Anda di halaman 1dari 10

Revetment

Filed under: Sipilian 4 Comments


July 20, 2010






6 Votes

A. Definisi dan Klasifikasi
Bangunan pantai merupakan bangunan yang digunakan untuk melindungi pantai terhadap
kerusakan karena serangan gelombang dan arus. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan
untuk melindungi pantai, yaitu:
1. Memperkuat/melindungi pantai agar mampu menahan serangan gelombang,
2. Mengubah laju transpor sedimen sepanjang pantai,
3. Mengurangi energi gelombang yang sampai ke pantai,
4. Reklamasi dengan manambah suplai sedimen ke pantai atau dengan cara lain.
Sesuai dengan fungsinya seperti tersebut di atas, bangunan pantai dapat diklasifikasikan
dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Konstruksi yang dibangun di pantai dan sejajar dengan garis pantai. Bangunan yang
termasuk dalam kelompok ini adalah dinding pantai atau revetment yang dibangun
pada garis pantai atau di daratan yang digunakan untuk melindungi pantai langsung
dari serangan gelombang.
2. Konstruksi yang dibangun kira-kira tegak lurus pantai dan sambung ke pantai.
Kelompok ini meliputi groin dan jetty. Groin adalah bangunan yang menjorok dari
pantai ke arah laut, yang digunakan untuk menangkap/menahan gerak sedimen
sepanjang pantai, sehingga transpor sedimen sepanjang pantai berkurang/berhenti.
Jetty adalah bangunan tegak lurus garis pantai yang ditempatkandi kedua sisi muara
sungai. Bangunan ini digunakan untuk menahan sedimen/pasir yang bergerak
sepanjang pantai masuk dan mengendap di muara.
3. Konstruksi yang dibangun di lepas pantai dan kira-kira sejajar dengan garis pantai.
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah pemecah gelombang (breakwater), yang
dibedakan menjadi dua macam yaitu pemecah gelombang lepas pantai dan pemecah
gelombang sambung pantai.
Revetment atau perkuatan lereng merupakan bangunan yang ditempatkan pada suatu lereng
yang berfungsi melindungi suatu tebing alur pantai atau permukaan lereng dan secara
kesuluruhan berperan meningkatkan stabilitas alur pantai atau tubuh tanggul yang dilindungi.
Secara khusus, dinding pantai atau revetment juga dapat didefinisikan sebagai bangunan yang
memisahkan daratan dan perairan pantai, yang terutama berfungsi sebagai dinding pelindung
pantai terhadap erosi dan limpasan gelombang (overtopping) ke darat. Daerah yang
dilindungi adalah daratan tepat di belakang bangunan. Permukaan bangunan yang menghadap
arah datangnya gelombang dapat berupa sisi vertikal atau miring. Dinding pantai biasanya
berbentuk dinding vertikal sedangkan revetment mempunyai sisi miring.
Revetment ditempatkan di tebing pantai untuk menyerap energi air yang masuk guna
melindungi suatu tebing alur pantai atau permukaan lereng tanggul terhadap erosi dan
limpasan gelombang (overtopping) ke darat.
Klasifikasi Revetment
1. Klasifikasi berdasarkan lokasi
Perkuatan lereng tanggul (levee revetment)
Dibangun untuk melindungi tanggul terhadap gerusan gelombang pantai.
Perkuatan tebing sungai (low water revetment)
Berfungsi untuk melindungi tebing dari gerusan gelombang dan mencegah proses meander
pada tebing pantai. Dan bangunan ini akan terendam air seluruhnya pada saat banjir.
Perkuatan lereng menerus (high water revetment)
Dibangun pada lereng tanggul dan tebing secara menerus atau pada bagian pantai yang tidak
ada bantarannya.
