Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 latar Belakang
Anestesia (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-"tidak, tanpa" dan
aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu
tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai
prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi
digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holme Sr pada tahun 1846
(Anonimus, 2011).
Penderita memaklumi bahwa suatu pembedahan dapat menyebabkan rasa
tidak nyaman, nyeri, dan kemungkinan komplikasi pembedahan yang akan terjadi.
Komplikasi seperti ini biasanya bisa dimaklumi karena biasanya berlangsung
sementara. Bahaya anestesi dan kemampuan kadang-kadang harus ditunjukkan
oleh ahli anestesi untuk menghindari bahaya dan konsekuensinya, seringkali
kurang dapat dimengerti atau diterima oleh penderita (Boulton and Blogg, 1997).
Bahaya utama anestesi dapat disebabkan oleh banyak penyebab. Sebagian
penyebab pada mulanya tidak berarti, tetapi jika bahaya tersebut tidak
diperhatikan sama sekali, atau tidak dapat teratasi dengan baik, maka bencana
akan terjadi. Bahaya lain mungkin tidak berbahaya tetapi merupakan sumber
ketidaknyamanan, nyeri, atau iritasi terhadap penderita (Boulton and Blogg,
1997).
Kematian dalam keadaan teranestesi mungkin tidak sepenting kematian
akibat anestesi, atau komplikasinya. Sampai saat sekarang sangat sulit membuat
definisi atau batasan tentang kematian anestesia. Kematian anestesia primer
memang lebih mudah diketahui, tetapi yang sekunder sangat sulit diketahui,
karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya seperti keadaan penyakit
pasien yang diidap sebelum anestesi, pembedahan, kesalahan pengelolaan
pembedahan atau anestesia. Statistik menunjukkan bahwa makin kurang baik
keadaan pasien, maka resiko yang akan diterima pasien akan makin tinggi, baik
berupa morbiditas atau mortalitas (Latief et al, 2007)
Beberapa penelitian yakin dengan kemajuan ilmu kedokteran terutama dalam
bidang anestesiologi, maka resiko kecelakaan atau kematian akibat anestesia
makin lama makin diperkecil. Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, kematian
anetesi di Amerika Serikat dapat diperkecil dari 1-2/3000 menjadi 1/20.000. Hal
ini sulit dijelaskan seberapa banyak sumbangan akibat kemajuan ilmu
anetesiologi, karena keadaan umum pasien prabedah, jenis bedah, lama
pembedahan, sifat dokter bedah dan anestesi sendiri sangat berpengaruh (Latief et
al, 2007).
Bila kematian akibat anestesi terjadi juga, maka dua penyebab yang paling
mungkin (hipoksia dan henti jantung) yang saling terkait: pada kedua kasus
kematian dapat disebabkan oleh gangguan penyediaan oksigen otak dan/ atau
jantung baik primer (yang disebabkan oleh hipoksia respiratorik) maupun
sekunder (sebagai akibat terhentinya sirkulasi setelah henti jantung). Untungnya
jarang terjadi, bahaya lain akibat anestesi yang dapat mematikan karena anestesi
adalah anafilaksis akut karena obat yang digunakan pada anestesi, dan hipertermia
yang ganas (Boulton and Blogg, 1997).


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Resiko anestesi dapat berupa morbiditas dan mortalitas. Kematian dapat
primer anestesia murni atau sekunder akibat sumbangan anestesia. Jika kematian
anestsia dianalisa faktor penyebabnya, maka faktor manusia menduduki peringkat
paling atas. Anestetis kadang-kadang kurang pandai berkomunikasi, kurang
pengalaman, jam terbang masih rendah, pengetahuannya terbatas, salah pilih
jenis dan teknik anestesi, salah pilih obat, kelebihan dosis obat, pesiapan kurang
sempurna baik alata maupun obat atau dia sedang dalam keadaan kurang sehat
atau kurang fit. Kesalahan manusis sangat berperan dlam kecelakaan anestesia.
Tidak ada obat anestesia yang jelek, yang ada ialah oknum anestesia yang jelek
there are no bad anesthetics, only bad anesthetists (Latief et al, 2007).

2.1 Jenis Obat Anestesi
Berdasarkan Sifat
Obat bius memang diciptakan dalam berbagai sediaan dan cara kerja. Namun,
secara awam obat bius atau istilah medisnya anestesi ini dibedakan menjadi tiga
golongan yaitu anestesi lokal, regional, dan umum.
A. Anestesi Lokal
Pembiusan atau anestesi lokal biasa dimanfaatkan untuk banyak hal.
