perorangan. Kegiatan ini dilakukan guru yang
satu berkunjung ke kelas yang lain dalam lingkungan sekolah itu
sendiri. Dengan mengunjungi kelas ini diharapan guru akan
memperoleh pengalaman baru dari teman sejawatnya melalui
pelaksanaan proses pembelajaran, pengelolaan kelas, dan sebagainya.
Adapun mengunjungi kelas dapat berhasil dengan baik
dan bermanfaat, maka harus ada beberapa hal yang diperhatikan antara
lain :
a) Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi dengan
sebaik-baiknya. Diupayakan agar mencari guru yang
berpengalaman sehingga mampu memberikan pengalaman
baru bagi guru-guru yang akan mengunjungi.
b) Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi.
c) Sediakan segala fasilitas yang diperlukan dalam kunjungan
kelas.
d) Pengawas hendaknya mengikuti cara ini dengan cermat.
Amatilah apa-apa yang ditamapilkan secara cermat, dan
mencatatnya pada format-format tertentu.
e) Adakan tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas, misalnya
dengan percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-
tugas tertentu.
47

f) Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan,
yaitu dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang
dihadapi.
g) Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan
antar kelas berikutnya.
5) Menilai diri sendiri
Salah satu tugas yang tersukar bagi guru-guru adalah melihat
kemampuan diri sendiri dalam menyajikan bahan pelajaran. Untuk
mengukur kemampuan mengajarnya, disamping menilai murid-murid,
juga penilian terhadap diri sendiri merupakan teknik yang dapat
membantu guru dalam pertumbuhannya.
Tipe dari alat ini yang dapat digunakan antara lain berupa :
a) Suatu daftar pandangan/pendapat yang disampaikan kepada
murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas.
Biasanya disusun dalam bentuk bertanya baik secara tertutup
maupun secara terbuka dan tidak perlu memakai nama.
b) Menganalisis tes-tes terhadap unit-unit kerja.
c) Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan (record)
baik mereka bekerja secara perorangan maupun secara
kelompok.
b. Teknik supervisi kelompok
Teknik supervisi kelompok adalah suatu teknik yang digunakan
untuk dilaksanakan bersama-sama oleh supervisor dengan sejumlah guru
dalam suatu kelompok.
48

Teknik supervisi kelompok ada beberapa diantaranya adalah :
1) Pertemuan orientasi bagi guru-guru 2) Panitia penyelenggara 3) Rapat
guru 4) Diskusi sebagai proses kelompok 5) Tukar menukar pengalaman 6)
Lokakarya (workshop) 7) Diskusi panel 8) Seminar 9)Demonstrasi
mengajar 10) Buletin supervisi 11) Laboraturium kurikulum.
Berdasarkan pandangan para pakar di atas dapat dirumuskan bahwa
pada dasarnya supervisi pengawas adalah layanan, bantuan, pembinaan
yang diberikan pengawas sekolah kepada kepala sekolah dan guru dalam
rangka memberikan jalan keluar terhadap berbagai permasalahan tugas
sehari-hari di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu proses
pembelajaran, meliputi 3 dimensi : a) dimensi peran supervisi pengawas
yang terdiri dari 5 indikator, yaitu : 1) bantuan kepada kepala sekolah
memecahkan persoalan akademik, 2) bantuan kepada guru, 3) pembinaan
kepada guru, 4) memupuk semangat kepala sekolah, 5) pembinaan
pengelolaan administrasi sekolah b) dimensi karakteristik supervisi
pengawas terdiri dari 3 indikator yaitu : 1) pengalaman supervisi, 2)
musyawarah supervisi, 3) peningkatkan kualitas kepemimpinan, c)
dimensi pelaksanaan supervisi 2 indikator yaitu : 1) peningkatan kualitas
pendidikan, 2) kerja sama.

3. Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
3.1. Pengertian Kepemimpinan
Dalam setiap kegiatan manusia yang beranggotakan orang-orang
dilakukan bersama-sama untuk mencapai tujuan selalu membutuhkan
49

kepemimpinan, demikian juga dalam suatu organisasi keberadaan pimpinan
sangat penting. Keberhasilan dari sebagian besar organisasi ditentukan oleh
kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh orang-orang yang diserahi
amanah untuk memimpin organisasi, yaitu kemampuan mempengaruhi
bawahan agar bekerja sesuai dengan tujuan yang ditentukan organisasi.
Orang yang menjalankan proses kepemimpinan disebut pemimpin
sedangkan orang yang dipimpin disebut anggota atau pengikut. Dalam
berbagai tindakannya seorang pemimpin mempengaruhi anggota, karena itu
peran pemimpin sangat signifikan dalam menentukan arah dan kualitas
kehidupan manusia, baik dalam keluarga maupun organisai dan masyarakat
serta negara pada suatu bangsa, bahkan proses kepemimpinan dapat
berlangsung di mana saja dan setiap waktu.
Menurut pendapat Yukl
39
Kepemimpinan adalah proses untuk
mempengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju dengan apa yang
perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif, serta
proses untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai
tujuan bersama.
Dalam kepemimpinan ini mencakup upaya yang tidak hanya
mempengaruhi dan memfasilitasi pekerjaan kelompok atau organisasi yang
sekarang tetapi dapat juga digunakan untuk memastikan bahwa semuanya
dipersiapkan untuk memenuhi tantangan di masa depan. Dan kepemimpinan
dipandang baik sebagai peran khusus dan proses pemberian pengaruh secara


39
Gary Yukl, 2009, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Jakarta : PT. Indeks, hal. 8.
50

sosial. Setiap orang dapat memerankannya misalnya kepemimpinan dapat
dilakukan bersama atau didistribusikan, tetapi beberapa pembedaan peran
diasumsikan terjadi dalam berbagai kelompok atau organisasi. Baik proses
rasional maupun emosional ditinjau sebagai aspek yang esesnsisal dalam
kepemimpinan. Tidak ada asumsi yang dilakukan atas hasil aktual dari
proses pengaruh, karena evaluasi harus sangat sulit dilakukan dan sangat
subyektif.
Menurut Adair
40
Kepemimpinan adalah seni memengaruhi
sekelompok orang untuk mengikuti suatu alur kegiatan, seni mengendalikan
mereka, mengarahkan mereka, dan membuat mereka mengeluarkan potensi
terbaik.
Kepemimpinan merupakan seni mempengaruhi bawahan dan
berkaitan dengan manajem untuk menggerakkan orang-orang agar dapat
bekerja dengan segenap potensi yang dimiliki dalam mencapai tujuan
organisisi.
Menurut Robbins
41
Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk
mempengaruhi sebuah kelompok untuk mencapai suatu visi atau
serangkaian tujuan tertentu. Selanjutnya menurut Hampton
42
menegaskan
bahwa Kepemimpinan merupakan kreativitas kesanggupan mempengaruhi
dan memotivasi pihak lain dalam mencapai tujuan organisasi. Dalam
kreativitas seni pemimpin adalah seni membangun lembaga, mengerjakan


40
John Adair, 2007, Cara menumbuhkan Pemimpin, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, hal
15

41
Stephan P. Robbin, 2007,, Organization Behavior, Jakarta : Salemba Empat, hal. 48.

42
David R. Hampton, 1993, Management, New York : McGraw-Hill Book Campany, hal. 449
51

orang dan teknologi, mengatur serta mempertahankannya. Maka kaitan
dengan kepemimpinan kepala sekolah di sini adalah kemampuan kepala
sekolah dalam mempengaruhi, memotivasi, memberikan contoh dan
teladan terhadap guru dalam mencapai tujuan pendidikan.
Yang perlu diingat bahwa pemimpin menjadi pemberi inspirasi,
motivasi, dorongan, penggerak dan semangat serta gagasan baru, hal ini
sependapat dengan Wirawan
43
bahwa Inovasi merupakan kemampuan
untuk menerapkan ide-ide baru untuk memecahkan masalah yang dihadapi
mencapai peluang atau memproduksi produk baru. Untuk mencapai tujuan,
pemimpin mengadakan dan memanfaatkan hal-hal yang dapat membantu
bawahan. Hal-hal tersebut adalah dapat berupa sarana bendawi seperti alat-
alat, modal, tanah, kendaraan, gedung dapat pula berupa sarana non
bendawi seperti peraturan, cita-cita yang dicanangkan, instruksi yang
dikeluarkan dan lain-lain.
Selanjutnya menurut Lester yang dikutif oleh Timpe,
Kepemimpinan sebagai seni mempengaruhi dan mengarahkan orang
dengan cara kepatuhan, kepercayaan, hormat dan bersemangat untuk
bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.
44
Dalam kepemimpinan
terdapat tiga unsur penting, yaitu : 1) keterlibatan orang lain, 2) kekuasaan,
dan 3) pengaruh.
45
Titik sentral kepemimpinan adalah kekuasaan merupakan
unsur penting dari inti kepemimpinan.


43
Wirawan, 2003, Kapita Selekta, Teori Kepemimpinan, Pengantar Untuk Praktek dan
Penelitian, Jakarta : Kerja Sama Yayasan Bangun Indonesia & UHAMKA Press, hal. 77

44
A. Dale Timpe, 1991, Seni dan Pengetahuan Bisnis: Kepemimpinan, terjemahan Susanto
Budidharmo, Jakarta : PT. Gramedia, hal. 181.

45
Ibid, hal. 294.
52

Menurut pendapat Sanusi
46
Kepemimpinan adalah keseluruhan
tindakan guna mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha
bersama untuk mencapai tujuan.
Dalam perkembangan sekarang, keberhasilan suatu organisasi
sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki orang-
orang yang diangkat atau diserahi tanggung jawab sebagai pemimpin
dimasyarakat atau dalam suatu organisasi. Para pemimpin harus memiliki
keterampilan dan sifat-sifat yang baik sebagai syarat bagi seorang pemimpin
dalam suatu organisasi.
Selanjutnya menurut Syafaruddin
47
Pemimpin adalah seorang
yang dipercaya dengan kemampuannya diakui sebagai pemimpin ditengah-
tengah masyarakat. Berarti dalam setiap situasi yang bagaimanapun, proses
kepemimpinan atau aktivitas pemimpin dapat berlangsung di industri,
organisasi pemerintah, organisasi politik, bisnis maupun pada kegiatan
pendidikan di sekolah.
Kepemimpinan adalah suatu proses di mana pimpinan digambarkan
akan memberikan perintah atau pengarahan, bimbingan atau mempengaruhi
pekerjaan orang lain dalam memilih atau mencapai tujuan. Kepemimpinan
adalah Perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas
suatu kelompok, ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama.
Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti terhadap usaha kolektif
dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan

46
Achmad Sanusi, 2009, Kepemimpinan Sekarang dan Masa Depan, Bandung : Prospect,
hal. 19
47
Syafaruddin, 2010, Kepemimpinan Pendidikan, Jakarta : Quantum Teaching, hal 49.
53

untuk mencapai sasaran. Kepemimpinan adalah pengaruh antara pribadi
yang dijalankan dalam suatu situs tertentu serta diarahkan melalui proses
komunikasi kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu. Menurut
Bacal
48
Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi suatu kelompok
yang terorganisasi untuk mencapai tujuan-tujuannya.
Kepemimpinan adalah mereka yang secara konsisten memberikan
kontribusi yang efektif terhadap orde social dan diharapkan serta
dipersepsikan melakukannya. Dalam rumusan lain, kepemimpinan diartikan
sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi pihak lain berbuat
sesuai dengan kehendak orang itu, meskipun pihak lain itu tidak
menghendakinya. Suatu kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang-orang
agar bekerja sama menuju kepada suatu tujuan tertentu yang mereka
inginkan bersama.
Menurut Siagian
49
menjelaskan bahwa Kepemimpinan merupakan
penyatupaduan dari kemampuan, cita-cita, dan semangat kebangsaan dalam
mengatur, mengendalikan, dan mengelola sebuah organisasi.
Sedangkan menurut Sudarman Danin
50
Kepemimpinan adalah
setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk
mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang
tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.


48
Robert Bacal, 2004, Leadership Is Everyones Business, Kiat Sukses Menjadi Pemimpin Andal,
Yogyakarta : Pinkbooks, hal. 2.

49
Sondang P. Siagian, 2003, Teori dan Praktek Kepemimpinan, Jakarta : PT Rineka Cipta, hal. 2

50
Sudarman Danin, 2010, Kepemimpinan Pendidikan, Bandung : Alfabeta, hal. 6.
54

Sebagai pemimpin lembaga organisasi sekolah, kepala sekolah
harus memiliki kemampuan mengelola, dimana dalam mengelola organisasi
sekolah membutuhkan keterampilan kepemimpinan. Kemampuan
mengelola dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-
orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Sutisna
51

merumuskan kemampuan mengelola sebagai Proses mempengaruhi
kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan
dalam situasi tertentu.
Menurut Soepardi
52
kemampuan mengelola sebagai Kemampuan
untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan,
menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang dan bahkan
menghukum (kalau perlu), serta membina dengan maksud agar manusia
mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan
efesien. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengelola
sedikitnya mencakup tiga hal yang saling berhubungan, yaitu adanya
pemimpin dan karakteristik, adanya pengikut, serta adanya situasi kelompok
tempat pemimpin dan pengikut berinteraksi, oleh sebab itu peran kepala
sekolah dalam kepemimpinannya harus memiliki kemampuan
berkomunikasi dengan baik, hal tersebut sesuai dengan pandangan
Wirawan
53
Bahwa pada prakteknya seorang pemimpin seperti kepala
sekolah merupakan orang yang komunikatif dan menganggap komunikasi
sangat menentukan keberhasilan kepemimpinannya.


51
Oteng Sutisna, 1993, Adminstrasi Pendidikan : Dasar-dasar Teoritis dan Praktek Profesional,
Bandung : Angkasa, hal. 42.

52
Soepardi, 1988, Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan, Jakarta : P2LPTK, hal.18

53
Wirawan op, cit, hal. 126.
55

Beberapa ahli dalam mengemukakan pendapatnya bahwa
kepemimpinan memberikan pengertian yang berbeda-beda sesuai dengan
kepentingan dan keahlian dibidangnya masing-masing. Seperti yang
dikemukakan oleh Mardjin Syam
54

Kepemimpinan dalam suatu organisasi adalah keseluruhan tindakan-
tindakan guna mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha
bersama untuk mencapai tujuan, atau pendapat yang lebih lengkap dapat
dikatakan bahwa kepemimpinan adalah proses pemberian bimbingan
(pimpinan) atau teladan dan pemberian jalan yang mudah (fasilitas) dari
pada pekerjaan orang-orang yang terorganisisr formal guna mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.

Dari pendapat tersebut di atas nampak ada beberapa hal penting,
seperti berikut :
1. Kepemimpinan dilihat sebagai serangkaian tindakan atau sebagai
proses.
2. Adanya tujuan-tujuan tertentu yang hendak dicapai bersama
3. Fungsi kepemimpinan itu adalah untuk mempengaruhi orang lain
dalam kegiatan atau usaha bersama.
Perwujudan kegiatan pimpinan antara lain berupa pemberian
contoh atau bimbingan, pemberian jalan yang mudah bagi kegiatan-kegiatan
atau usaha-usaha yang terorganisasi, kegiatan dalam mencapai tujuan
bersama dalam organisasi formal. Kepemimpinan tersebut cenderung
bersifat formal maka berdasarkan pendapat tersebut dapat apat diambil suatu
kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi dari
seorang pemimpin kepada bawahannya untuk mencapai tujuan yang telah


54
Mardjin Syam, 1986, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Surabaya : Yayasan Pendidikan
Practise, hal. 4.
56

direncanakan sebelumnya. Dan seorang pemimpin dituntut untuk dapat
memberikan bimbingan, suri tauladan yang mengarahkan kepada hal-hal
yang positif dalam rangka mencapat tujuan bersama.
Berdasarkan pendapat pakar di atas dapat disimpulkan :
1. Kepemimpinan adalah Proses untuk mempengaruhi, mengarahkan,
memotivasi orang lain untuk memahami tugas yang dilakukan serta
memfasilitasi upaya individu dan kolektif dalam mencapai tujuan.
2. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi bawahan dan
untuk mengikuti suatu alur kegiatan, seni mengendalikan dan seni
mengarahkan sesuai dengan potensi yang dimiliki serta
menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan
pendidikan.

3.2. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kepemimpinan menurut Soekarto Indrafachrudi
55
Adalah tiap-
tiap orang yang merasa terpanggil untuk melaksanakan tugas memimpin di
dalam lapangan pendidikan dapat disebut pemimpin pendidikan. Kepala
sekolah adalah guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin, yang
mengemban kewenangan profesi dimana selaku pimpinan bertugas untuk
mengarahkan dan membimbing tenaga-tenaga kependidikan. Dengan
demikian kepala sekolah tidak terlepas dari tuntutan penguasaan
kemampuan kepemimpinan profesional dibidang pendidakan. Potensi


55
Soekarto Indrafachrudi, 2006, Bagaimana Memimpin Sekolah, Bandung : Ghalia Indonesia,
hal. 1.
57

kepemimpinan kepala sekolah harus memiliki gagasan yang dapat dihormati
guru dan tata usaha.
Menurut Soetopo dan Soemanto yang dikutif Syafaruddin
menjelaskan :
Kepemimpinan pendidikan ialah kemampuan untuk mempengaruhi dan
menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan pendidikan secara bebas
dan sukarela. Didalam kepemimpinan pendidikan sebagaimana dijalankan
oleh para pemimpin (Rektor, dekan, direktur, kepala sekolah/madrasah,
pimpinan pesanteren). Harus dilandasi konsep demokratisasi, spesialisasi
tugas, pendelegasian wewenang, profesionalitas dan integrasi tugas untuk
mencapai tujuan bersama yaitu tujuan organisasi pendidikan, tujuan
individu dan tujuan pemimpinnya.
56


Sebagai pemimpin pendidikan, maka kepala sekolah adalah
tergolong pemimpin resmi (formal leader) atau pemimpin sebagai
kedudukan (status leader). Dalam kedudukannya sebagai pemimpin
pendidikan yang resmi sehingga dia bertanggung jawab dalam pengelolaan
pengajaran, ketenagaan, kesiswaan, sarana dan prasarana, keuangan serta
hubungan dengan masyarakat, disamping tugasnya dalam supervisi
pendidikan dan pengajaran.
Setiap pemimpin apalagi para manejer yang menjalankan
kepemimpinannya dalam suatu organisasi diharapkan menjadi pemimpin
yang efektif (berhasil dan disenangi). Pemimpin merupakam faktor yang
paling menentu dalam usaha organisasi untuk mencapai tujuan dan berbagai
sasarannya. Dengan kata lain dinamika suatu organisasi digerakkan oleh
kreatifitas dan sikap inovatif pemimpin yang menjalankan
kepemimpinannya.


56
Syafaruddinp op, cit, hal. 85.
58

Menurut Dirawat yang dikutif syafaruddin, Kepemimpinan
pendidikan adalah sebagai satu kemampuan dan proses mempengaruhi,
mengkoordinir dan menggerakkan orang-orang lain yang ada hubungannya
dengan pengembangan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan
pengajaran agar supaya tercapai tujuan secara efektif dan efisien.
57

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
kepemimpinan pendidikan yang dijalankan oleh kepala sekolah atau
pimpinan lembaga pendidikan lainnya mengandung unsur-unsur yaitu :1)
proses mempengaruhi para guru, pegawai dan murid-murid serta pihak
terkait, (komite sekolah dan orang tua murid), 2) pengaruh yang diberikan
dimaksudkan agar orang lain melakukan tindakan yang diinginkan, 3)
berlangsung dalam organisasi sekolah untuk mengelola aktifitas belajar dan
mengajar, 4) kepala sekolah yang diangkat secara formal oleh pejabat
kependidikan atau yayasan bidang pendidikan, 5) tujuan yang akan dicapai
melalui proses kepemimpinannya yaitu tercapainya tujuan pendidikan
lulusan berkepribadian baik dan berkualitas tinggi, 6) aktivitas
kepemimpinan lebih banyak orientasi hubungan manusia dari pada
mengatur sumber daya material.
Ciri kepemimpinan yang diadaptasikan ke organisasi sekolah,
bahwa kepala sekolah harus memiliki perilaku keberanian dalam memimpin
organisasi sekolah, diantaranya memiliki prilaku : 1) intelek dalam
memecahkan masalah, 2) Kompeten dalam menetapkan tujuan 3)


57
Ibid
59

komunikatif terhadap guru. Ternyata perilaku kepemimpinan kepala sekolah
yang berhasil diperlukan kompetensi dan kemampuan berkomunikasi
dengan guru dan stafnya dalam memecahkan masalah yang dihadapi di
organisasi sekolahnya.
Kepemimpinan kepala sekolah berarti proses membina hubungan
timbal balik antara pemimpin dengan yang dipimpin dengan mengandalkan
kemampuan komunikasi interpersonal sehingga terjalin hubungan
pengertian dan kerja sama antara personil sesuai dengan tugas yang
ditetapkan di sekolah. Peranan interpersonal ini sejalan dengan berfungsinya
peranan pengambilan keputusan dalam kegiatan seorang kepala sekolah
disamping peranan informasional kepada para anggota organisasi.
Kepemimpinan kepala sekolah adalah cara atau usaha kepala
sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan
menggerakkan guru, staf, siswa, orang tua siswa dan pihak lain yang terkait
untuk bekerja atau berperanserta guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dengan kata lain, bagaimana cara kepala sekolah mempengaruhi
orang lain mau bekerja untuk mencapai tujuan sekolah hal ini termasuk gaya
kepemimpinan.
Kepemimpinan kepala sekolah berlangsung dalam lingkungan
sekolah untuk menjalankan peran kepemimpinan penididikan. Terutama
keberadaan sekolah sebagai organisasi jasa pengembangan potensi sumber
daya manusia, tentu berbeda caranya dengan beberapa hal dengan organisasi
bisnis.
60

3.3. Kualitas Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting dalam suatu
organisasi, dimana baik buruknya kinerja organisasi dapat ditentukan oleh
kualitas kepemimpinannya. Pada umumnya semakin baik kualitas
kepemimpinan seseorang dalam memimpin suatu organisasi akan semakin
besar kemungkinannya organisasi tersebut berhasil mencapai tujuan yang
telah ditetapkan, demikian pula sebaliknya bagi suatu organisasi.
Istilah kualitas atau mutu merupakan terjemahan dari kata quality.
Pengertian kualitas terus berubah dari waktu kewaktu sejalan dengan
tuntutan perubahan itu sendiri, sehingga konsep kualitas sering disebut
sebagai konsep yang dinamis. Apa yang kita pahami sebagai konsep kualitas
yang berlaku sekarang belum tentu tepat untuk lima tahun atau sepuluh
tahun mendatang. Oleh karena itu merumuskan tentang konsep kualitas
sebaiknya selalu ditinjau ulang dari waktu kewaktu.
Menurut Depdiknas
58
Secara umum, mutu adalah gambaran dan
karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukan
kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang
tersirat. Sedangkan menurut Sallis
59
Konsep kualitas dapat dipahami dari
tiga sisi yakni (1) mutu sebagai sebuah konsep yang absolut, (2) konsep
relatif tentang mutu, (3) definisi mutu menurut pelanggan. Kualitas sebagai
konsep absolut sering banyak digunakan orang dalam percakapan sehari-


58
Departemen Pendidikan Nasional, 2000, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Edisi
2, Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, hal 7

59
Edward Sallis, 2008, Total Quality Management In Education, Yogyakarta, IRCiSoD, hal. 51-
55
61

hari. Seseorang sering menggunakan konsep tersebut untuk menjelaskan
barang-barang yang mahal, mewah yang tiada tandingannya, misalnya
restoran yang mahal, mobil mewah dan sebagainya. Sebagai suatu konsep
yang absolut, mutu sama halnya dengan sifat kebaikan, keindahan,
kecantikan dan kebenaran, merupakan suatu idealisme yang tidak dapat
dikompromikan. Dalam definisi yang absolut, sesuatu yang bermutu bagian
dari standar yang sangat tinggi yang tidak dapat diungguli. Produk-produk
yang bermutu adalah sesuatu yang dibuat dengan sempurna dan dengan
biaya yang mahal, produk-produk tersebut dapat dinilai serta membuat puas
dan bangga para pemiliknya.
Kualitas juga dapat digunakan sebagai suatu konsep yang relatif,
dimana pemahaman konsep kualitas ini digunakan dalam TQM. Definisi
relatif tersebut memandang mutu bukan sebagai suatu atribut produk atau
layanan, tetapi suatu yang dianggap berasal dari produk atau layanan
tersebut. Mutu dapat dikatakan ada apabila sebuah layanan memenuhi
spesifikasi yang ada. Mutu merupakan sebuah cara yang menentukan
apakah produk terakhir sesuai dengan standat atau belum. Produk atau
layanan yang memiliki mutu, dalam konsep relatif ini tidak harus mahal
dan ekslusif. Misalnya untuk produk-produk atau karya seni lukis, tari,
sastra dan sebagainya.
Namun demikian pada saat sekarang konsep kualitas lebih banyak
dirumuskan berdasarkan tuntutan pasar, sehingga harapan dan keinginan
konsumen menjadi dasar penentu dalam merancang konsep kualitas.
62

Pandangan yang demikian, mendefinisikan konsep kualitas sebagai pelayan
terbaik yang memberi kepuasan terhadap keinginan konsumen.
Dalam praktek organisasi, konsep kualitas pada umumnya
bermuara pada kepuasan konsumen, namun demikian untuk memberikan
pelayanan yang memuaskan tersebut ditempuh melalui suatu input, proses
dan out put, dimana ketiga elemen tersebut mendapat perhatian yang
proporsional dan seimbang. Dengan demikian kualitas kepemimpinan dalam
konteks organisasi merupakan kualitas pelayanan kepemimpinan sebagai
bagian yang tak terpisahkan dalam proses organisasi sebagai suatu sistem.
Pada masa sekarang kualitas kepemimpinan menjadi kebutuhan
yang mendesak bagi organisasi. Oleh karena itu berbagai kajian terus
dilakukan guna mendapatkan formula kualitas kepemimpinan yang tepat.
Usaha membangun bangsa tidak dapat diwujudkan tanpa diserta usaha
meningkatkan kualitas kepemimpinan pada semua bidang dan tingkatan.
Dengan kepemimpinan yang mampu mengajak dan mendorong seluruh
lapisan masyarakat ikut membangun, berarti cita-cita mewujudkan
kehidupan yang berkualitas akan semakin baik, akan dinikmati secara
merata oleh rakyat Indonesia.
Menurut Sallis
60
Menjelaskan bahwa fungsi pemimpin dalam
mengembangkan budaya mutu, adalah sebagai berikut :
1. Memiliki visi mutu terpadu bagi institusi
2. Memiliki kometmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu
3. Mengkomunikasikan pesan mutu
4. Memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan
praktek institusi


60
Ibid
63

5. Mengarahkan perkembangan karyawan
6. Berhati-hati dengan tidak menyalahkan orang lain saat persoalan
muncul tanpa bukti-bukti yang nyata. Kebanyakan persoalan yang
muncul adalah hasil dari kebijakan institusi dan bukan kesalahan
staf
7. Memimpin inovasi dalam institusi
8. Mampu memastikan bahwa struktur organisasi secara jelas telah
mendefinisikan tanggungjawab dan mampu mempersiapkan
delegasi yang tepat
9. Memiliki kometmen untuk menghilangkan rintangan, baik yang
bersifat organisasional maupun kultural
10. Membangkitkan tim yang efektif
11. Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan
mengevaluasi kesuksesan.

Robets berpendapat sebagaimana dikutif oleh Sadler Mengatakn
bahwa kualitas kepemimpinan meliputi 17 kualitas yakni antara lain :
memiliki keberanian, memiliki hasrat yang kuat untuk memimpin, memiliki
kestabilan emosi, memiliki stamina fisik, empati, memilki ketegasan,
antisivasi, kompetitif, percaya diri, akuntabilitas, tanggungjawab,
kridibilitas, kegigihan, handal, melayani dan memiki loyalitas yang
tinggi.
61

Burnham
62
menyebutkan bahwa kualitas kepemimpinan terdiri
dari empat komponen pokok yakni: 1) Vision, 2) Creativity, 3) Sensitivity,
4) Subsidiarity. Visi merupakan gambaran tentang masa depan suatu
organisasi, yang berisi tentang tujuan, nilai-nilai dan pemikiran-pemikiran
masa depan organisasi. Oleh karena itu visi dapat berperan sebagai pemandu
arah perjalanan organisasi. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang


61
Sadler, P, 1977, Leadership, London : Kogan Page,, hal.48

62
Burnham, W.J, 1977, Managing Quality In School, London, Pearson Education, hal, 117
64

memiliki visi yang jelas, sehingga sikap perilaku dan kemampuannya
sejalan dengan harapan-harapan organisasi.
Perjalanan suatu organisasi dalam kenyataannya, tidak bisa lepas
dari berbagai persoalan yang berat yang menuntut suatu solusi yang cerdas.
Permasalahan yang berat tidak mungkin diatasi dengan pendekatan-
pendekatan yang tradisional, akan tetapi perlu solusi yang cerdas. Pemimpin
yang baik adalah pemimpin yang mampu menghadapi persoalan-persoalan
berat dengan solusi yang tepat. Ini berarti bahwa dalam setiap menghadapi
persoalan diperlukan adanya kemampuan kreativitas dalam rangka mencari
solusi yang tepat. Dengan demikian kreativitas menjadi komponen penting
dalam kepemimpinan.
Pemimpin yang baik juga harus memiliki kepekaan yang tinggi.
Cir-ciri pemimpin yang memiliki tingkat kepekaan yang baik menurut
Burnham
63

Adalah sebagai berikut : listening, giving feetback, negotiating,


giving praise, managing conflick, networking, emphathising. Disamping
itu pemimpin yang baik juga harus mempunyai kemampuan yang
memahami situasi dan kondisi dari orang-orang yang dipimpin, terutama
kondisi tentang tingkat kematangannya, motivasi kerjanya, serta potensi
kemampuannya. Hal ini penting bagi pemimpin untuk menentukan
kebijakan pemberdayaan dan pendelegasian agar organisasi berjalan efektif,
efisien serta memiliki produktivitas yang tinggi.
Menutut Law dan Glover mengutif pendapat Adair yang
Menerangkan bahwa terdapat lima ciri kepemimpinan yang efektif : 1)


63
Ibid
65

Gives direction, 2) Offers inspiration, 3) Builds teamwork, 4) Set an
example, 5) Gains acceptance.
64
Pemimpin yang baik adalah pemimpin
yang mampu mengarahkan, memberikan insfirasi, mampu membangun tim
kerja yang kuat, mampu memberikan keteladanan dan memperoleh
dukungan.
Pemimpin yang baik senantiasa dituntut memiliki ciri-ciri sifat
yang sesuai dengan tuntutan tugas, memiliki kestabilan emosi, memilki
kemampuan dan keahlian sesuai dengan bidang pekerjaan yang menjadi
tanggungjawabnya. Sifat-sifat seseorang seperti ketegasan, keterbukaan,
tenggang rasa dan sebagainya adalah gambaran tentang ciri-ciri
kepribadiannya. Dalam situasi dan kondisi tertentu diperlukan figur
pemimpin yang memiliki sifat-sifat tertentu agar kepemimpinannya berjalan
efektif. Disinilah ciri-ciri kepribadian mempunyai arti penting dalam
kepemimpinan.
Kepribadian lebih dipandang sebagai keseluruhan sifat seseorang,
sedang watak merupakan status prilaku seseorangg dilihat dari sifatnya.
Sifat-sifat seperrti kebenaran, kejujuran, kesungguhan, ketekunan dan
sebagainya dapat dipandang sebagai ciri-ciri karakter. Kualitas karakter
sering lebih dihubungkan dengan kualitas kepemimpinan dari pada
kepribadian.
Seorang pemimpin sering juga ditegaskan sebagai seorang yang
memiliki kecerdasan dan ketrampilan yang tinggi, misalnya mampu


64
Law. S. & Gloved, D, 2000, Education leadership and learning Practice, Policy and Research,
Buckingham, Philadelpia. Open University Press, page 20.
66

mengambil keputusan dengan singkat dan tepat, mamapu membangun tim
kerja yang kuat dan sebagainya. Ini mengindikasi bahwa pemimpin yang
demikian memiliki kecerdasan dan ketrampilan yang mampu membaha
perubahan organisasi yang dipimpinnya.
Peningkatan kualitas kepemimpinan berari suatu upaya untuk
meningkatkan kemampuan, kualifikasi dan kompetensi seseorang dalam
memimpin suatu organisasi. Sebagai seorang pemimpin ia harus memahami
bahwa eksistensi dirinya sangat dibutuhkan oleh orang lain, sehingga ia
harus berusaha menyesuaikan dirinya dengan tuntutan organisasi yang
semakin dinamis dengan memperbaiki dan meningkatkan kualitas dirinya.
Dalam hal ini pemimpinlah harus memiliki keinginan untuk memperbaiki
diri dan mau belajar untuk mengembangkan diri.
Untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan harus dilakukan
secara terus menerus dan berkesinambungan, mengingat kondisi kehidupan
masyarakat yang semakin dinamis dan maju. Usaha itu harus dimulai dari
pengembangan kemampuan berpikirnya, agar berlangsung sebagai proses
yang efektif dalam membuat keputusan yang akan mengawali aktivitas
kepemimpinan dalam menggerakkan orang-orang yang dipimpin.
Selanjutnya keputusan-keputusan atau kebijakan-kebijakan yang telah
dibuat itulah diperlukan juga usaha meningkatkan kemampuan
mengkomunikasi berbagai keputusan dan kebijakan tersebut.
Peningkatan kualitas kepemimpinan harus dilakukan juga sebagai
usaha pengembangan kemampuan memecahkan masalah, melalui proses
67

mengikutsertakan atau meningkatkan peran serta orang-orang yang
dipimpin, kondisi ini berarti juga bahwa usaha peningkatan kualitas
kepemimpinan.
Uraian di atas memberikan gambaran bahwa kualitas kepemimpinan
dapat digali dari sisi internal seorang pemimpin. Bagaimana kualitas
kepemimpinan merupakan kemampuan potensial dan kemampuan aktual
yang ditunjang sifat-sifat kepribadiannya. Kemampuan potensial dapat
dilihat dari kepribadiannya, kemampuan konsepnya, pemahaman terhadap
visi dan misi, serta pemahaman persoalan dibidangnya. Sedangkan
kemampuan aktual dapat dilihat dari kemampuan skill, seperti halnya
kemampuan merumuskan visi, misi, kemampuan berkomunikasi,
kemampuan bernegosiasi dan sebagainya.

3.4. Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
Dinas Pendidikan telah menetapkan bahwa kepala sekolah harus
mampu melaksanakan pekerjaannya sebagai edukator, manajer,
admininstrator dan supervisor (EMAS). Dalam perkembangan selanjutnya,
sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman kepala
sekolah juga harus mampu berperan sebagai leader, innovator, dan
motivator di sekolahnya. Dengan demikian dalam
Paradigma baru manajemen pendidikan kepala sekolah sedikitnya
harus mampu berfungsi sebagai edukator, manajer, administrator,
supervisor, leader, innovator, motivator (EMASLIM).
65


Kepala sekolah adalah pemimpin (leader) tertinggi di sekolah. Pada
sekolah yang menerapkan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah,
kepala sekolah memiliki peran yang sangat kuat dalam mengkoordinasikan,


65
Mulyasa, 2004, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Cetakan ke. Bandung, PT. Remaja
Rosdakarya, hal. 97
68

menggerakan, dan menselaraskan semua sumber daya pendidikan yang ada
di sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah
untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolahnya melalui
program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh
karena itu kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan
kepemimpinan yang berkualitas agar dapat mengambil keputusan dan
prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Sejalan dengan hal tersebut,
Dharma
66
Menjelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan mengacu pada
kualitas tertentu yang harus dimiliki kepala sekolah untuk dapat mengemban
tanggung jawabnya secara berhasil. Kualitas yang dimaksud antara lain :
(a) kepala sekolah harus tahu persis apa yang ingin dicapainya (visi ) dan
bagaimana mencapainya (misi), (b) kepala sekolah harus memiliki
sejumlah kompetensi untuk melaksanakan misi guna mewujudkan visi itu,
(c) kepala sekolah harrus memiliki karakter tertentu yang menunjukan
integritasnya.
Pada uraian di atas telah dijelaskan bahwa kualitas kepemimpinan
dapat dilihat dari aspek-aspek kepribadian, kemampuan konsep, dan
kemampuan skillnya. Kaitan dengan kualitas kepemimpinan kepala
sekolah, Burhanuddin
67
Menegaskan bahwa : dibidang kekepalasekolahan,
kualitas kepemimpinan yang penting dapat diklasifikasikan menjadi empat
kategori pokok yang saling berhubungan dan interdependen, yakni : 1)
personality, 2) purposes, 3) knowledge, 4) professional skills.


66
Dharma, 2003, Standar Kompetensi Kepala Sekolah, Diambil tanggal 1 Januari 2004, dari http:
//artikel us/adharma, html.

