Anda di halaman 1dari 7

1

IMAN DAN TAQWA DI TENGAH PERGAULAN NAFSU


SYAHWATIYAH DAN MATERIALISTIK
A. Pengertian : "Iman dan Taqwa"
1. Pengertian Iman
Iman menurut bahasa adalah membenarkan. Adapun menurut istilah syariat yaitu
meyakinidengan hati, mengucapkan dengan lisan dan membuktikannya dalam amal
perbuatan yang terdiri dari tujuh puluh tiga hingga tujuh puluh sembilan cabang. Yang
tertinggi adalah ucapan dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan
yangmenggangu orang yang sedang berjalan, baik berupa batu, duri, barang bekas, sampah,
dansesuatu yang berbau tak sedap atau semisalnya.Rasulullah Shallahualaihi wa sallam
bersabda,Iman lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, paling utamanya perkataan
dan yang paling rendahnya menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu
merupakancabang dari keimanan. (Riwayat Muslim: 35, Abu Dawud: 4676, Tirmidzi:
2614)Secara pokok iman memiliki enam rukun sesuai dengan yang disebutkan dalam hadist
Jibril(Hadist no. 2 pada hadist arbain an-Nawawi) tatkala bertanya kepada Nabi
Shallahualaihiwa sallam tentang iman, lalu beliau menjawab,Iman adalah engkau percaya
kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, pararasulNya, hari akhir, dan percaya
kepada taqdirNya, yang baik dan yang buruk.(Mutafaqqun alaihi)Adapun cakupan dan
jenisnya, keimanan mencakup seluruh bentuk amal kebaikan yangkurang lebih ada tujuh
puluh tiga cabang. Karena itu Allah menggolongkan dan menyebutibadah shalat dengan
sebutan iman dalam firmanNya,Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (QS. Al-
Baqarah:143) Para ahli tafsir menyatakan, yang dimaksud imanmu adalah shalatmu tatkala
engkau menghadap ke arah baitul maqdis, karena sebelum turun perintah shalat menghadap
ke Baitullah (Kabah) para sahabat mengahadap ke Baitul Maqdis. Iman kepada AllahIman
kepada Allah adalah mempercayai bahwa Dia itu maujud (ada) yang disifati dengansifat-sifat
keagungan dan kesempurnaan, yang suci dari sifat-sifat kekurangan. Dia Maha
Esa,Mahabenar, Tempat bergantung para makhluk, tunggal (tidak ada yang setara dengan
Dia),Pencipta segala makhluk, Yang melakukan segala yang dikehendakiNya, dan
mengerjakandalam kerajaanNya apa yang dikehendakiNya. Beriman kepada Allah juga bisa
diartikan,berikrar dengan macam-macam tauhid yang tiga serta beritiqad (berkeyakinan) dan
beramaldengannya yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid al-asma wa ash-
shifaat.
Iman kepada Allah mengandung empat unsur:1. Beriman akan adanya Allah.Mengimani
adanya Allah ini bisa dibuktikan dengan:(a). Bahwa manusia mempunyai fitrah mengimani
adanya TuhanTanpa harus di dahului dengan berfikir dan sebelumnya. Fitrah ini tidak akan
berubah kecualiada sesuatu pengaruh lain yang mengubah hatinya. Nabi Shallahualaihi wa
sallam bersabda:Tidaklah anak itu lahir melainkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanya
lah yangmenjadikan mereka Yahudi, Nashrani, atau Majusi. (HR. Bukhori)Bahwa makhluk
tersebut tidak muncul begitu saja secara kebetulan, karena segala sesuatuyang wujud pasti
ada yang mewujudkan yang tidak lain adalah Allah, Tuhan semesta alam.Allah
berfirman,Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan
(dirimereka sendiri)? (QS. Ath-Thur: 35)Maksudnya, tidak mungkin mereka tercipta tanpa
2

ada yang menciptakan dan tidak mungkinmereka mampu menciptakan dirinya sendiri. Berarti
mereka pasti ada yang menciptakan,yaitu Allah yang maha suci.Lebih jelasnya kita ambil
contoh, seandainya ada orang yang memberitahu anda ada sebuahistana yang sangat megah
yang dikelilingi taman, terdapat sungai yang mengalir disekitarnya, di dalamnya penuh
permadani, perhiasan dan ornamen-ornamen indah. Laluorang tersebut berkata kepada anda,
istana yang lengkap beserta isinya itu ada dengansendirinya atau muncul begitu saja tanpa
ada yang membangunnya. Maka anda pasti segeramengingkari dan tidak mempercayai cerita
tersebut dan anda menganggap ucapannya itusebagai suatu kebodohan.