2. Berdasarkan perlindungan alur arah horizontal
a. Perkuatan tebing secara langsung dan tidak langsung:
a) Struktur kaku dari beton bertulang atau pasangan batu kali;
b) Struktur lentur dari bronjong batu, pasangan blok beton terkunci, batu curah (dumpstone).
b. Perkuatan tebing secara langsung:
Penggunaan perkuatan tebing secara langsung jika palung sungai belum terlanjur berpindah
ke kondisi yang tidak menguntungkan, dan lahan di sisi luar palung diharapkan sama sekali
tidak boleh tergerus oleh aliran sungai.
c. Perkuatan tebing secara tidak langsung:
a) Struktur tiang pancang beton, besi, kayu atau bambu;
b) Struktur krib bronjong batu atau blok beton terkunci, krib bambu dikombinasi dengan
tanaman bambu/tanaman yang lain. Penggunaan perkuatan tebing secara tidak langsung jika
palung sungai sudah terlanjur pada kondisi yang kurang menguntungkan sehingga perlu
diubah/dikendalikan ke kondisi yang lebih baik.
B. Bahan Revetment
Bangunan revetment ditempatkan sejajar atau hampir sejajar dengan garis pantai dan bisa
terbuat dari pasangan batu, beton, tumpukan pipa (buis) beton, turap, kayu atau tumpukan
batu. Dalam perencanaan dinding pantai atau revetment perlu ditinjau fungsi dan bentuk
bangunan, lokasi, panjang, tinggi, stabilitas bangunan dan tanah pondasi, elevasi muka air
baik di depan maupun di belakang bangunan, ketersediaan bahan bangunan dan sebagainya.
Ada dua kelompok revetment, yaitu permeable dan impermeable.
Permeable Revetment
Open filter material (rip rap)
Yaitu revetment yang terbuat dari batu alam atau batu buatan yang dilapisi filter pada bagian
dasar bangunan.
Stone pitching
Yaitu revetment yang terbuat dari batu alam saja dengan lapisan filter pada bagian dasar
bangunan.
Concrete block revetment
Yaitu revetment yang terbuat dari blok beton dengan ukuran tertentu dan lapisan filter pada
bagian dasar bangunan.
I mpermeable Revetment
Aspalt revetment
Yaitu revetment yang bahannya dari aspal pada tebing yang dilindungi.
Bitumen grouted stone
Yaitu revetment yang terbuat dari blok beton yang diisi oleh aspal (spaesi aspal).
Beberapa contoh bahan penyusun revetment secara umum antara lain:
1. Revetment dari susunan blok beton
Bangunan masif ini digunakan untuk menahan gelombang besar dan tanah dasar relatif kuat
(misalnya terdapat batu karang). Selain itu bangunan ini juga digunakan untuk melindungi
bangunan (jalan raya) yang berada sangat dekat dengan garis pantai.
2. Revetment dengan turap baja
Bangunan ini didukung oleh fondasi tiang dan dilengkapi dengan turap baja yang berfungsi
untuk mencegah erosi tanah fondasi oleh serangan gelombang dan piping oleh aliran air
tanah. Selain itu kaki bangunan juga dilindungi dengan batu pelindung. Fondasi bangunan
harus direncanakan dengan baik untuk menghindari terjadinya penurunan tidak merata yang
dapat menyebabkan pecahnya konstruksi.
3. Revetment dengan sisi tegak
Bangunan ini dapat juga dimanfaatkan sebagai dermaga untuk merapat/bertambatnya perahu-
perahu/kapal kecil pada saat laut tenang. Untuk menahan tekanan tanah dibelakangnya, turap
tersebut diperkuat dengan angker. Kaki bangunan harus dilindungi dengan batu pelindung.
4. Revetment dari tumpukan bronjong
Bronjong adalah anyaman kawat berbentuk kotak yang didalamnya diiisi batu. Bangunan ini
bisa menyerap energi gelombang, sehingga elevasi puncak bangunan bisa rendah (runup
kecil). Kelemahan bronjong adalah korosi dari kawat anyaman, yang merupakan faktor
pembatas dari umur bangunan. Supaya bisa lebih awet, kawat anyaman dilapisi dengan
plastic (PVC).