Misalnya, perawatan kecantikan seperti sulam bibir, sulam alis, dan liposuction,
kegiatan sosial seperti sirkumsisi (sunatan), mencabut gigi geraham terakhir atau
gigi berlubang, mengangkat mata ikan, hingga merawat luka terbuka yang disertai
tindakan penjahitan. Anestesi lokal merupakan tindakan memanfaatkan obat bius
yang cara kerjanya hanya menghilangkan rasa di area tertentu yang akan
dilakukan tindakan. Caranya, menginjeksikan obat-obatan anestesi tertentu pada
area yang akan dilakukan sayatan atau jahitan. Obat-obatan yang diinjeksikan ini
lalu bekerja memblokade saraf saraf tepi yang ada di area sekitar injeksi sehingga
tidak mengirimkan impuls nyeri ke otak.
Anestesi lokal ini bersifat ringan dan biasanya digunakan untuk tindakan
yang hanya perlu waktu singkat. Oleh karena efek mati rasa yang didapat hanya
mampu dipertahankan selama kurun waktu sekitar 30 menit seusai injeksi, bila
lebih dari itu, maka akan diperlukan injeksi tambahan untuk melanjutkan tindakan
tanpa rasa nyeri.
B. Anestesi Regional
Anestesi jenis ini biasanya dimanfaatkan untuk kasus bedah yang pasiennya
perlu dalam
kondisi sadar untuk meminimalisasi efek samping operasi yang lebih besar, bila
pasien tak sadar. Misalnya, pada persalinan Caesar, operasi usus buntu, operasi
pada lengan dan tungkai.
Caranya dengan menginjeksikan obat-obatan bius pada bagian utama pengantar
register rasa nyeri ke otak yaitu saraf utama yang ada di dalam tulang belakang.
Sehingga, obat anestesi mampu menghentikan impuls saraf di area itu. Sensasi
nyeri yang ditimbulkan organ-organ melalui sistem saraf tadi lalu terhambat dan
tak dapat diregister sebagai sensasi nyeri di otak. Dan sifat anestesi atau efek mati
rasa akan lebih luas dan lama dibanding anestesi lokal. Pada kasus bedah, bisa
membuat mati rasa dari perut ke bawah. Namun, oleh karena tidak mempengaruhi
hingga ke susunan saraf pusat atau otak, maka pasien yang sudah di anestesi lokal
masih bisa sadar dan mampu berkomunikasi, walau tak merasakan nyeri di daerah
yang sedang dioperasi.
C. Anestesi Umum
Anestesi umum atau bius total adalah anestesi yang biasanya dimanfaatkan
untuk tindakan operasi besar yang memerlukan ketenangan pasien dan waktu
pengerjaan lebih panjang. Misalnya pada kasus bedah jantung, pengangkatan batu
empedu, bedah rekonstruksi tulang, dan lainnya. Caranya, memasukkan obat-
obatan bius baik secara inhalasi (pernafasan) maupun intravena (pembuluh darah
vena) beberapa menit sebelum pasien dioperasi. Obat-obatan ini akan bekerja
menghambat hantaran listrik ke otak sehingga sel otak tak bisa menyimpan
memori atau mengenali impuls nyeri di area tubuh manapun, dan membuat pasien
dalam kondisi tak sadar (loss of consciousness). Cara kerjanya, selain
menghilangkan rasa nyeri, menghilangkan kesadaran, dan membuat amnesia, juga
merelaksasi seluruh otot. Maka, selama penggunaan anestesi juga diperlukan alat
bantu nafas, selain deteksi jantung untuk meminimalisasi kegagalan organ vital
melakukan fungsinya selama operasi dilakukan.
2.2 Tanda dan Stadium Anestesi
Sejak obat anestesi umum diperkenalkan, telah diusahakan mengkorelasikan
efek dan tandanya untuk mengetahui dalamnya anestesi. Gambaran tradisional
tanda dan stadium anestesi (tanda Guedel) berasal terutama dari penelitian efek
dietil eter, yang mempunyai nmula kerja sentral yang lambat karena kelarutannya
tinggi didalam darah. Stadium dan tanda ini mungkin tidak mudah terlihat pada
pemakaian anestesi inhalasi modern dan anetesi intravena yang bekerja cepat.