67
Burhanuddin, 1994, Analisis Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan,
Jakarta, Bumi Aksara, hal. 78.
69

Kepemimpinan kepala sekolah yang berkualitas paling tidak harus
memiliki kepribadian yang kuat, memahami tujuan dengan baik, memiliki
pengetahuan yang luas dan memiliki ketrampilan profesional yang terkait
dengan bidang tugasnya. Kepribadian yang kuat dapat dilihat dari sifat-sifat
seperti keberanian, kejujuran, semangat, kepekaan sosial dan sebagainya.
Mulyasa
68
Menegaskan bahwa kepribadian kepala sekolah sebagai leader
akan tercermin pada sifat-sifat (1) jujur, (2) percaya diri, (3) tanggung
jawab, (4) berani mengambil resiko dan keputusan, (5) berjiwa besar, (6)
emosi yang stabil, (7) teladan. Kepribadian yang kuat mengindikasikan
adanya kepemimpinan yang berkualitas. Sedangkan pemahaman terhadap
tujuan dapat dilihat dari kesesuaian kemampuan konsep dengan aksi dan
sasaran yang ditetapkan. Pemahaman yang baik akan tujuan lembaga yang
dipimpinnya merupakan bekal utama kepala sekolah dalam menentukan
setrategi serta upaya mempengaruhi, mengarahkan, menggerakan, dan
membimbing para guru dan staf, siswa dan pihak lain untuk melakukan
tugas dan kewajiban mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan.
Kepala sekolah harus memiliki pengetahuan yang luas, agar
persoalan-persoalan yang muncul dapat dihadapi dengan arif dan bijaksana.
Kualitas kepemimpinan kepala sekolah dapat dilihat dati kecerdasar,
kreatifitas, serta kearifan kepala sekolah dalam menemukan solusi terhadap
setiap persoalan yang dihadapinya. Kemampuan ini dapat terbangun dari
pengalaman dan luasnya pengetahuan kepala sekolah. Kualitas
kepemimpinan kepala sekolah juga dapat dilihat dari ketrampilan


68
Mulyasa op, cit, hal. 115
70

profesional. Ketrampilan profesional yang terkait dengan tugasnya sebagai
kepala sekolah, menurut Depdikbud
69
Meliputi : 1) ketrampilan teknis,
misalnya menyusun jadwal pelajaran, mensupervisi, memimpin rapat dan
sebagainya, 2) ketrampilan hubungan kemanusiaan, misalnya bekerja sama
dengan orang lain, memotivasi, dan mendorong guru dan staf dan
sebagainya, 3) ketrampilan konseptual, misalnya mengembangkan konsep
pengembangan sekolah, memperkirakan masalah yang akan muncul dan
mencari pemecahannya.
Menurut Wahjosumijo yang dikutif Mulyasa, Mengemukakan
bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter khusus yang
mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan
profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan.
70
Sedangkan
menurut Mulyasa
71
Menjelaskan kemampuan yang harus diwujudkan
kepala sekolah sebagai leader dapat dianalis dari kepribadian, pengetahuan
terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan
mengambil keputusan, dan kemampuan berkomunikasi.
Berdasarkan pandangan para pakar di atas dapat dirumuskan bahwa
kualitas kepemimpinan kepala sekolah adalah mutu layanan kepala sekolah
dalam upaya mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan
menggerakkan semua komponen yang bertanggung jawab terhadap sekolah
guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan, meliputi 4 dimensi : a) dimensi


69
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998, Panduan Manajemen Sekolah, Jakarta :
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, hal. 11

70
Mulyasa, op cit, hal. 115

71
Ibid
71

kepribadian yang terdiri dari 8 indikator, yaitu : 1) kejujuran, 2) percaya
diri, 3) tanggung jawab, 4) berani mengambil resiko, 5) berani mengambil
keputusan, 6) berjiwa besar, 7) emosi yang stabil, 8) teladan, b) dimensi
pengetahuan yang terdiri dari 5 indikator, yaitu : 1) memahami tenaga
kependidikan, 2) memahami karakteristik siswa, 3) mampu menyusun
program, 4) memahami kritik dan saran, 5) memahami administrasi sekolah,
c) dimensi pemahaman visi dan misi yang terdiri dari 3 indikator, yaitu : 1)
memiliki visi, 2) merumuskan misi, 3) mewujudkan visi dan misi, d)
dimensi kemampuan skill yang terdiri dari 2 indikator, yaitu : 1)
kemampuan mengambil keputusan, 2) kemampuan berkomunikasi.

4. Penelitian Yang Relevan
Setelah membaca dan menelaah dari beberapa tesis penelitian yang
lain mengenai variabel yang ada kaitan dengan variabel penelitian ini, baik
itu variabel supervisi pengawas (X1), variabel kepemimpinan kepala
sekolah (X2) dan variabel kinerja guru (Y) yang sama persis tidak ada.
Akan tetapi diantara ketiga variabel penelitian ini mempunyai kaitan
variabel supervisi pengawas, kepemimpinan kepala sekolah ada yang sama.
Penelitian-penelitian terdahulu yang dilakukan oleh A. Ramlah. MS (2008)
dengan judul Hubungan antara Supervisi Pengawas dan Kompetensi Guru
dengan Kepemimpinan Kepala Sekolah Menengah Atas di Kecamatan
Sekadau Hilir Kabupaten Sekadau. Hasil penelitian menunjukan 1) terdapat
hubungan positif yang signifikan antara supervisi pengawas dengan
kepemimpinan kepala sekolah atau makin efektif supervisi pengawas, maka
72

tinggi efektivitas kepemimpinan kepemimpinan kepala sekolah, 2) terdapat
hubungan positif yang signifikan antara kompetensi guru dapat menjamin
kepemimpinan kepala sekolah, 3) terdapat hubungan positif yang signifikan
antara supervisi pengawas dan kompetensi guru secara bersama-sama
dengan kepemimpinan kepala sekolah atau makin efektif supervisi
pengawas dan tinggi kompetensi guru secara bersama-sama, maka makin
efektif kepemimpinan kepala sekolah.
Kamarudin dalam tesis tahun 2008, dengan berjudul hubungan
antara budaya sekolah dan manajemen mutu terpadu dengan kepuasan kerja
guru Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Pontianak. Hasil penelitian
menunjukan 1) terdapat hubungan positif antara budaya sekolah dengan
kepuasan kerja guru Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Pontianak, 2)
terdapat hubungan yang positif antara manajemen mutu terpadu dengan
kepuasan kerja guru Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Pontianak, 3)
terdapat hubungan positif antara budaya sekolah dan manajemen mutu
terpadu bersama-sama terhadap kepuasan kerja guru Madrasah Tsanawiyah
Kota Pontianak.

B. Kerangka Berpikir
1. Hubungan antara supervisi pengawas dengan kinerja guru
Supervisi merupakan suatu layanan, bantuan, pembinaan dari pengawas
kepada kepala sekolah terhadap pengelolaan administrasi sekolah, seperti : 1)
Kurikulum, 2) kesiswaan, 3) sarana-prasarana, 4 ) ketenagaan, 5) keuangan, 6)
hubungan sekolah masyarakat, 7) layanan khusus, dan pengawasan kepada guru
73

terhadap serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuan
mengelola proses pembelajaran demi mencapai tujuan pembelajaran.
Kinerja guru adalah menyangkut seluruh aktivitas yang ditunjukan
tenaga pengajar dalam tanggung jawabnya sebagai orang yang mengemban
suatu amanat dalam merencanakan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan
menilai hasil pembelajaran, untuk mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan dan memandu peserda didik dalam rangka menggiring
perkembangan peserta didik.
Kinerja guru adalah perilaku atau respon yang memberi hasil yang
mengacu kepada apa yang mereka kerjakan ketika menghadapi suatu tugas yang
dibebankan kepadanya. Kinerja guru menyangkut semua aktivitas atau kegiatan
yang dialami guru, jawaban yang mereka buat untuk memberikan hasil atau
tujuan.
Kinerja guru pada dasarnya merupakan kinerja atau unjuk kerja yang
dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Kualitas
kinerja guru akan sangat menentukan kualitas hasil pendidikan, karena guru
merupakan pihak yang paling banyak bersentuhan langsung dengan siswa dalam
proses pembelajaran di sekolah.
Supervisi pengawas sangat diperlukan dalam meningkatkan kinerja
guru dan pengawas harus secara rutin menjalankan tugasnya untuk datang ke
sekolah memberikan bantuan, pembinaan kepada kepala sekolah dan guru-guru,
dan kunjungan supervisi tersebut harus terjadwal. Supervisi pengawas dapat
berjalan dengan baik maka akan dapat memperbaiki, meningkatkan dan
74

mengembangkan kualitas input, proses dan out put suatu lembaga atau
organisasi.

2. Hubungan antara Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan
kinerja Guru
Kualitas kepemimpinan kepala sekolah dalam suatu organisasi
mempunyai hubungan yang erat dengan kinerja guru dalam melaksanakan tugas
sehari-hari di sekolah. Keberhasilan suatu organisasi sebagian besar ditentukan
oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh orang-orang yang diangkat dan
diserahi tanggungjawab sebagai pemimpin di masyarakat atau dalam suatu
organisasi.
Kepemimpinan adalah suatu proses dimana pemimpin digambarkan
akan memberi perintah atau pengarahan, mempengaruhi, memotivasi, memberi
contoh dan teladan terhadap guru-guru dalam mencapai tujuan pendidikan.
Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-
aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama.
Kepala sekolah harus memiliki perilaku sebagai pemimpin dalam
melaksanakan tugas dan pekerjaan sehari-hari dalam organisasi tersebut
termasuk membina para guru-guru. Peranan kepala sekolah dalam
mengembangkan kemampuan kinerja guru berkaitan dengan tujuan yang
diharapkan dapat meningkatan kualitas kinerja para guru. Kualitas kerja guru
dipengaruhi pencapaian kinerja pada faktor kemampuan (ability) dan faktor
motivasi (motivation). Kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan
75

potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge +skill) dan motivasi yang
terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi
(situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai
yang terarah untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan.
Kepala sekolah yang baik merupakan pemimpin yang memiliki
kepribadian dan memancarkan suatu pengaruh, kekuatan atau wibawa, yang
demikian rupa sehingga memungkinkan orang-orang atau kelompok untuk
mencontoh atau mengikuti serta mau melakukan apa yang diperintah. Oleh
karena itu kepemimpinan kepala sekolah sangat menentukan keberhasilan guru
dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari di sekolah.

3. Hubungan antara supervisi pengawas dan kualitas kepemimpinan
kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerja guru.
Pengawas sekolah sebagai tenaga fungsional kependidikan bertanggung
jawab dalam membina kemapanan profesional guru untuk mempertinggi mutu
pembelajaran dan membina kepala sekolah dalam meningkatkan mutu
penyelenggaraan pendidikan. Dalam upaya peningkatan mutu penyelenggaraan
pendidikan kepala sekolah merupakan tenaga kependidikan yang langsung
bertanggung jawab terhadap kemajuan mutu pendidikan tempat kepala sekolah
bertugas.
Kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah merupakan sosok yang
sangat penting dalam mencapai keberhasilan organisasi, kepala sekolah sebagai
pemimpin sangat kompleks pekerjaannya oleh karena itu kepala sekolah perlu
76

diberi berbagai pembinaan-pembinaan agar lebih rajin dan aktif serta dinamis
dalam mengelola sekolah yang dipimpinnya.
Kepemimpinan kepala sekolah sangat dibutuhkan oleh guru, oleh
karena itu kepemimpinan kepala sekolah harus benar-benar efektif dijalankan
agar dapat membawa dampak positif terhadap keberhasilan pendidikan di
sekolah yang dipimpinnya. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan
kemampuan kepala sekolah dalam mengarahkan, memotivasi dan memecahkan
berbagai masalah sebagai upaya mencapai tujuan pendidikan.
Supervisi pengawas bila dijalankan dengan tepat maka kemungkinan
akan dapat meningkatkan keefektivitas kepemimpinan kepala sekolah, dengan
adanya supervisi yang rutin dilakukan oleh pengawas, kepala sekolah tidak akan
semena-mena dalam menjalankan tugas kepemimpinannya tersebut. Supervisi
pengawas merupakan penilaian terhadap kinerja kepala sekolah dalam aktivitas
pembinaan yang dilakukan oleh pengawas pendidikan kepada kepala sekolah
untuk membantu dan mempertinggi mutu pendidikan dan pengetahuan beserta
guru-guru. Dalam melaksanakan supervisi pengawas dapat memberi bantuan
kepada kepala sekolah dalam memecahakan persoalan pengelolaan manajerial,
dan kepada guru memecahkan persoalan akademik.
Pengawas sekolah melakukan supervisi gunanya untuk membantu
kepala sekolah tersebut dapat meningkatkan kualitas kepemimpinan, dan
membantu kesulitan kepala sekolah, serta mau membina kerja sama dengan
masyarakat, agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
Supervisi yang dilaksanakan pengawas berupa pembinaan dan
pengarahan kepada kepala sekolah yang menjalankan roda organisasi sekolah
77

guna mencapai tujuan pembelajaran yang baik. Oleh karena itu, supervisi juga
berperan dalam kepemimpinan kepala sekolah, yang secara bersama mempunyai
hubungan dengan kinerja guru.
Kinerja guru pada dasarnya merupakan kinerja atau unjuk kerja yang
dilakukan oleh guru dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran atau
kurikulum yang harus dimiliki dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
Kinerja guru akan sangat menentukan kualitas hasil pendidikan, karena guru
merupakan pihak yang paling banyak bersentuhan langsung dengan siswa dalam
proses pendidikan di lembaga pendidikan di sekolah.

C. Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Terdapat hubungan supervisi pengawas dengan kinerja guru SMP Negeri
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara.
2. Terdapat hubungan kualitas kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja
guru SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara.
3. Terdapat hubungan supervisi pengawas dan kualitas kepemimpinan kepala
sekolah secara bersama-sama dengan kinerja guru SMP Negeri Kecamatan
Putussibau Selatan dan Putussibau Utara.

Hipotesis tersebut di atas akan diuji kebenarannya pada akhir analisis
data nanti, apakah pernyataan hipotesis diterima atau ditolak ? Bila Ha diterima
berrati : 1) terdapat hubungan positif suprvisi pengawas dengan kinerja guru SMP
78

Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara, 2) terdapat hubungan
positif kualitas kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru SMP Negeri
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara, 3) terdapat hubungan positif
supervisi pengawas dan kualitas kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama
dengan kinerja guru SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau
Utara.
Sebaliknya, bila Ha ditolak berarti : 1) Tidak terdapat hubungan positif
supervisi pengawas dengan kinerja guru SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan
dan Putussibau Utara. 2) Tidak terdapat hubungan positif kualitas kepemimpinan
kepala sekolah dengan kinerja guru SMP Negeri Kecamatan Putussibau Utara dan
Putussibau selatan. 3) Tidak terdapat hubungan positif supervisi pengawas dan
kualitas kepemimpinan kepala sekolah secara bersama-sama dengan kinerja guru
SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara.


79

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada masalah penelitian, maka secara umum tujuan penelitian
ini adalah untuk menggambarkan dan memaparkan tentang hubungan Supervisi
Pengawas dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru pada
SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara. Secara khusus
penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui hubungan supervisi pengawas dengan Kinerja guru SMP
Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara.
2. Untuk mengetahui hubungan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
dengan Kinerja Guru SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara.
3. Untuk mengetahui hubungan Supervisi Pengawas dan Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru SMP Negeri
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara.

B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan pada SMP N se-Kecamatan Putussibau
Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu yang terdiri dari 9
sekolah, yaitu : SMP Negeri 1 Putussibau, SMP Negeri 2 Putussibau, SMP
79
80

Negeri 3 Putussibau, SMP Negeri 4 Putussibau, SMP Negeri 5 Putussibau, SMP
Negeri 6 Putussibau, SMP Negeri 7 Putussibau, SMP Negeri 8 Putussibau, SMP
Negeri 9 Putussibau. Dipilihnya sekolah tersebut sebagai obyek penelitian
berdasarkan pada beberapa pertimbangan sebagai berikut :
a. Lokasi tersebut belum ada yang meneliti tentang adanya hubungan
supervisi pengawas dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
dengan Kinerja Guru.
b. Peneliti sangat memahami dan mengerti lokasi tersebut sehingga
memungkinkan mempermudah dalam penyelesaian penelitian sesuai
dengan jadwal penelitian.
c. Sekolah yang dipilih memiliki input yang sangat berbeda antara sekolah
yang satu dengan sekolah lainnya.
d. Terbatasnya waktu dan biaya, maka sekolah yang diambil dalam
penelitian ini adalah SMP Negeri se-Kecamatan Putussibau Selatan dan
Utara dapat dilihat pada tabel 3.1 sebagai berikut :
Tabel 3.1
SMP Negeri se-Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara
No. Nama Sekolah Nama Kecamatan
1. SMP Negeri 1 Putussibau Kecamatan Putussibau Utara
2. SMP Negeri 2 Putussibau Kecamatan Putussibau Selatan
3. SMP Negeri 3 Putussibau Kecamatan Putussibau Selatan
4. SMP Negeri 4 Putussibau Kecamatan Putussibau Utara
5. SMP Negeri 5 Putussibau Kecamatan Putussibau Utara
6. SMP Negeri 6 Putussibau Kecamatan Putussibau Selatan
7. SMP Negeri 7 Putussibau Kecamatan Putussibau Selatan
81

No. Nama Sekolah Nama Kecamatan
8. SMP Negeri 8 Putussibau Kecamatan Putussibau Utara
9. SMP Negeri 9 Putussibau Kecamatan Putussibau Selatan
10. SMP Negeri 10 Putussibau Kecamatan Putussibau Utara
11. SMP Negeri 11 Putussibau Kecamatan Putussibau Selatan
12. SMP Negeri 12 Putussibau Kecamatan Putussibau Selatan

Sumber : Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga tahun 2010.

2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan dari bulan Agustus 2011
sampai dengan Desember 2011 terhadap guru-guru SMP Negeri se-Kecamatan
Putussibau Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu yang menjadi
sasaran penelitian, dengan jadwal tahapan penelitian pada tabel 3.2 berikut ini.
Tabel 3.2
Gantt Chart Rencana Aktivitas Penelitian
No. Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
Agt. Sep. Okt. Nop. Des.
1. Penelitian Pendahuluan
2. Menyusun Proposal
3. Seminar Proposal
4. Penyusunan Instrumen
5. Uji Coba Instrumen
6. Menjaring Data
7. Tabulasi Dan Analisis Data
8. Menyusun Naskah
9. Ujian Tesis
82

C. Metode Penelitian
1. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam hal ini adalah survey. Menurut
Kerlinger dikutif Sugiyono Mengemukakan penelitian survey adalah penelitian
yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari
adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan
kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antara variabel
sosiologis maupun psikologis.
72

Penelitian ini mencari hubungan antara dua variabel, bentuk penelitian
berupa korelasi dengan tujuan untuk mendeteksi sejauhmana hubungan antara
kedua variabel tersebut. Penelitian ini ada dua variabel bebas, yaitu : Supervisi
Pengawas (X1) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2), sedangkan
variabel terikat (Y) Kinerja Guru. Desain penelitian melukiskan proses, alur,
peta, dan rancang atau konstelasi penelitian. Desain penelitian menunjukkan
hubungan antara variabel-variabel yang diteliti untuk diketahui bagaimana cara
menghitung hubungan tersebut.
Dilihat dari permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, bertujuan
untuk mencari hubungan Supervisi Pengawas dan Kualitas Kepemimpinan
Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru SMP Negeri Kecamatan Putussibau
Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu. Hubungan antara
variabel-variabel penelitian dapat digambarkan dalam konstelasi masalah pada
gambar 3.1 halaman berikutnya.

72
Sugiyono, 2007,Metode Penelitian Administrasi, Bandung : Alfabeta, hal. 7
83

Gambar 3.1
Konstelasi Penelitian








Keterangan :
X
1
: Supervisi Pengawas
X
2
: Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
Y : Kinerja Guru

2. Bentuk Penelitian
Dalam penelitian ini yaitu menggunakan bentuk penelitian kuantitatif.
Menurut Kountur
73
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang datanya adalah
data kuantitatif, yaitu data yang dapat diukur sehingga pengolahan dan
pengujiannya menggunakan perhitungan statistik. Penelitian kuantitatif
mengikuti proses deduktif induktif, yaitu proses pengambilan kesimpulan dari
umum ke khusus. Bentuk penelitian ini akan diketahui hubungan supervisi
pengawas dan kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru. Dalam

73
Ronny Kountur, 2005, Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, Jakarta : PPM,
hal 16-17.

X
1


X
1



Y

84

penelitian ini dilakukan pengukuran terhadap keadaan suatu variabel dengan
menggunakan instrumen penelitian. Setelah itu peneliti melanjutkan analisis
untuk mencari hubungan satu variabel dengan variabel lainnya. Variabel ini
merupakan gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati.

D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Menurut Sugiono
74
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri
atas, objek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Selanjutnya
Murwani
75
Mengemukakan populasi adalah sejumlah obyek dengan sifat
tertentu yang menjadi sasaran penelitian. J adi populasi adalah obyek yang
telah ditetapkan peneliti untuk dijadikan sumber data dalam penelitian. Dalam
penelitian ini, populasi tersebar di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau
Utara Kabupaten Kapuas Hulu, karena terbatas sumber penelitian maka
digunakan populasi target dalam penelitian ini adalah semua guru SMP Negeri
di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara dengan jumlah populasi
terjangkau secara rinci dapat dilihat pada tabel 3.3 pada halaman berikutnya.





74
Sugiyono op, cit, hal. 90.
75
R. Santosa Murwani, 2009, Statistik Terapan, Jakarta : Uhamka Press, hal 23
85

Tabel 3.3
Jumlah Guru SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan
dan Putussibau Utara
No Nama Sekolah Guru (orang)
1. SMP Negeri 1 Putussibau 22
2. SMP Negeri 2 Putussibau 18
3. SMP Negeri 3 Putussibau 8
4. SMP Negeri 4 Putussibau 3
5. SMP Negeri 5 Putussibau 7
6. SMP Negeri 6 Putussibau 5
7 SMP Negeri 7 Putussibau 9
8. SMP Negeri 8 Putussibau 5
9. SMP Negeri 9 Putussibau 2
Jumlah 79

Sumber : Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga tahun 2010.

2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi. Dengan demikian sampel adalah bagian dari populasi yang akan
diteliti. Sampel dalam penelitian ini adalah guru-guru di 9 SMP Negeri di
Kecamatan Putussibau selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu.
Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan Tabel Isac dan
Michael
76
Dalam buku Pedoman Tesis Desertasi Program Sarjana Universitas
Prof. Dr. Hamka, merupakan tabel penarikan sampel dengan tingkat kesalahan

76
Tim Penyususn Pedoman Tesis Desrtasi, 2008, Pedoman Tesis dan Disertasi, Jakarta :
Uhamka Press, hal. 22-23.
86

5%. Jika jumlah populasi 79 orang maka jumlah sampel yang diambil dengan
presentasi tingkat kesalahan 5% sebanyak 65 orang.
Tabel 3.4
Besaran Populasi Tingkat Kesalahan dan Sampel
Populasi
Sampel
Populasi
Sampel
Populasi
Sampel
1% 5% 10% 1% 5% 10% 10% 5% 10%
10 10 10 10 85 71 68 65 230 160 135 122
15 15 14 14 90 75 72 68 240 165 139 125
20 15 19 19 95 79 75 71 250 171 142 127
25 19 23 23 100 83 78 73 260 176 146 130
30 24 28 27 120 87 84 78 270 182 149 133
35 29 32 31 130 94 89 83 280 197 155 138
40 33 36 35 140 102 95 88 290 202 158 140
45 38 40 39 150 109 100 92 300 207 161 143
50 42 44 42 160 116 105 97 320 216 167 147
55 47 48 46 170 122 110 101 340 225 172 151
60 51 51 49 180 129 114 105 360 224 177 155
65 55 55 53 190 135 119 108 380 242 182 158
70 59 58 56 200 142 123 112 400 250 186 162
75 63 62 59 210 148 127 115 420 257 191 165
80 67 65 62 220 154 131 118 440 265 195 168

Dalam menentukan jumlah guru yang dijadikan sampel penelitian dan
sampel uji coba penelitian untuk masing-masing sekolah dilakukan
menggunakan teknik acak sederhana dengan cara diundi, dimana dibuat nama
guru pada secarik kertas dan digulung dikelompok pada masing-masing sekolah
kemudian dikocok. Nama guru yang muncul pada masing-masing sekolah
dengan proporsi yang ditentukan dijadikan sebagai sampel uji coba sebanyak 30
orang, sedangkan nama guru yang tersisa sesuai dengan proporsi yang
87

ditentukan dijadikan sampel penelitian sebanyak 35 orang, dengan spesifikasi
dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut ini.
Tabel 3.5
Perhitungan Proporsi Sampel Penelitian
No. Nama Sekolah Jumlah Proporsi
Jumlah
Sampel
1. SMP Negeri 1 Putussibau 22 22/79 x 65 18
2. SMP Negeri 2 Putussibau 18 18/79 x 65 15
3. SMP Negeri 3 Putussibau 8 8 /79 x 65 7
4. SMP Negeri 4 Putussibau 3 3/79 x 65 2
5. SMP Negeri 5 Putussibau 7 7/79 x 65 6
6. SMP Negeri 6 Putussibau 5 5/79 x 65 4
7. SMP Negeri 7 Putussibau 9 9/79 x 65 7
8. SMP Negeri 8 Putussibau 5 5/79 x 65 4
9. SMP Negeri 9 Putussibau 2 2/79 x 65 2
Jumlah 79

65

E. Proses Penjaringan Data
1. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang
diteliti. Menurut Sugiyono
77
Instrumen penelitian adalah merupakan
pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Dengan demikian
instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk pengumpulan data
penelitian. Untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data
kuantitatif yang akurat, maka instrumen harus mempunyai skala. Sugiyono
78


77
Sugiyono op, cit, hal. 118.
78
Ibid
88

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk
menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat
ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data
kuantitatif. Dalam penelitian ini skala pengukuran yang digunakan adalah skala
Likert. Menurut Sugiyono
79
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,
pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena
sosial. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur, dijabarkan
menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik
tolak untuk menyusun item-item instrumen yang berupa pernyataan-pernyataan.
a. Kinerja Guru (Y)
1) Definisi Konseptual
Kinerja guru mempunyai pengertian akan adanya suatu tindakan
atau kegiatan yang ditampilkan oleh seseorang dalam melaksanakan
aktivitas tertentu.
2) Definisi Operasional
Kinerja guru ditunjukkan dengan skor yang diperoleh melalui
kuesioner sehingga dapat melihat baik tidaknya kinerja guru di SMP
Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara. Kinerja
guru dalam skor berdasarkan tinggi rendahnya keberhasilan
pengelolaan pembelajaran artinya makin tinggi skor pengelolaan
pembelajaran maka pengelolaan pembelajaran makin baik dan
sebaliknya makin rendah skor makin rendah pula pengelolaan

79
Ibid
89

pembelajaran. Skor diatur berdasarkan skala Likert yang
diimplikasikan dalam empat opsi, yang terdiri dari empat pilihan
jawaban, yaitu selalu (SL), sering (SR), Kadang-kadang (KK), tidak
pernah (TP).
Setiap butir pernyataan yang bersifat positif, maka jawaban diberi
mulai dari skor 4 bagi yang menjawab SL, 3 bagi yang menjawab SR, 2
bagi yang menjawab KK, 1 bagi yang menjawab TP. Sebaliknya jika
pernyataan bersifat negatif, maka nilai untuk tiap jawaban dibalik mulai
dari 1 untuk jawaban SL, 2 untuk yang menjawab SR, dan seterusnya.
Butir instrumen dibuat 38 item yang didasari dari instrumen kinerja
guru dengan skor tertinggi adalah 144 (4x38). Butir-butir instrumen
kinerja guru akan disusun berdasarkan nomor, dimensi, indikator,
nomor butir dan jumlah butir instrumen. Kinerja guru akan diperoleh
dan diungkap melalui instrumen penelitian disusun berdasarkan dimensi
kinerja guru.
3) Dimensi, Indikator dan Nomor Butir Kuesioner
Kisi-kisi dimensi dan indikator selanjutnya disajikan pada tabel 3.6
berikut ini.

Tabel 3.6
Kisi-kisi Butir Instrumen Kinerja Guru
No Dimensi Indikator Nomor Butir Soal
1. Perencanaan
Pembelajaran
- Penyusunan Program
- Penyusunan perangkat pembelajaran
1,2
3,4,5,6,7
90

No Dimensi Indikator Nomor Butir Soal
2. Melaksanakan
Pembelajaran
- Melaksanakan Proses Pembelajaran 8,9,10,11,12,13,14,
15,16,17,18
3. Menilai
Pembelajaran
- Melaksanakan penilaian hasil belajar
- Menganalisa hasil belajar
19,20,21,22,23,24
25,26,27,28,29,30,3
1,32,33
4. Kegiatan
Tambahan
- Melatih dan membimbing siswa
- Bimbingan siswa dalampengembangan
diri
34,35,36
37,38

4) Kalibrasi
Jumlah butir pernyataan instrumen kinerja guru diujicoba 38 butir.
Proses pengembangan instrumen dimulai dengan penyusunan instrumen
dengan skala empat sebanyak 38 butir yang mengacu pada indikator-
indikator variabel kinerja guru sebagaimana dituangkan dalam kisi-kisi
butir pernyataan yang disebut konsep instrumen untuk mengukur
variabel kinerja guru. Kemudian diteliti untuk memperoleh keabsahan
konstruk, sampai berapa kuat butir-butir instrumen telah mengukur
dimensi dan indikator dari variabel kinerja guru sebagaimana tercantum
dalam kisi-kisi butir instrumen di atas, dilanjutkan dengan diujicoba
kepada 30 orang guru, sesuai data sampel ujicoba.

b. Supervisi Pengawas (X1)
1) Definisi Konseptual
Supervisi pengawas adalah layanan, bantuan, pembinaan yang
diberikan pengawas sekolah kepada kepala sekolah dan guru-guru
dalam rangka memberikan jalan keluar terhadap berbagai permasalahan
91

tugas sehari-hari di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu proses
pembelajaran.
2) Definisi Operasional
Supervisi pengawas ditunjukkan dengan skor yang diperoleh
melalui koesioner sehingga dapat melihat baik tidaknya supervisi
pengawas pada SMP N di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu. Skor supervisi pengawas
dapat diperoleh dengan menggunakan instrumen berbentuk skala empat
yang terdiri dari empat pilihan jawaban, yaitu selalu (SL), sering (SR),
kadang-kadang (KK), dan tidak pernah (TP). Setiap butir pernyataan
yang bersifat positif, jawaban yang diberikan mulai dari skor 4 bagi
yang menjawab SL, 3 bagi yang menjawab SR, 2 bagi yang menjawab
KK, 1 bagi yang menjawab TP. Sebaliknya jika pernyataan yang
bersifat negatif, nilai untuk setiap jawaban dibalik mulai dari 1 untuk
jawaban SL, 2 bagi yang menjawab SR dan seterusnya. Dari definisi
operasional pengawas sekolah maka skor total yang akan diperoleh dan
diungkapkan melalui instrumen penelitian disusun berdasarkan dimensi
pengawas sekolah sebagai berikut :
c. Peran supervisi pengawas
d. Karakteristik supervisi
e. Pelaksanaan supervisi pengawas
Karena butir instrumen berjumlah 36 item yang didasari dari
instrumen supervisi pengawas, maka skor tertinggi adalah 144 (4x36).
92

Butir-butir instrumen supervisi pengawas akan disusun berdasarkan
definisi operasional, yang terdiri dari nomor, dimensi, indikator, nomor
butir, dan jumlah butir instrumen.
3) Dimensi, Indikator dan Nomor Butir Kuesioner
Kisi-kisi dimensi dan indikator selanjutnya disajikan pada tabel 3.7
berikut ini.
Tabel 3.7
Kisi-kisi Instrumen Supervisi Pengawas
No Dimensi Indikator Nomor Butir Soal
1. Peran
Supervisi
Pengawas
- Bantuan kepala kepala sekolah
memecahkan persoalan akademik
- Bantuan kepada guru
- Pembinaan kepada guru
- Memupuk semangat kepada sekolah
- Pembinaan pengelolaan administrasi
sekolah
1,2,3,4

5,6,7,8
9,10,11,12
13,14
15,16,17,18,19,20,
21
2. Karakteristik
Supervisi
- Pengalaman supervisi
- Mesyawarah supervisi
- Meningkatkan kualitas kepemimpinan
22,23,24
25,26,27
28,29,30
3. Pelaksanaan
Supervisi
- Peningkatan kualitas pendidikan
- Kerjasama
31,32,33,34
35,36

4) Kalibrasi
Jumlah butir pernyataan instrumen supervisi pengawas diujicoba
36 butir. Proses pengembangan instrumen dimulai dengan penyusun
instrumen dengan skala empat sebanyak 36 butir yang mengacu pada
indikator-indikator variabel supervisi pengawas sebagaimana
dituangkan dalam kisi-kisi butir pernyataan yang disebut konsep
instrumen untuk mengukur supervisi pengawas sekolah. Kemudian
93

diteliti untuk memperoleh keabsahan konstruk, sampai berapa kuat
butir-butir instrumen telah mengukur dimensi dan indikator dari
variabel pengawas sebagaimana tercantum dalam kisi-kisi butir
instrumen diatas, dilanjutkan dengan diujicoba kepada 30 orang guru,
sesuai dengan data sampel uji coba.

c. Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2)
1) Definisi Konseptual
Kualitas Kepemimpinan kepala sekolah adalah mutu layanan
kepala sekolah dalam upaya mempengaruhi, mendorong, membimbing,
mengarahkan dan menggerakan semua komponen yang bertanggung
jawab terhadap sekolah guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2) Definisi Operasional
Kualitas kepemimpinan kepala sekolah ditunjukkan dengan skor
yang diperoleh melalui kuesioner sehingga dapat melihat baik tidaknya
kualitas kepemimpinan kepala sekolah pada SMP Negeri di Kecamatan
Putussibau Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu. Skor
kualitas kepemimpinan kepala sekolah dapat diperoleh dengan
menggunakan instrumen berbentuk skala empat yang terdiri dari empat
pilihan jawaban, yaitu selalu (SL), sering (SR), kadang-kadang (KK),
dan tidak pernah (TP). Setiap butir pernyataan yang bersifat positif,
maka jawaban diberikan mulai dari skor 4 bagi yang menjawab SL, 3
bagi yang menjawab SR, 2 bagi yang menjawab KK, 1 bagi yang
94

menjawab TP. Sebaliknya jika pernyataan bersifat negatif mulai dari 1
untuk menjawab SL, 2 untuk menjawab SR dan seterusnya. Karena
butir instrumen berjumlah 36 item yang didasari dari instrumen
kepemimpinan kepala sekolah maka skor tertinggi adalah 144 (4x36).
Butir-butir instrumen kualitas kepemimpinan kepala sekolah akan
disusun berdasarkan definisi operasional, yang terdiri dari nomor,
dimensi, indikator, nomor butir dan jumlah butir instrumen.
3) Dimensi, Indikator dan Nomor Butir Instrumen
Kisi-kisi dimensi dan indikator selanjutnya disajikan pada tabel 3.8
berikut ini.
Tabel 3.8
Kisi-kisi Butir Instrumen Variabel
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
No Dimensi Indikator Nomor Butir Soal
1. Kepribadian - Kejujuran
- Percaya diri
- Tanggung jawab
- Berani mengambil resiko
- Berani mengambil keputusan
- Berjiwa besar
- Emosi yang stabil
- Teladan
1
2
3
4
5
6
7
8
2. Pengetahuan - Memahami tenaga kependidikan
- Memahami karakteristik siswa
- Mampu menyusu program
- Memahami kritik dan saran
- Memahami administrasi sekolah
9,19
11,12
13,14
15,16
17,18,19
3. Pemahaman
Visi dan Misi
- Memiliki misi
- Merumuskan misi
- Mewujudkan visi dan misi
20,21,22
23,24,25
26,27
95

No Dimensi Indikator Nomor Butir Soal
24 Kemampuan
Skill
- Kemampuan mengambil keputusan
- Kemampuan berkomunikasi
28,29,30
31,32,33,34,35,36

4) Kalibrasi
Jumlah butir pernyataan instrumen kualitas kepemimpinan kepala
sekolah diujicoba 36 butir. Proses pengembangan instrumen dimulai
dengan penyusunan instrumen dengan skala empat sebanyak 36 butir
yang mengacu pada indikator-indikator variabel kualitas kepemimpinan
kepala sekolah sebagaimana dituangkan dalam kisi-kisi butir
pernyataan yang disebut konsep instrumen untuk mengukur variabel
kualitas kepemimpinan kepala sekolah. Kemudian diteliti untuk
memperoleh keabsahan konstruk, sampai berapa kuat butir-butir
instrumen telah mengukur dimensi dan indikator dari variabel kualitas
kepemimpinan kepala sekolah sebagaimana tercantum dalam kisi-kisi
butir instrumen di atas, dilanjutkan dengan diujicoba kepada 30 orang
guru, sesuai dengan data sampel uji coba.

2. Uji Coba Instrumen
Instrumen variabel kinerja guru sebanyak 38 butir, sementara instrumen
variabel kualitas kepemimpinan kepala sekolah 36 butir, sedangkan instrumen
supervisi pengawas 36 butir. Instrumen tersebut diujicobakan kepada 30 guru
sebagai responden yang tidak masuk dalam sampel penelitian pada 9 SMPN di
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu.
96

Uji coba instrumen ini dimaksudkan untuk menguji keabsahan (validitas) dan
kehandalan butir-butir instrumen yang digunakan dalam penelitian. Untuk itu
dilakukan analisis hubungan antara satu butir dengan indikator dan dengan
variabel.
1) Validitas Instrumen
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk
mendapatkan data (mengukur) itu valid. Menurut Sugiono
80
Valid berarti
instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya
diukur. Validitas instrumen diuji dengan menggunakan korelasi skor butir
dengan total product moment. Analisis dilakukan terhadap semua butir
instrumen kriteria pengujiannya dilakukan dengan cara membandingkan r
hitung dengan r tabel pada taraf = 0,05, jika r
hitung
>r
tabel
maka butir soal
dinyatakan valid atau sahih, sedangkan jika r
hitung
> r
tabel
maka butir
dianggap tidak absah dan selanjutnya drop atau tidak digunakan. Validitas
yang digunakan adalah validitas isi (content validity). Untuk mengukur
validitas ini digunakan metode internal konsistensi yaitu mengukur besarnya
korelasi antara tiap-tiap butir dengan semua butir pertanyaan adalah
validitas isi (content validity). Untuk mengukur validitas ini digunakan
metode internal konsistensi yang mengukur besarnya korelasi antara tiap
butir dengan semua butir pertanyaan menggunakan rumus korelasi product
moment dan uji signifikasi dengan uji-t. Suatu butir soal ditentukan oleh

80
Ibid
97

besarnya harga r
hitung
pada o =0,05, jika r
hitung
>r
tabel
maka butir soal
dinyatakan valid atau sahih, dengan rumus sebagai berikut :
r
xy
=
( )( )
( ) ( ) ( ) ( )
2
2
2
2
X Y n X X n
Y X Y X n



Keterangan :
rxy = koefisien korelasi skor butir (x) dengan skor total (y)
n = ukuran sampel (responden)
x = ukuran butir
y = skor total
Syarat korelasi pearson
a. Sampel diambil secara acak
b. Ukuran sampel minimum dipenuhi
c. Data sampel masing-masing variabel berdistribusi normal
d. Bentuk regresi linier
Kriteria yang digunakan untuk uji-keabsahan butir adalah r tabel dengan o =
0,05 dan n=22, artinya jika r
hitung
>r
tabel
maka butir dianggap sah dan
selanjutnya didrop atau tidak digunakan.