2. Pengertian Taqwa

Difinisi Taqwa MEMAHAMI MAKNA TAQWAPengertian TAQWA secara dasar adalah
Menjalankan perintah, dan menjauhi larangan.Kepada siapa ??? maka dilanjukan dengan
kalimat Taqwallah yaitu taqwa kepada AllahSWT. Kelihatan kata-kata tersebut ringan
diucapkan tapi kenyataan-nya banyak orang yangbelum sanggup bahkan terkesan asal-asalan
dalam menerapkan arti kata Taqwa tersebut, lihatsekitar kita ada beberapa orang yang tidak
berpuasa dan terang-terangan makan di tempatumum, padahal bila ditanya " mas, agama-nya
apa?" jawab-nya muslim, ada juga yang sudahberpuasa tapi masih suka melirik kanan-kiri
dan ketika ditanya " mas, ini kan lagi puasa?"jawabnya cuma sebentar kan boleh. Ya... Allah,
manusia..., manusia.., sebenarnya banyakcontoh bagaimana lingkungan di sekitar kita atau
mungkin diri saya pribadi masih belummampu mengemban amanah Taqwallah dengan
sepenuhnya.yuk belajar lagi tentang Taqwa biar sama-sama menyadari bagaimana
mengaplikasikan-nya.TAQWA = Terdiri dari 3 HurufTa = TAWADHU artinya sikap rendah
dirii (hati), patuh, taat baik kepada aturan AllahSWT, maupun kepada sesama muslim jangan
menyombongkan diri / sok.Qof = Qonaah artinya Sikap menerima apa adanya (ikhlas), dalam
semua aspek, baik ketikamendapat rahmat atau ujian, barokah atau musibah, kebahagiaan
atau teguran dari AllahSWT, harus di syukuri dengan hati yang lapang dada.Wau = Wara
artinya Sikap menjaga hati / diri (Introspeksi), ketika menemui hal yangbersifat subhat (tidak
jelas hukum-nya) atau yang bersifat haram (yang dilarang) oleh AllahSWT.beberapa ulama
mendifinisikan dengan : 1. Taqwa = dari kata = waqa-yaqi-wiqayah = memelihara yang
artinya memelihara iman agar terhindar dari hal-hal yang dibenci dan dilarang oleh Allah
SWT. 2. Taqwa = Takut yang artinya takut akan murka da adzab allah SWT. 3. Taqwa =
Menghindar yang artinya menjauh dari segala keburukan dan kejelekan dari sifat syetan. 4.
Taqwa = Sadar yang artinya menyadari bahw diri kita makhluk ciptaan Allah sehingga
apapun bentuk perintah-nya harus di taati, dan jangan sekali-kali menutup mata akan hal ini.
"Hai Orang-orang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah, dengan sebenar-benar taqwa,dan
janganlah kalian mati, melainkan dalam keadaan beragama islam." (Al-Imron : 102)Masih di
bulan ramadhan, mudah-mudahan artikel ini bisa menambah rasa iman dan taqwakita
khususnya saya sendiri kepada yang maha esa (Allah Subhanallahu Taala).Yuk, teruskan lagi
pelajaran dasar-dasar agamanya yang diambil dari cuplikan-cuplikansyiah dari ustadz-ustadz
sekitar kita. belajar bareng ya......Sebuah hadits tentang kewajiban belajar, yang menurut
beberapa tokoh ulama kurang shahihbahkan dianggap hadits palsu, namun justru terkenal dan
mampu mendapatkan voting sertaranking terbanyak dikalangan umat muslim, disebabkan
hadits ini bisa memotivasi semangatpantang menyerah, yaitu :"UTHLUBUL ILMA WALAU
BISHSHIIN FAINNA THOLABAL ILMI FARIIDHOTUN ALAKULLI
MUSLIMIN"(Tuntutlah Ilmu Walau Di Negeri Cina, Karena Mencari Ilmu Itu Wajib Bagi
SetiapMuslim).