5. Revetment dari tumpukan batu pecah
Bangunan ini biasanya dibuat dalam beberapa lapis. Lapis terluar merupakan lapis pelindung
yang terbuat dari batu dengan ukuran besar yang direncanakan mampu menahan serangan
gelombang. Lapis di bawahnya terdiri dari tumpukan batu dengan ukuran lebih kecil.
Bangunan ini merupakan konstruksi fleksibel yang dapat mengikuti penurunan atau
konsolidasi tanah dasar. Kerusakan yang terjadi, seperti longsornya batu pelindung, mudah
diperbaiki dengan menambah batu tersebut. Oleh karena itu diperlukan persediaan batu
pelindung di dekat lokasi bangunan.
6. Revetment dari tumpukan pipa (buis) beton
Bangunan pelindung pantai dari susunan pipa beton telah banyak digunakan di Indonesia.
Bangunan ini terbuat dari pipa beton berbentuk bulat, yang banyak dijumpai di pasaran dan
biasanya digunakan untuk membuat gorong-gorong, sumur gali, dan sebagainya. Pipa
tersebut disusun secara berjajar atau bertumpuk dan didalamnya dapat diisi dengan batu atau
beton siklop.
B.1 Concrette Mattresses
Suatu matras beton secara sederhana adalah suatu elemen konstruksi yang dibentuk dengan
cara menyuntikkan suatu bahan grout koloid ke dalam suatu cetakan yang terbuat dari bahan
fabric sintetik. Ketebalan matras ditentukan oleh penyekat woven di dalam fabric tersebut.
Sistem ini mengijinkan konstruksi dari elemen-elemen yang berbeda, yang dapat digunakan
untuk pencegahan erosi, memperbaiki aliran air, atau sebagai bahan kedap air
(waterproofing). Berbagai jenis matras telah dipatenkan.
Matras beton digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain: proteksi dan konsolidasi
lereng atau dasar kanal, sungai, saluran, tebing pantai, atau struktur-struktur sejenis. Matras
beton dapat disesuaikan untuk pelbagai keperluan yang berbeda dalam badan air atau
konstruksi maritim, dan kemudian dimensinya ditentukan menurut kebutuhan. Campuran
beton yang biasa digunakan sebagai bahan pengisi adalah semen (tipe V untuk aplikasi pada
lingkungan maritim) sebesar 600 kg/m3, pasir 1200 kg/m3, air 360 kg/m3 (rasio w/c = 0,6).
Menurut tipenya dikenal 2 kelompok:
Matras standar; yang biasanya digunakan jika tanah dasar keras, untuk memenuhi
fungsi perlindungan tebing dan dasar sungai atau untuk menyekat struktur-struktur
hidrolis.
Matras panel; memiliki kapasitas drainasi yang tinggi karena lubang-lubang drain
(weep hole) yang besar pada selang 0,6 dan 2,0 pada kedua arah menurut kebutuhan.
Tersedia untuk sebarang panjang dan lebar dengan berat luas antara 200 sampai 1000
kp/m2 sehingga dapat dirakit sesuai dengan keperluan khusus.
Beberapa keuntungan penggunaan matras beton adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan, yaitu berat dasar sesuai dengan keperluan
2. Dapat dibuat dalam bentuk kaku atau lentur
3. Dengan atau tanpa sambungan
4. Tembus atau kedap air
5. Relatif tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca buruk selama pelaksanaan
6. Instalasi di bawah air juga dimungkinkan
7. Tidak diperlukan predraining
8. Pelaksanaan relatif cepat
9. Ketahanan (durability) hampir tidak terbatas
10. Tidak memerlukan sheet piling
11. Ekonomis
12. Penyederhanaan prosedur pelaksanaan karena hanya menggunakan satu proses dan
satu bahan (buatan) saja
13. Berbagai tipe matras dapat dikombinasikan sesuai dengan keperluan
14. Secara ekologis menguntungkan
15. Telah terbukti memuaskan dalam pelbagai aplikasi
16. Cocok diterapkan pada hampir semua kondisi lereng/kontur
Proteksi tebing (Bank & lock protection)
Di daerah pelabuhan, matras diletakkan menutupi tebing pantai yang sebagian besar dapat
tertutup air dan ditempatkan sampai mencapai kedalaman 12 m. Tujuan matras adalah untuk
memproteksi tanah berpasir terhadap bahaya gerusan. Matras panel dengan ketebalan 18 cm
dan suatu bantalan (cushion) berukuran 0,85 x 0,85 m2 telah digunakan. Matras panel juga
digunakan untuk melindungi pantai terhadap gelombang pasang bertekanan kuat.