2) Reliabilitas
Hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam
waktu yang berbeda. Menurut Sugiono
81
Instrumen yang reliabel adalah
instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang

81
Ibid
98

sama, akan menghasilkan data yang sama. Koefisien reliabelitas instrumen
dimaksud untuk melihat konsistensi jawaban yang diberikan oleh responden
atau guru untuk dianalisis. Butir yang valid selanjutnya dihitung
reliabilitasnya dengan menggunakan rumus koefisien alpha (alpa cronbach)
dengan rumus :
r
11
=
(
(


1 o
b o
2
2
1
1 k
k

Keterangan :
r
11
= rehabilitas instrumen
k = benyaknya butir pernyataan yang valid
b o

2
= jumlah bariann butir
Dengan :

+ + + = n o o b o
o 2 2 2
..... 2 1
O
2
1 : varian butir ke-1
Dengan :
O
2
t =
1
2
1 2


n
n
X
X

X
1
= skor butir ke-1
O
2
t = varians total, dicari dengan rumus :
1
2
2
2


n
n
Y
Y
t O , Y : skor total, sedangkan n : ukuran sampel


99

F. Hipotesis Statistik
Berdasarkan masalah penelitian yang telah ditetapkan pada bagian
ebelumnya, maka hipotesis statistik yang akan diuji adalah sebagai berikut :
1. Hipotesis pertama :
H0 : py
1
=0
H1 : py
1
>0

2. Hipotesis Kedua :
H0 : py
2
=0
H1 : py
2
>0

3. Hipotesis Ketiga :
H0 : py
12
=0
H1 : py
12
>0
Keterangan :
H0 : Hipotesis Nol
H1 : Hipotesis Alternatif
py
1
: Koefisien korelasi antara supervisi pengawas terhadap kinerja guru
py
2
: Koefisien kolerasi antara kualitas kepemimpinan kepala sekolah
terhadap kinerja guru
py
12
: Koefisien korelasi antara supervisi pengawas dan kualitas
kepemimpinan kepala sekolah secara bersama terhadap kinerja
guru.
100

G. Teknik Analisis Data
Dalam melakukan analisis terhadap data dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan teknik analisis regresi linier yaitu untuk mengetahui derajat kualitas
hubungan supervisi pengawas (X
1
) dengan kinerja guru (Y), hubungan kualitas
kepemimpinan kepala sekolah (X
2
) terhadap kinerja guru (Y), dan hubungan
supervisi pengawas (X
1
) dan kualitas kepemimpinan kepala sekolah (X
2
) dengan
kinerja guru (Y) pada SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau
Utara.
Untuk mengetahui apakah data tersebut normal, homogen, dan persamaan
regresi linier, maka teknik analisis data yang digunakan melalui uji persyaratan
analisis dan uji hipotesis homogenitas data yang akan dibandingkan sebagai berikut :
Uji Persyaratan Analisis
Uji persyaratan analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi
uji normalitas data, uji homogenitas data, dan linieritas regresi.
a. Uji Normalitas
Tujuan dilakukan uji normalitas adalah untuk mengetahui normal
tidaknya distribusi frekuensi data sampel dalam penelitian, dimana
pengujinya dengan menggunakan uji liliefros dan uji shi-kuadrat. Dalam uji
liliefors dikatakan bahwa data sampel berasal dari populasi yang
didistribusikan normal apabila Lhitung <Ltabel, diuji pada tarap signifikan o =
0,05. sedangkan pada uji chi-kuadrat bahwa data sampel berasal dari
populasi distribusi normal apabila :
2
hitung <
2
tabel, diuji pada taraf
signifikasi o =0,05.
101

b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dimaksudkan untuk pengujian terhadap kesamaan
beberapa bagian sampel, yakni seragam tidaknya sampel-sampel yang
diambil dari populasi yang sama. Uji homogenitas dalam penelitian ini
menggunakan Uji Bartleth, dimana dalam uji homogenitas sampel,
pengetesan didasarkan atas asumsi bahwa apabila varian yang dimiliki oleh
sampel-sampel yang bersangkutan tidak jauh berbeda, maka sampel-sampel
tersebut cukup homogen, dengan ketentuan data sampel homogen apabila :

2
hitung <
2
tabel, untuk o =0,05.
c. Uji Linieritas Regresi
Uji linieritas regresi adalah untuk mengetahui ada hubungan atau
tidak antara Supervisi Pengawas (X
1
) terhadap Kinerja Guru (Y), Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
), terhadap Kinerja Guru (Y), dan antara
Supervisi Pengawas (X
1
) terhadap Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
(X
2
) dengan menggunakan analisis varian melalui tabel ANAVA. Adapun
rumus regresi sederhana yang digunakan sebagai berikut :
Model Regresi : = a +bx
b =
2
x
xy


=
2
2
) X ( X n
) Y )( X ( XY n


a = X b Y
=
( )( ) ( )( )
2
2
2
2
) X ( X n
Y X XY X



102

JK(s) =
2
2
2
x
) xy (
y
E


J K(G) =


E
k
2
k
2
k
n
) Y (
Y

J K(TC) = J K(S) JK(G)
d. Uji Koefisien Product Moment
Untuk melihat adanya kekuatan hubungan antara Supervisi
Pengawas (X
1
) dengan Kinerja Guru (Y), Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y) secara bersama-sama Supervisi
Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) digunakan
rumus koefisien product moment sebagai berikut :
Dengan rumus :
( )( )
( )( )
2 2 2 2
) n ny nX
y x xy n


Dimana :
r
xy
= koefisien Korelasi skor butir (X) dengan skor total (y)
X = Skor butir
Y = Skor total
n = ukuran sampel (Responden)
e. Uji Determinasi
Untuk melihat adanya hubungan antara Supervisi Pengawas (X
1
)
dengan Kinerja Guru (Y), dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
dengan Kinerja Guru (Y) digunakan rumus koefisien determinasi sebagai
berikut :
103

R
2
= (R
3.12
)
2
=


o + o =
2 y ) R ( JK
X X 2 . X X 1 ) g 3 R ( JK 3 2 3
1

f. Uji t
Untuk melihat signifikan hubungan antara Supervisi Pengawas (X
1
)
dengan Kinerja Guru (Y) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
dengan Kinerja Guru (Y), hubungan antara Supervisi Pengawas (X
1
) dengan
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) secara bersama-sama dengan
Kinerja Guru (Y) digunakan uji t dengan rumus sebagai berikut :
t =
( )
2
2
r n
n r






104

BAB IV
TEMUAN PENELITIAN

Hasil penelitian ini dideskripsikan dalam beberapa pembahasan yaitu
tentang demografis responden, deskripsi data, pengujian persyaratan analisis meliputi
uji normalitas data, uji homogritas data dan jumlah kuadrat galat, berikutnya
dilanjutkan dengan pengujian hipotesis dan diakhiri dengan keterbatasan penelitian.

A. Demografi Responden
Responden dalam penelitian ini adalah guru-guru pada SMP Negeri di
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara yang ada di wilayah Kabupaten
Kapuas Hulu. Pengambilan responden dari seluruh wilayah geografis Kabupaten
Kapuas Hulu dalam konteks wilayah Provinsi Kalimantan Barat secara astronomis di
bagian paling Timur Provinsi Kalimantan Barat terletak pada koordinat 05 Lintang
Utara sampai 14 Lintang Selatan dan diantara 11140 sampai 11410 Bujur
Timur. Wilayah bagian Utara berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak (Malaysia
Timur), sementara sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah
dan Kalimantan Timur. Sedangkan sebelah Barat dan Selatan berbatasan langsung
dengan Kabupaten Sintang. Luas wilayah sekitar 29.842 km yang secara
administratif terbagi menjadi 23 wilayah kecamatan dengan 178 desa dan 4
kelurahan.
Sasaran penelitian dilaksanakan terhadap guru-guru yang bertugas pada
SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara. Sampel adalah
104
105

bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dengan demikian
sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti. Sampel dalam penelitian ini
adalah guru-guru di 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau selatan dan Putussibau
Utara Kabupaten Kapuas Hulu. Adapun SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan
dan Putussibau Utara yang dimaksud adalah : SMP Negeri 1 Putussibau, SMP Negeri
2 Putussibau, SMP Negeri 3 Putussibau, SMP Negeri 4 Putussibau, SMP Negeri 5
Putussibau, SMP Negeri 6 Putussibau, SMP Negeri 7 Putussibau, SMP Negeri 8
Putussibau, SMP Negeri 9 Putussibau.
Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan Tabel Isac dan
Michael
82
Dalam buku Pedoman Tesis Desertasi Program Sarjana Universitas Prof.
Dr. Hamka, merupakan tabel penarikan sampel dengan tingkat kesalahan 5%. J ika
jumlah populasi 79 orang maka jumlah sampel yang diambil dengan presentasi
tingkat kesalahan 5% sebanyak 65 orang. Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dengan demikian sampel adalah bagian
dari populasi yang akan diteliti. Sampel dalam penelitian ini adalah guru-guru di 9
SMP Negeri di Kecamatan Putussibau selatan dan Putussibau Utara Kabupaten
Kapuas Hulu. Dalam menentukan jumlah guru yang dijadikan sampel penelitian dan
sampel uji coba penelitian disesuaikan untuk masing-masing sekolah menggunakan
teknik acak sederhana dengan cara diundi, hasilnya yang dijadikan sebagai sampel
uji coba sebanyak 30 orang, sedangkan nama guru yang tersisa sesuai dengan
proporsi yang ditentukan dijadikan sampel penelitian sebanyak 35 orang.


82
Tim Penyususn Pedoman Tesis Desrtasi, Loc.cit, 2008, Pedoman Tesis dan Disertasi, Jakarta
: Uhamka Press, hal. 22-23.
106

B. Deskripsi Data
Dalam pendiskripsian data penelitian ini dihimpun dari hasil pengisian
kuesioner yang telah di dibagikan kepada responden dimana isinya berupa
pertanyaan dari instrumen-instrumen yang telah dikembangkan. Penelitian ini
meliputi tiga variabel, diantaranya Supervisi Pengawas (X
1
), Kualitas Kepemimpinan
Kepala Sekolah (X
2
), dan Kinerja Guru (Y).
Data yang disajikan dalam penelitian ini berupa tabel frekwensi, historgam,
rata-rata (mean), modus, median, simpangan baku, dan varian. Kesemua hasil
tersebut telah melalui perhitungan pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis
korelasi dan regresi secara sederhana. Sebelum melakukan pengujian hipotesis
terlebih dahulu diadakan pengujian data dengan uji normalitas dan homogenitas data
pada setiap variabel. Diantara ketiga variabel tersebut disajikan dalam tabel 4.1
berikut ini.
Tabel 4.1
Rangkuman Hasil Perhitungan Data Tiga Variabel
Variabel n Jumlah Rerata Modus Median
Standar
Deviasi
Varian
Y 35 3321 94,89 98,00 93,23 9,82 93,76
X
1
35 3246 92,74 90,95 92,10 6,41 39,91
X
2
35 3206 91,60 88,50 92,32 6,94 46,75

1. Sebaran Skor Kinerja Guru (Y)
Perhitungan yang diperoleh dari hasil jawaban yang telah diberikan
oleh 35 orang guru yang dihimpun sebagai sampel penelitian menghasilkan
rentang skor implementatif dari setiap responden, dengan skor minimal 33 dan
107

3
4
11
3
9
4
1
0
2
4
6
8
10
12
75,5 81,5 87,5 93,5 99,5 105,5 111,5
f
skor maksimal 132. Sedangkan rentang skor empirik menyebar mulai dari 75
sampai 114. Hasil perhitungan secara statistik dihasilkan nilai sejumlah 3321,
rerata 94,86, modus 98,00, median 93,23, standar diviasi 9,82, dan simpangan
(varian) 93,76. Dalam bentuk distribusi frekwensi skor Kinerja Guru dapat
dilihat pada tabel 4.2, dan untuk histogramnya dapat dilihat pada gambar 4.1.
Tabel 4.2
Distribusi Frekwensi Skor Kinerja Guru (Y)
No. Kelas Interval
Frekwensi
Absolut Relatif Komulatif
1 76 81 3 8,57% 8,57%
2 82 87 4 11,43% 20,00%
3 88 93 11 31,43% 51,43%
4 94 99 3 8,57% 60,00%
5 100 105 9 25,71% 85,71%
6 106 111 4 11,43% 97,14%
7 112 117 1 2,86% 100,00%
35 100,00%

Gambar 4.1
Histogram Skor Kinerja Guru (Y)







Y

108

Frekwensi skor Kinerja Guru pada tabel 4.2 dapat diklasifikasikan
menjadi skor tinggi, sedang, dan rendah. Skor tinggi adalah dari rerata ditambah
1 standar deviasi ke atas. Skor sedang adalah dari skor rerata di kurang 1 standar
deviasi sampai dengan rerata ditambah 1 standar deviasi ke bawah.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa guru yang menempati posisi
kategori tinggi sebesar 14,29%. Sedangkan untuk kategori rendah sebesar
14,29%, hal ini menunjukkan bahwa guru yang memiliki kategori rendah lebih
banyak jumlahnya dari guru yang berada pada kategori tinggi. Sedangkan
sisanya sebesar 71,42% merupakan guru yang berada pada kategori sedang. Dari
sebaran data tersebut klasifikasinya dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini.
Tabel 4.3
Distribusi Klasifikasi Skor Kinerja Guru (Y)
No Kategori Klasifikasi
Frekwensi
Absolut
Frekwensi
Relatif (%)
1 Tinggi 106 115 5 14,29
2 Sedang 85 105 25 71,42
3 Rendah 74 84 5 14,29
35 100

2. Sebaran Skor Supervisi Pengawas (X
1
)
Perhitungan hasil skor implementatif dari 35 responden, skor minimal
30 dan skor maksimalnya 120. Untuk skor empirik menyebar mulai dari 79
sampai 104. Setelah dilakukan perhitungan statistik diperoleh jumlah 3246,
dengan rerata 92,74 modus 90,95, median 9210, standar deviasi 6,41, dan
simpangan (varian) 39,91.
109

1
4
6
10
3
7
4
0
2
4
6
8
10
12
77,5 81,5 85,5 89,5 93,5 97,5 101,5
f
Distribusi frekwensi skor Supervisi Pengawas dapat dilihat pada tabel
4.4, grafik histrogram skor dari Supervisi Pengawas terlihat pada gambar 4.2.
Tabel 4.4
Distribusi Frekwensi Skor Supervisi Pengawas (X
1
)
No. Kelas Interval
Frekwensi
Absolut Relatif Komulatif
1 78 81 1 2,86% 2.86%
2 82 85 4 11,43% 14,29%
3 86 89 6 17,14 31,43%
4 90 93 10 28,57% 60,00%
5 94 97 3 8,57% 68,57%
6 98 101 7 20,00 88,57%
7 102 105 4 11,43% 100,00%
35 100,00%


Gambar 4.2
Histogram Skor Supervisi Pengawas (X
1
)












Perhitungan hasil menunjukkan bahwa guru yang berada pada posisi
kategori tinggi hanya 20,00%, jumlah ini menunjukan hasil yang sebanding
X
1
110

dengan guru pada posisi kategori rendah berjumlah 14,29%. Sedangkan guru
yang berada pada kategori sedang berjumlah 65,71,%. Data klasifikasi tersebut
sebarannya dapat dilihat dalam bentuk pada tabel 4.5 berikut ini.
Tabel 4.5
Distribusi Klasifikasi Skor Supervisi Pengawas (X
1
)
No Kategori Klasifikasi
Frekwensi
Absolut
Frekwensi
Relatif (%)
1 Tinggi 100 105 7 20,00
2 Sedang 86 99 23 65,71
3 Rendah 78 85 5 14,29
35 100


3. Sebaran Skor Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
Dari hasil perhitungan jawaban yang diberikan oleh 35 orang guru
sebagai sampel penelitian, diperoleh rentang skor implementatif setiap
responden minimal 30 dan skor maksimal 120. Sedangkan untuk rentang skor
empiriknya mulai dari 78 sampai 104. Setelah dilakukan perhitungan statistik
diperoleh jumlah 3206, rerata 91,60, modus 88,50, median 92,32, standar
deviasi 6,94 dengan simpangannya (varian) 46,75.
Distribusi hasil dari perhitungan frekwensi skor Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah terlihat pada tabel 4.6, gambaran histogram skor
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah pada gambar 4.3 halaman berikutnya.



111

3
4
11
4
5
7
1
0
2
4
6
8
10
12
78,5 82,5 86,5 90,5 94,5 98,5 102,5
f
Tabel 4.6
Distribusi Frekwensi Skor Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
No. Kelas Interval
Frekwensi
Absolut Relatif Komulatif
1 79 82 3 8,57% 8,57%
2 83 86 4 11,43% 20,00%
3 87 90 11 31,43% 51,43%
4 91 94 4 11,43% 62,86%
5 95 98 5 14,29% 77,14%
6 99 102 7 20,00% 97,14%
7 103 106 1 2,86% 100,00%
35 100,00%

Gambar 4.3
Histogram Skor Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)







Hasilnya menunjukkan bahwa guru yang berada pada posisi kategori
tinggi hanya 22,86%%, hasil tersebut menunjukan jumlah yang sebanding
dengan guru yang berada pada posisi kategori rendah berjumlah 11,43%,
sedangkan selebihnya yang berjumlah 65,71% guru pada diposisi kategori
sedang. Untuk data klasifikasi tersebut sebarannya diperlihatkan dalam bentuk
pada tabel 4.7 halaman berikutnya.
X
2
112

Tabel 4.7
Distribusi Klasifikasi Skor Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
No Kategori Klasifikasi
Frekwensi
Absolut
Frekwensi
Relatif (%)
1 Tinggi 100 105 8 22,86
2 Sedang 85 99 23 65,71
3 Rendah 77 84 4 11,43
35 100

C. Uji Persyaratan Analisis
Untuk uji persyaratan analisis yang digunakan adalah analisis regresi dan
korelasi sederhana. Sebagai persyaratan untuk pengujian sebelum melakukan uji
analisis, terlebih dahulu melakukan pegujian persyaratan Normalitas, Homogenitas,
dan Linieritas.
1. Uji Normalitas
Pada persyaratan Uji Normalitas dilakukan di setiap variabel, sehingga
dapat mengetahui sampel yang telah dilakukan perhitungan apakah berdistribusi
normal atau tidak. Pengujian persyaratan ini dilakukan dengan Uji Lilliefors dan
menggunakan bantuan program Microsoft Office Excel versi 2007. Kriteria
pengujian adalah jika L
hitung
lebih kecil dari L
tabel
maka Ho diterima artinya
sampel berdistribusi normal, dengan taraf signifikansi yang digunakan o =0,05.
Dari perolehan hasil Uji Normalitas variabel Kinerja Guru (Y), variabel
Supervisi Pengawas (X
1
), dan variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
(X
2
) dengan jumlah sampel n =35 (0,886/ 35 =0,1498) dapat dilihat pada
tabel 4.8 pada halaman berikutnya.
113

Tabel 4.8
Rangkuman Analisis Uji Normalitas
No Variabel L
hitung
L
tabel
Keterangan
1 Y

0,1498 0,1486 Distribusi Normal
2 X
1
0,1498 0,0907 Distribusi Normal
3 X
2
0,1498 0,1073 Distribusi Normal

Hasil ketiga variabel yaitu, Kinerja Guru (Y) L
hitung
=0,1486, variabel
Supervisi Pengawas (X
1
) L
hitung
=0,0907, dan variabel Kualitas Kepemimpinan
Kepala Sekolah (X
2
) L
hitung
=0,1073 dengan nilai L
tabel
=0,1498. Sebagai
kesimpulannya bahwa ketiga sampel (Y, X
1
, dan X
2
) dapat dikatakan
berdistribusi normal.

2. Uji Homogenitas
Persyatan kedua adalah Uji Homogenitas, pengujian persyaratan ini
dilakukan dengan Uji Bartlett menggunakan bantuan operasi sistemMicrosoft
Office Excel versi 2007. Persyaratan ini dilakukan untuk mengetahui apakah
varian populasi bersifat homogen atau tidak.
Hasil perhitungan diperoleh varian skor Kinerja Guru (Y) berdasarkan
data Supervisi Pengawas (X
1
) dengan nilai _
2
hitung
sebesar 15,260 sedangkan
_
2
tabel
dengan taraf signifikan o =0,05 dengan derajat kebebasan (db) =10
adalah 18,307. Sehingga dapat disimpulkan bahwa _
2
hitung
<_
2
tabel
berarti H
0

diterima artinya data berasal dari populasi yang homogen.
114

Selanjutnya pada skor Kinerja Guru (X
3
) berdasarkan data Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) didapatkan hasil _
2
hitung
sebesar 5,877
sedangkan _
2
tabel
dengan taraf signifikan o =0,05 dengan derajat kebebasan (db)
=10 adalah 18,307. Kesimpulannya bahwa _
2
hitung
<_
2
tabel
berarti H
0
diterima
artinya data berasal dari populasi yang homogen, lebih jelasnya hasil Uji
Homogenitas varian Y atas X
1
, dan varian Y atas X
2
dapat dilihat pada tabel 4.9.
Tabel 4.9
Rangkuman Analisis Uji Homogenitas
No Variabel yang diuji n db
2
hitung

2
tabel
Kesimpulan
1 Varian Y atas X
1
35 10 15,260 18,307 Homogen
2 Varian Y atas X
2
35 10 5,877 18,307 Homogen

Kesimpulan hasil perhitungan Uji Homogenitas dapat dikatakan bahwa
pasangan data masing-masing variabel yaitu Supervisi Pengawas (X
1
) dan
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) variannya homogen, karena nilai
_
2
hitung
< _
2
tabel
pada masing-masing derajat kebebasan (db) dengan taraf
signifikansi o =0,05.

3. Uji Linieritas
a. Uji Linieritas Supervisi Pengawas (X
1
) dengan Kinerja Guru (Y)
Teknik statistik analisis regresi yang digunakan untuk menguji
hubungan atas variabel harus memenuhi persyaratan antara lain bahwa
setiap variael-variabel tersebut harus bersifat linier. J ika sifat hubungan
115

ini tidak terpenuhi, maka teknis analisis regresi dan korelasi tidak dapat
dilakukan.
Berdasarkan hasil perhitungan Uji Signifikansi Regresi
(perhitungan rincinya pada Lampiran 7 halaman 241) diperoleh harga F
hitung

sebesar 23,75 sedangkan harga F
tabel
dengan db pembilang 1 dan db
penyebut 33 pada taraf signifikansi o =0,05 sebesar 4,15. Dengan demikian
F
hitung
lebih besar dari F
tabel
, maka regresi tersebut signifikan atau berarti.
Untuk Uji Linieritas Regresi menghasilkan harga F
hitung
sebesar 1,71,
sedangkan F
tabel
dengan db pembilang 17 dan db penyebut 16 pada taraf
signifikansi o =0,05 sebesar 2,33. Dengan demikian karena F
hitung
lebih
kecil dari F
tabel
, maka persamaan = 2,921 +0,992 X
1
adalah linier. Untuk
lebih jelasnya rangkuman Uji Linieritas ini dapat dilihat pada tabel 4.10.
Tabel 4.10
ANAVA untuk Regresi Linier = 2,921 + 0,992 X
1

S. Varian db JK RJK F
h

F
t

0,05
Total 35 318397 9097,06 - -
Reg.a 1 315115,46 315115,46
Reg.b 1 1373,36 1373,36 23,75**

4,15
Sisa 33 1908,19 57,82
Tidak Cocok 17 1231,36 72,43
1,71
ns
2,33
Galat 16 676,83 42,30


Keterangan :
** = Regresi sangat berarti (F
hitung
=23,75 >F
tabel
=4,15)
ns
= Regresi berbentuk linier (F
hitung
=1,71 <F
tabel
=2,33)
116

b. Uji Linieritas Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan
Kinerja Guru (Y)
Berdasarkan hasil perhitungan Uji Signifikansi Regresi (secara
spesifik dapat dilihat pada Lampiran 7 halaman 246) diperoleh harga F
hitung

sebesar 26,13, sedangkan harga F
tabel
dengan db pembilang 1 dan db
penyebut 33 pada taraf signifikansi o =0,05 sebesar 4,15. Sehingga F
hitung

lebih besar dari F
tabel
, maka regresi tersebut signifikan atau berarti. Untuk
Uji Linieritas Regresi diperoleh harga F
hitung
sebesar 1,12, sedangkan harga
F
tabel
dengan db pembilang 16 dan db penyebut 17 pada taraf signifikansi
o =0,05 sebesar 2,29. Dengan demikian karena F
hitung
lebih kecil dari F
tabel,

maka persamaan = 8,659 +0,941 X
2
adalah linier. Untuk lebih jelasnya
rangkuman Uji Linieritas ini dapat dilihat pada tabel 4.11.
Tabel 4.11
ANAVA untuk Regresi Linier = 8,659 + 0,941 X
2

S. Varian db JK RJK F
h

F
t

0,05
Total 35 318397 9097,06 - -
Reg.a 1 315115,46 315115,46
Reg.b 1 1450,03 1450,03 26,13**

4,15
Sisa 33 1831,51 55,50
Tidak Cocok 16 940,01 58,75
1,12
ns
2,29
Galat 17 891,50 52,44

Keterangan :
** = Regresi sangat berarti (F
hitung
=26,13 <F
tabel
=4,15)
ns
= Regresi berbentuk linier (F
hitung
=1,12 >F
tabel
=2,29)
117

D. Pengujian Hipotesis
Maksud dari pengujian hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah
hipotesis nol (H
0
) yang diajukan ditolak atau diterima pada tingkat signifikasi
tertentu. Selanjutnya dilakukan analisis regresi dan korelasi sederhana, regresi dan
korelasi ganda serta korelasi parsial. Dalam penelitian ini, diharapkan bisa
mengetahui seberapa besar kekuatan hubungan yang terjadi antara kedua variabel
bebas dengan satu variabel terikat, baik secara sendiri-sendiri maupun secara
bersama-sama. Adapun pengujian hipotesis statistik yang pertama dan kedua
dilakukan dengan uji t, sedangkan hipotesis ketiga dilakukan denga uji F.
Untuk uji hipotesis ini dilakukan secara berturut-turut, dimulai dari hipotesis
pertama yaitu terdapat hubungan positif Supervisi Pengawas (X
1
) dengan Kinerja
Guru (Y). Uji hipotesis kedua terdapat hubungan positif antara Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y). Pada uji hipotesis
ketiga terdapat hubungan positif antara Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) secara bersama-sama dengan Kinerja Guru (Y).
secara berurutan di bawah dideskripsikan hasil dari pengujian hipotesis tersebut.

1. Pengujian Hipotesis Hubungan Supervisi Pengawas (X
1
) dengan
Kinerja Guru (Y)
Untuk yang pertama ini menguji hipotesis alternatif (H
1
) yang
menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara Supervisi Pengawas (X
1
)
dengan Kinerja Guru (Y) melawan Hipotesis nol (H
0
), dimana pada
pernyataannya tidak terdapat hubungan yang menyatakan bahwa tidak terdapat
118

0
15
30
45
60
75
90
105
120
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120
X
1

hubungan positif antara Supervisi Pengawas (X


1
) dengan Kinerja Guru (Y).
Pengujian hipotesis tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik analisis
regresi dan korelasi sederhana.
Hubungan antara Supervisi Pengawas (X
1
) dengan Kinerja Guru (Y)
menggunakan regresi = 2,921 +0,992 X
1
dapat dilihat pada grafik, gambar
4.4 berikut ini.
Gambar 4.4
Grafik Garis Regresi = 2,921 + 0,992 X
1














Pada persamaan = 2,921 + 0,992 X
1
diinterprestasikan bahwa
variabel Supervisi Pengawas (X
1
) dengan Kinerja Guru (Y) diukur dengan
instrumen yang telah diuji validitas dan rehabilitasnya, maka setiap kejadian
= 2,921 +0,992 X
1

119

perubahan skor variabel (X
1
) sebesar 1 unit diestimasikan skor Kinerja Guru
(Y) akan berubah sebesar 0,992 pada arah yang sama konstanta sebesar 2,921.
Dari hasil perhitungan korelasi Product Moment didapat korelasi antara
Supervisi Pengawas (X
1
) dengan Kinerja Guru (Y) dengan koefisien korelasi
r
y1
= 0,308 (secara rinci dapat dilihat pada lampiran 7 halaman 242). Uji
signifikansi koefisien korelasi tersebut dituangkan dalam tabel 4.12 berikut ini.
Tabel 4.12
Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Supervisi Pengawas (X
1
)
dengan Kinerja Guru (Y)
Korelasi
Antara
Koefisien
Korelasi
Koefisien
Determinasi

t
hitung
t
tabel
0,05
X
1
dan Y 0,647 0,419 4,873 1,697

Berdasarkan hasil perhitungan uji signifikansi koefisien korelasi t
hitung

lebih besar dari t
tabel
yaitu : 4,873 >1,671, maka koefisien korelasi antara
Supervisi Pengawas (X
1
) dengan Kinerja Guru (Y) signifikan pada taraf nyata
0,05. Dengan demikian Hipotesis nol (H
0
) sebagaimana dinyatakan di atas di
tolak. Sebaliknya Hipotesis Alternatif diterima. Sebagai kesimpulannya bahwa
terdapat hubungan secara positif yang signifikan antara Supervisi Pengawas
(X
1
) dengan Kinerja Guru (Y). Penjelasan lainnya dapat diasumsikan bahwa
semakin tinggi kualitas Supervisi Pengawas (X
1
) dalam lingkup 9 SMP Negeri
di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara, maka peningkatan akan
Kinerja Guru semakin membaik. Apabila terjadi sebaliknya, makin menurun
kualitas Supervisi Pengawas (X
1
) pada lingkunngan 9 SMP Negeri di
120

Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara maka makin rendah tingkat
Kinerja Guru di lingkungan kerja SMP Negeri tersebut.
Berdasarkan tabel yang ada di atas, dihasilkan koefisien determinasi (r
2
)
antara Supervisi Pengawas (X
1
) dengan Kinerja Guru (Y) sebesar 0,419 atau
berarti 41,85% variasi kecenderungan Kinerja Guru (Y) diperngaruhi oleh
Supervisi Pengawas (X
1
). Sehingga Supervisi Pengawas (X
1
) mengkontribusikan
dukungan sebesar 41,85% terhadap Kinerja Guru (Y) dan kontribusi faktor
lainnya sebesar 58,15%.

2. Pengujian Hipotesis Hubungan Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y)
Hipotesis alternatif (Hi) merupakan hipotesis bentuk pengujian yang
kedua, dalam pernyataan ini bahwa terdapat hubungan positif antara Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y) melawan
Hipotesis nol (H
0
) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan positif
antara Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y).
Untuk melakukan pengujian hipotesis ini dengan penggunaan teknik analisis
regresi dan korelasi sederhana.
Dalam hubungannya antara Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
(X
2
) dengan Kinerja Guru (Y) menggunakan persamaan =8,659 +0,941 X
2
berikut ini dapat dilihat pada grafik gambar 4.5 halaman berikutnya.


121

0
15
30
45
60
75
90
105
120
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120
X
2

Gambar 4.5
Grafik Garis Regresi = 8,659 + 0,941 X
2














Pada persamaan regresi =8,659 +0,941 X
2
diinterprestasikan bahwa
variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y)
diukur dengan instrumen yang telah diuji validitas dan reabilitasnya, maka setiap
perubahan skor variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) sebesar 1
unit dapat diestimasikan sekor Kinerja Guru (Y) akan berubah sebesar 0,941
pada arah yang sama dengan konstanta 8,659.
Dari hasil perhitungan korelasi Product Moment didapat korelasi antara
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y)
= 8,659 +0,941 X
2

122

koefisien korelasi r
y2
=0,665 (lihat Lampiran 7 halaman 247). Uji signifikansi
koefisien tersebut tercantum dalam tabel 4.13 berikut ini.
Tabel 4.13
Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
(X
2
) dengan Kinerja Guru (Y)
Korelasi
Antara
Koefisien
Korelasi
Koefisien
Determinasi

t
hitung
t
tabel
0,05
X
2
dan Y 0,665 0,442 5,111 1,697

Berdasarkan tabel di atas uji signifikansi korelasi t
hitung
lebih besar
dari t
tabel
yaitu : 5,111 > 1,697, maka koefisien korelasi antara Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y) signifikan pada
taraf 0,05. Dengan demikian Hipotesis nol (H
0
) sebagaimana pernyataan di atas
ditolak. Namun sebaliknya Hipotesis Alternatif (Hi) dapat dinyatakan diterima.
Dengan hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan
positif yang signifikansi antara Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
dengan Kinerja Guru (Y). Dengan pehaman lainnya dapat kita katakan bahwa
semakin tinggi kualitas dalam Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
dalam lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara akan mendukung peningkatan Kinerja Guru (Y). Pada sisi
sebaliknya, apabila kurang kualitas dalam Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
) dalam lingkungan kerja 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau
Selatan dan Putussibau Utara mengakibatkan penurunan akan kualitas Kinerja
Guru (Y).
123

Sebagai pengamatan dari tabel di atas diperoleh koefisien determinasi
(r
2
y2
) antara Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru
(Y) sebesar 0,442 atau dapat diartikan 44,19% variasi kecenderungan Kinerja
Guru (Y) mempunyai hubungan dengan Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
). Pernyataan lain dikatakan bahwa Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
) memberikan dukungan sebesar 44,19% terhadap Kerja Guru (Y)
dan 55,81% dianggap sebagai kontribusi faktor dari faktor lain.

3. Pengujian Hipotesis Hubungan Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y)
Pada hipotesis ketiga yang menjadi fokus ujinya adalah hipotesis
alteratif (Hi), dimana dalam pernyataannya bahwa terdapat hubungan positif
antara Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
(Y) dengan Kinerja Guru (Y) dalam melawan pernyataan Hipotesis nol (H
0
),
yang dinyatakan bahwa tidak terdapat hubungan positif antara Supervisi
Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan
Kinerja Guru (Y).
Hubungan antara Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan
Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y) menggunakan persamaan regresi
= 7,10 +0,82 X
1
+0,14 X
2
. Sehingga akan menghasilkan uji signifikansi
regresi ganda, dan dapat dilihat pada tabel 4.14 pada halaman berikutnya.


124

Tabel 4.14
Uji Signifikansi Regresi Ganda
S. Varian db JK RJK
F
hitung
F
tabel
0,05
Regresi 2 1451,99 725,99
12,70
**
3,29
Sisa 32 1829 57,17

Keterangan :
db = Derajat Kebebasan
J K = Jumlah Kuadrat
RJ K = Rerata Jumlah Kuadrat
* = Signifikan (F
hitung
=12,70 >F
tabel
=3,29)
Kesimpulan akhir dapat dinyatakan bahwa persamaan regresi ganda :
= 7,10 + 0,82 X
1
+ 0,14 X
2
adalah signifikan sehingga dapat dipertanggung
jawabkan dalam mengambil kesimpulan mengenai hubungan antara Supervisi
Kepala Sekolah (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan
Kinerja Guru (Y).
Hasil yang ditunjukkan daripersamaan = 7,10 + 0,82 X
1
+ 0,14 X
2
bahwa apabila secara bersama-sama antara Supervisi Pengawas (X
1
) dan
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) ditingkatkan dalam pegabungan
satu unit, maka akan memberikan peningkatan dalam memacu Kinerja Guru (Y)
sebesar 0,96 (0,82 + 0,14) unit dengan konstanta 7,10.
Dari hasil perhitungan korelasi ganda antara (X
1
) dan (X
2
) dengan (Y)
dihasilkan korelasi (R
y
.
12
) adalah sebesar 0,665 (perhitungannya secara spesifik
125

pada Lampiran 7 halaman 253). Untuk diketahui pengujian keberartian koefisien
korelasi ganda tersebut dapat dilihat pada tabel 4.15.
Tabel 4.15
Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Ganda
Sampel (n) Koefisien Korelasi Ganda (R
y
.
12
) F
hitung
F
tabel
(0,05)
35 0,665 31,788 3,29

Dari hasil di atas F
hitung
sebesar 31,788 dan dari daftar distribusi
F dengan db pembilang 2 dan db penyebut 32 pada taraf nyata 0,05 diperoleh
F
tabel
sebesar 3,29. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai F
hitung
lebih besar
dari F
tabel
, maka koefisien korelasi R
y
.
12
dapat dikatakan berarti atau signifikan.
Kesimpulannya bahwa terdapat hubungan positif antara Supervisi Pengawas
(X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (Y) dengan Kinerja Guru (Y).
Dalam pengertian lainnya, bahwa semakin tinggi dan kualitas Supervisi
Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) di lingkungan
Sekolah Menengah Pertama, maka Kinerja Guru (Y) akan semakin meningkat
dan membaik.
Koefisien korelasi di atas juga menghasilkan koefisien determinasi
hubungan antara Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
) secara bersama-sama dengan Kinerja Guru (Y) sebesar 0,442.
Hal ini menunjukkan 0,442 variasinya dalam Kinerja Guru (Y) dapat dijelaskan
oleh variabel Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala
126

Sekolah (X
2
) secara bersama-sama memberikan sumbangan sebesar 44,25%
terhadap perhatian dan peningkatan Kinerja Guru (Y).
Kelanjutan dari hasil perhitungan tersebut diperoleh sumbangan efektif
masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat (Y) dimana sumbangan
efektif paling besar diberikan oleh variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
) sebesar 44,19% kemudian variabel Supervisi Pengawas (X
1
)
sebesar 41,85%.
Perbandingan kekuatan hubungan masing-masing variabel bebas
terhadap variabel terikat dapat diketahui dalam sajian tabel 4.16 (rincian
perhitungannya pada lampiran 7 halaman 248).
Tabel 4.16
Perbandingan Kekuatan Hubungan Antara (X
1
) dan (X
2
)
Secara Bersama-sama dengan (Y)
Korelasi Persial Koefesien Korelasi
R
y1
.
2
0,399
R
y2
.
1
0,357

Tabel di atas menunjukkan bahwa korelasi persial hubungan antara
Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kinerja Guru (Y) dengan kontrol untuk Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) tidak mengalami perbedaan perbandingan
yang jauh dengan hubungan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
dengan Kinerja Guru (Y) dengan adanya kontrol Supervisi Pengawas (X
1
).
Pada akhirnya penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Supervisi Pengawas
(X
1
) dan variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) memberikan
127

kontribusi relatif hampir sama terhadap pelayanan dan peningkatan Kinerja Guru
(Y) dalam lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara.