3

B. Antara "Nafsu" & "Hawa" (Syahwat)

Dalam bahasa keseharian kita mengenal istilah "hawa nafsu". Yang dirangkai dari dua
kata yakni "Hawa" dan "Nafsu". Istilah ini telah lumrah kita sebut dalam percakapan sehari-
hari. Namun demikian, jika dirujuk ke dalam kaidah bahasa Arab, ternyata padanan istilah
ini kurang tepat. Antara hawa dan dan nafsu adalah dua kata yang sama sekali berbeda.
Secara sederhana "hawa" pegertiannya adalah keinginan, kehendak atau hasrat. Istilah
"hawa" ini lebih identik dengan istilah "syahwat". Sedangkan nafsu secara sederhana artinya
adalah "jiwa" atau "diri" manusia.
Menurut bahasa (lughawiy) "al-haw" pengertiannya antara lainnya adalah "Saqatha
min 'ulwin" (terjatuh dari atas ke bawah); "al-Mailu" (keinginan dan kesenangan); dan "al-
Hubb" (cinta). Dari sini terbentuk beberapa istilah seperti " 'ala hawhu " (artinya menurut
seleranya, cocok dengan kemauannya atau kesenangannya); "I ttaba'a hawhu" (mengikuti
dan memperturutkan keinginan syahwatnya); dan "Fil-Haw" (jatuh cinta atau diliputi oleh
syahwatnya). Jadi istilah "hawa" ini lebih tepat jika disamakan dengan "syahwat". Syahwat
artinya segala sesuatu yang diingini, yang digemari, yang disukai, yang menarik hati dan
yang mendorong hasrat seksual. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala: "Dijadikan indah pada
(pandangan) manusia kecintaan kepada "syahwat" (apa-apa yang diingini), yaitu: wanita-
wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-
binatang ternak dan sawah ladang. I tulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah
tempat kembali yang baik (surga)" (Q.S. Ali Imran: 14).
Sesuai dengan pengertiannya, "hawa" atau "syahwat" inilah yang banyak menyebabkan
manusia terjatuh dari derajat yang tinggi ketempat yang rendah (Saqatha min 'ulwin). Ada
beberapa istilah yang menggambarkan posisi manusia yang telah jatuh ini, yakni antara lain:
"I nkasrat Tjir" (Jatuh bangkrut); "I nkasral 'Aduww" (Jatuh hancur, kalah); dan
"I nkasral Qalb" (Patah hati-putus asa). Jadi orang yang memperturutkan syahwatnya akan
bangkrut, hancur, kalah, dan terhinakan dihadapan Allah Ta'ala kelak serta akan digelayuti
rasa putus asa dan hati yang hancur luluh.
Sedangkan "nafsu" menurut bahasa pengertiannya antara lainnya adalah: "an-Nafs"
jamaknya "anfusun- wa nufsun" (artinya jiwa, diri atau ruh); "an-Nafsiyyu" (artinya jiwa
terdalam, batin, atau rohani); dan "al-'I zz" (artinya kemuliaan). Berdasarkan pengertian ini
nafsu berarti "jiwa" yang merupakan bagian dari ruh manusia. Ia pada mulanya bersifat mulia
dan bersih. Jadi pada dasarnya nafsu dengan hawa sama sekali berbeda. Oleh karena itu,
menjadi kurang tepat jika kita sering menyebut "nafsu" identik atau meyerupai "hawa" dan
"syahwat". Namun karena telah "terlanjur" dipakai dan malah telah dibakukan dalam bahasa
Indonesia, maka istilah nafsu ini dalam benak orang Indonesia sama persis dengan "syahwat".
Kita tidak akan mempersoalkan lebih jauh istilah ini, karena kami hanya ingin
mengabarkan bahwa penggunaan istilah "nafsu" dan "hawa" atau "syahwat" harus kita
bedakan dalam tulisan ini. Namun yang akan dipertegas disini adalah bahwa selalu terjadi
hubungan tarik menarik antara jiwa dan hawa-syahwat. Keduanya saling mempengaruhi,
saling mendominasi dan berusaha untuk saling mengalahkan. Inilah yang akan menjadi pusat
perhatian kita kali ini.
Mengendalikan Haw-Syahwat )