Rekayasa Pantai
Tanggul tua di pulau North Sea telah diperbaiki dengan matras panel. Matras tersebut
memberikan proteksi terhadap erosi ekstrim yang disebabkan oleh gelombang dan arus. Suatu
timbunan dyke dibuat untuk melindungi reklamasi pantai pada pantai North Sea. Panjang
garis lereng antara kaki dyke dan kepalanya adalah sekitar 15 m. Untuk mencapai suatu
keadaan tanpa sambungan, matras dijahit bersama-sama di lokasi untuk membentuk jalur
sepanjang 400 m. Outlet-outlet berbentuk kurva dan gorong-gorong pipa dibuat secara khusus
untuk menyesuaikan dengan bentuk lereng.
Stabilitas
Sistem ini memberikan proteksi yang tahan-erosi untuk menstabilkan lereng terhadap gaya-
gaya perusak yang ditimbulkan air. Ukuran, berat, dan konfigurasi persisnya harus ditentukan
oleh kecepatan rencana atau tinggi gelombang rencana. Perlu dicatat bahwa sementara
instalasi dapat dilaksanakan pada lereng yang lebih curam daripada untuk proteksi dengan
riprap, metode revetment itu sendiri tidak dapat dipergunakan untuk memperbaiki stabilitas
lereng.
Fleksibilitas
Biasanya revetment tidak direkomendasikan untuk kondisi-kondisi di mana konsolidasi yang
besar diperkirakan dapat terjadi. Beberapa bentuk cetakan mampu mengakomodasi
penurunan lebih baik dari yang lain. Artikulasi minor diijinkan oleh karena fungsi
penulangan modulus rendah dari lapisan tekstil. Ini mengijinkan retakan minor pada beton,
dan mencegah kehancuran sistem revetment oleh retakan yang tak terkontrol.
Filtrasi
Suatu sifat penting dalam beberapa konfigurasi adalah kemampuan melewatkan air tanah
untuk melepas tekanan uplift hidrostatik. Permeabilitas revetment adalah suatu fungsi dari
pelipatan (weave) tekstil, area permukaan, dan frekuensi lubang drain (weep holes).
Diperlukan bahwa permeabilitas adalah sama dengan drainase natural dari embankment yang
diproteksi. Sebagai suatu aturan umum :
k(fabric) > 10 x k(soil)
Setara dengan hal tersebut efek filtrasi pada lubang drain mestilah sama dengan :
O90/D85 < 1
Vegetasi
Algae dan kebanyakan tipe vegetasi biasanya tumbuh melampaui permukaan sistem
revetment. Profil yang lebih tidak beraturan mengijinkan deposit lanau dan titik-titik
tangkapan untuk mengapung dan memberikan suatu kondisi lingkungan yang sempurna
untuk memantapkan vegetasi. Bahkan akar-akaran dari tanaman-tanaman kecil dapat
menembus filter, memberikan penjangkaran dan estetika yang lebih baik kepada hasil
instalasi.
Ketahanan Aliran
Jelas terlihat bahwa koefisien kekasaran (nilai n dalam formula Manning) dapat bervariasi
banyak. Ketebalan konstan dari cetakan memiliki nilai n serendah 0,01 sementara bentuk
yang paling tidak beraturan dapat memiliki harga 0,05.