E. Diskusi
Pengungkapan hasil penelitian ini berupa temuan-temuan tentang kualitas
Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) pada
lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara.
Ini dilakukan untuk mencari temuan kontribusi terhadap peningkatan Kinerja Guru
(Y), yang selanjutnya dengan harapan dapat ikut serta memecahlan permasalahan
yang berkenaan dengan peningkatan Kinerja Guru di lingkungan 9 SMP Negeri di
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara. Hasil penelitian ini kiranya
akan berguna bagi para guru, kepala sekolah, dan Dinas Pendidikan Kabupaten
Kapuas Hulu dalam usaha untuk meningkatkan kualitas Supervisi Pengawas dan
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah yang pada akhirnya dapat meneningkatkan
Kinerja Guru.
Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh beberapa temuan sebagai
berikut :
1. Kepemimpinan Kepala sekolah 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau
Selatan dan Putussibau Utara cukup baik. Hal ini membawa pengaruh
positif terhadap peningkatan mutu Kinerja Guru. Temuan penelitian tentang
Supervisi Pengawas di 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara cukup memberikan arah hubungan yang positif kepada
128

Kinerja Guru yaitu 41,85%. Ini berarti kontribusi terhadap Kinerja Guru
disebabkan faktor lain 58,15%. Temuan tentang perhatian kualitas Supervisi
Pengawas di 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara cukup menggembirakan. Walaupun demikian tentunya
masih perlu untuk ditingkatkan lagi guna memacu kualitas dan perhatian
pendidikan di lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan
dan Putussibau Utara. Hal ini disampikan dengan memperhatikan kondisi di
lapangan antara lain :
a. Masih kurangnya situasi yang kondusif dilingkungan 9 SMP Negeri di
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara.
b. Belum terpenuhinya kemampuan pemahaman tuntutan profesi sebagai
guru yang dapat dijadikan landasan untuk melihat kinerja yang
dimiliki oleh para guru. Sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya
secara efektif dan efesien.
c. Masih kurangnya pemahaman tentang Kinerja Guru yang
sesungguhnya.
d. Kurangnya dukungan manajemen dan dukungan masyarakat yang
mengarah pada Kinerja Guru.
2. Terdapat hubungan positif antara Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
dengan Kinerja Guru di lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau
Selatan dan Putussibau Utara. Hal ini dibuktikan dengan besarnya
kontribusi secara langsung terhadap Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah adalah 44,19%. Besarnya angka kontribusi Kualitas Kepemimpinan
129

Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru masih dapat ditingkatkan lagi seiring
dengan upaya peningkatan implementasinya. Ini berarti kontribusi terhadap
Kinerja Guru disebabkan faktor lain 55,81%. Dari hasil temuan penelitian
dilapangan dapat dijumpai hal-hal sebagai berikut :
a. Komitmen yang tidak merata dari beberapa kompenen yang ada pada 9
SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara
dalam hal untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik secara
kontinyu.
b. Kurangnya peningkatan usaha untuk selalu belajar meng update diri
lewat kreativitas, adabtabilitas, motivasi dan perbaikan yang
berkelanjutan sehingga tidak sepenuhnya memberikan hubungan yang
lebih positif terhadap kinerja guru.
c. Peningkatan dan pemberdayaan SDM, serta pemanfaatan sarana yang
ada belum maksimal.
3. Temuan dalam Kinerja Guru di 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau
Selatan dan Putussibau Utara menurut data hasil analisis menunjukkan
proporsi yang cukup baik dengan skor 93,23 (Median). Peningkatan Kinerja
Guru akan terjadi dengan adanya kontribusi variabel Supervisi Pengawas
yang digabung dengan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah di 9 SMP
Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara. Kontribusi
variabel Supervisi Pengawas dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
terhadap Kinerja Guru sebesar 44,25%, sedangkan 55,75% didukung oleh
faktor lain. Maka jelaslah dalam temuan antara variabel Supervisi Pengawas
130

dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah di 9 SMP Negeri di
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara memiliki korelasi
saling ketergantungan (interdependens) terhadap Kinerja Guru. Kondisi
Supervisi Pengawas dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah adalah
variabel yang dapat menjelaskan keberhasilan tingkat Kinerja Guru. Oleh
karena itu, kolaborasi Supervisi Pengawas dan dipadukan dengan Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah yang cukup dan baik perlu untuk
ditingkatkan lagi.

Dalam paparan pengujian hipotesis di atas, koefisien korelasi antara
Supervisi Pengawas dengan Kinerja Guru (r
y1
) sebesar 0,647, dan pada Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru (r
y2
) sebesar 0,665 serta
Supervisi Pengawas dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah secara
bersama-sama dengan Kinerja Guru (r
y
.
12
) sebesar 0,665. Katiga variabel
tersebut pada pola hubungan dapat dilihat pada gamber 4.9.

Gambar 4.6
Pola Hubungan Antar Ketiga Variabel







r
y1
=0,647
r
y
.
12
=0,665
r
y2
=0,665
X
1

X
1


Y

131

F. Keterbatasan Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian dihadapakan pada keterbatasan-
keterbatasan, baik dalam lingkup permasalahan penelitian, metodologi penelitian,
analisi data dan pembahasan hasil penelitian, maupun konseptualisasi
pengembangannya.
Keterbatasan pertama, berkaitan dengan masalah lingkup penelitian
Variabel Kinerja Guru yang melekat pada diri seorang guru banyak dipengaruhi oleh
pelbagai faktor, baik faktor internal seperti minat terhadap pekerjaan, motivasi kerja,
kondisi psikologis dan fisiologis yang bersifat kontenporer, dan karakteristik
kepribadian lainnya, maupun faktor eksternal seperti iklim dan budaya sekolah,
kemampuan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugas-
tugas kepemimpinan, kondisi psikologis, fisiologis dan sosiologis kontenporer siswa,
kondisi kontenporer kelas dan sekolah, sistem kompensasi, Supervisi Pengawas
satuan pendidikan dalam melakukan tugasnya sebagai supervisor akademik, dan
pelbagai faktor eksternal lainnya.
Penelitian ini terfokus pada tindakan Supervisi Pengawas akademik satuan
pendidikan dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah yang kedua merupakan
bagian kecil dari pelbagai faktor yang berhubungan dengan Kinerja Guru dalam
menjalankan tugas-tugas profesionalnya. Di samping itu penilaian kinerja seharusnya
mencakup aspek-aspek input, proses, produk, outcome dan dampak dari tindakan
yang dilakukan oleh seorang guru.
Keterbatasan kedua, berkaitan dengan pengambilan sampel penelitian.
Pengambilan sampel penelitian ini hanya diambil dari 9 SMP Negeri di Kecamatan
Putussibau Selatan dan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu, tidak
132

melibatkan SMP swasta. Dan juga pengambilan sampel pada penelitian ini masih
memiliki kelemahan karena tidak memperhatikan tingkat usia, masa kerja, dan
frekuensi pemberdayaan yang pernah dialami responden pada setiap sampel sekolah.
Keterbatasan ketiga, berkenaan dengan instrumen kuesioner yang
digunakan setelah diujicobakan tidak kesemuanya valid. Sehingga dalam
pengumpulan data melalui angket masih terdapat kelemahan, dimana responden
masih kurang memahami makna pertanyaan, serta responden yang dimungkinkan
belum memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Keterbatasan lainnya, peneliti masih memiliki keterbatasan dalam menelaah
yang disebabkan oleh keterbatasan literatur yang peniliti miliki, dana serta waktu
yang terbatas. Jelas hal ini tidak mampu menggali informasi tentang fenomena yang
dialami oleh responden secara mendalam. Oleh karena itu, meskipun instrumen
penelitian ini telah diuji validitas dan realibitasnya, namun ada kemungkinan kurang
peka di dalam menangkap fenomena yang terjadi dan dialami oleh responden.
Akibat dari keterbatasan-keterbatasan di dalam penelitian ini, maka hasil
penelitian masih belum mampu sepenuhnya memecahkan masalah yang berkaitan
dengan upaya peningkatan Kinerja Guru secara komprehensif, karena masih banyak
variabel eksternal yang mempengaruhi Kinerja Guru. Namun demikian harapan
peneliti akan pelbagai keterbatasan ini tidak mengurangi makna dan signifikansi
hasil penelitian ini. Di samping itu harapan hasil penelitian ini dapat memberi makna
yang signifikan untuk pengembangan pendidikan umumnya, khususnya untuk
peningkatan Kinerja Guru pada 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu.

133

BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan
Akhir hasil kajian di lapangan yang telah dilaksanakan diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
Pertama, terdapat hubungan yang positif antara Supervisi Pengawas dengan
Kinerja Guru di lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara. Kesimpulan tersebut dapat dinyatakan bahwa Supervisi
Pengawas di lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara cukup bermakna dan berhubungan positif dengan Kinerja
Guru. Sebesar 41,85% variabel dalam Kinerja Guru (Y) dapat dijelaskan oleh
variabel Supervisi Pengawas (X
1
). Sedangkan 58,15% variabel Kinerja Guru (Y)
disebabkan oleh faktor lain.
Kedua, terdapat hubungan yang positif antara Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y) di Lingkungan 9 SMP Negeri di
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara. Dari kesimpulan tersebut
dapat dinyatakan bahwa Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) yang
berlaku di lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara cukup bermakna dan hubungan positif dengan Kinerja Guru.
Sebesar 44,19% variabel dalam Kinerja Guru (Y) dapat dijelaskan oleh variabel
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
). Sedangkan 55,81% variabel
Kinerja Guru (Y) disebabkan oleh faktor lain.
133
134

Ketiga, terdapat hubungan yang positif antara Supervisi Pengawas (X
1
) dan
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) secara bersama-sama dengan
Kinerja Guru (Y) di lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan
dan Putussibau Utara. Kesimpulan secara umum dapat dinyatakan bahwa
Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
secara bersama-sama cukup bermakna dan berhubungan positif dengan Kinerja
Guru (Y) di lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara. Sebesar 44,25% variabel Kinerja Guru (Y) dapat dijelaskan
oleh variabel Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
). Sedangkan 55,75% variabel Kinerja Guru (Y) disebabkan oleh
faktor lain.

B. Implikasi
Mengungkapkan hasil paparan kesimpulan di atas, maka berikut ini akan
dikemukakan beberapa implikasi yang relevan. Adapun implikasi dimaksud antara
lain sebagai berikut :
1. Dari hasil statistik terdapat hubungan yang positif antara Supervisi
Pengawas (X
1
) dengan Kinerja Guru (Y). Dengan demikian Supervisi
Pengawas (X
1
) dapat digunakan sebagai cara untuk peningkatan mutu dan
kualitas Kinerja Guru di lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan
Putussibau Selatan dan Putussibau Utara, meskipun hanya sebesar 41,85%.
Walaupun masih perlu dilakukan perbaikan Supervisi Pengawas (X
1
) untuk
mencapai di atas 50%. Hal ini dapat dilakukan peningkatan wawasan
135

mengenai Supervisi Pengawas (X
1
). Namun, upaya lain juga mesti
dilakukan mengingat sebesar 59,15% variabel Kinerja Guru (Y) disebabkan
oleh faktor lain.
2. Dari hasil statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif
antara Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru
(Y), sehingga Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dapat
digunakan untuk peningkatan Kinerja Guru (Y) di lingkungan 9 SMP
Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara, meski hanya
44,19%. Sehingga untuk menunjang peningkatan mutu dan kualitas
pendidikan yang baik perlu membangun komitmen bersama serta
memberikan motivasi untuk mencapai di atas 50%. Hal ini bisa dilakukan,
yaitu dengan meningkatkan profesionalisme guru dan pemberian reword
sehingga di lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
Putussibau Utara menjadi lebih meningkatkan kinerja dan kualitas guru
dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Selain itu, upaya lainnya
sangat perlu dilakukan mengingat 55,81% variabel Kinerja Guru (Y)
disebabkan oleh faktor lain.
3. Hasil statistik juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang
signifikan antara Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan
Kepala Sekolah (X
2
) secara bersamaan denga Kinerja Guru (Y). Dimana
Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
secara bersamaan dapat digunakan sebagai cara untuk peningkatan Kinerja
Guru (Y) di lingkungan 9 SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan
136

Putussibau Utara, sebesar 44,25%. Dari hal tersebut perlu kesadaran kepala
sekolah dan guru secara menyeluruh di lingkungan 9 SMP Negeri di
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara untuk memahami akan
pentingnya memperhatikan kualitas kerja kepemimpinan kepala sekolah dan
peningkatan kinerja dan mutu pembelajaran serta memotivasi guru.
Sedangkan upaya lainnya juga harus dilakukan mengingat sebesar 55,75%
variabel Kinerja Guru disebabakan oleh faktor lain.

C. Saran-saran
Berdasarkan temuan dan hasil analisis data penelitian, terutama yang
berkaitan dengan konstribusi Supervisi Pengawas (X
1
) dan Kualitas Kepemimpinan
Kepala Sekolah (X
2
) terhadap Kinerja Guru (Y) pada lingkungan 9 SMP Negeri di
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara, peneliti mengajukan beberapa
saran, yaitu:
1. Supervisi Pengawas merupakan variabel yang sangat penting dalam
meningkatkan Kinerja Guru, oleh karena itu Kepala Sekolah dapat secara
tepat dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas kepemimpinannya,
dengan selalu melihat situasi dan kondisi guru dalam perkembangannya
ketika melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang
pendidik.
2. Kinerja yang baik akan berkelanjutan apabila mendapatkan perhatian dan
pengawasan secara rutin serta dengan meningkatkan kesadaran akan
tanggungjawab sebagai tenaga pendidik. Hal ini perlu diupayaakan melalui
137

peningkatan akan kualitas kepemimpinan kepala sekolah sehingga setiap
kegiatan guru merasa dihargai dan diperhatikan, yang pada gilirannya nanti
akan dapat meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya.
Keberhasilan Kinerja Guru sesuai dengan ketentuan sangat bergantung pada
pemahaman, kesadaran, keterlibatan dan upaya sungguh-sungguh dari
segenap unsur yang terkait. Kinerja Guru merupakan cermin keberhasilan
rencana pengembangan sekolah. Pelaksanaan peningkatan Kinerja Guru
akan mendukung tercapainya guru profesional yang mampu menghasilkan
insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif secara adil, bermutu, dan
relevan untuk kebutuhan masyarakat Indonesia dan global.
3. Supervisi Pengawas dalam pelaksanaan pengawasan Kinerja Guru dan
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah bukan hal yang perlu ditakuti,
melainkan suatu koordinasi untuk mencari solusi dalam menyelesaikan
masalah yang berkaitan dengan kegiatan tugas seorang guru dan tugas
kepala sekolah.
4. Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan ujung tombak dalam
memotivasi untuk meningkatkan mutu Kinerja Guru. Sebagai seorang top
manager (Kepala Sekolah) tidak seharunya mencari kesalahan atau
kekurangan yang ada di sekolah dalam menjalankan fungsi pengawasan.
Kepala sekolah diharapkan mampu memberi pengaruh yang baik dalam
menetapkan fungsi planning, organizing, actuating maupun controlling demi
pencapaian mutu pendidikan yang maksimal.

138

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi, 1992, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara

Amstrong, 1994, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : Gramedia.

Adair John, 2007, Cara Menumbuhkan Pemimpin, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama

AKSI, 2006, Peran Strategis Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan/editor, Rahman (Rahman (et.al)- Jatinangor Sumedang :
Alqaprint.

Burhanudin, 1994, Analisis Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan
Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara

Burnham, W.J. 1997, Managing Quality in schools, London, Pearson Education

Bacal Robert, 2004, Leadership Is Everyones Business, Kiat Sukses Menjadi
Pemimpin Andal, Yogyakarta : Pinkbooks.

Dharma Surya, 2009, Manajemen Kinerja, Falsafah Teori dan Penerapannya,
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Departemen Pendidikan Nasional, 1988, Panduan Manajemen Sekolah, Jakarta,
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah

Departemen Pendidikan Naional, 2000, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah Edisi 2, Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah

Danin Sudarman, 2010, Kepemimpinan Pendidikan, Bandung : Alfabeta.

George P. Donald, dan Don B. Stopman, 1991, Managerial Planing, San Fransisco :
Jossey Bass, Publ.

Hampton David R, 1993, Management, New York : McGraw-Hill Book Company.

Hamalik Oemar, 2002, Pendekatan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi,
Jakarta : Bumi Aksara.
138
139

http://www,bel buk com/Ekonomi pembiayaan Pendidikan-p-8859 html

http://www. Com/browse/bookdetail/24595/Managing Performance Maging People,
html

http://www.Com/browse/bookdetail/65349/Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang
Manajemen perkantoran, html

http://artikel us/adharma, html/ Standar Kompetensi Kepala Sekolah.

Indrafachrudi Soekarto, 2006, Bagaimana Memimpin Sekolah, Bandung : Ghalia
Indonesia

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 20/U/1998.

Kountur Ronny, 2005, Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, Jakarta
: PPM.

Law. S. & Glover, D. 2000, Education Leadership and Learning practice, policy and
research. Buckingham- Philadelpia, Open University Press.

Marshall Ronny G, 1999, Manajemen Terjemahan, London : Row and Haper.

Mulyasa, 2004, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung : PT Remaja
Rusdakarya.

Majalah Forum Pengawas, Nomor 28/XII/2008.

Murwani R. Santosa, 2009, Statistik Terapan, Jakarta : Uhamka Press.

Muslim Sri Banun, 2009, Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas
Profesionalisme Guru, Bandung : Alfabeta.

Mangkunegara PA, 2009, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Bandung
: PT. Remaja Rosdakarya.

Nawawi Hadari, 1977, Administrasi Pendidikan, Jakarta : Gunung Agung.

----------------------, 2006, Evaluasi Dan Manajemen Kinerja di Lingkungan
Perusahaan dan Industri, Yogyakarta : Gajah Mada University Pess.
140

Pidarta Made, 1977, Landasan Kependidikan, Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak
Indonesia, Jakarta : Reneka Cipta.

Prawirosentono, 1999, Kebijakan Kinerja Karyawan, Yogyakarta : BPEE.

Purwanto Ngalim, 2005, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung : Remaja
Rosdakarya.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 12 Tahun 2007, Tentang Standar
Pengawas Sekolah Menengah Pertama/Madrasah (SMP/Mts) dan
Pengawas Sekolah Menengah Atas (SMA/MA)

Rifai, 1982, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung : Yanmars.

Robbin Stepen P, 2007, Organization Behavior, Jakarta : Salemba Emat.

Syam Mardjin, 1986, Kepemimpinan dalam Organisasi, Surabaya : Yayasan
Pendidikan
Practise.

Sadler, P, 1997, Leadership, Kogan Page

Soepardi, 1988, Dasar-dasar Administrasi Pendidikan, Jakarta : P2LPTK.

Sutisna Oteng 1993, Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis Untuk Praktek
Profesional, Bandung : Angkasa.

Sergiovani, Tj. Dan R.J. Starrat, 1996, Supervision : Human Perspective New York :
Mc Graw-Hill Book Company

Sergiovani Thomas, 1996, Education and Administration, New Jersey Prentice : Hall
Inc

Siagian Sondang P, 2002, Manajemen Sumber Daya Manuasia, Jakarta : Bimi
Aksara

----------------------, 2003, Teori dan Praktek Kepemimpinan, Jakarta : Rineka Cipta.
Siahan Amiruddin ; Rambe Ali & Mahidun, 2006, Manajemen Pengawas
Pendidikan, Jakata : Quantum Teaching

Sugiyono, 2007, Metode Penelitian Administrasi, Bandung : Alfabeta.
141

Sahertian Piet A. 2008, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta :
Rineka Cipta

Sallis Edward, 2008, Total Quality Manajemen In Education, Yogyakarta, IRCiSoD

Sagala Syaiful, 2009, Kemampuan profesional Guru dan Tenaga Kependidikan,
Bandung : Alfabeta.

Sanusi Achmad, 2009, Kepemimpinan Sekarang dan Masa Depan, Bandung :
Prospect.

Suhardan Dadang, 2010, Supervisi Profesional (Layanan dalam Meningkatkan Mutu
Pembelajaran di Era Otonomi Daerah), Bandung : Alfabeta.

Suharsaputra Uhar, 2010, Administrasi Pendidikan, Bandung : Refika Aditama.

Syafaruddin, 2010, Kepemimpinan Pendidikan, Jakarta : Quantum Teaching.

Timple A. Dale, 1991, Seni dan Pengetahuan Bisnis : Kepemimpinan, terjemahan
Susanto Budidharma, Jakarta : Gramedia.

Thoha, Miftah. 1995, Kepemimpinan Dalam Manajemen, Jakarta : Rajawali.

Tim Penyusunan Pedoman Tesis Desertasi, 2008, Jakarta : Uhamka Press.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan
Nasional Republik Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta.

Udin Syaefudin Saud, 2009, Pengembangan Profesi guru, Bandung : Alfabeta.

Wirawan Ismail, 2003, Kapita Selekta, Teori Kepemimpinan, Pengantar Untuk
Praktek dan Penelitian, Jakarta: Kerja sama Yayasan Banun Indonesia &
UHAMKA Press.

----------------------, 2009, Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia Teori, Aplikasi
dan Penelitian, Jakarta : Salemba Empat.

Wibowo, 2010, Manajemen Kinerja, Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Yukl Gary, 2009, Kepemimpinan Dalam Organisasi, PT. Indeks.
142

LAMPIRAN 1
HASIL UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN




1.1. UJ I COBA INSTRUMEN KINERJ A GURU


1.2. UJ I COBA INSTRUMEN SUPERVISI PENGAWAS



1.3. UJ I COBA INSTRUMEN KUALITAS
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH


143









Oleh :




















144

BAGIAN I

PENDAHULUAN

A. Maksud dan Tujuan
Uji coba instrumen ini dimaksudkan untuk menguji validitas dan reabilitas
masing-masing instrumen variabel penelitian. Pada penelitian selalu bergantung pada
dua alat ukur, yaitu validitas dan reliabilitas. Validitas menunjukkan sejauh mana
nilai/ukuran yang diperoleh benar-benar menyatakan hasil pengukuran/pengamatan
yang ingin diukur. Sedangkan reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan
sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan.
Validitas sebuah tes menyangkut apa yang diukur tes dan seberapa baik tes
itu bisa mengukur. Validitas sebuah tes memberitahu kita tentang apa yang bisa kita
simpulkan dari skor-skor tes. Menilai validitas adalah penting bagi peneliti karena
semua prosedur untuk menentukan validitas tes berkaitan dengan hubungan antara
kinerja pada tes dan fakta-fakta lain yang dapat diamati secara independent sehingga
hasil pengukuran relatif kosisten.
Sedangkan tujuan dari uji coba instrumen penelitian untuk menentukan
instrumen mana yang memenuhi syarat, baik syarat validitas maupun reabiltasnya.

B. Instrumen Yang Diuji Coba
1. Kuesioner untuk menjaring data tentang variabel Kinerja Guru SMP Negeri
Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas
Hulu dengan instrumen variabel 38 pertanyaan.
145

2. Kesioner untuk menjaring data tentang variabel Supervisi Pengawas SMP
Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten
Kapuas Hulu dengan instrumen variabel 36 pertanyaan.
3. Keusioner untuk menjaring data tentang variabel Kualitas Kepemimpinan
Kepala Sekolah SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau
Utara Kabupaten Kapuas Hulu dengan instrumen variabel 36 pertanyaan.
Adapun instrumen yang akan diuji coba adalah sebagai berikut :

1.1. Uji Coba Instrumen Variabel Kinerja Guru
No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
1. Saya merencanakan program tahunan
2. Saya merencanakan program semester
3. Saya merencanakan penyusunan silabus
4. Saya menyusun rencana persiapan mengajar (RPP)
5. Saya merencanakan menyusun penetapan KKM
6. Saya merencanakan menyusun bahan ajar dari setiap
KD yang disampaikan

7. Saya merencanakan menyusun menetapkan SK dan
KD

8. Saya aktif membuka pelajaran
9. Saya aktif mengorganisasikan materi pembelajaran
10. Saya aktif menggunakan metode yang sesuai
11. Saya aktif memanfaatkan media/alat peraga
12. Saya aktif memotivasi siswa
13. Saya aktif mengorganisasikan kegiatan pembelajaran
14. Saya aktif berinteraksi secara komunikatif dengan
siswa

15. Saya aktif memberikan kegiatan mandiri tidak
terstruktur

146

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
16. saya aktif memberikan penugasan terstruktur
17. Saya aktif membimbing peserta didik membuat
kesimpulan

18. Saya aktif mengelola waktu dengan baik
19. Saya melakukan ulangan harian, UTS, UAS/UKK
20. Saya melakukan penilaian akhlak mulia dan
kepribadian

21. Saya melakukan penilaian psikomotor
22. Saya melakukan analisis ulangan harian
23. Saya membuat instrument tes setiap KD
24. Saya membuat analisis penilaian
25. Saya memeriksa hasil ulangan siswa
26. Saya memeriksa pekerjaan rumah siswa
27. Saya menyiapkan pencatatan analisis hasil belajar
28. Saya memastikan siswa yang kurang berhasil untuk
ditandaklajuti

29. Saya mendiagnosa siswa bermasalah
30. Saya mengidentifikasi permasalahan siswa
31. Saya menanggapi serius kesulitan belajar siswa
32. Saya mengadakan perbaikan bagi siswa yang nilainya
dibawah KKM

33. Saya mengadakan pengayaan bagi siswa yang sudah
berhasil

34. Saya ikut melatih dan membimbing siswa dalam
remedial dan pengayaan

35. Saya ikut melatih dan membimbing siswa dalam
persiapan menghadapi ujian nasional

36. Saya ikut melatih dan membimbing siswa dalam
persiapan menghadapi lomba olimpiade mata pelajaran

147

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
37. Saya ikut membimbing siswa dalam pengembangan
diri melalui bimbingan konseling

38. Saya ikut membimbing siswa dalam pengembangan
diri melalui ekstrakurikuler


Keterangan :
SL : Selalu
SR : Sering
KK : Kadang-kadang
TP : Tidak Pernah

148

KUESIONER KINERJA GURU


A. Identitas
1. Nama Sekolah :
2. Mengajar di Kelas :
3. Jenis Kelamin :
4. Golongan / Pangkat :
5. Pendidikan Terakhir : SMTA / Diploma / S1 / S2
( Corek yang tidak perlu )
6. Mengajar Mata Pelajaran :

B. Petunjuk Pengisian
1. Berilah tanda cek () pada angka 1, 2, 3, 4 di belakang pertanyaan yang
sesuai dengan pendapat bapak / ibu.
2. Makna setiap jawaban tersebut adalah sebagai berikut :
SL = Selalu
SR = Sering
KK = Kadang-Kadang
TP = Tidak Pernah
Tidak ada jawaban yang dianggap salah. Asal semua jawaban sesuai dengan
pendapat bapak / ibu, maka jawaban tersebut dianggap benar.

149

1.2. Uji Coba Instrumen Variabel Supervisi Pengawas
No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
1. Pengawas melaksanakan supervisi akademik untuk
membina guru dalam meningkatkan mutu
pembelajaran

2. Pengawas menilai guru dalam proses pembelajaran
yang ditujukan melalui unjuk kerja

3. Supervisi akademik yang dilakukan pengawas secara
langsung berpengaruh terhadap prilaku guru dalam
proses pembelajaran

4. Pengawas melakukan kunjungan kelas untuk membantu
guru dalam mengatasi kesulitan guru di dalam kelas

5. Melalui kunjungan kelas, guru-guru dibantu melihat
dengan jelas masalah yang mereka hadapi

6. Pada tahap persiapan, pengawas merencanakan waktu,
sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan
kelas

7. Pengawas melakukan observasi kelas kepada guru
melihat proses pembelajaran yang berlangsung di kelas

8. Pengawas dalam melakukan observasi kelas kepada
guru menggunakan instrumen supervisi

9. Pengawas melakukan suatu pertemuan, percakapan dan
tukar pikiran antar pengawas dan guru, guru dengan
guru mengenai usaha peningkatan profesionalguru

10. Pengawas dalam menggunakan teknik kunjungan antar
kelas, guru akan memperoleh pengalaman baru dari
teman sejawat mengenai pelaksanaan proses
pengelolaan kelas

11. Dalam menggunakan teknik kunjungan kelas pengawas
sekolah harus menyeleksi guru yang akan dikunjungi

12. Pengawas sekolah dalam mengunakan teknik menilai
diri sendiri memberi informasi secara obyektif untuk
mengukur kemampuan guru mengajar

13. Pengawas menegur kepala sekolah bila membiarkan
guru terlambat membuat perangkat pembelajaran

150

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
14. Pengawas memberikan bantuan kepada kepala sekolah
bagaimana cara menegur guru agar tetap semangat
dalam melaksanakan pembelajara

15. Pengawas membina kepala sekolah dalam administrasi
kurikulum

16. Pengawas membina kepala sekolah dalam administrasi
peserta didik

17. Pengawas membina kepala sekolah dalam administrasi
sarana prasarana

18. Pengawas membina kepala sekolah dalam administrasi
keuangan

19. Pengawas membina kepala sekolah dalam bimbingan
dan konseling serta hubungan sekolah dengan
masyarakat

20. Pengawas membina kepala sekolah dalam mengelola
sekolah sesuai manajemen peningkatan mutu berbasis
sekolah (MPMBS)

21. Pengawas membina kepala sekolah dalam persiapan
akreditasi sekolah

22. Peran pengawas dalam supervisi bermanfaat untuk
peningkatan proses pembelajaran

23. Pengawas memotivasi guru agar dapat menyelesaikan
tanggunjawab sampai batas kemampuan saya

24. Pengawas enggan membicarakan kinerja guru
25. Pengawas dan kepala sekolah mengundang guru untuk
penentuan dan membagi pengalamannya kepada guru

26. Pengalaman pengawas saya jadikan rujukan dalam
peningkatan mutu pembelajaran

27. Pengalaman pengawas dalam melakukan supervisi
pendidikan menjadi inspirasi dalam supervisi kepala
sekolah

28. Saya berdiskusi cara mengelola pembelajaran yang
baik dengan pengawas sekolah

151

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
29. Saya memperoleh banyak pelajaran berharga dari
pengawas pembina

30. Kesalahpahaman antara pengawas dengan kepala
sekolah dalam membuat kebijakan organisasi sekolah
sulit dimusyawarahkan dengan baik

31. Kepala sekolah dibantu pengawas melakukan supervisi
akademik untuk meningkatkan proses pembelajaran

32. Pengawas sekolah dan kepala sekolah saling bahu
membahu untuk peningkatan kualitas pendidikan
disetiap sekolah

33. Peningkatan kualitas pendidikan disetiap sekolah
terkait dengan peran supervisi pengawas

34. Pengawas sekolah selalu memonitor kualitas
pendidikan disetiap sekolah

35. Pengawas memberikan nasehat kepada kepala sekolah
agar dekat dengan masyarakat dan lingkungan sekolah

36. Pengawas memberikan nasehat kepada kepala sekolah
agar dapat bekerjasama dengan komite sekolah dan
instansi terkait


Keterangan :
SL : Selalu
SR : Sering
KK : Kadang-kadang
TP : Tidak Pernah

152

KUESIONER SUPERVISI PENGAWAS


A. Identitas
1. Nama Sekolah :
2. Mengajar di Kelas :
3. Jenis Kelamin :
4. Golongan / Pangkat :
5. Pendidikan Terakhir : SMTA / Diploma / S1 / S2
( Corek yang tidak perlu )
6. Mengajar Mata Pelajaran :

B. Petunjuk Pengisian
1. Berilah tanda cek () pada angka 1, 2, 3, 4 di belakang pertanyaan yang
sesuai dengan pendapat bapak / ibu.
2. Makna setiap jawaban tersebut adalah sebagai berikut :
SL = Selalu
SR = Sering
KK = Kadang-Kadang
TP = Tidak Pernah
Tidak ada jawaban yang dianggap salah. Asal semua jawaban sesuai dengan
pendapat bapak / ibu, maka jawaban tersebut dianggap benar.

153

1.3. Uji Coba Instrumen Variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
1. Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang jujur

2. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang percaya diri

3. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang bertanggung
jawab

4. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang berani
mengambil resiko

5. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang berani
mengambil keputusan

6. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang berjiwa besar

7. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang memiliki
kestabilan emosi

8. Kepala sekolah sebagai sosok pemimpin yang dapat
dijadikan contoh teladan

9. Kepala sekolah memahami kondisi tenaga guru

10. Kepala sekolah memahami kondisi tenaga non guru

11. Kepala sekolah memahami kondisi peserta didik

12. Kepala sekolah memahami karakteristik peserta didik

13. Kepala sekolah mampu menyusun program
pengembangan tenaga kependidikan

14. Kepala sekolah mampu menyusun program
pengembangan tenaga non guru

15. Kepala sekolah memperhatikan masikan dan saran-
saran dari berbagai pihak untuk meningkatkan
keberhasilan kepemimpinannya

16. Kepala sekolah memperhatikan kritik dari berbagai
pihak demi keberhasilan tugasnya

17. Kepala sekolah mampu memahami dalam pengelolaan
dan administrasi sekolah

154

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
18. Kepala sekolah memahami penyusunan rencana
keuangan anggaran sekolah (RKAS)

19. Kepala sekolah memahami instrumen akreditasi
sekolah dan bukti fisiknya

20. Kepala sekolah mampu mengsosialisasikan visi
sekolah

21. Kepala sekolah mampu mengembangkan visi sekolah

22. Kepala sekolah mampu merumuskan kembali visi
sekolah secara berkala sesuai dengan perkembangan
dan tantangan di masyarakat

23. Kepala sekolah mampu mengsosialisasikan misi
sekolah

24. Kepala sekolah mampu mengembangkan misi sekolah

25. Kepala sekolah mampu merumuskan kembali misi
sekolah secara berkala sesuai dengan perkembangan
dan tantangan di masyarakat

26. Kepala sekolah mengsosialisasikan program-program
sekolah dalam upaya mewujudkan visi dan misi
sekolah

27. Kepala sekolah melaksanakan program-program
sekolah dalam upaya mewujudkan visi dan misi
sekolah

28. Kepala sekolah mampu mengambil keputusan bersama
tenaga kependidikan di sekolah

29. Kepala sekolah mampu mengambil keputusan untuk
kepentingan internal sekolah

30. Kepala sekolah mampu mengambil keputusan untuk
kepentingan eksternal sekolah

31. Kepala sekolah mampu berkomunikasi secara lisan
dengan tenaga kependidikan di sekolah

32. Kepala sekolah mampu menuangkan gagasan dalam
bentuk tulisan

155

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
33. Kepala sekolah mampu berkomunikasi secara tertulis
melalui media cetak

34. Kepala sekolah lancar berkomunikasi secara lisan
dengan peserta didik

35. Kepala sekolah lancar berkomunikasi dengan orang tua
siswa

36. Kepala sekolah mahir berkomunikasi dengan
masyarakat sekitar lingkungan sekolah


Keterangan :
SL : Selalu
SR : Sering
KK : Kadang-kadang
TP : Tidak Pernah

156

KUESIONER KUALITAS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH


A. Identitas
1. Nama Sekolah :
2. Mengajar di Kelas :
3. Jenis Kelamin :
4. Golongan / Pangkat :
5. Pendidikan Terakhir : SMTA / Diploma / S1 / S2
( Corek yang tidak perlu )
6. Mengajar Mata Pelajaran :

B. Petunjuk Pengisian
1. Berilah tanda cek () pada angka 1, 2, 3, 4 di belakang pertanyaan yang
sesuai dengan pendapat bapak / ibu.
2. Makna setiap jawaban tersebut adalah sebagai berikut :
SL = Selalu
SR = Sering
KK = Kadang-Kadang
TP = Tidak Pernah
Tidak ada jawaban yang dianggap salah. Asal semua jawaban sesuai dengan
pendapat bapak / ibu, maka jawaban tersebut dianggap benar.

157

C. Tempat Uji Coba
Uji coba instrumen penelitian dilaksanakan terhadap guru-guru yang
bertugas pada SMP Negeri di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara.
Adapun SMP Negeri yang dimaksud adalah :
1. SMP Negeri 1 Putussibau
2. SMP Negeri 2 Putussibau
3. SMP Negeri 3 Putussibau
4. SMP Negeri 4 Putussibau
5. SMP Negeri 5 Putussibau
6. SMP Negeri 6 Putussibau
7. SMP Negeri 7 Putussibau
8. SMP Negeri 8 Putussibau
9. SMP Negeri 9 Putussibau

D. Sampel Uji Coba
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi. Dengan demikian sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti.
Sampel dalam penelitian ini adalah guru-guru pada 9 SMP Negeri di Kecamatan
Putussibau Selatan dan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu. Sebagai penentu
jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan Tabel Isac dan Michael. Pada
penarikan sampel dengan tingkat kesalahan 5%, jika jumlah populasi 79 orang maka
jumlah sampel yang diambil dengan persentase tingkat kesalahan 5% sebanyak 65
orang.
158

Dalam penentuan jumlah guru yang dijadikan sampel uji coba penelitian
untuk masing-masing sekolah menggunakan teknik acak sederhana dengan cara
undian. Sehingga sampel yang terpilih dari nama yang telah diundi berjumlah 30
orang guru sebagai uji coba instrumen.

159

BAGIAN II
TAHAPAN PELAKSANAAN UJI COBA

A. Persiapan
Adapun persipan yang dilakukan sebagai berikut :
1. Mendapatkan izin dari pembimbing untuk melaksanakan uji coba.
2. Mendapatkan izin dari kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas Hulu.
3. Menyampaikan surat izin uji coba kepada Kepala Sekolah SMP Negeri yang
menjadi sasaran penelitian dan menghubungi sasaran penelitian.
4. Mempersiapkan instrumen berdasarkan kisi-kisi yang telah ditetapkan.
5. Pelaksanaan uji coba sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.

B. Pelaksanaan Uji Coba
1. Menghubungi para guru (responden) yang termasuk dalam sampel uji coba
instrumen penelitian, kemudian membagikan instrtumen (kuesioner) agar
diisi oleh mereka.
2. Mengumpulkan atau menarik kembali instrumen penelitian uji coba yang
sudah selesai diisi oleh responden sesuai batas waktu yang ditetapkan.
3. Menskor terhadap hasil uji coba instrumen penelitian untuk dianalisis.