(
Al-Hawa atau syahwat adalah tabiat yang telah ada sejak awal pada diri manusia.
Syahwat (atau yang lumrah disebut hawa nafsu) ini tidak dapat dimusnahkan, karena ia telah
tertanam pada diri manusia. Oleh karena itu manusia tidak diperintahkan membunuh
syahwarnya. Namun manusia diperintahkan untuk memimpin hawa nafsunya dengan
kebenaran dan akal sehat. Agar hawa nafsu tersebut dapat dikendalikan dan diarahkan sesuai
dengan aturan Allah Ta'ala. Dalam hal ini Allah Ta'ala memerintahkan kita agar menempa
4

jiwa dan berupaya mengendalikan atau mengekang hawa nafsu. Sebagaimana Firman Allah
Ta'ala yang artinya:
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan
J iwanya dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat
tinggal(nya)". (QS. An-Naziat: 40-41).
Pusat pembahasan kita pada ayat diatas adalah kalimat Wa nahan-nafsa 'anil-haw"
("menahan" Jiwa dari keinginan hawa-nafsu atau syahwat). Menurut Tafsr Al-Jallain
bahwa yang dimaksudkan adalah orang yang senantiasa mengendalikan diri dari mengikuti
kehendak hawa nafsunya. Kemudian menurut Tafsir Ibnu Katsr, yang dimaksudkan adalah
orang-orang yang senantiasa takut dengan Allah Azza wa Jalla dan dengan ketentuan
hukum-Nya. Sehingga ia mengendalikan jiwanya (atau dirinya) dari kungkungan syahwat-
nya dan berusaha untuk senantiasa taat kepada Allah Ta'ala.
Sedangkan dalam Tafsr Al-Qurthub disebutkan bahwa yang dimaksud orang yang
menahan dirinya dari hawa nafsunya adalah orang yang menjauhkan diri dari perbuatan
maksiat dan perbuatan yang diharamkan. Sahabat Sahal r.a., berkata: "Bahwameninggalkan
hawa nafsu adalah "kunci" pembuka pintu surga". Berkaitan dengan ayat ini pula, Abdullah
bin Masud r.a., berkata: Kalian sedang berada pada zaman dimana manusia mendahulukan
kebenaran (al-Haqq) diatas hawa nafsunya, dan akan datang suatu zaman dimana manusia
mendahulukan hawa nafsunya diatas kebenaran, maka kami berlindung dari zaman yang
demikian.
Allah Ta'ala juga menjajikan pahala dalam ayat ini bahwa bagi siapapun yang yang
mampu memimpin jiwanya dan mampu mengendalikan hawa nafsunya, maka surgalah
tempat tinggalnya.
Puasa Adalah Perisai
Puasa dalam bahasa Arab disebut "Shoum" atau "Shiym" yang asal katanya adalah
"Shma, Yashumu, Shawman-wa Shiyman" yang artinya "menahan" dan "mengekang".
Menurut pengertian secara bahasa saja telah tergambarkan bahwa puasa bertujuan untuk
menahan jiwa dari hawa nafsu (atau syahwat). Hal ini sejalan dengan Firman Allah Ta'ala
surat an-Nazi'at ayat 40 diatas. Dengan berpuasa kita akan belajar dan melatih diri bagaimana
upaya mengendalikan syahwat atau keinginan. Pada saat berpuasa secara lahiriah tampak
bahwa kita menahan diri agar tidak makan dan minum, baik yang halal maupun yang haram.
Sedangkan secara batiniyah, puasa akan menempa jiwa kita agar tangguh dalam menguasai
dan mengekang kehendak syahwat. Oleh karena itu Rasulullah SAW menamai puasa sebagai
"perisai", yakni perisai jiwa dari rongrongan hawa nafsu (syahwat).
Dalam momentum bulan suci Ramadhan kali ini mari kita jadikan puasa sebagai media
untuk menempa jiwa dan mengekang hawa nafsu. Rasulullah SAW bersabda: Terangilah
hatimu dengan lapar (puasa), terangilah jiwamu dengan lapar dan haus, ketuklah pintu surga
dengan lapar pula. Dan pahala orang yang puasa itu seperti jihad di jalan Allah.
Sesungguhnya tidak ada amal yang dicintai Allah selain seperti lapar dan haus. Sedangkan
orang yang memenuhi perutnya tidak akan mampu memasuki kerajaan langit (surga) dan
tidak pula mampu merasakan manisnya ibadah"