Kecepatan Arus dan Tinggi Gelombang
Kinerja hasil akhir revetment dalam aspek ini berkaitan langsung dengan ketebalan potongan,
kekuatan tekan, dan stabilitas lereng. Potongan yang tidak seragam dengan ketebalan nominal
100 mm memiliki batas ketinggian gelombang 3-4 kaki. Ketinggian ini selanjutnya tereduksi
jika kecepatan arus di atas 5 ft/sec; mis. tinggi gelombang 2 kaki dan kecepatan air 20 ft/sec
telah dapat diakomodasi. Potongan-potongan yang regular dengan ketebalan 300 mm atau
lebih besar menghasilkan struktur yang sangat berbeda untuk menahan kondisi badai yang
paling buruk.
B.2 Revetment Pabrikasi
Filter Hidrostatis
Lapisan Permukaan Beton Filter Hidrostatis dari Revetment Systems International ini
merupakan penanganan erosi monolitik kuat yang terdiri dari pembungkusan tanah berlapis
ganda diisi dengan beton yang seluruhnya padat. Proses pembentukan multi-arah khusus yang
diterapkan memungkinkan lapisan-lapisan bahan yang berbeda dibentuk bersama-sama pada
pusat tertentu untuk membentuk filter hidrostatis yang memungkinkan perlindungan lapisan
untuk bernafas, mengeluarkan tekanan hidrostatis di belakang struktur terpasang.
Lapisan Permukaan Beton Filter Hidrostatis berbiaya rendah, permanen dan merupakan
alternatif utama dalam metode tradisional pengendalian erosi seperti beton cast-in-situ atau
beton shot-in-situ, pemasangan batu, penutupan atau pelapisan dengan batu. Oleh karena
keunikan konstruksi yang dibungkus bahan ini, Lapisan Permukaan Beton Filter Hidrostatis
dapat dipasang baik di atas maupun di bawah permukaan air.
Keberagaman fungsi rancangan dan pemasangan Lapisan Permukaan Beton Filter Hidrostatis
membuatnya sesuai untuk berbagai proyek yang tak terbatas.
Flexbox
Sementara mempertahankan semua sifat sistem Lapisan permukaan Beton Filter Hidrostatis,
sistem lapisan Flexblock dirancang untuk mengakomodasi pergerakan di tanah yang
mendasari. Sifat ini benar-benar mengembangkan konsep perlindungan erosi dengan beton
lapisan tersusun. Proses pembentukan yang dipatenkan ini yang dikembangkan oleh
Revetment Systems International ini menciptakan sebuah lapisan yang terbagi menjadi panel-
panel yang saling berhubungan dengan tabung grout.
Tabung-tabung tersebut memungkinkan adanya keseragaman inflasi lapisan. Setiap tabung
grout dirancang untuk berfungsi sebagai titik potong yang memungkinkan setiap panel
bergerak secara bebas sewaktu lapisan tersusun mempertahankan kelengkapan perlindungan.
Seperti halnya dengan berbagai macam sistem perlindungan yang ditawarkan oleh Revetment
Systems International, sistem Flexblock dapat dipasang baik di atas maupun di bawah
permukaan air. Sifat unik sistem Flexblock ini menawarkan solusi efektif terhadap masalah
pengendalian erosi yang memerlukan sistem perlindungan yang fleksibel dengan biaya
kompetitif.
Growth Matt
Produk ini telah dirancang dengan memanfaatkan efek-efek pengikatan dan kamuflase
tumbuh-tumbuhan, dengan stabilitas dan perlindungan tanggung yang dijaga melalui
gabungan jaringan yang berkelanjutan dari susunan yang dimasuki tabung grout.
Growth Matt diletakkan di atas permukaan yang ada atau yang bagian atasnya tanah dengan
grout berkekuatan tinggi. Ulir susunan antara jaringan tabung bertujuan untuk
mempertahankan tanah sebelum penanaman tumbuhan.
Jika area yang diberi benih telah terbentuk dengan sendirinya, ulir-ulir susunan dapat
membantu mengikat tanahan ke struktur jaringan, dan kemudian membentuk perisai
pelindung yang terpadu terhadap erosi. Seperti yang dijelaskan di atas, susunan tersebut dapat
diwarnai di lokasi atau di mill untuk mengkamuflasekan produk lebih lanjut.
