Anda di halaman 1dari 3

1.

Karies gigi

a. Definisi karies gigi
Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email,
dentin dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam
suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah adanya demineralisasi
jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organiknya.
Akibatnya, terjadi invasi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya
ke jaringan periapeks sehingga dapat menyebabkan rasa ngilu sampai rasa nyeri
(Kidd and Bechal,1987).
b. Etiologi Karies gigi
Karies gigi dapat terjadi pada setiap permukaan gigi di dalam rongga
mulut (Hongini and Aditiawarman, 2012).Karies disebabkan oleh plak gigi, peran
karbohidrat dalam makanan, kerentanan permukaan gigi dan waktu. Beberapa
jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan glukosa, dapat diragikan oleh
bakteri tertentu sehingga membentuk asam sehingga pH plak akan menurun
sampai di bawah 5 dalam tempo 1-3 menit. Penurunan pH yang berulang-ulang
dalam waktu tertentu mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi yang rentan
dan proses dari karies dimulai. Karies hanya dapat terjadi apabila keempat faktor
diatas ada (Kidd and Bechal,1987).
Plak gigi merupakan lengketan yang berisi bakteri beserta produk-
produknya, yang terbentuk pada semua permukaan gigi. Akumulasi bakteri ini
tidak terjadi secara kebetulan melainkan terbentuk melalui serangkaian tahapan.
Bakteri yang mula-mula menghuni pelikel terutama yang berbentuk kokus.
Bakteri yang peling banyak ditemui adalah Streptococcus. Organisme tersebut
tumbuh, berkembang biak dan mengeluarkan gel estra-sel yang lengket dan akan
mengumpulkan berbagai bentuk bakteri lainnya. Dalam beberapa hari plak ini
akan bertambah tebal dan terdiri dari berbagai macam mikroorganisme (Kidd and
Bechal,1987).
Pada serangkaian percobaan yang dilakukan oleh Orland dan Keyes
memperlihatkan besarnya peran bakteri dalam pembentukkan karies (Kidd and
Bechal,1987). Streptococcus mutans adalah bakteri yang erat hubungannya
sengan karies (Hongini and Aditiawarman, 2012). Streptococcus mutans
merupakan kuman yang kariogenik karena mampu membuat asam dari
karbohidrat yang dapat diragikan. Bakteri dapat tumbuh subur dalam suasana
asam dan dapat menempel pada pemukaan gigi karena kemampuannya membuat
polisakarida ekstra seluler yang sangat lengket dari karbohidrat makanan (Kidd
and Bechal,1987; Kanatake and Takazoe,1991).
Karbohidrat menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri
dan sintesa polisakarida ekstra sel. Walaupun demikian, tidak semua karbohidrat
sama derajat kariogeniknya, karbohidrat yang kompleks misalnya pati relatif
tidak berbahaya karena tidak dicerna secara sempurna di dalam mulut, sedangkan
karbohidrat dengan berat molekul yang rendah seperti gula akan meresap
kedalam plak dan metabolisme dengan cepat oleh bakteri. Makanan dan minuman
yang mengandung gula akan menurunkan pH normal sekitar 7, dibutuhkan waktu
30-60 menit (Kidd and Bechal,1987). Bakteri yang terdapat dalam mulut
seseorang mengubah glukosa, fruktosa, dan yang paling sering adalah sukrosa
menjadi asam seperti asam laktat melalui proses glikolisis yang disebut
fermentasi (Hongini and Aditiawarman, 2012). Oleh karena itu, konsumsi gula
yang sering dan berulang-ulang akan tetap menahan pH plak di bawah normal
dan menyebabkan demineralisasi email (Kidd and Bechal,1987; Hongini and
Aditiawarman, 2012).
Lingkungan gigi dipengaruhi oleh saliva, cairan celah gusi, dan fluor.
Saliva mampu meremineralisasikan karies yang masih dini karena banyak sekali
mengandung ion kalsium dan fosfat. Selain itu, saliva juga mempengaruhi
komposisi mikroorganisme di dalam plak, saliva juga mempengaruhi pH. Aliran
saliva yang berkurang atau mengilang maka karies mungkin akan tidak
terkendali. Cairan krevikuler mengandung antibodi yang didapat dari serum yang
spesifik terhadap Strepcoccus mutans. Tersedianya Fluor disekitar gigi selama
proses pelarutan email akan mempengaruhi proses remineralisasi dan
demineralisasi, terutama proses remineralisasi. Fluor mempengaruhi bakteri plak
dalm bentuk asam (Kidd and Bechal,1987).
Perkembangan karies gigi sangat bergantung pada frekuensi paparan
asam. Bakteri dalam mulut dapat metabolisme gula dari sisa makanan,
menghasilkan produk asam dan menurunkan pH. Sesuai dengan perjalanan waktu
pH kembali normal karena buffering dari saliva dsn kandungan mineral terlarut
dari permukaan gigi (Hongini and Aditiawarman, 2012). Adanya kemampuan
saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses
karies, menandakan bahwa proses karies tersebut terdiri atas periode pengrusakan
dan perbaikan yang silih berganti. Oleh karena itu, bila saliva ada di dalam
lingkungan gigi, maka karies tidak menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau
minggu, melainkan dalam bulan atau tahun (Kidd and Bechal,