C. Materialistik
Tak kiralah dia agama apa pun, bangsa apa pun. Tapi sifat ini untuk mereka yang beragama
Islam tersangatlah berbahaya. Bukan sahaja berbahaya untuk individu dan masyarakat malah
turut mengancam agama Islam di muka bumi milik Allah S.W.T ini.
Sifat yang saya maksudkan tadi adalah sifat "MATERIALISTIK". Materialistik ini kalau
didefinisikan secara mudah adalah mencintai, mengutamakan kebendaan melebihi segala-
galanya termasuk Allah S.W.T.
5


Saya mahu berkongsi bersama-sama sahabat serta sahabiah sekalian mengenai beberapa
kesan buruk yang kita sedar mahupun kita buat-buat tidak sedar mengenai sifat materialistik
ini.

Membunuh Kecintaan Kepada Ilmu

Bagaimana kecintaan kepada ilmu boleh dibunuh oleh sifat materialistik ini teorinya mudah
sahaja. Masa kita belajar sejak dari umur 6 tahun hinggalah sekarang betulkan niat kita
belajar? Betulkan kita belajar untuk mendapat ilmu semata-mata.

Bagi saya, saya katakan tidak. Kebanyakan kita telah ditanam dalam diri kita bahawa
matlamat kita belajar adalah untuk mendapat pekerjaan yang memberi ganjaran yang
lumayan pada masa hadapan.

Akibatnya ramai dalam kalangan kita bimbang sekiranya habis sahaja kita belajar kita tidak
memperolehi pekerjaan sepertimana yang telah dihajatkan. Contohnya mereka yang belajar di
universiti yang mengambil jurusan seperti pendidikan. Perasaan bimbang menghantui setiap
mahasiswa sekiranya suatu hari nanti apabila telah "graduate" mereka tidak dapat menjadi
guru.

Dengan pekerjaan bila-bila masa sahaja kita akan boleh hilangnya tetapi dengan ilmu yang
didalami dengan ikhlas kerana Allah S.W.T maka ianya akan kekal sampai bila-bila
walaupun Illahi telah menjemput kita. Sabda Rasulullah S.A.W:

Apabila mati anak Adam, maka telah terputuslah amalannya melainkan tiga perkara ;
Sedekah Jariah, Ilmu yang bermanfaat, Anak soleh yang mendoakan keatasnya
[Hadith diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, al-Nasaa'i, dan al-Bukhari]

Melahirkan Pemimpin Yang Fasik

Ramai orang berlumba mahu jadi pemimpin. Berlumba-lumba mahu pangkat yang lebih
besar. Tapi ramai dalam kalangan mereka tidak sedar bahawa besarnya tanggunjawab
seorang pemimpin di sisi Islam. Kunci paling penting untuk seorang pemimpin adalah
beriman dan bertaqwa. Melalui keimanan dan ketaqwaan ini maka akan lahirlah kejujuran,
keadilan dan sebagainya.

Namun pada masa kini, ramai yang berlumba-lumba mahu jadi pemimpin untuk menjadi
kaya. Pemimpin sebenarnya bukanlah kerjaya yang menjaminkan kehidupan yang mewah.
Lihat sahaja Rasulullah S.A.W. Baginda penuh dengan kesederhanaan. Mengutamakan
ummahnya melebihi diri sendiri. Itulah sebenarnya ciri seorang pemimpin.

Zaman kini penuh pemimpin yang korupsi, pemimpin yang mengutamakan perut mereka
lebih daripada kebajikan rakyat. Puncanya, sifat materialistik seorang pemimpin itu. Mereka
melihatkan pangkat itu sebagai wang bukannya sebagai amanah. Selenggara rumah berjuta
ringgit, cincin berjuta ringgit. Kalau benarlah cincin itu dibeli dengan duit simpanan sendiri
maka disitu telah mencerminkan betapa borosnya pemimpin masa kini. Kalau dibiayai
melalui duit rakyat maka saya yakin tiada rakyat akan menghalalkannya.