Aplikasi produknya beragam dari pengaliran dengan garis keliling hingga saluran pengalihan,
aliran air banjir dengan kekentalan rendah, perlindungan tanggul dan pekerjaan lapangan
(batu kerikil dapat disebarkan di atas area untuk menggantikan tumbuhan).
Penggunaan grout yang efisien di seluruh sistem merupakan alternatif yang efektif dengan
harga yang menguntungkan.
B.3 Revetment Tipe Blok Beton Bergigi
Struktur revetment terdiri dari unit-unit pelindung yang disusun membentuk kemiringan
dikenal dengan struktur tipe rubel (periksa Gambar 4) . Unit pelindung bagian luar yang
dikenal dengan istilah armor ini dapat dibuat dari batu belah/bulat atau dari blok-blok beton.
Blok beton sebagai armor yang sudah dikenal antara lain kubus, tetrapod, aknon, dan dolos.
Blok Beton Bergigi ini merupakan balok beton dengan perbandingan ukuran panjang (p):
lebar (l) : tinggi (t) = 6 : 4 : 5. Ukuran minimum = 20 cm. Pada bagian depan dipasang gigi
dengan tebal 8 cm dan tinggi 10 cm. Di bagian belakang diberi lubang dan dilengkapi dengan
sekat. Sekat dimaksudkan agar tidak terjadi pergeseran posisi blok beton arah horizontal.
Pada Gambar 5 disajikan sketsa blok beton bergigi.
Terbatasnya batu alam dengan ukuran dan berat tertentu, telah mendorong penelitian dan
inovasi yang menghasilkan batu pengganti, yang dikenal dengan blok beton bergigi.
Stabilitas unit armor ditentukan oleh koefisien stabilitas yang disingkat KD. Untuk tin
ggi gelombang yang sama, makin besar harga KD, maka berat armor yang diperlukan makin
ringan, yang berarti lebih ekonomis.
Armor tidak dapat berdiri sendiri-sendiri, tetapi bekerja bersama-sama. Ikatan antar
unit yang satu dengan yang lain tergantung dari jenis armor.
Salah satu fungsi dari penelitian di Puslitbang Sumber Daya Air adalah
mencari jenis armor yang mempunyai harga KD yang besar, sehingga diperoleh unit armor
yang ringan dan apabila memungkinkan dalam pelaksanaannya tidak menggunakan alat-alat
berat. Dari beberapa blok
beton yang telah diuji coba, salah satunya adalah blok beton bergigi.
Ikatan antara blok yang satu dengan yang lain (interlocking) diperkuat dengan adanya gigi,
sehingga sulit lepas. Dari hasil penelitian diperoleh harga KD untuk blok beton bergigi ini
adalah 4.0.
Selain berat armor, salah satu besaran lain adalah tinggi rayapan. Pada tembok yang kedap
dan halus, tinggi rayapan akan lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan permeabel yang
kasar. Untuk mengurangi tinggi rayapan, maka dalam pemasangan blok-blok beton diberi
celah. Bidang celah diusahakan agar terjadi suatu proses aliran air yang masuk ke celah
yang dapat mengurangi tinggi rayapan. Makin rendah tinggi rayapan, elevasi struktur akan
makin rendah dan biaya yang diperlukan akan lebih murah.
C. Langkah-langkah Pokok Perancangan
Dalam perencanaan dinding pantai atau revetment perlu ditinjau fungsi dan bentuk bangunan,
lokasi, panjang, tinggi, stabilitas bangunan dan tanah pondasi, elevasi muka air baik di depan
maupun di belakang bangunan.
Filosofi dan Parameter Disain
Dalam menyelesaikan permasalahan proteksi pantai (coastal), filosofi perancangannya adalah
mula-mula menghargai dan kemudian meningkatkan metode-metode alamiah untuk
melindungi garis pantai. Filosofi tersebut dapat dipenuhi dengan jalan menghindarkan gaya-
gaya destruktif dari gelombang besar laut menumbuk langsung (head-on). Selanjutnya
perhatian dapat diarahkan pada zona-zona yang berenergi lebih rendah seperti dasar laut di
sekitar pantai, berm, dan pada perlindungan pantai-pantai stabil.
