Anda di halaman 1dari 9

Pendahuluan

Pertusis (batuk rejan) disebut juga whooping cough, tussis quinta, violent cough, dan di
Cina disebut batuk seratus hari. Sydenham yang pertama kali menggunakan istilah pertussis
(batuk kuat) pada tahun 1670. Istilah ini lebih disukai dari batuk rejan (whooping cough) karena
kebanyakan individu yang terinfeksi tidak berteriak (whoop artinya berteriak). Pertusis yang
berarti batuk yang sangat berat atau batuk yang intensif, merupakan penyakit infeksi saluran
nafas akut yang dapat menyerang setiap orang yang rentan seperti anak yang belum diimunisasi
atau orang dewasa dengan kekebalan yang menurun.
1

Pertusis masih merupakan penyebab terbesar kesakitan dan kematian pada anak,
terutama di negara berkembang. WHO memperkirakan lebih kurang 600.000 kematian
disebabkan pertussis setiap tahunnya terutama pada bayi yang tidak diimunisasi. Dengan
kemajuan perkembangan antibiotik dan program imunisasi maka mortalitas dan morbiditas
penyakit ini mulai menurun.
1,2


Epidemiologi

Pertusis merupakan salah satu penyakit yang paling menular yang dapat menimbulkan
attack rate 80-100% pada penduduk yang rentan. Di seluruh dunia ada 60 juta kasus pertusis
setahun dengan lebih dari setengah juta meninggal. Selama masa pra-vaksin tahun 1922-1948,
pertusis adalah penyebab utama kematian dari penyakit menular pada anak di bawah usia 14
tahun di Amerika Serikat. Dilaporkan juga bahwa 50 persen adalah bayi kurang dari setahun, 75
persen adalah anak kurang dari 5 tahun.
3

Pertusis adalah penyakit endemik dengan siklus endemik setiap 3-4 tahun. Dalam satu
keluarga infeksi cepat menjalar kepada anggota keluarga lainnya. Dilaporkan sebagian kasus
terjadi dari bulan Juli sampai dengan Oktober. Pertusis dapat mengenai semua golongan umur.
Terbanyak terdapat pada umur 1-5 tahun, umur penderita termuda ialah 16 hari. Dahulu
dikatakan bahwa perempuan terkena lebih sering daripada laki-laki dengan perbandingan 0.9:1.
Namun berdasarkan, perbandingan insidensi antara perempuan dan laki-laki menjadi sama
sampai umur dibawah 14 tahun. Sedangkan proporsi anak belasan tahun dan orang dewasa yang
terinfeksi pertusis naik secara bersama sampai 27%.
3,4

Cara penularan ialah kontak dengan dengan penderita pertussis. Imunisasi sangat
mengurangi angka kejadian dan kematian yang disebabkan pertussis oleh karena itu di negara
dimana imunisasi belum merupakan prosedur rutin masih banyak didapatkan pertusis. Imunitas
setelah imunisasi tidak berlangsung lama. Tingkat infeksi pertussis menurun drastis setelah
vaksin pertusis mulai digunakan secara luas, dan terendah sepanjang kasus yang dilaporkan di
Amerika Serikat pada tahun 1976.
3,4

Antibodi dari ibu (transplasental) selama kehamilan tidaklah cukup untuk mencegah bayi
baru lahir terhadap pertussis. Pertussis yang berat pada neonatus dapat ditemukan dari ibu
dengan gejala pertussis ringan. Kematian sangat menurun setelah diketahui bahwa dengan
pengobatan eritromicyn dapat menurunkan tingkat penularan pertussis karena biakan nasofaring
akan negatif setelah 5 hari pengobatan. Tanpa reinfeksi alamiah dengan B.pertussis atau
vaksinasi booster berulang, anak yang lebih tua dan orang dewasa lebih rentan terhadap penyakit
ini jika terpajan.
4,5


Etiologi
Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Haemoephilus pertusis, adenovirus tipe
1, 2, 3, dan 5 dapat ditemukan dalam traktus respiratorius, traktus gastrointestinalis dan traktus
urinarius. Bordotella pertusis ini mengakibatkan suatu bronchitis akut, khususnya pada bayi dan
anakanak kecil yang ditandai dengan batuk paroksismal berulang dan stridor inspiratori
memanjang batuk rejan.
1
Bordetellah pertusis suatu cocobasilus gram negatif aerob minotil kecil dan tidak
membentuk spora dengan pertumbuhan yang sangat rumit dan tidak bergerak. Bisa didapatkan
dengan swab pada daerah nasofaring penderita pertusis dan kemudian ditanam pada agar media
Bordet Gengou. Ada enam spesies dari Bordetella yaitu B. parapertussis, B. bronchiseptica, B.
avium, B. hinzii, B. holmesii, dan B. trematum. B. pertusis dan B. parapertussis adalah dua
patogen yang paling umum ditemukan pada manusia.
3,5

Spesies Bordetella memiliki kesamaan tingkat homologi DNA yang tinggi pada gen
virulen, dan ada kontroversi apakah cukup ada perbedaan untuk menjamin klasifikasi sebagai
spesies yang berbeda. Hanya Bordetella Pertusis yang mengeluarkan toksin pertusis (TP),
protein virulen yang utama. Penggolongan serologis tergantung pada aglutinogen klabil panas.
Dari 14 aglutinogen, 6 adalah spesifik untuk B.pertusis serotip bervariasi secara geografis dan
sesuai waktu.
2,3
B.pertussis menghasilkan beberapa bahan aktif secara biologis, banyak sarinya
dimaksudkan untuk memainkan peran dalam penyakit dan imunitas. Pasca penambahan aerosol,
agglutinin filamentosa (HAF), beberapa aglutinogen (terutama FIM2 dan FIM3), dan protein
permukaan nonfimbria 69-kd yang disebut pertaktin (PRN) penting untuk perlekatan terhadap
sel sel epitel bersilia saluran pernapasan.
2,3

Patogenenis
Bordetella pertusis setelah ditularkan melalui sekresi udara pernapasan kemudian
melekat pada silia epitel saluran pernapasan. Mekanisme patogenesis infeksi oleh Bordetella
pertusis terjadi melalui empat tingkatan yaitu perlekatan, perlawanan terhadap mekanisme
pertahanan pejamu, kerusakan lokal dan akhirnya timbul penyakit sistemik.
2,3

Filamentous Hemaglutinin (FHA), Lymphosithosis Promoting Factor (LPF)/ Pertusis
Toxin (PT) dan protein 69-Kd berperan pada perlekatan Bordetella pertusis pada silia. Setelah
terjadi perlekatan, Bordetella pertussis kemudian bermultiplikasi dan menyebar ke seluruh
permukaan epitel saluran napas. Proses ini tidak invasif oleh karena pada pertusis tidak terjadi
bakteremia. Selama pertumbuhan Bordetella pertusis, maka akan menghasilkan toksin yang akan
menyebabkan penyakit yang dikenal dengan whooping cough.
1

Toksin terpenting yang dapat menyebabkan penyakit disebabkan karena pertusis toxin.
Toksin pertusis mempunyai 2 sub unit yaitu A dan B. Toksin sub unit B selanjutnya berikatan
dengan reseptor sel target kemudian menghasilkan subunit A yang aktif pada daerah aktivasi
enzim membrane sel. Efek LPF menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke daerah infeksi.
2,3

Toxin mediated adenosine diphosphate (ADP) mempunyai efek mengatur sintesis protein
dalam membrane sitoplasma, berakibat terjadi perubahan fungsi fisiologis dari sel target
termasuk limfosit (menjadi lemah dan mati), meningkatkan pengeluaran histamine dan serotonin,
efek memblokir beta adrenergic dan meningkatkan aktifitas insulin, sehingga akan menurunkan
konsentrasi gula darah.
Toksin menyebabkan peradangan ringan dengan hyperplasia jaringan limfoid
peribronkial dan meningkatkan jumlah lendir pada permukaan silia, maka fungsi silia sebagai
pembersih terganggu, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder (tersering oleh Streptococcus
pneumonia, H. influenzae dan Staphylococcus aureus). Penumpukan lendir akan menimbulkan
plak yang dapat menyebabkan obstruksi dan kolaps paru.
2,3

Hipoksemia dan sianosis disebabkan oleh gangguan perukaran oksigenasi pada saat
ventilasi dan timbulnya apnea saat terserang batuk. Terdapat perbedaan pendapat mengenai
kerusakan susunan saraf pusat, apakah akibat pengaruh langsung toksin ataukah sekunder
sebagai akibat anoksia.
2,3

Terjadi perubahan fungsi sel yang reversible, pemulihan tampak apabila sel mengalami
regenerasi, hal ini dapat menerangkan mengapa kurangnya efek antibiotik terhadap proses
penyakit. Namun terkadang Bordetella pertusis hanya menyebabkan infeksi yang ringan, karena
tidak menghasilkan toksin pertusis.
2,3


Gejala Klinis
1

Masa inkubasi pertusis 6-20 hari, rata-rata 7 hari, sedangkan perjalanan penyakit ini
berlangsung antara 6 8 minggu atau lebih. Gejala timbul dalam waktu 7-10 hari setelah
terinfeksi. Bakteri menginfeksi lapisan tenggorokan, trakea dan saluran udara sehingga
pembentukan lendir semakin banyak.
Pada awalnya lendir encer, tetapi kemudian menjadi kental dan lengket. Infeksi
berlangsung selama 6 minggu, dan berkembangan melalui 3 tahapan:
1. Tahap Kataral
Mulai terjadi secara bertahap dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi, ciri-cirinya
menyerupai flu ringan :
Bersin-bersin
Mata berair
Nafsu makan berkurang
Lesu
Batuk (pada awalnya hanya timbul di malam hari kemudian terjadi sepanjang
hari)
2. Tahap Paroksismal
Mulai timbul dalam waktu 10-14 hari (setelah timbulnya gejala awal) 5-15 kali batuk
diikuti dengan menghirup nafas dalam dengan pada tinggi. Batuk bisa disertai pengeluaran
sejumlah besar lendir vang biasanya ditelan oleh bayi/anak-anak atau tampak sebagai gelembung
udara di hidungnya).
Batuk atau lendir yang kental sering merangsang terjadinya muntah. Serangan batuk bisa
diakhiri oleh penurunan kesadaran yang bersifat sementara. Pada bayi, apnea (henti nafas) dan
tersedak lebih sering terjadi dibandingkan dengan tarikan nafas yang bernada tinggi.
3. Tahap Konvalesen
Mulai terjadi dalam waktu 4-6 minggu setelah gejala awal. Batuk semakin berkurang,
muntah juga berkurang, anak tampak merasa lebih baik. Kadang batuk terjadi selama berbulan-
bulan, biasanya akibat iritasi saluran pernafasan.

Diagnosis
Anamnesis
Dalam anamnesis ditanyakan identitas, keluhan utama serta gejala klinis pertusis lainnya,
faktor resiko, riwayat keluarga, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat imunisasi.
2

Pemeriksaan fisik
Gejala klinis yang didapat pada pemeriksaan fisik tergantung dari stadium saat pasien
diperiksa.
2

Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan labratorium didapatkan leukositosis 20,000-50,000 / UI dengan
limfositosis absolute khas pada akhir stadium kataral dan selama stadium paroksismal. Pada bayi
jumlah leukosit tidak menolong untuk diagnosis oleh karena respon limfositosis juga terjadi pada
infeksi lain.
Isolasi B.pertussis dari secret nasofaring dipakai untuk membuat diagnosis pertussis.
Biakan positif pada stadium kataral 95-100%, stadium paroksismal 94% pada minggu ke-3 dan
menurun sampai 20% untuk waktu berikutnya.
2,3

Tes serologi berguna pada stadium lanjut penyakit dan untuk menetukan adanya infeksi
pada individu dengan biakan. Cara ELISA dapat dipakai untuk menentukan serum IgM, IgG, dan
IgA terhadap FHA PT. Nilai serum IgM FHA dan PT menggambarkan respon imun primer baik
disebabakan penyakit atau vaksinasi. IgG toksin pertusis merupakan tes yang paling sensitive
dan spesifik untuk mengetahui infeksi dan tidak tampak setelah pertussis.
Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan foto toraks dapat memperlihatkan infiltrat perihiler, atelektasis atau
emfisema.

Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah membatasi keparahan batuk, memberi bantuan bila perlu, dan
memaksimalkan nutrisi, istirahat, dan penyembuhan tanpa sekuele. Tujuan rawat inap spesifik,
terbatas adalah untuk menilai kemajuan penyakit dan kemungkinan kejadian yang mengancam
jiwa pada puncak penyakit, mencegah atau mengobati komplikasi, dan mendidik orang tua pada
riwayat alamiah penyakit dan pada perawatan yang akan diberikan di rumah. Untuk kebanyakan
bayi yang tanpa komplikasi, keadaan ini disempurnakan dalam 48-72 jam.
4,5

Frekuensi jantung, frekuensi pernafasan, dan oksimetri nadi dimonitor terus, pada
keadaan yang membahayakan, sehingga setiap paroksismal disaksikan oleh personel perawat
kesehatan. Rekaman batuk yang rinci dan pencatatan pemberian makan, muntah, dan perubahan
berat memberikan data untuk penilaian keparahan. Paroksismal khas yang tidak membahayakan
mempunyai tanda sebagai berikut lamanya kurang dari 45 detik, perubahan warna merah tetapi
tidak biru, bradikardi, atau desaturasi oksigen yang secara spontan selesai pada akhir
paroksismal, berteriak atau kekuatan untuk menyelamatkan diri pada akhir paroksismal,
mengeluarkan sumbatan lendir sendiri, kelelahan pasca batuk tetapi bukan tidak berespons.
4,5

Pengobatan suportif yang bisa dilakukan diantaranya menghindarkan faktor-faktor yang
menimbulkan serangan batuk, mengatur hidrasi dan nutrisi, oksigen dapat diberikan pada distres
pernapasan akut/kronik, dan penghisapan lendir terutama pada bayi dengan pneumonia dan
distres pernapasan. Beberapa agen terapeutik atau medikamentonsa yang digunakan pada pasien
pertussis adalah sebagai berikut :
Agen Antimikroba
Agen antimikroba selalu diberikan bila pertussis dicurigai atau diperkuat karena
kemungkinan manfaat klinis dan membatasi penyebaran infeksi. Eritromisin, 40-50 mg/kg/24
jam, secara oral dalam dosis terbagi empat (maksimum 2 g/24 jam) selama 14 hari merupakan
pengobatan baku. Beberapa pakar lebih menyukai preparat estolat tetapi etilsuksinat dan stearat
juga manjur. Penelitian kecil eritromicin etilsuksinat yang diberikan dengan dosis 50 mg/kg/24
jam dibagi menjadi dua dosis, dengan dosis 60 mg/kg/24 jam dibagi menjadi tiga dosis, dan
eritromicin estolat diberikan dengan dosis 40 mg/kg/24 jam dibagi menjadi dua dosis
menunjukkan pelenyapan organisme pada 98% anak. Azitromisin, Claritomisin, Ampisillin,
Rifampin, Trimethoprim-Sulfametoksasol cukup aktif tetapi sefalosporin generasi pertama dan
ke-2 tidak. Pada penelitian klinis, eritromicin lebih unggul daripada amoksisilin untuk
pelenyapan B. pertussis dan merupakan satu-satunya agen dengan kemanjuran yang terbukti.
1,2

Salbutamol
Sejumlah kecil trial klinis dan laporan memberi kesan cukup pengurangan gejala-gejala
dari stimulan 2-adrenergik salbutamol (albuterol). Tidak ada trial klinis tepat yang telah
menunjukkan pengaruh manfaat, satu penelitian kecil tidak menunjukkan pengaruh. Pengobatan
dengan aerosol memicu paroksismal.
1,2

Kortikosteroid
Tidak ada trial klinis buta acak cukup besar yang telah dilakukan untukan mengevaluasi
penggunaan kortikosteroid dalam manajemen pertussis. Penelitian pada binatang menunjukkan
pengaruh yang bermanfaat pada manifestasi penyakit yang tidak mempunyai kesimpulan pada
infeksi pernafasan pada manusia. Pengguanaan klinisnya tidak dibenarkan.
1,2















Kesimpulan
Pertusis merupakan penyakit infeksi saluran nafas akut yang dapat menyerang setiap
orang yang rentan seperti anak yang belum diimunisasi atau orang dewasa dengan kekebalan
yang menurun.
1
























BLOK 12

TUGAS TINJAUAN PUSTAKA
PERTUSIS












IMAM M
ARDANI
H1A212026




FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2014