6

Gerakan Kristianisasi

Sifat materialistik merosakkan akidah seseorang. Bukti ini yang paling jelas lagi nyata.
Gerakan Kristianisasi. Banyak menyerang negara-negara seperti Sudan, Indonesia malah
telah pun bertapak di Malaysia. Gerakan Kristianisasi adalah satu gerakan untuk
memurtadkan orang Islam. Gerakan ini dibiayai oleh institusi gereja di negara-negara barat
seperti Perancis, Itali dan lain-lain lagi.

Caranya yang digunakan untuk memesongkan akidah umat Islam adalah dengan bertapak di
kawasan yang mempunyai kemiskinan yang tinggi. Mereka menunjukkan kebaikan mereka
dengan memberi bantuan berbentuk wang ringgit dan harta benda. Orang miskin
kebanyakkan mudah terpengaruh dengan gerakan ini. Mereka yang biasanya hidup melarat,
apabila dibantu maka mereka akan mudah terhutang budi.

Maka akan timbulah dalam pemikiran orang miskin yang ditolong oleh Gerakan Kristianisasi
tadi keburukan orang Islam dan kebaikan orang kafir maka mereka mengambil keputusan
untuk keluar daripada Islam. Diceritakan oleh Ustaz bahawa mereka yang berjaya
mengkafirkan orang Islam maka mereka akan dibayar RM2000-RM5000 per bilangan orang
yang dimurtadkan.

Mengikut buku karya Ann Wang Seng dalam bukunya Murtad:Jangan Pandang Sebelah
mata, satu laporan di sebuah perkampungan Islam dalam daerah Ponogoro, Jawa Timur telah
bertukar menjadi perkampungan Kristian apabila seorang guru Katolik tiba di kampung
tersebut. Untuk memahami keadaan murtad pada masa kini anda semua boleh mendapatkan
buku tersebut. Saya gerenti....TAK RUGI!!!!

Kekayaan Dimonopoli Oleh Golongan Tertentu

Harta seperti mana pemerintah adalah satu amanah. Jika kita tengok situasi kini, harta ini
hanya dimonopoli oleh golongan tertentu. Kita tengok mereka bangga dengan Gelaran
Manusia Terkaya Di Dunia atau Manusia Terkaya Di Malaysia.

Harta bukanlah suatu untuk dibangga-bangga. Tetapi harta yang dikurniakan oleh Allah
S.W.T adalah amanah untuk dibahagikan kepada mereka yang tidak mampu. Ada mereka
yang berharta ini lupa diri. Mereka beranggapan bahawa wang yang mereka dapat adalah
daripada usaha mereka. Orang miskin ini orang yang malas.

Mereka sebenarnya salah. Rezeki itu kurniaan Allah S.W.T. Ada yang diberi banyak. Ada
yang diberi sedikit. Yang kaya itulah sepatutnya membantu yang miskin. Allah S.W.T
memurkai mereka yang tidak membantu golongan yang miskin ini sepertimana firman-Nya
dalam Surah Al Maaun(Ayat 1-3):

Tahukah(kamu)orang yang mendustai agama? Maka itulah orang yang menghardik anak
yatim. Dan tidak mendorong memberi makan kepada orang miskin.

Ada banyak lagi kesan buruk apabila mempunyai sifat materialistik. Tidak mau
memanjangkan lagi hujah sekadar mau mengambil contoh individu yang tidak menjadikan
harta mereka sebagai Tuhan. Antarnya para khalifah Khulafa Ar Rasyidin terutamanya Abu
Bakar As Siddiq yang menginfakkan kesemua hartanya untuk jalan Allah S.W.T. Selain itu,
Fatimah Az Zahra, puteri kesayangan nabi yang yang berkahwin dengan Saidina Ali
7

walaupun Saidina Ali tidak berharta. Rabiatul Adawiyah yang sanggup menjalankan
kehidupan yang dhaif dengan hanya berpakaian compang camping dan tinggal di rumah yang
kecil. Baginya harta benda melalaikan dan menganggu kecintaannya kepada Sang Khaliq.
Bukan tiada mahu membantunya tetapi dia yang menolakkannya dengan alasan dia bukan
orang yang memerlukan.

Saya mau mengingati diri saya bahawa tujuan hidup bukan untuk uang. Tujuan hidup adalah
supaya dirahmati oleh Pemilik Hari Pembalasan.