Parameter-parameter yang mempengaruhi kebanyakan desain adalah muka air laut dan
gelombang-gelombang yang terjadi; biasanya dapat ditentukan dengan bantuan tabel-tabel
perencanaan. Umumnya prediksi gelombang tersebut perlu diberi angka pengaman terhadap
kemungkinan variasi tekanan atmosfer atau akibat angin, yang untuk kondisi-kondisi ekstrim
dapat mencapai 2,0 m.
Kondisi-kondisi gelombang di suatu lokasi dapat ditentukan menggunakan teknik-teknik
spektral, (permukaan laut dianggap sebagai paduan acak dari tinggi gelombang dan periode),
atau suatu gelombang deterministik tunggal yang mengandung suatu energi ekivalen tertentu
dengan periode Ts dan tinggi gelombang signifikan Hs. Yang terakhir tersebut adalah suatu
wakil statistik dari tinggi gelombang rerata dari satu sepertiga kali gelombang tertinggi
yang diukur dalam suatu periode tertentu. Hs juga berkorelasi sangat baik dengan perkiraan
visual terhadap tinggi gelombang rerata.
Pendekatan deterministik biasanya diambil untuk keperluan perancangan kasar dan
digunakan di sini untuk memilih parameter-parameter gelombang yang dapat diperoleh dari
tiga jenis informasi, yaitu :
Pengukuran gelombang langsung.
Pengukuran gelombang langsung memerlukan penggunaan alat pengukur lepas pantai,
misalnya pelampung gelombang (wave rider buoy). Data dari pelampung pengukur tersebut
dikonversikan ke dalam kondisi pantai dan diekstrapolasikan untuk memberikan tinggi
gelombang rencana yang sesuai untuk usia rencana struktur yang ditinjau.
Data angin.
Jika tidak diperoleh data pengukuran langsung, data angin dapat pula dipergunakan untuk
menaksir tinggi gelombang lepas pantai, menggunakan berbagai persamaan empiris. Untuk
tujuan perancangan, suatu prosedur yang disederhanakan adalah sbb. :
1. pilih periode ulang yang terkait dengan usia layan struktur;
2. analisislah data angin untuk menentukan rerata kecepatan angin setiap jam menurut
periode ulangnya;
3. tentukan fetch efektif untuk setiap arah kompas;
4. dapatkan kondisi-kondisi gelombang lepas pantai (Hso, Ts)
Dalam rangka menentukan kondisi-kondisi gelombang di lokasi, adalah perlu untuk
memperhitungkan efek-efek modifikasi akibat kedalaman air yang semakin dangkal ketika
gelombang semakin mendekati pantai.
Dua efek modifikasi ini adalah refraksi gelombang dan shoaling gelombang. Kedua efek
tersebut menjadikan ekspresi Hs efektif sbb. :
Hs = Kr.Ks.Hso
Koefisien refraksi Kr memperhitungkan modifikasi tinggi gelombang akibat penyebaran atau
penggabungan gelombang ketika mendekati kontur dasar laut yang semakin dangkal. Nilai Kr
karenanya adalah khas untuk setiap lokasi. Untuk garis pantai yang lurus dan kontur dasar
laut paralel, tinggi gelombang cenderung mengecil. Sementara itu untuk garis pantai yang
menjorok ke laut akan mengalami efek yang sebaliknya. Nilai-nilai yang teliti dapat
diperoleh lewat analisis refraksi, tetapi untuk keperluan estimasi kasar dapat dianggap Kr
mendekati 1,0. Umumnya berlaku :
0.5 < Kr < 1.0 embayment, garispantai lurus
1.0 < Kr < 1.5 promontory, garispantai menjorok
Koefisien shoaling (Ks) memperhitungkan modifikasi tinggi gelombang akibat perubahan
kedalaman air ketika mendekati garis pantai.
Share this: