Anda di halaman 1dari 3

Pembahasan : Ummu Faurikhah 260110100139

Percobaan pada kali ini bertujuan untuk mengamati kerja dari suatu obat
golongan antiinflamasi dalam menginhibisi kondisi inflamasi pada hewan percobaan. Prinsip
percobaan kali ini yaitu persentase radang yang dihitung persatuan waktu selama 60 menit.
Persentase radang adalah persentase yang menandakan besarnya radang pada tikus,
dituliskan dalam rumus sebagai berikut :




Persentase radang didapatkan dengan membandingkan selisih antara volume
setelah diinjeksi obat (vt ) dengan yang belum diinjeksi obat ( vo ) berbanding volume yang
belum diinjeksi obat ( vo ). Makin besar persentase radang makin besar volume perubahan
tikus akibat radang. Prinsip percobaan selanjutnya adalah persentase inhibisi obat uji dalam
menekan atau menghambat radang akibat respon inflamasi, dituliskan dalam rumus sebagai
berikut :






Persentase inhibisi tersebut bertujuan untuk mengetahui perbedaan berbagai
efek kerja obat uji dalam menginhibisi radang. Makin besar konsentrasi persentase inhibisi
maka kamin besar pula kemampuan obat dalam menginhibisi radang.
Prosedur dalam percobaan kali ini dimulai dengan membagi praktikan menjadi
4 kelompok. Hewan percobaan yang digunakan dalam pengujian kali ini yaitu tikus putih
karena tikus putih memiliki ukuran yang besar. Hal tersebut dibutuhkan dalam proses
pengukuran volume kaki tikus yang terkena radang didalam alat plethysmometer
menggunakan air raksa. Kaki tikus yang lebih besar dibandingkan tikus dianggap lebih
mampu untuk menekan raksa sehingga terjadilah hukum archimedes.
Disiapkan 12 tikus yang dibagi ke dalam 4 kelompok sehingga masing-
masing kelompok mendapatkan 3 tikus. Tikus yang digunakan adalah tikus jantan. Dalam
pengujian efek obat yang berpengaruh terhadap perilaku hewan uji, tikus jantan lebih dipilih
sebagai hewan uji karena tidak terpengaruh oleh hormon. Kemudian setiap tikus pada setiap
kelompoknya diberi tanda agar mudah dikenali dengan warna yang berbeda. Diberikan juga
tanda batas pada kaki kiri belakang untuk setiap tikus, penandaan tersebut bertujuan agar
pemasukan kaki kedalam air raksa setiap kali selalu sama. Dilakukan penimbangan terhadap
tikus dengan menggunakan neraca ohauss. Sebelum digunakan, neraca perlu dikalibrasi
terlebih dahulu agar hasil penimbangan yang diperoleh tepat dan meminimalkan kesalahan
yang mungkin terjadi saat penimbangan. Pada saat menimbang, alat timbangan harus benar-
benar bersih, bebas dari kotoran-kotoran yang mungkin dikeluarkan oleh tikus
sebelumnya.Hal ini dimaksudkan agar berat yang didapat benar-benar merupakan berat tikus
itu sendiri. Karena hal tersebut akan berpengaruh terhadap dosis obat yang diberikan pada
tikus. Dari penimbangan diperoleh hasil untuk setiap tikusnya yaitu untuk tikus pertama yaitu
162 gram ( aspirin ), untuk tikus kedua yaitu 116 gram ( Piroksisam ) dan untuk tikus ketiga
yaitu 153,5 gram ( kontrol negatif ).
Setelah diketahui berat dari masing-masing tikus, kemudian
dilakukan pengkonversian dosis untuk mendapatkan dosis yang sesuai untuk setiap tikusnya.
Hal ini dilakukan agar dosis obat yang diberikan terhadap tikus sesuai dengan berat
badannya. Dosis yang tidak tepat akan mengakibatkan tidak didapatnya efek yang diinginkan.
Konversi dosis hewan percobaan dilakukan dengan membandingkan berat badan hewan
percobaan dengan berat badan hewan percobaan standar dan dikalikan dengan faktor
konversi sesuai dengan rute pemberian obatnya. Berat badan tikus standar sekitar 200 gram.
Karena obat yang diberikan pada tikus dilakukan secara peroral dan subkutan maka faktor
konversinya adalah 2 ml untuk perolal dan 1 ml untuk subkutan. Konversi dosis untuk tikus
dihitung dengan menggunakan rumus :











Dari hasil konversi, banyaknya obat yang diberikan secara peroral untuk setiap
mencit adalah 1,62 ml untuk mencit pertama, 1,16 ml untuk mencit kedua, 1,525 ml untuk
mencit ketiga. Dari hasil konversi, banyaknya obat yang diberikan secara subkutan untuk
setiap mencit adalah 0,809 ml untuk mencit pertama, 0,53 ml untuk mencit kedua, 0,7625 ml
untuk mencit ketiga.
Setelah dilakukan konversi, pada tahap pendahuluan volume kaki tikus diukur
dan dinyatakan sebagai volume dasar. Pada setiap kali pengukuran volume, tinggi cairan
raksa pada alat diperiksa dan dicatat sebelum dan sesudah pengukuran. Setelah itu tikus
diberi obat dan larutan kontrol secara peroral. Obat yang diujikan adalah aspirin dan
piroksisam. Kedua obat uji tersebut mempunyai efek dalam mengahambat inflamasi. Setelah
disuntikan obat uji dan kontrol, volume kaki tikus yang sudah ditandai diukur volumenya dan
dinyatakan sebagai Vo. Selanjutnya larutan karagenan disuntikan di bagian telalah pak kaki
kiri tikus secara subkutan. Karagenan adalah obat yang merangsang terjadinya inflamasi.
Volume kaki yang diberikan karagenan diukur setiap 15 menit sekali selama satu jam.
Perbedaan volume kaki untuk setiap jam diukur dan dinyatakan dalam vt.
Setelah didapatkan data pengamatan, hasil yang didapatkan selanjutnya
diperhitungkan dalam persentase radang dang persentase inhibisi.