C. Analisis Data
1. Teknik pemberian skor
Teknik pemberian skor dalam uji coba instrumen menggunakan :
159
160

a. Untuk Pernyataan Positif
Pilihan Jawaban Skor butir
SL : Selalu 4
SR : Sering 3
KD : Kadang-kadang 2
TP : Tidak pernah 1

b. Untuk Pernyataan Negatif
Pilihan Jawaban Skor butir
SL : Selalu 1
SR : Sering 2
KD : Kadang-kadang 3
TP : Tidak pernah 4

2. Formula statistik
a. Untuk menguji validitas instrumen penelitian digunakan rumus
Product Moment sebagai berikut :
r
xy
=
) Y) ( Y )( X) ( X (
) Y )( ( Y X
2 2 2 2


n n
n X

r
xy
= koefisien korelasi skor butir (X) dengan skor total (Y)
X = skor butir
Y = skor total
n = ukuran sampel (responden)
kriteria yang digunakan untuk uji validitas butir adalah jika r
hitung
<r
tabel

dengan o =0,05, maka butir dianggap sahih atau valid. Adapun untuk
ukuran sampel uji coba sebesar 30 responden maka angka r
hitung
yang
digunakan adalah 0,361.
161

b. Untuk menguji reliabilitas instrumen penelitian digunakan rumus
Uji Alpha Cronbach sebagai berikut :
r
11
=
)
`

)
`


t
b

k
k
2
2
1
1

Keterangan :
r
11
: reliabilitas yang dicari
k : banyaknya butir intrumen yang valid

2
b
: jumlah varian butir

2
t
: varian total
Dicari dengan rumus :

2
b
=
2
1
+
2
2
+... +
2
n


2
1
= Varian butir ke-1
Dicari dengan rumus :

2
1
=
1
) Y (
X
2
1 2


n
n

X
1
= skor butir ke 1

2
t
= Varian total
Dicari dengan rumus :

2
t
=
1 -
Y) (
Y
2
2
n
n



Y = skor total
n = ukuran sampel
162

BAGIAN III
HASIL UJI COBA

A. Validitas Instrumen
Dengan bantuan komputer program Microsoft Office Excel telah didapat
hasil uji validitas instrumen penelitian sebagai berikut :
1. Instrumen Variabel Kinerja Guru
Dimensi Indikator
Nomor
Butir Valid
Nomor
Butir Drop
1. Perencanaan
Pembelajaran
1.1. Penyusunan program 1,2 -
1.2. Penyusunan perangkat
pembelajaran
3,4,5,6 7
2. Melaksanaka
n
pembelajaran
2.1. Melaksanakan proses
pembelajaran
8,9,10,11,12,13,1
4, 16,17,18
15
3. Menilai hasil
pembelajaran
3.1. Melaksanakan penilaian
hasil belajar
19,20,21,22,23,24 -
3.2. Menganalisis hasil
belajar
26,27,29,30 25,28
3.3. Melakukan remedial
dan pengayaan
31,32 33
4. Kegiatan
tambahan
4.1. Melatih dan
membimbing siswa
34,35,36 -
4.2. Membimbing siswa
dalam pengembangan
diri
37,38 -
Jumlah 33 5



2. Instrumen Variabel Supervisi Pengawas
163

Dimensi Indikator
Nomor
Butir Valid
Nomor
Butir Drop
1. Peran
supervisi
pengawas
1.1. Bantuan kepada kepala
sekolah memecahkan
persoalan akademik
1,2,4 3
1.2. Bantuan kepada guru 5,6,7,8 -
1.3. Pembinaan kepada guru 10,11 9,12
1.4. Memupuk semangat
kepala sekolah
13,14 -
1.5. Pembinaan pengelolaan
administrasi sekolah
15,16,17,18,20,
21
19
2. Karakteristik
supervisi
2.1. Pengalaman supervisi 22,23 24
2.2. Musyawarah supervisi 25,26,27 -
2.3. Meningkatkan kualitas
kepemimpinan
28,30 29
3. Pelaksanaan
supervisi
3.1. Peningkatan kualitas
pendidikan
31,32,33,34 -
3.2. Kerjasama 35,36 -
Jumlah 30 6

3. Instrumen Variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
Dimensi Indikator
Nomor
Butir Valid
Nomor
Butir Drop
1. Kepribadian 1.1. Kejujuran 1 -
1.2. Percaya diri 2 -
1.3. Tanggung jawab 3 -
1.4. Berani mengambil
resiko
4 -
1.5. Berani mengambil
keputusan
- 5
1.6. Berjiwa besar 6 -
1.7. Emosi yang stabil 7 -
164

Dimensi Indikator
Nomor
Butir Valid
Nomor
Butir Drop
1.8. Teladan - 8
2. Pengetahuan 2.1. Memahami tenaga
kependidikan
9,10 -
2.2. Memahami karakteristik
siswa
11,12 -
2.3. Mampu menyusun
program
14 13
2.4. Memahami kritik dan
saran
16 15
2.5. Memahami administrasi
sekolah
17,18,19 -
3. Pemahaman
visi dan misi
3.1. Memiliki visi 20,21 22
3.2. Merumuskan misi 23,24,25 -
3.3. Mewujudkan visi dan
misi
26 27
4. Kemampuan
skill
4.1. Kemampuan mengambil
keputusan
28,29,30 -
4.2. Kemampuan
berkomunikasi
31,32,33,34,35,36 -
Jumlah 30 6

B. Reliabilitas Instrumen
Dengan bantuan komputer program Microsoft Excel versi 2007 didapat
hasil perhitungan uji reliabilitas instrumen penelitian, sebagai berikut :
1. Instrumen variabel Kinerja Guru (Y)
Dari hasil perhitungan tingkat realibilitas instrumen, maka diperoleh nilai r
11
sebesar 1,027375673.

165

2. Instumen Variabel Suprvisi Pengawas (X1)
Dari hasil perhitungan tingkat realibilitas instrumen, maka diperoleh nilai r
11
sebesar 1,022271355.

3. Instrumen Variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
Dari hasil perhitungan tingkat realibilitas instrumen, maka diperoleh nilai r
11
sebesar 1,0275855366.

C. Perhitungan Validitas dan Realibilitas Instrumen
1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Variabel Kinerja Guru
a. Validitas Instrumen
Perhitungan uji validitas terhadap instrumen penelitian dilakukan
melalui analisis data hasil uji coba yang dijaring dari 30 orang responden,
guna menguji validitas butir instrumen dilakukan dengan cara
mengkorelasikan skor butir dengan skor total instrumen. Formula statistik
yang digunakan adalah dengan menggunakan rumus Product Moment,
sebagai berikut :
r
xy
=
) Y) ( Y )( X) ( X (
) Y )( ( Y X
2 2 2 2


n n
n X

r
xy
= koefisien korelasi skor butir (x) dengan skor total (y)
n = ukuran sampel (responden)
X = skor butir
Y = skor total

166

LAMPIRAN 2

PERHITUNGAN UJI VALIDITAS
DAN RELIABILITAS



2.1. VALIDITAS DAN REABILITAS INSTRUMEN
KINERJ A GURU


2.2. VALIDITAS DAN REABILITAS INSTRUMEN
SUPERVISI PENGAWAS


2.3. VALIDITAS DAN REABILITAS INSTRUMEN
KUALITAS KEPEMIMPINAN KEPALA
SEKOLAH


167

Tabel 4
VALIDASI INSTRUMEN VARIABEL
KINERJA GURU (Y)

Nomor
Responden
NOMOR BUTIR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 3 4 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4
2 4 4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4
3 1 4 1 3 3 3 3 3 1 1 1 3 1
4 4 4 3 4 4 3 3 3 4 4 4 3 3
5 4 3 4 2 3 3 2 3 4 3 4 4 3
6 3 4 3 4 4 3 2 3 2 4 3 3 4
7 2 2 4 3 3 3 4 1 3 2 2 2 3
8 3 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 3
9 4 2 4 2 3 4 3 4 2 2 4 4 3
10 4 4 4 4 4 4 4 3 2 4 4 4 4
11 4 2 4 2 2 4 3 4 2 2 4 4 3
12 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4
13 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3
14 3 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4
15 3 4 3 3 4 3 4 2 4 4 3 3 4
16 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 1
17 4 4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 3
18 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4
19 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3
20 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 4
21 4 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 3 3
22 4 4 4 4 4 3 2 3 3 4 4 4 4
23 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
24 4 4 4 3 4 3 3 4 2 4 4 4 3
25 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4
26 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4
27 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
28 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4
29 3 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 3 4
30 3 4 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 3
Jumlah 106 112 106 105 113 105 98 102 93 109 106 106 102
Jumlah Kuadrat 390 430 388 381 433 375 332 362 309 415 390 384 366
Kuadrat Jumlah 11236 12544 11236 11025 12769 11025 9604 10404 8649 11881 11236 11236 10404
Varian Butir 0,533 0,409 0,464 0,466 0,254 0,259 0,409 0,524 0,714 0,654 0,533 0,326 0,662
Koefisien r
xy
0,737 0,529 0,521 0,634 0,631 0,527 0,191 0,502 0,405 0,763 0,737 0,549 0,589
Tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361
Status Valid Valid Valid Valid Valid Valid Drop Valid Valid Valid Valid Valid Valid
168





NOMOR BUTIR
14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29
4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3
4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3
3 4 3 3 2 2 3 1 1 1 3 4 4 3 3 2
4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 3 3 4 4 3
2 3 4 3 3 3 4 4 3 4 2 2 3 4 3 3
4 3 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 4 3
3 4 2 3 3 3 2 3 2 2 3 2 4 2 3 3
3 4 3 2 3 4 3 4 4 3 3 2 4 3 2 3
2 2 4 2 2 3 4 2 2 4 2 2 2 4 2 2
4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 2 4 4 2 4
2 3 2 4 4 4 4 2 2 4 2 4 2 4 3 2
4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 2 4
3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 4 2 3
3 4 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3
4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 3 3 4
3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 3 3
4 3 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 3 4
4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4
4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3
4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 3 4 3 2 4
4 3 3 3 4 4 4 3 4 4 4 2 3 4 3 3
4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
3 2 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 3 4 4 3
4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4
4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4
4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4
3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3
4 3 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4
3 2 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 3
105 103 105 105 99 106 106 93 109 106 105 95 105 111 95 99
381 367 379 379 337 384 384 309 415 390 381 317 379 419 317 339
11025 10609 11025 11025 9801 11236 11236 8649 11881 11236 11025 9025 11025 12321 9025 9801
0,466 0,461 0,397 0,397 0,355 0,326 0,326 0,714 0,654 0,533 0,466 0,557 0,397 0,286 0,557 0,424
0,634 0,274 0,650 0,621 0,671 0,689 0,549 0,405 0,763 0,737 0,634 0,171 0,380 0,595 0,347 0,749
0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361
Valid Drop Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Drop Valid Valid Drop Valid
169





NOMOR BUTIR
(Y)
2
30 31 32 33 34 35 36 37 38
4 4 4 4 3 4 3 4 3 140 19600
4 4 3 4 3 3 3 3 4 139 19321
2 2 3 4 3 3 3 3 3 96 9216
4 4 4 4 4 3 4 3 4 138 19044
3 1 3 4 4 3 4 3 4 121 14641
3 3 3 4 3 3 4 3 3 124 15376
3 4 3 4 2 3 2 3 2 104 10816
4 3 2 3 3 3 3 3 3 121 14641
3 4 4 4 3 4 4 4 4 116 13456
4 4 4 4 4 4 4 4 4 143 20449
3 4 4 4 3 3 4 4 4 121 14641
4 4 4 4 4 4 4 4 4 151 22801
4 4 4 4 4 4 4 4 4 145 21025
4 4 4 4 4 3 3 3 3 127 16129
4 4 4 4 4 3 3 3 3 129 16641
3 2 3 4 3 4 3 3 3 125 15625
4 4 3 4 3 3 4 3 4 136 18496
3 4 4 4 2 4 4 4 4 143 20449
4 4 3 3 3 4 4 4 4 143 20449
3 4 3 3 3 3 3 4 3 122 14884
4 3 4 3 3 4 3 4 3 134 17956
3 4 4 2 3 4 4 3 4 133 17689
4 4 4 4 4 4 4 4 4 151 22801
2 4 4 2 3 4 4 3 4 128 16384
4 4 4 4 4 4 4 4 4 147 21609
4 4 4 4 3 4 4 4 4 148 21904
3 4 4 4 3 4 3 4 4 146 21316
3 3 3 3 4 3 4 3 4 135 18225
3 4 4 4 4 4 3 4 3 135 18225
2 4 3 4 3 3 3 3 3 121 14641
102 109 107 111 99 106 106 105 107 3962 528450
360 413 391 421 337 382 384 375 391

10404 11881 11449 12321 9801 11236 11236 11025 11449
0,455 0,585 0,323 0,355 0,355 0,257 0,326 0,259 0,323
0,619 0,450 0,493 0,050 0,373 0,583 0,477 0,527 0,611
0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361
Valid Valid Valid Drop Valid Valid Valid Valid Valid

170

Selanjutnya untuk mengetahui proses perhitungan uji validitas
instrumen perlu ditampilkan contoh perhitungan validitas instrumen variabel
Kinerja Guru butir pernyataan nomor 1. Dan untuk itu nilai-nilai yang perlu
digunakan perhitungan, dengan menggunakan rumus Product Moment
tersebut, dapat dilihat pada tabel data persiapan sebagai berikut :
Tabel 5
PERHITUNGAN VALIDITAS INSTRUMEN VARIABEL
KINERJA GURU (Y)

Nomor
Responden
Skor
(X)
Skor Total
(Y)
XY X
2
Y
2

1 3 140 420 9 19600
2 4 139 556 16 19321
3 1 96 96 1 9216
4 4 138 552 16 19044
5 4 121 484 16 14641
6 3 124 372 9 15376
7 2 104 208 4 10816
8 3 121 363 9 14641
9 4 116 464 16 13456
10 4 143 572 16 20449
11 4 121 484 16 14641
12 4 151 604 16 22801
13 4 145 580 16 21025
14 3 127 381 9 16129
15 3 129 387 9 16641
16 3 125 375 9 15625
17 4 136 544 16 18496
18 4 143 572 16 20449
19 4 143 572 16 20449
20 3 122 366 9 14884
21 4 134 536 16 17956
22 4 133 532 16 17689
23 4 151 604 16 22801
24 4 128 512 16 16384
25 4 147 588 16 21609
26 4 148 592 16 21904
27 4 146 584 16 21316
28 4 135 540 16 18225
29 3 135 405 9 18225
30 3 121 363 9 14641
Jumlah 106 3962 14208 390 528450

171

Keterangan :

n 30 X
2
390
X 106 (X)
2
11236
Y 3962 Y
2
528450
XY 14208 (Y)
2
15697444

r
xy
=
) Y) ( Y )( X) ( X (
) Y )( ( Y X
2 2 2 2


n n
n X

r
xy
=
) ) 3962 ( ) 528450 )( 30 )(( ) 106 ( ) 390 )( 30 ((
) 3962 )( 106 ( ) 14208 )( 30 (
2 2



=
) 15697444 15853500 )( 11236 11700 (
419972 426240



=
) 156056 )( 464 (
6268

=
72409984
6268

=
40562 , 8509
6268

= 0,736596688

Dari perhitungan uji validitas instrumen butir pernyataan nomor 1
tersebut di atas maka di peroleh koefisien korelasi (r
hitung
) sebesar 0,737.
Nilai ini lebih besar dari 0,361 (r
tabel
), sehingga dapat disimpulkan bahwa
butir koesioner nomor 1 valid atau dapat diterima. Berdasarkan hasil
perhitungan dengan cara yang sama terhadap semua data uji coba istrumen
penelitian, maka telah didapat 33 butir pernyataan kuesioner variabel
172

Kinerja Guru memiliki koefisien korelasi (r
hitung
) lebih besar dari 0,361
(r
tabel
), yang berarti butir-butir pernyataan koesioner tersebut valid atau
sahih dan dapat diterima sebagai instrumen penelitian. Sedangkan 5 butir
lainnya, yang memiliki koefisien korelasi (r
hitung
) lebih kecil dari 0,361
(r
tabel
) tidak valid dan dinyatakan drop atau di tolak sebagai instrumen
penelitian. Adapun nomor butir yang drop tersebut adalah nomor 7, 15, 25,
28, dan 33. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4 hasil uji validitas
instrumen variabel Kinerja Guru sebagaimana telah ditampilkan terdahulu.

a. Reliabilitas Instrumen
Pengujian reliabilitas instrumen penelitian dilakukan melalui
pengujian reliabilitas terhadap butir instrumen yang dinyatakan valid
dengan menggunakan rumus Koefisien Alpha Cronbach :
r
11
=
(

t
b
k
k
2
2

1
1


Keterangan:
r
11
: Reliabilitas yang dicari
k : Banyaknya butir intrumen yang valid
b
2
: Jumlah varian butir
t
2
: Varian total
Sebagai contoh uji reliabilitas terhadap instrumen, maka
ditampilkan perhitungan untuk variabel Kinerja Guru butir penyataan 1.
Dan untuk itu, dengan menggunakan formula statistik seperti di atas, maka
terlebih dahulu perlu dicari besaran-besaran nilai sebagai berikut :
173

1) b
2
( Jumlah Varian Butir )
1
2
: Varian Butir Ke-1
Dicari dengan rumus:
1
2
=
n
n
1 -
X
X
2
1 2


1
2
=
1 30
30
11236
390


1
2
=
29
33 5333333333 , 374 390

1
2
=
29
46666667 , 15

1
2
= 0,533
Demikianlah seterusnya dengan melakukan perhitungan yang
sama, juga prosedur yang sama untuk seluruh butir pernyataan, maka
jumlah varian butir untuk variabel Kinerja Guru sebelum dikurangi yang
drop atau tidak valid adalah 16,763 data lengkap perhitungan varian butir
untuk variabel Kinerja Guru terlihat pada tabel 4.
2)
2
t
( Varian Total)
Varian total dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang sama
dengan varian butir, tetapi nilai Y adalah nilai total butir. Berikut ini akan
disajikan perhitungan variabel total variabel Kinerja Guru setelah
dikeluarkan butir instrumen yang tidak valid atau drop (butir 7, 15, 25, 28,
dan 33) dengan langkah-langkah sebagai berikut:
174

n = 30
Y = 3962 ( X
7
+X
15
+X
25
+X
28
+X
33
)
Y = 3962 ( 98+103+95+95+111 )
Y = 3962 502
Y = 3460
Y
2
= 528450
t
2
=
1
Y) (
Y
2
2


n
n

t
2
=
1 30
30
) 3460 (
528450
2


t
2
=
1 30
30
11971600
528450


t
2
=
1 30
333 , 399053 528450


t
2


=
29
67 , 129396

t
2
= 4461,954
Berdasarkan perhitungan-perhitungan yang dilakukan di atas, maka
dapat dihitung reliabilitas instrumen sebagai berikut :
r
11
=
(

t
b

k
k
2
2
1
1

r
11
=
(

954023 , 4461
763 , 16
1
1 33
33

175

r
11
= | | 56 0037569231 , 0 1
32
33


r
11
= | | | | 44 9962430768 , 0 0313 , 1
r
11
= 1,027375673

Dari perhitungan tersebut di atas, maka diperoleh tingkat keterandalan
instrumen Kinerja Guru r
11
sebesar 1,027375673.

2. Validitas dan Reabilitas Instrumen Variabel Supervisi Pengawas
a. Validitas Instrumen
Perhitungan uji validitas terhadap instrumen penelitian dilakukan
melalui analisis data hasil uji coba yang dijaring dari 30 orang responden.
Guna menguji validitas atau kesahihan setiap butir instrumen. Pengujian
validitas butir instrumen dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor butir
dengan skor total instrumen. Formula statistik yang digunakan adalah
dengan menggunakan rumus Product Moment, sebagai berikut :
r
xy
=
) Y) ( Y )( X) ( X (
) Y )( ( Y X
2 2 2 2


n n
n X

r
xy
= koefisien korelasi skor butir (X) dengan skor total (Y)
n = ukuran sampel (responden)
X = skor butir
Y = skor total
Hasil perhitungan uji validitas instrumen variabel Supervisi
Pengawas selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

176

Tabel 6
VALIDASI INSTRUMEN VARIABEL
SUPERVISI PENGAWAS (X
1
)

Nomor
Responden
NOMOR BUTIR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 4 3 2 4 4 3 3 4 3 1 3 2 2
2 4 2 3 4 3 4 2 2 2 4 4 4 3
3 4 2 1 4 3 3 2 4 1 3 4 4 3
4 2 4 2 2 3 2 4 4 1 2 2 3 1
5 4 1 1 4 1 3 1 4 1 3 4 4 3
6 1 1 2 1 3 2 1 1 1 1 1 3 3
7 1 2 1 1 1 3 2 4 1 3 1 3 4
8 4 2 1 4 2 3 2 4 1 3 4 3 3
9 4 3 1 4 4 4 3 4 1 3 4 2 4
10 4 2 1 4 4 4 2 4 1 3 2 3 4
11 4 4 3 4 4 4 4 4 2 4 4 2 4
12 3 3 1 3 4 2 3 4 4 2 4 4 2
13 4 4 3 4 4 4 4 4 2 4 4 4 3
14 3 4 1 3 4 1 4 4 4 1 1 1 1
15 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 2 4 4
16 3 4 2 3 4 3 4 4 2 3 4 1 4
17 2 4 2 2 4 2 4 4 2 2 2 2 4
18 3 4 1 3 4 4 4 4 2 4 4 3 3
19 2 4 2 2 4 2 4 2 1 2 1 1 1
20 4 4 2 4 4 4 4 4 2 4 3 2 3
21 3 2 1 3 4 4 2 4 1 4 4 2 2
22 4 4 1 4 4 3 4 4 1 3 4 4 4
23 4 4 2 4 4 3 4 4 2 3 4 1 2
24 4 4 2 4 4 2 4 4 4 2 4 4 4
25 4 4 2 4 4 4 4 4 2 4 4 4 3
26 3 4 2 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3
27 3 4 2 3 4 3 4 4 1 3 4 3 3
28 2 3 2 2 4 4 3 4 2 4 1 1 3
29 4 4 3 4 4 1 4 4 2 1 3 1 1
30 4 1 2 4 4 2 1 4 2 2 2 2 3
Jumlah 98 95 55 98 108 90 95 113 58 85 92 81 87
Jumlah Kuadrat 346 335 119 346 410 296 335 441 142 271 324 257 281
Kuadrat Jumlah 9604 9025 3025 9604 11664 8100 9025 12769 3364 7225 8464 6561 7569
Varian Butir 0,892 1,178 0,626 0,892 0,731 0,897 1,178 0,530 1,030 1,040 1,444 1,321 0,990
Koefisien r
xy
0,698 0,402 0,280 0,698 0,417 0,666 0,402 0,471 0,224 0,647 0,696 0,339 0,409
Tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361
Status Valid Valid Drop Valid Valid Valid Valid Valid Drop Valid Valid Drop Valid
177





NOMOR BUTIR
14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29
3 4 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 2 2
4 3 3 4 4 1 4 2 4 3 2 3 4 4 4 3
3 3 2 4 2 2 3 2 2 3 2 3 3 2 3 1
3 2 2 2 1 1 2 4 1 2 4 3 3 1 2 2
3 4 4 4 1 2 3 1 1 4 2 3 3 1 3 1
1 1 1 1 3 1 2 1 3 1 2 1 1 3 1 2
3 1 1 1 1 1 3 2 1 1 2 3 3 1 3 1
1 4 2 4 4 1 3 2 4 4 2 1 1 4 3 1
4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 3 2 4 4 3 1
4 4 2 4 4 4 4 2 4 4 2 1 4 4 3 1
4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3
2 3 2 3 2 4 2 3 2 3 3 4 2 2 2 1
4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3
1 3 2 3 1 3 1 4 1 3 4 4 1 1 1 1
3 3 4 3 4 2 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4
3 3 1 3 1 1 3 4 1 3 4 4 3 1 3 2
2 2 3 2 2 4 2 4 2 2 4 4 2 2 2 2
4 3 3 3 3 2 4 4 3 3 4 4 4 3 4 1
2 2 2 2 1 1 2 4 1 2 4 2 2 1 2 2
4 4 4 4 2 1 4 4 2 4 4 4 4 2 4 2
4 3 2 3 2 2 4 2 2 3 2 4 4 2 4 1
3 4 4 4 4 1 3 4 4 4 4 4 3 4 3 1
3 4 4 4 1 1 3 4 1 4 4 4 3 1 3 2
2 4 3 4 4 1 2 4 4 4 4 4 2 4 2 1
4 4 3 4 4 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3
2 3 2 3 4 4 4 4 4 3 3 4 2 4 4 2
4 3 4 3 2 2 3 4 2 3 4 3 4 2 3 1
4 2 3 2 1 4 4 3 1 2 3 3 4 1 4 1
3 4 1 4 1 1 1 4 1 4 4 2 3 1 1 3
4 4 1 4 3 2 2 1 3 4 3 3 4 3 2 2
91 96 77 98 77 66 90 95 77 96 98 96 91 77 86 53
305 332 229 346 245 194 296 335 245 332 342 336 305 245 274 115
8281 9216 5929 9604 5929 4356 8100 9025 5929 9216 9604 9216 8281 5929 7396 2809
0,999 0,855 1,082 0,892 1,633 1,683 0,897 1,178 1,633 0,855 0,754 0,993 0,999 1,633 0,947 0,737
0,590 0,704 0,545 0,698 0,630 0,284 0,666 0,402 0,630 0,704 0,323 0,491 0,590 0,630 0,690 0,294
0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361
Valid Valid Valid Valid Valid Drop Valid Valid Valid Valid Drop Valid Valid Valid Valid Drop
178





NOMOR BUTIR
(Y)
2
30 31 32 33 34 35 36
2 4 3 4 3 3 4 112 12544
3 3 4 2 4 3 4 116 13456
1 3 3 4 4 3 3 99 9801
2 2 3 4 2 2 2 84 7056
3 4 3 4 4 3 3 98 9604
1 1 1 1 1 1 1 53 2809
1 1 3 4 1 3 3 71 5041
1 4 1 4 4 3 3 97 9409
4 4 4 4 4 3 3 122 14884
1 4 4 4 2 3 3 110 12100
4 4 4 4 4 4 4 137 18769
3 3 2 4 4 2 2 99 9801
4 4 4 4 4 4 4 137 18769
1 3 1 4 1 1 1 78 6084
4 3 3 4 2 3 3 123 15129
1 3 3 4 4 3 3 102 10404
2 2 2 4 2 2 2 93 8649
3 3 4 4 4 4 4 121 14641
1 2 2 2 1 2 2 72 5184
2 4 4 4 3 4 4 122 14884
2 3 4 4 4 4 4 105 11025
4 4 3 4 4 3 3 123 15129
1 4 3 4 4 3 3 109 11881
4 4 2 4 4 2 2 117 13689
4 4 4 4 4 4 4 134 17956
4 3 2 4 4 4 4 123 15129
3 3 4 4 4 3 3 112 12544
1 2 4 4 1 4 4 97 9409
1 4 3 4 3 1 1 91 8281
2 4 4 4 2 2 2 98 9604
70 96 91 113 92 86 88 3155 343665
208 332 305 441 324 272 286

4900 9216 8281 12769 8464 7396 7744
1,540 0,855 0,999 0,530 1,444 0,878 0,961
0,752 0,704 0,590 0,471 0,696 0,709 0,708
0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361
Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid
179

Selanjutnya untuk mengetahui proses perhitungan uji validitas
instrumen perlu ditampilkan contoh perhitungan validitas instrumen
Supervisi Pengawas butir pernyataan nomor 1. Dan untuk itu nilai-nilai
yang perlu digunakan perhitungan, dengan menggunakan rumus Product
Moment tersebut, dapat dilihat pada tabel data persiapan sebagai berikut :
Tabel 7
PERHITUNGAN VALIDITAS INSTRUMEN VARIABEL
SUPERVISI PENGAWAS (X
1
)

Nomor
Responden
Skor
(X)
Skor Total
(Y)
XY X
2
Y
2

1 4 112 448 16 12544
2 4 116 464 16 13456
3 4 99 396 16 9801
4 2 84 168 4 7056
5 4 98 392 16 9604
6 1 53 53 1 2809
7 1 71 71 1 5041
8 4 97 388 16 9409
9 4 122 488 16 14884
10 4 110 440 16 12100
11 4 137 548 16 18769
12 3 99 297 9 9801
13 4 137 548 16 18769
14 3 78 234 9 6084
15 3 123 369 9 15129
16 3 102 306 9 10404
17 2 93 186 4 8649
18 3 121 363 9 14641
19 2 72 144 4 5184
20 4 122 488 16 14884
21 3 105 315 9 11025
22 4 123 492 16 15129
23 4 109 436 16 11881
24 4 117 468 16 13689
25 4 134 536 16 17956
26 3 123 369 9 15129
27 3 112 336 9 12544
28 2 97 194 4 9409
29 4 91 364 16 8281
30 4 98 392 16 9604
Jumlah 106 3962 14208 390 528450



180

Keterangan :

n 30 X
2
346
X 98 (X)
2
9604
Y 3155 Y
2
343665
XY 10693 (Y)
2
9954025


r
xy
=
) Y) ( Y )( X) ( X (
) Y )( ( Y X
2 2 2 2


n n
n X

r
xy
=
) ) 3155 ( ) 343665 )( 30 )(( ) 98 ( ) 346 )( 30 ((
) 3155 )( 98 ( ) 10693 )( 30 (
2 2



=
) 9954025 10309950 )( 9604 10380 (
309190 320790



=
) 355925 )( 776 (
11600

=
276197800
11600

=
19974 , 16619
11600

= 0,69798788
Dari perhitungan uji validitas instrumen butir pernyataan nomor 1
tersebut di atas maka di peroleh koefisien korelasi (r
hitung
) sebesar
0,69798788. Nilai ini lebih besar dari 0,361 (r
tabel
), sehingga dapat
disimpulkan bahwa butir koesioner nomor 1 valid atau sahih dan dapat
diterima.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan cara yang sama terhadap
semua data uji coba istrumen penelitian, maka telah didapat 21 butir
181

pernyataan kuesioner variabel Supervisi Pengawas memiliki koefisien
korelasi (r
hitung
) lebih besar dari 0,361 (r
tabel
), yang berarti butir-butir
pernyataan koesioner tersebut valid atau sahih dan dapat diterima sebagai
instrumen penelitian. Sedangkan 6 butir lainnya, yang memiliki koefisien
korelasi (r
hitung
) lebih kecil dari 0,361 (r
tabel
) tidak valid dan dinyatakan drop
atau di tolak sebagai instrumen penelitian. Adapun nomor butir yang drop
tersebut adalah nomor 3, 9, 12, 19, 24, dan 29. Untuk lebih jelasnya hasil uji
validitas instrumen variabel Suprvisi Pengawas dapat dilihat pada tabel 6.

b. Reliabilitas Instrumen
Pengujian reliabilitas instrumen penelitian dilakukan melalui
pengujian reliabilitas terhadap butir instrumen yang dinyatakan valid
dengan menggunakan rumus Koefisien Alpha Cronbach :
r
11
=
(

t
b
k
k
2
2

1
1


Keterangan:
r
11
: Reliabilitas yang dicari
k : Banyaknya butir intrumen yang valid
b
2
: Jumlah varian butir
t
2
: Varian total
Sebagai contoh uji reliabilitas terhadap instrumen, maka
ditampilkan perhitungan untuk variabel Supervisi Pengawas butir penyataan
1. Dan untuk itu, dengan menggunakan rumus seperti di atas, maka terlebih
dahulu perlu dicari besaran-besaran nilai sebagai berikut :
182

1). b
2
( Jumlah Varian Butir )
1
2
: Varian Butir Ke-1
Dicari dengan rumus :
1
2
=
1
) X (
X
2
1
2
1

- n
n


1
2
=
1 30
30
9604
346


1
2
=
29
33 1333333333 , 320 346

1
2
=
29
86666667 , 25

1
2
= 0,892

Demikianlah seterusnya dengan melakukan perhitungan yang
sama, juga prosedur yang sama untuk seluruh butir pernyataan, maka
jumlah varian butir untuk variabel Supervisi Pengawas sebelum dikurangi
yang drop atau tidak valid adalah 37,725 data lengkap perhitungan varian
butir untuk variabel Supervisi Pengawas dilihat pada tabel 6.
2)
2
t
( Varian Total)
Varian total dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang sama
dengan varian butir, tetpi nilai Y adalah nilai total butir. Berikut ini akan
disajikan prhitungan variabel total variabel Spervisi Pengawas setelah
dikeluarkan butir instrumen yang tidak valid atau drop (butir 3, 9, 12, 19,
24, dan 29) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
183

n = 30
Y = 3155 ( X
3
+X
9
+X
12
+X
19
+X
24
+X
29
)
Y = 3155 ( 55+58+81+66+98+53 )
Y = 3155 411
Y = 2744
Y
2
= 343665
t
2
=
1
Y) (
Y
2
2


n
n

t
2
=
1 30
30
) 2744 (
343665
2


t
2
=
1 30
30
7529536
343665


t
2
=
1 30
533333333 , 250984 343665


t
2


=
29
5 , 92680

t
2
= 3195,87816
Berdasarkan perhitungan-perhitungan yang dilakukan di atas, maka
dapat dihitung reliabilitas instrumen sebagai berikut :
r
11
=
(

t
b

k
k
2
2
1
1

r
11
=
(

878161 , 3195
725 , 37
1
1 30
30

r
11
= | | 93 0118043571 , 0 1
29
30


184

r
11
= | | | | 07 9881956428 , 0 0345 , 1
r
11
= 1,022271355
Dari perhitungan tersebut di atas, maka diperoleh hasil reliabilitas
keterandalan Supervisi Pengawas nilai r
11
sebesar 1,022271355.

3. Validitas dan Reabilitas Instrumen Variabel Kualitas Kepemimpinan
Kepala Sekolah
b. Validitas Instrumen
Perhitungan uji validitas terhadap instrumen penelitian dilakukan
melalui analisis data hasil uji coba yang dijaring dari 30 orang responden.
Guna menguji validitas atau kesahihan setiap butir instrumen. Pengujian
validitas butir instrumen dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor butir
dengan skor total instrumen. Formula statistik yang digunakan adalah
dengan menggunakan rumus Product Moment, sebagai berikut :
r
xy
=
) Y) ( Y )( X) ( X (
) Y )( ( Y X
2 2 2 2


n n
n X

r
xy
= koefisien korelasi skor butir (X) dengan skor total (Y)
n = ukuran sampel (responden)
X = skor butir
Y = skor total
Hasil perhitungan uji validitas instrumen variabel Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah selengkapnya dapat dilihat pada tabel
berikut ini :

185

Tabel 8
VALIDASI INSTRUMEN VARIABEL
KUALITAS KEPEMIMPINANA KEPALA SEKOLAH (X
2
)

Nomor
Responden
NOMOR BUTIR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 3 3 3 4 3 3 3 3 3 2 4 3 4
2 4 4 4 3 3 4 4 3 4 3 3 4 2
3 3 1 4 3 3 3 2 3 1 1 3 3 4
4 3 4 2 2 3 3 1 3 4 2 2 3 4
5 3 4 4 4 3 3 1 4 4 3 4 3 4
6 1 3 1 2 1 1 3 4 3 1 2 1 1
7 3 2 1 1 3 3 1 4 2 1 1 3 4
8 1 3 4 4 1 1 4 4 3 1 4 1 4
9 4 4 4 4 2 4 4 3 4 4 4 4 4
10 4 4 2 4 1 4 4 4 4 1 4 4 4
11 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4
12 2 4 4 3 4 2 2 2 4 3 3 2 4
13 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4
14 1 3 1 3 4 1 1 2 3 1 3 1 4
15 3 3 2 3 4 3 4 2 3 4 3 3 4
16 3 3 4 3 4 3 1 3 3 1 3 3 4
17 2 4 2 2 4 2 2 3 4 2 2 2 4
18 4 4 4 3 4 4 3 4 4 3 3 4 4
19 2 4 1 2 2 2 1 3 4 1 2 2 2
20 4 3 3 4 4 4 2 3 3 2 4 4 4
21 4 4 4 3 4 4 2 3 4 2 3 4 4
22 3 4 4 4 4 3 4 2 4 4 4 3 4
23 3 4 4 4 4 3 1 4 4 1 4 3 4
24 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 2 4
25 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
26 2 4 4 3 4 2 4 4 4 4 3 2 4
27 4 4 4 3 3 4 2 4 4 3 3 4 4
28 4 4 1 2 3 4 1 4 4 1 2 4 4
29 3 3 3 4 2 3 1 4 3 1 4 3 4
30 4 3 2 4 3 4 3 3 3 2 4 4 4
Jumlah 91 106 92 97 96 91 77 98 106 70 97 91 113
Jumlah Kuadrat 305 390 324 335 336 305 245 336 390 208 335 305 441
Kuadrat Jumlah 8281 11236 8464 9409 9216 8281 5929 9604 11236 4900 9409 8281 12769
Varian Butir 0,999 0,533 1,444 0,737 0,993 0,999 1,633 0,547 0,533 1,540 0,737 0,999 0,530
Koefisien r
xy
0,833 0,496 0,657 0,512 0,327 0,833 0,433 0,127 0,496 0,599 0,512 0,833 0,319
Tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361
Status Valid Valid Valid Valid Drop Valid Valid Drop Valid Valid Valid Valid Drop
186





NOMOR BUTIR
14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29
3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 3 2 4 3 3 3
4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4
4 3 3 3 3 1 3 1 4 3 3 3 3 3 4 3
2 3 2 3 3 4 3 4 4 3 3 2 3 3 2 3
4 4 3 2 3 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3
1 4 1 2 1 3 1 3 4 2 1 3 3 4 3 2
1 4 3 1 3 2 3 2 2 3 3 4 3 4 3 2
4 4 3 1 1 3 1 3 4 1 1 2 3 4 3 4
4 3 3 4 4 4 4 4 2 4 4 3 4 3 3 4
2 4 3 1 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3
4 3 4 3 4 4 4 4 2 4 4 4 4 3 4 4
4 2 2 1 2 4 2 4 4 2 2 2 4 2 4 2
4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4
1 2 1 1 1 3 1 3 4 1 1 3 3 2 1 1
2 2 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3
4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 4 3
2 3 2 4 2 4 2 4 2 2 2 3 3 3 2 2
4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4
1 3 2 4 2 4 2 4 2 2 2 2 4 3 1 2
3 3 4 1 4 3 4 3 3 4 4 3 4 3 3 4
4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4
4 2 3 4 3 4 3 4 4 3 3 3 3 2 4 3
4 4 3 4 3 4 3 4 4 3 3 3 4 4 4 3
4 4 2 4 2 4 2 4 4 2 2 2 3 4 4 2
4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
4 4 4 3 2 4 2 4 4 2 2 4 4 4 4 2
4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4
1 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 1 4
3 4 1 2 3 3 3 3 3 3 3 1 4 4 3 3
2 3 2 4 4 3 4 3 4 4 4 2 3 3 2 4
92 98 88 89 91 106 91 106 99 92 91 90 105 98 95 93
324 336 286 305 305 390 305 390 349 308 305 290 375 336 331 311
8464 9604 7744 7921 8281 11236 8281 11236 9801 8464 8281 8100 11025 9604 9025 8649
1,444 0,547 0,961 1,413 0,999 0,533 0,999 0,533 0,769 0,892 0,999 0,690 0,259 0,547 1,040 0,783
0,657 0,127 0,753 0,394 0,833 0,496 0,833 0,496 0,017 0,813 0,833 0,473 0,496 0,127 0,604 0,758
0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361
Valid Drop Valid Valid Valid Valid Valid Valid Drop Valid Valid Valid Valid Drop Valid Valid
187





NOMOR BUTIR
(Y)
2
30 31 32 33 34 35 36
3 3 4 3 3 3 3 114 12996
4 4 4 4 3 4 4 132 17424
3 1 3 3 3 3 4 101 10201
3 4 3 3 2 3 2 103 10609
3 4 4 3 3 3 4 120 14400
1 3 3 2 2 2 3 78 6084
3 2 2 3 3 3 3 91 8281
1 3 3 1 3 1 3 92 8464
4 4 4 4 3 4 2 131 17161
4 4 4 4 3 4 2 125 15625
4 4 4 4 4 4 4 138 19044
2 4 4 2 2 2 4 102 10404
4 4 4 4 4 4 4 138 19044
1 3 3 1 1 1 1 68 4624
3 3 3 3 3 3 2 105 11025
3 3 3 3 3 3 4 110 12100
2 4 4 2 2 2 2 95 9025
4 4 4 4 4 4 4 138 19044
2 4 4 2 2 2 1 85 7225
4 3 3 4 4 4 3 122 14884
4 4 3 4 4 4 4 134 17956
3 4 4 3 3 3 4 123 15129
3 4 4 3 3 3 4 124 15376
2 4 4 2 2 2 4 115 13225
4 4 3 4 4 4 4 142 20164
2 4 4 2 4 2 4 119 14161
4 4 4 4 3 4 4 133 17689
4 4 4 4 4 4 1 119 14161
3 3 3 3 1 3 3 103 10609
4 3 3 4 2 4 2 116 13456
91 106 106 92 87 92 93 3416 399590
305 390 384 308 275 308 321