Karenanya, pemakaian anestesi dipergunakan dalam bentuk kombinasi antara
anetesi inhalasi dan anestesi intravena. Namun, tanda-tanda anestesia dietil eter
masih memberikan dasar untuk menilai efek anestesi untuk semua anestesia
umum. Banyak tanda-tanda anestesia ini menunjukkan efek obat anestetik
pernapasan, aktivitas refleks, dan tonus otot. Secara tradisional, efek anestetik
dapat dibagi 4 stadium peningkatan dalamnya depresi susunan saraf pusat
(Katzung, 1998)
I. Stadium Analgesia: Pada stadium awal ini, penderita mengalami analgesia
tanpa disertai kehilangan kesadaran. Pada akhir stadium I, baru didapatkan
amnesia dan analgesi
II. Stadium Terangsang: Pada stadium ini, penderita tampak delirium dan
gelisah, tetapi kehilangan kesadaran. Volume dan kecepatan pernapasan
tidak teratur, dapat terjadi mual muntah. Inkontinensia urin dan defekasi
sering terjadi. Karena itu, harus diusahakan untukmembatasi lama dan berat
stadium ini, yang ditandai dengan kembalinya peernapasan secara teratur
III. Stadium Operasi: Stadium ini ditandai dengan pernapasan yang mulai
teratur dan berlangsung sampai terhentinya pernapasan secara total. Ada
empat tujuan pada stadium III digambarkan dengan perubahan pergerakan
mata, refleks mata, dan ukuran pupil, yang dalam keadaan tertentu dapat
merupakan tanda peningkatan dalamnya anestesi.
IV. Stadium Depresi Medula Oblongata: Bila pernapasan spontan berhenti,
maka akan masuk kedalam stadium IV. Pada stadium ini akan terjadi
depresi berat pusat pernapasan di medula oblongata dan pusat vasomotor.
Tanpa bantuan respirator dan sirkulasi, penderita akan cepat meninggal.
Pada praktek anestesia modern, perbedaan randa pada masing-masing
stadium sering tidak jelas. Hal ini karena mula kerja obata anetetik modern relatif
lebih cepat dibandingkan dengan dietil eter disamping peralatan penunjang yang
dapat mengontrol ventilasi paru secara mekanis cukup tersedia. Selain itu, adanya
obat yang diberikan sebelum dan selama operasi dapat juga berpengaruh terhadap
tanda-tanda anestesi. Atropin, diguanakan untuk mengurangi sekresi, sekaligus
mendilatasi pupil; obat-obatnya seperti tubokurarin dan suksinilkolin yang dapat
mempengaruhi tonus otot; serta obat anelgetik narkotik yang dapat menyebabkan
efeke depresan pada pernapasan. Tanda yang paling dapat diandalkan untuk
mencapai stadium operasi adalah hilangnya refleks kelopak mata dan adanya
pernapasan yang dalam dan teratur. Dalamnya anestesi yang dicapai untuk
masing-masing jenis operasi yang dilakukan terutama dinilai dari perubahan
terhadap respon pernapasan dan kardiovaskular (Katzung, 1998)
2.3 Resiko dan Efek samping obat bius
Menggunakan obat bius memang sudah merupakan kebutuhan untuk tindakan
medis tertentu. Sebagaimana penggunaan obat-obatan, anestesi juga memiliki
risiko tersendiri. Bius lokal, efek samping biasanya merupakan reaksi alergi.
Namun, pada anestesi regional dan umum, Roys menggolongkan efek samping
berdasarkan tingkat kejadian.
Cukup Sering
Dengan angka kejadian 1 : 100 pasien, prosedur anestesi dapat menyebabkan
risiko efek samping berupa mual, muntah, batuk kering, nyeri tenggorokan,
pusing, penglihatan kabur, nyeri kepala, pusing, penglihatan kabur, nyeri
kepala, nyeri punggung, gatal-gatal, lebam di area injeksi, dan hilang ingatan
sementara.
Jarang
Pada angka kejadian 1 : 1000 pasien, anestesi dapat berisiko menyebabkan
infeksi dada,
beser atau sulit kencing, nyeri otot, cedera pada gigi, bibir, dan lidah,
perubahan mood
atau perilaku, dan mimpi buruk.
Sangat Jarang
Risiko yang sangat jarang terjadi dengan angka kejadian 1 : 10.000/ 200.000
pasien, diantaranya dapat menyebabkan cedera mata, alergi obat yang serius,
cedera saraf, kelumpuhan, dan kematian. Efek samping ini bisa permanen jika
sampai menyebabkan komplikasi seperti cedera saraf yang menyebabkan
kelumpuhan. Atau, pada kasus infeksi dada disertai penyakit jantung,
memperbesar risiko komplikasi penyakit jantung lebih serius.
2.4 Komplikasi Anestesi