8281 11236 11236 8464 7569 8464 8649
0,999 0,533 0,326 0,892 0,783 0,892 1,128
0,833 0,496 0,436 0,813 0,724 0,813 0,523
0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361
Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid
188

Selanjutnya proses perhitungan uji validitas instrumen perlu
ditampilkan contoh perhitungan validitas instrumen Kualitas Kepemimpinan
Kepala Sekolah butir pernyataan nomor 1. Dan untuk itu nilai-nilai yang
perlu digunakan perhitungan, dengan menggunakan rumus Product
Moment tersebut, dapat dilihat pada tabel 9 data persiapan sebagai berikut :
Tabel 9
PERHITUNGAN VALIDITAS INSTRUMEN VARIABEL
KUALITAS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH (X
2
)

Nomor
Responden
Skor
(X)
Skor Total
(Y)
XY X
2
Y
2

1 3 114 342 9 12996
2 4 132 528 16 17424
3 3 101 303 9 10201
4 3 103 309 9 10609
5 3 120 360 9 14400
6 1 78 78 1 6084
7 3 91 273 9 8281
8 1 92 92 1 8464
9 4 131 524 16 17161
10 4 125 500 16 15625
11 4 138 552 16 19044
12 2 102 204 4 10404
13 4 138 552 16 19044
14 1 68 68 1 4624
15 3 105 315 9 11025
16 3 110 330 9 12100
17 2 95 190 4 9025
18 4 138 552 16 19044
19 2 85 170 4 7225
20 4 122 488 16 14884
21 4 134 536 16 17956
22 3 123 369 9 15129
23 3 124 372 9 15376
24 2 115 230 4 13225
25 4 142 568 16 20164
26 2 119 238 4 14161
27 4 133 532 16 17689
28 4 119 476 16 14161
29 3 103 309 9 10609
30 4 116 464 16 13456
Jumlah 91 3416 10824 305 399590

189

Keterangan :

n 30 X
2
305
X 91 (X)
2
8281
Y 3416 Y
2
399590
XY 10824 (Y)
2
11669056




r
xy
=
) Y) ( Y )( X) ( X (
) Y )( ( Y X
2 2 2 2


n n
n X

r
xy
=
2 2
) 305 ( ) 399590 )( 30 )( ) 91 ( ) 305 )( 30 (
) 3416 )( 91 ( ) 10824 )( 30 (



=
) 11669056 11987700 )( 8281 9150 (
310856 324720



=
) 318644 )( 869 (
13864

=
276901636
13864

=
36165 , 16640
13864

= 0,833154969

Dari perhitungan uji validitas instrumen butir pernyataan nomor 1
tersebut di atas maka di peroleh koefisien korelasi (r
hitung
) sebesar
0,833154969. Nilai ini lebih besar dari 0,361 (r
tabel
), sehingga dapat
disimpulkan bahwa butir koesioner nomor 1 valid atau dapat diterima.
190

Berdasarkan hasil perhitungan dengan cara yang sama terhadap
semua data uji coba istrumen penelitian, maka telah didapat 18 butir
pernyataan kuesioner variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
memiliki koefisien korelasi (r
hitung
) lebih besar dari 0,361 (r
tabel
), yang
berarti butir-butir pernyataan koesioner tersebut valid atau sahih dan dapat
diterima sebagai instrumen penelitian. Sedangkan 6 butir lainnya, yang
memiliki koefisien korelasi (r
hitung
) lebih kecil dari 0,361 (r
tabel
) tidak valid
dan dinyatakan drop atau di tolak sebagai instrumen penelitian. Adapun
nomor butir yang drop tersebut adalah nomor 5, 8, 13, 15, 22, dan 27. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 8 hasil uji validitas instrumen variabel
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah.

a. Reliabilitas Instrumen
Pengujian reliabilitas instrumen penelitian dilakukan melalui
pengujian reliabilitas terhadap butir instrumen yang dinyatakan valid
dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach :
r
11
=
(

t
b
k
k
2
2

1
1


Keterangan:
r
11
: Reliabilitas yang dicari
k : Banyaknya butir intrumen yang valid
b
2
: Jumlah varian butir
t
2
: Varian total
191

Sebagai contoh uji reliabilitas terhadap instrumen, maka
ditampilkan perhitungan untuk variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah butir penyataan 1. Dan untuk itu, dengan menggunakan rumus
seperti di atas, maka terlebih dahulu perlu dicari besaran-besaran nilai
sebagai berikut :

1)
2
b
( Jumlah Varian Butir )

2
1
: Varian Butir Ke-1
Dicari dengan rumus:

2
1
=
1 -
) X (
X
2
1
2
1

n
n

2
1
=
1 30
30
8281
305

2
1
=
29
33 0333333333 , 276 305

2
1
=
29
96666667 , 28

2
1
= 0,999

Demikianlah seterusnya dengan melakukan perhitungan yang
sama, juga prosedur yang sama untuk seluruh butir pernyataan, maka
jumlah varian butir untuk variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
sebelum dikurangi yang drop atau tidak valid adalah 31,184. Data lengkap
192

perhitungan varian butir untuk variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah terlihat pada tabel 8.
2)
2
t
( Varian Total )
Varian total dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang sama
dengan varian butir, tetpi nilai Y adalah nilai total butir. Berikut ini akan
disajikan perhitungan variabel total variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah setelah dikeluarkan butir instrumen yang tidak valid atau drop
(butir 5, 8, 13, 15, 22, dan 27) dengan langkah-langkah sebagai berikut:
n = 30
Y = 3416 ( X
5
+X
8
+X
13
+X
15
+X
22
+X
27
)
Y = 3416 ( 96+98+113+98+99+98 )
Y = 3416 602
Y = 2814
Y
2
= 399590

2
t
=
1
Y) (
Y
2
2


n
n

2
t
=
1 30
30
) 1509 (
399590
2

2
t
=
1 30
30
7918596
399590

2
t
=
1 30
2 , 263953 399590


193

2
t

=
29
8 , 135636

2
t
= 4677,13103
Berdasarkan perhitungan-perhitungan yang dilakukan di atas, maka
dapat dihitung reliabilitas instrumen sebagai berikut :

r
11
=
(

t
b

k
k
2
2
1
1

r
11
=
(

131034 , 4677
184 , 31
1
1 30
30

r
11
= | | 58 0066673154 , 0 1
29
30


r
11
= | | | | 42 9933326845 , 0 0345 , 1
r
11
= 1,027585536
Dari perhitungan tersebut di atas, maka hasil keterandalan
instrumen Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah nilai r
11
sebesar
1,027585536.


194

LAMPIRAN 3
INSTRUMEN PENELITIAN FINAL




3.1. INSTRUMEN MUTU KINERJ A GURU (Y)


3.2. INSTRUMEN SUPERVISI PENGAWAS (X
1
)


3.3. INSTRUMEN KUALITAS KEPEMIMPINAN
KEPALA SEKOLAH (X
2
)


195

Lampiran 3.1
INSTRUMEN KUESIONER KINERJA GURU
a. Untuk Pernyataan Positif
Pilihan Jawaban Skor butir
SL : Selalu 4
SR : Sering 3
KD : Kadang-kadang 2
TP : Tidak pernah 1

b. Untuk Pernyataan Negatif
Pilihan Jawaban Skor butir
SL : Selalu 1
SR : Sering 2
KD : Kadang-kadang 3
TP : Tidak pernah 4

3.1. Variabel Kinerja Guru
No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
1. Saya merencanakan program tahunan
2. Saya merencanakan program semester
3. Saya merencanakan penyusunan silabus
4. Saya menyusun rencana persiapan mengajar (RPP)
5. Saya merencanakan menyusun penetapan KKM
6. Saya merencanakan menyusun bahan ajar dari setiap
KD yang disampaikan

7. Saya aktif membuka pelajaran
8. Saya aktif mengorganisasikan materi pembelajaran
196

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
9. Saya aktif menggunakan metode yang sesuai
10. Saya aktif memanfaatkan media/alat peraga
11. Saya aktif memotivasi siswa
12. Saya aktif mengorganisasikan kegiatan pembelajaran
13. Saya aktif berinteraksi secara komunikatif dengan
siswa

14. saya aktif memberikan penugasan terstruktur
15. Saya aktif membimbing peserta didik membuat
kesimpulan

16. Saya aktif mengelola waktu dengan baik
17. Saya melakukan ulangan harian, UTS, UAS/UKK
18. Saya melakukan penilaian akhlak mulia dan
kepribadian

19. Saya melakukan penilaian psikomotor
20. Saya melakukan analisis ulangan harian

21. Saya membuat instrument tes setiap KD
22. Saya membuat analisis penilaian
23. Saya memeriksa pekerjaan rumah siswa
24. Saya menyiapkan pencatatan analisis hasil belajar
25. Saya mendiagnosa siswa bermasalah
26. Saya mengidentifikasi permasalahan siswa

27. Saya menanggapi serius kesulitan belajar siswa

28. Saya mengadakan perbaikan bagi siswa yang nilainya
dibawah KKM

29. Saya ikut melatih dan membimbing siswa dalam
remedial dan pengayaan

197

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
30. Saya ikut melatih dan membimbing siswa dalam
persiapan menghadapi ujian nasional

31. Saya ikut melatih dan membimbing siswa dalam
persiapan menghadapi lomba olimpiade mata pelajaran

32. Saya ikut membimbing siswa dalam pengembangan
diri melalui bimbingan konseling

33. Saya ikut membimbing siswa dalam pengembangan
diri melalui ekstrakurikuler



198

Lampiran 3.2
INSTRUMEN KUESIONER SUPERVISI PENGAWAS
a. Untuk Pernyataan Positif
Pilihan Jawaban Skor butir
SL : Selalu 4
SR : Sering 3
KD : Kadang-kadang 2
TP : Tidak pernah 1

b. Untuk Pernyataan Negatif
Pilihan Jawaban Skor butir
SL : Selalu 1
SR : Sering 2
KD : Kadang-kadang 3
TP : Tidak pernah 4

3.2. Uji Coba Instrumen Variabel Supervisi Pengawas
No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
1. Pengawas melaksanakan supervisi akademik untuk
membina guru dalam meningkatkan mutu
pembelajaran

2. Pengawas menilai guru dalam proses pembelajaran
yang ditujukan melalui unjuk kerja

3. Pengawas melakukan kunjungan kelas untuk membantu
guru dalam mengatasi kesulitan guru di dalam kelas

4. Melalui kunjungan kelas, guru-guru dibantu melihat
dengan jelas masalah yang mereka hadapi

5. Pada tahap persiapan, pengawas merencanakan waktu,
sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan
kelas

199

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
6. Pengawas melakukan observasi kelas kepada guru
melihat proses pembelajaran yang berlangsung di kelas

7. Pengawas dalam melakukan observasi kelas kepada
guru menggunakan instrumen supervisi

8. Pengawas dalam menggunakan teknik kunjungan antar
kelas, guru akan memperoleh pengalaman baru dari
teman sejawat mengenai pelaksanaan proses
pengelolaan kelas

9. Dalam menggunakan teknik kunjungan kelas pengawas
sekolah harus menyeleksi guru yang akan dikunjungi

10. Pengawas menegur kepala sekolah bila membiarkan
guru terlambat membuat perangkat pembelajaran

11. Pengawas memberikan bantuan kepada kepala sekolah
bagaimana cara menegur guru agar tetap semangat
dalam melaksanakan pembelajara

12. Pengawas membina kepala sekolah dalam administrasi
kurikulum

13. Pengawas membina kepala sekolah dalam administrasi
peserta didik

14. Pengawas membina kepala sekolah dalam administrasi
sarana prasarana

15. Pengawas membina kepala sekolah dalam administrasi
keuangan

16. Pengawas membina kepala sekolah dalam mengelola
sekolah sesuai manajemen peningkatan mutu berbasis
sekolah (MPMBS)

17. Pengawas membina kepala sekolah dalam persiapan
akreditasi sekolah

18. Peran pengawas dalam supervisi bermanfaat untuk
peningkatan proses pembelajaran

19. Pengawas memotivasi guru agar dapat menyelesaikan
tanggunjawab sampai batas kemampuan saya

20. Pengawas dan kepala sekolah mengundang guru untuk
penentuan dan membagi pengalamannya kepada guru

200

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
21. Pengalaman pengawas saya jadikan rujukan dalam
peningkatan mutu pembelajaran

22. Pengalaman pengawas dalam melakukan supervisi
pendidikan menjadi inspirasi dalam supervisi kepala
sekolah

23. Saya berdiskusi cara mengelola pembelajaran yang
baik dengan pengawas sekolah

24. Kesalahpahaman antara pengawas dengan kepala
sekolah dalam membuat kebijakan organisasi sekolah
sulit dimusyawarahkan dengan baik

25. Kepala sekolah dibantu pengawas melakukan supervisi
akademik untuk meningkatkan proses pembelajaran

26. Pengawas sekolah dan kepala sekolah saling bahu
membahu untuk peningkatan kualitas pendidikan
disetiap sekolah

27. Peningkatan kualitas pendidikan disetiap sekolah
terkait dengan peran supervisi pengawas

28. Pengawas sekolah selalu memonitor kualitas
pendidikan disetiap sekolah

29. Pengawas memberikan nasehat kepada kepala sekolah
agar dekat dengan masyarakat dan lingkungan sekolah

30. Pengawas memberikan nasehat kepada kepala sekolah
agar dapat bekerjasama dengan komite sekolah dan
instansi terkait



201

Lampiran 3.3
INSTRUMEN KUESIONER
KUALITAS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
a. Untuk Pernyataan Positif
Pilihan Jawaban Skor butir
SL : Selalu 4
SR : Sering 3
KD : Kadang-kadang 2
TP : Tidak pernah 1

b. Untuk Pernyataan Negatif
Pilihan Jawaban Skor butir
SL : Selalu 1
SR : Sering 2
KD : Kadang-kadang 3
TP : Tidak pernah 4

3.3. Uji Coba Instrumen Variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
1. Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang jujur

2. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang percaya diri

3. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang bertanggung
jawab

4. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang berani
mengambil resiko

5. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang berjiwa besar

202

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
6. Kepala sekolah sebagai pemimpin yang memiliki
kestabilan emosi

7. Kepala sekolah memahami kondisi tenaga guru

8. Kepala sekolah memahami kondisi tenaga non guru

9. Kepala sekolah memahami kondisi peserta didik

10. Kepala sekolah memahami karakteristik peserta didik

11. Kepala sekolah mampu menyusun program
pengembangan tenaga non guru

12. Kepala sekolah memperhatikan kritik dari berbagai
pihak demi keberhasilan tugasnya

13. Kepala sekolah mampu memahami dalam pengelolaan
dan administrasi sekolah

14. Kepala sekolah memahami penyusunan rencana
keuangan anggaran sekolah (RKAS)

15. Kepala sekolah memahami instrumen akreditasi
sekolah dan bukti fisiknya

16. Kepala sekolah mampu mengsosialisasikan visi
sekolah

17. Kepala sekolah mampu mengembangkan visi sekolah

18. Kepala sekolah mampu mengsosialisasikan misi
sekolah

19. Kepala sekolah mampu mengembangkan misi sekolah

20. Kepala sekolah mampu merumuskan kembali misi
sekolah secara berkala sesuai dengan perkembangan
dan tantangan di masyarakat

21. Kepala sekolah mengsosialisasikan program-program
sekolah dalam upaya mewujudkan visi dan misi
sekolah

203

No Pernyataan
Pilihan Jawaban
SL SR KK TP
22. Kepala sekolah mampu mengambil keputusan bersama
tenaga kependidikan di sekolah

23. Kepala sekolah mampu mengambil keputusan untuk
kepentingan internal sekolah

24. Kepala sekolah mampu mengambil keputusan untuk
kepentingan eksternal sekolah

25. Kepala sekolah mampu berkomunikasi secara lisan
dengan tenaga kependidikan di sekolah

26. Kepala sekolah mampu menuangkan gagasan dalam
bentuk tulisan

27. Kepala sekolah mampu berkomunikasi secara tertulis
melalui media cetak

28. Kepala sekolah lancar berkomunikasi secara lisan
dengan peserta didik

29. Kepala sekolah lancar berkomunikasi dengan orang tua
siswa

30. Kepala sekolah mahir berkomunikasi dengan
masyarakat sekitar lingkungan sekolah




204

LAMPIRAN 4
DATA HASIL PENYEBARAN INSTRUMEN
PENELITIAN



4.1. DATA HASIL PENYEBARAN INSTRUMEN KINERJ A
GURU

4.2. DATA HASIL PENYEBARAN INSTRUMEN SUPERVISI
PENGAWAS

4.3. DATA HASIL PENYEBARAN INSTRUMEN KUALITAS
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

4.4. DATA UMUM HASIL PENELITIAN


205

4.1. DATA HASIL PENYEBARAN INSTRUMEN

KINERJA GURU (Y)

NO.
RESP.
NOMOR BUTIR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 3 4 3 2 3 3 2 2 3
2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2
3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 4 3
4 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3
5 2 2 2 3 3 2 2 2 2 3 2 2 2 3 3 2 2 3 2 2 3 2
6 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 4 3 3
7 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3
8 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 4 3 4 4
9 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 3 4 4
10 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2
11 3 3 2 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 2 2
12 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2
13 4 4 4 3 2 2 2 2 4 3 2 4 2 2 2 4 3 3 3 2 2 2
14 4 4 4 4 2 4 3 4 4 2 3 4 4 2 2 4 2 4 3 2 2 2
15 3 3 4 3 2 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3
16 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 2
17 3 3 4 3 3 2 2 2 4 2 2 3 2 2 2 4 3 3 3 2 2 2
18 4 2 2 3 3 2 2 2 4 4 2 4 2 4 3 4 3 4 4 4 3 4
19 3 3 3 4 3 3 2 3 3 4 2 3 3 4 4 3 4 4 4 3 3 2
20 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 3 2 4 3 3 3
21 3 3 3 3 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 2
22 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 4 3 3 3 3
23 2 2 2 2 3 2 3 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3
24 2 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 2 3 3 3 2 4 4 2 3 3
25 3 3 3 3 2 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 4 3 3 3 3
26 3 3 4 4 4 3 2 3 3 2 2 3 3 2 2 4 3 3 3 4 3 4
27 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 4 2 2 3 4 3 4 4 3 4
28 3 3 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 2 2 3 3 4 4 4 3 3
29 4 4 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 3
30 3 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 3 3 4 2
31 4 4 3 2 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4
32 3 3 3 3 3 3 4 3 3 2 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3
33 3 4 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3
34 4 4 3 2 3 2 2 2 3 3 2 4 2 3 3 3 3 3 4 4 2 2
35 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 4 3 2 3 2


206





NO.
RESP.
NOMOR BUTIR

23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33
1 3 2 2 3 3 2 3 2 2 3 4 89
2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 75
3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 92
4 3 3 3 2 2 3 4 3 4 3 4 103
5 2 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 77
6 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 100
7 4 3 2 3 3 3 3 3 3 4 4 106
8 1 3 3 3 3 2 3 3 3 1 2 90
9 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 102
10 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 84
11 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 86
12 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 90
13 2 2 4 4 3 3 3 2 2 2 3 91
14 4 2 4 4 4 2 4 3 3 4 3 106
15 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 2 99
16 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 4 88
17 2 3 3 4 3 3 3 2 2 2 2 87
18 2 3 4 4 4 3 4 2 2 2 2 101
19 3 3 3 3 4 3 3 2 2 3 3 102
20 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 99
21 2 3 3 3 3 3 3 2 2 2 4 90
22 2 3 3 3 2 2 2 3 3 2 3 90
23 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 2 78
24 2 3 2 3 2 2 2 3 3 2 2 84
25 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 90
26 3 4 3 3 4 3 3 2 4 3 4 103
27 4 3 3 3 2 2 2 3 3 4 3 103
28 3 4 3 3 3 3 3 4 4 3 3 107
29 3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 4 114
30 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 111
31 3 3 3 3 4 3 2 3 4 3 3 105
32 3 3 3 3 3 4 2 4 4 3 4 105
33 3 2 2 3 3 3 3 2 2 3 4 95
34 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 89
35 2 3 3 3 2 4 2 3 2 2 3 90

207

4.2. DATA HASIL PENYEBARAN INSTRUMEN

SUPERVISI PENGAWAS (X
1
)

NO.
RESP.
NOMOR BUTIR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
1 4 3 2 3 4 2 4 4 3 2 4 2 4 3 3 4 3 2 4 3 3 4
2 2 3 2 2 3 2 2 3 3 2 2 2 3 4 4 4 3 2 2 4 4 4
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4
4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 3 2 4 4 3 4 3
5 3 2 2 3 4 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 4 4
6 3 4 2 3 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4
7 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4
8 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 2 3 2 3 3 2 4 4
9 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2
10 2 3 3 3 4 1 4 4 4 1 4 4 4 4 3 4 2 1 4 3 3 3
11 2 2 3 2 3 2 4 3 3 2 4 2 4 4 3 2 2 2 4 3 4 4
12 2 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 4 3 2 2 2 2 3
13 2 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4
14 2 4 2 4 4 2 3 4 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3
15 3 4 3 3 4 1 3 4 2 3 3 2 4 4 3 2 3 3 3 3 4 3
16 2 3 3 2 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 2 2 4 3 4 4 4
17 2 4 3 3 4 4 3 2 2 4 3 4 3 3 2 3 2 4 3 2 3 2
18 3 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4
19 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 3 4 4 3 3
20 4 3 3 2 3 4 4 3 3 2 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 3
21 4 3 3 3 3 2 4 3 3 4 4 3 4 3 3 3 2 4 4 4 4 4
22 3 3 2 4 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 3 4 3 3 3 3 4 3
23 2 2 2 3 3 2 3 3 3 2 4 2 4 3 3 3 4 2 4 3 3 3
24 3 3 2 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 3 3 3 4 3 3
25 3 3 2 4 3 2 3 3 4 2 3 2 4 3 3 4 4 2 3 3 3 3
26 2 4 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 4 3 4 4 2 3 3 4 3
27 2 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 3 4 3
28 2 3 3 4 3 3 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 2 4 4 3 4
29 4 3 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3
30 4 4 4 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 3
31 3 4 3 3 4 4 3 4 4 1 3 3 3 3 3 4 4 1 4 4 4 3
32 3 3 4 3 4 4 3 4 2 3 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 4 3
33 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3
34 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 4 4 3 3 3 4 4 2 4 4 4 4
35 2 3 3 4 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3


208





NO.
RESP.
NOMOR BUTIR

23 24 25 26 27 28 29 30
1 4 3 2 3 3 2 2 4 93
2 3 2 2 2 3 2 2 4 82
3 3 2 3 2 3 3 3 4 92
4 4 3 3 3 3 3 3 3 100
5 3 2 2 2 2 3 2 4 93
6 3 3 3 3 3 3 3 4 88
7 4 4 3 3 3 4 3 3 104
8 4 1 3 1 3 3 3 4 92
9 3 3 3 3 3 2 3 4 84
10 3 2 3 2 3 2 3 3 89
11 4 3 3 3 2 2 3 2 86
12 3 3 2 3 3 3 2 2 79
13 3 2 2 2 4 3 2 1 95
14 3 4 3 4 4 2 3 3 90
15 4 3 3 3 4 3 3 2 92
16 4 3 2 3 3 2 2 1 96
17 3 2 2 2 4 2 2 2 84
18 3 2 2 2 4 4 2 3 98
19 3 3 2 3 3 4 2 3 102
20 3 3 3 3 3 2 3 3 98
21 4 2 2 2 3 2 2 4 95
22 4 2 3 2 3 3 3 3 91
23 4 2 3 2 2 3 3 3 85
24 3 2 3 2 3 2 3 3 90
25 4 2 3 2 3 2 3 3 88
26 3 3 2 3 3 2 2 4 88
27 3 4 3 3 3 3 3 4 98
28 3 3 4 3 3 4 4 4 101
29 3 3 3 3 3 4 3 4 102
30 3 3 4 3 4 4 4 3 103
31 3 3 3 3 4 3 3 4 98
32 3 3 4 3 3 2 4 4 100
33 2 3 2 3 3 3 2 2 90
34 4 2 2 2 3 3 2 3 91
35 4 2 3 3 3 3 3 3 89

209

4.3. DATA HASIL PENYEBARAN INSTRUMEN

KUALITAS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKLAH (X
2
)

NO.
RESP.
NOMOR BUTIR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
1 2 4 3 3 4 4 3 2 3 3 2 2 3 3 3 4 3 2 3 4 2 4
2 2 2 4 4 4 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2
3 3 3 4 3 4 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3
4 4 4 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3
5 3 4 4 4 4 3 2 2 2 2 3 2 2 2 3 3 2 2 3 4 3 3
6 2 4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 2 2 3
7 3 3 4 4 4 4 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3
8 3 3 2 4 4 4 1 3 1 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 4 3 3
9 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 2 3 2
10 1 4 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 4 1 4
11 2 4 3 4 4 4 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 4
12 2 2 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3
13 3 4 4 4 4 3 2 2 2 4 3 2 4 2 2 2 4 3 3 4 3 3
14 2 3 3 3 3 3 4 3 4 4 2 3 4 4 2 2 4 2 4 4 2 3
15 3 3 3 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 1 3
16 4 3 4 4 4 4 3 2 3 3 2 2 3 3 2 2 3 3 2 4 4 4
17 4 3 2 3 2 3 2 2 2 4 2 2 3 2 2 2 4 3 3 4 4 3
18 4 3 4 4 4 3 2 2 2 4 4 2 4 2 4 3 4 3 4 3 3 3
19 3 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 2 3 3 4 4 3 4 4 4 3 4
20 2 4 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 3 2 3 4 4
21 4 4 4 4 4 4 2 2 2 3 2 2 3 2 3 4 3 3 3 3 2 4
22 3 3 3 4 3 4 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 4 2 3 3
23 2 4 3 3 3 4 2 3 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3
24 3 3 4 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 2 3 3 3 2 4 3 3 3
25 2 3 3 3 3 4 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 4 3 2 3
26 2 3 3 4 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 2 4 3 3 3 2 3
27 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 2 2 3 4 3 3 3 4
28 2 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 4 3 3 2 2 3 3 4 3 3 4
29 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3
30 3 4 4 4 3 3 3 4 3 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 4 4 4
31 1 4 4 4 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 4 3
32 3 4 4 4 3 3 3 4 3 3 2 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 3
33 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
34 2 4 4 4 4 4 2 2 2 3 3 2 4 2 3 3 3 3 3 3 2 2
35 3 3 3 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 4 2 2 3


210





NO.
RESP.
NOMOR BUTIR

23 24 25 26 27 28 29 30
1 4 3 2 4 2 4 3 3 91
2 3 3 2 2 2 3 4 4 78
3 3 3 3 3 3 3 3 4 90
4 3 3 4 4 4 4 4 3 101
5 4 4 3 3 3 3 3 3 88
6 2 3 2 3 2 3 3 3 87
7 4 4 3 3 3 4 4 4 104
8 4 4 3 3 3 4 4 2 90
9 3 3 3 2 3 3 3 2 83
10 4 4 1 4 4 4 4 3 87
11 3 3 2 4 2 4 4 3 88
12 3 2 2 3 3 3 3 3 79
13 4 4 3 4 3 3 4 4 96
14 4 3 2 3 2 3 3 3 91
15 4 2 3 3 2 4 4 3 94
16 4 4 4 3 4 4 4 4 99
17 2 2 4 3 4 3 3 2 84
18 3 3 4 3 4 3 4 4 99
19 4 3 3 4 3 4 4 4 102
20 3 3 2 4 4 4 4 4 96
21 3 3 4 4 3 4 3 3 94
22 2 3 3 3 3 4 4 3 89
23 3 3 2 4 2 4 3 3 81
24 3 3 3 3 3 4 4 4 89
25 3 4 2 3 2 4 3 3 85
26 3 3 2 3 2 3 4 3 84
27 3 3 3 4 3 3 4 3 96
28 3 4 2 4 3 3 3 4 97
29 3 3 4 3 4 3 3 3 101
30 3 3 3 2 3 3 3 3 102
31 4 4 1 3 3 3 3 3 96
32 4 2 3 4 3 3 3 3 99
33 4 4 3 4 3 3 3 3 90
34 3 3 2 4 4 3 3 3 89
35 3 3 3 3 3 3 3 3 87

211

4.4. DATA UMUM HASIL PENELITIAN


NO. Y
3
X
1
X
2
Y
2
X
1
2
X
2
2
X
1
Y X
2
Y X
1
X
2

1 89 93 91 7921 8649 8281 8277 8099 8463
2 75 82 78 5625 6724 6084 6150 5850 6396
3 92 92 90 8464 8464 8100 8464 8280 8280
4 103 100 101 10609 10000 10201 10300 10403 10100
5 77 93 88 5929 8649 7744 7161 6776 8184
6 100 88 87 10000 7744 7569 8800 8700 7656
7 106 104 104 11236 10816 10816 11024 11024 10816
8 90 92 90 8100 8464 8100 8280 8100 8280
9 102 84 83 10404 7056 6889 8568 8466 6972
10 84 89 87 7056 7921 7569 7476 7308 7743
11 86 86 88 7396 7396 7744 7396 7568 7568
12 90 79 79 8100 6241 6241 7110 7110 6241
13 91 95 96 8281 9025 9216 8645 8736 9120
14 106 90 91 11236 8100 8281 9540 9646 8190
15 99 92 94 9801 8464 8836 9108 9306 8648
16 88 96 99 7744 9216 9801 8448 8712 9504
17 87 84 84 7569 7056 7056 7308 7308 7056
18 101 98 99 10201 9604 9801 9898 9999 9702
19 102 102 102 10404 10404 10404 10404 10404 10404
20 99 98 96 9801 9604 9216 9702 9504 9408
21 90 95 94 8100 9025 8836 8550 8460 8930
22 90 91 89 8100 8281 7921 8190 8010 8099
23 78 85 81 6084 7225 6561 6630 6318 6885
24 84 90 89 7056 8100 7921 7560 7476 8010
25 90 88 85 8100 7744 7225 7920 7650 7480
26 103 88 84 10609 7744 7056 9064 8652 7392
27 103 98 96 10609 9604 9216 10094 9888 9408
28 107 101 97 11449 10201 9409 10807 10379 9797
29 114 102 101 12996 10404 10201 11628 11514 10302
30 111 103 102 12321 10609 10404 11433 11322 10506
31 105 98 96 11025 9604 9216 10290 10080 9408
32 105 100 99 11025 10000 9801 10500 10395 9900
33 95 90 90 9025 8100 8100 8550 8550 8100
34 89 91 89 7921 8281 7921 8099 7921 8099
35 90 89 87 8100 7921 7569 8010 7830 7743

Jumlah 3321 3246 3206 318397 302440 295306 309384 305744 298790
Rerata 94,89 92,74 91,60 r
13
= 0,321 X
3
2
= 401890 [X
1
]
2
=21921124
Maksimal 114 104 104 r
23
= 0,162 X
1
2
= 421000 [X
2
]
2
=14010049
Minimal 75 79 78 r
12
= 0,114 X
2
2
= 267757 [X3]
2
=20921476
Range 39 25 26 X
3
= 4574 XX
3
= 406398 n = 53
Varian 93,76 39,91 46,75 X
1
= 4682 X
23
= 323829

Standar
Deviasi
9,82 6,41 6,94 X
2
= 3743
X
1
X
2

=
331376


212

LAMPIRAN 5
ANALISIS STATISTIK DESKRIPTIF




3.1. DESKRIPTIF DATA KINERJ A GURU

3.2. DESKRIPTIF DATA SUPERVISI PENGAWAS


3.3. DESKRIPTIF DATA KUALITAS KEPEMIMPINAN
KEPALA SEKOLAH

3.4. KLASIFIKASI SKOR MASING-MASING VARIABEL
PENELITIAN

213

ANALISIS STATISTIK DESKRIPSI

Perhitungan analisis statistik deskriptif masing-masing variabel yang
diuraikan dalam penelitian ini meliputi : Distribusi Frekwensi, Mean, Modus,
Median dan Standar Deviasi (SD). Adapun rumus yang digunakan untuk masing-
masing variabel adalah sebagai berikut :
A. Deskriptif Frekwensi (X
3
)
1. Rentang (r) =data terbesar data terkecil
2. Banyak kelas (k) =1 +3,3 log n
3. Panjang kelas (p) =
k
r

B. Mean =
n

1 X

C. Modus = b +p |
.
|

\
|
+ 2 1
1
b b
b

D. Median = b +p
|
|
|
|
.
|

\
|
f
F - n
2
1

E. Satnda Deviasi (SD) =
( ) 1
) X ( X
2
3
2
2


n n
n

Keterangan :
n : Banyaknya sampel
b : Batas bawah kelas Modus atau batas bawah kelas Median
p : Panjang kelas
214

b
1
: Frekuensi kelas Modus dikurang sebelumnya
b
2
: Frekuensi kelas Modus dikurang sesudahnya
F : Jumlah semua frekuensi sebelum kelas Median
f : Frekuensi kelas Median

3.1. Deskriptif Data Kinerja Guru (Y)
A. Deskriptif Frekwensi
a. Rentang (r)
= data terbesar data terkecil
= 114 75
= 39
b. Banyaknya Kelas (k)
= 1 +3,33 log 35
= 1 +3,3 (1,544)
= 1 +5,10
= 6,10 (dibulatkan jadi 7)
c. Panjang Kelas (p)
=
k
r

=
7
39

= 5,57 (agar k.p >r +1, maka p dinaikan menjadi 6)
(Syarat : k.p >r +1 7.6 >39 +1 42 >40 terpenuhi)

215

d. Daftar Distribusi Frekuensi Kinerja Guru (Y)
Nomor Kelas Interval
Frekwensi
Absolut Relatif Komulatif
1 76 81 3 8,57% 8,57%
2 82 87 4 11,43% 20,00%
3 88 93 11 31,43% 51,43%
4 94 99 3 8,57% 60,00%
5 100 105 9 25,71% 85,71%
6 106 111 4 11,43% 97,14%
7 112 117 1 2,86% 100,00%
35 100,00%

B. Mean
=
n

Y

=
35
3321

= 94,89
C. Modus
= b +p
(

+ 2 1
1
b b
b

= 87,5 +6
( )
(

+ 3) - (11 4) - (11
4 - 11

= 87,5 +6
( )
(

+8 7
7

= 87,5 +6
(

4
7

= 87,5 +10,5
= 98,00
216

D. Median
= b +p
(
(
(
(

f
F - n
2
1

= 87,5 +6
(
(
(
(

11
7 - 35
2
1

= 87,5 +6
(

11
7 - 17,5

= 87,5 +6
(

11
10,5

= 87,5 +(5,73)
= 93,23
E. Satndar Deviasi (SD)
=
( ) 1
) X ( X
2
1
2
1


n n
n

=
( ) ( )
( ) 1 - 35 35
11029041 . 318397 35.

=
( ) ( )
( ) 34 35
11029041 11143895

=
1190
114854

= 9,82


217

3.2. Deskriptif Data Supervisi Pengawas (X
1
)
A. Deskriptif Frekwensi
a. Rentang (r)
= data terbesar data terkecil
= 104 79
= 25
b. Banyaknya Kelas (k)
= 1 +3,33 log 35
= 1 +3,3 (1,544)
= 1 +5,10
= 6,10 (dibulatkan jadi 7)
c. Panjang Kelas (p)
=
k
r

=
7
25

= 3,57 (agar k.p >r +1, maka p dinaikan menjadi 4)
(Syarat : k.p >r +1 7.4 >25 +1 28 >26 terpenuhi)
d. Daftar Distribusi Frekuensi Supervisi Pengawas (X
1
)
Nomor Kelas Interval
Frekwensi
Absolut Relatif Komulatif
1 78 81 1 2,86% 2.86%
2 82 85 4 11,43% 14,29%
3 86 89 6 17,14 31,43%
4 90 93 10 28,57% 60,00%
5 94 97 3 8,57% 68,57%
6 98 101 7 20,00 88,57%
7 102 105 4 11,43% 100,00%
35 100,00%
218

B. Mean
=
n
1 Y


=
35
3246

= 92,74
C. Modus
= b +p
(

+ 2 1
1
b b
b

= 89,5 +4
( )
(

+ 3) - (10 6) - (10
6 - 10

= 89,5 +4
( )
(

+ 7 4
4

= 89,5 +4
(

11
4

= 89,5 +1,45
= 90,95
D. Median
= b +p
(
(
(
(

f
F - n
2
1

= 89,5 +4
(
(
(
(

10
11 - 35
2
1

= 89,5 +4
(

10
11 - 17,5

219

= 89,5 +4
(

10
6,5

= 89,5 +2,6
= 92,10
E. Satndar Deviasi (SD)
=
( ) 1
) X ( X
2
1
2
1


n n
n

=
( ) ( )
( ) 1 - 35 35
10536516 . 302440 35.

=
( ) ( )
( ) 34 35
10536516 10585400

=
1190
48884

= 6,41

3.3. Deskriptif Data Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
A. Deskriptif Frekwensi
a. Rentang (r)
= data terbesar data terkecil
= 104 78
= 26
b. Banyaknya Kelas (k)
= 1 +3,33 log 35
= 1 +3,3 (1,544)
= 1 +5,10
= 6,10 (dibulatkan jadi 7)
220

c. Panjang Kelas (p)
=
k
r

=
7
26

= 3,71 (agar k.p >r +1, maka p dinaikan menjadi 4)
(Syarat : k.p >r +1 7.4 >26 +1 28 >27 terpenuhi)
d. Daftar Distribusi Frekuensi Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
)
Nomor Kelas Interval
Frekwensi
Absolut Relatif Komulatif
1 79 82 3 8,57% 8,57%
2 83 86 4 11,43% 20,00%
3 87 90 11 31,43% 51,43%
4 91 94 4 11,43% 62,86%
5 95 98 5 14,29% 77,14%
6 99 102 7 20,00% 97,14%
7 103 106 1 2,86% 100,00%
35 100,00%

B. Mean
=
n
2 Y


=
35
3206

= 91,60
C. Modus
= b +p
(

+ 2 1
1
b b
b

221

= 86,5 +4
( )
(

+ 4) - (11 4) - (11
4 - 11

= 86,5 +4
( )
(

+ 7 7
7

= 86,5 +4
(

14
7

= 86,5 +2
= 88,50
D. Median
= b +p
(
(
(
(

f
F - n
2
1

= 86,5 +4
(
(
(
(

11
7 - 35
2
1

= 86,5 +4
(

11
7 - 17,5

= 86,5 +4
(

11
10,5

= 86,5 +3,82
= 90,32
E. Satndar Deviasi (SD)
=
( ) 1
) X ( X
2
3
2
2


n n
n

=
( ) ( )
( ) 1 - 35 35
10278436 . 295306 35.

222

=
( ) ( )
( ) 34 35
10278436 10335710

=
1190
57274

= 6,94

3.4. Klasifikasi Skor Variabel
A. Klasifikasi Skor Variabel Kinerja Guru (Y)
1. Tingkat Atas = Rerata +1 SD ke atas
= 94,89 +9,82
= 104,71
= 106 115
2. Tingkat Sedang = Dari Rerata -1 x SD ke atas +1 x SD ke atas
= (94,89 9,82) (94,89 +9,82)
= 85,06 104,71
= 85 105
3. Tingkat Rendah = Rerata 1 x SD ke atas
= 94,89 9,82
= 85,06
= 74 84
4. Daftar Skor Variabel Kinerja Guru (Y)
No. Kategori Kalsifikasi Skor
Frekuensi
Absolut
Frekwensi
Relatif (%)
1 Tinggi 106 - 115 5 14,29
2 Sedang 85 - 105 25 17,42
3 Rendah 74 - 85 5 14,29
35 100
223

B. Klasifikasi Skor Variabel Supervisi Pengawas (X
1
)
1. Tingkat Atas = Rerata +1 SD ke atas
= 92,74 +6,41
= 99,15
= 100 105
2. Tingkat Sedang = Dari Rerata -1 x SD ke atas +1 x SD ke atas
= (92,74 6,41) (92,74 +6,41)
= 86,33 99,15
= 86 99
3. Tingkat Rendah = Rerata 1 x SD ke atas
= 92,74 6,41
= 86,33
= 78 85
4. Daftar Skor Variabel Supervisi Pengawas (X
1
)
No. Kategori Kalsifikasi Skor
Frekuensi
Absolut
Frekwensi
Relatif (%)
1 Tinggi 100 - 105 7 20,00
2 Sedang 86 - 99 23 65,71
3 Rendah 78 - 85 5 14,29
35 100

C. Klasifikasi Skor Variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
(X
2
)
1. Tingkat Atas = Rerata +1 SD ke atas
= 91,60 +6,94
= 98,54
224

= 100 105
2. Tingkat Sedang = Dari Rerata -1 x SD ke atas +1 x SD ke atas
= (91,60 6,94) (91,60 +6,94)
= 84,66 98,54
= 85 99
3. Tingkat Rendah = Rerata 1 x SD ke atas
= 91,60 6,94
= 84,66
= 77 84
4. Daftar Skor Variabel Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
)
No. Kategori Kalsifikasi Skor
Frekuensi
Absolut
Frekwensi
Relatif (%)
1 Tinggi 100 - 105 8 22,86
2 Sedang 85 - 99 23 65,71
3 Rendah 77 - 84 4 11,43
35 100

225

LAMPIRAN 6
UJI PERSYARATAN ANALISIS



6.1. HASIL DATA ANALYSIS REGRESSION
MENGGUNAAN APLIKASI MICROSOFT OFFICE
EXCEL-2007


6.2. UJ I NORMALITAS DATA


6.3. UJ I HOMOGENITAS DATA


6.4. J UMLAH KUADRAT GALAT


226

6.1. HASIL DATA ANALYSIS REGRESSION
MENGGUNAAN APLIKASI MICROSOFT OFFICE EXCEL-2007

A. Data Analysis Regression (X
1
Dengan Y)
1. Summary Output
Regression Statistics
Multiple R
0,647
R Square
0,419
Adjusted R Square
0,401
Standard Error
7,604
Observations
35

2. Anova
df SS MS F Significance F
Regression 1 1373,355 1373,355 23,751 0,000
Residual 33 1908,187 57,824

Total 34 3281,543


Coefficients
Standard
Error
t Stat P-value
Lower
95%
Upper
95%
Intercept 2,921 18,914 0,154 0,878 -35,561 41,402
X Variable 1 0,992 0,203 4,873 0,000 0,578 1,406

B. Data Analysis Regression (X
2
Dengan Y)
1. Summary Output
Regression Statistics
Multiple R 0,665
R Square 0,442
Adjusted R Square 0,425
Standard Error 7,450
Observations
35
227

2. Anova
df SS MS F Significance F
Regression 1 1450,032 1450,032 26,127 0,000
Residual 33 1831,511 55,500

Total 34 3281,543


Coefficients
Standard
Error
t Stat P-value
Lower
95%
Upper
95%
Intercept 8,659 16,916 0,512 0,612 -25,757 43,076
X Variable 1 0,941 0,184 5,111 0,000 0,567 1,316



228

6.2. UJI NORMALITAS DATA

Uji Normalitas Data menggunakan Uji Lilliefors dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
a. Urutkan data sampel dari yang terkecil sampai dengan yang tebesar.
b. Tentukan nilai z dari tiap-tiap data itu.
c. Tentukan nilai tabel z.
d. Tentukan besar peluang untuk masing-masing nilai z berdasarkan tabel z, dan
sebut dengan F(z).
e. Hitunglah frekwensi kumulatif dari masing-masing nilai z, dan sebut dengan
S(z).
f. Tentukan nilai L
o
=F(z) S(z)
g. Apabila L
o
<L
t
maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

229

6.2.1. UJI NORMALITAS DATA
KINERJA GURU (Y)

No.
Urut
X
3
f z Nilai Tabel F(z) S(z) [F(z)-S(z)]
1 75 1 -2,02 0,4783 0,0217 0,0286 0,0069
2 77 1 -1,82 0,4656 0,0344 0,0571 0,0227
3 78 1 -1,72 0,4573 0,0427 0,0857 0,0430
4 84 2 -1,11 0,3665 0,1335 0,1429 0,0094
5 86 1 -0,90 0,3159 0,1841 0,1714 0,0127
6 87 1 -0,80 0,2881 0,2119 0,2000 0,0119
7 88 1 -0,70 0,2580 0,2420 0,2286 0,0134
8 89 2 -0,60 0,2257 0,2743 0,2857 0,0114
9 90 6 -0,50 0,1915 0,3085 0,4571 0,1486
10 91 1 -0,40 0,1554 0,3446 0,4857 0,1411
11 92 1 -0,29 0,1141 0,3859 0,5143 0,1284
12 95 1 0,01 0,0040 0,5040 0,5429 0,0389
13 99 2 0,42 0,1628 0,6628 0,6000 0,0628
14 100 1 0,52 0,1985 0,6985 0,6286 0,0699
15 101 1 0,62 0,2324 0,7324 0,6571 0,0753
16 102 2 0,72 0,2642 0,7642 0,7143 0,0499
17 103 3 0,83 0,2967 0,7967 0,8000 0,0033
18 105 2 1,03 0,3485 0,8485 0,8571 0,0086
19 106 2 1,13 0,3708 0,8708 0,9143 0,0435
20 107 1 1,23 0,3907 0,8907 0,9429 0,0522
21 111 1 1,64 0,4495 0,9495 0,9714 0,0219
22 114 1 1,95 0,4744 0,9744 1,0000 0,0256

35

Lo 0,1486
Lt 0,1498
Rerata = 94,89
Standar Deviasi = 9,82
Karena Lo =0,1486 <Lt =0,1498
Kesimpulan bahwa sampel berdistribusi Normal

230

6.2.2. UJI NORMALITAS DATA
SUPERVISI PENGAWAS (X
1
)

No.
Urut
X
3
f z Nilai Tabel F(z) S(z) [F(z)-S(z)]
1 79 1 -2,14 0,4838 0,0162 0,0286 0,0124
2 82 1 -1,68 0,4535 0,0465 0,0571 0,0106
3 84 2 -1,36 0,4131 0,0869 0,1143 0,0274
4 85 1 -1,21 0,3869 0,1131 0,1429 0,0298
5 86 1 -1,05 0,3531 0,1469 0,1714 0,0245
6 88 3 -0,74 0,2704 0,2296 0,2571 0,0275
7 89 2 -0,58 0,2190 0,2810 0,3143 0,0333
8 90 3 -0,43 0,1664 0,3336 0,4000 0,0664
9 91 2 -0,27 0,1064 0,3936 0,4571 0,0635
10 92 3 -0,12 0,0478 0,4522 0,5429 0,0907
11 93 2 0,04 0,0160 0,5160 0,6000 0,0840
12 95 2 0,35 0,1368 0,6368 0,6571 0,0203
13 96 1 0,51 0,1950 0,6950 0,6857 0,0093
14 98 4 0,82 0,2939 0,7939 0,8000 0,0061
15 100 2 1,13 0,3708 0,8708 0,8571 0,0137
16 101 1 1,29 0,4015 0,9015 0,8857 0,0158
17 102 2 1,44 0,4251 0,9251 0,9429 0,0178
18 103 1 1,60 0,4452 0,9452 0,9714 0,0262
19 104 1 1,76 0,4608 0,9608 1,0000 0,0392

35

Lo 0,0907
Lt 0,1498
Rerata = 92,74
Standar Deviasi = 6,41
Karena Lo =0,0907 <Lt =0,1498
Kesimpulan bahwa sampel berdistribusi Normal


231

6.2.3. UJI NORMALITAS DATA
KUALITAS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH (X
2
)

No.
Urut
X
3
f z Nilai Tabel F(z) S(z) [F(z)-S(z)]
1 78 1 -1,96 0,4750 0,0250 0,0286 0,0036
2 79 1 -1,82 0,4656 0,0344 0,0571 0,0227
3 81 1 -1,53 0,4370 0,0630 0,0857 0,0227
4 83 1 -1,24 0,3925 0,1075 0,1143 0,0068
5 84 2 -1,10 0,3643 0,1357 0,1714 0,0357
6 85 1 -0,95 0,3289 0,1711 0,2000 0,0289
7 87 3 -0,66 0,2454 0,2546 0,2857 0,0311
8 88 2 -0,52 0,1985 0,3015 0,3429 0,0414
9 89 3 -0,37 0,1443 0,3557 0,4286 0,0729
10 90 3 -0,23 0,0910 0,4090 0,5143 0,1053
11 91 2 -0,09 0,0359 0,4641 0,5714 0,1073
12 94 2 0,35 0,1368 0,6368 0,6286 0,0082
13 96 4 0,63 0,2357 0,7357 0,7429 0,0072
14 97 1 0,78 0,2823 0,7823 0,7714 0,0109
15 99 3 1,07 0,3577 0,8577 0,8571 0,0006
16 101 2 1,35 0,4115 0,9115 0,9143 0,0028
17 102 2 1,50 0,4332 0,9332 0,9714 0,0382
18 104 1 1,79 0,4633 0,9633 1,0000 0,0367

35

Lo 0,1073
Lt 0,1498
Rerata = 91,60
Standar Deviasi = 6,94
Karena Lo =0,1073 <Lt =0,1498
Kesimpulan bahwa sampel berdistribusi Normal



232

6.3. UJI HOMOGENITAS DATA

Untuk melihat Homogenitas pasangan skor variabel bebas dengan skor
variabel terikat digunakan Uji Bartlett. Hipotesis yang digunakan dalam pengujian
ini adalah :

- H
0
: o
1
2
=o
2
2
=o
3
2

- H
0
: Salah satu tanda tidak berlaku

Langkah-langkah yang dilakukan untuk Uji Bartlett adalah sebagai berikut :
1. Data dikelompokkan berdasarkan skor X yang sama, jumlah anggota untuk
setiap kelompok diberi simbol n.
2. Untuk nilai n yang kurang dari 2 tidak dimasukkan dalam pengujian.
3. Menghitung nilai db =n 1, untuk masing-masing kelompok.
4. Menghitung nilai 1/db untuk setiap kelompok.
5. Menghitung varian (S
i
2
) skor Y untuk masing-masing kelompok.
6. Menghitung nilai log S
i
2
.
7. Menghitung hasil perkalian db dengan S
i
2
.
8. Menghitung hasil perkalian db dengan log S
i
2
.
9. Nilai tersebut disusun dalam tabel persiapan pengujian, kemudian dilakukan
pengujian dengan menggunakan rumus-rumus sebagai berikut :

233

a. Varian gabungan dari semua kelompok
S
2
gab
=
( )
( )

1 - ni
i 1 - ni
2
S
=
( )

db
i . dk
2
S

Keterangan :
S
2
gab
= Varian gabungan dar semua kelompok
ni = Jumlah sampel untuk setiap kelompok
S
1
2
= Varia kelompok ke-i
b. Harga B
B =( )

db log S
2
gab

c. Menghitung nilai _
2
untuk Uji Bartlett
_
2
=( )( )

i log . db B 10 ln
2
S
d. Membandingkan nilai _
2
hitung
dengan _
2
tabel

J ika _
2
hitung
<_
2
tabel
maka H
o
diterima
J ika _
2
hitung
>_
2
tabel
maka H
o
ditolak
e. Kesimpulan
J ika _
2
hitung
<_
2
tabel
maka (populasi homogen)
J ika _
2
hitung
>_
2
tabel
maka (populasi tidak homogen)




234

6.3.1. UJI HOMOGENITAS DATA
KELOMPOK DATA Y MENURUT DATA X
1
YANG SAMA

No.
Urut
X
1
Y ni db 1/db S
i
2
Log S
i
2
db Log S
i
3
db S
i
2

1 79 90

2 82 75

3 84 102

4 84 87 2 1 1,00 112,50 2,05 2,05 112,50
5 85 78

6 86 86

7 88 100

8 88 90

9 88 103 3 2 0,50 46,33 1,67 3,33 92,67
10 89 84

11 89 90 2 1 1,00 18,00 1,26 1,26 18,00
12 90 106

13 90 84

14 90 95 3 2 0,50 121,00 2,08 4,17 242,00
15 91 90

16 91 89 2 1 1,00 0,50 -0,30 -0,30 0,50
17 92 92

18 92 90

19 92 99 3 2 0,50 22,33 1,35 2,70 44,67
20 93 89

21 93 77 2 1 1,00 72,00 1,86 1,86 72,00
22 95 91

23 95 90 2 1 1,00 0,50 -0,30 -0,30 0,50
24 96 88

25 98 101

26 98 99

27 98 103

28 98 105 4 3 0,33 6,67 0,82 2,47 20,00
29 100 103

30 100 105 2 1 1,00 2,00 0,30 0,30 2,00
31 101 107

32 102 102

33 102 114 2 1 1,00 72,00 1,86 1,86 72,00
34 103 111

35 104 106

3246 3321 11 16 8,83 473,83 12,64 19,39 676,83
235

a. Varian gabungan dari semua kelompok
S
2
gab
=
( )
( )

1 - ni
i 1 - ni
2
S
=
( )

db
i . dk
2
S

S
2
gab
=
16
676,83

S
2
gab
= 42,30
b. Harga B
B = ( )

db log S
2
gab
=(16) log 42,30 =26,022
c. Menghitung nilai X
2
untuk Uji Bartlett
_
2
= ( )( )

i log . db B 10 ln
2
S = (2,303)(26,022 19,39) =15,260
d. Membandingkan nilai _
2
hitung
dengan _
2
tabel

Untuk o =0,05 dan db =k 1 =11 1 =10, _
2
tabel
=_
2
(0,95;10)
=18,307
Karena _
2
hitung
<_
2
tabel
maka Ho diterima
e. Kesimpulan
Kelompok data berasal dari populasi yang homogen

236

6.3.2. UJI HOMOGENITAS DATA
KELOMPOK DATA Y MENURUT DATA X
2
YANG SAMA

No.
Urut
X
1
Y ni db 1/db S
i
2
Log S
i
2
db Log S
i
3
db S
i
2

1 78 75
2 79 90
3 81 78
4 83 102
5 84 87
6 84 103 2 1 1,00 128,00 2,11 2,11 128,00
7 85 90
8 87 100
9 87 84
10 87 90 3 2 0,50 65,33 1,82 3,63 130,67
11 88 77
12 88 86 2 1 1,00 40,50 1,61 1,61 40,50
13 89 90
14 89 84
15 89 89 3 2 0,50 10,33 1,01 2,03 20,67
16 90 92
17 90 90
18 90 95 3 2 0,50 6,33 0,80 1,60 12,67
19 91 89
20 91 106 2 1 1,00 144,50 2,16 2,16 144,50
21 94 99
22 94 90 2 1 1,00 40,50 1,61 1,61 40,50
23 96 91
24 96 99
25 96 103
26 96 105 4 3 0,33 38,33 1,58 4,75 115,00
27 97 107
28 99 88
29 99 101
30 99 105 3 2 0,50 79,00 1,90 3,80 158,00
31 101 103
32 101 114 2 1 1,00 60,50 1,78 1,78 60,50
33 102 102
34 102 111 2 1 1,00 40,50 1,61 1,61 40,50
35 104 106
3206 3321 11 17 8,33 653,83 17,98 26,68 891,50
237

a. Varian gabungan dari semua kelompok
S
2
gab
=
( )
( )

1 - ni
i 1 - ni
2
S
=
( )

db
i . dk
2
S

S
2
gab
=
17
891,50

S
2
gab
= 52,44
b. Harga B
B = ( )

db log S
2
gab
=(17) log 52,44 =29,234
c. Menghitung nilai X
2
untuk Uji Bartlett
_
2
= ( )( )

i log . db B 10 ln
2
S = (2,303)(29,234 26,68) =5,877
d. Membandingkan nilai _
2
hitung
dengan _
2
tabel

Untuk o =0,05 dan db =k 1 =11 1 =10, _
2
tabel
=_
2
(0,95;10)
=18,307
Karena _
2
hitung
<_
2
tabel
maka H
o
diterima
e. Kesimpulan
Kelompok data berasal dari populasi yang homogen

238

6.4.1. JUMLAH KUADRAT GALAT X
1
- Y

No.
Urut
X
1

Y
n X
3
2
X
3
[X
3
]
2
[X
3
]
2
/n JK(G)
1 2 3 4
1 79 90 - - - 1 8100 90 8100 8100,00 0,00
2 82 75 - - - 1 5625 75 5625 5625,00 0,00
3 84 102 87 - - 2 17973 189 35721 17860,50 112,50
4 85 78 - - - 1 6084 78 6084 6084,00 0,00
5 86 86 - - - 1 7396 86 7396 7396,00 0,00
6 88 100 90 103 - 3 28709 293 85849 28616,33 92,67
7 89 84 90 - - 2 15156 174 30276 15138,00 18,00
8 90 106 84 95 - 3 27317 285 81225 27075,00 242,00
9 91 90 89 - - 2 16021 179 32041 16020,50 0,50
10 92 92 90 99 - 3 26365 281 78961 26320,33 44,67
11 93 89 77 - - 2 13850 166 27556 13778,00 72,00
12 95 91 90 - - 2 16381 181 32761 16380,50 0,50
13 96 88 - - - 1 7744 88 7744 7744,00 0,00
14 98 101 99 103 105 4 41636 408 166464 41616,00 20,00
15 100 103 105 - - 2 21634 208 43264 21632,00 2,00
16 101 107 - - - 1 11449 107 11449 11449,00 0,00
17 102 102 114 - - 2 23400 216 46656 23328,00 72,00
18 103 111 - - - 1 12321 111 12321 12321,00 0,00
19 104 106 - - - 1 11236 106 11236 11236,00 0,00
1758 1801 1015 400 105 35 318397 3321 730729 317720,17 676,83


239

6.4.2. JUMLAH KUADRAT GALAT X
2
Y

No.
Urut
X
1

Y
n X
3
2
X
3
[X
3
]
2
[X
3
]
2
/n JK(G)
1 2 3 4
1 78 75 - - - 1 5625 75 5625 5625,00 0,00
2 79 90 - - - 1 8100 90 8100 8100,00 0,00
3 81 78 - - - 1 6084 78 6084 6084,00 0,00
4 83 102 - - - 1 10404 102 10404 10404,00 0,00
5 84 87 103 - - 2 18178 190 36100 18050,00 128,00
6 85 90 - - - 1 8100 90 8100 8100,00 0,00
7 87 100 84 90 - 3 25156 274 75076 25025,33 130,67
8 88 77 86 - - 2 13325 163 26569 13284,50 40,50
9 89 90 84 89 - 3 23077 263 69169 23056,33 20,67
10 90 92 90 95 - 3 25589 277 76729 25576,33 12,67
11 91 89 106 - - 2 19157 195 38025 19012,50 144,50
12 94 99 90 - - 2 17901 189 35721 17860,50 40,50
13 96 91 99 103 105 4 39716 398 158404 39601,00 115,00
14 97 107 - - - 1 11449 107 11449 11449,00 0,00
15 99 88 101 105 - 3 28970 294 86436 28812,00 158,00
16 101 103 114 - - 2 23605 217 47089 23544,50 60,50
17 102 102 111 - - 2 22725 213 45369 22684,50 40,50
18 104 106 - - - 1 11236 106 11236 11236,00 0,00
1628 1666 1068 482 105 35 318397 3321 755685 317505,50 891,50


240

LAMPIRAN 7
PENGUJIAN HIPOTESIS DAN KORELASI



7.1. UJ I HIPOTESIS PERTAMA :
HUBUNGAN ANTARA X
1
DENGAN Y

7.2. UJ I HIPOTESIS KEDUA :
PERHITUNGAN PERSAMAAN REGRESI SEDERHANA Y
ATAS X
2


7.3. UJ I HIPOTESIS KETIGA :
PERHITUNGAN REGRESI GANDA

7.4. UJ I KOLERASI PERSIAL



241

7.1. Uji Hipotesis Pertama : Hubungan Antara X
1
dengan Y
DESKRIPSI DATA STATISTIK
n = 35 Y
2
= 318397 X
2
Y = 305744
Y = 3321 X
1
2
= 302440 X
1
X
2
= 298790
X
1
= 3246 X
2
2
= 295306 [X
1
]
2
= 10536516
X
2
= 3206 X
1
Y = 309384 [X
2
]
2
= 10278436


A. Perhitungan Persamaan Regresi Sederhana Y atas X
1

Rumus mencari nilai a dan b dari persamaan = a + b X
1
adalah :
a. =
( )( ) ( )( )
( )
2
1
2
1
1 1
2
1
X X n
Y X X X Y


b. =
( )( )
( )
2
1
2
1
1 1
X X n
Y X Y X n


Perhitungan
a. =
( )( ) ( )( )
( ) 10536516 302440 35
309384 3246 302440 3321


=
48884
142776

a. = 2,921
b. =
( ) ( )( )
( ) 10536516 302440 35
3321 3246 309384 35


=
48884
48474

b. = 0,992

242

Dengan demikian persamaan regresinya adalah :
= 2,921 + 0,992 X
1

B. Menguji Keberartian Regresi dan Linieritas Bentuk Regresi
Jumlah Kuadrat :
a. J K(T) =

2
Y
= 318397
b. J K(a) =
( )
n
2
Y


=
( )
35
3321
2

= 31511,46
c. J K(R) = J K(T) JK(a)
= 318397 315115,46
= 3281,543
d. J K(b) = J K(reg)
=

xy b
= b
(
(

|
.
|

\
|
|
.
|

\
|

n
Y X
- Y X
1
1
= 0,992
(

|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
35
3321 3246
- 09384 3
= 1373,355
e. J K(S) = J K(R) JK(b)
= 3281,543 1373,355
243

= 1908,19
f. J K(G) = 767,83 (lampiran 6.4.1. Kuadrat Galat X
1
- Y)
g. J K(TC) = J K(S) JK(G)
= 1908,19 676,83
= 1231,36
Dengan harga-harga tersebut di atas didapat tabel ANAVA untuk uji
signifikansi dan linearitas regresi = 2,921 + 0,992 X
1
sebagaimana tabel
di bawah ini :

Tabel 7.1. : ANAVA untuk Regresi Linier = 2,921 + 0,992 X
1

S. Varian db JK RJK F
h

F
t

0,05
Total 35 318397 9097,06 - -
Reg.a 1 315115,46 315115,46
Reg.b 1 1373,36 1373,36 23,75
**
4,15
Sisa 33 1908,19 57,82
Tidak Cocok 17 1231,36 72,43
1,71
ns
2,33
Galat 16 676,83 42,30

Keterangan :
** = Regresi sangat berarti (F
hitung
=23,75 >F
tabel
=4,15)
ns
= Regresi berbentuk linier (F
hitung
=1,71 <F
tabel
=2,33)

1. Uji Keberartian Regresi
Dari tabel di atas dimana harga F
hitung
sebesar 23,75 lebih besar dari
F
hitung
pada taraf nyata 0,05 dengan db pembilang 1 dan db penyebut
33 (n-2) =4,15. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa koefisien
arah regresi sangat berarti.

244

2. Uji Linieritas
Dari tabel ANAVA diperoleh harga F
hitung
sebesar 1,71 lebih kecil
dari F
tabel
pada taraf nyata 0,05 dengan db pembilang 17 (k-2) dan
db penyebut 16 (n-k) =2,33. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa regresi berbentuk linier.

C. Koefisien Korelasi antara Y dan X
1

1. Mencari Koefisien Korelasi r
y1

Rumus yang digunakan :
r
xy
=
( )( )
( ) ( ) ( ) ( )
2
2
2
2
X Y n X X n
Y X Y X n



Perhitungan :
r
y1
=
( )
( ) ( ( ) ( 11029041 11143895 10536516 10585400
10779966 10828440



r
y1
=
( )( ) 114854 48884
48474

r
y1
= 0,647
r
2
y1
= 0,419

2. Menguji Keberartian Koefisien Korelasi r
y1

Rumus yang digunakan :
t =
( )
2
yl
yl
1
2
r
r

n

245

Perhitungan :
t =
( ) 419 , 0 1
2 - 5 3 6469 , 0


t =
7626 , 0
7163 , 3

t = 4,873
Dari daftar distribusi t dengan taraf nyata 0,95 dan db 33 (n-2) dihasilkan
harga t
tabel
=1,697, jelas bahwa harga t
hitung
=4,873 lebih besar dar t
tabel
=
1,697. Ini berarti koefisien korelasi antara Supervisi Pengawas (X
1
)
dengan Kinerja Guru (Y) berarti.

D. Koefisien Determinasi
Dari perhitungan koefisen korelasi r
y1
diperoleh r = 0,647 sehingga
koefisien diterminasinya adalah (0,647)
2
= 0,419. Dengan terujinya
koefisien korelasi maka dinyatakan bahwa 41,85% variasi dalam Kinerja
Guru (Y) dapat dijelaskan oleh variabel Supervisi Pengawas (X
1
) melalui
= 2,921 + 0,992 X
1
. Sedangkan 58,15% varian Kinerja Guru (Y)
disebabkan oleh faktor lain.


246

7.2. Uji Hipotesis Kedua : Hubungan Antara X
2
dengan Y
DESKRIPSI DATA STATISTIK
n = 35 Y
2
= 318397 X
2
Y = 305744
Y = 3321 X
1
2
= 302440 X
1
X
2
= 298790
X
1
= 3246 X
2
2
= 295306 [X
1
]
2
= 10536516
X
2
= 3206 X
1
Y = 309384 [X
2
]
2
= 10278436


A. Perhitungan Persamaan Regresi Sederhana Y atas X
2

Rumus mencari nilai a dan b dari persamaan = a + b X
2
adalah :
a. =
( )( ) ( )( )
( )
2
2
2
2
2 2
2
2
X X n
Y X X X Y


b. =
( )( )
( )
2
2
2
2
2 2
X X n
Y X Y X n


Perhitungan
a. =
( )( ) ( )( )
( ) 10278436 295306 35
305744 3206 295306 3321


=
57274
495962

a. = 8,659
b. =
( ) ( )( )
( ) 10278436 295306 35
3321 3206 305744 35


=
57274
53914

b. = 0,941

247

Dengan demikian persamaan regresinya adalah :
= 8,659 + 0,941 X
2


B. Menguji Keberartian Regresi dan Linieritas Bentuk Regresi
Jumlah Kuadrat :
a. J K(T) =

2
Y
= 318397
b. J K(a) =
( )
n
2
Y


=
( )
35
3321
2

= 315115,46
c. J K(R) = J K(T) JK(a)
= 318397 315115,46
= 3281,543
d. J K(b) = J K(reg)
=

xy b
= b
(
(

|
.
|

\
|
|
.
|

\
|

n
Y X
- Y X
1
1
= 0,941
(

|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
35
3321 3206
- 05744 3
= 1450,032
e. J K(S) = J K(R) JK(b)
= 3281,543 1450,032
248

= 1831,51
f. J K(G) = 891,50 (lampiran 6.4.2. Kuadrat Galat X
2
- Y)
g. J K(TC) = J K(S) JK(G)
= 1831,51 891,50
= 940,01
Dengan harga-harga tersebut di atas didapat tabel ANAVA untuk uji
signifikansi dan linearitas regresi = 8,659 + 0,941 X
2
sebagaimana tabel
di bawah ini :

Tabel 7.1. : ANAVA untuk Regresi Linier = 8,659 + 0,941 X
2

S. Varian db JK RJK F
h

F
t

0,05
Total 35 318397 9097,06 - -
Reg.a 1 315115,46 315115,46
Reg.b 1 1450,03 1450,03 26,13
**
4,15
Sisa 33 1831,51 55,50
Tidak Cocok 16 940,01 58,75
1,12
ns
2,29
Galat 17 891,50 52,44

Keterangan :
** = Regresi sangat berarti (F
hitung
=26,13 >F
tabel
=4,15)
ns
= Regresi berbentuk linier (F
hitung
=1,12 <F
tabel
=2,29)

1. Uji Keberartian Regresi
Dari tabel di atas dimana harga F
hitung
sebesar 26,13 lebih besar dari
F
hitung
pada taraf nyata 0,05 dengan db pembilang 1 dan db penyebut
33 (n-2) =4,15. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa koefisien
arah regresi sangat berarti.

249

2. Uji Linieritas
Dari tabel ANAVA diperoleh harga F
hitung
sebesar 1,12 lebih kecil
dari F
tabel
pada taraf nyata 0,05 dengan db pembilang 16 (k-2) dan
db penyebut 17 (n-k) =2,29. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa regresi berbentuk linier.

C. Koefisien Korelasi antara Y dan X
2

1. Mencari Koefisien Korelasi r
y2

Rumus yang digunakan :
r
xy
=
( )( )
( ) ( ) ( ) ( )
2
2
2
2
2
2
2 2
Y Y n X X n
Y X Y X n



Perhitungan :
r
y2
=
( )
( ) ( ( ) ( 11029041 11143895 10278436 10335710
10647126 10701040



r
y2
=
( )( ) 114854 57274
53914

r
y2
= 0,665
r
2
y2
= 0,442

2. Menguji Keberartian Koefisien Korelas1 r
y2

Rumus yang digunakan :
t =
( )
2
2 y
2 y
1
2
r
r

n

250

Perhitungan :
t =
( ) 442 , 0 1
2 - 35 665 , 0


t =
7471 , 0
8186 , 3

t = 5,111
Dari daftar distribusi t dengan taraf nyata 0,95 dan db 33 (n-2) dihasilkan
harga t
tabel
=1,697, jelas bahwa harga t
hitung
=5,111 lebih besar dar t
tabel
=
1,697. Ini berarti koefisien korelasi antara Kualitas Kepemimpinan Kepala
Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru (Y) berarti.

E. Koefisien Determinasi
Dari perhitungan koefisen korelasi r
y1
diperoleh r = 0,665 sehingga
koefisien diterminasinya adalah (0,665)
2
= 0,442. Dengan terujinya
koefisien korelasi maka dinyatakan bahwa 44,19% variasi dalam
Kepuasan Kerja Guru (Y) dapat dijelaskan oleh variabel Kualitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah melalui (X
2
) = 8,659 + 0,941 X
2
.
Sedangkan 55,81% varian Kinerja Guru (Y) disebabkan oleh faktor lain.


251

7.3. Uji Hipotesis Ktiga : Perhitungan Regresi Ganda
DESKRIPSI DATA STATISTIK
n = 35 Y
2
= 318397 X
2
Y = 305744
Y = 3321 X
1
2
= 302440 X
1
X
2
= 298790
X
1
= 3246 X
2
2
= 295306 [X
1
]
2
= 10536516
X
2
= 3206 X
1
Y = 309384 [X
2
]
2
= 10278436


A. Perhitungan Persamaan Regresi Ganda
Rumus mencari nilai a dan b dari persamaan = a + b X
2
adalah :
Y =
n

Y
=
35
3321
= 94,89
1 X =
n

1 X
=
35
3246
= 92,74
2 X =
n

2 X
=
35
3206
= 91,60

2
y =

2
Y
( )
n
2
y


= 318397
( )
35
3321
2

= 3281,54


x
1
2
= X
1
2

( )
n
2
1 X


= 302440
( )
35
3246
2

= 1396,69
252

x
2
2
= X
2
2

( )
n
2
2 X


= 295306
( )
35
3206
2

= 1636,40
x
1y
= X
1
Y


( )( )
n

Y X1

= 309384
( )( )
35
3321 3246

= 1384,97
x
2y
= X
2
Y


( )( )
n

Y X2

= 305744
( )( )
35
3321 3206

= 1540,40
x
1
x
2
= X
1
X
2


( )( )
n

2 1 X X

= 298790
( )( )
35
3206 3246

= 1456,40
Dengan harga-harga tersebut dapat dihitung a
1
, a
2
dan a
0
a
1
=
( )( ) ( )( )
( )( ) ( )
2
2 1
2
2
2
1
2 2 1 1
2
2

x x x x
y x x x y x x

=
( )( ) ( )( )
( )( ) ( )
2
40 , 1456 40 , 1636 69 , 1396
40 , 1540 40 , 1456 97 , 1384 40 , 1636


253

=
54 , 164435
69 , 22928

= 0,139
a
2
=
( )( ) ( )( )
( )( ) ( )
2
2 1
2
2
2
1
1 2 1 2
2
1

x x x x
y x x x y x x

=
( )( ) ( )( )
( )( ) ( )
2
40 , 1456 40 , 1636 69 , 1396
97 , 1384 40 , 1456 40 , 1540 69 , 1396


=
54 , 164435
29 , 134382

= 0,82
a
0
= Y a
1
1 X a
2
2 X
= (94,89) (0,14)(92,74) (0,82)(91,60)
= 94,886 12,932 74,859
= 7,10
Dengan demikian persamaan regresi ganda adalah :
= 7,10 +0,82 X
1
+0,14 X
2


B. Menguji Keberartian Regresi Ganda
a. J K(R) = y
2

= 3281,54
b. J K(reg) = a
1
y
2
y +a
2
x
2
y
= 0,14(1385) +0,82(1540,40)
= 1451,99
254

c. J K(S) = J K(R) JK(reg)
= 3281,54 1451,99
= 1829,56
Dengan k =2 dan n =68, maka :
F =
) 1 k n (
) S ( J K
k
) reg ( J K


=
) 1 2 35 (
56 , 1829
2
99 , 1451


=
35
56 , 1829
2
99 , 1451

=
17 , 57
99 , 725

F = 12,698

Dari perhitungan di atas dimana harga f
hitung
sebesar 12,698 lebih besar
dari F
tabel
pada taraf nyata 0,05 dengan db pembilang 2 dan db penyebut
32 (n-3) =3,29. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa koefisien arah
Regresi sangat berarti.

C. Koefisien Korelasi Ganda (Ry.
12
)
1. Mencari Koefisien Korelasi Rry.
12

R
2
y.
12
=
) R ( J K
) reg ( J K

255

=
54 , 3281
99 , 1451

= 0,442
Ry.
12
= 442 , 0
= 0,665
2. Menguji Keberartian Koefisien Korelasi Ry.
12

F =
( )
) 3 n (
1
2
2
2

R
R

=
( )
) 3 35 (
665 , 0 1
2
665 , 0


= 31,788
F
h
= F
(0,05:2/32)
= 3,29 (lihat tabel pada lampiran 8)
Karena F
h
=31,788 >F
t
=3,29, maka koefisien korelasi Ry.
12
sangat
berarti atau signifikan.

D. Koefisien Determenasi
Dari perhitungan koefisien Ry.
12
diperoleh harga R =0,665, sehingga
koefisien determenasinya adalah (0,665)
2
= 0,442. Dengan demikian
terujinya koefisien korelasi maka dinyatakan bahwa 44,25% variasi dalam
Kinerja Guru (Y) dapat dijelaskan oleh variabel Suprvisi Pengawas (X
1
)
dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) melalui = 7,10 + 0,82
X
1
+0,14 X
2
. Sedangkan 55,75% variasi Kinerja Guru (Y) disebabkan
oleh faktor lain.
256

7.4. Uji Regresi Persial
Sebelum menghitung koefisien korelasi persial, terlebih dahulu dihitung
koefisien korelasi antara variabel Supervisi Pengawas (X
1
) dan variabel
Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) sebagai berikut :
r
12
=
( )( )

2
2
2
1
2 1
x x
x x

=
( )( ) 40 , 1636 69 , 1396
40 , 1456

= 0,963

1. Koefisien Korelasi persial antara Y dan X
1
dengan menganggap X
2

tetap.
r
y12
=
( )( )
2
12
2
2
12 2 1
1 1
-
r y r
r y r y r


=
( )( )
( )( ) 9281 , 0 1 4419 , 0 1
963 , 0 6647 , 0 6469 , 0



= 0,399
Uji signifikasi koefisien korelasi persial (r
y12
) dapat dilakukan sebagai
berikut :
t =
( )
2
2 1 y
2 1 y
. 1
3 .
r
r

n

t =
( ) 1592 , 0 1
3 - 35 399 , 0


t = 2,462
257

Dari daftar distribusi t dengan taraf nyata 0,05 dan db 32 (n-3) diperoleh
t
tabel
=2,042, jelas bahwa harga t
hitung
=2,462 lebih besar dari t
tabel
=2,042
ini berarti koefisien korelasi antara Supervisi Pengawas (X
1
) dengan
Kepuasan Kerja Guru (Y) jika Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
(X
2
) dikontrol signifikan.

2. Koefisien Korelasi persial antara Y dan X
2
dengan menganggap X
1

tetap.
r
y2
.
1
=
( )( )
2
12
2
1
12 1 1
1 1
-
r y r
r y r y r


=
( )( )
( )( ) 9281 , 0 1 4185 , 0 1
46 , 2 6469 , 0 6647 , 0



= 0,357
Uji signifikasi koefisien korelasi persial (r
y2.1
) dapat dilakukan sebagai
berikut :
t =
( )
2
21 y
21 y
1
3
r
r

n

t =
( )
2
1274 , 0 1
3 - 35 357 , 0


t = 2,162

Dari daftar distribusi t dengan taraf nyata 0,05 dan db 32 (n-3) diperoleh
t
tabel
=2,042, jelas bahwa harga t
hitung
=2,162. Ini berarti koefisien korelasi
antara Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (X
2
) dengan Kinerja Guru
(Y) jika Supervisi Pengawas (X
1
) dikontrol signifikan.
258

LAMPIRAN 8
TABEL BANTU STATISTIK



8.1. LUAS DI BAWAH LENGKUNGAN KURVE
NORMAL DARI 0 S.D. Z
8.2. NILAI-NILAI DALA DISTRIBUSI t
8.3. NILAI-NILAI r PRODUCT MOMENT
8.4. NILAI-NILAI CHI KUADRAT
8.5. NILAI-NILAI UNTUK DISTRIBUSI F
8.6. NILAI KRISTIS UNTUK UJ I LILLIEFORS




259

TABEL 8.1
LUAS DIBAWAH LENGKUNGAN NORMAL
DARI 0 S.D. Z

Z 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
0,0 00,00 00,40 00,80 01,20 01,60 01,99 02,39 02,79 03,19 03,59
0,1 03,98 04,38 04,78 05,17 05,57 05,96 06,36 06,75 07,14 07,53
0,2 07,93 08,32 08,71 09,10 09,48 09,87 10,26 10,64 11,03 11,41
0,3 11,79 12,17 12,55 12,93 13,31 13,68 14,06 14,43 14,80 15,17
0,4 15,54 15,91 16,28 16,64 17,00 17,36 17,72 18,08 18,44 18,79

0,5 19,15 19,50 19,85 20,19 20,54 20,88 21,23 21,57 21,90 22,24
0,6 22,57 22,91 23,24 23,57 23,89 24,22 24,54 24,86 25,17 25,49
0,7 25,80 26,11 26,42 26,73 27,04 27,34 27,64 27,94 28,23 28,52
0,8 28,81 29,10 29,39 29,67 29,95 30,23 30,51 30,78 31,06 31,33
0,9 31,59 31,86 32,12 32,38 32,64 32,89 33,15 33,40 33,65 33,89

1,0 34,13 34,38 34,61 34,85 35,08 35,31 35,54 35,77 35,99 36,21
1,1 36,43 36,65 36,86 37,08 37,29 37,49 37,70 37,90 38,10 38,30
1,2 38,49 38,69 38,88 39,07 39,25 39,44 39,62 39,80 39,97 40,15
1,3 40,32 40,49 40,66 40,82 40,99 41,15 41,31 41,47 41,62 41,77
1,4 41,92 42,07 42,22 42,36 42,51 42,65 42,79 42,92 43,06 43,19

1,5 43,32 43,45 43,57 43,70 43,82 43,94 44,06 44,18 44,29 44,41
1,6 44,52 44,63 44,74 44,84 44,95 45,05 45,15 45,25 45,35 45,45
1,7 45,54 45,64 45,73 45,82 45,91 45,99 46,08 46,16 46,25 46,33
1,8 46,41 46,49 46,56 46,64 46,71 46,78 46,86 46,93 46,99 47,06
1,9 47,13 47,19 47,26 47,32 47,38 47,44 47,50 47,56 47,61 47,67

2,0 47,72 47,78 47,83 47,88 47,93 47,98 48,03 48,08 48,12 48,17
2,1 48,21 48,26 48,30 48,34 48,38 48,42 48,46 48,50 48,54 48,57
2,2 48,61 48,64 48,68 48,71 48,75 48,78 48,81 48,84 48,87 48,90
2,3 48,93 48,96 48,98 49,01 49,04 49,06 49,09 49,11 49,13 49,16
2,4 49,18 49,20 49,22 49,25 49,27 49,29 49,31 49,32 49,34 49,36

2,5 49,38 49,40 49,41 49,43 49,45 49,46 49,48 49,49 49,51 49,52
2,6 49,53 49,55 49,56 49,57 49,59 49,60 49,61 49,62 49,63 49,64
2,7 49,65 49,66 49,67 49,68 49,69 49,70 49,71 49,72 49,73 49,74
2,8 49,74 49,75 49,76 49,77 49,77 49,78 49,79 49,79 49,80 49,81
2,9 49,81 49,82 49,82 49,83 49,84 49,84 49,85 49,85 49,86 49,86

3,0 49,87 49,87 49,87 49,88 49,88 49,89 49,89 49,89 49,90 49,90
3,1 49,90 49,91 49,91 49,91 49,92 49,92 49,92 49,92 49,93 49,93
3,2 49,93 49,93 49,94 19,94 49,94 49,94 49,94 49,95 49,95 49,95
3,3 49,95 49,95 49,95 49,96 49,96 49,96 49,96 49,96 49,97 49,97
3,4 49,97 49,97 49,97 49,97 49,97 49,97 40,07 49,97 49,97 49,98

3,5 49,98 49,98 49,98 49,98 49,98 49,98 49,98 49,98 49,98 49,98
3,6 49,98 49,98 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99
3,7 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99
3,8 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99 49,99
3,9 50,00 50,00 50,00 50,00 50,00 50,00 50,00 50,00 50,00 50,00

260

TABEL 8.2
NILAI-NILAI DALAM DISTRIBUSI t

untuk uji dua fijak (two tail test)

0,50 0,20 0,10 0,05 0,02 0,01
untuk uji satu fijak (one tail test)
dk 0,25 0,10 0,05 0,025 0,01 0,005
1 1,000 3,078 6,314 12,706 31,821 63,657
2 0,816 1,886 2,920 4,303 6,965 9,925
3 0,765 1,638 2,353 3,182 4,541 5,841
4 0,741 1,533 2,132 2,776 3,747 4,604
5 0,727 1,476 2,015 2,571 3,365 4,032
6 0,718 1,440 1,943 2,447 3,143 3,707
7 0,711 1,415 1,895 2,365 2,998 3,499
8 0,706 1,397 1,860 2,306 2,896 3,355
9 0,703 1,383 1,833 2,262 2,821 3,250
10 0,700 1,372 1,812 2,228 2,764 3,169
11 0,697 1,363 1,796 2,201 2,718 3,106
12 0,695 1,356 1,782 2,179 2,681 3,055
13 0,694 1,350 1,771 2,160 2,650 3,012
14 0,692 1,345 1,761 2,145 2,624 2,977
15 0,691 1,341 1,753 2,131 2,602 2,947
16 0,690 1,337 1,746 2,120 2,583 2,921
17 0,689 1,333 1,740 2,110 2,567 2,898
18 0,688 1,330 1,734 2,101 2,552 2,878
19 0,688 1,328 1,729 2,093 2,539 2,861
20 0,687 1,325 1,725 2,086 2,528 2,845
21 0,686 1,323 1,721 2,080 2,518 2,831
22 0,686 1,321 1,717 2,074 2,508 2,819
23 0,685 1,319 1,714 2,069 2,500 2,807
24 0,685 1,318 1,711 2,064 2,492 2,797
25 0,684 1,316 1,708 2,060 2,485 2,787
26 0,684 1,315 1,706 2,056 2,479 2,779
27 0,684 1,314 1,703 2,052 2,473 2,771
28 0,683 1,313 1,701 2,048 2,467 2,763
29 0,683 1,311 1,699 2,045 2,462 2,756
30 0,683 1,310 1,697 2,042 2,457 2,750
40 0,681 1,303 1,684 2,021 2,423 2,704
60 0,679 1,296 1,671 2,000 2,390 2,660
120 0,677 1,289 1,658 1,980 2,358 2,617
0,674 1,282 1,645 1,960 2,326 2,576

Sumber : R. Santosa Murwani, 2007. Statistik Terapan (Teknik Analisis Data)
261

TABEL 8.3
NILAI-NILAI r PRODUCT MOMENT

N
Taraf Signifikan
N
Taraf Signifikan
N
Taraf Signifikan
5% 1% 5% 1% 5% 1%
3 0.997 0.999 27 0.381 0.487 55 0.266 0.345
4 0.950 0.990 28 0.374 0.478 60 0.254 0.330
5 0.878 0.959 29 0.367 0.470 65 0.244 0.317

6 0.811 0.917 30 0.361 0.463 70 0.235 0.306
7 0.754 0.874 31 0.355 0.456 75 0.227 0.296
8 0.707 0.834 32 0.349 0.449 80 0.220 0.286
9 0.666 0.798 33 0.344 0.442 85 0.213 0.278
10 0.632 0.765 34 0.339 0.436 90 0.207 0.270

11 0.602 0.735 35 0.334 0.430 95 0.202 0.263
12 0.576 0.708 36 0.329 0.424 100 0.195 0.256
13 0.553 0.684 37 0.325 0.418 125 0.176 0.230
14 0.532 0.661 38 0.320 0.413 150 0.159 0.210
15 0.514 0.641 39 0.316 0.408 175 0.148 0.194

16 0.497 0.623 40 0.312 0.403 200 0.138 0.181
17 0.482 0.606 41 0.308 0.398 300 0.113 0.148
18 0.468 0.590 42 0.304 0.393 400 0.098 0.128
19 0.456 0.575 43 0.301 0.389 500 0.088 0.115
20 0.444 0.561 44 0.297 0.384 600 0.080 0.105

21 0.433 0.549 45 0.294 0.380 700 0.074 0.097
22 0.423 0.537 46 0.291 0.376 800 0.070 0.091
23 0.413 0.526 47 0.288 0.372 900 0.065 0.086
24 0.404 0.515 48 0.284 0.368 1000 0.062 0.081
25 0.396 0.505 49 0.281 0.364

26 0.388 0.496 50 0.279 0.361
262

TABEL 8.4
NILAI-NILAI CHI KUADRAT

dk
Taraf Signifikansi
50% 30% 20% 10% 5% 1%
1 0.455 1.074 1.642 2.706 3.481 6.635
2 0.139 2.408 3.219 3.605 5.591 9.210
3 2.366 3.665 4.642 6.251 7.815 11.341
4 3.357 4.878 5.989 7.779 9.488 13.277
5 4.351 6.064 7.289 9.236 11.070 15.086

6 5.348 7.231 8.558 10.645 12.592 16.812
7 6.346 8.383 9.803 12.017 14.017 18.475
8 7.344 9.524 11.030 13.362 15.507 20.090
9 8.343 10.656 12.242 14.684 16.919 21.666
10 9.342 11.781 13.442 15.987 18.307 23.209

11 10.341 12.899 14.631 17.275 19.675 24.725
12 11.340 14.011 15.812 18.549 21.026 26.217
13 12.340 15.119 16.985 19.812 22.368 27.688
14 13.332 16.222 18.151 21.064 23.685 29.141
15 14.339 17.322 19.311 22.307 24.996 30.578

16 15.338 18.418 20.465 23.542 26.296 32.000
17 16.337 19.511 21.615 24.785 27.587 33.409
18 17.338 20.601 22.760 26.028 28.869 34.805
19 18.338 21.689 23.900 27.271 30.144 36.191
20 19.337 22.775 25.038 28.514 31.410 37.566

21 20.337 23.858 26.171 29.615 32.671 38.932
22 21.337 24.939 27.301 30.813 33.924 40.289
23 22.337 26.018 28.429 32.007 35.172 41.638
24 23.337 27.096 29.553 33.194 35.415 42.980
25 24.337 28.172 30.675 34.382 37.652 44.314

26 25.336 29.246 31.795 35.563 38.885 45.642
27 26.336 30.319 32.912 36.741 40.113 46.963
28 27.336 31.391 34.027 37.916 41.337 48.278
29 28.336 32.461 35.139 39.087 42.557 49.588
30 29.336 33.530 36.250 40.256 43.775 50.892
263

TABEL 8.5
NILAI-NILAI UNTUK DISTRIBUSI F

Baris atas untuk 5%
Baris bawah untuk 1%

V2 dk
Penye-
but
V1 dk Pembilang
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 14 16 20 24 30 40 50 75 100 200 500
1
161,45 199,50 215,71 224,58 230,16 233,99 236,77 238,88 240,54 241,88 242,98 243,91 245,36 246,46 248,01 249,05 250,10 251,14 251,77 252,62 253,04 253,68 254,06
4,052 4,999 5,403 5,625 5,764 5,859 5,928 5,981 6,022 6,056 6,083 6,106 6,143 6,17 6,209 6,235 6,261 6,287 6,303 6,324 6,334 6,35 6,36
2
18,51 19,00 19,16 19,25 19,30 19,33 19,35 19,37 19,38 19,40 19,40 19,41 19,42 19,43 19,45 19,45 19,46 19,47 19,48 19,48 19,49 19,49 19,49
98,50 99,00 99,17 99,25 99,30 99,33 99,36 99,37 99,39 99,40 99,41 99,42 99,43 99,44 99,45 99,46 99,47 99,47 99,48 99,49 99,49 99,49 99,50
3
10,13 9,55 9,28 9,12 9,01 8,94 8,89 8,85 8,81 8,79 8,76 8,74 8,71 8,69 8,66 8,64 8,62 8,59 8,58 8,56 8,55 8,54 8,53
34,12 30,82 29,46 28,71 28,24 27,91 27,67 27,49 27,35 27,23 27,13 27,05 26,92 26,83 26,69 26,60 26,50 26,41 26,35 26,28 26,24 26,18 26,15
4
7,71 6,94 6,59 6,39 6,26 6,16 6,09 6,04 6,00 5,96 5,94 5,91 5,87 5,84 5,80 5,77 5,75 5,72 5,70 5,68 5,66 5,65 5,64
21,20 18,00 16,69 15,98 15,52 15,21 14,98 14,80 14,66 14,55 14,45 14,37 14,25 14,15 14,02 13,93 13,84 13,75 13,69 13,61 13,58 13,52 13,49
5
6,61 5,79 5,41 5,19 5,05 4,95 4,88 4,82 4,77 4,74 4,70 4,68 4,64 4,60 4,56 4,53 4,50 4,46 4,44 4,42 4,41 4,39 4,37
16,26 13,27 12,06 11,39 10,97 10,67 10,46 10,29 10,16 10,05 9,96 9,89 9,77 9,68 9,55 9,47 9,38 9,29 9,24 9,17 9,13 9,08 9,04
6
5,99 5,14 4,76 4,53 4,39 4,28 4,21 4,15 4,10 4,06 4,03 4,00 3,96 3,92 3,87 3,84 3,81 3,77 3,75 3,73 3,71 3,69 3,68
13,75 10,92 9,78 9,15 8,75 8,47 8,26 8,10 7,98 7,87 7,79 7,72 7,60 7,52 7,40 7,31 7,23 7,14 7,09 7,02 6,99 6,93 6,90
7
5,59 4,74 4,35 4,12 3,97 3,87 3,79 3,73 3,68 3,64 3,60 3,57 3,53 3,49 3,44 3,41 3,38 3,34 3,32 3,29 3,27 3,25 3,24
12,25 9,55 8,45 7,85 7,46 7,19 6,99 6,84 6,72 6,62 6,54 6,47 6,36 6,28 6,16 6,07 5,99 5,91 5,86 5,79 5,75 5,70 5,67
8
5,32 4,46 4,07 3,84 3,69 3,58 3,50 3,44 3,39 3,35 3,31 3,28 3,24 3,20 3,15 3,12 3,08 3,04 3,02 2,99 2,97 2,95 2,94
11,26 8,65 7,59 7,01 6,63 6,37 6,18 6,03 5,91 5,81 5,73 5,67 5,56 5,48 5,36 5,28 5,20 5,12 5,07 5,00 4,96 4,91 4,88
9
5,12 4,26 3,86 3,63 3,48 3,37 3,29 3,23 3,18 3,14 3,10 3,07 3,03 2,99 2,94 2,90 2,86 2,83 2,80 2,77 2,76 2,73 2,72
10,56 8,02 6,99 6,42 6,06 5,80 5,61 5,47 5,35 5,26 5,18 5,11 5,01 4,92 4,81 4,73 4,65 4,57 4,52 4,45 4,41 4,36 4,33
10
4,96 4,10 3,71 3,48 3,33 3,22 3,14 3,07 3,02 2,98 2,94 2,91 2,86 2,83 2,77 2,74 2,70 2,66 2,64 2,60 2,59 2,56 2,55
10,04 7,56 6,55 5,99 5,64 5,39 5,20 5,06 4,94 4,85 4,77 4,71 4,60 4,52 4,41 4,33 4,25 4,17 4,12 4,05 4,01 3,96 3,93
11
4,84 3,98 3,59 3,36 3,20 3,09 3,01 2,95 2,90 2,85 2,82 2,79 2,74 2,70 2,65 2,61 2,57 2,53 2,51 2,47 2,46 2,43 2,42
9,65 7,21 6,22 5,67 5,32 5,07 4,89 4,74 4,63 4,54 4,46 4,40 4,29 4,21 4,10 4,02 3,94 3,86 3,81 3,74 3,71 3,66 3,62


V2 dk
Penye-
but
V1 dk Pembilang
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 14 16 20 24 30 40 50 75 100 200 500
12
4,75 3,89 3,49 3,26 3,11 3,00 2,91 2,85 2,80 2,75 2,72 2,69 2,64 2,60 2,54 2,51 2,47 2,43 2,40 2,37 2,35 2,32 2,31
9,33 6,93 5,95 5,41 5,06 4,82 4,64 4,50 4,39 4,30 4,22 4,16 4,05 3,97 3,86 3,78 3,70 3,62 3,57 3,50 3,47 3,41 3,38
13
4,67 3,81 3,41 3,18 3,03 2,92 2,83 2,77 2,71 2,67 2,63 2,60 2,55 2,51 2,46 2,42 2,38 2,34 2,31 2,28 2,26 2,23 2,22
9,07 6,70 5,74 5,21 4,86 4,62 4,44 4,30 4,19 4,10 4,02 3,96 3,86 3,78 3,66 3,59 3,51 3,43 3,38 3,31 3,27 3,22 3,19
14
4,60 3,74 3,34 3,11 2,96 2,85 2,76 2,70 2,65 2,60 2,57 2,53 2,48 2,44 2,39 2,35 2,31 2,27 2,24 2,21 2,19 2,16 2,14
8,86 6,51 5,56 5,04 4,69 4,46 4,28 4,14 4,03 3,94 3,86 3,80 3,70 3,62 3,51 3,43 3,35 3,27 3,22 3,15 3,11 3,06 3,03
15
4,54 3,68 3,29 3,06 2,90 2,79 2,71 2,64 2,59 2,54 2,51 2,48 2,42 2,38 2,33 2,29 2,25 2,20 2,18 2,14 2,12 2,10 2,08
8,68 6,36 5,42 4,89 4,56 4,32 4,14 4,00 3,89 3,80 3,73 3,67 3,56 3,49 3,37 3,29 3,21 3,13 3,08 3,01 2,98 2,92 2,89
16
4,49 3,63 3,24 3,01 2,85 2,74 2,66 2,59 2,54 2,49 2,46 2,42 2,37 2,33 2,28 2,24 2,19 2,15 2,12 2,09 2,07 2,04 2,02
8,53 6,23 5,29 4,77 4,44 4,20 4,03 3,89 3,78 3,69 3,62 3,55 3,45 3,37 3,26 3,18 3,10 3,02 2,97 2,90 2,86 2,81 2,78
17
4,45 3,59 3,20 2,96 2,81 2,70 2,61 2,55 2,49 2,45 2,41 2,38 2,33 2,29 2,23 2,19 2,15 2,10 2,08 2,04 2,02 1,99 1,97
8,40 6,11 5,18 4,67 4,34 4,10 3,93 3,79 3,68 3,59 3,52 3,46 3,35 3,27 3,16 3,08 3,00 2,92 2,87 2,80 2,76 2,71 2,68
18
4,41 3,55 3,16 2,93 2,77 2,66 2,58 2,51 2,46 2,41 2,37 2,34 2,29 2,25 2,19 2,15 2,11 2,06 2,04 2,00 1,98 1,95 1,93
8,29 6,01 5,09 4,58 4,25 4,01 3,84 3,71 3,60 3,51 3,43 3,37 3,27 3,19 3,08 3,00 2,92 2,84 2,78 2,71 2,68 2,62 2,59
19
4,38 3,52 3,13 2,90 2,74 2,63 2,54 2,48 2,42 2,38 2,34 2,31 2,26 2,21 2,16 2,11 2,07 2,03 2,00 1,96 1,94 1,91 1,89
8,18 5,93 5,01 4,50 4,17 3,94 3,77 3,63 3,52 3,43 3,36 3,30 3,19 3,12 3,00 2,92 2,84 2,76 2,71 2,64 2,60 2,55 2,51
20
4,35 3,49 3,10 2,87 2,71 2,60 2,51 2,45 2,39 2,35 2,31 2,28 2,22 2,18 2,12 2,08 2,04 1,99 1,97 1,93 1,91 1,88 1,86
8,10 5,85 4,94 4,43 4,10 3,87 3,70 3,56 3,46 3,37 3,29 3,23 3,13 3,05 2,94 2,86 2,78 2,69 2,64 2,57 2,54 2,48 2,44
21
4,32 3,47 3,07 2,84 2,68 2,57 2,49 2,42 2,37 2,32 2,28 2,25 2,20 2,16 2,10 2,05 2,01 1,96 1,94 1,90 1,88 1,84 1,83
8,02 5,78 4,87 4,37 4,04 3,81 3,64 3,51 3,40 3,31 3,24 3,17 3,07 2,99 2,88 2,80 2,72 2,64 2,58 2,51 2,48 2,42 2,38
22
4,30 3,44 3,05 2,82 2,66 2,55 2,46 2,40 2,34 2,30 2,26 2,23 2,17 2,13 2,07 2,03 1,98 1,94 1,91 1,87 1,85 1,82 1,80
7,95 5,72 4,82 4,31 3,99 3,76 3,59 3,45 3,35 3,26 3,18 3,12 3,02 2,94 2,83 2,75 2,67 2,58 2,53 2,46 2,42 2,36 2,33
23
4,28 3,42 3,03 2,80 2,64 2,53 2,44 2,37 2,32 2,27 2,24 2,20 2,15 2,11 2,05 2,01 1,96 1,91 1,88 1,84 1,82 1,79 1,77
7,88 5,66 4,76 4,26 3,94 3,71 3,54 3,41 3,30 3,21 3,14 3,07 2,97 2,89 2,78 2,70 2,62 2,54 2,48 2,41 2,37 2,32 2,28
264

V2 dk
Penye-
but
V1 dk Pembilang
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 14 16 20 24 30 40 50 75 100 200 500
24
4,26 3,40 3,01 2,78 2,62 2,51 2,42 2,36 2,30 2,25 2,22 2,18 2,13 2,09 2,03 1,98 1,94 1,89 1,86 1,82 1,80 1,77 1,75
7,82 5,61 4,72 4,22 3,90 3,67 3,50 3,36 3,26 3,17 3,09 3,03 2,93 2,85 2,74 2,66 2,58 2,49 2,44 2,37 2,33 2,27 2,24
25
4,24 3,39 2,99 2,76 2,60 2,49 2,40 2,34 2,28 2,24 2,20 2,16 2,11 2,07 2,01 1,96 1,92 1,87 1,84 1,80 1,78 1,75 1,73
7,77 5,57 4,68 4,18 3,85 3,63 3,46 3,32 3,22 3,13 3,06 2,99 2,89 2,81 2,70 2,62 2,54 2,45 2,40 2,33 2,29 2,23 2,19
26
4,23 3,37 2,98 2,74 2,59 2,47 2,39 2,32 2,27 2,22 2,18 2,15 2,09 2,05 1,99 1,95 1,90 1,85 1,82 1,78 1,76 1,73 1,71
7,72 5,53 4,64 4,14 3,82 3,59 3,42 3,29 3,18 3,09 3,02 2,96 2,86 2,78 2,66 2,58 2,50 2,42 2,36 2,29 2,25 2,19 2,16
27
4,21 3,35 2,96 2,73 2,57 2,46 2,37 2,31 2,25 2,20 2,17 2,13 2,08 2,04 1,97 1,93 1,88 1,84 1,81 1,76 1,74 1,71 1,69
7,68 5,49 4,60 4,11 3,78 3,56 3,39 3,26 3,15 3,06 2,99 2,93 2,82 2,75 2,63 2,55 2,47 2,38 2,33 2,26 2,22 2,16 2,12
28
4,20 3,34 2,95 2,71 2,56 2,45 2,36 2,29 2,24 2,19 2,15 2,12 2,06 2,02 1,96 1,91 1,87 1,82 1,79 1,75 1,73 1,69 1,67
7,64 5,45 4,57 4,07 3,75 3,53 3,36 3,23 3,12 3,03 2,96 2,90 2,79 2,72 2,60 2,52 2,44 2,35 2,30 2,23 2,19 2,13 2,09
29
4,18 3,33 2,93 2,70 2,55 2,43 2,35 2,28 2,22 2,18 2,14 2,10 2,05 2,01 1,94 1,90 1,85 1,81 1,77 1,73 1,71 1,67 1,65
7,60 5,42 4,54 4,04 3,73 3,50 3,33 3,20 3,09 3,00 2,93 2,87 2,77 2,69 2,57 2,49 2,41 2,33 2,27 2,20 2,16 2,10 2,06
30
4,17 3,32 2,92 2,69 2,53 2,42 2,33 2,27 2,21 2,16 2,13 2,09 2,04 1,99 1,93 1,89 1,84 1,79 1,76 1,72 1,70 1,66 1,64
7,56 5,39 4,51 4,02 3,70 3,47 3,30 3,17 3,07 2,98 2,91 2,84 2,74 2,66 2,55 2,47 2,39 2,30 2,25 2,17 2,13 2,07 2,03
32
4,15 3,29 2,90 2,67 2,51 2,40 2,31 2,24 2,19 2,14 2,10 2,07 2,01 1,97 1,91 1,86 1,82 1,77 1,74 1,69 1,67 1,63 1,61
7,50 5,34 4,46 3,97 3,65 3,43 3,26 3,13 3,02 2,93 2,86 2,80 2,70 2,62 2,50 2,42 2,34 2,25 2,20 2,12 2,08 2,02 1,98
34
4,13 3,28 2,88 2,65 2,49 2,38 2,29 2,23 2,17 2,12 2,08 2,05 1,99 1,95 1,89 1,84 1,80 1,75 1,71 1,67 1,65 1,61 1,59
7,44 5,29 4,42 3,93 3,61 3,39 3,22 3,09 2,98 2,89 2,82 2,76 2,66 2,58 2,46 2,38 2,30 2,21 2,16 2,08 2,04 1,98 1,94
36
4,11 3,26 2,87 2,63 2,48 2,36 2,28 2,21 2,15 2,11 2,07 2,03 1,98 1,93 1,87 1,82 1,78 1,73 1,69 1,65 1,62 1,59 1,56
7,40 5,25 4,38 3,89 3,57 3,35 3,18 3,05 2,95 2,86 2,79 2,72 2,62 2,54 2,43 2,35 2,26 2,18 2,12 2,04 2,00 1,94 1,90
38
4,10 3,24 2,85 2,62 2,46 2,35 2,26 2,19 2,14 2,09 2,05 2,02 1,96 1,92 1,85 1,81 1,76 1,71 1,68 1,63 1,61 1,57 1,54
7,35 5,21 4,34 3,86 3,54 3,32 3,15 3,02 2,92 2,83 2,75 2,69 2,59 2,51 2,40 2,32 2,23 2,14 2,09 2,01 1,97 1,90 1,86
40
4,08 3,23 2,84 2,61 2,45 2,34 2,25 2,18 2,12 2,08 2,04 2,00 1,95 1,90 1,84 1,79 1,74 1,69 1,66 1,61 1,59 1,55 1,53
7,31 5,18 4,31 3,83 3,51 3,29 3,12 2,99 2,89 2,80 2,73 2,66 2,56 2,48 2,37 2,29 2,20 2,11 2,06 1,98 1,94 1,87 1,83
42
4,07 3,22 2,83 2,59 2,44 2,32 2,24 2,17 2,11 2,06 2,03 1,99 1,94 1,89 1,83 1,78 1,73 1,68 1,65 1,60 1,57 1,53 1,51
7,28 5,15 4,29 3,80 3,49 3,27 3,10 2,97 2,86 2,78 2,70 2,64 2,54 2,46 2,34 2,26 2,18 2,09 2,03 1,95 1,91 1,85 1,80
44
4,06 3,21 2,82 2,58 2,43 2,31 2,23 2,16 2,10 2,05 2,01 1,98 1,92 1,88 1,81 1,77 1,72 1,67 1,63 1,59 1,56 1,52 1,49
7,25 5,12 4,26 3,78 3,47 3,24 3,08 2,95 2,84 2,75 2,68 2,62 2,52 2,44 2,32 2,24 2,15 2,07 2,01 1,93 1,89 1,82 1,78


V2 dk
Penye-
but
V1 dk Pembilang
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 14 16 20 24 30 40 50 75 100 200 500
46
4,05 3,20 2,81 2,57 2,42 2,30 2,22 2,15 2,09 2,04 2,00 1,97 1,91 1,87 1,80 1,76 1,71 1,65 1,62 1,57 1,55 1,51 1,48
7,22 5,10 4,24 3,76 3,44 3,22 3,06 2,93 2,82 2,73 2,66 2,60 2,50 2,42 2,30 2,22 2,13 2,04 1,99 1,91 1,86 1,80 1,76
48
4,04 3,19 2,80 2,57 2,41 2,29 2,21 2,14 2,08 2,03 1,99 1,96 1,90 1,86 1,79 1,75 1,70 1,64 1,61 1,56 1,54 1,49 1,47
7,19 5,08 4,22 3,74 3,43 3,20 3,04 2,91 2,80 2,71 2,64 2,58 2,48 2,40 2,28 2,20 2,12 2,02 1,97 1,89 1,84 1,78 1,73
50
4,03 3,18 2,79 2,56 2,40 2,29 2,20 2,13 2,07 2,03 1,99 1,95 1,89 1,85 1,78 1,74 1,69 1,63 1,60 1,55 1,52 1,48 1,46
7,17 5,06 4,20 3,72 3,41 3,19 3,02 2,89 2,78 2,70 2,63 2,56 2,46 2,38 2,27 2,18 2,10 2,01 1,95 1,87 1,82 1,76 1,71
55
4,02 3,16 2,77 2,54 2,38 2,27 2,18 2,11 2,06 2,01 1,97 1,93 1,88 1,83 1,76 1,72 1,67 1,61 1,58 1,53 1,50 1,46 1,43
7,12 5,01 4,16 3,68 3,37 3,15 2,98 2,85 2,75 2,66 2,59 2,53 2,42 2,34 2,23 2,15 2,06 1,97 1,91 1,83 1,78 1,71 1,67
60
4,00 3,15 2,76 2,53 2,37 2,25 2,17 2,10 2,04 1,99 1,95 1,92 1,86 1,82 1,75 1,70 1,65 1,59 1,56 1,51 1,48 1,44 1,41
7,08 4,98 4,13 3,65 3,34 3,12 2,95 2,82 2,72 2,63 2,56 2,50 2,39 2,31 2,20 2,12 2,03 1,94 1,88 1,79 1,75 1,68 1,63
65
3,99 3,14 2,75 2,51 2,36 2,24 2,15 2,08 2,03 1,98 1,94 1,90 1,85 1,80 1,73 1,69 1,63 1,58 1,54 1,49 1,46 1,42 1,39
7,04 4,95 4,10 3,62 3,31 3,09 2,93 2,80 2,69 2,61 2,53 2,47 2,37 2,29 2,17 2,09 2,00 1,91 1,85 1,77 1,72 1,65 1,60
70
3,98 3,13 2,74 2,50 2,35 2,23 2,14 2,07 2,02 1,97 1,93 1,89 1,84 1,79 1,72 1,67 1,62 1,57 1,53 1,48 1,45 1,40 1,37
7,01 4,92 4,07 3,60 3,29 3,07 2,91 2,78 2,67 2,59 2,51 2,45 2,35 2,27 2,15 2,07 1,98 1,89 1,83 1,74 1,70 1,62 1,57
80
3,96 3,11 2,72 2,49 2,33 2,21 2,13 2,06 2,00 1,95 1,91 1,88 1,82 1,77 1,70 1,65 1,60 1,54 1,51 1,45 1,43 1,38 1,35
6,96 4,88 4,04 3,56 3,26 3,04 2,87 2,74 2,64 2,55 2,48 2,42 2,31 2,23 2,12 2,03 1,94 1,85 1,79 1,70 1,65 1,58 1,53
100
3,94 3,09 2,70 2,46 2,31 2,19 2,10 2,03 1,97 1,93 1,89 1,85 1,79 1,75 1,68 1,63 1,57 1,52 1,48 1,42 1,39 1,34 1,31
6,90 4,82 3,98 3,51 3,21 2,99 2,82 2,69 2,59 2,50 2,43 2,37 2,27 2,19 2,07 1,98 1,89 1,80 1,74 1,65 1,60 1,52 1,47
125
3,92 3,07 2,68 2,44 2,29 2,17 2,08 2,01 1,96 1,91 1,87 1,83 1,77 1,73 1,66 1,60 1,55 1,49 1,45 1,40 1,36 1,31 1,27
6,84 4,78 3,94 3,47 3,17 2,95 2,79 2,66 2,55 2,47 2,39 2,33 2,23 2,15 2,03 1,94 1,85 1,76 1,69 1,60 1,55 1,47 1,41
150
3,90 3,06 2,66 2,43 2,27 2,16 2,07 2,00 1,94 1,89 1,85 1,82 1,76 1,71 1,64 1,59 1,54 1,48 1,44 1,38 1,34 1,29 1,25
6,81 4,75 3,91 3,45 3,14 2,92 2,76 2,63 2,53 2,44 2,37 2,31 2,20 2,12 2,00 1,92 1,83 1,73 1,66 1,57 1,52 1,43 1,38
200
3,89 3,04 2,65 2,42 2,26 2,14 2,06 1,98 1,93 1,88 1,84 1,80 1,74 1,69 1,62 1,57 1,52 1,46 1,41 1,35 1,32 1,26 1,22
6,76 4,71 3,88 3,41 3,11 2,89 2,73 2,60 2,50 2,41 2,34 2,27 2,17 2,09 1,97 1,89 1,79 1,69 1,63 1,53 1,48 1,39 1,33
400
3,86 3,02 2,63 2,39 2,24 2,12 2,03 1,96 1,90 1,85 1,81 1,78 1,72 1,67 1,60 1,54 1,49 1,42 1,38 1,32 1,28 1,22 1,17
6,70 4,66 3,83 3,37 3,06 2,85 2,68 2,56 2,45 2,37 2,29 2,23 2,13 2,05 1,92 1,84 1,75 1,64 1,58 1,48 1,42 1,32 1,25
1000
3,85 3,00 2,61 2,38 2,22 2,11 2,02 1,95 1,89 1,84 1,80 1,76 1,70 1,65 1,58 1,53 1,47 1,41 1,36 1,30 1,26 1,19 1,13
6,66 4,63 3,80 3,34 3,04 2,82 2,66 2,53 2,43 2,34 2,27 2,20 2,10 2,02 1,90 1,81 1,72 1,61 1,54 1,44 1,38 1,28 1,19
265

TABEL 8.6
NILAI KRITIS L UNTUK UJI LILLIEFORS

Ukuran Sampel
Taraf Nyata ( )
0,01 0,05 0,10 0,15 0,20
n = 4 0,417 0,381 0,2352 0,319 0,300
5 0,405 0,337 0,315 0,299 0,285
6 0,364 0,319 0,294 0,277 0,265
7 0,348 0,300 0,276 0,258 0,247
8 0,331 0,285 0,261 0,244 0,233
9 0,311 0,271 0,249 0,233 0,223
10 0,294 0,258 0,239 0,224 0,215
11 0,284 0,249 0,230 0,217 0,206
12 0,275 0,242 0,223 0,212 0,199
13 0,268 0,234 0,214 0,202 0,190
14 0,261 0,227 0,207 0,194 0,183
15 0,257 0,220 0,201 0,187 0,177
16 0,250 0,213 0,195 0,183 0,177
17 0,245 0,206 0,289 0,177 0,169
18 0,239 0,200 0,184 0,173 0,166
19 0,235 0,195 0,179 0,169 0,163
20 0,231 0,190 0,174 0,166 0,160
25 0,200 0,173 0,158 0,147 0,142
30 0,187 0,161 0,144 0,136 0,181
n > 30
n
1,031

n
0,886

n
0,805

n
0,768

n
0,736

266

LAMPIRAN 9
SURAT KETERANGAN



9.1. PERMOHONAN IZIN UJ I COBA INSTRUMEN


9.2. SURAT KETERANGAN UJ I COBA INSTRUMEN


9.3. PERMOHONAN IZIN PENELITIAN


9.4. SURAT KETERANGAN PENELITIAN

267

LAMPIRAN 10
SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : ABDULMUNIR
N I M : 0808036278
Program Studi : Magister Administrasi Pendidikan Program Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA J akarta
Judul Tesis : Supervisi Pengawas Dan Kualitas Kepemimpinan
Kepala Sekolah Hubungannya Dengan Kinerja Guru
SMP Negeri Kecamatan Putussibau Selatan Dan
Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu
Dengan ini menyatakan bahwa :
1. Tesis yang saya buat dengan judul sebagaimana tersebut di atas beserta
isinya merupakan hasil penelitian saya sendiri.
2. Tesis tersebut bukanlah plagiat atau salinan tesis milik orang lain.
3. Apabila tesis saya adalah hasil plagiat atau menyalin tesis milik orang lain,
maka saya bersedia dituntut dimuka pengadilan serta dicabut segala
wewenang dan hak saya yang berhubungan dengan Ijazah dan gelar
Akademik Magister Administrasi Pendidikan (M.Pd.) sesuai dengan
ketenuan yang berlaku.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk di ketahui oleh
pihak-pihak yang berkepentingan.

Jakarta, Maret 2012
Yang Membuat Pernyataan,


ABDUL MUNIR
268

LAMPIRAN 11
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

ABDUL MUNIR, lahir di Selimbau, Kabupaten Kapuas
Hulu pada tanggal 4 Maret 1964, merupakan anak pertama
dari tujuh bersaudara, pasangan H. ACHMAD
MARZUKI dan Hj. DAYANG SAARAH.

Pada tahun 1977 menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar
di SD Negeri 3 Selimbau, dan pada tahun 1981 menyelesaikan pendidikan Sekolah
Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Selimbau, selanjutnya menyelesaikan Sekolah
Menengah Atas di SMA Negeri 3 Pontianak tahun 1984. Pada tahun 1990
berhasilmenyelesaikan pendidikan di FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak
mengambil program studi Pendidikan Koperasi Jurusan IPS.

Di tahun 2009 mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan pada
program Pascasarjana (S2) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA Jakarta
dalam program studi Administrasi Pendidikan.

Pengalaman sebagai pendidik, dimulai sejak Juli 1991 menjadi guru honorer
di SMA Panca Bhakti Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu. Sejak tanggal 1 Pebruari
1992 diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil sebagai guru dan ditempatkan di SMK
Negeri 1 Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Pada
tanggal 22 April 2002 diangkat menjabat Kepala SMK Negeri 1 Putussibau. Selama
menjadi kepala SMK SMK Negeri 1 Putussibau, yaitu pada tahun 2005 pernah
mengikuti program KEMITRAAN Kepala Sekolah Daerah Tertinggal dengan
Kepala Sekolah Daerah Maju di SMK Negeri 10 Jakarta Timur. Pada tanggal 28
Pebruari 2007 diangkat menjadi Pengawas SMP, SMA dan SMK di Kabupaten
Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat sampai sekarang. Pada tanggal 11 Oktober
2011 menjadi Ketua Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Kabupaten
Kapuas Hulu. Pada tanggal 5 Mei 1991 menikah dengan Dra. Hj. ASYURAWATI
dan dikaruniai dua putra putri, yaitu ACHMAD FAISAL dan ALI HASYMI.